Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH TERAPI KOMPLEMENTER SENAM OTAK

DISUSUN OLEH :

Disusun Oleh :

1. Dwi Klara Ningsih (1703011)


2. Adina Kurnia Putri (1703068)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
2020

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmatNya sehingga makalah ini dapat tersusun sehingga dapat menyelesaikan
makalah ini tentang Terapi Komplementer Senam Otak. Makalah ini disusun
untuk memenuhi salah satu tugas Keperawatan Komunitas agar proses
perkuliahan berjalan dengan lancar.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapat dukungan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan terimakasih kepada :
1. Bapak Dr. FeryAgusman MM, M.Kep, Sp.Kom selaku ketua Yayasan
Stikes Karya Husada yang memberikan sarana dan prasarana di
kampus.
2. Ibu Ns. Umi Hani, M.Kep., Sp. Kep. Kom selaku dosen pembimbing
kami yang memberikan bimbingan, masukan kepada kami.
3. Ibu Eni Kusyati S.Kep, M.Si.Med selaku dosen wali yang banyak
memberikan materi pendukung, masukan, bimbingan kepada kami.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tatabahasanya.Oleh karena itu
kami sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca demi kempurnaan
makalah ini.

Semarang, Maret 2020

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................2
DAFTAR ISI............................................................................................................3
BAB I.......................................................................................................................4
PENDAHULUAN...................................................................................................4
A. Latar Belakang..............................................................................................4
B. Rumusan Masalah.........................................................................................5
C. Tujuan...........................................................................................................5
BAB II......................................................................................................................6
TINJAUAN TEORI.................................................................................................6
A. Pengertian Terapi Komplementer.............................................................6
B. Jenis-Jenis Terapi Komplementer.............................................................6
C. Fokus Terapi Komplementer.....................................................................8
D. Peran Perawat Dalam Terapi Komplementer............................................8
E. Teknik Terapi Komplementer...................................................................9
F. Pengertian Terapi Senam Otak (Brain Gym)..........................................10
G. Tujuan Terapi Komplementer Senam Otak (Brain Gym).......................11
H. Indikasi dan Kontra Indikasi...................................................................11
I. Standar Operasional Prosedure (SOP) Terapi Komplementer Senam
Otak (Brain Gym)...........................................................................................12
BAB III..................................................................................................................27
PENUTUP..............................................................................................................27
A. Kesimpulan..............................................................................................27
B. Saran........................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................28

3
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Senam otak merupakan serangkaian gerakan yang digunakan untuk
meningkatkan daya ingat dan konsentrasi seseorang. Senam otak
memiliki beberapa manfaat yaitu, dapat mengasah sensitivitas telinga
untuk mendengar sehingga kemampuan pendengaran makin tajam,
merangsang bagian otak yang menerima informasi (receptive) dan
bagian yang menggunakan informasi (expressive) sehingga memudahkan
proses mempelajari hal-hal baru, dan dapat mengembalikan vitalitas
otak setelah serangkaian aktivitas yang melelahkan, menghilangkan
stress, meningkatkan konsentrasi dan perhatian serta meningkatkan
kemampuan memahami dan berpikir rasional.
Paul E. Denisson, seorang ahli kinesiology (Ilmu Gerak)
Amerika Serikat, menemukan bahwa gerakan-gerakan tertentu dapat
membantu mengoptimalkanfungsi dan integritas otak. Ia mengamati
adanyahubungan antara bergerak, kemampuan bahasa, dan akademik.
Menurutnya, gerakan tubuh lateral akan mengintegrasikan saraf otak
bagian keseimbangan, otak kecil, dan otak tengah sekaligus pula otak
luar kanan dan kiri (bagian sensorik dan motorik). Serangkaian
gerakan ini ia populerkan dengan istilah senam otak (Dince, 2012).
Senam otak mudah dilakukan oleh semua kalangan, tidak ada
batasan usia untuk melakukan latihan senam otak, mulai dari anak
yang berusia dibawah 5 tahun sampai mereka yang berusia lanjutdapat
melakukannya (Bintarti, 2012). Para orang tua diyakini bisa mengajarkan
terapi senam otak ini terhadap anak-anak tuna grahita. Senam ini
dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja serta tanpa
menggunakan alat. Gerakan yang relatif ringan serta tanpa bantuan
alat apapun membuat waktu terapi lebih singkat. Para orang tua
cukup menjalankan terapi selama kurang lebih 10-15 menit dan dapat
dilakukan 2 atau 3 kali sehari (Anonim, 2015).

