Anda di halaman 1dari 19

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 3

“MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN


SKABIES”

Disusun Oleh:

Annisa Marini (1811002)


Delvia Aisyah Supriadi (1811004)

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN NERS


STIKes PATRIA HUSADA BLITAR
2020
KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan
judul “Asuhan Keperawatan Klien Dengan Skabies” yang diajukan untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah 3.
Makalah ini berisi tentang definisi, etiologi, patofisiologi, pathway,
klasifikasi, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan penunjang, dan
penatalaksaan tentang urtikaria.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
Allah SWT senantiasa meridhai usaha kita.

Blitar, 30 Maret 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Definisi 3
B. Etiologi 3
C. Patofisiologi 3
D. Pathway 4
E. Klasifikasi 5
F. Manifestasi Klinis 6
G. Komplikasi 6
H. Pemeriksaan Penunjang 7
I. Penatalaksanaan 8
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 10
A. Pengkajian 10
B. Diagnosa 11
C. Intervensi 11
BAB IV PENUTUP 15
A. Kesimpulan 15
B. Saran 15
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang, di mana pelayanan
kesehatan masyarakatnya belum memadai sehubungan dengan adanya krisis
ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997. Permasalahan utama yang
dihadapi masih didominasi oleh penyakit infeksi yang sebagian besarnya adalah
penyakit menular yang berbasis lingkungan.
Skabies ditemukan disemua negara dengan prevalensi yang bervariasi.
Dibeberapa negara yang sedang berkembang prevalensi skabies sekitar 6% - 27%
dari populasi umum dan cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja.
Berdasarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, prevalensi penyakit
skabies dalam masyarakat diseluruh Indonesia pada tahun 1996 adalah 4,6% -
12,95% dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering.
Skabies atau kudis adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi
tungau Sarcoptes scabiei.
Penyakit ini telah dikenal sejak lama, yaitu ketika Bonomo dan Cestoni
mampu mengilustrasikan sebuah tungau sebagai penyebab skabies pada tahun
1689 (Montesu dan Cottoni, 1991). Literatur lain menyebutkan bahwa skabies
diteliti pertama kali oleh Aristotle dan Cicero sekitar tiga ribu tahun yang lalu dan
menyebutnya sebagai "lice in the flesh" (Alexander, 1984). Tungau ini mampu
menyerang manusia dan ternak termasuk hewan kesayangan (pet animal) maupun
hewan liar (wild animal) (Pence dan Ueckermann, 2002).

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi skabies?
2. Apa etiologi skabies?
3. Bagaimana patofisiologi skabies?
4. Bagaimana pathway skabies?
5. Apa klasifikasi skabies?
6. Bagaimana manifestasi klinis skabies?
7. Apa saja komplikasi skabies?
8. Apa saja pemeriksaan penunjang skabies?
9. Bagaimana penatalaksanaan skabies?

1
C. Tujuan
1. Agar dapat mengerti pengertian dan bentuk-bentuk skabies.
2. Agar dapat mengetahui etiologi dan patofisiologi dari skabies.
3. Agar dapat mengetahui penyebab gejala dan sistem pengobatan yang dapat
dilakukan kepada penderita skabies.
4. Agar dapat mengetahui konsep pemberian asuhan keperawatan kepada
penderita skabies mulai dari pengkajian, diagnosa, intervensi,
implementasi, dan evaluasi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Skabies adalah penyakit kulit yang
disebabkan oleh infestisasi dan sensitisasi
terhadap sarcoptes scabiei varian hominis dan
produknya. Sinonim dari penyakit ini adalah
kudis, gudig, budukan, dan gatal agogo.
Penyakit skabies ini merupakan penyakit
menular oleh kutu tuma gatal sarcoptes scabiei
tersebut, kutu tersebut memasuki kulit stratum
korneum, membentuk kanalikuli atau
terowongan lurus atau berkelok sepanjang 0,6
sampai 1,2 centimeter.

B. Etiologi
Skabies dapat disebabkan oleh kutu atau kuman sarcoptes scabiei varian
hominis. Sarcoptes scabiei termasuk filum arthopoda, kelas arachnida, ordo
ackarina, superfamili sarcoptes. Pada manusia disebut sarcoptes scabiei var.
hominis. kecuali itu terdapat S. scabiei yang lainnya pada kambing dan babi.
Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya
cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor,
dan tidak bermata.

