Anda di halaman 1dari 22

TUGAS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.J DENGAN


POST OP HERNIA

Oleh :

Ni Putu Ayu Dina Febriani


(18101110003)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
ADVAITA MEDIKA TABANAN
2020
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HERNIA

A. Definisi
Secara umum hernia merupakan proskusi atau benjolan isi suatu
rongga dari berbagai organ internal melalui pembukaan abnormal atau
kelemahan pada otot yang mengelilinginya dan kelemahan pada jaringan
dan suatu organ tersebut. Hernia adalah tonjolan keluarnya organ atau
jaringan melalui dincling rongga dimana organ tersebut seharusnya berada
yang didalam keadaan normal tertutup. Hernia atau usus turun adalah
penonjolan abnormal suatu organ atau sebagian dari organ melalui lubang
pada struktur disekitarnya.
Hernia berasal dari bahasa latin, yaitu herniae, yang berarti
penonjolan isi atau rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada
dingding rongga. Dingding rongga yang lemah itu membentuk suatu
kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi daerah
perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari usus. (giri made
kusala,2009)
Menurut syamsuhidayat (2004), hernia adalah prostrusi atau
benjolan isi suatu organ melalui defek atau bagian lemah dari dingding
rongga yang bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol
melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo aponeurotik
dingding perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong dan isi hernia.
B. Fatofisiologi
Menurut Long C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Jilid
2,1996. Hernia diklasifikasikan menurut lokasi di mana mereka muncul.
Sekitar 75% dari Hernia terjadi di pangkal paha. Ini juga dikenal sebagai
Hernia Inguinalis atau Femoralis. Sekitar 10% adalah Hernia Ventral atau
insisional dinding abdomen, 3% adalah Hernia Umbilikalis.
Hernia Inguinalis dibagi lagi menjadi Hernia direct dan Hernia indirect.
Hernia Inguinalis indirect yang paling jenis umum dan biasanya
mempengaruhi laki-laki. Hernia Inguinalis indirect disebabkan oleh
penutupan saluran yang berkembang sebagai testis turun ke dalam skrotum
sebelum kelahiran. Sebuah kantung yang berisi peritoneum, usus, atau
omentum muncul melalui cincin Inguinalis dan mengikuti spermatika
kabel melalui Kanalis Inguinalis. Sering turun ke dalam skrotum.
Meskipun tidak langsung Hernia inguinalis cacat bawaan, mereka
seringkali tidak menjadi jelas sampai dewasa, ketika peningkatan tekanan
intra-abdomen dan pelebaran dari cincin inguinalis memungkinkan isi
perut untuk memasuki saluran tersebut.
Hernia Inguinalis direct selalu cacat yang diperoleh hasil dari
kelemahan dinding Inguinal posterior. Hernia Inguinalis langsung terjadi
lebih sering pada orang dewasa yang lebih tua. Hernia Femoral cacat juga
diperoleh di mana kantung peritoneal menonjol melalui cincin femoral.
Hernia ini biasanya terjadi pada obesitas atau wanita hamil. 
Hernia Inguinalis seringkali tidak menghasilkan gejala dan ditemukan
selama pemeriksaan fisik rutin. Hanya mungkin menghasilkan benjolan,
bengkak, atau tonjolan di selangkang, terutama dengan mengangkat atau
tegang. Pasien laki-laki biasanya terdapat pengalaman baik nyeri atau rasa
nyeri yang memancar\Collaborative Care ke dalam skrotum, meskipun
hanya dapat dirasakan dengan peningkatan tekanan intra-abdomen (seperti
yang terjadi selama batuk) dan dalam vagina dari skrotum ke arah cincin
inguinal. 
Jika Hernia Inguinalis dapat dikembalikan, isi kantung kembali ke
rongga perut, baik secara spontan sebagai tekanan intra-abdomen
berkurang (seperti dengan berbaring) atau dengan tekanan manual.
Beberapa komplikasi yang terkait dengan Hernia direduksi. Bila isi hernia
tidak dapat dikembalikan ke rongga perut, itu dikatakan dapat
diminimalkan atau dipenjara. Isi Hernia yang dipenjara terjebak, biasanya
dengan leher yang sempit atau membuka ke hernia. Penahanan
meningkatkan risiko komplikasi, termasuk obstruksi dan cekikan.
Obstruksi terjadi ketika lumen usus yang terkandung dalam hernia menjadi
tersumbat, sangat mirip dengan Crimping dari sebuah selang. 
Jika suplai darah ke isi Hernia terganggu, hasilnya adalah Hernia terjepit.
Komplikasi ini dapat mengakibatkan infark usus yang terkena bencana
dengan rasa sakit yang parah dan perforasi dengan kontaminasi dari
rongga peritoneal. Perwujudan dari sebuah Hernia terjepit meliputi nyeri
dan distensi perut, mual, muntah, takikardia, dan demam.
Pembedahan sering dilakukan terhadap Hernia yang besar atau
terdapat resiko tinggi untuk terjadi inkarserasi. Suatu tindakan
Herniorrhaphy terdiri atas tindakan menjepit defek di dalam Fascia. Akibat
dan keadaan post operatif seperti peradangan, edema dan perdarahan,
sering terjadi pembengkakan skrotum. Setelah perbaikan Hernia Inguinal
indirek. Komplikasi ini sangat menimbulkan rasa nyeri dan pergerakan
apapun akan membuat pasien tidak nyaman, kompres es akan membantu
mengurangi nyeri (Long C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Jilid
2,1996).
C. Pathways
Hernia

