Anda di halaman 1dari 149

Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Rahasia Ratih 1
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Rahasia Ratih
By Dorkas Turasmi
––––––––––––––––––

Bagian 1

Kukuruyuuuuk....!!!!
Suara melengking si Lurik mengejutkan aku.
"Duh, ngantuk berat nih," guman Ratih sambil menggeliat.
Semalam hujan deras, suhu dingin membuat Ratih tertidur
sangat pulas.
Meskipun enggan meninggalkan tempat tidur namun harus
bergegas bangun dan menyiapkan segala sesuatu pagi buta.
Sambil menggosok matanya yang masih sepat. Ratih
terhuyung masuk kamar mandi untuk membuang muatan dan
mandi.
Usai mandi, Ratih sedikit berdandan, kemudian
mengenakan jubah putih kebanggannya.
Sambil tersenyum sendiri betapa bahagia bisa menjadi
pahlawan bagi sesama yang membutuhkan.
Begitu keluar dari kamar, Ratih membuka pesan singkat
dari Rumah Sakit tempatnya bekerja.
"Dokter, ada pasien dengan widal
Hemoglobin 12. 000
Trombosit 140
Eritrosit 21

Rahasia Ratih 2
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Leukosit 24
Basofil 45
Suhu 38,5
Aku segera memberikan resep kepada dokter jaga UGD
agar secepatnya diberikan lewat intravena.
Aku sempatkan sarapan dan segelas susu UHT sebagai
bahan bakar sebelum berkutat dengan bakteri, virus dan
berbagai keluhan banyak orang.
Hari mulai terang tanah ketika aku duduk diatas sadel
sepeda motor.
Perlahan aku menuju Rumah Sakit, kuparkir dikantong
parkir untuk karyawan.
Kulangkahkan kaki ke mesin absensi, kutaruh jempol
tangan kanan di layar absensi.
Aku melangkah masuk UGD, aku langsung diserbu dokter
jaga dan perawat. Satu persatu mereka memberikan laporan
setiap pasien yang harus aku tangani
Kuambil stetoskop, aku menemui pasien Demam Berdarah
terlebih dahulu. Seorang remaja masih lelap tertidur ditunggu
dua orang kerabatnya.
Dengan lembut Perawat membangunkannya, lalu
melakukan wawancara dengan remaja bernama Taryo. Kuambil
alkohol, kuoles pada lipatan lengan, kemudian kuambil loop
untuk melihat seberapa parah bintik bintik merah akibat
pecahnya pembuluh darah.

Rahasia Ratih 3
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Setelah kuperiksa dengan teliti, aku memberikan instruksi


selanjutnya kepada perawat.
"Nanti kalau sudah ada ruang perawatan kosong bisa
pindah, untuk sementara disini dulu," kataku disambut
anggukan kedua kerabatnya.
Aku berjalan mengikuti petunjuk perawat. Seorang pria
paruh baya merintih kesakitan sambil terus memegangi
perutnya.
Kasihan, sudah tua seorang diri tergeletak di UGD.
"Bapak, mananya yang sakit...? " tanyaku.
"Ini bu dokter, perut saya serasa disilet silet, maunya
muntah tapi tidak keluar, kepala pusing dan mencret, " katanya
sambil meringis kesakitan.
Aku mendengar suara rongga perut dengan seksama
melalui stetoskop.
"Mencretnya warna apa pak?" tanyaku sambil meraba ulu
hatinya.
"Warnanya..... Warnanya hitam bu, sudah beberapa hari ini
begitu terus, " jawabnya sambil meringis kesakitan.
Setelah meminta banyak keterangan dirinya aku meminta
bantuan dokter spesialis gastro Entero Hepatologi untuk
dilakukan endoskopi.
Dugaanku adalah pendarahan lambung.
Usai memeriksa beberapa pasien di UGD aku melangkah ke
ruang HCU. Dua orang pasien terminal sebagai tanggung

Rahasia Ratih 4
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

jawabku terbaring lemah dengan berbagai penunjang di


tubuhnya.
Ventilator alat bantu perjalanan. Ekokardiograf terpasang
di dada dan lengan kiri di ujung jarinya semua terhubung pada
monitor di atas kepalanya.
Ada kateter untuk membuang urine dan sekantong penuh
urine berwarna kuning pekat tergantung di ujung tempat
tidurnya.
Melihat grafik pada Ekokardiograf sudah tidak ada harapan
orang ini hidup lebih lama lagi.
Dalam keadaan koma, wanita muda Ini masuk UGD dua
hari lalu dan kondisinya terus menurun.
Segala usaha kuberikan kepadanya, keluarganya sudah
kuberi tahu tidak ada harapan, tapi mereka ngotot tetap
dirawat.
Kanker darah atau Leukemia sudah merusak seluruh organ
tubuh dan hb sudah tenggelam diambang batas.
Aku memberi saran kepada perawat agar memberi tahu hal
terburuk bisa terjadi kapanpun.
Mau tahu punya rahasia apa dokter Ratih Sp D, lihat besok
ya
––––––––

Bagian 2

"Bu dokter!" teriak perawat ketika kakiku melangkah


keluar ruang HCU.

Rahasia Ratih 5
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku berbalik kembali ke pasien terminal Leukemia, kadar


oksigen turun drastis, tekanan darah tidak bisa dideteksi.
Terdengar suara dengkur akibat menyempitnya trakhea.
Detak jantung kian melemah.
Aku terus melakukan CPR dengan terus menerus menekan
nekan dada kiri hingga kelelahan. Sementara perawat
memasukkan oksigen melalui mulut dengan bantuan dari
ventilator. Namun kondisi pasien kian lama kian melemah.
"Panggil keluarganya," pintaku pada seorang perawat yang
sedang sibuk menyiapkan EKG.
Dia berlari, berteriak memanggil keluarganya, kemudian
melihat sendiri kesibukan kami.
Akhirnya aku menyerah ketika diagram pada Elektro
Kardigraf sudah tidak ada gerakan.
Seketika tangis pecah membuat keributan di ruang
terminal.
Aku mengelus punggung ibunya, wanita paruh baya
tampak tegar dibandingkan suami almarhum.
Aku menarik tangan wanita berbadan tambun sedikit
menjauh dari jasad yang sedang dilepas alat alat penunjang
pada tubuhnya oleh perawat.
"Ibu, kami sudah berusaha keras menolong ibu Karmila,
namun kami manusia biasa yang penuh kekurangan, kami
mohon maaf, kami mengucapkan turut berdukacita," kataku
didengar oleh anggota keluarga lainnya.
Ibu berbadan subur ini seketika memeluk aku sambil
menangis tersedu sedu. Aku merasa sedih ketika dia berucap,

Rahasia Ratih 6
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

" Bu dokter, kami mengucapkan terima kasih untuk semua


jerih lelah ibu selama tiga hari terakhir, "
Aku berusaha tegar walau tak urung aku ikut menangis.
Kulepas perlahan pelukan ibu gendut itu, kutatap matanya
dalam dalam.
Si ibu tersenyum diantara derai air matanya.
Tak ada kata terucap dari mulut kami, hanya bahasa hati
kami berbicara.
Setelah beres melepas alat penunjang, aku memberi
instruksi kepada keluarganya.
"Nanti jenazah akan diantar kerumah menggunakan
ambulance Rumah Sakit. Semua prosedur akan diatur oleh
perawat," kataku. Semua anggota keluarga mengaggukan
kepala hampir bersamaan.
"Bu dokter, terima kasih sudah merawat istri saya," kata
pria muda berwajah sayu sambil mengalami aku. Aku
mengangguk sambil menjabat tangan sedingin es.
Aku pamit dari keluarga yang sedang berdukacita setelah
memberikan tanda tangan pada berkas yang diberikan perawat.
Aku melangkah keluar dari ruang terminal I menuju ruang
terminal II yaitu ruang ICU.
Jantungku berdegup kencang meskipun tiap hari
berhadapan dengan orang meregang nyawa.
Aku masuk bilik ganti, kukunci bilik dari dalam, kukenakan
baju hijau, celana hijau, penutup kepala hijau dan pelindung
kaki berwarna hijau pula. Tak lupa kukenakan sarung tangan
berlapis dan masker surgical berlapis pula.

Rahasia Ratih 7
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Usai melakukan protokol masuk ruang ICU, aku mengunci


bilik ganti agar tas dan surat surat penting lainnya tidak hilang
dicuri orang.
"Selamat pagi semuanya!" kataku sambil berteriak agar
terdengar oleh perawat perawat dan dokter jaga di ruang ICU.
Dua orang perawat segera membawa berkas hasil lab, foto
torax dan hasil CT scan.
Aku dibawa perawat menuju pasien terminal yang menjadi
tanggung jawabku. Setelah aku periksa dengan stetoskop, dan
melihat rekaman pada monitor Elektro Kardigraf dan respon
pasien aku menentukan apakah pasien itu tetap dirawat di ICU
atau pindah ke ruang perawatan.
Baru saja aku memeriksa dua pasien, terdengar suara
dengkur dari pasien diujung sana. Kami semua berlari ke arah
pria paruh baya yang sudah enam hari dirawat.
Seorang perawat pria melakukan CPR, aku memberikan
oksigen langsung dari ventilator. Namun akhirnya dia
berangkat.
Aku lemas seketika namun berusaha tetap tegar. Anggota
keluarga seketika membuat keributan setelah mereka disuruh
masuk.
Aku menanda tangani berkas berkas sedangkan semua
urusan jenazah ditangani oleh perawat.
Usai memeriksa enam orang pasien tanggung jawabku, aku
kembali ke bilik ganti. Kukenakan pakaian dinasku dan menuju
bangsal perawatan.

Rahasia Ratih 8
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Bu dokter cepat sekali sih, kami ketinggalan kasus nih,"


gerutu seorang co ass diantara beberapa co ass.
"Kalian lamban!" bentakku membuat lima orang co ass
terkejut namun mereka berusaha tenang. Toh bukan cuma aku
yang kerap membentak mereka.
Aku berjalan terus ke babgsal perawatan penyakit dalam
meliputi lambung, liver, limpa, pankreas, usus halus, usus besar
dan Ginjal.
"Selamat pagi bu dokter," sapa kepala perawat. Dengan
sigap perawat memberikan setumpuk berkas kepadaku. Aku
duduk sambil melihat berkas setiap pasien
"Selamat pagi adik adikku," sapaku ramah sambil
tersenyum ke arah wajah wajah remaja di depanku.
"Hari ini banyak sekali kasus, nanti kalian mendapat lima
kasus perorang, kemudian berikan laporan kepada saya.
Setelah terkumpul kita akan evaluasi di ruang Belajar I, letaknya
samping ruang radiology."
Mereka mengangguk lalu mengikuti langkahku masuk
bangsal perawatan kelas VVIP.
Dengan senyum manis wanita muda Ini menyambut
kehadiranku
"Selamat pagi bu dokter," sapa nya dengan senyum
terkulum.
"Selamat pagi, bagaimana rasanya setelah dirawat lima
hari disini? Sekarang apa yang dirasakan?" tanyaku sambil
meletakkan stetoskop pada perutnya.

Rahasia Ratih 9
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Sudah enak bu dokter, tidak mual muntah lagi, diare


sudah berhenti sama sekali," sahutnya dengan senyum lebar.
Aku membalas senyumnya, " hari ini boleh pulang, " kataku
membuatnya sangat gembira.
Setelah pamit dari pasien penderita Gastritis akut aku
melangkah keluar diiringi oleh lima co ass yang terus
mengajukan pertanyaan.
"Bu, apa penyebab utama sakit maag?" tanya seorang co
ass pria berbadan subur. Bukankah sudah diajarkan saat duduk
di bangku kuliah, kok dipertanyakan lagi? Aku menggerutu
dalam hati
"Pikiran," jawabku singkat.
Ha ha Ha ha Ha, semua co ass tertawa bukan karena
rekannya terlihat bloon tapi pertanyaan sangat konyol.
Kuhentikan langkah membuat semua pengiringku terkejut.
Aku tidak bisa menyimpang ke kanan atau ke kiri.
"Duh mengapa......?"
––––––––

Bagian 3

Rombongan dokter spesialis gastro berpapasan dengan


rombonganku. Kami semua melakukan namaste sambil
mengucapkan selamat pagi.
Aku masuk bangsal perawatan kelas I ada seorang wanita
paruh baya dengan perut membuncit, kulit dan kedua bola

Rahasia Ratih 10
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

mata kekuningan. Aku melihat kateter yang terhubung pada


rongga perut untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk
akibat liver tidak bisa bekerja dengan baik.
Virus Hepatitis B telah menimbulkan kerusakan hati cukup
parah hingga liver mengalami sirosis. Akibatnya cairan
menumpuk dan perut mengeras akibat liver membengkak
Sudah satu minggu ibu ini dirawat kondisinya naik turun,
belum ada hasil yang signifikan. Aku kasihan pada keluarganya,
mereka terlihat sangat lelah. Namun tidak ada perubahan
akibat liver sudah mengalami kerusakan parah.
Obat diberikan dengan tujuan menghambat pertumbuhan
virus tapi juga memiliki efek samping berbahaya juga
Liver berfungsi menyaring racun dalam darah sebelum
darah diedarkan ke seluruh tubuh, namun jika filternya rusak
maka seluruh organ tubuh juga mengalami keracunan
Rasa gatal disekujur tubuh dan kuku kuku membiru, perut
buncit dan tidak bisa kentut membuat pasien sangat tersiksa
Aku mendengar suara di rongga perut dengan stetoskop,
terdengar gemuruh.
Obat obat yang sudah diberikan melalui intravena sudah
tidak mampu menghambat pertumbuhan virus. Semua sudah
terlambat karena mereka lebih suka mengkonsumsi obat herbal
yang katanya untuk menyembuhkan berbagai penyakit
Bukannya sembuh justru makin parah hingga menimbulkan
kerusakan parah.
Terapi obat jadi percuma karena ginjal juga terpengaruh.

Rahasia Ratih 11
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Sepertinya lebih baik ibu dirawat di rumah saja, saya tidak


sanggup menolong lagi, semua jenis obat sudah saya berikan
tapi tidak ada hasil, semua saya kembalikan pada keluarga, saya
minta maaf tidak bisa menolong lebih jauh lagi," kataku
disambut air mata anggota keluarga.
Aku masuk bangsal perawatan kelas II, perawat
menunjukkan siapa pasien tanggung jawab ku.
"Selamat pagi ibu?" sapaku kepada wanita muda yang baru
pindah dari UGD tadi malam. Aku sudah membaca riwayat
penyakitnya kemudian menanyakan keluhannya
" Mual, muntah dan pusing, tapi di tes kehamilan negatif, "
katanya sambil menggenggam tangan suaminya.
Aku meraba perutnya, hanya sedikit sentuhan sudah
berteriak. Aku mendengar suara lambungnya, kemudian
menentukan tindakan selanjutnya.
"Apa warna fecesnya?" tanyaku.
Setelah beberapa saat diam, " hitam, bau menyengat, agak
mencret gitu, " sahutnya.
"Besok endoskopi, nanti perawat yang mengarahkan,"
kataku sambil memberikan resep obat yang harus diberikan.
Pasien sebelahnya adalah penderita tumor di usus halus,
berdasar hasil CT scan harus dioperasi.
"!Ibu nanti ditangani dokter bedah," kataku tanpa
memeriksa lebih lanjut. Hasil chek darah sangat jelas kalau ibu
ini menderita tumor.
Aku melangkah ke ruang sebelahnya, pindahan dari ruang
ICU karena Demam Berdarah akut.

Rahasia Ratih 12
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Hasil lab Trombosit sudah naik, Hb juga sudah naik tapi


belum memenuhi standar jadi harus dirawat beberapa hari lagi.
Gadis cantik ini tersenyum terus melihat co ass tampan
tampan yang mengiring aku. Para co ass hanya tertawa lucu
melihat genitnya gadis ini. Aku sendiri merasa geli melihat
tingkah pasienku.
Di bangsal kelas III aku masuk dalam ruang perawatan
mirip pengungsian, ribut banget karena para penunggu saling
ngobrol dengan suara keras.
Begitu aku masuk ruang, semua terdiam. Perawat
menunjukkan kepadaku pasien dengan keluhan sakit perut
hebat hingga sesak nafas. Dokter spesialis jantung memberikan
catatan kondisi jantung baik baik saja tidak ada masalah.
Hasil lab juga bagus tidak ada infeksi tapi perutnya sakit.
Aku heran dibuatnya, tidak ada masalah di tubuhnya bahkan
ketika alu mendengar suara dari stetoskop semua baik baik
saja.
Kecurigaanku adalah benda asing masuk ke tubuhnya.
"Besok CT scan ya, " kataku
Setelah memeriksa semua pasien rawat inap di bangsal aku
memberikan evaluasi kepada lima co ass yang sedang
mengerjakan tugas akhir untuk mendapat lisensi sebagai
kedokteran umum
Setengah jam waktu yang kuberikan untuk berbagi ilmu
dengan juniorku. Tak lupa kububuhkan tanda tangan pada
setiap berkas pasien dan TA para co ass

Rahasia Ratih 13
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Kami menuju poliklinik untuk melayani pasien rawat jalan


yang membutuhkan pertolongan
Setiba di Poli, bajuku sudah basah kuyup oleh keringat,
kulepas jas putih dan kugantung di dinding.
Tiba tiba...?
––––––––

Bagian 4

Terdengar keributan di ruang tunggu.


Aku membuka pintu, seorang pria muda tergeletak dilantai.
Segera kuraba nadinya, masih ada denyut jantung walau
sangat lemah, kubuka matanya. Pupil matanya tidak ada respon
Aku langsung melakukan CPR berulang kali, seorang co ass
mengambil tabung oksigen dan mengalirkannya lewat lubang
hidung
Aku sudah kelelahan, seorang co ass mengambil alih
dengan menekan rongga dada kiriNya
"Kode biru!! Kode biru!! Kode biru di ruang poli penyakit
dalam!!!"
Suara teriakan di toa.
Segera petugas UGD berlarian menghampiri kami. Mereka
mengangkat tubuh tak berdaya diatas tempat tidur dorong,
kemudian membawa ke ruang UGD.

Rahasia Ratih 14
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku berdiri dengan keringat bercucuran, begitu juga


dengan co ass yang mendampingi aku. Kami kelelahan setelah
bekerja keras yang memacu adrenalin.
Seteguk air mineral di meja yang g disediakan Rumah Sakit
menjadi pelega.
Kami bertiga saling pandang karena telah mengalami
peristiwa mengejutkan.
Setelah nafas kami kembali teratur aku mulai melayani
keluhan pasien.
"Apa yang ibu rasakan?" tanyaku pada pasien pertama.
" Saya sering sesak nafas, nyeri dada sebelah kiri, tapi
dokter spesialis jantung bilang jantung saya sehat tidak ada
masalah. "
Aku menyuruh berbaring kemudian meraba rongga perut
nya. Tepat di ulu hatinya perempuan itu berteriak.
Aku mendengar suara rongga perutnya dengan stetoskop
sambil menganalisa.
Usai memeriksa.
"Apa ibu diare..? Apa warna tinja..?"
"Diare kadang, warna cenderung coklat tua, gelap kayak
gitu," sahutnya
"Ibu sakit maag akut, coba mulai sekarang tenangkan
pikiran. Buat hati ibu gembira, jauhi makanan pedas karena
akan mengiritasi lambung, makanan asam akan menaikkan
kadar asam lambung. Juga makanan berminyak karena kerja
lambung jadi berat. Obat tidak menyembuhkan hanya

Rahasia Ratih 15
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

mengurangi faktor risiko dan punya efek samping. Apa ibu


paham...?" tanyaku sambil menatap matanya.
"Iya, saya mengerti," sahutnya dengan mantap.
" Ini resepnya siahkan ke bagian farmasi, nanti ibu akan
mendapat penjelasan dari apoteker " kataku sambil
menyerahkan selembar kertas berwarna putih
Pasien berikut masuk, wajahnya pucat pasi, badannya
kurus. Pria itu didampingi wanita berbadan tambun.
Wanita itu menyerahkan amplop putih kepadaku sebelum
aku menanyakan apapun. Aku menerima catatan medis pasien
dari Rumah Sakit yang merujuknya. Aku terpana sesaat karena
pria ini mengalami kelainan darah.
Ditubuhnya bersarang kanker, namun Rumah Sakit yang
bersangkutan tidak memiliki sarana dan prasarana yang
lengkap.
Aku meminta hasil CT scan, kelihatan sekali ada benjolan di
rongga perut sebesar telor puyuh.
Aku menekan nomor telpon dokter spesialis bedah
Onkologi, kemudian menyuruh pasien dibawa ke ruangannya.
"Mas Andri tolong antar pasien ke ruang sebelah, ruang
bedah Onkologi," kataku pada co ass disampingku
Remaja itu menerima berkas dari dan mengajak pasien ikut
dengannya
Masuklah seorang remaja dengan keluhan pusing, ada
sensasi panas ditenggorokan, sering membantu di Sekolah
hingga prestasi menurun. Aku menyarankan ke lab untuk chek
kadar tiroidnya

Rahasia Ratih 16
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Pasien berikut masuk dengan keluhan berak darah segar.


Badan lemes dan wajah pucat pasi
Aku suruh opname saja untuk dilakukan observasi apakah
ada luka pada rektrum, atau kanker kolon
Masuk pasien berikut dengan kadar kratinin 4,5 Minggu
lalu sudah saya sarankan balik lagi untuk melakukan
Hemodealisa atau cuci darah.
Kerusakan ginjal akibat mengkonsumsi minuman energi
dalam jumlah besar dan jangka waktu lama menyebabkan ginjal
mengalami kerusakan permanen.
"Silahkan anggota keluarga ke bagian farmasi untuk
mengambil alatnya, nanti bapak opname. Silahkan tinggu di
luar petugas administrasi akan memberi petunjuk," kataku
setelah memeriksa kondisi tubuhnya yang cukup baik untuk
pemasangan avissan.
Usai melakukan tugasku, aku pamit untuk pulang karena
tidak ada pasien yang ditangani olehku
Aku keluar ruang poli menuju pintu keluar, tiba tiba.....
––––––––

Bagian 5

Ponselku berdering aku menghentikan langkah membuka


tas dan melihat siapa yang menelpon.
" Ibu...? "
"Aku ayah,"

Rahasia Ratih 17
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku terdiam, badanku gemetar tak tahu harus mematikan


ponsel atau terus mendengar ucapan pria yang hampir saja
merenggut mahkota kegadisanku delapan tahun lalu.
"Ratih, Brahma kecelakaan, sekarang di Rumah Sakit dan
harus operasi, kami tidak punya uang," katanya dengan nada
memelas.
Aku tidak percaya dengan ucapan tukang judi dan
pemabok itu. Aku mematikan ponselku tanpa menjawab
sepatah katapun.
Aku benci ayah tiri aku yang kejam suka memukul ibuku
dan pernah hampir saja memperkosa aku.
Inilah alasan hingga usia 26 tahun aku belum punya pacar.
Meskipun dokter Prasetiya sangat menyukai aku. Duda keren
ini selalu mengganggu aku hingga aku berubah sangat
membencinya, trauma masa lalu membuat aku benci laki laki
Alu mentater motorku untuk pulang, badan serasa digebuk
Mikhael Tyson, hati gundah dan perut lapar.
Sepanjang jalan ponselku terus menerus berdering tapi aku
abaikan.
Setiba dirumah aku duduk melepas lelah hingga terlelap
beberapa saat
Kubuka log panggilan, ada ratusan panggilan dari ibu
kemudian dua panggilan dari Rumah Sakit
Kuabaikan panggilan dari ibu, kutelpon balik Rumah Sakit.
Ada dua pasien gawat yang harus aku tangani.
Kuberikan instruksi kepada dua pasien dengan dua metode
berbeda.

