0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan29 halaman

Teori Belajar IPA dalam Pendidikan

Pembelajaran IPA adalah proses interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar untuk memperoleh pengetahuan tentang fenomena alam melalui pendekatan ilmiah. IPA memiliki tiga komponen utama yaitu proses ilmiah, produk ilmiah, dan sikap ilmiah.

Diunggah oleh

Sintia Putri
Lisensi
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan29 halaman

Teori Belajar IPA dalam Pendidikan

Pembelajaran IPA adalah proses interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar untuk memperoleh pengetahuan tentang fenomena alam melalui pendekatan ilmiah. IPA memiliki tiga komponen utama yaitu proses ilmiah, produk ilmiah, dan sikap ilmiah.

Diunggah oleh

Sintia Putri
Lisensi
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

Tentang

TEORI BELAJAR IPA

DOSEN PEMBIMBING:

Prof. Dr. Hj. Mega Iswari, [Link]

KELOMPOK 1

1. Indah Purwanti (17003125)


2. Desri Selvia (17003053)
3. Andre Pratama (17003048)
4. Mutiara Apriana Lusma (17003138)
5. Rahma Wulan Sari (17003028)
6. Dini Saputri (17003054)
7. Dinda Riskia Putri (17003007)

JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2020
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT. yang maha pengasih lagi


maha penyayang, penulis ucapkan puja dan puji syukur atas kehadiratnya,
yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya sehingga dapat
menyelesaikan makalah tentang “Teori Belajar Ipa.”

Makalah ini telah tersusun dengan maksimal dan mendapatkan


bantuandari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, penulis menyadari bahwa masih ada


kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasa. Oleh
karena itu, penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca untuk
menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat terhadap pembaca.

Padang, Februari 2020

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Penulisan 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembelajaran 2
B. Pengertian Pembelajaran IPA 3
C. Fungsi Pembelajaran IPA 7
D. Tujuan Pembelajaran IPA 8
E. Teori Belajar IPA 10
F. RPP Pembelajaran 24

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 45
B. Saran 45

DAFTAR RUJUKAN 46

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial dan budaya. Belajar sangat penting
bagi kehidupan manusia. Seorang anak membutuhkan waktu yang lama
untuk belajar sehingga menjadi manusia dewasa. Pembelajaran adalah
suatu aktivitas yang dengan sengaja untuk memodifikasi berbagai kondisi
yang diarahkan untuk tercapainya suatu tujuan yaitu tujuan pendidikan.
Setiap individu berhak untuk belajar.
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan
kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke
generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.
Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga
memungkinkan secara otodidak.
B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan yang dimaksud dengan pembelajaran!
2. Apa itu pembelajaran IPA?
3. Apa saja fungsi pembelajaran IPA?
4. Apa tujuan pembelajaran IPA?
5. Jelaskan teori belajar IPA!
6. Contoh RPP pembelajaran!
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pembelajaran.
2. Untuk mengetahui apa itu pembelajaran IPA.
3. Untuk mengetahui fungsi pembelajaran IPA.
4. Untuk mengetahui tujuan pembelajaran IPA
5. Untuk mengetahui teori belajar IPA.
6. Untuk mengetahui contoh RPP pembelajaran.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembelajaran
Belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan
tingkah laku sebagai hasil dan interaksi dengan lingkungannya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. R. Gagne (dalam Susanto, A. 2013: 1)
menyatakan bahwa belajar sebagai suatu proses dimana suatu organisme
berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Belajar dan mengajar
merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dua
konsep ini menjadi terpadu dalam satu kegiatan di mana terjadi interaksi
antara guru dengan siswa, serta siswa dengan siswa pada saat
pembelajaran berlangsung.
Bagi Gagne, belajar dimaknai sebagai suatu proses untuk
memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan
tingkah laku. Wittig juga berpendapat, belajar sebagai any relatively
permanen change in an organism behavioral repertoire that accurs as a
result of experience (belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang
terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme
sebagai hasil pengalaman) (dalam Syah, 2003 : 65-66). Didalam proses
belajar terdapat pembelajaran yang dilakukan oleh guru pada muridnya.
Pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan guru dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar.
Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar
dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan
kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada
siswa. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu
siswa agar dapat belajar dengan baik. Pembelajaran merupakan suatu
kegiatan yang komplek. Pembelajaran pada hakikatnya tidak hanya
sekedar menyampaikan pesan tetapi juga merupakan aktifitas profesional
yang menuntut guru dapat menggunakan keterampilan dasar mengajar

