Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA TN.

S (56 TAHUN) DENGAN


MASALAH KESEHATAN DIABETES MELLITUS

Oleh:
Clauvega Myrtha Ranggun Sunarya
NIM. 131913143061

STASE KEPERAWATAN KOMUNITAS DAN KELUARGA


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2020
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA TN. S (56 TAHUN) ANGGOTA
KELUARGA TN. S DENGAN MASALAH KESEHATAN DIABETES
MELLITUS TIPE II
1.1 Konsep Keluarga
1.1.1 Definisi Keluarga
Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat yang berperan besar
terhadap perkembangan sosial dan perkembangan kepribadian setiap anggota
keluarga. Secara tradisional, keluarga diartikan sebagai dua atau lebih orang yang
dihubungkan dengan pertalian darah, perkawinan atau adopsi (hukum) yang memiliki
tempat tinggal bersama. Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga memerlukan
organisasi tersendiri dan perlu kepala rumah tangga sebagai tokoh penting yang
mengemudikan perjalanan hidup keluarga disamping beberapa anggota keluarga
lainnya. (Asy’ari, 2017).
Menurut Depkes RI (dalam Padila, 2012) mendefinisikan Keluarga adalah unit
terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang
berkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan.
Menurut Friedman (dalam (Padila, 2012) keluarga sebagai suatu sistem sosial.
Keluarga merupakan sebuah kelompok kecil yang terdiri dari individu-individu yang
memiliki hubungan erat satu sama lain, saling tergantung yang diorganisir dalam satu
unit tunggal dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
1.1.2 Karakteristik Keluarga
Dalam (Harnilawati, 2013) di sebutkan beberapa tipe keluarga yaitu :
a) Tipe Keluarga Tradisional
1. Keluarga Inti (Nuclear Family), adalah keluarga yang terdiri dari ayah,
ibu dan anak-anak.
2. Keluarga Besar (Exstended Family), adalah keluarga inti di tambah
dengan sanak saudara, misalnya nenek, keponakan, saudara sepupu,
paman, bibi dan sebagainya.
3. Keluarga “Dyad” yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami dan
istri tanpa anak.
4. “Single Parent” yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari satu orang
tua (ayah/ibu) dengan anak (kandung/angkat). Kondisi ini dapat
disebabkan oleh perceraian atau kematian.
5. “Single Adult” yaitu suatu rumah tangga yang hanya terdiriseorang
dewasa (misalnya seorang yang telah dewasa kemudian tinggal kost
untuk bekerja atau kuliah)
b) Tipe Keluarga Non Tradisional
1. The Unmarriedteenege mother
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari
hubungan tanpa nikah
2. The Stepparent Family
Keluarga dengan orang tua tiri.
3. Commune Family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada
hubungan saudara hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan
fasilitas yang sama, pengalaman yang sama : sosialisasi anak dengan
melalui aktivitas kelompok atau membesarkan anak bersama.
4. The Non Marital Heterosexual Conhibitang Family
Keluarga yang hidup bersama dan berganti – ganti pasangan tanpa
melelui pernikahan.
5. Gay And Lesbian Family
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana
suami – istri (marital partners).
6. Cohibiting Couple
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena
beberapa alasan tertentu.
7. Group-Marriage Family
Beberapa orang dewasa menggunakan alat – alat rumah tangga bersama
yang saling merasa sudah menikah, berbagi sesuatu termasuk seksual
dan membesarkan anaknya.
8. Group Network Family
Keluarga inti yang dibatasi aturan atau nilai – nilai, hidup bersama atau
berdekatan satu sama lainnya dan saling menggunakan barang – barang
rumah tangga bersama, pelayanan dan tanggung jawab membesarkan
anaknya.
9. Foster Family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga atau
saudara didalam waktu sementara, pada saat orang tua anak tersebut
perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang
aslinya.
10. Homeless Family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang
permanent karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan
ekonomi dan atau problem kesehatan mental.
11. Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang- orang muda yang
mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian
tetapi berkembang dalam kekerasan dan criminal dalam kehidupannya.
1.1.3 Tahap dan Tugas Perkembangan Keluarga
Menurut (Friedman, 2010) Perkembangan keluarga terbagi menjadi beberapa
tahap dan perkembangan diantaranya yaitu:
a) Tahap I pasangan baru atau keluarga baru (berginning family).
