Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pentingnya untuk Memperkuat Ketahanan Nasional dalam Kehidupan
Berbangsa dan Bernegara. Memperkuat Ketahanan Nasional merupakan wujud
kemampuan untuk memperbaiki suatu bangsa dan negara untuk mempertahankan
persatuan dan kesatuan bangsa guna dapat mencapai kesejahteraan bangsa dan
melanjutkan pembangunan yang berkesinambungan.

Ketahanan Nasional sangat dipengaruhi oleh Ketahanan dan Kestabilan


dalam bidang, sebagai berikut :
 Politik Ekonomi
 Sosial Budaya
 Pertahanan Keamanan Nasional Ketahanan dan Kestabilan Politik\

Iklim Politik yang mendukung terciptanya kestabilan politik sangat


diperlukan dalam mencapai terwujudnya Ketahanan Nasional. Untuk itu
diperlukan dukungan yang kuat dalam bentuk :
1. Pemerintahan yang bersih (clean and good governance), dengan tingkat
legitimasi dan kredibilitas yang tinggi,
2. Terselenggaranya sistem yang transparan dan iklim demokrasi yang sehat.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana memperkuat daya tahan dan daya saing bangsa ?
2. Apa pengertian Good Governance ?
3. Bagaimana kasus dari permasalahan Good Governance ?
4. Bagaimana peran Indonesia dalam kancah perdamaian dunia ?

1.3. Tujuan

1
1. Untuk mengetahui bagaimana cara mewujudkan perdamaian dunia.
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud Good Governance.
3. Untuk mengetahui kasus apa saja yang ada di Good Governance.
4. Untuk mengetahui bagaimana peran Indonesia dalam perdamaian dunia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Memperkuat Daya Tahan dan Daya Saing Bangsa


Daya saing bangsa merupakan hal yang sangat penting, khususnya dalam
era globalisasi. Bangsa yang tidak kompetitif tidak akan bisa bersaing dengan
bangsa lain di dunia yang semakin lama menjadi satu dengan segala
interkoneksinya. Siapapun yang tidak mempunyai kompetensi akan secara
perlahan termajinalkan. Untuk menjadi bangsa yang mempunyai daya saing yang
tinggi, sebuah bangsa harus mampu menjadi mandiri dan tidak tergantung kepada
bangsa lain dalam memenuhi kebutuhannya, serta mempunyai keunggulan
kompetitif.
Sudah pasti, keunggulan tersebut tidak datang dengan sendirinya dan harus
diupayakan agar tercipta dengan baik. Dan untuk meningkatkan keunggulan
tersebut dibutuhkan peningkatan sumber daya manusia. Secara khusus, sumber
daya manusia sebuah bangsa harus memiliki keseimbangan antara soft
skill dan hard skill agar kemandirian bangsa dapat terwujud. Adapun yang
dimaksud dengan hard skill adalah kompetensi teknis dan akademis sesuai dengan
keilmuan dan profesi. Sedangkan soft skill adalah kemampuan diluar kemampuan
teknis dan akademis yang mengacu kepada kemampuan intrapersonal
termasuk self awareness, self improvement, self control, dan interpersonal skill.
Dengan kata lain, hard skill adalah jenis kemampuan yang dapat diajarkan,
seperti kemampuan untuk mengetik, berbicara bahasa asing, mengoperasikan
teknologi, mengelola administrasi penjualan, mengelola prosedur finansial, dan
lain lain. Jenis kemampuan ini dapat diamati, dikuantifikasi, dan diukur.
Sementara itu, soft skill (atau yang disebut people skill) adalah subyektif, yang
berarti bisa benar atau tidak benar, nonteknis, yang menunjuk pada karakteristik
kepribadian, seperti kemampuan untuk berkomunikasi, mendengar,
memberi feedback, menganalisa, mendelegasikan otoritas, membuat keputusan,
dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan konflik. Kemampuan untuk
memberi motivasi dan encouragement, keahlian akan time management,

