Anda di halaman 1dari 25

TATA TERTIB PRAKTIKUM

1. Mahasiswa hadir tepat waktu di lokasi praktikum sesuai dengan jadwal yang telah
ditentukan. Keterlambatan 15 menit tidak diijinkan mengikuti praktikum.
2. Menggunakan jas lab pada saat praktikum
3 Mahasiswa dapat mengikuti praktikum susulan dengan mengurus surat ijin
mengikuti praktikum yang diterbitkan oleh Fakultas/departemen dan lapor diri ke
koordinator praktikum. Koordinator praktikum akan memberikan surat pengantar
praktikum susulan tersebut ke pembimbing praktikum pada hari yang telah
ditentukan
4 Membersihkan tempat kerja, dan mengembalikan peralatan yang digunakan
kepada pembimbing setelah praktikum selesai. Kerusakan alat yang disebabkan
oleh kecerobohan praktikan, maka praktikan harus mengganti alat tersebut
5 Mengumpulkan rencana kerja sesuai dengan topik yang akan dilakukan dan
laporan tepat waktu sesuai dengan waktu yang telah ditentukan
6 Mengikuti praktikum dengan disiplin dan tertib

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
PERCOBAAN I
STRUKTUR BENIH

Pendahuluan

Latar Belakang :

Benih terdiri atas tiga komponen, yaitu kulit benih, embrio dan cadangan makanan.
Kulit benih,yang merupakan lapisan terluar benih, dapat terdiri atas testa atau testa dan
lapisan lain. Testa adalah lapisan yang berasal dari integumen, misalnya pada benih
kedelai, kacang tanah dll.Pada kariopsis (misalnya padi dan jagung) testa bersatu dengan
perikarp.Kulit benih sangat bervariasi dalam warna, tekstur serta ada atau tidaknya struktur
tambahan seperti sayap, karunkula dll.
Embrio adalah struktur yang terbentuk dari fertilisasi (bersatunya antara sel telur
dan sperma).Struktur utama embrio (poros embrio) terdiri atas radikula (bakal akar),
plumula (bakal daun) dan hipokotil (bakal batang).Pada benih dikotil, umumnya embrio
mempunyai kotiledon.
Cadangan makanan dalam benih sangat penting untuk proses perkecambahan. Pada
monokotil (misalnya familia Gramineae)cadangan makanan dalam benih berupa
endosperma yang terbentuk dari bersatunya sperma dan inti polar, disebut sebagai benih
endospermik.Pada benih demikian endosperma merupakan bagian terbesar dari struktur
benih.Pada dikotil (misalnya familia Leguminosae dan Cucurbitaceae)umumnya benih
tidak mengandung endosperma (benih non-endospermik), dan cadangan makanan untuk
perkecambahannyaadalah kotiledon, yang merupakan bagian dari embrio, dan kotiledon
merupakan bagian terbesar dari struktur benih.Akan tetapi ada juga dikotil yang
mempunyai endosperma (misalnya familia Euphorbiaceae).Pada benih demikian
endosperma yang merupakan bagian terbesar struktur benih berfungsi sebagai cadangan
makanan untuk perkecambahan, bukan kotiledon yang merupakan jaringan tipis.

Tujuan :
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari variasi struktur benih tanaman beberapa
familia.

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
Bahan dan Metode :
Benih dari beberapa familia tanaman: Gramineae (jagung, padi), Leguminosae (kacang
tanah, kedele, kacang merah, lamtoro), Solanaceae (tomat, cabe, terong), Eophorbiacea
(jarak kepyar, jarak pagar, karet) dan lainnya yang tersedia.
1. Benih yang kering dilembabkan dahulu selama 24 jam supaya lunak,
mempermudah diiris atau dikupas
2. Iris benih dengan arah vertikal sehingga seluruh bagian internal dapat diamati
3. Amati warna, tekstur kulit benih serta adanya struktur tambahan
4. Gambar benih utuk dan struktur internalnya, beri keterangan masing masing
bagian benih

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
PERCOBAAN II

Penetapan Kadar Air Benih

Pendahuluan

Latar Belakang
Kadar air benih merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan pada
kegiatan pemanenan, pengolahan, penyimpanan dan pemasaran benih. Kadar air benih
sangat menentukan ketepatan saat panen, tingkat kerusakan mekanis saat pengolahan,
kemampuan benih mempertahankan viabilitasnya selama penyimpanan sehingga
pengukuran kadar air benih harus dilakukan. Pengujian kadar air benih termasuk pengujian
rutin, dimana data kadar air benih harus tertera pada label sertifikasi.
Menurut ISTA (2014) pengukuran kadar air yang dapat dilakukan menggunakan
suhu 105 oC atau 130 oC. Pada prinsipnya kadar air benih dihitung berdasarkan
berkurangnya berat benih akibat hilangnya air dari dalam benih. Metode uji dirancang
sehingga memungkinkan penguapan air dari benih sebanyak mungkin namun menekan
terjadinya oksidasi, dekomposisi maupun hilangnya zat-zat yg mudah menguap

Tujuan

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kadar air benih padi menggunakan
metoda langsung dengan oven suhu tinggi (1300C)

Bahan dan Metode

Bahan dan Alat

Bahan yang diperlukan adalah benih padi. Alat yang digunakan adalah oven,
timbangan, cawan porselen, grinder, desikator.

