Anda di halaman 1dari 47

ASUHAN KEBIDANAN SECARA TEORI PADA ASUHAN KEBIDANAN

PADA AKSEPTOR KB IUD


Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas PPK 1 Secara Daring

SAFIRA ARI MARCHELINA


NIM.P27824318048

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
JURUSAN KEBIDANAN
PRODI D3 KEBIDANAN BANGKALAN
2020

i
LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan kebidanan dengan penyusunan laporan asuhan kebidanan yang


berjudul “ASUHAN KEBIDANAN SECARA TEORI PADA ASUHAN
KEBIDANAN PADA AKSEPTOR KB IUD Disusun Dalam Rangka Memenuhi
Tugas PPK 1 Secara Daring” disusun oleh:
Nama mahasiswa : Safira Ari Marchelina
Nim : P27824318048
Telah dibimbing dan disahkan oleh dosen pembimbing sebagai asuhan kebidanan
pada kehamilan (komprehensif) dalam kebidanan.
Hari :
Tanggal :
Nganjuk, April 2020

Mahasiswa

Safira Ari Marchelina


NIM P27824318048
Mengetahui,

Dosen Pembimbing Ketua Prodi DIII Kebidanan


Bangkalan

Deasy irawati,SST. M.Keb Suryaningsih. SST . M.Keb


NIP.197912082002122002 NIP . 197805242001122003

ii
LEMBAR KONSUL

Tanggal Materi konsul Tanda tangan

KATA PENGANTAR

iii
Dengan menyebut nama Allah S.W.T yang maha pengasih lagi maha
penyayang, kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayahnya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan asuhan
kebidanan secara teori yang telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai referensi.
Asuhan kebidanan secara teori disusun digunakan sebagai bukti laporan
komprehensif mahasiswa pada asuhan kebidanan pada aseptor kb iud, dan sebagai
bahan evaluasi pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa dalam memberikan asuhan,
dan dapat digunakan untuk menambah pengetahuan ibu dan keluarga.
Dalam hal ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, karena
itu pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada:
1. dr. Bambang Hadi Sugito, M. Kes., selaku Direktur Poltekkes Kemenkes
Surabaya
2. K. Kasiati, S. Pd., M. Kes., selaku ketua jurusan kebidanan Poltekkes
Kemenkes Surabaya
3. Suryaningsih, S. SiT., M. Keb., selaku ketua program studi D3 Kebidanan
Bangkalan Poltekkes Kemenkes Surabaya
4. Deasy irawati, SST. M.Keb, selaku pembimbing yang telah memberikan
bimbingan sehingga tugas ini dapat terselesaikan
5. Semua rekan mahasiswa seangkatan dan pihak-pihak yang terkait dan banyak
membantu dalam hal ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan tugas ini masih jauh
dari kesempurnaan, untuk itu pada kesempatan ini penulis mengharapkan masukan
dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan tugas ini.

Nganjuk, April 2020

iv
DAFTAR ISI

COVER............................................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN............................................................................ii
LEMBAR KONSUL.......................................................................................iii
KATA PENGANTAR....................................................................................iv
DAFTAR ISI...................................................................................................v
BAB 1 PENDAHULUAN...............................................................................1
1.1. Latar belakang...........................................................................................1
1.2. Tujuan........................................................................................................2
1.3. Manfaat......................................................................................................3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................4
2.1 Konsep Dasar Kontrasepsi.........................................................................4
2.2 Konsep dasar kontrasepsi IUD..................................................................7
BAB 3 ASKEB TEORI...................................................................................33
3.1 Pengkajian.................................................................................................33
3.2 Data Subyektif...........................................................................................33
3.3 Data Obyektif..............................................................................................37
3.4 Analisa........................................................................................................39
3.5 Penatalaksanaan..........................................................................................39
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................41

v
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keluarga Berencana (KB) adalah salah satu metode untuk meningkatkan
derajat kesehatan ibu dan anak dengan mengatur jarak kehamilan dan jumlah
kelahiran anak. Kontrasepsi merupakan suatu metode yang digunakan untuk
menghambat terjadinya kehamilan. metode ini digunakan untuk mengatur jarak
kehamilan atau gar tidak hamil lagi setelah jumlah anak yang diinginkan
tercapai. Cara kerja kontrasepsi sendiri adalah dengan mencegah terjadinya
fertilisasi antara ovum dan sperma sehingga kehamilan dapat dicegah (Affandi,
2012). Metode ini menjadi salah satu cara yang paling ampuh dalam
mengendalikan laju pertumbuhan penduduk dan menurunkan angka kesakitan
dan kematian ibu dan bayi.
Indonesia berada pada urutan keempat jumlah populasi terbesar setelah
Cina, India dan Amerika Serikat. Menurut Kepala Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional Sugiri Syarief, laju pertumbuhan penduduk
Indonesia sekitar 1,49 persen per tahun. Ini berarti setiap tahun jumlah populasi
membengkak 3,5 juta hingga 4 juta orang. Laju pertumbuhan penduduk di
Indonesia tahun 2012 mencapai 1,2%. Angka kelahiran kasar (Crude Birth
Rate/CBR) di Indonesia pada proyeksi penduduk tahun 2010-2035 yaitu 14,0 per
1000 penduduk. Angka unmet need di Indonesia pada pertengahan 2010
diperkirakan 9% atau lebih dari 5 juta pasangan usia subur. Keadaan ini
merupakan salah satu penyebab tingginya Angka Kematian Ibu di Indonesia
yaitu 228/100.000 kelahiran hidup. Di sisi lain, 98% wanita setelah melahirkan
belum ingin memiliki anak dulu sampai sekurang – kurangnnya selama 2 tahun.
Hal ini berarti setiap wanita membutuhkan metode kontrasepsi yang dapat

1
digunakan setelah bersalin sampai minimal 2 tahun setelah melahirkan (Buku
Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, 2012).
Saat ini pemerintah sedang menggalakkan penggunaan Metode Kontrasepsi
Jangka Panjang (MKJP). Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau Intra
Uterine Device (IUD) merupakan salah satu metode yang sangat dianjurkan oleh
BKKBN dengan tingkat efektifitas yang sangat tinggi. AKDR / IUD adalah suatu
alat kontrasepsi yang dipasang didalam rahim. Alat ini memiliki efektifitas
tinggi, kesuburan dapat kembali dengan mudah dan memiliki jangka waktu yang
lama (sampai dengan 10 tahun). IUD dapat dipakai oleh semua perempuan usia
produktif dan efektif segera setelah pemasangan dengan tingkat keefektifannya
cukup tinggi yaitu 0,1-1 kehamilan per 100 perempuan (BKKBN, 2010 ;
Affandi, 2012).
Untuk meningkatkan kesadaran wanita dalam menentukan pilihan metode
kontrasepsi yang cocok dengan kebutuhan dan kondisinya saat ini sangat
dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai dan tradisi
(Notoatmodjo, 2005). Oleh Karena itu, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap
dan menambah peserta baru keluarga berencana diperlukan komunikasi,
informasi dan edukasi yang diberikan kepada masyarakat (Hartanto, 2004). Peran
bidan sangat penting dalam memberikan asuhan kebidanan keluarga berencana
salah satu kewenangannya adalah melakukan konseling atau KIE untuk
memberikan gambaran tentang berbagai macam metode alat kontrasepsi
sehingga klien dipersilahkan untuk memilih kontrasepsi yang diyakini.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada pasien dengan
kontrasepsi IUD dengan menerapkan pola pikir melalui pendekatan
manajemen kebidanan dan pendokumentasian menggunakan SOAP.
1.2.2 Tujuan khusus
1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar KB IUD

2
2. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar asuhan kebidanan pada
akseptor KB IUD.
3. Mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada akseptor KB IUD.
4. Mahasiswa mampu mendokumentasikan asuhan kebidanan pada akseptor KB
IUD dengan menggunakan dokumentasi SOAP
5. Mahasiswa mampu melakukan pembahasan pada akseptor KB IUD
1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi mahasiswa
Dapat digunakan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan memberi
asuhan serta cara mendokumentasikan asuhan kebidanan pada akseptor KB
IUD.
1.3.2 Bagi Institusi dan Tempat Praktik
Sebagai bahan evaluasi terhadap pemberian asuhan kebidanan pada akseptor
KB IUD.
1.3.3 Bagi Pasien dan Keluarga
Dapat digunakan untuk menambah pengetahuan pada akseptor KB IUD
tentang efek samping, jadwal kunjungan, ketidaknyamanan umum dan cara
mengatasinya.

