Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KELAUARGA SESUAI KEBUTUHAN TUMBUH


KEMBANG TAHAP KELUARGA USIA PERTENGAHAN

DI SUSUN :
OLEH KELOMPOK VII

Alan yusuf 2118020


Rein rahman 2118014
Siti Nurlailah 2118031
Adelisya putri ma’ruf 2118015
Ardiansyah 2116036

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
GEMA INSAN AKADEMIK
MAKASSAR
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatnya sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan
banyak terimakasih atas bantuan dari kelompok 1 yang telah bekerja sama dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
DARTAR ISI

Kata pengantar ............................................................................................................i

Daftar isi.......................................................................................................................ii

A. BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................................1


A. Latar belakang.............................................................................................1
B. Rumusan masalah.......................................................................................1
C. Tujuan...........................................................................................................1

B. BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................................2

1. Konsep teori......................................................................................................2
A. Pengertian pertumbuhan...........................................................................3
B. Pengertian perkembangan........................................................................3
C. Ciri-ciri tumbuh kembang..........................................................................3
D. Tahapan tumbuh kembang.......................................................................4
E. Gangguan tumbuh kembang ...................................................................4
F. Factor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang...........................5
G. Tugas perkembangan keluraga................................................................5
2. Asuhan keperawatan tumbuh kembang........................................................5
A. Pengkajian ................................................................................................10
B. Diagnose keperawatan keluarga............................................................14
C. Intervensi...................................................................................................25

BAB III PENUTUP.......................................................................................................15

A. Kesimpulan...............................................................................................16
B. Saran..........................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................20
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Perkembangan adalah pola perubahan yang dimulai sejak


pembuahan, yang berlanjut sepanjang rentang hidup. Kebanyakan
perkembangan melibatkan pertumbuhan, meskipun juga melibatkan
penuaan. Perkembangan meliputi tiga aspek, yaitu fisik, mental-
psikologi, dan sosial. Perkembangan fisik dapat dilihat melalui
pertumbuhan tulang, otot-otot, sistem syaraf serta organ-organ tubuh.
Perkembangan mental psikologis mencakup pertumbuhan mental yang
berkesinambungan yang dapat dilihat melalui peningkatan kemampuan
untuk memecahkan masalah, serta kemampuan untuk menghasilkan
ide-ide. Pertumbuhan kemampuan sosial juga bersifat
berkesinambungan sampai seseorang mampu beradaptasi dengan
lingkungan, atau mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan serta
tuntutan lingkungan sosial di sekitarnya (Santrock, 2011: 17). Dengan
adanya tiga aspek tersebut, orang tua harus bisa mengontrol anaknya,
agar anaknya bisa berkembang dengan baik sesuai dengan yang
diharapkan.

Masa remaja merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan


yang cepat dalam aspek fisik, emosi, kognitif, dan sosial. Pada remaja
putri akan terjadi pematangan seksual yang ditandai dengan datangnya
menstruasi yang pertama kali atau biasa disebut menarche (Amelia,
2014). Menstruasi atau perdarahan periodik normal uterus merupakan
fungsi fisiologis yang hanya terjadi pada wanita (Kusumawarddhani,
2014). Seorang remaja putri yang sudah mengalami menstruasi
biasanya tidak pernah lepas dengan masalah menstruasi, terutama
tentang sindrom pramenstrual (Harahap, 2008). PMS atau dalam
Bahasa Indonesia biasa disebut juga sindrom pramenstrual adalah
penyebab umum dari disfungsi fisik, perilaku, dan sosial dari wanita.
Beberapa gejala juga dapat ditemukan seperti lekas marah selama
masa PMS bahkan sampai dengan periode menstruasi. Beberapa
wanita sangat terganggu kehidupannya dengan kejadian ini, terkadang
mereka sampai mencari perawatan atau pertolongan medis (Brown,
2009). Ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron
memainkan peranan penting atas beberapa manifestasi klinis dari
sindrom pramenstruasi (Reza, 2008). Mayoritas wanita mengalami
setidaknya satu gejala PMS selama siklus menstruasi mereka (Cheng,
2013). Masalah PMS menyebabkan kebingungan di dalam dunia medis
dan kebanyakan masyarakat yang tentunya masih awam tentang PMS,
seperti tentang pengobatan PMS yang tidak memberikan efek yang
signifikan. Hal ini sebagai cerminan bahwa penyebab PMS belum
diketahui secara pasti, meskipun beberapa teori telah dikemukakan
termasuk ketidakseimbangan hormonal, defisiensi mikronutrien, dan
disfungsi endokrin (Douglas, 2002).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Konsep teori
A. Apakah Pengertian pertumbuhan?
B. Apakah pengertian kerkembangan?
C. Bagaimana ciri – ciri tumbuh kembang?
D. Bagaimana tahapan tumbuh kembang?
E. Apakah gangguan tumbuh kembang?
F. Bagaimana factor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang?
G. Bagaimana tugas perkembangan keluarga?
2. Asuhan keperawatan keluarga
A. Bagaiman Pengkajian keperawatan?
B. Bagamana Diagnose keperawatan?
C. Bagaimana intervensikeperawatan?
C. TUJUAN
1. Konsep teori
A. Menjelaskan Pengertian pertumbuhan.
B. Menjelaskan pengertian kerkembangan.
C. Mengetahui ciri – ciri tumbuh kembang.
D. Mengetahui tahapan tumbuh kembang.
E. Mengetahui gangguan tumbuh kembang.
F. Menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang.
G. Mengetahui tugas perkembangan keluarga.
2. Asuhan keperawatan keluarga
A. Menjelaskan pengkajian keperawatan
B. Mengetahui Diagnose keperawatan.
C. Mengetahui intervensi keperawatan.
BAB II

