Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN NEKROPSI NON UNGGAS

Kamis, 18 Mei 2017

Disusun oleh:
Kelompok E
PPDH Angkatan II Tahun 2016/2017

Dosen:
Prof Dr Drh Ekowati Handharyani, MSi PhD APVet

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
HASIL PEMERIKSAAN NEKROPSI

No Protokol : P/111/17
Hari/Tanggal : Kamis/ 18 Mei 2017
Dosen PJ : Prof Dr Drh Ekowati Handrhayani, Msi, PhD APVet

Anamnese :
Signalement
Jenis Hewan : Kucing
Ras : Maincoon
Jenis Kelamin : Jantan
Umur : <1 tahun
Jumlah : 1 ekor
Pemilik :
Tanggal nekropsi : 18 Mei 2017

Tabel 1. Pemeriksaan patologi anatomi


Organ Epikrese Diagnosa PA
Keadaan Umum
Konjunctiva Pucat, membrana nictitans Anemis
terlihat
Sclera Putih Kekuningan Ikterus
Mukosa mulut Pucat Anemis
Daerah anus Kotor, terdapat feses encer Melena
berwarna merah kehitaman
Subkutis Kering Dehidrasi
Perlemakan Sedang, berwarna kekuningan Tidak ada kelainan
Kelenjar Pertahanan
Ln. Submandibularis Berwarna kemerahan, Tidak ada kelainan
simetris, konsistensi kenyal,
hasil insisi tidak
menunjukkan pembengkakan
Ln. Retropharingealis Berwarna kemerahan, Tidak ada kelainan
simetris, konsistensi kenyal,
hasil insisi tidak
menunjukkan pembengkakan
Ln. Praescapularis Berwarna kemerahan, Tidak ada kelainan
simetris, konsistensi kenyal,
hasil insisi tidak
menunjukkan pembengkakan
Ln. Axillaris Berwarna kemerahan, Tidak ada kelainan
simetris, konsistensi kenyal,
hasil insisi tidak
menunjukkan pembengkakan
Ln. Poplitea Berwarna kemerahan, Tidak ada kelainan
simetris, konsistensi kenyal,
hasil insisi tidak
menunjukkan pembengkakan
Rongga Abdomen Tidak ada perubahan Tidak ada kelainan
Rongga Thorak Terdapat cairan berwarna Hidrothoraks
kemerahan sebanyak 5 ml
Rongga Peritoneum Tidak ada perubahan Tidak ada kelainan
Situs Viserum Tidak ada perubahan Tidak ada kelainan
Sistem Respirasi
Sinus hidung Tidak ada perubahan Tidak ada kelainan
Laring Terdapat busa
Trakhea Terdapat busa
Bronkhus Terdapat busa
Paru-paru Inspeksi : warna merah (tidak Oedema pulmonum
homogen) dan berbatas jelas.
Palpasi : terdapat krepitasi
Insisi : keluar darah Kongesti
Uji apung : seluruh bagian
lobus mengapung
Sistem Digesti
Rongga Mulut Tidak ada perubahan Tidak ada kelainan
Esofagus Tidak ada perubahan Tidak ada kelainan
Lambung Terdapat cairan kecokelatan Gastritis
hemorrhagika
Usus Halus Jejunum hingga kolon Enteritis
mengalami perdarahan, isi hemorrhagika akut
usus berwarna merah segmental
kehitaman
Ln. Mesenterica Mengalami pembesaran, hasil
insisi tidak menunjukkan
adanya pembengkakan
Hati Terlihat berwarna Degenerasi hati
kekuningan, konsistensi
rapuh, aspek pucat
Kantung empedu : cairan
empedu agak kental
Sistem Limforetikuler
Limpa Tidak ada perubahan Tidak ada kelainan
Sistem Sirkulasi
Jantung Apex jantung terlihat lancip Dilatasi ventrikel
Warna jantung merah gelap kiri dan kanan
Hasil insisi menunjukkan otot Degenerasi otot
jantung beraspek pucat jantung
Dinding lumen ventrikel kiri
halus
Dinding ventrikel kanan tipis
Sistem Urogenital
Ginjal Warna medulla ginjal Kongesti medulla
kemerahan ginjal
Ureter Tidak ada perubahan Tidak ada kelainan
Vesica urinaria Tidak ada perubahan Tidak ada kelainan
Urethra Tidak ada perubahan Tidak ada kelainan
Testis Tidak ada perubahan Tidak ada kelainan
Kelenjar Prostat Tidak ada perubahan Tidak ada kelainan
Kelenjar Tidak ada perubahan Tidak ada kelainan
Bulbourethralis
Sistem Lokomosi
Sumsun tulang Tidak ada perubahan Tidak ada kelainan