3
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Konsep Dasar Kontrasepsi


2.1.1 Definisi
Keluarga berencana adalah suatu intervensi dalam upaya meningkatkan
kesehatan ibu dan anak dengan cara menjarangkan angka kelahiran yang
merupakan salah satu bentuk hak asasi manusia. Kontrasepsi adalah suatu
usaha mencegah terjadinya pembuahan dengan tujuan agar tidak terjadi
kehamilan yang bersifat sementara atau permanen.
Kontrasepsi merupakan suatu metode yang digunakan untuk menghambat
terjadinya kehamilan. metode ini digunakan untuk mengatur jarak kehamilan
atau gar tidak hamil lagi setelah jumlah anak yang diinginkan tercapai. Cara
kerja kontrasepsi sendiri adalah dengan mencegah terjadinya fertilisasi antara
ovum dan sperma sehingga kehamilan dapat dicegah (Affandi, 2012).
2.1.2 Tujuan
Menurut WHO (1970), Keluarga Berencana merupakan tindakan yang
membantu individu atau pasangan suami istri untuk:
1. Mendapatkan objektif-objektif tertentu
2. Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan
3. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan
4. Mengatur interval di antara kehamilan
5. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan usia suami-istri
6. Menentukan jumlah anak dalam keluarga

2..1 Jenis – jenis alat kontrasepsi


Alat kontrasepsi secara garis besar terbagi menjadi:

4
1. Metode amenore laktasi (MAL)
Kontrasepsi yang mengandalkan pemberiamn air susu ibu (ASI) secara
esklusif, artinya hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan atau
minuman apapun lainnya. MAL dapat dipakai sebagai kontrasepsi bila ibu
menyusui secara penuh (full breast feeding) lebih efektif bila pemberian
lebih dari 8 x sehari, belum haid, umur bayi kurang dari 6 bulan.
2. Metode alamiah
a. Pantang berkala
Senggama dihindari pada masa subur, yaitu dekat dengan siklus haid
atau terdapat tanda-tanda kesuburan yaitu keluarnya lendir encer dari
liang vagina. Untuk perhitungan masa subur dapat dipakai rumus: silkus
terpanjang dikurangi 11, siklus terpandek dikurangi 18. Antara kedua
waktu tersebut, senggama dihindari
b. Suhu basal
Ibu dapat mengenali masa subur ibu dengan mengukur suhu badan
secara teliti dengan termometer khusus yang bisa mencatat perubahan
suhu sampai 0,10C untuk mendeteksi, bahkan suatu perubahan kecil suhu
tubuh.
c. Senggama terputus
Metode KB tradisional, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya
dari vagina sebelum ejakulasi.
3. Metode barrier
Metode kontrasepsi yang menggunakan alat yang dapat mencegah
pertemuan sel sperma dan sel telur baik dengan menghalangi sperma
memasuki saluran reproduksi wanita atau membunuh sel sperma itu sendiri.
Metode barrier terdiri dari kondom, diafragma dan sepermisida.
4. Kontrasepsi hormonal
a. Kontrasepsi pil

5
Metode dengan menambah hormon kedalam tubuh klien (pada
akseptor wanita) dalam bentuk pil yang harus dikonsumsi secara rutin
setiap hari. Terdiri dari dua jenis pil yakni pil progestin dan pil
kombinasi.
b. Kontrasepsi suntikan hormonal (progesterone
dan kombinasi)
Metode dengan menambah hormon kedalam tubuh klien (pada
akseptor wanita) dalam bentuk Suntikkan yang diberikan melalui injeksi
IM. Kontrasepsi suntikan hormonal terbagi atas dua yatu suntikan
progestin yang berisi DMPA dan diberikan setiap 3 bulan sekali dan
kontrasepsi suntikan kombinasi yang berisi medroksiprogesteron dan
estradiol yang diberikan setiap bulan sekali.
c. Implan
Alat kontrasepsi berbentuk batang yang berisi hormone progestin
atau turunannya yang dipasang dibawah kulit dan efektif selama 3 – 5
tahun.
5. IUD (Intra Uterin Device)
IUD/AKDR adalah suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam
rahim terbuat dari plastik halus (Polyethelen) untuk mencegah terjadinya
konsepsi atau kehamilan (BKKBN, 2010).
6. Kontrasepsi mantap
Kontrasepsi digunakan pada pasangan yang sudah merasa cukup
dengan jumlah anaknya dan tidak mengginkan untuk menambah lagi jumlah
anaknya. Ada dua cara, yaitu: Tubektomi / MOW yakni prosedur bedah
sukarela untuk menghentikan fertilitas (kesuburan) seorang perempuan dan
Vasektomi / MOP yakni prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas
reproduksi pria dengan melakukan oklusi vasa vas deferens sehingga alur
transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi tidak terjadi.
2..2 Metode pemilihan alat kontrasepsi

6
Dalam menentukan pilihan menggunakan alat kontrasepsi calon akseptor dapat
memperhatikan prinsip berikut ini: “MESRA”
 Murah
Artinya memang lebih murah bila dibandingkan dengan alat
kontrasepsi lainnya apalagi berjangka panjang.
 Efektif
Artinya angka kegagalan untuk kehamilan kecil kurang lebih 1/1000
akseptor.
 Sederhana
Artinya peralatan yang digunakan harus sederhana.
 Resiko Rendah
Artinya angka kematian akibat tindakan ini hampir tidak ada.
 Aman
Artinya tidak memberika gejala efek samping kasus komplikasi
hematoma sedikit.
2.4 Konsep dasar kontrasepsi IUD
2.2.1 Definisi
AKDR / IUD adalah suatu alat kontrasepsi yang dipasang didalam rahim. Alat
ini memiliki efektifitas tinggi, kesuburan dapat kembali dengan mudah dan
memiliki jangka waktu yang lama (sampai dengan 10 tahun). IUD dapat
dipakai oleh semua perempuan usia produktif dan efektif segera setelah
pemasangan (Affandi, 2012). IUD tergolong alat kontrasepsi mekanik karena
menggunakan benda asing yang kemudian dimasukkan ke dalam rahim. Cara
kerja dengan menimbulkan reaksi peradangan, mencegah kapasitasi
spermatozoa dan mencegah terjadinya implantasi (Manuaba, 2012).
IUD/AKDR adalah suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim
terbuat dari plastik halus (Polyethelen) untuk mencegah terjadinya konsepsi
atau kehamilan (BKKBN, 2010).

7
2.2.2 Jenis AKDR
1. AKDR CuT – 380A
Berukuran kecil, terbuat dari bahan plastic lentur, berbentuk huruf T
diselubungi oleh kawat halus yang terbuat dari tembaga (Cu). Lilitan
tembaga pada batang vertical dan luas seluas 33 mm 2 pada masing – masing
lengan horizontal. Tersedia di Indonesia dan mudah ditemukan. Memiliki
efektifitas hingga 8 tahun tetapi rekomendasi FDA adalah 10 tahun.
2. AKDR CuT – 380Ag
Seperti CuT – 380A, tetapi ditambahkan inti Ag pada kawat Cu – nya
dan memiliki efektifitas hingga 5 tahun.
3. Nova T (Novagard)
Alat kontrasepsi intra uteri terbuat dari poliethilen berbalut kawat
tembaga dengan perak di bagian tengahnya. Luas bagian permukaan
tembaga sekitar 200 mm2 dengan inti Ag dalam kawat tembaganya. Efektif
sampai dengan 5 tahun.
4. CuT-220C
Panjang 36 mm dan lebar 32 mm, dengan 220 mm2 Cu di dalam tujuh
selubung, 2 pada lengan dan 5 pada batang vertikalnya. Jenis ini memiliki
daya kerja selama 3 tahun.
5. Delta T
Modified CuT-220C dengan penambahan benang chromic catgut pada
lengan atas, terutama untuk insersi post partum.
6. MLCu-375 (Multiload Cu 375)
Terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan
kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Batangnya diberi gulungan tembaga
dengan luas permukaan 375 mm2 dan memiliki daya kerja 5 tahun. Ada 3
ukuran, yaitu standar, short, dan SL.
7. AKDR dengan Progestin

8
Disebut juga IUS (Intra uterine system) yaitu bingkai berbentuk T
yang terbuat dari plastic dan mempunyai sebuah reservoir steroid yang
mengelilingi batang vertical yang berisi hormone. Jenis IUD yang
mengandung hormone steroid progesterone atau levonorgestrel (Affandi,
2012). Beberapa jenis IUS:
a. Progestasert (Alza – T)
Alat ini mempunyai panjang 36 mm dan lebar 32 mm dengan 2
benang ekor berwarna hitam berwarna 38 µg progesterone dan bariun
sulfat dalam dasar silicon. Efektif sampai dengan 18 bulan dengan
mengeluarkan dosis 65 mcg progesterone setiap harinya.
b. LNG – 20
Mirip dengan progestasert tetapi berisi levonorgestrel. Alat ini
mengeluarkan 20 µg levonorgestrel selama 24 jam.
c. Mirena®
Mempunyai panjang 32 mm dan diameter 4,8 mm. Mirena® juga
berisi barium sulfat yang mengeluarkan radio-opaqnya sendiri. Mirena®
memiliki masa hidup 3 tahun, tetapi durasi pemakaian yang dianjurkan
selama 5 tahun.
2.2.3 Cara kerja
IUD merupakan benda asing dalam Rahim sehingga menyebabkann reaksi
peradangan dengan adanya penumpukan leukosit, makrofag dan limfosit. IUD
memicu pengeluaran prostaglandin yang mencegah kapasitasi spermatozoa.
Endometrium yang dipenuhi oleh leukosit, makrofag dan limfosit
mengakibatkan blastokis tidak bisa berimplantasi pada dinding endometrium.
Selain menyebabkan rekasi peradangan, ion Cu pada IUD dapat menyebabkan
gangguan motilitas spermatozoa sehingga mengurangi kemampuannya untuk
melakukan fertilisasi (Manuaba, 2010).
Penelitian lain menyebutkan bahwa pada pemakaian IUD terjadi
peningkatan kontraksi uteri sehingga dapat mencegah terjadinya implantasi. Hai

