Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN GERONTIK

PRAKTIK PROFESI NERS


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS USUKU
KABUPATEN WAKATOBI

OLEH:

HASMIATI

R014191038

PRESEPTOR INSTITUSI

(Kusrini S. Kadar, S.Kp., MN., PhD)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

‘FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN
2020

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

A. Definisi
Keperawatan Gerontik adalah Praktek perawatan yang berkaitan dengan penyakit
pada proses menua (KOZIER, 1987). Menurut Lueckerotte (2000) keperawatan gerontik
adalah ilmu yang mempelajari tentang perawatan pada lansia yang berfokus pada
pengkajian kesehatan dan status fungsional, perencanaan, implementasi serta evaluasi.
Keperawatan Gerontik adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang didasarkan
pada ilmu dan kiat atau teknik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosio-spritual dan
kultural yang holistik, ditujukan pada klien lanjut usia, baik sehat maupun sakit pada
tingkat individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Keperawatan gerontik adalah spesialis keperawatan lanjut usia yang dapat
menjalankan perannya pada tiap tatanan pelayanan dengan menggunakan pengetahuan,
keahlian dan ketrampilan merawat untuk meningkatkan fungsi optimal lansia secara
komprehensif.
Respon lanjut usia terhadap proses penuaan berbeda-beda sesuai dengan latar
belakang social budaya dimana lanjut usia tersebut berada, sehingga fenomena yang
menjadi bidang garapan adalah tidak terpenuhinya kebutuhan dasar lansia sebagai akibat
proses penuaan.

B. Tujuan Keperawatan Gerontik


1 Mempertahankan derajat kesehatan pada lansia taraf yang setinggi-tingginya sehingga
terhindar dari penyakit gangguan
2 Memelihara kondisi kesehatan dengan aktifitas-aktifitas fisik dan mental
3 Merangsang para petugas kesehatan untuk mengenal masalah kesehatan lansia
4 Memelihara kemandirian secara maksimal
5 Mengantar lansia pada akhir masa hidupnya

Keperawatan gerontik secara holistic menggabungkan aspek pengetahuan dan


keterampilan dari berbagai macam disiplin ilmu dalam mempertahankan kondisi
kesehatan fisik, mental, social dan spiritual lansia. Hal ini diupayakan untuk memfasilitasi
lansia kearah perkembangan kesehatan yang lebih optimum, dengan pendekatan pada
pemulihan kesehatan, maksimalkan kualitas hidup lansia baik dalam kondisi sehat, sakit,
maupun kelemahan serta memberikan rasa aman, nyaman, terutama dalam menghadapi
kematian.

C. Ruang Lingkup Keperawatan Gerontik


Lingkup asuhan keperawatan gerontik adalah pencegahan ketidakmampuan sebagai
akibat proses penuaan, perawatan untuk pemenuhan kebutuhan lansia dan pemulihan
untuk mengatas keterbatasan lansia. Sifatnya adalah independen (mandiri), interdependen
(kolaborasi), humanistik dan holistik.
Lingkup asuhan keperawatan gerontik meliputi:
1. Pencegahan terhadap ketidakmampuan akibat proses penuaan.
2. Perawatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akibat proses penuaan.
3. Pemulihan ditujukan untuk upaya mengatasi kebutuhan akibat proses penuaan

D. Klasifikasi Lansia
Menurut Depkes RI dalam Maryam (2008), klasifikasi lansia, yaitu:
a. Pralansia (prasenilis), yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun
b. Lansia, yaitu orang yang berusia 60 tahun atau lebih
c. Lansia resiko tinggi, yaitu seseorang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah
kesehatan.
d. Lansia potensial, yaitu lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan atau kegiatan
yang dapat menghasilkan barang atau jasa.
e. Lansia tidak potensial, yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga
hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.
Batasan-batasan lansia menurut World Health Organizatio (WHO) dalam
Nugroho (2008), mengelompokkan lansia menjadi empat kelompok, yaitu:
a. Usia pertengahan (middle age), kelompok antara usia 45-59 tahun
b. Usia lanjut (erderly), kelompok antara usia 60-74 tahun
c. Usia lanjut tua (old), kelompok antara usia 75-90 tahun
d. Usia sangat tua (very old), kelompok usia diatas 90 tahun.

