Anda di halaman 1dari 8

LanjutanTabel

Tabel3.1.
3.3.Survey
LokasiGPS
titik untuk
GPS penurunan
pemantauan
tanah
penurunan
periode tanah
2008-2009
Semarang
di Semarang
BAB 3 PEMANTAUAN PENURUNAN MUKA TANAH DENGAN METODE
Tahun Tahun
No
Nama
2008
SURVEY
2009
GPSTahun 2010 Tahun 2011
Stasiun
(7-13 Juli) (5-11 Juni) (21-25 Juli) (22-28 Juni)
1 259 √ √ √ √
2 1106 √ √ √ √
Ada beberapa
3 metode
1114geodetik yang
√ dapat digunakan
√ untuk √memantau penurunan
√ tanah,
4 1124 √ √ √ √
diantaranya
5 survey1125 sipat datar √(leveling), √ Interferometric
√ Synthetic√ Aperture Radar
(INSAR),6 dan Survey
1303GPS (Abidin,√ 2001; Mahdi √ Motagh, dkk,
√ 2006). √
7 AY15 √ √ √ √
8 BM01 √ √ √ √
Dalam memantau
9 penurunan muka√ tanah di Semarang,
BM05 √ metode
√ geodetik yang√ digunakan
10
adalah metode BM11
survey √
GPS. Pergerakan √ muka tanah
penurunan √ merupakan√suatu fenomena
11 BM16 √ √ √ √
yang tidak
12 dapat dirasakan
BM30 seperti√halnya gempa√ bumi. Penurunan
√ muka tanah
- terjadi sedikit
13 dalamBTBR
demi sedikit skala milimeter√ sampai centimeter
√ √
per/tahun. √ itu Untuk
Oleh karena
14 CTRM √ √ √ √
mengetahui
15 penurunan
ISLA muka tanah,
√ diperlukan metode
√ yang√tingkat presisinya
√ milimeter.
16 JOHR √ √ √ √
GPS memberikan nilai vektor pergerakan tanah dengan tingkat presisi sampai beberapa
17 K371 √ √ √ √
18
millimeter (Abidin, 2008).
KO16 √ √ √ √
19 MP69 √ √ √ √
20 MSJD √ √ √ √
3.1. GPS (Global Positioning System)
GPS adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang berbasiskan pada
pengamatan satelit-satelit Global Positioning System [Abidin, 2000; Hofmann-Wellenhof et
al., 1997]. Prinsip studi penurunah tanah dengan metode survei GPS yaitu dengan
menempatkan beberapa titik pantau di beberapa lokasi yang dipilih, secara periodik atau
kontinyu untuk ditentukan koordinatnya secara teliti dengan menggunakan metode survei
GPS. Dengan mempelajari pola dan kecepatan perubahan koordinat dari titik-titik tersebut
dari survei yang satu ke survei berikutnya atau hasil data kontinyu, maka karakteristik
penurunan
33 muka tanah
VTRN( land subsidence
√ ) akan√dapat dihitung
√ dan dipelajari.
√ Konsep
34 -
Teknologi GPS Kantor Yayasan Tri Tunggal,
34 SMG336 6° 57' CPMR 48.92545" S - 110° 23' 47.38281"
√ E Perumahan
√ Semarang
√ Indah IV
37
Konsep penentuan -
posisi dengan GPS
RMPA √
adalah reseksi no.1