9
ini kemungkinan terjadi karena peningkatan kadar prostaglandin dalam uterus
wanita tersebut.
2.2.4 Efektifitas

Efektifitas penggunaan sampai 99,4% (mencegah 1-5 kehamilan per 100


wanita pertahun) dan dapat mencegah kehamilan hingga 5-10 tahun, tergantung
jenis AKDR (Sulistyawati, 2012). Efektivitas AKDR tipe T efektivitasnya
sangat tinggi yaitu berkisar antara 0,6-0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam
1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan). Sedangkan AKDR
dengan progesterone antara 0,5-1 kehamilan per 100 perempuan pada tahun
pertama penggunaan (Saifuddin, 2003; MK-67,73).
1. AKDR post-plasenta telah dibuktikan tidak menambah resiko infeksi,
perforai dan perdarahan.
2. Diakui bahwa ekspulsi lebih tinggi (6-10%) dan ini harus disadari oleh
pasien; bila mau akan dapat dipasang lagi.
3. Kemampuan penolong meletakkan di fundus sangat memperkecil resiko
ekspulsi. Oleh karena itu diperlukan pelatihan.
4. Kontraindikasi pemasangan post-plsenta ialah: ketuban pecah lama, infeksi
intrapartum, perdarahan post partum.
2.2.5 Persyaratan pemakaian
Seorang wanita dapat menggunakan IUD Cu dengan baik dan efektif bila
memenuhi syarat berikut (Affandi, 2012):
1. Yang dapat menggunakan kontrasepsi IUD:
a. Usia reproduktif
b. Nullipara
c. Ingin menggunakan kontrasepsi jangka panjang
d. Ibu menyusui
e. Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya
f. Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi

10
g. Risiko rendah dari IMS
h. Tidak menghendaki metode hormonal
i. Tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari
j. Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari sanggama
2. Yang mungkin dapat menggunakan kontrasepsi IUD / AKDR:
a. Perokok
b. Pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak terlihat adanya
infeksi
c. Sedang memakai antibiotika atau anti kejang
d. Gemuk ataupun yang kurus
e. Sedang menyusui
Selain itu, ibu penderita tumor jinak payudara, kanker payudara, penyakit
jantung (termasuk penyakit jantung katup dapat diberi antibiotika sebelum
pemasangan IUD), diabetes, penyakit hati atau empedu, malaria, skistosomiasis
(tanpa anemia), penyakit tiroid, riwayat stroke, epilepsi, TBC non pelvik,
mengalami pusing, sakit kepala, tekanan darah tinggi, Varises di tungkai atau di
vulva, maupun setelah kehamilan ektopi atau pembedahan pelvik dapat
menggunakan IUD/AKDR.
3. Yang tidak dapat menggunakan kontrasepsi IUD / AKDR:
a. Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil)
b. Perdarahan vagina yang tidak diketahui (sampai dapat dievaluasi)
c. Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis)
d. Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau
abortus septik
e. Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang
dapat mempengaruhi kavum uteri
f. Penyakit trofoblas yang ganas
g. Diketahui menderita TBC pelvik
h. Kanker alat genital

11
i. Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm
2.2.6 Keuntungan dan Kerugian
Berikut ini merupakan keuntungan dan kerugian kontrasepsi IUD menurut
Manuaba (2010):

1. Keuntungan
a. Penyulit tidak terlalu berat
b. IUD dapat diterima oleh masyarakat dunia, termasuk Indonesia dan
menempati urutan ketiga dalam pemakaiannya
c. Pemasangan tidak memerlukan alat medis dan teknis yang sulit
d. Kontrol medis yang ringan
e. Pulihnya kesuburan setelah AKDR dicabut berlangsung baik.
2. Kerugian
a. Masih terjadi kehamilan dengan AKDR in situ
b. Terdapat perdarahan (spotting dan menometroragia)
c. Leukorea, sehingga menguras protein tubuh dan liang senggama terasa
lebih basah
d. Dapat terjadi infeksi
e. Tingkat akhir infeksi menimbulkan kemandulan primer atau sekunder
serta kehamilan ektopik
f. Benang AKDR dapat menimbulkan perlukaan portio uteri dan
mengganggu hubungan seksual
Sedangkan keuntungan dan kerugian IUD menurut Saifuddin (2010) adalah
sebagai berikut:
1. Keuntungan
a. Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi yaitu >0,6-0,8 kehamilan/1000
perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125-170
kehamilan)

12
b. AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan
c. Metode kontrasepsi jangka panjang (10 tahun proteksi /dari CuT-380A
dan tidak perlu diganti
d. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat
e. Tidak mempengaruhi hubungan seksual
f. Meningkatkan kenyamanan seksual karena ti4kdak perlu takut untuk
hamil
g. Tidak mempunyai efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT-
380A)
h. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
i. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila
tidak terjadi infeksi)
j. Dapat digunakan sampai menopouse (1 tahun atau lebih setelah haid
terakhir)
k. Tidak ada interaksi dengan obat-obat
l. Membantu mencegah kehamilan ektopik
2. Kerugian
a. Efek samping yang umum terjadi:
b. Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan
berkurang setelah 3 bulan pemakaian)
c. Haid lebih lama dan banyak
d. Perdarahan (spotting) antar menstruasi
e. Saat haid lebih sakit
3. Komplikasi lain:
a. Merasakan sakit dan kejang selama 3-5 hari setelah pemasangan
b. Perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan
penyebab anemia
c. Perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangannya benar)
d. Tidak mencegah IMS termasuk HIV / AIDS

13
e. Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang
sering berganti pasangan
f. Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS
memakai AKDR. PRP dapat memicu infertilitas
g. Prosedur medis termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam
pemasangan AKDR. Seringkali perempuan takut selama pemasangan
h. Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan
AKDR. Biasanya menghilang dalam 1-2 hari
i. Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri, petugas kesehatan
terlatih yang harus melepaskan AKDR
j. Mungkin AKDR keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila
AKDR dipasang setelah melahirkan)
k. Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR
untuk mencegah kehamilan normal
l. Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu.
Untuk melakukan ini perempuan harus memasukkan jarinya ke dalam
vagina, sebagian perempuan tidak mau melakukan hal ini.
2.2.7 Efek Samping

Efek samping yang sering dan mungkin terjadi pada pengguna akseptor
kontrasepsi IUD/AKDR menurut Sifuddin (2010) adalah sebagai berikut:
1. Perdarahan
Umumnya setelah pemasangan AKDR terjadi perdarahan sedikit-
sedikit yang cepat terhenti. Kalau pemasangan dilakukan sewaktu haid
perdarahan yang sedikit-sedikit ini tidak akan diketahui oleh akseptor.
Keluhan yang sering terjadi pada pemakai AKDR adalah menoragia,
spotting, metroragia. Jika terjdi perdarahan banyak yang tidak dapat diatasi,
sebaiknya AKDR dikeluarkan dan diganti AKDR yang mempunyai ukuran
kecil. Jika perdarahan sedikit-sedikit dapat diusahakan mengatasinya dengan

14
pengobatan konservatif. Pada perdarahan yang tidak berhenti dengan
tindakan-tindakan tersebut diatas, sebaiknya AKDR diangkat dan digunakan
pilihan kontrasepsi yang lain.
2. Rasa nyeri dan kejang di perut
Terjadi segera setelah pemasangan AKDR biasanya rasa nyeri ini
berangsur-angsur hilang dengan sendirinya. Rasa nyeri dapat dihilangkan
dengan memberi analgesik. Jika keluhan berlangsung terus, sebaiknya
AKDR dikeluarkan dan diganti dengan AKDR yang mempunyai ukuran
yang lebih kecil.
3. Gangguan pada suami
Kadang-kadang suami dapat merasakan adanya benang AKDR
sewaktu senggama, dikarenakan oleh benang AKDR yang keluar dari portio
uteri terlalu pendek atau terlalu panjang. Untuk mengurangi/ menghilangkan
keluhan ini, benang AKDR yang terlalu panjang dipotong sampai kira-kira
2-3cm dari portio, sedang jika benang AKDR terlalu pendek sebaiknya
AKDRnya diganti. Dengan cara ini biasanya keluhan suami akan hilang.
4. Ekspulsi (pengeluaran sendiri)
Ekspulsi AKDR dapat terjadi untuk sebagian atau seluruhnya. Ekspulsi
biasanya terjadi waktu haid dan dipengaruhi oleh:
a. Umur dan paritas
Pada paritas yang rendah (1 atau 2), kemungkinan ekspulsi 2 kali lebih
besar daripada pada paritas 5 atau lebih, demikian pula pada wanita muda,
ekspulsi lebih sering terjadi daripada wanita yang umurnya lebih tua.
b. Lama pemakaian
Ekspulsi paling sering terjadi pada 3 bulan pertama setelah pemasangan.
Setelah itu angaka kejadian menurun dengan tajam.
c. Ekspulsi sebelumnya
Pada wanita yang pernah mengalami ekspulsi, maka pada pemasangan
kedua kalinya, kecencerungan untuk terjadinya ekspulsi lagi ialah sebesar

