Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.

DENGAN DIAGNOSA MEDIS KISTOMA OVARII SUSPECT GANAS

DI RUANG BOUGENVILE 2 RSUP Dr. SARDJITO

Disusun Oleh :
Tegar Khusnul Qotimah
(P07120214036)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA


D-IV KEPERAWATAN
2016
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PRE OPERATIF PADA Ny. S

DENGAN DIAGNOSA MEDIS KISTOMA OVARII SUSPECT GANAS

DI RUANG BOUGENVILE I RSUP Dr. SARDJITO

Disusun Oleh :

Tegar Khusnul Qotimah


(P07120214036)

Disusun untuk memenuhi Tugas Praktik Klinik


Mata Kuliah Keperawatan Maternitas

Diajukan untuk disetujui pada :

Hari :

Tanggal :

Pembimbing Lapangan Pembimbing Pendidikan

Sutanti, AMKeb. Sari Candra Dewi, SKM, M.Kep


NIP.19760123 199903 2 002 NIP.197205272002122001
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kista Ovarium merupakan satu bentuk penyakit reproduksi yang
menyerang wanita. Kista atau tumor merupakan bentuk gangguan yang bisa
dikatakan adanya pertumbuhan sel-sel otot polos pada ovarium yang jinak.
Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan untuk menjadi tumor ganas atau
kanker. Perjalanan penyakit ini sering disebut silent killer atau secara diam-diam
menyebabkan banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terserang
kista ovarium dan hanya mengetahui pada saat kista sudah dapat teraba dari luar
atau membesar.
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2008, kista ovarium
merupakan penyebab kematian utama pada kasus keganasan ginekologi saat ini.
Kista ovarium merupakan kanker ke lima tersering yang menyebabkan kematian
wanita setelah kanker paru - paru, kolorental, payudara dan pangkreas.
Insidensinya pada wanita di bawah 50 tahun sebanyak 5,3 /100.000 dan
meningkat menjadi 41,4 /100 pada wanita di atas 50 tahun
(hhtp://www.pdfound.com, di akses 12 September 2016).

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
a) Memberikan asuhan keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa medis
kistoma ovarii suspensi ganas
2. Tujuan Khusus
b) Melakukan pengkajian keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa medis
kistoma ovarii suspensi ganas
c) Merumuskan diagnosa keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa medis
kistoma ovarii suspensi ganas
d) Merencanakan tindakan asuhan keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa
medis kistoma ovarii suspensi ganas
e) Melakukan tindakan asuhan keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa
medis kistoma ovarii suspensi ganas
f) Melakukan evaluasi keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa medis
kistoma ovarii suspensi ganas
g) Melakukan dokumentasi keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa medis
kistoma ovarii suspensi ganas

C. Manfaat
1. Untuk memberikan pengalaman dalam membuat asuhan keperawatan pada
pasien dengan kistoma ovarii suspense ganas
2. Untuk memberikan tindakan keperawatan yang yang diharapkan dapat
mengatasi masalah keperawatan pada kasus tersebut.
3. Untuk mengungkapakan faktor-faktor yang menghambat dan mendukung,
serta permasalahan yang muncul dari asuhan keperawatan yang diberikan.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat
tumbuh di mana saja dan jenisnya bermacam-macam (Jacoeb, 2007).
Kista adalah suatu bentukan yang kurang lebih bulat dengan dinding
tipis, berisi cairan atau bahan setengah cair (Sjamsuhidajat, 2010).
Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan/abnormal pada
ovarium yang membentuk seperti kantong. Kista ovarium secara fungsional
adalah kista yang dapat bertahan dari pengaruh hormonal dengan siklus
mentsruasi (Lowdermilk, dkk. 2005).