4
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian terapi komplementer?
2. Apa saja jenis terapi komplementer?
3. Apa saja fokus terapi komplementer?
4. apa saja peran perawat dalam terapi komplementer?
5. Ada berapakah teknik terapi komplementer?
6. Apa pengertian dari senam otak (brain gym)?
7. Apa saja tujuan dari terapi komplementer senam otak (brim gym)?
8. Apa saja indikasi dan kontra indikasi dari terapi komplementer senam
otak (brain gym)?
9. Bagaimana Standar Operasional Prosedure/SOP dari terapi
komplementer senam otak (brain gym)?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian komplementer
2. Untuk mengetahui jenis terapi komplementer
3. Untuk mengetahui fokus terapi komplementer
4. Untuk mengetahui peran perawat dalam terapi komplementer
5. Untuk mengetahui teknik terapi komplementer
6. Untuk mengetahui pengertian dari senam otak (brain gym)
7. Untuk mengetahui tujuan dari terapi komplementer senam otak (barin
gym)
8. Untuk mengetahui indikasi dan kontra indikasi dari terapi
komplementer senam otak (brain gym)
9. Untuk mengetahui Standar Operasional Prosedure/SOP dari terapi
komplementer senam otak (brain gym)

5
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Terapi Komplementer


Terapi komplementer adalah sebuah kelompok dari macam-macam
sistem pengobatan dan perawatan kesehatan, praktik dan produk yang
secara umum tidak menjadi bagian dari pengobatan konvensional. Terapi
komplementer dikenal dengan terapi tradisional yang digabungkan dalam
pengobatan modern. Komplementer adalah penggunaan terapi tradisional
ke dalam pengobatan modern. Terminologi ini dikenal sebagai terapi
modalitas atau aktivitas yang menambahkan pendekatan ortodoks dalam
pelayanan kesehatan. Terapi komplementer juga ada yang menyebutnya
dengan pengobatan holistik. Pendapat ini didasari oleh bentuk terapi yang
mempengaruhi individu secara menyeluruh yaitu sebuah keharmonisan
individu untuk mengintegrasikan pikiran, badan, dan jiwa dalam kesatuan
fungsi

Pendapat lain menyebutkan terapi komplementer dan alternatif


sebagai sebuah domain luas dalam sumber daya pengobatan yang meliputi
sistem kesehatan, modalitas, praktik dan ditandai dengan teori dan
keyakinan, dengan cara berbeda dari sistem pelayanan kesehatan yang
umum di masyarakat atau budaya yang ada (Complementary and
alternative medicine/CAM Research Methodology Conference, 1997
dalam Snyder & Lindquis, 2002). Terapi komplementer dan alternatif
termasuk didalamnya seluruh praktik dan ide yang didefinisikan oleh
pengguna sebagai pencegahan atau pengobatan penyakit atau promosi
kesehatan dan kesejahteraan.

B. Jenis-Jenis Terapi Komplementer


1. Komplementer Medik
Jenis tindakan ini berdasarkan pada ilmu biomedik dan telah diterima
oleh kedokteran konvensional dan dalam penyelenggaraanya dilakukan
oleh dokter, dokter gigi dan tenaga kesehatan lainya yang memiliki

6
sertifikat kompetensi dan keahlian khusus di bidang pengobatan
komplementer. Peraturan ini diatur melalui Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1109/MENKES/per/2007
tentang Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer-Altenatif Di
Fasilitas Pelayanan Kesehehatan. Dokter berperan sebagai leader atau
yang bertanggung jawab terhadap tindakan komplementer yang
diberikan kepada klien. Kedudukan tenaga kesehatan lainya yang ikut
berperan didalam terapi ini adalah perawat, bidan, fisioterapi yang
mempunyai sertifikat kompetensi dan diakui oleh organisasi profesi
maupun lembaga yang berwenang dalam uji kompetensi tersebut.
Berbeda dengan tindakan komplementer keperawatan, pada tindakan
komplementer medis ini diselenggarakan di fasilitas pelayanan
kesehatan: Rumah Sakit, praktik berkelompok maupun perorangan dan
harus mempunyai dokter penanggung jawab. Perawat dapat
melakukkan tindakan komplementer medik dengan menjadi pembantu
dokter (assisten) dalam menjalankan tindakan komplementer tersebut.
2. Komplementer Tradisional Alternatif
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan, definisi pengobatan
komplementer tradisional alternatif adalah pengobatan non
konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif
yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas,
keamanan dan efektifitas yang tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan
biomedik tapi belum diterima dalam kedokteran konvensional. Dalam
penyelenggaraannya harus sinergi dan terintegrasi dengan pelayanan
pengobatan konvensional dengan tenaga pelaksananya dokter, dokter
gigi dan tenaga kesehatan lainnya yang memiliki pendidikan dalam
bidang pengobatan komplementer tradisional alternatif. Jenis
pengobatan komplementer tradisional alternatif yang dapat
diselenggarakan secara sinergi dan terintegrasi harus ditetapkan oleh
Menteri Kesehatan setelah melalui pengkajian.