15
50%. Jika terjadi ekspulsi, pasangkanlah AKDR jenis yang sama, tetapi
dengan ukuran yang lebih besar daripada sebelumnya. Dapat juga diganti
dengan AKDR jenis lain atau dipasang 2 AKDR.
d. Jenis dan ukuran
Jenis dan ukuran AKDR yang dipasang sangat mempengaruhi frekuensi
ekspulsi. Pada Lippes Loop, makin besar ukuran AKDR makin kecil
kemungkinan terjadinya ekspulsi.
e. Faktor psikis
Oleh karena motilitas usus dapat dipengaruhi oleh faktor psikis, maka
frekuensi ekspulsi lebih banyak dijumpai pada wanita-wanita yang
emosional dan ketakutan, atau yang mempunyai psikis labil. Kepada
wanita-wanita seperti ini, penting diberikan penerangan yang cukup
sebelum dilakukan pemasangan AKDR.
2.2.8 Penanganan efek samping yang umum dan permasalahan yang lain
Tabel 2.1
Penanganan efek samping yang umum dan permasalahan yang lain
Efek samping/ permasalahan Penanganan
Amenore Periksa apakah sedang hamil, apabila tidak,
jangan lepas AKDR. Lakukan konseling dan
selidiki penyebab amenore apabila
dikehendaki. Apabila hamil, jelaskan dan
sarankan untuk melepas AKDR apabila
talinya terlihat dan kehamilan kurang dari 13
minggu, AKDR jangan dilepaskan. Apabila
klien sedang hamil dan ingin
mempertahankan kehamilannya tanpa
melepas AKDR, jelaskan adanya resiko
kemungkinan terjadinya kegagalan
kehamilan dan infeksi serta perkembangan

16
kehamilan harus lebih diamati dan
diperhatikan
Kejang Pastikan dan tegaskan adanya Penyakit
Radang Panggul dan penyebab lain dari
kekejangan. Tanggulangi penyebabnya
apabila ditemukan. Apabila tidak ditemukan
penyebabnya beri analgesic untuk sedikit
meringankan. Apabila klien mengalami
kejang yang berat, lepaskan AKDR dan
bantu klien menentukan metode kontrasepsi
yang lain
Perdarahan vagina yang hebat dan Pastikan dan tegaskan adanya infeksi pelvic
tidak teratur dan kehamilan ektipok. Apabila tidak ada
kelainan patologis, perdarahan berkelanjutan
serta perdarahan hebat, lakukan konseling
dan pemantauan. Beri ibuprofen (800mg 3x
sehari dalam 1 minggu) untuk mengurangi
perdarahan berikan tablet besi (1 tablet setiap
hari selama 1 sampai 3 bulan). AKDR
memungkinkan dilepas apabila klien
menghendaki. Apabila klien telah memakai
AKDR selama lebih dari 3 bulan dan
diketahui menderita anemi (Hb < 7gr%)
anjurkan untuk melepas AKDR dan bantuah
memilih metode lain yang sesuai
Benang hilang Pastikan adanya kehamilan atau tidak.
Tanyakan apakah AKDR terlepas. Apabila
tidak hamil dan AKDR tidak terlepas,
berikan kondom. Periksa talinya di dalam

17
saluran endiserviks dan kavum uteri (apabila
memungkinkan adanya peralatan dan tenaga
terlatih) setelah masa haid berikutnya.
Apabila tidak ditemukan rujuklah ke dokter,
lakukan X-Ray atau pemeriksaan ultrasound.
Apabila tidak hamil dan AKDR yang hilang
tidak ditemukan, pasanglah AKDR baru atau
bantulah klien menemukan metode baru
Adanya pengeluaran cairan dari Pastikan pemeriksaan untuk IMS. Lepsakan
vagina/ dicurigai HPP AKDR apabila ditemukan menderita atau
sangat dicurigai menderita gonorhoe atau
infeksi klamidial, lakukan pengobatan yang
memadai. Bila PRP obati dan lepas AKDR
sesudah 48 jam. Apabila AKDR dikeluarkan,
beri metode lain sampai masalah teratasi

2.2.9 Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada pengguna akseptor kontrasepsi IUD /


AKDR menurut Sifuddin (2009) adalah sebagai berikut:
1. Infeksi
AKDR itu sendiri, atau benang yang berada di dalam vagina umumnya
tidak menyebabkan terjadinya infeksi jika alat-alat yang digunakan steril.
Infeksi mungkin terjadi karena disebabkan oleh sudah adanya infeksi yang
subakut atau menahun pada traktus genitalis sebelum pemasangan AKDR.
2. Perforasi
Umumnya perforasi terjadi sewaktu pemasangan AKDR walaupun
dapat terjadi pula dikemudian hari. Pada permulaan hanya ujung AKDR saja
yang menembus dinding uterus, tetapi lama kelamaan dengan adanya
kontraksi uterus, AKDR terdorong lebih jauh menembus dinding uterus,

18
sehingga akhirnya sampai ke rongga perut. Kemungkinan adanya perforasi
harus diperhatikan apabila pada pemeriksaan dengan spekulum, benang
AKDR tidak kelihatan. Dalam hal ini pada pemeriksaan dengan sonde uterus
atau mikrokuret tidak dirasakan AKDR dalam rongga uterus. Jika ada
kecurigaan kuat tentang terjadinya perforasi, sebaiknya dilakukan foto
rontgen, dan jika tampak di foto AKDR dalam rongga panggul, hendaknya
dilakukan histerografi untuk menetukan apakah AKDR terletak di dalam
atau diluar kavum uteri. Dewasa ini dapat dilakukan dengan USG
transvaginal atau USG transabdominal.
3. Kehamilan
Jika timbul kehamilan pada AKDR in situ, tidak akan timbul cacat
pada bayi baru lahir, oleh karena AKDR terletak antara selaput ketuban dan
dinding rahim. Angka keguguran dengan AKDR in situ tinggi. Jika
ditemukan kehamilan dengan AKDR in situsedang benangnya masih
kelihatan, sebaiknya AKDR dikeluarkan oleh karena kemungkinan
terjadinya abortus setelah AKDR itu dikeluarkan lebih kecil daripada jika
AKDR dibiarkan terus berada dalam rongga uterus. Jika benang AKDR
tidak kelihatan, sebaiknya AKDR dibiarkan saja berada dalam uterus.
2.2.10 Pemasangan dan pencabutan IUD

Sebelum pemasangan AKDR dilakukan, sebaiknya diperlihatkan pada


akseptor bentuk AKDR yang dipasang, dan bagaimana AKDR tersebut terletak
dalam uterus setelah terpasang. Perlu dijelaskan kemungkinan terjadinya efek
samping seperti perdarahan, rasa sakit, atau AKDR keluar sendiri. Untuk
memilih AKDR yang akan dipasang, terlebih dahulu ditentukan panjangnya
rongga uterus. Selalu diusahakan untuk memasang AKDR yang mempunyai
ukuran yang sebesar mungkin oleh karena dengan memakai AKDR yang
mempunyai ukuran besar, kegagalan dan kecenderungan untuk ekspulsi akan

19
berkurang. Sebaliknya, ukuran yang lebih kecil sebaiknya dipasang pada
akseptor yang mengalami banyak perdarahan dan rasa sakit.
1. Waktu Pemasangan
Menurut Saifuddin (2009), AKDR dapat dipasang dalam keadaan
berikut ini:
a. Sewaktu haid sedang berlangsung
Pemasangan AKDR pada waktu ini dapat dilakukan pada hari-hari
terakhir haid. Keuntungan pemasangan AKDR pada waktu ini antara lain:
1) Pemasangan lebih mudah oleh karena serviks pada waktu itu agak
terbuka dan lembek
2) Rasa nyeri tidak seberapa keras
3) Perdarahan yang timbul sebagai akibat pemasangan tidak seberapa
dirasakan
4) Kemungkinan pemasangan AKDR pada uterus yang sedang hamil
tidak ada
b. Sewaktu postpartum
Pemasangan AKDR setelah melahirkan dapat dilakukan:
1) Secara dini (immediate insertion) yaitu AKDR dipasang pada wanita
yang melahirkan sebelum dipulangkan dari rumah sakit, yakni segera
setelah plasenta lahir atau selama 48 jam pertama.
2) Secara langsung (direct insertion) yaitu AKDR dipasang dalam masa 3
bulan setelah partus atau abortus
3) Secara tidak langsung (indirect insertion) yaitu AKDR dipasang
sesudah masa 3 bulan setelah partus atau abortus atau setelah 6 bulan
apabila ibu menggunakan metode amenore laktasi.
4) Pemasangan AKDR dilakukan pada saat yang tidak ada hubungan
sama sekali dengan partus atau abortus