Peningkatan tekanan kelemahan otot


antara abdomen

Invaginasis kanalis inguinalis

Penyumbatan usus

Spasme otot

Strangulasi usus

Nyeri

Aktivitas menurun

Intoleransi aktivitas
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN
KEBUTUHAN RASA NYAMAN PADA Tn.M DENGAN DIAGNOSA
HERNIA INGUNINALIS LATERALIS

PENGKAJIAN
A. IDENTITAS
Nama : Tn.M
No.rekam medis :-
Usia : 43 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Dauh Pala
Status perkawinan : kawin
Agama : Hindu
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wirasuasta
Diagnosa medis : Hernia Inguinal Lateralis
Tgl masuk :-
Tgl pengkajian : 30 april 2020
B. KELUHAN UTAMA
pasien mengatakan perut terasa sebah dan selangkangan terasa
kemeng pada bagian benjolannya. Klien mengatakan agak pusing,
tidak merasa mual, dan tidak muntah.
C. RIWAYAT PENYAKIT (KELUHAN) SEKARANG
Keluhan utama pasien saat masuk rumah sakit yaitu adanya benjolan
dilipatan paha menonjol keluar dan klien merasakan nyeri pada benjolan
tersebut. Sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengatakan
timbulnya benjolan tersebut secara bertahap dan sejak 1 tahun yang lalu.
Benjolan tersebut hilang dan menecil saat berbaring.Upaya yang dilakukan
klien selama ini untuk mengatasi keluhannya ialah dengan pergi berobat
ke rumah sakit.
D. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Klien tidak memiliki riwayat penyakit DM, klien tidak menderita
hipertensi dan asma.
E. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Anggota keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit serupa
dan tidak ada yang menderita penyakit hipertensi, asma dll.
Genogram :

Keterangan :

: Laki –laki

: Perempuan

: Laki- laki yang sudah meninggal

: Perempuan yang sudah meninggal

: Pasien

: Tinggal satu rumah


F. PENGKAJIAN

1. Persepsi terhadap kesehatan

Sebelum sakit : pasien mengatakan jika sakit biasanya pergi ke dokter

Pribadi.

Saat sakit : pasien mengatakan saat sakit dan jika terasa nyeri pada
benjolan langsung dibawa ke IGD.

2. Pola aktivitas dan latihan

Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit melakukan aktivitas


dan latihan biasa dan mampu melakukan sendiri.

