Anda di halaman 1dari 22

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pemantauan kesejahteraan janin merupakan hal penting dalam pengawasan
janin, terutama pada saat persalinan. Dukungan teknologi sangat berperan dalam
kemajuan pemantauan janin, hal ini tampak nyata setelah era tahun 1960an. Data
epidemiologis menunjukkan hanya sekitar 10% kasus serebral palsi yang
disebabkan oleh gangguan intrapartum dapat dideteksi dengan pemantauan
elektronik tersebut. Angkamorbiditas dan mortalitas perinatal merupakan
indicator kualitas pelayanan obstetric disuatu tempat atau negara. Angka
mortalitas peri natal Indonesia masih jauh diatas rata-rata Negara maju, yaitu 60–
170 berbanding kurang dari 10 per 1.000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab
mortalitas perinatal yang menonjol adalah masalah hipoksia intrauterin.
Kardiotokografi (KTG) merupakan peralatan elektronik yang dapat dipergunakan
untuk mengidentifikasi janin yang mempunyai resiko mengalami hipoksia dan
kematian intrauterine atau mengalami kerusakan neurologik , sehingga dapat
dilakukan tindakan untuk memperbaiki nasib neonatus.
Pemantauan kesejahteraan janin sudah merupakan suatu kompetensi yang
harus dimiliki oleh tenaga medis dan paramedic yang melakukan asuhan antenatal
dan asuhan persalinan. Standarisasi pemantauan sudah merupakan suatu pra syarat
yang harus dipenuhi agar evaluasi keberhasilan atau kegagalan pemantauan
kesejahteraan janin Bila hal ini dapat dilakukan dengan baik, diharapkan angka
kematian ibu dan perinatal dapat diturunkan. Standarisasi memerlukan kegiatan
yang terstruktur dan berkesinambungan dengan evaluasi berkala melalui suatu
pelatihan pemantauan kesejahteraan janin.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan plasenta dan ruang intervili dalam
pemantauan kesejahteraan janin ?
2. Bagaimana pertukaran gas pada janin dalam pemantauan kesejahteraan
janin ?
1
2

3. Bagaimana kapasitas difusi plasenta dalam pemantauan kesejahteraan janin ?


4. Bagaimana hemoglobin dan afinitas oksigen dalam pemantauan kesejahteraan
janin ?
5. Bagaimana penurunan aliran darah uterus dalam pemantauan kesejahteraan
janin ?
6. Bagaimana pengaturan denyut jantung janin dalam pemantauan kesejahteraan
janin ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui Apa yang dimaksud dengan plasenta dan ruang intervili
dalam pemantauan kesejahteraan janin.
2. Mengetahui bagaimana pertukaran gas pada janin dalam pemantauan
kesejahteraan janin.
3. Untuk mengetahui bagaimana kapasitas difusi plasenta dalam pemantauan
kesejahteraan janin.
4. Guna mengetahui bagaimana hemoglobin dan afinitas oksigen dalam
pemantauan kesejahteraan janin.
5. Untuk mengetahui bagaimana penurunan aliran darah uterus dalam
pemantauan kesejahteraan janin.
6. Untuk mengetahui bagaimana pengaturan denyut jantung janin dalam
pemantauan kesejahteraan janin.
3

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Plasenta dan ruang intervili


Plasenta adalah jaringan yang keluar dari rahim mengikuti janin yang baru
lahir, selama kehamilan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan embrio
dan janin. Plasenta adalah organ yang luar biasa, yang berasal dari lapisan
trofoblastik setelah terjadi fertilisasi. Plasenta tersambung dengan sirkulasi darah
ibu untuk mengambil alih fungsi-fungsi dari fetus yang belum bisa bekerja sendiri
selama dalam kandungan.Kehidupan fetus tergantung pada integritas dan efisiensi
plasenta. Blastokista tertanam sempurna di dalam endometrium, yang sekarang
disebut desidua. Blastokista mengandung dua jenis sel embrionik yang telah
berdiferensiasi, yaitu trofektoderm (yang akan berdiferensiasi menjadi sel
trofoblas) di bagian luar dan massa sel dalam. Sel trofoblas in nantinya akan
membentuk plasenta dan massa sel dalam akan membentuk janin dan membran
janin. Trofoblas berdiferensiasi menjadi 2 lapisan yaitu Sitotrofoblas dan
Sinsitiotrofoblas. Sel sinsiotrofoblas merupakan sel yang berukuran besar dan
multinuklear yang berkembang dri lapisan sitotrofoblas. Sel ini aktif
menghasilkan hormon plasenta dan mentranspor zat makanan dari ibu ke janin.
Sekelompok sel sitotrofoblas memiliki sifat invasif, melewati stroma
endometrium untuk mencapai pembuluh darah ibu.

Pada usia kehamilan hari ke-10, sebagian sel sitotrofoblas berkembang


menjadi sitotrofoblas extravili yang menginvasi kapiler ibu dan arteri spiralis
dengan menyumbat lumen pembuluh darah untuk mencegah
pendarahan(sinusoid). Sedangkan sel sinsitiotrofoblas menginvasi uterus yang
kemudian berkontak dengan sinusoid maternal (kapiler ibu) sehinga lacuna
trofoblastik (ruang intervili) terisi oleh darah ibu dan terjadilah sirkulasi utero-
plasenta. Pada hari ke -14 trofoblas berkembang menjadi jonjot-jonjot seperti jari
yang disebut vili korion primitif (vili korion primer). Masing-masing vilus
terususn atas satu lapis sitotrofoblas yang dikelilingi oleh sel-sel sinsitiotrofoblas