C. Patofisiologi
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya dari tungau skabies, akan tetapi
juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau
bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat, menyebabkan lesi timbul
pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap
secret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah
infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya
papul, vesikel, dan urtikaria. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi,
krusta, dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas
dari lokasi tungau.

3
D. Pathway

4
P
E. Klasifikasi
1. Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated).
Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit
jumlahnya sehingga sangat sukar ditemukan.
2. Skabies incognito.
Bentuk ini timbul pada skabies yang diobati dengan kortikosteroid sehingga
gejala dan tanda klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan penularan
masih bisa terjadi. Skabies incognito sering juga menunjukkan gejala klinis
yang tidak biasa, distribusi atipik, lesi luas dan mirip penyakit lain.
3. Skabies nodular
Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus
biasanya terdapat didaerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki,
inguinal dan aksila. Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas
terhadap tungau skabies.
Pada nodus yang berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan.
Nodus mungkin dapat menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun
meskipun telah diberi pengobatan anti skabies dan kortikosteroid.
4. Skabies yang ditularkan melalui hewan.
Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing. Kelainan ini berbeda
dengan skabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang
sela jari dan genitalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana
orang sering kontak/memeluk binatang kesayangannya yaitu paha, perut,
dada dan lengan. Masa inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah.
Kelainan ini bersifat sementara (4-8 minggu) dan dapat sembuh sendiri
karena S. scabiei var. binatang tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya
pada manusia.
5. Skabies Norwegia.
Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan
krusta, skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat
predileksi biasanya kulit kepala yang berambut, telinga bokong, siku, lutut,
telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku. Berbeda dengan
skabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies Norwegia tidak menonjol
tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang menginfestasi
sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi
imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau
dapat berkembangbiak dengan mudah.
6. Skabies pada bayi dan anak.

5
Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh
kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi
sekunder berupa impetigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan.
Pada bayi, lesi di muka.

7. Skabies terbaring ditempat tidur (bed ridden).


Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal
ditempat tidur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas.

F. Manifestasi Klinis
1. Pruritus nktuma (gatal pada malam hari) karena aktivitas tungau lebih tinggi
pada suhu yang lembab dan panas.
2. Umumnya ditemukan pada sekelompok manusia, misalnya mengenai
seluruh anggota keluarga.
3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang
berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-
rata panjang 1cm, pada ujung menjadi pimorfi (pustu, ekskoriosi). Tempat
predileksi biasanya daerah dengan stratum komeum tipis, yaitu sela-sela jari
tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak
bagian depan, aerola mammae dan lipat glutea, umbilicus, bokong, genitalia
eksterna, dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang bagian
telapak tangan dan telapak kaki bahkan seluruh permukaan kulit. Pada
remaja dan orang dewasa dapat timbul pada kulit kepala dan wajah.
4. Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat
ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. Pada pasien yang selalu
menjaga hgiene, lesi yang timbul hanya sedikit sehingga diagnosis kadang
kala sulit ditegakkan. Jika penyakit berlangsung lama, dapat timbul
likenifikasi, impetigo, dan furunkulsis.

G. Komplikasi
Bila skabies tidak diobati selama beberapa minggu atau bulan, dapat timbul
dermatitis akibat garukan. Erupsi dapat berbentuk impetigo, ektima, sellulitis,
limfangitis, dan furunkel. Infeksi bakteri pada bayi dan anak kecil yang diserang
skabies dapat menimbulkan komplikasi pada ginjal. Dermatitis iritan dapat timbul
karena penggunaan preparat anti skabies yang berlebihan, baik pada terapi awal
ataupun pemakaian yang terlalu sering.
1. Urtikaria
Urtikaria adalah reaksi dari pembuluh darah berupa erupsi pada kulit yang
berbatas tegas dan menimbul (bentol), berwarna merah, memutih bila
ditekan, dan disertai rasa gatal. Urtikaria dapat berlangsung secara akut,
kronik, atau berulang. Urtikaria akut umumnya berlangsung 20 menit
sampai 3 jam, menghilang dan mungkin muncul di bagian kulit lain.

