Anda di halaman 1dari 53

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Periode penting dalam masa tumbuh kembang seorang anak adalah masa
balita, karena masa ini adalah merupakan pertumbuhan dasar yang
mempengaruhi dan menentukan perkembangan selanjutnya. Masa balita ini
meliputi perkembangan kemampuan bahasa, kreativitas, kesadaran sosial,
kesadaran emosional dan intelegensi berjalan sangat cepat (Soetjiningsih, 2000).
Masa lima tahun pertama kehidupan merupakan masa yang sangat peka terhadap
lingkungan, berlangsung sangat pendek serta tidak dapat diulang lagi, maka
masa balita disebut sebagai masa keemasan, jendela kesempatan dan masa kritis
yang memerlukan penanganan stimulasi pertumbuhan dan perkembangan yang
tepat agar prosesnya dapat berlangsung dengan baik (Kemenkes RI, 2010;
Hockenberry & Wilson, 2010).
Pada masa balita terdapat perkembangan kemampuan bicara dan bahasa,
kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia yang berjalan sangat
cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan moral
serta dasar-dasar kepribadian anak juga dibentuk pada masa ini, sehingga setiap
kelainan atau penyimpangan kecilpun apabila tidak terdeteksi apalagi tidak
tertangani dengan baik akan mengurangi kualitas sumber daya manusia di
kemudian hari (Kemenkes RI, 2010). Pertumbuhan dan perkembangan pada
masa beberapa tahun pertama anak merupakan indikator kesehatan yang penting,
karena masalah pertumbuhan akan berhubungan dengan angka kesakitan dan
kematian pada anak dibawah usia lima tahun, sedangkan keterlambatan
perkembangan akan berdampak pada masalah psikososial dan perkembangan
intelektual dan belajar (Jeharsae et al., 2013). Pemantauan pertumbuhan dan
perkembangan juga berguna untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak
usia dini dan kesiapan anak memasuki jenjang pendidikan formal (Menteri
Kesehatan Republik Indonesia, 2014).
Permasalahan pertumbuhan dan perkembangan yang dapat terjadi pada masa

1
2

anak adalah antara lain adalah : gangguan bicara dan bahasa, cerebral palsy,
sindrom down, gangguan autisme, perawakan pendek, gangguan pemusatan
perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) dan retardasi mental (Kemenkes RI,2010).
Penelitian dari Grantham-Mcgregor, et al., (2007) menyatakan bahwa
sejumlah 200 juta anak balita mengalami kegagalan mencapai potensi
perkembangan disebabkan karena kemiskinan, kesehatan yang buruk dan
kurangnya stimulasi dari lingkungan rumah. Kondisi tersebut mempengaruhi
perkembangan kognitif, motorik dan perkembangan sosial emosional anak. Di
negara Taiwan, keterlambatan pertumbuhan pada anak usia 1-5 tahun sebesar
27,6% dan angka keterlambatan perkembangan adalah 37,1% (Jeharsae et al.,
2013). Penyimpangan perkembangan yang mencakup gangguan mental
menyumbangkan 14% beban penyakit global. Anak penderita autisme ditemukan
pada usia delapan tahun sebanyak 14,7% ditemukan di Amerika Serikat (Report,
2014). Kelainan ketajaman visual juga ditemukan sebesar 14,8% di Turki
(Ozturk, 2011). Peran serta keterlibatan semua pihak sangat penting untuk
memfasilitasi anak mencapai tingkat perkembangan yang optimal.Pembinaan
tumbuh kembang anak secara komprehensif dan berkualitas diselenggarakan
melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang anak
(SDIDTK).Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjangkau balita dan anak
prasekolah sebesar 90% pada tahun 2010 (Kemenkes RI, 2010). Deteksi sejak
dini atau deteksi dini tumbuh kembang (DDTK) dan penanganan kelainan yang
sesuai dengan usia anak dapat meminimalisir kelainan pertumbuhan dan
perkembangan anak sehingga kelainan yang permanen akan dapat dicegah
(Chamidah,2009).
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013, balita umur 6-59
bulan yang tidak pernah ditimbang dalam enam bulan terakhir cenderung
meningkat dari 25,5% (2007), 23,8% (2010) menjadi 34,3% (2013) (Kementrian
Kesehatan RI, 2013). Data lain berdasarkan Profil Kesehatan pada Posyandu
terdapat 72,44% jumlah balita ditimbang dan di posyandu terdapat 62%. Hal ini
menunjukkan bahwa pemantauan pertumbuhan balita pada tahun 2013
mengalami penurunan dan dapat berdampak pada perkembangan balita di
3

masaselanjutnya.
Posyandu dengan cakupan DDTK anak balita dan prasekolah pada tahun
2014 baru tercapai sebesar 86,82% .Berdasarkan data Profil kesehatan posyandu
tahun 2008, cakupan DDTK posyandu pernah pada posisi terendah, yaitu
3,82%.
Dalam pelaksanaan kegiatan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan
anak di Belgia terdapat kendala pada jadwal kehadiran kunjungan anak dan
orangtua yang tidak teratur ke tempat pelayanan kesehatan, sehingga berdampak
pada monitoring yang kurang maksimal (Roberfroid, et al., 2005). Pelaksanaan
program SDIDTK di puskesmas dan jaringannya masih terbatas pada deteksi
dini penyimpangan pertumbuhan, sedangkan deteksi dini penyimpangan
perkembangan, penyimpangan mental emosional dan stimulasi sesuai dengan
usia anak masih belum dilaksanakan (Maritalia, 2009). Pemantauan
perkembangan juga merupakan hal yang sangat penting untuk dilaksanakan agar
dapat melihat kemajuan perkembangan anak di tiap-tiap tahapannya. Cakupan
DDTK yang rendah antara lain disebabkan oleh rendahnya peran serta orangtua,
guru, kader, dan tokoh masyarakat yang terkait (Purwandari,2008).
Pemeriksaan DDTK di Dinas Kesehatan termasuk dalam kegiatan program
pelayanan kesehatan anak balita yang berada dalam Seksi Program KIA
(Kesehatan Ibu dan Anak). Seksi KIA mempunyai fungsi merencanakan,
melaksanakan, monitoring dan evaluasi, pembinaan dan pengawasan serta
mengembangkan pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Penyelenggaraan manajemen kesehatan memiliki posisi strategis yang
sangat menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan. Kondisi saat ini
terkait dengankemampuan perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian
dibeberapajenjang administrasi pemerintah masih lemah, sehingga belum
mampu mendukung desentralisasi bidang kesehatan (Dinas Kesehatan
Kabupaten , 2011).
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti di Seksi (KIA)
Dinas Kabupaten pada bulan September 2014, mendapatkan informasi bahwa
program DDTK termasuk di dalam program kunjungan balita yaitu minimal
4

delapan kali ditimbang per tahun dan belum menjadi program khusus.sehingga
DDTK belum terlaksana secara maksimal, sedangkan sosialisasi buku pedoman
DDTK di tingkat puskesmas sudah dimulai sejak tahun 2013 sampai sekarang.
Pelaksana kegiatan DDTK di tingkat puskesmas terdiri dari bidan, ahli gizi dan
perawat dengan kegiatan penimbangan berat badan (BB) dan tinggi badan (TB)
balita di posyandu tiap bulan.Pemeriksaan DDTK belum banyak dilakukan
karena kendala jumlah tenaga yang terbatas dibandingkan dengan jumlah anak
balita yang harus diperiksa dan format observasi perkembangan yang belum
tersedia dipuskesmas.
1.2 RumusanMasalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalahnya adalah
Bagaimana asuhan kebidanan pada balita dan prasekolah di puskesmas padas
ngawi?
1.3 Tujuan
1. Tujuan umum
Tujuan dari asuhan kebidanan ini adalah penulis dapat memberikan asuhan
kebidanan pada balita dan prasekolah
2. Tujuankhusus
a. Mampu melakukan pengkajian secara lengkap dan akurat pada balita dan
prasekolah
b. Mampu merumuskan diagnosa dan / masalah kebidanan sesuai dengan
nomenklatur kebidanan
c. Mampu merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnosa dan
masalah yang ditegakkan
d. Mampu melaksanakan rencana asuhan kebidanan pada Balita dan
prasekolah secara komprehensif
e. Mampu mengevaluasi hasil tindakan sesuai dengan perubahan
perkembangan kondisi klien
f. Mampu melaksanakan pencatatan asuhan kebidanan secara singkat dan
jelas dalam bentuk SOAP
5

1.4 Manfaat
1. Manfaat keilmuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang
kegiatanpemeriksaan DDTK di Kabupaten Posyandu, faktor-faktor
penghambat danpendukung keberhasilanprogram.
2. Manfaat aplikatif
a. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi data awal bagi penelitian
selanjutnya untuk mengembangkan penelitian terkait dengan deteksi dini
tumbuh kembanganak.
b. Dapat sebagai informasi bagi dinas terkait untuk mengembangkan program
DDTK lebih intensif agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik
terhadap kesehatan anak terutama dalam bidang pemantauan pertumbuhan
danperkembangan.
6

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Tumbuh Kembang AnakPrasekolah


2.1.1 Definisi TumbuhKembang
1. Definisi
a. Pertumbuhan
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua kata yang berbeda, namun
tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pertumbuhan (growth) merupakan
peningkatan jumlah dan ukuran sel pada membelah diri dan sintesis protein
baru, menghasilkan peningkatan ukurandan berat seluruh atau sebagian sel
(Wong, 2008, hlm.109).
b. DefenisiPerkembangan
Perkembangan (development) merupakan perubahan dan perluasan secara
bertahap, perkembangan tahap kompleksitas dari dari yang lebih rendah ke
yang lebih tinggi, peningkatan dan perluasan kapasitas seseorang melalui
pertumbuhan, maturasi serta pembelajaran (Wong,2008, hlm.109).
c. Pertumbuhan AnakPrasekolah
Pertumbuhan masa prasekolah pada anak yaitu pada pertumbuhan fisik,
khususnya berat badan mengalami kenaikan rata-rata pertahunnya adalah 2
kg, kelihatan kurus, akan tetapi aktivitas motoriknya tinggi, dimana sistem
tubuh sudah mencapai kematangan, seperti berjalan, melompat, dan lain-lain.
Sedangkan pada pertumbuhan tinggi badan anak kenaikannya rata-rata akan
mencapai 6,75-7,5 cm setiap tahunnya (Hidayat, 2009, hlm. 25)
d. Konsep Perkembangan AnakPrasekolah
Perkembangan merupakan proses yang tidak akan berhenti. Masa prasekolah
merupakan fase perkembangan individu dapat usia 2-6 tahun, perkembangan
pada masa ini merupakan masa perkembangan yang pendek tetapi merupakan
masa yang sangat penting (Fikriyanti, 2013,hlm.18).
7