Keluarga baru dimulai pada saat masing-masing individu, yaitu suami dan
istri yang membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan
meninggalkan keluarga masing-masing. Tugas perkembangan keluarga
tahap ini antara lain adalah:
1. Membina hubungan intim yang memuaskan.
2. Menetapkan tujuan bersama.
3. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok social.
4. Mendiskusikan rencana memiliki anak atau KB.
5. Persiapan menjadi orang tua.
6. Memehami prenatal care (pengertisn kehamilan, persalinan dan
menjadi orang tua).
b) Tahap II keluarga dengan kelahiran anak pertama (child bearing family).
Keluarga yang menantikan kelahiran dimulai dari kehamilan sampai
kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan
(2,5 tahun). Tugas perkembangan keluarga tahap ini antara lain adalah :
1. Adaptasi perubahan anggota keluarga (peran, interaksi, seksual dan
kegiatan).
2. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
3. Membagi peran dan tanggung jawab (bagaimana peran orang tua
terhadap bayi dengan memberi sentuhan dan kehangatan).
4. Bimbingan orang tua tentang pertumbuhan dan perkembangan anak.
5. Konseling KB post partum 6 minggu.
6. Menata ruang untuk anak.
7. Biaya/dana Child Bearing.
8. Memfasilitasi role learning angggota keluarga.
9. Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin.
c) Tahap III keluarga dengan anak prasekolah (families with preschool).
Dimulai saat kelahiran anak berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak
berusia 5 tahun. Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah:
1. Pemenuhan kebutuhan anggota keluarga.
2. Membantu anak bersosialisasi.
3. Beradaptasi dengan anak baru lahir, anak yang lain juga terpenuhi.
4. Mempertahankan hubungan di dalam maupun di luar keluarga.
5. Pembagian waktu, individu, pasangan dan anak.
6. Merencanakan kegiatan dan waktu stimulasi tumbuh dan kembang
anak
d) Tahap IV keluarga dengan anak usia sekolah (families with
schoolchildren).
Dimulai pada saat anak yang tertua memasuki sekolah pada usia 6 tahun
dan berakhir pada usia 12 tahun. Tugas perkembangan keluarga pada saat
ini adalah:
1. Membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah, sekolah
dan lingkungan lebih luas.
2. Mendoprong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual.
3. Menyediakan aktivitas untuk anak.
4. Menyesuaikan pada aktivitas komuniti dengan mengikut sertakan
anak
5. Memenuhi kebutuhan yang meningkat termasuk biaya kehidupan dan
kesehatan anggota keluarga.
e) Tahap V keluarga dengan anak remaja (families with teenagers).
Dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir
sampai pada usia 19-20 tahun, pada saat anak meninggalkan rumah orang
tuanya. Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah:
1. Pengembangan terhadap remaja (memberikan kebebasan yang
seimbang dan brertanggung jawab mengingat remaja adalah seorang
yang dewasa muda dan mulai memiliki otonomi).
2. Memelihara komunikasi terbuka antara anak dan orange tua, hindari
perdebatan, kecurigaan dan permusuhan.
3. Memelihara hubungan intim dalam keluarga.
4. Mempersiapkan perubahan system peran dan peraturan anggota
keluarga untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anggota
keluarga.
f) Tahap VI keluarga dengan anak dewasa atau pelepasan (launching
centerfamilies).
Tahap keluarga dengan anak dewasa yaitu dimulai pada saat anak pertama
meninggalkan rumah. Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah:
1. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
2. Mempertahankan keintiman.
3. Menbantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat.
4. Mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan menerima kepergian
anak.
5. Menata kembali fasilitas dan sumber yang ada pada keluarga.
6. Berperan suami – istri kakek dan nenek.
7. Menciptakan lingkungan rumah yang dapat menjadi contoh bagi anak
– anaknya
g) Tahap VII keluarga usia pertengahan (middle age families).
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah:
1. Mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan dalam mengolah
minat social dan waktu santai.
2. Memulihkan hubungan antara generasi muda tua.
3. Keakraban dengan pasangan.
4. Memelihara hubungan/kontak dengan anak dan keluarga.
5. Persiapan masa tua/pensiun.
h) Tahap VIII keluarga usia lanjut.
Tahap terakhir perkembangan keluarga dimulai pada saat salah satu
pasangan pensiun, berlanjut salah satu pasangan meninggal, sampai
keduanya meninggal. Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah:
1. Penyesuaian tahap masa pension dengan cara merubah cara hidup.
2. Menerima kematian pasangan, kawan dan mempersiapkan kematian.
3. Mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat.
4. Melakukan life review masa lalu.
1.1.4 Fungsi Keluarga
Friedman, (2010) mengidentifikasi 5 fungsi dasar keluarga, yaitu:
a) Fungsi Afektif.
Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang
merupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan
kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada
kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota
keluarga saling mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dapat
dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam keluarga.
Dengan demikian, keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh
anggota keluarga dapat mengembangkan konsep diri positif. Komponen yang
perlu dipenuhi oleh keluarga dalam melaksanakan fungsi afektif adalah :
1. Saling mengasuh : cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling
mendukung antar anggota keluarga, mendapatkan kasih sayang dan
dukungan dari anggota yang lain akan meningkatkan kemampuannya
untuk memberikan kasih sayang yang pada akhirnya akan tercipta
hubungan yang hangat dan saling mendukung. Hubungan intim didalam
keluarga merupakan modal dasar dalam memeberikan hubungan dengan
orang lain diluar keluarga/ masyarakat.
2. Saling menghargai. Anggota keluarga yang saling menghargai dan
mengakui keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta selalu
mempertahankan iklim yang positif, maka fungsi afektif akan tercapai.
3. Ikatan dan identifikasi ikatan keluarga dimulai sejak pasangan sepakat
memulai hidup baru. Ikatan antar anggota keluarga dikembangkan melalui
proses identifikasi dan penyesuaian pada berbagai aspek kehidupan
anggota keluarga. Orang tua harus mengembangkan proses identifikasi
yang positif sehingga anakanak dapat meniru tingkah laku yang positif dari
kedua orang tuanya.
Fungsi afektif merupakan “sumber energi” yang menentukan kebahagiaan
keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah keluarga, timbul
karena fungsi afektif di dalam keluarga tidak dapat terpenuhi.
b) Fungsi Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui
individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam
lingkungan sosial. Sosialisasi dimulai sejak manusia lahir. Keluarga merupakan
tempat individu untuk belajar bersosialisasi, misalnya anak yang baru lahir dia
akan menatap ayah, ibu, dan orang-orang yang ada di sekitarnya Kemudian
beranjak balita dia mulai belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar
meskipun demikian keluarga tetap berperan penting dalam bersosialisasi.
Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi
atau hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi.
c) Fungsi Reproduksi.
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber
daya manusia. Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang sah, selain untuk
memenuhi kebutuhan biologis pada pasangan tujuan untuk membentuk
keluarga adalah untuk meneruskan keturunan.
d) Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan
seluruh anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan akan makanan, pakaian,
dan tempat tinggal. Banyak pasangan sekarang kita lihat dengan penghasilan
yang tidak seimbang antara suami dan istri, hal ini menjadikan permasalahan
yang berujung pada perceraian.
e) Fungsi Perawatan Kesehatan
Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan
kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau
merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam
memberikan asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga.
Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat
dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang dapat
melaksanakana tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah
kesehatan.
1.1.5 Tugas Kesehatan Keluarga
Menurut Freeman (1981) terdapat lima tugas kesehatan keluarga, diantaranya:
a) Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya.
Orangtua perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan
yang dialami anggota keluarga (Suprajitno, 2004 dalam Trisfariani 2007).
Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak
langsung menjadi perhatian dan tanggung jawab keluarga, maka apabila
menyadari adanya perubahan perlu segera dicatat kapan terjadinya,
perubahan apa yang terjadi dan seberapa besar perubahannya (Setiadi,
2006).
b) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan kesehatan yang tepat
bagi keluarga.
Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agar
masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi. Jika keluarga
mempunyai keterbatasan dapat meminta bantuan kepada orang di
lingkungan sekitar keluarga (Setiadi, 2006).
c) Memberikan perawatan anggota keluarga yang sakit atau yang tidak dapat
membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu muda.
Perawatan ini dapat dilakukan di rumah apabila keluarga memiliki
kemampuan melakukan tindakan untuk memperoleh tindakan lanjutan
agar masalah yang lebih parah tidak terjadi (Setiadi, 2006).
d) Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan kesehatan dan
perkembangan kepribadian anggota keluarga.
Keluarga memainkan peran yang bersifat mendukung anggota keluarga
yang sakit. Dengan kata lain perlu adanya sesuatu kecocokan yang baik
antara kebutuhan keluarga dan asupan sumber lingkungan bagi
pemeliharaan kesehatan anggota keluarga (Friedman, 1998).
e) Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga
kesehatan (pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada).
