Anda di halaman 1dari 21

TUGAS MAKALAH

Pemanfataan Dedak Padi Fermentasi Menggunakan Aspergillus


niger sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Nila (Oreochromis
niloticus)

Disusun Untuk :
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perlindungan dan Inovasi Lahan Basah di Kalimantan Selatan

Oleh :
Mita Riani Rezki, ST
1920525320011

Dosen Pengampu Mata Kuliah :


Dr. Noor Arida Fauzana, S.Pi.,M.Si.

PROGRAM PASCASARJANA
PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2019
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan yang sangat mudah


berkembang biak, pertumbuhannya cepat, tahan terhadap penyakit, rasanya enak
dan mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan (Munir, Sidik, and Mahasri
2015). Hal ini menyebabkan ikan nila banyak menjadi ikan budidaya. salah satu
kunci dalam budidaya ikan adalah pakan. Pemenuhan kebutuhan pakan yang
berkualitas tinggi dengan kuantitas yang cukup bertujuan untuk meningkatkan
produksi perikanan (Karlina, Cahyoko, and Agustono 2013).
Kebutahan Pakan kaya nutrisi dan berkualitas yang semakin meningkat tidak
sejalan dengan ketersediaan bahan pakan. Hal ini menyebabkan sebagian besar
pelaku budidaya masih bergantung pada bahan baku impor sekitar 70%
(Ikhwanuddin, Putra, and Mustahal 2018) dengan biaya yang tinggi. Salah satu
upaya mengatasi ketergantungan bahan baku pakan impor adalah pemanfaatan
bahan baku lokal dan limbah yang belum dimanfaatkan secara optimal
(Pamungkas 2011; Yusuf, Agustono, and Meles 2012) salah satunya adalah dedak
padi (Ali, Agustina, and Dahniar 2019; Ikhwanuddin et al. 2018; Lestari, Yuniarti,
and Abidin 2013)
Dedak padi merupakan hasil ikutan proses penggilingan padi menjadi beras.
Dedak padi dapat digunakan sebagai sumber energi pada pakan ternak dengan
kandungan serat kasar 26-27% (Ali et al. 2019). Penggunaan dedak padi 10%
dalam formulasi pakan ikan nila memberikan pertumbuhan yang lebih baik
dibandingkan dengan perlakuan lainnya (Lestari et al. 2013). Dedak padi memiliki
kandungan protein yang rendah (9.5%), karena itu perlu perlakuan yang lain
untuk meningkatkan kadar protein misalnya melalui proses fermentasi (Diana and
Erniati 2014)
Fermentasi adalah proses penguraian zat komplek menjadi bentuk yang
lebih sederhana. Fermentasi merupakan perubahan kimia yang menguntungkan
karena makanan yang difermentasi akan lebih lunak, harum dan rasanya berbeda.
Dalam proses fermentasi digunakan mikrobia tertentu yang dapat menguraikan
karbohidrat, tidak menimbulkan bau busuk (menghasilkan CO2) dan dalam
kondisi terkontrol (Diana and Erniati 2014).
Pada penelitian ini digunakan bakteri Aspergillus niger untuk fermentasi
dedak padi sebagai pakan ikan nila karena secara ekonomi Aspergillus niger
mudah didapat dengan harga yang murah, dan mampu berkembang pada media
yang biayanya relatif murah serta ketersediaannya mudah didapatkan
(Ikhwanuddin et al. 2018) sehingga diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan
pakan pada budidaya terhadap parameter pertumbuhan dan nilai kecernaan pakan
ikan nila (Oreochromis niloticus).

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:


1. Mengetahui kombinasi terbaik antara lama inkubasi dan dosis Aspergillus
niger dalam menurunkan nilai serat kasar pada dedak padi
2. Mengetahui pengaruh dedak padi fermentasi Aspergillus niger sebagai
bahan baku pakan terhadap nilai kecernaan dan pertumbuhan ikan nila
(Oreochromis niloticus)

1.3 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai sumber informasi tentang pengaruh


penggunaan bakteri Aspergillus niger untuk fermentasi dedak padi sebagai pakan
terhadap parameter pertumbuhan dan nilai kecernaan ikan nila (Oreochromis
niloticus).

II. HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Pengujian Fermentasi Dedak Padi


Penelitian awal dilakukan dengan pengujian fermentasi dedak padi untuk
megetahui kombinasi terbaik antara lama inkubasi dan dosis Aspergillus niger
dalam menurunkan nilai serat kasar pada dedak padi. Rancangan yang digunakan
adalah rancangan acak faktorial dengan 2 faktor, yaitu dosis Aspergillus niger
dengan 3 taraf: ( 0(A0), 0.5(A1), 1.5 (A2) g/100 ) dan lama inkubasi dengan 3
taraf: (0(T0), 24(T1), 48(T2) jam) dengan 3 kali ulangan. Hasil pengujian disajikan
dalam Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Pengujian Dedak Padi Fermentasi Terhadap Kadar Serat Kasar

Lama Inkubasi (jam)


Dosis Fermentasi
0 (T0) 24(T1) 48(T2)
(%)
0 (A0) 10,69 ± 0,00c,B 10.69 ± 0.00b,B 10.69 ± 0.00a,B
0.5 (A1) 8.61 ± 0.49c,A 7.92± 1.00 b,A 6.88 ± 0.40a,A
1.5 (A2) 9.77 ± 0.65c,A 7.93 ± 0.40b,A 6.97± 0.80a,A
Keterangan: Huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan
hasil yang berbeda nyata (P<0,05).

Hasil pengujian menunjukkan bahwa dedak padi fermentasi menggunakan


Aspergillus niger memberikan hasil kinerja yang lebih baik dalam menurunkan
kadar serat kasar. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan
dosis Aspergillus niger sampai 1,5 % dan lama inkubasi sampai 48 jam
memperlihatkan adanya interaksi (P<0,05). Perlakuan dosis Aspergillus niger dan
lama inkubasi yang terbaik yaitu pada perlakuan dosis 0,5 % (A1) dengan lama
inkubasi 48 jam (T2) nilai sebesar 6,88 ± 0,40a,A %.
Penurunan serat kasar disebabkan adanya aktivitas enzim yang mampu
mendegradasi serat kasar dedak padi menjadi lebih tinggi oleh kapang Aspergillus
niger karena menghasilkan enzim selulosa yang menghidralisis sesulosa.
Kemampuan Aspergillus niger dalam mendegradasi serat kasar dedak padi lebih
tinggi daripada fermentasi dedak dengan bakteri Bacillus amyloliquefaciens
dengan dosis 3% selama 3 hari yaitu 3.34% (Muis and Deswan 2014).
Penggunaan dosis A. niger 0,5 % (A1) dengan lama inkubasi 48 jam (T2) pada
dedak padi akan ditambahkan dalam formulasi pakan ikan nila.

