Anda di halaman 1dari 12

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN

TOPIK :
“MANAJEMEN SDM DAN PROFESIONAL POLRI”

JUDUL :
“OPTIMALISASI KEGIATAN REKRUTMENT BHABINKAMTIBMAS
GUNA MEMBANGUN KEMITRAAN POLRI DAN MASYARAKAT
DALAM RANGKA TERWUJUDNYA SITUASI KAMTIBMAS YANG KONDUSIF”

I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Polri sebagai aparat penegak hukum yang memiliki tugas sebagai pelindung,
pengayom, dan pelayan masyarakat serta memelihara keamanan dan ketertiban
masyarakat sebagaimana tertuang dalam UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian
RI. Berperan sebagai pengemban fungsi pemelihara Kamtibmas, tentunya Polri
dituntut untuk mampu mengeliminir timbulnya berbagai bentuk gangguan keamanan
dan ketertiban ditengah-tengah kehidupan masyarakat sehingga dapat terwujud
situasi kamtibmas yang kondusif di wilayah hukum Polres X.
Salah upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan situasi kamtibmas
yang kondusif adalah dengan mensinergikan tugas kepolisian dalam pemberantasan
kejahatan dan kebutuhan masyarakat akan rasa aman dan nyaman. Dengan kata lain
perlu sebuah upaya untuk membangun kemitraan (partnership) antara polisi dan
masyarakat guna menyelesaikan berbagai masalah sosial yang terjadi dalam
masyarakat, metode pendekatan tersebut lebih dikenal dengan istilah Polmas.
Perpolisian masyarakat merupakan model pendekatan kepada masyarakat, agar dapat
berperan aktif bersama Polri untuk menjaga Kamtibmas di lingkungannya masing-
masing. Untuk mewujudkan hubungan kerjasama polisi dan masyarakat yang
efektif, tentunya dibutuhkan suatu komitmen bersama antara Polri dan masyarakat.
Komitmen tersebut dapat terwujud jika kehadiran Polri ditengah-tengah masyarakat
dapat diterima dengan baik. Sosok Polri yang berkepribadian sipil, santun, humanis
dan tetap tegas serta profesional dalam tugas, tentunya akan diterima dengan baik
oleh masyarakat.
2

Namun sosok personil yang sipil tersebut masih sulit untuk ditemukan,
mengingat berbagai faktor kendala yang menghambat proses pencapaian perubahan
paradigma Polisi sipil yang sesuai harapan masyarakat. Salah satu faktor diantaranya
adalah belum optimalnya kegiatan rekrutment petugas Bhabinkamtibmas yang akan
berdinas di tengah-tengah masyarakat, sehingga perlu adanya upaya optimalisasi
kegiatan rekrutment Bhabinkamtibmas oleh Kabag Sumda Polres X guna
membangun kemitraan Polri dan masyarakat dalam rangka terwujudnya situasi
kamtibmas yang kondusif.

2. Pokok Permasalahan
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas, maka pada penulisan
Naskah karya perorangan ini, diangkat suatu pokok permasalahan, yaitu;
“Bagaimana mengoptimalkan kegiatan rekrutment Bhabinkamtibmas
sehingga mampu membangun kemitraan dengan masyarakat yang pada
akhirnya dapat terwujud suatu situasi kamtibmas yang kondusif ?”.

3. Pokok-Pokok Persoalan
Untuk dapat menjawab permasalahan diatas, maka diambil beberapa
persoalan antara lain adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana kemampuan sumber daya manusia di Bag Sumda Polres X yang
melaksanakan proses rekrutment Bhabinkamtibmas ?
b. Bagaimana sistem dan metode rekrutment Bhabinkamtibmas yang
dilaksanakan di Polres X ?

4. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penulisan Naskah Karya Perorangan ini, penulis
membatasi pada pembahasan tentang kegiatan penyediaan/rekrutment petugas
Bhabinkamtibmas oleh Bag Sumda Polres X untuk membangun kemitraan antara
Polri dan masyarakat. Adapun obyek pengamatan adalah tempat tugas penulis di
Polda Y Polres X.