PEMBAHASAN

1. KONSEP TEORI
A. PENGERTIAN PERTUMBUHAN
Masa remaja merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan
yang cepat dalam aspek fisik, emosi, kognitif, dan sosial. Pada remaja putri
akan terjadi pematangan seksual yang ditandai dengan datangnya
menstruasi yang pertama kali atau biasa disebut menarche (Amelia, 2014).
Menstruasi atau perdarahan periodik normal uterus merupakan fungsi
fisiologis yang hanya terjadi pada wanita (Kusumawarddhani, 2014).
Seorang remaja putri yang sudah mengalami menstruasi biasanya tidak
pernah lepas dengan masalah menstruasi, terutama tentang sindrom
pramenstrual (Harahap, 2008). PMS atau dalam Bahasa Indonesia biasa
disebut juga sindrom pramenstrual adalah penyebab umum dari disfungsi
fisik, perilaku, dan sosial dari wanita. Beberapa gejala juga dapat
ditemukan seperti lekas marah selama masa PMS bahkan sampai dengan
periode menstruasi. Beberapa wanita sangat terganggu kehidupannya
dengan kejadian ini, terkadang mereka sampai mencari perawatan atau
pertolongan medis (Brown, 2009). Ketidakseimbangan hormon estrogen
dan progesteron memainkan peranan penting atas beberapa manifestasi
klinis dari sindrom pramenstruasi (Reza, 2008). Mayoritas wanita
mengalami setidaknya satu gejala PMS selama siklus menstruasi mereka
(Cheng, 2013). Masalah PMS menyebabkan kebingungan di dalam dunia
medis dan kebanyakan masyarakat yang tentunya masih awam tentang
PMS, seperti tentang pengobatan PMS yang tidak memberikan efek yang
signifikan. Hal ini sebagai cerminan bahwa penyebab PMS belum diketahui
secara pasti, meskipun beberapa teori telah dikemukakan termasuk
ketidakseimbangan hormonal, defisiensi mikronutrien, dan disfungsi
endokrin (Douglas, 2002).
B. PENGERTIAN PERKEMBANGAN
Perkembangan adalah pola perubahan yang dimulai sejak
pembuahan, yang berlanjut sepanjang rentang hidup. Kebanyakan
perkembangan melibatkan pertumbuhan, meskipun juga melibatkan
penuaan. Perkembangan meliputi tiga aspek, yaitu fisik, mental-psikologi,
dan sosial. Perkembangan fisik dapat dilihat melalui pertumbuhan tulang,
otot-otot, sistem syaraf serta organ-organ tubuh. Perkembangan mental
psikologis mencakup pertumbuhan mental yang berkesinambungan yang
dapat dilihat melalui peningkatan kemampuan untuk memecahkan
masalah, serta kemampuan untuk menghasilkan ide-ide. Pertumbuhan
kemampuan sosial juga bersifat berkesinambungan sampai seseorang
mampu beradaptasi dengan lingkungan, atau mampu menyesuaikan diri
dengan kebutuhan serta tuntutan lingkungan sosial di sekitarnya (Santrock,
2011: 17). Dengan adanya tiga aspek tersebut, orang tua harus bisa
mengontrol anaknya, agar anaknya bisa berkembang dengan baik sesuai
dengan yang diharapkan.

C. CIRI-CIRI TUMBUH KEMBANG


1. Terjadinya perubahan dalam aspek fisik (perubahan berat badan dan
organ – organ tubuh) dan aspek psikis (matangnya kemampuan
berpikir, mengingat, dan berkreasi)
2. Terjadinya perubahan dalam proporsi; aspek fisik (proporsi tubuh anak
beubah sesuai dengan fase perkembangannya) dan aspek psikis
(perubahan imajinasi dari fantasi ke realitas)
3. Lenyapnya tanda – tanda yang lam; tanda - tanda fisik (lenyapnya
kelenjar thymus (kelenjar anak – anak) seiring bertambahnya usia)
aspek psikis (lenyapnya gerak – gerik kanak – kanak dan perilaku
impulsif).
4. Diperolehnya tanda – tanda yang baru; tanda – tanda fisik (pergantian
gigi dan karakter seks pada usia remaja) tanda – tanda psikis
(berkembangnya rasa ingin tahu tentang pengetahuan, moral,
interaksi dengan lawan jenis

D. TAHAPAN TUMBUH KEMBANG


Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Tumbuh kembang anak
berlangsung secara teratur, saling berkaitan, dan berkesinambungan
dimulai sejak pembuahan sampai dewasa. Walaupun terdapat variasi,
namun setiap anak akan melewati suatu pola tertentu. Tanuwijaya (2003)
memaparkan tentang tahapan tumbuh kembang anak yang terbagi
menjadi dua, yaitu masa pranatal dan masa postnatal. Setiap masa
tersebut memiliki ciri khas dan perbedaan dalam anatomi, fisiologi,
biokimia, dan karakternya. Masa pranatal adalah masa kehidupan janin di
dalam kandungan. Masa ini dibagi menjadi dua periode, yaitu masa
embrio dan masa fetus. Masa embrio adalah masa sejak konsepsi sampai
umur kehamilan 8 minggu, sedangkan masa fetus adalah sejak umur 9
minggu sampai kelahiran. Masa postnatal atau masa setelah lahir terdiri
dari lima periode. Periode pertama adalah masa neonatal dimana bayi
berusia 0 - 28 hari dilanjutkan masa bayi yaitu sampai usia 2 tahun. Masa
prasekolah adalah masa anak berusia 2 – 6 tahun. Sampai dengan masa
ini, anak laki-laki dan perempuan belum terdapat perbedaan, namun ketika
masuk dalam masa selanjutnya yaitu masa sekolah atau masa pubertas,
perempuan berusia 6 – 10 tahun, sedangkan laki-laki berusia 8 - 12 tahun.
Anak perempuan memasuki masa adolensensi atau masa remaja lebih
awal dibanding anak laki-laki, yaitu pada usia 10 tahun dan berakhir lebih
cepat pada usia 18 tahun. Anak laki-laki memulai masa pubertasa pada
usia 12 tahun dan berakhir pada usia 20 tahun.