jarak dengan √
pengukuran jarak secara
35 SMG538 6° 57' 05.62171"
DRI1 S √ 110° 28' 42.28930"
- E SD
√ Trimulia, Jalan
√ Trimulia Raya
simultan ke beberapa satelit GPS yang koordinatnya telah diketahui. Sinyal GPS
SMP 15 Semarang, Jalantersebut
36 SMPN 6° 59' 42.84922" S 110° 27' 24.55411" E
Supriadi no.72
memberikan informasi : Mesjid Baiturahman Semarang,
37 SP05 6° 59' 20.73137" S 110° 25' 22.27051" E
Simpang Lima
1. Jarak 6°
38 T347 (kode),
58' 33.059812" S Jalan Tugu Rejo
2. Informasi posisi satelit (navigation message),
Informasi posisi satelit (navigation message) berisi informasi tentang koefisien
koreksi jam satelit, parameter orbit, almanac satelit, parameter koreksi ionosfer, dan
20
informasi spasial lainnya seperti konstelasi dan kesehatan satelit. Navigation
message tersebut dikirimkan ke pengguna menggunakan satelit GPS.
3. Gelombang pembawa (carrier wave).
Gelombang pembawa (carrier wave) yang digunakan oleh GPS adalah L1 yang
membawa kode-kode P(Y), C/A, dan pesan navigasi, serta L2 yang membawa kode
P(Y) dan pesan navigasi.

3.2. Penentuan Tinggi Dengan GPS


Dalam penentuan tinggi titik pengukuran, Ketinggian titik yang diberikan oleh GPS
adalah ketinggian titik di atas permukaan ellipsoid yaitu ellipsoid WGS 84. Tinggi ellipsoid
(h) tidak sama dengan tinggi orthometrik (H) yang biasa digunakan dalam pengukuran sipat
datar (lavelling). Karena, tinggi orthometrik suatu titik adalah tinggi titik diatas geoid yang
diukur sepanjang garis gaya berat yang melalui titik tersebut, sedangkan tinggi ellipsoid
suatu titik adalah tinggi titik tersebut di atas ellipsoid dihitung sepanjang garis normal
ellipsoid titik tersebut ,

Survey GPS untuk pemantauan penurunan muka tanah dengan menentukan koordinat
secara teliti beberapa titik pada lokasi yang dipilih dilakukan secara periodik dengan interval
waktu tertentu menggunakan metode survey GPS. Dengan demikian maka akan didapat
pola dan kecepatan perubahan tinggi ellipsoid dari titik – titik tersebut dari survey yang satu
ke survey berikutnya, dengan didapatkannya pola dan kecepatan perubahan tinggi tersebut
maka besar penurunan tanah dapat diketahui. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
Gambar 3.1di bawah ini:

21
Gambar 3.1. Prinsip pemantauan penurunan tanah dengan GPS (Abidin, 2008)
Dari gambar 3.1, data hasil pengukuran dengan GPS beberapa tahun pada titik yang
sama akan menghasilkan perbedaan koordinat horizontal (X dan Y) dan vertikal (Z). Dengan
diperolehnya perbedaan koordinat maka besarnya pergerakan tanah dapat diketahui. Nilai
pergerakan tanah yang diperoleh maka diketahui karakteristik pergerakan tanahnya.

3.3. Metoda GPS Yang Digunakan Dalam Pemantauan Penurunan Tanah

Dalam pengukuran di Semarang,mode pengukuran yang digunakan adalah GPS radial


di mana setiap titik diukur secara diferensial dengan satu titik sebagai titik referensinya.
Titik referensi tersebut telah diketahui koordinatnya sehingga semua titik ditentukan
koordinatnya dengan menggunakan koordinat titik referensi tersebut. . Pada penelitian ini
difokuskan dalam hal penentuan beda tinggi geodetik yang teliti. Untuk mendapatkan nilai
beda tinggi geodetik yang baik, maka pada penelitian ini dilakukan penentuan beda tinggi
geodetik dilakukan menggunakan metoda GPS diferensial dengan moda radial. Pengamatan
GPS diferensial menggunakan moda radial dianggap lebih efektif dan efisien daripada
penggunaan moda jaring. Dengan kemampuan perangkat lunak yang semakin baik dan
canggih, serta semakin baiknya informasi orbit dan informasi pendukung lainnya, maka
pengolahan vektor baseline menggunakan moda radial saat ini menjadi lebih baik.
Sedangkan pada pengolahan data moda jaring, akan terdapat kekurangan ketika terdapat satu
baseline yang memiliki kesalahan yang cukup besar maka akan mempengaruhi baseline
lainnya yang memiliki kesalahan yang kecil. Hal ini disebabkan karena pada pengolahan
data moda jaring menggunakan prinsip perataan dimana kesalahan dibagi rata pada semua
baseline. Gambar di bawah menunjukkan pengukuran GPS mode radial.
22
Pengolahan data dari setiap baseline GPS pada dasarnya adalah bertujuan menentukan
nilai estimasi vektor baseline atau koordinat relatif. Gambar mode radial yang digunakan
dalam pengolahan data dapat dilihat pada Gambar 3.2 di bawah ini:

Gambar 3.2. Mode Radial (Abidin, 2002)

3.4. Pelaksanaan Survey GPS Untuk Pemantauan Penurunan Tanah Semarang


Untuk pelaksanaa survey GPS untuk monitoring land subsidence Semarang, pihak
kelompok keilmuan geodesi telah melakukan survey sejak tahun 2008. Alat yang digunakan
untuk pengukuran penurunan muka tanah ini adalah dua jenis receiver GPS yaitu
TRIMBLE4000SSi dan Leica.

Data yang diolah berasal dari 4 kali data pengmatan GPS yang dilakukan pada tanggal,
yaitu pada 7-13 Juli 2008, dan 5-11 Juni 2009, 21-25 Juli 2010 dan 22- 28 Juni 2011 untuk
distribusi persebaran titik dan lokasi titik ditunjukan pada Tabel 3.1 dan untuk distribusi
persebaran titik pada Gambar 3.3

23
21 MTIM √ √ √ √
22 PMAS √ √ √ √
23 PRPP √ √ √ √
24 SD01 √ √ √ √
25 SD02 √ √ √ √
26 SFCP √ √ √ √
27 SMG2 √ √ √ √
28 SMG3 √ √ √ √
29 SMG5 √ √ √ √
30 SMPN √ √ √ √
31 SP05 √ √ √ √
32 T447 √ √ √ √

SMKN √ √ √
35 T374 √ √ √ √

39 K370 √ √ √ √
40 KOP8 √ √ √ √
41 PAMU √ √ √ √
42 PBR1 √ √ √ √
43 QBLT √ - √ √

24
Sistem Proyeksi : Transverse Mercator
Sistem Koordinat : UTM
Zona : 49 S

Gambar 3.3. Lokasi persebaran titik pemantaun penurunan tanah di Semarang (2011)

Tabel 3.2. Lokasi titik GPS penurunan tanah periode 2008-2009 di Semarang

No Nama Stasiun Lintang Bujur Lokasi


1 0259 6° 59' 01.53848" S 110° 24' 34.29757" E Tugu Muda Semarang
2 1106 6° 59' 41.43484" S 110° 25' 49.83667" E Jalan. Atmodirono
3 1114 6° 59' 13.97440" S 110° 24' 24.99820" E Jalan H.O.S. Cokroaminoto
4 1124 6° 58' 48.63423" S 110° 25' 16.09457" E Jalan Gajah Mada
5 1125 6° 58' 49.64402" S 110° 25' 50.23961" E Jalan Karang Saru