6
2. Infeksi sekunder
Infeksi sekunder terjadi pada kulit yang sudah ada kelainan sebelumnya.
Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya infeksi antara lain :
a. Kebersihan atau higienitas tubuh bayi kurang
b. Penurunan daya tahan tubuh
c. Kelainan kulit yang sudah ada sebelumnya
3. Folikulitis
Folikulitis adalah peradangan pada selubung akar rambut (folikel). Pada
kulit yang terkena akan timbul ruam, kemerahan dan rasa gatal. Di sekitar
folikel rambut tampak beruntus-beruntus kecil berisi cairan yang bisa pecah
lalu mengering dan membentuk keropeng.
4. Furunkel
Furunkel (bisul) adalah infeksi kulit yang meliputi seluruh folikel rambut
dan jaringan subkutaneus di sekitarnya. Paling sering ditemukan di daerah
leher, payudara, wajah dan bokong. Akan terasa sangat nyeri jika timbul di
sekitar hidung atau telinga atau pada jari-jari tangan. Furunkel berawal
sebagai benjolan keras bewarna merah yang mengandung nanah. Lalu
benjolan ini akan berfluktasi dan ditengahnya menjadi putih atau kuning
(membentuk pustula). Bisul bisa pecah spontan atau mengeluarkan
nanahnya, kadang mengandung sedikit darah.
5. Eksema infantum
Eksema atau Dermatitis atopik atau peradangan kronik kulit yang kering
dan gatal yang umumnya dimulai pada awal masa kanak-kanak. Eksema
dapat menyebabkan gatal yang tidak tertahankan, peradangan, dan gangguan
tidur.

H. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis pasti skabies ditegakkan dengan ditemukannya tungau melalui
pemeriksaan mikroskop, yang dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain :
1. Kerokan kulit ; ini dicapai dengan menempatkan setetes minyak mineral di
atas liang dan kemudian menggoreskan longitudinal menggunakan skapel no
15. Kerokan diletakkan pada kaca objek, diberi kaca penutup, dan dengan
mikroskop pembesaran 20X atau 100X dapat dilihat tungau, telur atau
skibala.
2. Pengambil tungau dengan jarum ; jarum dimasukan ke dalam bagian yang
gelap dan digerakan tangensial. Tungau akan memegang ujung jarum dan
dapat diangkat keluar.

7
3. Epidermal shave biopsi ; menemukan terowongan atau papul yang dicurigai
diantara ibu jari dan jari telenjuk, dengan hati-hati diiris puncak lesi dengan
skapel no 15 yang dilakukan sejajar dengan kulit. Biopsi dilakukan sangat
superfisial sehingga tidak terjadi pendarahan dan tidak perlu anastesi
spesimen diletakan pada gelas objek lalu ditetesi minyak mineral dan
diperiksa dengan mikroskop.
4. Kuretasi terowongan (kuret dermal) ; yaitu kuretasi superfisial mengikuti
sumbu panjang terowongan atau puncak papul kemudian kerokan diperiksa
dengan mikroskop, setelah diletakkan di gelas objek dan ditetesi minyak
mineral.
5. Tes tinta Burrow ; papul skabies dilapisi dengan tinta pena, kemudian segera
dihapus dengan alkohol, maka jejak terowongan akan terlihat sebagai garis
karakteristik, berbelok-belok, karena tinta yang masuk. Tes ini dapat
dilakukan pada anak-anak dan pasien non-koperatif.
6. Tetrasiklin topika ; larutan tetrasiklin dioleskan pada terowongan yang
dicurigai dan dikeringkan selama 5 menit. Setelah itu hapus larutan tersebut
dengan isoproplalkohol. Tetrasiklin akan berpenetrasi ke dalam melalui
kerusakan stratum korneum dan terowongan akan tampak pada penyinaran
lampu Wood, sebagai garis linear berwarna kuning kehijauan sehingga
tungau dapat ditemukan.
7. Apusan kulit ; kulit dibersihkan dengan eter, kemudian diletakan selotip pada
lesi dan diangkat dengan gerakan cepat. Selotip kemudian diletakkan diatas
gelas obyek (enam buah dari lesi yang sama pada satu gelas obyek) dan
diperiksa dengan mikroskop.
8. Biopsi plong ; dilakukan pada lesi yang tidak mengalami ekskoriasi dan
dikerjakan dengan potongan serial. Kemudian diperiksa dengan teliti untuk
menemukan tungau atau produknya dalam stratum korneum.