Hubungan yang sifatnya positif akan memberi pengaruh yang baik pada
keluarga mengenai fasilitas kesehatan. Diharapkan dengan hubungan yang
positif terhadap pelayanan kesehatan akan merubah setiap perilaku
anggota keluarga mengenai sehat sakit (Friedman, 1998).
1.2 Konsep COVID-19
1.2.1 Definisi
Pneumonia coronavirus disease 2019 (COVID-19) adalah peradangan pada
parenkim paru yang disebabkan oleh severe acute syndrome coronavirus 2 (SARS-
CoV-2). Sindrom gejala klinis yang muncul beragam dari mulai tidak berkomplikasi
sampai syok septik. (Sitohang et al., 2019)
Coronavirus merupakan virus RNA strain tunggal positif, berkapsul dan tidak
bersegmen. Coronavirus tergolong ordo Nidovirales, keluarga Coronaviridae.
Coronaviridae dibagi dua subkeluarga berdasarkan serotipe dan karakteristik genom.
Terdapat empat genus, yaitu alpha coronavirus, betacoronavirus, deltacoronavirus dan
gamma coronavirus. (Sitohang et al., 2019)
Coronavirus memiliki kapsul, partikel berbentuk bulat (elips), sering
pleimorfik dengan diameter 50-200m5. Struktur coronavirus membentuk struktur
seperti kubus dengan protein S berlokasi dipermukaan virus. Protein S (spike protein)
merupakan salah satu protein antigen utama virus dan merupakan struktur utama untuk
penulisan gen. Protein S berperan dalam penempelan dan masuknya virus kedalam sel
host (interaksi protein S dengan reseptornya di sel inang) (Sitohang et al., 2019).
Coronavirus bersifat sensitif terhadap panas dan secara efektif dapat
diinaktifkan oleh desinfektan mengandung klorin, pelarut lipid dengan suhu 56 derajat
celcius selama 30 menit, eter, alkohol, asam perioksiasetat, detergen non-ionik,
formalin, oxidiing agent dan kloroform (Sitohang et al., 2019).
1.2.2 Etiologi
Pneumonia coronavirus disease 2019 (COVID-19) disebabkan oleh
coronavirus. Coronavirus menginfeksi hewan dan bersirkulasi di hewan seperti babi,
sapi, kuda, kucing dan ayam. Coronavirus disebut dengan virus zonotik, yaitu virus
yang ditransmisikan dari hewan ke manusia. Banyak hewan liar yang dapat membawa
patogen dan bertindak sebagai vektor untuk penyakit menular.
Kelelawar, tikus bambu, unta dan musang merupakan host yang biasa
ditemukan untuk coronavirus. Secara umum, alur coronavirus dari hewan ke manusia
dan dari manusia ke manusia melalui transmisi kontak, droplet, rute feses dan oral.
Setelah transmisii, virus masuk ke saluran napas atas kemudian bereplikasi di sel
epitel saluran napas atas (melakukan siklus hidupnya). Berlanjut ke saluran
pernapasan bawah. Pada infeksi akut terjadi peluruhan virus di saluran napas dan virus
dapat meluruh beberapa waktu di sel gastrointestinal setelah penyembuhan. Masa
inkubasi virus sampai muncul penyakit 3-7 hari (Sitohang et al., 2019).
1.2.3 Manifestasi Klinik
Infeksi COVID-19 dapat menimbulkan gejala ringan, sedang hingga berat.
Gejala klinis utama yang sering muncul, yaitu demam (suhu >38 derajat celcius),
batuk dan kesulitan bernapas. Berikut klasifikasi klinis yang dapat muncul jika
terinfeksi:
a) Gejala Ringan.
1. Demam
2. Batuk disertai nyeri tenggorokan
3. Kongesti hidung
4. Malaise
5. Sakit kepala
6. Nyeri otot
Pada lanjut usia yang immunocompromises menunjukkan gejala tidak khas.
Beberapa kasus ditemui tidak demam, tidak dehidrasi, sepsis atau napas pendek.