2.2 Pengujian Dedak Padi Fermentasi Pada Ikan


Pengujian dedak padi sebagai bahan pakan mengacu pada Takeuchi (1988)
yaitu 70 % pakan komersial diformulasikan dengan 30 % bahan uji. Tahapan ini
bertujuan untuk membandingkan pengaruh dedak padi fermentasi Aspergillus
niger sebagai bahan baku pakan terhadap nilai kecernaan dan pertumbuhan ikan
nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap
(RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dengan 4 kali ulangan, yaitu: (1) Pakan A =
Pakan komersial 96,5 % (kontrol); (2) Pakan B = Pakan komersial 70 % dengan
tambahan 30 % dedak padi fermentasi; (3) Pakan C = Pakan komersial 70 %
dengan tambahan 30 % dedak padi.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa konsumsi pakan tertinggi diperoleh
pada perlakuan B dengan penambahan 30 % dedak padi fermentasi Aspergillus
niger sebesar 230,00 ± 4,08c yang nilainya berbeda nyata (P<0,05) jika
dibandingkan dengan perlakuan lainnya yaitu perlakuan A sebesar 216,00 ±
7,87b dan perlakuan C sebesar 202,50 ± 8,66a.
Kecernaan bahan kering (KBK) merupakan banyaknya nutrien dalam pakan
yang dapat dicerna oleh ikan. Nilai kecernaan bahan kering pada penelitian ini
nilai KBK tertinggi yaitu pada perlakuan B sebesar 67,87 ± 2,44 % menunjukkan
hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap perlakuan lainnya. Semakin
tinggi level pertumbuhan Aspergillus niger, maka semakin tinggi nutrien dalam
pakan yang dapat dicerna oleh ikan.
Nilai kecernaan protein tertinggi terdapat pada perlakuan B sebesar 85,30 ±
3,28 %, menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap perlakuan
lainnya. Peningkatan kecernaan protein terjadi karena adanya penambahan sumber
protein dedak padi dari mekanisme enzim yang dihasilkan Aspergillus niger yang
dapat merubah zat-zat kompleks menjadi bentuk yang sederhana. . hal ini juga
ditunjukkan pada penelitian (Munir et al. 2015) bahwa tepung Pollard yang
difermentasi menggunakan ragi tempe 0,2% dapat menaikkan kadar protein dari
14,78% menjadi 16,98% walaupun tidak berbeda nyata. (Erfanto, Hutabarat, and
Arini 2013), menyatakan bahwa proses fermentasi mengubah protein rantai
panjang menjadi ikatan peptida rantai pendek, sehingga akan mudah diserap oleh
ikan untuk pertumbuhan. Semakin baik kualitas protein pakan maka semakin
banyak protein yang akan dicerna sehingga menghasilkan energi yang dapat
digunakan untuk pertumbuhan.
Nilai Kecernaan Bahan Baku (KBB) tertinggi terdapat pada perlakuan C
sebesar 69,61 ± 11,57 %, kemudian diikuti oleh perlakuan B sebesar 65,60 ±
16,98 %. Nilai KBB perlakuan C tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap perlakuan
B. Penggunaan 30 % bahan baku dedak padi yang terfermentasi Aspergillus niger
pada pakan menghasilkan kinerja pertumbuhan ikan nila yang relatif lebih baik
dengan penggunaan dedak padi 0 % atau pakan acuan.

III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada penelitian ini adalah:
1. Kombinasi terbaik 30% dedak padi fermentasi menggunakan Aspergillus
niger dengan lama inkubasi 48 jam adalah kombinasi terbaik dalam
menurunkan nilai serat kasar
2. Dedak padi fermentasi menggunakan Aspergillus niger dapat digunakan
sebagai bahan baku pakan ikan nila karena menunjukkan hasil terbaik
dalam meningkatkan kecernaan dan pertumbuhan ikan uji, dengan nilai
jumlah konsumsi pakan, kecernaan bahan kering, kecernaan protein laju
pertumbuhan spesifik dibandingkan dengan perlakuan lainnya.

3.2 Saran
Sebaiknya dilakukan penelitian selanjutnya untuk mengetahui efektivitas
dari dedak padi dasil fermentasi Aspergillus niger dalam formulasi pakan ikan nila
dan ikan jenis lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Najmah, Agustina, and Dahniar. 2019. “Pemberian Dedak Yang Difermentasi
Dengan Em4 Sebagai Pakan Ayam Broiler.” Agrovital : Jurnal Ilmu
Pertanian 4(1).
Diana, Ira and Dan Erniati. 2014. Penggunaan Dedak Yang Difermentasi Dengan
Bahan Yang Berbeda Sebagai Pakan Tambahan Ikan Patin (Pangasius
Pangasius) The Application of Various Materials for Fermented Bran as a
Fishfeed on the Culture of Catfish (Pangasius Pangasius). Vol. 1.
Erfanto, Feri, Johanes Hutabarat, and Endang Arini. 2013. “Pengaruh Substitusi
Silase Ikan Rucah Dengan Persentase Yang Berbeda Pada Pakan Buatan
Terhadap Efisiensi Pakan, Pertumbuhan Dan Kelulushidupan Benih Ikan
Mas (Cyprinus Carpio).” Journal of Aquaculture Management and
Technology 2(2):26–36.
Ikhwanuddin, Mochammad, Achmad Noerkhaerin Putra, and Mustahal. 2018.
“Pemanfataan Dedak Padi Fermentasi Menggunakan Aspergillus Niger
Sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Nila (Oreochromis Niloticus).” Jurnal
Perikanan Dan Kelautan 8(1):79–87.
Karlina, Hiprita Putri, Yudi Cahyoko, and Agustono. 2013. “Fermentasi Ampas
Kelapa Menggunakan Trichoderma Viride, Bacillus Subtilis, Dan EM4
Terhadap Kandungan Protein Kasar Dan Serat Kasar Sebagai Bahan Pakan
Alternatif Ikan.” Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan 5(1):77–83.
Lestari, Suhesti Fuji, Salnida Yuniarti, and Zaenal Abidin. 2013. “Pengaruh
Formulasi Pakan Berbahan Baku Tepung Ikan, Tepung Jagung, Dedak Halus
Dan Ampas Tahu Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis Sp).”
Jurnal KELAUTAN 6(1):36–46.
Muis, H. and A. Deswan. 2014. “Pengaruh Dosis Inokulum Dan Lama Fermentasi
Campuran Dedak Padi Dan Darah Dengan Bacillus Amyloliquefaciens
Terhadap Kandungan Serat Kasar, Kecernaan Serat Kasar Dan Energi
Metabolisme The Effect of Innocullum Dosage and Fermentation Period of
Mixtured Rice Bran and Blood Fermented by Bacillus Amyloliquefaciens on
Crude Fiber Content, Crude Fiber Digestibility, and Energy Metabolism.”
Jurnal Peternakan Indonesia, Juni 16(2).
Munir, Miftakhul, Romziah Sidik, and Gunanti Mahasri. 2015. “Increased
Nutritional Value Pollard Through Yeast Fermentation Tempe as Artificial
Feed Ingredients Tilapia (Oreochromis Niloticus).” Jurnal Ilmiah Perikanan
Dan Kelautan 7(1):67–70.
Pamungkas, Wahyu. 2011. “Teknologi Fermentasi, Alternatif Solusi Dalam
Upaya Pemanfaatan Bahan Pakan Lokal.” Media Akuakultur 6(1):43.
Yusuf, Mohamad, Agustono, and Dewa Ketut Meles. 2012. “Kandungan Protein
Kasar Dan Serat Kasar Pada Kulit Pisang Raja Yang Difermentasi Dengan
Trichoderma Viride Dan Bacillus Subtilis Sebagai Bahan Baku Pakan Ikan.”
Jurnal Ilmiah Perikanan Dan Kelautan 4(1):1689–99.
Jurnal Perikanan dan Kelautan p – ISSN 2089 – 3469
Volume 8 Nomor 1. Juni 2018 e – ISSN 2540 – 9484
Halaman : 79 – 87

Pemanfataan Dedak Padi Fermentasi Menggunakan Aspergillus niger


sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
(Utilization of Rice Bran Fermentation with Aspergillus niger on Feed Raw
Material of Tilapia (Oreochromis niloticus)
Mochammad Ikhwanuddin 1*), Achmad Noerkhaerin Putra 1), Mustahal 1)
1)
Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Jl.
Raya Jakarta – Serang Km. 04 Pakupatan Serang Banten
Korespondensi : iwanikhwanuddin@gmail.com
Diterima : 21 Maret 2018 / Disetujui : 30 April 2018