7
Jenis pelayanan pengobatan komplementer alternatif berdasarkan
Permenkes RI, Nomor: 1109/Menkes/Per/2007 adalah:
1. Intervensi tubuh dan pikiran (mind and body interventions):
hipnoterapi, mediasi, penyembuhan spiritual, doa dan yoga
2. Sistem pelayanan pengobatan alternatif: akupuntur, akupresur,
naturopati, homeopati, aromaterapi, ayurveda
3. Cara penyembuhan manual: chiropractice, healing touch, tuina,
shiatsu, osteopati, pijat urut
4. Pengobatan farmakologi dan biologi: jamu, herbal, gurah
5. Diet dan nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan: diet makro
nutrient, mikro nutrient
6. Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan: terapi ozon, hiperbarik,
EECP

C. Fokus Terapi Komplementer


1. Pasien dengan penyakit jantung
2. Pasien dengan autis dan hiperaktif
3. Pasien kanker

D. Peran Perawat Dalam Terapi Komplementer


a. Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan
(Didukung oleh teori keperawatan berdasarkan Teori Orem (1971).
Tujuan keperawatan adalah untuk merawat dan membantu klien
mencapai perawatan diri secara total. Nightingale (1860) Tujuan
keperawatan untuk pasilitasi proses penyebuhan tubuh dengan
memanipulasi lingkungan klien. Rogers (1970) Untuk
mempertahankan dan meningkatkan kesehatan,mencegah kesakitan,
dan merawat serta merehabilitasi klien yang sakit dan tidak mampu
dengan pendekatan humanistic keperawatan). Peran sebagai pemberi
asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan
memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan
melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan
proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan

8
agar bisa direncakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai
dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi
tingkat perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan ini
dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
b. Peran sebagai advokat klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga
dalam menginterpretasikan berbagia informasi dari pemberi pelayanan
atau informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas
tindakan keperawatan berkaitan dengan terapi komplementer yang
diberikan kepada pasiennya, juga dapat berperan mempertahankan dan
melindungi hak-hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-
baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak
untuk menentukan nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi
akibat kelalaian.
c. Peran sebagai educator
Didukung oleh Teori Peplau (1952). Tujuan keperawatan untuk
mengembangkan interaksi antara perawat dan klien. King (1971),
tujuan keperawatan untuk memanfaatkan komunikasi dalam membantu
klien mencapai kembali adaptasi secara positif terhadap lingkungan.
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan
tingkat pengetahuan kesehatan mengenai terapi komplementer, gejala
penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehingga terjadi perubahan
perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

E. Teknik Terapi Komplementer


Di Negara Indonesia terdapat 3 jenis teknik pengobatan komplementer
medis yang telah diintegrasikan ke dalam pelayanan medis konvensional,
yaitu:
1. Akupunktur medik yaitu metode pengobatan alternatif yang telah
dilandasi dengan ilmu biomedik serta bersinergis dengan pengobatan
konvensional. Disebut pengobatan alternative karena akupuntur adalah
pengobatan tradisional dari Cina yang digunakan di Indonesia.

9
Akupuntur bermanfaat dalam mengatasi berbagai kondisi kesehatan
tertentu dan juga sebagai analgesi (pereda nyeri).
2. Terapi hiperbarik, yaitu metode terapi dimana pasien berada di dalam
sebuah ruangan dan diberikan tekanan oksigen murni. Terapi ini sering
digunakan pada pasien dengan kasus gangren untuk mencegah
amputasi.
3. Terapi herbal medik, yaitu terapi dengan menggunakan obat bahan
alam, baik berupa herbal terstandar dalam kegiatan pelayanan
penelitian maupun berupa fitofarmaka.

F. Pengertian Terapi Senam Otak (Brain Gym)


Senam otak adalah serangkaian latihan gerakan tubuh sederhana
yang dilakukan untuk merangsang otak kiri dan kanan (dimensi lateralis),
meringankan atau merelaksasi bagian depan dan belakang otak (dimensi
pemfokusan), serta merangsang sistem yang terkait dengan perasaan atau
emosi, yaitu otak tengah (limbik) dan otak besar (dimensi pemusatan).
Brain gym (senam otak) merupakan latihan yang terangkai dari
gerakan tubuh yang dinamis, yang memungkinkan keseimbangan aktivitas
kedua belahan otak secara bersamaan. Gerakan ini merangsang seluruh
bagian otak untuk bekerja. Senam otak, mengaktifkan tiga dimensi, yakni
lateralitas komunikasi, pemfokusan-pemahaman, dan pemusatan-
pengaturan (Dennison, 2002). Brain Gym mengoptimalkan otak belahan
kanan secara garis besar bertugas mengontrol badan bagian kiri, serta
berfungsi untuk intuitif, merasakan, bermusik, menari, kreatif, dan melihat
keseluruhan.
Gerakan senam otak bisa membantu menyeimbangkan kedua
belahan otak, mempertajam konsentrasi, meredakan ketegangan otot
(relaksasi), mempertajam daya ingat. Dampak senam otak tidak saja akan
memperlancar aliran darah dan oksigen ke otak, tetapi juga merangsang
kedua belahan otak untuk bekerja (Sapardjiman, 2003).
Senam otak atau lebih dikenal dengan Brain Gym adalah gerakan-
gerakan ringan dengan permainan melalui olah tangan dan kaki dapat
memberikan rangsangan atau stimulus pada otak. Gerakan yang

10
menghasilkan stimulus itulah yang dapat membantu meningkatkan fungsi
kognitif dan menunda penuaan dini dalam arti menunda pikun atau
perasaan kesepian yang biasanya menghantui para manula (Gunadi, 2009).
Terapi senam otak (brain gym) adalah senam yang bertujuan
untuk memicu otak agar tidak kehilangan daya intelektual dan wareness.
Senam otak (brain gym) adalah senam rigan yang dilakukan dengan
gerakan menyilang, agar terjadi harmonisasi dan optimalisasi kinerja
otak kanan dan kiri (Budhi, 2010).

