Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

TAFSIR AYAT AYAT PENDIDIKAN


Tentang
Lingkungan Pendidikan : Lingkungsn Keluarga

Oleh:
Kelompok 6

Yasmine Meuthia Koto 1715050016


Al Yuda Ramadhan 1715050024
Sri Rini Rahmi 1715050056

Dosen Pembimbing:

Dra.Rahmi,M.Ag

PROGRAM STUDI TAFSIR HADITS


FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI IMAM BONJOL PADANG
1441 H/ 2020 M
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan melalui pengalaman,
pengalaman itu terjadi dikarenakan interaksi manusia dengan lingkungan nya ,interaksi manusia
dengan lingkungan itu secara efesien dan efektif itu lah yang disebut dengan pendidikan, latar
belakang tempat berlangsung nya pendidikan itu disebut dengan lingkungan pendidikan,
khusunya pada lingkungan utama pendidikan adalah pendidikan dari keluarga.
Sekarang kebanyakan orang karena kesibukan atau karena salah menafsirkan tentang
pendidikan sehingga orang tua sering melimpahkan tanggung jawab mendidik pada sekolahan
sehingga tugas tersebut terlimpahkan oleh seorang guru.Dalam hal pendidikan sebenarnya tidak
semua dibebankan pada guru di sekolah, karena keluarga dilihat dari perspektif pendidikan
merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama dalam kehidupan manusia, Dalam
Islam pun pendidikan di keluarga juga telah diterangkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang
merupakan pedoman bagi Umat Islam yang di dalamnya tiada keragu-raguan sedikitpun ,Al-
Qur’an telah menjelaskan bagaimana cara mendidik keluarga, agar tercipta keluarga yang benar-
benar aman damai dan tentram serta sesuai dengan tuntunan dan petunjuk dari Allah SWT.
Sehingga kita dan keluarga selamat dari siksa dan azab Allah. Dalam hal ini penulis akan
membahas terkait dengan lingkungan pendidikan dalam keluarga.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana lingkungan pendidikan dalam keluarga yang diterangkan pada QS. At
Tahrim:6
2. Bagaimana lingkungan pendidikan dalam keluarga yang diterangkan pada QS. Luqman :
13-19
3. Bagaimana lingkungan pendidikan dalam keluarga yang diterangkan pada QS. Al-
Baqarah 133
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Lingkungan Pendidikan dalam Keluarga
Manusia memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan melalui pengalaman,
pengalaman itu terjadi dikarenakan interaksi manusia dengan lingkungan nya ,interaksi manusia
dengan lingkungan itu secara efesien dan efektif itu lah yang disebut dengan pendidikan, latar
belakang tempat berlangsung nya pendidikan itu disebut dengan lingkungan pendidikan,
khusunya pada lingkungan utama pendidikan adalah pendidikan dari keluarga.
Keluarga adalah kesatuan unit terkecil di dalam masyarakat dan merupakan suatu
lembaga yang sangat penting dalam pembangunan dan perkembangan kualitas anak, Keluarga
merupakan madrasah pertama yang bertugas mengasuh dan mendidik anak-anak, laki-laki
ataupun wanita.Keluarga dimulai dengan sepasang suami istri. Keluarga itu menjadi lengkap
dengan adanya seorang anak atau lebih.
Pendidikan keluarga dapat diartikan sebagai usaha dan upaya orang tua dalam
memberikan bimbingan, pengarahan, pembinaan dan pembentukan kepribadian anak serta
memberikan bekal pengetahuan terhadap anak. Keluarga adalah tempat titik tolak perkembangan
anak. Peran keluarga sangat dominan untuk menjadikan anak yang cerdas, sehat dan memiliki
penyesuaian sosial yang baik. Keluarga merupakan salah satu faktor penentu utama dalam
perkembangan kepribadian anak. Lazarus Freud mengatakan bahwa pengaruh lingkungan
keluarga terhadap perkembangan anak merupakan titik tolak perkembangan kemampuan atau
ketidakmampuan penyesuaian sosial anak. Menurutnya pula, periode ini sangat menentukan dan
tidak dapat diabaikan oleh keluarga. Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak. Di
dalam lingkungan keluarga anak pertama-tama mendapatkan berbagai pengaruh (nilai). Oleh
karena itu, keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua yang bersifat informal dan kodrati.
Ayah dan ibu dalam keluarga sebagai pendidiknya, dan anak si terdidiknya. Jika karena suatu hal
anak terpaksa tidak tinggal dilingkungan keluarga yang hidup bahagia, anak tersebut masa
depannya akan mengalami kesulitan-kesulitan baik di sekolah, masyarakat, maupun kelak
sebagai suami istri di dalam lingkungan keluarga.
B. Lingkungan Pendidikan dalam Keluarga
1. QS. At-Tahrim/66:6
a. Ayat dan Terjemahan

