Anda di halaman 1dari 15

Menggali Makna Intelektual

Amin Sudarsono
[Ketua Departemen Kajian Strategis KAMMI Pusat]
Daurah Marhalah 2 KAMMI Daerah Semarang, 15 Maret 2010

INTELEKTUAL DI BARAT
 Pada tahun 1898, seorang perwira
berpangkat kapten, keturunan Yahudi
dipecat dari dinas ketentaraan Perancis
karena dicurigai bekerja sebagai mata-
mata-mata
pihak asing. Namanya Albert Dreyfus.
 Kasus Dreyfus ini menjadikan masyarakat
Prancis terbelah dua; yang membela dan
yang mengutuk. Yang mengutuk Dreyfus
disebut sebagai “anti-
anti-semit atau rasis”
rasis” dan
pembela Dreyfus disebut sebagai “les
intellectuels”
intellectuels” dan “déraciné
racinés”.
 Di antara pembelanya seperti Emile Zola
(1840-
(1840-1902), Emile Durkheim (1858-
(1858-1917) dan
Anatole France (1844-
(1844-1924), sedang yang
mengutuk adalah seperti Maurice Barré
Barrés
(1862-
(1862-1923) dan Fedinand Brunetié
Brunetiére.

1
Dari kasus inilah, kemudian sebutan
intelektual lebih merupakan
pemburukan dari pada
sanjungan, yang berlaku tidak
hanya di Perancis, tapi juga di
Inggris dan Amerika.

Julien Benda
 Julien Benda (1867-
(1867-1956),
1956), lewat
lewat buku
monumentalnya, La Trahison Des Clercs
(1927), memberi beberapa catatan tentang
intelektual.
 Di antaranya, seorang intelektual adalah
pejuang kebenaran dan keadilan, tekun dan
menikmati bidang yang digelutinya,
 Tidak ditunggangi ambisius materi dan
kepentingan sesaat,
 Berani keluar dari sarangnya untuk
memprotes ketidakadilan dan menyuarakan
kebenaran, walau mahal resikonya, dan oleh
itu ia tidak takut penjara atau hidup susah.
 Singkatnya, sosok-
sosok-sosok semacam Socrates,
Yesus, dan Spinoza adalah profil yang sangat
pas bagi Benda.

2
Régis Debray
 Sosiolog Ré
Régis Debray lebih praktis dan
dinamis. Ia membagi tiga generasi intekletual.
Pertama, 1900-
Pertama, 1900-1930, terdiri dari para pengajar
(teachers)
teachers) yang membela Dreyfus, seperti
Émile Zola, Émile Durkheim dan Anatole
France.
 Kedua, 1930-
Kedua, 1930-1960, diwakili oleh para penulis
(writers; novelist, essayist).
essayist).
 Ketiga, dari tahun 1960-
Ketiga, 1960-sekarang, mereka
yang disebut sebagai “Cendekiawan
Selebritis”
Selebritis”, yang suka tampil di media massa,
yang punya pesona, sensasional dan ingin
terkenal dan mengabaikan standar keilmuan
dan kejujuran.
 Jean Francois Sirinelli berteriak lantang,
“Apakah intelektual kini sudah tiba ajalnya?”
ajalnya?”

Antonio Gramsci
 Lain lagi dengan pandangan Antonio Gramsci
(1891-
(1891-1937), yang membagi intelektual
menjadi dua macam; intelektual tradisional
dan intelektual organik.
organik.
 Intelektual yang pertama adalah mereka para
tokoh agama, guru/dosen, birokrat, dan
seperti mereka inilah profil intelektual yang
tidak membumi, hidup dalam ilusi dan utopia.
 Sedangkan yang kedua adalah intelektual
yang aktif, tidak pernah diam, senantiasa
berbuat sesuatu untuk masyarakatnya. Di sini
pemateri meminjam ungkapan Edward Said,
“always on the move, on the make.”
make.”