3
4

(sinsitium). Semakin lama akan tebentuk ruang-ruang di antaranya karena kedua


struktur tersebut melakukan erosi yang semakin dalam ke dalam desidua. Vili
akan menyebabkan pecahnya pembuluh darah maternal saat struktur tersebut
mengerosi jaringan endometrium dan ruang-ruang tersebut dengan demikian terisi
dengan darah maternal. Pada minggu ke-3 terjadi percabangan vili korion primitif
yang disebut vili korion korion sekunder yang didalamnya mulai terbentuk
pembuluh darah. Pembuluh darah ini akhirnya membentuk dua arteri umbilikalis
dan satu vena umbilikalis untuk janin. Di dalam uterus, endometrium hamil yang
kemudian menjadi desidua, sekarang mengalami diferensiasi menjadi tiga daerah
yaitu desidua basalis, desidua kapsularis dan desidua parietalis. Pada minggu-
minggu pertama perkembangan, vili meliputi seluruh permukaan korion. Semakin
tua kehamilan, vili pada kutub embrional terus tumbuh dan meluas, sehingga
membentuk korion frondosum (korion bervili lebat seperti semak-semak). Vili
pada kutub abembrional mengalami degenarasi dan menjadi halus yang disebut
korion leave.
Desidua di atas korion frondosom, desidua basalis,terdiri atas sebuah lapisan
kompak sel-sel besar, sel desidua yang mengandung banyak sekali lipid dan
glikogen. Lapisan ini, lempeng desidua, melekat erat dengan korion. Lapisan
kedua di kutub abembrional disebut desidua kapsularis. Dengan bertambah
besarnya gelembung korion, lapisan ini menjadi teregang dan mengalami
degenarasi. Selanjutnya korion leave bersentuhan dengan dinding rahim (desidua
parietalis) pada rahim sisi yang lain dan keduanya menyatu dan dengan demikian
menutup rongga rahim. Oleh karena itu, satu-satunya bagian korion yang ikut
serta dalam proses pertukaran adalah korion frondosum yang bersama dengan
desidua basalis akan membentuk plasenta. Plasenta normal pada saat aterm
mempunyai dua sisi yaitu sisi fetal dan maternal, plasenta berwarna merah tua
dengan berat pada kehamilan aterm adalah 1/6 kali berat bayi sekitar 500-600
gram, diameter 15-25 cm dan tebal sekitar 3 cm, akan tetapi ukuran ini bervariasi
tergantung bagaimana plasenta disiapkan. Selama proses pertumbuhan janin,
plasenta juga mengalami pertumbuhan yang terlihat dari pertambahan luas dan
ketebalannya akibat pembentukan cabang-cabang dari vilus. Hal tersebut
5

memperlihatkan efektifitas plasenta sebagai organ penyalur dicerminkan oleh luas


daerah yang tersedia untuk pertukaran melewati epitel trofoblas vilus yang
mengalami pertumbuhan.
Dari kenyataan diatas, ukuran plasenta dapat menunjukkan keadaan pasokan
nutrisi dan oksigen ke janin. Namun apabila terdapat kelainan pada plasenta maka
akan menganggu fungsi plasenta sebagai penyalur oksigen dan nutrisi dari ibu ke
janin untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Kelainan plasenta tersebut
diantaranya adalah plasenta fenestrate, plasenta bilobata, plasenta succenturiata,
plasenta membranacea dan plasenta sircumvallata. Plasenta memegang peran
penting dalam perkembangan janin, kegagalan plasenta dan insufisiensi fungsinya
dapat mengakibatkan gangguan janin. Plasenta merupakan organ penghubung
antar ibu dan janin yang menunjang pertumbuhan dan ketahanan hidup janin.
Plasenta berfungsi memberikan segala kebutuhan yang diperlukan embrio dan
janin, termasuk pertukaran gas yang efisien, transpor aktif zat-zat energi, toleransi
imunologis terhadap imunitas ibu pada allograft dna akuisisi janin . Dalam
beberapa kasus plasenta tidak semua bagian berada di daerah anterior uterus,
sehingga jika dilihat dengan ultrasound tidak terdeteksi.

2.2 Pertukaran Gas


Selama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas melalui
plasenta kemudian setelah lahir melalui paru. Janin cukup bulan mengalami
penurunan cairan paru pada hari-hari sebelum persalinan. Janin dalam Rahim
sebenarnya sudah mampu bernapas dalam rahim. Namun air ketuban tidak masuk
ke dalam alveoli paru. Pusat pernapasan ini dipengaruhi oleh kadar O2 dan CO2
di dalam tubuh janin. Paru janin mulai berkembang pada saat berusia sekitar 6
minggu di perut ibu dan akan ketika berusia sekitar delapan bulan. Selama bulan-
bulan terakhir kehamilan, tubuh menghasilkan sejenis zat minyak yang akan
melindungi paru janin agar tak terisi cairan. Paru manusia tercipta khusus untuk
menampung udara, tidak yang lain. Meskipun paru bayi baru berfungsi sesaat
setelah lahir, paru sudah mulai menunjukkan aktivitasnya sejak masih dalam
uterus. Tali pusat yang menempel pada ibu terdiri atas dua pembuluh nadi dan
6