Gejala yang timbul relatif ringan (Sitohang et al., 2019).
b) Gejala sedang (Pneumonia ringan)
1. Demam
2. Batuk
3. Takipnea. Pada anak-anak :
 <2 bulan : ≥60x/menit
 2-11 bulan : ≥50x/menit
 1-5 tahun : ≥60x/menit
c) Gejala berat (Pneumonia berat)
1. Demam
2. Takipnea > 30x/menit
3. Distress pernapasan berat (SaO2 <90%)
Tabel 1 Kriteria CAP Menurut Diseases Society Of America/American
Thoracic Society
Jika terdapat salah satu kriteria mayor atau ≥ 3 kriteria minor
Kriteria minor 1. Takipnea > 30x/menit
2. Rasio PaO2/FiO2 ≤ 250
3. Infiltrat multilobular
4. Penurunan kesadaran
5. Uremia (BUN) ≥ 20 mg/dL
6. Leukopenia (<4000 cell/mikrol)
7. Trombositopenia
(<100.000/microliter)
8. Hipotermia (<36 derajat celcius)
9. Hipotensi
Kriteria Mayor 1. Syok septik dengan kebutuhan
vasopressor
2. Gagal napas
Gejala pada anak-anak menunjukan :
 Batuk, tanpa sesak
 Ditambah salah satu diantaranya:
1) Sianosis (SaO2 <90%)
2) Retraksi dada berat
3) Pneumonia dengan tanda bahaya (tidak mau menyusui/minum,
latergi/penurunan kesadaran/kejang)
1.2.4 Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan radiologi (foto thorak, USG thorak, CT scan) menunjukan
opasitas bilateral, konsolidasi subsegmental, lobar atau kolaps paru atau
nodul, tampilan groundglass. Stase awal ditemulan multiple plak kecil di
perifer paru dan kemudian menjadi multiple groundglass dan infiltrate di
kedua paru. Stase akhir ditemukan konsolidasi paru “white plug” dan efusi
pleura jarang terjadi (Sitohang et al., 2019).
2. Pemeriksaan mukosa:
 Swab nasofaring dan orofaring.
 Saluran pernapasan bawah : sputum (berdahak), bilasan bronkus,
BAL, bila terpasang ETT menggunakan aspirat endotrakeal.
3. Pemeriksaan serologi : RT-PCR
4. Bronkoskopi
5. Pungsi pleura
6. Pemeriksaan kimia darah
 Leukosit normal/turun
 LED dan CRP meningkat
 Limfosit menurun
 Analisa gas darah
 Fungsi hepar : enzim liver dan otot meningkat
 Laktat : meningkat
 Faal hemostatis : PT/APTT
 Elektrolit
 GDA
 Fungsi ginjal
7. Kultur darah
8. Feses dan urin : menunjang penularan
1.2.5 Penatalaksanaan

Gambar 1. 1 Alur Deteksi Dini dan Respon di Pintu Masuk dan Wilayah

a) Terapi suportif dini dan pemantauan


1. Terapi suplementasi oksigen.
 Indikasi : ISPA berat, distress pernapasan, hipoksemia dan syok.
 Terapi oksigenasi dilakukan dengan pemberian awal 5 lpm.
Indikator pencapaian SPO2 >90%, >92% pada ibu hamil dan >94%
pada anak dengan tanda kegawatdaruratan (obstruksi napas/apnea,
distress pernapasan berat, sianosis sentral, syok, koma, kejang)

Gambar 1. 2 Suplementasi Oksigen


2. Manajeman cairan konservatif.
 Indikasi : ISPA berat tanpa syok.
3. Medikametosa antibiotik empirik (Gao, Tian dan Yang, 2020)
 Klorokuin 2 x 500mg P.O selama 10 hari
 Hidrosiklorokuin 1 x 400mg P.O
 Oseltamivir 2 x 75mg P.O selama 5 hari. Obat lain: favipiravir,
Lopinavir/Ritonavir
b) Manajemen Gagal Napas Hipoksemia dan ARDS.
1. Terapi oksigen nasal alirang tinggi (High-Flow Nasal Oxygen/HNFO)
atau ventilasi non invasif (NIV). Pemberian aliran oksigen 60 lpm dan
FiO2 sampai 1,0.
2. Intubasi endotrakeal.
3. Ventilasi mekanik.
 Indikasi : pH 7,3-7,45
 Prone position > 12 jam per hari
4. Manajemen cairan konservatif tanpa hipoperfusi jaringan
5. Penggunaan PEEP
c) Manajemen syok septik
1. Terapi antimikroba
2. Terapi cairan.
 Cairan kristaloid isotonik (normal salin dan RL). Dewasa :
30ml/kg, anak : 20ml/kg melalui bolus dan ditingkatkan 40-
60ml.kg dalam 1 jam pertama.
3. Pemberian vasopresor (norepinefrin, epinefrin, vasopresin, dopamin).
 Indikasi : syok tetap berlangsung, meskipun sudah terapi
resusitasi cairan cukup.
d) Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Keluarga
Penularan COVID-19 melalui kontak erat dan droplet. Tindakan
pencegahan yang dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga sebagai
berikut (Kemenkes, 2020):
1. Melakukan perilaku hidup bersih dan sehat. Salah satu penerapan cuci
tangan dengan hand sanitizer atau sabun dan air mengalir.