B. Etiologi
Menurut Manuaba (2008) Penyebab dari kista belum diketahui secara pasti
tapi ada beberapa faktor pemicu yaitu :
1. Gaya hidup tidak sehat. Diantaranya :
a. Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat
b. Zat tambahan pada makanan
c. Kurang olah raga
d. Merokok dan konsumsi alcohol
e. Terpapar dengan polusi dan agen infeksius
f. Sering stress
g. Zat polutan
2)      Faktor genetik
Dalam tubuh kita terdapat gen gen yang berpotensi memicu kanker,
yaitu yang disebut protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya
karena makanan yang bersifat karsinogen, polusi, atau terpapar zat
kimia tertentuatau karena radiasi, protoonkogen ini dapat berubah
menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.
C. Klasifikasi
Menurut (Manuaba, 2008), kista ovarium dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Kista non neoplasma. Disebabkan karena ketidak seimbangan hormon
esterogen dan progresterone diantaranya adalah :
a. Kista non fungsional. Kista serosa inklusi, berasal dari permukaan
epitelium yang berkurang di dalam korteks.
b. Kista fungsional
1) Kista folikel, disebabkan karena folikel yang matang menjadi
ruptur atau folikel yang tidak matang direabsorbsi cairan
folikuler di antara siklus menstruasi. Banyak terjadi pada
wanita yang menarche kurang dari 12 tahun.
2) Kista korpus luteum, terjadi karena bertambahnya sekresi
progesterone setelah ovulasi.
3) Kista tuba lutein, disebabkan karena meningkatnya kadar HCG
terdapat pada mola hidatidosa.
4) Kista stein laventhal, disebabkan karena peningkatan kadar LH
yang menyebabkan hiperstimuli ovarium.
2. Kista neoplasma
a. Kistoma ovarii simpleks adalah suatu jenis kista deroma serosum
yang kehilangan epitel kelenjarnya karena tekanan cairan dalam
kista.
b. Kistodenoma ovarii musinoum. Asal kista ini belum pasti, mungkin
berasal dari suatu teratoma yang pertumbuhanya I elemen
mengalahkan elemen yang lain
c. Kistadenoma ovarii serosum. Berasal dari epitel permukaan ovarium
(Germinal ovarium)
d. Kista Endrometreid. Belum diketahui penyebab dan tidak ada
hubungannya dengan endometroid
e. Kista dermoid. Tumor berasal dari sel telur melalui proses
patogenesis

D. Patofisiologi
Kista terdiri atas folikel – folikel praovulasi yang telah mengalami
atresia (degenerasi). Pada wanita yang menderita ovarium polokistik,
ovarium utuh dan FSH dan SH tetapi tidak terjadi ovulasi ovum. Kadar FSH
dibawah normal sepanjang stadium folikular daur haid, sementara kadar LH
lebih tinggi dari normal, tetapi tidak memperlihatkan lonjakan. Peningkatan
LH yang terus menerus menimbulkan pembentukan androgen dan estrogen
oleh folikel dan kelenjar adrenal. Folikel anovulasi berdegenerasi dan
membentuk kista, yang menyebabkan terjadinya ovarium polikistik. (Corwin,
2002)

