Anda di halaman 1dari 10

RESUME

PROSES PENYEMBUHAN LUKA


Di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Patofisiologi
Dosen Pengampu : Budi Siswanto, S.kep, Ners, M.Sc

Disusun oleh :

Nama : Lisa Aulia Putry


Nim : P27901119079
Kelas : 1B D3 Keperawatan

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANTEN
TAHUN 2020
PROSES PENYEMBUHAN LUKA

A. Definisi Luka
Menurut Koiner dan Taylan, luka adalah terganggunya (disruption)
integritas normal dari kulit dan jaringan di bawahnya yang terjadi secara
tiba tiba atau disengaja, tertutup atau terbuka, bersih atau terkontaminasi,
superdical atau dalam.
Penyembuhan luka secara perdefinisi adalah perbaikan atau
penyusunan kembali jaringan/organ yang rusak, terutama kulit. Adanya
luka akan mengaktifkan proses sistemik yang merubah fungsi fisiologi
yang dapat melampaui kondisi lokal pada daerah yang mengalami luka.
Penyembuhan luka pada kulit merupakan kondisi yang kompleks,
mencakup berbagai respon terhadap cedera. Secara umum penyembuhan
luka menunjukkan respon organisme terhadap kerusakan fisik jaringan
/organ serta usaha pengembalian kondisi homeostasis sehingga tercapai
kestabilan fisiologi jaringan atau organ yang ditandai dengan terbentuknya
epitel yang fungsional diatas daerah luka. (Gurtner,2007; Mann
.dkk.,2001).
B. Prinsip Penyembuhan Luka
Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka menurut Morris
(1990):
Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi oleh
luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang, Respon tubuh
pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat tetap dijaga, Respon tubuh
secara sistemik pada trauma, Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka,
Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis pertama
untuk mempertahankan diri dari mikroorganisme, Penyembuhan normal
ditingkatkan ketika luka bebas dari benda asing tubuh termasuk bakteri.
C. Klasifikasi dan Jenis – Jenis Luka
1) Berdasarkan sifat kejadian dibagi menjadi 2 yaitu luka disengaja (luka
terkena radiasu atau bedah) dan luka yang tidak disengaja (luka
terkena trauma). Luka tidak disengaja dibagi menjadi 2 yaitu :
- Luka tertutup : luka dimana jaringan yang ada pada permukaan
tidak rusak (keseleo, terkilir, patah tulang, dsb)
- Luka terbuka : luka dimana kulit atau selaput jaringan rusak
2) Berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi :
a. Luka mekanik ( cara luka didapat dan luas kulit yang terkena)
- Luka insisi (incised wound), terjadi karena teriris oleh instrumen
yang tajam
- Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura setelah seluruh
pembuluh darah yang luka diikat (ligasi).
- Luka memar (Contusion Wound) adalah luka yang tidak disengaja
terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikan
oleh cedra pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak, namun
kulit tetap utuh. Pada luka tertutup, kulit terlihat memar
- Luka lecet (Abraded Wound) terjadi akibat kulit bergesekan
dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam
- Luka tusuk (Punctured Wound) Luka ini dibuat oleh benda yang
tajam yang memasuki kulit dan jaringan dibawahnya.
- Luka gores (Lacerated Wound) terjadi bila kulit tersobek secara
kasar.
- Luka tembus/luka tembak (Penetrating Wound) yaitu luka yang
menembus organ tubuh.
- Luka bakar (Combustio) luka yang terjadi karena jaringan tubuh
terbakar
- Luka gigitan (Morcum Wound) luka gigitan yang tidak jelas
bentuknya pada bagian luka.
b. Luka non mekanik : Luka akibat zat kimia, termik, radiasi atau
serangan listrik
3) Berdasarkan Tingkat kontaminasi
- Clean Wounds (Luka bersih) yaitu luka bedah tak terinfeksi
- Clean-contamined Wounds (luka bersih terkontaminasi) yaitu luka
pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau
perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu
terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% - 11%.
- Contamined Wounds (luka terkontaminasi) termasuk luka terbuka,
fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar
dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna
- Dirty or infected wounds (luka kotor atau infeksi) yaitu
terdapatnya mikroorganisme pada luka.
4) Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka
- Stadium I
Luka superfisial (Non-Blancing Erithema) yaitu luka yang terjadi
pada lapisan epidermis kulit
- Stadium II
Luka “Partial Thickness” yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan
epidermis dan bagian atas dari dermis
- Stadium III
Luka “Full Thickness” yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi
kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas
sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya.
- Stadium IV
Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot, tendon
dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas
5) Berdasarkan waktu penyembuhan luka
- Luka Akut
Yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai degan konsep
penyembuhan yang telah disepakati
- Luka kronis
Yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan,
dapat karena faktor eksogen dan endogen.
D. Macam-macam Penyembuhan Luka
a. Per Primam, yaitu penyembuhan yang terjadi setelah segera
diusahakan bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan
b. Per Sekundem, yaitu luka yang tidak mengalami penyembuhan per
primam. Proses penyembuhan terjadi lebih kompleks dan lebih lama.
Luka jenis ini biasanya tetap terbuka.
c. Per Tertiam atau per primam tertunda yaitu luka yang dibiarkan
terbuka selama beberapa hari, setelah tindakan debridemen setelah
diyakini bersih, tetapi luka dipertautkan (4-7 hari)
E. Proses Penyembuhan Luka