G. Tujuan Terapi Komplementer Senam Otak (Brain Gym)


1. Meningkatkan kemampuan membaca, mengeja, komprehensi menulis
tangan dan membuat tulisan
2. Meningkatkan kemampuan kognitif
3. Meningkatkan kepercayaan diri, koordinasidan komunikasi
4. Meningkatkan konsentrasi dan memori
5. Mengurangi hiperaktifitas
6. Mencegah autisme
7. Mengatasi stress dan mencapai suatu tujuan
8. Meningkatkan motivasi dan mengembangkan kepribadian
9. Meningkatkan keterampilan organisasi
10. Meningkatkan penampilan

H. Indikasi dan Kontra Indikasi


a. Indikasi :
1. Klien dengan proses pencapaian tumbuh kembang
2. Klien dengan stress
3. Klien dengan trauma psikologis
4. Klien dengan demensia
b. Kontra Indikasi :
1. Klien dengan kelemahan fisik berat
2. Klien yang memiliki gangguan jantung

11
I. Standar Operasional Prosedure (SOP) Terapi Komplementer Senam
Otak (Brain Gym)
Senam otak dapat mengaktifkan tiga dimensi fungsi otak. Menurut
Dennison (2003) dalam Setianingsih (2012), tiga dimensi fungsi otak yang
diaktifkan antara lain:

SENAM OTAK (BRAIN GYM)

Tanggal Terbit Ditetapkan Oleh


Ketua STIKES karya Husada
STANDAR Semarang
OPERASIONAL
PROSEDUR
Dr. Fery Agusman MM, M.Kep,
Sp.Kom
Senam otak adalah serangkaian latihan gerakan tubuh
sederhana yang dilakukan untuk merangsang otak kiri dan
kanan (dimensi lateralis), meringankan atau merelaksasi
PENGERTIAN bagian depan dan belakang otak (dimensi pemfokusan),
serta merangsang sistem yang terkait dengan perasaan atau
emosi, yaitu otak tengah (limbik) dan otak besar (dimensi
pemusatan)
1. Meningkatkan kemampuan membaca, mengeja,
komprehensi menulis tangan dan membuat tulisan
2. Meningkatkan kemampuan kognitif
TUJUAN
3. Meningkatkan kepercayaan diri, koordinasidan
komunikasi
4. Meningkatkan konsentrasi dan memori
1. Klien dengan proses pencapaian tumbuh kembang
2. Klien dengan stress
INDIKASI
3. Klien dengan trauma psikologis
4. Klien dengan demensia
KONTRA 1. Klien dengan kelemahan fisik berat
INDIKASI 2. Klien yang memiliki gangguan jantung
PETUGAS Perawat
PERALATAN 1. Matras

12
2. Papan tulis
3. Spidol
4. Kertas
5. Bolpin
6. Kursi
PROSEDUR A. TAHAP ORIENTASI
PELAKSANAAN
1. Mengucapkan salam
2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan tujuan
4. Jelaskan prosedur
5. Menanyakan kesiapan pasien
B. TAHAP KERJA
a. Lateralisasi-komunikasi (otak kanan-kiri) atau
gerakan dari sisi ke sisi atau menyeberang garis
tengah
Kerjasama antara otak kanan dan kiri pada individu
dapat meningkatkan kemampuan individu tersebut.
Dimensi ini dinamakan komunikasi karena
gerakannya mengaktifkan kerjasama otak yang
berhubungan dengan pengolahan informasi, termasuk
ekspresi verbal dan nonverbal (mendengar, melihat,
menulis, bergerak). Dimensi ini meliputi 11 gerakan
yaitu:
1. Tahap Pertama : Gerakan Silang
a. Mulailah dengan posisi berdiri, lutut
kanan diangkat dan sentuh dengan tangan
kiri
b. Angkat lutut kiri dan sentuh dengan
tangan kanan
c. Ulangi sebanyak 3 kali
Manfaatnya: gerakan ini melatih daya
penglihatan, pendengaran, dan perabaan
2. Tahap Kedua : Gerakan Angka 8 Tidur