Metode

1. Ambil benih padi kurang lebih 5 g, kemudian dihancurkan dengan menggunakan


grinder selama 1 menit.
2. Timbang cawan dan tutup (M1), kemudian masukkan benih yang sudah
dihancurkan ke dalam cawan dan timbang kembali (M2).
3. Masukan cawan tersebut kedalam oven dengan suhu 1300C, selama 2 jam dengan
kondisi cawan terbuka.
4. Setelah periode waktu yang ditentukan cawan kemudian dikeluarkan dari oven,
kemudian dimasukkan kedalam desikator selama 20 menit hingga dingin.
5. Timbang benih, cawan dan tutup yang telah di oven (M3).
6. Hitunglah kadar air benih dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
(M2 – M3)
KA= -------------- X 100%
(M2-M1)
Keterangan :
KA = Kadar air benih
M1 = Berat cawan + tutup kosong
M2 = Berat cawan + tutup + benih sebelum dipanaskan
M3 = Berat cawan + tutup + benih setelah dipanaskan

7. Lakukan pengukuran kadar air sebanyak 3 ulangan.

Tabel. Penentuan kadar air benih


ulangan Data penimbangan
M1 M2 M3 % Kadar air
1
2
3
4
5

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
PERCOBAAN III

Analisis Kemurnian Benih


Latar belakang
Kemurnian benih sangat penting dalam menentukan mutu benih. Komponen benih
murni diperlukan dalam pengujian daya berkecambah, yang menunjukkan bahwa analisis
kemurnian dan daya berkecambah berkaitan satu sama lain dalam menentukan mutu benih.
Kemurnian suatu lot benih dapat dilihat dari kemurniannya secara genetik dan secara fisik.
Kemurniannya secara genetik mencerminkan kebenaran varietas sebagaimana yang
dinyatakan dalam identitasnya (true to type), sedangkan kemurnian fisik mencerminkan
komposisi lot benih. Kemurnian genetik harus dipertahankan sejak di lapang produksi
dengan jalan menghilangkan sumber-sumber kontaminasi di lapang dan selama
penanganan benih agar tidak terjadi pencampuran dengan varietas lain. Kemurnian fisik
harus dijaga selama penanganan benih dengan membersihkannya dari kotoran benih dan
benih tanaman lain.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kemurnian benih padi berdasarkan komposisi
lot benih tersebut
Metode
1. Contoh kerja analisis kemurnian diambil dari contoh kirim untuk benih padi
sebanyak 700 g. Pengambilan contoh kerja analisis kemurnian untuk benih padi
minimum 70 g dilakukan dengan menggunakan alat pembagi mekanik dilakukan
dengan cara pengurangan contoh kirim sebagai berikut

700 g Contoh kerja analisis kemurnian padi: a + b + d = 71,2 g

350 g 350 g

175 g 175 g

87,5 g 87,5 g

(a) 43.8 g 43,8 g

(b) 21,9 g 21,9 g

(c) 10,9 g 10,9 g

(d) 5,5 g 5,5 g

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
2. Analisis kemurnian dilakukan dengan memisahkan contoh kerja dalam komponen
benih murni, benih tanaman lain dan kotoran benih dengan cara sbb.:
a. Contoh kerja ditebarkan di meja kerja
b. Setiap benih diidentifikasi satu per satu secara visual berdasarkan
penampakan morfologi (bentuk, ukuran, warna, kilap, tekstur luar).
c. Semua benih tanaman lain dan kotoran benih dipisahkan dari benih murni.
d. Setiap komponen ditimbang dalam satuan gram dengan tingkat ketelitian
sama dengan contoh kerja.
Perhitungan
1. Berat ketiga komponen (benih murni, benih tanaman lain dan kotoran benih)
dijumlahkan dan kemudian dibandingkan dengan berat contoh kerja awal. Jika
terdapat kehilangan berat >5% berat awal contoh kerja maka harus dilakukan
analisis ulang.
2. Masing-masing komponen dihitung persentasenya dalam satu decimal.
3. Persentase ketiga komponen dijumlah, dengan total harus 100,0%. Jika jumlah
persentase tidak 100,0% (99,9% atau 100,1%) maka dilakukan penambahan atau
pengurang 0,1% pada persentase tertinggi (biasanya pada fraksi benih murni).
Apabila lebih dari 0,1% maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap kesalahan.
4. Rumus perhitungan persentase:
BM
BM = ---------------------- x 100% BM: benih murni
(BM + BTL + KB)

BTL
BTL = ---------------------- x 100% BTL: benih tanaman lain
(BM + BTL + KB)