ABSTRAK
Ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah jenis komoditas akuakultur yang memiliki nilai
ekonomi tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian pakan
dengan dedak padi terhadap parameter kecernaan dan pertumbuhan nila. Ikan nila yang
digunakan berukuran 5,33 ± 0,00 g/ikan dengan kepadatan 15 ekor ikan/40 L (akuarium).
Ikan diberi pakan tiga kali sehari dengan sekenyangnya. Penelitian ini menggunakan tiga
perlakuan dengan empat ulangan, yaitu (A) pakan komersial sebagai kontrol, (B) pakan
komersial dengan penambahan dedak padi fermentasi dengan Aspergillus niger, (C)
pakan komersial dengan penambahan dedak padi tanpa fermentasi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pakan (B) dapat digunakan sebagai bahan pakan serta meningkatkan
daya cerna dan pertumbuhan ikan uji dengan nilai kecernaan bahan kering 67,87 ± 2,44
%, kecernaan protein 85,04 ± 3,28 %, jumlah konsumsi pakan 230 ± 4,08 g, bobot akhir
11,81 ± 0,45 g, laju pertumbuhan spesifik 1,65 ± 0,40 % dan tingkat kelangsungan hidup
75,00 ± 0,11 % dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Kata kunci : Aspergillus niger, dedak padi, ikan nila, pakan.

ABSTRACT
Tilapia (Oreochromis niloticus) is a type of aquaculture commodity that has high
economic value. This research aims to know the effect of feeding of rice bran
fermentation on feed raw material to the parameter digestibility and growth of tilapia.
The used tilapia were sized 5.33 ± 0.00 g/fish with stocking density 15 fish/40 L
(aquarium). Fish were fed three times daily in ad satiation. This study used three
treatment with four replications, namely (A) commercial feed as control, (B) commercial
feed with the addition of rice bran fermentation with Aspergillus niger, (C) commercial
feed with the addition of rice bran without fermentation. The results showed that the feed
(B) can improve nutrient digestibility and growth of tilapia with dry matter digestibility of
67,87 ± 2,44 %, protein digestibility of 85.04 ± 3.28 %, feed intake of 230 ± 4.08 g, final
weight 11.81 ± 0.45 g, specific growth rate of 1.65 ± 0.40 % and survival rate of 75.00 ±
0.11 % compared to the other treatments.
Keywords : Aspergillus niger, feed, rich bran, tilapia.

Pemanfaatan Dedak Padi Fermentasi ….. 79


Jurnal Perikanan dan Kelautan Volume 8 Nomor 1 : 79 – 87. Juni 2018

PENDAHULUAN
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu jenis komoditas
akuakultur yang mempunyai nilai ekonomis tinggi sebagai ikan konsumsi air
tawar di dunia (FAO 2014). Laporan Kinerja (LKj) Direktorat Jenderal Perikanan
Budidaya tahun 2016 menyebutkan bahwa pada tahun 2014 produksi budidaya
ikan nila nasional adalah sebesar 999.695 Ton dan mengalami peningkatan pada
tahun 2015 menjadi 1.576.607 Ton dengan peningkatan rata-rata sebesar 30,29 %.
Hal ini sesuai dengan data dari Laporan Kinerja (LKj) Direktorat Jenderal
Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Triwulan I Tahun 2016
menyebutkan bahwa tingginya tingkat rata-rata konsumsi ikan nasional pada
tahun 2015, yakni sebesar 41,11 kg/kapita. Peningkatan tersebut mendorong para
pembudidaya untuk melakukan budidaya intensif dengan pemberian pakan yang
memiliki kualitas dan kuantitas nutrisi yang baik pada ikan nila. Usaha
meningkatkan kuantitas dan kualitas pakan komersil berdampak pada biaya
operasional budidaya ikan secara intensif yakni lebih dari (60-70 %) dari total
biaya produksi.
Biaya yang tinggi, serta ketersediaan sumber bahan baku pakan yang
berkualitas seperti tepung ikan, jagung dan bungkil kedelai sebagai sumber
protein belum memadai dan sebagian besar masih diimpor (Laelasari dan
Purwadaria 2004). Menurut Putra (2010), Bahan baku sumber protein pada pakan
seperti tepung ikan dan tepung kedelai, harga yang semakin tinggi di pasaran dan
ketersediaannya juga semakin berkurang di alam. Ditambah lagi, sebagian besar
pelaku budidaya masih bergantung pada bahan baku impor sekitar 70% (Alim
2016). Salah satu upaya mengatasi ketergantungan bahan baku pakan impor
adalah pemanfaatan bahan baku lokal. Bahan baku lokal yang digunakan harus
memiliki nilai gizi yang tinggi, tidak beracun, harga relatif murah, sangat
melimpah dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, diant aranya dedak padi.
Dedak padi merupakan hasil ikutan proses penggilingan padi menjadi
beras. Berdasarkan SNI 3178:2013, komposisi kandungan nutrisi dedak padi
digolongkan dalam 3 (tiga) tingkatan mutu, yaitu mutu I, mutu II, dan mutu III.
Persyaratan mutu nutrisi dedak padi yaitu: 1) Kadar air maks: 13,0 %, 2) Abu
maks (%): 11,0 (mutu I); 13,0 (mutu II); dan 15,0 (mutu III), 3) Protein kasar min
(%): 12,0 (mutu I); 10,0 (mutu II); dan 8,0 (mutu III), 4) Serat kasar min (%): 11,0
(mutu I); 14,0 (mutu II); dan 16,0 (mutu III); dan 5) Lemak maks (%): 15,0 (mutu
I); 20,0 (mutu II); dan 20,0 (mutu III) (BSN 2013). Dedak padi sudah banyak
digunakan sebagai bahan pakan, namun penggunaanya sangat terbatas.
Penggunaan dedak padi 10% dalam formulasi pakan ikan nila memberikan
pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainya (Lestari et al.
2013). Pemanfaatan Aspergillus niger pada fermentasi daun kelor sebagai pakan
ikan nila mampu memberikan nilai pertumbuhan yang terbaik dibandingkan
dengan fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae dan Rhizopus
oligosporus (Widianingsih 2016). Selain itu, secara ekonomi Aspergillus niger
mudah didapat dengan harga yang murah, dan mampu berkembang pada media
yang biayanya relatif murah serta ketersediaannya mudah didapatkan. Pemberian
pakan dedak padi yang difermentasi Aspergillus niger diharapkan dapat
meningkatkan pemanfaatan pakan pada budidaya ikan nila. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan dedak padi fermentasi

80 Ikhwanuddin et al.
Jurnal Perikanan dan Kelautan Volume 8 Nomor 1 : 79 – 87. Juni 2018

menggunakan Aspergillus niger terhadap parameter pertumbuhan dan nilai


kecernaan pakan ikan nila.

METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian.
Penelitian dilaksanakan selama empat bulan mulai bulan September-
Desember 2017 di Laboratorium Budidaya, Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pembuatan pakan dilakukan di Balai Benih
Ikan (BBI) Baros, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, Banten. Sedangkan
analisis proksimat pakan dan feses (kadar air, kadar protein) dan Cr2O3 dilakukan
di Laboratorium Nutrisi Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Pungujian Fermentasi Dedak Padi.


