Anda di halaman 1dari 55

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................1

BAB I.........................................................................................................................................3

PENDAHULUAN......................................................................................................................3

1.1 Latar Belakang Masalah..............................................................................................3

1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................3

1.3 Tujuan..........................................................................................................................3

1.4 Manfaat........................................................................................................................4

BAB II........................................................................................................................................5

PEMBAHASAN........................................................................................................................5

2.1 Pengertian Capital Budgeting ( Penganggaran Modal )..............................................5

2.2 Pentingnya Capital Budgeting.....................................................................................6

2.3 Cash Flow (Arus Kas).................................................................................................7

2.3.1 Konsep Analisis Cash Flow.......................................................................................7

2.3.2 Penggolongan Cash Flow..........................................................................................8

2.4 Internal Rate Of Return (IRR)..................................................................................10

2.5 Profitability Index (PI)..............................................................................................11

2.6 MIRR (Modifid Internal Rate of Return)..................................................................13

BAB III.....................................................................................................................................15

KESIMPULAN........................................................................................................................15

Daftar Pustaka..........................................................................................................................16

2.1 Pengertian Capital Budgeting ( Penganggaran Modal ).………………………….5

1
2.2 Pentingnya Capital Budgeting………………………………………………………6

2.3 Tahapan Capital Budgeting ……………………………………………………….. 7

2.4 Proses Capital Budgeting …………………………………………………………... 8

2.5 Arus Kas (Cash Flow)………………………………………………………..…….. 10

2.6 Metode Analisis Capital Budgeting…………………………………………………12

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Penganggaran modal (Capital Budgeting) adalah proses kegiatan yang mencakup seluruh aktivitas
perencanaan penggunaan dana dengan tujuan untuk memperoleh manfaat (benefit) pada waktu yang
akan datang. Penganggaran modal berkaitan dengan penilaian aktivitas investasi yang diusulkan.
Aktivitas suatu investasi ditujukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan selama periode tertentu di
waktu yang akan datang, yang mempunyai titik awal (kapan investasi dilaksanakan) dan titik akhir
(kapan investasi akan berakhir).

Seringkali istilah penganggaran modal disalah tafsirkan sebagai alat untuk menghitung keuntungan saja,
padahal penganggaran modal (capital budgeting) bukan hanya sekedar itu saja. Maka dari itu kita harus
memahami betul pengertian dari penganggaran modal (capital budgeting) agar penafsiran tidak hanya
terbatas pada mencari keuntungan saja tetapi melakukan keputusan investasi yang akan berdampak
bagus pada jangka panjang maupun jangka pendek bagi perusahaan. Di suatu perusahaan, seorang
manajer keuangan harus paham betul dengan capital budgeting ini sebab seorang manajerlah yang akan
memutuskan investasi atau penanam modal ini dapat diinvestasikan agar berdampak baik pada
perusahaan.

Contoh penganggaran modal adalah pengeluaran dana untuk aktiva tetap yaitu tanah, bangunan, mesin-
mesin dan peralatan. Penganggaran modal menjelaskan tentang perencanaan untuk mendanai proyek
besar jangka panjang. Keputusan penganggaran modal memiliki efek yang sangat jelas terhadap tingkat
kesehatan keuangan perusahaan untuk jangka panjang. Sebuah proyek yang didasarkan pada keputusan
penganggaran modal yang berhasil, akan mendorong mengalirnya pemasukan (cashflow) perusahaan
untuk jangka panjang. Sebaliknya, penganggaran modal yang tidak baik akan menyebabkan tingkat
pengembalian investasi yang mencukupi. Akibatnya dapat saja sebuah proyek atau sebuah perusahaan
mengalami kebangkrutan.

Berdasarkan pemaparan di atas maka penulis akan membuat makalah yang berjudul “Capital
Budgeting”. Sehingga diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai Apa itu Capital Budgeting
dan apa pentingnya bagi sebuah perusahaan.

3
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Capital Budgeting ?
2. Apa pentingnya Capital Budgeting ?
3. Bagaimana Tahapan Capital Budgeting ?
4. Bagaimana Proses Capital Budgeting ?
5. Apa yang dimaksud dengan Arus Kas (Cash Flow) ?
6. Sebutkan Metode Analisis Capital Budgeting ?

C. Tujuan
1 Untuk mengetahui Pengertian Capital Budgeting ( Penganggaran Modal )
2 Untuk mengetahui seberapa pentingnya Capital Budgeting
3 Untuk mengetahui bagaimana Tahapan Capital Budgeting
4 Untuk mengetahui cara Proses Capital Budgeting
5 Untuk mengetahui apa itu Arus Kas (Cash Flow)
6 Untuk mengetahui Metode Analisis Capital Budgeting

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Capital Budgeting ( Penganggaran Modal )

Penganggaran Modal (Capital Budgeting) Istilah penganggaran modal digunakan untuk melukiskan


tindakan perencanaan dan pembelanjaan pengeluaran modal, seperti untuk pembelian equipmen baru
untuk memperkenalkan produk baru, dan untuk memodernisasi fasilitas pabrik.

Penganggaran Modal ( Capital Budgeting ) adalah Suatu Konsep Investasi Dikatakan sebagai suatu konsep
investasi, sebab penganggaran modal melibatkan suatu pengikatan (penanaman) dana di masa sekarang
dengan harapan memperoleh keuntungan yang dikehendaki di masa mendatang. Investasi membutuhkan
dana yang relatif besar dan keterikatan dana tersebut dalam jangka waktu yang relatif panjang, serta
mengandung resiko.

Capital Budgeting adalah merupakan proses evaluasi dan pemilihan investasi jangka panjang yang
konsisten terhadap maksimalisasi tujuan perusahaan. DefinisiCapital Budgeting “Capital Budgeting is
the Process of evaluating and selecting long-term invesmentsconsistents with the firm’s goal of owner
wealth maximization”. Penganggaran modal (Capital Budgeting) adalah proses kegiatan yang mencakup
seluruh aktivitas perencanaan penggunaan dana dengan tujuan untuk memperoleh manfaat (benefit)
pada waktu yang akan datang. Penganggaran modal berkaitan dengan penilaian aktivitas investasi yang
diusulkan. Aktivitas suatu investasi ditujukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan selama periode
tertentu di waktu yang akan datang, yang mempunyai titik awal (kapan investasi dilaksanakan) dan titik
akhir (kapan investasi akan berakhir).

Seringkali istilah penganggaran modal disalah tafsirkan sebagai alat untuk menghitung keuntungan saja,
padahal penganggaran modal (capital budgeting) bukan hanya sekedar itu saja. Maka dari itu kita harus
memahami betul pengertian dari penganggaran modal (capital budgeting) agar penafsiran tidak hanya
terbatas pada mencari keuntungan saja tetapi melakukan keputusan investasi yang akan berdampak
bagus pada jangka panjang maupun jangka pendek bagi perusahaan. Di suatu perusahaan, seorang
manajer keuangan harus paham betul dengan capital budgeting ini sebab seorang manajerlah yang akan
memutuskan investasi atau penanam modal ini dapat diinvestasikan agar berdampak baik pada
perusahaan.

5
Investasi adalah pengkaitan sumber-sumber dalam jangka panjang untukmenghasilkan laba dimasa yang
akan datang. Dalam penggantian atau pembahasankapasitas pabrik misalnya : dana yang sudah
ditanamkan akan terikat dalam jangkawaktu yang panjang, sehingga perputaran dana tersebut kembali
menjadi uang tunai tidak dapat terjadi dalam waktu satu atau dua tahun, tetapi dalam jangka waktu yang
lama.

Penganggaran Modal adalah Suatu Konsep Investasi Dikatakan sebagai suatu konsep investasi, sebab
penganggaran modalmelibatkan suatu pengikatan (penanaman) dana di masa sekarang dengan harapan
memperoleh keuntungan yang dikehendaki di masa mendatang. Investasi membutuhkan dana yang
relatif besar dan keterikatan dana tersebut dalam jangka waktu yang relatif panjang, serta mengandung
resiko.

Sebagai konsekuensinya, perusahaan membutuhkan prosedur tertentu untuk menganalisa dan


menyeleksi beberapa alternatif investasi yang ada. Keputusan mengenai investasi tersebut sulit
dilakukan karena memerlukan penilaian mengenai situasi dimasa yang akan datang, sehingga
dibutuhkan asumsi-asumsi yang mendasari estimasi terhadap situasi yang paling mendekati yang
mungkin terjadi, baik situasi internal maupun eksternal perusahaan. Investasi tersebut harus dihitung
sesuai dengan cash flowperusahaan dan harus merupakan keputusan yang paling tepat untuk
menghindari resiko kerugian atas investasi tersebut. “As time passes, fixed assets may become obselete
or may require an overhaul; at these points, too, financial decisions may be required”.

Perusahaan biasanya membuat berbagai alternative atau variasi untuk berinvestasi dalam jangka
panjang, yakni berupa penambahan asset tetap seperti tanah, mesin dan peralatan.Aset tersebut
merupakan aset yang berpotensi, yang merupakan sumber pendapatan yang potensial dan mencerminkan
nilai dari sebuah perusahaan. Capital budgeting dan keputusan keuangan diperlakukan secara terpisah.
Bila investasi yang diajukan telah ditentukan untuk diterima, manager keuangan kemudian memilih
metoda pembiayaan yang paling baik.

B. Pentingnya Capital Budgeting

Capital budgeting sangat penting bagi perusahaan karena di dalamnya terdapat jumlah biaya yang besar
sedangkan manfaatnya baru dapat dinikmati dalam jangka panjang. Keputusan di bidang capital

6
budgeting ini akan memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan perusahaan di masa yang
akan datang.

1. Keputusan Capital Budgeting akan berpengaruh pada jangka waktu yang lama sehingga akan
kehilangan fleksibilitasnya.
Contoh pembelian sebuah aktiva yang memiliki umur ekonomis 10 tahun akan mengunci
perusahaan selama periode 10 tahun, karena perluasan aktiva didasarkan atas penjualan yang
diharapkan dimasa depan. Maka keputusan untuk membeli sebuah aktiva yang akan habis dalam
jangka waktu 10 tahun membutuhkan perencanaan penjualan selama 10 tahun. Akhirnya
keputusan penganggaran modal akan menentukan arah strategis perusahaan karena perusahaan
bergerak ke arah produk, jasa atau pasar baru yang harus didahului dengan pengeluaran  modal.

2. Penanggaran modal yg efektif akan menaikkan ketepatan waktu dan kualitas dari penambahan
aktiva.
Contoh perusahaan berusaha beroperasi mendekati kapasitas sepanjang waktu , selama 4
tahun, PT A telah mengalami permintaan secara besar-besaran secara tiba-tiba yang bersifat
tidak rutin sehingga perusahaan terpaksa menolak permintaan tersebut. Oleh karena itu PT A
merecanakan untuk menambah kapasitas produksi dengan menyewa gedung tambahan dan
membeli peralatan produksi yang baru yang diperlukan untuk kegiatan produksi, untuk itu
diperlukan waktu 6-8 bulan agar kapasitas produksi dapat digunakan , namun pada saat itu
perminttan mulai menurun, karena perusahaan lain mempunyai kapasitas yang mencukupi. PT A
mulai merencanakan meramalkan permintaan secara tepat dan merencanakan kebutuhan
kapasitasnya satu tahun sebelumnya atau lebih maka perusahaan mampu mempertahankan dan
bahkan meningkatkan pangsa pasar.

3. Pengeluaran Modal sangatlah Penting


Perusahaan dalam mencukupi semua kebutuhan yang diperlukan dalam kegiatan
produksi, perusahaan harus mempunyai dana yang cukup dan memadai karena untuk mencukupi
semua kebutuhan perusahaan mengeluarkan dana yang besar. Jumlah uang yang besar yang
dikeluarkan perusahaan tidak dapat tersedia secara otomatis oleh karena itu, Untuk mencukupi
itu semua perusahaan harus memikirkan program pengeluaran modal yang besar dengan
merencanakan membuat capital budgeting dana jauh-jauh hari sebelum dana itu tersedia.