3
Istilah Intelegentsia
 Berasal dari Polandia dan Russia. Di Polandia,
“inteligentsia”
inteligentsia” adalah para lulusan sekolah,
yang mengerti sejarah Polandia.
 Mereka disebut mature (dewasa), lebih layak
memimpin dan mengelola negara ketimbang
kaum borjuis yang tidak punya idealisme dan
suka korupsi.
 Di Russia, intelligentsia adalah bangsawan yang
mengambil jarak dari kaum borjuis kapitalis dan
merasa terpanggil untuk bangsa.
 Kelompok ini dijuluki “slavophile”
slavophile”, karena
mereka menuntut penghapusan feodalisme
dan tsarisme, menghendaki perombakan total
sistem politik, ekonomi dan sosial. Kelompok ini
sempat eksis setelah Tsar digulingkan pada
Revolusi Oktober 1917, tapi kemudian ditumpas
habis oleh Stalin.

Karakter Intelektual Barat


Melihat akar sejarahnya, karakter penting
intelektual di Barat, yakni:
noncommittal, tak terikat dari segi ide;
 noncommittal,
independent, tak terikat dari segi aksi;
 independent,
 non- sectarian, untuk semua golongan;
non-sectarian,
nonpartisan, tidak memihak;
 nonpartisan,
 non- conformis, pantang menyerah;
non-conformis,
rebellion, cenderung memberontak;
 rebellion,
oppositional, menentang arus; dan
 oppositional,
dissident, berani berbeda;
 dissident,
resistent, menunjukkan perlawanan.
 resistent,
Bagaimana dengan intelektual di dalam Islam?

4
INTELEKTUAL ISLAM
 Istilah “intelektual”
intelektual” adalah baru di dunia
Islam, dia impor dari peradaban lain. Istilah
“intelektual”
intelektual”, dengan konteks masyarakat
Barat yang sudah disebut di atas, tidak boleh
dipindah begitu saja ke dalam Islam.
 Selama ini, cendekiawan muslim di Indonesia
sangat memaksakan penggunaan istilah itu
dengan segala motifnya. Sebagai contoh,
“intelektual dan pembela HAM”HAM” pada kasus
Ahmadiyah.
Ahmadiyah.
 Kalangan modernis atau liberalis menggugat
otoritas Al-
Al-Quran, Hadits, dan ulama dengan
mengatasnamakan “intelektual”
intelektual”. Itu sikap
yang sangat Barat dan tidak bijak.

 Ada makna universal dalam istilah


“intelektual,”
intelektual,” seperti memperjuangkan
keadilan dan kebenaran, pendirian kuat, dan
tidak mudah terbawa arus. Makna universal
ini ada di mana-
mana-mana, tidak saja di Barat.
 Masalahnya adalah ketika makna universal
diterapkan ke dalam partikular. Seperti
membela kebenaran dalam konteks dunia
Barat tidak sama dengan membela
kebenaran dalam konteks dunia Islam.
 Dengan demikian, dengan melepaskan
makna partikulernya dan mengambil makna
uni
universalnya, maka terlihat
terlihat makna-
makna-makna
universal itu dalam Islam.
 Ternyata, cendekiawan dan intelektual sejati
itu dalam Islam adalah para Nabi dan
penerusnya, waratsat al- biya’ (pewaris
al-Anbiya’
para nabi) dan penerus risalah profetis.

5
Intelektual Profetik atau
Diabolik
 Intelektual,
Intelektual, dalam khazanah Islam
mempunyai dua tipe, mengikut sejarah
dan konteks keislaman, yaitu (1)
intelektual profetik; dan (2) intelektual
diabolik.
 Intelektual profetik adalah para nabi
dan waratsat al- biya’, pewarisnya.
al-anbiya’
Merekalah para pembela kebenaran,
sebagaimana kebenaran yang
terkonsep dalam al-
al-Quran. Sedangkan
intelektual diabolik adalah iblis dan
para pengikutnya.

Contoh Intelektual Diabolik


 Kalau diamati lebih jauh, karakter Iblis sangat
pas dengan ciri intelektual di Barat. Ia tidak
mau terikat dengan aturan Allah (non-(non-
committal, independent) , tidak mau
menyerah (non-
(non-conformis) , memberontak
(rebellion),
rebellion), menentang arus (oppositional ),
(oppositional),
semua menyatu dalam kata takabbur.
takabbur.
 Contoh-
Contoh-contoh cendekiawan diabolik ini
sangat banyak sekali dalam sejarah. Sepeti
Kana’
Kana’an putra Nabi Nuh yang menolak naik
ke atas perahu, Haman sebagai the
tyrant, Fir’
intellectual in the service of tyrant, Fir’aun,
Musa Samiri sebagai cendikiawan yang
membuat tuhan dari patung lembu, kaum
kuffar dari ahlu kitab di zaman Nabi
Muhammad sebagai para- para-pakar yang kafir,
dan lain sebagainya.