KB
KB = ---------------------- x 100% KB: kotoran benih
(BM + BTL + KB)
Faktor kehilangan yang diperbolehkan maksimal 5%, dihitung dengan
rumus:

CK – (BM + BTL + KB)


------------------------------ x 100% ≤ 5% CK: contoh kerja
CK

Semua penimbangan dinyatakan dalam satuan gram

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
Definisi/Batasan:
1. Benih murni adalah benih murni yang sesuai dengan pernyataan pengirim atau
secara dominan ditemukan dalam contoh benih termasuk semua benih varietas
tanaman dan kultivar dari spesies tersebut, seperti:
a. Benih utuh, benih muda, benih berukuran kecil, benih mengkerut, dan benih
sedikit rusak.
b. Benih terserang penyakit atau benih yang mulai berkecambah, tetapi benih
tersebut masih bisa dikenali sebagai benih yang dimaksud. Jika sudah berubah
karena adanya sclerotia, smut balls atau galls maka termasuk sebagai kotoran
benih.
c. Pecahan benih dengan ukuran lebih besar dari setengah ukuran benih aslinya.
Untuk caryopsis (Poaceae/Graminae: jagung, padi): bagian dari caryopsis yang
berukuran lebih besar dari setengah ukuran aslinya. Untuk Fabaceae
(Leguminosae) yang terkelupas seluruh benihnya termasuk kriteria kotoran
benih. Pada Leguminosae jika kotiledon terpisah termasuk kotoran benih.
2. Benih tanaman lain adalah benih tanaman selain yang dimaksud oleh pengirim.
Penentuan benih tanaman lain sebagai kotoran benih sama seperti penentuan benih
murni.
3. Kotoran benih meliputi benih yang tidak termasuk dalam kategori benih murni
dan bagian dari benih serta bahan-bahan lain yang bukan bagian dari benih, sebagai
berikut:
a. Benih dan bagian benih:
 Benih Fabaceae (Leguminosae) dengan kulit benih yang sudah
terkelupas semua (tanpa kulit benih).
 Pecahan benih dengan ukuran setengah atau kurang dari setengah
ukuran aslinya.
 Benih rusak tanpa lembaga/kotiledon (rusak berat).
 Gabah hampa.
 Sekam, cangkang benih, kulit benih dan lain-lain.
b. Bahan lain yang bukan merupakan bagian dari benih seperti tanah, pasir, batu,
batang jerami, daun, tangkai bunga, galls, sklerotia, smut balls, lemma, palea
dan jamur.
Catatan:
Sklerotium (plural: sklerotia) adalah gumpalan miselium yang memadat dan umumnya dorman.
Smut balls adalah bulatan/tonjolan putih dan halus yang berisi spora fungi, umumnya terdapat pada
bagian meristematik (tassel/bunga jantan, tongkol/bunga betina). Bila cuaca panas dan kering bulatan dapat
pecah dan mengeluarkan spora berwarna hitam yang dapat menginfeksi tanaman lain.
Galls adalah pertumbuhan jaringan yang abnormal, dapat disebabkan oleh berbagai parasit misalnya fungi,
bakteri, serangga, nematoda dll. Galls merupakan struktur yang spesifik sehingga penyebabnya dapat
diidentifikasi tanpa harus melihat penyebabnya secara langsung .

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
PERCOBAAN IV

Metode Pematahan Dormansi Benih

Pendahuluan

Latar Belakang

Dormasi benih merupakan suatu kondisi dimana benih tidak berkecambah


walaupun ditanam dalam kondisi yang optimum.Salah satu keuntungan sifat dormansi
pada benih yaitu untuk melestarikan spesies tersebut. Namun dormansi dapat menjadi
masalah karena saat konsumen benih akan menanam benih yang masih dorman tidak
tumbuh dengan seragam, selain itu juga mengacaukan interpretasi dalam pengujian benih.

Beberapa jenis benih tidak dapat berkecambah karena adanya hambatan dari kulit
benih yang impermeabel terhadap air dan gas, kulit benih yang tebal dan keras. Sebagian
jenis benih yang lain tidak mampu berkecambah ketika baru dipanen dan baru dapat
berkecambah setelah melampaui periode penyimpanan kering. Kasus tersebut disebut
after-fipening.

Beberapa metode pematahan dormansi telah dikembangkan berdasarkan kasus


penyebab dormansi benihnya, karena metode yang efektif untuk suatu kasus belum tentu
efektif untuk kasus dormansi lainnya.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari teknik pematahan dormansi yang tepat pada
kasus dormansi fisiologi (salah satunya after-ripening) dan dormansi fisik.

Bahan dan Metode

Bahan dan Alat

Bahan yang diperlukan adalah benih padi yang baru dipanen, benih saga pohon, 0.2 %
KNO3, aquades, kertas merang, plastik, label dan pasir.
Alat yang digunakan adalah glassjar, box perkecambahan benih serta alat pengecambah
benih tipe IPB 73-2A/B dan gunting kuku

Metode

Teknik pematahan dormansi benih padi yaitu : kontrol (P0); perendaman KNO3 0.2 %
selama 24 jam (P1); perendaman dengan air selama 24 jam (P2).