7
C. Tahapan Capital Budgeting

Proses penganggaran modal diawali dengan mengusulkan proyek baru kemudian mengestimasikan arus
kas proyek selanjutnya menentukan apakah proyek tersebut layak untuk dilakukan. Setelah itu barulah
perusahaan mengimplementasikan proyek yang layak. Dan yang terakhir ialah memonitor proyek-
proyek yeng telah diimplementasikan. Berikut ini akan dijelaskan lebih rinci lagi tentang tahapan-
tahapan tesebut diantaranya:

1. Mengusulkan Proyek Baru

Hal ini terjadi ketika divisi-divisi atau departemen menawarkan masukan berupa proyek-proyek baru
yang mungkin bisa dipertimbangkan oleh perusahaan.

2. Mengestimasikan Arus Kas Proyek

Mengestimasikan arus kas yang berasal dari proyek-proyek potensial sangatlah penting dari proses
penganggaran modal. Pendapatan yang diterima dari proyek menunjukan arus kas yang masuk,
sedangkan pembayaran untuk menutupi beban proyek menunjukan arus kas keluar. Itulah mengapa
setiap proyek potensial mampu mempengaruhi arus kas perusahaan.

3. Menentukan apakah Proyek tersebut Layak untuk Dijalankan

Langkah selanjutnya ialah penilaian. Salah satu metode yang terkenal adalah teknik nilai sekarang
bersih. Tentu yang diperlukan salah satu nya yaitu saling eksklusif atau mutually exclusive. Yaitu situasi
dimana hanya satu diantara dua proyek yang dibuat dengan tujuan yang sama yang dapat diterima. Ada
juga istilah lain, yaitu proyek independen yang maksud nya ialah proyek yang kelayakan nya dapat
dinilai tanpa mempertimbangkan proyek-proyek lain.

4. Mengimplementasikan Proyek-Proyek yang Layak untuk Dijalankan

Dalam proses atau tahapan ini perusahaan perlu fokus pada pengimplementasian proyek-proyek yang
akan djalankan. Sebagai bagian dari proses implementasi, perusahaan harus memperoleh dana yang
diperlukan untuk mendanai proyek.

8
5. Memonitor Proyek-Proyek yang Telah Diimplementasikan

Proyek-proyek yang telah diimplementasikan perlu dimonitor untuk menentukan apakah arus kasnya
telah diestimasi dengan baik. Pemonitoran juga dapat mendeteksi ketidakefisienan dalam proyek dan
dapat membantu menentukan kapan suatu proyek sebaiknya ditinggalkan.

D. Proses Capital Budgeting

Proses Capital Budgeting terdiri dari 5 langkah yang saling berkaitan, yakni:

1. Pembuatan Proposal

Proposal penganggaran barang modal dibuat di semua tingkat dalam sebuah organisasi bisnis. Untuk
menstimulasi aliran berbagai ide, banyak perusahaan menawarkan penghargaan berupa uang tunai untuk
beberapa proposal yang diadopsi.

2. Kajian dan Analisa

Proposal penganggaran barang modal secara formal direview dalam rangka (a) mencapai tujuan dan
rencana utama perusahaan dan yang paling penting (b) untuk mengevaluasi kemampuan ekonominya.
Biaya yang diajukan dan benefit yang diestimasikan dikonversikan menjadi sebuah cash flow yang
sesuai. Bermacam-macam teknik capital budgeting dapat diaplikasikan untuk cash flow tersebut untuk
menghitung tingkat keuntungan dari investasi. Berbagai macam aspek resiko diasosiasikan dengan
proposal yang akan dievaluasi. Setelah analisis ekonomi telah dibuat lengkap, diiringi dengan data
tambahan dan rekomendasi yang ditujukan untuk para pengambil keputusan.

3. Pengambilan Keputusan

Besarnya sejumlah dana yang dikeluarkan dan pentingnya penganggaran barang modal menggambarkan
tingkat organisasi tertentu yang membuat keputusan penganggaran. Perusahaan biasanya
mendelegasikan kewenangan penganggaran barang modal sesuai dengan jumlah uang yang dikeluarkan.
Secara umum jajaran direksi memberikan keputusan akhir untuk sejumlah tertentu penganggaran barang
modal yang dikeluarkan.

9
4. Implementasi

Ketika sebuah proposal telah disetujui dan dananya telah siap, tahap implementasi segera dimulai.
Untuk pengeluaran yang kecil, penganggaran dibuat dan pembayaran langsung dilaksanakan. Namun
untuk penganggaran dalam jumlah besar, dibutuhkan pengawasan yang ketat.

5. Follow Up (tindak lanjut)

Setelah diimplementasikan maka perlu dilakukan monitoring selama tahap kegiatan operasi berjalan dari
proyek tersebut. Perbandingan dari biaya yang ada dan keuntungan yang diekspektasikan dari berbagai
proyek sebelumnya adalah sangat vital. Ketika biaya yang dikeluarkan melebihi anggaran biaya yang
ditetapkan, harus segera dilakukan tindakan untuk menghentikannya, apakah dengan meningkatkan
benefit atau mungkin menghentikan proyek tersebut.

Setiap langkah dalam proses tersebut penting dilakukan terutama pada langkah kajian dan analisa,
maupun pengambilan keputusan (langkah 2 dan 3) yang membutuhkan waktu dan tenaga yang paling
besar. Langkah terakhir yakni follow up juga penting namun sering diabaikan. Langkah tersebut
dilakukan untuk menjaga perusahaan untuk dapat meningkatkan akurasi cash flow yang diestimasi.

E. Arus Kas (Cash Flow)

Di dalam melakuan analisa capital budgeting diperlukan estimasi arus kas. Dimulai dari investasi awal
hingga proyek itu berjalan. Pada tahap awal kas perusahaan masih negatif karena perusahaan hanya
mengeluarkan dana untuk pelaksanaan proyek tersebut, setelah proyek tersebut selesai dan arus kas akan
menjadi positif akibatnya adanya penghasilan yang dihasilkan dari investasi tersebut.

Perusahaan mengharapkan akan menghasilkan arus kas yang lebih besar daripada sebelum melakukan
suatu investasi. Di dalam capital budgeting ini disebut sebagai arus kas tambahan (incremental cash
flow). Incremental cash flow ini yang digunakan untuk menghitung atau menganalisa kelayakan suatu
proyek dengan metode net present value.

Arus kas dalam suatu proyek terdiri atas beberapa komponen yaitu:

10
1 Initial investment (Investasi awal) : Semua pengeluaran yang digunakan untuk membiayai
proyek tersebut.
2 Free Cash Flow Arus kas bersih yang dapat dihasilkan selama proyek tersebut berlangsung.
Yang diperhitungkan disini adalah selisih arus kas masuk dan keluar (pendapatan dan biaya)
setelah dikurangi pajak dan tidak memperhitungkan bunga dan depresiasi.
3 Terminal Value Arus kas yang dihasilkan jika pada akhir periode, investasi tersebut dijual. Nilai
ini adalah nilai bersih dari penjualan tersebut.

Arus kas untuk tujuan capital budgeting didefinisikan sebagai arus kas sesudah pajak atas semua modal
perusahaan. Secara aljabar, definisi tersebut sama dengan laba sebelum bunga dan pajak, dikurangi
pajak penghasilan jika perusahaan mempunyai hutang, ditambah beban penyusutan non kas.
Rumusannya adalah sebagai berikut:

Cash Flow = EBIT (1 – T) + Depresiasi

Dimana :

EBIT : Laba Sebelum Bunga dan pajak

T : Pajak penghasilan perusahaan

Depr : Beban Penyusutan

Rumusan tersebut berlaku untuk perusahaan yang tidak memiliki hutang. Apabila perusahaan memiliki
hutang maka rumusannya adalah:

Cash Flow = NI + Depr + rD (1 – T)

Dimana:

NI :Net Income

rD : Interest expense (biaya bunga bank)

Perkiraan cash flow merupakan hal yang sangat penting dalam proses capital budgeting, yakni sebuah
proses yang rumit dan kompleks yang membutuhkan pemikiran dan perhitungan yang matang agar
estimasi cash flow yang diproyeksikan mampu mendekati perkiraan cash flow yang dilaksanakan

11
perusahaan. Dengan demikian, penilaian terhadap hasil analisis capital budgeting akan memberikan
penilaian yang akurat pada penentuan keputusan investasi.

a. Konsep Analisis Cash Flow


Bagi perusahaan yang ingin mengetahui berapa jumlah yang seharusnya dibutuhkan dimasa yang akan
datang, maka periode yang paling relevan digunakan adalah metode cash flow.

Cash flow dimaksudkan penyusunan penerimaan aliran yang masuk (cash in flow) dan jumlah yang
dikeluarkan (cash out flow), dimana dalam aliran tersebut dapat dilihat jumlah dana yang dimiliki oleh
suatu perusahaan dalam waktu tertentu.  Juga dengan cash flow dapat memberikan pedoman atau dasar
bagi pimpinan perusahaan di dalam mengambil keputusan yang menyangkut kebijaksanaan keuangan
terutama mengenai uang tunai (cash).

Cash flow adalah sebelum pembebanan penyusutan dan diperhitungkan setelah pajak, tetapi yang
dibelanjai dengan modal pinjaman (utang), maka aliran kas bersih adalah senelum dibebani penyusutan
dan bunga tetapi setelah dibebani pajak”.

Pengertian cash flow yang dikemukakan Sudarmo memberikan suatu gambaran bahwa proyeksi cash
flow adalah meliputi merencanakan pengeluaran uang kas tersebut untuk kegiatan operasi dan
merencanakan uang kas yang akan datang.

Dengan analisa cash flow dapat diketahui kapan perusahaan mengalami surplus atau deficit kas pada
waktu-waktu yang akan datang.  Bila diperkirakan bulan-bulan yang akan datang terdapat surplus kas
yang besar, maka jauh sebelumnya dapat diadakan perencanaan penggunaan dana tersebut secara efektif
dan efisien, demikian pula sebaliknya jika diperkirakan akan terjadi defisit kas, maka jauh sebelumnya
sudah dapat direncanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang bakal ditempuh guna menutupi defisit kas
tersebut.

Dalam penyusunan cash flow baik yang bersifat jangka pendek maupun yang bersifat jangka panjang, 
ada dua macam cara penyusunan cash flow, yaitu :

1. Direct Method (Metode Langsung)

Dalam metode ini, pelaporan arus kas dilakukan dengan cara melaporkan kelompok-kelompok
penerimaan kas dan pengeluaran kas dari berbagai operasi secara lengkap.

12
2. Indirect Method (Metode Tidak Langsung)

Dalam Indirect Method penyajiannya dimulai dari laba rugi bersih dan selanjutnya disesuaikan dengan
menambah atau mengurangi perubahan dalam pos-pos yang mempengaruhi kegiatan operasional seperti
penyusutan, naik turun pos aktiva dan hutang lancar.

b. Penggolongan Cash Flow


Cash flow dikelompokkan dalam 3 macam aliran kas:

1. Inicial Cash Flow

Inicial Cash Flow adalah aliran kas yang berhubungan dengan pengeluaran-pengeluaran kas untuk
keperluan investasi, seperti pengeluaran kas untuk pembelian tanah, pembangunan pabrik, pembelian
mesin, pengeluaran kas lain dalam rangka mendapatkan aktiva tetap. Termasuk dalam inicial cash flow
adalah kebutuhan dana yang akan digunakan untuk modal kerja. Inicial cash flow biasanya dikeluarkan
pada saat awal pendirian suatu proyek investasi.