20
Perlu diingat, angka ekpulsi tinggi pada pemasangan segera atau
selama 48 jam pascapersalinan. Bila pemasangan AKDR tidak dilakukan
dalam waktu seminggu setelah bersalin, sebaiknya AKDR ditangguhan
sampai 6-8 minggu postpartum oleh karena jika pemasangan AKDR
dilakukan antara minggu kedua dan minggu keenam setelah partus,
bahaya perforasi atau ekspulsi lebih besar.
c. Sewaktu postabortum
Pemasangan IUD dapat dilakukan segera atau dalam waktu hari
postabortum, apabila tidak ada gejala infeksi.
d. Selama 1 sampai 5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi
e. Beberapa hari setelah haid terakhir
Dalam hal ini wanita yang bersangkutan dilarang untuk bersenggama
sebelum AKDR dipasang.
2. Prosedur pemasangan dan pencabutan AKDR
Sebagian besar masalah dengan AKDR (ekspulsi, infeksi dan perforasi)
disebabkan oleh pemasangan yang kurang tepat. Untuk mengurangi masalah
yang timbul setelah pemasangan AKDR semua tahap pemasangan harus
dilakukan dengan hati-hati dan lembut, dengan menggunakan upaya
pencegahan infeksi
a. Pemasangan IUD
1) Pencegahan infeksi
Untuk mengurangi resiko infeksi pasca pemasangan yang dapat terjadi
pada klien, petugas klinik harus berupaya untuk menjaga lingkungan
yang bebas dari infeksi dengan cara berikut
a) Tidak melakukan pemasangan bagi klien dengan riwayat kesehatan
maupun hasil pemeriksaan fisiknya menunjukkan IMS.
b) Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan setelah
tindakan.

21
c) Bila perlu, minta klien untuk membersihkan daerah genital sebelum
melakukan pemeriksaan panggul.
d) Gunakan instrument dan pakai sepasang sarung tangan tang telah di
DTT atau dapat menggunakan sarung tangan periksa sekali pakai.
e) Setelah memasukkan speculum dan memriksa serviks, usapkan
larutan antiseptic beberapa kali secara merata pada serviks dan
vagina sebelum memulai tindakan.
f) Memasukkan AKDR dalam kemasan sterilnya.
g) Gunakan teknik “tanpa sentuh” pada saat pemasangan AKDR untuk
mengurangi kontaminasi kavum uteri.
h) Buang bahan-bahan terkontaminasi (kain kasa, kapas, sarung tangan
sekali pakai) dengan benar.
i) Segera lakukan dekontaminasi peralatan dan bahan-bahan pakai
ulang dalam larutan klorin 0.5 % setelah digunakan.
2) Persiapan alat dan bahan

Peralatan dan instrument yang dianjurkan untuk pemasangan yaitu:


a) Bivalve speculum
b) Tenakulum
c) Sonde uterus
d) Forsep/korentang
e) Gunting Sibol
f) Mangkuk untuk larutan antiseptic
g) Sarung tangan DTT
h) Cairan antiseptic untuk membersihkan servik
i) Kain kasa atau kapas
j) Sumber cahaya yang cukup untuk menerangi serviks
k) Copper T 380 A AKDR yang masih belum rusak dan terbuka

22
3) Langkah-langkah memasukkan lengan AKDR Copper T 380A di
dalam kemasan steril
Jangan membuka kemasan steril yang berisi AKDR atau
memasukkan lengannya sampai memastikan klien dapat dipasang
AKDR (yaitu setelah selesai pemeriksaan panggul, termasuk
pemeriksaan speculum dan bimanual), jangan memasukkan lengan
AKDR dalam tabung inserter lebih dari 5 menit sebelum dimasukkan
ke dalam uterus. (pada waktu memasukkan lengan AKDR di dalam
kemasan sterilnya, tidak perlu memakai sarung tangan steril)
- Langkah 1
Pastikan batang AKDR selurihnya berada di dalam tabung
inserter (sebagian batang AKDR sering keluar dari tabung inserter
meskipun kemasannya belum dibuka) dan ujung tabung inserter
yang berlawanan dengan ujung yang berisi AKDR berada di dekat
tempat membuka kemasan.
- Langkah 2
Letakkan kemasan di atas permukaan datar, keras dan bersih,
dengan kertas penutup yang transparan berada di atas. Buka kertas
penutup di bagian ujung yang berlawanan dari tempat AKDR
sampai kira-kira sepanjang setengah jarak dengan leher biru.
- Langkah 3
Angkat kemasan dengan memegang bagian yang sudah dibuka
(hati-hati jangan sampai AKDR keluar dari tabung inserter). Kedua
bagian kertas penutup yang sudah terbuka dilipat ke setiap sisinya
dan di pegang saat mengangkat, sehingga pendorong tetpa steril
waktu dimasukkan ke dalam tabung inserter. Dengan tangan yang
lain, masukkan pendorong ke dalam tabung inserter dan dorong
hati-hati sampai menyentuh ujung batang AKDR
- Langkah 4

23
Letakkan kembali kemasan pada tempat datar dengan bagian
transparan menghadap ke atas
- Langkah 5
Pegang dan tahan ke 2 ujung lengan AKDR dari atas penutup
transparan dengan jari telunjuk dan ibu jari. Tangan kanan
mendorong kertas pengukur dari ujung kemasan yang sudah dibuka
sampai ke ujung kemasan yang masih tertutup, sehingga lengan
AKDR berada di atas kertas pengukur. Sambil tetap memegang
ujung ke 2 lengan, dorong inserter dengan tangan kanan sampai ke
pangkal lengan sehingga ke 2 lengan akan terlipat mendekati tabung
inserter
- Langkah 6
Tahan ke 2 lengan yang sudah terlipat tersebut dengan
menggunakan ibu jari dan jari telunjuk tangna kiri. Tarik tabung
inserter meleati 2 ujung lengan, kemudian dorong kembali dan
putar sampai ke 2 ujung lengan masuk ke dalam tabung inserter dan
terasa ada tahanan yaitu pada batas lempengan tembaga. Bagian
lengan yang mempunyai lempengan tembaga tidak bisa dimasukkan
ke dalam tabung inserter, sehingga tabung inserter jangan didorong
terus kalau sudah terasa ada tahanan.
- Langkah 7
Leher biru pada tabung inserter digunakan sebagai tanda
kedalaman kavumuteri dan petunjuk arah mana lenan akan
membuka saat dikeluarkan dari tabung inserter. Pegang leher biru
dari atas penutup transparan dan dorong tabung inserter sampai
jarak antara ujung lengan yang terlipat dengan ujung leher biru
bagian depan sama panjangnya dengan kedalaman kavumuteri yang
telah diukur dengan sonde. Putar tabung inserter sampai sumbu

24
panjang leher biru berada pada posisi horizontal sebidang dengan
lengan AKDR
- Langkah 8
AKDR sekarang siap untuk dipasang pada uterus. Buka seluruh
penutup transparan secara hati-hati. Pegang tabung inserter yang
sudah berisi AKDR dalam posisi horizontal agar AKDR dan
pendorong tidak jatuh. Jangan lepas AKDR sebelum tabung inserter
mencapai fundus. Sebelum dipasang, tabung inserter jangan sampai
tersentuh permukaan yang tidak steril agar tidak terkontaminasi.
4) Langkah – langkah pemasangan IUD
- Langkah 1. Konseling awal
Konseling awal dilakukan dengan menyapa klien dengan ramah
dan memperkenalkan diri serta menanyakan tujuan kedatangannya.
Konseling dengan memberi informasi umum tentang keluarga
berencanadan tentang jenis kontrasepsi IUD yang tersedia serta
keuntungan danketerbatasan dari masing-masing jenis tersebut.
- Langkah 2. Konseling metode khusus
Petugas memberikan jaminan atas kerahasiaan yang diperlukan
klien, kemudian mengumpulkan data-data pribadi klien,
menanyakan tujuan reproduksi yang diinginkan, mendiskusikan
kebutuhan, pertimbangan dan kekhawatiran klien dengan sikap
yang simpatik. Petugas membantu klien untuk memilih metode
yang tepat dan menjelaskan kemungkinan efek samping IUD.
- Langkah 3. Konseling pra pemasangan dan seleksi klien
Petugas melakukan seleksi klien (anamnesis) secara cermat
untuk
memastikan tidak ada masalah kesehatan untuk menggunakan IUD
danmenjelaskan bahwa perlu dilakukan pemeriksaan fisik dan
panggul.