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
1. Teknik pematahan dormansi benih padi
 Masing-masing 4x100 butir benih dimasukkan ke dalam glassjar yang berisi larutan
0.2 % KNO3 dan aquades, biarkan selama 24 jam.
 Tiriskan dan tanam pada substrat kertas merang dengan metode UKDdp, demikian
juga untuk perlakuan kontrol (tanpa perlakuan).
 Amati kecambah normal, abnormal dan mati

2. Teknik pematahan dormansi benih saga. Untuk benih saga : kontrol (P0); perendaman
KNO3 0.2 % selama 24 jam (P1) dan Skarifikasi fisik dengan menggunting pada sisi
yang berlawanan dengan poros embrio

Tabel 1. Pengamatan daya berkecambah benih saga pohon


Perlakuan
Ulangan
Kontrol Skarifikasi KNO3 0.2 %
1
2
3
4

Tabel 2. Pengamatan potensi tumbuh maksimum benih saga pohon


Perlakuan
Ulangan
Kontrol Skarifikasi KNO3 0.2 %
1
2
3
4

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
Tabel 3. Pengamatan persentase kecambah normal benih padi
Periode Ulangan Perlakuan
simpan
(minggu) Kontrol KNO3 Air
0 1
2
3
1 1
2
3
2 1
2
3
3 1
2
3
4 1
2
3
5 1
2
3
6 1
2
3
7 1
2
3
8 1
2
3
9 1
2
3
Catatan : Laporan praktikum lengkap (Pendahuluan, Bahan dan Metoda secara rinci,
Hasil pembahasan dan kesimpulan) oleh setiap grup.

Catatan : Laporan praktikum lengkap disusun oleh setiap grup.Laporan meliputi


Pendahuluan, Bahan dan Metoda secara rinci, Hasil pembahasan dan kesimpulan

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
PERCOBAAN V
Pengujian Daya Berkecambah Benih

Pendahuluan

Latar Belakang

Viabilitas benih dapat diketahui dengan melakukan pengujian benih.Berbagai macam


metode pengujian benih dibuat untuk mendeteksi parameter viabilitas benih.Pengujian
daya berkecambah benih digunakan untuk mendeteksi parameter viabilitas potensial
benih.Daya berkecambah atau daya tumbuh benih adalah tolok ukur bagi kemampuan
benih untuk tumbuh normal dan berproduksi normal pada kondisi lingkungan yang
optimum.

Sesuai dengan tujuan pengujian yaitu untuk mendeteksi viabilitas benih dalam kondisi
optimum, kondisi pengujian daya berkecambah benih dibuat serba optimum dan standar.
Media untuk menumbuhkan benih digunakan : kertas merang dan pasir, kertas saring atau
kertas koran bila benih dikecambahkan dalam alat pengecambah benih. Media pasir, serbuk
gergaji atau arang sekam digunakan bila benih ditumbuhkan diruang persemaian (lath
house). Ukuran media kertas atau boks plastik yang digunakan harus standar untuk
menanam sejumlah benih tertentu , pelembaban media harus optimum karena media terlalu
kering atau terlalu basah akan menyebabkan kondisi menjadi tidak optimum.

Metode penanaman benih dalam uji daya berkecambah yang menggunakan media kertas:
benih ditanam diatas media kertas (UDK), diantara media kertas (UAK), diantara media
kertas kemudian digulung (UKD) , bila dilapisi plastik dibagian luarnya adalah UKDdp.

Ciri lain dan khas dari pengujian daya berkecambah benih adalah pengamatan terhadap
benih yang tumbuh normal dilakukan dua kali. Pengamatan pertama biasa disebut hitungan
pertama, dilakukan pada hari ketiga setelah tanam untuk benih jagung, kedelai; kacang
tanah; benih padi pada hari kelima dan untuk benih cabe, tomat dan terong pada 7 hari
setelah benih ditanam.Pengamatan pertama ditujukan untuk optimalisasi media, benih
yang telah tumbuh menjadi kecambah normal dihitung, dicatat jumlahnya, setelah itu
dikeluarkan dari media.Benih yang busuk, bercendawan juga disingkirkan.Bila media
kering ditambah kelembabannya.Benih yang belum berkecambah atau kecambah belum
tumbuh normal dibiarkan dalam media tanam hingga akhir pengujian.

Pengamatan kedua atau hitungan kedua semua kecambah normal, kecambah abnormal,
benih mati dan benih segar tidak tumbuh diamati. Penentuan daya berkecambah benih
adalah jumlah kecambah normal hitungan satu dan dua dibagi jumlah benih yang diuji
dikali 100%.

