Anda di halaman 1dari 17

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 3

“MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN GOUT ATRHITIS”

Disusun Oleh:

ARVYAN EYP 1811001


GURUH GALIH B 1811010

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN NERS


STIKes PATRIA HUSADA BLITAR
2020
KATA PENGANTAR

Segala Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga
kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN
URTIKARIA” yang diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah 3.
Makalah ini berisi tentang definisi, etiologi, patofisiologi, pathway, klasifikasi, manifestasi
klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksaan tentang urtikaria.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, kritik dan saran dari semua
pihak yang bersifat membangun kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai usaha
kita.

Blitar, 22 Maret 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Definisi 3
B. Etiologi 3
C. Patofisiologi 4
D. Pathway 5
E. Klasifikasi 6
F. Manifestasi Klinis 7
G. Pemeriksaan Fisik 7
H. Pemeriksaan Penunjang 8
I. Penatalaksanaan 8
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 9
A. Pengkajian 9
B. Diagnosa 11
C. Intervensi 11
BAB IV PENUTUP 15
A. Kesimpulan 15
B. Saran 15
DAFTAR PUSTAKA 16

3
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Perubahan – perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin
meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua
organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal
dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan penyakit
misalnya penyakit gout arthritis.
Gout akut biasanya terjadi pada pria sesudah lewat masa pubertas dan sesudah menopause
pada wanita, sedangkan kasus yang paling banyak diternui pada usia 50-60. Gout lebih banyak
dijumpai pada pria, sekitar 95 persen penderita gout adalah pria. Urat serum wanita normal
jumahnya sekitar 1 mg per 100 mI, lebih sedikit jika dibandingkn dengan pria. Tetapi sesudah
menopause perubahan tersebut kurang nyata. Pada pria hiperurisemia biasanya tidak timbul
sebelurn mereka mencapai usia remaja.
Gout Akut biasanya monoartikular dan timbulnya tiba-tiba. Tanda-tanda awitan serangan
gout adalah rasa sakit yang hebat dan peradangan lokal. Pasien mungkin juga menderita demam dan
jumlah sel darah putih meningkat. Serangan akut mungkin didahului oleh tindakan pembedahan,
trauma lokal, obat, alkohol dan stres emosional. Meskipun yang paling sering terserang mula-mula
adalah ibu jari kaki, tetapi sendi lainnya dapat juga terserang.

Dengan semakin lanjutnya penyakit maka sendi jari, lutut, pergelangan tangan, pergelangan
kaki dan siku dapat terserang gout. Serangan gout akut biasanya dapat sembuh sendiri. Kebanyakan
gejala-gejala serangan Akut akan berkurang setelah 10-14 hari walaupun tanpa pengobatan.
B.     Tujuan Penulisan
1.      Tujuan umum

4
Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem
muskuloskeletal yaitu Gout Artritis
2.      Tujuan khusus
Mahasiswa dapat menjelaskan :definisi penyakit Gout Artritis,etiologi penyakit Gout
Artritis,manifestasi klinik Gout Artritis,Patofisiologi penyakit Gout Artritis,komplikasi penyakit
Gout Artritis,pemeriksaan diagnostik penyakit Gout Artritis,penatalaksanaan penyakit Gout
Artritis,asuhan keperawatan yang harus diberikan pada klien dengan Gout Artritis.
C.    Manfaat penulisan
1)      Bagi mahasiswa keperawatan
Agar setelah mempelajari dan membahas makalah ini,diharapkan mahasiswa dapat
menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan masaala Artritis gout.

2)      Bagi pembaca
Agar pembaca dapat mengetahui gejala dan tanda penyakit artritis gout agar lebih menjaga
kesehatan dengan baik.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Gout Artritis adalah :
1. Suatu sindrom yang mempunyai gambaran khusus, yaitu artritis akut yang banyak pada pria
daripada wanita (Helmi, 2011).
2. Gout merupakan terjadinya penumpukan asam urat dalam tubuh dan terjadi kelainan
metabolisme purin. Gout merupakan kelompok keadaan heterogenous yang berhubungan
dengan defek genetik pada metabolisme purin (hiperurisemia) (Brunner dan Suddarth,
2012).
3. Suatu penyakit metabolik yang merupakan salah satu jenis penyakit reumatik dimana
pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan / penurunan ekskresi asam urat (Arif, 2010).