sebuah pembuluh vena. Vena mengangkut oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan
untuk perkembangan janin sedangkan nadi mengangkut karbondioksida dan sisa-
sisa nutrisi yang harus dibuang kembali kepada ibu. Pertukaran antara oksigen
dengan karbondioksida inilah yang disebut bernapas.
Ketika tali pusat dipotong saat kelahiran, bayi yang baru lahir harus belajar
untuk hidup tanpa bantuan ibunya. Hanya dalam beberapa detik paru mulai
terbuka, darah mulai mengalir, dan paru bayi mulai berfungsi sebagaimana
mestinya. Sirkulasi darah janin dalam rahim tidak sama dengan sirkulasi darah
pada bayi dan anak. Dalam rahim, paru tidak berfungsi sebagai alat pernapasan,
pertukaran gas dilakukan oleh plasenta. Pembentukan pembuluh darah dan sel
darah dimulai minggu ke tiga dan bertujuan memenuhi kebutuhan embrio dengan
oksigen dan nutrisi dari ibu.
Terdapat perbedaan antara sirkulasi janin setelah lahir, sebagai berikut:
a. Pada janin terdapat pirau intrakardiak (foramen ovale) dan pirau ekstrakardiak
(duktus arteriosus Botalli, duktus venosus Arantii) yang efektif. Arah pirau
adalah dari atrium kanan ke atrium kiri melalui foramen ovale, dan dari arteri
pulmonalis menuju ke aorta melalui duktus arteriosus. Pada sirkulasi setelah
lahir pirau intrakardiak maupun intrakardiak ini tidak ada.
b. Pada janin, ventrikel kiri dan kanan bekerja serentak, sedangkan pada keadaan
setelah lahir ventrikel kiri berkontraksi sedikit lebih awal dari ventrikel kanan.
c. Pada janin ventrikel kanan memompa darah ke sistemik yang tahanannya
tinggi, sedangkan ventrikel kiri melawan tahanan yang rendah yaitu plasenta.
Pada keadaan setelah lahir, ventrikel kanan akan memompa darah ke paru yang
tahannnya jauh lebih rendah daripada tahanan sistemik yang dibawa oleh
ventrikel kiri.
d. Pada janin darah yang dipompa oleh ventrikel kanan sebagian besar menuju
aorta melalui duktus arteriosus, dan hanya sebagian kecil yang menuju ke paru.
Pada keadaan setelah lahir darah dari ventrikel kanan seluruhnya ke paru.
e. Pada saat janin, paru memperoleh oksigen dari darah yang mengambilnya dari
plasenta, setelah janin lahir paru memberi oksigen pada darah.
7

f. Pada janin, plasenta merupakan tempat terutama untuk pertukaran gas,


makanan, dan ekskresi. Pada keadaan setelah lahir organ-organ lain mengambil
alih berbagai fungsi tersebut.
g. Pada janin, adanya plasenta menjamin adanya pertukaran gas bertahanan
rendah. Sedangkan pada keadaan setelah lahir hal ini tidak ada.

2.3 Kapasitas Difusi Plasenta


Plasenta merupakan salah satu sarana yang sangat penting bagi janin karena
merupakan alat pertukaran zat antara ibu dan anak dan sebaliknya,  berbentuk
bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal lebih kurang 2,5
cm. Beratnya rata-rata 500 gram. Ketika korda trofoblastik dan blastokista
melekat pada uterus, kapiler-kapiler darah tumbuh ke dalam corda dari sistem
vaskular embrio, dan menjelang hari ke 16 setelah pembuahan, darah mulai
mengalir. Mula-mula sel-sel yang dihancurkan menjadi bahan makanan bagi
blastokista kemudian makanan diambil dari darah ibu. Sel-sel trofoblast yang
menyerbu kemudian merupakan batang-batang yang masing-masing bercabang
pula dan akhirnya menjadi jonjot chorion (villi chorealis). Secara bersamaan
sinus-sinus darah yang disuplai oleh darah ibu berkembang disekitar korda
tropoblastik. Sel-sel trofoblas menjulurkan semakin banyak penonjolan-
penonjolan, yang akan menjadi vili plasenta, tempat tumbuhnya kapiler-kapiler
fetus. Jadi vili yang membawa darah fetus dikelilingi oleh sinus-sinus yang
mengandung darah ibu.Sementara itu trofoblas yang membentuk dinding villus
sudah terdiri dar dua lapisan, yaitu lapisan luar (syntiotrofoblast) dan lapisan
dalam (cytotrofoblast/sel langhans).
Sebelah dalam villus terisi oleh mesoderm. Dalam mesoderm ini terbentuk
sel-sel darah merah dan pembuluh-pembuluh darah yang lambat laun sambung
menyambung dan akhirnya berhubungan dengan peredaran darah janin melalui
pembuluh-pembuluh darah di dalam talipusat. Pada kehamilan muda seluruh
chorion mempunyai villi tapi villi dalam decidua kapsularis mati,sedangkan villi
dalam decidua basalis tumbuh terus dan merupakan bagian foetal dari placenta.
8

Diantara villi ada yang menanamkan diri ke dalam decidua, villi ini disebut
jonjot pancang (haftzotte), karena memancangkan blastokista pada decidua
sedangkan ada juga villi yang ujungnya tak sampai ke decidua tapi terapung
dalam darah ibu. Villi ini bertugas mencari makanan. Mula-mula villi itu
berbentuk batang saja, tapi kemudian mengeluarkan cabang-cabangnya, hal ini
sangat memperluas permukaanfiltrasi dari villi,karena kebutuhan janin bertambah
dengan usianya. Pada minggu ke-16, sel-sel langhans mulai menghilang. Hal ini
juga menguntungkan kecepatan pertukaran zat antara darah anak dan ibu. Darah
anak dan ibu tak bercampur karena terpisah oleh lapisan jaringan yang
dinamakan membrana placentae, yang terdiri dari lapisan syncytium, lapisan sel
langhans, jaringan ikat dari villus dan lapisan endotel kapiler. Dengan hilangnya
satu lapisan, membran placentae lebih tipis dan pertukaran zat lebih lancar. Pada
akhir bulan ke-4 daya menyerbu dari trofoblast berhenti dan pada batas antara
jaringan janin dan ibu terdapat lapisan jaringan yang necrotis yang disebut lapisan
fibrin nitabuch. Darah fetus mengalir melalui dua arteri umbilikalis yang
membawa darah sarat dengan CO2, lalu ke kapiler-kapiler vili dan selanjutnya
kembali melalui sebuah vena umbilikalis menuju ke fetus. Pada saat yang sama
darah ibu mengalir dari arteri uterina ke dalam sinus-sinus maternal yang
mengelilingi vili dan kemudian kembali kedalam vena uterina ibu. Pada saat
sistole darah disemprotkan dengan tekanan 70-80 mmHg seperti air mancur ke
dalam ruang interviller sampai mencapai chorionic plate, pangkal dari kotiledon-
kotiledon janin. Darah tersebut membasahi semua villi choriales dan kembali
perlahan-lahan dengan tekanan 8 mmHg ke vena-vena di desidua.

