Anda di halaman 1dari 8

ANALISA KASUS BURNOUT PADA PERAWAT YANG BERTUGAS

DI RUANG RAWAT INAP

Disusun Oleh :

Dwi Ayu Mitasari


(D0019020)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


STIKES BHAMADA SLAWI
2019-2020
BAB 1
PENDAHULAN

1.1 Latar Belakang


Kejenuhan kerja (Burnout) adalah suatu kondisi fisik, emosi dan mental yang sangat drop
yang diakibatkan oleh situasi kerja yang sangat menuntut dalam jangka panjang
(Muslihudin, 2009). Perawat yang mengalami burn out dan mempunyai lingkungan yang
kurang aman dapat memberikan perawatan yang kurang efisien daripada perawat yang
tidak mengalami burnout. Perawat yang mengalami burnout juga beresiko melakukan
kesalahan yang berpotensi merugikan pasien. Burn out juga terbukti menjadi penyebab
terjadinya peningkatan turn over sehingga membuat cost rumah sakit semakin meningkat
(Hoskins, 2013). Penelitian yang dilakukan di Eropa pada tahun 2011 menunjukkan
bahwa sekitar 30% dari perawat yang disurvei melaporkan jenuh atau lelah untuk bekerja.
Selain itu sebuah penelitian di Inggris menemukan bahwa sekitar 42% dari perawat
dilaporkan mengalami burn out, sedangkan di Yunani sekitar 44% dari perawat
melaporkan perasaan ketidakpuasan di tempat kerja dan keinginan untuk meninggalkan
pekerjaan. Perawat yang bekerja pada rumah sakit besar di Brasil Selatan menunjukkan
bahwa prevalensi perawat mengalami burn out sebanyak 35,7%. Penelitian di Arab
menunjukkan hasil 45,6% staf perawat mengalami emotional exhaustion, 42% mengalami
depersonalization, dan 28,5% mengalami lowpersonal accomplishment (Triwijayanti,
2016).

Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan merupakan bagian dari
sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam rangka mendukung
penyelenggaraan upaya kesehatan. Dalam penyelenggaraan pelayanan rumah sakit, maka
rumah sakit harus melakukan upaya peningkatan mutu pelayanan umum dan pelayanan
medik, baik melalui akreditasi, sertifikasi ataupun proses peningkatan mutu lainnya
(Kemkes, 2012). Menurunnya kualitas pelayanan bukan hanya karena faktor mutu
tenaga, tetapi dapat juga karena tingginya beban kerja yang berakibat perawat menjadi
letih secara fisik dan mental. Hal ini bisa tampak bila terjadinya kenaikan jumlah
kunjungan pasien dan meningkatnya Bed Occupancy Rate (BOR), sedangkan jumlah
perawat tetap dalam periode waktu yang lama (Ilyas, 2013).
Perawat adalah tenaga profesional di bidang perawatan kesehatan yang terlibat dalam
kegiatan perawatan. Penelitian Eliyana (2015) faktor lingkungan, kepemimpinan, dan
otonomi dalam praktek klinis menyebabkan stres pada perawat pada dimensi kelelahan
emosional. Selain itu beban kerja dan masalah dengan supervisor merupakan stres
perawat yang paling signifikan. Ketidakpastian dalam pengobatan, konflik dengan
dokter, masalah dengan teman kerja, pasien dan keluarga pasien bisa mempengaruhi
kepuasan di ruang perawatan. Perawat merupakan tenaga profesional untuk melayani
masyarakat, memberi perawatan dan perlindungan bagi pasien yang membutuhkan
pertolongan. Peranan perawat dalam melaksanakan layanan keperawatan harus
berkolaborasi dengan profesi lain yang memerlukan keahlian dan keterampilan khusus
sehingga mencerminkan sebuah kemitraan dalam memberikan layanan keperawatan
kepada pasien, karena bersinggungan dengan profesi lain seringnya muncul masalah
dalam komunikasi sehingga membuat peningkatan emosi dan stress yang dialami oleh
perawat. Begitu banyaknya tanggung jawab dan tuntutan yang harus dijalani oleh perawat
menunjukkan bahwa profesi perawat rentan sekali mengalami burnout terhadap
pekerjaannya.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menganalisis masalah tentang kebutuhan perawatan pasien di
rumah sakit.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu menemukan masalah tentang kebutuhan perawatan pasien di
rumah sakit.
2. Mahasiswa mampu menemukan cara penyelesaian masalah tentang kebutuhan
perawatan pasien di rumah sakit.
3. Mahasiswa mampu mengaitkan masalah tentang kebutuhan perawatan pasien di
rumah sakit dengan teori dan jurnal.
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Kasus
Terdapat seorang perawat wanita yang sudah bekerja selama 2 tahun di RS X dengan
tingkat pendidikan DIII dan belum menikah. Pada suatu hari Ia bercerita bahwa dirinya
merasakan kelelahan dalam bekerja dan merasa bosan merawat pasien yang terlalu
banyak menuntut (cerewet). Pernah suatu ketika pada pergantian shift pagi dan siang, ada
jadwal pengambilan sample darah pada pasien X. Seharusnya diambil pukul 13.00 WIB,
namun perawat yang ditugaskan lupa mengambil smaple darah, sampai akhir shift pagi.
Akhirnya Ia disuruh mengambil darah oleh perawat senior, namun ia melimpahkan ke
mahasiswa praktek. Namun sebelum melimpahkan ke mahasiswa, ditanya terlebih dulu
bisa atau tidak, dan mahasiswa menjawab bisa dan akhirnya tugas itu diserahkan ke
mahasiswa. Ternyata mahasiswa gagal mengambil sample darah hingga 2x tusuk.
Perawat tersebut akhirnya mengambil alih tugas itu dan mendapat komplain dari keluarga
pasien. Selain itu, Ia mengatakan tidak nyaman dengan lingkungan kerjanya. Banyak
senior yang memberikan tugas padanya, padahal tugas tersebut adalah bukan miliknya
dan mau tidak mau Ia harus melaksanakannya. Selain itu, jika pergantian shift, perawat
lain datang terlambat kadang sampai 30 menit. Ia terkadang sering mengambil cuti untuk
izin tidak masuk kerja karena sakit. Ia mengatakan bahwa gaji yang diterimapun tidak
cukup besar. Jika ingin ada kenaikan gaji maka harus melanjutkan sekolah S1 dan Ners,
namun untuk biaya sekolah masih belum cukup. Perawat tersebutpun berusaha untuk
bertahan dan menikmati setiap prosesnya. Namun, semakin lama kejenuhan justru
semakin terasa. Ia pernah berfikir untuk menceritakan beban yang dirasakan pada Karu,
namun sampai saat ini masih diurungkannya.

2.2 Cara Penyelesaian Masalah


Dalam kasus ini cara penyelesaian masalah yang dapat dilakukan adalah

2.2.1 Mengadakan kegiatan yang bersifat refreshing secara bersama-sama untuk


mengurangi kejenuhan kerja dan membina interaksi social yang baik antara sesama
perawat maupun atasan
2.2.2 Membuat job descripsion untuk perawat ruangan , sehingga pekerjaan yang dilakukan
sesuai tugas dan tanggung jawab
2.2.3 Mengadakan rapat internal (satu bulan sekali) oleh kepala ruangan tersebut yang
berguna untuk menyalurkan aspirasi dan keluhan perawat ruangan dalam bekerja
2.2.4 Meningkatkan keterampilan perawat ruangan khususnya keterampilan psikologis
dalam pengendalian diri dan mempertahankan sikap positif
2.2.5 Menanamkan nilai budaya yang dianut rumah sakit sehingga dapat tercipta
lingkungan kerja yang baik, sejalan dan selaras dengan visi, misi dan tujuan rumah
sakit yang dapat meningkatkan kinerja dan mutu rumah sakit serta memberikan
dukungan kerja kepada sesama perawat

2.3 Pembahasan
Burnout merupakan suatu kondisi psikis negatif individu yang ditandai dengan
kelelahan, kejenuhan dan penurunan pencapaian prestasi diri, khususnya pada
pekerjaan pelayanan kemanusiaan (human services), akibat ketidakpuasan terhadap
hasil yang diperoleh serta adanya tekanan-tekanan yang diterima secara eksternal
ataupun internal (Sumijatun, 2014). Sesuai dengan kasus diatas bahwa perawat tersebut
merasa kelelahan, bosan, dan jenuh saat bertugas. Menurut Eliyana (2015) faktor yang
mempengaruhi terjadinya burnout adalah faktor lingkungan, kerja dan faktor individu.
Dapat dilihat dari kasus bahwa perawat tersebut mengalami burnout karena pasien yang
terlalu cerewet, lingkungan kerja yang kurang nyaman seperti senior yang suka
melimpahkan tugas, dan gaji yang sedikit. Seharusnya perawat memiliki rasa semangat
dan cinta dalam melayani pasien. Perawat juga perlu membina hubungan lebih baik
antar teman selama memberikan pelayanan kepada pasien. Sehingga dapat
meminimalisir terjadinya burnout.

Selain itu kemungkinan faktor lain yang menyebabkan burnout seperti usia, jenis
kelamin, pendidikan, status perkawinan, dan pengalaman kerja. Perawat yang lebih tua
biasanya lebih menguasai pekerjaan yang mereka lakukan dan keinginan agar mencapai
kinerja lebih baik daripada perawat yang berusia lebih muda. Perawat usia tua
cenderung menggunakan koping efektif dalam keterlibatan emosional, sehingga
perawat melayani dengan sikap sabar dan memahami orang lain yang sedang dalam
keadaan menghadapi kritis, ketakutan dan kesakitan. Perawat wanita yang burnout
cenderung mengalami kelelahan emosional. Semakin tinggi tingkat pendidikan seorang
perawat maka kemampuan intelektual, kreativitas dan aplikasi dalam memberikan
pelayanan kepada pasien akan semakin optimal sehingga tingkat stresnya berkurang
karena tidak mengalami banyak kesulitan. Perawat yang berstatus lajang tidak memiliki
sistem pendukung yang baik dalam mendukung dan menunjang pekerjaan selain itu
seseorang yang sudah menikah dan berkeluarga umumnya berusia lebih tua, stabil,
matang secara psikologis, dan keterlibatan dengan keluarga dan anak dapat
mempersiapkan mental seseorang dalam menghadapi masalah. Minimnya pengalaman
kerja maka semakin tinggi tingkat burnout yang dialami. Setiap organisasi pelayanan
kesehatan menginginkan turnover dalam organisasinya rendah dalam arti tenaga atau
karyawan aktif yang lebih lama bekerja di rumah sakit tersebut dan tidak pindah ke
rumah sakit lain. Seorang perawat harus dihadapi dan harus berhasil, maka dalam
bekerja dengan perasaan senang karena ingin berhasil sehingga perasaan tertekan
menjadi berkurang. Ditunjang dengan mempunyai pengalaman dan keterampilan, maka
perasaan tertekan akan lebih kecil dibanding dengan yang belum mempunyai
pengalaman (Tinambunan, Tampubolon, & Sembiring, 2018).

Cara mengatasi burnout tentunya dimulai dari diri sendiri dengan cara mampu
menempatkan diri, kelola stress dan emosi, meminta bantuan kepada siapapun jika
membutuhkan, serta menjaga gairah untuk menjalankan tugas. Selain dari perawat itu
sendiri tentunya peran ruangan juga turut andil mempengaruhi kejadian burnout. Hal
yang mungkin dapat dilakukan seperti evaluasi pembagian tugas, diadakan gathering
untuk refresing, adanya tunjangan setiap bulan yang turun tepat waktu, perawat
mendapatkan cuti, mendekorasi ruangan, dan diadakan pelatihan terkait keterampilan
psikologis dalam pengendalian diri dan mempertahankan sikap positif.
BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Stres di tempat kerja merupakan keadaan yang tidak bisa dihindari. Kenyataan
menunjukkan ada individu yang dapat bertahan dan mengatasi situasi yang menekan
tersebut, namun ada juga yang tidak dapat bertahan. Burnout yang dialami perawat adalah
keadaan ketika perawat menunjukkan perilaku seperti memberikan respon yang tidak
menyenangkan kepada pasien, menunda pekerjaan, mudah marah disaat rekan kerja
ataupun pasien bertanya hal yang sederhana, mengeluh cepat lelah dan pusing serta lebih
parahnya tidak mempedulikan pekerjaan dan keadaan sekitarnya. Dampak yang paling
terlihat dari burnout adalah menurunnya kinerja dan kualitas pelayanan. Individu yang
mengalami burnout akan kehilangan makna dari pekerjaan yang dikerjakannya karena
respons yang berkepanjangan dari kelelahan emosional, fisik dan mental yang mereka
alami. Akibatnya, mereka tidak dapat memenuhi tuntutan pekerjaan dan akhirnya
memutuskan untuk tidak hadir, menggunakan banyak cuti sakit atau bahkan
meninggalkan pekerjaannya.

3.2 Saran
Saran bagi perawat di ruangan tersebut antara lain:
1) Meningkatkan keterampilan perawat pelaksana khususnya keterampilan psikologis
dalam pengendalian diri dan mempertahankan sikap positif
2) Menanamkan nilai budaya yang dianut rumah sakit sehingga dapat tercipta
lingkungan kerja yang baik, sejalan dan selaras dengan visi, misi dan tujuan dari
rumah sakit yang dapat meningkatkan kinerja dan mutu rumah sakit serta memberikan
dukungan kerja kepada sesama perawat.
3) Mempertahankan kebugaran dengan olahraga yang teratur, makan yang sehat dan
bergizi, tidur yang cukup dan menikmati hobi yang digemari.
4) Meningkatkan kecerdasan emosional serta mengintensifkan hubungan sosial dengan
lingkungannya agar terbentuk dukungan sosial yang baik dan kondusif
5) Meningkatkan kemampuan dan juga kompetensi diri, baik melalui diklat yang
diadakan pihak rumah sakit maupun pelatihan di luar rumah sakit.
DAFTAR PUSTAKA
Sumijatun. (2014). Manajemen Keperawatan: Materi Burnout Perawat. Depok: Fakultas

Eliyana. (2015). Faktor - Faktor yang Berhubungan dengan Burnout Perawat Pelaksana.
Jurnal Administrasi Rumah Sakit Volume 2 Nomor 3. Universitas Indonesia.

Hoskins, K., N. (2013). The Possible Role of Burnout in Nursing Errors. Thesis. College of
Nursing and The Burnett Honors College at the University of Central Florida.
Orlando.

Ilyas, Y. (2013). Perencanaan SDM Rumah Sakit; teori, metoda dan formula. Depok :
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2012). Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan


Rumah Sakit. Jakarta : Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan.

Nursalam. (2014). Manajemen Keperawatan Edisi 4. Jakarta: Medika Salemba.

Tinambunan, Tampubolon, & Sembiring. (2018). Burnout syndrome pada perawat di


ruangan rawat inap rumah sakit santa elisabeth medan. Jurnal Keperawatan
Priority, Vol 1, No. 1. Studi Ners STIKes Santa Elisabeth Medan.

Triwijayanti, R. (2016). Hubungan Locus of Control Dengan Burnout Perawat di Ruang


Rawat Inap Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Tesis. Fakultas
Kedokteran Semarang.