Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH AGAMA HINDU

"WEDA"

Dosen Pembimbing :
Dra. G. Ayu Ambarawati, M.Si.

Oleh :
Nama : Kadek Kevin Andrean
NPP : 30. 1056
Kelas : E-2

JURUSAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA


FAKULTAS MANAJEMEN PEMERINTAHAN
INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI
JATINANGOR
2020

1
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,
Atas Asung Kertha Wara Nugraha Ida  Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha
Esa) pada akhirnya makalah ini tersusun dalam bentuk yang sederhana setelah banyak
rintangan baik teknis maupun non tekhnis. Adapun judul makalah yang saya ambil adalah
“Weda”.
Penyusun menyadari bahwa komposisi, struktur maupun materi yang terdapat dalam
makalah ini masih jauh dari yang diharapkan, oleh karena itu penyusun menyadari beberapa
kekurangan-kekurangan dan keterbatasan penulis miliki. Oleh karena itu saran dan kritik dari
semua pihak yang sifatnya membangun sangat diharapkan dalam perbaikan makalah ini.
Dengan selesainya makalah ini penyusun ingin menyampaikan terima kasih kepada
guru kami yang telah banyak memberi petunjuk dalam pembuatan makalah ini, tak lupa juga
kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada teman-teman kami yang telah
banyak memberikan  motivasi dan dorongannya sehingga makalah ini dapat selesai tepat
pada waktunya.
Om Santi Santi Santi Om.

                                                                                                
Jatinangor, 23 Januari 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

COVER....................................................................................................................1
KATA PENGANTAR............................................................................................2 
DAFTAR ISI............................................................................................................3
BAB  I   PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang .........................................................................................4
1.2   Rumusan Masalah ....................................................................................4
1.3   Tujuan Penulisan ......................................................................................4
BAB  II PEMBAHASAN
2.1   Pengertian Weda.......................................................................................5
2.2   Arti Kata Veda..........................................................................................5
2.3   Bahasa Veda..............................................................................................6
2.4   Kedudukan Kitab Suci Veda.....................................................................7
BAB III PENUTUP
3.1   Kesimpulan.............................................................................................10
3.2   Saran........................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................11

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam berbagai kesempatan melalui ceramah agama Hindu, dharma vacana, dharma
tula, diskusi atau seminar, sebagian dari umat Hindu yang terpelajar menanyakan tentang
kitab suci Veda. Mereka meyakini kitab suci Veda sebagai sumber ajaran agama Hindu,
tetapi mereka belum pernah melihat bagaimana kitab suci Veda itu.

Kini perkembangan dunia modern sangat pesat, media komunikasi seperti televisi
sangat bermanfaat bagi pengembangan atau penyampaian ajaran agama. Umat Hindu
merasakan keterlambatan, ketidaksiapan dan kekurangan dalam memanfaatkan teknologi
modern ini. Perkembangan dunia modern dalam era globalisasi ini, umat Hindu khususnya
dan masyarakat pada umumnya ingin mengenal ajaran agamanya dan ajaran agama lain yang
tidak dipeluknya lebih mendalam lagi. Untuk mendalami ajaran agama Hindu, kita harus
merujuk pada kitab suci Veda.

1.2  Rumusan Masalah 
1.      Apa pengertian Weda?
2.      Apa arti kata Weda?
3.      Bagaimana bahasa Weda?
4.      Bagaimana Kedudukan Kitab Suci Veda?

1.3  Tujuan 
1.      Untuk mengetahui pengertian Weda
2.      Untuk mengetahui arti kata Weda
3.      Untuk mengetahui bahasa Weda
4.     Untuk mengetahui  Kedudukan Kitab Suci Veda