25
- Langkah 4. Pemeriksaan panggul
Klien dianjurkan untuk mengosongkan kandung kemih dan
mencuci area genetalia dengan menggunakan sabun dan air. Petugas
mencuci tangan kemudian membantu klien untuk naik ke meja
pemeriksaan. Pemeriksaan dengan melakukan palpasi daerah perut
untuk mengetahui apakah ada nyeri, benjolan atau kelainan lainnya
di daerah suprapubik. Klien dikenakan kain penutup untuk
pemeriksaan panggul. Langkah selanjutnya mengatur arah sumber
cahaya untuk melihat servik, kemudian memakai sarung tangan
DTT serta mengatur penempatan peralatan dan bahan-bahan yang
akan digunakan dalam wadah steril atau DTT. Inspeksi pada
genetalia eksterna dan palpasi kelenjar skene dan bartholini untuk
mengamati adanya nyeri atau duh vagina. Langkah berikutnya
memasukkan speculum vagina untuk melakukan pemeriksaan
inspekulo vagina tentang adanya lesi atau duh pada vagina dan
inspeksi serviks, kemudian spekulum dikeluarkan dengan hati-hati
dan diletakkan kembali pada tempat semula dengan tidak
menyentuh peralatan lain yang belum digunakan. Pemeriksaan
bimanual dilakukan untuk memastikan gerakan serviks bebas,
menentukan besar dan posisi uterus, memastikan tidak ada
kehamilan dan tidak ada infeksi atau tumor pada adneksa. Sarung
tangan dicelupkan ke dalam klorin 0,5%, kemudian buka secara
terbalik dan rendam ke dalam klorin.
- Langkah 5. Tindakan pra pemasangan
Tindakan pra pemasangan dilakukan dengan menjelaskan
proses
pemasangan IUD dan apa yang akan klien rasakan pada saat proses
pemasangan dan setelah pemasangan kemudian mempersilahkan

26
klien
untuk mengajukan pertanyaan.
- Langkah 6. Prosedur Pemasangan
Langkah ke enam memakai sarung tangan DTT yang baru
kemudian memasang spekulum vagina untuk melihat serviks,
selanjutnya mengusap vagina dan serviks dengan larutan antiseptik
2-3 kali. Serviks dijepit dengan tenakulum dengan hati-hati (takik
pertama) dan masukkan sonde uterus dengan teknik tidak
menyentuh (no touch technique) untuk menentukan posisi dan
kedalaman kavum uteri kemudian keluarkan sonde. Langkah
selanjutnya mengukur kedalaman kavum uteri pada tabung inserter,
masukkan tabung inserter ke dalam uterus sampai leher biru
menyentuh serviks atau sampai terasa ada tahanan kemudian
lepaskan lengan dengan menggunakan teknik withdrawal.
Pendorong dikeluarkan kemudian tabung inserter didorong kembali
ke serviks sampai leher biru menyentuh serviks atau sampai ada
tahanan. Sebagian dari tabung inserter dikeluarkan dan benang IUD
digunting kurang lebih 3-4 cm kemudian mengeluarkan seluruh
tabung inserter dan membuangnya ke tempat sampah
terkontaminasi. Tenakulum dilepaskan dengan hati-hati, periksa
serviks dan bila ada perdarahan dari tempat bekas jepitan
tenakulum, tekan dengan kasa 30-60 detik kemudian spekulum
dikeluarkan dengan hati-hati.
- Langkah 7. Tindakan pasca pemasangan
Seluruh peralatan direndam ke dalam larutan klorin 0,5%
selama
10 menit untuk dekontaminasi. Bahan-bahan yang sudah tidak pakai
lagi dibuang ke tempat yang sudah disediakan. Sarung tangan
dilepaskan dan mencuci tangan dengan air dan sabun. Klien

27
dipastikan tidak mengalami kram hebat dan klien diamati selama 15
menit sebelum diperbolehkan pulang.
- Langkah 8. Konseling pasca pemasangan
Konseling pasca pemasangan berisi instruksi atau anjuran bagi
klien setelah dilakukan pemasangan IUD. Klien diberikan petunjuk
tentang cara memeriksa sendiri benang IUD dan kapan harus
dilakukan. Klien dianjurkan untuk menjaga kebersihan daerah
genetalia. Klien diberi tahu untuk tidak berhubungan seksual selama
7 hari setelah pemasangan IUD. Klien dianjurkan untuk kontrol 1
minggu lagi atau bila mengalami efek samping dan memerlukan
konsultasi, pemeriksaan medik atau bila menginginkan IUD
dicabut. Langkah selanjutnya melengkapi rekam medik dan kartu
KB untuk klien (JNPK-KR, Kemenskes BKKBN, 2011).
b. Pencabutan
1) Pencegahan infeksi
a) Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan setelah
tindakan.
b) Bila perlu, minta klien untuk membersihkan daerah genitalia
sebelum melakukan pemriksaan panggul.
c) Gunakan instrument dan pakai sepasang sarung tangan DTT.
d) Usapkan larutan antiseptic beberapa kali secara merata pada servik
dan vagina sebelum memulai tindakan.
e) Segera lakukan dekontaminasi peralatan dan bahan-bahan pakai
ulang dalam larutan klorin 0,5 % setelah digunakan.
2) Persiapan alat dan bahan
Peralatan dan instrument yang dianjurkan untuk pemasangan yaitu:
a) Bivalve speculum
b) Forsep/korentang
c) Mangkuk untuk larutan antiseptic

28
d) Sarung tangan DTT
e) Cairan antiseptic untuk membersihkan servik
f) Kain kasa atau kapas
g) Sumber cahaya yang cukup untuk menerangi serviks
3) Langkah langkah pencabutan IUD
- Langkah 1. Konseling pra pencabutan
Konseling pra pencabutan dimulai dengan menyapa klien
dengan
ramah dan memperkenalkan diri serta menanyakan alasan klien
ingin
mencabut IUD tersebut serta menanyakan tujuan reproduksi
selanjutnya. Petugas menjelaskan proses pencabutan IUD dan apa
yang akan klien rasakan pada saat proses pencabutan dan setelah
pencabutan.
- Langkah 2. Tindakan pra pencabutan
Klien dipastikan sudah mengosongkan kandung kemih dan
mencuci area genetalia dengan menggunakan sabun dan air
kemudian
membantu klien naik ke meja gynecologi. Petugas mencuci tangan
dan
memakai sarung tangan DTT yang baru. Penempatan peralatan dan
bahanbahan yang akan dipakai diatur dalam wadah steril atau DTT.
- Langkah 3. Prosedur pencabutan
Pemeriksaan bimanual dilakukan untuk memastikan gerakan
serviks bebas, menentukan besar dan posisi uterus serta memastikan
tidak ada infeksi atau tumor pada adneksa. Langkah selanjutnya
memasang spekulum vagina untuk melihat serviks, mengusap
vagina dan serviks dengan larutan desinfektan. Pencabutan normal.
Jepit benang di dekat serviks dengan menggunakan tampontang

29
yang sudah didesinfeksi tingkat tinggi dan tarik benang pelan-pelan
sambil diputar searah jarum jam. Tidak boleh menarik dengan kuat.
AKDR biasanya dapat dicabut dengan mudah. Untuk mencegah
benangnya putus, tarik dengan kekuatan tetap dan cabut AKDR
dengan pelan-pelan. Bila benang putus saat ditarik tetapi ujung
AKDR masih dapat dilihat maka jepit ujung ujung AKDR tersebut
dan tarik keluar.
Pencabutan sulit. Bila benang AKDR tidak tampak, periksa
pada kanalis servikalis dengan menggunakan klem lurus atau
lengkung. Bila tidak ditemukan pada kanalis servikalis, masukkan
klem atau alat pencabut AKDR ke dalam kavum uteri untuk
menjepit benang atau AKDR itu sendiri. Bila sebagian AKDR
sudah tertarik keluar tetapi kemudian mengalami kesulitan menarik
seluruhnya dari kanalis servikalis, putar klem pelan-pelan sambil
tetap menarik selama klien mengeluh tidak sakit. Bila dari
pemeriksaan bimanual didapatkan sudut antara uterus dengan
kanalis servikalis sangat tajam, gunakan tenakulum untuk menjepit
serviks dan lakukan tarikan kebawah dan ke atas dengan pelan-
pelan dan hati-hati, sambil memutar klem. Jangan menggunakan
tenaga yang besar. Benang ditarik keluar secara mantap tetapi hati-
hati untuk mengeluarkan IUD. IUD yang telah lepas diperlihatkan
pada klien kemudian direndam dalam klorin 0,5%, selanjutnya
spekulum dikeluarkan dengan hati-hati.
- Langkah 4. Tindakan pasca pencabutan
Semua peralatan yang sudah dipakai direndam dalam larutan
klorin
0,5% selama 10 menit untuk dekontaminasi. Bahan-bahan yang
sudah
tidak dipakai lagi dibuang ke tempat yang sudah disediakan. Sarung