Diagnosa : Enteritis hemorrhagika akut segmental suspect feline


panleukopenia
Diferensial diagnosa : feline leukimia

PEMBAHASAN

Nekropsi kucing jenis maincoon umur kurang dari satu tahun dilakukan
pada tanggal 18 Mei 2017. Tidak ada penjelasan mengenai anamnesa kucing.
Nekropsi diawali dengan pemeriksaan keadaan umum. Hasil pemeriksaan pada
mata menunjukkan konjungtiva pucat, membran nictitans terlihat dan sclera pucat
kekuningan. Mukosa mulut tampak pucat. Daerah anus tampak kotor, terdapat
feses encer berwarna merah kehitaman. Selanjutnya dilakukan pengulitan,
subkutis terlihat kering dengan perlemakan yang sedang. Limfonodus
submandibularis, retropharingealis, prescapularis, axilaris dan poplitea berwarna
merah, letak simetris kanan dan kiri, konsistensi kenyal, dan tidak terjadi
kebengkakan.
Pemeriksaan pada traktus respiratorius meliputi pemeriksaan sinus, laring,
trakhea dan paru-paru. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya busa pada trakea
dan paru-paru, dan setelah di insisi terlihat adanya darah yang keluar dari bidang
sayatan. Adanya busa pada trakea dan paru-paru mengindikasikan adanya cairan
atau disebut dengan oedema pulmonum. Oedema pulmonum adalah akumulasi
cairan pada paru-paru. Hal ini dapat terjadi karena paru-paru mengalami kongesti.
Kongesti (pembendungan) dapat menyebabkan tekanan hidrostatik meningkat
pada pembuluh darah. Sehingga menyebabkan cairan plasma merembes dari
pembuluh darah ke jaringan intersisial. Kondisi ini juga dapat menyebabkan
hidrothoraks karena cairan plasma yang merembes dari pembuluh darah mengisi
ruang thoraks (Carlton dan Gavin 1995)
Pemeriksaan traktus digestivus meliputi pemeriksaan rongga mulut,
esofagus, lambung, usus halus (duodenum, jejenum, ileum), usus besar, hati dan
empedu. Pemeriksaan lambung menunjukkan terjadi gastritis hemoragika,
ditandai dengan adanya cairan kecoklatan dan hiperemi pada mukosa lambung.
Cairan kecoklatan merupakan hasil reaksi hematin dengan HCL di lambung
membentuk asam hematin. Hematin dihasilkan dari degradasi protein sel-sel darah
oleh enzim pepsin. Pemeriksaan usus halus dan kolon menunjukkan terjadinya
enteritis hemoragi akut segmental. Disebut sebagai segmental karena enteritis
hemoragi terjadi pada daerah tertentu yaitu jejenum, ileum dan kolon tetapi tidak
terjadi pada duodenum. Enteritis hemoragi ditandai dengan feses berwarna merah
kehitaman atau disebut melena. Melena dapat terjadi karena adanya perdarahan
pada saluran pencernaan. Warna merah kehitaman pada feses disebabkan adanya
lisis eritrosit yang kemudian melepaskan hemoglobin dan ion Fe2+ ke lumen usus.
Hemoglobin dan ion Fe2+ akan bereaksi dengan H2S yang dihasilkan dari bakteri
pembusuk dalam usus membentuk besi sulfida (FeS) yang berwarna merah
kehitaman (Carter dan Demannand 2013). Infeksi yang menyebabkan enteritis
hemoragika akut segmental juga ditandai dengan membesarnya limfonodus
mesenterika. Pemeriksaan pada organ hati menunjukkan hati berwarna
kekuningan, aspek pucat dan konsistensi rapuh. Lesio-lesio tersebut menunjukkan
bahwa hati telah mengalami degenerasi. Hemoragi yang terjadi pada lambung dan
usus menyebabkan hewan mengalami anemia. Anemia menyebabkan suplai darah
ke berbagai organ berkurang, secara langsung juga menyebabkan kurangnya
suplai oksigen ke organ tersebut. Organ-organ yang mengalami kekurangan