Total daerah permukaan dari semua vili plasenta yang matur hanya beberapa
meter persegi jauh lebih kecil daripada area membran paru-paru. Walaupun
membran plasenta sudah matang sepenuhnya membran plasenta masih tebal
beberapa lapis sel dan jarak minimum antara darah meternal dan darah fetus
adalah 3,5 mikrometer, hampir sepuluh kali jarak antara membran alveolus paru.
Meskipun demikian bahan nutrisi dan zat-zat lain melewati membran plasenta
terutama dengan difusi yang sebagian besar sama dengan difusi yagn terjadi
9

melalui membran alveolus paru-paru dan membran kapiler dimanapun dalam


tubuh. Letak placenta umumnya di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke
atas ke arah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas
korpus uteri lebih luas sehingga lebih banyak tempat untuk melakukan implantasi.
Permukaan foetal ialah yang menghadap ke janin, warnanya keputih-putihan dan
licin karena tertutup oleh amnion, di bawah nampak pembuluh-pembuluh darah.
Permukaan maternal yang menghadap dinding rahim, berwarna merah dan
terbagi-bagi oleh celah-celah/sekat-sekat yang bersal dari jaringan ibu. Oleh sekat
ini, placenta dibagi menjadi 16-20 kotiledon. Pada penampang sebuah
placenta,yang masih melekat pada dinding rahim nampak bahwa placenta terdiri
dari dua bagian yaitu bagian yang dibentuk oleh jaringan anak dan bagian yang
dibentuk oleh jaringan ibu. Bagian yang terdiri dari jaringan anak disebut piring
penutup (membrana chorii), yang dibentuk oleh amnion, pembuluh-pembuluh
darah janin, chorion dan villi. Bagiann yang terbentuk dari jaringan ibu disebut
piring desidua atau piring basal yang terdiri dari desidua compacta dan sebagian
dari desidua spongiosa, yang kelak ikut lepas dengan placenta. Permebilitas
placenta sebagai pertukaran zat,diantaranya :

1. Difusi oksigen
Prinsip yang dipakai untuk difusi oksigen melalui membran placenta hampir
sama persis dengan difusi oksigen melalui membran paru. Oksigen yang larut
dalam darah sinus maternal besar masuk ke dalam  darah fetus melalui difus
sederhana, didorong oleh gradien tekanan oksigen dari darah ibu ke darah
fetus. PO2 rata-rata dalam darah ibu pada sinus-sinus maternalis kira-kira 50
mmHg pada akhir kehamilan, dan PO2 dalam darah fetus setelah teroksigenasi
adalah kira-kira 30 mmHg. Oleh karena itu, gradien tekanan rata-rata
untukdifusi oksigen melalui membran placenta kira-kira adalah 20 mmHg. Kita
akan berpikir bagaimana mungkin bagi fetus dapat memperoleh oksigen yang
cukup bila darah fetus yang meninggalkan plasenta hanya mempunyai PO2 30
mmHg. Ada tiga alasan mengapa PO2 yang rendah ini membuat darah fetus
10

mampu untuk mentranspor oksigen ke jaringan fetus hampir sama banyak


dengan yang ditranspor oleh darah ibu ke jaringannya.
a. Pertama, hemoglobin dari fetus terutama adalah hemoglobin fetal, suatu
jenis hemoglobin yang disintesis pada fetus sebelum kelahiran, berarti
bahwa hemoglobin fetus dapat mengangkut lebih banyak  20-50 persen
oksigen daripada yang dapat diangkut hemoglobin ibu.
b. Kedua, konsentrasi hemoglobin darah fetus kira-kira 50 persen lebih besar
dari hemoglobin ibu, oleh karena itu, ini adalah faktor penting dalam
meningkatkan jumlah oksigen yang ditranspor ke jaringan fetus.
c. Ketiga, efek Bohr, hemoglobin dapat membawa lebih banyak oksigen pada
PCO2rendah daripada yang dapat dibawa pada PCO2 tinggi. Darah fetus
yang memasuki plasenta membawa sejumlah besar karbondioksida, tetapi
banyak  karbondioksida ini berdifusi dari darah ke fetus ke dalamdarah ibu.
Hilangnya karbondioksida membuat darah fetus lebih alkalis, sedangkan
peningkatan karbondioksida dalamdarah ibu membuat darah ibu lebih asam.
Perubahan ini menyebabkan kapasitas gabungan oksigen darah fetus
terhadap oksigen meningkat dan dalamdarah ibu menurun. Keadaan ini
memaksa lebih banyak oksigen mengalir dari darah ibu, sehingga
meningkatkan oksigen dalam darah fetus. Jadi, pergeseran Bohr akan
bekerja pada arah tertentu dalam darah ibu, danpadaarah yang lain
dalamdarah fetus.

Total kapasitas difusi seluruh plasenta untuk oksigen pada saat aterm kira-kira 1,2
mililiteroksigen permenit per mililiter perbedaan oksigen di seluruh membran.