Rahasia Ratih 18
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Usai makan siang aku mempersiapkan diri ke klinik pribadi.


Penghasilan ini kutabung untuk membeli rumah lebih besar.
Kelak ibu dan adik tiri aku tinggal di rumahku.
Aku tidak peduli dengan mantan ayah tiri aku setelah ibu
bercerai. Ayah kandung aku meninggal saat aku masih SD, ibu
menikah lagi karena dijodoh kan, namun petaka untuk ibu dan
aku.
Aku mengabaikan semua panggilan setelah baterai aku full,
namun panggilan dari ibu aku terus saja mengabaikannya
Aku tiba di klinik pribadiku, pasien sudah berjubel, segera
perawat lepas yang aku gaji memanggil pasien satu persatu.
Jam 7 malam papan bertuliskan TUTUP segera dipasang
meskipun masih banyak pasien yang harus aku tangani.
Jam 10 malam aku menutup tempat praktekku setelah
dibersihkan oleh mbak Yuli.
Aku merepotkan tubuh lelahku, namun mata tidak mau
terpejam. Ada rasa bersalah, dan sesal menghinggapi aku.
Benarkah adik tiri aku kecelakaan atau ulah mantan ayah
tiri aku yang ingin memeras aku
Tak urung rasa penasaran membuat aku menekan balik
nomor ponsel ibuku.
"Ibu, ada apa...?" tanyaku tanpa mempedulikan siapa yang
akan menjawab.
"Ratih," suara ibuku serak.
"Ibu!!!!" teriakku membuat ibu terdengar menang.

Rahasia Ratih 19
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Brahma belum bisa dioperasi sebelum ada siapa yang


menjamin, sekarang sangat kesakitan, tolong ibumu nDuk,"
Ucapan ibuku membuat tubuhku gemetar.
"Iya bu, saya minta nomor rekening Rumah Sakit bu, minta
pada petugas, katakan aku akan mengirimi uang untuk biaya
Brahma,"
––––––––
"Bagaimana, apa Ratih mau mengirimi uang...? Ingat aku
minta untuk biaya transport 500 ribu, adil kan," kata mantan
suamiku yang tidak punya hati terhadap darah dagingnya
"!Ratih tidak mau mengirimi uang, dia takut dipakai judi
sama kamu, " kataku berbohong.
Jio gusar sambil menendang tiang penyangga UGD. Tak
urung perbuatannya membuat Jio diusir dari ruangan
"Jangan kembali kemari atau aku lapor polisi," kata satpam
dengan tegas.
Setelah Jio mantan suamiku pergi aku meminta nomor
rekening Rumah Sakit dan memberikan nomor ponsel Ratih
Aku duduk dengan perasaan lega sambil menunggu
petugas sedang sibuk berkomunikasi dengan putriku.
"Ibu, semua sudah beres," kata petugas sambil
menyerahkan berkas untuk aku tanda tangani.
"Tunggu beberapa saat ya bu, nanti Brahma akan dioperasi
oleh dokter spesialis bedah ortopaadik, ibu tenang saja,"
katanya sambil tersenyum

Rahasia Ratih 20
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku kembali ketempat putraku berbaring, kasihan anak itu


menangis terus. Akibat benturan sangat keras saat Brahma
belajar naik motor. Tulang kering putraku patah dan harus
dioperasi
Aku mengelus kepalanya dan memberikan semangat agar
tahan sakit. Aku tak tega melihat anak baik dan berbakti pada
ibunya harus menderita.
Saat aku menyeka air mataku dua perawat menghampiri
aku.
"Ibu, operasi akan dilakukan sekarang, silahkan tanda
tangan persetujuan disini bu," katanya sambil menyodorkan
berkas kepadaku
Setelah itu Brahma dibawa masuk lift keruang operasi. Aku
menunggu diluar sambil terus berdoa. Sudah empat jam belum
ada tanda tanda pintu kamar bedah dibuka
Walau cemas aku berusaha tenang sambil terus berdoa.
Setengah jam kemudian, pintu kamar bedah dibuka, "
keluarga saudara Brahma, " katanya setengah berteriak.
Aku menghampiri pria berbadan tegap mengenakan
pakaian serba hijau dan mengikutinya
Aku melihat Brahma tetbaring masih tak sadarkan diri
dibalik kaca. Operasi berjalan dengan baik dan tidak ada
komplikasi
Aku sangat bersyukur pada Tuhan dan sangat berterima
kasih pada putriku.
––––––––

Rahasia Ratih 21
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku sangat gembira mendapat kabar dari ibu tentang


keberhasilan dokter dan team mengoperasi adikku.
"Ibu, bulan depan aku mau beli rumah yang lebih besar,
maukah ibu dan Brahma tinggal bersama aku..?" tanyaku
setelah ibu di ruang perawatan sendirian sebab Brahma dirawat
di ruang HCU untuk melihat kondisi selama 24 jam
"Ratih ibu mau banget, soalnya kontrakan ibu habis tiga
bulan lagi. Nanti aku bicara dengan Brahma supaya pindah
sekolah. Toh baru masuk SMP beberapa hari, tidak terlalu
sulit," kata ibuku membuat aku sangat gembira.
Usai berbincang dengan ibu, ada panggilan darurat dari
Rumah Sakit.
Aku berpesan pada mbak Juki agar mengunci pintu dan
tidak menerima siapapun tengah malam.
Kustater sepeda motorku, dan kupacu cukup kencang agar
tiba lebih cepat di Rumah Sakit
Apa yang terjadi di ruang UGD...?
––––––––

Bagian 6

Setiba didepan pintu UGD aku disambut satpam dengan


wajah panik.
"Sini biar aku parkir motor ibu," kata satpam begitu aku
turun dari sepeda motor.

Rahasia Ratih 22
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku melihat pemandangan mengerikan, muntahan dan


kotoran manusia tercecer diseluruh ruang UGD
Suara riuh teriak kesakitan dibarengi orang muntah
muntah dan saling rebut kamar mandi membuat suasana UGD
mirip neraka.
Aku bergegas masuk kamar ganti mengikuti protokol
keracunan massal.
Usai mengenakan perlindungan diri, aku berlari
menghampiri anak kecil yang menangis sangat keras dalam
gendongan ibunya yang juga muntah muntah terus.
Aku memeriksa dg stetoskop, aku sangat kesulitan karena
anak ini panik dan ketakutan
Dengan hati hati aku memasang infus pada pembuluh
tangan kirinya. Butuh tenaga ekstra memasang infus pada anak
yang histeris.
Tak lupa aku mengambil sampel darah sebelum cairan infus
dialirkan.
Aku meminta ibu muda yang sudah lemas dan pucat pasi
agar membaringkan anaknya ditempat tidur, kemudian aku
memasang penyangga berupa dua buah balok kayu ringan
kemudian membebat agar tidak bergeser.
Kumasukan sedatif dan obat obat melalui intravena pada
selang infus. Beberapa saat kemudian balita itu terdiam tanda
obatnya sudah bereaksi.
Aku menghampiri ibunya yang duduk di lantai beralas
sandal jepit. Ibu ini begitu tabah dan sabar walau dirinya juga
keracunan dan muntah muntah hebat.

Rahasia Ratih 23
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku meminta berbaring disamping anaknya agar tidak


kedinginan walau berdesakan di tempat sempit
Setelah menusukan jarum untuk memasang infus, kuambil
sampel darahnya, kemudian mengalirkan cairan ke tubuhnya.
Aku menyuntikkan beberapa obat melalui infus yang sudah
terpasang.
Aku menghampiri ayahnya yang sudah tidak bisa berdiri
lagi. Aku meminta alas tidur darurat dan menyuruh pria itu
berbaring.
Kondisinya sudah dehidrasi berat hingga tak mampu lagi
bergerak.
Aku segera mencari pembuluh darahnya yang sudah
mengecil. Dengan hati hati aku berhasil memasukkan jarum,
kemudian mengambil sampel darahnya. Untuk kasus ini cairan
infus lebih cepat agar cepat pulih dari dehidrasi.
Kumasukan obat obat injeksi melalui intravena, dan
kesurupan tetap tenang.
Kami bekerja seperti dikejar hantu, berpacu dengan waktu
dan mencari penderita yang paling parah lebih dulu.
Lima dokter dan 20 perawat bekerja keras menolong orang
keracunan makanan di sebuah acara hajatan
Pasien terus betdatangan dengan kondisi yang sama, makin
lama makin banyak hingga kami kewalahan. Ruang UGD sudah
penuh, kami merawat mereka di lorong, selasar dan tempat
ruang tunggu poli VCT. Benar benar seperti korban perang.
Jeritan, rintihan kesakitan dan teriakan orang orang minta
didahulukan.

Rahasia Ratih 24
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Kami sudah dilatih untuk tetap tenang, yang diutamakan


bukan siapa yang datang lebih dulu tapi siapa yang kondisinya
paling parah.
Jika pada pertolongan pertama sudah membaik maka kami
suruh pulang.
Jika kondisinya masih lemah, maka kami tahan hingga
membaik
Namun jika kondisinya parah hingga dehidrasi berat maka
kami rawat inap.
Tak terasa sudah 214 orang yang mengalami keracunan
makanan. Kami bekerja tanpa henti hingga tengah hari.
Beberapa puluh orang sudah kami pulangkan, kemudian
kondisi menengah hingga berat masih kami tahan.
Mereka yang lanjut usia dan anak anak yang paling rentan
masih kami tahan.
Rupanya ada sup dengan bahan tidak higienis dan makanan
kemasan yang sudah kedaluarsa.
Diantara yang keracunan termasuk kedua mempelai.
Mereka datang masih mengenakan pakaian Pengantin. Aku
merasa kasihan malam pertama di Rumah Sakit.
Jam 4 sore pekerjaan kami baru saja selesai. Aku masuk
ruang ganti lalu mandi dan kembali mengenakan baju steril
warna hijau.
Aku sempoyongan karena lelah dan ngantuk. Aku meminta
ijin tidur di ruang istirahat khusus untuk dokter. Aku langsung
tertidur sangat pulas seperti orang mati

Rahasia Ratih 25
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

––––––––
"Pah, kasihan dokter dokter yang sudah bekerja keras
semalam, musibah ini sebenarnya bisa dihindari seandainya
orang tahu kebersihan. Mereka tidak memeriksa tanggal
kedaluarsa pada kemasan, tidak tahu bahaya nya," kataku pada
ayahku selaku direktur Rumah Sakit ini
Aku sendiri sangat lelah setelah melakukan operasi pada
penderita glioblastoma. Sejak jam 5 pagi sampai jam 4 sore
baru selesai mengeluarkan tumor di dalam kepala seorang anak
10 tahun
"Aku sangat prihatin, persediaan obat obatan kita terkuras,
aku bingung membeli lagi. Pengeluaran banyak tapi
pemasukkan sedikit," keluh papahku sambil menggeleng
kepala.
Aku diam tidak bisa memberikan jawaban. Aku sangat
mengerti beban biaya operasional tiap bulan terus merangkak.
"Pah bagaimana kalau kita menerima pasien rujukan...?
Sumber Daya Manusia kita mumpuni, peralatan modern, tidak
ada salahnya kan...?"
Papahku diam sejenak, lalu "klaim pembayaran tidak bisa
kita terima satu dua hari. Klaim baru bisa dibayar tiga bulan
setelahnya. Nah sekarang dana talangannya dari mana..?"
Ayahku kebingungan, aku lebih bingung lagi.
"Masa kita jual obligasi," kataku sekenanya
" Kau kira ini perusahaan? Ini layanan publik, " sanggah
ayahku.

Rahasia Ratih 26
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Saat aku dan ayahku diam, tiba tiba telepon di meja ayahku
berdering.
"Ya saya sendiri, iya.... Iya.... Oh sekarang, baik, iya saya
tahu diri tidak akan berhutang lama lama, bagaimana kalau
saya bayar setengahnya dulu..... Terima kasih pak,"
Begitu gagang telepon diletakkan, ayah memanggil
bendahara dan memberikan instruksi kepadanya.
"Pah, aku pamit lihat dokter Ratih kata perawat sedang
tidur, kalau sudah bangun mau saya ajak makan," kataku sambil
mersih tas berisi peralatanku
Siapa dokter spesialis bedah syaraf ini...?
Besok ya
––––––––

Bagian 7

"Pak dokter Supono mau titip pesan untuk bu dokter


Ratih....? Nanti aku sampaikan," kata dokter jaga di UGD.
"Tidak," sahutku singkat lalu keluar menuju mobilku.
Aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku bergetar tiap
kali melihat gadis desa itu. Meskipun kerap dibully oleh rekan
rekan kerjanya, Ratih tidak pernah sakit hati.
Meskipun terlihat sangat tegar, sebenarnya Ratih sangat
rapuh. Tangisnya menungungkap kesedihan yang selama ini
dipendamnya. Antara kasihan, iba dan cinta bercampur jadi
satu. Aku bertekad menjaga dan melindunginya

Rahasia Ratih 27
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Malam sudah larut tapi mata tak mau kompromi.


Beruntung besok tidak ada jadwal operasi. Namun tugas
mengajar di kampus tidak kalah beratnya.
Kebetulan Ratih besok bertugas di Rumah Sakit dekat
kampus, aku berniat mengajaknya makan siang sambil
mendekatinya sebelum diambil orang lain.
Pagi pagi aku sudah menyiapkan materi kuliah dan
berangkat lebih cepat sebelum terjebak macet. Aku sempatkan
sarapan nasi uduk yang dijual di kantin sebelum berdiri didepan
kelas.
Empat jam nonstop aku ngomong terus sambil menjawab
pertanyaan pertanyaan yang duajukan mahasiswa kedokteran
di semester terakhir.
Tengah hari aku keluar kampus, perut terasa perih tanda
minta diisi.
Aku menuju parkiran untuk mengambil mobilku terus
melaju ke arah Rumah Sakit tempat Ratih berpraktek
Aku menekan nomor HPnya dan di jawab.
" Selamat siang pak Pono, ada yang bisa saya bantu, " suara
Ratih mendesah manja. Ini salah satu kelebihan yang
dimilikinya selain pintar dan cekatan.
"Hallo pak.!" namanya sedikit membentak
"Apa bu dokter Ratih sudah selesai praktek..?" tanyaku.
"Sudah pak, saya mau pulang," sahutnya.
"Bagaimana kalau aku antar.??" tanyaku.

Rahasia Ratih 28
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Tidak pak dokter Pono, saya bawa motor nanti kemana


mana naik apa saya..?" sahutnya
"Oh, bagaimana kalau kita makan siang dulu?"
"Baiklah, di depan itu ada warteg langgananku, kita makan
disitu," sahutnya
"Baiklah," sahutku padahal maunya aku ke restoran sambil
ngobrol. Tapi ya, sudah demi mendapat tempat di hatinya aku
nurut.
Baru saja selesai menggerutu dalam hati, Ratih muncul
disamping mobilku.
Aku kagum melihatnya, Ratih benar benar sangat
sederhana.
Ratih berjalan menuju bibir jalan hendak menyeberang.
Aku terpaksa turun dari mobil berdiri disamping Ratih yang
kebingungan.
Dengan sigap aku menggandeng tangannya dan
menyeberang bersama.
Cukup ramai warteg oleh kuli- kuli dan pekerja kasar yang
lahap makan siang. Jangan tanya bau mereka seperti apa. Tapi
Ratih tidak peduli, dia terus memilih lauk dan dua gelas teh
hangat.
Melihat perabotannya saja, langsung hilang selera
makanku. Beda dengan Ratih makan dengan lahap tak peduli
lalat beterbangan didepannya.
Meskipun tidak bisa makan, aku berusaha tenang tidak
menunjukkan rasa tidak suka pada gadis pujaanku. Untuk

Rahasia Ratih 29
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

menutupi rasa jijik aku mengaduk teh hangat didepanku tanpa


meminumnya.
Ratih begitu lahap makan tanpa menoleh ke kanan atau ke
kiri. Aku diam tertegun sambil terus memandanginya.
Selagi aku terpana, tiba tiba serombongan ibu ibu kucel
datang menghampiri Ratih
" Bu dokter....! " teriak mereka beramai ramai membuat
Ratih menghentikan makannya.
"Eh geser sana!" teriak ibu gendut sambil mendorongku.
Aku berdiri mencari tempat duduk kosong dipojok. Kesempatan
ini kugunakan untuk menyingkirkan makanan dan minumanku
kepada seorang tua bepakaian kumal disampingku yang
menunggu untuk dilayani.
"Pak makan ini" kataku sambil menyodorkan makananku
padanya. Si bapak tua makan dengan lahap lalu berterima kasih
setelah menghabiskan makanan kurang dari satu menit.
Mataku mengawasi Ratih yang sedang jadi rebutan ibu ibu.
Terdengar tawa ria disertai sedikit teriakan konyol bikin aku iri
melihat gadis yang selama ini kuanggap dingin ternyata sangat
ramah dan dikenal banyak orang.
"Eh, sini, ada bu dokter!" teriak wanita tambun yang tadi
mendorongku. Rombongan kedua tak kalah hebohnya
mengerubuti Ratih seperti sebutir gula dikerubuti semut.
Tak henti hentinya terdengar gelak tawa membuat warteg
jadi riuh.
Butuh waktu setengah jam hingga mereka pamit satu
persatu pada dokter bersahaja ini.

Rahasia Ratih 30
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku berdiri untuk mengajak pulang, tapi Ratih menolak.


"Ada orang yang harus aku tolong," sahutnya sambil
berdiri.
"Maaf makan siang bapak Pono terganggu, harap maklum
mereka hidup susah diperantauan, kadang mereka sakit tidak
bisa berobat. Aku harus pergi, sekali lagi maafkan saya," kata
Ratih sambil bergegas melangkah.
Setengah berlari Ratih masuk sebuah gang kecil. Aku
terengah engah mengejarnya. Namun Ratih entah masuk ke
rumah petak yang mana. Aku tidak tega seorang wanita masuk
daerah rawan kejahatan seorang diri.
Sebagai dokter dibawah sumpah aku harus ikut menolong
sesama tanpa memandang dia teman atau musuh.
Perlahan aku melangkah mengikuti Ratih dengan hidungku.
Ratih selalu memakai parfum mahal entah uang dari mana
seorang dokter bisa beli parfum bermerek.
Akhirnya aku bisa menemukan Ratih disebuah bilik yang
dihuni banyak orang. Aku waspada meskipun terlihat lengang
sebenarnya ada puluhan pasang mata mengawasi aku.
Aku melihat sendiri bagaimana Ratih merawat luka seorang
pria bertubuh kekar. Entah apa yang terjadi dengannya. banyak
luka sayatan benda tajam.
Ratih begitu cermat dalam bekerja. Jadi ini alasannya Ratih
selalu menenteng tas ukuran besar. Ternyata isinya adalah
peralatan darurat.

Rahasia Ratih 31
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Tiba tiba, " Hai berhenti, kembalikan dompet pak dokter! "
teriak Ratih tanpa menoleh kemanapun padahal Ratih sedang
menjahit luka pria yang terbaring di lantai.
Aku terkejut, melihat Ratih berdiri dan melongok ke luar
tidak ada siapa siapa.
" Coba benda apa saja yang hilang di tubuhmu?" tanya.
"Aku kehilangan dompet, kunci mobil, uang dan flash disk"
"Keluar, ayo balikin semua milik pak dokter!" teriak Ratih
lantang.
Seorang pria berawajah sangar, bertubuh kekar dan sangat
menakutkan menghampiri Ratih menyerahkan semua milikku,
bahkan uang di dalam dompet tak hilang satupun.
"Maaf bu dokter, saya tidak tahu kalau Cina itu seorang
dokter, maaf pak dokter. Semua saya kembalikan utuh, " kata
pria mengerikan kepadaku
Ratih kembali bekerja tapi menyuruh aku duduk, seisi
rumah diam terpaku.
Usai merawat luka luka dan memberikan obat, Ratih pamit.
Mereka tidak memberikan ongkos atau tips kepada dokter
yang telah menolongnya hanya ucapan terima kasih belaka.
Sepanjang menyusuri gang, Ratih merangkul pinggangku,
seolah mengatakan jangan macam macam dengan orang ini
Setiba diseberang jalan aku heran bukan kepalang, dari
mana Ratih tahu aku dicopet
"Jangan tanya apapun, disitu komplek penjahat, pembunuh
dan perampok , mereka takut padaku karena aku sering

Rahasia Ratih 32
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

menolong mereka. Jika berobat ke Rumah sakit pasti mereka


ditangkap polisi, aku tahu kamu dicopet setelah mendengar
langkah kaki orang berjalan. Kau sama sekali tidak tahu kalau
kau sudah dirampok," kata Ratih dengan nada datar
"mengapa orang itu terluka parah? " tanyaku
"Terlibat perkelahian antar geng," jawab Ratih
Aku manggut manggut baru tahu.
"Silahkan bapak pulang dulu, aku akan memgawasi dari sini
memastikan bapak aman," kata Ratih
Aku menstater mobil, Ratih melambaikan tangan namun
tetap berdiri hingga aku tak bisa melihat nya lagi.
Awalnya aku bertekad menjaga dan melindunginya,
sebaliknya Ratih yang melakukan untukku.
Tiba tiba......
––––––––

Bagian 8

Ponsel aku berbunyi tepat di lampu merah.


" Berikan plat nomor polisi kendaraanmu, " kata Ratih
diujung sana
Aku mengetik cepat, dan semua pria yang pura pura lalu
lalang duduk semua di pinggir jalan.
Hebat sekali Ratih bisa mengendalikan penjahat di semua
tempat.

Rahasia Ratih 33
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Saat lampu hijau, aku tancap gas. Aku tiba dirumah dengan
selamat sekaligus tak habis pikir.
"Peng An, dari mana saja kamu!" suara papah
mengejutkanku.
"Bertemu Ratih," sahutku membuat wajah ayahku berseri.
Dengan penuh kasih sayang papah merangkul aku seperti
merangkul anak kecil.
Papah mengajak aku duduk di ruang tengah sambil minum
teh. Kami terlibat obrolan ringan sambil tertawa.
Aku tidak memceritakan kejadian barusan. Aku simpan
sendiri kelak menjadi bahan diskusi dengan Ratih besok.
––––––––
Hari sudah malam ketika aku tiba di rumah. Hari ini aku
tidak praktek di klinik karena sedang direnovasi.
Aku menelpon ibu apakah Brahma sudah pulang dari
Rumah Sakit..? Dengan nada gembira ibu bilang Brahma sudah
pulang dan berterima kasih untuk biaya, juga kelebihan uang
perawatan.
"Ibu pakai saja untuk merawat adek," sahutku.
"Terima kasih Ratih, uangnya ibu pakai untuk modal
dagang lagi ya,"
Pagi buta aku sudah bangun, aku sarapan yang disediakan
Sutri hingga habis dan segelas susu sebagai pelengkap nutrisiku.
"Sutri, jangan bukakan pintu untuk siapapun apalagi orang
tak dikenal, sekarang banyak penjahat," pesanku pada
pembantuku

Rahasia Ratih 34
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku tiba di Rumah Sakit paling awal bahkan sebelum co ass


datang. Aku bekerja sejak pagi buta hingga malam tiba, semua
demi masa depan
Aku ingin membahagiakan ibu dan adikku.
Aku tak peduli dengan nada nada minor tentang diriku
yang digosipkan pacaran dengan Prasetiya, atau si ini atau si
itu.
Mereka tidak tahu aku sangat benci laki laki.
Semua berawal dari ayah tiri aku, Jio adalah trauma masa
lalu aku.
Siang itu selesai bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah,
aku memenuhi panggilan pemilik Rumah yang aku tawar
sebulan lalu.
Di rumahnya yang besar dan mewah, aku diterima diruang
tamu.
"Jadi bu dokter berani berapa? Aku sudah menurunkan
harga, mohon jangan ditawar lagi," kata pria setengah tua
berbadan subur
"Saya hanya punya uang sekian, bagaimana kalau
kurangnya aku angsur tiap bulan..?"
Pria didepanku mengernyitkan dahinya berpikir beberapa
saat.
"Tapi kalau diangsur ada bunganya,"
Aku bingung, ternyata si empunya rumah seorang lintah
darat, tak heran pengangguran tapi kaya raya.