Saat sakit : pasien mengatakan merasa lemas dan melakukan aktivitas


dibantu oleh keluarga.

3. Pola istirahat dan tidur

Sebelum sakit : pasien mengatakan tidak memiliki gangguan tidur,


pasien biasa tidur dari pukul 21.00 Wita sampai pukul 04.00 Wita.

Saat sakit : pasien mengatakan sering tidur selama dirawat dirumah


sakit.

4. Pola nutrisi – metabolik

Sebelum sakit : pasien mengatakan di rumah biasa makan 3 x sehari


dengan makan nasi, lauk, sayur dan makanan habis 1 porsi, pasien
minum ± 1600 ml.

Saat sakit : pasien mengatakan makan sedikit- sedikit hanya habis ½


porsi dengan nasi bubur, lauk dan sayur dirumah sakit minum ± 1200
ml.

5. Pola eliminasi

Sebelum sakit : pasien mengatakan BAB 1 x/ hari pada pagi hari


dengan warna kecoklatan, BAK 3-5x/ hari warna kekuningan dan tidak
terdapat gangguan saat BAK dan BAB.

Saat sakit : pasien mengatakan sulit BAB dan BAK 3-5 x/hari dan
tidak ada gangguan saat BAK dan BAB.
6. Pola kognitif – perseptual

Sebelum sakit : pasien mengatakan mengetahui dirinya memiliki


penyakit hernia.

Saat sakit : keluarga pasien merasa cemas dengan keadaan pasien sat
ini.

7. Pola konsep diri

Sebelum sakit

Identitas pasien : pasien mengatakan sebagai wiraswasta.

Citra diri : pasien mengatakan selalu bersyukur dengan tubuh dan


kekuatan yang dimiliki.

Harga diri : pasien mengatakan anak-anaknya menghormati dirinya


sebagai seorang ayah.

Ideal diri : pasien mengatakan pasien selalu ingin hidup dengan baik,
sehat dan pasien mengtakan ingin agar keluarganya tetap utuh dan
harmonis.

Peran aktivitas : pasien mengatakan perannya sebagai tulang punggung


kelurga.

Saat sakit :

Idetitas diri : pasien mengatakan sangan membutuhkan bantuan dari


kelurga, istri dan anak-anaknya.

Citra diri : pasien mengatakan selalu bersyukur dengan tubuh dan


kekuatan yang dimiliki, walaupun saat sakit dirinya sengat terpukul.

Harga diri : pasien mengatakan walupun saat sakit kelurganya tetap


menghormati, mau mengurus segala keperluannya dan selalu
meberikan apapun terkait keputusan untuk pengobatannya.

Ideal diri : pasien mengatakan ingin segera sembuh dan berkumpul


dengan kelurganya .

Peran aktivitas : pasien mengatakan perannya sebagai tulang punggung


kelurga.
8. Pola koping

Sebelum sakit : pasien mengtakan selalu menceritakan masalah dan


keluhannya yang dialami dengan istir dan anak-anaknya.