E. Teori-Teori Penuaan
Donion (dikutip dalam Stanley, 2007) menyatakan bahwa teori-teori yang
menjelaskan tentang terjadinya penuaan secara umum dibagi menjadi 2 (dua) bagian
umum, yaitu : teori biologi dan psikososial.
1. Teori Biologi
Teori biologi menjelaskan proses fisik penuaan, termasuk perubahan fungsi dan
struktur, pengembangan, panjang usia dan kematian. Perubahan dalam tubuh terutama
perubahan secara molekuler dan seluler dalam sistem organ utama, kemampuan untuk
berfungsi secara adekuat dan melawan penyakit. Teori biologi terdiri atas : teori
genetika, teori wear and tear, riwayat lingkungan, teori imunitas, dan teori
neuroendokrin.
a. Teori Genetika
Penuaan merupakan suatu proses perubahan struktur sel dan jaringan yang secara
tidak sadar diwariskan dari waktu ke waktu. Teori genetika terdiri dari teori asam
deoksiribonukleat (DNA), teori ketepatan dan kesalahan, mutasi somatik, dan teori
glikogen.
b. Teori wear and tear
Teori wear and tear (dipakai dan rusak) menjelaskan bahwa penumpukan sampah
metabolik atau zat nutrisi dapat merusak sintesis DNA sehingga mengakibatkan
terjadinya kesalahan tingkat seluler dan akhirnya organ tubuh tidak berfungsi
dengan baik.
c. Riwayat Lingkungan
Dalam teori ini terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan, antara lain zat
karsinogen dari industri, cahaya matahari, trauma, dan infeksi. Faktor-faktor
tersebut tidak menjadi faktor utama dalam penuaan tetapi merupakan faktor yang
mempercepat penuaan.
d. Teori Imunitas
Teori ini menjelaskan bahwa pada usia lanjut terjadi penurunan sistem imun
seseorang. Seiring bertambahnya usia maka fungsi endokrin juga menurun
sehingga sering muncul penyakit autoimun seperti arthritis rheumatoid dan alergi
terhadap makanan dan faktor lingkungan lainnya.
e. Teori Neuroendokrin
Teori ini menitikberatkan pada kelainan sekresi hormon yang dipengaruhi oleh
sistem saraf. Salah satu area neurologi yang mengalami gangguan akibat penuaan
adalah waktu reaksi yang diperlukan untuk menerima, memproses dan bereaksi
terhadap perintah. Hal ini diinterpretasikan dengan adanya tindakan melawan,
ketulian dan kurangnya pengetahuan.
2. Teori Psikososial
Dalam teori ini terdapat beberapa teori antara lain : teori kepribadian, teori tugas
perkembangan, teori disengagement, teori aktivitas, dan teori kontinuitas.
a. Teori Kepribadian
Kepribadian manusia adalah aspek yang berkembang pesat pada tahun akhir
perkembangannya. Penuaan juga berpengaruh pada kepribadian lansia tersebut.
b. Teori Tugas Perkembangan
Tugas perkembangan adalah aktivitas dan tantangan yang harus dipenuhi oleh
seseorang sebagai tahap-tahap spesifik dalam kehidupannya. Pencapaian dan
kepuasan yang pernah dicapai akan mempengaruhi perasaan lansia.
c. Teori Disengagement
Teori Disengagement (pemutusan hubungan) menjelaskan bahwa lansi akan
mengalami suatu tahapan menarik diri dari kegiatan bermasyarakat dan tanggung
jawabnya. Lansia akan merasa bahagia apabila perannya dalam masyarakat telah
berkurang dan tanggung jawabnya sudah dilanjutkan oleh generasi muda.
d. Teori Aktivitas
Teori ini merupakan teori lawan dari teori disengagement, menurut teori ini untuk
menuju lansia yang sukses diperlukan aktivitas yang terus berlanjut. Selain itu,
aktivitas juga sangat penting untuk mencegah kehilangan dan pemeliharaan
kesehatan sepanjang kehidupan manusia.
e. Teori Kontinuitas
Teori ini juga dikenal sebagai teori perkembangan. Teori ini menjelaskan tentang
dampak dari kepribadian pada kebutuhan untuk tetap melakukan aktivitas atau
memisahkan diri agar mencapai kebahagiaan dimasa tua.

F. Tipe-Tipe Lansia
Beberapa tipe pada lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup, lingkungan,
kodisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya (Nugroho 2000 dalam Maryam, 2008). Tipe
tersebut dijabarkan sebagai berikut.
1. Tipe Arif Bijaksana
Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman,
mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan, memenuhi
undangan, dan menjadi panutan.
2. Tipe Mandiri
Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam mencari pekerjaan,
bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.
3. Tipe Tidak Puas
Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi pemarah, tidak sabar,
mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik dan banyak menuntut.
4. Tipe Pasrah
Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan melakukan
pekerjaan apa saja.
5. Tipe Bingung
Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, menyesal, pasif, dan acuh
tak acuh.

G. Perubahan yang Terjadi Pada Lansia


1. Perubahan Fisik
Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya
sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan
tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.
a. Sistem pernafasan pada lansia
1) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara
inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.
2) Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga
potensial terjadi penumpukan sekret.
3) Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah
udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada
pernafasan yang tenang kira kira 500 ml
4) Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang (luas permukaan normal
50m²), Ù menyebabkan terganggunya prose difusi.
b. Sistem persyarafan
1) Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan.
2) Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir.
3) Mengecilnya syaraf panca indera.
c. Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut
1) Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
2) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah
berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan
volumenya.
3) Kehilangan elastisitas pembuluh darah
d. Sistem genito urinaria
1) Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun
sampai 50 %, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50%
2) Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya
menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika
urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya
retensi urin.
3) Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun.
4) Atropi vulva
5) Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga permukaan
menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap
perubahan warna.
6) Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas
untuk melakukan dan menikmati berjalan terus.
e. Sistem endokrin / metabolik pada lansia
1) Produksi hampir semua hormon menurun
2) Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah.
3) Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di
pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH.
4) Menurunnya aktivitas tiriod Ù BMR turun dan menurunnya daya pertukaran
zat.
f. Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut.
1) Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa
terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang
buruk dan gizi yang buruk.
2) Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir,
atropi indera pengecap (± 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap
dilidah terutama rasa manis, asin, asam & pahit.
3) Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung
menurun, waktu mengosongkan menurun.
4) Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi.
5) Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ).
g. Sistem musculoskeletal
1) Tulang kehilangan densikusnya Ù rapuh.
2) Resiko terjadi fraktur.
3) Kyphosis.
4) Persendian besar & menjadi kaku.
h. Perubahan sistem kulit
1) Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak
2) Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya
jaringan adipose
3) Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak
begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi.
4) Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah
dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen
i. Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual
1) Perubahan sistem reprduksi
2) Selaput lendir vagina menurun/kering.
3) Menciutnya ovarium dan uterus.
4) Atropi payudara

2. Perubahan Psikologis
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah :
a. Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa.
b. Kesehatan umum
c. Tingkat pendidikan
d. Keturunan (herediter)
e. Lingkungan
f. Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian
g. Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan
h. Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan family
i. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri dan
perubahan konsep diri
j. Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering berupa
ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang, kekakuan mungkin oleh karena
faktor lain seperti penyakit-penyakit
k. Kenangan (memory) ada dua
1) kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu,
mencakup beberapa perubahan
2) Kenangan jangka pendek atau seketika (0-10 menit), kenangan buruk.
l. Intelegentia Quation
1) Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal
2) Berkurangnya penampilan,persepsi dan keterampilan psikomotorterjadi
perubahan pada daya membayangkan, karena tekanan-tekanan dari faktro
waktu.