2. Operacional Cash Flow

Operacional Cash Flow merupakan aliran kas yang akan dipergunakan untuk menutup investasi.
Operational cashflow biasanya diterima setiap tahun selama usia investasi, dan berupa aliran kas bersih.
Operasional cashflow diperoleh dapat dihitung dengan menambahkan laba akuntansi (EAT) dengan
penyusustan. Permasalahan operasional cashflow ini muncul bila dalam keputusan investasi sumber
dana yang dipergunakan berasal dari hutang, yang mengakibatkan laba setelah pajak berbeda, dan
tentunya akan mengakibatkan cashflownya menjadi berbeda antara bila dibelanjai dengan modal sendiri
dan dibelanjai dengan hutang. Sehingga suatu proyek akan kelihatan lebih baik dibiayai dengan modal
sendiri sebab akan menghasilkan cashflow yang lebih besar. Padahal satu proyek hanya mempunyai
kesimpulan yaitu layak apa tidak layak, tidak peduli apakah proyek itu dibiayai dengan modal sendiri
atau modal asing. Oleh karenaitu dalam menaksir operasiona cashflow tidak boleh mencampuradukkan
keputusan pembiayaan dengan keputusan investasi.Sehingga untuk menaksir aliran kas operasi bila
sebagian atau seluruhnya dibelanjai dengan modal asing adalah:

13
Cashflow= Laba Setelah Pajak + Penyusutan + Bunga (1-pajak)

3. Terminal Cash Flow

Terminal Cash Flow merupakan aliran kas yang diterima sebagai akibat habisnya umur ekonomis suatu
proyek.( seperti niali residu dan modal kerja yang digunakan)

Untuk menilai kelayakan investasi penggantian, aliran kas yang digunakan adalah aliran kas
tambahan(incremental cashflow) yang disebabkan penggantian aktiva tetap tersebut. Tambahan aliran
kas ini bisa disebabkan karena adanya penghematan biaya tunai seperti turunya biaya bahan baku dan
biaya tenaga kerja, dan juga karena peningkatan penjualan yang disebabkan aktiva tetap baru.
Penghematan-penghematan ini akan menjadi tambahan penghasilan, sehinngga perlu dikurangi dengan
kenaikan biaya, seperti kenaikan penyusutan (penyusutan mesin baru – penyusutan mesin lama). Dengan
demikian dari contoh diatas dapat dihitung tambahan cashflow sebagai berikut:

Penghematan tunai Rp.115.000.000,-


Tambahan Ph:
Ph Mesin Baru = Rp.125.000.000
Ph Mesin Lama = Rp. 60.000.000
Rp. 65.000.000,-
Tambahan EBIT Rp. 50.000.000,-
Pajak 30 % Rp. 15.000.000,-
Tambahan EAT Rp. 35.000.000,-
TambahanPenyusutan Rp. 65.000.000,-
TambahanCashflow Rp.100.000.000,-

Dengan demikian penggantian tersebut menghasilkan tambahan cash flow sebesar Rp.100.000.000,-.
Untuk menilai kelayakannya, misal dengan menggunakan metode NPV maka dapat dihitung NPVnya
sebagai berikut:

PV dari tambahan cash flow tahun 1-4


= Rp 100.000.000 x 2,690 = Rp269.000.000,-

14
PV dari nilai residu tahun 4
= Rp 200.000.000 x 0,516 = Rp103.200.000,-
Total PV of Cashflow Rp 372.200.000,-
Investasi Rp 359.000.000,-
Net Present Value Rp 13.200.000,-

Dari perhitungan tersebut ternyata menghasilkan NPV positif sebesar Rp.13.200.000,- sehingga dapat
disimpulkan bahwa investasi penggantian tersebut adalah layak.

F. Metode Analisis Capital Budgeting

Dengan penganggaran modal, berarti menentukan apakah suatu investasi atau proyek yang direncanakan
akan berharga lebih, begitu ia telah siap, daripada biaya perolehannya. Keputusan-keputusan
penganggaran modal sangat penting karena :

1. Implikasi dari keputusan tersebut akan berlangsung terus hingga suatu periode yang cukup lama atau
memiliki konsekuensi jangka panjang.

2. Menentukan bentuk-bentuk aktiva yang dimiliki perusahaan. Jika perusahaan menanamkan terlalu
banyak aktiva tetap, perusahaan akan menanggung beban berat yang tidak perlu. Jika yang ditanamkan
tidak cukup, perusahaan akan mempunyai kapasitas yang tidak memadai dan dapat kehilangan sebagian
pangsa pasarnya untuk direbut perusahaan-perusahaan saingan.

3. Melibatkan pengeluaran yang besar. Berikut penjelasannya:

1. MIRR (Modifid Internal Rate of Return)

MIRR (Modified Internal Rate of Return) adalah kriteria kelayakn investasi dengan memodifikasi
metode IRR dalam menilai kelayakan suatu proyek investasi. Dengan metode ini tingkat balas jasa dana
yang menyamakan PV terminal cash flow dengan nilai investasi.

MIRR diasumsikan semua cash flow yang bernilai positif di investasikan kembali ke batas tahun
terakhir proyek. Semua cash flow negative di beri potongan. Tingkat effisiensi proyek MIRR konsisten
dengan the present worth ratio.

Sebagai ilustrasi:

15
Seseorang menyimpankan uang di Bank (investor) transaksi antara pihak Bank dan penyimpan
(investor) untuk membicarakan besarnya bunga simpanan, maka bunga tersebut ekivalen dengan Rate of
Return.

Dengan pengertian:

Rate of Return-ekivalen dengan - bunga (interest). Dalam hal perhitungannya, tidak dipengaruhi oleh
suku bunga “komersil” yang berlaku, sehingga sering disebut dengan istilah IRR (“Internal Rate of
Return”).

Catatan! :
Apabila IRR ternyata hasilnya > dari suku bunga komersil yang berlaku, maka dapat dikatakan bahwa
proyek tersebut menguntungkan, tetapi apabila < maka proyek dianggap rugi. Prosedur perhitungan Rate
of Return sebagai berikut:

Perhitungan bunga (i) dilakukan dengan trial and error (dengan cara coba-coba).
Untuk menghindari perhitungan yang rumit, Riggs, dkk (1986) memberikan langkah perhitungan
sebagai berikut :

Pertama dengan menjumlah “cash flow” dari semua : biaya pengeluaran &
pemasukan, bila hasilnya negatif, maka dapat dikatakan bahwa proposal yang
PV. semua biaya = PV. Semua pemasukan diajukan tidak layak bila angkanya positif, dengan
berdasarkan pada jumlah dan waktu investasi, maka secara kasar akan menunjukkan berapa IRR
tersebut. IRR dapat lebih mudah dicari dengan “trial and error” apabila variasi permasalahan tidak
banyak, yaitu :

 Dominasi “cash flow”nya - pada periode nilai sekarang (PV).


 Dominasi “cash flow”nya - pada pembayaran tahunan (Annual).
 Dominasi “cash flow”nya - pada periode nilai yang akan datang (FV).

Apabila permasalahan merupakan variasi dari periode awal (PV), periode tahunan (Annual) dan periode
akhir (FV), maka untuk menentukan IRR secara trial and error (tebakan/guessing) akan semakin sulit.

16
Dengan demikian, maka perumusan nilai sekarang (PV) dan nilai tahunan (Annual value) merupakan
dasar bagi perhitungan IRR, sehingga persamaan dasar sebagai perhitungan yang digunakan sebagai
berikut :

1. Nilai Sekarang Bersih (NSB) = 0

2. Nilai Sekarang Penerimaan - Nilai Sekarang Biaya = 0

3. Nilai Sekarang Penerimaan = 1 NS Biaya atau

1. Nilai Tahunan Bersih (NTB) = 0

2. NT Penerimaan - NT Biaya = 0

Contoh:

Perusahaan ABC akan melakukan investasi terhadap proyek A dan proyek B. Kedua proyek tersebut
merupakan proyek independen dan mutually exclusive. Investasi dikeluarkan pada awal tahun pertama.

Adapun aliran kas bersih dari masing-masing proyek sebagai berikut:

Tahun Proyek A Proyek B

0 -100.000 -100.000

1 50.000 10.000

2 40.000 30.000

3 30.000 40.000

4 20.000 50.000

5 10.000 20.000

Jawaban : (Untuk Proyek A, apabila : menggunakan discout rate 20% dan 21%)
17
 Menggunakan discount rate sebesar 20%

PV Cashflow A = (50.000/1.2) + (40.000/1.44) + (30.000/1.728) + (20.000/2.0736) + (10000/2.4883)   =


100.470

 Menggunakan discount rate sebesar 21%

PV Cashflow A = (50.000/1.21) + (40.000/1.4641) + (30.000/1.7716) + (20.000/2.1436) +


(10000/2.5937) = 98.763

Jawaban : (Untuk Proyek A, apabila : menggunakan discout rate 18% dan 23%)

 Menggunakan discount rate sebesar 18%

PV Cashflow A = (50.000/1.18) + (40.000/1.3924) + (30.000/1.6430) + (20.000/1.9387) +


(10000/2.2877) = 104.047

 Menggunakan discount rate sebesar 23%

PV Cashflow A = (50.000/1.23) + (40.000/1.5129) + (30.000/1.8608) + (20.000/2.2888) +


(10000/2.8153)   = 95.502

 Menggunakan Interpolasi untuk mencari present value aliran kas sebesar 100.000 (diantara
95.502 dengan 104.047)

IRR proyek A = 18% + {(104.047 – 100.000)/(104.047 – 95.502)} {5%}

IRR proyek A = 18% + 2,368%

IRR proyek A = 20.368%

Contoh IRR Proyek A

PV Proyek PV Proyek
Tahun PVIF(20%) A PVIF(21%) A

1 1,2 41.667 1,21 41.322

18
2 1,44 27.778 1,4641 27.321

3 1,728 17.361 1,7716 16.934

4 2,0736 9.645 2,1436 9.330

5 2,4883 4.019 2,5937 3.855

PV 100.470 98.762

Melalui interpolasi diperoleh IRR Proyek A = 20,275%

     Jawaban:

 Menggunakan discount rate sebesar 14%

PV Cashflow B = (10.000/1.14) + (30.000/1.2996) + (40.000/1.4815) + (50.000/1.6889) +


(20.000/1.9254) = 98.848

 Menggunakan discount rate sebesar 13%

PV Cashflow B = (10.000/1.13) + (30.000/1.2769) + (40.000/1.4429) + (50.000/1.6305) +


(20000/1.8424) = 101.587

 Menggunakan Interpolasi untuk mencari present value aliran kas sebesar 100.000 (diantara
98.848 dengan 101.587)

IRR proyek B = 13% + {(101.587 – 100.000)/(101.587 – 98.848)} {1%}

IRR proyek B = 13% + 0.579%

IRR proyek B = 13.579%

Contoh (IRR à Proyek B)

19
PV PV Proyek
Tahun PVIF(14%) Proyek B PVIF(13%) B

1 1,14 8.772 1,13 8.850

2 1,2996 23.084 1,2769 23.494

3 1,4815 27.000 1,4429 27.722

4 1,6889 29.605 1,6305 30.665

5 1,9254 10.387 1,8424 10.856

Proyek Yang dipilih :

Proyek A, karena memiliki tingkat rate of return lebih tinggi dibandingkan dengan proyek B

Perbandingan Metode Capital Budgeting

Metode Proyek A Proyek B

Payback Period 2 tahun 4 bulan 3 tahun 5 bulan

NPV 20.921 10.507

IRR 20,275% 13,579%

2. Payback Periode

Dalam metode ini, penilaian investasi ditekankan pada pengukuran jangka waktu yang dibutuhkan untuk
menutup kembali nilai investasi awal (initial investment), dengan menggunakan aliran kas bersih (net
cash flow) yang dihasilkan investasi tersebut. Pembayaran kembali (Payback period) adalah jumlah
tahun yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi awal.

