Anda di halaman 1dari 9

Branding Strategy

PT. Garuda Indonesia

Kelompok 1
Jeyhan Wildansyah - 120820190001
Yusuf Kurniawan - 120820190002
Ardina Safitri 120820190004
Putra Etrif Fadlillah – 120920190010

 Role of Brand in marketing

Definisi Brand
“A brand is a name, term, design, symbol, or any other feature that identifies one
seller’s good or service as distinct from those of other sellers” (American Marketing
Association). American Marketing Association (Kotler & Keller, 2009:258) mendefinisikan
merek sebagai nama, istilah, tanda, lambang, atau desain, atau kombinasinya, yang
dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari salah satu penjual atau
kelompok penjual dan mendiferensiasikan mereka dari para pesaing.
Peran dan Manfaat Merek
Peran Merek
Kotler & Keller (2012:242) berpendapat bahwa sebuah merek memiliki beberapa peran,
antara lain :
1) Konsumen akan lebih mudah dalam melakukan proses pemesanan
dan pencarian suatu produk
2) Perusahaan dapat mengatur persediaan dan pencatatan dengan
bantuan merek.
3) Keunikan produk dapat terlindungi melalui merek yang telah
dipatenkan.
4) Konsumen akan melakukan pembelian ulang apabila merasa puas
terhadap kualitas produk yang ditandai dengan merek.
5) Merek menjadi suatu sarana yang kuat untuk mengamankan
keunggulan kompetitif.
 Branding, Brand Equity, Brand Image
 Branding
“Branding is endowing products and services with the power of a brand” (Kotler &
Keller, 2015)
Penetapan merek (branding) adalah memberikan kekuatan merek kepada produk dan jasa.
Penetapan merek adalah menciptakan perbedaan antarproduk (Kotler & Keller, 2009:260).
Pemasar dapat menetapkan merek pada seluruh jenis produk, baik berupa barang fisik, jasa,
orang, tempat, ide, ataupun organisasi. Penetapan merek dapat membantu konsumen
mengatur pengetahuan mereka tentang produk dan jasa dengan cara menjelaskan
pengambilan keputusan mereka dan dalam prosesnya, memberikan nilai bagi perusahaan.
Agar strategi penetapan merek berhasil dan nilai merek dapat tercipta, maka pemasar harus
dapat meyakinkan konsumen bahwa terdapat perbedaan berarti di antara merek dalam
kategori produk ataupun jasa.
Asal nama Garuda Indonesia bermula pada 25 Desember 1949, wakil dari KLM yang
juga sebagai teman Presiden Soekarno yaitu Dr. Konijnenburg, menghadap dan melapor
kepada Presiden di Yogyakarta bahwa KLM Interinsulair akan diserahkan kepada pemerintah
sesuai dengan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) dan meminta beliau memberi nama bagi
perusahaan tersebut, karena pesawat yang akan membawanya dari Yogyakarta ke Jakarta
nanti akan dicat sesuai dengan nama itu. Menanggapi hal tersebut, Presiden Soekarno
menjawab dengan mengutip satu baris dari sebuah sajak bahasa Belanda gubahan pujangga
terkenal, Noto Soeroto di zaman kolonial, ”Ik ben Garuda, Vishnoe’s vogel, die zijn vleugels
uitslaat hoog boven uw eilanden” (Aku adalah Garuda, burung milik Wisnu yang
membentangkan sayapnya menjulang tinggi diatas kepulauanmu). Maka pada 28 Desember
1949, terjadi penerbangan yang bersejarah yaitu pesawat DC-3 dengan registrasi PKDPD
milik KLM Interinsulair terbang membawa Presiden Soekarno dari Yogyakarta ke Jakarta
untuk pelantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan logo baru,
Garuda Indonesian Airways, nama yang diberikan Presiden Soekarno kepada perusahaan
penerbangan pertama di Indonesia.
Artinya :
1. Kepala Burung Garuda melambangkan lambang negara Republik
Indonesia.
2. Lima (5) Bulu Sayap melambangkan Pancasila.
3. Warna Biru melambangkan langit angkasa.