Kriteria kecambah normal yang digunakan bagi bermacam jenis tanaman juga harus
standar. Untuk tanaman dikotil bagian kecambah yang harus diperhatikan ialah : perakaran
yang terdiri akar primer dan sekunder, hipokotil yaitu calon batang yang terletak di bawah

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
kotiledon, kedua kotiledon, epikotil dan plumula. Untuk kecambah monokotil bagian yang
diperhatikan : akar seminal primer dan sekunder, mesokotil, koleoptil, dan plumula.

Tujuan

Setelah mengikuti praktikum Pengujian Daya Berkecambah Benih mahasiswa dapat


melakukan beberapa metode uji daya berkecambah benih serta dapat mendeteksi viabilitas
potensial suatu lot benih dengan tolok ukur daya berkecambah benih

Bahan dan Metode

Bahan dan Alat


Benih yang digunakan : jagung, caisin, bawang, Cabe, kangkung dan timun

Media yang digunakan : kertas merang segi empat panjang berukuran 20X30 cm, kertas
merang bentuk bulat diameter 10 cm, media pasir
Alat yang digunakan : alat pengecambah benih tipe : IPB 72-1; IPB 73-2A/B, IPB 73-2A.
Alat pengepres kertas merang IPB 75-1.

Metode
Pengujian daya berkecambah benih dengan metode UDK (Uji Diatas Kertas)

 Cawan petri diameter 10 cm dilapisi tiga lembar media kertas merang bentuk bulat
 Diatas kertas merang ditetesi air hingga merata. Cawan dimiringkan sehingga air yang
berlebih terkumpul di bagian bawah. Air berlebih dibuang.
 Benih yang ditanam dengan metode UDK ialah benih yang berukuran kecil : caisin,
bawang, cabe.
 Jumlah benih yang ditanam satu cawan petri 25 butir.
 Cawan petri ditutup, diletakkan dalam alat pengecambah benih tipe IPB 73-2A.
Setelah benih mulai berkecambah, tutup cawan dibuka.
 Pengamatan terhadap jumlah kecambah nornal dilakukan pada :

Pengujian daya berkecambah benih dengan metode UKDdp (Uji Kertas Digulung dalam
Plastik) :

 Kertas merang segi empat panjang berukuran 20X30 cm direndan dalam air.
Setelah lembab diangkat dan diriskan airnya menggunakan alat pengepres kertas
merang IPB 75-1
 Benih ditanam diatas 3 media kertas merang yang dibawahnya dilapisi plastik,
untuk media ukuran 20X30 ditanam 25 butir benih ukuran sedang-besar (jagung,
timun dan kangkung). Setelah benih ditanam, ditutup dengan 3 lembar media
lembab, kemudian digulung.
 Gulungan kertas merang diletakan dalam alat pengecambah benih tipe IPB 72-1.
 Pengamatan dilakukan pada hari ke 3 dan ke 5 setelah tanam

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
 Pengujian UKDdp untuk padi digunakan media kertas merang ukuran 20X30 cm
dilipat jadi dua sejajar panjangnya. Diatas media ditanam 25 butir benih padi, media
setengahnya ditutupkan, kemudian media digulung. Alat pengecambah benih yang
digunakan Tipe IPB 73-2A/B.

Tabel 4. Pengamatan Daya Berkecambah Benih


Komoditi Ulangan ∑ Kecambah ∑ Kecambah ∑ Benih % Daya
Normal Abnormal Mati Berkecambah
Timun 1
2
3
Jagung 1
2
3
Kangkung 1
2
3
Caisin 1
2
3
Bawang 1
2
3
Cabe 1
2
3

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
PERCOBAAN VI
Uji Vigor Benih dengan NaCl

Pendahuluan

Latar Belakang
Vigor benih adalah kemampuan tumbuh benih menjadi tanaman berproduksi normal
dalam kondisi subobtimum. Beberapa kondisi suboptimum di lapang misalnya ; kondisi
kekeringan, tanah salin, tanah asam, tanah berpenyakit, dsb. Benih yang mampu mengatasi
kondisi tersebut termasuk lot benih bervigor tinggi.
Pengujian ketahanan benih terhadap kekeringan dapat dilakukan secara simulasi di
Laboratorium menggunakan larutan NaCl. Pada konsentrasi tinggi larutan ini tidak hanya
memberikan cekaman akibat tekanan osmotiknya sehingga benih mengalami hambatan
dalam proses imbibisi, tetapi juga memberikan cekaman terhadap kondisi salin. Pada
kondisi tersebut hanya benih vigor yang mampu tumbuh dengan baik.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari uji vigor kekuatan tumbuh benih terhadap
kekeringan (VKTkekeringan).

Bahan dan Metode

Bahan dan Alat

Bahan yang diperlukan adalah dua lot benih kedelai yang berbeda vigornya, kertas merang,
plastik, label, larutan NaCl 1% dan aquades.Alat yang dibutuhkan adalah alat
pengecambah benih IPB 72-1, gelas ukur, beaker glass, pengaduk gelas, timbangan serta
alat penunjang yang lain.