B. Etiologi
Gejala artritis akut disebabkan karena inflamasi jaringan terhadap pembentukan kristal
monosodium urat monohidrat. Dilihat dari penyebabnya penyakit ini termasuk dalam
golongan kelainan metabolik. Kelainan ini berhubungan dengan gangguan kinetik asam urat
yaitu Hiperurisemia. Hiperurisemia pada penyakit ini terjadi karena:
1. Pembentukan asam urat yang berlebihan
a. Gout primer metabolik disebabkan sintesis langsung yang bertambah.
b. Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebihan
karena penyakit lain seperti leukemia terutama bila diobati dengan
sitostatika; psoriasis; polisitemia vera, mielofibrosis.
2. Kurangnya pengeluaran asam urat melalui ginjal
a. Gout primer renal terjadi karena gangguanekskresi asam urat ditubuli disital
ginjal yang sehat, penyebabnya tidak diketahui.
b. Gout sekunder renal disebabkan oleh kerusakan ginjal misalnya pada
glomerulonefritis kronik /gagal ginjal kronik.

3. Perombakan dalam usus yang berkurang.

6
C. Patofisiologi
Goat akut biasanya monoatikular dan timbulnya tiba-tiba. Tanda-tanda awitan
serangan gout adalah rasa sakit yang hebat dan peradangan lokal. Pasien juga menderita
demam dan jumlah sel darah putih meningkat. Serangan akut biasanya didahului oleh
tindakan pembedahan, obat, alkohol dan stress emosional. Meskipun yang paling sering
terserang pertama adalah ibu jari kaki (Sendi metatarsofa longeal) tetapi sendi lainnya dapat
juga terserang, semakin lama penyakit makan sendi jari, lutut, pergelangan tangan,
pergelangan kaki dan siku dapat terserang gout. Serangan akut akan berkurang setelah 10-14
hari walapun tanpa pengobatan. Produk buangan termasuk asam urat dan garam-garam
anorganik dibuang melalui saluran ginjal, kandung kemih, dan saluran kemih dalam bentuk
urin. Kegagalan ginjal dalam proses pembuangan asam urat dalam jumlah yang cukup
banyak dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Hal tersebut juga dapat,
menimbulkan komplikasi yaitu pengendapan asam urat dalam ginjal yang akhirnya terjadi
pembentukan batu ginjal dari kristal asam urat.
D. Klasifikasi

Ada 3 klasifikasi berdasarkan manifestasi klinik :


a. Gout artritis stadium akut
Radang sendi timbul sangat cepat dalam waktu singkat. Pasien tidur tanpa
ada gejala apa-apa. Pada saat bangun pagi terasa sakit yang hebat dan tidak dapat
berjalan. Biasanya bersifat monoartikular dengan keluhan utama berupa nyeri,
bengkak, terasa hangat, merah dengn gejala sistemik berupa demam, menggigil dan
merasa lelah. Apabila proses penyakit berlanjut, dapat terkena sendi lain yaitu
pergelangan tangan/kaki, lutut, dan siku. Faktor pencetus serangan akut antara lain
berupa trauma lokal, diet tinggi purin, kelelahan fisik, stress, tindakan operasi,
pemakaian obat diuretik dan lain-lain. Pemilihan regimen terapi merekomendasikan
pemberian monoterapi sebagai terapi awal antara lain NSAIDs, kortikosteroid atau
kolkisin oral. Kombinasi 8 diberikan berdasarkan tingkat keparahan sakitnya, jumlah
sendi yang terserang atau keterlibatan 1-2 sendi besar ( Fatwa, 2014).
b. Stadium interkritikal
Stadium ini merupakan kelanjutan stadium akut dimana terjadi periode
interkritik. Walaupun secara klinik tidak dapat ditemukan tanda-tanda radang akut,