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras,
dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan”(TQS.At-Tahrim/66:6)
b. Tafsiran Ayat
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar menjaga
dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat
dan patuh melaksanakan perintah Allah SWT. Mereka juga diperintahkan untuk
mengajarkan kepada keluarganya agar taat dan patuh kepada perintah Allah SWT untuk
menyelamatkan mereka dari api neraka. Di antara cara menyelamatkan diri dari api
neraka itu ialah mendirikan salat dan bersabar 1 (sebagaimana firman Allah SWT dalam
QS.Taha/20:132 dan QS.Asy-Syura/26: 214)
Ayat di atas juga menggambarkan bahwa dakwah dan pendidikan harus bermula
dari rumah. Ayat di atas walau secara redaksional tertuju kepada kaum pria (ayah), tetapi
itu bukan berarti hanya tertuju kepada mereka. Ayat ini tertuju kepada perempuan dan
lelaki (ayah dan ibu) sebagaimana ayat-ayat yang serupa (misalnya ayat yang
memerintahkan berpuasa) yang juga tertuju kepada lelaki dan perempuan. Ini berarti
kedua orangtua bertanggung jawab terhadap anak-anak dan juga pasangan masing-
masing sebagaimana masing-masing bertanggung jawab atas kelakuannya. Ayah atau ibu
sendiri tidak cukup untuk menciptakan satu rumah tangga yang diliputi oleh nilai-nilai
agama serta dinaungi oleh hubungan yang harmonis. Malaikat yang disifati dengan ‫غالظ‬
(kasar) bukanlah dalam arti kasar jasmaninya sebagaimana dalam beberapa kitab tafsir,
karena malaikat adalah makhluk halus yang tercipta dari cahaya. Atas dasar ini, kata

1 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Dzilalil Qur’an (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hlm. 204.
tersebut harus dipahami dalam arti kasar perlakuannya atau ucapannya. Mereka telah
diciptakan Allah khusus untuk menangani neraka. “Hati” mereka tidak iba atau tersentuh
oleh rintihan, tangis atau permohonan belas kasih, mereka diciptakan Allah dengan sifat
sadis2.
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka.” Di pangkal ayat ini jelas bahwa semata-mata mengaku beriman saja belumlah
cukup. Iman mestilah dipelihara dan dipupuk, terutama sekali dengan dasar iman
hendaklah orang menjaga keselamatan diri dan seisi rumah tangga dari api neraka 3. Dari
rumah tangga itulah dimulai menanamkan Iman dan memupuk Islam. Karena dari rumah
tangga itulah akan terbentuk umat. Dari dalam umat itulah akan tegak masyarakat Islam.
Masyarakat Islam adalah suatu masyarakat yang bersamaan pandangan hidup, bersamaan
penilaian terhadap Islam.
Ayat diatas memberikan gambaran bahwa dakwah dan pendidikan harus diawali
dari lembaga yang paling kecil, yaitu diri sendiri dan keluarga menuju yang besar dan
luas. Ayat diatas awalnya berbicara masalah tanggung jawab pendidikan keluarga,
kemudian diikuti dengan akibat dari kelalaian tanggung jawab yaitu siksaan. Dalam
membicarakan siksaan, Al-Qur’an menyebutkan bahan bakar neraka, bukan model dan
jenis siksaanya. Sementara bahan bakar siksaan di dalam ayat diatas digambarkan berasal
dari manusia. Hal ini mengisyaratkan bahwa kegagalan dalam mendidik masa kecilnya,
dalam lembaga yang terkecil yaitu keluarga. Kegagalan pendidikan pada usia dini ,akan
menyebabkan manusia terbakar emosinya oleh dirinya sendiri yang tidak terarahkan pada
usia dininya.
2. QS. Luqman/31:13-19
a. Ayat dan Terjemahan

2
M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an (Jakarta: Lenter Hati, 2002), hlm. 327.

3 Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XXVIII (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1985), hlm. 309.
“dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
“dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya
telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua
tahun bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.

“ dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak
ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian
hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
“(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi,
dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya
(membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui”.
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah
(mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.
“dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah
kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri”.

“dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya


seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.(TQS. Luqman/31:13-19)
b. Tafsiran Ayat
Kata ُ‫( يَعِظ‬ya’izuhu) yaitu pengajaran yang mengandung nasihat kebajikan dengan
cara yang menyentuh hati. Ada juga yang memaknai sebagai ucapan yang mengandung
peringatan4. Kata bunayya adalah panggilan untuk anak laki-laki. Dimana panggilan
tersebut mengandung kasih sayang. Lukman memulai nasehatnya kepada putranya
dengan menekankan perlunya menghindari perbuatan syirik, karena perbuatan syirik
adalah kedzaliman yang amat besar. Kita telah megetahui bahwa zalim adalah
menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya. Suatu kezaliman yang besar jika
menjadikan mahluk sebagai tuhan.
Nilai pendidikan yang terkandung dalam surah ini, yaitu bagaimana seharusnya
menjadi seorang pendidik dalam berikan pengajaran kepada anak. Kita harus memulai
dengan kelembutan. Ini adalah salah satu metode yang digunakan oleh Lukman sebagai
mana dikisahkan dalam ayat diatas. Disamping itu, kita tidak boleh luput dalam
mengulanginya untuk member nasehat.Dalam mengajar harus banyak menasehati anak
tentang hal-hal kebaikan terutama menyangkut ibadah kepada Allah SWT.
Setelah melihat bagaimana Lukman dalam mendidik anak, maka dilanjutkan
dengan ayat berikutnya yang membahas atau mengajar kita bagaimana dalam bergaul dan
berbuat baik kepada kedua orang tua, Kata (‫ )ووصينا‬wawassayna. Yaitu berpesan dengan
sangat kukuh kepada manusia menyangkut kedua orang tua mereka, agar selalu berbuat
baik kepada keduanya5. Kata (‫ )وهنا‬wahnan yaitu kelemahan yang dirasakan oleh seorang

4 M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an (Jakarta: Lenter Hati, 2002),Vol 11,op.cit, hlm. 327.
5 Ibid,hlm.129
ibu untuk memikul beban kandungan yang kian memberat sesuai dengan usia kandungan.
Maka untuk itulah kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka, dan bersyukur
kepada Allah yang menciptakan kita melalui perantara keduanya dan bersyukur pula
kepada kedua orang tua yang senantiasa melimpahkan kasih sayangnya kepada kita
sebagai seorang anak. Nilai pendidikan yang harus kita ambil yaitu bagaimana cara untuk
mempergauli kedua orang tua baik mereka sudah lanjut usia yang dalam pemeliharaan
kita.
Setelah ayat yang menekankan tentang pentingnya berbuat baik kepada orang tua,
maka dalam ayat selanjutnya dinyatakan pengecualian untuk mentaati perintah kedua
orangtua. Kata ( ‫ )جاهداك‬terambil dari kata (‫ )جهد‬juhd yakni kemampuan atau sungguh-
sungguh. Kata ini digunakan dalam ayat karena adanya upaya sungguh-sungguh. Dalam
hal ini, sebagaimana makna kata ‫اكجهد‬ adanya unsur paksaan dari orang tua untuk
mentaati kemauanya yang melencengkan aqidah maka tidak harus diikuti apalagi hanya
sekedar ajakan6.
Ayat diatas merupakan lanjutan nasihat Lukman kepada anaknya. Bahwa sekecil
apapun itu, akan ada balasan dari perbuatan tersebut. Sebagaimana firman Allah dalam
Q.S Al-anbiya’/21:47, Kata ( ‫ ) لطيف‬diambil dari akar kata ‫ لطف‬lathafa yang berarti
lembut, halus. Artinya Allah maha halus yaitu walau sekecil apapun Allah
mengetahuinya. Nilai pendidikan yang bisa kita ambil yaitu pengarahan kepada manusia
bahwa tidak ada sesuatu yang dikerjakan melainkan ada balasan sekecil apapun itu. Dan
kita sebagai seorang pendidik, kita terus meluruskan walaupun menyangkut hal-hal kecil.