 Branding Strategy
https://distribusipemasaran.com/strategi-merek-brand-strategy-pengertiannya-secara-
umum/

 Brand Equity
Ekuitas merek (brand equity) adalah nilai tambah yang diberikan pada produk dan jasa.
Ekuitas merek dapat tercermin dalam cara konsumen berpikir, merasa, dan bertindak dalam
hubungannya dengan merek, dan juga harga, pangsa pasar,serta profitabilitas yang diberikan
merek bagi perusahaan (Kotler & Keller, 2009:263).
Empat Dimensi Ekuitas Merek
1. Kesadaran Merek (brand awareness)
Dalam piramida tersebut terlihat bahwa Top of Mind merupakan tingkatan tertinggi dalam
kesadaran merek, sedangkan pada tingkatan terendah adalah Brand Unaware. Berikut
merupakan pengertian dari masing-masing tingkatan :
a. Top of Mind adalah tingkatan kesadaran merek tertinggi yang
merupakan pimpinan dari berbagai merek yang ada dalam pikiran konsumen. Ini
menggambarkan merek yang pertama kali diingat responden atau pertama kali disebut ketika
yang bersangkutan ditanya sesuatu.
b. Brand Recall atau pengingatan kembali merek mencerminkan merek apa yang diingat
responden setelah menyebutkan merek yang pertama kali disebut.
c. Brand Recognition atau pengenalan kesadaran merek, merupakan tingkat dimana
kesadaran responden diukur dengan diberikan bantuan.
d. Brand Unaware, merupakan tingkatan dimana responden tidak tahu sama sekali mengenai
merek tersebut.
Dari empat tingkatan kesadaran merek, yang paling cocok dengan konsumen
maskapai penerbangan Garuda Indonesia adalah tingkat kesadaran merek top of mind.Yang
dimana top of mind merupakan merek pertama yang disebut oleh konsumen untuk satu
produk tertentu.Dari beberapa konsumen maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang
diwawancarai, maskapai penerbangan Garuda Indonesia merupakan satu-satunya airline
terbaik yang ada di Indonesia saat ini. Hal tersebut menandakan bahwa ‘Garuda Indonesia’
merupakan merek yang mempunyai eksistensi yang kuat di benak konsumen.
2. Perceived quality
bahwa layanan full-service yang ditawarkan kepada penumpang merupakan
keistimewaan tersendiri karena dapat menikmati layanan maskapai penerbangan
bertaraf internasional dan kualitas layanan mulai dari petugas di kantor penjualan
hingga awak kabin memberikan layanan yang memuaskan.
3. Tanggapan Merek (brand response/loyalty)
Respon terhadap merek merupakan ukuran kesetiaan seorang konsumen pada sebuah merek.
Loyalitas memiliki tingkatan sebagai berikut:
a. Switcher merupakan tipe konsumen yang suka berganti-ganti merek dan lebih
memerhatikan harga murah.
b. Habitual buyer merupakan tipe konsumen yang telah puas dengan produk yang digunakan,
namun pada tingkatan ini tidak diperoleh alasan untuk beralih kepada merek produk yang
lain.
c. Satisfied buyer merupakan konsumen loyal yang merasakan adanya suatu pengorbanan
seperti memikul biaya peralihan, waktu, atau risiko apabila melakukan penggantian ke merek
lain.
d. Liking the brand merupakan tingkatan dimana konsumen benar-benar menyukai merek
tersebut. Pilihan konsumen terhadap suatu merek dilandasi pada suatu asosiasi, seperti
simbol, rangkaian pengalaman dalam menggunakannya, atau kesan kualitas yang tinggi.
e. Committed buyer merupakan konsumen yang setia. Para konsumen mempunyai suatu
kebanggaan dalam menemukan atau menjadi pengguna suatu merek. Merek tersebut sangat
penting bagi konsumen baik dari segi fungsinya maupun sebagai ekspresi mengenai siapa
konsumen sebenarnya.
Dari kelima tingkatan tersebut, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk berfokus pada tingkatan
paling dasar yaitu Switcher dan tingkatan paling atas yaitu Committed buyer. Dalam
strateginya, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk ingin mengubah konsumen yang tadinya
sama sekali tidak loyal terhadap mereknya, perlahan-lahan akan loyal terhadap merek
‘Garuda Indonesia’. Selain itu, perusahaan tersebut juga berfokus pada Committed buyer
yang memang sudah merupakan konsumen setia dari maskapai penerbangan Garuda
Indonesia, namun tetap mempunyai strategi agar konsumen tersebut tidak memiliki
kemungkinan untuk berpindah ke merek lain.
4. Hubungan dengan Merek (brand relationship)
Brand relationship adalah sesuatu yang berkaitan dengan ingatan mengenai suatu
produk.Asosiasi ini tidak hanya eksis, namun juga memiliki suatu tingkat kekuatan. Dari
beberapa konsumen yang mempunyai pengalaman menggunakan maskapai penerbangan
Garuda Indonesia mengaku bahwa maskapai tersebut memiliki brand yang kuat bila
dibandingkan maskapai penerbangan lain yang ada di Indonesia, terutama bila dilihat dari
segi keamanan dan kenyamanan. Hal tersebut menandakan bahwa merek dari maskapai
penerbangan ini sudah melekat dibenak khalayak luas, hanya saja tingkat loyalitas konsumen
bermacam-macam seperti yang disebutkan sebelumnya.