Metode

Prosedur pelaksanaan

1. Tanam masing-masing lot benih kacang panjang sebanyak 25 butir pada substrat
kertas merang yang sudah dilembabkan dengan larutan NaCl 1%. Untuk kontrol
substrat perkecambahan dilembabkan dengan aquades. Lakukan sebanyak 4
ulangan untuk masing-masing perlakuan pada kedua lot benih.
2. Simpan pada alat pengecambah benih IPB 72-1.
3. Pengamatan dilakukan pada hari ke-5 setelah tanam terhadap kecambah normal,
abnormal dan mati (isikan pada Tabel ). Bandingkan bagaimana pertumbuhan
kecambah pada kedua substrat (kontrol dan perlakuan NaCl) pada kedua lot benih.
4. Bahas dan buat kesimpulannya.

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
Tabel 5. Hasil pengamatan uji vigor
Lot Perlakuan Ulangan Kecambah Kecambah mati
Normal abnormal
Tinggi Kontrol 1
2
3
4
Rata-rata
NaCl 1
2
3
4
Rata-rata
Rendah Kontrol 1
2
3
4
Rata-rata
NaCl 1
2
3
4
Rata-rata
Catatan.: Laporan oleh masing-masing mahasiswa

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
PERCOBAAN VII
Efisiensi Alat Pembersih dan Pemilah Benih

Pendahuluan

Latar Belakang

Pembersihan benih sangat penting karena benih yang kotor tidak baik bila disimpan
lama, secara tidak langsung akan mempengaruhi viabilitas benih karena tersumbatnya
ruang antara benih yang akan menimbulkan panas dan kelembaban tinggi sehingga menjadi
tempat bersarangnya cendawan maupun hama.

Proses pembersihan benih bertujuan untuk menghilangkan kotoran-kotoran fisik


maupun biji-bijian lain yang mencampuri suatu kelompok benih. Kotoran fisik antara lain
yaitu pecahan-pecahan biji, benih-benih yang berukuran kurang sempurna (keriput,
inferior, membatu akibat kurang masak atau terserang penyakit), pecahan-pecahan batu
maupun ranting-ranting yang terbawa pada waktu proses pemanenan.

Dalam proses pembersihan dapat terjadi kerusakan fisik atau kurang sempurna
proses pembersihannya sehingga diperoleh hasil yang tidak bersih 100%. Prinsip kerja dari
alat pembersih ini adalah, memisahkan benih berdasarkan perbedaan ukuran/bentuk dan
berat benih .

Tujuan

Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari efisiensi alat pembersih benih model clipper.

Bahan dan Metode

Benih yang di gunakan sebanyak tiga macam yang berbeda untuk masing-masing
ditimbang 100 g.campur dengan kotoran fisik yang berupa daun kering sebanyak 10 g,
biji lain sebanyak 20 g dan kotoran batu kerikil sebanyak 20 g aduk menggunakan alat
pengaduk IPB 72-3 benih di bersihkan dengan alat clipper.
Pisahkan dengan alat tersebut sehingga kembali menjadi komponen masing-masing
seperti sebelum di campur dan gambar alat tersebut secara skematis.

Laporan Percobaan

Clipper ; pintu pemisah komponen ada…………………..buah.


Masing-masing untuk memisahkan sebagai berikut =
Pintu 1 =
Pintu 2 =
Pintu 3 =
Pintu 4 =
Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih
Semester Genap 2019/2020
Pintu 5 =
Pintu 6 =
Terdapat 3 set campuran benih yang masing-masing terdiri dari
Set 1 = a)….…;b)…….;c)……..;d)…………
Set 2 = a)….…;b)…….;c)……..;d)…………
Set 3 = a)….…;b)…….;c)……..;d)…………
Dengan screen ukuran……(atas) dan ukuran…….(bawah) maka =
Set no. 1 akan mampu dipisahkan di masing-masing pintu berikut =
Pintu 1 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 2 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 3 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 4 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 5 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 6 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Kotoran fisik jatuh masing-masing =
Daun kering di pintu…….,……..,……,……
Batu kerikil di pintu……..,………,…….,……
Dengan screen ukuran…….(atas) dan ukuran…….(bawah) maka =
Set no. 2 akan mampu dipisahkan di masing-masing pintu berikut =
Pintu 1 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 2 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 3 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 4 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 5 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 6 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Kotoran fisik jatuh masing-masing =
Daun kering di pintu…….,……..,……,……
Batu kerikil di pintu……..,………,…….,……
Dengan screen ukuran…….(atas) dan ukuran…….(bawah) maka =
Set no. 3 akan mampu dipisahkan di masing-masing pintu berikut =
Pintu 1 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 2 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 3 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 4 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 5 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Pintu 6 = benih a)…….%;b)……..%;c)……...%;d)………..%
Kotoran fisik jatuh masing-masing =
Daun kering di pintu…….,……..,……,……
Batu kerikil di pintu……..,………,…….,……

Catatan.: Laporan dibuat oleh masing-masing mahasiswa

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
PERCOBAAN VIII
Pengaruh Bentuk Benih terhadap Efisiensi Pemilahan
dengan Spiral Separator

Pendahuluan

Latar Belakang

Pemilahan benih dilakukan untuk mendapatkan mutu fisik benih yang seragam
bentuk maupun ukurannya. Proses pembersihan dan pemilahan dapat dilakukan sekaligus
dengan mesin tertentu. Namun beberapa mesin hanya dapat digunakan untuk pemilahan
saja.