30
tangan dilepaskan dan direndam dalam larutan klorin 0,5%
kemudian
mencuci tangan dengan air dan sabun. Klien diamati selama 5
menitsebelum diperbolehkan pulang.
- Langkah 5. Konseling pasca pencabutan
Konseling ini meliputi anjuran bahwa klien harus kontrol bila
klien
mengalami masalah. Klien diberikan keterangan tentang pilihan
kontrasepsi yang tersedia dan risiko keuntungan dari masing-
masing alat kontrasepsi bila klien ingin tetap mengatur jarak
kelahiran atau ingin membatasi jumlah anak. Langkah terakhir
membuat rekam medik tentang pencabutan IUD (JNPK-KR,
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, BKKBN, 2011).
2.2.11 Waktu Kunjungan Ulang
Bila tidak ada keluhan sebelumnya, waktu kunjungan ulang menurut
BKKBN (2010) yaitu;
1. 1 minggu pasca pemasangan
2. 1 bulan pasca pemasangan
3. Tiga (3) bulan kemudian
4. Setiap 6 bulan berikutnya
5. Satu (1) tahun sekali
6. Bila terlambat haid 1 minggu
7. Perdarahan banyak dan tidak teratur
8. Selama bulan pertama menggunakan AKDR, periksalah benang AKDR
secara rutin terutama setelah haid
9. Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memeriksakan keberadaan
benang setelah haid apabila mengalami:
a. Kram/kejang di perut bagian bawah
b. Perdarahan/spotting diantara haid atau setelah senggama

31
c. Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak nyaman
selama melakukan hubungan sexual
10. Segeralah ke dokter jika menemukan gejala-gejala berikut:
a. Tidak dapat meraba benang AKDR
b. Merasakan bagian yang keras dari AKDR
c. AKDR terlepas
d. Mengalami keterlambatan haid yang disertai tanda-tanda kehamilan:
mual, pusing, muntah-muntah.
e. Terjadi pendarahan yang lebih banyak (lebih hebat) dari haid biasa.
f. Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan
g. Terdapat tanda-tanda infeksi, semisal keputihan, suhu badan
meningkat, mengigil, dan lain sebagainya.
h. Sakit, misalnya diperut, pada saat melakukan senggama.
2.2.12 Informasi umum yang perlu diketahui pasien
1. AKDR bekerja langsung efektif segera setelah pemasangan.
2. AKDR dapat keluar dari uterus secara spontan, khususnya selama beberapa
hari pertama.
3. Kemungkinan terjadi spotting beberapa hari setelah pemasangan.
4. Perdarahan menstruasi biasanya akan lebih lama dan lebih banyak.
5. AKDR mengkin dilepas setiap saat kehendak klien.
6. Copper T-380A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan, tetapi dapat
dilakukan lebih awal apabila diinginan
7. Jelaskan pada klien jenis AKDR apa yang digunakan, kapan akan dilepas
dan berikan kartu tentang semua informasi ini.
8. AKDR tidak melindungi diri terhadap IMS termasuk virus AIDS. Apabila
pasangannya beresiko, mereka harus menggunakan kondom seperti halnya
AKDR.

32
BAB 3
ASKEB TEORI

3.1 Pengkajian data


Pengkajian adalah langkah pertama yang dipakai dalam menerapkan
asuhan kebidanan pada pasien dan merupakan suatu proses sistematis dalam
pengumpulan data-data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi suatu kasus.
Tanggal / hari : untuk mengetahui kapan mulai pengkajian tersebut
Tempat : untuk mengetahui dimana pengkajian dilakukan
Nomor RM : untuk dapat membedakan antara pasien satu dengan
pasien lain dalam satu ruangan

33
3.2 Data Subyektif
3.2.1 Identitas
1) Umur
Kontrasepsi AKDR dapat digunakan oleh semua wanita usia
reproduksi. Hal ini sangat terkait dengan tujuan penggunaan
kontrasepsi, seperti menunda kehamilan (usia <20 tahun) dan
mengatur/ menjarangkan kehamilan (20-35 tahun). Akseptor IUD yang
melakukan kontrol biasanya berada dalam rentang usia reproduktif
(Saifuddin, 2010).
2) Pendidikan
Menurut Pastuti dan Siswanto (2007) menunjukkan bahwa
responden yang berpendidikan tinggi secara signifikan berpeluang
lebih tinggi untuk menggunakan IUD dan implan dibandingkan dengan
responden yang berpendidikan rendah. Tingkat pendidikan secara
statistik berpengaruh positif terhadap penggunaan metode kontrasepsi,
namun berpengaruh negatif terhadap jumlah anak yang dilahirkan.
Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap akses dan status wanita
dalam meningkatkan prevalensi penggunaan kontrasepsi.
Berdasarkan hasil penelitian di Kenya tingkat pendidikan ibu
dengan pemakaian kontrasepsi modern mempunyai hubungan yang
signifikan. Ibu dengan pendidikan lebih tinggi cenderung lebih
memilih menggunakan metode kontrasepsi modern dengan efektifitas
yang lebih tinggi, serta lebih memahami pentingnya kunjungan ulang
dalam pengecekan kontrasepsi dari waktu ke waktu secara rutin
(Copollo, 2011).
3) Pekerjaan
Banyak penelitian menemukan bahwa perempuan yang bekerja
dan ikut berpartisipasi dalam menyumbang sumber perekonomian
keluarga cenderung lebih mengatur kesuburannya, dengan memiliki

34
satu anak atau bahkan tidak sama sekali, persaingan dalam karir dan
pekerjaan bahkan kebijakan dari tempat kerja membuat mereka
memilih untuk tidak mempunyai anak, sehingga mereka harus memilih
kontrasepsi yang paling efektif dan berlangsung dalam waktu yang
lama (Mosha & Ruben, 2013).
3.2.2 Alasan Kunjungan
Ingin melepas dan memasang IUD
3.2.3 Keluhan Utama
Dikaji keluhan ibu, apakah ibu ingin pasang atau lepas AKDR, atau
ingin kontrol AKDR yang telah di pasang, juga dikaji keluhan yang
mungkin terjadi, seperti:
1) Amenorhoe
2) Perdarahan hebat
3) Nyeri
4) Ibu tidak merasakan adanya benang AKDR (Febriana, 2013)
3.2.4 Riwayat Menstruasi
Dikaji tentang menarche pada umur berapa, siklus haid, lamanya
haid, sifat darah haid, dismenorhoe, fluor albus atau tidak, HPHT
pemasangan atau pelepasan IUD dapat dilakukan pada hari pertama
sampai hari ke 7 siklus haid (Saiffudin, 2010).
3.2.5 Riwayat riwayat obstetri yang lalu
Kontrasepsi jangka panjang IUD biasanya digunakan oleh ibu
nulipara/ multipara, pasca melahirkan atau pasca abortus tanpa disertai
infeksi, sedang atau tidak menyusui, serta ibu dengan penyulit kehamilan
dan persalinan seperti PEB dan eklampsia (Saifuddin, 2010).
Menurut Suratun (2008) sebaiknya keluarga setelah mempunyai 2
anak dan umur istri lebih dari 30 tahun tidak hamil lagi. Kondisi keluarga
seperti ini dapat menggunakan kontrasepsi yang mempunyai efektifitas

35
tinggi, karena jika terjadi kegagalan hal ini dapat menyebabkan terjadinya
kehamilan dengan risiko tinggi bagi ibu dan anak.
Tingkat paritas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap
penggunaan IUD. Semakin banyak jumlah anak yang telah dilahirkan
semakin tinggi keinginan responden untuk membatasi kelahiran. Pada
akhirnya hal ini akan mendorong responden untuk menggunakan IUD
(Dewi, 2012).
3.2.6 Riwayat Kontrasepsi
Dikaji riwayat KB yaitu apakah klien sebelumnya telah
menggunakan metode kontrasepsi lain dan juga untuk mengetahui berapa
lama klien telah menjadi akseptor KB AKDR. Hal ini penting untuk
mengetahui penggunaan kontrasepsi apa saja yang pernah digunakan,
lama pemakaian, keluhan/ efek samping/ komplikasi yang pernah dialami,
serta alasan mengganti cara.
3.2.7 Riwayat Kesehatan Ibu
Kontrasepsi IUD dapat digunakan pada ibu dengan hipertensi, tumor,
kanker, varises, jantung, stroke, DM, penyakit liver, malaria, tiroid,
epilepsy, nonpelvik TBC (Saifuddin, 2010). Bila ditemukan penyakit
yang ternyata merupakan kontraindikasi pemakaian kontrasepsi IUD, ibu
akan disarankan untuk dilakukan pencabutan dan mempertimbangkan
mengganti metode yang lebih aman.
3.2.8 Pola Fungsional Kesehatan
1) Nutrisi
Pada akseptor kontrasepsi IUD memerlukan nutrisi yang cukup
terutama makanan yang banyak mengandung zat besi untuk
meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah diakibatkan perdarahan
banyak dan lama sebagai efek samping dari penggunaan kontrasepsi
IUD.
2) Aktivitas

