Anda di halaman 1dari 10

IMPLEMENTASI HAK TERSANGKA/TERDAKWA MENURUT PASAL 52

KUHAP PADA PERKARA PIDANA DALAM RANGKA MENCARI


KEBENARAN MATERIIL

(Jurnal)

Oleh

SONIA SEPTIANA GUSRI

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2019
ABSTRAK
IMPLEMENTASI HAK TERSANGKA/TERDAKWA MENURUT PASAL 52
KUHAP PADA PERKARA PIDANA DALAM RANGKA MENCARI
KEBENARAN MATERIIL

Oleh:
Sonia Septiana Gusri, Gunawan Jatmiko, Budi Rizki Husin
Email: soniaseptianagusri@gmail.com

Hak berdasarkan Pasal 52 bagi tersangka/terdakwa yang memberikan jaminan (adanya


kebebasan) untuk tidak memberi keterangan yang dapat merugikan dirinya. Adapun
alasan rasional dari hak tersebut, karena sistem Hukum Acara Pidana yang dianut
adalah meletakan pembuktian kepada penuntut umum (burden of proof) bukan kepada
tersangka/terdakwa. Permasalahan dalam skripsi ini adalah Bagaimanakah
Implementasi Hak Tersangka/Terdakwa Menurut Pasal 52 KUHAP Pada Perkara
Pidana Dalam Rangka Mencari Kebenaran Materiil dan Faktor apa saja yang
menghambat dan mendukung Hak Tersangka/Terdakwa menurut Pasal 52 KUHAP
Pada Perkara Pidana Dalam Rangka Mencari Kebenaran Materiil. Pendekatan Masalah
yang digunakan adalah yuridis normatif dan yuridis empiris. Sumber dan jenis data
yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data
dilakukan dengan studi pustaka dan studi lapangan. Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan menunjukkan bahwa: implementasi Hak Tersangka/Terdakwa di dalam
proses komunikasi yaitu pengetahuan para pihak terutama terdakwa sangat berperan
dalam usaha untuk mendapkan kebenaran materiil dalam suatu perkara, dikarenakan
kurangnya waktu dan terdapat ketidak seimbangan pengetahuan antara pihak-pihak
merupakan kesulitan dalam proses persidangan. Faktor penghambat adalah kurangnya
pengetahuan para pihak serta masih terdapatnya perbedaan persepsi dari penegak
hukum dalam memahami makna Pasal-Pasal yang ada dalam KUHAP terutama
berkaitan dengan hak tersangka atau terdakwa. Saran dalam penelitian ini adalah
Penegak hukum (hakim dan jaksa) diharapkan mempunyai waktu dalam proses
komunikasi dengan tersangka atau terdakwa dari sudut Hak Asasi Manusia untuk
meminta keterangannya dalam mencari kebenaran materil.

Kata Kunci: Implementasi, Hak Tersangka/Terdakwa, Perkara Pidana,


Kebenaran Materiil
ABSTRACT
IMPLEMENTATION OF SUSPECT/DEFENDANT RIGHTS ACCORDING TO
ARTICLE 52 CODE OF CRIMINAL PROCEDURE ON A CRIMINAL CASE IN
ORDER TO FIND THE MATERIAL TRUTH

Rights-based on Article 52 for suspects/defendants which provide guarantees (the


existence of freedom) not to give information that can harm themselves. The rational
reason for this right is because the Criminal Procedure System putting evidence to the
prosecutor (burden of proof), not to the suspect/defendant. it is necessary to conduct
research with problems: How is the implementation of suspect/defendant rights
according to article 52 code of criminal procedure on a criminal case in order to find
the material truth? and what is the inhibiting and supporting factors of
suspect/defendant rights according to article 52 code of criminal procedure on a
criminal case in order to find the material truth?. The problem approach in this study
uses normative and empirical approaches. The data sources used are primary data and
secondary data which are carried out by literature studies and field studies. Based on
the results of this study indicate: implementation of suspects/defendants rights in the
communication process, namely the knowledge of the parties, especially the defendant,
plays a role in the effort to put the material truth in a case, due to lack of time and
imbalance of knowledge between parties is a difficulty in the trial process. The
inhibiting factor is the lack of knowledge of the parties and the presence of differences
in perceptions of law enforcers in understanding the meaning of the Articles contained
in the Criminal Procedure Code, especially relating to the rights of suspects or
defendants. The suggestions in this study are: Law enforcers (judges and prosecutors)
are expected to have time in the process of communication with suspects or defendants
from the point of human rights to ask for their information in seeking material truth.