Tujuan dari tahapan ini adalah mengetahui kombinasi terbaik antara lama
inkubasi dan dosis Aspergillus niger dalam menurunkan nilai serat kasar.
Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak faktorial dengan 2 faktor, yaitu
dosis Aspergillus niger dengan 3 taraf: ( 0(A0), 0,5(A1), 1,5 (A2) g/100 ) dan lama
inkubasi dengan 3 taraf: ( 0(T0), 24(T1), 48(T2) jam ) dengan 3 kali ulangan.
Proses fermentasi diawali dengan proses pengukusan dedak padi sebanyak 3.000
g, pada saat air mendidih 100oC dedak padi dikukus selama 30 menit, lalu
didinginkan. Selanjutnya ditambahkan Aspergillus niger dengan dosis 0, 0,5, 1,5
g/100g. Setelah itu dimasukkan ke dalam plastik polyetilene yang telah diberi
lubang kecil-kecil untuk mendapatkan kondisi aerob. Proses inkubasi dilakukan
selama 0, 24, 48 jam pada suhu ruang. Setelah fermentasi selesai, dilakukan
pengeringan dengan oven pada suhu 60oC selama 10 menit. Parameter yang
diamati adalah kadar serat kasar. Kombinasi dosis Aspergillus niger dan lama
inkubasi terbaik dalam menurunkan nilai serat kasar akan digunakan pada tahapan
uji kecernaan pakan pada ikan nila.

Pengujian Dedak Padi Fermentasi pada Pakan.


Pengujian dedak padi sebagai bahan pakan mengacu pada Takeuchi (1988)
yaitu 70 % pakan komersial diformulasikan dengan 30 % bahan uji. Tahapan ini
bertujuan untuk membandingkan pengaruh dedak padi fermentasi Aspergillus
niger sebagai bahan baku pakan terhadap nilai kecernaan dan pertumbuhan ikan
nila (Oreochromis niloticus). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap
(RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dengan 4 kali ulangan, yaitu:
Pakan A = Pakan komersial 96,5 % (kontrol)
Pakan B = Pakan komersial 70 % dengan tambahan 30 % dedak padi fermentasi.
Pakan C = Pakan komersial 70 % dengan tambahan 30 % dedak padi.
Pakan uji dibuat dalam bentuk moist pellet menggunakan mesin pencetak
pakan dengan ukuran 2 mm. Selanjutnya pakan dijemur sampai kering dengan
sinar matahari kemudian pakan siap diuji. Formulasi pakan uji pada penelitian
disajikan pada (Tabel 1).

Pemanfaatan Dedak Padi Fermentasi ….. 81


Jurnal Perikanan dan Kelautan Volume 8 Nomor 1 : 79 – 87. Juni 2018

Tabel 1. Formulasi pakan uji pada penelitian.


Perlakuan
Komposisi
A B C
Pakan Komersial 96,5 66,5 66,5
Tepung Dedak padi fermentasi 0 30 0
Tepung Dedak Padi tanpa fermentasi 0 0 30
Tepung Tapioka 3 3 3
Cr2O3 0,5 0,5 0,5
Total 100 100 100

Ikan uji yang digunakan pada penelitian ini yaitu ikan nila (Oreochromis
niloticus) yang diperoleh dari Balai Benih Ikan (BBI) Baros. Ikan nila dipelihara
dengan kepadatan 15 ekor ikan/40 liter, akuarium yang digunakan berukuran
35×30×75 cm dengan bobot awal rata-rata individu ikan uji adalah 5,33 ± 0,00 g.
Wadah pemeliharaan dilengkapi dengan aerasi dan sistem resirkulasi dengan
penggunaan blower dan filter. Filter yang digunakan dalam sistem resirkulasi
adalah dakron, zeolit, dan bio ball.
Ikan diadaptasi selama 7 hari dengan diberi pakan uji. Pada hari ke 8 feses
mulai dikumpulkan (Indariyanti 2011). Pemberian pakan uji dilakukan tiga kali
dalam sehari selama 30 hari yaitu pada pukul 08.00, 12.00 dan 16.00 WIB secara
at satiation atau sekenyangnya. Pengumpulan feses dilakukan dengan penyiponan
sesaat setelah dikeluarkan oleh ikan. Feses ditampung dalam botol film dan
disimpan dalam lemari pendingin (Indariyanti 2011). Feses yang telah terkumpul
dikeringkan dalam oven pada suhu 120oC selama 24 jam. Selanjutnya dilakukan
analisis proksimat dan Cr2O3 terhadap feses yang telah dikeringkan (Takeuchi
1988). Parameter yang diamati pada penelitian tersaji pada (Tabel 2).
Tabel 2. Parameter penelitian.
No Variabel Metode Keterangan
1 Fermentasi dedak padi - Awal
2 Jumlah konsumsi pakan - Akhir
3 Kecernaan bahan kering Takeuchi (1988)
4 Kecernaan protein Takeuchi (1988)
5 Bobot akhir - Akhir
6 Laju pertumbuhan spesifik Huisman (1987)
7 Kecernaan bahan baku Watanabe (1988)
8 Tingkat kelangsungan hidup Akhir

Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam dengan
tingkat kepercayaan 95 %. Uji lanjut menggunakan uji Duncan’s Multiple Range
dengan menggunakan program komputer SPSS 23.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil pengujian dedak padi fermentasi terhadap kadar serat kasar disajikan
pada (Tabel 3). Hasil pengujian menunjukkan bahwa dedak padi fermentasi

82 Ikhwanuddin et al.
Jurnal Perikanan dan Kelautan Volume 8 Nomor 1 : 79 – 87. Juni 2018

menggunakan Aspergillus niger memberikan hasil kinerja yang lebih baik dalam
menurunkan kadar serat kasar.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan dosis
Aspergillus niger sampai 1,5 % dan lama inkubasi sampai 48 jam memperlihatkan
adanya interaksi (P<0,05). Perlakuan dosis Aspergillus niger dan lama inkubasi
yang terbaik yaitu pada perlakuan dosis 0,5 % (A1) dengan lama inkubasi 48 jam
(T2) nilai sebesar 6,88 ± 0,40a,A %. Penurunan serat kasar disebabkan adanya
aktivitas enzim yang mampu mendegradasi serat kasar dedak padi menjadi lebih
tinggi oleh kapang Aspergillus niger. Hal tersebut dikarenakan Aspergillus niger
menghasilkan enzim selulosa yang mampu menghidrolisis sesulosa
(Tampoebolon 2009). Penggunaan dosis A. niger 0,5 % (A1) dengan lama
inkubasi 48 jam (T2) pada dedak padi akan ditambahkan dalam formulasi pakan
ikan nila.
Tabel 3. Hasil pengujian dedak padi fermentasi terhadap kadar serat kasar.
Lama Inkubasi (Jam)
Dosis Fermentasi
0 (T0) 24 (T1) 48 (T2)
(%) (%)
0 (A0) 10,69 ± 0,00c,B 10,69 ± 0,00b,B 10,69 ± 0,00a,B
0,5 (A1) 8,61 ± 0,49c,A 7,92 ± 1,00b,A 6,88 ± 0,40a,A
1,5 (A2) 9,77 ± 0,65c,A 7,93 ± 0,40 b,A
6,97 ± 0,80a,A
Keterangan: Huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan hasil yang
berbeda nyata (P<0,05).