2. Menghidari bersentuhan tangan, menyentuh mata, hidung dan mulut.
3. Menerapkan etika batuk dan bersin dengan menutup hidung dan mulut
dengan lengan atas atau tisu yang kemudian dibuang ke tempat
sampah.
4. Menjaga jarak (minimal 1 meter) dari orang dengan gejala gangguan
pernapasan (batuk, demam, nyeri tenggorokan).
5. Menggunakan pelindung seperti masker jika dalam kondisi sakit.
Bilamana terdapat anggota keluarga dengan kondisi rentan
terhadap penularan COVID-19 seperti diabetes mellitus, penyakit jantung
iskemik, kanker, hipertensi, penyakit paru kronik, kondisi
immunocompromised, dan malnutrisi dapat melakukan tindakan
pencegahan sebagai berikut:
1. Diabetes Mellitus
 Minum air cukup (menghindari dehidrasi)
 Pemantauan glukosa darah mandiri
 Diet seimbang (3J)
 Konsumsi obat sesuai anjuran dokter
 Menghindari kondisi hipoglikemia/hiperglikemia
2. Hipertensi
 Menghindari merokok
 Pemantauan tekanan darah mandiri
 Diet seimbang (rendah garam)
 Konsumsi obat sesuai anjuran dokter
1.2.6 Komplikasi
1. ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome) yang menunjukkan gejala
hipoksemia. Hipoksemia merupakan tekanan oksigen arteri (PaO2) dibagi
fraksi oksigen insipirasi (FiO2) <300 mmHg.
Tabel 1. 1 Derajat Hipoksemia pada pasien ARDS
Dewasa
ARDS ringan 200 mmHg < PaO2/FiO2 ≤ 300 mmHg,
dengan PEEP atau CPAP ≥5 cmH2O atau
tanpa ventilasi
ARDS sedang 100 mmHg < PaO2/FiO2 ≤ 200 mmHg,
dengan PEEP atau CPAP ≥5 cmH2O atau
tanpa ventilasi
ARDS berat PaO2/FiO2 ≤ 100 mmHg,
dengan PEEP atau CPAP ≥5 cmH2O atau
tanpa ventilasi
Tidak tersedia data PaO2 SpO2/FiO2 ≤ 315
Anak
ARDS ringan (ventilasi invasif) 4 ≤ Oxygenation index (OI) < 8 atau 5 ≤ OSI
7,5
ARDS sedang (ventilasi invasif) 8 ≤ OI < 16 atau 7,5 ≤ Oxygenation index
using SpO2 (OSI) < 12,3
ARDS berat (ventilasi invasif) OI ≥ 16 atau OSI ≥ 12,3
2. Sepsis
Sepsis merupakan suatu kondisi respon disregulasi tubuh terhadap suspek
infeksi disertai disfungsi organ. Tanda disfungsi organ, yaitu :
 Perubahan status mental*
 Takipnea
 SaO2 <90%*
 Output menurun
 Takikardi dan teraba lemah
 Akral dingin
 Kulit mottling (hasil lab menunjukan koagulopati)
 Trombositopenia*
 Hiperbilirubinemia*
 Asidosis
 Hipotensi*
 Leukositosis
3. Syok septik
Syok septik merupakan hipotensi persisten setelah resusitasi volume
adekuat sehingga diperlukan vasopressor untuk mempertahankan MAP ≥
65 mmHg dan serum laktat > 2 mmol/L. Tanda syok septik, yaitu :
 Perubahan status mental
 Bradikardia/takikardia
 CRT > 2 detik
 Takipnea
 Kulit mottled/petekia/purpura
 Hiperbilirubinemia
 Oliguria
 Hipertermia atau hipotermia
1.2.7 Pengaruh Diabetes Mellitus Terhadap COVID-19
Penyakit diabetes mellitus menjadi salah satu kondisi rentan terhadap
penularan COVID-19. Kasus DMT2 (diabetes mellitus tipe 2) terjadi secara genetik,
yaitu resistensi insulin dan defek fungsi sel beta pankreas. Insulin tidak dapat bekerja
secara optimal di sel otot, lemak, dan hepar sehingga memaksa pankreas
mengkompensasi untuk memproduksi insulin lebih banyak. Ketika produksi insulin
oleh sel beta pankreas tidak adekuat untuk mengkompensasi peningkatan resistensi
insulin, maka kadar glukosa darah akan meningkat, pada saatnya akan terjadi
hiperglikemia kronik. Hiperglikemia kronik pada DMT2 semakin merusak sel beta dan
memperburuk resistensi insulin (Decroli, 2019).