13
a. Siapkan papan tulis, spidol, bolpoin, dan
kertas
b. Buat sebuah titik sebagai titik tengah
untuk acuan menggambar angka 8 tidur
c. Arahkan tangan kanan untuk membentuk
setengah angka 8 kekanan dan dimulai
dari titik tengah dan kembali ke titik
tengah lagi. Gerakan ini diulangi lagi
pada belahan angka 8 tidur sebelah kiri
d. Ulangi 3 kali
Manfaatnya: Gerakan angka 8 tidur memiliki
manfaat untuk mengintegrasikan kinerja otak
kanan dan kiri, meningkatkan koordinasi otot
mata, meningkatkan kedalaman persepsi dan
kemampuan ingatan asosiatif dalam jangka waktu
yang panjang (Gunadi, 2010dalam Setianingsih,
2012).
3. Tahap Ketiga : Gerakan Coretan ganda
a. Sediakan kertas dan dua bolpoin
b. Gambar dua lingkaran secara bersamaan
c. Ulangi gerakan, bila memungkinkan
gambar bisa berbeda
Manfaatnya: Gunadi (2010) dalam Setianingsih
(2012) menyatakan bahwa gerakan ini
membutuhkan konsentrasi agardapat
menghasilkan coretan yang seimbang di
kanan dan kiri.
4. Tahap Keempat : Gerakan Telinga Gajah
a. Gerakan kepala keatas, bawah, kanan, dan
kiri secara berulang-ulang
b. Berikan kertas dan spidol
c. Gambar angka 8 tidur di kertas. Angka 8

14
tidur berbentuk seperti dua lingkaranbesar
yang digambar dengan posisi ujung-
ujungnya saling bertemu dan membentuk
garis tengah
d. Tekuk lutut, mulai menggambar setengah
angka 8 tidur disebelah kanan atau kiri
terlebih dahulu. Jika menggunakan tangan
kanan, maka kepala menempelkan bahu
kanan, demikian juga pada sebelah kiri.
Manfaatnya: Dennison (2003) dalam Setianingsih
(2012), mengatakan bahwa gerakan telinga gajah
dapat mengaktifkan bagian dalam telinga untuk
keseimbangan yang lebih baik, mengintegrasikan
otak untuk mendengar kedua telinga.
5. Tahap Kelima : Gerakan Pernapasan Perut
a. Ambil posisi berdiri tegak
b. Ambil nafas melalui hidung dan
mengeluarkan melalui mulut secara
perlahan
c. Letakkan tangan dibagian bawah perut
untuk merasakan kembang kempisnya perut
d. Tarik nafas sambil menghitung 1, 2, 3
e. Tahan nafas selama 3 detik dan
menghembuskan pelan-pelan dalam 3
hitungan
f. Ulangi gerakan dengan pengaturan nafas
yang berbeda yaitu tarik nafas dalam 2
hitungan dan hembuskan nafas dalam 4
hitungan tanpa menahan nafas
g. Ulangi kedua prosedur diatas
Manfaatnya: Gerakan pernafasan perut adalah
gerakan menahan nafas di perut dengan

15
tujuan mengorganisasi pernafasan sehingga
semua kegiatan yang berhubungan dengan
nafas menjadi lebih lancar.
6. Tahap Keenam : Gerakan Olengan Pinggul
a. Duduk diatas alas
b. Letakkan tangan dibelakang punggung
dan tekuklah kedua siku sambilmengangkat
pinggul
c. Setelah pinggul diangkat, goyangkan
pinggul kekanan dan kekiri disusuldengan
gerakan memutar pinggu
d. Ulangi gerakan tersebut 3 kali
Manfaatnya: Gerakan ini bermanfaat
melancarkan peredaran cairan serebrospinal di
tulang belakang, menstimulasi tubuh agar
bekerja dengan lebih efisien, meningkatkan
kemampuan belajar dan daya ingat,
meningkatkan kemampuan melihat dari kanan
dan kiri, meningkatkan kemampuan untuk
memperhatikan dan memahami.
7. Tahap Ketujuh : Gerakan Putar Leher
a. Posisi duduk dengan santai
b. Pejamkan kedua mata, tarik nafas dalam-
dalam, tundukkan kepala kedepan
c. Putar leher ke arah kanan dan terus kekiri
sehingga menbentuk setengah lingkaran
d. Lakukan prosedur diatas dengan mata
terbuka
e. Ulangi langkah tersebut
Manfaatnya: Gerakan putar leher dapat
membantu mengembangkan posisi
keseimbangan dari lidah, tengkuk dan leher,

16
memperbaiki pernafasan.
8. Tahap Kedelapan : Gerakan Memikirkan Huruf X
Langkah-langkah untuk melakukan gerakan
memikirkan huruf X, hanya diperlukan
membayangkan huruf X sambil melihat
kelangit-langit ruangan atau ke sudut tertentu.
Manfaatnya: Gerakan ini dapat bermanfaat
untuk menyelaraskan kinerja otak kanan dan
kiri, membantu proses transfer informasi yang
melewati jembatan pada belahan otak besar,
mengoordinasikan seluruh tubuh, membantu
menyamakan pendengaran kedua telinga.
9. Tahap Kesembilan : Gerakan Mengisi Energi
a. Sediakan kursi dan meja didepannya
b. Letakkan kedua telapak tangan diatas meja
dengan bahu membuka
c. Bernafas secara perlahan
d. Ulangi gerakan tersebut 3 kali
10. Gerakan Menulis Huruf Dalam Kurva Angka
8
a. Siapkan spidol dan papan tulis serta bolpoin
dan kertas
b. Gambar angka 8 tidur
c. Tulis huruf alfabet dalam perut kedua
belahan angka 8 tidur
d. Penulisan huruf diletakkan dalam kurva
terpisah, huruf d dan g harus ditulis disisi
kurva sebelah kiri dan huruf b dan p ditulis
disisi kurva sebelah kanan
Manfaatnya: Manfaat dari gerakan ini adalah
melatih otak untuk mengikui pola tulisan sesuai
dengan lengkungan kurva, meningkatkan