I. Penatalaksanaan
Syarat obat yang ideal adalah efektif terhadap semua stadium tungau, tidak
menimbulkan iritasi dan toksik, tidak berbau atau kotor, tidak merusak atau
mewarnai pakaian, mudah diperoleh dan harganya murah.
Jenis obat topical :
1. Belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20% dalam bentuk salep atau krim.
Pada bayi dan orang dewasa sulfur presipitatum 5% dalam minyak sangat
aman dan efektif. Kekurangannya adalah pemakaian tidak boleh kurang dari
3 hari karena tidak efektif terhadap stadium telur, berbau, mengotori
pakaian dan dapat menimbulkan iritasi.

8
2.  Emulsi benzyl-benzoat 20-25% efektif terhadap semua stadium, diberikan
setiap malam selama 3 kali. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi,
dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
3. Gama benzena heksa klorida (gameksan) 1% dalam bentuk krim atau losio,
termasuk obat pilihan arena efektif terhadap semua stadium, mudah
digunakan, dan jarang memberi iritasi. Obat ini tidak dianurkan pada anak
dibawah umur 6 tahun dan wanita hamil karena toksi terhadap susunan saraf
pusat. Pemberiannya cup sekali dalam 8 jam. Jika masih ada gejala, diulangi
seminggu kemudian.
4. Krokamiton 10% dalam krim atau losio mempunyai dua efek sebagai
antiskabies dan antigatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra.
Krim (eurax) hanya efetif pada 50-60% pasien. Digunakan selama 2 malam
berturut-turut dan dbersihkan setelah 24 jam pemakaian terakhir.
5.  Krim permetrin 5% merupakan obat yang paling efektif dan aman arena
sangat mematikan untuk parasit S.scabei dan memiliki toksisitas rendah
pada manusia.
6. Pemberian antibiotika dapat digunakan jika ada infeksi sekunder, misalnya
bernanah di area yang terkena (sela-sela jari, alat kelamin) akibat garukan.

9
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Biodata.
a. Identitas pasien.
b. Identitas penanggungjawab
2. Riwayat kesehatan.
a. Keluhan utama.
Pada pasien skabies terdapat lesi dikulit bagian punggung dan merasakan
gatal terutama pada malam hari.
b. Riwayat kesehatan sekarang.
Pasien mulai merasakan gatal yang memanas dan kemudian menjadi
edema karena garukan akibat rasa gatal yang sangat hebat.
c. Riwayat kesehatan dahulu.
Pasien pernah masuk RS karena alergi.
d. Riwayat kesehatan keluarga.
Dalam keluarga pasien ada yang menderita penyakit seperti yang klien
alami yaitu kurap, kudis.
3. Pola fungsi kesehatan.
a. Pola persepsi terhadap kesehatan.
Apabila sakit, klien biasa membeli obat di toko obat terdekat atau apabila
tidak terjadi perubahan pasien memaksakan diri ke puskesmas atau RS
terdekat.
b. Pola aktivitas latihan.
1) Aktivitas latihan selama sakit :
a) Aktivitas 0 1 2 3 4.
b) Makan.
c) Mandi.
d) Berpakaian.
e) Eliminasi.
f) Mobilisasi di tempat tidur.
c. Pola istirahat tidur.
Pada pasien skabies terjadi gangguan pola tidur akibat gatal yang hebat
pada malam hari.
d. Pola nutrisi metabolik.
Tidak ada gangguan dalam nutrisi metaboliknya.
e. Pola elimnesi.
Klien BAB 1x sehari, dengan konsitensi lembek, warna kuning bau khas
dan BAK 4-5x sehari, dengan bau khas warna kuning jernih.