Kista bermetastasis dengan invasi langsung struktur yang berdekatan


dengan abdomen dan pelvis dan sel – sel yang menempatkan diri pada
rongga abdomen dan pelvis. Penyebaran awal kanker ovarium dengan jalur
intra peritonial dan limfatik muncul tanpa gejala atau tanda spesifik.
Gejala tidak pasti yang akan muncul seiring dengan waktu adalah
perasaan berat pada pelvis. Sering berkemih dan disuria dan perubahan
fungsi gastro intestinal, seperti rasa penuh, mual, tidak enak pada perut,
cepat kenyang dan konstipasi. Pada beberapa perempuan dapat terjadi
perdarahan abnormal vagina skunder akibat hiperplasia endometrium, bila
tumor menghasilkan estrogen beberapa tumor menghasilkan testosteron dan
menyebabkan virilisasi. (Price, Wilson, 2005)
Kista nonneoplastik sering ditemukan, tetapi bukan masalah serius.
Kista folikel dan luteal di ovarium sangat sering ditemukan sehingga hampir
dianggap sebagai varian fisiologik. Kelainan yang tidak berbahaya ini
berasal dari folikel graaf yang tidak ruptur atau pada  folikel yang sudah
pecah dan segera menutup kembali. Kista demikian seringnya adalah
multipel dan timbul langsung di bawah lapisan serosa yang menutupi
ovarium, biasanya kecil, dengan diameter 1- 1,5 cm dan berisi cairan serosa
yang bening, tetapi ada kalanya penimbunan cairan cukup banyak, sampai
mencapai diameter 4 hingga 5 cm sehingga dapat di raba massa dan
menimbulkan nyeri panggul. Jika kecil, kista ini dilapisi granulosa atau sel
teka, tetapi seiring dengan penimbunan cairan timbul tekanan yang dapat
menyebabkan atropi sel tersebut. Kadang – kadang kista ini pecah,
menimbulkan perdarahan intraperitonium, dan gejala abdomen akut.
(Robbins, 2007)

E. Tanda dan Gejala


Kebanyakan kista ovarium tidak menunjukan tanda dan gejala.
Sebagian besar gejala yang ditemukan adalah akibat pertumbuhan aktivitas
hormon atau komplikasi tumor tersebut. Kebanyakan wanita dengan kanker
ovarium tidak menimbulakan gejala dalam waktu yang lama. Menurut Price,
Wilson (2005) Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik.
1. Tanda dan gejala yang sering muncul pada kista ovarium antara lain :
a. Menstruasi yang tidak teratur, disertai nyeri.
b. Perasaan penuh dan dtertekan diperut bagian bawah.
c. Nyeri saat bersenggama.
d. Perdarahan menstruasi yang tidak biasa. Mungkin pendarahan lebih
lama, mungkin lebih pendek, atau mungkin tiak keluar darah
menstruasi pada siklus biasa atau siklus menstruasi tidak teratur.
2. Pada stadium awal gejalanya dapat berupa:
a. Gangguan haid
b. Jika sudah menekan rectum mungkin terjadi konstipasi atau sering
berkemih.
c. Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang
menyebabkan nyeri spontan dan sakit diperut.
d. Nyeri saat bersenggma
3. Pada stadium lanjut :
a. Asites
b. Penyebaran ke omentum (lemak perut) serta oran organ di dalam
rongga perut (usus dan hati)
c. Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan,
d. Gangguan buang air besar dan kecil.
e. Sesak nafas akibat penumpukan cairan terjadi pada rongga dada
akibat penyebaran penyakit ke rongga dada yang mengakibatkan
penderita sangat merasa sesak nafas.
f. Sesak nafas akibat penumpukan cairan terjadi pada rongga dada
akibat penyebaran penyakit ke rongga dada yang mengakibatkan
penderita sangat merasa sesak nafas.

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Ultrasonografi (USG)
Tindakan ini tidak menyakitkan, alat peraba (transducer) digunakan untuk
mengirim dan menerima gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound)
yang menembus bagian panggul, dan menampilkan gambaran rahim dan
ovarium di layar monitor. Gambaran ini dapat dicetak dan dianalisis oleh
dokter untuk memastikan keberadaan kista, membantu mengenali
lokasinya dan menentukan apakah isi kista cairan atau padat. Kista berisi
cairan cenderung lebih jinak, kista berisi material padat memerlukan
pemeriksaan lebih lanjut.
2. Laparoskopi
Dengan laparoskopi (alat teropong ringan dan tipis dimasukkan melalui
pembedahan kecil di bawah pusar) dokter dapat melihat ovarium,
menghisap cairan dari kista atau mengambil bahan percontoh untuk
biopsi.
3. Hitung darah lengkap
Penurunan Hb dapat menunjukkan anemia kronis.
(Lowdermilk, dkk. 2005).

G. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan kista ovarii yang besar biasanya adalah pengangkatan
melalui tindakan bedah. Jika ukuran lebar kiste kurang dari 5 cm dan tampak
terisi oleh cairan atau fisiologis pada pasien muda yang sehat, kontrasepsi
oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan menghilangkan
kiste.
Perawatan paska operatif setelah pembedahan serupa dengan
perawatan pembedahan abdomen. Penurukan tekanan intraabdomen yang
diakibatkan oleh pengangkatan kiste yang besar biasanya mengarah pada
distensi abdomen yang berat, komplikasi ini dapat dicegah dengan pemakaian
gurita abdomen yang ketat (Arief, dkk. 2001).

H. Proses Penyembuhan Luka Post Operasi


Proses penyembuhan luka menurut Sjamsuhidajat (2010), dibedakan
berdasarkan waktu pada tiap-tiap fase penyembuhan dan waktu granulasi
jaringan.
Fase-fase penyembuhan luka antara lain :
1. Fase I
Pada fase ini Leukosit mencerna bakteri dan jaringan rusak terbentuk
fibrin yang menumpuk mengisi luka dari benang fibrin. Lapisan dari sel
epitel bermigrasi lewat luka dan membantu menutupi luka, kekuatan luka
rendah tapi luka dijahit akan menahan jahitan dengan baik.
2. Fase II
Berlangsung 3 sampai 14 hari setelah bedah, leukosit mulai menghilang
dan ceruk mulai kolagen serabut protein putih semua lapisan sel epitel
bergenerasi dalam satu minggu, jaringan ikat kemerahan karena banyak
pembuluh darah. Tumpukan kolagen akan menunjang luka dengan baik
dalam 6-7 hari, jadi jahitan diangkat pada fase ini, tergantung pada tempat
dan liasanya bedah.
3. Fase III
Kolagen terus bertumpuk, hal ini menekan pembuluh darah baru dan arus
darah menurun. Luka sekarang terlihat seperti berwarna merah jambu
yang luas, terjadi pada minggu ke dua hingga enam post operasi, pasien
harus menjaga agar tak menggunakan otot yang terkena.
4. Fase IV
Berlangsung beberapa bulan setelah pembedahan, pasien akan mengeluh,
gatal disekitar luka, walau kolagen terus menimbun, pada waktu ini
menciut dan menjadi tegang. Bila luka dekat persendian akan terjadi
kontraktur karena penciutan luka dan akan terjadi ceruk yang berlapis
putih.

I. Komplikasi
Menurut Manuaba (2008) komplikasi dari kista ovarium yaitu :
1. Perdarahan intra tumor
Perdarahan menimbulkan gejala klinik nyeri abdomen mendadak dan
memerlukan tindakan yang cepat.
2. Perputaran tangkai
Tumor bertangkai mendadak menimbulkan nyeri abdomen.
3. Infeksi pada tumor
Menimbulkan gejala: badan panas, nyeri pada abdomen, mengganggu
aktifitas sehari-hari.
4. Robekan dinding kista
Pada torsi tangkai ada kemungkinan terjadi robekan sehingga isi kista
tumpah kedalam rungan abdomen.
5. Keganasan kista ovarium
Terjadi pada kista pada usia sebelum menarche dan pada usia diatas 45
tahun.
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengakajian Keperawatan
Menurut Lowdermilk, dkk. (2005) beberapa hal yang perlu dikaji pada pasien
dengan kista ovaium adalah sebagai berikut :
1. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama dan
alamat, serta data penanggung jawab.
2. Keluhan klien saat masuk rumah sakit
Biasanya klien merasa nyeri pada daerah perut dan terasa ada massa di
daerah abdomen, menstruasi yang tidak berhenti-henti.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan yang dirasakan klien
b. Riwayat kesehatan dahulu
Sebelumnya tidak ada keluhan.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Kista ovarium bukan penyakit menular/keturunan.
d. Riwayat perkawinan
Kawin/tidak kawin ini tidak memberi pengaruh terhadap timbulnya
kista ovarium.
4. Riwayat kehamilan dan persalinan
Dengan kehamilan dan persalinan/tidak, hal ini tidak mempengaruhi
untuk tumbuh/tidaknya suatu kista  ovarium.