Rahasia Ratih 35
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Pak saya mohon belas kasihan bapak jangan ada bunga,


saya tidak sanggup bayar," kataku memelas.
" Baik, saya turunkan bunganya setengahnya,"
Artinya saya harus bayar pokoknya ditambah 0,5 % dari
pokok. Ini sangat keterlaluan.
"Sekali lagi saya mohon tidak pakai bunga, apa bapak tidak
ingin berbuat baik.?"
Sejenak pria itu mengernyitkan dahinya.
" Baiklah, setiap tanggal berapa bu dokter memberikan
uangnya? "
"Setiap tanggal lima"
"Ingat baik baik, setiap tanggal lima, tanggal enam ibu kena
denda, tanggal sepuluh anak buahku datang ke rumah bu
dokter,"
"Sepakat!" sahutku.
Kami menandakan tangani berkas bergantian. Juga uang
pembayaran 3/4 aku transfer kepada nya. Kemudian surat jual
beli dibubuhi meterai dan tanda tangan
Besok pria itu akan ke kantor notaris sekaligus balik nama
atas namaku.
Sesaat aku lega namun aku sangat khawatir jika tidak bisa
tepat waktu.
Sepulang dari situ aku menstater motor menuju rumah.
Namun apa yang terjadi...?
Rumah dibiarkan terbuka dan Sutri tidak menyambut aku.

Rahasia Ratih 36
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku merasa heran mengapa Sutri tidak patuh padaku.


Naluri membela diri membuat aku waspada siap bertarung
dengan jurus jurus karate yang aku pelajari tiap hari Minggu.
Aku melangkah perlahan sambil pasang telinga, aku
waspada penuh masuk ruang tamu. Meskipun gugup aku
berusaha tetap tenang.
"Tri...! Sutri...!" teriakku memancing penjahat keluar dari
persembunyian.
"Sudah jadi orang kaya rupanya," suara Jio bekas ayah tiri
mengejutkanku.
" Berikan aku uang lima juta, maka kau selamat, jika tidak
maka Lastri dan Brahma tak bernafas, "
Suara Jio bagai maut menggelegar ditelingaku
"Makin dewasa makin cantik aja kamu Ratih bikin aku kian
nafsu, dulu gagal tapi tidak sekarang!"
Seketika Jio meraih tubuhku, namun secepat kilat
kubanting ke lantai.
Diluar dugaan Jio bangun menyerang, namun berhasil
kutangkis. Perkelahianpun tak terelakkan. Jio berusaha
menyerang terus namun aku selalu menghindar.
Dengan tendangan karate berulang ulang aku menghajar
tubuh gempalnya
Begitu terpapar, sekuat tenaga beban puluhan kilo gram
kuangkat posisi punggung dibawah.

Rahasia Ratih 37
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku segera berlutut dan menghantamkan tulang


punggungnya tepat di dengkul. Seketika terdengar tulang
tulang berkertakan.
Jio merintih kesakitan sambil guling guling karena beberapa
sendi punggungnya lepas
Aku berlari ke arah kamar mandi belakang membebaskan
pembantu yang disekap dan diikat dengan tali rafia.
Jio tak mampu bangkit, Jio merintih kesakitan di lantai aku
menelpon polisi. Dalam waktu singkat polisi datang dan
menangkap bekas ayah tiri aku
Karena tidak bisa berdiri, Jio diseret keluar oleh dua orang
polisi yang menangkapnya, dimasukkan paksa dalam mobil
patroli dan dibawa ke kantor polisi.
Aku dan Sutri ikut ke kantor polisi untuk dimintai
keterangan.
Usai menjadi saksi, aku menghela nafas panjang
Rasa benci, dendam dan trauma seketika hilang, ketika
polisi mengatakan bahwa Jio adalah DPO.
Sekarang Jiolumpuh total karena beberapa ruas tulang
punggungnya lepas. Polisi tidak akan mau menanggung biaya
besar untuk operasi punggungnya.
Setiba di rumah, beberapa tetangga heran melihat aku,
wajah wajah mereka penuh tanda tanya tapi tak satupun yang
berani bertanya.
"Oh rumah bu dokter disatroni maling, ayo kita jaga
lingkungan kita," kata pak RT membubarkan kerumunan warga.

Rahasia Ratih 38
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku menutup pintu lalu menelpon ibuku.


"Ratih, kemarin Jio ke sini mengambil semua uang yang ibu
pegang. Jio mengancam jika tidak dikasih uang kami mau
dibunuh, ibu takut jadi kuberikan semua uang yang aku
pegang," nada ibu terdengar panik.
"Ya sudah nanti saya kirim secukupnya ya bu, ini tanggal
pertengahan, Ratih tidak bisa kirim banyak," sahutku
Apa yang terjadi di penjara....?
––––––––

Bagian 9

Di penjara tidak ada lagi hukum maupun belas kasihan.


Setelah intrograsi hingga babak belur aku diseret tanpa ampun.
Deritaku belum berakhir, tahanan yang lebih lama disitu
ikut ikutan memukul tubuhku yang sudah remuk redam rasanya
Sesaat aku sadar perbuatanku, dulu aku kerap memukul
istriku kalau kalah berjudi. Aku juga sering memukul Ratih
hingga meraung kesakitan. Tanganku telah berdosa, mungkin
inilah balasannya.
Aku menyesal tapi sudah terlambat.
Penjara seumur hidup menantiku setelah terbukti
membunuh istriku pertama aku. juga banyak kejahatan lainnya
termasuk laporan Ratih, aku hanya bisa menangis tapi tangisan
sia sia.

Rahasia Ratih 39
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku tidak bisa menggerakkan setengah tubuhku. Aku


menyesal dulu kakiku sering menendang Ratih dan Brahma.
Sekarang kakiku tidak bisa bergerak sama sekali.
––––––––
"Ibu, aku sudah pindah Rumah, besok ibu dan Brahma
nyusul ya, Ratih tidak bisa menjemput. Ibu jangan lupa bawa
surat pengantar dari RT dan surat domisili. Juga urus
kepindahan sekolah Brahma," kataku saat aku menelpon ibu.
Sepulang dari Rumah Sakit aku berdebar debar ingin
melihat keluargaku. Aku sangat merindukan Brahma yang kala
itu baru berusia dua tahun, entah seperti apa sekarang.
Tiap ada suara deru mobil aku berlari ke depan. Entah
berapa puluh kali aku lari, akhirnya mobil hitam yang aku carter
membunyikan klakson.
Aku dan Sutri berlari keluar menyambut ibuku yang sudah
terlihat tua dan Brahma yang sudah remaja. Tak kusangka
Brahma sangat tampan, wajahnya sangat mirip ibuku, berkulit
sawo matang dan rambut betgelombang. Brahma fotocopy ibu.
Aku mempersilahkan ibu masuk kamarnya. Dan Brahma
menempati kamar sebelahnya. Sementara Sutri dan pak sopir
menurunkan barang bawaan ibu dan adikku.
"Oh iya, ibu bawa ikan gabus goreng kesukaanmu," kata
ibu sambil meraih bungkusan lalu memperlihatkan padaku.
Aku segera cuci tangan, mengajak sopir, mbak Sutri juga
ibu dan adikku makan. Pak sopir sudah aku kenal karena dia
tetangga aku dirumah lama.

Rahasia Ratih 40
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Usai makan siang aku bermanja manja pada ibu bahkan


minta terus mengelus kepalaku.
Aku dan Ibu ngobrol terus kesana kemari. Tak lupa aku
menceritakan Jio sudah di penjara.
" Pria itu maut bagiku, syukurlah sekarang kita aman, " kata
ibu. Ada sinar bahagia dari wajah tuanya.
Usia Jio terpaut 12 tahun lebih muda dari ibuku. Setelah
bercerai dari Jio, ibu mengusirnya dari Rumah kontrakan.
"Sekarang ibu lebih tenang tidak bingung bayar uang sewa
dan tidak bingung bayar SPP Brahma," katanya sambil
memelukku.
Selagi kami menikmati kebahagiaan, tiba tiba ada suara
klakson mobil berulang kali.
Dalam hatiku sombong sekali tuh pemilik mobil
"Tri, coba lihat siapa yang datang" teriakku dari dalam
kamar.
"Ibu ada tamu mencari ibu dokter," kata Tri didepan pintu
kamar.
Aku bangkit diikuti ibuku.
"Mau apa kemari...?" tanyaku ketus.
"Ratih jangan begitu sama tamu" kata ibuku sambil
mengelus pundakku.
"Ibu kenalkan nama saya Prasetiya, dokter spesialis di
Rumah Sakit," katanya sambil meraih tangan ibuku.

Rahasia Ratih 41
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku sangat sebal, kutinggalkan Pras dengan ibu di ruang


tamu. Aku mandi hendak ke klinik karena waktu sudah hampir
jam 4 sore
Usai mandi aku meraih tasku pergi tanpa pamit pada
keduanya langsung menuju ke klinik.
"Mbak Yuli tahu dokter Prasetiya?" tanyaku pada perawat
yang mendampingi aku.
"Tidak"
Aku membuka foto pada ponselku. Kutunjukkan padanya.
Janda ini memuji muji ketampanan Pras walau berbadan
subur
"Jangan biarkan dia masuk menemui aku,"
Mbak Yuli mengangguk.
"Bu dokter, boleh aku kenalan sama dia...? Sekalian nomor
HP dan W A nya,"
Duh centil banget sih mbak Yuli ini, kuberikan semua yang
diminta padanya.
"Kau cantik, bentuk tubuhmu bagus, pasti dia mau jadi
suami kamu," kataku membakar emosinya karena aku bosan
diminta mencarikan suami untuknya.
Yang tidak kuharapkan terjadi....
––––––––

Bagian 10

Rahasia Ratih 42
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Seorang pria yang aku benci pura pura mendaftar sebagai


pasien. Rupanya si Yuli lupa ucapanku barusan.
"Jadi untuk ini kau datang dengan cara licik..?" kataku
setelah dia duduk didepanku.
"Yuli, kukabulkan permintaanmu," Kuraih tangan Pras
dengan tangan kanan sedangkan Yuli dengan tangan kiri.
Keduanya aku masukan ke dapur baru dan kukunci dari dalam.
Kubiarkan mereka teriak teriak sambil menggedor gedor pintu.
Hanya sebentar lalu keduanya tak terdengar lagi suaranya
Rupanya usahaku berhasil memperkenalkan dua orang
yang sama sama tinggi libidonya.
Aku mempersilahkan masuk pasien pertama seorang pria
muda didampingi istrinya menceritakan keluhannya.
"Bu dokter, saya sakit perut, sering diare, kepala pusing.
Kadang menggigil padahal suhu badan tinggi,"
Aku meraba perutnya dengan teliti, tepat di perut kanan
bawah, pria itu berteriak.
Aku masuk kamar obat dan memberikan instruksi jika
belum sembuh akan dirujuk ke Rumah sakit.
"Saya sakit apa bu dokter...?" tanyanya sambil memberikan
obat kepada istrinya.
"Kemungkinan ada peradangan pada usus besar, untuk
lebih jelasnya harus ada pemeriksaan lebih lanjut," jawabku.
Pasien berikutnya masuk seorang pria paruh baya dengan
perut membesar, sambil merintih kesakitan pria ini

Rahasia Ratih 43
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

mengatakan tidak bisa kencing beberapa hari setelah makan


jengkol.
Aku memberikan obat pencahar, dalam waktu beberapa
menit pria ini kencing hampir tiga liter. Setelah kandung
kemihnya kosong pria ini bugar kembali.
Terakhir seorang anak menangis meraung raung karena
panik ibunya mengatakan ada sebutir kacang kapri dalam
rongga hidungnya.
Aku mengambil angkup kecil dan menyuruh ibu
menenangkan anaknya. Butuh usaha keras untuk
mengeluarkannya
Tidak ada lagi pasien, aku menutup tempat praktekku dan
membuka pintu dapur. Aku tidak tahu apa yang mereka
lakukan didalam sana
Pras dan Yuli keluar dengan wajah marah.
Pras langsung masuk mobil dan pergi.
Yuli berjalan kaki
Aku naik motor.
Setiba dirumah aku disambut ibu dengan wajah tak karuan.
"Ratih, tadi dokter Prasetiya melamar kamu,"
Aku kaget setengah mati.
"Apa ibu menerimanya?"
"Tentu saja, dia tampan, kaya, punya...."
Ibu tak bisa melanjutkan ucapannya karena aku tekap
dengan tanganku.

Rahasia Ratih 44
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Kok tidak sekalian punya anak, punya istri, punya mertua


bu...?"
Ibuku terkejut.
"Maaf Ratih ibu tidak tahu,"
"Karena ibu menerima lamarannya, ibu saja yang kawin
sama dia, kalau aku ogah ah,"
Kutinggalkan ibuku yang bengong sendiri diruang tamu.
––––––––
Pagi itu usai visite ruang rawat inap aku duduk dikantor
perawat untuk tanda tangan.
Datang Pras duduk diseberangku, karena kami sama sama
melayani penyakit dalam.
"Ratih apa ibumu sudah cerita ke kamu?"
"Sudah"
"Aku ingin secepatnya kita menikah" bisiknya
"Kau melamar ibuku, menikah dengan ibu, bukan dengan
aku.... Aku benci laki laki, tapi juga benci perempuan. Bagiku
mereka adalah sembilu di jantungku," kataku sambil menatap
tajam mata genit dibalik kaca mata minusnya
"Kau kejam,"
"Kau lebih kejam, meninggalkan Alika istrimu untuk
bermain dengan wanita lain," tukasku membuat Pras membisu
"Ini ada tiga kasus untukmu," kataku sambil menyerahkan
berkas pasien yang akan menjalani endoskopi dan kolonoskopi.

Rahasia Ratih 45
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku bergegas menuju poliklinik untuk melayani pasien


rawat jalan.
Usai melayani pasien aku meregangkan otot otot yang
kaku.
"Bu dokter, matahari terbit dari berat ya, kok kembang
asam..?"
"Anak kecil mau tahu aja, aku pulang dulu," kataku pada co
ass yang mendampingi aku.
"Bu dokter habis dilamar makanya seneng banget," teriak
co ass.
Aku bingung semua orang menyalami aku
"Kapan nikah?" tanya dokter Baskoro dengan wajah
berbinar.
"Tunggu tanggal mainnya, nanti aku undang semua,"
kataku
Seketika itu juga kulihat seraut wajah penuh kekecewaan
melintas didepanku. Kuikuti langkah gontai hingga tak
kujangkau lagi.
Aku bergegas menuju pintu keluar tapi wajah itu sudah
menghilang. Aku terpana tak mampu berkata kata.
Aku baru tahu semua orang mendengar pengumuman dari
toa bahwa dokter Prasetiya melamar aku didengar publik.
Ini tidak bisa diterima, sudah berulang kali orang itu
mempermalukan aku dimuka umum.

Rahasia Ratih 46
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku menyukai dokter Supono, dia pasti sangat terluka


mendengar pengumuman itu. Nasib aku dan dia sama, kerap
dibully.
Aku dituduh sebagai pelakor hingga Rumah tangga dokter
Prasetiya hancur.
Dokter Pono dibully karena keturunannya. Berkulit putih,
bermata sipit adalah mangsa empuk bagi hater.
Aku menekan nomor HP dokter Pono namun tidak
diangkat. Aku harus bagaimana agar dia percaya padaku.
Aku menghadap pak Dirut di kantornya, aku disambut
wajah tidak suka namun aku mencoba berbicara
" Tuan, pengumuman tadi hanya propaganda, dokter Pras
ingin mempermainkan saya. dia sama sekali tidak mencintai
aku, aku sudah tahu arah tujuannya agar aku dikeluarkan dari
Rumah Sakit ini, "
Wajah atasanku langsung berubah
Pak Dirut menggeleng geleng kepala.
"Apa Tuan tidak percaya...?"
Aku menatap wajah tua didepanku.
"Sepertinya harus dibuktikan, aku tidak bisa mendengar
hanya dirimu," katanya lalu berdiri. Artinya pak Dirut tidak
percaya padaku
Hari hari ku mendung bergelayut, semua orang mencibir
aku sebagai pelakor, sedangkan didepan Dirut, Pras berbohong.
Dia berhasil menjatuhkan aku hingga berkeping keping

Rahasia Ratih 47
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Siang itu, aku memghubungi Alika, katanya aku disuruh ke


galery supaya bisa leluasa bicara
Aku datang kesana disambut wanita luar biasa cantik dari
atas hingga kebawah begitu sempurna. Aku terheran heran
bidadari secantik ini diperlakukan buruk oleh Prasetiya.
"Ratih, ada apa..?" tanya Alika setelah aku duduk
didepannya. Aku menceritakan semua kelakuannya padanya
hingga titik penghabisan.
Alika tersenyum sambil menyentuh ujung tanganku.
"Tenang saja aku akan menolongmu, aku tidak akan mau
diceraikan meskipun kami sudah pisah ranjang,"
Alika berdiri lalu menggamit tanganku mengajak berkeliling
melihat lihat baju baju super mahal rancangannya. Puas dengan
mataku aku diajak ke ruang riasnya yang begitu besar dan
sangat lengkap melebihi salon kecantikan.
"Ratih, kuberi kau satu baju, silahkan pilih," katanya
setelah merawat rambutku.
Aku berkeliling tidak menemukan satu bajupun yang cocok
karena harganya selangit. Hanya orang kaya dan artis yang
mampu beli.
"Tidak ada mbak," sahutku setelah kembali pada Alika
dengan tangan kosong
Alika membuka satu ruangan, aku terkejut dengan
koleksinya
" Ratih pilih, " katanya mempersilahkan.

Rahasia Ratih 48
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Setelah mengitari ruangan sambil memilih, akhirnya satu


baju menarik perhatian. Ya baju motif mawar sudah aku
impikan sejak kecil.
"Baju itu punya sejarah, ambillah," katanya disertai senyum
ramah
Aku berjalan mengikuti langkah Alika seorang foto model,
bintang iklan, designer kondang dan pakar kecantikan hingga
keluar dari butiknya
Kukenakan helm, jaket dan kaca mata hitam siap
menstater motorku, tiba tiba Alika memanggil aku
Aku urung menstater motorku dan sebuah bungkusan
besar dan cukup berat diberikan padaku.
Kutaruh bungkusan ditengah sementara baju yang kupilih
tadi aku simpan dalam jok
Aku penasaran dengan bungkusan ini kira kira apa isinya..?
––––––––

Bagian 11

Aku tiba dirumah ketika hari sudah gelap. Ibu menyambut


aku dengan wajah marah.
"Tadi Pras kesini minta pernikahan kalian dipercepat," kata
ibu sebelum aku selesai melepas helm.
"Aku bertemu isterinya," kataku sambil menyerahkan
bungkusan besar kepada Sutri dan membuka jok, kuambil baju
pemberian Alika dan kubentangkan disepanjang jalan masuk

Rahasia Ratih 49
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Rumah. Ibuku tak henti henti nya memuji baju mahal


ditanganku.
Aku masuk kamar dan menggantung baju mahal didalam
almari.
Aku penasaran dengan bungkusan besar, Kubuka
pembungkus plastiknya, kemudian kardus terlihat berkilau kilau
ornamen berlian palsu dipadu mutiara palsu dan payet payet
indah karya seorang seniman profesional.
Aku dan Ibu terkagum kagum melihat gaun pengatin warna
putih tulang ditanganku.
Ibu berdecak kagum sambil mengelus bagian bawah gaun
berhiaskan berlian palsu berkilauan.
Ibu geleng geleng kepala sampai menganga mulutnya
melihat harganya.
"Ini seharga mobil baru," Ibuku mengambil gaun
ditanganku.
Aku dan Ibu saling berpandangan, bola mata kami hampir
keluar melihat mahalnya baju ini
"Coba dipakai," pinta ibuku
"Ibu saja yang pakai," sahutku sambil melempar gaun
ketempat tidur.
Aku melihat kotak, kubuka ternyata peralatan make up,
kemudian kotak satunya lagi perhiasan imitasi dan terakhir
sepatu seharga sepeda motor.
Aku sangat kesal dengan Alika yang tidak konsisten dengan
ucapannya. Barusan bilang tidak mau bercerai dengan

Rahasia Ratih 50
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Prasetiya. Sekarang memberikan gaun pengantin. Apa


maksudnya..?
Aku mandi berlama lama tidak mau diganggu. Akhirnya
Sutri mengetuk pintu kamar mandiku.
"Ibu ada tamu,"
"Siapa?"
"Tidak tahu bu," '
Aku segera mengakhiri main air, Kukenakan baju ganti yang
pantas untuk menemui tamuku
Aku sangat terkejut siapa yang datang.
Aku menggosok mataku berulang ulang untuk memastikan
tidak salah orang.
Senyumnya membuat aku tidak percaya dengan mataku.
Rasa kesal, marah dan benci hilang seketika.
Aku menghambur dalam pelukannya bahkan makin erat
aku mendekapnya.
Belaian tangannya sangat lembut menggetarkan hatiku.
Aku tidak mau melepas pelukan hangat ini. Namun aku berhasil
menguasainya
"Ratih, sepupu aku sudah cerita semuanya, bahkan
memberimu gaun pengantin. Katanya itu hanya boleh dipakai
saat bersanding denganku. Jika tidak denganku maka kamu
harus membayar semuanya plus bunganya. Coba lihat pesan
yang ada didalam gaun itu,"
Aku bergegas masuk kamar mencari pesan dari Alika.
Sebuah amplop berisi rincian harga.

Rahasia Ratih 51
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku sangat tercengang itu bukan imitasi tapi berllian


sungguhan, harganya bisa bikin aku bangkrut sama sekali
"Ingat itu hadiah pernikahan kau dan Tio Peng An."
"Ibu jangan ikut campur urusanku!" kataku melihat
tingkahku
Aku kembali keruang tamu menemui Supono, aku baru
tahu nama aslinya adalah Tio Peng An
Dia hanya senyum senyum, tidak ada kata rayuan maupun
ucapan nggombal.
"Kapan kita menikah?" tanyanya.
Aku tidak menyahut, hanya melainkan jemari sambil
senyum senyum.
Supono pindah duduk disampingku sambil meraih tangan
kiriku. Sebuah cincin diselipkan ke jari manis tangan kiriku. Aku
menyelipkan cincin di jari manis tangan kirinya dengan cincin
yang dibawanya
Aku menatap mesra ke arahnya, diapun mengerlingkan
mata ke arahku. Aku membalas dengan mendekapnya.
"Sebentar lagi papah dan kakakku datang," katanya singkat
Aku membiarkan ketika hidung mancungnya, mencium
pipiku. Aku tersipu melepas dekapanku lalu menutup kedua
pipiku.
Begitu melihat mobil berhenti didepan rumah, Supono
berdiri lalu mengajak ayahnya dan kakak perempuannya
masuk.