2. Teori-Teori Perkembangan
a. Teori Perkembangan kognitif (JeanPiaget)
Perkembangan kognitif menurut Piaget merupakan perubahan-perubahan
yang terkait usia yang terjadi 6dalam aktifitas mental. Ia juga menyebutkan
bahwa kesuksesan perkembangan kognitif mengikuti prosses yang urutannya
melewati empat fase, yaitu fase sensorimotorik (0-2 tahun), fase pra-operasional
(2-7 tahun), fase operasional (7-11 tahun) dan fase operasional formal (>11
tahun) (Wong, 2008, hlm118).
Dalam teori perkembangan ini anak prasekolah termasuk dalam fase pra-
operasional, fase pra-operasional anak belum mampu mengoperasionalisasikan
apa yang dipikirkan melalui tindakan dalam pikiran anak (Wong, 2008, hlm
119).
b. Teori Perkembangan Psikososial(Erikson)
Menurut Santrock (2011), Teori perkembangan ini dikemukakan oleh Erikson yang
mengemukakan bahwa perkembangan anak selalu dipengaruhi oleh motivasi
sosial dan mencerminkan suatu keinginan untuk berhubungan dengan orang lain.
Untuk mencapai kematangan kepribadian psikososial anak harus melewati
beberapa tahap yaitu : tahap percaya dan tidak percaya (1-3
tahun),tahapkemandirianversusmalu-malu(2-4tahun),tahapinisiatifv e r s u s
r a s a bersalah (3-6 tahun), tahap terampil versus minder (6-12 tahun), tahap
identidas versus kebingungan peran (12-18 tahun) (Wong, 2008, hlm 117).
Dalam teori perkembangan psikososial anak prasekolah termasuk dalam
tahap perkembangan inisiatif versus rasa bersalah.Pada tahap ini anak mulai
mencari pengalaman baru secara aktif. Apabila anak menapat dukungan dari
orang tuanya untuk mengekplorasikan keingintahuannya maka anak akan
mengambil inisiatif untuk suatu tindakan yang akan dilakukan, tetapi bila
dilarang atau dicegah maka akan tumbuh perasaan bersalah pada diri anak
(Wong, 2008, hlm 118).
c. Teori Perkembangan Psikoseksual (Freud)
Teori perkembangan psikoseksual pertama kali dikemukakan oleh
Sigmun Freud, ia menggunakan istilah psikoseksual untuk menjelaskan segala
8

kesenangan seksual. Selama masa kanak-kanak bagian-bagian tubuh tertentu


memiliki makna psikologik yang menonjol sebagai sumber kesenangan baru dan
konflik baru yang secara bertahap bergeser dari satu bagian tubuh ke bagian
tubuh lain pada tahap-tahap perkembangan tertentu. Dalam perkembangan
psikoseksual anak dapat melalui tahapan yaitu: tahap oral (0-1 tahun), tahap anal
(1-3 tahun), tahap falik (3-6 tahun), tahap laten (6-12 tahun), dan tahap genital
(>12 tahun) ((Wong, 2008, hlm 117).
Dalam teori perkembangan psikoseksual anak prasekolah termasuk
dalam tahap phalilc, dalam tahap ini genital menjadi area tubuh yang menarik
dan sensitif anak mulai mengetahui perbedaan jenis kelamin dan menjadi ingin
tahu tentang perbedaan tersebut (Wong, 2008, hlm 117).
d. Teori Perkembangan Moral(Kohlberg)
Teori perkembangan moral dikemukakan oleh Kohlberg dengan
memandang tumbuh kembang anak ditinjau dari segi moralitas anak dalam
menghadapi kehidupan, tahapan perkembangan moral yaitu: tahap
prakonvensional (orientasi pada hukum dan kepatuhan), tahap prakonvensional
(orientasi instrumental bijak), tahap konvensional, tahap pasca konvensional
(orientasi kontak sosial) (Wong, 2008, hlm 119).
Dalam teori perkembangan moral anak prasekolah termasuk dalam tahap
prakonvensional, dalam tahap perkembangan ini anak terorientasi secara budaya
dengan label baik atau buruk, anak-anak menetapkan baik atau buruknya suatu
tindakan dari konsekuensi tindakan tersebut. Dalam tahap ini anak tidak
memiliki konsep tatanan moral, mereka menentukan prilaku yang benar terdiri
atas sesuatu yang memuaskan kebutuhan mereka sendiri meskipun terkadang
kebutuhan orang lain. Hal tersebut diinterprestasikan dengan cara yang sangat
konkrit tanpa kesetiaan, rasa terimakasih atau keadilan (Wong, 2008, hlm.120)
3. Prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan
Menurut Santrock (2011), Perkembangan dan pertumbuhan mengikuti prinsip
cephalocaudal dan proximodistal. Prinsip cephalocaudal merupakan rangkaian
dimana pertumbuhan yang tercepat selalu terjadi diatas, yaitu di
kepala.Pertumbuhan fisik dan ukuran secara bertahap bekerja dari atas kebawah,
9

perkembangan sensorik dan motorik juga berkembang menurut prinsip ini,


contohnya bayi biasanya menggunakan tubuh bagian atas sebelum meeraka
menggunakan tubuh bagian bawahnya.
Prinsip proximodistal (dari dalam keluar) yaitu pertumbuhan dan perkembangan
bergerak dari tubuh bagian dalam ke luar. Anak-anak belajar
mengembangkan kemampuan tangan dan kaki bagian atas ( yang lebih dekat dengan
bagian tengah tubuh) abru kemudian bagian yang lebih jauh, dilanjutkan dengan
kemampuan menggunakan telapak tangan dan kaki dan akhirnya jari-jari tangan dan
kaki ( Papalia, dkk, 2010, hlm 170)
4. Aspek–Aspek Pertumbuhan Dan Perkembangan
a. AspekPertumbuhan
Untuk menilai pertumbuhan anak dilakukan pengukuran antropometri,
pengukuran antropometri meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan
(panjang badan), lingkar kepala.
Pengukuran berat badan digunakan untuk menilai hasil peningkatan atau
penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, pengukuran tinggi badan
digunakan untuk menilai status perbaikan gizi disamping faktor genetik
sedangkan pengukuran lingkar kepala dimaksudkan untuk menilai pertumbuhan
otak. Pertumbuhan otak kecil (mikrosefali) menunjukkan adanya reterdasi
mental, apabila otaknya besar (volume kepala meningkat) terjadi akibat
penyumbatan cairan serebrospinal (Hidayat, 2011, hlm 37).
b. Aspek perkembangan
Motorik kasar (gross motor) merupakan keterampilan yang meliputi
aktivitas otot yang besar seperti gerakan lengan dan berjalan(Santrock, 2011,
hlm 210). Perkembangan motorik kasar pada masa prasekolah, diawali dengan
kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama 1-5 detik, melompat dengan
satu kaki, membuat posisi merangkak dan lain-lain (Hidayat, 2009,hlm.25).
Motorik halus (fine motor Skills) merupakan keterampilan fisik yang
melibatkanototkecildankoordinasimetadantanganyangmemerlukan koordinasi
yang cermat (Papilia, Old & Feldman, 2010, hlm. 316). Perkembangan motorik
halus mulai memiliki kemampuan menggoyangkan jari-jari kaki, menggambar
10

dua atau tiga bagian, menggambar orang, mampu menjepit benda, melambaikan
tangan dan sebagainya (Hidayat, 2009,hlm.26).
Bahasa (language) adalah kemampuan untuk memberikan respon terhadap
suara, mengkuti perintah dan dan berbicara spontan.Pada perkembangan bahasa
diawali mampu menyebut hingga empat gambar, menyebut satu hingga dua
warna, menyebutkan kegunaan benda, menghitung, mengartikan dua kata,
meniru berbagai bunyi, mengerti larangan dan sebagainya (Hidayat,
2009,hlm.26).
Prilaku sosial (personal social) adalah aspek yang berhubungan dengan
kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Perkembangan adaptasi sosial pada anak prasekolah yaitu dapat berrmain
dengan permainan sederhana, mengenali anggota keluarganya, menangis jika
dimarahi, membuat permintaan yang sederhana dengan gayatubuh, menunjukan
peningkatan kecemasan terhadapa perpisahan dan sebagainya (Hidayat,
2009,hlm.26)
Untuk menilai perkembangan anak yang dapat dilakukan adalah dengan
wawancara tentang faktor kemungkinan yang menyebabkan gangguan dalam
perkembangan, kemudian melakukan tes skrining perkembangan anak (Hidayat,
2009, hlm. 38).
5. Tahap Perkembangan AnakPrasekolah
Menurut Wong (2008), priode prasekolah dimulai dari usia 3-6 tahun periode ini
dimulai dari waktu anak bergerak sambil berdiri sampai mereka masuk sekolah.
dicirikan dengan aktivitas yang tinggi. Pada masa ini merupakan perkembangan
fisik dan kepribadian yang pesat, kemampuan interaksi sosial lebih luas, memulai
konsep diri, perkembangan motorik berlangsung terus menerus ditandai
keterampilan motorik seperti berjalan, berlari danmelompat.
6. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang AnakPrasekolah
Menurut Hidayat (2009) Proses Percepatan dan Perlambatan Tumbuh kembang
anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.
a. FaktorHerediter
Faktor herediter merupakan faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar
11

dalam mencapai tumbuh kembang.Yang termasuk faktor herediter adalah


bawaan, jenis kelamin, ras, suku bangsa.
Faktor ini dapat ditentukan dengan intensitas dan kecepatan alam
pembelahan sel telur, tingkat sensitifitas jaringan terhaap rangsangan, umur
puberitas, dan berhentinya pertumbuhan tulang.
b. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan ini dapat meliputi lingkungan pranatal, lingkungan
postnatal, dan faktor hormonal. Faktor pranatal merupakan lingkungan dalam
kandungan, mulai dari konsepsi sampai lahir yang meliputi gizi pada waktu ibu
hamil, posisi janin, pengunaan obat-obatan , alkohol atau kebiasaan merokok
Faktor lingkungan pasca lahir yang mempengaruhi tumbuh kembang
anak meliputi budaya lingkungan, sosial ekonomi, keluarga.nutrisi, posisi anak
dalam keluarga dan status kesehatan.
Faktor hormonal yang berperan dalam tumbuh kembang anak antara
lain. somatotrofin (growth Hormon) yang berperan alam mempengaruhi
pertumbuhan tinggi badan, dengan menstimulasi terjadinya poliferasi sel kartigo
dan sistem skeletal. Hormon tiroid menstimulasi metabolisme tubuh,
glukokartikoidmenstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari testis untuk
memproduksi testosteron dan ovarium untuk memproduksi esterogen
selanjutnya hormon tersebut menstimulasi perkembangan seks baik pada anak
laki-laki maupun perempuan yang sesuai dengan peran hormonnya.

2.2 Stimulasi, Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang AnakPrasekolah


2.2.1 Stimulasi Tumbuh Kembang AnakPrasekolah
Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0sampai6 tahun agar
anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin
sedini mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan. Stimulasi tumbuh kembang 
anak dilakukan oleh ibu dan ayahyang merupakan orang terdekat dengan anak, pengganti ib
u/pengasuh anak, anggota keluarga lain dankelompok masyarakat di lingkungan rumah ta
ngga masingmasing dan dalam kehidupan seharihari. Kurangnya stimulasi dapat menyeb
abkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang menetap (Kemenkes
12

RI, 2016) 
Kemampuan dasar anak yang dirangsang dengan stimulasi terarah 
adalah kemampuan 
gerak kasar kemampuan gerak halus, kemampuan bicara dan bahasa serta kemampuan 
sosialisasi dan kemandirian.Dalam melakukan stimulasi tumbuh kembang anak, ada beberap
a prinsip dasar yang perlu diperhatikan, yaitu: Stimulasi dilakukan dengan dilandasi 
rasa cinta dan kasih sayangSelalu tunjukkan sikap dan perilaku yang baik  karena anak
 akan meniru tingkah laku orangorang yang terdekat dengannya. Berikan stimulasi sesuai de
ngan kelompok umur anak. Lakukan stimulasi dengan cara mengajak anak bermain, 
bemyanyi, bervariasi, menyenangkan, tanpa paksaan dan tidak ada hukuman. Lakukan  
stimulasi  secara  bertahap  dan  berkelanjutan  sesuai  umur  anak, terhadap ke 4 aspek   
kemampuan dasar anak. Gunakan alat bantu/permainan yang sederhana, aman dan ada di 
sekitar anak.Berikan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan
( Kemenkes RI,2016)
Anak selalu diberi pujian, bila perlu diberi hadiah atas keberhasilannya.Pada bagian 
sebelumnya sudah dijelaskan bahwa perkembangan kemampuan dasar anak anak 
berkorelasi dengan pertumbuhan. Perkembangan kemampuan dasar anak mempunyai 
pola yang tetap dan berlangsungsecara berurutan. Dengan demikian stimulasi yang
diberikan kepada anak dalam rangkamerangsang pertumbuhan dan perkembangan anak da
pat diberikan oleh orang tua/keluarga sesuai dengan pembaian kelompok umur 
stimulasi anak berikut ini: 

no Periode tumbuh kembang Kelompok umur


stimulasi
1 Masa prenatal, janin dalam kandungan  Masa prenatal 

2 Masa bayi 0 - 12 bulan  Umur 0-3 bulan 
Umur 3-6 bulan 
Umur 6-9 bulan 
Umur 9-12 bulan 
3 Masa anak balita 12-60 bulan  Umur 12-15 bulan 
13

Umur 15-18 bulan 
Umur 18-24 bulan 
Umur 24-36 bulan 
Umur 36-48 bulan 
Umur 48-60 bulan 

4 Masa prasekolah 60-72 bulan  Umur 60-72 tahun 
2.2.2 Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Prasekolah
Deteksi dini tumbuh kembang anak adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk
menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak
prasekolah. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan atau masalah tumbuh
kembang anak, maka intervensi akan mudah dilakukan, tenaga kesehatan juga
mempunyai waktu dalam membuat rencana tindakan yang tepat terutama untuk
melibatkan ibu dan keluarga (Depkes, 2012, hlm. 40).
Kegiatan stimulasi deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang
balita yang menyeluruh dan terkoordinasi diselenggarakan dalam bentuk kemitraan
antara keluarga (orang tua, pengasuh anak dan anggota keluarga lainnya), masyarakat
(kader, tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat) dan tenaga professional
(kesehatan, pendidikan dan sosial) (Depkes, 2012, hlm.1).
Melalui kegiatan SDIDTK kondisi terparah dari penyimpangan pertumbuhan
anak seperti gizi buruk dapat dicegah, karena sebelum anak jatuh dalam kondisi gizi
buruk, penyimpangan pertumbuhan yang terjadi pada anak dapat terdeteksi melalui
kegiatan SDIDTK.Selain mencegah terjadinya penyimpangan pertumbuhan, kegiatan
SDIDTK juga mencegah terjadinya penyimpangan perkembangan dan penyimpangan
mental emosional (Hermawan, 2011).
Menurut Depkes RI (2012) ada 3 jenis kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh
tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya berupa deteksi dini
penyimpangan pertumbuhan, deteksi penyimpangan perkembangan dan deteksi
penyimpangan mental emosional.
Adapun jadwal kegiatan dan jenis skrining atau deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang
14

pada balita dan anak pra sekolah adalah sebagai berikut.


