Anda di halaman 1dari 5

TUGAS 3 AKUNTANSI BIAYA

1. Jelaskan metode yang digunakan untuk menangani :


a. Penyusutan produk dalam proses
Perlakuan akuntansi atas penyusutan produk dalam proses ini dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu jika penyusutan tersebut adalah normal maka kos penyusutan ini
akan tetap dibebankan pada produk dalam proses dan jika penyusutan ini
dikategorikan abnormal maka akan dibebankan pada rugi dari penyusutan produk
dalam pross yang merupakan bagian dari kos periode bukan kos produksi.

Perbedaan penyusunan laporan kos produksi dengan kondisi terjadinya penyusutan


produk dalam proses dengan laporan kos produksi yang telah kita bahas sebelumnya
hanya pada skedul kuantitas, skedul unit ekuivalen, dan skedul kos
pertanggungjawaban.

Skedul kuantitas. Pada skedul ini untuk menetapkan jumlah unit total yang diproses
selama periode maka unit yang ditransfer dan selesai harus ditambah dengan
penyusutan produk dalam proses baik normal maupun abnormal ditambah dengan
produk dalam proses akhir.

Skedul unit ekuivalen : Perhitungan unit ekuivalen dengan menggunakan formula sbb:
Unit ekuivalen = produk jadi dan ditransfer + penyusutan normal + penyusutan
abnormal + (produk dalam proses akhir x tingkat penyelesaian)

Skedul kos pertanggungjawaban. Kos yang ditransfer ke departemen berikutnya atau


ke produk jadi adalah penjumlahan kos yang berasal dari unit yang senyatanya selesai
dan ditransfer ditambah dengan kos yang berasal dari penyusutan produk dalam
proses normal. Kos produk dalam proses akhir adalah sebesar kos produksi yang
diserap olehnya, sedangkan penyusutan produk dalam proses abnormal akan
dibebankan sebagai rugi.

Jurnal untuk mencatat penyusutan produk dalam proses normal


Produk dalam proses – Dep B
Produk dalam proses – Dep A

2 RAISA ENDAH ADITYA NINGRUM 030583747


TUGAS 3 AKUNTANSI BIAYA

Jurnal untuk mencatat penyusutan produk dalam proses normal


Rugi penyusutan PDP abnormal
Produk dalam proses – Dep A

b. Produk rusak dalam sistem kos proses


1. Teori Pengabaian (Theory of Neglect)
Metode ini disebut metode pengabaian karena unit produk rusak dianggap tidak
pernah dimasukkan ke dalam proses produksi dan mengabaikan kos yang telah
diserapkan. Jumlah unit yang dihasilkan akan lebih sedikit daripada jika tidak
terdapat produk rusak. Selain itu, kos produksi yang diserap oleh produk rusak
tidak akan dikeluarkan dari akun produk dalam proses. Akibatnya, kos unit lebih
tinggi daripada seharusnya. Kelebihan dari metode ini adalah sederhana.
Departemen produksi tidak perlu memikirkan bagaimana perlakuan atas produk
rusak yang terjadi. Kekurangan dari produk ini adalah dari sisi pengendalian dan
evaluasi akan menjadi lemah.

2. Produk Rusak sebagai Bagian Terpisah Elemen Kos Produksi


Metode ini memperlakukan kos produk rusak sebagai bagian terpisah elemen kos
dalam departemen produksi. Unit produk rusak beserta kos produksi yang telah
dinikmatinya akan dipisahkan dari elemen kos produksi. Selain itu, produk rusak
normal dan abnormal akan diperlakukan berbeda. Produk rusak abnormal akan
dibebankan sebagai kos perioded an bukan bagian dari kos produksi.

Pada metode ini, produk rusak akan diperhitungkan dalam penetapan unit
ekuivalen sesuai dengan tingkat penyelesaian yang telah dinikmati oleh produk
rusak tersebut.

3. Produk Cacat dalam Sistem Kos Proses


Perbedaan antarproduk rusak dan produk cacat adalah pada produk cacat asih
mungkin dilakukan perbaikan pada produk tersebut sehingga masih ada harapan,
produk akan menjadi produk normal. Untuk memperbaiki produk rusak tersebut
digunakan bahan dan konversi berupa tenaga kerja dan overhead pabrik.
Sebagaimana produk rusak, produk cacat dikategori sebagai produk cacat normal