7
namun pada aspirasi sendi ditemukan kristal urat. Hal ini menunjukkan bahwa proses
peradangan masih terus berlanjut, walaupun tanpa keluhan (Fatwa, 2014).
c. Stadium artritis gout kronik
Stadium ini umumnya terdapat pada pasien yang mampu mengobati dirinya
sendiri (self medication). Sehingga dalam waktu lama tidak mau berobat secara
teratur pada dokter. Gout artritis menahun biasanya disertai tofi yang banyak dan
poliartikular. Tofi ini sering pecah dan sulit sembuh dengan obat. Kadang-kadang
dapat timbul infeksi sekunder. Secara umum penanganan gout artritis adalah
memberikan edukasi pengaturan diet, istrahat sendi dan pengobatan. Pengobatan
dilakukan dini agar tidak terjadi kerusakan sendi ataupun komplikasi lainnya. Tujuan
terapi meliputi terminasi serangan akut, mencegah 9 serangan di masa depan,
mengatasi rasa sakit dan peradangan dengan cepat dan aman, mencegah komplikasi
seperti terbentuknya tofi, batu ginjal, dan arthropati destruktif (Fatwa, 2014).

E. Manifestasi Klinis
Menurut Sholeh (2012), manifestasi gout yaitu :
1. Hiperurisemia
2. Arthritis pirai/gout akut, bersifat eksplosif, nyeri hebat, bengkak,merah, teraba panas
pada persendian, dan akan sangan terasa pada saat bangun tidur pada pagi hari.
3. Terdapat kristal urat yang khas dalam cairan sendi
4. Terdapat tofi dalam pemeriksaan kimiawi
5. Telah terjadi lebih dari satu serangan akut
6. Adanya serangan pada satu sendi, terutama sendi ibu jari kaki
7. Sendi terlihat kemerahan
8. Terjadi pembengkakan asimetris pada satu sendi
9. Tidak ditemukan bakteri pada saat serangan dan inflamasi.

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Sinar x dari sendi yang sakit : Menunjukkan pembengkakan pada jaringan lunak,
erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan (perubahan awal)

8
berkembang ketika menjadi formasi kista tulang, memperkecil jarak sendi dan
subluksasio.
2. Scan radionuklida : Identifikasi peradangan sinovium.
3. Atroskopi langsung : Visualisasi dari area yang menunjukkan
irregularitas/degenerasi tulang pada sendi.
4. Aspirasi cairan sinovial
5. Biopsi membran sinovial : Menunjukkan perubahan inflamasi dan perkembangan
panas. (Doengus, 2000).
G. Komplikasi
1. Penyakit batu ginjal
Asam urat dalam tubuh dikelurkan dalam bentuk air seni melalui ginjal. Dikarenakan
asam urat menciptakan endapan-endapan di dalam ginjal, terlebih jika kadarnya yang
tingi. Umumnya endapan-endapan tesebut berukuran mikro dan dapat secara alami
dikeluarkan melalui saluran kemih. Namun jika ukurannya terlalu besar, makan akan
menimbulkan penyakit batu ginjal.
2. Muculnya benjolan-benjolan tofi
Gumpalan yang terbentuk akibat endapan-endapan krisal asam urat dibawah kulit.
3. Kerusakan pada sendi
Kerusakan terjadi akibat penyakit gout yang tidak kunjung ditangani. Kristal-kristal
natrium urat yang terus menumpuk dan membentuk tofi didalam tulang rawan dan
tulang sendi, lambat laun akan terus merusak sendi dan bahkan kerusakan tersebut
pada akhirnya menjadi permanen. (www.alodokter.com)

9
H. Pathway

I. Penatalaksanaan
1. Pengobatan dengan serangan akut dengan Colchicine 0,9 mg (pemberian oral),
Colchicine 1,0-3,0 mg (dalam NaCl intravena), Phenilbutazone (Butazolidin),
Indometachin (Indocin).
2. Sendi diistirahatkan
3. Kompres dingin
4. Diet rendah purin
5. Analgesik dan antipiretik

10
6. Terapi pencegahan dengan meningkatkan ekskresi asam urat menggunakan
Probenecid (Benemid) 0,5 g/hari atau Sulfinpyrazole (Anturane) pada pasien yang
tidak terhadap Benemid atau menurunkan pembentukan asam urat dengan
Allopurinol (Zyloprim) 100mg 2 kali/hari. (Suratun, 2008).