20
Jika kriteria Payback Period yang akan digunakan dalam penilaian investasi, maka terlebih dahulu harus
ditetapkan jangka waktu maksimum yang diinginkan dari pengembalian modal investasi. Jika Payback
Period investasi melampaui payback period maksimum, maka usulan investasi ditolak. Sebaliknya,
jika payback period investasi lebih pendek dari payback period maksimum, maka investasi diterima.
Metode ini cukup sederhana. Formula untuk mencari payback period adalah:

Tahun sebelum pengembalian penuh +

Metode payback period memeiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:


1. Mengabaikan nilai waktu dari uang
2. Mengabaikan proceeds setelah PBP dicapai
3. Mengabaikan nilai sisa
Untuk mengatasi kelemahan metode payback period, maka beberapa perusahaan melakukan modifikasi
dengan pendekatan discounted payback (DPP). Metode ini seperti metode payback period biasa, namun
dalam perhitungannya menggunakan aliran kas yang didiskontokan dengan discount rate tertentu.
jika payback periode > umur ekonomis, investasi ditolak
jika payback periode < umur ekonomis, investasi diterima

Contoh kasus 1:
Ketika ada usulan proyek investasi dengan dana Rp. 500 juta (initial investment) dan ditargetkan
penerimaan dana investasi (cash flow) berbeda setiap tahun. Katakanlah tahun ke-1 cash flownya Rp.
250 juta, tahun ke-2 Rp. 200 juta, tahun ke-3 Rp. 150 juta, tahun ke-4 Rp. 100 juta. Syarat periode
pengembalian investasi 4 tahun, berapakah payback periodnya? 
Payback Periodnya
= 1 + (500jt-250jt) / (450jt-250jt)
= 2,33 juta, atau bisa juga dihitung dengan cara:

Dari tabel tersebut, investasi Rp. 600 juta terletak di cumulative cash flow ke-3. 
Payback periodnya 

21
= 2 + Rp. 500 juta – Rp. 450 juta / Rp.600 juta – Rp. 450 juta x 1 tahun
= 2,33 tahun atau 2 tahun 4 bulan
Payback periodnya kurang dari syarat periode pengembalian perusahaan sehingga usulan proyek
investasinya diterima.
Sebuah invenstasi membutuhkan dana sebesar $1000. Aliran kas yang diharapkan pada tahun I sebesar
$200, tahun II sebesar $500 dan tahun III sebesar $400. Hitung payback periodnya!

Perkiraan arus kas bersih setelah Arus kas

Tahun pajak kumulatif


0 (1000) (1000)
1 200 (800)
2 500 (300)
3 400 100

Payback period pada akhhir tahun ke 2, atau lebih tepatnya :

Contoh kasus 2:

Arus kas proyek

Tahun Perkiraan arus kas proyek A B


0 ($1000) ($1000)
1 1000 500
2 100 1000
3 - 2000
4 - 1000

Payback period A = 1 tahun

22
Payback period B = 1,5 tahun

Menurut metoda payback period, proyek A lebih baik. Tapi sebenarnya proyak B lebih menguntungkan
karena pada tahun ke 3 dan 4, proyek B asih menghasilkan arus kas sebesar 3 juta sementara proyek A
sudah berhenti memberikan pemasukan.

Contoh kasus 3:

Tahun Proyek X Proyek Y


0 ($250) ($250)
1 100 100
2 100 200
3 100 0
4 100 0

Payback Period X

Payback Period

Dalam hal ini, maka investasi yang diterima adalah proyek Y. Ketika kita menginginkan imbal hasil
15%, maka NPV dari kedua proyek tersebut adalah :

-
Project X :

Project Y : = -$11,81

23
NPV dari investasi proyek Y adalah negatif, jika mengambil proyek tersebut maka akan menurunkan
nilai dari ekuitas pemegang saham. Dalam hal ini terbukti bahwa Payback period mengabaikan nilai
waktu dari uang.

 Periode Pembayaran Kembali Terdiskonto (Discounted Payback Period)


Discounted Payback Period adalah rentang waktu yang dibutuhkan oleh arus kas sebuah investasi, yang
didiskontokan dengan biaya modal, untuk mengembalikan kembali biayanya.

Arus

Tahun Kas PVIF 10% Nilai Sekarang Nilai Sekarang Kumulatif


0 ($1500) 1 ($1500) ($1500)
1 300 0,909 272,7 -1227,3
2 450 0,826 371,7 -855,6
3 750 0,751 563,25 -292,35
4 750 0,683 512,25 219,9
5 900 0,621 558,9 778,8

Discounted payback period = .

Perbedaan Payback period dan Discounted payback period : payback period tidak memperhitungkan
biaya modal (biaya dari utang atau ekuitas yang digunakan untuk melaksanakan proyek), sedangkan
discounted payback period memperhitungkan biaya modal (pembayaran ini menunjukkan tahun impas
setelah mengembalikan utang dan biaya ekuitas).

 Kelebihan metode payback period


Mudah dihitung dan dimengerti, memberikan informasi mengenai risiko dan likuiditas proyek.
Proyek yang payback periodnya pendek memiliki risiko yang lebih kecil dan likuiditas yang
lebih baik.

24
 Kelemahan Metode Payback Period
Metode penilaian investasi memiliki kelemahan yaitu:
1. Metode ini mengabaikan penerimaan investasi (proceed) sesudah Payback Period, hanya
mengukur kecepatan kembalinya dana.
2. Mengabaikan time Value Of Money.

3. Net Present Value Method (NPV)

Dalam metoda ini, penilaian investasi ditekankan pada pengukuran seberapa besar selisih yang dapat
dihasilkan antara nilai sekarang present value investasi dengan aliran kas bersih (net cash flow) yang
dihasilkan selama umur investasi, baik operasional maupun aliran kas bersih pada akhir umur
investasi (terminal cahs flow).

Penetapan nilai sekarang dari aliran kas bersih selama umur investasi harus didasarkan pada tingkat
bunga tertentu yang dianggap relevan. Umumnya tingkat bunga (yang berfungsi sebagai discount
factor) yang digunakan adalah biaya penggunaan dana (cost of capital), yaitu bunga dari modal yang
digunakan untuk membelanjai investasi atau dapat pula digunakan tingkat bunga yang berlaku untuk
tabungan.

Pemilihan dicount faktor merupakan masalah penting dalam metode NPV. Hakikatnya, pemilihan
discount factor merupakan cerminan dari perkiraan para investor mengenai opportunity cost yang sesuai
bagi dana yang akan digunakan untuk membelanjai kegiatan investasi.

Metode NPV ini merupakan metode untuk mencai selisish antara nilai sekarang dari aliran kas
neto (proceed) dengan nilai sekarang dari suatu investasi (outlays).

Keterangan:
Io : Nilai investasi atau outlays
At : Aliran kas neto pada priode t
r : Discount rate

25
t : Jangka waktu proyek investasi (umur proyek investasi)

Jika NPV nol atau positif, yang berarti present value dari arus kas masuk sama dengan atau lebih besar
dari present value dari arus kas keluar. Dengan demikian, jika NPV negatif maka proyek tersebut harus
ditolak. Jika 2 proyek bersifat “mutually exclusive” maka proyek yang memiliki NPV positif yang
terbesar yang dipilih.

NPV sebesar nol menunjukkan bahwa arus kas proyek tepat cukup untuk membayar kembali modal
yang diinvestasikan dan menyediakan tingkat keuntungan yang disyaratkan pada modal (biaya modal
proyek). Jika NPV adalah positif, arus kas proyek menghasilkan suatu sisa keuntungan yang akan
dinikmati oleh para pemegang saham. Jadi jika perusahaan mengambil proyek dengan NPV positif, nilai
perusahaan akan naik yang berarti kesejahteraan pemegang saham naik. Jika perusahaan mengambil
proyek dengan NPV = 0. Harga saham tidak berubah karena proyek hanya menghasilkan keuntungan
sebesar yang disyaratkan.

 Langkah – langkah :
1)      Tentukan discount rate yang digunakan berdasarkan biaya modal atau Required Rate Of 
Return.
2)      Menghitung present value dari net cash flow.
3)      Menghitung present value dar net outlay.
4)      Menghitung present value dengan mengurangkan PVNCF dengan PVNOL.
5)      Kriteria = * jika NPV (+), investasi diterima
 Jika NPV (-), investasi ditolak.

Contoh kasus 1:
Seorang analisis keuangan akan menganalisis 2 proposal investasi modal, proyek Y dan Z. Setiap
proyek memerlukan biaya sebesar $1000 dan biaya modal untuk kedua proyek tersebut adalah 12%.
Arus kas bersih yang diharapkan pada kedua proyek tersebut adalah sebagai berikut:

Perkiraan arus kas bersih


Tahun Proyek Y Proyek Z
0 ($1000) ($1000)

26
1 650 350
2 300 350
3 300 350
4 100 350

Berapakah Net Present Value dari kedua proyek tersebut? Bagaimana keputusan yang harus diambil?

Proyek Y

Nilai
Tahun Arus Kas PVIF (12%) Sekarang
0 ($1000) 1 ($1000)
1 650 0,893 580,45
2 300 0,797 239,1
3 300 0,712 213,6
4 100 0,636 63 ,6
NPV 96,75

Proyek Z

Nilai
Tahun Arus Kas PVIF A (12%) Sekarang
0 ($1000) 1 ($1000)
1 350 0,893 312,55
2 350 1,690 591,5
3 350 2,402 840,7
4 350 3,037 1062,95
NPV 1807,7

Berdasarkan tabel dari kedua proyek tersebut, nilai NPV yang berasal dari arus kas yang didiskontokan
dengan tingkat biaya modal sebesar 12% tersebut sama-sama bernilai positif. Dalam hal ini, seorang
analisis tersebut bisa mengambil kedua proyek tersebut. Akan tetapi, jika seorang analisis tersebut hanya
akan mengambil satu proyek, maka proyek yang diambil adalah proyek Z karena nilai NPV nya lebih
besar. Dengan nilai NPV sebesar 1807,7 pada proyek Z berarti bahwa nilai saham akan bertambah
sebesar 1807,7 per lembarnya.

27
4. Metode Internal Rate of Return (IRR)

Metode Internal Rate of Return (IRR) merupakan metode penilaian investasi untuk mencari tingkat
bunga (discaount rate) yang menyematkan nilai sekarang dari aliran kas neto (present value of
procceds) dan investasi (initial outlays). 

Pada saat IRR tercapai, maka besarnya NPV sama dengan nol. Oleh karena itu, untuk menghitung IRR
diperlukan data NPV dari kutub (daerah) positif dan kutub negatif kemudian dilakukan interpolasi
(mencari nilai selisih) sehingga diperoleh NPV sama dengan nol. Penggunaan metode IRR ini memiliki
konsep yang identik atau sama dengan penentuan besarnya bunga yang dihasilkan obligasi hingga jatuh
temponya (yield to maturity).

Penilaian investasi menggunakan metode IRR ini lebih sulit dibanding metode NPV karena
menggunakan cara coba-coba ketika menentukan besarnya  discount rate investasi. Kesulitan ini dapat
diatasi jika dalam perhitungannya menggunakan kalkulator atau komputer. Jika menggunakan IRR,
maka investasi akan diterima bila besarnya IRR lebih besar dibanding tingkat bunga yang dipergunakan
sebagai biaya modal, dan sebaliknya ditolak apabila IRR lebih kecil daripada biaya modal yang
digunakan.

keterangan:
IRR : Internal rate of return
rk : Tingkat bunga yang kecil
rb : Tingkat bunga yang besar
NPV rk : Net present value pada tingkat bunga yang kecil
PV rk : Present value of proceeds pada tingkat bunga yang kecil
PV rb : Present value of proceeds pada tingkat bunga yang besar

Rumus di atas dapat dicari dengan cara coba-coba dengan mencoba beberapa tingkat diskonto. Jika nilai
sekarang lebih besar dari biaya investasi, maka dicoba lagi dengan suku bunga yang lebih tinggi. Jika
nilai sekarang arus kas lebih lecil daripada biaya investasi, gunakan suku bunga yang lebih rendah dan
proses demikian diulang lagi. Proses coba-coba tersebut diulang hingga nilai sekarang arus kas dari
investasi sama dengan biaya investasinya. Atau bisa juga dengan menggunakan tabel present value

28
interest factor (PVIF) untuk arus kas tidak konstan dan tabel present value interest factor of an
(ordinary) annuity (PVIFA) untuk arus kas konstan.

 Kelebihan
1. Memperhatikan nilai waktu dari uang
2. Menggunakan arus kas sebagai dasar perhitungan
3. Hasilnya dalam persentase, sehingga pengambilan keputusan dapat membuat perkiraan bila r
(discount rate) sulit diketahui.

 Kekurangan
1. Perhitungan lebih sulit bila tidak menggunakan komputer, karena harus dicoba-coba (trial
and error).
2. Tidak membedakan proyek yang mempunyai perbedaan ukuran dan keadaan investasi.
3. Dapat menghasilkan IRR ganda atau  tidak menghasilkan IRR sama sekali.