3
bertanggung jawab, berkomitmen, good with children, dan lain-lain juga sebagian
contoh dari soft skill, begitu juga kesopanan, kesantunan, keberanian, kreatifitas,
hemat, dan cinta tanah air.
Kemampuan ini sedikit sulit untuk diamati dan diukur, serta tidak mudah
untuk diajarkan. Hard skill dan soft skill adalah dua kemampuan yang harus
dimiliki oleh sebuah bangsa untuk mendukung peningkatan daya saing bangsa.
Namun sayangnya, daya saing Indonesia saat ini masih belum optimal.
Dalam laporan The Global Competitiveness Index 2012-2013 yang dirilis
oleh World Economic Forum, Indonesia menempati posisi ke 50 dari 144 negara
di dunia dengan skor 4,4 , atau turun empat tingkat dari tahun sebelumnya.
Sedangkan negara tetangga Singapura menempati posisi kedua, Malaysia di posisi
25, Brunei Darussalam posisi 28, dan Thailand menempati di posisi 38. Hal ini
karena, salah satunya, SDM Indonesia yang kurang kompetitif.
Dalam hal ini, lembaga pendidikan adalah salah satu lembaga yang
bertanggung jawab atas kondisi tersebut. Secara rata-rata penduduk Indonesia
hanya bersekolah 5,8 tahun dalam hidupnya, atau tidak lulus SD. Dan
berdasarkan Education Development Index yang dikeluarkan UNESCO, tahun
2011 Indonesia menempati posisi ke 69 dari 127 negara. Dan untuk menciptakan
SDM yang handal, SDM tersebut harus memiliki hard skill dan soft skill yang
tangguh yang dapat membantu mereka menjalankan pekerjaannya.
Secara singkat, daya saing bangsa Indonesia terpuruk karena SDM yang
kurang baik, yang mana dapat ditingkatkan dengan meningkatkan lembaga
pendidikan di Indonesia untuk meningkatkan baik hard skill maupun soft
skill SDM Indonesia.
Paling tidak ada beberapa alasan mengapa pendidikan di Indonesia belum
terlaksana secara optimal sehingga SDM kita tidak kompetitif, yaitu sebagai
berikut :
1. Karena adanya ketidak seimbangan kurikulum pendidikan hard
skill dan soft skill. Soft skill sangat diperlukan untuk
mengembangkan rasa tanggung jawab dan disiplin. Dimana tanpa
disiplin, bangsa Indonesia tidak akan bisa menjadi bangsa yang

4
maju dan bersaing dengan bangsa lain. Sayangnya, harus diakui
bahwa pola pembelajaran selama ini yang telah diselenggarakan
oleh lembaga pendidikan lebih menekankan pada penguasaan hard
skill dan kurang memberi porsi pada upaya untuk
menumbuhkembangkan soft skill agar berdampingan dengan hard
skill. 

Wakil Presiden Boediono sempat mengkritik model pendidikan yang saat


ini belum banyak menempatkan pendidikan soft skill untuk generasi penerus
bangsa meskipun nilai-nilai kejujuran, cinta tanah air, sikap toleransi, dan cinta
alam merupakan nilai dasar bangsa yang menjadi pegangan hidup kita ke depan,
dan memberi porsi lebih pada kemampuan eksak, fisika, profesi dan keterampilan.
Padahal, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Universitas Gajah Mada
terhadap 59 perusahaan, soft skill, khususnya kemampuan untuk berkomunikasi
dan kemampuan persuasif adalah hal yang paling dibutuhkan perusahaan dari
calon karyawannya, yang mana kemampuan tersebut menduduki persentasi 40%,
lebih tinggi dari leadership skill (34%), dan presentation skill (35%).
Untuk mengatasi masalah tersebut, dibutuhkan komitmen pemerintah,
khususnya Kemendikbud untuk memberikan porsi yang lebih di dalam kurikulum
pendidikan formalnya agar pemberian pendidikan hard skill dan soft skill bisa
seimbang. Dalam hal ini, baik Kemendibud maupun dinas pendidikan daerah
harus bekerjasama untuk meningkatkan biaya pendidikan yang dialokasikan untuk
pengembangan soft skill. Selain itu, jam pelajaran pemberian pendidikan hard
skill dan soft skill juga harus diseimbangkan.
Sebagai contoh, jam untuk mendengarkan kuliah atau membaca buku
harus diimbangi dengan banyaknya waktu yang diberikan lembaga kepada siswa
untuk berdiskusi, mengkritisi, dan melakukan analytical thinking. Dengan
demikian, setiap pemberian kuliah harus diikuti dengan diskusi yang sepadan.
2. Pendidikan soft skill yang sudah terlaksana sampai saat ini masih
kurang optimal. Lembaga pendidikan di Indonesia sebenarnya
telah menyelenggarakan pendidikan hard skill dan soft skill secara