Tubuh secara normal akan berespon terhadap cedera dengan jalan


“proses peradangan”, yang dikarakteristikkan dengan lima tanda utama:
bengkak (swelling), kemerahan (redness), panas (heat), Nyeri (pain) dan
kerusakan fungsi (impaired function). Proses penyembuhannya mencakup
beberapa fase :

1. Fase Inflamasi

Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang


terjadi akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Tujuan yang
hendak dicapai adalah menghentikan perdarahan dan membersihkan area
luka dari benda asing, sel-sel mati dan bakteri untuk mempersiapkan
dimulainya proses penyembuhan. Pada awal fase ini kerusakan pembuluh
darah akan menyebabkan keluarnya platelet yang berfungsi sebagai
hemostasis.
Platelet akan menutupi vaskuler yang terbuka (clot) dan juga
mengeluarkan “substansi vasokonstriksi” yang mengakibatkan pembuluh
darah kapiler vasokonstriksi. Selanjutnya terjadi penempelan endotel yang
akan menutup pembuluh darah. Periode ini berlangsung 5-10 menit dan
setelah itu akan terjadi vasodilatasi kapiler akibat stimulasi saraf sensoris
(Local sensory nerve endding), local reflex action dan adanya substansi
vasodilator (histamin, bradikinin, serotonin dan sitokin).
Histamin juga menyebabkan peningkatan permeabilitas vena,
sehingga cairan plasma darah keluar dari pembuluh darah dan masuk ke
daerah luka dan secara klinis terjadi oedema jaringan dan keadaan
lingkungan tersebut menjadi asidosis. Secara klinis fase inflamasi ini
ditandai dengan : eritema, hangat pada kulit, oedema dan rasa sakit yang
berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-4.
Proses terjadinya inflamasi pada daerah yang luka (Morris,1990)
Selama sel berpindah lekosit (terutama neutropil) berpindah ke daerah
interstitial dan Tempat ini ditempati oleh makrofag yang keluar dari
monosit selama lebih kurang 24 jam setelah cidera/luka. Makrofag ini
menelan mikroorganisme dan sel debris melalui proses yang disebut
pagositosis. Makrofag juga mengeluarkan faktor angiogenesis (AGF) yang
merangsang pembentukan ujung epitel diakhir pembuluh darah. Makrofag
dan AGF bersama-sama mempercepat proses penyembuhan. Respon
inflamatori ini sangat penting bagi proses penyembuhan.
Inflamasi merupakan reaksi protektif vaskular dengan
menghantarkan cairan, produk darah dan nutrien ke jaringan interstisial ke
daerah cidera. Proses ini menetralisasi dan mengeliminasi patogen atau
jaringan mati (nekrotik) dan memulai cara-cara perbaikan jaringa tubuh.
Tanda inflamasi termasuk bengkak, kemerahan, panas, nyeri/nyeri tekan,
dan hilangnya fungsi bagian tubuh yang terinflamasi.
Bila inflamasi menjadi sistemik akan muncul tanda dan gejala
demam, leukositas, malaise, anoreksia, mual, muntah dan pembesaran
kelenjar limfe. Respon inflamasi dapat dicetuskan oleh agen fisik, kimiawi
atau mikroorganisme. Respon inflamasi termasuk hal berikut ini:
a) Respon Seluler Dan Vaskuler
Arteriol yang menyuplai darah yang terinfeksi atau yang cidera
berdilatasi, memungkinkan lebih banyak darah masuk dala sirkulasi.
Peningkatan darah tersebut menyebabkan kemerahan pada inflamasi.
b) Perbaikan Jaringan
Sel yang rusak akhirnya digantikan oleh sel baru yang sehat. Sel
baru mengalami maturasi bertahap sampai sel tersebut mencapai
karakteristik struktur dan bentuk yang sama dengan sel sebelumnya.