17
konsentrasi, meningkatkan keterampilan motorik
halus, mengembangkan keterampilan visual.
11. Gerakan Mengaktifkan Tangan
a. Posisi duduk, luruskan tangan kiri keatas
disamping telinga;
b. Pegang siku tangan kiri dengan tangan kanan
melalui belakang kepala
c. Gerakkan tangan kiri kesamping kanan, kiri,
depan dan belakang sambil ditahan dengan
tangan kanan;
d. Pada saat melakukan gerakan, hembuskan
nafas pelan pada hitungan ke 8;
e. Lakukan gerakan selama beberapa kali;
f. Putar bahu setelah gerakan mengaktifkan
tangan selesai;
g. Ulangi gerakan diatas dengan menggunakan
tangan kanan.
Manfaat : memperbaiki kelenturan dan
fleksibilitas lengan dan tangan,
mengoordinasikan kemampuan mata dan tangan
dalam menggunakan alat tertentu
b. Pemfokusan-pemahaman (dimensi otak depan-
belakang) atau gerakan meregangkan otot
Gerakan pada dimensi ini adalah gerakan
meregangkan otot yang menyangkut atensi atau
perhatian dan pemahaman. Gerakan ini dapat
menunjang kesiapan untuk menerima hal yang baru
dan mengekspresikan hal yang sudah diketahui.
Macam gerakannya antara lain:
1. Gerakan Burung Hantu
a. Pijat bahu kanan agar otot leher yang tegang
menjadi rileks;

18
b. Hadapkan kepala kedepan;
c. Gerakkan kepala kearah kanan secara
perlahan sambil menghembuskan nafas;
d. Gerakkan kepala kembali lurus ke depan
sambil menarik nafas (menarik nafas selalu
ketika kepala menghadap kedepan
menghembuskan nafas ketika kepala
digerakkan kekanan atau kekiri);
e. Ulangi gerakan 3 kali
Manfaat : mengasah keterampilan penglihatan,
pendengaran, dan putaran kepala.
2. Gerakan Pompa Betis
a. Siapkan sebuah kursi sebagai pegangan;
b. Tekuk kaki kanan kedepan dan luruskan kaki
kiri kebelakang sehingga membentuk garis
lurus dengan punggung;
c. Angkat tumit kaki belakang sehingga beban
tubuh disangga oleh kaki depan ambil
menarik nafas perlahan-lahan;
d. Beban diganti ke kaki belakang saat tumit
ditekan ke lantai, sambil menghembuskan
nafas perlahan-lahan;
e. Ulangi gerakan 3 kali.
Manfaat : membantu memahami suatu bacaan
dan mendengarkan dengan seksama,
mengintegrasikan otak belakang dan otak besar.
3. Gerakan Luncuran Gravitasi
a. Duduklah di kursi sambil meluruskan ke
depan;
b. Silangkan kaki kanan di atas kaki kiri sambil
membungkukkan badan kedepan;
c. Julurkan kedua tangan kedepan dan kebawah

19
sambil menundukkan kepala. Hembuskan
nafas sewaktu menjulurkan tangan ke depan;
d. Setelah mengulurkan tangan ke bawah,
angkatlah lengan dan tubuh bagian atas
sambil menarik nafas;
e. Ulangi gerakan 3 kali.
Manfaat : menyeimbangkan dan
mengoordinasikan kinerja otak, meningkatkan
kemampuan mengorganisasi energi,
meningkatkan kemampuan penglihatan,
mengatur nafas, meningkatkan kepercayaan diri
dan ekspresi diri.
4. Gerakan Lambaian Kaki
a. Duduk dengan nyaman diatas bangku atau
kursi yang disediakan;
b. Letakkan pergelangan kaki kanan diatas kaki
kiri;
c. Cari titik yang menyebabkan otot kaki terasa
tegang dan pijit perlahan-lahan
d. Lambaikan telapak kaki kanan ke atas dan ke
bawah sambil memijatnya dengan lembut;
e. Ulangi gerakan 3 kali.
Manfaat : meningkatkan relaksasi otot,
menstimulasi konsentrasi dan perhatian,
mengintegrasikan otak depan dan belakang,
meningkatkan kemampuan berbicara dan
berbahasa, meningkatkan kemampuan
berkomunikasi.
5. Gerakan Pasang Kuda-Kuda
a. Mulai dengan sikap tubuh berdiri tegak;
b. Buka kaki dengan jarak yang sama seperti
lebar bahu;