5
bersamaan. Namun penyelenggaraanya masih belum optimal.
Sebagai contoh, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang juga
berisi pembelajaran mengenai Pancasila, yang mana siswa
diajarkan untuk bergotong royong guna meningkatkan kerjasama
dan rasa kebersamaan, sudah diberikan di pendidikan formal, mulai
SD. Namun, pendidikan ini porsinya relatif sedikit dibandingkan
kelas-kelas eksakta lainnya. Selain itu, kelas PKn dinilai kurang
popular dibanding lainnya. Misalkan, banyak guru yang memilih
untuk tidak mengajar PKn hanya karena mata pelajaran tersebut
kurang diminati para siswa.

Metode pengajaran yang diberikan untuk meningkatkan soft skill ini juga


masih kurang menarik, seperti banyaknya hapalan dan metode konvensional
lainnya yang membuat para murid jenuh dengan materi yang terkesan “itu-itu
saja.” Terlebih dari itu, pendidikan Pancasila, yang mana paling tepat untuk
mengembangkan soft skill, justru diberikan porsi yang kecil dari mata pelajaran
PKn, sehingga beberapa kalangan sempat mengatakan bahwa PKn lebih ingin
membuat siswa menjadi ahli tata negara daripada siswa yang Pancasilais. 
Selain itu, kegiatan upacara bendera yang dimaksudkan untuk
meningkatkan rasa cinta kepada tanah air juga dinilai kurang efektif dan terkesan
membosankan. Belum lagi adanya protes dari beberapa daerah seperti di SMP Al
Irsyar Al Islamiyah dan SD Islaim Sains dan Teknologi Al Bani di Karanganyar,
Jawa Tengah yang menganggap upacara bendera sebagai penyekutuan Tuhan dan
musyrik.
Fenomena upacara bendera memang menarik untuk disimak. Beberapa
guru dari Australia yang sempat mengajar di SD Indonesia dibawah program
BRIDGE (Building Relations Through Intercultural Dialogue and Growing
Engagement) mengaku terkejut karena melihat dua hal, yaitu budaya cium tangan
kepada guru oleh para murid dan upacara bendera yang dilakukan setiap minggu.
Namun apakah kegiatan itu sudah membangkitkan rasa nasionalisme
merupakan hal yang harus diteliti lebih lanjut (i.e. seperti diketahui, bangsa AS