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Pengertian Veda
Pada tahun 1849 seorang sarjana Belanda R. Freiderich menulis tentang keberadaan
Veda di pulau Bali. Para Pandita  memiliki lontar (manuscript) berupa 4 buah Samhita yang
ditulis oleh Bhagavan Byasa (Maharsi Vyasa). Mereka merahasiakan isinya dan hanya
mengajarkan kepada pandita sisya (murid)nya. R. Freiderich hanya diijinkan melihat sebuah
lontar yaitu Brahmana Purana berbahasa Jawa Kuna. Kemudian sarjana Brumund dan Kern
menemukan bahwa mantram-mantram berbahasa Sanskerta yang bercampur dengan bahasa
Jawa Kuna itu adalah mantram ritual dan penjelasannya yang bersifat mistik dengan latar
belakang Saivisme dengan warna Tantric.
Terhadap mantram-mantram Sanskerta di Bali yang disebut Catur Veda tidak lain
adalah Narayanatharvasiropanisad yang aslinya terdiri dari 5 bait mantram (syair) dan di Bali
hanya dikenal 4 bait mantram yang masing-masing bait berakhir dengan :, etad Rgveda siro
dhite etad Yajurveda siri dhite, etad Samaveda siro dhite, dan etad Atharvaveda siro dhite.
Tentang Narayana Upanisad yang disebut Catur Veda ini, Sylvain Levi menyatakan
adalah 4 bait dari Narayana Upanisad yang pada tiap-tiap pada bagian akhir berisi kata sirah,
sering disebut Catur Veda Sirah. Jadi pada masa silam di Bali (Indonesia) tidak terdapat kitab
suci Veda. Tentang Gayatri Mantram para Padanda tidak pernah mendengar walaupun tiap
hari mengucapkan mantram itu (dalam Suryasevana) sumber aslinya adalah Rgveda III.62.10,
kita mengenal Brahma Gayatri, Rudra Gayatri, Gayatri Kavaca.
Para Pandita dan sastrawan Indonesia mengenal nama Catur Veda yang disebut Sang
Hyang Sruti melalui naskah-naskah Ramayana dan Mahabharata berbahasa Jawa Kuna. Dari
18 parva Mahabharata, hanya 9 parwa yang diwaris berbahasa Jawa Kuna.

2.2  Arti Kata Veda


Kata Veda dapat dikaji dari 2 pendekatan yaitu etimologi dan semantik. Kata Veda
berasal dari urat kata kerja Vid yang artinya mengetahui dan Veda berarti ‘pengetahuan’,
dalam arti semantik berarti pengetahuan suci, kebenaran sejati, pengetahuan tentang ritual,
kebijaksanaan yang tertinggi, pengetahuan spiritual sejati tentang kebenaran abadi, ajaran
suci atau kitab suci sumber ajaran agama Hindu.

5
Svami Dayananda Sarasvati dalam bukunya Rgvedadi Bhasya Bhumika menyatakan
kata Veda berasal dari 4 urat kata kerja:
1. Vid : mengetahui (Anadi, Set, Parasmaipada) – Vetti.
2. Vid : menjadi ada (Divadi, Anit) – Vidyate.
3. Vid : membedakan (Rudhadi, Anit) – Vinte.
4. Vidl : mencapai (Tudadi, Set) – Vidanti atau Vindate.
Maurice Winternitz di dalam bukunya A History of Indian Literature, volume I
menyatakan bahwa Veda (Rgveda) adalah pustaka monumental tertua Indo-Eropa (1927).
Demikian pula Bloomfield dalam bukunya The Religion of Veda menyatakan bahwa Veda
(Rgveda) bukan saja monument tertua umat manusia, tetapi juga dokumentasi di Timur yang
paling tua, dan memperlihatkan peradaban yang tinggi di antara mereka yang dapat dijumpai
dalam mantra-mantra Veda (1908). Sarvepali Radhakrishnan mengatakan bahwa Veda
mengandung makna kebijaksanaan  menunjukkan spiritual yang sejati dari yang dituju umat
manusia.
Veda dalam bentuk tunggal (bahasa Inggris) berarti pengetahuan suci dalam bentuk
jamak Vedas berarti dalam pengertian yang luas yakni seluruh kitab Sruti yang terdiri dari 4
Veda (Mantra Samhita), kitab-kitab Brahmana, Aranyaka dan kitab-kitab Upanisad. S.
Radhakrishnan lebih jauh menyatakan tentang arti Veda: Ilmu pengetahuan adalah
pengetahuan dalam tahap kedua disebabkan oleh pengkajian yang lebih mendetail, sedang