Saat sakit : pasien mengatakan selalu mengungkapkan sakit yang


dialami kepada kelurganya, pasien mengatakan untuk sakitnya lebih
banyak memilih mencoba untuk lebih banyak beristirahat dan
melakukan kegitan apapun yang mampu dilakukan.
9. Pola seksual dan reproduksi
Pasien mengatakan berhubungan sekseal sudah jarang dilakukan
mengingat umur yang sudah tua.
10. Pola peran – berhubungan
Sebelum sakit : pasien mengatakan memiliki hubungan baik dengan
seluruh keluarganya, dan tetangganya.
Saat sakit : pasien mengatakan saat sakit pasien masih tetap
berhubungan baik dengan kelurga maupun tetangganya.
11. Pola nilai dan kepercayaan
Sebelum sakit : pasien mengatakan beragama hindu dan taat
melakukan kegiatan keagamaan setiap harinya.
Saat sakit : pasien mengatakan bisa berdoa untuk kesembuhannya.
G. Pemeriksaat fisik
1. Kepala
I : bentuk kepala simetris, distribusi rambut baik, warna rambut hitam
dengan sedikit uban, rambut sedikit kering, kulit kepala tidak tampak
berketombe.
Pa : terdapat lesi di bagian kepala, teradapat nyeri tekan
2. Kulit
I : Warna kulit sawo mateng, turgor kulit elastis.
Pa : Akral teraba dingin, tidak ada nyeri tekan
Kuku
I : Warna kuku merah muda, kuku tampak bersih, tidak ada lesi.
Pa : tidak ada nyeri tekan pada kuku dan tidak ada sianosis.
3. Mata
I : Warna sklera tidak ikterik, tidak ada kebiruan,warna kornea
hitam konjungtiva tidak anemis, gerakan Mata normal, keadaan
kelopak mata normal, reaksi pupil reaksi + ka/ki.
Pa : tidak ada nyeri tekan pada mata.
4. Telinga
I : Kebersihan ada sedikit serumen, kemampuan pendengaran
baik, bentuk telinga tampak simetris.
Pa : tidak ada nyeri tekan pada telinga dan tidak terdapat masa.
5. Hidung
I : bentuk hidung simetris, warna kulit hidung sama dengan warna
disekitarnya, lubang hidung simetris, tampak nafas cuping hidung.
Pa : tidak ada nyeri tekan pada daerah hidung.
6. Mulut
I : Warna bibir merah muda ,mukosa bibir kering, gusi merah
muda, warna lidah merah muda, gerakan lidah elastis
7. Leher
I : Bentuk leher normal, warna kulit leher sama dengan warna
sekitarnya.
Pa : tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe, tidak terdapat
pembesaran kelenjar tiroid.
8. Paru – paru
I : bentuk dada simetris, pergerakan dada saat inspirasi dan ekspirasi
normal, warna kulit dada sama dengan warna sekitarnya, tidak ada
lebam, tampak retraksi otot dada.
Pa : tidak ada nyeri tekan, tidak teraba massa.
Pe : sonor
A : suara nafas ronki, bunyi jantung s1s2

9. Jantung
I : denyutan jantung tidak tampak ke permukaan (normal)
Pa : tidak terdapat nyeri tekan.
Pe : terdengar dullness
A : S1 S2 tunggal regular, tidak terdapat murmur.
10. Abdomen
I : bentuk abdomen simetris, warna kulit sama dengan sekitarnya,
gerakan dinding perut simetris, tidak terdapat lesi, tidak terdapat
sianosis
A : suara bising usus 11 x /menit.
Pe : tympani
Pa : tidak terdapat nyeri tekan.
11. Genitalia
Tidak terpasang kateter.
12. Urogenital
Tidak terdapat hemoroid
13. Ekstermitas
A. Superior : Terpasang infus di tangan kanan, tangan kiri terasa
lemas
B. Inferior : tampak edema di lipatan paha, kaki kiri terasa lemas
- Sebelum operasi pada daerah selangkangan : Pada tanggal
27 Juli 2015 :
DS : Keluarga pasien mengatakan nyeri pada benjolan
di selakangan sebelah kanan
P : keluarga pasien mengatakan nyeri bertambah saat
ditekan.
Q : nyeri senut-senut
R : nyeri pada selakangan kanan
S : skala nyeri 6
T : nyeri hilang timbul kurang lebih 5 menit
DO : Terdapat benjolan di selakangan kanan, dan
terdapat nyeri tekan pada benjolan tersebut, pasien
tampak meringis kesakitan saat di tekan