Tabel .2.2.Jadwal dan Jenis Kegiatan Deteksi Dini Pertumbuhan dan Perkembangan Pada
Balita dan Anak Pra Sekolah (Depkes, 2012,hlm.40).
Umur Jenis Kegiatan Deteksi Dini Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan Perkembangan Mental Emosional
BB LK KPSP TDD TDL KMME CHAT GPPH
/TB
0 bln √ √
3 bln √ √ √ √
6 bln √ √ √ √
9 bln √ √ √ √
12 bln √ √ √ √
15 bln √ √
18 bln √ √ √ √ √
21 bln √ √ √
24 bln √ √ √ √ √
30 bln √ √ √ √
36 bln √ √ √ √ √ √ √
42 bln √ √ √ √ √
48 bln √ √ √ √ √ √
54 bln √ √ √ √ √
60 bln √ √ √ √ √ √
66 bln √ √ √ √ √
72 bln √ √ √ √ √ √
Keterangan :
BB/TB : Berat Badan terhadap TinggiBadan
LK : LingkarKepala
KPSP : Kuesioner Pra SkriningPerkembangan
TDD : Tes DayaDengar
TDL : Tes DayaLihat
KMME : Kuesioner Masalah MentalEmosional
15

CHAT : Ceklist for Autism inToddler


GPPH : Gangguan Pemusatan Perhatian danHiperaktivitas
Jadwal dan jenis deteksi dini tumbuh kembang dapat berubah sewaktu-waktu pada
keadaan kasus rujukan, ada dicurigai anak mempunyai penyimpangan pertumbuhan, dan
jika ada keluhan anak mempunyai masalah tumbuh kembang.
1. Deteksi Dini PenyimpanganPertumbuhan
Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui atamenemukan
status gizi kurang atau buruk dan mikro atau makrosefali.Jenis kegiatan yang
dilaksanakan meliputi pengukuran berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB) dan
pengukuran Lingkar Kepala Anak (LKA) (Depkes, 2012, hlm.41).
Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan dilakukan di semua tingkat pelayanan.
Adapun pelaksana dan alat yang digunakan sebagai berikut :
Tabel 2.3.Pelaksana dan alat yang digunakan dalam Deteksi Dini Penyimpangan
Pertumbuhan (Depkes, 2012, hlm.41).
Tingkat pelayanan Pelaksana Alat yang digunakan
Keluarga dan - orangtua - KMS
masyarakat - kaderkesehatan - Timbangan Dacin
- petugas PAUD, BKB,
TPA dan guruTK
Puskesmas - Dokter - Tabel BB/TB
- Bidan - Grafik LK
- Perawat - Timbangan
- Ahli Gizi - Alat Ukur tinggi
- Peugaslainnya Badan
- Pita pengukur
lingkar kepala
Pengukuran Tinggi badan terhadap tinggibadan
Tujuan pengukuran BB/ TB adalah untuk menemukan status gizi anak, normal, kurus,
kurus sekali atau gemuk.Jadwal pengukuran BB/TB disesuaikan
denganjadwaldeteksidinitumbuhkembangbalita,pengukurandilakukanolehtenaga
kesehatan terlatih.Pengukuran BB/TB pada anak prasekolah menggunakan timbangan
injak.
16

Cara penimbangannyayaitu:
1. Letakkan timbangan dilantai yang datar. Lihat posisi jarum atau angka harus
menunjukkan angka 0. Anak sebaiknya memakai baju sehari-hari, tidak memakai
jaket, alas kaki, topi, jam tangan, dan tidak memegangsesuatu.
2. Anak berdiri diatas timbangan tampadipegangi.
3. Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan atau angka timbangan
(Depkes, 2012, hlm42).
Cara pengukuran Tinggi badan yaitu :
Anak tidak memakai sandal atau sepatu saat diukur tinggi
badannyarujuk kerumah sakit (Depkes, 2012, hlm.50).
1. , kemudian anak berdiri tegak menghadap kedepan, punggung, pantat dan tumit
menempel pada tiangpengukur,
2. Turunkan batas atas pengukur sampai menempel diubun-ubun.
3. Baca angka pada batas tersebut (Depkes, 2012, hlm42).
Penggunaan Tabel BB/ TB untuk menentukan status gizi anak yaitu dengan
amelakukan pengukuran tinggi badan anak sesuai cara diatas, lihat kolom tinggi
badan anak yang sesuai dengan hasil pengukuran, pilih kolom untuk beratbadan
berdasarkan jenis kelamin anak, cari berat badan yang terdekat dengan berat badan
anak. dari angka berat badan tersebut, lihat bagian atas kolom untuk mengetahui
angka Standar Deviasi (SD) (Depkes, 2012, hlm 42).
Pengukuran Lingkar KepalaAnak
Tujuan pengukuran lingkar kepala anak adalah untuk mengetahui batas lingkar kepala
anak dalam batas normal atau diluar batas normal.Jadwal pemeriksaan disesuaikan
dengan umur anak.Umur 0-11 bulan, pengukuran dilakukan setiap tiga bulan.Pada anak
yang lebih besar, umur 12-72 bulan, pengukuran dilakukan setiap 6 bulan.pengukuran
dan penilaian lingkar kepala anak dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih (Depkes,
2012, hlm. 50).
Cara mengukur lingkar kepala yaitu alat pengukur lingkar kepala anak mengenai
dahi, menutupi alais mata, diatas diua telinga, dan bagian kepala yang menonjol, tarik
agak kencang.Baca angka pada pertemuan dengan angka 0.Tanyakan tanggal lahir anak,
hitung umur anak.Hasil pengukuran dicatat pada grafik lingkaran kepala menurut umur
17

dan jenis kelamin anak kemudian buat garis yang menghubungkan antara ukuran yang
lalu dengan ukuran sekarang (Depkes, 2012, hlm.50).
Interpretasi hasil pengukuran yaitu bila ukuran lingkar kepala anak berada
didalam “jalur hijau” maka lingkar kepala anak normal.Bila ukuran lingkaran kepala
anak berada diluar “jalur hijau” maka lingkaran kepala anak tidak normal.Lingkar
kepala anak tidak normal ada 2 (dua), yaitu makrosepal bila berada diatas “jalur hijau”
dan mikrosefal bila berada di bawah “jalur hijau”. Intervensi yang dilakukan bila
detemukan makrosefal ataupun mikrosefal segera
18

Gambar 2.1 Grafik Lingkar Kepala perempuan dan laki-laki


2. Deteksi Dini PenyimpanganPerkembangan
Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan
perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya lihat, dan gangguan daya dengar.
Jenis kegiatan yang dilaksanakan meliputi skrining atau pemeriksaan menggunakan
Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), Tes Daya Lihat (TDL) dan Tes Daya
Dengar ( TDD). Deteksi Dini Penyi
mpangan Pertumbuhan dilakukan di semua tingkat pelayanan (Depkes, 2012,hlm.52).
Tingkat pelayanan Pelaksana Alat yang digunakan
Keluarga dan - orangtua Buku KIA
masyarakat - kader kesehatan, BKB,
TPA
- Petugas PAUDterlatih - KPSP
- Guru TK terlatih - TDL
- TDD
Puskesmas - Dokter - KPSP
- Bidan - TDL
- Perawat - TDD

Pertumbuhan (Depkes, 2012, hlm.52).


Keterangan:
BukuKIA : Buku Kesehatan Ibu Dan Anak
KPSP : Kuesioner Pra SkriningPerkembangan
TDL : Tes DayaLihat
TDD : Tes DayaDengar
BKB : Bina KeluargaBalita
TPA : Tempat PenitipanAnak
PusatPAUD : Pusat Pendidikan Anak Usia Dini
TK : TamanKanak-kanak
Skrining atau pemeriksaan perkembangan anak menggunakan menggunakan Kuesioner Pra
Skrining Perkembangan(KPSP)
Tujuan skrining atau pemeriksaan perkembangan anak menggunakan KPSP adalah untuk
19

mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan. Jadwal skrining atau
pemeriksaan KPSP rutin adalah pada umur3,6,9,12,15,18,21,24,30,36,42,48,54,60,66 dan 72
bulan. Skrining ataupemeriksaan dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru TK dan petugas PAUD
terlatih.alat atau instrumen yang digunakan adalah formulir KPSP menurut umur, alat bantu
pemeriksaan berupa pensil, kertas, bola tenis, bola besar dan kubus (Depkes, 2012, hlm52).
Cara penggunaan KPSP yaitu :
a. Pada waktu pemeriksaan atau skrining anak harusdibawa.
b. Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal, bulan dan tahun anaklahir.
Bila umur anak lebih 16 hari dibulatkan jadi 1 bulan.
c. setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai dengan umuranak.
d. KPSP terdiri ada 2 macam pertanyaan, yaitu : pertanyaan yang dijawab oleh ibu atau
pengasuh anak, dan perintah kepada ibu atau pengasuh anak untuk melaksanakan tugas yang
tertulis pada KPSP . Tanyakan pertanyaan secara berurutan, satu persatu. Setiap pertanyaan
hanya ada 1 jawaban, Ya atau Tidak. Catat jawaban tersebut pada formulir tersebut. Teliti
kembali apakah semua pertanyaan telah terjawab (Depkes, 2012, hlm52).
Interpretasi hasil KPSP yaitu dengan menghitung jawaban YA, bila ibu atau pengasuhanak
menjawab :anak bisa atau pernah atau sering atau kadang- kadang melakukan nya.sedangkan
jawaban TIDAK, bila ibu atau pengasuh
menjawabanakbelumpernahmelakukanatautidakpernahatauibuatau pengasuh tidak tahu. Jumlah
jawaban“Ya“ = 9 atau 10, perkembangan anak sesuai dengan tahap perkembangan
(S).Jumlahjawaban“Ya“ =7 atau 8, perkembangan anak meragukan (M). Jumlah jawaban
“Ya“ = 6 atau kurang, kemungkinan ada penyimpangan (P). Untuk JawabanTIDAK , perlu
diperincikan jumlah jawaban Tidak menurut jenis keterlambatan(gerak kasar, gerak halus,
bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian) (Depkes,2012, hlm 53).
Intervensi hasil pemeriksaan KPSP yaitu bila perkembangan
anak sesuai umur (S) maka beri pujian pada ibu atau pengasuh,
teruskan pola asuh anak sesuai dengan tahap perkembangan anak,
berikan stimulsi sesering mungkin, sesuai dengan tahap
perkembangan anak dan lakukan pemeriksaan atau skrining rutin
menggunakan KPSP setiap 3 bulan pada anak yang kurang dari 24
bulan dan setiap 6 bulan untuk anak umur 24 sampai 72 bulan
20

(Depkes, 2012, hlm 53).