2.3 Bahasa Veda


Veda sebagai wahyu Tuhan Yang Maha Esa diyakini kebenarannya oleh seluruh umat
Hindu. Kebenaran Veda tidak diragukan lagi. Bahasa yang digunakan dalam Veda adalah
bahasa masyarakat di tempat wahyu itu diturunkan yaitu bahasa Sanskerta dan bahasa ini
tetap juga digunakan sampai berkembangnya susastra Veda pada jaman sesudah Veda itu
dihimpun dalam 4 himpunan yang disebut Samhita dan dikenal dengan nama Catur Veda
(Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atharvaveda).
Bahasa Sanskerta dipopulerkan oleh Maharsi Panini, pada waktu itu menulis sebuah
kitab Vyakarana yaitu kitab tata bahasa Sanskerta yang terdiri dari 8 Adyaya atau bab yang
terkenal dengan nama Astadhyayi yang mengemukakan bahwa bahasa yang digunakan dalam
Veda adalah bahasa deva-deva yang dikenal dengan nama daivivak yang artinya bahasa atau
sabda devata.
Maharsi Patanjali menulis kitab Bhasa dan merupakan buku kritik terhadap karya
Panini yang ditulis pada abad ke II Sebelum Masehi yang mengungkap nama Daivivak untuk
6
menamai bahasa yang digunakan dalam Veda termasuk kitab-kitab itihasa (sejarah), purana
(sejarah kuna), smrti/dharmasastra (kitab-kitab hukum), kitab-kitab agama (pegangan bagi
Sampradaya atau Paksa seperti Saivagama, Tantrayana, juga bahasa yang digunakan dalam
kitab-kitab darsana (filsafat Hindu).
Maharsi Katyayana dikenal pula dengan nama Vararuci yang hidup pada abad ke V
Sebelum Masehi, di Indonesia salah satu karyanya diterjemahkan dalam bahasa Jawa Kuno
pada jaman Majapahit  yaitu kitab Sarasamuccaya sedang Maharsi Panini hidup pada abad ke
VI Sebelum Masehi, pengaruh kitab Astadhyayi sangat besar dalam perkembangan bahasa
Sanskerta. Para ahli membedakan bahasa Sanskerta ke dalam 3 kelompok:
 Bahasa Sanskerta Veda (Vedic Sanskrit) bahasa Sanskerta yang digunakan jauh lebih
tua.
 Bahasa Sanskerta Klasik (Classical Sanskrit) bahasa Sanskerta yang digunakan dalam
susastra Hindu seperti itihasa, puran, dharmasastra.
 Bahasa Sanskerta Campuran (Hybrida Sanskrit) bahasa Sanskerta yang sudah
mendapat pengaruh dari bahasa yang berkembang pada saat itu.
2.4  Kedudukan Kitab Suci Veda
1. Veda, Kitab Suci, Sumber Ajaran Hindu
Satu-satunya pemikiran yang secara tradisional yang kita miliki adalah yang
mengatakan bahwa Veda adalah Kitab suci agama Hindu. Diyakini sebagai kitab suci karena
sifat isinya dan yang menurunkan (mewahyukan) adalah Tuhan Yang Maha Esa yang disebut
apauruseya.Sebagai kitab suci, Veda adalah sumber ajaran agama Hindu sebab dari Vedalah
mengalir ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu. Dari kitab Veda (Sruti)
mengalirlah ajarannya dan dikembangkan dalam kitab-kitab Smrti, Itihasa, Purana, Tantra,
Darsana, dan Tatwa-tatwa. Veda adalah sumber ajaran agama, sumber tertingi dari semua
sastra agama, berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, Veda diwahyukan pada permulaan adanya
pengertian waktu.
Veda mengandung ajaran yang memberikan keselamatan di dunia ini dan akhirat
nanti. Veda menuntun tindakan umat manusia sejak lahir sampai pada nafasnya yang terakhir.
Ajaran Veda tidak terbatas hanya sebagai tuntunan hidup individual, tetapi juga dalam
hidupbermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Segala tuntunan hidup ditunjukan kepada kita
oleh ajaran Veda yang terhimpun dalam kitab-kitab Samhita, Brahmana, Aranyaka, Upanisad
maupun yang dijelaskan kembali dalam kitab-kitab susastra Veda atau susastra Hindu
lainnya.

7
2. Veda, Wahyu Tuhan Yang Maha Esa
Veda sebagai himpunan Sabda atau wahyu berasal dari Apauruseya (bukan dari
purusa atau manusia) sebab para rsi penerima wahyu berfungsi hanya sebagai instrument
(sarana) dari Tuhan Yang Maha Esa untuk menyampaikan ajaran suci-Nya. Svami
Dayananda Saraswvati menyakan Veda adalah Sabda-Nya dan segala kuasa-Nya bersifat
abadi, Rgveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atharvaveda berasal dan merupakan Sabda-Nya,
Tuhan Yang Maha Agung dan Sempurna, Para Brahman yang memiliki kekuasaan yang
menjadikan diri-Nya sendiri, penuh kesadaran, supra empiris, dan sumber kebahagiaan dan
Veda merupakan sabda-Nya yang bersifat abadi.
Tentang para rsi yang menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa dan menyampaikan
secara lisan melalui tradisi kuno yakni system perguruan yang disebut “parampara”, seorang
filologis Veda dan penyusun kitab Nirukta bernama Yaskacarya menyatakan:

 Nirukta  I. 19
  Saksat krta dharman rsayo
  Bubhuvuste’saksat krta dharmabhya
  Upadesena mantram sampradu.

Artinya:
Para rsi adalah mereka yang memahami dan mampu merealisasikan dharma dengan
sempurna. Beliau mengajarkan hal tersebut kepada mereka yang mencari kesempurnaan
yang belum mereali-sasikan hal itu.