Keywords: Implementation, Suspect/Defendant Rights, Criminal Case, Material


Truth
I. PENDAHULUAN pemahaman atau interprestasi terhadap
norma tersebut oleh kalangan hukum
Negara indonesia memiliki tanggung dan pencari keadilan dapat
jawab global dalam bidang pencegahan menyebabkan dalam pelaksanaan atau
dan perlakuan terhadap pelaku kekuatan hukumnya.
kejahatan (tersangka/terdakwa) agar
tidak sewenang-wenang, melanggar Perbedaan persepsi dapat terjadi karena
hak-hak sebagai bagian dari Hak Asasi beberapa hal, antara lain karena:
Manusia (HAM). Perlindungan ini perlu (1) Norma yang mengatur hak-hak
karena secara implisit sesuai dengan tersebut tidak jelas, sehingga
asas praduga tak bersalah bagi setiap interpretasi terhadap norma dari
orang yang diadili karena diduga kalangan penegak hukum maupun
melakukan pelanggaran hukum, pencari keadilan,
sehingga hak-hak tersebut dapat (2) Latar belakang kepentingan
diwujudkan. masing-masing petugas.

Kesenjangan pemahaman hak-hak Contoh, dapat dikemukakan hak yang


tersangka/terdakwa oleh penyidik, diatur dalam Pasal 52 KUHAP yang
penuntut umum, hakim sebagai penegak menyatakan sebagai berikut: “Dalam
hukum (law enforcement official) pemeriksaan ditingkatkan penyidikan
maupun tersangka/terdakwa sebagai dan pengadilan tersangka/terdakwa
pencari keadilan (justitiabelen) dapat berhak memberikan keterangan secara
terjadi di kalangan mereka,antara bebas kepada penyidik atau hakim”.
lainnya menyatakan, hal ini sering kali Penafsiran Pasal ini dapat menimbulkan
terbukti dengan adanya kesenjangan perbedaan pengertian antara pencari
antara spirit Undang-Undang yang asli keadilan (tersangka/terdakwa atau
(the original legal spirit) dengan spirit pengacara) dengan penegak hukum.
yang berkembang pada saat itu hukum Akibatnya dalam pelaksanaan proses
dilakukan untuk berpikir antisipatif peradilan pidana “hak”
terhadap nilai-nilai yang diakui bangsa- tersangka/terdakwa “tidak sesuai”
bangsa beradab yang diadopsi oleh antara normatif dan empiris. Jika dikaji
lembaga-lembaga international yang lebih lanjut “pengertian tidak sesuai
memuat spirit jauh lebih maju (the (adanya kesenjangan)” tersebut, secara
destred legal spirit).1 juridis dalam kenyataan “terdapat
pelanggaran” terhadap hak asasi yang
Hak-Hak tersangka/terdakwa secara sebenarnya harus dilindungi dan
garis besar diatur dalam KUHAP dipertahankan dalam suatu negara
sebagaimana terdapat dalam Pasal 50 hukum.
sampai Pasal 68. Hak-Hak tersangka/
terdakwa yang diatur dalam KUHAP Bagi tersangka/terdakwa hak
merupakan salah satu keunggulan berdasarkan Pasal 52 tersebut, dapat
dibandingkan hukum acara yang lama diartikan memberikan jaminan (adanya
(HIR). Sebagai ketentuan yang bersifat kebebasan) untuk tidak memberi
abstrak, perbedaan prepsepsi dan keterangan yang dapat memberikan atau
merugikan dirinya, sehingga tidak perlu