2. Difusi karbondioksida
Karbondioksida secara terus menerus dibentuk dalam jaringan fetus dengan
cara yang sama dengan pembentukan karbondioksida dalam darah ibu. Dan
satu-satunya cara mengekskresi karbondioksida dari fetus adalah melalui
plasenta ke dalam darah ibu. PCO2  darah fetus besarnya 2-3 mmHg lebih
tinggi dari PCO2darah ibu,sehingga memungkinkan difusi karbondioksida
adekuat dari darah fetus ke darah ibu.
11

3. Difusi nutrisi
Untuk menyediakan glukosa yang banyak, makaterjadi difusi secara pasif
melalui membran plasenta. Walaupun begitu, kadar glukosa dalam darah fetus
tetap lebih rendah dari darah ibu. Karena kelarutan asam lemak yang tinggi
dalam membran sel, zat-zat ini juga berdifusi dari darah ibu ke dalam darah
fetus tetapi lebih lambat daripada glukosa sehingga glukosa lebih dulu dipakai
fetus sebagai nutrisi. Juga, zat-zat seperti badan keton dan ion kalium, natrium
dan klorida juga berdifusi dari darah ibu ke dalam darah fetus.
4. Ekskresi produk-produk buangan
Dengan cara yang sama seperti karbondioksida berdifusi dari darah fetus ke
dalam darah ibu. Produk-produk eksresi lainnya yang dibentuk pada fetus juga
berdifusi ke dalam darah ibu dan kemudian dieksresikan bersama-sama dengan
produk-produk eksresi dari ibu. Produk-produk ini meliputi nitrogen bukan
protein seperti ureum, asam urat, dan kreatinin.Kadaar ureumdalam darah fetus
sedikit lebih tinggi daripada kadar ureum darah ibu, leh karena itu ureum
berdifusi ke dalam darah ibu lebih mudah. Jadi, produk ekskresi janin lebih
mudah berdifusi ke dalam darah ibu karena mempunyai konsentrasi yang lebih
tinggi. Memproduksi hormon yang diperlukan untuk mempertahankan
kehamilan dan menunjang embrio-janin. Plasenta sebagai kelenjar endokrin
memproduksi empat hormon yang diperlukan untuk mempertahankan
kehamilan dan menunjang embrio-janin. Hormon diproduksi oleh
sel sinsisium. Hormon protein, human  Chorionic Gonadotrofin (hCG), dapat
dideteksi dalam serum ibu pada hari ke-8 sampai hari ke-10 setelah konsepsi.
Hormon ini menjadi dasar tes kehamilan dan berfungsi untuk mepertahankan
fungsi korpus luteum ovarium, menjamin suplai estrogen dan progesteron yang
kontinu untuk mempertahankan kehamilan. Hormon gonadotrofin mencapai
tingkat maksimum pada hari ke-50 sampai hari ke-70, kemudian kadar mulai
menurun antara 100-130 hari.
2.4 Hemoglobin dan Afinitas Oksigen
Hemoglobin yang terkandung dalam sel darah merah dapat membawa
oksigen dan karbon dioksida. Empat rantai globin polipeptida dengan molekul
12

hem yang mengandung besi merupakan bagian dari Hb. Pada masa fetal ini
terdapat Hb embrionik, hingga masa fetal akhir, Hb fetal (Hb F) dominan. Pada
bulan ketiga sampai keenam terjadi pergantian dalam periode neonatal menjadi
Hb dewasa normal (HbA). Afinitas oksigen yang dimiliki HbF lebih tinggi
daripada HbA (Mehta dan Hoffbrand, 2006).
Struktur tetramer terdiri atas sepasang globin α dan sepasang globin non-α
terdapat pada orang dewasa. Sebagian besar Hb dewasa (HbA) terdiri dari
sepasang rantai globin α dan sepasang rantai globin β (α2β2). Selain itu juga
terdapat sebagian kecil Hb fetus (HbF) dengan sepasang rantai globin α dan rantai
globin γ (α2γ2), serta Hb minor (HbA2) yang terdiri dari sepasang rantai globin α
dan sepasang rantai globin δ (α2δ2). Secara kuantitatif, pada bayi baru lahir di
dominasi oleh jumlah HbF diikuti oleh HbA dan HbA2. Sebaliknya pada orang
dewasa, jumlah Hb di dominasi oleh HbA diikuti oleh HbF dan HbA2 (Sofro,
2012).
Banyak zat penting yang dibutuhkan untuk memproduksi Hb dalam eritrosit
normal. Asam amino (protein), vitamin B12, vitamin B6, asam folat (vitamin
kompleks B2), besi, mineral cobalt (Co), dan nikel (Ni) merupakan zat penting
yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi Hb yang baik. Pada orang dewasa,
produksi ertrosit sehari mencapai lebih dari 200 milyar yang membutuhkan 20 mg
asupan besi. Sebagian pasokan besi didapat dari hasil daur ulang yang merupakan
hasil dari eritrosit tua yang di fagosit oleh makrofag sel mononuklear. Sekitar 1-2
mg besi yang berasal dari penyerapan usus, yang pada saat kondisi stabil
menggantikan besi yang telah dieksresikan oleh tubuh (Kiswari, 2014).
Besi yang diserap di dalam duodenum dan yeyenum apabila berlebihan akan
di simpan sementara di dalam sel-sel retikuloendotel yang terdapat di hati. Zat
yang tersimpan di dalam sel retikoloendotel sebagai feritin dan hemosiderin
dibebaskan untuk digunakan oleh sumsum tulang bagi pembentukan sel darah
baru (Kowalak et al., 2012). Defisiensi salah satu zat yang dibutuhkan akan
menyebabkan eritropoesis menjadi abnormal. Anemia disebabkan oleh
eritropoesis yang tidak normal, jenis dari anemianya tergantung dari unsur zat
mana yang mengalami defisiensi (anemia defisiensi besi, defisiensi B12, atau
13