6
nyaris tidak pernah melakukan upacara bendera, bahkan saat hari kemerdekaan 4
Juli hanya dimeriahkan dengan fireworks dan tanpa upacara. Namun nasionalisme
bangsa AS terhadap negaranya jauh lebih tinggi daripada rasa nasionalisme
bangsa Indonesia pada umumnya).
Untuk mengatasi masalah kedua, dimana pelaksanaan pendidikan soft
skill yang sudah berjalan masih kurang optimal, maka pendidikan Pancasila harus
direvitalisasi. Pendidikan Pancasila yang terkesan membosankan dapat dibuat
lebih menarik dengan revisi kurikulum dan revisi metode
pembelajaran.Kemendikbud bisa bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk
mengadakan lomba pengenalan pancasila.
Di Solo pernah diadakan Lomba Budaya Sadar Pancasila dan Konstitusi,
hasilnya lurah2x di kota ini sangat memahami makna Pancasila dan dapat
memberikan analisa tajam mengenai Pancasila, dimana Mahfud MD bertindak
sebagai juri.Acara pengenalan Pancasila juga dapat dilaksanakan melalui seminar
di TV, universitas-universitas, dan lembaga pendidikan atau sosial lainnya.
Upaya berikutnya yaitu mengenai badan sosialisasi Pancasila. BP-7, badan
yang bertugas untuk mensosialisasikan Pancasila dibubarkan berdasarkan Keppres
No 27/1999 karena dinilai telah disalah gunakan untuk kepentingan politik dan
untuk mendapatkan kekuasaan.
Namun, lembaga penggantinya, yaitu Badan Pengembangan Kehidupan
Bernegara (BPKB) yang dibuat berdasarkan Keppress No 85/1999, sampai
sekarang belum juga aktif. Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa
optimalisasi soft skill dapat didorong dengan peningkatan pendidikan Pancasila.
Masalah terakhir yaitu kurangnya jumlah lembaga kejuruan dan
vokasional. Pendidikan kejuruanadalah penting untuk meningkatkan hard skill.
Pendidikan ini dikenal dengan sebutan Vocational Education and Training. Bukan
saja di Indonesia, beberapa negara di dunia juga sedang mengembangkan VET. Di
Cina, pemasok terbesar tenaga kerja untuk industri berasal dari sekolah kejuruan. 
Namun, lembaga penggantinya, yaitu Badan Pengembangan Kehidupan
Bernegara (BPKB) yang dibuat berdasarkan Keppress No 85/1999, sampai

7
sekarang belum juga aktif. Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa
optimalisasi soft skill dapat didorong dengan peningkatan pendidikan Pancasila.
Masalah terakhir yaitu kurangnya jumlah lembaga kejuruan dan
vokasional. Pendidikan kejuruanadalah penting untuk meningkatkan hard skill.
Pendidikan ini dikenal dengan sebutan Vocational Education and Training. Bukan
saja di Indonesia, beberapa negara di dunia juga sedang mengembangkan VET. Di
Cina, pemasok terbesar tenaga kerja untuk industri berasal dari sekolah kejuruan. 

2.2 Materi Good Governance


Good governance sebenarnya adalah pemerintahan dengan tata kelola
pemerintahan yang baik, seperti pemerintahan yang efektif, efisien, transparan,
akuntabel dan bertanggung jawab. Artinya, penyelenggaraan pemerintahan
diharapkan tepat sasaran sesuai dengan rencana strategis yang telah ditetapkan,
berdaya guna dan berhasil guna, terbuka dan dapat diawasi oleh semua orang,
serta bertanggung jawab terhadap segala kebijakan yang ditetapkan. Sebagai suatu
konsensus yang dicapai oleh pemerintah, warga negara, dan sektor swasta bagi
penyelenggaraan pemerintahaan dalam suatu negara.
Dari segi terminologi, terdapat tiga hal yang rancu dalam istilah dan konsep
good governance. Tiga hal tersebut adalah tata pemerintahan yang baik (good
governance), pemerintahan yang baik (good government), dan clean government
(pemerintahan yang bersih). Agar kita bisa memahami secara lebih tepat
sebenarnya yang ingin dicapai oleh good governance, kita bisa mencoba
memahami terlebih dahulu pengertian dari good governance, seperti berikut ini:

1. Bank Dunia (World Bank) menyatakan bahwa good governance adalah


cara kekuasaan yang digunakan dalam mengelola berbagai sumber
daya sosial dan ekonomi untuk pengembangan masyarakat (Mardoto,
2009).
2.  United National Development Planning (UNDP) mendefiniskan good
governance sebagai praktik penerapan kewenangan pengelolaan
berbagai urusan penyelenggaraan negara, baik secara politik, ekonomi,

8
maupun administratif di semua tingkatan. Maka, berdasarkan
pengertian ini ada tiga pilar penting dari good governance, yaitu
kesejahteraan rakyat, proses pengambilan keputusan dan tata laksana
pelaksanaan kebijakan (Prasetijo, 2009)

3. Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) memahami good


governance memiliki kunci utama yaitu pemahaman atas prinsip-
prinsip yang mendasarinya. Prinsip-prinsip ini akan bisa menjadi tolak
ukur untuk mengukur kinerja pemerintahan. Secara singkat,
Hardjasoemantri (2003) menyebutkan ada 10 prinsip atau ciri-ciri good
governance, yaitu : partisipasi masyarakat, tegaknya supremasi hukum,
transparansi, kemudahan mengakses informasi, peduli pada
stakeholder, berorientasi pada konsensus, kesetaraan, efektivitas dan
efisiensi, akuntabilitas dan visi strategis.