Rahasia Ratih 52
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Ibu keluarlah, ada hal yang ingin kita bicarakan," kataku


melihat ibu bingung ada tamu
Ibu segera ganti baju, sementara aku menyuruh Sutri
membuat minuman dingin dan mengeluarkan kue kering yang
aku buat Minggu lalu
Kukenakan baju pemberian Alika, kupoles sedikit wajahku
dengan sedikit make up lalu keluar menyalami direktur tempat
aku bekerja.
"Ratih, putraku ragil mencintai kamu sejak lama, tapi baru
kali ini mengungkapnya," kata atasanku
"I...Iya tuan," kataku malu malu.
" lah kok tuan, panggil aku papah, menantuku berarti
anakku juga "
Saat itu ibu duduk disamping aku sambil memperkenalkan
diri.
"Saya datang kesini untuk meminta kesediaan putri ibu
menjadi istri anak saya, anak saya berjanji menjaga, melindungi
dan memberikan kebahagiaan kepada putri ibu, apa ibu
bersedia..?" tanya pak Adi Susanto
Ibu saya hanya mengangguk tanda mengiyakan.
Segera Adi mengalungkan perhiasan ke leher ibuku yang
matre, kemudian gelang ke tangan kanan dan sejumlah uang
dalam amplop tebal.
Wajah ibuku kegirangan sambil menimang amplop tebal
ditangannya. Kucubit paha ibu agar berhenti bertingkah seperti
anak kecil.

Rahasia Ratih 53
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Sementara itu Pono mengalungkan perhiasan ke leherku,


gelang ke tangan kanan dan berlutut didepanku untuk
mengenakan sepatu ke kakiku.
Tak lupa seserahan lain diberikan oleh kakak kepada ibuku.
"Sekarang kita tentukan tanggal pernikahan mereka,"
"Terserah anak anak," jawab ibu.
Aku memberi isyarat kepada calon suamiku, kemudian dia
senyum senyum.
"Bulan depan di hari ulang tahun aku," jawabnya mantap.
"Baik, kalau begitu kami pamit," katanya lalu berdiri dan
menyalami ibuku.
Tak kusangka aku menjadi menantu atasanku dan menjadi
istri bagian pengadaan barang di tempat kerjaku.
Setelah papah dan kakak pulang, Pono sengaja tinggal
untuk bicara denganku.
"Ijinkan aku mencium kedua pipimu, "
Aku menolak sambil mendorong tubuh kurusnya
"Kau sangat suci, tak salah aku memilihmu menjadi
isteriku," katanya lalu duduk diseberangku.
Kami mulai bicara tentang....?

Rahasia Ratih 54
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

––––––––

Bagian 12

Aku mengambil sebuah buku kosong dan dua buah pena.


"Untuk apa..?" tanya mas Pono heran.

Rahasia Ratih 55
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku menarik tangan kirinya mengajak duduk disampingku.


Aku memberi angka pada kolom kanan, dan kolom kiri.
"Mari kita bikin planing pernikahan, sebab menikah bukan
hanya sekedar koitus tapi menyatukan dua insan berbeda, dua
latar belakang, dua kepala dua kultur yang berbeda pula,"
kataku sambil menatap tajam mata calon suamiku.
Mas Pono bingung tidak tahu maksud aku.
"Baik, apa rencanamu?" tanya mas Pono bingung
"Katakan dulu rencanamu lalu tulis disini," kataku sambil
menunjuk angka 1
"Aku tidak mengerti maksudmu" katanya gusar.
Aku tersenyum, diapun tersenyum.
"Mas, aku jujur padamu. Rumah yang aku tempati belum
lunas,, tiap bulan aku bayar pada pemilik rumah ini. Aku
menyekolahkan adikku, ada ibu disini jadi tanggunganku. Aku
tulang punggung keluarga, semua kebutuhan hidup aku yang
tanggung,"
Mas Pono tersenyum lalu meraih tangan kiriku.
"Jadi itu alasan kau menyuruh aku menulis..?"
Aku mengangguk.
"Aku sudah punya rumah tapi ditempati kerabat almarhum
ibuku. Aku kasihan melihat keluargaku jatuh miskin karena
bangkrut habis habisan. Aku tidak tega mengambil jika kita
akan menempatinya. Aku juga harus bayar kredit mobil tiap
bulan,"

Rahasia Ratih 56
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Kalau begitu, tulis disini semua rencana kita. Aku tidak


mau ada pertengkaran gara gara uang. Tidak sedikit rumah
tangga bercerai akibat tidak punya struktur keuangan yang
baik. Menikah baru dua - tiga tahun sudah cerai dengan alasan
tidak cocok. Aku mau menghindari percekcokkan yang tidak
perlu,"
" Kau jenius," Mas Pono memujiku sambil tersenyum manis
kearahku.
Kulihat dia mulai menulis di kolom kiri apa saja yang
menjadi tanggungannya
Aku menulis di kolom sebelah kanan apa yang menjadi
tanggunganku.
Usai menulis, kami membahas bersama jika seandainya
salah satu diantara kita uangnya habis terlebih dulu, maka
diambilkan dari uang di kolom 3 tapi bulan depan harus
dikembalikan agar keuangan kita cukup tidak minus.
Baru saja kita meeting berdua
"Ratiiiiih. ! ! " teriak ibuku dari dalam.
Aku berlari masuk kamar Brahma diikuti mas Pono
Ibu sedang mengompres kepalanya dengan air hangat.
Aku bergegas masuk kamar, mengambil tas kerjaku.
Dengan cepat aku memeriksa suhu tubuhnya 38,9, pantas
Brahma mengigau.
Aku memberikan obat penurun panas

Rahasia Ratih 57
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku meminta mas Pono mengantar kami ke tempat


praktekku. Aku berpesan pada Sutri agar jangan tidur selama
kami pergi.
Kubuka ruang kerjaku, kubaringkan adikku yang sudah
mulai berkeringat dan ada tanda panasnya turun.
Kuambil spuilt ukuran 2, kutusuk arteri besarnya untuk
mengambil sampel darahnya.
Aku kebelakang, laboratorium mini milikku untuk melihat
ada apa dalam tubuh adekku.
Mas Pono sudah memasang infus dan menyuntikkan obat
pemberianku.
Setengah jam tes widal terbaca di komputer. Aku terkejut,
ternyata adekku terkena typhus.
Mas Pono segera desinfesi sendiri, lalu ibu diajari olehnya.
Ibu susah disuruh memakai masker.
"Ibu, typhus menular, ibu harus pake masker," katanya
sambil memasang masker ke ibu.
Mas Pono terlihat sangat lelah dan lalu menghampiri aku.
"Hari sudah malam, aku pamit dulu," katanya sambil
melambaikan tangan.
Aku hanya mengantar dengan mataku karena sedang
meracik obat untuk Brahma.
Aku ke ruang kerjaku di depan, kulihat Brahma sudah tidur
pulas, sementara ibu tidur setengah badan diranjang Brahma

Rahasia Ratih 58
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku membangunkan Brahma untuk minum obat yang


sudah kularutkan disendok. Sekali tenggak langsung nangis
kepahitan.
Aku memberi minum, kemudian sirup manis rasa
strawberry.
Kulihat ibuku pulas sekali tidurnya hingga tak terusik oleh
kami.
"Tidurlah, besok kamu lebih baik," kataku sambil mengelus
kepalanya. Hanya beberapa menit kemudian Brahma kembali
terlelap.
Aku pulang dulu untuk tidur beberapa jam, tapi pintu
samping ruang praktek tidak aku kunci.
Hari sudah jam satu pagi ketika aku tiba dirumah. Aku
terlelap hingga jam 4 pagi.
Aku bangun langsung mandi dan mengenakan pakaian
kerja ke tempat praktekku untuk melihat kondisi Brahma.
Jam lima aku melihat adik dan ibuku sudah bangun.
Brahma habis dari kamar mandi dan merasa lapar.
" Tunggu sebentar, mbak Sutri sedang masak bubur,
minum susu dulu nih, mbak buatkan rasa coklat."
Perlahan Brahma bangun untuk minum susu pemberianku.
" Ibu nanti kalau sudah makan larutkan puyer ini satu
bungkus, sirup ini satu sendok. Brahma nurut ya biar cepat
sembuh. Mbak mau ke Rumah sakit."
Aku melambaikan tangan lalu berangkat kerja.

Rahasia Ratih 59
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Bagaimana kondisi Brahma?" tanya tunanganku dari ujung


telepon.
" Baik, jangan khawatir semua baik baik saja, " sahutku
didepan mic ponselku.
"Ratih, nanti siang kita bicara" kata dokter Prasetiya sambil
terengah engah. Entah dari mana datangnya.
"Aku tidak mau," sahutku sambil melangkah ke bangsal
perawatan khusus penyakit dalam. Prasetiya menarik tanganku,
tapi aku meronta.
Kali ini Prasetiya meraih tubuhku, tanpa rasa malu dilihat
banyak orang Pras mendekap dari belakang.
Naluri membela diri reflek meraih tangannya, tubuh
gendut itu kubanting ke lantai
BUUUG.!
Pras merintih kesakitan, tapi aku mengulurkan tangan
membantu berdiri
"Tak kusangka kau ini atlet angkat besi, maaf Ratih,
maafkan aku," katanya sambil memegangi pinggangnya.
Aku masuk kantor perawat mendapat penjelasan hasil
anamesa dari co ass
Aku berjalan masuk ruang perawatan, pasien pertama
dengan kadar HB rendah, mengeluh sakit perut, mual muntah.
Aku menyuruh transfusi dua kantong, kemudian antibiotik
untuk usus dan beberapa obat intravena.
" Ibu, besok USG untuk melihat ada apa di perut ibu "
kataku pada pasien, dan memberi instruksi pada perawat.

Rahasia Ratih 60
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Pasien sebelahnya adalah tanggung jawab Pras yang akan


endoskopi untuk melihat kondisi lambung melalui alat yang
masuk lewat rongga mulut
Aku lanjut ke ruang yang ditunjuk perawat.
Wanita muda Ini sangat kurus, suhu badannya tidak turun
turun meskipun sudah diberikan terapi dengan obat.
"Chek tumor dan kanker ya," kataku berbisik pada perawat.
Kecurigaanku adalah kanker pankreas karena ada edema
diperutnya. Kadar gula darah juga fluktuasi. Tekanan darah
rendah
Usai melakukan visite, seperti biasa aku duduk
memberikan evaluasi pada juniorku.
Setelah membubuh tanda tangan aku bermaksud menuju
ruang rawat jalan.
Namun lagi lagi Pras berulah.
Pras menghalangi jalan keluarku dengan tubuhnya.
"Ratih Aku akan bercerai dari Alika, gugatan sudah masuk
pengadilan. Sebentar lagi kau menjadi isteriku," katanya sambil
menatapku.
"Aku tidak sudi menikah denganmu, aku akan menikahi
sepupu istrimu, mulai sekarang jangan ganggu aku,"
Pras lemas, duduk dikursi sambil bengong. Selama ini dia
tidak tahu kalau Alika dan Supono bersaudara.
Kutinggalkan pria sombong dan mata keranjang ini
bengong sendiri

Rahasia Ratih 61
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Di ruang poli aku bertemu teman lama.


"Syaiful!"
"Ratih!"
Tak sadar kami berpelukan melepas kangen dengan teman
sejak SD hingga SMU.
Setelah puas melepas kangen aku dan Syaiful duduk
berseberangan
"Syaiful, berapa anakmu....?"
"Dua, satu cowok, satu cewek,"
"Kau jadi menikahi Marwati kan?" tanyaku.
Syaiful diam sejenak. Ada bulir bening menetes dari
matanya.
" Ada apa dengannya? "
"Marwati meninggal sehari sebelum kami menikah akibat
kecelakaan, di hari pernikahan aku bersanding dengan
adiknya,"
"Turut berdukacita, sekarang dinas dimana?"
"Di Rumah Sakit....."
"Kau bidang apa?"
"Spesialis bedah anak,"
Selagi kami masih berbincang.
Hal yang tidak kuinginkan terjadi, aku berlari menuju UGD
ada panggilan darurat ditujukan kepada dokter spesialis
penyakit dalam.

Rahasia Ratih 62
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Tidak aku percaya, banyaknya orang mengalami demam,


muntah disertai diare.
Aku mengenakan perlindungan diri diruang ganti dan
menghampiri pasien paling parah lebih dulu.
Apa yang terjadi.....?

Foto dokter spesialis bedah syaraf namanya Tio Peng An


alias Supono

––––––––

Rahasia Ratih 63
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Bagian 13

Bau menyengat dari cairan yang keluar dari pasien sungguh


menyesakkan walau sudah memakai masker berlapis.
Aku memeriksa kondisi seorang pasien yang sudah hampir
pingsan akibat dehidrasi parah. Aku mengambil sampel
darahnya kemudian mengalirkan cairan infus, menyuntikkan
beberapa obat dan menuju pasien lainnya.
"Dokter tolong saya, saya dibiarkan dari tadi, yang masuk
belakangan sudah diurusi, apa kalian tega aku mati. Dokter pilih
kasih!" teriak ibu berbadan tambun.
"Ibu, bukan siapa yang datang duluan yang ditolong tapi
siapa yang paling parah. Ibu masih bisa teriak teriak artinya ibu
sehat, jadi ibu harus sabar," nada suara dokter Prasetiya lembut
membuat ibu gendut itu tenang dan berbaring lagi.
Sebenarnya dalam bekerja dokter Prasetiya punya reputasi
bagus.
Tadi pagi aku dan dia berantem, sekarang mau tidak mau
bekerja sama dengannya.
Prasetiya lebih tangkas dari pada aku, ini terkendala
tenagaku lebih kecil darinya.
Aku, Pras dibantu tiga dokter UGD berpacu dengan waktu
menolong epidemi muntaber terjadi di sebuah kampung
Mereka yang memiliki kondisi tubuh lemah mudah tertular
muntaber. Pada anak anak dan manula lebih rentan karena
Daya tahan tubuhnya lemah.

Rahasia Ratih 64
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Coba ambil sampel air disana dan sampel tanah untuk


diperiksa," kata Pras kepada petugas kepala bidang lapangan.
80 orang yang masuk UGD dalam waktu bersamaan dengan
kondisi sama membuat kami terkuras tenaganya.
Kami bekerja hingga malam hari lupa makan, lupa minum
bahkan lupa ke toilet.
Jam 10 malam kami selesai menangani pasien, aku berganti
pakaian, mandi sampai tiga kali, duh badan sampai menggigil.
Kukenakan bajuku semula dan kuteguk air mineral
membasahi kerongkonganku, setelah duduk sebentar aku
melihat ponselku.
Ada ratusan panggilan tak terjawab, puluhan pesan singkat.
Aku baru ingat kalau adikku di ruang praktek, aduh aku
panik, bingung dan sangat khawatir.
Aku ingat teman lama, kucari nomor HP nya.
"Dokter Syaiful, maaf mengganggu"
"Ada apa Ratih."
"Ada kasus, aku lupa sedang merawat adikku di ruang
praktek pribadi, tolong dilihat"
"Maaf Ratih, aku sedang menangani kasus anak di NICU,
gimana nih, maaf ya,"
Setelah mengucapkan Terima kasih aku menelpon ibu
"Ibu, gimana Brahma?" tanyaku sambil terengah engah.

Rahasia Ratih 65
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Tadi siang dokter Pono datang ke mari mengganti infus,


bawa makanan untuk ibu dan buah buahan," sahut ibu
membuat aku sangat lega.
Badanku sangat lemas, perut terasa perih, aku tak mampu
berjalan. Aku menelpon tunanganku, segera dia datang.
"Kau pucat sekali seperti orang mati, ayo makan bubur ini,
tadi papah masak bubur cukup banyak," katanya sambil
menyerahkan mangkuk berisi bubur hangat.
Aku sangat menikmati hingga mangkuk licin tandas.
Badanku terasa sedikit bertenaga, setelah ada karbohidrat
masuk perutku.
"Pasti kau sangat lapar, mampir kerumah yuk, tadi aku
masak, kau harus mencoba" katanya sambil mengerlingkan
mata kiri ke arahku.
Akhirnya mobil masuk halaman luas dan masuk garasi lalu
asisten menutup kembali pintu pintu yang terbuka dan
menguncinya.
Tanganku digandeng oleh mas Pono hingga masuk dapur.
Aku memberi salam pada calon mertua dengan menjura
kepadanya.
"Ayo makan," katanya dengan senyum ramah.
Tak ada rasa sungkan atau malu aku makan sampai
nambah. Masakan tanganku sangat lezat. Aku terus menikmati
makan malam seperti orang habis nyangkul.
Usai makan porsi kuli, aku mengantuk berat. Aku tak kuasa
lagi berdiri setelah bekerja keras sepanjang hari ini hingga aku
terlelap begitu saja di meja makan.

Rahasia Ratih 66
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

––––––––
Kasihan Ratih terlihat sangat lelah, rupanya dia langsung
terlelap begitu saja.
Papah menyarankan untuk mrmbopong Ratih tidur di
kamar tamu. Ratih sangat lelap seperti orang koma di ruang
ICU, tidak bangun ketika aku mengangkat tubuhnya.
Kubaringkan perlahan, kuselimuti dan kuturunkan suhu AC
agar Ratih tidak menggigil.
Kupansangi wajah ayu natural, dan kulepas kaca mata
minusnya agar tidak rusak tertindih.
Ratih sebentar lagi menjadi istri, rumah ini akun ramai oleh
tangis anak anakku. Selama ini papah sangat kesepian. Kedua
kakakku jarang datang berkunjung, mereka sibuk sendiri
dengan rumah tangganya
Untuk menghibur diri papah betah berlama lama di Rumah
Sakit. Aku kasihan melihat orang sudah tua harus bekerja
hingga larut malam.
Aku masuk kamar untuk tidur sambil memimpikan
bersenda gurau dengan Ratih. Membayangkan menimang bayi
lucu di tanganku.
Aku terlelap begitu cepat, hingga suara ketukan di pintu
membangunkan aku.
"Pah, masih ngantuk nih," kataku sambil bermalasan di
tempat tidur.
" Bangun tadi ponselmu bunyi, " kata papah sambil
menyodorkan ponsel padaku

Rahasia Ratih 67
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Iya bu ada apa?" tanyaku pada calon mertuaku.


"Maaf mengganggu tapi cairan infus Brahma sudah mau
habis," katanya membuat aku langsung melompat dari tempat
tidur.
Aku segera keluar kamar, tak lupa kulihat kamar Ratih,
rupanya masih terlelap.
Aku menstater mobilku menuju tempat praktek Ratih. Aku
memeriksa kondisi Brahma lalu melepas infus dengan hati hati
dan mengantar mereka pulang.
Aku bilang pada ibunya kalau Ratih masih bertugas.
"Sudah biasa anak saya tidak pulang dari Rumah Sakit,"
kata calon ibu mertua
Aku sedikit berbohong kalau Ratih sebenarnya tidur di
rumahku
Ada perasaan bersalah padanya namun tidak bisa minta
maaf karena mereka langsung masuk kamar.
Dalam perjalanan pulang batinku tidak tenang. Bagaimana
kalau Ratih cerita pada ibunya. Duh bodoh sekali aku ini.
Aku tiba dirumah disambut papah dengan wajah ceria. Aku
mengira Ratih sudah bangun terus ngobrol. Ternyata Ratih
masih tidur lelap.
"Peng An, papah bikin steak tanderloin. Kamu mesti coba,"
kata papah sambil mengiris daging dan mengujukkan padaku.
Aku kehabisan kata kata memuji kelezatan masakan papah.

Rahasia Ratih 68
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Selagi masih memgunyah, Ratih bangun, ia menoleh


kesana kemari kebingungan. Aku menghampiri untuk
menawarkan bantuan.
Aku menunjukkan kamar mandi, kemudian memberikan
handuk bersih dan peralatan mandi padanya.
Aku masuk kamar kakakku, keduanya perempuan, memilih
baju untuknya.
Aku menaruh baju kakak keduaku yang berbadan kecil di
tempat tidur selagi Ratih masih mandi.
Aku keluar, duduk di ruang tengah dan menelpon kakak
sepupu aku.
"Hai Peng An, ngapain pagi pagi nelpon, kamu tidak sedang
membelah kepala orang kan?" tanyanya nyerocos.
"Cik, kamu datang kemari sekalian bawa contoh yang kamu
tunjukkan ke aku kemarin,"
"Baik,"
Tak lama masuk mobil sedan mewah milik saudaraku. Duh
Alika ini postur tubuhnya lebih tinggi dari aku. Aku
mempersilahkan masuk ruang tengah
"Hmmmm bau enak," katanya langsung memeluk ayahku
dari belakang
Satu porsi steak diberikan ayahku padanya
"An temani aku sarapan," katanya sambil mengiris daging.
"Aku nunggu Ratih"

Rahasia Ratih 69
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Aaaaaah, cihuiii," katanya sambil melainkan kedua


jempolnya
"Jangan berprasangka buruk, aku tahu etika," kataku
sambil mendekati wajahku ke wajah cantik sepupuku.
"Oks, aku minta maaf," katanya sambil mendorong
wajahku
Tiba tiba pintu kamar terbuka, seorang wanita ayu muncul
sambil mengumbar senyum kesegala arah
Aku menggandeng tangannya dan berkumpul di meja
makan.
"Ayo makan," kata ayahku dengan ramah
Kami semua senang melihat Ratih sangat lahap tiap kali
makan.
"Ratih, Cicik aku membawa contoh kartu undangan, nanti
kita pilih bersama," kataku sambil menatapnya
Usai makan kami bertiga mulai ribut memilih kartu
undangan. Setelah berunding dan sepakat memilih design Alika
menyimpan dan mencatat semua keinginan kami.
"Terus siapa yang akan menangani kalian...? Konsep
dekorasi, acara dan katering apa sudah ditentukan...?"
Aduh aku bingung, tapi Ratih sangat tanggap.
"Kalian mau menyelenggarakan di mana..?" tanya Alika
lagi.
Kami berdua mulai memilih gedung, konsep dekorasi dan
seperti apa acaranya.

Rahasia Ratih 70
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Beruntung Alika sangat berpengalaman, sangat mudah


baginya, namun sangat sulit bagiku.
Rundingan kami berlarlsngsung hingga tengah hari. Selesai
mengadakan kesepakatan harga, Alika pulang.
Aku sengaja cuti dua hari untuk mempersilahkan
pernikahan aku dan Ratih.
Aku bahkan tidak tahu kapan ayahku berangkat ke Rumah
sakit selagi kami sibuk.
Aku masih duduk di ruang tengah bersama Ratih. Kuraih
kepalanya dan kucium rambut setengah basahnya dan
kurangkul dengan tangan kananku.
Ratih tersenyum padaku dan membenamkan diri ke
dadaku. Aku merasa sangat bahagia bisa merebut Ratih dari
tangan tangan kotor pria pria hidung belang.
Aku enggan melepas pelukanku ketika Ratih meronta,
makin erat tanganku makin keras dia meronta.
"Mas aku mau BAB, iiiih kamu ini," katanya lalu lari masuk
kamar mandi
Aku terkejut melihat siapa yang datang....

Rahasia Ratih 71
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Foto dokter spesialis bedah anak bernama


Dokter Syaiful Arif alias Aswadi Syafri

––––––––

Bagian 14

"Selamat siang anak bos, " kata Prasetiya tiba tiba didalam
ruanganku.
Aku menoleh ke arah pria tambun yang menyia nyiakan
Alika saudari aku.
Prasetiya sangat tidak sopan pada semua orang termasuk
kepadaku.

Rahasia Ratih 72
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku diam sambil membuang muka membiarkan dia berdiri.