2. Fase Proliferatif
Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki
dan menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran fibroblas
sangat besar pada proses perbaikan yaitu bertanggung jawab pada persiapan
menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama proses
reonstruksi jaringan.
Pada jaringan lunak yang normal (tanpa perlukaan), pemaparan sel
fibroblas sangat jarang dan biasanya bersembunyi di matriks jaringan
penunjang. Sesudah terjadi luka, fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan
sekitar luka ke dalam daerah luka, kemudian akan berkembang (proliferasi)
serta mengeluarkan beberapa substansi (kolagen, elastin, hyaluronic acid,
fibronectin dan proteoglycans) yang berperan dalam membangun
(rekontruksi) jaringan baru.
Fungsi kolagen yang lebih spesifik adalah membentuk cikal bakal
jaringan baru (connective tissue matrix) dan dengan dikeluarkannya substrat
oleh fibroblas, memberikan pertanda bahwa makrofag, pembuluh darah baru
dan juga fibroblas sebagai kesatuan unit dapat memasuki kawasan luka.
Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam didalam jaringan baru
tersebut disebut sebagai jaringan “granulasi”. Fase proliferasi akan berakhir
jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah terbentuk, terlihat proses
kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth faktor yang dibentuk oleh
makrofag dan platelet.
Proses Proliuferasi Jaringan Luka. (Morris,1990) Fibroblast berpindah
dari pembuluh darah ke luka membawa fibrin. Seiring perkembangan
kapilarisasi jaringan perlahan berwarna merah. Jaringan ini disebut granulasi
jaringan yang lunak dan mudah pecah.
3. Fase Penyudahan
Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan
kembali jaringan yang berlebih, pengerutaan sesuai dengan gaya gravitasi dan
akhirnya perupaan kembali jaringan yang baru terbentuk. Fase ini dapat
berlangsung berbulan-bulan dan dinyatakan berakhir kalau semua sudah
lenyap. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal
karena proses penyembuhan. Udem dan sel radang diserap, sel muda menjadi
matang, kapiler baru menutup dan diserap kembali, kolagen yang berlebih
diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada.
F. Patofisiologi
Luka terjadi apabila ada suatu trauma yang mengenai tubuh yang bisa
disebabkan oleh traumatis/mekanis, perubahan suhu, zat kimia, ledakan,
sengatan listrik, dan gigitan hewan atau binatang. Luka yang terjadi dapat
menimbulkan beberapa tanda dan gejala seperti bengkak, krepitasi, shock,
nyeri, dan deformitas atau bisa juga menimbulkan kondisi yang lebih serius.
Tanda dan gejala yang timbul tergantung pada penyebab dan tipe luka.
G. Sel - sel yang berperan dalam proses penyembuhan luka
1) Fase Inflamasi
Sel leukosit ( netrofil)
Sel makrofag
2) Fase Proliferasi
Sel fibroblas mengeluarkan substansi kolagen, elastin, hyaluronic acid
fibronectin)
3) Fase maturase
Fibroblast meninggalkan jaringan granulasi
H. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka
1) Usia, Semakin tua seseorang maka akan menurunkan kemampuan
penyembuhan jaringan
2) Infeksi, Infeksi tidak hanya menghambat proses penyembuhan luka
tetapi dapat juga menyebabkan kerusakan pada jaringan sel penunjang,
sehingga akan menambah ukuran dari luka itu sendiri, baik panjang
maupun kedalaman luka.
3) Hipovolemia, Kurangnya volume darah akan mengakibatkan
vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk
penyembuhan luka.
4) Hematoma, Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah
pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam
sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan yang besar hal tersebut
memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh, sehingga
menghambat proses penyembuhan luka.
5) Benda asing, Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan
menyebabkan terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut
diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan
lekosit (sel darah merah), yang membentuk suatu cairan yang kental
yang disebut dengan nanah (“Pus”).
6) Iskemia, Iskemi merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan
suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah.
Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat
juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada
pembuluh darah itu sendiri.
7) Diabetes, Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan
peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat
hal tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh.
8) Pengobatan, Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan
normal tubuh terhadap cedera, Antikoagulan : mengakibatkan
perdarahan, Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan
untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan
setelah luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi
intravaskular.
I. Proses penyembuhan luka yang menyimpang
1) Infeksi
Infeksi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama
pembedahan atau setelah pembedahan. Gejala dari infeksi sering
muncul dalam 2-7 hari setelah pembedahan. Gejalanya berupa infeksii
termasuk adanya purulent, peningkatan drainase, nyeri, kemerahan dan
bengkak di sekeliling luka, peningkatan suhu dan peningkatan jumlah
sel darah putih.
2) Perdarahan
Perdarahan dapat menunjukan suatu pelepasan jahitan, sulit membeku
pada garis jahitan, infeksi atau erosi dari pembuluh darah oleh benda
asing (seperti drain).
3) Dehiscence dan Eviscerasi
Dehiscence dan eviscerasi adalag komplikasi operasi yang paling
serius. Dehiscence adalah terbukanya lapisan luka partial atau totaol.
Eviscerasi adalah keluarnya pembuluh melalui daerah irisan.