menjawab setiap pertanyaan yang
1
Muladi. Kapita Selekta Sistem Peradilan diajukan kepadanya. Adapun alasan
Pidana. Semarang. Badan Penerbit Undip. rasional dari hak tersebut, karena sistem
2002. hlm. 51 Hukum Acara Pidana yang dianut
adalah meletakan pembuktian kepada Dalam usaha mendapatkan alat bukti,
penuntut umum (burden of proof) bukan bagi penegak hukum keterangan
kepada tersangka/terdakwa. tersangka/terdakwa ini menjadi suatu
Tersangka/terdakwa dapat saja tidak hal yang sangat prinsip atau penting,
menjawab pertanyaan atau berdiam diri sehingga diusahakan agar
atas pertanyaan yang dapat dianggap tersangka/terdakwa memberi jawaban
menjadi alat bukti bagi pemeriksa (keterangan) atas pertanyaan penyidik,
karena dapat memperberat penuntut umum maupun dari hakim.
tersangka/terdakwa atas keterangan Pasal 175 KUHAP antara lain
yang diberikan. Jadi jika hak ini menyatakan bahwa, “jika terdakwa
dilakukan, maka ini tidak berarti tidak mau menjawab atau menolak
mempersulit petugas dalam mencari menjawab pertanyaan yang diajukan
pembuktian ataupun mempersulit kepadanya”.
pemeriksaan, sebab masih ada alat
pembuktian lain. Dalam praktik anjuran untuk menjawab
ini disertai penekanan secara psikologis
Pada Pasal 184 KUHAP, alat bukti yang terhadap terdakwa dalam bentuk ucapan
sah terdiri: (peringatan) jika terdakwa tidak
menjawab pertanyaan yang diajukan
a. Keterangan saksi akan mempersulit jalannya
b. Keterangan ahli 3
persidangan. Hal ini dapat dianggap
c. Surat sebagai faktor-faktor yang memperberat
d. Petunjuk dalam memberikan pertimbangan
e. Keterangan terdakwa. penjatuhan pidana, padahal apabila kita
perhatikan penjelasan dari Pasal
Apabila dihubungkan dengan Pasal 183
tersebut dinyatakan :
KUHAP, dalam sistem pembuktian
selain dinyatakan harus minimal dua “Supaya pemeriksaan mendapat
alat bukti untuk menjatuhkan pidana, hasil yang tidak menyimpang dari
hakim juga harus memperoleh pada yang sebenarnya, maka
keyakinan bahwa tindak pidana benar- tersangka/terdakwa harus di
benar terjadi dan bahwa terdakwalah jauhkan dari rasa takut. Oleh
yang bersalah. Jadi dianut sistem karena itu harus wajib dicegah
pembuktian negatif, persepsi pencari adanya paksaan atau tekanan
keadilan (tersangka/terdakwa), hak ini terhadap tersangka/terdakwa”.
memperbolehkan kepada mereka
menjawab pertanyaan yang diajukan Berdasarkan penjelasan KUHAP
kepadanya berdasarkan untuk berdiam tersebut memang tidak secara tersurat
diri (the right remain silent). Dengan tersangka/terdakwa berhak diam diri,
kata lain dalam hubungan dengan tidak menjawab pertanyan sesuai
pembuktian “keterangan” dengan haknya yang dimuat dalam
tersangka/terdakwa tidak merupakan hal KUHAP, tetapi secara tersurat hak
pokok.2 berdiam diri tersebut ada, mengingat
memberi keterangan secara “bebas”
bermakna dapat memberi keterangan