 Brand Image

Citra merek (brand image) merupakan persepsi dan keyakinan dari konsumen. Garuda
Indonesia telah mempunyai branding yang cukup kuat di kalangan masyarakat Indonesia
dimana Garuda Indonesia dapat dikatakan sebagai salah satu maskapai penerbangan yang
menjadi pioner utama dalam dunia penerbangan dengan prestasi keamanan dan jaminan
keselamatan penumpang yang tinggi serta kualitas layanan yang tinggi yang selalu diperbaiki
dari waktu ke waktu. Di dunia internasional, Garuda Indonesia telah menjadi salah satu
maskapai penerbangan yang telah mempunyai beberapa rute penerbangan internasional yang
tidak kalah bersaing dengan maskapai penerbangan internasional lainnya dimana Garuda
Indonedia mencoba mengadopsi kultur Indonesia di dalam setiap layanan penerbangan yang
mereka berikan sehingga dapat memberikan unsur unik dalam pelayanannya.
Terlebih saat maskapai penerbangan tersebut meraih prestasi dari Skytrax sebagai airline
bintang lima (5-star) untuk kedua kalinya di tahun 2016. Sejalan dengan prestasi yang diraih
tersebut, maka tingkat kepercayaan konsumen terhadap maskapai penerbangan Garuda
Indonesia semakin tinggi.

 Brand Positioning
 Brand Element & Brand Element Choice Criteria

Menurut Kotler (2009:460) merek memiliki enam tingkatan, yang meliputi :


a. Atribut
Setiap merek memiliki atribut. Atribut ini perlu dikelola dan diciptakan agar
pelanggan dapat mengetahui dengan pasti atribut- atribut apa saja yang terkandung
dalam suatu merek. Untuk PT Garuda Indonesia Tbk, maka atribut yang melekat
adalah tepat waktu dan aman (tentang produk), cepat dan tepat (tentang proses),
bersih dan nyaman (tentang bangunan) serta andal, profesional, kompeten dan siap
membantu (tentang staf)
b. Manfaat
Merek juga mempunyai sekumpulan manfaat selain aspek atribut. Di mana yang
dibeli konsumen bukan atribut melainkan manfaat. Hal tersebut yang mendorong
perusahaan agar dapat menerjemahkan atribut produk menjadi manfaat produk baik
itu fungsional maupun emosional. Contohnya: pada penerbangan Garuda “tepat
waktu” sebagai manfaat fungsional dan “Layanan Istimewa Awak Garuda “sebagai
manfaat emosional Mulai dari saat reservasi penerbangan hingga tiba di bandara
tujuan, para penumpang akan dimanjakan oleh pelayanan yang tulus dan bersahabat
yang menjadi ciri keramahtamahan Indonesia, diwakili oleh „Salam Garuda
Indonesia‟ dari para awak kabin
c. Nilai
Nilai dari perusahaan juga dapat dinyatakan melalui merek. Merek yang mempunyai
nilai tinggi akan dihargai oleh konsumen sebagai merek yang berkelas, sehingga dapat
mencerminkan siapa pengguna merek tersebut. Contohnya: PT. Garuda sebagai
produk maskapai jasa penerbangan yang eksekutif, kata eksekutif dapat mewakili
nilai yang dimiliki jasa penerbangan maskapai Garuda Indonesia yang merupakan
maskapai kelas menengah keatas sebagai positioning yang dimiliki oleh produk jasa
penerbangan ini. Hal ini dapat dilihat dalam price list harga yang di tawarkan serta
fasilitas-fasilitas yang dimiliki untuk menunjang operasional maskapai penerbangan.
d. Budaya
Suatu udaya tertentu serta sifat dan perilaku dapatdigambarkan melalui merek. Seperti
kita ketahui bahwa PT. Garuda Indonesia Airline merupakan maskapai penerbangan
milik Indonesia membawa karakteristik budaya Indonesia dalam setiap
penerbangannya. Sehingga brand maskapai ini mencerminkan nilai kebudayaan
bangsa indonesia, dengan begitu secara tidak langsung maskapai ini turut
memperkenalkan budaya Indonesia tidak hanya nasional tapi juga sampai ke
international. Hal ini terlihat dari seragam untuk wanita berupa kebaya yang
dikembangkan agar tampak modern dengan corak-corak batik yang tradisional.
Garuda Indonesia menggunakan corak Parang Gondosuli disetiap seragam kebayanya,
dengan menggunakan motif batik yang disebut sebagai Lereng Indonesia. Garuda
Indonesia yang mengupayakan terciptanya nuansa Indonesia di dalam kabin, mencoba
menambahkan lantunan musik tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.
Hidangan makanan yang disajikan di dalam kabin Garuda Indonesia kemudian
diselaraskan dengan cita rasa Indonesia yang kaya akan rempah-rempah.
e. Kepribadian
Merek juga mencerminkan kepribadian, yaitu kepribadian bagi para penggunanya.
Jadi diharapkan dengan menggunakan merek, kepribadian si pengguna akan tercermin
bersamaan dengan merek yang digunakan. Contohnya : Dalam tingkatan ini maskapai
Garuda Indonesia memakai semua jenis kepribadian misalnya sebuah keluarga,
executive, pria dan wanita, sampai ke backpacker. Sesuai dengan misi maskapai ini
untuk memberi kepuasan kepada konsumennya sehingga mereka merasa puas
memakai maskapai tersebut.
f. Pemakai
Jenis konsumen sebagai pengguna merek produk tersebut juga dapat ditunjukkan
melalui merek tersebut. hal tersebut menyebabkan para pemasar menggunakan
analogi orang-orang terkenal untuk pengguanaan mereknya. Contoh: PT. Garuda
membidik konsumen domestik dan internasional bagi usahawan, perorangan,
wisatawan yang kebanyakan adalah golongan menengah ke atas dan juga kargo
termasuk penerbangan borongan.