11
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Pengkajian
Pengumpulan data klien, baik subjektif maupun objektif melalui anamnesis
riwayat penyakit, pengkajian psikososial, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
diagnostic.
a. Anamnesis : Identitas ( Meliputi nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama,
bahasa yang digunakan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi
kesehatan, golongan darah, nomor register, tanggal masuk rumah sakit, dan
diagnosis medis.
b. Riwayat penyakit sekarang : Riwayat penyakit apa saja adalah satu-satunya
faktor yang terpenting bagi petugas kesehatan dalam menegakan diagnosis
atau menentukan kebutuhan pasien dengan menggunakan konsep PQRST
(Smeltzer & Bere, 2012).
P : (Paliatif / provokatif), apakah yang menyebabkan keluhan dan
memperingan serta memberatkan keluhan.
Q : (Quality / Kwantity), seberapa berat keluhan dan bagaimana rasanya serta
berapa sering keluhan itu muncul.
R : (Region / Radiation), lokasi keluhan dirasakan dan juga arah penyebaran
keluhan sejauh mana.
S : (Scala / Severity), intensitas keluhan dirasakan, apakah sampai
mengganggu atau tidak.
T : (Timming), kapan keluhan dirasakan, seberapa sering, apakah berulang-
ulang, dimana hal ini menentukan waktu dan durasi.

c. Riwayat penyakit dahulu : Pada pengkajian ini, ditemukan kemungkinan


penyebab yang mendukung terjadinya gout ( misalnya penyakit gagal ginjal
kronis, leukemia, hiperparatiroidisme). Masalah lain yang perlu ditanyakan
adalah pernakah klien dirawat dengan maslah yang sama. Kaji adanya
pemakaian alkohol yang berlebihan, penggunaan obat diuretic.

12
d. Riwayat penyakit keluarga : Kaji adanya keluarga dari generasi terdahulu
yang mempunyai keluhan yang sama dengan klien karena klien gout
dipenagruhi oleh faktor genetic. Ada produksi/sekresi asam urat yang
berlebihan dan tidak diketahui penyebabnya.

e. Riwayat psikososial : Kaji respon emosi klien terhadap penyakit yang


dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat. Respon didapat
meliputi adanya kecemasan yang berbeda dan berhubungan erat dengan
adanya sensanyi nyeri, hambatan mobilitas fisik akibat respon nyeri, dan
ketidaktahuan akan program pengobatan dan prognosis penyakit dan
peningkatan asam urat pada sirkulasi. Adanya perubahan peran dalam
keluarga akibat adanya nyeri dan hambatan mobilitas fisik memberikan
respon terhadap konsep diri yang maladaptif.

f. Pemeriksaan diagnostic : Gambaran radiologis pada stadium dini terlihat


perubahan yang berarti dan mungkin terlihat osteoporosis yang ringan. Pada
kasus lebih lanjut, terlihat erosi tulang seperti lubang – lubang kecil ( punch
out ).

B. DIAGNOSA
1. Nyeri Akut b/d agen pencedera fisiologis d/d infeksi
2. Gangguan Mobilitas Fisik b/d nyeri
3. Defisit Pengetahuan b/d kurang terpapar informasi d/d kondisi klinis yang baru dihadapi
klien
C. INTERVENSI
No. LUARAN INTERVENSI
1. Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pemberian Analgesik
2x24 jam, tingkat nyeri mendapatkan
Observasi
hasil :
- Keluhan nyeri cukup menurun (4) - Identifikasi karakteristik nyeri
- Meringis cukup menurun (4) - Identifikasi riwayat alergi obat
- Sikap protektif cukup menurun (4) - Identifikasi kesesuaian jenis analgesic
- Gelisah cukup menurun (4) - Monitor TTV sebelum dan sesudah

13
- Kesulitan tidur cukup menurun (4) pemberian analgesic
- Monitor efektifitas analgesik
Terapeutik

- Diskusikan jenis analgesic yang


disukai untuk hasil optimal
- Pertimbangkan penggunaan infus
kontinu, atau bolus oploid untuk
mempertahankan kadar dalam serum
- Tetpkan target efektifitas analgesic
untuk mengoptimalkan respons pasien
Edukasi