25
Nama
No Lintang Bujur Lokasi
Stasiun
6 1303 6° 58' 01.84841" S 110° 17' 55.51349" E SMPN 28 Semarang
7 AY15 7° 00' 28.24934" S 110° 24' 58.06149" E Jalan Sultan Agung
8 BM01 6° 57' 39.19822" S 110° 26' 22.83099" E Jalan.Kaligawe
9 BM05 6° 57' 06.95602" S 110° 25' 09.20122" E Pelabuhan Tanjung Mas
10 BM11 6° 57' 21.49755" S 110° 23' 43.83551" E Jalan R.E. Martadinata
11 BM16 6° 57' 57.83834" S 110° 25' 33.21357" E Jalan Merak
12 BM30 6° 59' 16.34017" S 110° 22' 07.07929" E Taman Sriwibowo
13 BTBR 6° 56' 15.22961" S 110° 27' 34.55448" E Briket Tambang Batubara
14 CTRM 6° 58' 18.65108" S 110° 26' 31.71239" E Jalan Citarum
15 DRI1 6° 58' 08.704624" S 110° 25' 28.768514" E jalan Kaligawe
16 ISLA 6° 57' 22.29716" S 110° 27' 33.11412" E Jalan Kaligawe
17 JOHR 6° 58' 09.78469" S 110° 25' 51.25401" E Pasar Johar
18 K370 6° 58' 16.723797" S 110° 23' 25.626647" E Jalan Puri Anjasmoro
19 K371 6° 58' 45.27787" S 110° 22' 36.38864" E Dekat bandara Ahmad Yani
20 KO16 7° 00' 16.67290" S 110° 24' 31.55626" E Jalan Mayjen S. Parman
21 KOP8 6° 58' 23.916197" S 110° 24' 54.109307" E Jalan Imam Bonjol
Pertigaan Jalan Pandaran, Jalan
22 MP69 6° 59' 12.25143" S 110° 24' 50.23725" E
Kyai Saleh, Jalan Pekunden
Mesjid Nurul Bahari, Pelabuhan
23 MSJD 6° 57' 22.92705" S 110° 25' 26.49862" E
Tanjung Mas
BMG Stasiun, Jalan Deli
24 MTIM 6° 56' 53.02872" S 110° 25' 12.20669" E
Semarang
25 PAMU 6° 59' 15.220335" S 110° 23' 22.911480" E Jalan Pamularsih Raya no.83
Lokasi industri Wijaya Kusuma,
26 PBR1 6° 58' 14.096126" S 110° 19' 59.403666" E
Jalan Tugu Industri Raya
27 PMAS 6° 56' 47.60685" S 110° 25' 28.95131" E Pelabuhan Tanjung Mas
28 PRPP 6° 57' 44.19683" S 110° 23' 30.20259" E Jalan. Madukoro
Jalan Mangkang Wetan -
29 QBLT 6° 57' 18.982396" S 110° 18' 53.439961" E
Mangunharjo dan Gang Kutuk
30 SD01 6° 57' 51.75513" S 110° 24' 57.68862" E Lamisin Dara
31 SD02 6° 58' 37.82884" S 110° 21' 56.58179" E Tambaklorog
Kampung Kali, Jalan Kimangun
32 SFCP 6° 59' 09.28187" S 110° 25' 43.68791" E
Jatikoro
Kantor BMG, Jalan Siliwangi
33 SMG2 6° 59' 02.25589" S 110° 22' 50.98895" E
no.291

110° 21' 09.091662" E


39 T447 7° 01' 25.10252" S 110° 25' 13.90672" E Jalan Teuku Umar
40 VTRN 6° 59' 52.40809" S 110° 25' 09.88486" E Jln Diponegoro
41 CPMR 6° 56' 43.876272" S 110° 25' 59.823423" E jalan teratai
42 RMPA 6° 57' 27.979790" S 110° 26' 56.573285" E Jalan Kaligawe
26
Titik SMG1 sebagai titik referensi dalam metoda jaring radial survey GPS untuk
pemantauan penurunan tanah ini. Titik SMG1 dianggap sebagai titik yang stabil
koordinatnya. Pada Tugas Akhir ini akan difokuskan pada pembahasan penurunan tanah
antara survey-1 survey-2, survey-3 dan survey-4. Pada selang waktu ini hanya terdapat 43
titik pantau yang dapat dihitung penurunan tanahnya, antara 0259, 1106, 1114, 1124, 1125,
1302, 1303, AY15, BM01, BM05, BM11, BM16, BM30, BTBR, CTRM, DRI1,ISLA, JOHR, K370,
K371, KO16, KOP8, MP69, MSJD, MTIM, PAMU, PBR1, PMAS, PRPP, ,QBLT, SD01, SD02,
SFCP, , SMG2, SMG3, SMG4, SMG5, SMPN, SP05, T347, T447, VTRN, CPMR, TMAS, CP04,
RMPA.
Beberapa titik pengamatan GPS untuk pematauan penurunan muka tanah Semarang
diperlihatkan pada Gambar 3.4

Gambar 3.4. Beberapa titik pengamatan GPS untuk pemantauan

27