keluarga usia pertengahan (middle age family)


a. Menyediakan lingkungan yang dapat meningkatkan kesehatan
b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dan penuh arti dengan
para orang tua (lansia) dan anak-anak
c. Memperkokoh hubungan perkawinan
d. Persiapan masa tua/ pensiun.
E.  GANGGUAN TUMBUH KEMBANG
Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Masalah yang
sering timbul dalam pertumbuhan dan perkembangan anak meliputi
gangguan pertumbuhan fisik, perkembangan motorik, bahasa, emosi,
dan perilaku. 1. Gangguan Pertumbuhan Fisik Gangguan pertumbuhan
fisik meliputi gangguan pertumbuhan di atas normal dan gangguan
pertumbuhan di bawah normal. Pemantauan berat badan
menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat) dapat dilakukan secara
mudah untuk mengetahui pola pertumbuhan anak. Menurut
Soetjiningsih (2003) bila grafik berat badan anak lebih dari 120%
kemungkinan anak mengalami obesitas atau kelainan hormonal.
Sedangkan, apabila grafik berat badan di bawah normal kemungkinan
anak mengalami kurang gizi, menderita penyakit kronis, atau kelainan
hormonal. Lingkar kepala juga menjadi salah satu parameter yang
penting dalam mendeteksi gangguan pertumbuhan dan perkembangan
anak. Ukuran lingkar kepala menggambarkan isi kepala termasuk otak
dan cairan serebrospinal. Lingkar kepala yang lebih dari normal dapat
dijumpai pada anak yang menderita hidrosefalus, megaensefali, tumor
otak ataupun hanya merupakan variasi normal. Sedangkan apabila
lingkar kepala kurang dari normal dapat diduga anak menderita
retardasi mental, malnutrisi kronis ataupun hanya merupakan variasi
normal. Deteksi dini gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran
juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan yang
lebih berat. Jenis gangguan penglihatan yang dapat diderita oleh anak
antara lain adalah maturitas visual yang terlambat, gangguan refraksi,
juling, nistagmus, ambliopia, buta warna, dan kebutaan akibat katarak,
neuritis optik, glaukoma, dan lain sebagainya. (Soetjiningsih, 2003).
Sedangkan ketulian pada anak dapat dibedakan menjadi tuli konduksi
dan tuli sensorineural. Menurut Hendarmin (2000), tuli pada anak dapat
disebabkan karena faktor prenatal dan postnatal. Faktor prenatal antara
lain adalah genetik dan infeksi TORCH yang terjadi selama kehamilan.
Sedangkan faktor postnatal yang sering mengakibatkan ketulian adalah
infeksi bakteri atau virus yang terkait dengan otitis media. 2. Gangguan
perkembangan motorik Perkembangan motorik yang lambat dapat
disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu penyebab gangguan
perkembangan motorik adalah kelainan tonus otot atau penyakit
neuromuskular. Anak dengan serebral palsi dapat mengalami
keterbatasan perkembangan motorik sebagai akibat spastisitas,
athetosis, ataksia, atau hipotonia. Kelainan sumsum tulang belakang
seperti spina bifida juga dapat menyebabkan keterlambatan
perkembangan motorik. Penyakit neuromuscular sepeti muscular
distrofi memperlihatkan keterlambatan dalam kemampuan berjalan.
Namun, tidak selamanya gangguan perkembangan motorik selalu
didasari adanya penyakit tersebut. Faktor lingkungan serta kepribadian
anak juga dapat mempengaruhi keterlambatan dalam perkembangan
motorik. Anak yang tidak mempunyai kesempatan untuk belajar seperti
sering digendong atau diletakkan di baby walker dapat mengalami
keterlambatan dalam mencapai kemampuan motorik. 3. Gangguan
perkembangan bahasa Kemampuan bahasa merupakan kombinasi
seluruh system perkembangan anak. Kemampuan berbahasa
melibatkan kemapuan motorik, psikologis, emosional, dan perilaku
(Widyastuti, 2008). Gangguan perkembangan bahasa pada anak dapat
diakibatkan berbagai faktor, yaitu adanya faktor genetik, gangguan
pendengaran, intelegensia rendah, kurangnya interaksi anak dengan
lingkungan, maturasi yang terlambat, dan faktor keluarga. Selain itu,
gangguan bicara juga dapat disebabkan karena adanya kelainan fisik
seperti bibir sumbing dan serebral palsi. Gagap juga termasuk salah
satu gangguan perkembangan bahasa yang dapat disebabkan karena
adanya tekanan dari orang tua agar anak bicara jelas (Soetjingsih,
2003). 4. Gangguan Emosi dan Perilaku Selama tahap perkembangan,
anak juga dapat mengalami berbagai gangguan yang terkait dengan
psikiatri. Kecemasan adalah salah satu gangguan yang muncul pada
anak dan memerlukan suatu intervensi khusus apabila mempengaruh
interaksi sosial dan perkembangan anak. Contoh kecemasan yang
dapat dialami anak adalah fobia sekolah, kecemasan berpisah, fobia
sosial, dan kecemasan setelah mengalami trauma. Gangguan
perkembangan pervasif pada anak meliputi autisme serta gangguan
perilaku dan interaksi sosial. Menurut Widyastuti (2008) autism adalah
kelainan neurobiologis yang menunjukkan gangguan komunikasi,
interaksi, dan perilaku. Autisme ditandai dengan terhambatnya
perkembangan bahasa, munculnya gerakan-gerakan aneh seperti
berputar-putar, melompat-lompat, atau mengamuk tanpa sebab.

F. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TUMBUH KEMBANG

1. Faktor keturunan (Herediter)


Merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbang anak
melalui instruksi genetic dapat ditentukan kualitas dan kuantitas
pertumbuhan, gangguan pertumbuhan selain disebabkan oleh kelainan
kromosom (contoh; syndrome down, syndrome turner) juga diakibatkan
oleh factor lingkungan yang kurang memadai.
a. Seks : kecukupan dan perkembangan pada anak laki-laki berbeda
dengan perempuan
b. Ras : ras/suku bangsa dapat mempengaruhi tumbang anak, beberapa
suku bangsa memiliki karakteristik.
2. Faktor Lingkungan
A Lingkungan Internal
1  Intelegensi
Pada umunya intelegensi tinggi, perkembangan lebih baik dibandingkan
jika intelegensi rendah.
2. Hormon
Ada 3 jenis hormone yang mempengaruhi anak yaitu somatotropik untuk
pertumbuhan tinggi badan terutama pada masa kanak-kanak, hormone
tiroid menstimulasi pertumbuhan sel interstitial testis, memproduksi
testosterone dan ovarium memproduksi estrogen yang mempengaruhi
perkembangan dan reproduksi.
3. Emosi
Hubungan yang hangat dengan orangtua, saudara teman sebaya serta
guru berpengaruh terhadap perkembangan emosi, sosial, intelektual anak,
cara anak berinteraksi dengan keluarga akan mempengaruhi interaksi
anak diluar rumah.
b. Lingkungan Eksternal
1.      Kebudayaan
Budaya keluarga /masyarakat mempengaruhi bagaiman anak
mempersepsikan dan memahami kesehatan berprilaku hidup sehat.
2.      Status sosial ekonomi keluarga
Anak yang berada dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sosial
ekonomi yang rendah serta banyak punya keterbataan untuk memenuhi
kebutuhan primernya.
3.      Nutrisi
Untuk tumbang anak secara optimal memerlukan nutrisi adekuat yang
didapat dari makanan bergizi
4.      Iklim/cuaca
Iklim tertentu dapat mempengaruhi status kesehatan anak
5.      Olahraga/latihan fisik
Olahraga berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan psikososial
anak.
6.      Posisi anak dalam keluarga
Posisi anak sebagai anak tunggal, sulung, anak tengah, anak bungsu akan
mempengaruhi pola anak setelah diasuh dan dididik dalam keluarga

G. TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA

Usia dewasa pertengahan yang merupakan usia rata-rata dimana para


orang tua melepaskan anak mereka yang terakhir ditandai sebagai masa
kehidupan yang “terperangkap” yaitu terperangkap antara tuntutan kaum
kaum muda dan terperangkap antara dunia kerja dan tuntutan yang
bersaing dan keterlibatan keluarga, dimana seringkali tampaknya tidak
mungkin memenuhi tuntutan-tuntutan dari kedua bidang tersebut.
Tugas perkembangan keluarga dewasa menurut Fridman (1998, hal 131)
yang penting pada fase ini adalah :
a. Menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan.
Dalam masa ini upaya untuk melaksanakan gaya hidup sehat menjadi
lebih menonjol bagi pasangan, meskipun kenyataanya bahwa mungkin
mereka telah melakukan kebiasaan-kebiasaan yang sifatnya merusak
diri selama 45-64 tahun. Meskipun dapat dianjurkan sekarang, karena
“lebih baik sekarang dari pada tidak pernah” adalah selalu benar,
agaknya terlalu terlambat untuk mengembalikan begitu banyak
perubahan-perubahan fisiologis yang telah terjadi, seperti tekanan
darah tinggi akibat kurangnya olahraga, stress yang berkepanjangan,
menurunnya kapasitas vital akibat merokok.
Motivasi utama orang usia pertengahan untuk memperbaiki gaya hidup
mereka adalah karena adanya perasaan rentan terhadap penyakit yang
dibangkitkan bila seorang teman atau anggota keluarga mengalami
serangan jantung, stroke, atau kanker. Selain takut, keyakinan bahwa
pemeriksaan yang teratur dan kebiasaan hidup yang sehat merupakan
cara-cara yang efektif untuk mengurangi kerentanan terhadap berbagai
penyakit juga merupakan kekuatan pendorong yang ampuh. Penyakit
hati, kanker dan stroke merupakan dua pertiga dari semua penyebab
kematian antara usia 46 hingga 64 tahun dan sebagai penyebab
kamatian urutan ke empat.
b. Mempertahankan hubungan-hubungan yang memuaskan dan penuh
arti dengan para orangtua lansia dan anak-anak.
Dengan menerima dan menyambut cucu-cucu mereka kedalam
keluarga dan meningkatkan hubungan antar generasi, tugas
perkembangan ini mendatangkan penghargaan yang tinggi (Duvall,
1977 dalam friedman , 1988, hal 131). Tugas perkembangan ini
memungkinkan pasangan usia pertengahan terus merasa seperti
sebuah keluarga dan mendatangkan kebahagiaan yang berasal dari
posisi sebagai kakek-nenek tanpa tanggung jawab sebagai orang tua
selama 24 jam. Karena umur harapan hidup meningkat, menjadi
seorang kakek-nenek secara khusus terjadi pada tahap siklus
kehidupan ini (Sprey dan Matthews, 1982, dalam Friedman, 1988, hal
132). Kakek nenek memberikan dukungan besar kepada anak dan
cucu mereka pada saat-saat krisis dan membantu anak-anak mereka
melalui pemberian dorongan dan dukungan(Bengston dan Robertson,
1985, dalam Friendman, 1988, hal 132).
Peran yang lebih probelamatik adalah yang berhubungan dengan dan
membantu orang tua lansia dan kadang-kadang anggota keluarga
besar lain yang lebih tua. Delapan puluh enam persen pasangan usia
pertengahan minimal memiliki satu orang tua masih hidup(hagestad,
1988, dalam Friedman, 1988, hal 132). Jadi, tanggung jawab memberi
perawatan bagi orang tua lansia yang lemah dan sakit-sakitan
merupakan pengalaman yang tidak asing. Banyak wanita yang merasa
berada dalam “himpitan generasi” dalam upaya mereka mengimbangi
kebutuhan-kebutuhan orang tua mereka yang berusia lanju, anak-anak,
dan cucu-cucu mereka. Berbagai peran antar generasi kelihatannya
lebih bersifat ekslusif dikalangan minoritas seperti keluarga-keluarga
Asia dan Amerika Latin.
c. Memperkokoh hubungan perkawinan
Sekarang perkembangan tersebut benar-benar sendirian setelah
bertahun-bertahun dikelilingi oleh anggota keluarga dan hubungan-
hubungan. Meskipun muncul sebagai sambutan kelegahan, bagi
kebanyak pasangan merupakan pengalaman yang menyulitkan untuk
berhubungan satu sama lain sebagai pasangan menikah dari pada
sebagai orang tua. Wright dan Leahey (1984, dalam Friedman, 1988,
hal 132) melukiskan tugas perkembangan ini sebagai “reinvestasi
identitas pasangan dengan perkembangan keinginan independen yang
terjadi secara bersamaan. Keseimbangan dependensi-indepedensi
antara pasangan perlu diuji kembali, seperti keinginan independen lebih
besar dan juga perhatian satu sama lain yang penuh arti.
Bagi pasangan yang mengalami masalah, tekanan hidup yang menurun
dalam tahun-tahun postparental tidak mendatangkan kebahagiaan
perkawinan, melainkan menimbulkan “kebohongan”. Menurut Kerckhoff
(1976, dalam Friedman, 1988, hal 132), para konselor perkawinan telah
lama mengamati bahwa ketika timbul perselisihan dalam perkawinan
selama tahun-tahun pertengahan, seringkali berkaitan dengan jemunya
ikatan, bukan karena kualitas traumatiknya. Karakteristik umum dari
masa ini, berkaitan dengan kepuasan diri sendiri dan berada dalam
kebahagiaan yang membosankan.
d. Memantapkan pengalaman nilai-nilai agama
e. Mencapai tanggung jawab sosial sebagai warga Negara
f. Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan – perubahan yang
terjadi pada aspek fisik (penurunan kemampuan atau fungsi)
g. Memantapkan keharmonisan hidup berkeluarga
h. Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan
i. Memantapkan peran perannya sebagai orang dewasa
Tugas – tugas perkembagan itu tadi pada dasarnya merupakan
tuntutan atau harapan sosio – kultural dimana manusia itu hidup dalam
masyarakat kita sejak dulu hingga kini tetap memiliki harapan sesuai
diatas bagian penentu sebagai orang dewasa pertengahan. Khusus
mengenai hidup berkeluarga dalam masa dewasa pertengahan
terdapat dua hal pokok yang mendorong terciptanya hubungan hidup
berkeluarga. kebutuhan individu pada suatu pihak dan tugas
perkembangan pada lain pihak. Pemanduan antara keduanya
menimbulkan energi yang membangkitkan gerak bagi individu orang
dewasa untuk bersatu dalam satu jalinan hubungan berkeluarga.
2. ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN

1.  Pengkajian Identitas dan Riwayat Keperawatan

Identitas Anak dan/atau Orang Tua

a. Nama                                                  

b.  Alamat                                               

c.  Telepon                                              

d  Tempat dan tanggal lahir

e.  Ras/kelompok entries

f.   Jenis kelamin

g   Agama

h  Tanggal wawancara

i.   Informan

Keluhan Utama (KU)

Untuk menjalani suatu imunisasi anak diharapkan dalam kondisi sehat


jasmani dan rohani karena akan dipenetrasikan antigen dalam imunisasi yang
akan memicu fungsi imunnya, namun seiring dengan kondisi anak yang
rentan terhadap kontak infeksi dari lingkungan, tidak menutup kemungkinan
jika saat memasuki jadwal imunisasi ia berada dalam kondisi sakit . Maka dari
itu, perlu ditanyakan apakah anak memiliki keluhan kesehatan baik secara
langsung pada anak ataupun orang tua/pengasuhnya beberapa saat sebelum
diimunisasi. Keluhan ini dapat dijadikan indikator apakah imunisasi harus
dilanjutkan, ditunda sementara waktu, atau tidak diberikan sama sekali.

Riwayat Penyakit Sekarang (RPS)

Untuk mendapatkan semua rincian yang berhubungan dengan keluhan utama.


Jika saat ini kesehatan anak baik, riwayat penyakit sekarang mungkin tidak
terlalu menjadi acuan, akan tetapi jika anak dalam kondisi tidak sehat, hal ini
dapat dijadikan kajian lebih lanjut untuk mengetahui status kesehatan anak saat
ini, selain untuk kepentingan imunisasi, hal ini juga dapat dijadikan panduan
apakah anak harus mendapat perawatan lebih lanjut mengenai penyakitnya.

Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD)

Untuk memperoleh profil penyakit anak, cedera-cedera, atau pembedahan


sebelumnya yang pada kesempatan ini akan digunakan sebagai petunjuk yang
berarti dalam pemberian imunisasi.

a.  Riwayat kelahiran (riwayat kehamilan, persalinan, dan perinatal).

b.   Penyakit, cedera atau operasi sebelumnya.

c.    Alergi.

d.   Pengobatan terbaru.

e.     Imunisasi yang pernah didapatkan anak serta pengalaman/reaksi terhadap


imunisasi yang pernah didapat sebelumnya.

f.   Pertumbuhan dan perkembangan anak (Sebelum melakukan imunisasi dapat


pula dikaji pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga dapat
mengidentifikasikan indikasi imunisasi serta pendidikan kesehatan yang sesuai
dengan usia serta pola perilaku anak baik ditujukan secara langsung pada anak
ataupun keluarganya).
g.  Kebiasaan anak yang dapat memengaruhi kesehatannya.

Tinjauaan Sistem (TS)

Untuk memperoleh informasi yang menyangkut adanya kemungkinan


masalah kesehatan pada anak, walau tampak jarang dilakukan saat akan
diimunisasi, namun tinjauan ini akan menjadi pilihan yang lebih baik selain
pengkajian riwayat kesehatan anak karena dalam pengkajian cenderung hanya
berfokus pada informasi yang diberikan anak/keluarga sedangkan kemungkinan
terhadap kondisi kelainan yang ada pada tubuh anak belum disadari olehnya dan
juga keluarga, sehingga alangkah baik jika sebelum diimunisasi anak
mendapatkan tindakan pemeriksaan fisik untuk peninjauan terhadap sistem
tubuhnya. Tinjauan sistem meliputi

a. Menyeluruh/umum

b. Integument

c.  Kepala

d.  Mata

e  Telinga

f.  Hidung

g.  Mulut

h.  Tenggorokan

i.  Leher

j.  Dada

k.  Respirasi

l.  Kardiovaskuler

m Gastrointestinal

n  Genitourinaria

o Ginekologik
p. Muskuluskeletal

q  Neurologik

r.  Endokrin
Riwayat pengobatan keluarga

Untuk mengidentifikasi adanya faktor genetika atau penyakit yang memiliki


kecenderungan terjadi dalam keluarga dan untuk mengkaji pajanan terhadap
penyakit menular pada anggota keluarga dan kebiasaan keluarga yang dapat
memengaruhi kesehatan anak, seperti merokok dan penggunaan bahan kimia
lain, serta tingkat kewaspadaan keluarga saat anak mengalami sakit.