Untuk bisa menjalankan pemerintahan dengan good governance, diperlukan


banyak hal mendasar yang harus dipenuhi. Ada beberapa hal mendasar yang
menjadi permasalahan dan harus diperbaiki dalam penerapan good governance,
antara lain:

 Integritas Pelaku Pemerintahan


 Kondisi Politik Dalam Negeri
 Kondisi Ekonomi Masyarakat
 Kondisi Sosial Masyarakat
 Sistem Hukum
 Kurangnya Sumber Daya Manusia Yang Mumpuni Dibidangnya
 Belum Ada Standar Akuntansi Keuangan Publik Yang Baku

2.3 Kajian Kasus Dari Permasalahan Good Governance

Sebagai contoh dari masalah ini misalnya pada kasus mafia pajak yang menyoroti
sidang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menggunakan hak angket. Hal ini
menunjukkan pejabat publik di bidang perpajakan tidak mampu melaksanakan

9
tugasnya dengan transparan dan bertanggung jawab kepada masyarakat. Selain
itu, ada juga kasus Bank Centuri yang hingga saat ini belum tuntas yang juga
menunjukkan good governance masih belum bisa diterapkan di Indonesia.

Dari semua permasalahan good governance yang disebutkan di atas,


permasalahan yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah di bidang integritas
pelaku pemerintahan, khususnya dalam hal praktik korupsi. Meski sudah ada
undang-undang tentang korupsi beserta hukumannya, di Indonesia, korupsi
banyak terjadi di tingkat otonomi daerah, dimana keberadaan otonomi daerah ini
merupakan perwujudan dari desentralisasi yang sebenarnya bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pemerataan pembangunan,
meningkatkan daya saing daerah, keadilan, dan kekhususan potensi dan
keragaman di Indonesia.

Adanya kebijakan otonomi daerah ini membawa konsekuensi dalam


penyelenggaraan pemerintahan. Kelebihan dan kekurangan otonomi daerah
tersebut yaitu secara politik keberadaan otonomi daerah merupakan langkah
menuju demokrasi karena pemerintah bisa menjadi lebih dekat dengan rakyatnya
sehingga bisa membuat rakyat lebih merasakan keberadaan pemerintah. Selain
konsekuensi politik, terdapat juga konsekuensi secara ekonomi yaitu desentralisasi
diharapkan bisa menciptakan inovasi masyarakat dan memotivasi masyarakat agar
lebih produktif.

Namun sayangnya, pada kenyataannya ada dampak negatif yang dibawa oleh
kebijakan desentralisasi. Desentralisasi berupa otonomi daerah ini ternyata juga
menjadi sumber ketidakadilan rakyat akibat pemerintah daerah banyak yang
bertindak sewenang-wenang dan menyelewengkan kekuasaannya. Akibatnya,
taraf hidup rakyat pun belum bisa meningkat seperti yang diharapkan. Hal ini bisa
jadi merupakan salah satu contoh nyata permasalahan good governance di
Indonesia.

10
Dengan korupsi dan penyalahgunaan jabatan di atas yang tampaknya menjadi
masalah utama good governance di Indonesia, mencari orang-orang dengan
integritas tinggi tampaknya menjadi sebuah tantangan tersendiri. Memilih aparatur
negara yang unggul dan berakhlak mulia tentu saja akan berdampak positif
terhadap penyelenggaraan negara dengan good governance. Jika korupsi dan
penyalahgunaan jabatan masih tetap eksis, maka hampir mustahil good
governance dapat diterapkan di negara kita.