3. Perubahan Spiritual
Agama atau kepercayaan makin terintegarsi dalam kehidupannya
(Maslow,1970). Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat
dalam berpikir dan bertindak dalam sehari-hari. (Murray dan Zentner,1970). Seorang
lansia sering kali sulit dipahami, terutama dari perubahan-perubahan emosi yang
ditunjukkan. Sering kali mereka bertindak seperti anak kecil kembali. Mereka
terkadang menuntut perhatian berlebih dan meminta sesuatu yang membingungkan.
Tentunya hal-hal itu tak lepas dari perubahan fisik yang mereka alami serta
kesadaran akan banyak hal yang hilang dan tak bisa melakukan banyak kegiatan
seperti ketika mereka muda dulu. Gejala depresi cukup kerap terjadi pada mereka
yang berusia lanjut.
Sering kali orang-orang sekitar bahkan dokter memahami ini sebagai suatu
kewajaran. Para manula seolah ditekankan bahwa mereka memang memiliki sebuah
penyakit yang tak bisa disembuhkan, yakni gejala depresi itu sendiri. Untuk tingkat
ekstrem, keinginan untuk bunuh diri bahkan bisa tebersit di benak mereka.

4. Perubahan Psikososial
a. Kesepian
Terjadi pada saat pasangan hidup atau teman dekat meninggal terutama jika lansia
mengalami penurunan kesehatan, seperti menderita penyakit fisik berat, gangguan
mobilitas atau gangguan sensorik terutama pendengaran.
b. Duka cita (Bereavement)
Meninggalnya pasangan hidup, teman dekat, atau bahkan hewan kesayangan
dapat meruntuhkan pertahanan jiwa yang telah rapuh pada lansia. Hal tersebut
dapat memicu terjadinya gangguan fisik dan kesehatan.
c. Depresi
Duka cita yang berlanjut akan menimbulkan perasaan kosong, lalu diikuti dengan
keinginan untuk menangis yang berlanjut menjadi suatu episode depresi. Depresi
juga dapat disebabkan karena stres lingkungan dan menurunnya kemampuan
adaptasi.
d. Gangguan cemas
Dibagi dalam beberapa golongan: fobia, panik, gangguan cemas umum, gangguan
stress setelah trauma dan gangguan obsesif kompulsif, gangguan-gangguan
tersebut merupakan kelanjutan dari dewasa muda dan berhubungan dengan
sekunder akibat penyakit medis, depresi, efek samping obat, atau gejala
penghentian mendadak dari suatu obat.
e. Parafrenia
Suatu bentuk skizofrenia pada lansia, ditandai dengan waham (curiga), lansia
sering merasa tetangganya mencuri barang-barangnya atau berniat membunuhnya.
Biasanya terjadi pada lansia yangterisolasi/diisolasi atau menarik diri dari
kegiatan sosial.
f. Sindroma Diogenes
Suatu kelainan dimana lansia menunjukkan penampilan perilaku sangat
mengganggu. Rumah atau kamar kotor dan bau karena lansia bermain-main
dengan feses dan urin nya, sering menumpuk barang dengan tidak teratur.
Walaupun telah dibersihkan, keadaan tersebut dapat terulang kembali.

H. Karakteristik Penyakit pada Lansia


Secara umum karakteristik penyakit pada lansia digambarkan sebagai berikut:
 Penyakit sering multiple : saling berhubungan satu sama lain
 Penyakit bersifat degenerative
 Gejala sering tidak jelas  : berkembang secara perlahan
 Sering bersama-sama problem psikologis dan sosial
 Lansia sangat peka terhadap penyakit infeksi akut
 Sering terjadi penyakit iatrogenik (penyakit yang disebabkan oleh konsumsi
obat yang tidak sesuai dengan dosis)
I. Peran Perawat Gerontik
Dalam prakteknya keperawatan gerontik meliputi peran dan fungsinya sebagai
berikut:
1. Sebagai Care Giver /pemberi asuhan langsung
Berupa bantuan kepada klien lansia yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya
sebagai akibat proses penuaan, meliputi:
a. Pengkajian: upaya mengumpulkan data/informasi yang benar tentang status
kesehatan lansia
b. Menegakkan diagnose keperawatan berdasarkan analisis dari hasil pengkajian
c. Merencanakan intervensi keperawatan untuk mengatasi kesenjangan atau langkah-
langkah/cara penyelesaian masalah lansia baik bersifat actual, resiko
d. Melaksanakan rencana yang telah disusun
e. Mengevaluasi berdasarkan respon verbal dan non verbal klien lansia terhadap
intervensi yang dilakukan
2. Sebagai Pendidik klien lansia
Membantu meningkatkan pengetahuan klien lansia untuk memahami tentang
pemenuhan kebutuhannya.
3. Sebagai Motivator
Memotivasi klien lansia yang kurang memiliki kemauan untuk memenuhi kebutuhan.
4. Sebagai Advokasi
Memberi advokasi terhadap klien lansia dalam pemenuhan kebutuhannya
5. Sebagai Konselor
Memberikan konseling terhadap klien lansia agar mampu beradaptasi secara optimal
terhadap proses penuaan yang terjadi