Riwayat Psikososial

Untuk memperoleh informasi tentang konsep diri anak, terutama terfokus


pada riwayat imunisasi yang pernah ia dapatkan, apabila riwayat sebelumnya
menyisakan kerisauan pada anak maka akan lebih baik jika saat imunisasi
berikutnya hal ini diperbaiki untuk mengubah konsep anak terrhadap imunisasi,
menanamkan padanya bahwa hal ini penting untuk mencegah penyakit yang
mungkin mendatanginya, serta diperlukan keterlibatan keluarga yang dapat
memberikan dukungan mental pada anaknya sehingga anak tidak risau dalam
menghadapi imunisasi.

Riwayat Keluarga       

Untuk mengembangkan pemahaman tentang anak sebagai individu dan


sebagai anggota keluarga dan komunitas. Pengkajian juga berfokus pada sejauh
mana keluarga memahami tentang imunisasi yang akan diberikan pada anak,
meliputi jenis imunisasi, alasan diimunisasi, manfaat imunisasi, dan efek
sampingnya. Hal ini akan sangat membantu jika keluarga telah memahami
pentingnya imunisasi sebagai langkah penting yang diperlukan untuk mencegah
penyakit pada anaknya. Untuk beberapa keluarga yang belum begitu memahami
imunisasi, hal ini dapat dijadikan patokan untuk memberikan pendidikan
kesehatan dalam pemahaman terhadap imunisasi.

Pengkajiaan Nutrisi

Untuk memperoleh informasi yang adekuat tentang asupan dan kebutuhan nutrisi
anak dalam kaitannya dengan kesehatan anak saat ini sebelum ia
mendapatkan imunisasi dan dapat dijadikan bahan untuk pendidikan
kesehatan pasca imunisasi anak. Pengkajian nutrisi meliputi pengkajian
terhadap asupan diet dan pemeriksaan klinis.

2  Pengkajian Pertumbuhan dan Perkembangan

Pengkajiaan pertumbuhan dan perkembangan anak bertujuaan


mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak,
sehingga dengan data yang ada, dapat diketahui mengenai keadaan anak
yang dapat membantu proses imunisasi dan juga pendidikan kesehatan
seputaran imunisasi anak. Dalam melaksanaakan pengkajiaan atas
pertumbuhan dan perkembangan anak, hal penting yang harus diperhatikan
adalah bagaimana mempersiapkan anak agar pemeriksaan berjalan lancar.
Sebelum melakukan pengkajiaan, prinsip-prinsip yang perlu di perhatikan dan
dapat diterapkan di lapangan adalah:

a Lingkungan/ruangan pemeriksaan tidak menakutkan, misalnya memberikan


warna dinding netral, cukup ventilasi, menjauhkan peralatan yang menakutkan
bagi anak, dan menyediakan makanan.

b. Sebelum pengkajiaan sebaiknya disediakan waktu untuk bermain agar anak


menjadi kooperatif. Dalam hal ini, bukan berarti mengabaikan tugas utama,
tetapi untuk pendekatan agar anak tidak takut sehingga memudahkan
pemeriksaan.

c Pemeriksaan dapat dimulai dari bagian tubuh yang mudah dan tidak
menakutkan anak.

d. Jika ada beberapa anak, mulailah dengan anak yang kooperatif sehingga
akan mengurangi rasa takut dari anak yang lain.

e.Libatkan anak dalam proses pemeriksaan. Kita bisa menjelaskan pada anak
mengenai hal-hal yang perlu dilakukan pada dirinya. Apabila mungkin, beri
kesempatan anak untuk membantu proses pemeriksaan.

f. Buat posisi pemeriksaan senyaman mungkin. Anak dapat berbaring di


pangkuaan orang tua.
g. Berikan pujiaan kepada anak yang kooperatif. Hal ini dapat merangsang
anak yang lain agar tidak takut untuk diperiksa.

h. Berikan pujian pada orang tua apabila anak maju dan ibunya mengetahui
nasehat petugas.

Prinsip-prinsip tersebut hendaknya dipahami oleh setiap perawat sehingga


memudahkannya dalam melaksanakan pemeriksaan dan meminimalkan
kecemasan pada anak. Setelah memahami prinsip-prinsip ini, berikutnya
adalah melakukan pengkajiaan pada anak. Hal-hal yang perlu dikaji adalah

a. Riwayat Pranatal

Perlu ditanyakan pada ibu apakah ada tanda-tanda resiko tinggi saat hamil,
seperti terinfeksi TORCH, berat badan tidak naik, preeksklamsi, dan lain-lain,
serta apakah ehamilannya dipantau berkala. Kehamilan risiko tinggi yamg
tidak ditangani dengan benar dapat mengganggu tumbuh kembang anak.
Dengan mengetahui riwayat prenatal maka keadaan anaknya dapat
diperkirakan.

b. Riwayat Kelahiran

Perlu ditanyakan pada ibu mengenai cara kelahiran anaknya, apakah secara
normal, dan bagaimana keadaan anak sewaktu lahir. Anak yang dalam
kandungan terdeteksi sehat, apabila kelahirannya mengalami gangguan
(cara kelahiran dengan tindakan seperti forceps, partuss lama, atau kasep),
maka gangguan tersebut dapat mempengaruhi keadaan tumbuh kembang
anak.

c. Pertumbuhan Fisik

Untuk menentukan keadaan pertumbuhan fisik anak, perlu diperlakukan


pengukuran antropometri dan pemeriksaan fisik. Sebagaimana dalam
pembahasan sebelumnya, pengukuran antropometri yang sering digunakan
di lapangan untuk memantau tumbuh kembang anak adalah TB, BB, dan
lingkar kepala. Sedangkan lingkar lengan dan lingkar dada baru digunakan
bila dicurigai adanya gangguan pada anak. Apabila petugas akan mengkaji
pertubuhan fisik anak, maka petugas tersebut cukup mengukur BB, TB, dan
lingkar kepala. Meskipun tidak semua ukuran antropometri digunakan, berikut
ini akan dijelaskan cara pengukuran dari masing-masing ukuran
antropometri:

a)  Berat Badan (BB)

Untuk menentukan berat badan anak, hal yang perlu diperhatikan adalaah
sebagai berikut:

1)  Pengukuran dilakukan dengan memakai alat timbangan yang telah ditera
(distandardisasi/dikalibrasi) secara berkala. Timbangan yang digunakan dapat
berupa dacin atau timbangan injak.