6
Contoh Intelektual Profetik
Contoh cendekiawan profetik adalah seperti
para nabi, sahabat, ulama.
 Nabi Ibrahim yang menentang kuasa
Namrudz. Nabi Luth juga intelektual yang
menentang arus kaumnya yang masyoritas
lesbi dan gay.
 Dari kalangan sahabat, Abu Darda’
Darda’ disebut
sebagai intelektual yang berani mengatakan
kebenaran dengan lantang di depan
Muawiyah, penguasa waktu itu.
 Dari kalangan ulama, seperti Hasan al-
al-Basri,
Imam Syafii, Ibnu Taimiyah, Imam Ahmad bin
Hambal, dll, dan di Indonesi seperti HAMKA,
Syekh Yusuf Al-
Al-Makasari, Mohammad Natsir,
di mana mereka berani mengeraskan suara
kebenaran dan merelakan resiko yang terus
mengancam.

Ciri Intelektual Islam


Dari uraian di atas, inteletual dalam Islam cukup
dikenali dengan tiga cirinya.
Pertama, ia tidak ada rasa takut menyuarakan
 Pertama,
kebenaran (la khaufun alaihim wa la hum
yahzanun).
yahzanun).
Kedua, tidak ditunggangi kepentingan-
 Kedua, kepentingan-
kepentingan pribadi, kelompok, partai dan
lain-
lain-lain (la yas alukum alaihi ajran wahum
muhtadun). Ia hanya ditunggangi
muhtadun).
kepentingan misi Tuhannya.
Ketiga, ia adalah agent of change (agen
 Ketiga,
perubahan)
perubahan), dan bukan subject of change
(yang dirubah oleh lingkungannya)
lingkungannya).

7
ULIL ALBAB
 (proses)) penciptaan
“Sesungguhnya, dalam (proses
(proses)) pergantian
langit dan bumi, dan (proses
malam dan siang, adalah tanda-
tanda-tanda
(kekuasaan Allah) (orang--orang
Allah) bagi ulil albab (orang
yang berfikir [menggunakan intelek
mereka]).
mereka]).
 orang-orang yang berzikir (berlatih diri
Yaitu orang-
dalam mencapai tingkat kesadaran akan
kekuasaan Allah) dalam keadaan berdiri,
duduk, dan dalam keadaan terlentang, dan
senantiasa berfikir tentang (proses)
penciptaan langit dan bumi, (sehingga mereka
menyatakan)
 wahai Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan
semua ini dalam keadaan sia-sia-sia. Maha suci
neraka”
Engkau, peliharalah kami dari siksa api neraka”
(QS Ali Imran [3]: 190-
190-191).

Dimensi Ulil Albab [Dawam Raharjo]


 ertama, dimensi ontologis,
Pertama, ontologis, dimana seorang
ulil albab adalah manusia yang telah menarik
jarak dari dan semua yang ada, termasuk
dirinya sendiri, masyarakat dan sejarah, serta
menjadikannya menjadi objek pengamatan
yang rasional.
 Kedua, dimensi fungsional,
Kedua, fungsional, bahwa alam
semesta diciptakan oleh Allah dengan tujuan
dan merupakan suatu yang haq dan
bukannya batil atau kacau, melainkan
berfungsi dalam kehidupan manusia.
 Dan ketiga,
ketiga, dimensi aksiologis atau etis, yang
melihat sesuatu dari segi buruk atau baik,
benar atau salah, agar kehidupan manusia
dapat berkembang lebih maju sejalan dengan
harkat manusia sebagai mak makhluk yang
dimuliakan Allah.
Allah.