5. Riwayat menstruasi
Klien dengan kista ovarium kadang-kadang terjadi digumenorhea dan
bahkan sampai amenorhea.
6. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan mulai dari kepala sampai ekstremitas bawah secara sistematis.
a.       Kepala
– Hygiene rambut
– Keadaan rambut
b.      Mata
– Sklera                  : ikterik/tidak
– Konjungtiva        : anemis/tidak
– Mata                    : simetris/tidak
c.     Leher
– pembengkakan kelenjer tyroid
– Tekanan vena jugolaris.
d.      Dada
Pernapasan
– Jenis pernapasan
– Bunyi napas
– Penarikan sela iga
e.     Abdomen
– Nyeri tekan pada abdomen.
– Teraba massa pada abdomen.
f.     Ekstremitas
– Nyeri panggul saat beraktivitas.
– Tidak ada kelemahan.
g.     Eliminasi, urinasi
– Adanya konstipasi
– Susah BAK
7. Data Sosial Ekonomi
Kista ovarium dapat terjadi pada semua golongan masyarakat dan
berbagai tingkat umur, baik sebelum masa pubertas maupun sebelum
menopause.
8. Data Spritual
Klien menjalankan kegiatan keagamaannya sesuai dengan
kepercayaannya
9. Data Psikologis
Pada klien dengan kista ovarium yang ovariumnya diangkat maka hal ini
akan mempengaruhi mental klien yang ingin hamil/punya keturunan.
10. Pola kebiasaan Sehari-hari
Biasanya klien dengan kista ovarium mengalami gangguan dalam
aktivitas, dan tidur karena merasa nyeri
11. Pemeriksaan Penunjang
Data laboratorium
– Pemeriksaan Hb
– Ultrasonografi, untuk mengetahui letak batas kista.

B. Diagnosa Keperawatan
Menurut Amin (2015), diagnosa keperwatan yang mungkin muncul pada
pasien dengan kistoma ovarii, antara lain :
            1.      Preoperasi
a. Nyeri kronis b.d agen injuri biologi
b. Cemas b.d diagnosis dan rencana pembedahan
c. PK perdarahan
           2.      Post operasi
a. Nyeri akut b.d agen injuri fisik
b.  Resiko infeksi b.d tindakan invasif dan pembedahan
c.  Defisit perawatan diri b.d imobilitas (nyeri paska pembedahan)
C. Rencana Keperawatan
Pre Operasi
NO Diagnosa Tujuan Intervensi
. Keperawatan (NOC) (NIC)
1. Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama Pain Management
injuri biologi 3x24 jam diharapkan nyeri pasien berkurang – Lakukan pengkajian nyeri secara
NOC : komprehensif termasuk lokasi,
– Pain Level, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
– Pain control, dan faktor presipitasi
– Comfort level – Observasi reaksi nonverbal dari
Kriteria Hasil : ketidaknyamanan
– Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab – Gunakan teknik komunikasi terapeutik
nyeri, mampu menggunakan tehnik untuk mengetahui pengalaman nyeri
nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, pasien
mencari bantuan) – Kaji kultur yang mempengaruhi respon
– Melaporkan bahwa nyeri berkurang nyeri
dengan menggunakan manajemen nyeri – Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
– Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, – Evaluasi bersama pasien dan tim
frekuensi dan tanda nyeri) kesehatan lain tentang ketidakefektifan
– Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri kontrol nyeri masa lampau
berkurang – Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
– Tanda vital dalam rentang normal dan menemukan dukungan
– Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
– Kurangi faktor presipitasi nyeri
– Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologi, non farmakologi dan inter
personal)
– Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
– Ajarkan tentang teknik non farmakologi
– Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
– Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
– Tingkatkan istirahat
– Kolaborasikan dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

