Anda di halaman 1dari 2

Soal Diskusi 8 :

1. Silahkan Saudara jelaskan kedua siklus yang diperlukan untuk berinvestasi pada
surat berharga!
2. Silahkan Saudara jelaskan lebih detail tentang akuntansi untuk kontingensi dari
berbagai sumber yang ada!
3. Silahkan Saudara jelaskan apa saja efek laporan tentang kondisi yang dapat
dilaporkan ketika auditor secara terpisah mengidentifikasi dan mendeskripsikan
kelemahan material?

Jawab

1. Berinvestasi pada surat berharga dapat dibedakan menjadi dua siklus

 Pertama, dividen dan bunga yang diterima atas investasi melibatkan transaksi
kas serta dibahas sebagai bagian dari siklus pendapatan
 Kedua, pembelian surat berharga secara tunai dan melibatkan pengeluaran
transaksi kas dibahas sebagai bagian dari siklus pengeluaran. Pada transaksi ini,
dapat dilakukan kontrol yang sama seperti penerimaan kas dan transaksi
pengeluaran lainnya seperti yang dijelaskan pada Modul 4 dan 5, kemudian
kontrol tambahan hanya berlaku untuk investasi seperti yang dibahas pada
bagian berikutnya
2. FASB dalam SFAS 5 tentang akuntansi untuk kontingensi mendefinisikan
kontingensi sebagai keadaan, situasi, dan kondisi yang mengandung unsur
ketidakpastian kemungkinan laba (laba kontingensi) atau kemungkinan rugi (rugi
kontinhensi) yang akan menjadi jelas jika satu atau lebih kejadian terjadi atau gagal
terjadi di masa mendatang. Laba kontingensi, seperti klaim atas pelanggaran hak
paten, hanya mengandung sedikit masalah karena sesuai standar akuntansi laba
kontingensi biasanya tidak dicatat sampai terealisasi. Sebaliknya, rugi kontingensi
merupakan masalah audit yang signifikan. Tergantung pada kemungkinan
pembayaran di masa mendatang, standar akuntansi mengharuskan rugi kontingensi
sebagai berikut:
 dicatat sebagai utang kontingensi,
 diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan, dan
 diabaikan.

Kewajiban kontijensi adalah kewajiban yang tergantung pada terjadinya atau tidak
terjadinya satu atau lebih kewajian masa depan untuk meneguhkan jumlah
hutangnya, pihak yang dibayarkan, tanggal pembayaran, atau keberadaannya.
Kontijensi didefinisikan sebagai kondisi situasi atau serangkaian situasi yang ada
melibatkan ketidakpastian mengenai keuntungan (kontijensi keuntungan) atau
kerugian (kontijensi kerugian) bagi perusahaan yang akhirnya akan diselesaikan
apabila satu atau lebih kejadian masa depan terjadi atau tidak terjadi. Kewajiban yang
terjadi sebagai akibat dari kerugian disebut kerugian kontijensi. Kontinjensi atau lebih
dikenal dengan peristiwa atau transaksi yang mengandung syarat merupakan
transaksi yang paling banyak ditemukan dalam kegiatan bank sehari-hari. Kontinjensi
yang dimiliki oleh suatu bank dapat berakibat tagihan atau kewajiban bagi bank yang
bersangkutan. PSAK No. 31 mengatur akuntansi untuk transaksi kontinjensi dalam
suatu perusahaan. Istilah kewajiban bersyarat digunakan untuk menyatakan
kewajiban yang kemungkinan timbulnya tergantung padaterjadi atau tidaknya satu
peristiwa di masa yang akan datang. Dengan demikian pada tanggal neraca belum
terdapat kepastian mengenai ada tidaknya kewajiban tersebut. Kontinjensi adalah
suatu keadaan yang masih diliputi oleh ketidakpastian mengenai kemungkinan
diperolehnya laba atau rugi oleh suatu perusahaan, yang baru akan terselesaikan
dengan terjadi atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa di masa yang akan
datang. Transaksi yang bersifat kontinjensi (bersyarat) ini belum mengikat bank untuk
melakukan tagihan ataupun kewajiban riil saat ini, akan tetapi secara antisipatif
kontinjensi tersebut akan menjadi kewajiban atau tidak sangat tergantung terjadi atau
tidak terjadinya peristiwa yang berkaitan dengan kontinjensi ini di masa yang akan
datang.

3. Ketika auditor secara terpisah mengidentifikasi dan menggambarkan kelemahan


material dalam laporannya, diperlukan dua paragraf tambahan. Paragraf pertama
harus memuat definisi dari istilah kelemahan material dan deskripsi dari kondisi
pelaporan yang kelemahan material. Paragraf tambahan kedua harus
menggambarkan keterbatasan pekerjaan auditor, mencatat secara khusus bahwa
pertimbangan auditor atas pengendalian internal yang tidak akan selalu
mengungkapkan semua hal yang dianggap sebagai kelemahan material.

Sumber

1. BMP Auditing II 8.5, 9.9 & 9.49


2. http://ventilunadewi.blogspot.com/2014/04/kewajiban-kontijensi.html