10
f. Pola kognitif perceptual.
Saat pengkajian kien dalam keadaan sadar, bicara jelas, pendengaran dan
penglihatan normal.
g. Pola peran hubungan.
h. Pola konsep diri.
i. Pola seksual reproduksi.
Pada klien skabies mengalami gangguan pada seksual reproduksinya.
j. Pola koping.
1) Masalah utama yang terjadi selama klien sakit, klien selalu merasa
gatal, dan pasien menjadi malas untuk bekerja.
2) Kehilangan atau perubahan yang terjadi.
3) Perubahan yang terjadi klien malas untuk melakukan aktivitas sehari-
hari.
4) Takut terhadap kekerasan : tidak.
5) Pandangan terhadap masa depan.
6) Klien optimis untuk sembuh.

B. Diagnosa
1. Kerusakan Integritas Kulit/Jaringan b.d. Faktor Mekanis (mis. Penekanan
pada tonjolan, gesekan) atau faktor elektris terapi radiasi d.d. Kerusakan
jaringan dan/atau lapisan kulit
2. Gangguan Rasa Nyaman b.d. Kurang pengendalian situasional/lingkungan
d.d. Mengeluh tidak nyaman
3. Gangguan Citra Tubuh b.d. Perubahan struktur/bentuk tubuh (mis.
Amputasi, trauma, luka bakar, obesitas, jerawat) d.d. Fungsi/struktur tubuh
berubah/hilang
4. Defisit Pengetahuan b.d. Kurang terpapar informasi d.d. Menanyakan
masalah yang dihadapi
5. Risiko infeksi d.d. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer : Kerusakan
integritas kulit

C. Intervensi
No LUARAN INTERVENSI

1. Setelah dilakukan Perawatan Integritas Kulit


tindakan keperawatan Observasi
2x24 jam dengan - Identifikasi penyebab gangguan integritas
tingkat Integritas Kulit kulit (mis. Perubahan sirkulasi, perubahan
dan Jaringan menurun. status nutrisi, penurunan kelembapan, suhu
Kriteria Hasil : lingkungan ekstrem, penurunan mobilitas
a. Kerusakan lapisan
kulit (meningkat) Terapeutik
b. Kemerahan - Gunakan produk berbahan petrolium atau
(meningkat)

11
c. Sensasi (meningkat) minyak pada kulit kering
- Gunakan produk berbahan ringan/alami dan
hipoalergik pada kulit sensitif
- Hindari produk berbahan dasar alkohol pada
kulit kering
Edukasi
- Anjurkan menggunakan pelembab (mis.
Lotion, serum)
- Anjurkan minum air yang cukup
- Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
- Anjurkan meningkatkan asupan buah dan
sayur
- Anjurkan menghindari terpapar suhu ekstrem
Anjurkan mandi dan menggunakan sabun
secukupnya

2. Setelah dilakukan Manajemen Nyeri


tindakan keperawatan
2x24 jam dengan Observasi
tingkat Status - Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
Kenyaman menurun. frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
Kriteria Hasil : - Identifikasi skala nyeri
- Identifikasi pengetahuan dan keyakinan
a. Keluhan tidak tentang nyeri
nyaman (meningkat) - Identifikasi pengaruh nyeri pada kulitas hidup
b. Keluhan sulit tidur - Monitor efek samping penggunaan analgetik
(meningkat) Terapeutik
c. Gatal (meningkat) - Berikan teknik nonfarmakologis untuk
d. Pola tidur mengurangi rasa nyeri (mis.TENS, hipnosis,
(meningkat) akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi
pijat, aromaterapi, teknik imajinasi
terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi
bermain)
- Kontrol lingkungan yang memperberat rasa
nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan)
- Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam
pemilihan strategi meredakan nyeri
Edukasi
- Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
- Jelaskan strategi meredakan nyeri
- Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
- Anjurkan menggunakan analgetik secara
tepat
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