Tanggung jawab Perawat Gerontik yaitu sebagai berikut:


a. Membantu klien lansia memperoleh kesehatan secara optimal
b. Membantu klien lansia untuk memelihara kesehatannya
c. Membantu klien lansia menerima kondisinya
d. Membantu klien lansia menghadapi ajal dengan diperlakukan secara manusiawi
sampai dengan meninggal

J. Sifat Pelayanan Keperawatan Gerontik


1. Independent (layanan tidak tergantung pada profesi lain/mandiri)
Artinya: asuhan keperawatan dilakukan secara mandiri oleh profesi keperawatan
dalam membantu lansia dalam pemenuhan kebutuhan dasar lansia. Merupakan fungsi
mandiri dan tidak tergantung pada orang lain,di mana perawat dalam melaksanakan
tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan
tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti pemenuhan
kebutuhan fisiologi (pemenuhan kebutuhan oksigenasi, pemenuhan kebutuhan cairan
dan elektrolit,pemenuhan kebutuhan nutrisi, pemenuhan kebutuhan aktivitas dan lain-
lain), pemenuhan kebutuhan keamanan dan kenyamanan, pemenuhan kebutuhan cinta
mencintai, pemenuhan kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri.
2. Dependent atau kolaboratif
Artinya: saling menunjang dengan disiplin dalam mengatasi masalah kesehatan lansia.
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan di
antara tim satu dengan lainnya. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan
membutuhkan kerja sama tim dalam pemberian pelayanan seperti dalam memberikan
asuhan keperawatan pada penderita yang mempunyai penyakit kompleks. Keadaan ini
tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun
lainnya, seperti dokter dalam memberikan tindakan pengobatan bekerja sama dengan
perawat dalam pemantauan reaksi obat yang telah diberikan.
3. Humanistik (secara manusiawi)
Artinya: didasarkan pada nilai-nilai kemanusian dalam memberikan asuhan
keperawatan terhadap lansia. Dalam keperawatan, humanisme merupakan suatu sikap
dan pendekatan yang memperlakukan pasien sebagai manusia yang mempunyai
kebutuhan lebih dari sekedar nomor tempat tidur atau sebagai seorang berpenyakit
tertentu. perawat yang menggunakan pendekatan humanistik dalam prakteknya
memperhitungkan semua yang diketahuinya tentang pasien yang meliputi pikiran,
perasaan, nilai-nilai, pengalaman, kesukaan, dan bahasa tubuh. Pendekatan
humanistik ini adalah aspek keperawatan tradisional dari caring, yang diwujud
nyatakan dalam pengertian dan tindakan. Pengertian membutuhkan kemampuan
mendengarkan orang lain secara aktif dan arif serta menerima perasaan-perasaan
orang lain. Prasyarat bertindak adalah mampu bereaksi terhadap kebutuhan orang lain
dengan keikhlasan, kehangatan untuk meningkatkan kesejahteraan yang optimal.
4. Holistik (secara keseluruhan)
Lansia merupakan bagian masyarakat dan keluarga, sehingga asuhan keperawatan
gerontik harus memperhatikan aspek social budaya keluarga dan masyarakat. Holistik
merupakan salah satu konsep yang mendasari tindakan keperawatan yang meliputi
dimensi fisiologis, psikologis, sosiokultural, dan spiritual. Dimensi tersebut
merupakan suatu kesatuan yang utuh. Apabila satu dimensi terganggu akan
mempengaruhi dimensi lainnya. Holistik terkait dengan kesejahteraan (Wellnes).
Untuk mencapai kesejahteraan terdapat lima dimensi yang saling mempengaruhi
yaitu: fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Untuk mencapai kesejahteraan
tersebut, salah satu aspek yang harus dimiliki individu adalah kemampuan beradaptasi
terhadap stimulus. Teori adaptasi Sister Callista Roy dapat digunakan.

K. Pendekatan pada Lansia


1. Pendekatan fisik
Perawatan pada lansia juga dapat dilakukan dengan pendekatan fisik melalui
perhatian terhadap kesehatan, kebutuhan, kejadianyang dialami klien lanjut usia
semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih
bisa dicapai dan dikembangkan, dan penyakitnya yang dapat dicegah atau
progresivitasnya. Perawatan fisik umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi atas dua
bagian, yaitu:
a. Klien lanjut usia yang masih aktif dan memiliki keadaan fisik yang masih mampu
bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga dalam kebutuhannya sehari-hari ia
masih mampu melakukannya sendiri.
b. Klien lanjut usia yang pasif atau tidak dapat bangun, keadaan fisiknya mengalami
kelumpuhan atau sakit. Perawat  harus mengetahui dasar perawatan klien lanjut
usia ini, terutama tentang hal yang terhubung dengan kebersihan perseorangan
untuk mempertahankan kesehatannya.
2. Pendekatan psikis
Perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif
pada klien lanjut usia. Perawat dapat berperan sebagai pendukung dan interpreter
terhadap segala sesuatu yang asing, penampung rahasia pribadi dan sahabat yang
akrab. Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam memberi
kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bdentuk keluhan
agar lanjut usia merasa puas. Perawat harus selalu memegang prinsip triple S yaitu
sabar, simpatik dan service.
Bila ingin mengubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan,
perawat bisa melakukannya secara perlahan dan bertahap. Perawat ahrus mendukung
mental mereka kearah pemuasan pribadi sehingga seluruh pengalaman yang
dilaluinya tidak menambah beban. Bila perlu, usahakan agar mereka merasa puas dan
bahagia di masa lanjut usianya.
3. Pendekatan social
Berdiskusi serta bertukar pikiran dan cerita merupakan salah satu upaya perawat
dalam melakukan pendekatan sosial. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama
sesame klien lanjut usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. Jadi, pendekatan
sosial ini merupakan pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah
makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Dalam pelaksanaannya, perawat dapat
menciptakan hubungan sosial, baik antara lanjut usia maupun lanjut usia dengan
perawat.
Perawat memberi kesempatan seluas-luasnya kepada lanjut usia untuk
mengadakan komunikasi, melakukan rekreasi. Lansia prlu dirangsang untuk membaca
surat kabar dan majalah. Dengan demikian, perawat tetap mempunyai hubungan
komunikasi, baik dengan sesama mereka maupun petugas yang secara lansung
berkaitan dengan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia, termasuk asuhan
keperawatan lansia dipanti sosial tresna wherda.