1. Isilah titik dibawah ini dengan jawaban anak. Jangan membantu Bicara & Ya Tidak
kecuali mengulang pertanyaan. “Apa yang kamu lakukan jika bahasa
kamu kedinginan?”………..
“Apa yang kamu lakukan jika kamu lapar?”…………….. “Apa
yang kamu lakukakn jika kamu lelah?”……………
Jawab “Ya” bila anak menjawab 3 pertanyaan dengan benar,
bukan dengan gerakan atau isyarat. Jika dingin jawaban yang
benar adalah “menggigil”, “pakai mantel”, atau “masuk kedalam
rumah” Jika lapar jawaban yang benar adalah “makan”
Jika lelah jawaban yang benar adalah “mengantuk”, “tidur”,
“berbaring atau tidur-tiduran”, “istirahat” atau “diam sejenak”
2. Apakah anak dapat mengancingkan bajunya atau pakaian Sosialisasi & Ya Tidak
boneka? kemandirian
3. Suruh anak berdiri satu kaki tanpa berpegangan, jika perlu Gerak kasar Ya Tidak
tunjukan caranya, dan beri anak kesempatan
melakukannya 3 kali. Dapatkah anak mempertahanakn
keseimbangannya selama 6 detik atau lebih ?
4. Jangan mengoreksi atau membantu anak. jangan mennyebut Gerak halus Ya Tidak
“lebih panjang”. Perhatikan dua garis ini pada
anak.
Tanyakan : “mana garis yang panjang”
Minta anak menunjuk garis yang lebih panjang,
setelah anak menunjuk putar lembar ini dan ulangi pertanyaan
tersebut. Setelah anak menunjuk putar lagi dan ulangi pertanyaan
tadi.
Apakah anak dapat menunjuk garis sebanyak 3 kali dengan benar?
21

. Jangan membantu anak dan jangan memberitahu nama gambar Gerak halus Ya Tidak
ini, suruh anak menggambar seperti contoh ini dikertas kosong
yang tersedia. Berikan 3 kali kesempatan .
Apakah anak dapat mendapat menggambar seperti contoh ini
Jawaban : Ya
Jawaban : Tidak

6. Ikuti perintah ini dengan seksama. Jangan memberi isyarat Bicara & Ya Tidak
dengan telunjuk atau mata pada saat memberi perintah berikutini: bahasa
“Letakkan kertas di atas lantai”
“ Letakkan kertas ini di bawah kursi” “Letakkan kertas ini di
depan kamu” “Letakkan kertas ini dibelakang kamu”
Jawaban Ya hanya jika anak mengerti arti “di atas”, “dibawah”,
“didepan”, dan “dibelakang”.
7. Apakah anak bereaksi dengan tenang dan tidak rewel (tanpa Sosialisasi & Ya Tidak
menangis atau menggelayut pada anda) pada saat kemandirian
anda meninggalkannya
8. Jangan menunjuk, membantu atau membetulkan katakan Bicara & Ya Tidak
padaanak: “Tunjuk segi empatmerah” bahasa
“ Tunjuk segi empat kuning” “Tunjuk segi empat biru” “Tunjuk
segi empat hijau”
Dapatkah anak menunjuk keempat gambar tersebut dengan benar?
9. Suruh anak melompat dengan satu kaki beberapa kali tanpa Gerak kasar Ya Tidak
berpegangan (lompatan dengan dua kaki tidak ikut dinilai).
Apakah ia dapat melompat 2-3 kali dengan satu kaki?
10. Dapatkah anak sepenuhnya berpakaian sendiri tanpa bantuan? Sosialisasi & Ya Tidak
kemandirian

Bila perkembangan anak meragukan meragukan (M), beri


petunjuk pada ibu untuk melakukan stimulasi perkembangan anak
lebih sering lagi, ajari ibu melakukan intervensi stimulasi
perkembangan anak untuk mengatasi penyimpangan atau mengejar
22

ketertinggalannya.Lakukan pemeriksan kesehatan untuk mencari


kemungkinan adanya penyakit yang menyebabkan penyimpangan
perkembangan anak.lakukan penilaian ulang KPSP 2 minggu
kemudian dengan menggunakan daftar KPSP yang sesuai dengan
umur anak. Jika hasil KPSP ulang “Ya“ tetap 7 atau 8 maka
kemungkinan ada penyimpangan (P) (Depkes, 2012, hlm53).
Bila tahap perkembangan terjadi penyimpangan (P), maka
rujuk ke rumah sakit dengan menulis jenis dan jumlah
penyimpangan perkembangan (gerakan kasar, gerakanhalus, bicara
dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian) (Depkes, 2012, hlm 53).
a. Tes Daya Dengar (TDD)
1. Tujuan tes daya dengar adalah menemukan gangguan pendengaran sejak dini, agar dapa
t segera ditindaklanjuti untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak. 
2. Jadwal TDD adalah setiap 3 bulan pada bayi umur kurang dari 12 bulan dan setiap 6 
bulan pada anak umur 12 bulan keatas. Tes ini dilaksanakan oleh  tenaga kesehatan, 
guru TK, tenaga PAUD dan petugas terlatih  lainnya.  Tenaga  kesehatan  mempunyai  
kewajiban  memvalidasi  hasil  pemeriksaan tenaga lainnya. 
3. Alat/sarana yang diperlukan adalah: 
lnstrumen TDD menurut umur anak. 
4. Cara melakukan TDD : 
Tanyakan  tanggal,  bulan dan tahun anak  lahir, hitung  umur anak  dalam buIan. 
 Pilih daftar pertanyaan TDD yang sesuai dengan umur anak. 
Pada anak umur kurang dari 24 bulan:  
a.Semua pertanyaan harus dijawab oleh orang tua/pengasuh anak. Katakan pada Ibu/Peng
asuh untuk tidak usah ragu  atau takut menjawab, karena tidak untuk mencari
 siapa yang salah. 
b.Bacakan  pertanyaan  dengan  lambat,  jelas  dan nyaring,  satu  persatu, berurutan. 
c. Tunggu jawaban dari orangtua/pengasuh anak. 
d.Jawaban YA jika menurut orang tua/pengasuh, anak dapat melakukannya dalam 
satu bulan terakhir. 
23

e.Jawaban TIDAK jika menurut orang tua/pengasuh  anak tidak pernah, tidak tahu atau tak 
dapat melakukannya dalam satu bulan terakhir. 
Pada anak umur  24 bulan atau lebih: 
1) pertanyaan berupa perintah melalui orangtua/pengasuh untuk dikerjakan oleh
 anak. 
2) Amati kemampuan anak dalam melakukan perintah orangtua/pengasuh. 
3) Jawaban YA jika anak dapat melakukan perintah orangtua/pengasuh. 
4) Jawaban TIDAK jika anak tidak dapat atau tidak mau melakukan perintah orangtua/
pengasuh. 
5.lnterpretasi: 
a.Bila ada  satu  atau  lebih jawaban  TIDAK,  kemungkinan anak  mengalami ganggua
 pendengaran.
b. Catat dalam Buku KIA atau register SDIDTK, atau status/catatan medik anak. 
6. lntervensi: 
a.Tindak lanjut sesuai dengan buku pedoman yang ada. 
b.  Rujuk ke RS bila tidak dapat ditanggulangi 
(KemenkesRI,2016)
25

Tabel 2.8 Instrumen Tes Daya Dengar Menurut Umur anak<24 bulan
Umurkurangatausampai 3 bulan : Ya Tidak
1. KemampuanEkspersif :
Apakahbayidapatmengatakanaaaaa, ooooo?
Apakahbayimenatapwajahdantampakmendengarkananda, laluberbicarasaatandadiam?
Apakahandadapatseolaholahberbicaradenganbayianda?
2. KemampuanReseptif :
Apakahbayikagetbilamendengarsuara (mengejapkanmata, napaslebihcepat)?
Apakahbayikelihatanmenolehbilaandaberbicara di sebelahnya?
3. Kemampuan Visual :
Apakahbayiandadapattersenyum?
Apakahbayiandakenaldengananda, sepertitersenyumlebihcepatpadaandadibandingkan
orang lain?
Total jawabanTidak

Umurlebihdari 3 bulansampai 6 bulan : Ya Tidak


1. KemampuanEkspersif:
Apakahbayiandadapattertawakeras?
Apakahbayidapatbermainmenggelembungkanmulutsepertimeniupbalon?
2. KemampuanReseptif :
Apakahbayimemberiresponstertentu, sepertimenjadilebihriangbilaandadatang?
Pemeriksadudukmenghadapbayi yang dipangku orang tuanya,
bunyikanbeldisampingtanpaterlihatbayi, apakahbayimenolehkesamping?
3. Kemampuan Visual :
Pemeriksamenatapmatabayisekitar 45 cm,
lalugunakanmainanuntukmenarikpandanganbayikekiri, kanan, atasdanbawah,
Apakahbayidapatmengikutinya?
Apakahbayiberkedipbilapemeriksamelakukangerakanmenusukmata, laluberhentisekitar 3
cm tanpamenyentuhmata?
Total jawabanTidak

Umurlebihdari 6 bulansampai 12 bulan : Ya Tidak


1. KemampuanEkspersif :
Apakahbayidapatmembuatsuaraberulangsepertimamamama, babababa?
Apakahbayidapatmemanggil mama atau papa, walaupuntidakuntukmemanggil orang
tuanya?
2. KemampuanReseptif :
Pemeriksadudukmenghadapbayi yang dipangku orang
tuanya,bunyikanbeldisampingbawahtanpaterlihatbayi,
26

apakahbayilangsungmenolehkesampingbawah?
Apakahanakmengikutiperintahtanpadibantugerakanbadan, seperti stop,
berikanmainanmu?
3. Kemampuan Visual :
Apakahbayimengikutiperintahdengandibantugerakanbadan, seperti stop,
berikanmainanmu?
Apakahbayisecaraspontanmemulaipermainandengangerakantubuh, sepertipokame-
ameataucilukba?
Total jawabanTidak

Umurlebihdari 12 bulansampai 18 bulan : Ya Tidak


1. KemampuanEkspersif :
Apakahanakdapatmemanggil mama atau papa, hanyauntukmemanggil orang tuanya?
Apakahanakmulaimenggunakan kata-kata lain, selain kata mama, papa, anggotakeluarga
lain danhewanpeliharaan?
2. KemampuanReseptif :
Pemeriksadudukmenghadapbayi yang dipangku orang tuanya,
bunyikanbeldisampingbawahtanpaterlihatbayi,
apakahbayilangsungmenolehkesampingbawah?
Apakahanakmengikutiperintahtanpadibantugerakanbadan, seperti stop,
berikanmainanmu?
3. Kemampuan Visual :
Apakahanaksecaraspontanmemulaipermainandengangerakantubuh, sepertipokame-
ameataucilukba?
Apakahanakandamenunjukdenganjaritelunjukbilainginsesuatu,
bukandengancaramemegangdengansemuajari?
Total jawabanTidak

Umurlebihdari 18 bulansampai 24 bulan : Ya Tidak


1. KemampuanEkspersif:
Apakahanakdapatmengucapkanduaataulebih kata yang menunjukkankeinginan,
sepertisusu, minum, lagi?
Apakahanaksecaraspontanmengatakan2 kombinasi kata, sepertimaubobo, lihat papa?
2. KemampuanReseptif :
Apakahanakdapatmenunjukkan paling sedikitsatuanggotabadan, missal manahidungmu?
Manamatamu? Tanpadibericontoh?
Apakahanakdapatmengerjakan 2 macamperintahdalamsatukalimat,
sepertiambilsepatumudantaruhdisini, tanpadibericontoh?
3. Kemampuan Visual :
27

Apakahanaksecaraspontanmemulaipermainandengangerakantubuh, sepertipokame-
ameataucilukba?
Apakahanakandamenunjukdenganjaritelunjukbilainginsesuatu,
bukandengancaramemegangdengansemuajari?
Total jawabanTidak

Umurlebihdari 24 bulansampai 30bulan : Ya Tidak


1. KemampuanEkspersif :
Apakahanakmulaimenggunakan kata-kata lain, selain kata mama, papa, anggotakeluarga
lain danhewanpeliharaan?
Apakahanakmulaimengungkapkan kata yang berarti “milik” misal “susukamu”,
“bonekaku”?
2. KemampuanReseptif :
Apakahanakdapatmengerjakan2 macamperintahdalamsatukalimat,
sepertiambilsepatumudantaruhdisini, tanpadibericontoh?
Apakahanakdapatmenunjuk minimal 2 namabenda di depannya (cangkir, bola, sendok)?
3. Kemampuan Visual :
Apakahanaksecaraspontanmemulaipermainandengangerakantubuh, sepertipokame-
ameataucilukba?
Apakahanakandamenunjukdenganjaritelunjukbilainginsesuatu,
bukandengancaramemegangdengansemuajari?
Total jawabanTidak