2
Oemar Seno. Adji.Perkembangan Hukum
Pidana Dan Hukum Acara Sekarang Dan Masa
3
Akan Datang. Jakarta. Pancuran Tujuh. 1980. Soedarto. Hakim Dan Hukum Pidana.
hlm. 60. Bandung. Alumni. 1981. hlm. 60
dan dapat pula tidak memberi Materiil. maka yang menjadi pokok
keterangan. permasalahan yang akan dibahas dalam
penelitian ini adalah:
Pasal yang tidak jelas juga dapat a. Bagaimanakah implementasi Hak
ditemukan di dalam KUHAP yaitu tidak Tersangka/Terdakwa menurut Pasal
ada penjelasan (dinyatakan cukup jelas) 52 KUHAP pada perkara pidana
sehingga menimbulkan penafsiran yang dalam rangka mencari kebenaran
berbeda baik dari penegak hukum materiil?
maupun pencari keadilan. Contohnya b. Faktor apa saja yang menghambat
Pasal 54 dan Pasal 55 KUHAP, Pasal dan mendukung Hak
mana mengatur tersangka/terdakwa Tersangka/Terdakwa menurut Pasal
untuk mendapat bantuan hukum selama 52 KUHAP pada perkara pidana
dalam waktu dan pada setiap tingkat dalam rangka mencari kebenaran
pemeriksaan. Jika dilihat dari materiil?
penjelasan Pasal-Pasal tersebut,
dinyatakan Pasal 54, 55 cukup jelas, Pendekatan masalah dalam penelitian
padahal dalam peraktek pelaksanaan ini menggunakan pendekatan yuridis
hak tersebut terdapat perbedaan normatif dan pendekatan yuridis
penafsiran, yaitu sejak kapankah hak itu empiris. Narasumber pada penelitian ini
dapat di digunakan oleh yaitu Hakim Pengadilan Negeri Tanjung
tersangka/terdakwa, berbeda dengan Karang, Jaksa pada Kejaksaan Negeri
penafsiran penegak hukum. Bandar Lampung, Advokat Lembaga
Bantuan Hukum dan Akademisi Hukum
Hal tersebut mengandung makna Pidana Fakultas Hukum Universitas
perbedaan dimana suatu Pasal Lampung. Data dalam penelitian skripsi
tergantung dari sudut mana dan ini diperoleh melalui dua sumber, yaitu
siapakah yang menafsirkan undang- data primer dan data sekunder.
undang. Berdasarkan hal-hal tersebut Pengumpulan data dalam penyusunan
diatas, maka kepastian, perlindungan skripsi ini dilakukan dengan
dan keadilan hukum bagi pencari menggunakan studi kepustakaan
keadilan sulit dicapai dan sekaligus (library research) dan studi lapangan
memberikan gambaran bahwa KUHAP (field research).
secara normatif dianggap tidak jelas
karena ada beberapa pasal yang bersifat II. HASIL DAN PEMBAHASAN
kabur dan elastis. Oleh karenanya
timbul rasa ketidakpuasan terhadap A. Implementasi Hak Tersangka/
KUHAP tersebut, antara lain tidak Terdakwa Menurut Pasal 52
mempunyai kepastian hukum (kekuatan KUHAP Pada Perkara Pidana
mengikat) bagi setiap subjek hukum dalam Rangka Mencari
(terutama tersangka/terdakwa) yang Kebenaran Materiil.
diaturnya.
Pada prinsipnya bahwa setiap dalam
Berdasarkan uraian latar belakang persidangan perkara biasa, terdakwa
tersebut, penulis tertarik untuk menulis harus hadir di muka persidangan dan
karya ilmiah skripsi yang berjudul pemeriksaan harus dilakukan dengan
Implementasi Hak lisan, menggunakan bahasa yang mudah
Tersangka/Terdakwa Menurut Pasal di mengerti oleh terdakwa, akan tetapi
52 KUHAP pada Perkara Pidana di dalam suatu tindak pidana tertentu,
dalam Rangka Mencari Kebenaran contohnya tindak pidana
penyelundupan, korupsi, pemeriksaan dimuka persidangan akan berhadapan
perkaranya dapat dilakukan tapa berbagai unsur aparat dalam penegak