Kriteria penerimaan proyek :

Jika IRR lebih besar atau sama dengan biaya modal maka proyek sebaiknya diterima. Karena jika IRR
lebih besar dari biaya modal artinya proyek tersebut dapat membayar biaya modal proyek dan tetap
menghasilkan keuntungan yang dinikmati oleh pemegang saham. Dengan demikian, mengambil proyek
yang IRR nya lebih besar dari biaya modal proyek akan meningkatkan kemakmuran pemegang saham.

Dengan contoh soal NPV diatas, berapakah nilai IRRnya pada proyek Y? Bagaimana keputusan yang
diambil?

29
proyek tersebut dapat membayar biaya modal investasi dan tetap menghasilkan keuntungan yang
dinikmati pemegang saham. Maka keputusan yang diambil adalah mengambil proyek tersebut.

Perbandingan Metode NPV dan IRR

Secara matematis, metode NPV dan IRR selalu memberikan rekomendasi yang sama untuk
menerima atau menolak proyek-proyek yang independen.
Jika suatu proyek memiliki NPV = 0, maka IRR = biaya modal.

Metode NPV dan IRR dapat memberikan keputusan yang berbeda satu sama lain pada proyek-proyek
yang mutually exclusive.

Contoh :

Tahun Perkiraan arus kas proyek X arus kas proyek Y


0 -1000000 -1000000
1 500000 100000
2 400000 300000
3 300000 400000
4 100000 600000

Jika kedua proyek tersebut bersifat mutually exclusive dengan biaya modal sebesar 5%, bagaimanakan
keputusan yang diambil jika menggunakan metode NPV dan IRR?

30
Proyek X
Nilai
Tahun Arus Kas PVIF (5%) Sekarang
0 -1000000 1 -1000000
1 500000 0,952 476000
2 400000 0,907 362800
3 300000 0,864 259200
4 100000 0,823 82300
NPV 180300

Proyek Y
Nilai
Tahun Arus Kas PVIF (5%) Sekarang
0 -1000000 1 -1000000
1 100000 0,952 95200
2 300000 0,907 272100
3 400000 0,864 345600
4 600000 0,823 493800
NPV 206700

Dengan metode NPV, maka proyek yang sebaiknya diambil adalah proyek Y karena nilai NPV nya
lebih besar.

Proyek Y

31
Contoh soal diatas menjawab perbandingan NPV dan IRR dalam hal proyek yang bersifat mutually
exclusive.

Jika harus memilih, maka yang digunakan sebaiknya metode NPV. Karena opportunity cost dari arus
kas suatu proyek adalah biaya modal proyek tersebut. Jika kita menanamkan uang pada suatu proyek,
maka kita kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari proyek lain.

Contoh kasus:
Sebuah proyek ini diharapkan memiliki Net Present Value dari $ 865 pada tingkat diskonto 20% dan
NPV negatif dari $ 1.040 pada tingkat diskonto 22% . Hitung IRR.
Penyelesaian:
Jarak antara 2 NPV = 865 + 1040 = $ 1.905
IRR = + 20%(865 / 1905) * (22%-20%)= 20,91%

Rumus untuk menghitung Present Value adalah:


PV = C1 / (1 + r)
Keterangan:
C1 :Uang yang akan diterima di tahun ke-1.
r : Discount rate/ opportunity cost of capital.
Tingkat pengembalian/hasil investasi (%) dari investasi yang sebanding.

Sedangkan rumus untuk menghitung NPV adalah :


NPV = C0 + ( C1 / (1 + r)
Keterangan:

32
C0 : Jumlah uang yang diinvestasikan (karena ini adalah pengeluaran, maka menggunakan bilangan
negatif).

Untuk menghitung NPV Deposito, saya menggunakan discount rate (r) sebesar 4 %. Angka ini saya
ambil dari tingkat bunga tabungan. Jadi,
NPV Deposito = (-100 jt) + (108 jt / ( 1 + 0,04 )) = (- 100 jt) + 103,85 jt = 3,85 jt

Untuk menghitung NPV Rumah, saya gunakan discount rate 12 % untuk mengakomodasi tingkat risiko.
NPV Rumah =(- 100 jt + 10 jt) + (150 jt / ( 1 + 0,12)) = ( - 90 jt) + 133,93 jt = 43,93jt

Untuk menghitung NPV Emas, discount rate-nya 0 %, karena emas meskipun berfungsi sebagai store of
value / alat penyimpan kekayaan, emas tidak memberikan hasil.
NPV Emas = (- 100 jt) + ( 100 Jt / (1 + 0,00)) = 0 jt

Untuk berikutnya mari ita coba menghitung harga emas 10 tahun kemudian:
Harga Oktober 1998 adalah USD 300/oz dan harga Oktober 2008 adalah USD 900/oz.
Dengan penghitungan sederhana, saya peroleh rata-rata kenaikan harga emas adalah 20%/thn.
Jadi penghitungan ulang untuk NPV Emas adalah :
NPV Emas = ( -100 jt) + (120 jt / (1+0,00)) = (- 100 jt) + 120 jt = 20 jt

 Kebaikan
1. Memperhitungkan time value of money
2. Memperhitungkan seluruh cash flow selama usia investasi

 Kelemahan
Dalam membandingkan dua investasi yang sama modalnya, nilai tunai netto tidak dapat
digunakan sebagai pedoman.

5. Metode Profitability Index (PI)

33
Metode profitability index atau benefit cost ratio merupakan metode yang memiliki hasil keputusan
sama dengan metode NPV. Artinya, apabila suatu proyek investasi diterima dengan menggunakan
metode NPV maka akan diterima pula jika dihitung menggunakan metode profitability index ini.
Formula metode PI adalah:

Pengambilan keputusan apakan suatu proyek investasi akan diterima (layak) atau ditolak (tidak layak)
kita bandingkan dengan angka 1. Apabila PI>1, maka rencana investasi layak diterima, sedangkan
apabila PI <1 maka rencana investasi tidak layak diterima atau di tolak.
     Jika PI > 1, investasi diterima
     Jika PI < 1, investasi ditolak

Contoh kasus:
Sebuah proyek membutuhkan investasi sebesar Rp 50.000.000 denga umur penggunakkan 10 tahun
tanpa nilai sisa, keuntungan netto setelah pajak dari poyek tersebut adalah:
TAHUN LABA SETELAH PAJAK (EAT)
1 15.000.000
2 14.000.000
3 13.000.000
4 12.000.000
5 11.000.000
6 10.000.000
7 9.000.000
8 8.000.000
9 7.000.000
10 6.000.000

Jawab:
PI        = PV of Proceed / PV of Outlays
            = 99.986.000 / 50.000.000
            = 1,99972
            = 2
PV Of Proceed didapat dari hasil perhitungan NPV.

34
Dari hasil perhitungan diatas PI didapat 2 lebih besar dari 1, sehingga usulan proyek tersebut dapat
diterima.

6. Metode Accounting Rate of Return (ARR)

Metode Accounting Rate Return (ARR) mengukur besarnya tingkat keuntungan dari investasi yang
digunakan untuk memperolah keuntungan tersebut. Keuntungan yang diperhitungkan adalah keuntungan
bersih setelah pajak (earning after tax, EAT). Sedangkan investasi yang diperhitungkan adalah rata-rata
investasi yang diperoleh dari investasi awal (jika ada) ditambah investasi akhir dibagi dua. Hasil dari
ARR ini merupakan angka relatif (persentase).

Penggunaan metode ARR ini sangat sederhana sehingga mudah untuk mengambil keputusan. Apabila
besarnya ARR lebih besar dari biaya investasi yang digunakan (biaya modal) maka investasi tersebut
layak untuk dilaksanakan, dan sebaliknya. Namun metode ini banyak kelemahannya, yaitu sebagai
berikut:
1 Mengabaikan nilai waktu dari uang
2 Hanya menitikberatkan masalah akuntansi, sehingga kurang memperhatikan data aliran kas dari
investasi
3 Merupakan pendekatan jangka pendek dengan menggunakan angka rata-rata yang menyesatkan
4 Kurang memperhatikan panjangnya (lamanya) jangka waktu investasi
Berdasarkan pada keuntungan yang dilaporkan dalam buku/reported acc.Income. Metode ini menilai
suatu dengan memperhatikan rasio antara rata-rata dengan jumlah modal yang ditanam (initial
investment) dengan ratio antara laba bersih dengan rata-rata modal yang ditanam.
 Kelebihan
Terletak pada kesederhanannya yang mudah dimengerti karena menggunakan data akuntansi
yang tersedia

 Kelemahan
1.    Tidak memperhatikan time of money value

35
2.    Untuk proyek yang ada rata-rata laba bersihnya

Rumus:
Jumlah EAT X 100 %
ARR=
Investasi

jika ARR > 100%, investasi diterima


jika ARR < 100%, investasi ditolak

Contoh kasus:
Sebuah proyek membutuhkan investasi sebesar Rp 50.000.000 denga umur penggunakkan 10 tahun
tanpa nilai sisa, keuntungan netto setelah pajak dari poyek tersebut adalah :

TAHUN LABA SETELAH PAJAK (EAT)


1 15.000.000
2 14.000.000
3 13.000.000
4 12.000.000
5 11.000.000
6 10.000.000
7 9.000.000
8 8.000.000
9 7.000.000
10 6.000.000

Tingkat bunga yang berlaku adalah 10%.


Diketahui :
Io                     = 50.000.000
Bunga (COC) = 10%
UE                   = 10 tahun
Ditanyakan:
1. Payback period
2. NPV
3. IRR
4. PI

36
Jawab:
ARR atas dasar Initial Investment
NI=15.000.000+14.000.000+13.000.000+12.000.000+11.000.000+10.000.000+9.000.000+8.000.000+7.
000.000+6.000.000
NI= 105.000.000

ARR = (NI / Io) x 100%


ARR = (105.000.000 /  50.000.000) x 100%
ARR = 210%
Dari hasil perhitungan ARR > COC yaitu 210% > 10% maka usulan proyek diterima.
1. Payback period
Depresiasi = lo-SV/UE
Sv = Nilai Sisa
Depresiasi = 50.000.000-0/10
= 5.000.000/th

PROCEED = EAT+DEPRESIASI

TAHUN EAT DEPRESIASI PROCEED


1 15.000.000 5.000.000 20.000.000
2 14.000.000 5.000.000 19.000.000
3 13.000.000 5.000.000 18.000.000
4 12.000.000 5.000.000 17.000.000
5 11.000.000 5.000.000 16.000.000
6 10.000.000 5.000.000 15.000.000
7 9.000.000 5.000.000 14.000.000
8 8.000.000 5.000.000 13.000.000
9 7.000.000 5.000.000 12.000.000
10 6.000.000 5.000.000 11.000.000

Total Investasi 50.000.000


Proceed Tahun 1 (20.000.000)
30.000.000
Proceed Tahun 2 (19.000.000)
11.000.000
37
Payback Period = 2 tahun,(11.000.000/18.000.000)x12 bulan
= 2 tahun 7,3 bulan
KESIMPULAN : Oleh karena payback period 2.73 tahun lebih pendek dari umur ekonomis 10 tahun,
maka sebaiknya usulan proyek tersebut dapat di terima karena menguntungkan.

2. NPV
TAHUN EAT DEPRESIASI PROCEED DF(10%) PV of
PROCEED
1 15.000.000 5.000.000 20.000.000 0.909 18.180.000
2 14.000.000 5.000.000 19.000.000 0.826 15.694.000
3 13.000.000 5.000.000 18.000.000 0.751 13.518.000
4 12.000.000 5.000.000 17.000.000 0.683 11.611.000
5 11.000.000 5.000.000 16.000.000 0.621 9.936.000
6 10.000.000 5.000.000 15.000.000 0.564 8.460.000
7 9.000.000 5.000.000 14.000.000 0.513 7.182.000
8 8.000.000 5.000.000 13.000.000 0.467 6.071.000
9 7.000.000 5.000.000 12.000.000 0.424 5.088.000
10 6.000.000 5.000.000 11.000.000 0.386 4.246.000
PV of 99.986.000
PROCEED
PV of 50.000.000
Outlays
NPV 49.986.000

KESIMPULAN : Karena NPV bernilai positif maka sebaiknya usulan proyek tersebut dapat di terima.