Hasil nilai kecernaan nutrien dan pertumbuhan ikan nila selama penelitian
tersaji pada (Tabel 4). Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan 30%
dedak padi fermentasi Aspergillus niger pada pakan (B) memberikan hasil kinerja
pertumbuhan relatif lebih baik dibandingkan dengan perlakuan pakan (A) dan
pakan (C) untuk setiap parameternya. Nilai kecernaan nutrien dan pertumbuhan
ikan nila pada pakan (B) relatif lebih baik karena adanya penambahan sumber
protein dedak padi dari mekanisme enzim yang dihasilkan Aspergillus niger yang
dapat merubah zat-zat kompleks menjadi lebih sederhana sehingga mudah
dicerna untuk menghasilkan energi yang digunakan sebagai pertumbuhan ikan.
Tabel 4. Bobot Awal (B), Jumlah Konsumsi Pakan (JKP), Kecernaan Bahan
Kering (KBK), Kecernaan Protein (KP), Bobot Akhir (BA), Laju
Pertumbuhan Spesifik (LPS), dan Tingkat Kelangsungan Hidup (TKH)
pada ikan nila (Oreochromis niloticus)
Perlakuan
Parameter
Kontrol (A) Fermentasi (B) Tanpa Fermentasi (C)
B (g) 5,33 ± 0,00 5,33 ± 0,00 5,33 ± 0,00
JKP (g) 216,00 ± 7,87b 230,00 ± 4,08c 202,50 ± 8,66a
KBK (%) 67,19 ± 3,46 67,87 ± 2,44 66,15 ± 1,61
KP (%) 81,03 ± 4,62 85,30 ± 3,28 79,64 ± 2,69
b b
BA (g) 11,40 ± 0,53 11,81 ± 0,45 10,48 ± 0,30a
LPS (%) 1,57 ± 0,38 1,66 ± 0,40 1,21 ± 0,26
TKH (%) 75,00 ± 0,06 75,00 ± 0,11 73,00 ± 0,05
Keterangan: Huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan hasil yang
berbeda nyata (P<0,05).

Pemanfaatan Dedak Padi Fermentasi ….. 83


Jurnal Perikanan dan Kelautan Volume 8 Nomor 1 : 79 – 87. Juni 2018

Hasil bobot rata-rata ikan pada awal pemeliharaan menunjukkan nilai yang
tidak berbeda nyata (P>0,05) antara semua perlakuan. Penyeragaman ukuran
diawal pemeliharaan dilakukan untuk menghindari adanya pengaruh dari
bobot ikan. Jumlah konsumsi pakan merupakan jumlah pakan yang dimakan atau
dikonsumsi oleh ikan selama waktu pemeliharaan yaitu selama 30 hari. Hasil
penelitian memperlihatkan bahwa konsumsi pakan tertinggi diperoleh pada
perlakuan B dengan penambahan 30 % dedak padi fermentasi Aspergillus niger
sebesar 230,00 ± 4,08c g yang nilainya berbeda nyata (P<0,05) jika dibandingkan
dengan perlakuan lainnya. Selanjutnya jumlah konsumsi pakan secara berurut
diikuti perlakuan A yaitu pakan komersil sebesar 216,00 ± 7,87b g dan yang
terakhir adalah perlakuan C dengan penambahan 30 % dedak padi tanpa
fermentasi 202,50 ± 8,66a g. Perbedaan jumlah konsumsi pakan diduga berasal
dari kualitas bahan baku pakan yang berbeda berpengaruh terhadap palatabilitas.
Tingkat palatabilitas yang rendah ditunjukkan oleh seberapa lambatnya pakan
yang dapat direspon oleh ikan. Atraktan yang menimbulkan rangsangan pada ikan
oleh indera berupa rasa, bau, dan tekstur dari pakan. Atraktan yang terkandung
dalam pakan sebagai sinyal pada hewan akuatik, sehingga ikan dapat mengenali
pelet sebagai sumber makanannya (Shankar et al. 2008). Atraktan umumnya
dihasilkan dari kandungan protein atau asam amino yang mana memiliki peranan
penting sebagai komponen untuk memacu pertumbuhan dan sebagai sumber
energi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Widianingsih (2016) yang
menyatakan bahwa penambahan Aspergillus niger pada tepung daun kelor
sebagai bahan baku pakan dapat memberikan pengaruh positif terhadap konsumsi
pakan ikan nila.
Nilai kecernaan bahan kering pada penelitian ini nilai KBK tertinggi yaitu
pada perlakuan B sebesar 67,87 ± 2,44 % menunjukkan hasil yang tidak berbeda
nyata (P>0,05) terhadap perlakuan lainnya. Semakin tinggi level pertumbuhan
Aspergillus niger, maka semakin tinggi nutrien dalam pakan yang dapat dicerna
oleh ikan. Kecernaan bahan kering (KBK) merupakan banyaknya nutrien dalam
pakan yang dapat dicerna oleh ikan (Putra 2010). Nilai kecernaan protein tertinggi
terdapat pada perlakuan B sebesar 85,30 ± 3,28 %, menunjukkan hasil yang tidak
berbeda nyata (P>0,05) terhadap perlakuan lainnya. Nilai kecernaan protein
merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui efesiensi pakan yang
diberikan pada ikan (Handajani 2011). Kecernaan protein pada semua perlakuan
berada pada kisaran >75 %, dan masih dalam kisaran kecernaan protein normal
ikan secara umum sebesar 75-95 % (NRC 1993). Peningkatan kecernaan protein
terjadi karena adanya penambahan sumber protein dedak padi dari mekanisme
enzim yang dihasilkan Aspergillus niger yang dapat merubah zat-zat kompleks
menjadi bentuk yang sederhana. Erfanto et al. (2013), menyatakan bahwa proses
fermentasi mengubah protein rantai panjang menjadi ikatan peptida rantai pendek,
sehingga akan mudah diserap oleh ikan untuk pertumbuhan. Semakin baik
kualitas protein pakan maka semakin banyak protein yang akan dicerna sehingga
menghasilkan energi yang dapat digunakan untuk pertumbuhan.
Bobot rata-rata akhir ikan nila selama pemeliharaan pada perlakuan B
menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap perlakuan C, namun
tidak berbeda nyata (P<0,05) terhadap perlakuan A. Pertambahan bobot pada
setiap perlakuan memiliki kolerasi positif terhadap laju pertumbuhan spesifik
dengan perlakuan B yang menjadi perlakuan terbaik. Laju pertumbuhan spesifik

84 Ikhwanuddin et al.
Jurnal Perikanan dan Kelautan Volume 8 Nomor 1 : 79 – 87. Juni 2018

(LPS) merupakan laju pertambahan bobot individu dalam persen per hari. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa nilai LPS tertinggi terdapat pada perlakuan B
tidak berbeda nyata (P<0,05) terhadap perlakuan lainnya. Menurut Elyana (2011),
bahwa laju pertumbuhan ikan akan meningkat seiring dengan meningkatnya kadar
protein pakan. Pertumbuhan ikan terjadi apabila terdapat kelebihan input energi
dan protein yang berasal dari makanan (Effendie 1997). Pada penelitian nilai TKH
ini menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap semua
perlakuan. Tingkat kelangsungan hidup (TKH) adalah perbandingan antara
jumlah ikan pada awal pemeliharaan dengan jumlah ikan yang dipanen atau pada
akhir pemeliharaan (Effendie 1997).
Kecernaan bahan baku (KBB) merupakan indikator penting dalam menilai
mutu bahan baku yang dapat dimanfaatkan oleh ikan. Hasil nilai kecernaan bahan
baku dedak padi pada bahan pakan tersaji pada (Tabel 5).
Tabel 5. Hasil nilai kecernaan bahan baku dedak padi pada bahan pakan.
Perlakuan Nilai KBB (%)
Fermentasi (B) 65,60 ± 16,98
Tanpa Fermentasi (C) 69,61 ± 11,57
Keterangan: Huruf superscript yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan hasil yang
berbeda nyata (P<0,05).