2
dan abnormal. Pengategorian ini menggunakan metode yang sama seperti produk
RAISA ENDAH ADITYA NINGRUM 030583747
TUGAS 3 AKUNTANSI BIAYA

rusak. Produk cacat disebut normal jika jumlahnya masih dalam batas toleransi
yang ditetapkan oleh manajemen. Sebaliknya, apabila jumlahnya di atas natas
toleransi maka terkategori abnormal.
1. Produk Cacat Normal
Secara akuntansi, kos yang digunakan untuk memperbaiki produk cacat
normal akan dibebankan pada akun produk dalam proses departemen yang
bersangkutan. Kos tersebut baik berupa kos bahan baku maupun overload
pabrik. Jurnal yang digunakan untuk mencatat adalah:
Produk dalam proses – Dep A
Sediaan Bahan
Utang gaji dan upah
Overhead pabrik dibebankan
2. Produk Cacat Abnormal
Jumlah produk cacat yang melebihi batas toleransi disebut sebagai produk
cacat abnormal. Kos perbaikan total produk cacat abnormal akan dibebankan
pada rugi dari produk cacat abnormal dan akan dilaporkan dalam laporan laba
rugi sebagai kos perioded an bukan kos produksi. Jurnal yang digunakan
adalah:
Rugi dari produk cacat abnormal
Sediaan bahan
Utang gaji dan upah
Overhead pabrik dibebankan
2. PT Karunia merupakan perusahaan pemanufakturan. Dalam proses produksi produk
utamanya, dihasilkan juga produk sampingan. Kos bersama total yang terjadi pada titik
pisah sebesar Rp 200.000.000. Setelah titik pisah, produk utama memiliki nilai pasar
final sebesar Rp 400.000.000 dan produk sampingan sebesar Rp 20.000.000. Biaya
administrasi dan pemasaran untuk produk utama sebesar Rp. 5.000.000.
Tidak ada sediaan akhir untuk masing masing produk.
Diminta :
a. Asumsikan bahwa metode pendapatan bersih digunakan untuk pengkosan produk
bersama dan diperlakukan sebagai pendapatan lain.Biaya administrasi dan
pemasaran untuk produk sampingan adalah nol.Hitunglah besaran pendapatan bersih
dari produk sampingan. Buatlah laporan laba rugi.

2 RAISA ENDAH ADITYA NINGRUM 030583747


TUGAS 3 AKUNTANSI BIAYA

b. Asumsikan bahwa manajemen mengalokasi biaya administrasi dan pemasaran


sebesar Rp.2.000.000 untuk produk sampingan dan masih mendapatkan laba sebesar
10% dari harga jual. Dengan menggunakan metode nilai pasar, hitunglah besaran
kos bersama total yang akan dialokasi ke produk sampingan.
a) Metode pendapatan bersih – diperlakukan sebagai pendapatan lain.

Penjualan (produk utama) Rp400.000.000


Kos produk terjual:
Kos bersama Rp200.000.000
Kos proses tambahan 150.000.000
Kos produk terjual total 350.000.000
Laba kotor Rp50.000.000
Biaya pemasaran & adm 5.000.000
Laba operasional Rp45.000.000
Pendapatan lain:
Pendapatan bersih produk sampingan 15.000.000
Laba bersih Rp60.000.000

*Rp20.000.000 – 5.000.000

b) Metode nilai pasar.

Skedul A:
Kos produksi bersama Total Rp200.000.000
(-) Kos bersama teraplikasikan
pada produk sampingan yang
diproduksi:
Estimasi penjualan produk Rp20.000.000
sampingan
(-) kos pemrosesan tambahan Rp5.000.000
Ekspektasi laba kotor 2.000.000 7.000.000 13.000.000
produk
Sampingan (Rp20
juta×10%)
Kos produksi produk utama Rp187.000.000

Skedul B:
Kos bersama teraplikasikan pada produk sampingan Rp13.000.000
(lihat skedul A)
Kos pemrosesan tambahan di Departemen B 5.000.000
Kos produksi produk sampingan Rp18.000.000

Laporan laba rugi:


Penjualan:
Produk utama Rp400.000.000
Produk sampingan 20.000.000 Rp420.000.000
Kos produk utama dan

2 RAISA ENDAH ADITYA NINGRUM 030583747


TUGAS 3 AKUNTANSI BIAYA

sampingan:
Kos produksi:
Produk utama (skedul A) Rp187.000.000
Produk sampingan 18.000.000 205.000.000
(skedul B)
Laba kotor 215.000.000
Biaya administrasi dan
pemasaran:
Produk utama 5.000.000
Produk sampingan 2.000.000 7.000.000
Laba bersih Rp208.000.000

2 RAISA ENDAH ADITYA NINGRUM 030583747