Aku sangat kesal, marah, benci dan geram padanya.
"Eh... E... Maaf, aku cuma sebentar, mau nunjukkin ke
kamu kalau aku sudah bercerai dari Alika. Nih buktinya,"
katanya sambil menunjukkan surat cerai kepadaku.
"Kapan kalian sidang? " tanyaku.
"Barusan"
"Kau tidak bohong kan?"
"Lha elah ngapain aku bohong "
"Tadi aku sama Alika sidang putusan
perceraian, duh ngapain kamu curiga gitu?"
"Sekali lagi katakan yang sejujurnya!"
"Dokter dibawah sumpah tidak boleh bohong"
"Ucapanmu bisa memenjarakanmu"
"Aiiiiih pake ngancam segala"
"Pras, terakhir aku bilang, katakan sejujurnya"
"Sumpah aku jujur. Lihat ini,"
Aku melihat surat cerai ditangannya, aku belum bisa
memastikan itu asli atau palsu.
"Dengan surat ini aku bisa menikah dengan Ratih, Pak!
Plak'
"Aduh, apa salahku kau menamparku?"
Pras tersulut emosinya ingin membalas.

Rahasia Ratih 73
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Hentikan !!" teriak Ratih.


Pras langsung menarik tangan Ratih, tapi aku juga menarik
tangannya. Ratih ketarik ke sana ke mari.
"Stop!" Ratih meronta melepas tanganku dan tangan Pras.
"Untuk apa kemari?" tanya Ratih dengan wajah marah
kepada Pras.
"Aku baru saja mengikuti sidang perceraian dari Alika, ini
buktinya," kata Pras sambil menyerahkan surat cerai kepada
Ratih.
Ratih mengambil surat cerai dari tangan Pras, membaca
sebentar lalu melempar ke wajahnya.
"Surat itu ada sanksi hukumnya, pegang baik baik, besok
kamu masuk penjara dan gelar kedokteranmu dicopot. Kau kira
aku bodoh apa?"
Pras diam, wajahnya pucat dan badannya gemetar.
"Jawab dengan jujur, kau dari mana?" tanya Ratih dengan
tatapan tajam
"Jawab!!!!!!" bentak aku membuat Pras makin ketakutan.
"Alika pake baju apa?" pertanyaan Ratih sangat mudah tapi
sulit dijawab.
"Apa warna sepatunya?" lagi lagi Pras tidak bisa menjawab
pertanyaan Ratih.
"Aku memaafkan kamu sebelum kamu meminta, tapi
proses hukum tetap berlaku," kata Ratih membuat Pras
mematung

Rahasia Ratih 74
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Kau selalu mempermalukan aku dimuka umum, aku tidak


sakit hati. Juga tidak membalas, tapi untuk terakhir kali, jangan
pernah mengganggu hidupku lagi,"
"Diam ditempat!!!!"
Kami semua terkejut melihat dua orang polisi didepan
kami.
"Kami datang kemari untuk menangkap Prasetiya atas
laporan ibu Alika dengan tuduhan penipuan," kata polisi sambil
menyerahkan sepucuk surat kepada Pras.
"Dia orangnya," kataku sambil menunjuk.
Pras yang berbadan besar justru memukul salah satu polisi,
kemudian menendang lainnya. Dua polisi jatuh tersungkur,
sedangkan Pras hendak kabur.
Ratih melompat, mengunci kehernya dengan kedua
kakinya lalu memukul kedua pelipisnya membuat Pras limbung
Ratih memutar badannya, menendang dada Pras yang
berkemak beberapa kali. Pada satu titik dimana Pras terdesak
Ratih menotok jalan darah di lehernya.
Polisi tidak berani menembak takut salah sasaran. Polisi
memborgol Pras dan membawa ke kantor polisi. Aku
mengambil surat cerai palsu, memberikannya kepada polisi
sebagai barang bukti.
Aku menghampiri Ratih yang masih terengah engah.
Kuberikan segelas air, Ratih meminum seteguk lalu mengikuti
langkahku.
Aku mengajak duduk serta membiarkan Ratih lebih tenang

Rahasia Ratih 75
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Beberapa detik kemudian, Ratih tersenyum kearahku, aku


menyambut dengan memeluknya.
"Tak kusangka kau seorang pendekar, jadi kau disegani
para penjahat karena ilmu bela diri?"
"Tidak, aku belum pernah berkelahi, tapi menghajar copet
sering," jawab Ratih enteng
"Tolong antar aku pulang," pintanya.
Aku menggandeng tangannya hingga ke mobil dan
mengemudi perlahan karena jalan cukup ramai.
Setiba dirumah, ibunya menyambut kami dengan wajah
panik.
"Ratih, orang gendut tadi datang marah marah ke ibu, ibu
takut,"
"Ibu jangan takut," kata Ratih sambil memegangi kedua
pundak ibunya.
Ibu itu mengangguk
"Selamat siang ibu," kataku sambil menyalami calon
mertuaku.
Aku langsung masuk menyusul Ratih di kamar adiknya.
Tampak keduanya sedang tertawa cekikikan. Brahma duduk
sambil terus senyum senyum.
Melihat kehadiranku, Brahma melompat dari tempat tidur
dan memelukku.
"Mas Pono, terima kasih sudah merawat Brahma," katanya.
Duh senangnya punya adik laki laki, bisa diajak gulat nih. Aku
punya dua kakak perempuan, mereka selalu mengganggu aku.

Rahasia Ratih 76
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku langsung diajak main Nintendo olehnya. Sejenak aku


melupakan rutinitas di Rumah Sakit, lupa dengan darah dan
kepanikan di ruang operasi.
Begitu asyik main nintedo sampai lupa waktu hingga sore
hari.
Lagi seru serunya bermain, tiba tiba aku mendapat
panggilan darurat dari Rumah Sakit di hari cuti.
Apa yang terjadi hingga aku harus datang ke Rumah sakit
secepatnya...?
Aku pamit kepada ibu, adik dan Ratih.
Setiba dirumah sakit aku langsung melakukan protokol
masuk ruang bedah
Aku masuk ruang bersuhu 14 derajat dengan was was
Seorang remaja didorong masuk meracau tidak karuan
Aku melihat foto kepala dari CT scan. Tampak jelas ada
pendarahan di otak, jika tidak segera dioperasi nyawanya tidak
tertolong
Seorang perawat menggunduli kepala nya terus memgoles
dengan betadine berulang ulang.
Disampingku dokter anestesi siap membantu.
Semua instrumen sudah siap disampingku.
Kita berdoa sebelum melakukan pembedahan.
Dokter anestesi melakukan tugasnya
Aku mulai menyuntikkan anestesi lokal berkeliling,
kemudian menyayat kulit kepala lapis demi lapis.

Rahasia Ratih 77
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Selanjutnya aku membuka sedikit tulang pelipisnya hingga


pendarahan hebat berhasil aku keluarkan.
Tapi hal yang tidak aku inginkan terjadi.....

Foto penampang tempurung kepala dalam


proses untuk dikeluarkan bekuan darah di
rongga kepala. Jika tidak dikeluarkan bahaya
stroke atau kematian.

––––––––

Rahasia Ratih 78
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Bagian 15

Terjadi pendarahan hebat, kami semua saling pandang.


Aku tidak boleh panik.
Sedikit kepanikan mempengaruhi anggota lainnya.
Dokter anestesi segera bertindak. menurunkan suhu tubuh
pasien dan memoerlambat detak jantung.
Aku mencari arteri mana yang pecah.
Ketegangan terjadi membuat kami meningkatkan
kewaspadaan.
Aku berhasil menemukan sumber pendarahan dan berhasil
mengentikannya.
Kami melanjutkan tindakan mengeluarkan gumpalan
gumpalan darah beku yang ada didalam rongga kepala
Proses ini butuh waktu 6 jam hingga tak ada lagi bekuan
darah. Tapi itu tidak menjamin operasi ini sukses.
Kukembalikan serpihan tulang kepala pada tempatnya,
kurekatkan dengan platinum dan dua balut, mirip tukang
bangunan pekerjaanku ini. Lalu kujahit kulit lapis demi lapis dan
terakhir kulit luar kujahit.
Dari luar tampak sayatan sepanjang 2 cm saja. Terakhir
kuberikan suntikan antibiotik dan pereda rasa sakit.
Kuverban dengan baik, kemudian dokter anestesi
menaikkan suhu tubuhnya ke suhu normal dan mengatur detak
jantung ke posisi normal.

Rahasia Ratih 79
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Pasien dibawa keruang HCU untuk melihat


perkembangannya selama 24 jam
Usai kami bekerja keras, kulihat arlojiku, sudah jam 4 pagi.
Aku bertanya pada petugas akomodasi apa ada kamar
istirahat untuk dokter yang kosong
Ternyata ada, aku langsung menuju lift ke lantai dasar,
masuk untuk tidur.
Begitu pulasnya aku terlelap, tidak tahu apaun
––––––––

"Ratih, apa kau sibuk?" tanya Alika dipagi buta.


"Tidak, usai visite pasien aku pulang, layanan poli penyakit
dalam kalau hari Sabtu libur, ada apa Cik?"
"Kau ke rumahku, ada hal yang ingin aku bicarakan,"
"Baik,"
Alika membuat aku penasaran, ada apa gerangan,
mengapa tidak bilang saja di telepon.
Hari masih remang, aku sudah berangkat ke Rumah sakit
untuk memeriksa pasien tanggunganku di UGD, HCU. ICU dan
bangsal perawatan.
Usai visite aku menuju rumah Alika,
Setiba di depan rumahnya yang mirip Istana, aku
menelpon.
Seorang remaja membuka pintu paling ujung berbatasan
dengan tembok tetangga, mempersilahkan aku masuk.

Rahasia Ratih 80
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku memarkir motor di lorong rumahnya.


Gadis itu membawa aku masuk ke ruang kerja Alika.
Aku terkejut melihat sosok pria didepanku. Tatapan
matanya mengerikan ke arahku. Sementara Alika duduk gelisah
ketakutan.
"Selamat siang Ratih yang cantik, kau heran melihat aku
isini? Kau tak perlu tanya mengapa aku bebas dari semua
tuduhan?" Pras mencondongkan wajahnya ke wajahku
membuat aku mundur.
"Tentu saja uang telah membebaskanku," katanya dengan
tawa jahat
"Maaf aku tidak berurusan dengan kamu Pras, Alika yang
menyuruh alu kemari,"
"Tepat sekali, Alika terpaksa menelponmu, kau pasti tahu
alasanku,"
"Tak kusangka kau adalah monster,"
"Monster yang ingin memahami,"
Aku mundur menghindar dari Pras yang sedang marah.
Matanya merah, wajahnya sangat mengerikan.
Aku menyuruh Alika menjauh, kusingkirkan kursi
dibelakangku dan siap menghadapi segala kemungkinan.
Aku tahu ada orang bersembunyi dalam ruang itu
Toh bukan kali ini aku dikeroyok penjahat Biasanya setelah
menolong keluarganya bukannya mengganti uang obat justru
merampok aku. Untuk membela diri, kuhajar mereka meskipun
berkelompok.

Rahasia Ratih 81
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku waspada diam mematung namun mata dan telingaku


sibuk dari mana datangnya penyerang.
"Kenapa diam, ayo pukul aku,"
Pras sengaja memancing emosiku.
Aku melepas kedua sepatuku, kulempar ke sudut berbeda,
keluarlah dua orang dari belakang almari.
Aku mengambil pena di meja Alika, keluar seorang pria
berbadan kekar berwajah sangar.
Ketiga orang pembunuh bayaran yang disewa Pras
mengeluarkan senjata tajam siap mencincang aku.
"Ayo lakukan, aku bayar mahal kalian kok diam saja!" Pras
memberi komando
"Pras jangan Pras!!" teriak Alika dari luar, namun satu
tamparan penjahat sewaan membuat Alika pingsan.
Pembunuh bayaran didepanku mengerlingkan mata ke
arah pembunuh dibelakangku. Ketiganya maju bersama
membuat adrenalinku mengalir deras, aku melompat sambil
menendang dua penjahat sekaligus hingga kedua jatuh ke
belakang.
Orang lainnya aku tarik dan kupelintir tangannya ke
belakang.
"Jangan takut bu, kami tidak akan melukai ibu," kata
penjahat yang sedang kupiting tubuhnya.
Dua penjahat lain sudah berdiri, kelihatan sekali pura pura
mau menyerang, mereka memutari aku sambil menggeram
seolah memberi pesan.

Rahasia Ratih 82
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku mengerti maksud mereka, aku melakukan gerakan


mendadak. Kutendang, kupukul dan kutendang lagi berulang
ulang hingga mereka terlihat sangat kesakitan.
Di babak terakhir, mereka berdiri bersama, dan menyerang
bersama, aku melompat sambil melayangkan tendangan,
ketiganya langsung kabur lari terbirit birit meninggalkan rumah
Aku menghampiri Alika yang menangis di lantai sambil
memegangi dagunya.
Aku membantunya berdiri dan menyuruh duduk. Kuberikan
segelas air agar dirinya merasa tenang.
"Ratih apa kau baik baik saja?" tanyanya sambil melihat
tubuhku dari atas ke bawah.
Aku tersenyum padanya, sambil mengelus wajah super ayu
dengan lembut.
Tiba tiba Pras menyerangku, kuladeni dengan tinju dan
tendangan karate sungguhan. Pras terus menyerang dengan
pisau terhunus ditangan.
Tentu saja Pras bukan lawanku, gerakan memutarku
mendarat di tengkuknya. Seketika Pras roboh.
Alika memanggil polisi untuk menangkap dia kedua kalinya
Alika bergegas masuk kamar pribadinya entah apa yang
dilakukannya. Wajahnya tampak sangat gelisah
Tiga polisi datang lengkap dengan surat pensngkapan dan
borgol.
Aku dan Alika di ajak untuk memberikan keterangan.

Rahasia Ratih 83
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

" Ini bukti rekamannya, " kata Alika sambil menyerahkan


flash disk kepada polisi.
Setelah memberikan tanda tangan, kami sangat lega.
"Kau hebat sekali Ratih, semua penjahat keok, dan Pras
bisa kau lumpuhkan dengan tangan kosong,"
"Ha ha Ha," Aku tidak bisa menahan tawa.
Seandainya para penjahat sewaan tidak mengenalku, aku
tidak jadi menikahi Peng An.
"Kok ngakak?" tanya Alika heran sambil terus menjalankan
mobil mewahnya.
"Aku lapar," kataku.
Alika membelokkan mobil ke sebuah restoran mahal. Aku
makan sangat lahap seperti kuli. Alika memesan dua porsi lagi
untukku.
"Kamu lapar apa doyan?"
"Dua nya, minta es jeruk lagi dong,"
Alika geleng kepala melihat aku rakus banget.
Tanpa bertanya apapun aku langsung tidur di mobil empuk
milik Alika
"Beruang, bangun, sudah sampai," katanya membuat aku
ketawa.
Sore hari aku tiba dirumah.
Betapa terkejut aku melihat Pras duduk santai sambil
ngobrol dengan ibu seolah tidak terjadi apa apa.

Rahasia Ratih 84
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Ibu segera masuk memberikan kesempatan aku mengobrol


dengan nya
"Heran melihatku?" katanya dengan senyum jahat
"Tidak!" bentakku
"Uang telah melakukan segalanya. Bahkan hukum tak
mampu menyentuhku. Kau mau apa?" tanya Pras dengan
sombong.
"Kau sudah diperbudak uang, kau bisa membeli apapun
didunia ini dengan uang, tapi kau tidak bisa membeli
kebahagiaan. Kau bisa melakukan apapun dengan uang kecuali
hidup kekal. Kau begitu cinta uang, hingga lupa segalanya. Uang
membutakan mata orang, memutar balik kebenaran,
membelokkan jalan hukum dan tidak punya belas kasihan.
Uang menganjurkan hubungan kekeluargaan. Uang memutus
tali persahabatan. Kau telah diperbudak oleh uang, dia adalah
tuan yang bengis mirip kamu. Kau sudah kehilangan hati,
kehilangan cinta dan kehilangan hidup, hingga kau bingung
harus berbuat apa,"
Di luar dugaan Pras tertunduk malu, matanya menatap
lantai tak berani menatapku.
"Ratih.........."
Siapa yang memanggil...?

Rahasia Ratih 85
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Gambar : Operasi mengeluarkan bekuan darah di kepala

––––––––

Bagian 16

Suara itu sangat lembut.


Aku berdiri menuju pintu keluar, seorang pria berdiri
sambil tersenyum menebar pesona mendebarkan hati.

Rahasia Ratih 86
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku menubruknya, dia mengelus punggungku dengan


lembut.
"Aku sudah tahu semuanya, Alika cerita panjang lebar di
telpon"
"Sudahlah lupakan semua, ayo masuk, ada Pras di dalam,"
kataku sambil menarik tangannya. Supono nurut saja.
"Peng An!" teriak Pras lalu memeluknya.
"Maafkan aku sudah melakukan kesalahan besar, kumohon
kemurahan hatimu memaafkan kakakmu yang bodoh ini,"
"Sudahlah, mari kita hidup dalam lembaran baru,"kata Mas
Pono dengan nada lembut.
"Kamu bawa apa?" tanyaku.
"Ini Ratih, aku bawa makanan ," kata tunanganku sambil
menyerahkan bungkusan besar tergeletak dilantai.
Aku membawa masuk ke ruang makan dan mengatur
dimeja.
"Ayo makan" ajak aku kepada dua pria beda karakter yang
masih asyik ngobrol.
"Brahma. Ibu, ayo makan," kataku setengah berteriak.
Ibu heran melihat kelakuan kami.
Biasanya aku dan Pras seperti kucing dan tikus selalu
berantem.
Kini duduk bersama dengan wajah ceria sambil menikmati
makan malam.

Rahasia Ratih 87
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Puas dengan perubahan baru hari ini, aku mengantar


kedua tamu ke pintu gerbang hingga dua mobil pergi
meninggalkan rumahku.
Aku masuk kamar, ibu melihatku sambil geleng kepala.
Hari ini moment baru dalam hidup, kukenang sebagai awal
yang baik.
Begitu lelahnya tubuh ini hingga rasa kantuk tak
tertahankan membawaku ke alam mimpi
––––––––
Kupandangi putriku nan cantik sedang tertidur pulas. Aku
kasihan sering menanyakan Pras ayahnya. Aku selalu memberi
alasan papah di Rumah Sakit. Padahal ayahnya sedang tebar
pesona kepada wanita wanita
Terakhir mengganggu Ratih, semoga petualangan cintanya
segera berakhir. Tak tega aku membesarkan darah dagingku
sendiri padahal ada ayahnya. Aku sudah menahan kesal, marah
dan malu bertahun tahun, namun kali ini bulat tekadku, cerai
darinya, aku mau fokus membesarkan Marchella Worthen.
Aku sengaja tidak memcantumkan nama belakang
Prasetiya Wiwaha kepada anakku. Aku kesal ditinggal pergi
begitu saja sesaat aku positif hamil.
Aku kerja banting tulang seorang diri untuk menghidupi
Marchella hingga sekarang sudah usia 3tahun.
Aku kembali ke meja kerjaku, sudah sepuluh kali aku
membuang sketsa gaun pengantin, tak ada satupun yang bagus
menurutku.

Rahasia Ratih 88
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Tak terasa air mata ini meleleh, ada kesedihan


menggerogoti sanubariku. Aku melihat diriku sendiri, apa
salahku hingga Pras tega meninggalkan aku?
Air mata ini mengalir begitu saja tanpa dapat kubendung.
Tak terasa aku sesenggukan melihat betapa malang hidupku.
Tiba tiba ada belaian tangan menyentuh ujung pundakku.
Aku melihat dengan ekor mataku.
Aku berdiri, memeluk pria berstatus suamiku.
Entah apa yang terjadi denganku.
Aku menangis di pundak Pras, pria brengsek yang telah
membuat hatiku hancur berkeping keping. Aku terus
memeluknya tanpa mau melepas lagi
"Honey, maafkan aku telah membuat hidupmu menderita,
aku berjanji menebus seumur hidup, jangan usir aku dari sini,
kumohon padamu," ucapannya begitu lembut.
Aku melepas pelukanku, Pras memghapus air mataku
dengan tangannya.
"Aku berjanji tidak akan membuat kamu menangis lagi"
katanya lalu memelukku.
Aku melepas dekapan suamiku yang hilang, kini kembali.
Aku berjalan menuju kamar yang sudah empat tahun aku tidur
sendiri
Aku tidak menolak ketika Pras meminta ijin tidur denganku.
Aku tidak menolak ketika tangan berlemak itu membelaiku
dengan lembut dan ciuman yang selama ini aku damba.

Rahasia Ratih 89
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Kubiarkan Pras mencium setiap inchi tubuhku hingga di


satu tempat nafasku terengah. Sudah 4 tahun aku merindukan
hal seperti ini.
Kami terlarut dalam indahnya taman bunga penuh pesona.
Aku tidak merasa jijik ketika bagian tubuh Pras masuk tubuhku.
Permainan panas kian lama kian ganas hingga cairan
hangat bersarang ditubuhku.
Sungguh malam yang penuh pesona seperti malam
pertama. Sampai akhirnya pada puncaknya nya.
Aku tertidur dalam pelukan lemak lemak dimana mana.
––––––––
"Ratih bangun!" Ibuku berteriak sambil menggedor pintu
kamar. Aku membuka mataku, Kulihat arlojiku.
Aduh sudah jam tujuh.
Aku bergegas bangun langsung mandi dan mengenakan
pakaian kerja motif batik.
Aku keluar kamar disambut omelan ibu.
"Sarapan dulu, tadi pacarmu datang, katanya setelah visite
dari Rumah Sakit mau kesini,"
Aku tidak menggubris ucapan ibu karena sedang makan
nasi goreng nikmat buatannya.
Setelah makan aku mengambil tas kerjaku.
"Hast, dasar pikun, hari Minggu mau kerja?"
Aku tertawa sendiri, ibu juga ikut tertawa.

Rahasia Ratih 90
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Untung tugas jaga hari ini dokter Baskoro, jadi aku bisa
tidur lagi,"
Kulepas sepatu, kutaruh tas dan menghambur ke tempat
tidur.
"Ratih, Pono mau datang, ayo dandan jangan klombrot
gitu. Laki laki suka lihat wanita nya rapi, cantik, bersih, duh
kamu ini dokter tapi kayak preman, ayo bangun"
Sebenarnya ucapan ibu sangat benar. Meskipun enggan,
aku duduk di meja rias.
Kubuka peralatan rias pemberian Alika. Kebersihan wajah
dengan baik, kemudian bergantian aku mencoba tahap demi
tahap.
Hasil akhir adalah polesan bedak dan lipstick.
Usai melukis wajah, aku mengganti baju yang lebih pantas,
kemudian mengatur rambut tak lupa hair spray sebagai
sentuhan akhir.
Ibu berdecak kagum melihat perubahanku.
"Byuh, putri ibu cantik sekali, kalau sudah begini atur cara
jalan nya jangan kayak orang ngejar angkot,"
"Bu, aku tidak bisa begini," kataku hampir saja menghapus
riasanku.
Tiba tiba terdengar suara klakson.
Brahma langsung berlari, dia sudah tahu siapa yang datang.
Dengan manjanya adikku menggamit tangannya membawa
masuk kamar ku.

Rahasia Ratih 91
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku jadi salah tingkah didepannya


"Ha ha Ha ha, kau ini lucu, masak mau diajak mancing pake
baju pesta apa ibumu tidak bilang tadi?"
Duh malu aku di taruh mana.....? "
"Ibuuuuuuuuu!!!!!"
Ibuku menghampiri aku,
"Ibu, tadi mas Pono bilang apa?"
Ibu tampak bingung.
"Mau diajak pergi,"
"Pergi kemana?"
"Ke pemancingan,"
"Ibu tahu itu tempat apa?"
"Tidak tahu,"
"Ibu suruh aku dandan ketempat mancing ikan di kolam,
Ibuuuuuuuuu, aku malu!"
Aku bertingkah seperti anak kecil.
"Ya sudah kita pergi ke tempat lain saja,"
Aku tertunduk didepan mas Pono.
"Ratih jangan kolokan gitu, ayo pergi ke tempat romantis.
Kau pasti suka," katanya sambil berbisik.
Aku menyuruh semua orang pergi. Kukenakan kaos senada
dengan mas Pono dan celana jeans lengkap dengan sepatu
kets.