2 Kecemasan b.d Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)
diagnosis dan 3x 24 jam diharapakan cemasi terkontrol – Gunakan pendekatan yang menenangkan
pembedahan NOC : – Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
– Anxiety control pelaku pasien
– Coping – Jelaskan semua prosedur dan apa yang
Kriteria Hasil : dirasakan selama prosedur
– Klien mampu mengidentifikasi dan – Temani pasien untuk memberikan
mengungkapkan gejala cemas keamanan dan mengurangi takut
– Mengidentifikasi, mengungkapkan dan – Berikan informasi faktual mengenai
menunjukkan tehnik untuk mengontol diagnosis, tindakan prognosis
cemas – Dorong keluarga untuk menemani anak
– Vital sign dalam batas normal – Lakukan back / neck rub
– Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh – Dengarkan dengan penuh perhatian
dan tingkat aktivitas menunjukkan – Identifikasi tingkat kecemasan
berkurangnya kecemasan – Bantu pasien mengenal situasi yang
menimbulkan kecemasan
– Dorong pasien untuk mengungkapkan
perasaan, ketakutan, persepsi
– Instruksikan pasien menggunakan teknik
relaksasi
– Barikan obat untuk mengurangi
kecemasan

3 Pola Nafas tidak efektif Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama Airway Management
b.d penurunan ekspansi 3x24 jam diharapakan pola nafas efektif – Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift
paru (akumulasi NOC : atau jaw thrust bila perlu
udara/cairan) – Respiratory status : Ventilation – Posisikan pasien untuk memaksimalkan
– Respiratory status : Airway patency ventilasi
– Vital sign Status – Identifikasi pasien perlunya pemasangan
Kriteria Hasil : alat jalan nafas buatan
– Mendemonstrasikan batuk efektif dan – Pasang mayo bila perlu
suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis – Lakukan fisioterapi dada jika perlu
dan dyspneu (mampu mengeluarkan – Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
sputum, mampu bernafas dengan mudah, – Auskultasi suara nafas, catat adanya suara
tidak ada pursed lips) tambahan
– Menunjukkan jalan nafas yang paten – Lakukan suction pada mayo
(klien tidak merasa tercekik, irama nafas, – Berikan bronkodilator bila perlu
frekuensi pernafasan dalam rentang – Berikan pelembab udara Kassa basah
normal, tidak ada suara nafas abnormal) NaCl Lembab
– Tanda Tanda vital dalam rentang normal – Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
(tekanan darah, nadi, pernafasan) keseimbangan.
– Monitor respirasi dan status O2
Terapi Oksigen
– Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
– Pertahankan jalan nafas yang paten
– Atur peralatan oksigenasi
– Monitor aliran oksigen
– Pertahankan posisi pasien
– Observasi adanya tanda tanda
hipoventilasi
– Monitor adanya kecemasan pasien
terhadap oksigenasi
Vital sign Monitoring
– Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
– Catat adanya fluktuasi tekanan darah
– Monitor VS saat pasien berbaring, duduk,
atau berdiri
– Auskultasi TD pada kedua lengan dan
bandingkan
– Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama,
dan setelah aktivitas
– Monitor kualitas dari nadi
– Monitor frekuensi dan irama pernapasan
– Monitor suara paru
– Monitor pola pernapasan abnormal
– Monitor suhu, warna, dan kelembaban
kulit
– Monitor sianosis perifer
– Monitor adanya cushing triad (tekanan
nadi yang melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
– Identifikasi penyebab dari perubahan vital
sign
4 Kurang pengetahuan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama Teaching : disease Process
b/d keterbatasan 3x24 jam diharapakan pengetahuan klien – Berikan penilaian tentang tingkat
pengetahuan meningkat pengetahuan pasien tentang proses
penyakitnya, tindakan NOC : penyakit yang spesifik
yang dilakukan, obat – Kowlwdge : disease process – Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan
obatan yang diberikan, – Kowledge : health Behavior bagaimana hal ini berhubungan dengan
komplikasi yang Kriteria Hasil : anatomi dan fisiologi, dengan cara yang
mungkin muncul dan – Pasien dan keluarga menyatakan tepat.
perubahan gaya hidup pemahaman tentang penyakit, kondisi, – Gambarkan tanda dan gejala yang biasa
prognosis dan program pengobatan muncul pada penyakit, dengan cara yang
– Pasien dan keluarga mampu melaksanakan tepat
prosedur yang dijelaskan secara benar – Gambarkan proses penyakit, dengan cara
– Pasien dan keluarga mampu menjelaskan yang tepat
kembali apa yang dijelaskan perawat/tim – Identifikasi kemungkinan penyebab,
kesehatan lainnya. dengna cara yang tepat
– Sediakan informasi pada pasien tentang
kondisi, dengan cara yang tepat
– Hindari harapan yang kosong
– Sediakan bagi keluarga atau SO informasi
tentang kemajuan pasien dengan cara yang
tepat
– Diskusikan perubahan gaya hidup yang
mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan datang dan
atau proses pengontrolan penyakit
– Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
– Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion dengan cara
yang tepat atau diindikasikan
– Eksplorasi kemungkinan sumber atau
dukungan, dengan cara yang tepat
– Rujuk pasien pada grup atau agensi di
komunitas lokal, dengan cara yang tepat
– Instruksikan pasien mengenai tanda dan
gejala untuk melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan cara yang
tepat