Spiral separator merupakan alat pemilah benih yang prinsip kerjanya berdasarkan
kemampuan menggelinding benih pada alat tersebut. Perbedaan bentuk benih akan
mempengaruhi kecepatan menggelinding, sehingga benih-benih tersebut dapat dipilah.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh bentuk benih terhadap


efisiensi pemilahan

Bahan dan Metode

Buat campuran benih dengan komposisi sbb:


1. Komposisi 1: 300 g kedelai dan 10 g biji kedelai yang terbelah
2. Komposisi 2 : 300 g kedelai dan 10 g kacang hijau
Buat campuran dengan komposisi tersebut untuk tiga ulangan.Selanjutnya masukkan
campuran benih tersebut ke dalam alat spiral separator. Amati efisiensi pemilahan dan
berikan pembahasannya.

Tabel 6. Hasil Pengamatan


Campuran benih ulangan Benih yang tidak terpisah Efisiensi pemilahan
Kedelai + biji 1
terbelah 2
3

Rata-rata
Kedelai + 1
kc.hijau 2
3

Rata-rata

Catatan.: Laporan dibuat oleh masing-masing mahasiswa

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
PERCOBAAN IX

Uji Cepat Viabilitas Benih dengan Tetrazolium

Pendahuluan

Latar Belakang

Uji tetrazolium juga disebut uji biokhemis benih atau uji cepat viabilitas. Disebut uji
biokhemis karena uji tetrazolium mendeteksi adanya proses biokimia yang berlangsung di
dalam sel-sel benih khususnya sel-sel embrio. Disebut uji cepat viabilitas karena indiksi
yang diperoleh dari pengujian tetrazolium bukan berupa perwujudan kecambah, melainkan
pola-pola pewarnaan pada embrio, sehingga waktu yang diperlukan untuk pengujian
tetrazolium tidak sepanjang waktu yang diperlukan untuk pengujian yang indikasinya
berupa kecambah.

Pengujian tetrazolium menggunakan senyawa indikator 2.3.5 Trifenil tetrazolium klorida


yang larut dalam air untuk mengindikasi adanya sel-sel yang hidup. Bila indikator
diimbibisi oleh benih kedalam sel-sel benih yang hidup dengan bantuan enzim
dehidrogenase akan terjadi proses reduksi sehingga terbentuk endapan formazan yang
berwarna merah. Pada sel-sel yang mati tidak terjadi reduksi, sehingga warnanya
tetap.Adanya pola-pola warna merah pada bagian-bagian penting pada embrio benih
mengindikasikan benih mampu menumbuhkan embrio menjadi kecambah yang normal.

Kegunaan uji tetrazolium cukup banyak : untuk mengetahui viabilitas benih yang segera
akan ditanam, untuk mengetahui viabilitas benih dorman, untuk mengetahui hidup atau
matinya benih segar tidak tumbuh dalam pengujian daya berkecambah benih. Uji
tetrazolium sebagai uji vigor bila dilakukan, dengan cara membuat penilaian benih lebih
dapat dikembangkan ketat untuk katagori benih vigor diantar benih viabel.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam uji tetrazolium ialah : penyiapan benih yang
akan diuji dengan menghitung jumlahnya, pelembaban benih untuk aktivasi enzim dan
pelunakan jeringan benih, pembukaan jaringan benih untuk pewarnaan ( penusukan,
pemotongan, pengupasan testa, pengeluaran embrio), penyiapan larutan tetrazolium, suhu
dan lama perendaman, penilaian benih viabel dan benih non viabel.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari pengujian viabilitas benih dengan larutan
garam tetrazolium dibandingkan dengan pengujian secara fisiologi

Bahan dan Metode

1. Benih jagung masing-masing 50 butir dilembabkan selama 1 malam.


2. Belah bagian embrio untuk mempercepat masuknya larutan tetrazolium ke dalam
benih. Rendam benih tersebut dengan larutan Tetrazolium secukupnya sampai
Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih
Semester Genap 2019/2020
benih terendam seluruhnya. Untuk mempercepat proses pewarnaan bisa dipakai
suhu 400C selama 1 jam
3. Evaluasi/Pengamatan
Setelah proses pewarnaan biji harus segera diamati :
 Tuang larutan tetrazolium dengan menggunakan saringan teh, cuci benih
dengan air mengalir sampai bersih (bebas dari larutan tetrazolium).
 Rendam dalam air bersih.
 Amati benih satu per satu dengan kaca pembesar, klasifikasikan sesuai dengan
gambar 1 – 10. Gambar dan hitung persentase benih viabel.
 Apabila perlu gunakan mikroskop stereo

Gambar 1. Pola pewarnaan Tetrazolium untuk benih /biji jagung yang hidup dan
yang mati

Kriteria dalam interpretasi hasil uji tetrazolium pada biji jagung.Bagian gambar yang
berwarna hitam menunjukkan adanya pewarnaan merah dari jaringan yang hidup; bagian
yang berwarna putih adalah bagian yang tidak berwarna yang berarti jaringannya mati.