L. Model Asuhan Keperawatan Gerontik


1. Model Konseptual Adaptasi Callista Roy
Model adaptasi Roy merupakan salah satu teori keperawatan yang berfokus
pada kemampuan adaptasi klien terhadap stressor yang dihadapinya. Dalam
penerapannya Roy menegaskan bahwa individu  adalah makhluk  biopsikososial
sebagai satu kesatuan  utuh yang memiliki mekanisme koping untuk beradaptasi
terhadap perubahan lingkungan. Roy mendefinisikan lingkungan sebagai semua yang
ada di sekeliling kita dan berpengaruh pada perkembangan manusia. Sehat adalah
suatu keadaan atau proses dalam menjaga integritas diri, respon yang menyebabkan
penurunan integritas tubuh menimbulkan adanya suatu kebutuhan dan menyebabkan
individu berespon terhadap kebutuhan tersebut melalui upaya atau prilaku tertentu.
Menurutnya peran perawat adalah membantu pasien beradaptasi terhadap perubahan
yang ada.

2. Model Konseptual Human Being Rogers


Marta Rogers (1992) mengungkapkan metaparadigma lansia. Dia menyajikan
lima asumsi tentang manusia. Setiap manusia diasumsikan sebagai kesatuan yang
dengan individualitas. Manusia secara kontinyu mengalami pertukaran energi dengan
lingkungan. Manusia mampu abstraksi, citra, bahasa, pikiran, sensasi, dan emosi.
Manusia diidentifikasi dengan pola dan mewujudkan karakteristik dan perilaku yang
berbeda dari bagian dan yang tidak dapat diprediksi dengan pengetahuan tentang
bagian - bagiannya.
a. Lingkungan terdiri dari semua pola yang ada di luar individu. Keduanya, individu
dan lingkungan dianggap sistem terbuka. Lingkungan merupakan, tereduksi
terpisahkan, energi lapangan pandimensional diidentifikasi dengan pola dan
integral dengan bidang manusia (Rogers, 1992).
b. Perawatan utamanya adalah seni dan ilmu dan humanistik kemanusiaan.
Ditujukan terhadap semua manusia dan berkaitan dengan sifat dan arah
pembangunan manusia. Tujuannya untuk berpartisipasi dalam proses perubahan
sehingga orang dapat mengambil manfaat (Rogers, 1992).
c. Kesehatan tidak secara khusus diatur, Malinski (1986) dikutip dari komunikasi
pribadi dengan Rogers di mana di negara bagian Rogers bahwa ia memandang
kesehatan sebagai sebuah nilai. Komunikasi ini menegaskan kesimpulan
sebelumnya bahwa penyakit, patologi dan kesehatan adalah sebuah nilai.

3. Model Konseptual Keperawatan Neuman


Neuman menyatakan bahwa keperawatan memperhatikan manusia secara utuh
dan keperawatan adalah sebuah profesi yang unik yang mempertahankan semua
variabel yang mempengaruhi respon klien terhadap stressor. Melalui penggunaan
model keperawatan dapat membantu individu, keluarga dan kelompok untuk
mencapai dan mempertahankan level maksimum dari total wellness. Keunikan
keperawatan adalah berhubungan dengan integrasi dari semua variabel yang mana
mendapat perhatian dari keperawatan .
Neuman (1981) menyatakan bahwa dia memandang model sebagai sesuatu
yang berguna untuk semua profesi kesehatan dimana mereka dan keperawatan
mungkin berbagi bahasa umum dari suatu pengertian. Neuman juga percaya bahwa
keperawatan dengan perspektif yang luas dapat dan seharusnya mengkoordinasi
pelayanan kesehatan untuk pasien supaya fragmentasi pelayanan dapat dicegah.

4. Model Konseptual Keperawatan Henderson


Fokus keperawatan pada teori Henderson adalah klien yang memiliki
keterikatan hidup secar individual selama daur kehidupan, dari fase ketergantungan
hingga kemandirian sesuai dengan usia, keadaan, dan lingkungan. Perawat merupakan
penolong utama klien dalam melaksanakan aktivitas penting guna memelihara dan
memulihkan kesehatan klien atau mencapai kematian yang damai. Bantuan ini
diberikan oleh perawat karena kurangnya pengetahuan kekeuatan, atau kemauan klien
dalam melaksanakan 14 komponen kebutuhan dasar.