Umurlebihdari 30 bulansampai 36 bulan : Ya Tidak


1. KemampuanEkspersif :
Apakahanakdapatmenyebutkannamabendadankegunaannya? Cangkiruntukminum, bola
unyukdilempar, pensilwarnauntukmenggambar, sendokuntukmakan?
Apakahlebihdaritigaperempat orang mengertiapa yang dibicarakananakanda?
2. KemampuanReseptif :
Apakahanakdapatmenunjukkan minimal 2 namabenda di depannya, sesuaifungsinya
(misaluntukminum :cangkir, untukdilempar; bola, untukmakan: sendok;
untukmenggambar; pensilwarna)?
Apakahanakdapatmengerjakanperintah yang disertai kata depan? (misal:
sekarangkubusitudibawahmeja, tolongtaruhdiatasmeja)?
3. Kemampuan Visual :
Apakahanaksecaraspontanmemulaipermainandengangerakantubuh, sepertipokame-
ameataucilukba?
Apakahanakandamenunjukdenganjaritelunjukbilainginsesuatu,
bukandengancaramemegangdengansemuajari?
28

Total jawabanTidak

Umurlebihdari 36 bulan : Ya Tidak


1. KemampuanEkspersif :
Apakahanakdapatmenyebutkannamabendadankegunaannya? Cangkiruntukminum, bola
unyukdilempar, pensilwarnauntukmenggambar, sendokuntukmakan?
Apakahlebihdaritigaperempat orang mengertiapa yang dibicarakananakanda?
2. KemampuanReseptif :
Apakahanakdapatmenunjukkan minimal 2 namabenda di depannya, sesuaifungsinya
(misaluntukminum :cangkir, untukdilempar; bola, untukmakan: sendok;
untukmenggambar; pensilwarna)?
3. Kemampuan Visual :
Apakahanaksecaraspontanmemulaipermainandengangerakantubuh, sepertipokame-
ameataucilukba?
Apakahanakandamenunjukdenganjaritelunjukbilainginsesuatu,
bukandengancaramemegangdengansemuajari?
Total jawabanTidak

6. Tes Daya Lihat(TDL)


Tujuan tes daya lihat adalah untuk mendeteksi secara dini kelainan daya
lihat agar segera dapat dilakukan tindakan lanjutan sehingga kesempatan untuk
memperoleh ketajaman daya lihat menjadi lebih besar. Jadwal tes daya lihat
dilakukan setiap 6 bulan pada anak usia prasekolah umur 36 sampai 72 bulan. Tes
ini dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru TK, dan petugas terlatih. Alat atau
sarana yang diperlukan yaitu dua buah kursi, poster E atau snellen chart (Depkes,
2012, hlm71).
Cara melakukan tes daya lihat :
1. Pilih ruangan yang bersih dannyaman
2. Gantung poster E atau snellen chart setinggi mata anak pada
posisiduduk
3. Letakkan sebuah kursi sejauh 3 meter dari poster E atau snellen
chart, menghadap ke
poster E atau snellen chart.
4. Letakkan sebuah kursi lainnya disamping poster E atau snellen chart untuk
pemeriksa.
29

5. Pemeriksa memberikan kartu E pada anak, latih anak dalam mengarahkan kartu E
yang ada ditangannya mengahadap atas, bawah, kanan, kiri, sesuai petunjuk pada
poster E atau snellen chart. lakukan hal ini dengan benar sampai anak dapat
mengarah kan kartu E denganbenar.
6. Selanjutnya anak diminta menutup mata dengan kertas atau buku, dengan alat
penunjuk, tunjuk huruf E pada poster E atau snellen chart, satu persatu, mulai baris
pertama sampai baris keempat atau baris E terecil yang masih dapat dilihat. Puji anak
setiap kali dapat mencocokkan kartu E yang ada di tangannya dengan yang ada di
poster E atau snellen chart. Ulangi pemeriksaan tersebut pada mata yang belum
diperiksa dengan cara yangsama.
7. Tulis baris “E” terkecil yang masih dapat dilihat, pada kertas yang telah tersediakan:
Mata kanan :………. Matakiri:………
Interpretasi hasil pemeriksaan TDL yaitu bila kedua mata anak tidak dapat
melihat baris ketiga poster E atau snellen chart, artinya anak tidak dapat
mencocokkan arah kartu E yang dipegangnya dengan yang ada pada poster E atau
snellen chart pada baris ketiga yang ditunjuk oleh pemeriksa. kemungkinan anak
mengalami gengguan daya lihat. Intervensi yang dilakukan bila
kemungkinananakmengalamigangguanpenglihatanmakamintaanakdatinglagi untuk
pemeriksaan ulang, bila pada peameriksaan berikutnya anaktidak dapat melihat
sampai baris yang sama maka rujuk kerumah sakit dengan menuliskan mata yang
mengalami gangguan (kanan, kiri atau keduanya) (Depkes, 2012, hlm70).
30

Gambar 2.2. Poster E atau Snellen Chart


30

3. Deteksi Dini Penyimpangan Mental Emosional Pada Anak Prasekolah

Deteksi dini penyimpangan perilaku emosional adalah kegiatan/pemeriksaan

untuk menemukansecara dini adanya masalah perilaku emosional, autisme dan ga
ngguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak, agar dapat segera 

dilakukan tindakan intervensi. Bila penyimpangan perilaku emoslonal terlambat di
ketahui, maka lntervenslnya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada 

tumbuh kembang anak. 
Deteksi yang dilakukan menggunakan: 
1. Kuesioner Masalah Perilaku Emosional (KMPE) bagi anak  umur 36 bulan 
sampai 72 buIan. 
2. Ceklis autis anak prasekolah (Modified Checklist for Autism in Toddlers (MC
HAT) bagi anak umur 18 bulan sampai 36 bulan. 
3. Formulir deteksi  dini Gangguan  Pemusatan  Perhatian  dan  Hiperaktivitas 
GGPPH) menggunakanAbreviated Conner Rating Scale bagi anak umur 36 
bulan ke atas. 
a. Deteksi Dini Masalah Perilaku Emosional 
1. Tujuannya adalah mendeteksi secara dini adanya penyimpangan/masalah 
perilaku emosional pada anak pra sekolah. 
2. Jadwal deteksi dini masalah perilaku emosional adalah rutin setiap 6 bula
n pada anak umur 36 bulan sampai 72 bulan. Jadwal ini sesuai dengan ja
dwal pelayanan SDIDTK. 
3. Alat yang digunakan adalah Kuesioner Masalah Perilaku Emosional
(KMPE) yang terdiri dari 14 pertanyaan untuk mengenali problem perila
ku emosional anak umur 36 bulan sampai 72 bulan. 
4. Cara melakukan : 
a. Tanyakan setiap pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu pers
atu perilaku yang tertulis pada KMPE kepada orang tua/pengasuh anak. 
b. Catat jawaban YA, kemudian hitung jumlah jawaban YA. 
5. lnterpretasi 
Bila ada jawaban YA, maka kemungkinan anak mengalami masalah peril
aku emosional. 
31

6. lntervensi : 
Bila jawaban YA hanya 1 (satu) : 
• Lakukan konseling kepada orang tua menggunakan Buku Pedoman 
Pola Asuh Yang Mendukung Perkembangan Anak. 
• Lakukan evaluasi setelah 3 bulan, bila tidak ada perubahan rujuk ke 
Rumah Sakit yang memberi pelayanan rujukan tumbuh kembang atau 
memiliki fasilitas pelayanan kesehatan jiwa. 
• Bila jawaban YA ditemukan 2 (dua) atau lebih :  Rujuk  ke Ruma
h Sakit yang memberi pelayanan rujukan tumbuh kembang atau memiliki fa
silitas pelayanan kesehatan jiwa. Rujukan harus disertai 
informasi mengenai jumlah dan masalah mental emosional yang ditemukan. 
b. Cara menggunakan M-CHAT. 
1.Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu perilaku 
yang tetulis pada M-CHAT kepada orang tua atau pengasuh anak. 
2. Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan tugas pada Modified
-Checklist for Autism in Toddlers (M-CHAT) 
3. Catat jawaban orang tua/pengasuh anak dan kesimpulan hasil pengamatan 
kemampuan anak, YA atauTIDAK. Teliti kembali apakah semua pertany
aan telah dijawab. 
4. Interpretasi: 
1. Enam pertanyaan No. 2, 7, 9, 13, 14, dan 15 adalah pertanyaan penting 
 (crirical item) jika dijawab tidak berarti pasien mempunyai risiko ringgi 
autism. Jawaban tidak pada dua atau lebih critical item  atau tiga pernyaa
n lain yang dijawab tidak sesuai   (misalnya seharusnya dijawab ya, o
rang tua menjawab tidak) maka anak tersebut mempunyai risiko autism 
2. Jika perilaku itu jarang dikerjakan  (misal anda melihat satu atau 2 kali
) , mohon dijawab anak tersebut tidak melakukannya. 
5. Intervensi: 
Bila anak memiliki risiko tinggi autism atau risiko autism, Rujuk ke Rumah
  Sakit yang memberi layanan rujukan tumbuh kembang anak. 

tabel 2.9 Deteksi dini penyimpangan perilaku emosional alogiritma pemeriksaan KMPE
32

Hasil Pemeriksaan Interpretasi Tindakan


Tidak ada jawaban "Ya" Normal Puji keberhasilan orangtua/asuh.
Lanjutkan stiulasi sesuai umur.
Jadwalkan kjunga 6 bulan lagi
Ada 1 Jawaban "Ya" Kemungkinan anak mengalami Konseling kepada orang tua
maslah mental emosional jadwalkn kunjungan 3 bulan
lagi, bila tidak ada perubahan
rujuk ke RS Rujukan Tumbuh
Kembang level 1
Ada 2 jawaban "Ya" Kemugkian anak mengalami Rujukan ke RS Tumbuh Kembang
maslah mental emosional level 1

Tabel 2.10 Intrumen Kuesioner Masalah Perilaku dan Emosional


No Pertanyaan Ya Tidak
1 Apakah anak anda sering berakksi negatif, marah atau tegang tanpa
sebab yang jelas?(beraksi negatif contohnya rewel, tidak sabaran, banyak
menangis, mudah tersinggung atau beraksi berlebihan bila merasa situasi
tidak seperti yang diharapkannya atau kemauannya tidak terpenuhi)
2 Apakah anak anda tampak lebih memilih untuk mnyendiri atau bermain
sendiri, atau menghindar dari anak seumurnya atau orang dewasa ?(ingin
sendirian, menyendiri dengan ekspresi murung, tidak bersemangat, sedih
atau kehilangan miat terhadap hal hal yang biasa sangat dinikmati)
3 Apakah anak anda cenderung bersikap menentang ?
(membantah, melawan, tidak mau menurut atau melakukan hal yag
sebaliknya dari apa yang di minta, serta tampak tidak peduli diberitahu
atau ditegur)
4 Apakah anak mudah takut cemas berlebihan tanpa sebab yang jelas?
(misalnya takut pada binatang atau benda yang tidak berbahaya, terlihat
cemas ketika tidak melihat ibu/pengasuhnya)
5 Apakah anak anda sering sulit berkonsentrasi, perhatika mudah
teralihkan atau banyak bergerak/tidak bisa diam?(misalnya anak tidak
bisa bertahan lama untuk bermain dengan satu permainan, mudah
mengalihkan perhatian bila ada hal lain yang lebih menarik perhatian
seperti bunyi gerak,tidak bisa duduk dengan tenang,banyak bergerak atau
cenderung berjalnan/berlari)
6 Apakah anak anda lebh banyak menempel/ selalu minta ditemani, mudah
cemas dan tidak percaya diri?(seakan minta perlindungan atau minta
ditemani pada berbagai situasi, terutama ketika berada dalam situasi baru
atau ada orang yang baru dikenalnya, mengekpresikan kecemasan serta
terlihat tidak percaya diri)
7 Apakah anak anda menunjukan adanya perubahan pola tidur?(seperti
sulit tidur, terjaga sepnjang hari, sering terbangun diwaktu tdur malam
oleh karena mimpi buruk, mengigau, menangis didalam tidurnya)
8 Apakah anak ada mengakami perubahan pola makan dari yang
33

biasannya?(kehilangan napsu makan, tidak mau makan sama sekali, atau


sebaliknya makan berlebihan sangat memilih jenis maknan atau
membiarkan maknan lama di mulut tanpa di kunyah/diemut)
9 Apakah anak anda sering mengeluh sakit kepala, sakit perut atau keluhan
fisik laiinnya dalam waktu waktu tertentu ?
10 Apakah anak anda mudah putus asa atau frustasi dan sering menunjukan
emosi yang negatif?(seperti sedih atau kecewa yang berkepanjangan,
mudah mengeluh, marah atau protes. Misal ketika aak merasa kesulitan
dalam menggambar, lalu berteriak mita tolong, marah, atau kertasnya
disobek)
11 Apakah anak anda meujukan kemunduran pola perilaku dari kemampuan
yang sudah di miliknnya ?
(seperti mengompol kembali, mengisap jempol, atau tidak mau berpisah
dengan orang tua atau pengasuhnya)
12 Apakah anak anda sering berkelahi, bertengkar atau menyerang anak lain
baik secara verbal maupun nonverbal?(seperti misalnya mengejek,
meneriaki, merubut permainan, atau memukul temannya)
13 Apakah anak muda sering diperlakukan tidak menyenangkan oleh anak
lain atau orang dewasa ?(seperti misalnya di tinggal bermain, dihindari,
diejek, dikata katain, direbut meninannya aau disakiti secara fisik)
14 Apakah anak anda menglami cenderung berperilaku merusak atau
cenderung selalu ingin menang atau menguasai (misalnnya merusak
benda, menyakiti dirinnya atau binatang)
Total