12
3. Setelah dilakukan Promosi Citra Tubuh
tindakan keperawatan Observasi
2x24 jam dengan - Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan
tingkat Citra Tubuh tahap perkembangan
menurun. - Identifikasi perubahan citra tubuh yang
Kriteria Hasil : mengakibatkan isolasi sosial
a. Melihat bagian - Monitor frekuensi pernyataan kritik terhadap
tubuh (meningkat) diri sendiri
b. Menyentuh bagian
tubuh (meningkat) Terapeutik
c. Verbalisasi perasaan - Diskusikan perbedaan penampilan fisik
negatif tentang terhadap harga diri
perubahan tubuh - Diskusikan kondisi stres yang mempengaruhi
(meningkat) citra tubuh (mis. Luka, penyakit,
d. Verbalisasi pembedahan)
kekhawatiran pada - Diskusikan cara mengembangkan harapan
penolakan/reaksi citra tubuh secara realistis
orang lain
Edukasi
(meningkat)
- Jelaskan kepada keluarga tentang perawatan
e. Menyembunyikan
peubahan citra tubuh
bagian tubuh
- Anjurkan mengungkapkan gambaran diri
berlebihan
terhadap citra tubuh
(meningkat)
Latih peningkatan penampilan diri (mis.
f. Fokus pada
Berdandan)
kekuatan masa lalu
(meningkat)
g. Hubungan sosial
(meningkat)

4. Setelah dilakukan Edukasi Kesehatan


tindakan keperawatan Observasi
2x24 jam dengan - Identifikasi kesiapan dan kemampuan
Tingkat Pengetahuan menerima informasi
menurun. - Identifikasi faktor-faktor yang dapat
Kriteria Hasil : meningkatkan dan menurunkan motivasi
a. Verbalisasi minat perilaku hidup bersih dan sehat
dalam belajar Terapeutik
(meningkat)
b. Perilaku sesuai - Sediakan materi dan media pendidikan
dengan pengetahuan kesehatan
(meningkat) - Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai
c. Pertanyaan tentang kesepakatan
masalah yang - Berikan kesempatan untuk bertanya
dihadapi Edukasi
- Jelaskan faktor risiko yang dapat

13
(meningkat) mempengaruhi kesehatan
d. Perilaku - Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
(meningkat) - Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk
meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat

5. Setelah dilakukan Pencegahan Infeksi


tindakan keperawatan Observasi
2x24 jam dengan - Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan
Tingkat Infeksi sistemik
menurun.
Terapeutik
Kriteria Hasil : - Berikan perawatan kulit pada area edema
a. Kebersihan tangan - Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak
(meningkat) dengan pasien dan lingkungan pasien
b. Kebersihan badan
Edukasi
(meningkat)
- Jelaskan tanda dan gejala infeksi
c. Kemerahan
- Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar
(meningkat)
- Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
d. Vesikel (meningkat)
- Anjurkan meningkatkan asupan cairan
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu

14
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Skabies (kudis) adalah penyakit kulit yang berisifat menular yang disebabkan
oleh investasi dan sensitisasi terhadap tungau sarcoptes scabiei varietas hominis.
Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Astigmata,
famili Sarcoptidae. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. Hominis dan
merupakan tungau kecil, Badannya transparan, berbentuk oval, pungggungnya
cembung dan perutnya rata. Daur hidup Sarcoptes scabiei dari telur hingga
dewasa berlangsung selama satu bulan. Sasaran dari Sarcoptes scabiei untuk
menyebarkan penyakit yaitu manusia

B. Saran
Setelah membaca makalah ini, mungkin komentar yang timbul adalah rasanya
masih banyak hal yang belum di jawab secara tuntas dan menyeluruh serta
mengenai penyakit kulit skabies, makalah ini jauh dari sempurna, umtuk itu kami
menerima keritik, usul, dan saran.

15
DAFTAR PUSTAKA

Chosidow O (2006).Scabies.New England Journal of medicine,354(16): 1718-


1727.
Diaz JH (2010).Scabies.In GL Mandell et al.,eds, Mandell, Douglas, and
Bennett’s Principles and Practice of Infectious Dissease,7 th ed,
vol.2,pp.3633-3636. Philadelphia: Churchill Livingstone Elsvier.
Jhonston P, Strong M (2008). Scabies, search date November 2011. Online
version of BMU Clinical Evidence: http://www.clinicalevidence.com
Tucker WFG (2010).Scabies.In MG lebhwol et al.,eds,.Treatment of skin disease :
Comprehensive Therapeutics Strategies, 3rd ed.,pp. 682-684. Philadelphia:
Mosby Elsevier.
Wollf K,Jhonson RA (2009). Scabies. In fitzpatrick’s color Atlas and Synopsis of
Clinical Dermatology, 6 th ed.,pp.868-876. New York: Mcgraw Hill.

16

Anda mungkin juga menyukai