No.1 Biji dapat tumbuh (Germinable)


Seluruh embrio berwarna merah cemerlang

No.2-4 Biji dapat tumbuh (Germinable)


Bagian ujung dari skutelum tidak berwarna

No.5-6 Biji dapat tumbuh (Germinable)


Bagian ujung dari skutelum tidak berwarna;dan bagian yang tidak kritis dari radikula
(calon akar) juga tidak berwarna
Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih
Semester Genap 2019/2020
No.7-8 Biji tidak dapat tumbuh (Non-Germinable)
Bagian di mana tempat akar seminal berasal (pada struktur biji) tidak ada pewarnaan

No.9 Biji tidak dapat tumbuh (Non-Germinable)


Plumula tidak terjadi pewarnaan (kadar jaringannya mati)

No.10 Biji tidak dapat tumbuh (Non-Germinable)


Bagian tengah dari skutelum dan bagian dari tempat pertumbuhan akar seminal tidak
berwarna

No.11 Biji tidak dapat tumbuh (Non-Germinable)


Plumula dan radikula tidak berwarna

No.12 Biji tidak dapat tumbuh (Non-Germinable)


Bagian bawah skutelum dan radikula sampai ke bagian tempat tumbuh akar seminal tidak
berwarna

No.13 Biji tidak dapat tumbuh (Non-Germinable)


Skutelum seluruhnya tidak berwarna

No.14 Biji tidak dapat tumbuh (Non-Germinable)


Skutelum dan radikula tidak berwarna

No.15 Biji tidak dapat tumbuh (Non-Germinable)


Pewarnaan embrio merah muda yang sangat redup

No.16 Biji tidak dapat tumbuh (Non-Germinable)


Seluruh embrio tidak berwarna

Gambar 2. Benih/biji dan struktur bibit jagung

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
Keterangan:
A. Penampang luar kariopsis
a. Pericap
b. Embrio
c. Endosperm

B. Penampang membujur dari luar


a. Skutelum
b. Koleoptil
c. Plumula

C. Bibit
a. Akar seminal
b. Radikula
c. Koleoriza
Hasil Pengamatan Uji Cepat Viabilitas Benih dengan Tetrazolium

Tabel 7. Hasil pengamatan uji tetrazolium dan Uji Daya Berkecambah

Jumlah Ulangan Lot Viable Komentar


benih (%)
25 1 TZ
DB
25 2 TZ
DB
25 3 TZ
DB
25 4 TZ
DB
Rata-rata

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
PERCOBAAN X

PEMILAHAN BENIH DENGAN LARUTAN GARAM

Pendahuluan

Latar Belakang

Pembentukan dan perkembangan benih dalam satu malai, polong maupun tongkol
tidak seragam. Hal ini menyebabkan benih secara fisik dan kebernasannya tidak seragam.
Jumlah cadangan makanan yang tidak terakumulasi secara maksimal juga akan
berpengaruh pada perkecambahan benih. Oleh karena itu untuk mendapatkan mutu benih
yang tinggi diperlukan proses pemilahan benih.

Pemilahan benih dapat dilakukan dengan beberapa prinsip diantaranya berdasarkan


bentuk benih, kehalusan permukaan kulit benih, ukuran benih, dan bobot jenisnya.
Larutan garam NaCl merupakan larutan yang murah untuk digunakan dalam proses
pemilahan benih.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari konsentrasi larutan garam NaCl yang tepat
untuk pemilahan benih padi.

Bahan dan Metode

1. Buat larutan garam NaCl dengan konsentrasi 2 % dan 4 %


2. Timbang 10 gram benih padi untuk setiap satuan percobaan
3. Rendam benih tersebut dalam air, larutan garam NaCl 2%, 4% (volume 100 ml) kemudian
diaduk-aduk dan didiamkan selama 5 menit. Lakukan pengamatan perbedaan yang terjadi
pada benih tersebut pada ke tiga perlakuan tersebut.
4. Pisahkan benih yang tenggelam dan terapung pada ketiga larutan dan ditimbang
5. Hitung persentase pemilahannya
6. Tanam benih padi yang tenggelam dan terapung secara terpisah dengan metode UKDdp dan
amati daya berkecambah pada hari ke-7

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020
Tabel. Hasil pemilahan benih dengan larutan NaCl

Pengamatan Perlakuan

Air NaCl 2 % NaCl 4 %

Benih tenggelam (%)

Benih terapung (%)

Daya berkecambah benih


tenggelam (%)

Daya berkecambah benih


terapung (%)

Panduan Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi Benih


Semester Genap 2019/2020