Hiperglikemia mengaktifkan protein kinase C dan menghambat migrasi
neutrofil, fagositosis, produksi superoksida dan pembunuhan mikroba. Konsentrasi
glukosa yang tinggi mengurangi pembentukan perangkap ekstraseluler neutrofil.
Hiperglikemia juga dapat menginduksi ekspresi reseptor Toll-like dan menghambat
fungsi neutrofil dan apoptosis. Tinggi konsentrasi glukosa mengurangi pelebaran
pembuluh darah dan meningkatkan permeabilitas selama respon inflamasi awal
melalui aktivasi protein kinase C. Hiperglikemia dapat menyebabkan glikosilasi
protein dan mengubah struktur tersier. Perubahan ini menghambat opsonisasi bakteri
yang dimediasi imunoglobulin dan fiksasi pada bakteri, serta mengurangi fagositosis.
Hiperglikemia juga merangsang produksi dan pelepasan sitokin (Jafar dan Nugent,
2016).
1.3 Konsep Teori Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Penyakit Diabetes
Mellitus Terhadap Kerentanan COVID-19
1.3.1 Pengkajian
1) Data Demografi meliputi data keluarga dan anggota keluarga.
a. Alamat: berada pada zona merah di Indonesia, dan negara terjangkit
(China, Italia)
b. Pekerjaan : pekerja yang mempunyai kontak langsung dengan
penderita COVID-19 seperti tenaga medis.
c. Usia : rerata usia 15-49 tahun (55,1%) dan > 65 tahun (41,9%)
(KCDC, 2020).
d. Status gizi : malnutrisi
e. Riwayat penyakit : hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung
iskemik, penyakit paru kronik, malnutrisi, kanker.
f. Riwayat perjalanan : di negara terjangkit COVID-19 dan area
transmisi local di Indonesia pada 14 hari terkakhir sebelum timbul
gejala.
2) Tahap perkembangan keluarga.
Pada tahap keluarga dengan keluarga baru (ibu hamil), anak baru
lahir/balita, dan lansia berada pada kondisi immunocompromised
mempunyai kerentanan terhadap COVID-19.
3) Perilaku Bersih dan Sehat
a. Perilaku mencuci tangan yang minimal.
b. Perilaku merokok di dalam rumah.
4) Tugas pemeliharaan keluarga
a. Kurangnya informasi terkait masalah kesehatan yang dialami anggota
dalam keluarganya
b. Keyakinan keluarga untuk tidak melakukan pencegahan, pengobatan
dan perawatan akan masalah kesehatan pada pelayanan kesehatan.
5) Pengkajian fisik
a. Sistem pernafasan : penyakit paru kronik
b. Hasil gula darah acak > 200 mg/dL atau GDP > 126 mg/ dL
c. Gejala hipoglikemia/hiperglikemia.
d. TTV : TD = >140 / >90 mmHg, RR = takipnea, HT =
bradikardia/takikardia, S = > 38 derajat celcius
e. IMT = overweight/underweight
1.3.2 Diagnosa Keperawatan
Tahap dalam diagnosa keperawatan keluarga antara lain adalah analisa data,
perumusan masalah dan prioritas masalah (Harnilawati,2013). Dalam asuhan
keperawatan keluarga menggunakan diagnosa tunggal, berikut adalah diagnosa
yang sering muncul pada asuhan keperawatan pada keluarga:
1. Manajemen Kesehatan Keluarga Tidak Efektif
2. Pemeliharaan Kesehatan Tidak efektif
3. Perilaku Kesehatan Cenderung Beresiko
1.3.3 Intervensi Keperawatan
Diagnosa Tujuan
Intervensi
Keperawatan TUM TUK
Manajemen Pasien/ Manajemen Koordinasi Diskusi Keluarga
kesehatan Keluarga Kesehatan (12482)
keluarga tidak menunjukan Keluarga 1. Fasilitasi keluarga
efektif (D0115) peningkatan (L12105) mendiskusikan masalah
dalam 1. Keluarga kesehatan yang sedang dialami
manajemen mampu 2. Libatkan keluarga dalam
kesehatan mengenal mengambil keputusan untuk
perilaku melakukan tindakan yang
untuk tepat
mengurangi
faktor resiko Dukungan Keluarga
2. Keluarga merencanakan perawatan