Rahasia Ratih 92
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku pamit pada ibu dan adikku.


Kemana kami pergi....?

Foto : Wajah Brahma Ratih saat melayani pasien

––––––––

Bagian 17

Aku duduk disamping calon suamiku. Dia terus saja melirik


ke arahku. Ada yang lucu denganku, sebenarnya ada apa..?
Aku membuka tasku, kuambil cermin kecil, Kulihat wajahku
mirip manekin.

Rahasia Ratih 93
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Kuambil kapas steril, kubasahi dengan alkohol dan kuhapus


riasanku.
Setelah benar benar bersih aku tidak dilirik lagi olehnya
"Sebenarnya kita mau kemana?"
"Lihat saja, besok kau pasti akan menyeretku kesini lagi,"
jawabnya tanpa menoleh ke arahku.
Setiba di markas sekolah kepolisian, mobil berbalik ke
bagian security, mas Pono menunjukkan kartu pada petugas,
barulah mobil dipersilahkan masuk.
Aku heran bercampur bingung mau apa dia.
Setelah masuk kantong parkir aku disuruh turun.
Mas Pono langsung menulis pada buku,
"Mana KTP mu?"tanyanya.
Dengan teliti mas Pono mencatat Nomor Induk Penduduk
pada buku tersebut.
Terlihat dia mengeluarkan kartu debit, menggosok pada
mesin debt. Kemudian menekan angka sebagai pembayaran.
Aku di bawa masuk ruang oleh seorang polisi, kemudian
dipasang earphone ke telingaku hingga benar benar tuli.
Kemudian rompi, pelindung lutut dan terakhir helm keamanan
standar militer.
Mic yang terpasang di helm diaktifkan kemudian terdengar
instruksi dari instrutur, suara pria itu menunjukkan jenis jenis
senjata api yang tertata rapi dimeja didepanku.

Rahasia Ratih 94
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Beliau mengambil senjata revorver kemudian menjelaskan


bagian bagian dengan teliti, mengajar cara membuka dan
menutup, mengunci dan memegang senjata dengan benar. Aku
mengangguk tanda mengerti.
Aku dibawa ke sebuah lapangan, kemudian mengatur
posisi tubuhku, mulai instruktur menyuruh melepas tembakan
pada sasaran.
Peluru pertama gagal total.
Peluru kedua meleset.
Peluru ketiga mengenai lingkaran papan paling luar
Peluru keempat mengenai sasaran lingkaran kedua, begitu
juga yang kelima
Pas Pono betepuk tangan tanda aku sangat tanggap
dengan pelajaran menembak hari ini.
"Minggu depan kesini lagi, " kata mas Pono sambil
membantu melepas pemgaman dibantu pak polisi
Aku sangat gembira belajar hal baru hari ini.
Kami masuk Mall untuk melihat lihat barang dagangan,
sambil terus berpegangan tangan. Ini adalah kebersamaan yang
mahal.
Setiap hari aku sibuk.
Pagi pagi visite
Berikut melayani pasien rawat jalan
Lanjut kerja rodi di sarang penyamun
Sore hingga malam di klinik.

Rahasia Ratih 95
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Waktu aku habis untuk bekerja, masih ditambah panggilan


darurat.
Sedangkan mas Pono tidak pernah keluar dari kamar bedah
tiap hari.
Seminggu sekali mengajar di kampus.
Untung dia tidak punya klinik pribadi, bisa tua tidak nikah
dia.
Aku diajak masuk stand perhiasan, namun aku enggan,
ketarik tarik terus tangannya agar jalan lagi untuk melihat
lainnya.
Lelah juga mengelilingi pusat perbelanjaan membuat aku
lapar
Meski tidak bicara, mas Pono tahu.
Kami masuk gerai makanan Cina, mas Pono memilih menu
yang ditulis semua dalam huruf Kanji. Aku diam sambil
memperhatikan pria disampingku. Dia sangat lembut, tatapan
matanya sendu dan suaranya halus.
Sambil mendengar alunan musik oriental, aku dan mas
Pono ngobrol.
"Mas sejak kapan kau jatuh cinta padaku?"
Yang ditanya senyum senyum.
"Hmmmm sudah lama, sejak sama sama jadi residence.
Kau residence internis. Aku residence bedah syaraf," '
"Berarti sudah tiga tahun lalu, kenapa baru sekarang,"

Rahasia Ratih 96
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Dengan lembut tangan kirinya mengelus kepalaku dari


belakang.
"Baru kali ini kamu dewasa,"
Aku menatapnya tanda tidak mengerti.
"Kau cantik, bentuk tubuhmu elok, cakap dalam bekerja,
cerdas tapi kau seperti laki laki, tomboy,"
Mendengar penilaiannya aku malu sendiri. Harus aku akui
itu. Belakangan seringnya dibully rekan kerja di Rumah Sakit,
sering dibedakan, aku jadi penyendiri.
Beban kerja di Rumah Sakit sudah menguras tenaga dan
emosiku, ditambah mulut mulut nyinyir membuat aku jadi
feminim, sering nangis sendiri.
Beruntung aku bertemperamen sanguin, coba temperamen
kolerik habis kuhajar mereka yang sering mengolok olok aku.
Andaikan aku melankolis pasti sudah bunuh diri tidak kuat
dengan lingkungan seperti neraka.
Bagiku menangis adalah kekuatan untuk menepis semua
tuduhan miring terhadapku.
"Hust jangan melamun," kata calon suamiku sambil sedikit
memggoyang pundakku.
Aku tersenyum padanya, betapa bersyukur bertemu pria
seperti Tio Peng An ini. Dia sangat dewasa, pengertian dan baik
hati.
Setelah hidangan terhidang di meja aku makan begitu
dipersilahkan. Usai makan, aku mengajak pulang.

Rahasia Ratih 97
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

" Aku ngantuk, " kataku membuat mas Pono tidak berani
mengajakku jalan di Mall lagi.
Setelah didalam mobil dia menatapku aneh.
"Ada apa?" tanyaku.
"Ratih, aku heran sama kamu, tidak ada satu bendapun
yang Kau beli, apa kau tidak tertarik untuk memilikinya?"
Aku menggeleng
"Biasanya wanita kalau diajak jalan ributnya bukan main
barang apa yang mau dibeli. Pria dianggap sebagai mesin ATM
untuk diperas, kau sebaliknya, selalu menolak tawaranku,"
Aku diam karena dibawahku banyak orang kelaparan. Sakit
tidak bisa beli obat, tidak berani ke dokter tidak mampu bayar.
Mereka melakukan kejahatan karena tuntutan perut.
Aku kasihan melihat balita tidak sehat, manula terabaikan
dan remaja nakal pengaruh lingkungan.
Seandainya ada yang memperhatikan, memberi simpati,
sebenarnya mereka bisa baik.
"Hust, ngelamun lagi,"
Aku tersenyum padanya, tapi dia tahu aku senyum palsu.
"Kau tidak usah jadi pahlawan melakukan tugas penuh
resiko, lakukan bagian terkecil saja sudah bermanfaat bagi
mereka"
Spontan aku mencium pipi kirinya, mas Pono terkejut.
Mendengar ucapannya, hatiku hancur, mas Pono menyetujui
memberikan layanan gratis pada Kaum gelandangan dan
pengangguran. Bagiku adalah anugerah.

Rahasia Ratih 98
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Kita memang tidak bisa menjadi pahlawan, tapi kita bisa


membagikan kebaikan pada semua orang. Sekecil apapun,
dihargai atau tidak dihargai kebaikan selalu mengalahkan
kejahatan.
Setiba di rumah, hari sudah malam. Mas Pono pamit
pulang. Tak lupa kuberikan ciuman di kedua pipinya. Mas Pono
terbakar gairahnya karena baru kali ini dia jatuh cinta.
Dia membalas dengan mencium dalam dalam di kedua
pipiku. Bibirnya mengecup lembut bibirku. Akupun terbakar
gairahnya, namun aku berhasil menguasainya.
Aku membuka pintu mobilnya segera turun.
Dia masih terdiam, lalu membunyikan klakson pergi.
Aku benar benar tidak menyangka bisa terjadi hal seperti
tadi. Pertama kali aku merasakan hal diluar dugaanku.
Aku masuk kamar tanpa membawa gejolak dalam mimpi.
Seperti biasa aku tidur seperti orang mati.
Aku terbangun, Kulihat arlojiku, jam 5 pagi. Selagi di kamar
mandi ponselku berdering.
"Ibuuuuuuuuu!, tolong jawab telponku!”
Kukeringkan badan, kemudian kupakai baju lengkap.
"Dari siapa?"
"Dari Rumah Sakit, katanya kamu disuruh kesana
sekarang."
"Apa..........?"

Rahasia Ratih 99
Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Ini dokter asli namanya dokter Rahadiyan Nitiadiningrat


(Kanjeng Pangeran Aryo Hadiningrat) pulmologist.
––––––––

Rahasia Ratih 100


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Bagian 18

Tanpa pikir panjang aku meraih tas kerjaku, menstater


motor dan memacunya cukup kencang.
Aku langsung masuk UGD.
"Maaaaaaas!" teriakku disamping Pras.
Tubuh itu tak bergerak, juga tak merespon.
"Ratih jangan panik, dia baik baik saja," kata Pras sambil
mengatur tetesan infus.
Kulihat indikator menunjukkan kondisinya sangat bagus.
Tidak ada luka berarti di sekujur tubuhnya hanya lecet lecet,
"Tadi sudah CT scan tapi hasilnya belum keluar," kata Pras
sambil mengelus kepala adik iparnya.
Aku menangis sambil duduk, tangannya hangat, detak
jantung normal, kuharap semua baik baik saja.
"Kapan kejadiannya?" tanyaku pada Pras.
"Barusan, rupanya hantaman itu sangat keras, mobilnya
hancur bagian kiri depan. Rencana mau mengoperasi orang,
pasien itu dirujuk ke Rumah sakit lain. Doakan semoga tidak
ada kerusakan pada organ dalam,"
Aku mengangguk sambil menyeka air mata.
Pras duduk disampingku sambil terus memandangi adik
iparnya
Aku terus berdoa agar dia cepat sadar,

Rahasia Ratih 101


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Aku yang visite semua pasienmu, juga pasien rawat jalan


tanggungmu, kamu jaga dia," kata Prasetiya dengan nada
lembut.
Untuk memantau kondisinya lebih intensif sekaligus tidak
tertular penyakit pasien di UGD, maka Supono dipindah ke
ruang ICU.
Sudah tengah hari mas Pono belum juga sadar. Aku dapat
prioritas khusus untuk menunggu calon suamiku di ruang ICU.
Dokter ortopaedik tidak menemukan adanya patah tulang.
Aku tidak menemukan trauma dalam rongga perut.
Aku meminta dokter spesialis syaraf untuk memeriksanya.
Setelah cukup lama memeriksa fisik, tidak ada kejanggalan.
" Bu Ratih, semua baik baik saja. " kata dokter Endang Sp S.
Aku merasa lega namun pingsan berkepanjangan juga
berbahaya.
Aku sangat cemas
Pernikahan kita tinggal sepuluh hari lagi. Aku berdoa agar
diberi kesembuhan.
Air mata ini sudah kering, semoga ada keajaiban dari doaku
Aku sangat lelah sepanjang hari menjaganya. Rasa kantuk
membuat aku tertidur dikursi sambil memegangi tangannya.
Tiba tiba aku terbangun
Aku merasa ada gerakan di tanganku.
"Ratih," katanya lirih
"Maaas,"

Rahasia Ratih 102


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku menghapus air mataku, dia sadar sepenuhnya


"Dokter dia sadar," kataku riang. Dokter dan perawat jaga
berlari di antara jejeran pasien terminal menghampiri mas
Pono.
Dokter jaga ICU, memanggil dokter Syaraf dan juga
Prasetiya datang melihat kondisinya.
Mas Pono tersenyum kesana kemari, sambil menyebut
nama dokter disekitar dengan benar.
Aku terkejut ketika kepalaanya menoleh kekanan ada
darah menggeleng.
"Tolooooong,!" Aku berteriak.
Semua dokter didepanku terkejut.
Mereka melihat genangan darah dibawah kepalanya.
Kami sempat bingung, dokter spesialis bedah syaraf di
Rumah Sakit ini hanya dirinya, sekarang butuh pertolongan
dokter spesialis bedah syaraf lainnya.
"Ratih tenang, kita akan mengusahakan yang terbaik untuk
nya," kata papah yang sedari tadi sibuk mencari pertolongan ke
Rumah sakit lain.
Usaha papah tidak sia sia.
Seorang dokter senior setengah baya datang tergopoh
gopoh melakukan wawancara singkat dengan mas Pono yang
sudah lemah lunglai.
Dirinya sedang menerima transfusi akibat pendarahan
dikepala

Rahasia Ratih 103


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Kembali mas Pono masuk mesin CT scan untuk melihat


kondisi lukanya.
Setelah dibaca oleh dokter Radiology dan dianalisa oleh
dokter spesialis bedah syaraf yang diundang, menyimpulkan
tidak perlu operasi, hanya trauma hantaman benda keras saat
ditabrak dari arah kiri oleh pick up berkecepatan tinggi
pembawa sayur.
Mobil pick up dan tiga orang di kendaraan itu tewas di
tempat. Sebelumnya pick up sudah oleng menabrak tiang
listrik, banting kanan nabrak mas Pono yang berhenti di lampu
merah.
Kami semua merasa lega karena mas Pono tidak cedera
kepala hingga tetap bisa mengoperasi orang
Malam itu Pras menawarkan diri untuk menjaga adiknya.
Aku pulang dalam keadaan limbung diantar dokter Baskoro.
Setiba dirumah aku makan porsi tukang cangkul sawah
sambil menceritakan kejadian tadi pagi.
"Ibu tidak bisa menjenguk sekarang, besok kalau sudah di
ruang perawatan baru bisa dibezoek," kataku sebelum masuk
kamar
Aku tertidur pulas beberapa menit, aku bangun tidak bisa
tidur lagi meskipun terus memejamkan mata.
Aku mengemas beberapa setel baju, kemudian pamit pada
Sutri. Aku berangkat ke Rumah sakit.
Aku membangunkan Pras yang tidur sambil duduk. Kusuruh
dia pulang nenemani Alika dan putrinya.

Rahasia Ratih 104


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Mas Pono tersenyum melihat kehadiranku, kuberikan


ciuman agar semangatnya untuk sembuh menyala.
Aku melihat darah dari donor masih menetes. Aku
memeriksa permukaan kulit tidak ada reaksi alergi maupun rasa
menggigil.
Meskipun masih pucat pasi, tapi kondisi fisiknya sangat
bagus. Aku tersenyum melihat diagram pada Kardigraf di atas
kepalanya.
"Ratih, aku ingin segera punya anak," bisiknya ketika
kepalaku rebah di ranjangnya.
Aku tersenyum, dia mengelus kepalaku
"Aku akan melahirkan sepuluh anakmu," sahutku berbisik
pula.
Dia tersenyum.
"Cepat sembuh ya," kataku
"Kau harus gembira jangan mikir apa apa supaya cepat
keluar dari Rumah Sakit," kataku dibalas senyum
"Ratih, aku mau muntah," katanya
Aku lari meminta plastik pada perawat.
Segera aku membuka plastik untuk menampung,
muntahnya air bercampur bercak coklat tua. Aku minta sampel
diperiksa di laboratorium
Aku meminjam stetoskop untuk memeriksanya. Ada yang
aneh di rongga perut. Aku meraba perutnya.

Rahasia Ratih 105


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Aow!" pekiknya ketika tanganku berada di perut kanan


atas. Aku bisa merasakan ada trauma benturan mengenai
livernya.
Aku meminta obat kepada perawat untuk menolong
livernya melalui injeksi.
Wajah yang semula pucat pasi mulai memerah.
"Jangan khawatir, semua baik baik saja," kataku.
Mendengar ucapanku mas Pono tersenyum.
Aku minta ruang rawat inap disiapkan untuk
memindahkannya malam ini juga. Aku sangat lelah ingin
istirahat.
Aku melepas kabel Kardiograf dari tubuhnya dan
mengemasi tasku
Ada perasaan lega telah melihat kondisi mas Pono
membaik. Aku sendiri yang akan merawatnya dengan sepenuh
cintaku.
Setelah berbaring di ruang VVIP aku bisa tidur di tempat
tidur untuk penunggu.
Meskipun tidur aku tetap terjaga jika sewaktu waktu
tunanganku membutuhkan pertolongan.
Perasaan baru terlelap, tempat yang aku tiduri bergoyang.
Kubuka mataku. Kutoleh pria yang terbaring lemah.
"Ratih Aku butuh bantuanmu, aku mau bongkar muatan,"
Aku bangun masuk kamar mandi mencari pispot, aku
membantunya saat dia membuang sampah. Aku menuju ruang
perawat meminta sarung tangan dan alkohol dan masker.

Rahasia Ratih 106


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku kembali ke ruangan, kubersihkan bokongnya dengan


air kemudian aku sabun, setelah dibilas bersih kemudian
dengan alkohol. Aku membuang semua kotoran di kloset lalu
kubersihkan tempat hingga bersih. Tak lupa kulepas semua
pengaman di tempat sampah.
Aku mencuci tangan kemudian mencuci lagi dengan gel
hingga bersih
"Kau belum menjadi isteriku, sudah repot merawatku,"
katanya dengan wajah sedih.
"Jangan bilang begitu, kita hidup harus tolong menolong,"
sahutku.
Jam terus bergulir.
Aku menghidupkan mesin pemanas air, kutampung dengan
ember kecil setelah kucuci bersih.
Kuambil handuk bersih, washlap dan sabun mandi. Aku
pergi keruang perawat minta baju steril, sprei dan selimut
bersih.
Aku ke ruangan memandikannya. Setelah tubuhnya bersih,
perlengkapan tidur bersih, aku sendiri mandi.
Usai mandi aku sudah mengenakan pakaian kerja. Siap
memeriksa pasien tanggunganku
Aku pamit untuk melakukan tugas kemanusiaan.
Aku masuk ruang UGD karena ada pasien terminal untukku.
Lanjut ke ruang ruang rawat inap seperti biasa.

Rahasia Ratih 107


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Usai berkeliling aku kembali ke ruang perawatan


tunanganku. Aku membantunya makan pagi. Butuh usaha keras
supaya dia mau makan.
Setelah itu dua butir obat harus diminum.
Aku pamit lagi untuk merawat pasien rawat jalan di ruang
poliklinik.
Pasien pertama masuk
"Ibu sebaiknya endoskopi. Sudah tiga bulan lalu saya
menganjurkan, kalau ibu tetap tidak mau silahkan berobat ke
tempat lain," kataku pada pasien pertama aku
Si ibu justru....
––––––––

Bagian 19

Ibu norak itu berdiri, matanya melotot, tangannya nuding


ke arahku.
"Aku laporkan Rumah Sakit ini ke polisi tidak becus ngurusi
pasien, dokternya goblok. Pokoknya aku tidak mau, dokter
harus nurut sama saya atau dokter saya tuntut!"
Suaranya seperti petir membuat pengunjung berjubel
didepan pintu ruanganku. Co ass disampingku heran sambil
menatap tajam ke arahnya.
Aku tersenyum padanya, tidak terpancing emosi. Kubiarkan
si ibu glamour seperti toko emas berjalan mengatur nafas.

Rahasia Ratih 108


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Ini surat rujukan dari saya, silahkan cari dokter lain"


kataku pada ibu yang sedang tensi tinggi.
Si ibu menarik dengan kasar lalu keluar diiringi geleng
kepala co ass.
Orang itu tidak tahu kode kedokteran, kemanapun berobat
pasti akan disuruh endoskopi. Maksud aku baik, tapi selalu ada
saja yang mencela. Tapi aku tidak peduli, dihargai atau dimaki
tetap aku berbuat baik. Aku tahu lambungnya sudah rusak
akibat pola hidup dan gaya hidup yang salah.
Ditambah hatinya tidak pernah puas, tidak bisa bersyukur
menimbulkan produksi gas meningkat.
Sudahlah, lupakan pasien bandel. Toh dia sendiri yang
merasakan.
Aku menyuruh co ass memanggil pasien berikut.
"Hari ini bapak opname, besok akan colon in loop, ini
pengantar, silahkan menuju ruang pendaftaran rawat inap di
sebelah sana," kataku dibalas senyum.
Pasien berikutnya.
Aku menerima tes widal dan hasil rongten torak, ada
corakan vaskuler tapi kecurigaanku pada kelainan darah, nanti
akan di chek lebih lanjut apakah tumor atau kanker.
"Bapak opname ya," kataku.
Si bapak mengangguk, wajahnya pucat pasi, badannya
kurus, wajahnya kelihatan tua. Istrinya mendorong kursi
rodanya keluar.
Lelah juga melayani 80 orang pasien.

Rahasia Ratih 109


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Perutku sudah tidak mau kompromi lagi.


"Mas Rudi, tolong belikan tiga nasi ayam goreng dikantin,"
pintaku
Selagi co ass pergi, aku melihat kembali laporan di
komputer. Aku lupa waktu kalau tunanganku sedang dirawat.
Aku menelpon apakah sudah makan. Leganya, mas Pono
sudah makan siang. Aku minta maaf tidak menyuapi.
Sambil menahan lapar, aku minum untuk membasahi
tenggorokanku.
Tak berapa lama dokter muda itu menenteng kresek, aku
memberikan sebungkus nasi ayam goreng padanya, kita makan
diruang periksa.
Setelah kenyang aku membawa satu bungkus nasi untuk
dimakan nanti. Aku meninggalkan co ass yang sedang
memberikan ruang kembali keruang tunanganku dirawat.
Betapa terkejutnya aku, ruanganku sangat ramai oleh
dokter dokter, perawat maupun residence yang menjenguk.
"Permisi mas. Permisi mbak," kataku supaya mereka
memberi jalan untukku. Aku menyalami setiap orang yang ada
di dalam maupun diluar ruangan
Meja kecil penuh dengan makanan, sementara sofa sudah
penuh parcel bertuliskan SEMOGA LEKAS SEMBUH.
Laci meja sudah penuh amplop bertuliskan semoga lekas
sembuh.

Rahasia Ratih 110


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Karyawan datang dan pergi terus menerus justru membuat


mas Pono ngedrop. Kepalanya pusing, mual dan mata
berkunang kunang.
Aku minta bantuan dokter spesialis syaraf untuk menolong.
Kebetulan bu dokter Endang sedang berjalan kemari.
Dengan sigap dokter berbadan kurus ini memeriksa,
kemudian memanggil perawat untuk memberikan obat.
"Bapak bapak dan Ibu ibu, tolong, beri waktu untuk dokter
Supono istirahat, kondisinya menurun," katanya membuat
semua orang pergi meninggalkan kami.
"Sesak nafas?" tanya dokter Endang.
"Sedikit," jawabnya.
"Aku berlari ke ruang perawat untuk mengambil slang
invibitor. Kubuka gelas pada regulator, kuisi dengan air infus
yang tergeletak di meja. Kuputar kuat kuat gelas pada
tempatnya, kemudian kusambung slang invibotor ke hidung
mas Pono
Kualirkan oksigen pada level tiga.
"Bagaimana? Sudah terasa apa belum?"
"Sudah, turunkan satu strip lagi terlalu kencang," pinta mas
Pono.
Setelah beberapa menit dokter Endang pamit dan siap
datang jam berapapun jika dibutuhkan.
Aku duduk di kursi, memperhatikan wajahnya, matanya
terpejam, sebenarnya dia menahan rasa sakit. Itu terlihat dari
gerak kelopak matanya

Rahasia Ratih 111


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Kondisi seperti itu berlangsung beberapa jam sampai


dirinya lelah lalu tertidur.
Aku merasa sedikit lega, namun seluruh tubuhku terasa
pegal. Aku keluar kamar untuk menggerakkan anggota tubuh.
Dari jauh tampak seseorang melambaikan tangan ke
arahku. Aku berlari melihat siapa yang datang. Aku membuka
pintu besi pembatas bertuliskan DILARANG MASUK.
"Alika, Ela, Pras,"
Aku membawa keluarga bahagia ini ke kamar tapi tidak
boleh berbicara.
Mereka cukup mengerti lalu duduk di teras
"Berhubung kalian berdua tidak bisa mengatur keperluan
pernikahan, maka saya dan istri saya yang mengurus, hal ini
sudah saya bicarakan dengan Engku Bastian dan ibumu.
Harapanku kalian bisa melaksanakan pernikahan dengan
kondisi fit, tidak bingung, biar kami saja yang bingung. Kamu
dan Peng An tenang saja," kata Prasetiya dengan nada sangat
pelan
"Aduh jadi merepotkan,"
"Jangan bilang begitu, kami senang bisa membantu," kata
Alika sambil mengelus kepala Ela.
"Kami pamit, sampaikan salam untuk Peng An," kata
Prasetiya sambil meraih tangan putrinya.
Aku sangat bersyukur punya keluarga yang baik dan
pengertian. Aku fokus merawat Pono supaya cepat sembuh dan
tidak ada kendala saat menikah nanti.

Rahasia Ratih 112


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Tiga hari Pono dirawat. Kondisinya belum bisa dikatakan


membaik. Rasa khawatir mulai menghinggapi aku.
Pono masih pusing kalau berdiri. Ini akibat benturan keras.
Hari keempat, aku bawa pulang ke rumah ayahnya. Pras
berjanji merawat bersama papah. Namun hatiku tidak tenang,
jadi malam itu aku tidur di rumahnya.
Hari pernikahan makin mendekat, Pono belum bisa
berjalan jauh, aku meminta mas Pono tenang dan istirahat,
jangan banyak pikiran.
Hari pernikahan tinggal dua hari lagi, jika terpaksa, harus
berbaring ditengah acara, maka saya minta ada tempat tidur
dibelakang punggung. Alika menyanggupi
Alika mengatur sedemikian rupa hingga dekorasi dan
semua keperluan di tangani olehnya, dari urusan dapur sampai
piring sendok diatur begitu rupa.
Papah menyiapkan ambulance untuk berjaga jaga. Pras
justru sangat was was.
Besok adalah hari H.
Aku tidak boleh keluar rumah, wajah dan rambutku mulai
dirawat untuk disamggul besok. Sementara mas Pono tampak
tegang.
"Mas, tenangkan pikiran, jangan khawatir, semua sudah
diatur oleh Alika dan anak buahnya."
Malam itu harus gladi bersih digedung yang sudah didekor
sedemikian rupa.

Rahasia Ratih 113


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Anak buah Alika terus sibuk mengatur ruangan di bawah


komando Alika.
Kulihat mas Pono sangat bahagia, ini hal bagus agar besok
tidak pingsan
Setelah gladi bersih, mas Pono langsung mencoba
berbaring di tempat yang disediakan Alika.
Mas Pono sangat puas melihat kinerja kakaknya dibantu
oleh suami tercinta.
Pagi hari aku mengenakan gaun kebaya pemberian Alika,
aku dirias sedemikian rupa untuk menyalami tamu tamu yang
datang sebelum puncak acara.
Terpaksa di gedung aku menyambut tamu yang datang
sendirian. Pras dan papah mengenakan beskap putih
menyalami setiap tamu yang datang.
Alika menyediakan hidangan untuk pesta sehari penuh.
Semua tamu yang datang sangat maklum melihat kondisi
mempelai pria.
Jam tiga sore, Alika membawaku ke ruang rias. Cukup lama
Alika melukis wajahku sedemikian hingga aku terlihat sangat
cantik.
Jam empat sore mas Pono dijemput dirumahnya, kemudian
Alika mendandani berubah seperti seorang Pangeran.
Kami mengenakan pakaian pengantin Solo Basahan.
Kami berdua memasuki ruang gedung diiringi gending
Kodok Ngorek dibelakang kami pengiring gadis gadis cantik dan
pemuda tanggung mengenakan pakaian adat Jawa.

Rahasia Ratih 114


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Petugas shooting dan fotografer terus sibuk mengambil


gambar. Begitu juga tamu yang datang berusaha mengambil
gambar dengan kamera ponsel masing masing.
Keluarga Bastian berkumpul untuk memberikan ucapan
selamat. Sedangkan Brahma jadi bahan rebutan untuk foto
bersama oleh remaja remaja yang datang.
Kami mengumbar senyum ke segala arah seolah
mengatakan kami sangat bahagia.
Kami melakukan akad nikah terlebih dulu kemudian duduk
dipelaminan.
Disampingku duduk papah dan Alika sebagai wakil ibunya
mas Pono
Disamping mas Pono duduk ibuku didampingi Prasetiya.
Pada acara puncak ini aku sangat bahagia. Demikian pula
mas Pono
Tak henti hentinya aku melirik suamiku, begitu juga dengan
mas Pono, terus saja melirik ke arahku.
Tamu yang datang luar biasa banyak.
Alika yang tanggap segera turun dari punggung untuk
mengurus hidangan agar tidak mempermalukan kami
Tak henti hentinya kami menyalami tamu yang datang.
Hingga tengah malam masih ada tamu.
"Ratih aku pusing," katanya sambil memegangi kepalanya.
Aku berbisik pada papah kalau mas Pono tidak sanggup lagi
berdiri.

Rahasia Ratih 115


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Papah dan Pras memapahnya menuju mobil untuk kami


pulang.
Malam itu aku masuk kamarnya.
Kuambil stetoskop, kuperiksa dengan teliti, rupanya dia
hanya kelelahan.
Kusuruh dia minum obat untuk meredakan sakit di
kepalanya. Kusuruh istirahat untuk memulihkan tenaganya
Malam ini sangat indah, mahkota kemuliaanku kuberikan
kepada suami tercinta, begitu juga dengannya.
Bagai diatas awan kami terbang masuk dunia penuh bunga
indah.
Dan setetes darah sebagai tanda bersatunya hidup kami,
Sekarang tidak ada lagi aku atau kamu
Kita adalah dua menjadi satu dalam hubungan aku dan
suamiku.
"Ratih terima kasih mau hidup bersamaku, segala suka
duka, susah senang, sehat sakit, mari kita lalui bersama. Isilah
bagian bagian hidupku yang tidak bisa kuisi, sebaliknya aku
akan melakukan tugasku sebagai kepala, menjaga dan
melindungi kamu,"
Kubenamkan diriku dalam pelukannya, kucatat setiap kata
yang keluar dari mulutnya di dalam hatiku.
Hati hati pria kalau bicara, istri akan mengingat ucapanmu
selamanya
Entah berapa jam kami terlelap.

Rahasia Ratih 116


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Hust jangan diganggu," suara seseorang diluar kamar.

Akhirnya Ratih menikah walau kondisi suaminya belum sehat


akibat ditabrak pic up saat mau mengoperasi kepala orang.

Rahasia Ratih 117


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku melihat diriku tak mengenakan apapun ditubuhku,


sementara pria itu masih terlelap.
Aku memunguti semua benda di lantai, metapikannya
kemudian masuk kamar mandi.
Usai mandi kukenakan bajuku, lalu menutup tubuh
suamiku depan selimut
Aku keluar kamar saat hari sudah tengah hari.
"Pah, siapa tadi...?" tanyaku

––––––––

Bagian 20

"Tadi Alika datang, tapi sudah pergi lagi katanya kapan


membereskan keuangan termasuk uang sewa gedung, Tadi juga
menitipkan nota untuk kamu sama Peng An. Itu amplopnya
masih utuh di meja," kata ayah mertuaku.
Aku membuka daftar tagihan yang dibuat Alika untuk biaya
pernikahan kemarin.
Dari salah satu nota, ada selembar catatan.
"Kalian sudah aku diskon, kalau tidak bisa bayar penuh,
bisa bayar 30 % dimuka, sisanya bisa diangsur,"
Aku menutup kembali nota tagihan, kutaruh di meja kamar
biasa suamiku bekerja menyiapkan materi kuliah.

Rahasia Ratih 118


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku mendekati dua buah kotak kayu, kuncinya kemarin


diserahkan Alika kepadaku.
Aku mengambil buku tamu yang hadir kemarin.
Aku melihat amplop dan mencocokkan dengan buku tamu
kemudian membukukan di komputer suamiku di meja kerjanya.
Kulihat suamiku menggeliat, lalu duduk sambil memegangi
kepalanya. Aku memberi minum, kemudian dia melangkah ke
kamar mandi.
Sementara itu aku menyiapkan makan untuknya. Aku
menata meja untuk makan tiga orang.
Kusambut suamiku sudah rapi dan wangi.
Aku memanggil papah untuk makan siang bersama.
"Apa masih pusing?" tanyaku setelah dia duduk
disampingku.
"Masih. Tapi sudah tidak seperti kemarin mungkin dua atau
tiga hari lagi aku sudah bisa membelah kepala orang lagi,"
katanya sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Jangan terburu buru, tugasmu sangat berat, jangan
sampai ditengah operasi kamu pingsan,"
Suamiku menatapku dengan tatapan mesra, kubalas
dengan senyum. Sejurus kemudian dia menyambar bibirku dan
mengulumnya.
Baru pertama kali aku diperlakukan seperti itu, aku merasa
risih, kudorong tubuhnya perlahan.
"Hrm, Hrm," suara itu membuat kami duduk manis

Rahasia Ratih 119


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Wah kelihatannya enak, Ratih yang masak?"


"Iya Pah, maaf Ratih orang kampung, hanya ini yang bisa
saya lakukan,"
"Kamu jangan begitu, suami lebih suka makan masakan
istrinya dari pada koki restoran yang masak," kata papah
mertuaku.
"Ayo makan," kata papah mempersilahkan.
Pertama papah mengambil nasi dan lauk pauk, disuruh
suamiku, terakhir saya.
Kami makan tanpa suara, tanpa bicara hingga selesai.
Usai makan, aku menyingkirkan piring kotor dan makanan
sisa ke dapur, disana ada dua assiten papah sudah puluhan
tahun.
"Apa rencana kalian setelah ini?" tanya papah membuat
kami saling pandang.
"Maksud papah apa kalian tinggal disini atau tinggal di
rumah Ratih?"
Aku bingung menjawab. Aku kasihan melihat papah sudah
tua sendirian dirumah. Sedangkan aku tidak mau tinggal disini,
terlalu sulit bagiku masuk keluarga mas Pono dengan latar
belakang budaya yang sangat berbeda.
Kulihat suamiku diam, seolah berat meninggalkan ayahnya.
"Pah, Ratih punya gubug walau belum lunas, tapi aman dari
sengatan matahari dan hujan, yang penting bisa berteduh"
sahutku.
Terlihat papah tersenyum, walaupun hatinya terasa berat

Rahasia Ratih 120


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Pah, aku harus membahagiakan istri saya, sekarang dia


adalah tulang rusukku yang harus aku jaga dan lindungi," kata
mas Pono.
" Sering seringlah kemari, sekarang sarang ini benar benar
kosong, semua meninggalkan papah. Pertama mamahmu
meninggal saat kerusuhan Mei 98, mamah mengalami luka
bakar disekujur tubuhnya. Beruntung ketiga anakku selamat
karena pengorbanan mamahmu dibantu Dawono kuli
bangunan yang sekarang cacat seumur hidup,"
Air muka papah terlihat sangat sedih.
Kemudian papah melanjutkan ceritanya :
"Saat di UGD, aku sedang menolong penjahat yang
merampok dan membakar rumah kami.
Sedangkan istriku terpaksa dibiarkan beberapa jam sambil
berteriak teriak minta tolong. Kepergiannya menimbulkan
trauma sampai sekarang. Papah selalu berpesan kepada kedua
menantu yang menikah dengan kedua putriku, harus mencintai
dan menyayangi isterinya. Sebab kita tidak tahu apa yang akan
terjadi semenit kemudian dengannya. Papah menyesal seumur
hidup, sehari sebelum kerusuhan, papah dan mamah
bertengkar hebat.
Mamah berucap, "kalau aku mati, kau jangan memyesal! "
Pagi hari sebelum aku berangkat ke Rumah sakit, mamah
tidak mengantarku ke pintu gerbang, tidak memberikan
ciuman, tapi tangisan sambil menggendong Peng An dan
menuntun Mey Hwa dan Jing Jing. Aku menyesal tidak minta
maaf pagi itu. Siangnya mamah dibawa ke UGD dalam kondisi
setengah matang. Mamah terus menerus berteriak histeris

Rahasia Ratih 121


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

ditengah teriakan pasien lain yang terluka maupun pasien yang


terbakar.
Aku meminta pihak Rumah Sakit untuk mendahulukan
istriku, namun permintaanku ditolak. Aku menyesal
perjuanganku diabaikan. Tengah malam, istriku sudah tidak
sadar baru ditolong, kemudian masuk ICU. Aku hanya bisa
melihat dari balik kaca. Keesokan harinya setelah aku bekerja
keras selama 24 nonstop, aku minta ijin melihat istriku, saat aku
datang, dia pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun" papah
bercerita diantara derai air matanya.
Tak urung aku dan suamiku ikut terlarut dalam kesedihan.
"Sejak hari itu aku berusaha menjadi ayah sekaligus ibu
bagi ketiga anakku. Rumahku sudah rata dengan tanah. Tak ada
lagi yang tersisa, termasuk surat surat penting semua lenyap
dalam sekejap. Papah numpang hidup di rumah kerabat
mamah yang ikut dijarah, putrinya hilang sampai sekarang tidak
ditemukan. Kerabat mamah terhibur oleh kehadiran Mey Hwa
dan Jing Jing. Beliau membantu merawat ketiga anakku seperti
anak sendiri. Namun nasib berkata lain, kerabat mamahku
meninggal dua tahun kemudian. Terpaksa aku menitipkan
ketiga anakku pada orang tua Alika yang kaya raya di
Nederland. Kakakku lolos dari penjarahan karena rumahnya
jauh di pinggir kota. Keluarga Alika menyambut ketiga anakku
yang terlunta lunta dengan penuh kasih sayang. Tiga tahun aku
jadi pengemis diantara keluarga. Sampai akhirnya hak tanah
dan rumah dibayar klaimnya oleh asuransi, kembali kutata
hidup dengan penuh keprihatinan. Kuambil kembali ketiga
anakku saat mereka sudah berangkat remaja. Kami hidup
sederhana, makan seadanya, sekolah di sekolah negeri dan

Rahasia Ratih 122


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

tidak boleh mengeluh. Perlahan aku membangun kembali


reruntuhan ini dengan tetes keringat setiap saat. Butuh waktu
sepuluh tahun untuk membangun sebagian rumahku yang
hancur. Beruntung ketiga anakku mendapat beasiswa hingga
perguruan tinggi. Mey Hwa putri sulungku mengambil jurusan
Tekhnik Sipil. Jing Jing putri keduaku mengambil Informatika.
Dan si bungsu mengambil kedokteran. Kuliah Peng An tidaklah
mulus, sempat terhenti satu tahun, Peng An bekerja sebagai
sales onderdil mobil. Dengan penuh keprihatinan, Peng An
menabung untuk biaya kuliah, setelah dirasa cukup uang, Peng
An melanjutkan kuliah. Usai kuliah kedokteran umum, Peng An
bekerja sebagai assiten dokter bedah. Dari situlah Peng An ingin
mengambil jurusan Bedah. Uang hasil kerja ditambah uang
papah, Peng An berhasil menyelesaikan kuliah kedokteran
bedah umum. Ketika ada tawaran beasiswa, Peng An mendaftar
namun gagal karena bermata sipit. Akhirnya Peng An bekerja
sebagai dokter bedah umum di Rumah Sakit swasta dengan gaji
tidak seberapa. Kedua kakaknya bahu membahu
menyekolahkan Peng An ke kedokteran spesialis bedah syaraf.
Disini Peng An tidak mengalami kesulitan sebab pernah bekerja
sebagai assiten dokter spesialis bedah syaraf. Baru setahun lalu
Peng An berhasil menjadi pegawai negeri setelah mengabdi
lima tahun. Itulah sebabnya dia terlambat menikah karena
sibuk menata masa depannya. Semoga Rumah Tangga kalian
bahagia saling mencintai dan saling memaafkan. Hadapi segala
masalah dengan kepala dingin, beri hati untuk saling mengerti
dan jauhi pertengkaran. "
Kami mengangguk hampir bersamaan.
"Pah, Peng An mau istirahat," katanya sambil bangkit dari
kursinya. Aku memapahnya masuk kembali ke kamar.

Rahasia Ratih 123


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Suamiku langsung berbaring, sementara aku melanjutkan


membukukan kado dari tamu kemarin hingga petang hari
Aku berdiri sambil menggerakkan otot yang kaku. Kulihat
suamiku masih terlelap.
Selesai menghitung jumlah tagihan Alika, aku memasukkan
ke kopor dan menguncinya. Malam itu Alika datang bersama
suami dan anaknya.
Aku keluar kamar menghampiri Alika di ruang tengah
sambil bercanda dengan paman Bastian. Aku duduk disamping
Alika sambil menyerahkan kopor dan amplop tagihan.
"Cicik, Terima kasih untuk semua kebaikan Cicik dan Koko,
berkat kalian kami bisa menikah tanpa kendala apapun,"
"Ah tidak apa apa, aku bisnis jadi hal itu wajar, semoga
kalian bahagia," kata wanita super ayu ini sambil memelukku.
"Ini aku kembalikan kalung, cincin dan gelang yang aku
pakai kemarin" kataku sambil menyerahkan benda ratusan juta
kepada Alika.
"Terima hadiah dariku, kau sudah memberikan hadiah tak
ternilai, kau memberikan kebahagiaan dan keluargaku utuh
kembali, itu hanya pemberian kecil dariku. Jika suatu saat kau
butuh bisa dijual, itu ada sertifikat didalam," kata Alika sambil
terus menatap Pras. Pras tampak tersipu didepan istrinya.
"Aku tidak melakukan apapun," kataku merendah.
"Ratih, Prasetiya kembali dalam pelukanku karenamu, aku
sangat bahagia. Anakku kembali menemukan ayahnya," kata
Alika sambil memegangi tangan suaminya. Kembali Pras
tertunduk malu didepan kami.

Rahasia Ratih 124


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Wah ada tamu," suara itu datang dari kamar depan. Kami
menoleh ke arah Peng An dengan mata merah akibat terlalu
lama tidur.
Supono bergabung dan ikut bersenda gurau.
"Pras mengapa kamu batal memperjuangkan Ratih menjadi
istri?" tanya suamiku menggoda.
"Bisa remuk tulangku dihajar tiap hari. Belum lagi galaknya
melebihi anjing beranak, bukan aku sadar ada cinta sejati
menungguku. Wanita itu lebih cantik dari bidadari, hatinya
seperti malaikat, aku sadar telah sangat berdosa, namun diluar
dugaan, istriku menerima kembali aku yang sudah kotor
menjijikkan. Ini anugerah bagiku,"
Giliran Alika yang tersipu mendengar ucapan suaminya
"Ngobrol terus, ayo makan malam," kata papah membuat
kami beranjak ke ruang makan.
"Hai Beruang kalau makan berapa porsi?" tanya Alika
sambil berbisik kepadaku.
"Hah, kuda nil kalau makan berapa porsi?" tanyaku balik
sambil melirik Pras yang berbadan gendut.
Aku dan Alika tertawa cekikikan.
'Hust, ayo makan jangan canda terus, " sergah papah.
Meskipun menahan tawa, aku dan Alika makan sedikit
perlahan agar tidak tersedak.
Usai makan, keluarga Pras pamit sambil membawa uang
tunai dalam jumlah besar.

Rahasia Ratih 125


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku mencatat nomor polisi kendaraan mewah Alika dan


memberikan kepada seseorang.
Aku memastikan Alika aman sampai dirumah.
Aku masuk kamar, kembali membukukan amplop yang
masih tertutup rapi. Aku lega semua hutang pada Alika sudah
lunas.
Kali ini suamiku membantu, pekerjaan jadi cepat selesai.
"Ratih, banyak yang kirim kado lewat transfer, aku belum
melihat rinciannya. Besok saja ya, sekarang tidur dulu," katanya
sambil menarik tanganku dengan lembut.
"Ratih aku ingin segera punya anak, usiaku sudah kepala
tiga, jangan sampai anakku panggil aku Opah," katanya sambil
melepas bajuku.
Malam kedua menjadi istri, aku melayani suami dengan
penuh cinta dan gairah menggebu.
Setelah dipikir masak masak, akhirnya suamiku bersedia
tinggal di rumahku bersama ibu dan adikku.
Pagi hari di bulan pertama pernikahan kami.
Aku membuatkan sarapan untuk seisi rumah, karena mbak
Sutri nyunatkan anak bungsunya didesa. Terpaksa aku dan Ibu
kerja rodi.
Ibu mencuci baju depan mesin cuci.
Aku sedang menggoreng ayam kesukaan suami dan adikku.
Tiba tiba kepalaku pusing tak tertahankan. Ibu segera
mematikan kompor dan memapahku masuk kamar.

Rahasia Ratih 126


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Suamiku heran melihat aku pucat pasi meskipun tidak


sakit.
Suamiku sudah mau berangkat kerja. Namun melihat
kondisi aku yang lemah mengurungkan niatnya. Dia mengambil
minyak gosok kemudian menggosok kedua kakiku yang dingin
dan memijat tengkukku.
"Nak Pono, Sepertinya aku mau dipanggil nenek," kata
ibuku tiba tiba
Suamiku melonjak kegirangan sambil memeluk ibuku.
"Benarkah?"
" Dulu, ibu waktu hamil Ratih juga begitu, tapi cuma
sebentar, Ratih tidak rewel, hanya nafsu makan ibu besar
sekali. Persis Ratih kalau makan banyak sekali tapi tidak bisa
gemuk "
"Ratih aku makin cinta kamu," kata suamiku sambil
mengecup keningku
"Papah kerja dulu ya sayang," kata suamiku sambil
mengelus perutku yang masih rata.
Sepeninggal suamiku untuk mengoperasi kepala orang
untuk membuang tumor yang bersarang di otaknya.
Aku bangun, mandi dan sedikit berdandan, tidak biasanya
aku ingin dandan.
Aku masuk ruang makan, menyingkirkan piring kotor bekas
suami sarapan, aku sendiri makan.
Entah mengapa dua piring nasi masih belum kenyang. Aku
sudahi saja dengan segelas susu hangat.

Rahasia Ratih 127


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Lho kamu mau kerja, lihat wajah mu pucat sekali," kata


ibuku heran.
Aku mengambil kunci kontak mobil pemberian Pras menuju
ke rumah sakit yang sama dengan rumah sakit suamiku bekerja.
Aku baru saja memarkir mobilku, tiba tiba ponselku
berdering.

Tumor tak beraturan berhasil dikeluarkan

Rahasia Ratih 128


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Foto dari CT scan

Rahasia Ratih 129


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Tumor terlihat seperti anggur

Rahasia Ratih 130


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

––––––––

Bagian 21

Aku mengabaikan panggilan telpon menuju mesin absensi.