oksigen atau disebut hipoksia akan mengalami kematian sel (degenerasi). Hati
yang mengalami degenerasi ditandai dengan warna pucat kekuningan dan rapuh.
Kerusakan hati menyebabkan mukosa, sclera dan lemak menjadi kekuninga atau
disebut ikterus.
Pemeriksaan sistem sirkulasi dilakukan pada organ jantung. Hasil
pemeriksaan menunjukkan jantung berwarna merah gelap. Setelah dilakukan
insisi, ditemukan muskulus papilaris pada ventrikel kiri jantung mengalami
penipisan, dan dinding ventrikel kanan tipis dengan lumen yang lebar. Hal ini
menunjukkan terjadi dilatasi ventrikel kiri dan kanan. Ventrikel jantung
mengalami dilatasi sebagai kompensasi untuk menompa darah dengan kontraksi
yang lebih kuat sehingga terjadi perluasan jantung. Dilatasi ventrikel kiri
menyebabkan darah tidak terpompa maksimal ke seluruh tubuh dan masih tersisa
diruang ventrikel. Hal ini menyebabkan aliran darah dari paru-paru menuju
jantung terganggu hingga terjadi kongesti di paru-paru. Demikian pula halnya
dengan dilatasi ventrikel kanan, darah dari ventrikel tidak terpompa ke paru-paru
secara maksimal dan masih tersisa diruang ventrikel. Hal ini menyebabkan aliran
darah dari organ-organ abdomen terganggu, salah satunya terjadi kongesti pada
medula ginjal (Govan et al. 1981).
Pemeriksaan traktus urogenital meliputi pemeriksaan ginjal, ureter, vesica
urinaria, urethra, testis, kelenjar prostat dan kelenjar bulbourethralis. Ginjal
berwarna kekuningan, letak ginjal kiri dan kanan simetris, permukaan rata,
konsistensi kenyal dan kapsula mudah dilepas. Batas antara korteks dengan
medula tidak begitu jelas, setelah di preparir terdapat kongesti pada medula ginjal.
Kongesti merupakan akumulasi darah berlebih pada pembuluh darah vena.
Kongesti yang terjadi pada medula ginjal terjadi secara patologis karena gangguan
sirkulasi pada ginjal. Kongesti yang terjadi diakibatkan oleh dilatasi pada jantung
sehingga aliran darah dari ginjal ke jantung terganggu. Adanya pembendungan
pada pembuluh darah (vena) menyebabkan tekanan hidrostatik meningkat,
sehingga menyebabkan cairan plasma merembas keluar dari pembuluh darah dan
terkumpul di medula ginjal (Zachary dan McGavin 2012).
Hipoksia yang dialami kucing akibat anemia, kelemahan umum akibat
dehidrasi dan tidak adanya asupan nutrisi diduga menjadi penyebab kematian
kucing. Enteritis hemoragika akut segmental merupakan salah satu patologi
anatomi dari penyakit Feline Panleukopenia. Feline Panleukopenia disebabkan
oleh parvovirus. Virus ini menyerang sel yang aktif membelah salah satunya
adalah sel epitel usus.
KESIMPULAN

Berdasarkan lesio patologi klinis, kucing pada kasus ini mengalami enteritis
hemoragika akut segmental. Diduga penyebab enteritis hemoragika akut
segmental adalah parvo virus pada penyakit feline panleukopenia. Adapun
differensial diagnosanya adalah felin leukemia yang disebabkan retro virus.

DAFTAR PUSTAKA

Carter DO, Demannand FE. 2013. Human Decomposition and Postmortem


Microbiology. America (US): CRC Press.
Carlton WW, Mc Gavin MD. 1995. Spesial Veterinary Pathology. Second
Edition. USA (US): Maple Vail.
Govan A, Macfarlane P, Callander R. 1981. Pathology Illustrated. China (CNN):
Sheck Wah Tong Printing Press Ltd.
Zachary JF, Mc Gavin MD. 2012. Pathologic Basic of Veterinar Disease. Ed ke-
5. Missouri (US):Elsevier.