3. IRR
Kita menggunakan konsep trial and error. Kita coba dengan menggunkan tingkat bunga 30% maka
perhitungannya dalah sbb :

TAHUN EAT DEPRESIASI PROCEED DF(10%) PV of


PROCEED
1 15.000.000 5.000.000 20.000.000 0.769 15.380.000
2 14.000.000 5.000.000 19.000.000 0.592 11.248.000
3 13.000.000 5.000.000 18.000.000 0.455 8.190.000
4 12.000.000 5.000.000 17.000.000 0.350 5.950.000

38
5 11.000.000 5.000.000 16.000.000 0.269 4.304.000
6 10.000.000 5.000.000 15.000.000 0.207 3.105.000
7 9.000.000 5.000.000 14.000.000 0.159 2.226.000
8 8.000.000 5.000.000 13.000.000 0.123 1.599.000
9 7.000.000 5.000.000 12.000.000 0.094 1.128.000
10 6.000.000 5.000.000 11.000.000 0.073 803.000
PV of 53.933.000
PROCEED
PV of 50.000.000
Outlays
NPV 3.933.000

KESIMPULAN : Karena NPV bernilai positif, maka sebaiknya usulan proyek tersebut dapat di terima.
Perhitungan di atas menghasilkan angka positif maka kita akan coba lagi dengan menggunakan tingkat
bunga 32%. Maka perhitungan nya adalah sbb :

TAHUN EAT DEPRESIASI PROCEED DF(10%) PV of


PROCEED
1 15.000.000 5.000.000 20.000.000 0.758 15.160.000
2 14.000.000 5.000.000 19.000.000 0.574 10.906.000
3 13.000.000 5.000.000 18.000.000 0.435 7.830.000
4 12.000.000 5.000.000 17.000.000 0.329 5.593.000
5 11.000.000 5.000.000 16.000.000 0.250 4.000.000
6 10.000.000 5.000.000 15.000.000 0.189 2.835.000
7 9.000.000 5.000.000 14.000.000 0.143 2.002.000
8 8.000.000 5.000.000 13.000.000 0.109 1.417.000
9 7.000.000 5.000.000 12.000.000 0.082 984.000
10 6.000.000 5.000.000 11.000.000 0.062 682.000
PV of 51.409.000
PROCEED
PV of 50.000.000
Outlays
NPV 1.409.000

Karena nilai DF di table hanya menyediakan sampai 30% saja, maka pengerjaan nya DF bisa dengan
kalkulator atau manual yaitu = 1/(1+i) pangkat n

39
KESIMPULAN: Karena NPV bernilai positif maka, sebaiknya usulan proyek tersebut dapat di terima.
Perhitungan di atas menghasilkan angka positif maka kita akan coba lagi dengan menggunakan tingkat
bunga 33% maka perhitungan nya adalah sbb :

40
TAHUN EAT DEPRESIASI PROCEED DF(10%) PV of
PROCEED
1 15.000.000 5.000.000 20.000.000 0.752 15.040.000
2 14.000.000 5.000.000 19.000.000 0.565 10.735.000
3 13.000.000 5.000.000 18.000.000 0.425 7.650.000
4 12.000.000 5.000.000 17.000.000 0.320 5.440.000
5 11.000.000 5.000.000 16.000.000 0.240 3.840.000
6 10.000.000 5.000.000 15.000.000 0.181 2.715.000
7 9.000.000 5.000.000 14.000.000 0.136 1.890.000
8 8.000.000 5.000.000 13.000.000 0.102 1.326.000
9 7.000.000 5.000.000 12.000.000 0.077 924.000
10 6.000.000 5.000.000 11.000.000 0.058 638.000
PV of 50.198.000
PROCEED
PV of 50.000.000
Outlays
NPV 198.000

KESIMPULAN : Karena NPV bernilai positif maka sebaiknya usulan proyek tersebut dapat di terima.
Perhitungan diatas menghasilkan angka positif maka kita akan coba lagi dengan menggunakan tingkat
bunga 34% maka perhitungan nya adalah sbb :

TAHUN EAT DEPRESIAS PROCEED DF(10%) PV of


I PROCEED
1 15.000.000 5.000.000 20.000.000 0.752 14.925.273,13
2 14.000.000 5.000.000 19.000.000 0.565 10.579.064,59
3 13.000.000 5.000.000 18.000.000 0.425 7.481.296,76
4 12.000.000 5.000.000 17.000.000 0.320 5.272.852,85
5 11.000.000 5.000.000 16.000.000 0.240 3.703.703,70
6 10.000.000 5.000.000 15.000.000 0.181 2.591.121,09
7 9.000.000 5.000.000 14.000.000 0.136 1.804.588,81
8 8.000.000 5.000.000 13.000.000 0.102 1.250.601,25
9 7.000.000 5.000.000 12.000.000 0.077 861.450,11
10 6.000.000 5.000.000 11.000.000 0.058 589.306,76
PV of 49.059.459,06
PROCEED
PV of 50.000.000
Outlays
NPV -950.540,94

41
Jadi dengan demikian, IRR sebenarnya terletak antara discount rate 33% dan 34% maka untuk
mendapatkan IRR yang di cari maka hal tersebut dilakukan dengan interpolasi :
Discount Rate PV of Proceed
33% = 50.196.000
34% = 49.056.459,06
Perbedaan 1% = 1.138.540,94
Pada discount rate (1) 33% PV of Proceed = 50.198.000
PV of Outlays = 50.000.000
Perbedaan = 198.000

Presentase perbedaan nya = (198.000/1.138.540,94) x 1% = 0.174%


Jadi IRR yang yang di cari adalah = 33% + 0.174% = 33.174%
Kesimpulan : dari hasil perhitungan di atas di dapat IRR sebesar 33.174% lebih besar daripada cost of
capital 10%(tingkat bunga) maka sebaiknya usulan proyek tersebut di terima karena di anggap
menguntngkan.

4. PI ( Profitability Index )
PI = PV of Proceed/PV of Outlays
= 99.986.000/50.000.000
= 1.99972
=2
PV of Proceed di dapat dari hasil perhitungan NPV
KESIMPULAN : Dari hasil perhitungan di atas PI di dapat 2 lebih besar dari 1 sehingga usulan proyek
tersebut dapat di terima.

Dari kelima metode penilaian investasi yang telah dijelaskan diatas, ternyata ada 3 metode yang cukup
baik digunakan dalam menilai investasi yaitu metode Net Present Value (NPV), metode profitability
index (PI) dan metode Internal Rate of Return (IRR). Hal ini terutama karena ketiga metode tersebut
memperhatikan nilai waktu dan uang dalam analisa penilaiannya.

42
Dengan demikian, perhitugnan NPV, PI, dan IRR semuanya menggunakan basis konsep yang sama,
yaitu present value dari aliran kas yang terjadi, baik aliran kas keluar maupun aliran kas masuk.
Keputusan yang diambil dengan menggunakan ketiga metode tersebut juga tidak berbeda.

G. Resiko Dalam Penganggaran Modal

Ada 3 (tiga) jenis dalam proses penggaran modal. Masalahnya adalah sulit untuk mengukur resiko-
resiko tersebut secara tepat. Kelemahan ini menyebabkan perhitungan resiko dalam keputusan
penganggaran modal menjadi sulit. Pada dasarnya ada 2 (dua) metode untuk memasukkan pertimbangan
risiko kedalam keputusan penganggaran modal, yaitu :

1. Metode Certainly Equivalent (CE)


Konsep Certainty Equivalent adalah merubah sesuatu yang tidak pasti menjadi sesuatu yang pasti. Pada
umumnya metode ini semakin tinggi resiko maka semakin kecil certainly equivalentnya. Metode ini
memasukkan unsur resiko pada arus kas proyek dan tidak pada tingkat diskonto. Metode CE sangat
sederhana dan mudah dimengerti, namun kelemahan dari metoda ini adalah faktor subyektif dalam
menentukan CE sangat tinggi karena setiap orang punya pandangan dan keengganan terhadap risiko
yang berbeda. Kelebihan CE adalah kita dapat mempertimbangkan resiko yang tidak sama setiap tahun.

2. Metode Risk adjusted Discount Rate (RADR)


Metode Risk Adjusted Discount rate (RADR) memasukkan unsur risiko kedalam Discount rate.
Menurut metode ini untuk menghitung NPV suatu proyek, kita tetap menggunakan arus kas yang
diharapkan. Arus kas yang diharapkan ini lalu didiskontokan dengan discount rate yang sudah
disesuaikan dengan resiko proyek.  Metoda CE sangat sederhana dan mudah dimengerti, namun RADR
lebih sering digunakan karena lebih mudah diperkirakan berdasarkan data yang ada pada pasar daripada
menentukan arus kas CE.
H. Analisis Risiko dalam Penganggaran Modal

1.      Analisis Resiko dalam Penganggaran Modal

Manajemen Resiko Proyek

43
Adalah sebuah proses sistematis untuk merencanakan, mengidentifikasi, menganalisis, dan merespon resiko
proyek.  Manajemen resiko proyek meliputi aspek teknik, dan non teknik. Contoh aspek teknik misalnya adalah
hal-hal yang berhubungan dengan item pekerjaan. Contoh aspek non teknik misalnya adalah hubungan antara
proyek dengan lingkungan dan masyarakat sekitar, dengan pemerintah, dan lain-lain. Tujuan dari manajemen
resiko proyek adalah (C. Duffield & B. Trigunarsyah, 1999) :

·          Membatasi kemungkinan-kemungkinan dari ketidakpastian

·          Membuat langkah-langkah yang lebih mengarah pada tindakan proaktif dibandingkan reaktif dalam
memandang kemungkinan ancaman dan kerugian yang besar.

·          Membatasi kerugian dan ketidakpastian pada stake holder

·          Menjaga kesinambungan program operasi, sehingga tidak terganggu dengan kejadian-kejadian yang
belum terantisipasi sebelumnya.

·          Menjalankan program manajemen risiko secara efektif sehingga mempunyai pengaruh yang
menguntungkan dan bukan menimbulkan biaya baru.

Di dalam manajemen resiko proyek, ada beberapa proses yang terlibat didalamnya, yaitu :

Perencanaan manajemen resiko

 Identifikasi resiko.

 Analisis resiko kualitatif 

Analisis resiko kuantitatif .

 Perencanaan respon terhadap resiko

Pengendalian dan monitoring resiko

2.      Risiko Proyek

Resiko proyek adalah peristiwa tidak pasti yang bila terjadi akan memiliki efek positif atau negatif terhadap
tujuan proyek (bisa berupa biaya, waktu, mutu, ruang lingkup). Resiko mungkin memiliki satu atau lebih
penyebab, yang bila terjadi memiliki satu atau lebih dampak. Resiko memiliki 3 unsur utama didalamnya, 

44
1. kejadian 

2. akibat

3. kemungkinan

3.      Analisis Sensitivitas

Dalam analisis sensitivitas,  hanya satu variable yang berubah (sisanya dianggap tetap). Analisis ini merupakan
bagian dari analisis skenario yang menghitung efek dari perubahaan beberapa variable tertentu atas NPV.
Semakin besar perubahan NPV terkait dengan perubahan satu variable tersebut, makin besar resikonya atas
variable tersebut, sehingga kita harus semakin banyak mengawasi proyeksinya.

Untuk melakukan analisis sensivitas, pertahankan semua proyeksi kecuali satu proyeksi; ubah proyeksinya dan
lihat seberapa peka arus kas terhadap perubahannya (terutama untuk perubahan yang drastic). Pakailah kondisi
terburuk atau terbaik untuk variable yang dipilih.

4.      Analisis Skenario

Pada analisis ini , kita melihat apa yang akan terjadi terhadap NPV pada beberapa scenario arus kas yang
berbeda. Analisa ini dimulai dengan membuat perhitungan pada kondisi dasar (base-case) yang paling mungkin
tercapai lalu dihitung arus kas yang lebih rendah (lower-case)  dan lebih tinggi (upper-case) dari kondisi tersebut.
Skenario ini paling sedikitnya mencakup kondisi :

·          Terbaik (best case)      : pendapatan tinggi, biaya rendah

·          Terburuk (worst case) : pendapatan rendah, biaya tinggi

·          Perhitungan terhadap range kemungkinan terjadinya.