Setelah menaruh jempol kanan, aku berjalan ke ruang UGD.
Sambil menunggu perawat menyiapkan berkas, aku membuka
panggilan di ponselku.
"Hallo pak, Bukankah saya sudah bayar, mengapa bapak
telpon?" tanyaku pada pemilik Rumah yang aku tempati. Masih
dua kali cicilan yang harus kubayar.
"Bu dokter, saya tidak ada urusan uang, saya sakit tapi
tidak bisa ke Rumah sakit, istriku kabur dengan pria lain.
Pembantu aku keluar, pengawalku keluar semua, aku sendirian,
tolong bu dokter," suaranya terdengar merintih
Aku meminta bantuan Rumah Sakit untuk menjemput
dengan ambulabce.
Usai mengurus pak Hadi aku disodori berkas oleh perawat
UGD.
Aku mengikuti langkah perawat untuk melakukan
pemeriksaan kepada pasien dengan kondisi lemah tergeletak di
ruang UGD.
Pasien pertama, aku terkejut melihat hasil lab gula
darahnya 230. Tidak ada cara lain selain RCI diitambah pria
gendut ini punya hipertensi dan jantung koroner.
"Siapkan insulin, chek kratinin dan ureum juga" kataku
pada perawat.

Rahasia Ratih 131


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Baik dokter," sahutnya sambil melangkah lagi


Pasien kedua mengidap kolitis ulseratif dari hasil colon in
loop.
"Sudah pernah diteropong?" tanyaku.
"Diapakan itu bu dokter?" tanya istrinya
"Dilihat melalui alat," sahutku singkat.
"Belum,"
Besok kalau sudah stabil diteropong, "
"Iya bu dokter,"
Pasien berikutnya mengalami sesak nafas hebat, aku
melihat hasil rekaman jantung dari EKG, tidak ada masalah
dengan jantung.
Kemudian hasil widal bikin aku terkejut.
"Tambah darah," kataku pada perawat.
"Golongan darah O kosong bu dokter,"
"Cari donor dari keluarganya, kondisinya gawat," kataku.
"Ibu, berhubung golongan darah O kosong bisakah ibu
menghubungi anggota keluarga," kata perawat kepada istrinya
Aku berjalan menuju ruang perawatan berhubung tidak
ada pasien terminal di HCU maupun di ICU.
"Bu dokter!" teriak seorang perawat.
Aku menghentikan langkah lalu berbalik mengikuti langkah
perawat

Rahasia Ratih 132


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku terkejut melihat pak Hadi yang menelponku tadi sudah


hampir pingsan. Aku bergegas menghampirinya, suhu tubuhnya
tinggi sekali, detak jantung melambat dan ada edema di perut
kanan bawah.
Aku langsung menelpon ruang operasi. Ruang sedang
dipakai, jadi harus nunggu dua atau tiga jam lagi. Untuk
mengurangi rasa nyeri aku memberikan beberapa suntikan agar
orang itu kondisinya stabil
"Pak, harus operasi, tidak ada cara lain," kataku pada
rentenir yang menghutangi aku.
Aku tinggalkan si lintah darat menuju bangsal perawatan.
"Ratih!"
Aku menoleh.
"Kau sakit, lihat pucat sekali," kata Pras sambil meraba
keningku
"Tidak, aku baik baik saja,"
"Biar aku saja yang visite pasien, kau istirahat saja, ayo
duduk disini," kata Pras sambil membantu aku duduk di kursi
tunggu pasien Radiology.
Aku duduk di kursi pengunjung sambil memijat mijat kedua
kakiku.
Setelah dirasa nyaman, aku melangkah ke ruang poliklinik
penyakit dalam yang masih kosong, bahkan petugas cleaning
service masih ngepel lantai.
"Apa seprei dan sarung bantal sudah diganti?" tanyaku.
"Sudah bu dokter," sahutnya singkat lalu pergi.

Rahasia Ratih 133


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku naik ranjang itu dan berbaring sambil menahan rasa


mual dan pusing.
Setelah beberapa menit, aku merasa lebih baik. Aku duduk
di kursi sambil mengaktifkan komputer. Setelah aku setting,
terlihat sudah berapa orang pasien kulayani, jumlahnya terus
bertambah. Melihat tulisan di komputer kepalaku pusing. Aku
meminum air mineral untuk menyegarkan diri. Satu gelas air
mineral habis kutenggak.
Tiba tiba pintu ruangku dibuka kasar oleh dua orang co ass
berbadan tambun.
"Selamat pagi bu dokter, kok gasik banget?" kata satu co
ass berbadan subur.
"Iya, ada kakakku tadi yang mengambil alih," sahutku.
"Bu dokter sakit?"
Aku menggeleng
"Sudah sana panggil pasien,"
Aku melayani pasien sambil menahan sakit kepala, namun
aku berusaha tenang dan tetap profesional.
Baru lima orang pasien aku tidak sanggup.
"Koko, tolong aku," kataku di ujung telepon.
Pras berlari dari ruang perawatan menuju ruanganku.
"Ratih, sebaiknya kau istirahat, biar semua pasien aku yang
tangani," kata kakak iparku sambil memapahku menuju ruang
istirahat dokter.
––––––––

Rahasia Ratih 134


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Pras menebar selimut ke tubuhku dan menurunkan suhu


AC agar aku bisa istirahat. Benar saja aku tertidur pulas.
"Kasihan Ratih, sepertinya hamil, baru sebulan menikah
sudah berisi, wah pasti Peng An seneng banget," gumanku.
"Pak dokter, napa senyum senyum sendiri?" tanya co ass
yang mendampingi Ratih kini mendampingi aku.
"Aku mau punya keponakan," kataku disambut senyum
dua co ass berbadan gendut seperti aku.
Pasien pertama masuk ruang periksa dokter langsung
protes
"Aku tidak mau diperiksa selain dokter Ratih, aku tidak mau
sama dokter lain. Dokter Ratih baik, enak diajak konsul, ramah
dan obatnya tidak mahal. Aku keluar saja!"
Ibu judes itu mengeluarkan taringnya pagi pagi.
"Ibu kesini mau berobat atau ketemu dokter?" tanya co ass
dengan nada lembut.
"Dokter Ratih, dokter Prasetiya, dokter Baskoro sama saja,
ibu mau sembuh atau mau sakit?" tanya co ass satunya.
Akhirnya pasien itu mau diperiksa walau dengan wajah
kecewa.
"Ibu, saya meneruskan obat yang diresepkan dokter Ratih,
ibu sudah sehat kok. Tidak usah datang lagi, saran saya tetap
jaga makanan dan jauhi stres," Si ibu mengangguk.
Pasien berikutnya adalah chek up setelah dirawat
seminggu lalu.

Rahasia Ratih 135


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Lho dokter Ratih mana?" tanya bapak itu sambil


celingukan.
"Dokter Ratih sedang ada keperluan," jawab co ass.
Setelah aku periksa aku meneruskan catatan dokter Ratih
yang ada di komputer.
"Bapak habis operasi, saya minta rutin chek up dan jaga
pola makan ya, usus bapak belum sehat. Nanti ke ruang sebelah
ketemu dokter Onkologi untuk mendaftar kemoterapi bersama
dokter Baskoro," kataku sambil menyerahkan berkas kepada co
ass.
"Rupanya dokter Ratih adalah dokter favorit pasien,"
gumanku lagi.
98 orang pasien terkayani dengan baik. Aku menelpon
ruang bedah torak dimana dokter Supono sedang bekerja.
"Hallo Koko, saya sudah selesai,"
"Peng An, isterimu kelelahan, coba periksakan ke spesialis
kandungan"
"Baik, saya sedang menuju Kristus sana,"
"Aku pulang dulu, Alika juga sedang hamil 8 Minggu, manja
banget,"
"Baik. Terima kasih Koko,"
––––––––

Aku menuju ruang dimana istriku berbaring, dia masih


tertidur, namun melihat kehadiranku, Wanita sederhana itu

Rahasia Ratih 136


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

bangun lalu tersenyum ke arahku. Aku menghampiri tempat


tidurnya, kucium kedua pipinya dan kubantu duduk.
Aku membantunya turun dari ranjang dan membantu
mengenakan sepatu kets bertali
"Apa kau sudah membaik?"
"Sudah, setelah tidur pusingku hilang sama sekali,"
sahutnya sambil merapikan rambutnya.
"Kita ke poli kandungan, sudah ditunggu dokter Adi,"
kataku sambil memapahnya.
Ratih berjalan perlahan tidak seperti biasanya seperti
Kijang melompat
Kami di sambut rekan kerjaku dengan wajah berseri seri.
"Silahkan bu dokter Ratih berbaring, kita lihat dari Ultra
Sonografi apa ada cucu saya disana,"
Ratih berbaring, bagian perutnya dibuka, setelah diberi gel
khusus, maka dokter Adi mulai menjalankan alat diperut istriku,
semua bersorak.
"Lihat, dia masih sangat kecil, perkiraanku 4 Minggu," kata
dokter Adi disambut gembira.
Setelah gel dibersihkan, Ratih turun, aku membantunya,
kemudian menggandeng tangannya.
Benar kata Prasetiya, kalau istri sedang hamil manja
banget.
Aku membawa istriku pulang dan tidak mengijinkan
melakukan pekerjaan.

Rahasia Ratih 137


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

––––––––

"Mulai sekarang harus banyak istirahat," katanya lalu


menyelimuti tubuhku dan memberikan ciuman.
Aku tidak bisa tidur lagi, hanya bersyukur sekali sudah
dipercaya untuk mengandung. Berterima kasih punya suami
yang baik dan pengertian, tidak banyak omong dan tidak repot
soal makanan.
"Sayang, ayo makan, aku sudah masak untukmu," katanya
sambil menyingkap selimut.
Aku masuk ruang makan disambut ibu dan adikku.
"Makan yang banyak, kau harus makan dua porsi, yang
didalam juga ikut makan, jangan sampai dia kelaparan,"
Duh suamiku luar biasa perhatian.
Tanpa sungkan aku makan paling banyak, membuat ibu
dan adikku geleng kepala.
Acara makan siang belum kelar, tiba tiba ponselku
berdering.
––––––––

Bagian 22

COLON IN LOOP
Kali ini saya menceritakan rontgen usus.
Silahkan disimak

Rahasia Ratih 138


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Di share karena ini penting.


"Anita ada apa denganmu, sejak tadi kok keluar masuk
kamar mandi?"
"Sakit perut bu," sahutku sambil menahan sakit perut
"Ini minum obat diare, dua tablet sekaligus"
Aku menerima dua butir obat berwarna hijau tua dan
segelas air hangat. Obat pasaran sangat membantu, perlahan
rasa sakit perutku berkurang. Aku pamit berangkat sekolah.
Aku bisa mengikuti pelajaran dengan baik selama beberapa
saat.
Sebelum jam istirahat pertama aku merasa sakit perut lagi.
Aku minta ijin ke kamar mandi
Namun baru keluar kamar mandi sudah mulas lagi. Aku
berjalan perlahan menuju kelas.
Aku kembali berlari k kamar mandi sambil menahan sakit
perut tak tertahankan.
Aku berteriak didalam kamar mandi hingga teman temanku
berhamburan ke kamar mandi.
"Heh, laki apa perempuan bayimu?!"
"Setan alas kamu, aku sakit perut!"
"Anita keluar!" teriak teman temanku sambil menggedor
pintu kamar mandi.
Aku keluar sambil memegangi perutku.
"Anita, sebaiknya istirahat di UKS nanti aku temani" kata
Widia sahabatku.

Rahasia Ratih 139


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Dua orang temanku memapahku menuju ruang UKS. Aku


berbaring sambil digosok minyak kayu putih oleh Widia.
"Aaaaaaaaah!!!!"
"Bagaimana kalau ke Puskesmas?"
Aku menggeleng
"Kau jangan cari mati, aku peduli,"
Aku mengangguk sambil menahan sakit perut.
Widia pergi ke kantor guru, kemudian kembali padaku
dengan sepucuk surat.
Aku mengenakan jaket Widia dan helm milik Agus. Widia
mengenakan helm kemudian menstater sepeda motornya.
Setiba di Puskesmas aku mencari kamar mandi. Kembali
aku berteriak kesakitan.
Beberapa pengunjung Puskesmas menggedor pintu kamar
mandi.
Aku memasang kembali celana dalam, namun tidak mampu
lagi berjalan.
Widia berlari menghampiri aku dan memapahku untuk
diperiksa dokter Puskesmas.
Aku menangis sambil guling guling karena perutku sakit
bukan kepalang.
Dokter memeriksa tekanan darahku yang rendah dan
mengalami dehidrasi berat.
"Datang ke UGD saja, kondisi mbak harus segera ditolong,
sekarang mumpung belum terlambat,"

Rahasia Ratih 140


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Aku ga mau!
"Lho kok ga mau, dokter tidak sanggup menolongmu, kau
butuh pertolongan. Ayo bangun atau Kutinggalkan disini
bersama pocong,"
"Wid, jangan, aku takut,"
"Ya sudah, ayo mayat hidup, jalan!"
Aku dipapah sahabatku menuju parkiran.
Sambil menahan sakit perut aku terus berdoa agar diberi
kekuatan.
Setiba di rumah sakit, aku langsung disambut satpam UGD,
kemudian dibaringkan dan diperiksa oleh dokter.
"Apa yang mbak rasakan?" tanya dokter dengan ramah.
"Sakit perut, diare dan pusing, diare bercampur lendir,"
"Apa warna lendirnya putih, kuning, hijau atau hitam?"
"Kuning,"
"Ada mual muntah atau demam?"
"Demam kadang kadang,"
"Bagian perut mana yang sakit nanti bilang"
Dokter segera meraba sambil menekan perutku. Tepat
dibagian kanan bawah aku berteriak.
"Sakit dokter, sakit," kataku sambil menangis.
"Sudah berapa lama diare?"
"Sudah lama,"

Rahasia Ratih 141


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Lama? Satu bulan, dua minggu atau...."


"Lebih dari dua bulan, sembuh kambuh begitu terus. Tapi
kali ini sakit luar biasa,"
"Baik. Nanti dipasang infus dan obat obat masuk lewat
suntikkan"
"Dokter saya takut disuntik!"
"Jangan takut, mana lebih sakit disuntik atau ditinggal
pacar?"
"Ah dokter!"
"Ayo mbak perawat pasang infusnya,"
Aku menutup mata sambil memegangi tangan Widia.
Ternyata hanya seperti dicubit Widia kalau bercanda.
Setelah infus terpasang dan diambil sampel darahnya, aku
diberi beberapa suntikan melalui slang infus.
Perlahan sakit perutku berkurang, akhirnya aku tertidur
––––––––
"Hallo pak Sarno, ini Widia, Anita di Rumah Sakit,
kondisinya parah, tolong bapak ke sini tadi pihak Rumah sakit
menanyakan siapa yang tanggung jawab?"
"Baik Widia, Terima kasih sudah menolong,"
Aku menunggu kedatangan orang tua Widia didepan UGD.
Tak lama datang ibu Sarno dengan wajah tegang sambil
menangis menemui aku.
Aku membawa ibunya melihat putrinya yang pucat pasi
seperti mayat hidup.

Rahasia Ratih 142


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Kenapa dia?"
"Tadi berteriak di kamar mandi, dokter Puskesmas
menyuruh dibawa kemari, Widia pulang dulu bu,"
Aku pamit lalu kembali ke sekolah.
––––––––
"Saudari Anita, anggota keluarganya Silahkan ke loket
pendaftaran"
"Mas biar aku saja" kataku.
"Saya ibunya Anita,"
"Begini bu. Menurut pemeriksaan fisik kemungkinan besar
putri ibu mengalami radang usus. Untuk itu Anita harus
opname untuk diperiksa lebih lanjut dan menentukan terapi
obat apa untuk kesembuhannya. Ini silahkan ke pendaftaran
rawat inap, letaknya lurus, belok kanan, lurus Nah disitu ada
loket TPPRI. Silahkan mendaftar disitu,"
Kali ini bapaknya yang melakukan.
Aku mengelus dahi putriku, aku tidak menyangka kalau
Anita sakit parah.
Beberapa menit kemudian, ayahnya kembali sambil
membawa berkas kuning untuk diserahkan kepada petugas
Tak lama kemudian seorang petugas membawa setumpuk
berkas dan memanggil nama Anita.
"Anita pindah ke ruang rawat inap, nanti dokter yang
menangani adalah dokter Ratih spesialis penyakit dalam," kata
petugas lalu mendorong bed ke ruang rawat inap. Cukup jauh

Rahasia Ratih 143


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

kami berjalan hingga berhenti di depan kantor perawat khusus


penyakit dalam.
Setelah menyerahkan berkas, dan diterima oleh perawat
maka perawat membuka pintu rawat inap dan membantu Anita
berbaring.
Perawat kemudian mengalirkan kembali infus yang semula
dimatikan
"Mbak tetap tidur disini, jangan pindah pindah, dan nurut
sama bu dokter cantik dan baik, namanya dokter Ratih, besok
pagi beliau visite. Tadi sudah disuntik di UGD?"
"Sudah"
"Obat itu atas perintah dokter Ratih, sekarang istirahat,
yang nunggu hanya satu, tidak boleh bawa senjata tajam, rokok
maupun korek api,"
Perawat yang ramah itu pergi lalu menutup pintu.
"Ayah pulang saja, biar ibu yang jaga,"
"Baiklah,"
––––––––
Seumur hidup baru kali ini tidur di Rumah Sakit, rasanya
takut, serem dan pengin pulang.
Malam kian beingsut, jam dinding menunjukkan angka 9.
Seorang perawat masuk.
"Ini obatnya diminum jam 9 malam, yang dua ini jam 7 pagi
setelah makan. Ini sirup diminum jam 7, jam dua siang dan jam

Rahasia Ratih 144


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

9 malam. Sekarang mbak Anita disuntik dulu ya," perawat


membawa tiga ampuls obat untuk dimasukkan ke tubuhku.
Badanku terasa enak setelah disuntik.
Pagi pagi benar aku belum sepenuhnya bangun, seorang
wanita berparas cantik diiringi dua dokter muda datang.
"Selamat pagi mbak Anita, gimana kabar?"
Dokter ini tersenyum sambil mengeluarkan stetoskopnya
kemudian memeriksa seluruh rongga perutku.
"Aow sakit bu!" teriakku ketika tangannya menekan perut
kanan bawah.
"Masih diare?"
"Sudah jarang bu,"
"Bagus, besok rongten usus, nanti mbak perawat yang
kasih instruksi, hsssst jangan tegang, santai saja," Bu dokter
bicara sambil mengelus pundakku.
Malam itu aku didatangi perawat dengan bubuk pencahar
di tangan.
"Larutkan bubuk ini dalam dua liter air diminum sampai
habis sebelum jam dua belas malam, sekarang mbak Anita mau
dipompa, ayo tidur miring, jangan dikeluarkan sebelum benar
benar mau BAB,"
Perawat wanita ini perlahan melepas celana dalamku,
kemudian memasukkan obat pencahar lewat anus.
"Ingat ya cairan ini harus diminum sampai habis supaya
usus bersih dan dihasilkan gambar yang bagus,"

Rahasia Ratih 145


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku mengangguk
Sepeninggal perawat aku mulai mulas tak tertahankan. Aku
dibantu ibu masuk kamar mandi.
Kotoran dalam perut yang selama ini mengendap keluar
begitu rupa.
Perut serasa dikuras aku mengeluarkan sampah di perut.
Aku lega sekali, perut terasa longgar.
"Ayo minum cairan ini" kata ibu sambil menyodorkan botol
air mineral kepadaku. Rasanya seperti air payau. Walau minum
setengahnya tidak terasa begah. Dalam waktu beberapa menit
aku mulai buang buang air lagi, Kali ini kotoran yang semula
berwarna coklat tua berubah jadi kuning.
Keluar dari kamar mandi, aku merasa haus, kuminum lagi
cairan hingga habis.
Duh perut ini seperti dikuras. Tak henti hentinya aku ke
kamar mandi
Aku sangat kelelahan, jadi ibu mengambil tempat, dengan
penuh kasih sayang, ibu berulang kali membuang kotoran yang
sudah berwarna jernih.
Ibuku menyodorkan botol kecil untuk kuminum. Kali ini aku
tenggak. 3/4 botol, sebelum jam 12 dua liter pencahar sudah
ludes.
Beruntung intensitas BAB berkurang hingga aku bisa tidur.
Pagi pagi buta, aku kembali ke kamar mandi beberapa kali.
Tepat jam 5 pagi kembali aku diberi pencahar dari anus.

Rahasia Ratih 146


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Setelah benar benar bening, maka tidak BAB lagi. Aku


diseka oleh perawat dan diberi pakaian steril.
Jam enam pagi datang dokter pria berawajah tampan
namun agak gemuk.
"Selamat pagi mbak Anita, sudah masih sakit perut?"
tanyanya ramah.
"Semalam diare hebat dokter,"
Sambil tersenyum, "perutmu dibersihkan, nanti difoto
ususnya, kalau sudah ada hasilnya, nanti saya yang kasih obat"
"Lha bukan dokter Ratih?"
"Sama aja," sahut perawat
Dokter itu pergi dikawal dua co ass ganteng banget dan
seorang perawat.
Jam 8 aku dibawa ke ruang Radiology
Aku disuruh berbaring. Diatas dan bawahku ada sinar X
untuk mengetahui kondisi ususku.
Seorang dokter ganteng, imut dan masih muda
menghampiri aku mengenakan pakaian khusus menghampiri
aku.
"Mbak rileks, jangan takut, terus ikuti aba aba saya. Ayo
tidur miring kiri,"
Dokter itu keluar ruangan dimana aku berbaring seorang
diri.
"Ambil nafas, tahan, buang, ya cukup,"
Kemudian dokter itu masuk menghampiri aku.

Rahasia Ratih 147


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

"Mbak rileks ya, ini angin untuk menggelembungkan usus


besar, tahan ya meskipun pengin kentut jangan dikeluarkan,"
Aku merasa malu dipegang bokongnya oleh dokter ganteng
banget ini. Ada rasa risiko, namun aku harus bertahan.
"Ambil nafas, tahan, keluarkan,"
Kembali dokter ini menghampiri aku dan memegang
bokongku.
"Ini zat kobtras untuk melihat dimana ada kelainan pada
usus akan terlihat jelas. Mohon dengan sangat, meskipun mulas
tak tertahankan dan sakit tetap ditahan. Jangan dikeluarkan
disini nanti kuning semua.
Ayo tahan sakitnya!"
Aku menggigit ujung baju steril, sambil menahan sakit luar
biasa, begitu sakitnya hingga kedua kakiku bergetar. Belum
pernah merasakan sakit perut seperti ini.
"Ambil nafas, tahan... Keluarkan.."Sudah Silahkan masuk
kamar mandi"
Aku sudah tidak kuat lagi menahan sakit perut diluar batas
kemampuan.
Segera aku keluarkan zat kobtras berikut angin dan
kotoran.
Duh lega rasanya.
Aku kembali berbaring dibantu ibu dan perawat yang
mendampingi aku.
Aku dikembalikan ke ruang perawatan dan boleh makan
dan minum setelah berpuasa semalam penuh dan diare.

Rahasia Ratih 148


Karya : Dorkas Turasmi Diungggah di group Cyber Kang Ouw

Aku menghabiskan jatah makan dari Rumah Sakit hingga


licin tandas.
Siangnya aku diberi tahu kalau saya mengalami infeksi
pada dinding usus, dan belum boleh pulang.
Aku berterima kasih kepada Widia, ayah dan Ibu, juga
dokter dokter dan perawat.
Setelah dirawat lima hari di Rumah Sakit aku diijinkan
pulang dengan cacatan jaga makanan dan rutin chek up.
––––––––

TAMAT

Rahasia Ratih 149