Anda di halaman 1dari 4

KARAKTERISTIK, BENTUK DAN SIFAT, POTENSI DAN KOMPETENSI OPINI

PUBLIK
Bentuk Opini Publik dibedakan dalam tiga hal yaitu opini kelompok, opini rakyat dan opini
massa. Pendapat lain membedakan publik antara publik massa, publik berminat dan publik
pendapat. Sifat opini publik dibedakan pada sifat yang statis, dinamis ataupun laten bergantung
pada faktor-faktor perangsang dari luar, misalnya peristiwa-peristiwa yang menggoncangkan.
Opini publik adalah suatu ungkapan keyakinan yang menjadi pegangan bersama atau publik,
mengenai suatu masalah kontroversial yang menyangkut kepentingan umum.
Berikut macam karakteristik Opini Publik:
1) Adanya Masalah yang Kontroversial
Masalah kontroversial adalah masalah yang menimbulkan polemik, perbedaan pendapat, pro-
kontra, setuju-tidaksetuju karena tidak lazim (menyimpang). Masalah in juga terkait dengn
kepentingan orang banyak (sosial). Contoh, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak
Ramadhan 2005 lalu menegaskan bahwa para pejabat dilarang menerima parcel lebaran dalam
bentuk apapun. Itu dianggap sebagai jalan terjadinya korupsi dan kolusi karena pejabat akan
merasa terikat/berutang budi pada pemberi parcel.
2) Adanya Publik Secara Spontan
Bentuk publik yang ada memang tidak harus terlihat secara fisik, namun demikian akan terasa
adanya publik yang berkepentingan terhadap masalah tersebut. Tanpa diminta, tanpa diarahkan
tercipta publik yang berbeda. Contoh, Isu (masalah) parcel di atas memunculkan publik yang
berperhatian (atentif) dan berkepentingan. Tanpa diarahkan, muncul publik yang terdiri dari
KPK, pedagang  parcel, konsumen, pejabat yang biasanya menerima prcel, dll.
3) Adanya Diskusi Sosial
Proses terbentuknya opini publik adalah melalui proses diskusi, dapat langsung seperti kuliah,
rapat dan seminar (tatap muka), juga melalui media massa seperti: acara diskusi/dialog interaktif
di Metro TV mengenai berbagai isu aktual. Dalam acara seperti News Dot Com (NDC), terdapat
pula diskusi secara spontan. Misal, dipertemukannya para pedagang parcel dengan anggota KPK.
Terjadi diskusi secara spontan di antara mereka, saling timpal menyampailkan argumentasi,
sirkular, laksana gayung bersambut. Penonton di rumah pun berdiskusi secara spontan
(mengemukakan opininya kepada keluarga/kawan lainnya). Acara tersebut memang
direncanakan dan mengandung “drama”. Si Butet Yogya (SBY), Effendi Ghazali, dkk, tentu saja
sudah mempersiapkan dan mengemas acara sedemikian rupa (termasuk naskah dan tokoh
rekaan). Tetapi harus dibedakan antara istilah “direncanakan” dengan “spontan”. Spontan yang
dimaksud bukan “Spontan”-nya pelawak Komeng, “Uhuy..””. Bukan semata; tanpa diduga, tiba-
tiba dua orang bertemu, membicarakan sebuah isu, keduanya mengemukakan opini, terdapat
persamaan atau perbedaan pendapat, lalu diskusi selesai. Sebuah acara TV atau berita di koran
yang sudah tentu direncanakan program director dan editor akan memunculkan diskusi secara
spontan. Untuk lebih jelas, lihat halaman berita dan Opini di Kompas setiap hari. Semua publik
seperti narasumber, penulis kolom, juga pembaca (baik yang eceran maupun langganan), tanpa
bertatap muka dipertemukan oleh media massa. Dalam situasi yang direncanakan atau tidak,
diskusi dapat terjadi.
4) Adanya Opini yang Mudah Berubah dan Diubah 
Opini-opini yang telah timbul dalam masyarakat yang mempermasalahkan hal-hal yang sedang
hangat tersebut dapat berubah atau diubah setelah adanya berkembangan/informasi baru dari
orang lain, pers, penjelasan pemerintah, dll (lhat  Perubahan Opini). Contoh, bisa saja anggota
KPK berubah opininya setelah  melihat kenyataan memburuknya perekonomian rakyat yang
diindikasikan – secara mikro – dengan sepinya order pedagang parcel. Mereka terenyuh dan
berempati. Bahkan lebih kuat perubahan opininya setelah muncul pernyataan dari pedgang parcel
“Kalau memang benar parcel ini memunculkan korupsi pejabat yang menerima (parcel), berapa
sih angka dan prosentase penurunan korupsi setelah KPK melarang pejabat menerimanya? Toh
masih tetap banyak yang korupsi. Jangan kami yang dirugikan dong!”. Anda sebagai penonton di
rumah yang tadinya mendukung KPK, berubah opininya, mengamini para pedagang parcel
tersebut.
5) Adanya Ekspresi atau Pernyataan Secara Spontan 
Muncul pernyataan atau pendapat mengenai masalah sosial atau isu yang kontroversial, tanpa
diarahkan, ditekan dan dipaksa, karena setiap masalah tersebutlah yang menimbulkan opini
publik. Contoh, Pedagang parcel, KPK, mahasiswa, penonton di rumah, yang mengikuti acara
NDC tidak diarahkan, dikendalikan, bahkan diintimidasi, direpresi, diancam, untuk
mengemukakan opini yang mendukung atau menolak. Itu semua terserah pada individu tersebut,
sesuai dengan penilaian dan penafsirannya masing-masing (Dalam beberapa kasus tertentu
memang ada pernyataan publik yang sengaja diarahkaan unuk menimbulkan reaksi Lebih
jelasnya akan dibahas pada subbab lain).
BENTUK DAN SIFAT OPINI PUBLIK

Opini publik adalah pernyataan pendapat dari individu-individu tentang suatu isu. Dan


Nimmo menyatakan ada tiga bentuk opini public, yaitu:

Opini massa
Pada umumnya, opini massa meruapakan ungkapan-ungkapan, pandangan yang baru dan tak
terorganisir, yang sering ditimbulkan sebagai budaya, konsensus dan disebut “opini publik”. 

Opini kelompok
pemberian dan penerimaan opini pribadi di dalam kelompok sosial. Setiap kelompok mempunyai
publiknya sendiri, seperti kelompok pekerja, kelompok organisasi dan sebagainya. 
Opini rakyat
Jika orang yang mengungkapkan pandangannya bukan melalui kelompok terorganisasi,
melainkan melalui kebebasan pribadi yang relative di dalam tempat pemberian suara, surat
pembaca di media massa, pilihan yang dibuat dalam keadaan tersendiri.
Pengungkapan opini cenderung diarahkan berdasarkan ungkapan kolektif dari kepercayaan, nilai
dan harapan. Kepercayaan mengacu pada apa yang diterima sebagai benar atau tidak benar
tentang sesuatu, kepercayaan ini didasarkan atas pengalaman masa lalu, pengetahuan, informasi
sekarang serta persepsi. Nilai melibatkan kesukaan dan ketidaksukaan seseorang. Hal yang
menjadi masalah adalah bagaimana seseorang menilai sesuatu dan intensitas penilaiannya setelah
tindakan. Pengharapan ditentukan dari per-kembangan terhadap apa yang terjadi di masa lalu,
keadaan sekarang dan apa yang kira-kira akan terjadi bila suatu perbuatan tertentu dilakukan.
Ketiga hal tersebut di atas tampil saling mempengaruhi dalam manifestasinya.
James N. Rosenau membuat perbedaan antara mass public (publik massa), (publik berminat),
dan opinion making public (publik pembuat pendapat). Rosenau menggambar-kan mass public
dalam masyarakat sebagai sasaran yang mengikuti suatu drama yang bermain dipanggung.
Sesuai dengan tempat duduknya, yang makin jauh dari panggung kurang dapat mengikuti
permainan drama sehingga kurang intensif dalam pembentukan suatu pendapat mengenai drama.
Kelopok attentive public digambarkan sebagai kelompok yang mendapat tempat yang cukup
dekat dalam ruangan sandiwara. Mereka dapat meng-ikuti semua perkembangan drama di atas
panggung, banyak hal yang dilihatnya sehingga dapat membentuk pendapat tentang permainan
tersebut.Opinion making public mereka disamakan dengan pemain-pemain sandiwara sendiri.
Mereka sesuai dengan bakat masing-masing menyadari efek permainan mereka sehingga mereka
berebutan dan bersaing dalam permainan bersama untuk mendapat penilaian, pengharapan, dan
simpati dari masing-masing pemain kekuasaan yang dicarinya.
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa intensitas pendapat atau pengaruh ter-gantung dari
jarak geografis atau waktu antara audience dengan kejadiannya. Menurut lingkup wilayah
administrasi kekuasaa, opini publik dapat dikualifikasikan ke dalam tiga jenis pendapat umum,
yaitu
(1) opini publik nasional;
(2) opini publik di wilayah provinsi; dan
(3) opini publik lokal. Dalam konteks dengan kehidupan negara, opini publik yang tumbuh di
tingkat provinsi dan tingkat lokal pada akhirnya akan bertemu dalam tingkat nasional. Dalam
konteks ini, yang disebut dengan opini publik merupakan ungkapan sikap rakyat dalam suatu
negara mengenai pemerintah dan politik (the expression of attitude about government and
politics). Opini publik itu sendiri memiliki kekuatan yang sangat kuat dalam menentukan suatu
pemerintahan,A. V. Dicey menyebut opini publik ini sebagai “super natural power”.
Tumbuhnya pendapat umum dalam suatu negara banak ditentukan oleh peristiwa-peristiwa
penting yang menyentuh kepentingan khalayak atau kepentingan rakyat banyak. Ada lima faktor
yang menjadi landasan tumbuhnya pendapat umum nasional, yaitu
(1) harga diri (dignity) suatu bangsa, sepreti pembakaran bendera nasional oleh warga negara
asing yang menyulut kemarahan suatu bangsa;
(2) keamanan (security), seperti sering terjadinya kerusuhan sehingga mengganggu stabilitas
nasional;
(3) interes kelompok, seperti pertentangan antara satu partai dengan partai lainnya;
(4) norma yang dihargai dan dipegang teguh, seperti maraknya majalah atau tabloid porno di
masyarakat luas; dan (
5) faktor idelogis.
Sedangkan sifat dari opini publik yaitu,
Opini publik atau pendapat umum pada dasarnya memiliki empat macam sifat, yakni sebagai
berikut:
1.  Sifat penyederhanaan
2. Sifat labil (mudah berubah)
3. Sifat aktualitas, baru dan hangat.
4. Sifat umum (universalitas) yaitu pendapat yang mewakili masyarakat luas.
5. Sifat affinitas, yaitu antara komunikator dan komunikan memiliki hubungan erat dalam bentuk
pertemanan yang baik.