C. Kekuatan otot
555 555

333 444
H. Pemeriksaan Penunjamg
Jenis terapi Dosis Golongan Fungsi
kandungan
Infus RL 500 mg Cairan Menambah cairan
resusitas tubuh.
Injeksi 1g / 8jam Analgesik non Meredakan nyeri
Antalgin narkotik ringan sampai
dengan berat,
demam.
Sirup 2 x 1 sdt Antimikroba, Infeksi saluran
Cefadroxil antibakteri, nafas, kulit,
sefalosporin jaringan lunak,
saluran cerna,
saluran kemih, dan
infeksi lain yang
berkaitan dengan
organisme
bersangkutan.
Sirup 3 x 1 sdt Analgesik non Meringankan rasa
Paracetamol narkotik sakit kepala sakit
gigi, nyeri setelah
operasi dan
menurunkan
demam
I. Analisa Data

No Hari /Tgl Data fokus Etiologi Masalah Ttd

1. Kamis, DS : Pasien Luka bekas Nyeri


30 april oprasi Akut
mengatakan nyeri di
2020
bagian bekas oprasi
Nyeri saat
Pasien mengatakan
bergerak
pusing dan mulal.
DO : pasien tampak
Adanya
meringis menahan keluhan nyeri
sakit, klien tampak
sulit mengangkat Nyeri akut
kaki kirinya.

Kamis,
2. 30 april Proses Risiko
DS : Pasien
2020 pembedahan infeksi
mengatakan nyeri di Hernia
bekas oprasi dan
tidak nafsu makan. Luka invasif di
daerah perut
DS : tampak bawah
kemerahan dan
bengkak pada luka Nyeri
bekas oprasi, pasien
tidak nafsu makan Luka
dan hanya habis ½ kemerahan dan
bengkak
porsi.

Risiko infeksi
II. Diagnosa Keperawatan
1.Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedra fisik ditandai dengan pasien
mengeluh nyeri saat bergerak, tampak meringis.
2. Risiko infeksi berhubungan dengan efek prosedur invansif hernia
III. INTERVENSI

No Hari/Tgl Dignosa Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional


1. Kamis, Nyeri Akut Setelah dilakukan SIKI : Manajemen
1. Untuk
30 April berhubunga tindakan asuhan Nyeri :
mengevaluasi
2020 n dengan keperawatan selama 1. Identifikasi skala
derajat nyeri
agen 2x24 jam diharapkan nyeri
dan
pencedra masalah nyeri teratasi. 2.Identifikasi factor
perubahannya.
fisik Dengan kriteria hasil : yang memperberat
2. Untuk
ditandai SLKI : Tingkat Nyeri dan memperingan
mengetahui
nyeri.
dengan 1. Keluhan nyeri
kualitas nyeri
3.Ajarkan pasien
pasien menurun .
yang dirasakan
dan keluarga tehnik
mengeluh 2. Meringis menurun oleh pasien
nonfarmakologi
nyeri saat 3. Gelisah menurun 3. Untuk
untuk mengurangi
bergerak, mengajarkan
rasa nyeri
tampak pasien cara
4.Kolaborasi
meringis. mengatasi
pemberian analgesik
nyerinya sendiri
bila perlu .
4. Untuk
mengurangi
rasa nyeri yang
dirasakan
2. Kamis, Setelah dilakukan SIKI :
30 April Risiko tindakan asuhan Pencegahan 1. Mengetahui

2020 infeksi keperawatan selama Infeksi tanda dan

berhubunga 2x24 jam diharapkan 1.monitor tanda gejala infeksi

dan gejala infeksi lokal dan


n dengan masalah nyeri teratasi.
lokal dan sistemik. sistemik.
efek Dengan kriteria hasil :
2.Untuk
prosedur SLKI : Tingkat Infeksi
mengurangi
invansif 1.Nafsu makan pasien
bengkak pada
hernia meningkat. 2.berikan
daerah luka
2. Nyeri menurun perawatan kulit
bekas oprasi.
3. kemerehan menurun pada daerah edema
3.Agar
4. Bengkak menurun
keluarga dan
pasien
3.Jelaskan tanda
memahami
dan gejala infeksi.
tanda dan
gejala infeksi
jika infeksi
semakin parah.
4.Untuk
memenuhi
nutrisi pasien
4.anjurkan
yang kurang.
meningkatkan
asupan nutrisi

5.Untuk
mengurangi
5.kolaborasi rasa nyeri yang
pemberian vaksin, dialami pasien.
jik perlu.
IV. Implementasi
No Hari/ tgl/jam Diagnosa Implementasi Respon ttd

1 Kamis 30 1 1. Mengidentifikasi skala S: Pasien mengatakan


april 2020 nyeri masih merasa nyeri
Pukul 09.40 O : Pasien tampak
meringis, skalanya
nyeri yang di rasa 5
09.40 1 2.Mengidentifikasi S: Pasien
factor yang memperberat mengatakan merasa
dan memperingan nyeri. nyeri di bagian bekas
oprasi, nyeri dirasakan
semakin keras jika
pasien bergerak miring
kanan atau kiri.
O: Pasien tampak
gelisah, pasien tampak
cemas.
1.Memonitor tanda dan
09.40 2 S : Pasien mengatakan
gejala infeksi lokal dan
badannya terasa panas
sistemik
dan nyeri di daerah
bekas oprasi.
O : Pasien tampak
meringis, tampak
kemerahan dan bengkak
pada luka bekas oprasi
Skala nyeri yang dirasa 5
Suhu : 39°C
10.00 2
2.Memberikan S : Pasien mengatakan
perawatan kulit pada bersedia untuk di
daerah edema berikan perawatan pada
luka bekas oprasinya.
O : pasien tampak
berbaring di tempat
tidur.
10.10 2 S : Pasien mengatakan
4.Menjelaskan tanda dan
mulai memahami yang
gejala infeksi.
perawat jelaskan
mengenai tanda dan
gejala infeksi.
O : Pasien mampu
menjelaskan kembali
tanda dan gejala infeksi
yang dijelaskan oleh
perawat.
2 Jumat 1 mei 1
2020 1.mengajarkan pasien S: Pasien mengatakan

dan keluarga tehnik masih merasa nyeri


09.30 nonfarmakologi namun sudah tidak

untuk mengurangi rasa terlalu seperti

nyeri. sebelumnya.
O: Pasien tampak lebih
09.35 1 tenang.

2.Mekolaborasi S : Pasien mengatakan

pemberian analgesik bila nyerinya sudah


perlu . berkurang.
O : Pasien tampak
tenang dan nyeri
berkurang, skala 4
09.45 2
3.Menganjurkan S : Pasien mengatakan
meningkatkan asupan sudah makan dan habis
nutrisi 1 porsi.
O : Pasien makan habis
09.47 2 1 porsi.
4.Mengkolaborasi S : Pasien mengatakan
pemberian vaksin, jik
nyerinya sudah
perlu.
berkurang saat mencoba
untuk miring kanan dan
kiri.
O : Pasien mampu
miring kanan dan kiri
secara perlahan dan
dibantu perawat.
.
V. Evaluasi
No Hari/tgl/jam Diagnosa Evaluasi Ttd
1. Jumat 1 mei Nyeri Akut S : Pasien mengatakan nyeri
2020
berhubungan dengan sudah berkurang dari
agen pencedra fisik sebelumnya.
ditandai dengan pasien O : Pasien tampak nyaman,
mengeluh nyeri saat skala nyeri 4
bergerak, tampak A : Nyeri akut
meringis. P : Lanjutkan Intervensi
1. Identivikasi skala
nyeri.
2. Pemebrian analgesik,
bila perlu

2. Jumat 1 mei Risiko infeksi S : Pasien mengatakan nyeri


2020
berhubungan dengan sudah berkurang pada luka
efek prosedur invansif bekas oprasi, dan tidak sakit
hernia saat mencoba untuk miring
kanan dan kiri.
O : Pasien tampak mampu
miring kanan dan
kiri,kemerahan dan bengkak
pada luka bekas oprasi sudah
mendingan.
A : Risiko Infeksi
P : Lanjutkan intervensi
1. Monitor tanda dan
gejala infeksi.
2. Berikan perawatan
luka pada pasien.