36
Pekerjaan yang telalu berat akan berpengaruh terhadap keluhan yang
berhubungan dengan penggunaan AKDR.
3) Istirahat
Pola istirahat penting dikaji untuk melihat apakah ada efek samping
pemakaian kontrasepsi yang berpengaruh pada kebutuhan istirahat ibu,
misalnya ibu mengatakan istirahat terganggu akibat muncul nyeri
setelah pemasangan AKDR.
4) Personal Hygiene
Ibu dengan kontrasepsi AKDR harus menjaga kebersihan genitalia
karena benang yang menjulur pada vagina dapat menjadi sumber
infeksi asenden jika tidak menjaga kebersihan genitalia.
5) Seksual
AKDR sebenarnya tidak mempengaruhi aktivitas seksual. Namun
beberapa keluhan mengenai ketidaknyamanan dalam hubungan seksual
akibat benang IUD kerap dilaporkan.
3.2.9 Riwayat Psikososial Budaya
Penggunaan kontrasepsi perlu didiskusikan bersama suami karena
berhubungan dengan fungsi kesuburan. Kunjungan ulang dalam
pemakaian IUD biasanya berhubungan dengan tujuan kontrasepsi yang
umumnya merupakan kesepakatan antara ibu dengan suami (Hartanto,
2008). Pemakaian kontrasepsi juga harus dikaji apakah bertentangan
dengan kepercayaan atau budaya tertentu. Dalam waktu kontrol, dapat
ditanyakan pada ibu apakah ada ketidaknyamanan tertentu terkait agama,
kultur atau mitos tertentu selama pemakaian kontrasepsi IUD.
3.3 Data Obyektif
3.3.1 Pemeriksaan Umum
1) Keadaan umum : baik
2) Kesadaran : compos mentis
3) Tanda Vital

37
TD : 110/70 – 130/90 mmHg
Jika >140/90 mmHg atau diastoliknya >110
mmHg lebih baik menggunakan metode
kontrasepsi non hormonal
Penderita tekanan darah < 180/110 mmHg dapat
diberikan, tetapi memerlukan pengawasan
N : normalnya 60 – 100 kali/menit
S : normalnya 36 – 37ºC (jika > 38ºC menandakan
adanya infeksi)
RR : normalnya 16 – 24 kali/menit

Berat Badan : Umumnya mengalami kenaikan 1-5 kg


3.3.2 Pemeriksaan Fisik
3.3.2.1 Inspeksi
1) Mata: Conjungtiva normal, merah muda. Apabila conjungtiva pucat
menandakan anemia, sklera normal berwarna putih, apabila kuning
menandakan ibu mungkin terinfeksi hepatitis. Hal tersebut merupakan
kontraindikasi pemakain kontrasepsi IUD dan hormonal.
2) Leher: Jika terdapat pembesaran kelenjar limfe, dikhawatirkan ibu
menderita TB kelenjar. Jika terdapat bendungan vena jugularis,
dikhawatirkan menderita penyakit jantung, sehingga tidak diperbolehkan
mengikuti KB hormonal
3) Mammae: Mengetahui adakah radang pada mammae. Benjolan abnormal
yang nampak menonjol dikhawatirkan tumor atau kanker. Kontrasepsi
hormonal dapat memperparah keadaan ibu.
4) Abdomen: Adanya pembesaran dapat diduga hamil atau pembesaran yang
abnormal untuk mengindentifikasi adanya penyakit atau kelainan pada ibu.
5) Ekstermitas: Jika kuku pucat dikhawatirkan ibu menderita penyakit jantung
dan jika terdapat varises, ibu dianjurkan untuk tidak menggunaka

38
kontrasepsi hormonal karena dapat menyebabkan penyempitan pembuluh
darah vena karena adanya tromboembo
3.3.2.2 Palpasi
1) Leher: Jika terdapat pembesaran kelenjar limfe, dikhawatirkan ibu
menderita TB kelenjar. Jika terdapat bendungan vena jugularis,
dikhawatirkan menderita penyakit jantung sehingga tidak diperbolehkan
mengikuti KB hormonal.
2) Mammae: Benjolan abnormal yang nampak menonjol dikhawatirkan tumor
atau kanker. Kontrasepsi hormonal dapat memperparah keadaan ibu.
3) Abdomen: Adanya nyeri tekan pada adneksa kanan kiri, adanya ballotemen
sebagai tanda-tanda adanya kehamilan.
4) Ekstermitas: Jika kuku pucat dikhawatirkan ibu menderita penyakit jantung
dan jika terdapat varises, ibu dianjurkan untuk tidak menggunakan
kontrasepsi hormonal karena dapat menyebabkan penyempitan pembuluh
darah vena karena adanya tomboemboli (Saifuddin,2010).
3.3.3 Pemeriksaan Khusus
1) Pemeriksaan Dalam
Dinilai apakah ada nyeri goyang porsio, posisi uterus, dan apakah ada
benjolan/tumor pada adneksa. Pada saat dilakukan pemeriksaan
bimanual didapatkan teraba benang kuarng lebih 2-3 cm dari mulut
serviks sebagai tanda tidak terjadi ekspulsi IUD, kaji juga apakah
terdapat nyeri selama pemeriksaan bimanual.
2) Pemeriksaan Inspekulo
Dinilai bentuk dan warna portio, letak benang AKDR, apakah ada
tumor/benjolan dan cairan vagina abnormal (Febriana, 2013). Inspeksi
apakah ada pengeluaran cairan atau perdarahan pervaginam yang
berwarna, berbau dan terasa gatal oleh klien, kondisi vulva dan vagina
serta tanda-tanda infeksi pada area organ reproduksi eksternal.
3.4 ANALISA

39
Analisa: P....A.....calon akseptor KB IUD
3.5 PENATALAKSANAAN
1. Jelaskan hasil pemeriksaan
R/ klien mengetahui kondisinya saat ini
2. Lakukan konseling pra pelepasan IUD atau konseling pra pemasangan
IUD meliputi jenis IUD dan masa kerjanya, efek samping penggunaan IUD,
prosedur pemasangan IUD
R/ konseling pra pelepasan dan pemasangan bertujuan untuk memberikan
informasi yang benar tentang metode kontrasepsi yang akan digunakan
klien, sehingga klien dapat memutuskan jenis kontrasepsi yang akan
digunakan sesuai dengan pilihannya (kemungkinan tetap akan
menggunakan IUD atau ingin beralih ke metode kontrasepsi lain).
3. Lakukan inform consent
R/ setiap pemakaian kontrasepsi memperhatikan hak-hak reproduksi
individu dan pasangan, setiap tindakan medis yang mengandung resiko
harus dilakukan persetujuan tertulis yang di tandatangani oleh klien yang
bersangkutan dalam keadaan sadar dan siap mental.
4. Lakukan pelepasan IUD yang lama lalu dilanjutkan pemasangan IUDyang
baru (tahap pelepasan IUD, persiapan dan pemasangan IUD)
R/ memenuhi kebutuhan klien untuk melepas dan memasang IUD yang baru
5. Lakukan konseling pasca pemasangan IUD meliputi: keluhan pasca
pemasangan yang mungkin dialami dan penanganannya sertacara memeriksa
benang serta waktu pelepasan IUD.
R/ agar klien tidak khawatir tentang posisi IUD pasca pemasangan dan lebih
siap apabila mengalami keluhan pasca pemasangan IUD.
6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik
R/ pasca pemasangan IUD klien mungkin akan merasakan nyeri yang dapat
diantisipasi dengan memberikan terapi analgesic.

40
7. Informasikan untuk kembali kontrol 1 minggu kemudian (tanggal…) atau
jika ada keluhan yang dirasakan
R/ follow up 1 minggu pasca pemasangan dilakukan untuk memastikan
posisi IUD tetap baik pada cavum uteri, dan mengetahui keluhan yang
dirasakan klien pasca pemasangan IUD sehingga lebih cepat dapat diatasi.

3.5.1 Evaluasi
Melakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang telah diberikan,
apakah telah sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Selain itu juga
memantau kemajuan dan kesejahteraan ibu terhadap dari asuhan yang
telah diberikan.

41
DAFTAR PUSTAKA

Affandi, Bi. 2012. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi 3rd ed., Jakarta:
PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
BKKBN, 2014. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), Jakarta: Direktorat
Advokasi dan KIE.
Handayani, Sri. 2010. Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta:
Pustaka Rihama
Manuaba, IBG. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC

Manuaba, Ida Ayu Chandranita, 2012. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan
KB Untuk Pendidikan Bidan Edisi 2. Jakarta : EGC
Melani, N., 2012. Pelayanan Keluarga Berencana (dilengkapi dengan penuntun
belajar), Yogyakarta: Fitramaya Penerbit.
Prawirohardjo.2007.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal.Jakarta:YBP-SP

Saifuddin, Abdul Bari, 2010. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta :


Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Saifuddin, Abdul Bari. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohadjo
Sulistyawati, A., 2012. Pelayanan Keluarga Berencana, Jakarta: Salemba Medika.
WHO. 2007. Ragam metode kontrasepsi. Jakarta : Terjemahan, EGC
Winkjosastro, Hanifa, 2011. Ilmu Kandungan.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo

42