Mc Closky & Bulechek. 2000; Meidian, JM. 2000


Post Operasi
NO Diagnosa Tujuan Intervensi
. Keperawatan (NOC) (NIC)
1. Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama Pain Management
injuri fisik 3x24 jam diharapkan nyeri pasien berkurang – Lakukan pengkajian nyeri secara
NOC : komprehensif termasuk lokasi,
– Pain Level, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
– Pain control, dan faktor presipitasi
– Comfort level – Observasi reaksi nonverbal dari
Kriteria Hasil : ketidaknyamanan
– Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab – Gunakan teknik komunikasi terapeutik
nyeri, mampu menggunakan tehnik untuk mengetahui pengalaman nyeri
nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, pasien
mencari bantuan) – Kaji kultur yang mempengaruhi respon
– Melaporkan bahwa nyeri berkurang nyeri
dengan menggunakan manajemen nyeri – Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
– Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, – Evaluasi bersama pasien dan tim
frekuensi dan tanda nyeri) kesehatan lain tentang ketidakefektifan
– Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri kontrol nyeri masa lampau
berkurang – Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
– Tanda vital dalam rentang normal dan menemukan dukungan
– Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
– Kurangi faktor presipitasi nyeri
– Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologi, non farmakologi dan inter
personal)
– Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
– Ajarkan tentang teknik non farmakologi
– Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
– Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
– Tingkatkan istirahat
– Kolaborasikan dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
2 Resiko infeksi b.d Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama Infection Control (Kontrol infeksi)
penurunan pertahanan 3x 24 jam diharapakan infeksi terkontrol – Bersihkan lingkungan setelah dipakai
primer NOC : pasien lain
– Immune Status – Pertahankan teknik isolasi
– Knowledge : Infection control – Batasi pengunjung bila perlu
– Risk control – Instruksikan pada pengunjung untuk
Kriteria Hasil : mencuci tangan saat berkunjung dan
– Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi setelah berkunjung meninggalkan pasien
– Mendeskripsikan proses penularan – Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci
penyakit, factor yang mempengaruhi tangan
penularan serta penatalaksanaannya, – Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah
– Menunjukkan kemampuan untuk tindakan kperawtan
mencegah timbulnya infeksi – Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat
– Jumlah leukosit dalam batas normal pelindung
– Menunjukkan perilaku hidup sehat – Pertahankan lingkungan aseptik selama
pemasangan alat
– Ganti letak IV perifer dan line central dan
dressing sesuai dengan petunjuk umum
– Gunakan kateter intermiten untuk
menurunkan infeksi kandung kencing
– Tingktkan intake nutrisi
– Berikan terapi antibiotik bila perlu