Sebagai upaya mewujudkan good governance di Indonesia, melakukan tindakan


pencegahan dan penanggulangan bisa menjadi upaya kita bersama. Pencegahan
bisa dilakukan dengan menjamin kepastian hukum untuk mewujudkan
pemerintahan terbuka. Jaminan ini diberikan sebagai hak publik, seperti hak untuk
mengamati perilaku pejabat, hak untuk mengakses informasi, hak untuk turut
berpartisipasi dalam pengambilan kebijakan dan hak untuk mengajukan keberatan
jika ketiga hak sebelumnya tidak terpenuhi. Di samping itu, upaya
penanggulangan bisa dilakukan dengan memastikan para pelanggar aturan
mendapatkan hukuman yang sesuai, tidak peduli apakah orang tersebut adalah
pejabat tertentu atau anggota kelompok tertentu.

Demikian pembahasan kali ini mengenai permasalahan good governance di


Indonesia. Dengan memahami permasalahan-permasalahan yang ada, diharapkan
kita bisa bersama mencari solusi terbaik demi terwujudnya good governance
untuk pemerintahan yang bersih dan menyejahterakan rakyat.

2.4 Peran Indonesia dalam Kancah Perdamaian Dunia


Indonesia memiliki peran tersendiri dalam perdamaian dunia. Sikap politik
Indonesia adalah bebas dan aktif. Bebas artinya Indonesia tidak memihak ke blok
manapun, blok barat atau blok timur.
Walaupun tidak memihak kemanapun Indonesia juga bersikap Aktif
artinya Indonesia turut serta berpartisipasi dalam perdamaian dunia. Indonesia
sudah menunjukkan komitmennya sebagai negara yang menjunjung tinggi
perdamaian dunia sejak merdeka tahun 1945. Kemudian pada tahun 1957

11
Indonesia mulai bergabung dalam misi-misi perdamaian dalam naungan PBB
(United Nations).

Secara garis besar berikut ini adalah berbagai kontribusi Indonesia dalam
menjaga perdamaian dunia :

1. Konferensi Asia-Afrika (1955)

Indonesia menjadi salah satu pelopor tercetusnya


Konferensi Asia-Afrika yang tujuannya adalah menghimpun
persatuan negara-negara Asia-Afrika yang pada saat itu baru
memperoleh kemerdekaan, mempromosikan serta meningkatkan
kerja sama antar negara serta menentang segala bentuk penjajahan.

Konferensi ini dipelopori oleh menteri luar negeri


Indonesia pada saat itu, Ali Sastroamidjojo beserta 4 pemimpin
negara lainnya Pakistan, India, Bangladesh dan Myanmar yang
kemudian diikuti 24 negara Asia-Afrika lainnya.

2. Kontingen Garuda (1957-sekarang)

Kontingen Garuda disingkat KONGA adalah pasukan


penjaga perdamaian yang anggotanya diambil dari militer
Indonesia yang bertugas dibawah naungan Perserikatan Bangsa-
Bangsa (PBB).

Sejak misi pertamanya tahun 1957, Kontingen Garuda


sampai sekarang masih aktif dalam melakukan berbagai misi
perdamaian. Negara-negara yang pernah menjadi tujuan dalam
misi Kontingen Garuda adalah negara-negara di Timur Tengah
seperti Mesir, Lebanon, Palestina, Irak. Negara Asean seperti
Filipina, Kamboja dan Vietnam. Juga negara-negara di Eropa
Timur seperti Georgia dan Bosnia.

12
3. Gerakan Non-Blok (1961)

Indonesia menjadi salah satu pelopor yang tergabung dalam


Gerakan Non-Blok, sebuah perhimpunan dari bangsa-bangsa yang
tidak beraliansi dengan negara-negara dengan kekuatan besar
manapun.

Pada saat itu Soekarno bersama dengan beberapa pemimpin


negara lainnya medeklarasikan keinginan mereka untuk tidak
terlibat konfrontasi yang muncul menanggapi terjadinya perang
dingin antara blok barat dan blok timur. Saat ini organisasi
beranggotakan 120 negara.

4. Membentuk ASEAN (1967)

Indonesia dan Malaysia yang sempat berkonfrontasi akhirnya


berdamai. Kedua negara bersama negara Asia Tenggara lainnya,
Singapura, Thailand dan Filipina merasa perlu untuk menciptakan
perdamaian antar negara di kawasan Asia Tenggara.