Jadi berdasarkan kutipan tersebut di atas, para rsi adalah mereka yang menerima
wahyu Tuhan Yang Maha Esa karena kesucian pribadinya, mereka menerima sabda suci-
Nya. Oleh karena itu seorang rsi disebut mantradrasta (mantradrastarah itirsih). Ada beberapa
cara seorang rsi menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa:
1. Svaranada yakni gema
2. Upanisad, pikiran para rsi dimasuki oleh sabda Brahman
3. Darsana atau Darsanam yakni rsi atau orang suci berhadapan dengan deva-deva
4. Avatara yakni manusia berhadapan dengan Avatara-Nya
3. Veda, Sumber Hukum Hindu

8
Maharsi Manu, peletak dasar hukum Hindu menjelaskan Veda adalah sumber dari segala
dharma atau hukum Hindu.

Manavadharmasastra II.6
Vedo’khilo dmharma mulam
Smrti sile ca tad vida,
Acarasca iva sadhunam
Atmanas tustir eva ca.

Artinya
‘Veda adalah sumber dari segala dharma, kemudian barulah smrti, di samping sila, acara
dan atmanastuti’.

Kita mengenal sumber-sumber hukum Hindu menurut kronologisnya sebagai berikut:


 Veda (Sruti)
 Smrti (dharmasastra)
 Sila (tingkah laku orang suci)
 Acara (tradisi yang baik)
 Atmanastuti (keheningan hati)
4. Nama-nama lain Kitab Suci Veda
Adapun nama-nama lain dari kitab suci Veda antara lain:
 Kitab Sruti
 Atharvaveda
 Kitab Rahasya, rahasya artinya bahwa Veda mengandung ajaran yang bersifat rahasia
yakni moksa
 Kitab Agama, menunjukkan bahwa kebenaran Veda adalah mutlak dan harus diyakini
kebenarannya.
 Kitab Mantra, Kitab Mantra adalah nama lain dari kitab Veda, karena Veda memang
berbentuk mantra atau puisi (syair) yang dapat dilagukan.

9
BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Weda merupakan kitab suci yang didalamnya terdapat ajaran-ajaran dan filsafat hidup
yang termuat dalam sloka-sloka. Di dalam kitab Weda juga diajarakan pengetahuan-
pengetahuan yang sifatnya membimbing umat Hindu ke jalan yang benar.

3.2    Saran
Mari kita wujudkan bersama-sama tentang bagaimana cara kita sebagai pelajar dan
umat Hindu untuk selalu menghayati dan mengamalkan serta melaksanakan  apa itu yang
termuat dalam Weda. Dan saya menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk
itu kritik dan saran sangat saya harapkan dari teman-teman sekalian dan para pembaca
lainnya demi makalah ini lebih sempurna dan bermanfaat bagi banyak orang. 

10
DAFTAR PUSTAKA

https://hindualukta.blogspot.co.id/2015/05/mengenal-veda-makalah.html
https://kimjongin93.wordpress.com/tag/hukum-hindu/ http://novitamahayeni.blogspot.co.id/2
016/08/weda-sumber-hukum-hindu.html#more
http://maretanakbali.blogspot.co.id/2014/08/weda-sebagai-sumber-dan-kitab-suci-hindu.html
https://www.scribd.com/doc/50623603/TUGAS-AGAMA-HINDU
Ajegbali.org/node/43. 2015,10,22. 09.30, Drs. Anak Agung Gde Oka Netra
http://bimashindusultra.blogspot.co.id/2013/10/weda-kitab-suci-agama-
hindu.html.2015,10,22. 09.35. I Nengah Sumendra, S.Ag., M.Fil.H
http://www.geocities.ws/bukukmhdi/bpk21.html.  2015,10,25, 18.30. Made Surya Putra
https://id.wikipedia.org/wiki/Purana. 2015,10,25. 19.00. Wikipedia
http://sekalaniskala32.blogspot.co.id/2014/02/sumber-ajaran-agama-hindu-melalui-
lontar.html. 2015,10,26. 09.00. Meghaa46
https://kompiangyaniari.wordpress.com/2015/01/13/hari-suci-agama-hindu/ .2015.12.29.
19.00 Kompyangyaniari
Maswinara, I Wayan. 1999. Dewa-Dewa Hindu, Surabaya: Paramita
Pudja, G. 1983. RG Weda Sruti Mandala VI, Dapartemen Agama RI
Sadia W, dkk. 1983. RG Weda Sruti Mandala VI, Dapartemen Agama RI
Supriadi, Ida Bagus. 2004. Buku Pelajaran Agama Hindu. Surabaya : Paramita
Titib, I Made. 1994. Ketuhanan Dalam Weda, Denpasar : PT Pustaka Manikgeni
Tim Penatar. 1992. Bahan Penataran Guru-Guru Agama Hindu Tingkat SMTP dan
SMTA.  Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Bali
Yasa, I G Badjera dan Goda, I Gst G. 1983. Acara Agama II. Proyek Pembinaan Mutu
Pendidikan Agama Hindu dan Budha Departemen Agama R.I

11