Anda di halaman 1dari 4

Nama : Ari Sutrisno

No : 030780101

Tugas.2

Bayangkan Anda adalah sebuah karyawan disuatu perusahaan, atau bagi


yang sudah bekerja boleh menuangkan pengalamannya diperusahaan
tempat Anda bekerja.

Pertanyaan
1.Bagaimana fenomena komunikasi yang terjadi diperusahaan tersebut?
2. Bagaimana Komunikasi informal dibangun?
3. Bagaimana sikap karyawan menyikap Grapevine dan rumor yang beredar di
perusahaan?
Jelaskan dan sertakan sumber referensi atau rujukan

1. FENOMENA YANG TERJADI DI SEBUAH PERUSAHAAN


Salah satu bentuk fenomena yang kerap terjadi di sebuah perusahaan ialah konflik. Saya
mengambil satu fenomena yang di setiap perusahaan mengalami hal tersebut. Adanya konflik
di kantor atau di tempat kerja adalah suatu keniscayaan. Di tempat kerja, berkumpul orang-
orang dengan karakter, kepribadian, dan pola pikirnya masing-masing, yang tentu saja
berbeda satu sama lain. Perbedaan ini mungkin saja akan menimbulkan gesekan, yang bisa
berujung pada konflik.

Hal-hal yang mungkin bisa menjadi pemicu timbulnya gesekan itu biasanya adalah masalah
komunikasi. Masalah komunikasi yang biasa terjadi di tempat kerja dan berpotensi berujung
pada sebuah konflik misalnya:

 Masalah personal

 Kurang mau mendengarkan

 Salah persepsi
Tiga hal itu mungkin terlihat sepele. Namun jika tidak diperhatikan dan diantisipasi, maka
bisa jadi timbul masalah di dalam tim.

Adanya perbedaan karakter, kepribadian, serta pola pikir, dapat membuat adanya perbedaan
sifat dan sikap seseorang. Ada orang yang sifatnya cuek. Orang seperti ini biasanya tidak
terlalu memikirkan orang lain. Baginya, yang penting dia tidak membuat masalah dan orang
lain juga tidak mendatangkan masalah bagi dia.

Ada juga orang yang sensitif. Orang seperti ini bertolak belakang dengan orang yang cuek.
Orang yang sensitif cenderung bersikap dan bertindak sangat hati-hati. Dia takut jika ada
orang lain yang mendapatkan masalah atau kesulitan akibat kesalahannya. Dia juga sangat
menghindari terlibat masalah dengan orang lain.

Lalu, ada juga orang yang sangat perfeksionis. Dia selalu ingin melakukan semua tugasnya
tanpa kesalahan sedikitpun. Akibatnya, orang seperti ini sering berpikir bahwa semua
keberhasilan tim adalah karena andilnya.

Perbedaan sikap dan sifat yang kadang-kadang bertolak belakang ini tentu saja sangat
berpotensi untuk menimbulkan konflik. Jika orang-orang yang beraneka ragam ini tidak
dipimpin oleh seorang manajer yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, maka
besar kemungkinannya terjadi gesekan yang berujung pada konflik yang berkepanjangan.

Dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, maka seorang manajer andal sebenarnya
justru bisa memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada di dalam timnya untuk menjadi
sebuah kekuatan.

Dalam sebuah rapat di dalam tim kerja, tidak jarang terjadi perdebatan yang cukup panas.
Setiap orang memiliki ide dan ingin agar idenya itulah yang dilaksanakan. Kadang-
kadang, perdebatan terjadi hanya karena salah satu pihak tidak atau kurang mau
mendengarkan paparan ide dari pihak lain.
Sebagian besar orang adalah pendengar yang buruk. Sebagian besar orang hanya
mendengarkan karena memang dia menunggu gilirannya untuk bicara. Ada juga yang hanya
mau mendengarkan sesuatu yang memang ingin dia dengar. Selain itu, ada juga yang tidak
mau mendengarkan karena terhalang oleh persepsinya sendiri.
2. Bagaimana Komunikasi informal dibangun?

Hubungan komunikasi formal dan informal termasuk kedalam komunikasi organisasi, meskipun
semua organisasi harus melakukan komunikasi dengan berbagai pihak dalam mencapai tujuannya,
perlu diketahui bahwa pendekatan yang dipakai antara satu organisasi dengan organisasi yang lain
dapat bervariasi atau berbeda-beda. Bagi organisasi yang berskala kecil yang hanya memiliki
beberapa anggota, penyampaian informasi kepada mereka merupakan suatu pekerjaan yang cukup
rumit.