20
c. Arahkan ujung kaki kanan kesebelah kanan
dan tekuklah lutut kanan sedikit dan biarkan
kaki kiri berada dalam posisi yang lurus;
d. Hembuskan nafas pada waktu menekuk lutut
kanan kemudian tarik nafas ketika
meluruskan lutut kanan sambil menarik
pinggul keatas;
e. Ulangi 3 kali.
Manfaat : meningkatkan konsentrasi,
meningkatkan ingatan jangka panjang, mengatur
keterampilan pikiran dengan menggunakan kata-
kata bicara dalam hati
c. Pemusatan-pengaturan (dimensi atas-bawah) atau
gerakan meningkatkan energi dan sikap penguatan
Gerakan pada dimensi ini adalah untuk
meningkatkan energi, menyangkut gerakan
mengorganisasi, mengatur, berjalan, sikap dalam
suatu tes. Gerakan ini bermanfaat untuk membantu
seluruh potensi dan keterampilan yang dimiliki serta
mengontrol emosi. Gerakan pada dimensi ini antara
lain:
1. Minum air
Air berperan sebagai bagian dari PACE
(persiapan) yaitu E-energetic. Air sangat
berperan pada tubuh karena kurang lebih 70%
dari tubuh terdiri atas air, dan minum merupakan
salah satu cara terbaik untuk mengatasi stress.
2. Gerakan Sakelar Otak
a. Sentuh pusar dengan tangan kiri. Pada saat
yang bersamaan, pijat dada dengan tangan
kanan. Pemijatan dilakukan tepat pada
lekukan tulang selangka dada;

21
b. Letakkan tangan kanan pada pusar dan
gunakan tangan kiri untuk memijat dada
seperti yang dilakukan sebelumnya;
c. Lakukan stimulasi ini dalam waktu 20-30
detik.
Manfaat : menstimulasi kelancaran gerak
pembuluh darah arteri yang membawa darah
kaya oksigen ke otak, meningkatkan energi ke
mata, mengaktifkan kedua belahan otak depan.
3. Gerakan Kait Rileks
a. Fase Pertama
1) Silangkan kedua kaki dengan posisi kaki
kanan di atas kaki kiri;
2) Julurkan kedua lengan dan tangan
kedepan dengan posisi tangan kanan
diatas tangan kiri dan posisi jempol
kearah bawah, pastikan jari-jari saling
menggenggam;
3) Putar tangan kebawah dan tarik ke arah
pusar sampai kedepan dada sehingga
jempol tangan menghadap keatas;
4) Pejamkan mata, kemudian tempelkan
lidah ke langit-langit mulut sambil
menarik nafas dan lepaskan tempelan
lidah sambil menghembuskan nafas.
b. Fase Kedua
1) Buka silangan kaki yang dilakukan saat
fase pertama;
2) Sentuh dan kaitkan setiap ujung jari
tangan didada atau di pangkuan sambil
menarik dan menghembuskan nafas
melalui mulut selama 1 menit.

22
Manfaat : mengalirkan kembali energi tubuh,
memberikan kesegaran bagi tubuh dan
pikiran, mensinergikan kinerja otak kanan
dan kiri, mengaktifkan otak untuk lebih
memusatkan emosi, meningkatkan perhatian,
membantu memperbaiki pernafasan,
membebaskan diri dari ketegangan emosi,
dan meningkatkan kepercayaan diri.
4. Gerakan Pasang Telinga
a. Atur kepala pada posisi tegak dan dagu lurus,
pastikan posisi nyaman;
b. Pijat daun telinga dari ujung atas kemudian
turun hingga sepanjang lengkungan telinga
dan berakhir di cuping telinga, sambil
melakukan pijatan tarik telinga keluar
dengan menggunakan ibu jari dan jari
telunjuk;
c. Ulangi 3 kali.
Manfaat : membuat adanya energi dan nafas
yang membaik, otot wajah, lidah dan rahang atas
menjadi rileks, fokus perhatian meningkat dan
jangkauan pendengaran lebih luas sehingga bisa
lebih waspada terhadap stimulus rangsang suara
perintah.
5. Gerakan Tombol Bum
a. Letakkan dua jari dibawah bibir sambil
meletakkan tangan yang lain dibawah pusar
dengan posisi jari-jari menghadap kebawah.
Sentuh tombol bumi selama 30 detik atau
lebih;
b. Bayangkan sebuah garis imajiner yang tegak
lurus didepan mata dari lantai ke atap;