defisiensi asam folat) (Kiswari, 2014). Eritropoetin adalah hormon yang


dibutuhkan dalam proses pembentukan sel darah merah (Longo et al., 2012).
Produksi retikulosit dan pelepasan retikulosit dari sumsum tulang di tingkatkan
oleh eritropoetin. Eritropoetin (Epo) matur adalah protein yang terglikosilasi
tinggi yang mengandung 165 asam amino. Protein akan berinteraksi dengan
reseptor eritropoetin (EpoR) yang homolog dengan reseptor pertumbuhan yang
lainnya. Ikatan antara eritropoerin dengan reseptornya akan menghasilkan
internalisasi reseptor dan menimbukan kejadian berikutnya seperti masuknya
kalsium dan fosforilasi tirosin. Reseptor akan diekspresikan pada sel progenitor
eritroid awal dan jumlah ekspresinya meningkat pada perkembangan sel darah
merah. Kematian sel apoptotik disebabkan oleh pelepasan eritropoetin dari
prekursornya.
2.5 Penurunan Aliran Darah Uterus
Plasenta berbentuk bundar seperti cakram dengan diameter 15 – 20 cm
dengan ketebalan kurang lebih 3 cm. Plasenta memiliki berat rata – rata sebesar
500 gram. Plasenta terbentuk sempurna pada umur kehamilan < 16 minggu. Letak
plasenta umumnya di depan atau di belakang dinding uterus yang mengarah ke
fundus uteri. Plasenta memiliki dua komponen, bagian ibu dan bagian janin. Pada
bagian ibu plasenta dibentuk oleh desidua basalis dan dibatasi oleh lempeng
desidua. Pada bagian janin plasenta disusun oleh korion frondosum dan dibatasi
oleh lempeng korion. Diantara lempeng korion dan desidua terdapat ruang
antarvillus yang tersisi oleh darah ibu. Selama bulan keempat dan kelima
kehamilan desidua membentuk sejumlah septum desidua yang menonjol keruang
antarvilus tetapi tidak mencapai lempeng korion. Septum ini berasal dari jaringan
ibu tetapi permukaannya dilapisi oleh selapis sel sinsitium, hal ini menyebabkan
darah ibu diruang intervilus tidak tercampur dengan darah dari janin. Plasenta
adalah organ penghubung antara ibu dan janin. Plasenta memiliki fungsi sebagai
organ tempat pertukaran nutrisi dan gas antara ibu dan janin, sebagai penghasil
hormon, dan sebagai penyalur imunologi.
Pelasenta merupakan organ pembuluh darah yang unik karena mendapat
aliran darah dari ibu (uteroplasenta) dan dari janin (fetoplasenta). Sirkulasi
14

uteroplasenta dimulai dengan aliran darah ibu melalui arteri spiralis menuju ke
ruang intervillous terminal. Disini pembuluh arteri ibu mengalirkan darah kaya
oksigen dan nutrisi ke arteri endometrium. Kemudian aliran darah dari vena uterus
yang rendah oksigen dan mengandung sisa metabolisme janin kembali ke sirkulasi
ibu dan dieksresikan bersama hasil sisa metabolisme ibu. Aliran darah
uteroplasenta didorong oleh tekanan arteri ibu karena rendahnya resistensi
pembuluh darah pada sisrkulasi uteroplasenta. Kecepatan aliran darah ibu ke
plasenta adalah sekitar 600 - 700 ml/menit.
Sirkulasi fetoplasenta dihubungkan oleh tali pusat dari janin ke plasenta. Tali
pusat tidak langsung terhubung ke sistem perdarahan ibu tapi melalui plasenta
yang kemudian terjadi pertukaran oksigen dan nutrisi antara ibu dan janin di ruang
intervilli. Arteri umbilikalis membawa darah rendah oksigen dan hasil sisa
metabolisme janin ke plasenta. Penurunan aliran darah dari umbilikus akan
berpengaruh buruk pada janin. Vena umbilikalis berfungsi membawa darah kaya
oksigen dan nutrisi dari plasenta ke janin. Pada kehamilan 24 – 29 minggu pada
tali pusat normal rata – rata aliran darah vena yang diukur dengan USG Doppler
adalah sebesar 443 ± 92 ml/ menit.30 Pembuluh darah tali pusat sensitif terhadap
berbagai vasoaktivator seperti serotonin, angiotensin II dan oksitosin. Pembuluh
darah umbilikus juga memproduksi prostaglandin sebagai vasodilator dan
prostasiklin sebagai inhibitor agresi platelet. Pada suatu penelitian menyatakan
bahwa vena umbilikalis menghasilkan prostaglandin lebih tinggi dari arteri
umbilikalis.
Tali pusat berisi satu vena dan dua arteri. Vena ini menyalurkan oksigen dan
makanan dari plasenta ke janin. Sebaliknya, kedua arteri menjadi pembuluh balik
yang menyalurkan darah ke arah plasenta untuk dibersihkan dari sisa
metabolisme. Setelah melewati dinding abdomen, pembuluh vena umbilikalis
mengarah ke atas menuju hati, membagi menjadi 2, yaitu sinus porta ke kanan,
yang memasok darah ke hati, duktus venosus yang berdiameter lebih besar dan
akan bergabung dengan vena kava inferior masuk ke atrium kanan. Darah yang
masuk ke jantung kanan ini mempunyai kadar oksigen yang sama seperti arteri,
meski bercampur sedikit dengan darah dari vena kava. Darah ini akan langsung
15