5. Model Konseptual Budaya Leininger


Model konseptual Leininger sering disebut sebagai  Trancultural Nursing
Theory atau teori perawatan transkultural. Pemahaman yang benar pada diri perawat
mengenai budaya klien, baik individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat,
dapat mencegah terjadinya culture shock atau culture imposition. Culture shock
terjadi saat pihak luar (perawat) mencoba mempelajari atau beradaptasi secara efektif
dengan kelompok budaya tertentu (klien). Klien akan merasakan perasaan tidak
nyaman, gelisah dan disorientasi karena perbedaan nilai budaya, keyakinan, dan
kebiasaan. Sedangkan culture imposition adalah kecenderungan tenaga kesehatan
(perawat), baik secara diam-diam maupun terang-terangan, memaksakan nilai-nilai
budaya, keyakinan, dan kebiasaan/perilaku yang dimilikinya kepada individu,
keluarga, atau kelompok dari budaya lain karena mereka meyakini bahwa budayanya
lebih tinggi daripada budaya kelompok lain.

6. Model Konseptual Perilaku Johnson


Teori Dorothy Johnson tentang keperawatan (1968) berfokus pada bagaimana
klien beradaptasi terhadap kondisi sakitnya dan bagaimana stress actual atau potensial
dapat mempengaruhi kemampuan beradaptasi. Tujuan dari keperawatan adalah
menurunkan stress sehingga klien dapat bergerak lebih mudah melewati masa
penyembuhannya (Johnson, 1968). Teori Johnson berfokus pada kebutuhan dasar
yang mengacu pada pengelompokkan perilaku berikut:
a. Perilaku mencari keamanan
b. Perilaku mencari perawatan
c. Menguasai diri sendiri dan lingkungan sesuai dengan standar internalisasi
prestasi
d. Mengakomodasi diet dengan cara yang diterima secar sosial dan cultural
e. Mengeluarkan sampah tubuh dengan cara yang diterima secara sosial dan cultural
f. Perilaku seksual dan identitas peran
g. Perilaku melindungi diri sendiri
h. Menurut Johnson, perawat mengkaji kebutuhan klien berdasarkan kategori
perilaku diatas, yang disebut subsistem perilaku. Dalam kondisi normal klien
berfungsi secara efektif didalam lingkungannya.Akan tetapi ketika stres
mengganggu adaptasi normal, perilaku klien menjadi tidak dapat diduga dan
tidak jelas.Perawat mengidentikasi ketidakmampuan beradaptasi seperti ini dan
memberikan asuhan keperawatan untuk mengatasi masalah dalam memenuhi
kebutuhan tersebut.
7. Model Konseptual Self Care Orem
Konsep keperawatan Orem mendasari peran perawat dalam memenuhi
kebutuhan klien untuk mencapai kemandirian dan kesehatan yang optimal.
a. Teori Self care deficit
Inti dari teori ini menggambarkan manusia sebagai penerima perawatan yang
tidak mampu memenuhi kebutuhan perawatan dirinya dan memiliki berbagai
keterbatasan-keterbatasan dalam mencapai taraf kesehatannya.
b. Teori Self care
Ketika klien tidak mampu melakukan perawatan dirinya sendiri maka deficit
perawatan diri terjadi dan perawat akan membantu klien untuk melakukan tugas
perawatan dirinya
c. Teori nursing system
Perawat menentukan, mendesain, dan menyediakan perawatan yang mengatur
kemampuan individu dan memberikannya secara terapeutik sesuai dengan tiga
tingkatan

M. Sarana Dan Prasarana Yang Dipergunakan


Sarana dan prasarana yang dipergunakan untuk menylengarakan pelayanan terhadap
lansia, baik sarana fisik, sosial dan spiritual yang dijalankan di berbagai tingkatan dapat
kita lihat di dawah ini adalah:
1. Pelayanan tingkat masyarakat
Pelayanan terhadap lansia adalah: keluarga dengan lansia, kelompok lansia seperti
klub/perkumpulan, panguyuban, padepokan dan pengajian, serta bina keluarga lansia.
Masyarakat mencakup LKMD, Karang wreda day care dana sehat/JPKM.
2. Pelayanan tingkat dasar
Pelayanan yang di selengarakan oleh berbagai instansi pemerintahan dan swasta serta
organisasi masyarakat, organisasi profesi dan yayasan seperti: praktik dokter dan
dokter gigi, balai pengobatan klinik, puskesmas/ balkesmas, panti tresna wreda, pusat
pelayanan dan perawatan lansia, praktik perawatan mandiri.
3. Pelayanan tingkat rujukan
Pelayanan yang diselenggarakan di rumah sakit dan rumah sakit khusus. Rujukan
dapat bersifat sederhana, sedang, lengkap dan paripurna.14 Rujukan secara konseptual
terdiri atas rujukan medis yang pada dasarnyan menyangkut masalah pelayanan medik
perorangan dan rujukan kesehatan masyarakat pada dasarnya menyangkut masalah
kesehatan masyarakat luas.

N. Program-Program Nasional untuk Lansia


1. Posyandu Lansia
Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu
wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana
mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia merupakan
pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia
yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta
para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam
penyelenggaraannya.
2. Puskesmas Lansia
Tujuan pelaksanaan kegiatan dalam program usia lanjut adalah :
a. Melaksanakan penyuluhan secara teratur dan berksinambungan sesuai kebutuhan
melalui berbagai media mengenai kesehatan usia lanjut.Usaha ini dilakukan
terhadap berbagai kelompok sasaran yaitu usia lanjut sendiri, keluarga dan
masyarakat dilingkungan usia lanjut.
b. Melaksanakan penjaringan usia lanjut resiko tinggi, pemeriksaan berkala usia
lanjut dan memberi  petunjuk upaya pencegahan penyakit, gangguan psikososial
dan bahaya kecelakaan yang dapat terjadi pada usia lanjut.
c. Melaksanakan diagnose dini, pengobatan,perawatan dan pelayanan rehabilitative
kepada usia lanjut yang membutuhkan dan memberi petunjuk mengenai tindakan
kuratif atau rehabilitative yang harus dijalani, baik kepada usia lanjut maupun
keluarganya.
d. Melaksanakan rujukan medic ke fasilitas rumah sakit untuk pengobatan,
perawatan atau rehabilitative bagi usia lanjut yang membutuhkan termasuk
mengusahakan kemudahan-kemudahannya.
3. Terapi pada lansia
a. Terapi Modalitas untuk  mengisi waktu luang bagi lansia
b. Terapi Aktifitas Kelompok untuk meningkatkan kebersaman dan  bertukar
pengalaman
c. Terapi Musik untuk meningkatkan gairah hidup
d. Terapi Berkebun untuk melatih kesabaran
e. Terapi dengan Binatang untuk meningkatkan kasih sayang dan mengisi waktu
luang
f. Terapi Kognitif agar daya ingat tidak menurun
g. Life Review Terapi untuk meningkatkan gairah hidup dan harga diri
h. Terapi Keagamaan untuk meningkatkan rasa nyaman menjelang kematian

O. Permasalahan Yang Terjadi pada Lansia


Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lanjut usia,
antara lain: (Setiabudhi,1999)
1. Permasalahan umum
a. Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan.
b. Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia
lanjut kurang diperhatikan , dihargai dan dihormati.
c. Lahirnya kelompok masyarakat industri.
d. Masih rendahnya kuantitas dan kulaitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia.
e. Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia.
2. Permasalahan khusus
a. Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik,
mental maupun sosial.
b. Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia.
c. Rendahnya produktifitas kerja lansia.
d. Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat.
e. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat
individualistik.
f. Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu
kesehatan fisik lansia.

P. Asuhan Keperawatan Gerontik


1. Pengkajian
Tujuan :
a. Menentukan kemampuan klien untuk memelihara diri sendiri.
b. Melengkapi dasar – dasar rencana perawatan individu.
c. Membantu menghindarkan bentuk dan penandaan klien.
d. Memberi waktu kepada klien untuk menjawab.

Aspek Fisik
 Wawancara
a. Pandangan lanjut usia tentang kesehatan.
b. Kegiatan yang mampu di lakukan lanjut usia.
c. Kebiasaan lanjut usia merawat diri sendiri.
d. Kekuatan fisik lanjut usia : otot, sendi, penglihatan, dan pndengaran.
e. Kebiasaan makan, minum, istirahat/tidur, BAB/BAK.
f. Kebiasaan gerak badan / olahraga /senam lanjut usia.
g. Perubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan.
h. Kebiasaan lanjut usia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan dalam
minum obat.
i. Masalah-masalah seksual yang telah di rasakan.

 Pemeriksaan fisik
a. Pemeriksanaan di lakukan dengan cara inspeksi, palpilasi, perkusi, dan
auskultasi untuk mengetahui perubahan sistem tubuh.
b. Pendekatan yang di gunakan dalam pemeriksanaan fisik,yaitu :
o Head to tea
o Sistem tubuh

Aspek Psikologis
a. Bagaimana sikapnya terhadap proses penuaan.
b. Apakah dirinya merasa di butuhkan atau tidak.
c. Apakah optimis dalam memandang suatu kehidupan.
d. Bagaimana mengatasi stress yang di alami.
e. Apakah mudah dalam menyesuaikan diri.
f. Apakah lanjut usia sering mengalami kegagalan.
g. Apakah harapan pada saat ini dan akan datang.
h. Perlu di kaji juga mengenai fungsi kognitif: daya ingat, proses pikir, alam
perasaan, orientasi, dan kemampuan dalam penyelesaikan masalah.
Aspek Sosial ekonomi
a. Darimana sumber keuangan lanjut usia
b. Apa saja kesibukan lanjut usia dalam mengisi waktu luang.
c. Dengan siapa dia tinggal.
d. Kegiatan organisasi apa yang di ikuti lanjut usia.
e. Bagaimana pandangan lanjut usia terhadap lingkungannya.
f. Berapa sering lanjut usia berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
g. Siapa saja yang bisa mengunjungi.
h. Seberapa besar ketergantungannya.
i. Apakah dapat menyalurkan hoby atau keinginannya dengan fasilitas yang ada.

Aspek Spiritual
a. Apakah secara teratur malakukan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya.
b. Apakah secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan,
misalnya pengajian dan penyantunan anak yatim atau fakir miskin.
c. Bagaimana cara lanjut usia menyelesaikan masalah apakah dengan berdoa.
d. Apakah lanjut usia terlihat tabah dan tawakal.