II. PEMBAHASAN
Berdasarkan latar belakang dan persoalan yang ada, maka dilakukan suatu
penelaahan yang dimulai dari fakta-fakta yang ada, kemudian dianalisa dengan
3

menggunakan penerapan konsep Manajemen SDM Polri bidang penyediaan1 sesuai hanjar,
dimana pendayagunaan sumber daya manusia di dalam organisasi yang dilakukan melalui
fungsi penyediaan yang menggunakan prinsip Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis
(BETAH), dimana aplikasinya masih kurang optimal diterapkan dalam proses rekrutment
petugas Bhabinkamtibmas Polres X, oleh karena itu perlu adanya upaya yang dapat
dikedepankan dalam menghadapi kendala yang ada di lapangan.
5. Fakta-Fakta
a. Kemampuan sumber daya manusia di Bag Sumda Polres X yang
melaksanakan proses rekrutment Bhabinkamtibmas
1) Kuantitas personil Bag Sumda masih belum mendukung pelaksanaan
kegiatan rekrutment secara optimal, dikarenakan kurangnya jumlah
personil, yaitu Rill hanya ada 3 personil Bag Sumda, sedangkan
DSPP seharusnya 7 orang. Adapun data personil Bag Sumda Polres
X dapat dilihat pada tabel berikut :
NO JABATAN PANGKAT KET
1. 1 Kabag Sumda Ajun Komisaris Polisi
2. 1 Staf Kasubbagmutjab Briptu
3. 1 Staf Bamin Briptu
Sumber : Lapsat Polres X

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa, jumlah personil Bag


Sumda yang hanya 3 orang, tidak seimbang dengan beban tugas yang
ada, sehingga pelaksanaan tugas kegiatan rekrutment yang diemban
Bag Sumda tidak optimal, karena intensitas pekerjaan yang tinggi
tidak diimbangi dengan jumlah personil yang memadai.
2) Minimnya pengetahuan dan kemampuan Kabag Sumda tentang
Perkap No. 7 Tahun 2008 tentang pedoman dasar strategi dan
implementasi Pemolisian masyarakat dalam penyelenggaraan tugas
Polri, dimana pada Perkap tersebut ada beberapa pasal yang mengatur
mengenai persyaratan petugas Bhabinkamtibmas yang dapat
dipedomani dalam melaksanakan proses rekrutment
Bhabinkamtibmas2. Pada kenyataannya rekrutment petugas
Bhabinkamtibmas hanya sebatas melaksanakan perintah, tanpa

1
Drs. Sabar Rahardjo, Karojianstra SSDM Polri, Hanjar “Manajemen SDM Polri”, Sespimmen, Lembang, 2013, hal 22
2
Perkap No. 7 Tahun 2008 tentang Polmas, Bab V tentang Pelaksana/Pengemban Polmas, hal 15
4

mempertimbangkan aspek-aspek seperti yang dipersyaratkan oleh


peraturan yang ada.
3) Kurangnya koordinasi dan komunikasi yang baik antara Kabag
Sumda dengan Kasat Binmas an Kapolsek, terkait kebutuhan personil
Bhabinkamtibmas dilapangan. Kabag Sumda tidak mengetahui secara
pasti sosok petugas Bhabinkamtibmas yang cocok dengan dinamika
dan kultur budaya masyarakat dimana Bhabinkamtibmas tersebut
akan ditugaskan.
4) Kabag Sumda dan 2 orang stafnya belum pernah mengikuti Dikjur
personil serta belum memiliki pengalaman tugas terkait bidang SDM
ditempat lain.
5) Kabag Sumda kurang memberdayakan Bank Data Personil (RHP)
dalam kegiatan rekrutment.
6) Setelah proses rekrutment Kabag Sumda tidak melaksanakan
pengawasan melalui pemeriksaan internal, pelaksanaan survey
terhadap personil yang ditugaskan sebagai petugas Bhabinkamtibmas
guna mengetahui tingkat kepuasan masyarakat binaannya terhadap
hasil keputusan penempatan personil.

b. Sistem dan Metode Rekrutment Bhabinkamtibmas di Polres X


1) Pola rekrutment Bhabinkamtibmas secara langsung tanpa melalui
proses seleksi. Bintara-Bintara baru yang baru ditempatkan di Polres,
langsung dijadikan Bhabinkamtibmas, dengan pertimbangan agar
kekurangan tenaga Babimkamtibmas disetiap desa dapat segera
terpenuhi.
2) Proses rekrutment melalui proses mutasi, rolling, dan back up
personil tidak sesuai dengan kompetensinya terkait dengan
karakteristik desa penugasan.
3) Proses rekrutment hanya berdasarkan penunjukan melalui surat
perintah Kapolres untuk bertugas sebagai petugas Bhabinkamtibmas
dan belum diberikan ujian maupun tes psikologis sebagai basic/dasar
uji kemampuan yang berkaitan dengan Polmas.
5

4) Petugas Bhabinkamtibmas banyak diambil dari personil yang pernah


terlibat bermasalah, karena masih adanya anggapan bahwa tugas
sebagai Bhabinkamtibmas adalah tempat penugasan pembinaan /
buangan.
5) Anggota Bhabinkamtibmas yang direkrut, pada umumnya belum
mampu menguasai karakteristik kerawanan daerah di Kabupaten X,
karena bukan putra daerah (prinsip local boy for local job tidak
dilaksanakan).
6) Penerapan kinerja berbasis anggaran terhadap pelaksanaan tugas
Bhabinkamtibmas belum terlaksana dengan baik, ditambah lagi
minimnya tunjangan kesejahteran yang hanya berjumlah 100 ribu
rupiah setiap bulan.

6. Analisa
Dari fakta tersebut dapat dianalisa bahwa peran rekrutment Bhabinkamtibmas
belum optimal guna meningkatkan kemitraan Polri dan masyarakat, dikarenakan
pengaruh faktor-faktor yang ada. Dimana hal tersebut dapat dilihat indikator-
indikator sebagai berikut :
a. Kemampuan Sumber Daya Manusia Bag Sumda Polres X Dalam
Melaksanakan Proses Rekrutment Bhabinkamtibmas
1) Secara kuantitas sumber daya manusia Bag Sumda hanya ada 3 orang
yang seharusnya berjumlah 7 orang. Seorang Kabag hanya
berpangkat AKP yang seharusnya berpangkat Kompol demikian juga
Kasubbag mujab juga dijabat seorang Briptu yang seharusnya
berpangkat Inspektur. Tentunya hal ini akan berpengaruh pada
kemampuan pelaksanaan kerja secara maksimal yang pada akhirnya
bisa melakukan rekrutmen secara baik sesuai dengan kebutuhan.
Sehingga diharapkan adanya penambahan jumlah personil sesuai
DSPP, sehingga Bag Sumda mampu melaksanakan perannya dengan
lebih optimal.
2) Minimnya pengetahuan tentang profil Bhabinkamtibmas sebagaimana
Perkap No. 7 tahun 2008, tentunya akan berpengaruh pada kualitas
6

personil Bhabin yang direkrut, hal ini terkait kompetensi personil


Bhabin yang direkut seharusnya disesuaikan dengan kompetensi dasar
yang harus dimiliki. Agar hasil rekrutment Bhabinkamtibmas optimal
dan menghasilkan kader-kader petugas Polmas yang sesuai harapan,
maka diharapkan adanya peningkatan pengetahuan dan kemampuan
Kabag Sumda mengenai Perkap No. 7 Tahun 2008 Tentang pedoman
dasar strategi dan implementasi pemolisian masyarakat dalam
penyelenggaraan tugas Polri, sehingga mampu memahami,
berpedoman dan mengaplikasikan pasal-pasal yang mengatur
mengenai persyaratan petugas Bhabinkamtibmas.
3) Kabag Sumda diharapkan meningkatkan koordinasi dan komunikasi
yang baik dengan Kabag Binmas dan Kapolsek mengenai kebutuhan
personil di lapangan, sehingga kebutuhan petugas Bhabinkamtibmas
dilapangan diketahui secara pasti dengan sasaran meratanya
penempatan jumlah petugas Bhabinkamtibmas antara desa yang satu
dengan yang lain serta sesuai dengan dinamika masyarakat yang ada.
4) Minimnya pengalaman dan pendidikan yang dimiliki oleh Kabag
Sumda dan Staf yang belum pernah mengikuti pendidikan khusus
sumber daya manusia, tentunya akan mempengaruhi kuliatas kerja
yang dihasilkan. Agar kualitas kerja meningkat dan maksimal
sebagaimana tupoksi dan pentelaahan tugas seharusnya seorang Kabag
Sumda mempunyai pengalamanan dan pernah mengikuti pendidikan
khusus sumber daya manusia sebagaimana bidang tugasnya.
5) Agar proses rekrutment Bhabinkamtibmas optimal, maka diharapkan
Kabag Sumda memberdayakan Bank Data Personil (RHP) dalam
kegiatan rekrutment, sehingga diketahui riwayat hidup calon petugas
Bhabinkamtibmas dan dapat dipilih sesuai kompetensi serta
pengalamanan dinas sebagaimana tergambar dalam RH personil
tersebut.
6) Kabag Sumda diharapkan dapat melaksanakan pengawasan melalui
pemeriksaan internal setelah proses rekrutment, pelaksanaan survey
terhadap personil yang ditugaskan, sehingga diketahui tingkat
7

kepuasan masyarakat binaannya terhadap hasil keputusan penempatan


personil dan nilai manfaat yang diperoleh untuk pencapaian Polmas.

b. Sistem dan Metode Rekrutment Bhabinkamtibmas di Polres X


1) Diharapkan dalam perekrutann Bhabinkamtibmas diperhatikan aspek
usia dan pengalaman dinas. Anggota polisi yang bertugas sebagai
petugas Bhabinkamtibmas harus lebih matang dan dewasa serta
berpengalaman. Sehingga memiliki pemikiran yang bagus, bijaksana,
sabar dan mudah bergaul dengan masyarakat serta mampu
memberikan solusi permasalahan sosial.
2) Petugas Bhabinkamtibmas yang direkrut melalui proses mutasi,
rolling, dan back up personil diharapkan tetap memperhatikan
kompetensi personil sebagai syarat utama seorang Bhabinkamtibmas,
salah satu kompetensi yang harus dimiliki adalah kemampuan terkait
pendekatan, pembinaan dan pengetahuan sosial kemasyarakatan
sehingga mampu menjadi Pembina masyarakat sesuai yang
diharapkan.
3) Agar proses rekrutment efektif dan efisien serta benar-benar
menghasilkan petugas Bhabinkamtibmas yang sesuai dengan konsep
Polmas, maka diharapkan dalam pelaksanaan rekrutment
Bhabinkamtibmas dilakukan serangkaian tes yang berkaitan dengan
kemampuan dan pengetahuan mengenai Polmas, dan untuk menguji
mental anggota (karena Bhabinkamtibmas diharapkan merupakan
sosok yang berdedikasi, sabar, berwatak sipil, dan lain-lain), maka
perlu adanya tes psikologis sebagai basic/dasar uji kemampuan yang
berkaitan dengan Polmas.
4) Adanya stigma negatif bahwa petugas Bhabinkamtibmas adalah
buangan atau pembinaan bagi personil yang bermasalah, hal tersebut
harus dihilangkan. Pemberian reward terhadap para
Bhabinkamtibmas yang berprestasi terkait peningkatan karier yang
8

lebih bagus, diharapkan mampu meningkat dan menghilangnya citra


buruk bahwa menjadi Bhabinkamtibmas merupakan orang buangan.
5) Anggota Polmas diharapkan merupakan putra daerah yang memahami
karakteristik daerah dan budaya masyarakat binaannya, sehingga
menguasai karakteristik kerawanan daerah dan potensi permasalahan
yang ada dalam masyarakat, sehingga mampu memberdayakan
potensi lokal maupun pranata sosial yang ada untuk mendukung
pelaksanaan tugas Polri.
6) Bhabinkamtibmas adalah perwakilan Polri terdepan yang bersentuhan
langsung dengan masyarakat, kinerja mereka sangat berpengaruh bagi
kepuasaan masyarakat terhadap kinerja Polri, oleh karenanya
harusnya para Bhabinkamtibmas mendapat prioritas anggaran yang
cukup guna melakukan pembinaan dan kemitraan dengan masyarakat,
serta harus ditunjang dengan kesejahteraan yang cukup, sehingga
mereka tidak melakukan penyalahgunaan wewenang.

7. Upaya
Dengan memperhatikan fakta-fakta yang ditemukan terkait peran rekrutment
Bhabinkamtibmas guna meningkatkan kemitraan Polri dan masyarakat dalam rangka
terwujudnya harkamtibmas di Polres X, kemudian dilakukan suatu analisa, maka
upaya pemecahan masalah yang dapat dilakukan antara lain adalah sebagai berikut :
a. Kemampuan Bag Sumda Polres X Dalam Melaksanakan Proses
Rekrutment Bhabinkamtibmas
1) Meningkatkan jumlah personil Bag Sumda agar sesuai dengan DSPP,
baik melalui kegiatan rekrutment, maupun dengan melakukan back up
personil dari Polda untuk memenuhi DSPP Bag Sumda Polres X.
2) Kapolres mengikutsertakan Kabag Sumda mengikuti sosialisasi
mengenai Perkap No. 7 Tahun 2008 Tentang pedoman dasar strategi
dan implementasi pemolisian masyarakat dalam penyelenggaraan
tugas Polri kepada Kabag Sumda, agar dipahami dan diaplikasikan
pada proses rekrutment personil Bhabinkamtibmas.
9

3) Meningkatkan koordinasi dan komunikasi serta meminta pengajuan


kebutuhan personil Bhabinkamtibmas yang dibutuhkan baik dengan
Kasat Binmas dan Kapolsek.
4) Meningkatkan kemampuan personil Bag Sumda dengan
mengikutsertakan Kabag Sumda dan stafnya untuk mengikuti
pendidikan kejuruan bidang SDM, maupun mengikutsertakan dalam
kegiatan seminar SDM, kursus manajemen SDM, dll.
5) Memanfaatkan bank data personel untuk penentuan rekrutment
personel Polri yang akan ditugaskan sebagai petugas
Bhabinkamtibmas serta melakukan pemantauan prestasi yang dimulai
pada saat personel menjalani pendidikan sampai mengabdikan diri di
kewilayahan, perkembangannya dengan masyarakat lokal, sehingga
penempatan dapat sesuai dengan kualitasnya.
6) Melaksanakan pengawasan melalui pemeriksaan internal, pelaksanaan
survey terhadap personel yang ditempatkan sebagai Bhabinkamtibmas
dengan melihat catatan dan perkembangan daerah binaanya, keaktifan
di FKPM, data jumlah permasalahan yang mampu diselesaikan.

b. Sistem dan Metode Rekrutment Bhabinkamtibmas di Polres X


1) Rekrutment Bhabinkamtibmas melalui proses seleksi, dari Bintara-
Bintara baru dapat dilakukan, namun benar-benar melalui proses
seleksi yang ketat, karena program Polmas merupakan program Polri
yang benar-benar harus diimplmentasikan dengan optimal. Oleh
karena itu Bintara baru yang akan ditugaskan menjadi petugas
Bhabinkamtibmas diharapkan memiliki kemampuan komunikasi
sosial yang baik, dan memiliki background pendidikan umum
minimal S1 (sarjana) dan memiliki pola pikir yang kuat serta
bermental baik.
2) Melaksanakan mutasi, penugasan khusus dan penempatan personil
Bhabinkamtibmas sesuai dengan potensi dan kompetensi berdasarkan
hasil mapping psikologi dan uji kompetensi.
3) Pada kegiatan rekrutment Bhabinkamtibmas diupayakan memiliki
rentang waktu yang cukup, sekitar 2 atau 3 bulan, sehingga seleksi
dan proses rekrutment benar-benar dilakukan optimal, selain itu agar
10

penempatan sesuai dengan kompetensinya, maka perlu dilakukan


seleksi dengan melakukan ujian tertulis berisikan pengetahuan yang
bersifat umum 60 % dan muatan lokal 40 % serta psikotes yang
memuat karakteristik lokal (daerah) secara proporsional.
4) Selain itu rekrutment petugas Bhabinkamtibmas tidak lagi diambil
dari anggota yang bermasalah, Kabag Sumda berkoordinasi dengan
Propam agar memberi rekomendasi secara obyektif didasari data yang
riil dan benar kepada Kasatwil tentang data-data calon peserta yang
memiliki bibit potensial (fisik, mental, intelektual) yang akan
melaksanakan seleksi sebagai calon petugas Babinkmatibmas.
5) Pola rekrutmen bintara Polri diarahkan untuk memenuhi konsep
”local boy for local job”, dimana petugas Bhabinkamtibmas
merupakan putra daerah yang mengenal daerah binaannya, sehingga
menguasai karakteristik kerawanan daerah Polres X, serta mampu
memberdayakan potensi lokal maupun pranata sosial untuk
mendukung pelaksanaan tugas Polri.
6) Menerapkan kinerja berbasis anggaran dengan pengawasan dan
pengendalian yang intens oleh pimpinan serta pemberian tunjangan
yang cukup dan kemudahan mengikuti pendidikan peningkatan karier
misalnya sekolah Setukpa/SIP untuk Bhabinkamtibmas, serta
Kapolres perlu untuk melakukan perintisan kerjasama (MoU) dengan
instansi/badan usaha yang ada diwilayah Polres X, sehingga dapat
membantu dan menyalurkan personil Bhabinkamtibmas untuk
memasuki “second career” untuk meningkatkan kesejahteraan
Bhabinkamtibmas, sehingga mampu memotivasi kerjanya.

III. PENUTUP
8. Kesimpulan
a. Peran rekrutment Bhabinkamtibmas guna membangun kemitraan Polri dan
masyarakat dalam rangka terwujudnya harkamtibmas belum optimal,
dikarenakan kemampuan Bag Sumda Polres X dalam melaksanakan proses
rekrutment Bhabinkamtibmas masih belum sesuai harapan, diantaranya
minimnya pengetahuan tentang Polmas, kurangnya koordinasi dengan kabag
Binmas, kurang memberdayakan RHP, proses rekrutment tidak
ditindaklanjuti dengan kegiatan pengawasan, sehingga berdampak pada
11

kader-kader Bhabinkamtibmas yang kurang kompeten untuk ditempatkan


sebagai petugas Polmas. Oleh karena itu perlu adanya suatu upaya berupa
peningkatan kemampuan Kabag Sumda terkait Polmas, peningkatan
koordinasi dengan Kabag Binmas, memanfaatkan RHP dalam proses
rekrutment dan melakukan pengawasan internal terhadap Bhabinkamtibmas.
b. Kurangnya kemampuan Kabag Sumda dalam rekrutment Bhabinkamtibmas
mempengaruhi sistem dan metode rekrutment Bhabinkamtibmas di Polres X,
dimana faktanya Bintara muda kurang sesuai ditugaskan sebagai petugas
Polmas, penempatan yang tidak sesuai dengan kompetensinya, tidak adanya
ujian dalam proses perekrutan, rekrutment Bhabinkamtibmas diambil dari
anggota yang bermasalah dan pada umumnya petugas Bhabinkamtibmas
belum menguasai karakteristik wilayah Polres X, sehingga pencapaian
konsep Polmas belum sesuai harapan. Oleh karena itu perlu upaya proses
seleksi yang ketat, penempatan personil sesuai kompetensi dengan mapping
psikologi, adakan tes untuk mengetahui kemampuan calon
Bhabinkamtibmas, berikan tunjangan yang cukup, terapkan konsep putra
daerah dalam perekrutan Bhabinkamtibmas.

9. Rekomendasi
a. Mengajukan kepada Satuan Atas untuk menyusun Perkap tentang pemberian
penghargaan kepada anggota Polri yang berprestasi, termasuk pasal-pasal
yang mengatur tentang penghargaan untuk Bhabinkamtibmas sehingga
menjadi Bhabinkamtibmas tidak lagi dipandang sebelah mata oleh anggota
Polri.
b. Mengusulkan kepada Mabes Polri melalui Polda agar pelaksanaan
assessment tidak hanya dilaksanakan untuk mencari kompetensi bagi
pimpinan tingkat atas saja, tetapi juga diberlakukan kepada para anggota
yang akan bertugas menempati posisi pada satuan fungsi di tingkat Polres,
termasuk penempatan dan rekrutment Bhabinkamtibmas sebagai petugas
Polmas, mengingat Polmas merupakan program Polri yang perlu pencapaian
optimal dalam rangka reformasi birokrasi Polri.
12

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Sabar Rahardjo, Karojianstra SSDM Polri, Hanjar “Manajemen SDM Polri”, Sespimmen,
Lembang, 2013.

……………………, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik


Indonesia, Jakarta, 2002.

……………………, Perkap No. 7 Tahun 2008 Tentang pedoman dasar strategi dan implementasi
pemolisian masyarakat dalam penyelenggaraan tugas Polri, Jakarta, 2008.