Memilih Elemen Merek


Menurut Kotler & Keller (2009:269), elemen merek (brand element) merupakan alat pemberi
nama dagang yang mengidentifikasikan dan mendiferensiasikan merek. Terdapat enam
kriteria untuk memilih elemen merek sebagai berikut:

a. Memorability (dapat diingat) Seberapa mudah elemen merek itu diingat dan dikenali.

b. Meaningfulness (berarti). Apakah elemen merek itu kredibel dan mengindikasikan kategori
yang berhubungan dengannya.

c. Likeable (dapat disukai). Seberapa menarik estetika elemen merek dapat dilihat dari
bentuk, warna atau nama.

d. Transferable (dapat ditransfer). Apakah elemen merek itu dapat digunakan untuk
memperkenalkan produk baru dalam kategori yang sama atau berbeda.

e. Adaptability (dapat disesuaikan). Seberapa mudah elemen merek itu disesuaikan dan
diperbarui.

f. Protectability (dapat dilindungi). Seberapa mudah elemen merek itu dapat dilindungi secara
hukum.Selain nama merek, semboyan juga merupakan sarana yang efisien untuk membangun
ekuitas merek. Fungsinya sebagai pegangan untuk membantu konsumen memahami merek
dan menerjemahkan maksud program pemasaran.

 Brand Identity: Brand Name Selection -Brand Portfolio

Menurut Philip Kotler (1992 : 114), produsen yang ingin mencantumkan merek pada
produknya akan menghadapi beberapa pilihan stategi pemberian nama merek, yaitu :

1. Nama merek khusus (individual brandname), yaitu pemberian nama merek yang berbeda
bagi tiap item jenis produk.
2. Nama kelompok gabungan bagi semua produk (a blanket family name), yaitu pengunaan
nama merek yang sama pada semua item dan lini produk.
3. Nama kelompok yang terpisah (separate family name), yaitu pemakaian nama merek yang
berbeda bagi tiap lini produk.
4. Nama perusahaan digabung dengan nama khusus (company trade name combined with
individual product names).

Portofolio Merek
Portofolio merek (brand portofolio) adalah kumpulan semua merek dan lini merek yang
ditawarkan perusahaan tertentu untuk dijual dalam satu kategori atau segmen pasar tertentu
(Kotler & Keller, 2009:285). Pentingnya melakukan portofolio merek karena beberapa alasan
sebagai berikut:
 Meningkatkan kehadiran di rak dan ketergantungan pengecer di toko.
 Menarik konsumen pencari keragaman yang mungkin dapat beralih ke merek lain.
 Meningkatkan kompetisi internal dalam perusahaan.
 Mencapai skala ekonomis dalam iklan, penjualanm perdagangan, dan distribusi fisik.

Karakteristik portofolio merek yang optimal adalah kemampuan setiap merek didalamnya
untuk memaksimalkan ekuitas bersama-sama dengan semua merek lain didalamnya. Prinsip
dasar dalam merancang portofolio merek adalah memaksimalkan cakupan pasar, sehingga
tidak ada pelanggan potensial yang diabaikan- melainkan untuk mengurangi tumpang tindih
merek, jadi merek tidak bersaing untuk mendapatkan persetujuan pelanggan. Pemasar
mengamati portofolio merek secara cermat sepanjang waktu untuk mengidentifikasi merek
yang lemah dan mematikan merek yang tidak menguntungkan.

https://www.garuda-indonesia.com/id/id/corporate-partners/business-subsidiaries/subdiaries