Infection Protection (proteksi terhadap


infeksi)
– Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik
dan lokal
– Monitor hitung granulosit, WBC
– Monitor kerentanan terhadap infeksi
– Batasi pengunjung
– Saring pengunjung terhadap penyakit
menular
– Partahankan teknik aspesis pada pasien
yang beresiko
– Pertahankan teknik isolasi k/p
– Berikan perawatan kuliat pada area
epidema
– Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan, panas, drainase
– Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
– Dorong masukkan nutrisi yang cukup
– Dorong masukan cairan
– Dorong istirahat
– Instruksikan pasien untuk minum
antibiotik sesuai resep
– Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan
gejala infeksi
– Ajarkan cara menghindari infeksi
– Laporkan kecurigaan infeksi
– Laporkan kultur positif

3 Defisit personal Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama Personal hyegene managemen
hyegene b.d imobilitas 3x24 jam diharapakan pasien menunjukkan – Kaji keterbatasan pasien dalam perawatan
(nyeri pembedahan) kebersihan diri diri
NOC : – Berikan kenyamanan pada pasien dengan
– Kowlwdge : disease process membersihkan tubuh pasien
– Kowledge : health Behavior (oral,tubuh,genital)
Kriteria Hasil : – Ajarkan kepada pasien pentingnya
– Pasien bebas dari bau menjaga kebersihan diri
– Pasien tampak menunjukkan kebersihan – Ajarkan kepada keluarga pasien dalam
– Pasien nyaman menjaga kebersihan pasien

Mc Closky & Bulechek. 2000; Meidian, JM. 2000


DAFTAR PUSTAKA

A.Price, Sylvia. 2006. Patofisiologi, kosep klinis proses-proses penyakit. Jakarta : EGC.
Doengoes, Marilyn E .2000. Rencana Asuhan keperawatan. Edisi 3. EGC. Jakarta.
Elizabeth J. Corwin. 2002. Buku Saku Patofisiologi.Jakarta: EGC.
Jacoeb, T.Z., 2007. Endokrinologi Reproduksi pada Wanita. Dalam: Wiknjosastro, H.,
Saifuddin, A.B., Rachimhadhi, T., eds. Ilmu Kandungan Ed 2. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Bobak, Lowdermilk.2005. Keperawatan Maternitas edisi 4. Jakarta:EGC.
Mansjoer, Arief dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapus.
Manuaba. 2008. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana.
Jakarta:EGC.
Mc Closky & Bulechek. 2000. Nursing Intervention Classification (NIC). United States of
America:Mosby.
Meidian, JM. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). United States of
America:Mosby.
Price, A. Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Proses-Proses Penyakit, Edisi 4. Jakarta :
EGC
Robbins, dkk., 2007.Buku Ajar Patologi. Volume 2. Edisi 7. Penerbit buku Kedokteran
EGC. Jakarta
Sjamsuhidajat R, de Jong W.2010. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi II. Jakarta :EGC.
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
Hari, Tanggal :
Jam :
Tempat :
Oleh :
Sumbe data :
Metode pengumpulan data :

1. Identitas
a. Identitas Klien
Nama :
Tempat, tanggal lahir :
Umur :
Jenis kelamin :
Agama :
Status perkawinan :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Suku/kebangsaan :
Alamat :
Diagnosis Medis :
No. RM :
Tanggal masuk :
Tanggal pengkajian :
b. Identitas Penanggung Jawab
Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Pekerjaan :
Pendidikan :
Alamat :