Aspek Psikossosial
a. Menjauhkan tanda-tanda meningkatnya ketergantungan
b. Fokus-fokus pada diri bertambah
c. Memperlihatkan semakin sempitnya perhatian
d. Membutuhkan bukti nyata akan rasa kasih sayang yang berlebihan
2. Diagnosa Keperawatan Gerontik

Masalah  keperawatan yang mungkin timbul:


a. Fisik / biologis
1) Gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat.
2) Gangguan persepsi berhubungan dengan gangguan pendengaran / penglihatan
3) Kurang perawatan diri berhubungan dengan menurunnya minat dalam
merawat diri.
4) Resiko cedera fisik (jatuh) berhubungan dengan penyesuaian penurunan fungsi
tubuh tidak adekuat.
5) Perubahan pola elemenasi berhubungan dengan pola makan yang tidak efektif,
peristaltik lemah.
6) Gangguan pola tidur berhubungan dengan kecemasan atau nyeri.
7) Gangguan pola napas berhubungan dengan penyempitan jalan napas / adanya
skrit pada jalan napas.
8) Gangguan mobilisasi berhubungan dengan kekakuan sendi, atropis serabut
otot
b. Psikologis-sosial
1) Menarik diri dari lingkungan berhubungan dengan perasaan tidak mampu.
2) Isolasi sosial berhubungan dengan perasan curiga.
3) Depresi berhubungan dengan isolasi sosial.
4) Harga diri rendah berhubungan dengan perasaan ditolak.
5) Koping yang tidak adekuat berhubungan dengan ketidakmampuan
menghilangkan perasaan secara tepat.
6) Cemas berhubungan dengan sumber keuangan yang terbatas.
c. Spiritual
1) Reaksi berkabung / berduka berhubungan dengan ditinggal pasangan.
2) Penolakan terhadap proses penuaan berhubungan dengan tak siap dengan
kematian.
3) Marah terhadap Tuhan berhubungan dengan kegagalan yang dialami.
4) Perasaan tidak tenang berhubungan dengan ketidak mampuan ibadah secara
tepat.

3. Perencanaan
a. Tujuan perencanaan
Membantu lansia berfungsi seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan
kondisi fisik, psiko, sosial dengan tak tergantung pada orang lain
b. Tujuan tindakan keperawatan
Diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar meliputi :
 Pemenuhan kebutuhan keselamatan
 Peningkatan keamanan dan keselamatan
 Memelihara kebersihan diri
 Memelihara keseimbangan istirahat tidur
 Peningkatan hubungan interpersonal melalui komunikasi yang efektif

4. Implementasi
a. Promosi (Promotif)
Upaya promotif merupakan tindakan secara langsung dan tidak langsung
untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mencegah penyakit. Upaya promotif
juga merupakan proses advokasi kesehatan untuk meningkatkan dukungan klien,
tenaga provesional dan masyarakat terhadap praktik kesehatan yang positif
menjadi norma-norma sosial. Upaya promotif di lakukan untuk membantu organ-
organ mengubah gaya hidup mereka dan bergerak ke arah keadaan kesehatan yang
optimal serta mendukung pemberdayaan seseorang untuk membuat pilihan yang
sehat tentang perilaku hidup mereka.Upaya perlindungan kesehatan bagi lansia
adalah sebagai berikut:
1) Mengurangi cedera, di lakukan dengan tujuan mengurangi kejadian jatuh,
mengurangi bahaya kebakaran dalam rumah, meningkatkan penggunaan alat
pengaman dan mengurangi kejadian keracunan makanan atau zat kimia.
2) Meningkatkan keamanan di tempat kerja yang bertujuan untuk mengurangi
terpapar dengan bahan-bahan kimia dan meningkatkan pengunaan sistem
keamanan kerja.
3) Meningkatkan perlindungan dari kualitas udara yang buruk, bertujuan untuk
mengurangi pengunaan semprotan bahan-bahan kimia, mengurangi radiasi di
rumah, meningkatkan pengolahan rumah tangga terhadap bahan berbahaya,
serta mengurangi kontaminasi makanan dan obat-obatan.
4) Meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan gigi dan mutu yang bertujuan
untuk mengurangi karies gigi serta memelihara kebersihan gigi dan mulut.
b. Pencegahan (Preventif)
Dalam mencakup pencegahan primer, sekunder dan tersier.
1) Melakukan pencegahan primer, meliputi pencegahan pada lansia sehat,
terdapat faktor risiko, tidak ada penyakit, dan promosi kesehatan. Jenis
pelayanan pencegahan primer adalah: program imunisasi, konseling, berhenti
merokok dan minum beralkohol, dukungan nutrisi, keamanan di dalam dan
sekitar rumah, manajemen stres, penggunaan medikasi yang tepat.
2) Melakukan pencegahan sekunder, meliputi pemeriksaan terhadap penderita
tanpa gejala dari awal penyakit hingga terjadi gejala penyakit belum tampak
secara klinis dan mengindap faktor risiko.
3) Jenis pelayan pencegahan sekunder antara lain adalah sebagai berikut: kontrol
hipertensi, deteksi dan pengobatan kangker, screening: pemeriksaan rektal,
papsmear, gigi mulut dan lain-lain.
4) Melakukan pencegahan tersier, dilakukan sebelum terdapat gejala penyakit
dan cacat, mecegah cacat bertambah dan ketergantungan, serta perawatan
dengan perawatan di rumah sakit, rehabilisasi pasien rawat jalan dan
perawatan jangka panjang.
c. Diagnosis dini dan Pengobatan
1) Diagnosis dini dapat dilakukan oleh lansia sendiri atau petugas profesional dan
petugas institusi. Oleh lansia sendiri dengan melakukan tes dini, skrining
kesehatan, memanfaatkan Kartu Menuju Sehat (KMS) Lansia, memanfaatkan
Buku Kesehatan Pribadi (BKP), serta penandatangan kontrak kesehatan.
2) Pengobatan: Pengobatan terhadap gangguan sistem dan gejala yang terjadi
meliputi sistem muskuloskeletal, kardiovaskular, pernapasan, pencernaan,
urogenital, hormonal, saraf dan integumen

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, M.E., (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC


Maryam, R. S.(2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba
Potter & Perry. (2005). Fundamental Keperawatan, Konsep, Proses dan Praktik. Jakarta:
EGC
Stanley M, P. GB. (2006). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai