Anda di halaman 1dari 6

BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFENISI

1. Syok merupakan keadaan dimana terjadi gangguan sirkulasi yang menyebabkan perfusi jaringan
menjadi tidak adekuat sehingga mengganggu metabolisme sel/jaringan. Syok septik merupakan keadaan
dimana terjadi penurunan tekanan darah (sistolik < 90mmHg atau penurunan tekanan darah sistolik >
40mmHg) disertai tanda kegagalan sirkulasi, meski telah dilakukan resusitasi secara adekuat atau perlu
vasopressor untuk mempertahankan tekanan darah dan perfusi organ (Chen dan Pohan, 2007).

2. Syok septik merupakan syok yang disertai adanya infeksi (sumber infeksi). Pada pasien trauma,
syok septik bisa terjadi bila pasien datang terlambat beberapa jam ke rumah sakit. Syok septik terutama
terjadi pada pasien-pasien dengan luka tembus abdomen dan kontaminasi rongga peritonium dengan isi
usus.

3. Syok septik adalah penurunan tekanan darah yang berpotensi mematikan karena adanya bakteri
dalam darah.

B. TANDA DAN GEJALA

1. Demam tinggi > 38,9 ̊C, sering diawali dengan menggigil kemudian suhu turun dalam beberapa jam
(jarang hipotermi).

2. Takikardia (denyut jantung cepat) lebih cepat dari 100 denyut / menit.

3. Hipotensi (sistolik < 90 mmHg)

4. Petekia, leukositosis atau leokopenia yang bergeser ke kiri, trombositopenia

5. Hiperventilasi dengan hipokapnia

6. Gejala lokal misalnya nyeri tekan didaerah abdomen, periektal


7. Syok septik harus dicurigai pada pasien dengan demam, hipotensi, trombositopenia atau koagulasi
intravaskuler yang tidak dapat diterangkan penyebabnya.

C. PROGNOSA

Syok septik dapat menyebabkan kegagalan organ multipel termasuk kegagalan pernapasan dan dapat
menyebabkan kematian cepat

D. INDIKASI

1. Apabila pasien dalam keadaan Demam tinggi > 38,9 C


̊ , sering diawali dengan menggigil kemudian
suhu turun dalam beberapa jam (jarang hipotermi).

2. Apabila pasien dalam keadaan nyeri tekan didaerah abdomen, periektal.

3. Apabila pasien dalam keadaan Hipotensi (sistolik < 90 mmHg)

E. TINDAKAN SYOK SEPTIK

Penatalaksanaan hipotensi dan syok septik merupakan tindakan resusitasi yang perlu dilakukan sesegera
mungkin. Resusitasi dilakukan secara intensif dalam 6 jam pertama, dimulai sejak pasien tiba di unit
gawat darurat. Tindakan mencakup airway: a) breathing; b) circulation; c) oksigenasi, terapi cairan,
vasopresor/inotropik, dan transfusi bila diperlukan. Pemantauan dengan kateter vena sentral sebaiknya
dilakukan untuk mencapai tekanan vena sentral (CVP) 8-12 mmHg, tekanan arteri rata-rata (MAP)>65
mmHg dan produksi urin >0,5 ml/kgBB/jam.

Oksigenasi

Hipoksemia dan hipoksia pada sepsis dapat terjadi sebagai akibat disfungsi atau kegagalan sistem
respirasi karena gangguan ventilasi maupun perfusi.Transpor oksigen ke jaringan juga dapat terganggu
akibat keadaan hipovolemik dan disfungsi miokard menyebabkan penurunan curah jantung.Kadar
hemoglobin yang rendah akibat perdarahan menyebabkan daya angkut oleh eritrosit menurun.Transpor
oksigen ke jaringan dipengaruhi juga oleh gangguan perfusi akibat disfungsi vaskuler, mikrotrombus dan
gangguan penggunaan oksigen oleh jaringan yang mengalami iskemia.

Oksigenasi bertujuan mengatasi hipoksia dengan upaya meningkatkan saturasi oksigen di darah,
meningkatkan transpor oksigen dan memperbaiki utilisasi oksigen di jaringan.

Terapi cairan
Hipovolemia pada sepsis perlu segera diatasi dengan pemberian cairan baik kristaloid maupun
koloid.Volume cairan yang diberikan perlu dimonitor kecukupannya agar tidak kurang ataupun
berlebih.Secara klinis respon terhadap pemberian cairan dapat terlihat dari peningkatan tekanan darah,
penurunan ferkuensi jantung, kecukupan isi nadi, perabaan kulit dan ekstremitas, produksi urin, dan
membaiknya penurunan kesadaran. Perlu diperhatikan tanda kelebihan cairan berupa peningkatan
tekanan vena jugular, ronki, gallop S3, dan penurunan saturasi oksigen.

Pada keadaan serum albumin yang rendah (< 2 g/dl) disertai tekanan hidrostatik melebihi tekanan
onkotik plasma, koreksi albumin perlu diberikan. Transfusi eritrosit (PRC) perlu diberikan pada keadaan
perdarahan aktif, atau bila kadar Hb rendah pada keadaan tertentu misalnya iskemia miokardial dan
renjatan septik. Kadar Hb yang akan dicapai pada sepsis dipertahankan pada 8-10 g/dl.

Vasopresor dan inotropik

Vasopresor sebaiknya diberikan setelah keadaan hipovolemik teratasi dengan pemberian cairan secara
adekuat, tetapi pasien masih mengalami hipotensi.Terapi vasopresor diberikan mulai dosis rendah
secara titrasi untuk mencapai MAP 60 mmHg, atau tekanan sistolik 90 mmHg. Untuk vasopresor dapat
digunakan dopamin dengan dosis >8 mcg/kg/menit, norepinefrin 0,03-1,5 mcg/kg/menit, fenileferin 0,5-
8 mcg/kg/menit atau epinefrin 0,1-0,5 mcg/kg/menit. Inotropik yang dapat digunakan adalah dobutamin
dosis 2-28 mcg/kg/menit, dopamin 3-8 mc/kg/menit, epinefrin 0,1-0,5 mcg/kg/menit atau inhibitor
fosfodiesterase (amrinon dan milrinon).

Bikarbonat

Secara empirik, bikarbonat dapat diberikan bila pH <7,2 atau serum bikarbonat <9 meq/l, dengan
disertai upaya untuk memperbaiki keadaan hemodinamik.

Disfungsi renal

Sebagai terapi pengganti gagal ginjal akut dapat dilakukan hemodialisis maupun hemofiltrasi kontinu
(continuous hemofiltration).Pada hemodialisis digunakan gradien tekanan osmotik dalam filtrasi
substansi plasma, sedangkan pada hemofiltrasi digunakan gradien tekanan hidrostatik.Hemofiltrasi
dilakukan kontinu selama perawatan, sedangkan bila kondisi telah stabil dapat dilakukan hemodialisis.

Nutrisi

Pada sepsis kecukupan nutrisi berupa kalori, protein, asam lemak, cairan, vitamin dan mineral perlu
diberikan sedini mungkin, diutamakan pemberian secara enteral dan bila tidak memungkinkan beru
diberikan secara parenteral.

Kortikosteroid

Saat ini terapi kortikosteroid diberikan hanya pada indikasi insufisiensi adrenal, dan diberikan secara
empirik bila terdapat dugaan keadaan tersebut.Hidrokortison dengan dosis 50mg bolus intravena 4 kali
selama 7 hari pada pasien renjatan septik menunjukkan penurunan mortalitas dibanding kontrol.
F. PERSIAPAN ALAT , PASIEN & PETUGAS

a. Persipan alat :

- Cairan infus

- Obat antibiotik

- Obat inotropik

- Tabung oksigen

b. Persiapan pasien :

- Menyampaikan hasil pemeriksaan mengenai keadaan pasien, apabila pasien dalam keadaan sadar.

- Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan

- Meminta persetujuan kepada pasien apabila pasien dalam keadaan sadar.

- Meminta persetujuan kepada keluarga apabila pasien dalam keadaan tidak sadar.

- Mengatur posisi pasien.

c. Persiapan petugas :

- Persiapan diri ( Pelindung diri )

- Persiapan alat

G. SOP (STANDAR OPRASIONAL PROSEDUR)

1. Terapi cairan. Pemberian cairan garam berimbang harus segera diberikan pada saat ditegakkan
diagnostic, syok septik pemberian cairan ini sebanyak 1-2 L selama 30-60 menit dapat memperbaiki
sirkulasi tepid an produksi urin. Pemberian cairan selanjutnya tergantung pengukuran tekanan vena
sentral.
2. Obat inotropik. Dopamin sebaiknya diberikan bilamana keadaan syok tidak dapat diatasi dengan
pemberian cairan, tetapi tekanan vena sentral telah kembali normal. Dopamin permulaan diberikan
kurang dari 5 µg/kg berat badan/menit. Dengan dosis ini diharapkan aliran darah ginjal dan mesenterik
meningkat, serta memperbanyak produksi urin. Dosis dopamin 5-10 µg/kg berat badan/menit dan
menimbulkan efek beta adrenergik. Sedangkan pada dosis > 10 µg/kg berat badan/menit, dopamine
tidak efektif, dan yang menonjol adalah efek alfa adrenergic.

3. Antibiotika. Pemberian dosis antibiotika harus lebih tinggi dari dosis biasa dan diberikan secar
intravena, kombinasi pemberian 2 antibiotika spektrum … sangat dianjurkan karena dapat terjadi efek
aditif dan sinergistik. Misal : kombinasi pemberian klindamisin (600 mg/ 6 jam) dengan aminoglikosida
(gentamisin atau tobramisin 2 mg/kg berat badan/ 8 jam) sebagai terapi permukaan sebelum
mendapatkan uji kepekaan bakteri.