23
c. Arahkan mata mengikuti garis tersebut dari
bawah keatas sambil menarik nafas pelan-
pelan;
d. Ulangi gerakan ini 3 kali.
Manfaat : meningkatkan ketenangan,
kewaspadaan, dan menjernihkan pikiran,
meningkatkan kemampuan gerak mata secara
vertikal dan horizontal, mengurangi kelelahan
mental, menegakkan kepala.
6. Gerakan Tombol Keseimbangan
a. Sentuhlah tombol keseimbangan yang berada
di belakang telinga, tepatnya pada lekukan di
perbatasan rambut atau diantara tengkorak
dan tengkuk. Gunakan dua atau beberapa jari
yang dapat menutupi daerah ini, sementara
itu posisikan kepala dan dagu dalam keadaan
normal;
b. Letakkan telapak tangan di pusar dengan
posisi kepala tetap lurus dan tetap melakukan
pengolahan nafas dengan baik selama 30
detik;
c. Lakukan gerakan yang sama pada sisi telinga
yang lain
d. Ulangi gerakan 3 kali.
Manfaat : mengaktifkan otak, merelaksasikan
ketegangan pada otot tengkuk serta gerakan
rahang dan tengkorak, menghilangkan stres dan
sakit di kepala (jika otot tengkuk dikepala kuat,
maka jaringan syaraf antara otak dan bagian
tubuh lainnya akan berjalan lancar), membantu
berkonsentrasi, membantu keterampilan
matematika.

24
7. Gerakan Tombol Angkasa
a. Pada posisi berdiri, letakkan kedua jari
tangan kanan menempel pada bibir dan
letakkan tangan kiri pada tulang ekor selama
1 menit;
b. Ambil nafas senyaman mungkin;
c. Ulangi gerakan pada tangan kiri yang
diletakkan menempel pada bibir dan tangan
kanan diletakkan menempel di tulang ekor.
Manfaat : merelaksasikan sistem syaraf pusat,
mengasah kedalaman dan ketajaman
penglihatan, mengoptimalkan penglihatan dari
jarak dekat ke jauh, menggerakkan mata secara
vertikal dan horizontal, meningkatkan minat dan
motivasi, meluruskan pinggul, dan meningkatkan
daya intuisi dan pengetahuan.
8. Gerakan Menguap Berenergi
a. Buka mulut layaknya orang yang sedang
menguap;
b. pijat otot-otot di sekitar persendian rahang;
c. Menguaplah dengan bersuara untuk
melepaskan ketegangan pada otot-otot
tersebut;
d. Ulangi gerakan 3-6 kali.
Manfaat : meningkatkan daya penglihatan,
memperbaiki komunikasi lisan dan ekspresi,
memperbaiki gerakan otot wajah agar lebih
rileks, meningkatkan kemampuan dalam
menerima dan memilah-milah informasi.
9. Gerakan Titik Positif
a. Sentuhlah dua titik yang terdapat didahi;
b. Tutup mata, lakukan selama 30-60 detik

25
Manfaat : meningkatkan daya konsentrasi,
menurunkan rasa gelisah dan kecemasan,
menghilangkan stress penglihatan, melancarkan
aliran darah dari hipotalamus ke otak bagian
depan, menyeimbangkan kondisi stres yang
berhubungan dengan ingatan tertentu di otak
depan, membantu memori jangka panjang yang
berada di otak besar.
C. TAHAP TERMINASI
1. Melakukan evaluasi
2. Menyampaikan rencana tindak lanjut
3. Berpamitan
D. PENAMPILAN SELAMA TINDAKAN
1. Ketenangan
2. Melakukan komunikasi terapeutik
3. Menjaga keamanan pasien
4. Menjaga keamanan perawat

26
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Brain gym (senam otak) merupakan latihan yang terangkai dari
gerakan tubuh yang dinamis, yang memungkinkan keseimbangan aktivitas
kedua belahan otak secara bersamaan. Gerakan senam otak bisa membantu
menyeimbangkan kedua belahan otak, mempertajam konsentrasi,
meredakan ketegangan otot (relaksasi), mempertajam daya ingat. Terapi
senam otak (brain gym) adalah senam yang bertujuan untuk memicu
otak agar tidak kehilangan daya intelektual dan wareness.

B. Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami
tentang defenisi dari senam otak. Dan bagi pembaca yang berprofesi
sebagai seorang perawat atau tenaga medis lainnya agar dapat mengetahui
peranannya dalam proses penerapan senam otak dalam bidang
keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

27
Irawani, A. T., & Nuryawati, L. S. (2019). Pengaruh brain Gym Lanjut Usia
Terhadap Fungsi Kognitif Pada Lanjut Usia Di UPTD Puskesmas
Majalengka Kecamatan Majalengka Wetan Kabupaten Majalengka Tahun
2019 . Syntax Literate, Vol. 4, No. 10 , 1-11.
Yuliati, & Hidayah, N. (2017). PENGARUH SENAM OTAK (BRAIN GYM)
TERHADAP Fungsi Kognitif Pada Lansia Di Rt 03 Rw 01 Kelurahan
Tandes Surabaya . Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol. 10, No. 1 , hal 88-95 .
Yusuf, A., Indarwati, R., & Jayanto, A. D. (2010). Senam Otak Meningkatkan
Fungsi Kognitif Lansia. Jurnal Ners Vol. 5 No. 1 , 79-86.
https://dokumen.tips/documents/lampiran-2-sop-senam-otak.html
Zulfa Rufaida, Puji Lestari, S., & Permata Sari, D. (2018). Terapi Komplementer.
Mojokerto: STIKes Majapahit Mojokerto .

28

Anda mungkin juga menyukai