Komunikasi ini sering disebut dengan ”desas-desus” atau “selentingan”. Rosnow (1988)
mendefinisikan desas-desus sebagai “sebuah proposisi untuk dipercaya tanpa pembuktian resmi”.
Peneliti pun beranggapan bahwa desas-desus mengurangi ketegangan emosional biasanya timbul dari
lingkungan yang ambigu.6 Bagan organisasi formal akan dapat menggambarkan bagaimana informasi
yang akan ditransformasikan dari satu bagian ke bagian yang lainnya sesuai dengan jalur hierarki
yang ada. Namun dalam praktik tampaknya garis-garis dan kotak-kotak yang tergambar pada struktur
organisasi tidak mampu mencegah orang-orang dalam suatu organisasi untuk bertukar informasi
antara orang yang satu dengan oang yang lain.

oleh karena itu keberadaan jaringan komunikasi informal dalam suatu organisasi tidak dapat dielakan.
Jaringan ini dapat pula digunakan oleh para manajer untuk memonitor para karyawan dalam
melakukan tugasnya. Dalam jaringan komunikasi informal, orang-orang yang ada dalam suatu
organisasi, tanpa memerlukan jenjang hierarki, pangkat, dan kedudukan dapat berkomunikasi secara
luas. Meskipun hal-hal yang mereka perbincangkan biasanya bersifat umum.

3. Bagaimana sikap karyawan menyikap Grapevine dan rumor yang beredar di


perusahaan?
Komunikasi informal (the grapevine) biasanya disebarluaskan melalui desas-desus atau kabar
angin dari mulut ke mulut dari satu orang ke orang yang lainnya dalam suatu organisasi di
mana kebenarannya tidak bisa dijamin karena kadang-kadang bertentangan dengan
perusahaan.

Jadi agar komunikasi informal bisa bermanfaat maka seorang pemimpin harus bisa memakai
jalur ini untuk memperlancar berjalanya komunikasi formal perusahaan. Komunikasi
informal ini jangan sampai mengakibatkan timbulnya desas-desus yang meresahkan
karyawan.

The grapevine, atau bisa diartikan dalam bahasa Indonesia 'Komunikasi Selentingan', istilah
ini sering digunakan bergantian dengan istilah komunikasi informal. Istilah ini berawal pada
tahun 1860-an saat Perang Saudara Amerika. Biasanya digunakan sebagai istilah
penggambaran garis telegraf yang digantung di antara pepohonan seperti anggur. Artinya, the
grapevine/komunikasi informal tidak terlalu efektif karena sistem telegraf bukan sumber ter
percaya komunikasi pada saat itu. Hampir satu abad kemudian, diketahui bahwa jalur
komunikasi informal/the grapevine tidak menyerupai sekelompok anggur.

Fakta nya, komunikasi selentingan atau the grapevine terjadi ketika komunikasi formal tidak
cukup. Hasil penelitian telah menyimpulkan bahwa komunikasi informal sangat baik terjadi
saat tidak mencukupinya informasi ambigu yang dapat ditularkan melalui komunikasi formal.
Beberapa teori organisasi mengakui bahwa the grapevine atau komunikasi informal
dibutuhkan dalam kehidupan berorganisasi.

Metode the grapevine bekerja pada satu orang, Orang pertama mengirim pesan ke Orang
kedua dan Orang ketiga. Kemudian, Orang kedua memberitahu Orang keempat dan Orang
kelima. Dan orang ketiga mengatakan pada orang keenam. Tidak semua peserta dalam the
grapevine mengirim pesan. Beberapa hanya menerima. Penghubung dalam organisasi
biasanya membantu memfasilitasi the grapevine. Kita biasanya lebih akrab the grapevine
dikenal sebagai rumor/gosip. Penggunaan the grapevine seperti ini biasanya umum antara
manajer dengan karyawan subdivisi.

Jenis rumor yang tersebar melalui the grapevine ini dapat diklasifikasikan menjadi dua
kelompok, spontan dan terencana. Rumor spontan tersebar ketika orang-orang dalam keadaan
stres atau saat berada di lingkungan yang tidak dapat dipercaya. Rumor terencana menyebar
dalam lingkungan yang sangat kompetitif.

Jitendra Mishra memiliki 8 alasan the grapevine atau komunikasi informal harus ada.
Beberapa alasan termasuk kebutuhan untuk komunikasi yang lebih cepat, pesan yang
berguna, sarana untuk pengimajinasian dan keperihatinan, juga membantu membangun kerja
sama dan identitas perusahaan. Ternyata, 75% dari semua organisasi, praktik, kebijakan, dan
prosedur yang dikomunikasiakan dengan cara the grapvine. Penelitian telah menunjukkan
bahwa komunikasi informal atau the grapevine lebih efektif daripada komunikasi formal
dampaknya pada karyawan.

Dengan kata lain, ketika kita hendak menyampaikan pesan dari suatu komunikasi informal,
setidaknya menyaring benar dan tetap berhati – hati dalam menyampaikan maupun
menerimanya. Komunikan atau komunikator yang baik, adalah komunikan atau komunikator
yang mampu menyikapi pesan atau informasi dengan kepala dingin dan pikiran positif.