mengalir melalui foramen ovale pada septum, masuk ke atrium kiri dan
selanjutnya melalui ventrikel kiri akan menuju aorta dan seluruh tubuh. Adanya
krista dividens sebagai pembatas pada vena kava memungkinkan sebagian besar
darah bersih dari duktus venosus langsung akan mengalir ke arah foramen ovale.
Sebaliknya, sebagian kecil akan mengalir ke arah ventrikel kanan.
Darah dari ventrikel kanan akan mengalir ke arah paru, tetapi sebagian besar
dari jantung kanan melalui arteri pulmonalis akan dialirkan ke aorta melalui suatu
pembuluh duktus arteriosus karena paru belum berkembang. Darah tersebut akan
bergabung di aorta desending, bercampur dengan darah bersih yang akan dialirkan
ke seluruh tubuh. Darah balik akan melalui arteri hipogastrika, keluar melalui
dinding abdomen sebagai arteri umbilikalis. Setelah bayi lahir, semua pembuluh
umbilikalis, duktus venosus, dan duktus arteriosus akan mengerut. Pada saat lahir,
akan terjadi perubahan sirkulasi, dimana terjadi pengembangan paru dan
penyempitan tali pusat. Akibat peningkatan tekanan oksigen pada sirkulasi paru
dan vena pulmonalis, ductus arteriosus akan menutup dalam 3 hari dan total pada
minggu kedua. (Wiknjosastro, 2008).
2.6 Fisiologis Pengaturan Denyut Jantung Janin
1. Pengertian
Denyut jantung janin normal adalah frekuensi denyut rata-rata wanitatidak
sedang bersalin, atau diukur diantara dua kontraksi. Rentang normal adalah
120 sampai 160 denyut/menit. Bunyi denyut jantung janin seperti bunyi detik
jam dibawah bantal.
2. Alat Pemeriksa Denyut  Jantung  Janin
Denyut jantung janin secara obyektif dapat diketahui oleh pemeriksa dengan
menggunakan:
a. Auskultasi periodik, tersedia beberapa instrument untuk mendeteksi
denyut jantungjanin seperti : Fetoskop (18-20 minggu), stetoskop
Pinard/Laenec(18-20 minggu), stetoskop ultrasonografi dopler (12
minggu).
16

b. Electronic Fetal Monitoring , Ada dua alat pemantauan janin secara


elektronik yaitu : alateksternal (transducer eksternal) dan alat internal
(elektroda spiraldan kateter tekanan intrauterine).

3. Cara  Mendengarkan Denyut  Jantung  Janin


a. Dengan menggunakan Stetoskop Pinard
1) Tempat mendengarkan harus tenang, agar tidak mendapatgangguan
dari suara lain.
2) Ibu hamil diminta berbaring terlentang, kakinya lurus, bagian yang
tidak perlu diperiksa ditutup, pintu atau jendela ditutup.
3) Alat disediakan. Pemeriksaan ini sebagai lanjutan dari pemeriksaan
palpasi.
4) Mencari daerah atau tempat dimana kita akan mendengarkan.Setelah
daerah ditemukan, stetoskop pinard di pakai bagian yang berlubang
luas ditempatkan ke atas tempat atau daerah dimana kita akan
mendengarkan. Sedangkan bagian yang luasnya sempit ditempatkan
pada telinga kita, letakkan tegak lurus.
5) Kepala pemeriksa dimiringkan, perhatian dipusatkan pada
denyutjantung janin. Bila terdengar suatu detak, maka untuk
memastikanapakah yang terdengar itu denyut jantung janin, detak ini
harusdisesuai dengan detak nadi ibu. Bila detakkan itu sama dengan
nadi ibu, yang terdengar bukan jantunt janin, tetapi detak
aortaabdominalis dari ibu.
6) Setelah nyata bahwa yang terdengar itu betul-betul denyut
jantungjanin maka dihitung untuk mengetahui teraturnya dan
frekuensinyadenyut jantung janin itu.
b. Dengan menggunakan Doppler 
1) Nyalakan doppler, untuk memeriksa apakah doppler dapatdigunakan.
2) Usahakan jelly pada abdomen ibu, tepet pada daerah yang
telahditentukan. Kegunaan jelly adalah sebagai kontak kedap
udaraantara kulit abdomen dengan permukaan sensor.
17

3) Tempatkan sensor pada daerah yang akan didengarkan,kemudian


tekan tombol start untuk mendengarkan denyutjantung janin.
4) Lakukan penyesuaian volume seperlunya denganmenggunakan
tombol pengatur volume.
5) Lihat denyut jantung janin pada angka yang ditujukan melalui
monitor.
4. Cara menghitung denyut jantung janin
Menghitung denyut jantung janin yaitu selama satu menit penuh. Hal ini
dikarenakan pada setiap detik itu terdapat perbedaan denyut serta
membandingkan dengan rentang normal selama satu menit.
5. Hal yang dapat diketahui dalam pemeriksaan DJJ.
a. Dari adanya denyut jantung janin :
1) Tanda pasti kehamilan
2) Anak hidup
3) Dari tempat denyut jantung janin terdengar
4) Presentasi janin
5) Posisi janin (kedudukan punggung)
6) Sikap janin
7) Adanya janin kembar 
b. Dari sifat denyut jantung janin
1) Keadaan janin
c. Bunyi yang sering terdengar ketika memeriksa denyut jantung janin
1) Desir tali pusat
Disebabkan semburan darah melalui arteri umbilikalis. Suara
initerdengar seperti siulan nyaring yang singkron dengan
denyutjuantung janin. Suara ini tidak konstan, kadang kadang terdengar
jelas ketika diperiksa pada suatu waktu namun pada pemeriksaan dilain
tidak terdengar.
2) Desir uterus
Terdengar sebagai suara hembusan lembut yang singkron dengandenyut
ibu. Bunyi ini biasanya paling jelas terdengar saat auskultasi segmen
18

bawah uterus. Suara ini  dihasilkan oleh pasase darah melalui


pembuluh-pembuluh uterus yang berdilatasi dan dijumpai tidak saja
pada kehamilan tetapi juga pada setiap keadaan yang menyebabkan
aliran darah ke uterus meningkat, hinggapengaliran darah menjadi luas.
3) Suara akibat gerakan janin
Suara gerakan ini seperti suara pukulan, dikarenakan janinmendapat
reaaksi dari luar.
4) Gerakan usus
Suara ini seperti berkumur-kumur, dihasilkan oleh berjalannya gasatau
cairan melalui usus ibu.
6. Frekuensi Denyut Jantung
a. Bradikardi
Frekuensi denyut jantung janin yang berkurang dari 110denyut/menit.
Keadaan inidianggap sebagai tanda akhir hipoksiajanin.Penyebabnya:
1) Hipoksia janin tahap lanjut
2) Obat-obatan beta-adrenergetik (propanolol, anestik untuk blok epidural,
spinal, kaudal, dan pudendal)
3) Hipotensi pada ibu
4) Kompresi tali pusat yang lama
5) Blok jantung congenital pada janin
b. Takikardia
Frekuensi denyut jantung janin yang lebih dari 160denyut/menit. Keadaan
ini dianggap sebagai tanda awal hipoksia janin.Penyebabnya:
1) Hipoksia janin dini
2) Demam pada ibu
3) Obat-obatan parasimpatik (atropine, hidroksizin)
4) Obat-obatan Beta-simpatomimetik(ritrodon,isoksuprin)
5) Amnionitis
6) Hipertiroid pada ibu
7) Anemia pada janin
8) Gagal jantung pada janin
19