Akhirnya pada tahun 1967 terbentuklah ASEAN untuk mempererat


hubungan politik, social, ekonomi dan keamanan di Asia Tenggara.
Saat ini, negara ASEAN berjumlah 10 negara ditambah 5 negara
perluasan.

5. Sengketa Laut Tiongkok (2002-sekarang)

Melalui Declaration of Conduct (DoC) pada 2002, Indonesia


sampai sekarang memiliki peran yang besar untuk menciptakan
perdamaian di Laut Cina Selatan.

Indonesia pada akhirnya menginginkan negara-negara yang terlibat


untuk merumuskan Code of Conduct, yaitu sebuah kesepakatan

13
bersama yang mengatur apa saja dan tidak boleh dilakukan di
wilayah sengketa.

6. Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB (2007-2008)

Indonesia menjadi anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB


pada tahun 2007-2008, pada masa tersebut Indonesia konsisten
menyerukan untuk berdirinya negara Palestina yang merdeka dan
diakui dunia.

Menyerukan keterlibatan internasional yang berimbang dalam


penyelesaian konflik Israel-Palestina. Menyerukan agar kedua
belah mematuhi parameter perdamaian yang ditetapkan PBB. Hal-
hal diatas adalah wujud nyata dari komitmen bangsa Indonesia
untuk menjaga perdamaian dunia.

Tidak hanya berhenti disitu, sampai sekarang Indonesia juga masih


selalu aktif dalam mendukung perdamaian dunia seperti
penyelesaian konflik di Timur Tengah juga menyerukan
penanggulangan terhadap masalah terorisme yang berkembang
belakangan di dunia internasional.

14
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari penjelasan dia atas dapat ditarik kesimpulan bahwa perdamaian dunia
merupakan tiadanya kekerasan, kesenjangan, terjadinya konflik antar negara di
seluruh dunia. Upaya untuk mewujudkan perdamaian dunia dilakukan dalam
pendekatan budaya, pendekatan sosial dan ekonomi, pendekatan politik dan
pendekatan kebudayaan. Selain itu, dengan melaksanakan amanat pembukaan
UUD 1945 indonesia berpartisipasi dalam perdamaian dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian dunia dan keadilan sosial. Maka keterlibatan indonesia
dalam berbagai organisasi Internasional seperti gerakan non-blok, PBB,
konferensi asia-afrika, kontingen garuda, sengketa laut tiongkok dan
membentukan ASEAN juga atas dasar demi keamanan negara dan perdamaian
dunia. Efektifitas indonesia dalam berperan tersebut ialah indonesia mampu
menciptakan dan membangun rasa persaudaraan dan perdamaian antar negara satu
sama lain.

3.2. Saran
Dalam makalah diatas dijelaskan bagaimana bangsa indonesia merupakan
bangsa yang besar dan dipercaya oleh dunia. Yakni selalu mengamalkan
perdamaian dalam kehidupan sehari-hari dikarenakan sikap damai merupakan
salah satu sikap yang tidak bisa runtuh dalam segala bentuk permasalahan dan
mampu mengikat tali persaudaraan terutama untuk dunia Internasional. Hubungan
Internasional sangatlah penting bagi suatu negara. Dengan adanya hubungan
Internasional pencapaian tujuan negara akan lebih mudah dilakukan dan
perdamaian dunia akan mudah diciptakan. Kita sebagai generasi muda harusnya
bangga dan belajar lebih giat lagi untuk memajukan Indonesia menjadi lebih baik
lagi.

15
DAFTAR PUSTAKA

https://www.kompasiana.com/diaz.hendropriyono/552a8ccf6ea8348437552cfe/m
eningkatkan-daya-saing-bangsa-dengan-membangun-hard-skill-dan-soft-skill

https://guruppkn.com/permasalahan-good-governance-di-indonesia

https://yanwariyanidwi.wordpress.com/2015/12/15/contoh-kasus-yang-berkaitan-
dengan-good-governance/

https://id.lifeder.com/peranan-indonesia-dalam-perdamaian-dunia/

https://id.lifeder.com › peranan-indonesia-dalam-perdamaian-dunia

16