Pada Ayat selanjutnya adalah lanjutan nasihat dari Lukman kepada anaknya, terkait
perintah sholat, dan menyuruh anaknya memerintahkan kepada setiap orang untuk melakukan
hal-hal yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan kemungkaran dan bersabarlah. Karena hal
yang ketiga tersebut merupakan hal-hal yang diutamakan. Dalam menjalankan wasiat Lukman
tersebut tidaklah mudah melainkan ada banyak rintangan yang dihadapi ketika menyampaikan
hal-hal yang baik.
Pada ayat selanjutnya nasihat Lukman kali ini adalah ahlak dan sopan santun dalam
berinteraksi dengan sesama manusia. hal yang disebutkan diatas sering kali terjadi dalam
kehidupan sehari-ari kita. Kadang kala orang yang pernah kenal baik dengan kita, saat mendapati
posisi yang tinggi seakan malu dan memalingkan muka saat bertemu karena posisi dan status

6 Ibid,hlm.132
sosial sudah beda lagi dengan kita. Kata (ُ‫صعر‬
َ ‫ )ت‬tusha’ir terambil dari kata (ُ‫صعر‬
َ ‫ )ال‬ash-sha’ar
yaitu penyakit yang menimpa onta, dam menjadikan lehernya keseleo. Sehingga ini memaksakan
dia dan berupaya keras agar berpaling sehingga tekanan tidak tertuju pada syaraf lehernya yang
mengakibatkan rasa sakit. Dari kata inilah menggambarkan upaya keras dari seorang untuk
bersikap angkuh dan menghina orang lain 7, Telah digambarkan diatas nasihat Lukman kepada
anaknya, yaitu nasihat untuk tidak menyombongkan diri, dan jangan berjalan dengan angkuh.
Karena itu merupakan perbutan yang tidak disukai oleh Allah SWT.
Nilai pendidikan yang bisa kita ambil dari ayat ini adalah etika dalam berbicara atau
berdialog untuk tidak merendahkan orang yang kita ajak bicara atau bertukar fikiran. Ayat ini
mengajarkan kita konsep berdialog antara sesama manusia.

ِ ‫“ ) َم ْشيِكَُ فى ْق‬dan sederhanalah kamu dalam brjalan”.


Pada ayat selanjutnya Kata ( ‫ص ْدُ َوا‬
Yaitu berjalan secara sederhana maksudnya adalah tidak terlalu lambat dan tidak terlalu cepat
namun adil yaitu mengambil pertengahan.Kata (ُْ‫مِن ْغضضُْ َوا‬ ُْ َُ‫ص ْوتِك‬
َ ) “dan lunakkanlah suaramu.”
Yaitu janganlah kamu berlebihan dalam berbicara dan jangan mengeraskan suara pada sesuatu
yang tidak bermanfaat8.
ُِ ‫ص ْوتُ اْألص َْوا‬
Sehingga, dari itulah Allah SWT berfirman: (‫ت اَنك ََُر اِن‬ َ ‫“ )الحمي ُر ل‬Sesungguhnya
seburuk-buruk suara adalah suara keledai”. Mujahid dan banyak Ulama berkata: perumpamaan
keledai orang yang mengangkat suaranya tinggi-tingi, disamping itu merupakan hal yang
dimurkai oleh Allah. Nilai pendidikan yang bisa kita ambil jika dikaitkan dengan dunia
pendidikan, yaitu: dalam berbicara kita harus bertutur yang sopan dan tidak berlebihan dan ini
terkait dengan etika dalam diskusi.
3. QS. Al Baqarah/2:133
a. Ayat dan Terjemahan

“Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia


berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" mereka
menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim,
Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-
Nya".