Tabel 2.11 Deteksi dini autis pada anak

Hasil pemeriksaan Interepretasi Tindakan


Tidak ada jawaban "Tidak " atau Normal Puji keberhasilan
Jawaban "Tidak" kurang dari 2 orangtua/pengasuh lanjutan
pertanyaan kritis stimulasi sesuai umur.
Atau Jadwalkan kujungan berikutnya
Jawaban "Tidak " kurang dari 3 3 bulan lagi sampai umur 2
pertanyaan yang mana saja tahun, tiap 6 bulan sampai
umur 72 bulan
Jawaban "Tidak " pada 2 atau Risiko tinggi autisme Rujuk ke RS Rujukan tumbuh
lebih pertanyaan kritis atau Risiko autism kembang
jawaban "Tidak" 3 atau lebih
pertanyaan yang mana saja

No Pertanyaan Ya Tidak
1 Apakah anak anda senang diayun, melambung dilutut anda dan sebagainya Ya Tidak
2 Apakah anak anda senang/tertarik dengan ana anak lain Ya Tidak
3 Apakah anak anda senang memanjat seperti tangga Ya Tidak
4 Apakah anak anda senang bermain cilukba/petak umpet Ya Tidak
5 Apakah anak anda sering bermain pura pura, contohnya berbicara ditelepon atau Ya Tidak
34

bermain dengan boneka atau bermain pura pura yang lain


6 Apakah anak anda sering menunjuk dengan jarinya untuk bermai sesuatu Ya Tidak
7 Apakah anak anda serig menunjuk dengan jarinya untuk mengindikasikan ia tertarik Ya Tidak
sesuatu
8 Dapatkah anak anda bermain patas dengan mainan kecil (seperti mobil atau benda Ya Tidak
kecil) tanpa memasukkan kedalam mulut, menguyah atau menjatuhkannya
9 Apakah anak anda sering membawa benda didepan orang tua untuk menunjukan Ya Tidak
kepada nda sesuatu
10 Apakah anak anda melihat mata anda lebih dari satu atau dua detik Ya Tidak
11 Apakah anak anda sering terlihat sensitif yang berlebihan terhadap suara berisik Ya Tidak
12 Apakah anak anda melihat mata anda lebih dari satu atau dua detik Ya Tidak
13 Apakah anak anda meniru perilaku anda ? misal ketika nada membuat ekspesi wajah, Ya Tidak
apakah anak anda meniru anda
14 Apakah anak anda merespon saat di panggil namanya Ya Tidak
15 Jika nada menunjuk mainan di dalam ruangan, apakah anak anada melihatnya Ya Tidak
16 Apakah anak anda berjalan Ya Tidak
17 Apakah anak anda melihat benda yang anda lihat Ya Tidak
18 Apakah anak anada mmbuat gerakan jari yang tidak biasanya dekat wajahnya Ya Tidak
19 Apakah anak anda berusaha menaruk perhatian anda terhadap aktivitasnnyaa Ya Tidak
20 Apakah anak anda sering khawatir apabila dikatakan orang lain Ya Tidak
21 Apakah anak anda mengerti apa yang dikatakan orang lain Ya Tidak
22 Apakah anak anda kadang kadang memandang untuk hal yang tidak jelas atau mondar Ya Tidak
mandir tanpa tujuan
23 Apakah anak anda melihat wajah anda untuk melihat reaksi anda ketik bertemu Ya Tidak
sesuatu yang tidak dikenal
Keterangan
1. Enam pertanyaan No. 2,7,9,13,14 dan 15 adalah pertanyaan penting (critical
item) jika dijawab tidak berarti pasien mempunyai risiko tinggi autism
Jawaban tidak pada dua atau lebih critical item atau tiga pertanyaan lain yang di
jawab tidak sesuai (misalnya seharusnya dijawab ya, orang tua menjwab tidak)
maka anak tersebut mempunyai risiko autism
2. Jika perilaku itu jarang dikerjakan (misal anda melihat satu atau 2 kali), mohon
dijawab anak tersebut tidak melakukannya

Misal jawaban 1. Tidak, 2 tidak, 3 tidak, 4 tidak 5 tidak 6 tidak 7 no 8 no 9no 10


no 11 yes 12 no 13no14 no 15no 16no 17no 18 yes 19no 20yes 21 no 22 no 23
no Kita curigai sebagai faktor risiko autism

4. Deteksi Dini Autis Pada AnakPrasekolah.


Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya autis pada anak umur
18-36 bulan. Jadwal deteksi dini autis pada anak prasekolah dilakukan atas
indikasi atau bila ada keluhan dari ibu atau pengasuh atau ada kecurigaan tenaga
kesehatan , kader, BKB, petugas PAUD , Pengelola TPA, dan guru TK. Keluhan
tersebut dapat berupa keterlambatan berbicara, gangguan komunikasi atau
35

interaksi sosial, prilaku yang berulang-ulang. Alat yang digunakan adalah CHAT
(checklist for Autim in Toddlers). Dalam CHAT ada 2 jenis pertanyaan yaitu : 9
pertanyaan yang ditanyakan pada orang tua atau pengasuh anak, dan 5 perintah
bagi anak untuk menjelaskan tugas yang tertulis pada CHAT. Bila setelah
diperiksa anak resiko menderita autis atau kemungkinan ada gangguan
perkembangan, rujuk kerumah sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa atau
tumbuh kembang anak (Depkes, 2012,hlm.76).
5. Deteksi Dini Gangguan Pemusatan perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) Pada
AnakPrasekolah
Tujuannya adalah untuk mengetahui secara dini adanya gangguan
pemusatan perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) pada anak 36 bulan keatas.
Jadwal deteksi dini GPPH pada anak prasekolah dilakukan atas indikasi atau bila
ada keluhan dari ibu atau pengasuh atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader,
BKB, petugas PAUD, Pengelola TPA, dan guru TK, keluhannya dapat berupa
anak tidak bisa duduk tenang, anak selalu bergerak atnpa tujuan dan tidak
mengenal lelah, perubahan suasana hati yang mendadak atau impulsive (Depkes,
2012,hlm.78).
Alat yang digunakan adalah formulir deteksi dini gangguan pemusatan
perhatian dan hiperaktivitas (GPPH), yang terdiri dari 10 pertanyaan yang
ditanyakan kepada orang tua atau pengasuh anak atauguru TK dan pertanyaan
yang perlu pengamatan pemeriksa.
Cara menggunakan Formulir deteksi dini GPPH yaitu:
a. Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, stu persatu prilaku yang
tertulis pada formulirGPPH
b. Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan pertanyaan pada
formulir deteksi diniGPPH.
c. Keadaan yang ditanyakan atau diamati ada pada anak dimanapun anak
berada, misal ketika dirumah, disekolah, pasar, toko, dll) setiap saat dan
ketika anak dengan siapasaja.
d. Catat jawaban dan hasil pengamatan prilaku anak selamadilakukan
pemeriksaaan.
Interpretasi hasil pemeriksaan GPPH yaitu dengan memberi nilai masing-
masing jawaban sesuai dengan bobot nilai, nilai 0 bila keadaan tersebut tidak
ditemukan pada anak, nilai 1 bila keadaan tersebut kadang-kadang ditemukan
36

pada anak, nilai 2 jika keadaan tersebut sering ditemukan pada anak. nilai 3 bila
keadaan tersebut selalu ada pada anak. Bila nilai total 13 atau lebih, kemungkinan
anak dengan GPPH.Intervensi yang dilakukan jika jumlah nilai terbesar anak
berkemungkinan dengan GPPH perlu dirujuk kerumah sakit yang memiliki
fasilitas kesehatan jiwa atau tumbuh kembang anak untuk konsultasi lebih lanjut
(Depkes, 2012,hlm.78).

2.12 Tabel Formulir Deteksi Dini Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Hiperaktif
(GPPH)(Abbreviated Conner RattingScale)
NO. KEGIATAN YANG DIAMATI 0 1 2 3
1. Tidak kenal lelah atau aktifitas yang berlebihan
2. Mudah menjadi gembira atau impulsive
3. Mengganggu anak-anak lain
4. Gagal menyelesaikan kegiatan yang telah dimulai,
rentang
perhatian pendek
5. Menggerak-gerakkan anggota badan atau kepala
secara terus
Menerus
6. Kurang perhatian, mudah teralihkan
7. Permintaannya harus segera terpenuhi, mudah
menjadi frustasi
37

8. Sering dan mudah menangis


9. Suasana hatinya mudah berubah dengan cepatdan
drastic
10. Ledakan kekesalan, tingkah laku eksplosif dan tak
terduga
Jumlah
Nilai total :

2.3 Intervensi Dan Rujukan Dini Penyimpangan PerkembanganAnak


Depkes (2012), menyatakan tujuan intervensi dan rujukan dini perkembangan adalah
anak adalah untuk mengoreksi, memperbaiki, dan mengatasi masalah atau
penyimpangan perkembangan sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara
optimal sesuai dengan potensinya, waktu yang paling tepat untuk melakukan
intervensi dan rujukan penyimpangan perkembangan anak adalah sesegera mungkin
ketika usia anak masih dibawah lima tahun.
2.3.1 Intervensi Dini PenyimpanganPerkembangan
Intervensi dini penyimpangan perkembangan dalah tindakan tertentu pada anak
yang yang perkembangan kemampuannya menyimpang karena tidak sesuai
dengan umurnya, penyimpangan perkembangan anak terjadi pada salah satu
ataulebih kemampuan anak yaitu kemampuan gerak kasar, gerak hamus, bicara
dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian anak (Depkes, 2012, hlm.80).
Tindakan intervensi dini tersebut berupa stimulasi perkembangan terarah
yang dilakukan secara intensif di rumah selama dua minggu, yang diikuti dengan
evaluasi hasil intervensi stimulasi perkembangan. Intervensi perkembangan anak
dilakukan atas indikasi, yaitu:
1. Perkembangan anak meragukan (M) artinya kemampuan anak tidak sesui
dengan yang seharusnya dimiliki anak, yaitu bila pada umur skrining 3,6,9,
12,15,18 bulan dan seterusnya, pemeriksaan KPSP jawaban “YA”= 7 atau8.
Contoh tindakan intervensi yang dilakukan pada anak prasekolah misalnya
seorang anak umur 42 bulan belum bisa menggambar “lingkaran”, maka
tindakan intervensi yang dilakukan adalah membantu anak memegang pensil
dengan benar, ajak anak melihat dan memperhatikan cara menggambar
“lingkaran”. Beri kesempatan anak untuk meniru menggambar “lingkaran”
berulang-ulang.Pujilah anak bisa menggambar “lingkaran” (Depkes, 2012,
hlm.81).
38

2. Bila seorang anak mempunyai masalah atau penyimpangan perkembangan,


sedangkan umur anak saat itu bukan pada jadwal umur skrining, maka
lakukan intervensi perkembangan sesuai dengan masalah yangada.
Intervensi pada anak dilakukan secara intensif setiap hari sekitar 3-4 jam,
selama 2 minggu.Bila anak terlihat senang dan tidak bosan, waktu intervensi
dapat ditambah.Bila anak menolak atau rewel maka intervensi diberhentikan
dahulu, dan dilanjutkan bila anak sudah dapat diintervensi lagi (Depkes, 2012,
hlm.82).
Setelah orang tua dan keluarga telah melakukan intervensi perkembangan
secara intensif selama dua minggu, maka anak perlu dievaluasi apakah ada
kemajuan atau perkembangan atau tidak (Depkes, 2012, hlm.82).
2.3.2 Rujukan dini penyimpangan perkembangananak
Menurut Depkes RI (2012), Rujukan diperlukan jika masalah atau penyimpangan
perkembangan anak tidak dapat ditangani meskipun sudah dilakukan tindakan
intervensi dini. Rujukan penyimpangan tumbuh kembang dilakukan secara
berjenjang, sebagai berikut :
1. Tingkat keluarga danmasyarakat
Keluarga dan masyarakat (orang tua, anggota keluarga lainnya, dan kader)
dianjurkan untuk membawa anaknya ke tenaga kesehatan di Puskesmas dan
jaringan atau Rumah Sakit.Orang tua perlu diingatkan membawa catatan
pemantauan tumbuh kembang buku KIA (Depkes, 2012, hlm.83).
2. Tingkat Puskesmas danjaringannya
Pada rujukan dini bidan dan perawat di Posyandu, Polindes, Pustu, termasuk
Puskeling melakukan tindakan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang
sesuai standar pelayanan yang terdapat pada buku pedoman. Bila kasus
penyimpangan tersebut ternyata memerlukan penanganan lanjut, maka dilakukan
rujukan ke tim medis di Puskesmas (dokter, bidan, perawat, nutrisionis, dan
tenaga kesehatan yang terlatih lainnya) (Depkes, 2012, hlm.83).
3. Tingkat Rumah Sakit Rujukan
Bila kasus penyimpangan tersebut tidak dapat ditangani di tingkat Puskesmas atau
memerlukan tindakan yang khusus maka perlu dirujuk ke Rumah Sakit Kabupaten
(tingkat rujukan primer) yang mempunyai fasilitas klinik tumbuhkembang anak
dengan dokter spesialis anak, ahli gizi serta laboraturium atau pemeriksaan
penunjang diagnostik. Rumah Sakit Provinsi sebagai tempat rujukan skunder
39

diharapkan memiliki klinik tumbuh kembang anak yang didukung oleh tim dokter
spesialis anak, kesehatan jiwa, kesehatan mata, THT, rehabilitasi medik, ahli
terapi (fisioterapi, terapis bicara, dan sebagainya) ahli gizi dan psikolog (Depkes,
2012,hlm.83).

BAB 3
TINJAUAN KASUS ANAK SEHAT

3.1 Pengkajian
Tempat : Puskesmas Pembantu Tambakromo Kecamatan Padas
Tanggal/Pukul : Rabu, 27 November 2019 pukul 09.00
3.1.1 Data Subyektif
1. Biodata
a. Nama : An. I
b. Umur : 2 Th 4 bulan 1 hari (28 bulan 1 hari)
c. Tanggal Lahir : 26Juli 2017
d. Jenis Kelamin : Perempuan
e. Jumlah Saudara : 2
f. Agama : Islam
Biodata Orang Tua
Ibu Ayah
40

a. Nama : Ny N Tn. S
b. Umur : 37 Th 36 Th
c. Agama : Islam Islam
d. Pendidikan : SMA SMA
e. Pekerjaan : IRT SWASTA
f. Alamat : Ds.Tambakromo 2/1
2. Perhitungan umur anak
Tanggal 27 November 2019 anak “I” di Puskesmas Pembantu Tambakromu. Ibu ingin
mengetahui perkembangan anaknya.
Tanggal periksa : 2019 – 11 – 27
Tanggal lahir : 2017 – 07 – 26
2 Th 4 bulan 1 hari (28 bulan 1 hari)
3. Alasan Datang
Ibu ingin mengetahui Pertumbuhan dan Perkembangan anaknya.
4. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan yang lalu
Anak sampai saat ini dalam keadaan sehat, tidak sedang mengalami batuk, pilek
maupun panas.Setelah lahir sampai usia saar ini anak tidak pernah menderita
penyakit berat (batuk lama yang tidak sembuh selama 2 minggu (TBC) hanya batuk
biasa. 40
b. Riwayat Kesehatan anak sekarang
Anak tidak menderita penyakit menahun, menurun dan menular.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular seperti Hepatitis, HIV
dan TBC, tidak menderita pentyakit menurun seperti Hipertensi, Anemia, kencing
manis (DM) dan tidak ada yang menderita penyakit menahun seperti penyakit
jantung.
5. Riwayat Prenatal
Selama kehamilan keadaan ibu sehat, Pemeriksaan Hamil teratur, gizi terpenuhi saat
hamil, mengonsumsi tablet Fe, Vit C dan Kalsium secara teratur, tidak ada penyulit
kehamilan, saat hamil ibu tidak merokok, minum minuman alkohol dan bersoda, posisi
janin normal tidak sungsang.
6. Riwayat Natal
Persalinan dilakukan normal spontan di bidan , cukup bulan, menangis kuat, jenis
41

kelamin perempuan, BB Lahir : 3000 gr, PB Lahir: 51 cm, tidak ada kelainan pada
Bayi.
7. Riwayat Post Natal
Dalam masa Post natal bayi disusui eksklusif, tidak ada masalah selama periode ini
8. Riwayat Tumbuh Kembang
a. Riwayat Pertumbuhan
BB Lahir : 3000 Gram
PB Lahir : 51 Cm
b. Riwayat Perkembangan
Ibu mengatakan anak bisa mengangkat kepalanya pada usia 3 bulan, Anak sudah
bisa telungkup usia 6 bulan, kemudian merangkak pada usia 1 tahun, kemudian
pada usia 15 bulan sudah bisa bicara dan pada usia 16 bulan anak sudah bisa jalan.
9. Riwayat Imunisasi
Ibu mengatakan anaknya sudah mendapat imunisasi dasar lengkap
1) BCG = 1X usia 5 hari
2) POLIO = 4x (usia 5 hari, usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan)
3) DPT = 3x (usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan)
4) HEPATITIS = 3x (usia 5 hari, usia 1 bulan, 2 bulan)
5) CAMPAK = 1x (usia 9 bulan).
6) DPT lanjutan = 1x (usia 18 bulan)
7) Campak lanjutan = 1x (usia 18 bulan)

10. Pola Kebiasaan Sehari-hari


a. Nutrisi
Anak mendapat ASI eksklusif saat usia 0-6 bulan, kemudian Setelah 6 bulan
diberikan MPASI yang terdiri dari bubur atau sun dan makanan lembek lainnya.
Saat ini anak makan 3x dalam sehari terdiri dari nasisayur Asem, dan Lauk (telur)
yang dihaluskan dengan porsi secukupnya, minum ASI sampai sekarang.
b. Eliminasi
Anak BAB 2-3x sehari, Konsistensi warna kuning tidak encer, BAK 5x Sehari
konsistensi jernih. Anak terkadang masih mengompol pada malam hari.
c. Istirahat
Pola tidur anak 10-12 jam sehari.
d. Aktivitas
42

Saat dirumah anak biasanya bermain dan belajar menyebutkan warna-warna.


e. Personal Hygiene
Anak mandi 2x sehari, keramas 3x seminggu, potong kuku 1x seminggu, gosok
gigi 2x sehari, Ganti baju tiap pagi dan sore setelah mandi, ganti dalaman saat
lembab, anak sudah bisa cuci tangan sendiri.
f. Riwayat ketergantungan
Anak tidak ada riwayat ketergantungan seperti menghisap jempol.
11. Data Psikososial
Anak tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan, anak masih pemalu dan kurang
percaya diri bila bertemu dengna orang baru, anak cenderung pendiam, anak tidak
membantah perkataan orang tua, bila ditinggal orang tua masih menangis apabila
diberikan pengertian.
12. Data Spiritual
Anak sudah mau diajak sholat atau mengikuti gerakan sholat.

3.1.2 Data Obyektif


1. Ukuran Pertumbuhan Pemeriksaan

a. Ukuran antropometri

BB : 10 kg (tanggal 27Novemer 2019)


TB : 84cm
LIKA : 48 cm
LILA : 10 cm
b. Tanda – tanda vital

S = 36,5°C
R = 22x/ menit
N = 88x/ menit
2. Pemeriksaan Fisik

a. Kepala
Bersih ,tidak ada kelainan, penyebaran rambut merata, rambut tidak mudah dicabut
atau rontok, warna hitam.
b. Muka
Tidak sembab dan tidak pucat
43

c. Mata
Bersih, tidak ada sekret, Konjungtiva tidak anemis, berwarna merah muda, sklera
putih, simetris.
d. Hidung
Tampak bersih, tidak ada polip, tidak ada sekret/cairan.
e. Mulut dan gigi
Ada caries, bibir tidak pecah-pecah, tidak ada stomatitis, mulut tidak berbau.
f. Telinga
Bersih, simetris, tidak ada serumen, tidak ada sekret.
g. Leher
Tidak ada pembengkakan pada kelenjar tyroid, vena jugularis dan kelenjar limfe.
h. Dada
Dada simetris, tidak ada retraksi interkosta, tidak ada wheezing dan tidak ada
ronchi.
i. Abdomen
Abdomen tidak buncit, tidak ada hernia, tidak ada nyeri tekan.
j. Kulit
Bersih, turgor baik, elastis dan tidak sianosis.
k. Ekstremitas
Atas : Bentuk simetris, gerak aktif, kuku tampak bersih, tidak ada kelainan seperti
sindaktili, polidaktili.
Bawah : Bentuk simetris, tidak ada kelainan, gerakan aktif.
l. Genetalia
Bersih, labia mayor sudah menutupi labia minor, tidak ada luka pada vulva, tidak
adatanda-tanda infeksi.
a. Anus
Bersih, terdapat lubang anus, tidak ada luka pada anus.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan DDST :
1) Personal Sosial
a) Sebelah kiri garis
 Mengunakan sendok dan garpu :L
 Membuka pakaian :L
 Menyuapi boneka :L
44

b) Dilewati garis
 Memakai baju :L
 Gosok gigi dengan bantuan :L
 Menyebukan nama teman :G
 Memakai Tshirt :G
 Berpakaian tanpa bantuan :G
2) Adaptif Motorik Halus
a) Sebelah kiri garis
 Ambil manik manik ditunjukan :L
 Menara dari 2 kubus :L
 Menara daru 4 kubus :L
b) Dilewati garis
 Menara dari 6 kubus :L
 Meniru garis vertikal :G
 Menara dari 8 kubus :G
 Menggoyangkan ibujari :G
3) Sector Bahasa
a) Sebelah kiri garis
 Menyebutkan 6 kata :L
 Menunjukan 2 gambar :L
 Kombinasi kata :L
b) Dilewati garis
 Menyebutkan 1 gambar :L
 Menyebutkan bagian badan 6 :L
 Menunjuk 4 gambar :L
 Bicara dengan dimengerti :L
 Menyebutkan 4 gambar :G
 Mengetahui 2 Kegiatan :G
4) Motorik Kasar
a) Sebelah kiri garis
 Lari :L
 Berjalan naik tangga :L
 Menendang bola kedepan :L
b) Dilewati garis
45

 Melompat :L
 Melembar bola lengan ke atas :L
 Berdiri 1 kaki 3 detik :L
a. Kesimpulan hasil

Interpretasi hasil test DDST : normal (0T), (0 P)


Personal social : OK atau normal
Adaptif – motorik halus : OK atau normal
Bahasa : OK atau normal
Motorik kasar : OK atau normal
b. Pemeriksaan DDTK
1) Data KPSP
Jawaban “Ya” hasilnya10
Hasil Normal
2) Tes Daya Dengar
Semua tes daya dengar dapat dilakukan
Hasilnya normal.
3) Tes Daya Lihat
Normal sampai garis ke 4
4) MCHAT
Tidak ada Jawaban ‘’TIDAK’’
c. Pemeriksaan Pertumbuhan
a. BB Menurut TB
BB :10Kg
TB :84cm
Panjang Anak Perempuan
Sangat Kurus Normal Gemuk Sanagt
Bad
Kurus -3SD s/d<2SD -2SD s/d < 2SD >2SD s/d 3SD Gemuk
an
<-3SD >3SD
84,00 <8,50 8,50 – 9,19 9,20- 13,20 13,21-14,50 >14,50
Kesimpulan : Berat badan anak tergolong normal
b. Data Lingkar Kepala
LK :48 Cm, tergolong normal.

3.1.3 Analisa Data


46

No Diagnosa Masalah Data Dasar

Anak sehat jenis kelamin Ds :


perempuan , usia 28 bulan 1
- Anak lahir tanggal 26 Juli 2017
hari, perkembangan normal,
- Anak tidak pernah menderita penyakit
pertumbuhan normal, status gizi
kronis dan menular
normal
Do :

Keadaan Umum baik, Kesadaran


Composmentis

BB :10 kg,

TB : 84 cm

LK : 48 Cm

DDST : normal

KPSP : Normal

3.2 Diagnosa Kebidanan

Anak sehat, umur 28bulan 1 hari, jenis kelamin Perempuan , status gizi baik,
pertumbuhan normal, perkembangan normal, keadaan umum baik, prognosa baik.

3.3 Perencanaan
Tgl. 27 November 2019, pkl.09.30 WIB.
Diagnosa : Anak sehat, usia 28 bulan1 hari, perkembangan normal, pertumbuhan
normal, status gizi normal, keadaan umum baik
Tujuan : Ibu mengerti pertumbuhan dan perkembangan pada anak
Kriteria : - Ibu dapat menjelaskan tentang perbedaan pertumbuhan dan
perkembangan pada anak
- Pengetahuan ibu bertambah
Intervensi
1. Jelaskan pada ibu tentang perbedaan pertumbuhan dan perkembangan anak
47

R/ Ibu mengerti pertumbuhan dan perkembangan yang dimaksud


2. Jelaskan pada ibu tentang perkembangan stimulasi pada anak dirumah
R/ Dengan stimulasi akan mempercepat perkembangan anak
3. Jelaskan pada ibu tentang pentingnya nutrisi atau makanan yang begizi, pola
makan anak, kualitas dan kuantitas makanan, pemilihan bahan makanan untuk
anak
R/ Dengan nutrisi yang baik akan berperan penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan anak, juga untuk menjaga atau meningkatkan daya tahan tubuh
anak
4. Anjurkan ibu untuk selalu memperhatikan kebersihan diri anak ( cuci tangan,
mandi, gosok gigi, ganti pakaian)
R/ Dengan menjaga kebersihan diri, anak tidak mudah untuk terkena penyakit
5. Ajak anak bergaul dengan orang lain
R/ Untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berinteraksi dan bersosialisasi
dengan lingkungan.
6. Curahkan kasih sayang pada anak (Asah, Asih, Asuh)
R/ Kasih sayang yang terpenuhi akan menimbulkan rasa aman dan percaya diri
juga akan membentuk imun bagi anak sehingga anak akan tidak mudah sakit
7. Pantau tumbuh kembang anak sesuai keterlambatan yang dialami anak tanpa
menomor duakan faktor lain
R/ Dapat mengetahui kemajuan pertumbuhan dan perkembangan
3.4 Pelaksanaan
Tgl.27 November 2019, pkl.09.45 WIB.
Implementasi:
1. Menjelaskan pada ibu tentang perbedaan pertumbuhan dan perkembangan anak
2. Menjelaskan pada ibu tentang perkembangan stimulasi pada anak dirumah
3. Menjelaskan pada ibu tentang pentingnya nutrisi atau makanan yang begizi, pola
makan anak, kualitas dan kuantitas makanan, pemilihan bahan makanan untuk
anak.
4. Menganjurkan ibu untuk selalu memperhatikan kebersihan diri anak ( cuci tangan,
mandi, gosok gigi, ganti pakaian)
5. Mengajak anak bergaul dengan orang lain
6. Menganjurkan ibu mencurahkan kasih sayang pada anak (Asah, Asih, Asuh)
48

7. Memantau tumbuh kembang anak sesuai keterlambatan yang dialami anak tanpa
menomor duakan faktor lain

3.5 Evaluasi

Tanggal :27 November 2019 pukul : 10.30 WIB

1. Diagnosa

Anak sehat, usia 28 bulan 1 hari, perkembangan normal, pertumbuhan normal,


status gizi normal, keadaan umum baik

S : - Ibu dapat membedakan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan anak


- Ibu mengetahui tentang perkembangan stimulasi pada anak dirumah
- Ibu mengetahui tentang pentingnya nutrisi atau makanan yang
begizi, pola makan anak, kualitas dan kuantitas makanan, pemilihan
bahan makanan untuk anak.
- Ibu selalu memperhatikan kebersihan diri anak ( cuci tangan, mandi,
gosok gigi, ganti pakaian)
- Ibu bersedia mengajak anak bergaul dengan orang lain
- Ibu bersedia mencurahkan kasih sayang pada anak (Asah, Asih,
Asuh)
- Ibu bersedia membawa anaknya ke Posyandu untuk memantau
tumbuh kembang anak sesuai keterlambatan yang dialami anak tanpa
menomor duakan faktor lain

O:- Ibu dan anak bisa diajak bekerja sama


-Ibu dapat mengulang kembali penjelasan petugas.
- Hasil DDST normal, semua tahap dilalui sesuai garis usia.
A : Anak sehat, usia 28 bulan 1 hari, perkembangan normal, pertumbuhan
normal, status gizi normal, keadaan umum baik.

P : 1. Melakukan stimulasi “menyebutkan nama teman” agar sesuai dengan


umurnya, anak harus bisa “menyebutkan nama teman” sampai usia 3
tahun 3 bulan
2. Melakukan stimulasi “memakai Tshirt” agar sesuai dengan umurnya,
anak harus bisa “Memakai Tshirt” sampai usia 3 tahun 6 bulan
49

3.Melakukan stimulasi “berpakaian tanpa bantuan” agar sesuai dengan


umurnya, anak harus bisa “berpakaian tana bantuan” sampai usia 4 tahun
6 bulan
4. Melakukan stimulasi “meniru garis vertikal” agar sesuai dengan
umurnya, anak harus bisa “meniru garis vertikal” sampai usia 3 tahun 3
bulan
5. Melakukan stimulasi “menara 8 kubus” agar sesuai dengan umurnya,
anak harus bisa “menara 8 kubus” sampai usia 3 tahun 6 bulan
6. Melakukan stimulasi “menggoyangkan ibu jari” agar sesuai dengan
umurnya, anak harus bisa “menggoyangkan ibu jari” sampai usia 3 tahun
9 bulan
7. Melakukan stimulasi “menyebutkan 4 gambar” agar sesuai dengan
umurnya, anak harus bisa “menyebutkan 4 gambar” sampai usia 3 tahun
8. Melakukan stimulasi “mengetahui 2 kegiatan” agar sesuai dengan
umurnya, anak harus bisa “mengetahui 2 kegiatan” sampai usia 3 tahun 6
bulan
9. Lanjutkan observasi tumbuh kembang.

BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua kata yang berbeda, namun tidak
dapat dipisahkan satu sama lain. Pertumbuhan (growth) merupakan peningkatan
jumlah dan ukuran sel pada membelah diri dan sintesis protein baru, menghasilkan
peningkatan ukurandan berat seluruh atau sebagian sel. Sedangkan Perkembangan
(development) merupakan perubahan dan perluasan secara bertahap, perkembangan
tahap kompleksitas dari dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi, peningkatan dan
perluasan kapasitas seseorang melalui pertumbuhan, maturasi serta pembelajaran.
Deteksi dini tumbuh kembang anak adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk
menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak
prasekolah. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan atau masalah tumbuh
50

kembang anak, maka intervensi akan mudah dilakukan, tenaga kesehatanjuga


mempunyai waktu dalam membuat rencana tindakan yang tepat terutama untuk
melibatkan ibu dan keluarga
4.2 Saran
Deteksi dini tumbuh kembang anak bukanlah tes untuk IQ melainkan tes tumbuh
kembang yang bertujuan untuk mengetahui apakah anak tersebut tumbuh sesuai
umurnya atau tidak. Sebaiknya pengetahun terhadap DDTK bagi tenaga kesehatan
sangatlah penting agar kita dapat mendeteksi adanya kesimpangan dalam
pertumbuhan serta perkembangan sedini mungkin.

DAFTAR
50 PUSTAKA

Andriana D., 2011.Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain Anak. Jakarta:Salemba


Medika.
Andriani, Merryana., Maria, F.N., 2009. Hubungan Pola Asuh, Asih, Asah dengan
Tumbuh Kembang Balita Usia 1–3 Tahun.The Indonesian Journal of
Public Health. Vol. 6.No. 1. Juli 2009: 24−29
Arifah, Siti., Noor R.W.M.,2011. Perbedaan Perkembangan Motorik dan Bahasa
Anak Toddler Antara yang Mengikuti PAUD dan Tidak Mengikuti PAUD
di Kelurahan Nglorog Sragen.Thesis. Surakarta: UMS. Ilmu Kesehatan
Babakal, Abram., Helmy B.K., et al. 2013. Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang
Tua Tentang Stimulasi Dini Dengan Perkembangan Anak Usia 4-5 Tahun
Di Desa Ranoketang Atas. Ejournal keperawatan.Vol. 1 No 1. Agustus
51

2013:1-8
Badan Pusat Statistik Republik Indonesia Statistik Indonesia. 2009. Balita
menurut Status Gizi, tahun 1998-
2005.http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?
tabel=1&daftar=1&id_subyek=30&notab=40(24 Oktober2014).
Behrman, R., Kliegman R. et all. (2014). Ilmu Kesehatan Anak Esensial.Edisi
Keenam. Jakarta: IDAI Page: 17-23.
BKKBN.(2009). Buku Panduan Operasional Ketahanan Bina Keluarga Balita
dan Anak.Jakarta:EGC.
Briawan, Dodik.,TIN H. 2008. Peran Stimulasi Orang Tua Terhadap
Perkembangan Anak Balita Keluarga Miskin.Jurnal Ilmu Gizi
Masyarakat IPB. Vol 1. No 1.Januari2008:3-76.
Dahlan, M. Sopiyudin., 2013. Besar Sample dan Cara Pengambilan Sample.
Jakarta: Salemba Medika, pp: 46-48
Dahlan, M. Sopiyudin., 2013. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan.Jakarta,
Salemba Medika, pp: 46-48
Departemen Kesehatan RI. (2005). Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan
Intervensi.Jakarta : Depkes.

Departemen Kesehatan RI. (2012). Pelatihan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi


51
Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar.Jakarta :
Depkes.

Departemen Kesehatan RI. (2013). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Depkes


http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-
indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2013.pdf (2 Maret 2015).
Depdiknas, 2009.Permendiknas No. 58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan
Anak Usia Dini. Jakarta
Fitriyanti, D., Ida N.,et al. 2011. Hubungan Antara Pola Asuh Ibu Dengan
Perkembangan Bahasa Anak Toddler.Jurnal Penelitian kesehatan Suara
Forikes. Vol: II No 1. Januari 2011.Page:16-25.
Halimah, Nur., Fajar. 2010. Kesiapan Memasuki Sekolah Dasar Pada Anak Yang
Mengikuti Pendidikan TK Dengan Yang Tidak Mengikuti Pendidikan TK
di Kabupaten Kudus. Jurnal Psikologis Universitas Muria Kudus.Vol 1.
52

No 1.
Hidajati, Z., 2009. Faktor Risiko Disfasia Perkembangan pada Anak.Thesis.
Semarang: Universitas Diponegoro. Pendidikan Dokter Spesialis Anak.
Hull D., Johnston D.I., 2008.Dasar-Dasar Pediatri Ed 3. Jakarta: EGC.

Intikhobah, Iftitah., 2009. Perbedaan Perkembangan Anak Usia 24 – 36 Bulan


yang Berada di Tempat Penitipan Anak (TPA) dan di Rumah yang Diasuh
Oleh Pembantu Rumah Tangga. Thesis. Malang: Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang.
Malinton, Sherly., 2013.Studi Tentang Pelayanan Anak di Taman Penitipan Anak
Puspa Wijaya I Tenggarong.E-Journal Sosiatri-Sosiologi.Volume 1.
Nomor 1. 2013:45-73.
Nugraheni, Shohaiva., Fakhruddin. 2014.Persepsi dan Partisipasi Orang Tua
Terhadap Lembaga PAUD sebagai Tempat Pendidikan Untuk Anak Usia
Dini. Jurnal UNNES. Vol 3. No 2. Page 49-57
Nugroho H.S.W., 2009. Denver Developmental Screening Tes. Jakarta: EGC
53

Olia, Mutia.2015. Keberadaan Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)


Bagi Keluarga Miskin Perkotaan. Jurnal FSIP Universitas Riau. Vol 2
No1 page1-11.
Papalia, D.E. et. al. 2008.Human Development (Psikologi Perkembangan).
Jakarta: Kencana.hal. 248-249.
Soetjiningsih dkk., 2012. Prevalensi dan Karakteristik Keterlambatan Bicara
Pada Anak Prasekolah di TPA Werdhi Kumara I Dengan Early Language
Milestone Scale-2.Jurnal Ilmu Kesehatan Anak, Vol I, No 1, Desember
2012: page 12-17.

Soetjiningsih.(2012). TumbuhKembangAnak. Jakarta: EGC.


UNESCO. 2005.Laporan Review Kebijakan : Pendidikan dan Perawatan Anak
Usia Dini di Indonesia. Jakarta:Workshop UNESCO
Jakarta.dalamhttp://unesdoc.unesco.org/images/0013/001385/138522ind.
pdf.