Kondisi terbaik dan terburuk tidak semestinya terjadi, namun kondisi ini masih mungkin terjadi.

45
Jika, dalam kebanyakan keadaan, arus kas proyeksi terdiskonto yang dihasilkan mampu menutupi 
pengeluarannya, maka kita memiliki keyakinan yang lebih tinggi bahwa Nilai Sekarang Neto (NPV) nya akan
positif. Jika tidak, akan sulit untuk mengartikan scenario nya.

5.      Analisis Break even

·          Pengertian Analisi Break Even

Analisa break even adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel,
keuntungan dan volume kegiatan.

Adapun pengertian – pengertian Break Even Point menurut para ahli:

1.    Menurut S. Munawir ( 2002) Titik break even point atau titik pulang pokok dapat diartikan sebagai suatu
keadaan dimana dalam operasinya perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi ( total
penghasilan = total biaya)

2.    Menurut Abdullah (2004) Analisis Break even point disebut juga Cost volume profit analysis

3.    Menurut Purba (2002) Titik impas (break even point) berlandaskan pada pernyataan sederhana, berapa
besarnya unit produksi yang harus dijual untuk menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan untuk mengahsilkan
produk tersebut.

4.    Menurut PS. Djarwanto (2002) Break even point adalah suatu keadaan impas yaitu apabila telah disusun
perhitungan laba dan rugi suatu periode tertentu, perusahaan tersebut tidak mendapat keuntungan dan
sebaliknya tidak menderita kerugiaan.

5.    Menurut Harahap (2004) Break even point berarti suatu keadaan dimana perusahaan tidak mengalami laba
dan juga tidak mengalami rugi artinya seluruh biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi ini dapat ditutupi
oleh penghasilan penjualan. Total biaya (biaya tetap dan biaya variabel) sama dengan biaya total penjualan
sehingga tidak ada laba atau rugi

46
6.    Menurut Garrison dan Noreen 92004) break even point adalah tingkat penjualan yang diperlukan untuk
menutupi semua biaya operasional, dimana break even tersebut laba sebelum bunga dan pajak sama dengan
nol (0). Langkah pertama untuk menentukan break even adalah membagi harga pokok penjualan (HPP) dan
biaya operasi menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap merupakan fungsi dari waktu, bukan fungsi
dari jumlah penjualan dan biasanya ditetapkan berdasrkan kontrak, misalnya sewa gudang. Sedangkan biaya
variabel tergantung langsung dengan penjualan bukan fungsi dari waktu, misalnya biaya angkut barang.

Capital Budgeting Under Uncertainty: The Multiperiod Case

Discount rate yang tepat digunakan selama ini disepadankan atau diasumsikan dengan risk free rate.
Pada bagian ini, teknik diskonto konsisten dengan tujuan untuk memaksimalkan net present value
kesejahteraan pemegang saham. Selain itu, disini akan membahas adanya kesulitan dalam menggunakan
CAPM untuk menjelaskan tingkat diskonto risk adjusted multi periode yang sesuai untuk proses
penganggaran modal. Selanjutnya, akan dijelaskan tentang cara menggunakan arbitrage pricing theory
untuk proses penganggaran modal. Pada akhirnya akan dijelaskan tingkat diskonto risk adjusted yang
akan digunakan untuk penganggaran multi periode dalam ketidakpastian. Beberapa masalah yang akan
muncul, pertama, bagaimana penyesuaian tingkat diskonto risk adjusted ketika membandingkan data
biaya untuk proyek mutually exclusive, kedua, bagaimana cara mengetahui nilai residual pada aset
investasi?

Multiperiod Capital Budgeting with Imperfect Market for Physical Capital


Bogue dan Roll (1974) menganalisis penganggaran modal proyek beresiko dalam kerangka multiperiode
dan menyimpulkan bahwa hal itu mungkin tidak sesuai untuk discount cash flow dengan menggunakan
single period tingkat diskon risk adjusted. Pada keadaan tertentu, keputusan investasi multi periode
dapat dibuat dengan peramalan satu periode. Jika pasar sekunder yasng sesuai muncul untuk sebuah
proyek, hanya analisis one period yang disyaratkan untuk keputusan. Dengan ketidaksempurnaan pasar
sekunder pada modal fisik, beberapa keputusan investasi masih dapat ditentukan dengan peramalan satu
periode. Jika mesin dapat diterima atas dasar arus kas one period ditambah dengan nilai bersih simpanan
setelah periode pertama, kemungkinan nilai pada periode yang akan datang hanya akan menambahkan
penerimaan proyek. Karena analisis single period penting dan juga itu dapat digunakan dalam kerangka
pemrograman dinamis untuk menyelesaikan masalah multi periode. Bogue dan Roll memulai analisis
dari penilaian model single period.
E (~
X 1 )− λ0 COV (~ X1 ,~
V m 1)
∆ V 0= … … … … … .(1)
1+r f 0
Pada persamaan (1) diatas, apabila sisi sebelah kiri melebihi nilai sisi kanan, maka proyek dapat
diterima. Metode dimulai dengan ketidakpastian arus kas dimana kepastian dianggap sepadan dengan
nilai yang dikonstruksikan. Pada akhir periode, kepastian sepadan dengan nilai yang seharusnya

47
didiskontokan pada tingkat risk free rate untuk menjelaskan nilai sekarang. Hasil dari one period
digunakan untuk dasar generalisasi untuk kasus multi periode.
~ ~~
~ ~ E ( ∆~
V k+1∨~ε k )− λk COV (∆ ~ V k+1 , ∆ ~
V m(k+1 )∨~ε k )
∆ V k= X k + … … … … …. (2)
1+ ~r fk
Pada persamaan (2) merupakan persamaan untuk n periode proyek, dalam n periode pada periode tidak
terbatas, masalah pemrograman dinamis harus dapat diselesaikan. Masing-masing langkah yang terkait
pada aplikasi atas model penilaian one period dengan parameter yang tergantung pada awal periode
khusus. Pada kasus 2 periode terdapat 3 premi resiko:
1. Resiko kovarian dalam periode kedua ex : resiko beta
2. Resiko kovarian pada nilai intermediate proyek yangmana dapat disebut sebagai reinvestment
opportunity cost yang berhubungan dengan penjualan setelah satu periode yang telah berlalu
3. Premi resiko untuk fluktuasi tingkat bunga melebihi 2 periode yang dapat menyebabkan perubahan
nilai proyek pada periode berkelanjutan.
Bogue dan Roll menyimpulkan atas pengamatannya bahwa jika terjadi eror dalam penilaian probabilitas
arus kas yang melebihi waktu multi periode secara sistematis tidak bias, pemegang saham dapat
mendiversifikasi eror sebagai jumlah proyek yang menjadi besar. Dengan demikian, dugaan terjadi bias
dapat didiversifikasi dengan portfolio personal pemegang saham, padahal penggunaan penganggaran
modal yang salah akan menghasilkan agregat eror dimana pemegang saham tidak dapat mengurangi
dengan diversifikasi.

An Examination of Admissible Uncertainty in a Multiperiod Capital Asset Pricing World


Bogue dan Roll menyarankan dalam konteks 2 periode, PV perusahaan tidak dapat dikalkulasikan secara
sederhana dengan diskonto kepastian yang ekuivalen dengan arus kas pada akhir periode kedua ditarik
ke waktu pada saat ini. Sebagai tambahan, hal ini penting untuk mengurangi premi resiko (a)resiko
kovarian nilai intermediate proyek dan (b)resiko fluktuasi suku bunga. Fama (1977) menguji kembali
masalah penganggaran modal multi periode dalam ketidakpastian dan mengklarifikasi analisis Bogue
dan Roll dengan menunjukkan CAPM sebagai jenis ketidakpastian yang diizinkan Bogue dan Roll itu
tidak dapat diterima.
Bogue dan Roll (1974) menunjukkan bahwa jika expected risk free rate dan sehingga kumpulan
expected portfolio opportunity merupakan stokastik, kemudian masalah penganggaran modal multi
periode sulit untuk diselesaikan. Investor harus mempertimbangkan selain resiko sistematis yang biasa
digunakan CAPM tetapi juga 2 faktor tambahan lain yaitu: resiko kovarian nilai intermediate proyek dan
resiko fluktuasi suku bunga. Fama (1977) menguji jenis variabilitas yang dapat diterima dalam naungan
CAPM yang mengasumsikan kumpulan portfolio opportunity merupakan non-stokastik. Constantinides
(1980) berfokus pada keperluan asumsi minimal CAPM yang valid dalam kerangka multi periode.
Secara khusus, ia berasumsi bahwa : (1) memiliki pasar sempurna (2) investor memiliki ekspektasi yang
homogen (3) fungsi utilitas investor adalah independen (4) terdapat laba kompetitif dalam
memaksimalkan perusahaan yang mana output dalam periode t merupakan fungsi input dari periode t-1
dan random shock tidak independen pada ekonomi periode t-1. Jika return terdistribusi normal atau
stabil, maka CAPM dapat dikatakan valid. Multi periode CAPM valid jika kumpulan portfolio

48
investment opportunity stokastik. Kebutuhan distribusi return portfolio pasar, return pada aset kurang
beresiko, beta sekuritas, dan resiko harga pasar merupakan faktor faktor yang dapat diterima oleh
Sharpe, Lintner, dan Mossin CAPM.

Using the Arbitrage Pricing Theory for Multiperiod Capital Budgeting


Dalam penerapan arbitrage pricing theory (APT) kurang membatasi daripada penerapan CAPM, secara
khusus dalam bentuk multi periode. APT tidak mensyaratkan portfolio pasar dapat diamati atau tidak
mensyaratkan kebutuhan antarwaktu dalam kesempatan investasi.
Ross (1979) menunjukkan bahwa APT dapat digunakan untuk menilai aliran pendapatan, dan Gehr
(1981) menunjukkan bagaimana gagasan dapat diterapkan khususnya pada masalah penganggaran
modal multi periode. Gehr memberikan contoh dalam menggunakan APT untuk menghindari masalah
dengan menggunakan tingkat diskonto risk adjusted multi periode, namun hal tersebut bukan solusi
yang terbaik karena mensyaratkan kita untuk mengestimasi hubungan antar future price pada
perdagangan public dan future cash flow dari sebuah proyek.

One Period APT Example


Subjective Rf S
Period Economic scale Project CF
Probability Risk free rate Comparison stock
0 Current 1.0 -8,000 NA $9
1 Bad 0.3 8,000 10% $8
1 good 0.7 15,000 10% $25.5
Jika kita dapat membentuk cash equivalent portfolio dari aset risk free rate dan comparison stock,
kemudian kita akan memperoleh nilai dari sebuah proyek. Kas yang sama dengan portfolio akan
memiliki hasil yang sama seperti proyek dalam masing masing state of nature. Karena kita tahu bahwa
aset risk free dan comparison stock, harga dari kas sama dengan portfolio akan menjadi nilai sebuah
proyeknya, disisilain kesempatan arbitrase akan muncul.
Bad economic condition : 8Qs + 1.1 Qr = 8,000
Good economic condition : 25.5 Qs + 1.1 Qr = 15,000
Maka dengan itu, diketahui Qs = 400 saham dan Qr $4363.54. Maka, kas samadengan portfolio, PV,
adalah
PV : 400 SAHAM x $9/SAHAM +$4363.64
PV : $3600 + $4363.64 = $7963.64
Maka NPV proyek adalah
NPV : PV – I
: $7963.64 - $8000 = - $36, Karena NPV negative, maka proyek ditolak.
Tingkat diskonto risk adjusted tidak pernah diperhitungkan dan tidak diketahui toleransi resiko atas
perusahaan yang mengevaluasi proyek. Secara umum, informasi ini terkait harga relative atas aset risk
free dan comparison stock.

Multiperiod APT Example (two period)


Proyek dapat dievaluasi dengan
S=$40 CF = $180
State C menemukan cash equivalent portfolio
S=$30, rf =10%,
CF=$150
State A
S=$30 CF = $160 49
State D
S=$10, rf =12%,
I0=-$200
S=$12 CF = $130
State E
S=$8, rf =8%,
State B
S=$8 CF = $120
State F

antara tahun 1 dan tahun 2, kemudian menggunakan informasi ini untuk menemukan cash equivalent
portfolio tahun 0.