7 Ibid,hlm.139
8 DR. Abdullah bin Muhammad, TAFSIR IBNU KATSIR Jilid 4. Hal 784.
b. Tafsiran Ayat
Ayat diatas menjelaskan peristiwa ketika Nabi Ya’qub bersama anak-anaknya,
saat ia menghadapi kematian merupakan pemandangan yang sangat besar petunjuknya,
kuat pengarahannya,dalam pengaruhnya. Kematian sudah diambang pintu. Namun masih
ada persoalan yang mengusik hatinya pada saat menghadapi kematian, Persoalan besar
tersebut tak lain adalah persoalan perihal Akidah Itulah pusaka yang akan ia tinggalkan
,Al-Qur’an bertanya kepada Bani Israil, “Apakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan
(tanda-tanda) maut?” Demikianlah yang terjadi, Allah memberikan kesaksian dan
menetapkannya. Dengan kesaksian dan penetapan ini, Allah mematahkan segala
argumentasi mereka untuk melakukan pengelabuan dan penyesatan. Dan dengan itu pula
diputuskanlah hubungan yang hakiki antara mereka dengan nenek moyang mereka
(Israil), Nabi Ya’qub.
C. Korelasi Ayat dengan Pendidikan Keluarga
1. QS. At-Tahrim/66:6
Pendidikan keluarga pada hakikatnya di mulai sejak pemilihan atau penentuan
jodoh. Nabi Muhammad menitik beratkan agar memilih jodoh yang kuat iman dan
kesalehanya. Sebab suami dan istri atau ayah dan ibu mempunyai peran yang sangat
penting dalam mendidik keluarga. Nabi bersabda “setiap anak itu terlahir dengan keadaan
fitrah, maka ibu dan ayahnua lah yang membuat anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau
Majusi”9. Ada tiga tahap yang sangat penting yang harus di lakukan oleh orang tua
terhadap anak-anaknya . pertama, ketika seorang ibu sedang mengandung. Pada saat
kehamilan itu , orang tua terutama ibu mesti meningkatkan intensitas dan kualitas
komunikasiya dengan Allah karena bagaimanapun juga kondisi orang tua dapat
mempengaruhi janin dalam kandunganya. Kedua, setelah lahir ia jga mesti di
komunikasikan kepada Allah. Nabi mengajarkan, agar orang tua mengadzankan dan
mengiqamahkan anak yang baru lahir. Dan tahap ketiga, ketika anak sudah mulai
dibesarkan dari hari kehari dan seterusnya, ia mesti tumbuh dan berkembang dalam
kesalehan lingkungan keluarga10.

9
Kadar M. Yusuf,Tafsir Tarbawi,(Jakarta:Amzah,2003),hlm.157-161
10
Ahmad Munir, Tafsir Tarbawi,(yogyakarta: Sukses Offset,2008),hlm.115
Berikut ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari surah at Tahrim/66:6 :
a. Perintah taqwa kepada Allah SWT dan berdakwah
b. Anjuran menyelamatkan didi dan keluarga dari api neraka
c. Pentingnya pendidikan islam sejak dini
d. Meninhgkatkan keimana kepada para malaikat Allah
2. QS. Lukman/31:13-19
Langkah-langkah Lukman mendidik anaknya dalam upaya mencapai ‘abdan
syakura dijelaskan dalam ayat 13 sampai ayat 19 dengan rincian sebagai berikut:
a. Larangan berbuat syirik, yaitu menyekutukan Allah dengan segala sesuatu
b. Perintah berbuat baik kepada kedua orang tua/ keharusan berbuat baik kepada
orang tua juga dibatasi oleh aturan-aturan Allah
c. Keimanan.
d. Shalat dan amar ma’ruf nahi munkar
e. Etika

Dari sisi redaksi, secara keseluruhan nasihat Lukman berisi sembilan perintah, tiga
larangan dan tujuh argumentasi.Sembilan perintah tersebut adalah: Berbuat baik kepada orang
tua, Syukur kepada Allah dan orang tua, Berkomunikasi dengan baik kepada orang tua,
Mengikuti pola hidup anbiya’ dan shalihin, Menegakkan shalat, Amar ma’ruf, Nahi
munkar,Sederhana dalam kehidupan, Bersikap sopan dalam berkomunikasi.
Adapun yang berbentuk larangan adalah: Larangan syirik, Larangan bersikap sombong,
Larangan berlebihan dalam kehidupan
Sedangkan ketujuh argumen tersebut adalah: Pertama Barang siapa bersyukur, sungguh
syukurnya itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa kufur, sesungguhnya Allah Maha Kaya dan
Maha terpuji,kedua Sesungguhnya syirik itu ialah kezaliman yang besar,ketiga Kepada_Nya
manusia dikembalikan, untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah diperbuatnya selama
hidup di dunia,keempat Sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu,kelima
Sesungguhnya semua itu merupakan ‘azmil umuur/ merupakan sesuatu yang telah
diwajibkan,Keenam Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong,ketujuh
Sesungguhnya sejelek-jelenya suara adalah suara keledai.
3. QS. Al-Baqarah/2:133
Ayat diatas menjelaskan pendidikan keluarga yang terpenting ditanamkan oleh orang tua
kepada anaknya adalah pendidikan Tauhid dan pematangan Aqidah anak, guna untuk
membentuk karakter kepribadian yang kuat yaitu supaya berpegang teguh pada Agama Allah
sampai akhir hayatnya, karena Tauhid adalah tujuan dari semua segi kehidupan manusia.
Orang tua diminta tidak hanya menyampaikan dan mengajarkan tauhid kepada anaknya
namun juga haruslah disertai dengan contoh, dan menghadirkan karakter kepribadian yang patut
diteladani oleh anak11.

11
Siti Sukriah,Tafsir Pendidikan Tauhid Keluarga dalam al Baqarah:132-133,Vol 6,No 2,Desember 2004,hlm 297
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Manusia memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan melalui pengalaman,


pengalaman itu terjadi dikarenakan interaksi manusia dengan lingkungan nya ,interaksi manusia
dengan lingkungan itu secara efesien dan efektif itu lah yang disebut dengan pendidikan, latar
belakang tempat berlangsung nya pendidikan itu disebut dengan lingkungan pendidikan,
khusunya pada lingkungan utama pendidikan adalah pendidikan dari keluarga

Pendidikan keluarga dapat diartikan sebagai usaha dan upaya orang tua dalam
memberikan bimbingan, pengarahan, pembinaan dan pembentukan kepribadian anak serta
memberikan bekal pengetahuan terhadap anak. beberapa yat-ayat yang membahas tentang
pendidikan keluarga dalam Al-Qur’an seperti yang terdapat dalam makalah adalah Surat At-
Tahriim ayat 6, Surat Luqman ayat 13-19, Surat Al-Baqarah ayat 133 , Konsep pendidikan dalam
keluarga yang pertama adalah membentuk pribadi anak dan selalu mengikuti perkembangan
anak, karena anak adalah generasi penerus yang akan membawa keluarga pada tahap berikutnya.
Anak yang terdidik baik tentu akan membawa kebaikan pula bagi keluarganya, begitupun
sebaliknya.

B. Kritik dan Saran

Demikianlah kami berusaha menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya, kami


menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah yang kami susun. Untuk itu mohon
kritik dan saran dari para pembaca dalam perbaikan makalah ini. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi pembaca dan pemakalah sendiri serta semakin mendekatkan kepada Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA

Ali Syaikh, Abdurrahman Bin Ishaq. TAFSIR IBNU KATSIR Jilid 4. Jakarta: Pustaka imam
Asy- Syafi’i.

Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XXVIII, Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1985.

Munir, Ahmad, Tafsir Tarbawi, Yogyakarta: SUKSES Offset, 2008.


Quthb, Sayyid, Tafsir Fi Dzilalil Qur’an Jakarta: Gema Insani Press, 2001.
Shihab, M. Quraish, Tafsir Al Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an Jakarta: Lentera
Hati, 2002
Sukriah,Siti, Tafsir Pendidikan Tauhid Keluarga dalam al Baqarah:132-133,Vol 6,No
2,Desember 2004
Yusuf, Kadar M, Tafsir Tarbawi, Jakarta : Amzah, 2003.