Nilai KBB tertinggi terdapat pada perlakuan C sebesar 69,61 ± 11,57 %,


kemudian diikuti oleh perlakuan B sebesar 65,60 ± 16,98 %. Nilai KBB perlakuan
C tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap perlakuan B. Penggunaan 30 % bahan
baku dedak padi yang terfermentasi Aspergillus.niger pada pakan menghasilkan
kinerja pertumbuhan ikan nila yang relatif lebih baik dengan penggunaan dedak
padi 0 % atau pakan acuan. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang
menggunakan dedak padi sebagai bahan pakan yang ditambahkan ke pakan ikan
patin sampai 40 % tanpa memberikan dampak negatif pada pertumbuhan ikan
patin (Mediawati 2009).

KESIMPULAN
Penggunaan 30 % dedak padi fermentasi menggunakan Aspergillus niger
dapat digunakan sebagai bahan baku pakan ikan nila karena menunjukkan hasil
terbaik dalam meningkatkan kecernaan dan pertumbuhan ikan uji, dengan nilai
jumlah konsumsi pakan, kecernaan bahan kering, kecernaan protein, bobot akhir
dan laju pertumbuhan spesifik dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui efektivitas dedak padi
hasil fermentasi Aspergillus niger dalam formulasi pakan ikan nila.

UCAPAN TERIMAKASIH
Peneliti menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan dana
penelitian yang diterima dari PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, melalui
program Indofood Riset Nugraha periode 2017/2018 serta, dosen pembimbing
peneliti, Dr. Mustahal M.Sc dan Achmad Noerkhaerin Putra, S.Pi., M.Si yang
telah membantu dan membimbing selama penelitian.

Pemanfaatan Dedak Padi Fermentasi ….. 85


Jurnal Perikanan dan Kelautan Volume 8 Nomor 1 : 79 – 87. Juni 2018

DAFTAR PUSTAKA
Alim PRA. 2016. Evaluasi Tepung Ceratophyllum sp. sebagai Bahan Pakan untuk
Ikan Nila Oreochromis niloticus. [SKRIPSI]. Bogor: Jurusan Budidaya
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
27 hlm.
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2013. Dedak Padi - Bahan Pakan Ternak.
SNI 3178:2013. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional. 10 hlm
[Ditjen PDSPKP] Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan
Perikanan. 2016. Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Penguatan Daya
Saing Produk Kelautan dan Perikanan (Ditjen PDSPKP) Triwulan I Tahun
2016. Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 67
hlm.
[Ditjen PB] Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 2016. Laporan Kinerja
(LKj) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Tahun 2015. Jakarta:
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 174 hlm.
Effendie MI. 1997. Biologi Perikanan. Bogor: Yayasan Pustaka Nusatama. 163
hlm.
Elyana P. 2011. Pengaruh Penambahan Ampas Kelapa Hasil Fermentasi
Aspergillus oryzae dalam Pakan Komersial Terhadap Pertumbuhan Ikan
Nila (Oreochromis niloticus Linn.). [SKRIPSI]. Surakarta: Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas
Maret. 77 hlm.
Erfanto F, Hutabarat J dan Arini E. 2013. Pengaruh Substitusi Silase Ikan Rucah
dengan Presentase yang Berbeda pada Pakan Buatan terhadap Efisiensi
Pakan, Pertumbuhan dan Kelulushidupan Benih Ikan Mas (Cyprinus
carpio). Journal of Aquculture Management and Technology. 2(2): 26-36.
[FAO] Food and Agriculture Organization of the United Nations. 2014. The State
of World Fisheries and Aquaculture: Opportunities and Challenges. Rome:
FAO. 223 pp.
Handajani H. 2011. Optimalisasi Substitusi Tepung Azolla Terfermentasi pada
Pakan Ikan untuk Meningkatkan Produktivitas Ikan Nila Gift. Jurnal Teknik
Industri. 12(2): 177-181.
Huisman EA. 1987. Principles of Fish Production. Department of Fish Culture
and Fisheries. Wageningan: Wageningen Agriculture University
Netherland. 170p.
Indariyanti N. 2011. Evaluasi Kecernaan Campuran Bungkil Inti Sawit dan
Onggok yang di Fermentasi oleh Trichoderma harzianum Rifai untuk Pakan
Nila Oreochromis sp. [TESIS]. Bogor: Program Studi Akuakultur, Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 54 hlm.
Laelasari dan Purwadaria T. 2004. Pengkajian Nilai Gizi Hasil Fermentasi Mutan
Aspergillus niger pada Substrat Bungkil Kelapa dan Bungkil Inti Sawit.
Jurnal Biodiversitas. 5(2): 48-51.

86 Ikhwanuddin et al.
Jurnal Perikanan dan Kelautan Volume 8 Nomor 1 : 79 – 87. Juni 2018

Lestari SF, Yuniarti S, Abidin Z. 2013. Pengaruh Formulasi Pakan Berbahan


Baku Tepung Ikan, Tepung Jagung, Dedak Halus dan Ampas Tahu
Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis sp). Jurnal kelautan. 6(1):
36-46
Mediawati I. 2009. Pengaruh Penggunaan Dedak Fermentasi pada Pakan
Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Patin (Pangasius djambal). [SKRIPSI].
Bandung: Program Studi Biologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati,
Institut Teknik Bandung. 47 hlm.
[NRC] National Research Council. 1993. Nutrient Requirements of Fish.
Washington DC: National Academic Press. 273 pp.
Putra AN. 2010. Kajian Probiotik, Prebiotik dan Sinbiotik untuk Meningkatkan
Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus). [TESIS]. Bogor:
Program Studi Ilmu Akuakultur, Program Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor. 63 hlm.
Shankar R, Murthy S, Pavadi P, Thanuja K. 2008. Effect of Betaine as a Feed
Attractant on Growth, Survival, and Feed Utilization in Fingerlings of the
Indian Major Carp Labeo rohita. The Israeli Journal of Aquaculture–
Bamidgeh. 60: 95–99.
Takeuchi T. 1988. Laboratory Work-Chemical Evaluation of Dietary Nutrients,
p.179-223. In Watanabe T. (Ed): Fish Nutrition and Mariculture, Tokyo
(JP): Kanagawa International Fisheries Training. Japan International
Coopration Agency (JICA). 256 pp.
Tampoebolon BIM. 2009. Kajian Perbedaan Aras dan Lama Pemeraman
Fermentasi Ampas Sagu dengan Aspergillus niger Terhadap Kandungan
Protein Kasar dan Serat Kasar. Prosiding Seminar Nasional Kebangkitan
Peternakan. Semarang, 20 Mei 2009. Semarang: Fakultas Peternakan,
Universitas Diponegoro. 235-243 hlm.
Watanabe T. 1988. Fish Nutrition and Mariculture. JICA Textbook. The general
Aquaculture Course. Tokyo (JP): Department of Aquatic Biosciences,
Tokyo University of Fisheries. 233 pp.
Widianingsih C. 2016. Gambaran Darah dan Pertumbuhan Ikan Nila
(Oreochromis niloticus) dengan Penambahan Daun Kelor (Moringa
oleifera) Hasil Fermentasi pada Pakan. [SKRIPSI]. Serang: Jurusan
Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. 43 hlm.