- Jelaskan kegunaan obat dan efek


samping yang ditimbulkan
Kolaborasi

- Kolaborasi pemberian dosis dan jenis


analgesic, sesuai indikasi
2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan Dukungan Ambulasi
2x24 jam, mobilitas fisik mendapatkan Observasi
hasil : - Identifikasi adanya nyeri atau keluhan
- Pergerakan ekstremitas cukup fisik lainya
meningkat (4) - Identifikasi toleransi fisik melakukan
- Kekuatan otot cukup meningkat (4) ambulasi
- Rentang gerak cukup meningkat (4) - Monitor frekuensi jantung dan tekanan
darah sebelum memulai ambulasi
Terapeutik
- Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat
bantu
- Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik
- Libatkan keluarga untuk membantu pasien
dalam meningkat ambulasi
Edukasi

14
- Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
- Anjurkan melakukan ambulasi dini
- Ajarkan ambulasi sederhana yang harus
dilakukan
3. Setelah dilakukan tindakan keperawatan Edukasi Kesehatan
2x24 jam, Tingkat Pengetahuan Observasi
mendapatkan hasil : - Identifikasi kesiapan dan kemampuan
- Perilaku sesuai anjuran cukup menerima informasi
meningkat (4) - Identifikasi factor-faktor yang dapat
- Perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkatkan dan menurunkan motivasi
cukup menurun (4) perilaku hidup bersih dan sehat
- Pertanyaan tentang masalah yang Terapeutik
dihadapi cukup menurun (4) - Sediakan materi dan media Pendidikan
- Persepsi yang salah tentang masalah kesehatan
yang dihadapi cukup menurun (4) - Jadwalkan Pendidikan kesehatan sesuai
kesepakatan
Edukasi
- Jelaskan factor resiko yang dapat
mempengaruhi kesehatan
- Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
- Ajarkan strategi yang dapat digunakan
untuk meningkatkan perilaku hidup bersih
dan sehat

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

15
A. Kesimpulan
           
            Gejala arthritis akut disebabkan oleh reaksi inflamasi jaringan terhadap pembentukan kristal
monosodium urat monohidrat. Karena itu, dilihat dari penyebabnya, penyakit ini termasuk dalam
kelainan metabolik.
            Asam urat adalah produk sisa metabolisme purin. Pada keadaan normal terjadi
keseimbangan antara produksi dan ekskresi. Sekitar dua pertiga (2/3) Jumlah yang, diproduksi
setiap hari diekskresikan melalui ginjal dan sisanya melalui feses. Serum asam urat normal
dipertahankan antara 3,4 – 7,0 mg/dl pada pria dan 2,4 – 6,0 pada wanita, pada level lebih dari 7,0
mg/dl akan terbentuk kristal monosodium urat.
B.     Saran
            Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa saran sebagai bahan masukan
yang bermanfaat bagi usaha peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang akan datang,
diantaranya :
a)      Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau mengerti tentang rencana
keperawatan pada pasien dengan arthritis gout, pendokumentasian harus jelas dan dapat menjalin
hubungan yang baik dengan klien dan keluarga.
b)      Dalam rangka mengatasi masalah resiko injuri pada klien dengan arthritis gout maka tugas perawat
yang utama adalah sering mengobservasi akan kebutuhan klien yang mengalami rheumatoid artritis.

DAFTAR PUSTAKA

16
Anonim. 2009. Urtikaria. http://www.klikdokter.com/illness/detail/28

Carpenito, Lynda Juall. 1992. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis, Edisi 6.Jakarta
: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Guyton, Arthur C. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Hodijah. 2009. Urtikaria Kronik (Chronic Urticaria). http://www.kulitkita.com/2009/02/urtikaria-


kronik-chronic-urticaria.html

Suddarth, & Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Brunner & suddath.2012. Buku Ajar Bedah Medikal Bedah. Vol 3. Penerbit Buku Kedokteran.
EGC: Jakarta

Carpenito, Lynda Juall, 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. EGC : Jakarta

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3 jilid 2. Media Aesculapius FKUI : Jakarta

Helmi, Zairin Helmi. 2011. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Cetakan kedua. Jakarta :
Salemba Medika.

Rasjad, Chairuddin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi 3. Cetakan kelima.Jakarta : Yarsif
Watampone.

17