mampu (I13477)
melakukan 1. Motivasi pengembangan sikap
penerapan dan emosi yang mendukung
program upaya kesehatan
kesehatan/ 2. Gunakan sarana dan fasilitas
perawatan yang ada dalam keluarga
3. Keluarga 3. Ajarkan cara perawatan yang
mampu bisa dilakukan keluarga
menentukan
aktivitas Dukungan Koping Keluarga
hidup sehari-
(I09260)
hari yang
1. Dengarkan masalah, perasaan,
memenuhi dan pertanyaan keluarga
tujuan 2. Diskusikan rencana perawatan
kesehatan 3. Informasikan kemajuan pasien
secara berkala
Pemeliharaan Pasien/ Perilaku Edukasi Kesehatan
Kesehatan Keluarga Kesehatan 1. Sediakan materi dan media
tidak efektif menunjukan (L12106) pendidikan kesehatan
(D0117) peningkatan 1. Keluarga 2. Jadwalkan pendidikan
dalam mampu kesehatan sesuai kesepakatan
pemeliharaa mengenal 3. Jelaskan faktor resiko yang
n kesehatan dan dapat mempengaruhi
menerima kesehatan
perubahan 4. Ajarkan perilaku hidup bersih
status dan sehat
kesehatan 5. Ajarkan strategi yang dapat
2. Keluarga digunakan untuk
mampu meningkatkan perilaku hidup
melakukan bersih dan sehat
tindakan Promosi Perilaku Upaya
pencegahan Kesehatan (I13477)
masalah 1. Berikan lingkungan yang
kesehatan mendukung kesehatan
2. Orientasi pelayanan kesehatan
yang dapat dimanfaatkan
Perilaku Pasien/ Perilaku Promosi Perilaku Upaya
Kesehatan Keluarga Kesehatan Kesehatan (I13477)
Cenderung menunjukan (L12107) 1. Berikan lingkungan yang
Beresiko perilaku 4. Keluarga mendukung kesehatan
(D0099) kesehatan mampu 2. Ajarkan mencuci tangan
yang mengenal dengan air bersih dan sabun
membaik perilaku 3. Anjurkan memenuhi asupan
untuk nutrisi sehat dengan porsi dan
mengurangi jenis yang sesuai
faktor resiko 4. Anjurkan untuk melakukan
5. Keluarga aktivitas fisik yang dapat
mampu meningkatkan kesehatan
melakukan
penerapan
program
kesehatan/
perawatan
6. Keluarga
mampu
menentukan
aktivitas
hidup sehari-
hari yang
memenuhi
tujuan
kesehatan
Daftar Pustaka
Asy’ari, M. (2017) “Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep dan Aplikasi Nir-Konflik Dalam
Keluarga: Studi Analisis Perspektif Kearifan Lokal Dan Islam,” Studi Keislaman, 8(2).
Decroli, E. (2019) Diabetes Melitus Tipe 2. Padang: Pusat Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit
Dalam.
Friedman, M. (2010) Buku Ajar Keperawatan keluarga : Riset, Teori, dan Praktek. 5 ed.
Jakarta: EGC.
Gao, J., Tian, Z. dan Yang, X. (2020) “Breakthrough : Chloroquine phosphate has shown
apparent efficacy in treatment of COVID-19 associated pneumonia in clinical studies,”
hal. 1–2. doi: 10.5582/bst.2020.01047.
Harnilawati (2013) Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Sulawesi Selatan: Pustaka As
Salam.
Jafar, N., Edriss, H. dan Nugent, K. (2016) “The Effect of Short-Term Hyperglycemia on the
Innate Immune System,” The American Journal of the Medical Sciences. Elsevier,
351(2), hal. 201–211. doi: 10.1016/j.amjms.2015.11.011.
KCDC (2020) Updates on COVID-19 in Korea. Tersedia pada:
https://www.cdc.go.kr/board/board.es?
mid=a30402000000&bid=0030&act=view&list_no=366553&tag=&nPage=# (Diakses:
4 April 2020).
Kemenkes, R. (2020) Pedoman pencegahan dan pengendalian coronavirus disease (covid-
19) revisi ke-4 1. 4 ed. Jakarta: Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit.
Padila (2012) Buku Ajar: Keperawatan keluarga. Yogyakarta: Nuha Medika.
Sitohang, V. et al. (2019) “NOVEL CORONA VIRUS (2019-nCoV).”