Pemanfaatan Dedak Padi Fermentasi ….. 87


Jurnal Perikanan dan Kelautan Volume 8 Nomor 1 : 79 – 87. Juni 2018

88 Ikhwanuddin et al.
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 7 No. 1, April 2015

PENINGKATAN NILAI NUTRISI POLLARD MELALUI FERMENTASI RAGI TEMPE


SEBAGAI BAHAN PAKAN BUATAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

INCREASED NUTRITIONAL VALUE POLLARD THROUGH YEAST FERMENTATION


TEMPE AS ARTIFICIAL FEED INGREDIENTS TILAPIA (Oreochromis niloticus)

Miftakhul Munir1, Romziah Sidik2 dan Gunanti Mahasri3


1
Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga
Kampus B Jl. Airlangga 4-6 Surabaya, 60286 Telp. 031-5041566
2
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga
Kampus C Mulyorejo - Surabaya 60115
3
Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga
Kampus C Mulyorejo – Surabaya, 60115 Telp. 031-5033710

Abstract

Tilapia (Oreochromis niloticus) is a type of fish that is easily cultivated in various places (pond,
floating cage and rice fields). Pollard is an alternative feed ingredients that have great potential, both as a
source of energy, crude fiber source, or sources other macro nutrients. Mold in fermentation used and
contributes to a feed enzymes that help digestion and to penetrate into the network feed that network
structure becomes brittle and breaks down and the surface becomes more widespread. more surface
enables direct contact with digestive enzymes cellulose greater. The results of the analysis of the nutrient
content of food research trials show that using tempeh fermentation pollard 0.2% can increase the
nutritional value of protein pollard 14.88%. Pollard tempeh fermentation using 0.2% can improve the
digestibility of crude fiber and digestibility of dry matter pollard. Feed consumption of tilapia in the
treatment using fermented tempeh pollard 0.2% is not significantly different from the commercial feed.
Pollard tempeh fermentation using 0.2% to 16.98% protein content can increase the growth rate of tilapia.

Keywords : pollard tempeh, fermentation, tilapia, nutrition value, digestion

Pendahuluan tepung ikan sebagai bahan utama penyusun


Ikan nila terkenal dengan pakan ikan relatif mahal yaitu Rp. 8.000/kg
keunggulannya yaitu mudah berkembang biak, dengan kandungan protein minimal 40%, hal ini
pertumbuhannya cepat, tahan terhadap penyakit, menyebabkan harga pakan buatan komersil
rasanya enak dan mudah beradaptasi dengan menjadi relatif tinggi. Untuk mencapai hal ini
kondisi lingkungan (National Freshwater perlu diusahakan penggunaan bahan baku
Fisheries, 2006). Selain pemakan plankton alternatif pengganti / pendamping tepung ikan
yang cenderung omnivor, ikan nila memiliki yang harganya relatif murah.
kemampuan untuk hidup pada rentang salinitas Pollard merupakan bahan pakan
yang luas sehingga dapat dibudidayakan di air alternatif yang memiliki potensi besar, baik
tawar, payau maupun di laut (Wardoyo, 2007). sebagai sumber energi, sumber serat kasar,
Pakan merupakan salah satu faktor ataupun sumber makro nutrien lainnya. Faktor
pembatas produksi dalam suatu kegiatan pembatas penggunaannya dalam ransum adalah
budidaya ikan, terutama pada sistem intensif. tingginya kandungan serat kasar dari pollard
Secara fisiologis, pakan akan berpengaruh tersebut. Akan tetapi, kehadiran serat kasar di
terhadap pertumbuhan dan perkembangan ikan, dalam ransum sangat essensial sekali artinya
juga sebagai sumber energi, gerak dan karena serat kasar mempunyai fungsi fisiologis
reproduksi. Pakan yang dimakan ikan akan dan fungsi nutrisi (Siri et al., l992). Menurut
diproses dalam tubuh dan unsur-unsur nutrisi Lovell (1989), pollard mengandung protein
atau gizinya akan diserap untuk dimanfaatkan cukup tinggi (15,5%), lemak 4% dan serat
membangun jaringan sehingga terjadi kasar10%. Kandungan pati kedua bahan
pertumbuhan. Faktor pakan menentukan biaya tersebut cukup tinggi yaitu diatas 60% tetapi
produksi mencapai 60 % - 70 % dalam usaha kecernaan pati pada ikan relatif rendah.
budidaya ikan nila secara intensif. Kapang, dalam fermentasi
Biaya produksi dan komponen utama dimanfaatkan dan berperan menghasilkan enzim
dalam pakan ikan ialah tepung ikan dan harga yang membantu kecernaan pakan, seperti enzim

67
Peningkatan Nilai Nutrisi Pollard......

amilase, protease, polimerase dan menghasilkan 0,2%, P3: pakan formulasi mandiri protein
protein sel tunggal (PST). Salah satu jenis 22,8%), dan 6 ulangan.
kapang yang sering dijumpai dalam ragi tempe
adalah Rhizopus oligosporus. Hasil dan Pembahasan
Kapang ini dapat digunakan sebagai Tabel 1. Analisis Proksimat Tepung Pollard dan
kultur tunggal dalam laru / inokulum tempe. Pollard fermentasi berdasarkan bahan
Jenis kapang lainnya seperti Rhizopus oryzae, kering bebas air
R. Stolonifer dan R. arrhizus juga sering ditemui Pollard Pollard
pada kultur campuran ragi tempe (%) fermentasi
(Iskandar,2002). Rhizopus oligosporus (%)
dimanfaatkan dalam pembuatan tempe dari Bahan Kering 90,10 96,34
proses fermentasi kacang kedelai, karena Abu 4,34 5,52
Rhizopus oligosporus yang menghasilkan enzim Protein 14,78 16,98
fitase yang memecah fitat membuat komponen Lemak 7,77 8,79
makro pada kedelai dipecah menjadi komponen Serat Kasar 9,78 12,88
mikro sehingga tempe lebih mudah dicerna BETN 53,40 52,17
dan zat gizinya lebih mudah terserap tubuh ME 20,40 31,48
(Jennessen et al., 2008).
Berdasarkan data Tabel 1. terlihat bahwa tepung
Materi dan Metode Pollard yang difermentasi mengalami kenaikan
Penelitian dilakukan di Instalasi untuk kadar protein dari 14,78% menjadi
Budidaya Air Payau Lamongan Jawa Timur, 16,98%. Nilai persentase protein pada pollard
sedangkan analisis proksimat dilakukan di terfermentasi ragi tempe 0,2% mengalami
Laboratorium Pakan Ternak Fakultas kenaikan sebesar 14,88% jika dibandingkan
Kedokteran Hewan Universitas Airlangga dengan nilai protein pollard murni. Gultom dkk
Surabaya, Jawa Timur. Bahan yang digunakan (2000) menyatakan bahwa pada dasarnya
dalam penelitian ini meliputi ikan nila GMT kandungan protein yang meningkat merupakan
(Genetically Male of Thilaphia) Salin dengan kontribusi protein sel tunggal dari mikroba
ukuran panjang 11 - 13,5 cm, berat 26 - 41 gram fermenter dan juga karena terjadinya
sejumlah 180 ekor; ragi tempe (inokulum biokonversi senyawa-senyawa organik dan
tempe) merk JAGO; aquadest; pollard; pakan anorganik menjadi protein yang terakumulasi
pellet komersial dengan kandungan protein 23 dalam bentuk koloni selama proses fermentasi.
%; tepung ikan; tepung kangkung; minyak
ikan; feses ikan nila. Alat yang digunakan Tabel 2. Konsumsi pakan harian ikan nila
dalam penelitian ini adalah akuarium (ukuran 60 selama penelitian
x 40 x 45 cm berjumlah 18 unit); aluminium Perlakuan Jumlah Konsumsi
foil; nampan plastik; nampan aluminium; Pakan ±SD
pengukus; plastik pembungkus; alat ukur (gr/ek/30 hari)
kualitas air (thermometer, hand refaktometer, P1 29,90 ±2,06
DO meter, pH Meter). P2 29,49 ±1,3
Penelitian ini terdiri dari dua tahap, P3 28,79 ±0,6
yaitu: 1). Fermentasi pollard dengan ragi tempe
0,2%, setelah pollard difermentasi, dilakukan Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan
analisis proksimat untuk mengetahui kandungan bahwa jumlah konsumsi pakan ikan nila selama
nutrien yang dijadikan dasar untuk pembuatan masa pemeliharaan (30 hari) tidak berbeda
formulasi pakan. 2). Formulasi pakan pollard nyata pada tiap perlakuan.
hasil fermentasi dan aplikasi pada ikan nila Tingginya nilai penyerapan nutrisi
untuk menentukan jenis formulasi pakan yang oleh ikan nila juga didukung oleh nilai serat
dapat menghasilkan pertumbuhan ikan nila kasar pakan terkonsumsi, nilai kecernaan serat
tertinggi. Rancangan penelitian yang digunakan kasar, dan nilai kecernaan bahan kering
dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak tertinggi pada perlakuan P2. Hal ini diduga
Lengkap (RAL), dengan mengkondisikan karena adanya proses fermentasi pollard oleh
semua faktor sama dan homogen, kecuali faktor ragi tempe 0,2% membantu memecah bentuk
perlakuan. Pengujian dilakukan dengan 3 nutrisi yang kompleks menjadi bentuk yang
perlakuan (P1 : pakan komersial protein 23%, lebih sederhana sehingga mudah diserap oleh
P2 : Pakan pollard terfermentasi ragi tempe tubuh ikan.