2 State C : 40 Qs + 1.1 Qr = 180


State D : 30 Qs + 1.1 Qr = 160 ,maka dari State C dan D diperoleh Qs = 2 dan Qr = $90.91 V A =
$150.91
State E : 12 Qs + 1.08 Qr = 130
S=$30, rf =10%,
CF=$150 State F : 8 Qs + 1.08 Qr = 120 ,maka dari State E dan F
VA = $150.91
State A diperoleh Qs = 2.5 dan Qr = $92.59 VA = $112.59
S=$10, rf =12%,
I =-$200
0
State A : 30Qs + 1.12Qr = 150 + 150.91
S=$8, rf =8%, CF=$120
VB = $112.59 State B : 8Qs + 1.12 Qr = 120 + 112.59
State B
Tahun 0 Tahun 1
Maka
diketahui Qs = 3.11 dan Qr = $185.49

Maka nilai dari cash equivalent portfolio untuk proyek 2 tahun periode dan NPV adalah

PV = (3.11 saham x $10/saham) + $185.49 = $ 216.59


NPV = PV – I = $ 216.59 - $ 200 = $ 16.59, Maka proyek dapat diterima

Secara teori terdapat keuntungan menggunakan APT, namun secara praktik terdapat masalah dalam
etumasi ketidaktentuan harga atas comparison stock dan aset risk free.

Comparing Risky Cost Structures


Dalam menerapkan penganggaran modal hampir keseluruhannya adalah multi periode dan seringnya
untuk mengasumsikan pendapatan dari 2 proyek mutually exclusive yang mirip. Tingkat risk adjusted
multi periode atas return yang diperoleh merupakan teknik penganggaran modal dan kita dapat
menggunakannya untuk membandingkan COF pada dasar risk adjusted. Pendekatan yang tepat
mendiskonto expected costs pada tingkat yang lebih rendah ketika COF memiliki varians yang lebih
besar. Nilai COF berkorelasi positif dengan portfolio pasar, varians yang lebih besar dalam kas keluar
akan mengimplikasikan resiko proyek yang lebih kecil.
( 1−τ c ) ~~ ( 1−τ c ) ~~
COV ( ~r j , ~r m ) = COV ( Rev , im )− COV ( VC , im ) … …(3)
I0 I0
Pada persamaan (3) menunjukkan bahwa kovarian atas resiko proyek dapat dibagi menjadi 2 bagian :
kovarian resiko atas aliran pendapatan dank ovarian resiko atas aliran biaya. Jika biaya memiliki
kovarian positif dengan pasar maka mereka akan menguat ketika market return tinggi dan sebaliknya
kontribusi pada kovarian resiko proyek akan besar dan negative. Hal ini mengimplikasikan bahwa aliran

50
biaya pada proyek yang beresiko harus di diskontokan pada tingkat diskon yang lebih rendah untuk
resiko penyesuaian. Pada persamaan (3) dapat ditulis ulang dengan istilah resiko sistematis dengan
membagi varians dari market return pada kedua sisi
1−τ c 1−τ c
β j=( )I0
β jRev− ( )
I0
β jVC

βj = resiko sistematis proyek


βjRev = resiko sistematis aliran pendapatan
βJvc = resiko sistematis aliran biaya variabel

Dalam membandingkan resiko maka terdapat 2 skema kompensasi sebagai contoh. Pertama, sales
dibayar atas dasar komisi tanpa gaji, Kedua, sales dibayar atas dasar gaji tetap tanpa komisi. Ekspetasi
pendapatan dan ekspektasi biaya penjualan merupakan hal yang identik bagi kedua skema. Maka,
hasilnya skema komisi memiliki varians biaya yang lebih besar tetapi hasilnya kurang beresiko bagi
pemegang saham karena merupakan smooth profit. Ketika pendapatan rendah, begitu juga dengan
komisi.

Abandonment Value
Selama waktu berjalannya proyek, dimungkinkan proyek tersebut sebaiknya dijual kepada orang lain
yang dapat memanfaatkan aset tersebut lebih baik dengan aktivitas lain, untuk melepaskan proyek tsb
dengan menghapus nilai sisa atau menutup secara perlahan sampai kondisi perekonomian meningkat.
Semua kemungkinan ini dipertimbangkan saat keputusan penganggaran modal diinisiasi.

1.The Simple Abandonment Problem


Ketika sebuah proyek dihapus (atau dengan dijual), nilai ekspektasi likuidasi menurunkan nilai proyek.
Ketika PV sebuah aset jatuh dibawah harga likuidasi, tindakan penghapusan proyek ini sama dengan
ketika kita melakukan aksi opsi put. Karena opsi untuk melikuidasi memberikan nilai proyek dapat
dilikuidasi lebih baik daripada proyek yang sama tanpa melakukan penghapusan (abandonment).
Abandonment value merupakan sesuatu yang penting dalam aspek lain pada pembuatan keputusan
keuangan pada : re-evaluasi proyek dalam menggantikan tahun tahun setelah diambil alih. Keputusan
untuk melanjutkan proyek atau menghapus proyek terkadang selama waktu hidup proyek bergantung
pada yang terjadi pada cabang selama periode berlangsung. Terkadang terdapat keuntungan dalam
menghapus proyek jika NPV aktivitas operasi yang berkelanjutan positif. Alasan dasar bahwa PV
penghapusan setelah waktu yang lebih pendek sebenarnya lebih baik daripada PV operasi yang
berkelanjutan. Cara untuk menganalisis apakah dilakukan penghapusan atau tidak dengan
memperhitungkan NPV proyek tanpa opsi untuk penghapusan kemudian menambahkan nilai tsb
kedalam opsi put pada penghapusan.
NPV (with abandonment) = NPV (without abandonment) + value of abandonment put option

51
Varians atas return yang lebih besar pada sebuah proyek maka akan besar pula nilai opsi penghapusan.
Standar deviasi sebaiknya menggunakan formula Black Scholes karena merupakan estimasi standard
deviasi terhadap return pada aset yang mendasari.

2. Deferred Abandonment
Aturan keputusan penghapusan cara tradisional yang merupakan cara penghapusan (dijual) pada tahun
pertama ketika abandonment value melebihi PV ekspektasi arus kas tetap dari kegiatan operasi
selanjutnya. Sebagai contoh, mempertimbangkan sebuah truk dengan sisa umur ekonomis 2 tahun. PV
dari penggunaan selanjutnya sebesar $900 namun harga pasar saat ini sebesar $1000, maka keputusan
yang lebih baik adalah denga menjual truk tsb sekarang. Bagaimanapun, terdapat satu opsi yang belum
dipertimbangkan, dimana untuk mengoperasikan truk untuk satu tahun dan mengumpulkan arus kas
pada 1 tahun operasi (ex PV $500) dan kemudian melakukan penghapusan aset (asumsi PV dari
penghapusan aset $600). Maka dengan itu, jumlah PV pada alternative ini adalah $1100.
Aturan keputusan penghapusan optimal adalah untuk menjelaskan kombinasi arus kas operasi tetap dan
penghapusan di masa yang akan datang yang memaksimalkan ekspektasi NPV. Aturan keputusan ini
sulit untuk diimplementasikan khususnya ketika proyek dengan waktu yang lebih lama dan terdapat
jumlah keputusan penghapusan dari waktu ke waktu.
Pada saat ini, solusi terbaik untuk keputusan deferred abandonment adalah untuk mempertimbangkan n
alternatif mutually exclusive yang berbeda untuk n tahun proyek dan memilih yang memiliki NPV
terbaik.

3. Shutdown as an Alternative to Abandonment


Breenan dan Schwartz (1985) mengemukakan bahwa alternative yang nyata dalam penghapusan adalah
penutupan sementara (non aktif sementara). Ex: tambang tembaga ketika harga tembaga jatuh maka
solusi yang optimal adalah dengan menutup sementara aktivitas pertambangan sampai harga naik
kembali. Namun jika harga jatuh terlalu jauh maka penghapusan dapat menjadi opsi. Mereka dapat
mengembangkan keputusan berdasarkan harga pasar tembaga yang mana memperbolehkan manajer
untuk mengetahuinya ketika akan membuka atau menutup aktivitas operasi. Nilai opsi untuk shutdown
ini meningkat beriring dengan jatuhnya harga tembaga.

4. Other Option Pricing Application for Investment and Production Decision


Maron dan Merton (1985) menyimpulkan varietas aplikasi penetapan harga opsi untuk investasi dan
keputusan produksi. Topik utama adalah fleksibilitas yang memiliki nilai. Option pricing menyediakan
alat analisis untuk fleksibilitas penilaian. Ketika ketidakpastian nilai sebuah proyek meningkat, maka
penilaian akan tertunda. Penerapan Option pricing kedalam masalah fleksibilitas model untuk keputusan
investasi strategis menjadi penting karena diperkenalkan pertama kali pada capital budgeting untuk
beberapa decade.

52
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Penganggaran Modal (capital budgeting) sangatlah penting dalam menentukan alur kas,investasi dan
penanaman saham. Dimana bila perhitungan atau keputusan untuk pengambilan penganggaran modal
tepat, maka keuntungan bagi perusahaan akan meningkat sesuai dengan perhitungan. Dan sangatlah
penting bagi manajer keuangan untuk sangat hati-hati dalam mengambil keputusan dengan keadaan
keuangan suatu perusahaan.

Penganggaran Modal ( Capital Budgeting ) adalah Suatu Konsep Investasi. Dikatakan sebagai suatu
konsep investasi, sebab penganggaran modal melibatkan suatu pengikatan (penanaman) dana di masa
sekarang dengan harapan memperoleh keuntungan yang dikehendaki di masa mendatang. Capital
budgeting sangat penting bagi perusahaan karena di dalamnya terdapat jumlah biaya yang besar
sedangkan manfaatnya baru dapat dinikmati dalam jangka panjang. Keputusan di bidang capital
budgeting ini akan memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan perusahaan di masa yang
akan datang. Di dalam melakuan analisa capital budgeting diperlukan estimasi arus kas. Perusahaan
mengharapkan akan menghasilkan arus kas yang lebih besar daripada sebelum melakukan suatu
investasi. Di dalam capital budgeting ini disebut sebagai arus kas tambahan (incremental cash flow).

53
Incremental cash flow ini yang digunakan untuk menghitung atau menganalisa kelayakan suatu proyek
dengan metode net present value. Arus kas untuk tujuan capital budgeting didefinisikan sebagai arus kas
sesudah pajak atas semua modal perusahaan.

Tahapan capital budgeting dimulai dari mengusulkan proyek dan menentukan biaya, memperkirakan
aliran kas hingga mengestimasi resiko, menentukan biaya modal yang tepat, dengan menggunakan nilai
waktu uang, aliran kas yang masuk digunakan untuk memperkirakan nilai aktiva, dan terakhir nilai
sekarang dari aliran kas yang diharapkan dibandingkan dengan biayanya. Proses Capital budgeting yaitu
pembuatan proposal anggaran dana, kajian dan analisa, pengambilan keputusan, implementasi, dan
follow up (tindak lanjut). Metode analisis capital budgeting terdiri dari Metode Period Method, Net Present
Value Method (NPV), Metode Profitability Index (PI), Metode Accounting Rate of Return (ARR), dan Metode
Internal Rate of Return (IRR). Penganggaran modal memiliki kriteria dalam setiap metodenya dan dalam
penganggaran modal dapat terpengaruh oleh keadaan ekonomi suatu Negara seperti inflasi salah
satunya.

B. Saran
1. Perusahaan perlu menerapkan analisis capital budgeting untuk menilai kelayakan investasi aset
tetap, yaitu menyusun rencana investasi dengan sebaik-baiknya, serta melakukan estimasi terhadap
arus kas atas proyek investasi yang hendak dilakukan.
2. Perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian yang memadai terhadap operasi perusahaan untuk
menghindari pelaksanaan proyek tidak menyimpang terlalu jauh dari apa yang sudah direncanakan.

54
55