Anda di halaman 1dari 4

KTI KEBIDANAN : PERBEDAAN NYERI PERSALINAN KALA I SEBELUm DAN

SESUDAH DILAKUKAN KOMUNIKASI TERPEUTIK

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah


Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau
dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lahir dengan bantuan atau
tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Manuaba, 1998:157). MAU KTI LENGKAP BAB 1-5 HUB.
081228101101

Merupakan kewajiban bidan untuk memberi nyaman dan ketenangan pada pasien. Manusia terus
berusaha untuk mengurangi/menghilangkan rasa nyeri persalinan. Bahkan zaman primitif dahulu
dilakukan dengan menggunakan jimat/mantra-mantra yang diberikan untuk
mengurangi/menghilangkan nyeri persalinan. Nyeri pada persalinan bukan hal baru yang dikenal
sekarang tetapi sejak zaman dahulu dan tampaknya rasa nyeri pada persalinan pada zaman
dahulu tidak berbeda dengan nyeri yang dialami oleh wanita zaman sekarang. Reaksi terhadap
rasa nyeri bersifat subyektif antar individu dan dipengaruhi oleh inten sitas serta lamanya his,
besar pembukaan, regangan segmen bawah rahim (SBR), umur pasien, banyaknya persalinan,
besar janin dan keadaan umum pasien juga dipengaruhi pula oleh keadaan mental, kebiasaan dan
budaya ibu bersalin (Wiknjosastro, 1999:177). Hingga saat ini masih banyak saja yang diliputi
oleh macam-macam ketakutan dan tahayul (Kartono, 1992:153).
Bidan dikenal luas oleh masyarakat awam sebagai penolong persalinan sedangkan persalinan
merupakan kejadian yang jarang bebas dari rasa tak nyaman (nyeri) dan walaupun persalinan
merupakan proses yang fisiologis tetapi tetap selalu dihubungkan dengan penderitaan,
ketidaknyamanan dan penderitaan itu terutama disebabkan oleh rasa sakit saat terasa his dan oleh
rasa takut karena ketidaktahuan (Hamilton, 1995:155).
Pada umumnya persalinan terjadi bila bayi sudah cukup besar untuk hidup di luar, tetapi tidak
sedemikian besarnya sehingga menimbulkan kesulitan dalam persalinan. Kadang-kadang
persalinan tidak mulai dengan sendiriya tetapi baru berlangsung setelah pemecahan ketuban,
pemberian pitocin atau prostaglandin (Muhaimin M, 1996:221). Dalam proses persalinan juga
didukung oleh beberapa faktor antara lain power, passage, passanger sehingga, proses
pengeluaran janin dapat terjadi meskipun dalam proses persalinannya tidak semua orang (klien )
bisa memenuhi semua kriteria tersebut tergantung dengan kondisinya (Mochtar R, 1998:73).
Untuk menghadapi proses persalinan ini tidak semua orang (klien) bisa dengan tenang
menghadapinya oleh karena itu sebagai tenaga kesehatan terutama bidan harus bisa tanggap
dalam memberikan asuhannya. Di sini komunikasi sangat diperlukan.
Dalam dunia kebidanan, teknik komunikasi dikenal dengan komunikasi terapeutik, yang berarti
suatu proses penyampaian nasehat kepada pasien untuk mendukung upaya penyembuhan.
Seorang bidan dalam memberikan asuhannya terlebih dahulu menyampaikan ide dan pikirannya,
sehingga komunikasi dalam kebidanan dikenal secara luas sebagai terapeutik/mengandung nilai
pengobatan dan semua interaksi yang dilakukan ditunjukkan dalam upaya penyembuhan
penyakit (terpeutik). Dikenal dua macam teknik komunikasi yaitu secara verbal (menggunakan
kata-kata dalam bentuk lisan/tulisan) dan teknik non verbal (menggunakan bentuk lain seperti
sikap, gerak tubuh, ekspresi wajah/mata, sentuhan tangan dan isyarat) (Anonim, 1993:4).
Pentingnya komunikasi terapeutik dalam menurunkan rasa nyeri yang ditimbulkan oleh
persalinan sangat diperlukan, oleh karena itu bidan dalam persalinan harus bisa membantu
menimbulkan rasa percaya diri, karena bila klien itu sendiri grogi atau gugup dalam persalinanya
baik fisik maupun mental belum siap maka, timbul rasa ketakutan dan rasa nyeri yang dirasakan
bertambah (Kartono, 1992:153). Jika bidan memfokuskan perhatiannya pada klien maka bidan
dapat membantu klien untuk mengabsorbsi dan mengikis rasa sakitnya. Bidan sebaiknya
memberi informasi yang akurat dan mudah dipahami tentang kemajuan persalinannya dan selalu
memberikan pujian dan dukungan. Seorang bidan, dengan keahliannya dapat mengobservasi,
dapat menyakinkan dan menolong wanita tersebut agar mampu melepaskan dirinya dari rasa
sakit yang berlebihan, untuk melalui proses ini secara aman baik bagi dirinya maupun bagi