2)  Untuk menimbang anak yang berusia kurang 1 tahun, maka hal tersebut
dilakukan dengan posisi berbaring. Untuk anak yang berusia 1-2 tahun,
dilakukan dengan posisi duduk dengan menggunakan dacin. Untuk anak yang
berusia lebih dari 2 tahun, penimbangan berat badan dapat dilakukan dengan
posisi berdiri.

Sedangkan cara pengukuran berat badan anak adalah:

1)   Lepas pakaian yang tebal pada bayi dan anak saat pengukuran. Apabila
perlu, cukup pakaian dalam saja.

2)   Tidurkan bayi pada meja timbangan. Apabila menggunakan timbangan dacin,
masukkan anak dalam gendongan, lalu kaitkan gendongan ke timbangan.

Sedangkan apabila dengan berdiri, ajak anak untuk berdiri di atas timbangan
injak tanpa dipegangi.

3)   Ketika menimbang berat badn bayi, tempatkan tangan petugas di atas tubuh
bayi (tidak menempel) untuk mencegah bayi jatuh saat ditimbang.

4)   Apabila anak tidak mau ditimbang, ibu disarankan untuk menimbang berat
badannya lebih dulu, kemudian anak digendong oleh ibu dan ditimbang.

Selisih antara berat badan ibu bersama anak dan berat badan ibu sendiri
menjadi berat badan anak. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat rumus berikut.
BB anak = (BB ibu dan anak) – BB ibu

5)   Tentukan hasil timbangan sesuai dengan jarum penunjuk pada timbangan

6)   Selanjutnya, tentukan posisi berat badan anak sesuai dengan standar yang
berlaku, yaitu apakah status gizi anak normal, kurang, atau buruk. Untuk
menentukan berat badan ini juga dapat dilakukan dengan melihat pada kurva
KMS, apakah berat badan anak berada pada kurva berwarna hijau, kuning, atau
merah.

b)   Tinggi Badan (TB)

Untuk menentukan tinggi badan, cara pengukurannya dikelompokkan menjadi


untuk usia kurang dari 2 tahun dan usia 2 tahun atau lebih. Pengukuran tinggi
badan pada anak usia kurang dari 2 tahun adalah sebagai berikut :

1)   Siapkan papan atau meja pengukur. Tidak ada, dapat digunakan pita
pengukur (meteran).

2)   Baringkan anak terlentang tanpa bantal (supinasi), luruskan lutut sampai
menempel pada meja (posisi ekstensi).

3)   Luruskan bagian puncak kepala dan bagian bawah kaki (telapak kaki tegak
lurus dengan meja pengukur), lalu ukur sesuai dengan skala yang tertera.

4)   Apabila tidak ada papan pengukur, hal ini dapat dilakukan dengan cara
memberi tanda pada tempat tidur (tempat tidur harus rata/datar) berupa garis
atau titik pada bagian puncak kepala dan bagian tumit kaki bayi. Lalu ukur jarak
antara kedua tanda tersebut dengan pita pengukur.

Sedangkan cara pengukuran tinggi badan pada anak usia 2 tahun atau lebih
adalah sebagai berikut :

1)   Tinggi badan diukur dengan  posisi berdiri tegak, sehingga tumit rapat,
sedangkan bokong, punggung, dan bagian belakang kepala berada dalam satu
garis vertikal dan menempel pada alat pengukur.
2)   Tentukan bagian atas kepala dan bagian kaki menggunakan sebilah papan
dengan posisi horizontal dengan bagian kaki, lalu ukur sesuai dengan skala yang
tertera.

c)  Lingkar Kepala

Ukuran kepala dinyatakan normal bila berada di antara batas tertinggi dan
terendah dari kurva lingkar kepala. Bila ukuran kepala berada di atas kurva
normal, berarti ukuran kepala besar (macrocephali), sedangkan bila ukuran
kepala di bawah kurva normal, berarti ukuran kepala kecil (microcephali). Kurva
lingkar kepala ini dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Adapun cara
pengukuran lingkar kepala :

a. Siapkan pita pengukur (meteran)

b. Lingkakan pita pengukur pada daerah glabella (frontalis) atau supraorbita


bagian antrior menuju oksiput pada bagian posterior kemudian tentukan hasilnya

c  Cantumkan hasil pengukuran pada kurva lingkar kepala

d) Lingkar Lengan Atas (lila)

Meskipun pengukuran lila jarang dilakukan, namun cara pengukurannya perlu


diketahui :

1) Tentukan lokasi lengan yang akan diukur. Pengukuran dilakukan pada lengan
bagian kiri, yaitu pertengahan pangkal lengan dengan siku. Pemilihan lengan kiri
tersebut dengan pertimbangan bahwa aktivitas lengan kiri lebih pasif dari pada
lengan kanan, sehingga ukurannya lebih stabil.

2)   Lingkarkan alat pengukur pada lengan bagian atas (dapat digunakan pita
pengukur). Hindari penekanan pada lengan yang diukur saat pengukuran.

3)   Tentukan besar lingkar lengan sesuai dengan angka yang tertera pada pita
pengukur.

4)   Catat hasil pengukuran pada Kartu Menuju Sehat (KMS) atau status anak.

e)      Lingkar Dada


Sebagaimana lingkar lengan atas, pengukuran lingkar dada jarang dilakukan.
Pengukurannya dilakukan pada saat bernapas biasa (mid respirasi) pada tulang
Xifoidius (incisura subternalis). Pengukuran lingkar dada ini dilakukan dengan posisi
berdiri pada anak yang lebih besar, sedangkan pada bayi dengan posisi berbaring.
Cara pengukuran lingkar dada adalah sebagai berikut :

1)   Siapkan pita pengukur

2)   Lingkarkan pita pengukur pada daerah dada.