9) Aritma jantung pada janin


c. Variabilitas
Variabilitas denyut jantung janin digambarkan sebagai ketidakteraturan
irama jantung normal.Variabilitas denyut demi denyut normal dianggap
antara 16 dan 25 denyut/menit. Variabilitas jangka pendek yaitu
ketidaksamaan satu denyut dengan denyut berikutnya. Variabilitas jangka
panjang yaitu tampak sebagai siklus ritmik atau gelombang dasar dan
biasanya terdapat tiga sampai lima siklus permenit.
1) Penyebab variabilitas meningkat :
(a) Hipoksia ringan dini
(b) Stimulasi janin oleh palpasi rahim, kontraksi rahim, aktivitas janin,
dan aktivitas ibu.
2) Penyebab variabilitas menurun :
(a) Hipoksia atau asidosis
(b) Depresi system saraf pusat oleh obat-obatan tertentu
(c) Prematuritas
(d) Siklus tidur janin
(e) Aritma jantung janin
Denyut jantung janin (DJJ) dianggap sebagai faktor untuk mengukur
kesejahteraan janin dalam Rahim. Angka kematian bayi merupakan indikator
yang penting untuk mengukur derajat kesehatan suatu negara. Hal ini karena bayi
sangat rentan terhadap keadaan kesehatan atau kesejahteraan yang buruk. Salah
satu cara untuk menurunkan angka kematian perinatal yang disebabkan oleh
penyulit-penyulit hipoksia janin dalam rahim antara lain dengan melakukan
pemantauan kesejahteraan janin. Tujuan pemantauan janin adalah untuk
mendeteksi dini ada tidaknya faktor-faktor resiko kematian prenatal tersebut
(hipoksia/asfiksia, gangguan pertumbuhan, cacat bawaan, dan infeksi). Frekuensi
denyut jantung janin pada usia 25 minggu adalah 150 x/menit.4 sedangkan pada
saat aterm adalah 110-150x/menit, dan sebelum akhir periode tersebut, 160 kali/
menit dianggap sebagai batas maksimum frekuensi denyut jantung normal.
Namun, belum ada penelitian yang menyebutkan frekuensi DJJ secara spesifik
20

pada kehamilan primigravida maupun multigravida. Dan nilai normal denyut


jantung janin antara 120-160 kali permenit.
Denyut jantung janin dasar menurun tajam seiring peningkatan usia gestasi
sebagai akibat maturnya tonus parasimpatis. Pemeriksaan denyut jantung janin
diukur 1 menit penuh.4 Namun pada kenyataan di lapangan sering ditemukan
pengukuran DJJ pada pemeriksaan kehamilan hanya untuk mengetahui ada
tidaknya bunyi, tanpa mengetahui frekuensinya, sehingga tidak bisa mendeteksi
jika ada kemungkinan ketidakteraturan atau frekuesinya lebih kecil dari 110, dan
lebih besar dari 160. DJJ kurang dari 110x/menit dianggap sebagai bradikardia
janin. Sedangkan pada kondisi takhikardia janin apabila terjadi peningkatan
frekuensi DJJ di atas 160x/menit, yang disebabkan oleh berbagai factor, di
antaranya hipoksia janin, anemia, dan obat-obatan.
21

BAB 3
KESIMPULAN & SARAN

3.1 Kesimpulan
Kesejahteraan janin merupakan kondisi dimana janin dalam keadaan sejahtera
yang diukur berdasarkan denyut jantung dan gerakan janin. Penilaian
kesejahteraan janin yang konvensional umumnya dikerjakan dengan cara-cara
yang tidak langsung, seperti pengukuran tinggi fundus, maupun penilaian gejala
atau tanda fisik ibu yang diduga dapat mengancam kesejahteraan janin. Cara-cara
itu seringkali tidak untuk mempridiksi kesejahteraan janin, sehingga sulit
digunakan untuk membuat strategi yang rasional dalam upaya pencegahan dan
intervensi penanganan janin yang mengalami gangguan intrauterine. Dalam
konsep obstetric modern, khusunya perinatology, janin dipandang sebagai
individu yang harus diamati dan ditangani sebagaimana layaknya seorang pasien.
Janin perlu mendapat pemeriksaan fisik untuk mengetahui apakah kondisinya
aman, atau dalam bahaya. Pengertahuan akan hal itu akan menentukan segi
penanganan janin selanjutnya.
3.2 Saran
Kehamilan merupakan bagian dari proses fisiologis yang dialami oleh
perempuan dalam siklus maturitas. Pada saat menjalani kehamilan kondisi
kesehatan perempuan perlu mendapatkan perhatikan, mengingat kondisi
kesehatan akan sangat mempengaruhi keberhasilan menyelesaikan tahapan
kehamilan hingga persalinan.

21
22

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, Mac. Donald, Gant. 1997. Obstetri Williams.EGC : Jakarta.


Danforth. 2002. Buku Saku Obstetri dan Gynekologi. Widya Medika : Jakarta.
Manuaba, Ida Bagus Gde .2010. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan, dan KB
untuk pendidikan bidan. EGC : Jakarta.
Saifudin, Abdul Bari .2009. Ilmu kebidanan. PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo : Jakarta.
Winkjosastro, Hanifa .2011. Ilmu kebidanan. PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo : Jakarta.

22