bayinya juga untuk bersikap terbuka dan menerima hal-hal yang terjadi pada dirinya
(Wiknjosastro, 1999:177).
Selama tiga dekade terakhir makin banyak minat untuk menerapkan cara penanggulangan nyeri
pada persalinan tanpa memakai obat-obatan. Diek-Read, mengemukakan bahwa masa persalinan
lebih singkat bila cara penanggulangan nyeri pada persalinan bisa efisien dengan menggunakan
teknik komunikasi terapeutik, namum kenyataannya sekitar 10-15% persalinan. Menyatakan 20-
30 % nyeri berkurang sehingga membantu dalam proses persalinan (Muhiman M, 1996:34).
Tetapi 90 % wanita disertai rasa nyeri pada persalinan.
Sedangkan dari hasil pengamatan pada proses persalinan dalam 3 bulan terakhir ini sebanyak 30
kasus persalinan di BPS Heru Trisnawati Plaosan yang diberikan komunitas terapeutik, ternyata
sekitar 20-30% ibu dapat mengalami persaliannya dengan lancar tanpa mengalami nyeri yang
dapat menghambat persalinannya.
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang faktor
psikis yang dialami pada saat persalinan dengan menerapkan konsep komunikasi dalam
menciptakan hubungan interpersonal antara penolong (bidan) dengan klien (ibu bersalin) melalui
komunikasi terapeutik dalam menurunkan rasa nyeri yang dialami ibu bersalin.
1.2 Identifikasi faktor penyebab masalah
Nyeri yang dialami saat persalinan pada dasarnya bersifat subyektif antar individu karena
dipengaruhi oleh intensitas serta lamanya his, besar pembukaan, regangan SBR, umur ibu,
banyaknya persalinan besar janin dan keadaan umum ibu bersalin (Wiknjosastro, 1999:177).
Nyeri persalinan dipengaruhi pula oleh keadaan mental/psikologi ibu, kebiasaan dan budayanya.
Bila ibu bersalin tahu apa yang sedang terjadi dan perasaan takut tersebut hilang, maka ibu
bersalin dapat menerima apa yang sedang dan akan terjadi, sehingga rasa nyeri itu hanya akan
terasa sedikit bahkan tidak sama sekali (Wiknjosastro, 1999:178).
Menurut konsep dasar adaptasi manusia terhadap stimulasi yaitu teknik komunikasi terapeutik
yang ditentukan oleh kebutuhan fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi. Dalam
kebutuhan fisilogis, ibu bersalin berharap akan terbebas dari rasa nyeri karena salah satu dari
kebutuhan fisiologis manusia adalah kebutuhan akan rasa aman dan nyaman. Pada ibu bersalin
rasa nyaman dipenuhi bila terbatas dari rasa nyeri sedangkan pada konsep interdependensi/saling
ketergantungan menujukkan bahwa ibu bersalin membutuhkan orang lain untuk diajak
berkomunikasi. Dengan harapan saat berkomunikasi dengan orang lain (suami, keluarga, bidan)
tersebut, nyeri yang dirasakan dapat berkurang (Anonim,1993:3).
Komunikasi terapeutik ada 2 macam yaitu : secara verbal dan non verbal. Secara verbal dapat
memberikan bukti bahwa bidan selalu ada saat ibu bersalin, sehingga ibu bersalin merasa tenang
dan dapat mengurangi persepsi ibu tentang nyeri. Teknik non verbal yang dapat dilakukan seperti
menggosok punggung ibu, mengusap keringat ibu akan dapat memberi rasa nyaman pada ibu
bersalin, sehingga kebutuhan ibu akan rasa nyaman terpenuhi (Anonim, 1993:3).
1.3 Rumusan masalah
Dari uraian dalam latar belakang di atas, maka penulis ingin mencoba rumuskan masalah
penelitian “Adakah perbedaan nyeri persalinan kala I sebelum dan sesudah dilakukan
komunikasi teraputik?“
1.4 Tujuan penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan nyeri persalinan kala I sebelum dan sesudah
dilakukan komunikasi terapeutik di BPS
1.4.2 Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi karakteristik responden yang meliputi usia, tingkat pendidikan
2. Mengidentifikasi tingkat penurunan nyeri persalinan
3. Menganalisa perbedaan nyeri persalinan kala I sebelum dan sesudah dilakukan komunikasi
terapeutik
1.5 Manfaat penelitian
1. Bagi intitusi
Sebagai masukan dalam menentukan kebijakan program dalam rangka penggunaan teknik
komunikasi dalam penurunan rasa nyeri persalinan
2. Bagi ibu bersalin
Untuk menambah pengetahuan pengaruh teknik komunikasi terapeutik terhadap penurunan rasa
nyeri
3. Bagi peneliti
Untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang pengaruh teknik komunikasi terapeutik
dalam penurunan rasa nyeri persalinan
4. Bagi peneliti lain
Hasil riset akan menambah pengetahuan dan perbendaraan, sehingga dapat digunakan untuk
penelitian lebih lanjut

http://d3kebidanan.blogspot.com/2009/12/kti-kebidanan-perbedaan-nyeri.html