3)   Catat hasil pengukuran pada KMS anak atau kartu yang disediakan.

d.   Pemeriksaan fisik

Meskipun pemeriksaan fisik tidak dilakukan apabila dilapangkan, namun petugas


perlu mengetahui bahwa pemeriksaan fisik perlu dilakukan agar keadaan anak
dapat diketahui secara keseluruhan. Pemeriksaan fisik dapat dimulai dari
rambut, kepala, leher, dada, perut, genetalia, ekstremitas. Selain itu, tanda-
tanda vital dan keadaan umum perlu dikaji. Pemeriksaan fisik pada
pertumbuhan dan perkembangan ini adalah sama seperti cara pemeriksaan
fisik pada bayi dan anak. Oleh karena itu, pemeriksaan fisik tidak dibahas
secara khusus pada bagian ini.

e.    Perkembangan anak

Untuk mengkaji keadaan perkembangan anak, dapat digunakan buku Pedoman


Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita sebagaimana telah dibahas sebelumnya.
Dari pedoman ini dapat diketahui mengenai keadaan perkembangan anak saat
ini, apakah anak berada dalam keadaan normal, meragukan, atau memerlukan
rujukan. Apabila anak memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, maka dapat
dilakukan DDST yang dapat dibaca pada Buku Tumbuh Kembang oleh
Soetjiningsih (1996).

f. Data lain

Yang termasuk data lain adalah pola makan, pola aktivitas anak, data
penunjang lainnya, seperti pemeriksaan laboratorium, serta data yang
diperlukan terutama apabila anak berada di klinik.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Risiko terhadap cedera b/d keadaan tumbang dan lingkungan.


2.Potensial orang tua dalam meningkatkan kesehatan anak berdasarkan
tumbuh kembangnya.
3.Gangguan rasa aman (cemas) b/d kurang pengetahuan ibu tentang tumbang
anak

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Risiko terhadap cedera b/d keadaan tumbang dan lingkungan.


a.  Awasi anak saat makan, mandi, bermain, eliminasi
Rasional: mengurangi risiko cedera pada saat anak beraktivitas
b. Lindungi kaki anak dengan sandal/ sepatu
Rasional: mengurangi risiko cedera pada kaki anak
c. Beri makanan yang aman untuk usia anak
Rasional: mencegah risiko keracunan makanan
d. Periksa suhu air mandi sebelum dimandikan
Rasional: mengurangi risiko cedera yang diakibatkan oleh air mandi yang
terlalu panas
2. Potensial orang tua dalam meningkatkan kesehatan anak berdasarkan
tumbuh kembangnya.
a. Jelaskan pada orang tua tentang proses tumbang yang terjadi
Rasional: meningkatkan pemahaman orang tua terhadap tumbang
b.Bantu ibu/ orang tua untuk mengerti dan mengetahui tentang tahapan
tumbang yang dilewati anak dengan masa pertumbuhandan perkembangan
Rasional: agar orang tua mengetahui tentang tumbuh kembang anaknya
c. Anjurkan ibu membaca berbagai tips perawatan anak
Rasional: meningkatatkan pemahaman tentang perawatan anaknya
3.Gangguan rasa aman (cemas) b/d kurang pengetahuan ibu tentang tumbang
anak
a.Bantu ibu mengetahui tahapan yang seharusnya terjadi pada anak saat ini
sesuai umur
Rasional: agar ibu paham tentang tumbang anaknya
b. Bantu menurunkan tingkat kecemasan dengan informasi yang diberikan
Rasional: mengurangi kecemasan ibu
c. Beri dukungan pada ibu untuk tetap menjaga kesehatan anaknya dan tetap
memantau pertumbuhan dan perkembangan anak
Rasional: agar kesehatan anak tetap terjaga
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pertumbuhan merupakan peningkatan jumlah dan ukuran sedangkan
perkembangan menitikberatkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap
dan tingkat yang paling rendah dan kompleks melalui proses maturasi dan
pembelajaran (Whalex dan Wone.2000)
Tumbuh kembang adalah suatu kesatuan proses dimana seseorang anak
tidak hanya tumbuh menjadi besar tapi berkembang menjadi lebih terampil
yang mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda tetapi saling berkaitan
dan sulit dipisahkan.
1. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam jumlah,
besar, ukuran/dimensi, tingkat sel organ maupun individu yang bisa diukur
berat, panjang, umur tulangdan keseimbangan elektrolit.
2. Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan dalam
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan
dapat diramalkan sebagai hasil antara lain proses pematangan termasuk
perkembangan emosi, intelektual, dan tingkah laku sebagai hasil dengan
lingkungan. Untuk terciptanya tumbuh kembang yang optimal tergantung pada
potensi biologis, psikososial, dan perilaku yang merupakan proses yang unik
dan hasil akhir berbeda-beda yang memberi cirri tersendiri pada setiap anak.
Dalam Tumbang anak perlu dilakukan berbagai macam imunisasi, dimana
imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak
dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti
untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Sedangkan yang dimaksud
vaksin adalah bahan yang di pakai untuk merangsang pembentukan zat anti
yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin BCG, DPT,
Campak, dan melalui mulut seperti vaksin Polio. Tujuan diberikan imunisasi
adalah diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit sehingga dapat
menurunkan angka morbiditas dan mortalitas serta dapat mengurangi
kecacatan akibat penyakit tertentu.

B. SARAN

Perawat Untuk lebih aktif dalam memberi informasi atau penyuluhan


kesehatan tentang tumbuh kembang anak pada setiap tahapan usia serta
stimulasi yang harus dilakukan orag tua agar tumbuh kembang anak dapat
optimal
DAFTAR PUSTAKA

Marimbi, hanum.2010.Tumbuh Kembang Status Gizi dan Imunisasi Dasar Pada


Balita.Yogyakarta

: Nuha Medika

Wahyuni, et al, Dampak Program Bina Keluarga Balita (BKB) Terhadap Tumbuh
Kembang Anak Balita. e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. 2 (no. 1) Januari 2014

Soedjtmiko. 2008. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC