Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

INFEKSI SALURAN KEMIH ( ISK )

Disusun Oleh :

Nama : Febri Arum P


NIM : 106117042

STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP


DIII KEPERAWATAN
2018/2019
A. Pengertian
Infeksi Saluran Kencing (ISK) adalah infeksi akibat berkembang biaknya
mikroorganisme di dalam saluran kemih, yang dalam keadaan normal air kemih
tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain. Infeksi saluran kemih
dapat terjadi pada pria maupun wanita dari semua umur, dan dari kedua jenis
kelamin ternyata wanita lebih sering menderita infeksi ini daripada pria. (Nurharis
Huda ; 2009).
Jenis infeksi saluran kemih, antara lain :
1. Kandung kemih (sistisis)
2. Urethra ( Uretritis)
3. Prostat (Prostatitis)
4. Ginjal ( Pielonefritis)

Selain itu, ISK pada mereka yang usia lanjut dibedakan menjadi :
1. ISK Uncomplicated(Simple)
ISK yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing baik anatomik maupun
fungsional normal. ISK ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita
wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.
2. ISK Complicated
Sering menimbulkan banyak masalah karena seringkali kuman penyebab sulit
untuk diberantas. Kuman penyebab seringkali resisten terhadap beberapa jenis
antibiotik, sering menyebabkan bakterimia, sepsis, hingga shok. Infeksi saluran
kencing ini terjadi bila terdapat keadaan sebagai berikut :
a. Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, refreks vesiko urethral
obstruksi, atoni kandung kemih,paraplegia, kateter kandung kemih menetap
dan prostatitis.
b. Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK
c. Gangguan imunitas
d. Infeksi yang disebabkan oleh organisme virulen seperti prosteus yang
memproduksi urease.

B. Etiologi

1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan Infeksi Saluran Kencing :

2
a. E. coli 90% menyebabkan ISK Uncomplicated
b. Pseudomnas, prosteus, Klebsiella : penyebab ISK Complicated
c. Enterobacter, staphylococus epidemis, enterococus ,dan lain –lain .

2. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut antara lain :


a. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengososngan
kandung kemih yang kurang efektif.
b. Mobilisasi yang menurun
c. Nutrisi yang kurang baik
d. Sistem imunitas yang menurun, baik selular maupun humoral
e. Adanyahambatan pada aliran urin
f. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

3. Secara khusus, etiologi ISK berdasarkan jenisnya

a. Sistis
 Disebabkan oleh bakteri dari vagina yang berpindah dari uretra ke
kandung kemih.
 Wanita yang menderita isk setelah melakukan hubungan intim,
dikarenakan uretra yang cidera.
 Vistula vesikovaginal (hubungan abnormal antara kandung kemih dan
vagina )
 Akibat pemasangan kateter atau alat yang digunakan selama
penbedahan

b. Urethritis
1) Penyebab bisa berupa bakteri, jamur atau virus yang berasal dari usus besar
sampai ke vagina melalui anus.
2) Nesseria gonorrhoea penyebab gonore, bakteri yang masuk ke vagina atau
penis pada saat melakukan hubungan seksual.
3) Paling sering disebabkan oleh gonococus

c. Prostattitis
Disebabkan oleh pertumbuhan bakteri di akibatkan oleh urin yang tertahan
pada kandung kemih sehingga menjalar dan terjadilah radang pada prostat

3
C. Manifestasi Klinis
1. Anyang-anyangan atau rasa ingin buang air kecil lagi, meski sudah dicoba
untuk berkemih, namun tidak ada air kencing yang keluar
2. Sering kencing, atau sering kesakitan ketika kencing, air kencing bisa
berwarna putih, coklat atau kemerahan, dan baunya sangat menyengat
3. Warna air kencing kental/pekat seperti air teh, kadang kemerahan bila ada
darah
4. Nyeri pada pinggang
5. Demam atau menggigil, yang dapat menandakan bahwa infeksi sudah
mencapai ginjal (diiringi rasa nyeri disis bawah belakang rusuk, mual dan
muntah)
6. Peradangan kronis pada kandung kemih yang berlanjut dan tidak sembuh,
dapat memicu terjadinya kanker pada kandung kemih.
7. Pada bayi gejalanya berupa demam, berat badan sukar naik atau anoreksia

D. Patofisiologi

Menurut Nurharis Huda Amin, yang dikutip dari Masjoer Arif, (2003)
Infeksi Saluran kencing (ISK) terjadi akibat infeksi pada traktus urinarus yang
disebabkan oleh masuknya mikroorganisme patogenik dengan atau tanpa
disertainya tanda dan juga gejala. Mikroorganisme ini dapat masuk bisa
dikarenakan penggunaan steroid jangka panjang, makanan yang
terkontaminasi bakteri, proses perkembangan usia lanjut, anomali saluran
kemih, higine yang tidak bersih, dan hubungan seksual yang tidak sehat, serta
akibat dari cidera uretra. Infeksi saluran kencing ini dapat mengenai kandung
kemih, prostat, uretra, dan juga ginjal

Pada pasien dengan Infeksi saluran kencing, umunya retensi urin terjadi
akibat dari obstruksi dan menyebabkan peningkatan tekanan di vesika urinaria
serta penebalan diding vesika, ketika hal ini terjadi maka menyebabkan
penurunan kontraksi vesika sehingga menimbullkan tahanan pada kandung
kemih, urin yang tertahan pada kandung kamih dalam jangka waktu yang lama
(lebih dari 12 jam ) merupakan media yang baik untuk perkembangan
mikroorganisme patogen seperti E. coli, Klabsiella, prosteus, psudomonas,
dan enterobacter.

4
Ketika bakteri telah berhasil berkembang, maka tubuh akan melakukan
respon pertahanan dengan merangsang hipotalamus untuk menstimulus sistem
pertahanan tubuh untuk memfagosit antigen tersebut sehingga akan
menyebabkan peningkatan metabolisme dan muncul gejala demam,ketika
antigen tidak mampu di fagosit oleh sistem imun kita maka akan
menyebabkan munculnya bakteremia skunder yang menjalar ke ureter
sehingga menyebabkan iritasi dan peradangan pada ureter, umumnya ketika
hal ini terjadi maka akan menyebabkan pasien mengalami oliguria. Selain itu
ketika proses peradangan terjadi akan meningkatkan frekuensi dorongan
kontraksi uretra dan memunculkan persepsi nyeri akibat proses depresi syaraf
perifer.

Selain itu, respon pertahanan tubuh kita juga akan merangsang


hipotalamus sehingga muncul lah gejala seperti demam serta nyeri di bagian
yang terinfeksi.

5
E. Pathways

Akumulasi etiologi dan jaringan parut ->


Makanan
faktor resiko infeksi total tersembat
terkontaminasi,
mikroorganisme, mikroorganisme
penggunaan steroid jangka masuk lewat
panjang, usia lanjut, mulut
anomali saluran kemih,

HCL (Lambung )

tidak
Hidup
Hidup

Berkembang di Resiko Infeksi Peningkatan


usus terutama pleg tekanann di
player Vesika urinaria

Kuman mengeluarkan
endotoksin Penebalan dinding
vesika urinaria
Bakteremia primer

Penurunan
Tidak di fagosit di fagosit Kontraksi otot vesika
urinaria
Mati Sulit berkemih
Bakteremia
skunder
RETENSI URIN

Ureter Hipotalamus Reinteraksi


abdominal
Iritasi uretral Menekan termoregulator

Oliguria Hipertermia

Cepat lelah
GANGGUAN ELIMINASI
URIN
Intoleransi aktivitas
Peradangan

Depresi syaraf perifer


Peningkatan
frekuensi/ dorongan Nurharis Huda Amin :
kontraksi uretral Nyeri Akut 2013, hal 374

6
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
o Urinalisa untuk melihat adanya infeksi hematuria
o Ureum, kreatinin, elektrolit untuk melihat fungsi ginjal .
2. Pengukuran berat derajat obstruksi
o Menentukan jumlah sisa urin setelah penderita miksi spontan (normal,sisa
urin kosong dan batas intervensi sisa urin lebih dari 100 cc)
o Pancaran urin (oroflowmetri)
syarat : jumlah urin dalam vesika 125 sampai dengan 150 ml. Angka
normal rata-rata 10-12 ml/ detik, obstruksi ringan
3. Pemeriksaan lain
o BNO ( Blass Nier Overzicht) /IVP (Intravenous Pyleogram) adalah studi
sinar x terhadap ginjal, rahim dan saluran kemih, dilakukan untuk
menentukan adanya divertikel, penebalan bladder.
o Trans abdominal USG , Dilakukan untuk mendeteksi bagian prostat yang
meonjol ke buli-buli, yang dipakai untuk meramalkan derajat berat
obstruksi apabila ada batu di dalam vesika.
o Sitoscopy , yaitu untuk melihat apakan ada penebalan pada bladder.

G. Komplikasi
H. Penatalaksanaan
1. Pemberian agens antibakterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari
traktus urinarius dengan efek minima terhadap flora fekal dan vagina dengan
demikian memperkecil infeksi ragi vagina.
2. Variasi program pengobatan telah mengobat infeksi saluran kemih ini, misalnya
dosis tunggal program medikasi short cause (3-4 hari) atau long course (7-10
hari).
3. Penggunaan medikasi mencakup sulfisoxasol, sulfamethoxazole.
4. Pemakaian antimikrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan
infeksi
5. jika kekambuhan terjadi setelah agens mikrobial selesai diberikan, maka
program short medikasi (3-4 hari) dari terapi antimikrobial dosis penuh
diberikan

7
6. jika kekambuhan tidak terjadi, maka medikasi diberikan setiap malam
berikutnya selama 6-7 bulan.

I. PENGKAJIAN

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan pola napas b.d Gangguan neurologis
2. Nyeri Akut b.d Agens cedera biologis
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan makan
4. Kerusakan integritas kulit b.d perubahan status metabolik
5. Hambatan mobilitas fisik b.d Gangguan neuromuskular
6. Hambatan komunikasi verbal b.d Gangguan fisiologis

K. INTERVENSI KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA NOC NIC


KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan pola NOC : Status Pernafasan NIC : Manajemen Jalan Nafas
napas b.d Gangguan  Frekuensi pernafasan  Buka jalan nafas, gunakan
neurologis  Irama pernafasan teknik chin lift atau jaw
 Penggunaan otot bantu nafas thrust, sebagaimana mestinya

 Restraksi dinding dada  Posisikan pasien untuk

 Batuk memaksimalkan ventilasi


 Identifikasi kebutuhan
aktual/potensial pasien untuk
memasukkan alat membuka
jalan nafas
 Lakukan fisioterapi dada,
sebagaimana mestinya
 Berikan bronkodilator bila
perlu
 Posisikan untuk meringankan

8
sesak nafas
 Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
 Monitor status pernafasan dan
oksigenasi, sebagaimana
mestinya

2. Nyeri Akut b.d agens NOC : Tingkat Nyeri NIC : Manajemen Nyeri
cedera biologis  Nyeri yang dilaporkan  Lakukan pengkajian nyeri
 Ekspresi nyeri wajah komprehensif meliputi
 Kehilangan nafsu makan lokasi, karakteristik,

 Intoleransi makanan onset/durasi, frekuensi,

 Frekuensi nafas kualitas, intensitas atau


beratnya nyeri dan faktor
pencetus
 Gali bersama pasien faktor-
faktor yang dapat
menurunkan atau
memperberat nyeri
 Ajarkan penggunaan teknik
non farmakologi
 Dukung istirahat/tidur yang
adekuat untuk membantu
penurunan nyeri
Pemberian Analgesik
 Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas, dan
keparahan nyeri sebelum
mengobati pasien
 Cek instruksi dokter meliputi
obat, dosis, dan frekuensi
obat analgesik yang

9
diresepkan
 Cek adanya riwayat alergi
obat
 Pilih rute pemberian secara
IV, daripada IM untuk
injeksi pengobatan nyeri
yang sering, jika
memungkinkan
3. Ketidakseimbangan nutrisi NOC : Nafsu Makan NIC : Manajemen Gangguan
kurang dari kebutuhan  Energi untuk makan Makan
tubuh b.d  Intake makanan  Kolaborasi dengan tim
ketidakmampuan makan  Intake nutrisi kesehatan lain untuk

 Intake cairan mengembangkan rencana

 Rangsangan untuk makan perawatan dengan melibatkan


klien dan orang-orang
terdekadnya dengan tepat
 Monitor intake/asupan dan
asupan cairan secara tepat
Manajemen Nutrisi
 Kaji adanya alergi makanan
 Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.

DAFTAR ISI

10
Diana. https://www.academia.edu.Askep_infeksi_saluran_kemih

Muthiadewi. https://www.academia.edu.laporan_pendahuluan_pasien_dengan_isk

Woelandary, 2014. Eprints.ums.ac.id

Bulechek, G.M., Butcher, H.K., Dochterman, J.M., Wagner, C.M. 2016. Nursing


Interventions Classification (NIC), 6th Indonesian editions. Singapore : Elsevier,
Indonesia : Mocomedia
Moorhed, S., Johnson, M., Maas, L.M., Swanson, E. 2016. Nursing Outcomes Classification
(NOC), 5th Indonesian editions. Singapore : Elseiver, Indonesia : Mocomedia
North American Nursing Diagnosis Association (NANDA). 2015.  Diagnosis Keperawatan
Definisi dan Klasifikasi 2015-2017. Jakarta : EGC.

11