8
Intelektual
Profetik

Dakwah Sosial
PARADIGMA
GERAKAN KAMMI Tauhid Independen

Politik
Ekstraperl
ementer

9
Gerakan yang meletakkan
keimanan sebagai ruh atas
penjelajahan nalar akal

Gerakan yang Gerakan


mempertemukan nalar Intelektual
akal dan nalar wahyu pada Profetik
usaha perjuangan
perlawanan, pembebasan, Gerakan yang mengembalikan
pencerahan, dan secara tulus dialektika wacana
pemberdayaan manusia pada prinsip-prinsip
secara organik kemanusiaan yang universal

 Di sini ada dua kata yang mesti kita


definisikan, yaitu Intelektual dan Profetik.
 Sejarawan Arnold Toynbe, menyebut
intelektual sebagai human transformer,
pengubah nasib manusia.
 Ali Syariati mengungkap tugas intelektual
adalah sebagai Rausyan Fikr, mencerahkan
lapisan masyarakat yang terpinggirkan.
 Gramsci dengan intelektual organik dan
mekaniknya.

10
 Namun, dalam tataran universal, intelektual
selalu dipandang dari perannya.
 Intelektual selalu merupakan idiom bagi yang
ber-Ilmu (memiliki pengetahuan), di mana ia
selalu gelisah, punya komitmen untuk
memperbaiki keadaan dan berani mengatakan
yang benar adalah benar, yang salah adalah
salah.

 Lalu, dari mana dan bagaimana dengan


“Profetik”-nya?

 Gerakan Intelektual Profetik tidak bisa


dipisahkan dari apa yang disebut oleh
Kuntowijoyo sebagai Ilmu Sosial Profetik.

 Asal-usul intelektual Ilmu Sosial Profetik


ialah dari buku Membangun Kembali
Fikiran Agama dalam Islam, karya
Muhammad Iqbal.

11
 Dalam bab tentang “Jiwa Kebudayaan
Islam” dengan mengungkapkan
Islam”
kembali kata-
kata-kata seorang sufi, Abdul
Quddus, Iqbal memaparkan perbedaan
kesadaran Rasul (kesadaran profetik)
dengan kesa
kesadaran mistik.

 Abdul Quddus mengatakan:


“Muhammad telah naik ke langit
tertinggi lalu kembali lagi. Demi Allah aku
bersumpah, bahwa kalau aku yang telah
mencapai tahap itu, aku tidak akan
kembali lagi.”
lagi.”

Qs. Ali Imran


ayat 110,
memuat empat
hal yang
tersirat tentang
ciri gerakan
profetik

12
 Pertama, Konsep tentang Umat terbaik

Umat Islam menjadi umat yang terbaik


(khaira ummah) dengan syarat
mengerjakan tiga hal seperti yang
disebutkan dalam ayat tersebut yakni:
 amar ma’ruf

 nahi munkar

 tu’minuna billah.

Kedua, Aktivisme Sejarah


 Bekerja di tengah-tengah manusia
(ukhrijat li al-nas), yang ideal bagi Islam
ialah keterlibatan umat dalam sejarah.
 Artinya, kegiatan yang bersifat uzlah dan
gerakan mistik yang berlebihan bukanlah
kehendak Islam, karena Islam adalah
agama amal dan mesti bergulat dengan
realitas.

13
 Ketiga, Pentingnya Kesadaran
 Nilai-
Nilai-nilai ilahiah (ma iman) menjadi
(ma’’ruf nahi munkar, iman)
tumpuan aktivisme Islam.
 Peranan kesa
kesadaran ini membedakan etika Islam dan
etika materialistis.

 Keempat, Etika Profetik (Berilmu)


 Sebagai pelembagaan dari pengalaman penelitian
dan pengetahuan, diharuskan melaksanakan ayat
ini, amar ma’
ma’ruf (menyuruh kebaikan), nahi munkar
(mencegah kejelekan) dan tu’
tu’minuna billah
(beriman kepada Allah).

 Gerakan Intelektual Profetik mengharuskan


adanya dan terciptanya kultur intelektual yang
kondusif.
 Parameternya yaitu: nilai-nilai atau idealisme
gerakan punya ruang atau tempat
eksperimentasi dan implementasi dalam
realitas, agar ia tidak bertemu hanya
dalam ruang hampa atau ruang dialektika
wacana semata.

14
Karena itu juga, Gerakan
Intelektual Profetik adalah gerakan
yang memberikan kemanfaatan
yang banyak atas realita sosial
(lingkungan, manusia, hewan,
tumbuh-tumbuhan).

15