hadirnya terdakwa. hukum, yaitu unsur penuntut yang di
wakili oleh penuntut umum dengan
Dalam pelaksanaan persidangan di orientasi berpikir prosecution minded,
Pengadilan Negeri, terdakwa unsur penasihat hukum dengan orientasi
mempunyai hak-hak sebagai berikut defender minded dan unsur pemutus
yang diwakili oleh hakim dengan
1. Hak untuk di dampingi oleh
orientasi problem solver atau decission
seorang penasehat hukum
maker.4
2. Hak untuk mnegajukan Eksepsi,
yaitu perlawanan yang di ajukan
Menurut Eddy Rifai, Dalam KUHAP
oleh tersangka atau penasehat
sebagian besar Hak-Hak Tersangka
hukumnya yang isinya menyatakan
telah ditempatkan dalam bab tersendiri,
bahwa pengadilan negeri tersebut
yaitu dalam BAB VI yang berjudul
tidak berwenang untuk memeriksa
Tersangka dan Terdakwa yang
dan mengadili perkara tersebut dan
mencakup Pasal 50 sampai dengan
atau terdakwa dimaksud telah
Pasal 68. Selain itu masih ada sejumlah
pernah diperiksa atau diadili serta
hak lainnya dari tersangka yang diatur
diputus oleh Pengadilan Negeri
dalm Pasal-Pasal diluar BAB VI
dalam perkara yang sama.
KUHAP tersebut. Dengan meneliti
3. Hak untuk menyangkal isi dakwaan
Pasal-Pasal dalam KUHAP dapat
dengan mengajukan alibinya, pada
ditemukan Pasal-Pasal yang mengatur
waktu terjadinya tindak pidana
hak atau kewajiban pihak lainnya yang
terdakwa berada di tempat lain.
ada kaitannya dengan hak-hak
4. Hak untuk meminta kepada Majelis
tersangka, terutama hak-hak penasihat
Hakim, untuk menghadirkan saksi-
hukum berkenaan dengan hak-hak
saksi yang meringankan terdakwa.
tersangka dan kewajiban penyidik
5. Hak untuk mengajukan pembelaan.
berkenaan dengan hak-hak tersangka.5
6. Hak untuk mengajukan duplik yaitu
pelawanan teakhir bagi terdakwa Berdasarkan Pasal 175 KUHAP ada 4
sebelum hakim membacakan (empat) prinsip yang terkandung
putusannya. didalamnya, yaitu:
7. Hak untuk melakukan upaya a. KUHAP tidak menganut asas
hukum Banding tehadap putusan memberi hak kepada terdakwa
Pengadilan Negeri. “menolak untuk menjawab”
b. Prinsip menempatkan Pasal 175
Menurut Ismail Hidayat, Proses
sebagai suatu sistem keseimbangan,
pemeriksaan di muka persidangan
terdakwa seharusnya menjawab
pengadilan adalah salah satu isi dari
pertanyaan yang diajukan
proses penyelesaiaan perkara pidana
kepadanya.
yang berjalan berjenjang menurut tahap-
tahap proses sebagaimana digariskan
dalam Hukum Acara Pidana. Tahap 4
Wawancara dengan Ismail Hidayat Hakim
proses tersebut mulai dari tahap Pengadilan Negeri Tanjung Karang, pada
penyelidikan, penyidikan, tahap tanggal Selasa 4 Desember 2018.
penuntutan, tahap pemeriksaan di muka 5
Wawancara dengan Eddy Rifai Dosen Hukum
sidang, tahap pelaksanaan putusan Pidana Universitas Lampung. Selasa 8 Januari
pengadilan. Dalam proses pemeriksaan 2019
c. Prinsip hakim tidak boleh memaksa pada jaksa. Jadi secara praktik jawaban
terdakwa untuk menjawab. dari terdakwa bukanlah segala-galanya
d. Prinsip hakim maupun penuntut dalam suatu persidangan. Apa lagi jika
umum di larang menggeneralisasi dihubungkan dengan makna Pasal 153
kebungkaman terdakwa sebagai Ayat (2) KUHAP sub b yang
tingkah laku dan permuatan menyatakan “Hakim wajib menjaga
menghalangi dan mengganggu supaya tidak dilakukan hal atau