68
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 7 No. 1, April 2015

Tabel 3. Nilai kecernaan pakan biomass


Bahan Kering Serat Kasar Bahan Serat Kecernaan Kecernaan
Pakan Pakan Kering Kasar Bahan Serat
Perlakuan
terkonsumsi terkonsumsi Feses Feses Kering Kasar
(gr) (gr) (gr) (gr) (%) (%)
b 19,34a ± 4,33a ± 72,28c ± 46,82b ±
P1 70,03 ± 7,109 8,18 ± 0,831
1,693 0,288 2,280 3,657
a 16,79b ± 3,70b ± 77.87a ± 63.52a ±
P2 76,27 ± 7,038 10.19 ± 0,940
0,763 0,316 1.662 2.601
c 17,10b ± 3,67b ± 75.79b ± 47,49b ±
P3 70,66 ±7,547 7,00 ± 0,748
1,848 0,387 0,729 2,220
a dan b superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang berbeda nyata (p<0.05)

Tabel 4. Laju pertumbuhan berat tubuh harian ikan nila selama penelitian
Hari Ke-
Perlakuan 7 14 21 30
(%) (%) (%) (%)
P1 1,7 ± 0,158 1,63b ± 0,071 1,57b ± 0,052 1,53b ±0,037
b b
P2 1,64 ± 0,179 1,57 ± 0,075 1,53 ± 0,045 1,48b ±0,031
a a
P3 1,81 ± 0,105 1,73 ± 0,058 1,67 ± 0,047 1,61a ±0,040
a dan b superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan hasil yang berbeda nyata (p<0.05)

Terjadi peningkatan pertumbuhan ikan Kesimpulan


nila mulai hari ke 8 sampai hari ke 30 terutama Fermentasi pollard menggunakan ragi
pada perlakuan P3, hal ini diduga disebabkan tempe 0,2% dapat meningkatkan kadar protein
adanya peningkatan daya cerna nutrisi karena sebesar 14,88 % serta meningkatkan kecernaan
proses fermentasi, Nutrisi pada pakan perlakuan serat kasar dan bahan kering pollard, serta dapat
P3 selain dipenuhi oleh pollard terfermentasi ragi meningkatkan laju pertumbuhan ikan nila.
tempe juga dipenuhi dari bahan baku pakan yang
lain seperti tepung ikan sebanyak 30% dan Daftar Pustaka
tepung kangkung sebanyak 2%. Hal ini sesuai Gultom D., Yono C, H dan Haryati, T. 2000.
dengan hasil penelitian Prasetiawan (2009) yang Evaluasi Nilai Nutrisi Pollard Gandum
menyatakan bahwa penggunaan Wheat Pollard Terfermentasi dengan Aspergillus niger
fermentasi dengan konsentrasi 40% dalam pakan NRRL 337 pada Itik Alabio dan
dapat meningkatkan pertumbuhan kelinci Mojosari. Seminar Nasional
keturunan Vlaamse reus jantan menjadi 9,16 Peternakan dan Veteriner 2000.
gram/ekor/hari. Wahyuni (2004) menyatakan Halver JE. 1988. Fish Nutrition. Academis
bahwa proses fermentasi akan menyebabkan Press, INC. London, 798 pp.
kualitas protein menjadi lebih baik dari bahan Iskandar,Y. M., 2002, Isoflavonoida Hasil
asalnya. Mardiastuti (2004) menambahkan Fermentasi Kedelai Menggunakan
bahwa bahan yang mengalami fermentasi dapat Inokulum Kultur Campuran,
meningkatkan kandungan nutrien, dan pakan Prosiding Semnas XI, Jasakiai,
akan lebih disukai hewan sehingga nilai Yogyakarta.
manfaatnya menjadi lebih tinggi dari bahan asal. Jennessen, J., J. Schnurer, J. Olsson, R.A.Samso
Salah satu komponen nutrien yang penting untuk n, and J.Dijksterhuis,2008,
pertumbuhan ikan adalah protein. Protein Morphological characteristics of
merupakan nutrien yang sangat dibutuhkan ikan sporangiospores of the tempefungus
untuk pertumbuhan. Jumlah dan kualitas protein Rhizopus oligosporus differentiate
akan mempengaruhi pertumbuhan ikan (Halver it fromother taxa of the R. microsporu
1988). Jadi dengan adanya pemanfatan protein s group. Mycol. Res, Vol. 112, 547-
pakan akan diharapkan protein tubuh bertambah 63.
atau terjadi pertumbuhan.karena protein dalam Lovell, T. 1989. Nutrition and feeding of fish.
pakan sebagian besar diserap oleh ikan dan Van Nostrand Reinhold, New York, p.
digunakan untuk pertumbuhan. 26-45.
Mardiastuti., 2004. Pengaruh Penggunaan
Dedak Gandum (Wheat pollard)

69
Peningkatan Nilai Nutrisi Pollard......

terfermentasi Terhadap Kualitas Telur Siri , S., H. Tobioka and I. Tasaki. l992. Effects
Ayam Arab. Skripsi Fakultas Pertanian of Dietary Cellulose Level on
Universitas Sebelas Maret, Surakarta. NutrientUtilization in Chickens. AJAS
National Freshwater Fisheries Tecnology 5 (4) : 741 - 746.
Center. 2006. Basic Biology of Tilapia. Wahyuni, E. T., 2004. Pengaruh Penggunaan
NFFTC Aqua-Leafleat. Nueva Ecija. Wheat pollard (Dedak
2000-06. Gandum)Terfermentasi terhadap
Prasetyawan JI. 2009. Penggunaan Wheat Performan Produksi Ayam Arab.
Pollard fermentasi dalam konsentrat Skripsi FakultasPertanian Universitas
terhadap performan kelinci keturunan Sebelas Maret, Surakarta.
Vlaamse Reus Jantan. Skripsi. Fakultas Wardoyo, S. E. 2007. Ternyata Ikan Nila,
Pertanian Universitas Sebelas Maret Oreochromis niloticus Mempunyai
Surakarta. Potensi yang Besar untuk
Dikembangkan. Media Akuakultur, 2:
147-150.

70