ketertiban sidang. diajukan pertanyaan yang
mengakibatkan terdakwa memberikan
Menurut Wahrul Fauzi, terdakwa jawaban yang tidak bebas”.
cenderung merasa tertekan atau tidak
memiliki kebebasan untuk menjawab B. Faktor Penghambat dan
pertanyaan yang telah diajukan, bahkan Pendukung Hak Tersangka/
mereka walaupun tidak mengerti makna Terdakwa Menurut Pasal 52
pertanyaan yang telah diajukan, KUHAP Pada Perkara Pidana
dianjurkan (ditekan) untuk menjawab Dalam Rangka Mencari
pertanyaan dengan jawaban “ya” atau Kebenaran Materiil
“tidak” sekalipun terdakwa tidak
mengerti apa akibat dari jawaban yang Berdasarkan hasil penelitian, maka
telah diberikan. Terdakwa sering diberi faktor penghambat dalam
peringatan, bahwa jika tidak menjawab mengungkapkan kebenaran materil
pertanyaan yang telah diajukan oleh adalah sebagai berikut.
hakim berarti menyulitkan persidangan 1. Tingkat kemampuan (ability) atau
dan ini berarti akan memberatkan bagi pengetahuan para pihak terutama
terdakwa dalam kaitannya dengan terdakwa sangat berperan dalam
hukuman yang akan dijatuhkan. 6 usaha untuk mendapatkan kebenaran
materiil dalam suatu perkara, adapun
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka tingkat kemampuan terutama
dapat dikaji bahwa jaminan akan hak pemahamannya terhadap terminologi
terdakwa berkaitan dengan Pasal 52 hukum yang sering tidak dipahami
yang mengatur “ Dalam pemeriksaan oleh pencari keadilan.
pada tingkat penyidikan dan peradilan,
tersangka atau terdakwa berhak 2. Masih terdapatnya perbedaan
memberikan keterangan secara bebas persepsi, tidak hanya datangnya dari
kepada penyidik atau hakim”, tidak penegak hukum (jaksa atau hakim)
berarti apa-apa bagi hakim. padahal dalam memahami makna Pasal-Pasal
pengertian “memberi keterangan secara yang ada dalam KUHAP terutama
bebas” dalam kalimat diatas dapat berkaitan dengan hak tersangka atau
memberi makna terdakwa ‘dapat’ terdakwa, tetapi juga datangnya dari
menjawab atas pertanyaan yang pencari keadilan itu sendiri kurang
diajukan atau tidak menjawab sama memahami dan menggunakan
sekali. Hal ini ada hubungannya dengan haknya untuk berkomunikasi dengan
sistem beban pembuktian (burden of baik terutama dalam menjawab
proef) bukan pada terdakwa tetapi ada pertanyaan yang diajukan oleh hakim
ataupun jaksa.
6
3. Orientasi akan keberhasilannya
Wawancara dengan Wahrul Fauzi, Advokat
Lembaga Bantuan Hukum Bandar Lampung menyelesaikan perkara yang
Tanjung Karang, pada tanggal Selasa 4 bernuasa sektoral (orientasi pada
Desember 2018
jobnya masing-masing) hukum, yang mana keterangan atau
menyebabkan kebenaran materiil kesaksian yang diberikan akan
dikesampingkan dibandingkan meringankan atau mengutungkan
mengejar target menyelesaikan terdakwa, sebagaimana yang diatur di
perkara dalam proses peradilan dalam Pasal 160 Ayat (1) Huruf C
pidana. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981
tentang Hukum Acara Pidana.
Menurut Eddy Rifai, sebagai contoh
dalam pelaksanaan mencari kebenaran III. PENUTUP
materiil dalam proses peradilan di
kepolisian dalam tegaknya Pasal 117 A. Kesimpulan
adalah melalui mekanisme praperadilan
dengan mengajukan gugatan ganti rugi Berdasarkan hasil penelitian dan
atas dasar alasan bahwa pemeriksaan pembahasan yang telah diuraikan,
telah dilakukan tanpa alasan yang simpulan dalam penelitian ini adalah
berdasarkan Undang-Undang, akan sebagai berikut:
tetapi hal ini kurang efektif karena
betapa sulitnya bagi seorang tersangka 1. Bahwa implementasi Hak
untuk membuktikan bahwa keterangan Tersangka/Terdakwa di dalam proses
yang diberikan dalam pemeriksaan komunikasi pengetahuan antara
adalah hasil paksaan dan tekanan. 7 tersangka/terdakwa dengan penegak
hukum jaksa atau hakim di lain pihak
Adapun faktor pendukung ialah: ability atau pengetahuan para pihak
terutama terdakwa sangat berperan
1. Terdapat asas peradilan dalam dalam usaha untuk mendapatkan
proses peradilan pidana bahwa kebenaran materiil dalam suatu
kebenaran materiil harus perkara, dikarenakan kurangnya
diungkapkan dalam pemeriksaan waktu dan terdapat
suatu perkara. ketidakseimbangan pengetahuan
2. Secara normatif, terutama kaitan antara terdakwa dengan penegak
dengan ketentuan yang diatur hukum jaksa atau hakim di lain pihak
dalam KUHAP, baik mengenai adalah merupakan kesulitan dalam
hak-hak tersangka atau terdakwa proses persidangan.
maupun tugas hakim masih
memberikan jaminan hakim 2. Faktor penghambat dalam
harus memberikan kebebasan mengungkapkan kebenaran materil
bagi terdakwa dalam tersebut adalah :
memberikan jawabannya. a. Kurangnya tingkat ability atau
pengetahuan para pihak terutama
Menurut penulis, dengan memberikan tersangka/terdakwa sangat
Saksi a de charge dalam proses berperan dalam usaha untuk
persidangan (saksi yang meringankan mendapatkan kebenaran materil
atau mengutungkan terdakwa) Saksi ini dalam suatu perkara.
dipilih atau diajukan oleh penuntut b. Dalam proses yang berlangsung
umum atau terdakwa atau penasihat seringkali diwarnai oleh
manipulasi dalam oleh aparat
7 penegak serta adanya asas ultra
Wawancara dengan Eddy Rifai Dosen Hukum
Pidana Universitas Lampung. Selasa 8 Januari petita yang membatasi hakim.
2019
c. Sulitnya menghadirkan saksi DAFTAR PUSTAKA
dalam persidangan, dikarenakan
kurangnya pemahaman serta Muladi. 2002. Kapita Selekta Sistem
kesadaran masyarakat tentang Peradilan Pidana. Semarang. Badan
hukum sehingga banyak Penerbit Undip.
masyarakat apabila ingin
dihadirkan sebagai saksi merasa Oemar Seno Adji. 1980. Perkembangan
takut. Hukum Pidana Dan Hukum Acara
Sekarang Dan Masa Akan Datang.
B. Saran Jakarta. Pancuran Tujuh.

Saran yang dapat saya ajukan dalam Soedarto. 1981. Hakim Dan Hukum
penelitian ini ialah: Pidana. Bandung. Alumni.
1. Penegak hukum (hakim dan jaksa)
diharapkan mempunyai waktu
dalam proses komunikasi dengan
tersangka atau terdakwa dari sudut
Hak Asasi Manusia untuk meminta
keterangannya dalam mencari
kebenaran materil dan diharapkan
pula perbedaan pengetahuan tentang
hukum antara penegak hukum
(hakim dan jaksa) dan tersangka
atau terdakwa tidak dijadikan alat
oleh penegak hukum tersebut untuk
tidak mendapatkan kejelasan
informasi dari tersangka dalam
mencari kebenaran materiiil.

2. Hakim seharusnya tidak tergantung


kepada apa yang dikemukakan oleh
jaksa penuntut umum maupun oleh
penasihat hukum terdakwa. Hakim
harus bersifat aktif mencari
kebenaran yang menurut “fakta”
yang sebenarnya, bukan menurut apa
yang dikemukakan oleh jaksa
penuntut umu maupun penasihat
hukum terdakwa.