2
3

secara terpadu serta menciptakan situasi efisien (Mashudi, Toha dkk, 2007
: 3). Untuk memperoleh pembelajaran diperlukan strategi, media, dan
pendekatan yang tepat, agar pelaksanaan pembelajaran dapat terlaksana
dengan baik. Dalam pembelajaran juga terdapat beberapa proses
pelaksanaan pembelajaran. Tahap-tahap dalam pembelajaran tersebut,
dikemukakan oleh (Nana Sudjana, 2010 : 136) sebagai berikut:
1. Membuka Pelajaran
Kegiatan membuka pelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan
siswa siap secara mental untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
2. Penyampaikan Materi Pembelajaran
Penyampaian materi pembelajaran merupakan inti dari suatu proses
pelaksanaan pembelajaran. Tujuan dari penyampaian materi adalah
membantu siswa memahami dengan jelas semua permasalahan dalam
kegiatan pembelajaran, membantu siswa untuk memahami suatu
konsep, melibatkan siswa untuk berpikir, memahami tingkat
pemahaman siswa dalam menerima pembelajaran.
3. Menutup Pembelajaran
Kegiatan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru
untuk mengahiri kegiatan inti pembelajaran. Dalam kegiatan ini guru
melakukan evaluasi tterhadap materi yang telah disampaikan.
Jadi, dapat disimpulkan pembelajaran merupakan proses interaksi
siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang
dilakukan berdasarkan proses pelaksanaan pembelajaran agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai peserta didik.
B. Pengertian Pembelajaran IPA
Pembelajaran adalah suatu proses membelajarkan subjek didik atau
pembelajaran yang direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara
sistematis agar subjek didik dapat mencapai tujuan pembelajaran secara
efektif dan efisien (Depdiknas, 2006). Istilah Ilmu Pengetahuan Alam atau
IPA dikenal juga dengan istilah sains. Kata sains berasal dari bahasa Latin
4

yaitu scientia yang berarti ”saya tahu”. Dalam bahasa Inggris, kata sains
berasal dari kata science yang berarti pengetahuan. Science kemudian
berkembang menjadi social science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal
dengan ilmu pengetahuan sosial (IPS) dan natural science yang dalam
Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan alam (IPA).
IPA merupakan cabang pengetahuan yang berawal dari fenomena
alam. IPA didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan tentang objek
dan fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan
ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan
menggunakan metode ilmiah. IPA adalah cabang pengetahuan yang
dibangun berdasarkan pengamatan dan klasifikasi data, dan biasanya
disusun serta diverifikasi dalam hukum-hukum yang bersifat kuantitatif,
yang melibatkan aplikasi penalaran matematis dan analisis data terhadap
gejala-gejala alam. Pada hakikatnya IPA merupakan ilmu pengetahuan
tentang gejala alam yang dituangkan berupa fakta, konsep, prinsip dan
hukum yang teruji kebenarannya dan melalui suatu rangkaian kegiatan
dalam metode ilmiah (Modul hakikat IPA & pembelajaran IPA: 18).
Sukardjo (2008: 1) mengemukakan hakikat IPA sebagai ilmu yang
memiliki karakteristik khusus yaitu mempelajari fenomena alam yang
faktual baik kenyataan/kejadian berdasarkan percobaan (induksi), dan
dikembangkan berdasarkan teori (deduksi).
Secara garis besar atau pada hakikatnya IPA memiliki tiga
komponen, yaitu proses ilmiah, produk ilmiah, dan sikap ilmiah. Proses
ilmiah adalah suatu kegiatan ilmiah yang dilaksanakan dalam rangka
menemukan produk ilmiah. Proses ilmiah meliputi mengamati,
mengklasifikasi, memprediksi, merancang, dan melaksanakan eksperimen.
Produk ilmiah meliputi prinsip, konsep, hukum, dan teori. Produk ilmiah
berupa pengetahuan-pengetahuan alam yang telah ditemukan dan diuji
secara ilmiah. Sikap ilmiah merupakan keyakinan akan nilai yang harus
dipertahankan ketika mencari atau mengembangkan (Patta Bundu, 2006:
11). Pembelajaran IPA merupakan proses membelajarkan subjek didik
5

dalam mempelajari peristiwa yang terjadi di alam ini melalui serangkaian


proses ilmiah sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang sudah
ditetapkan.
Pembelajaran IPA adalah sebuah sistem yang terdiri atas
komponen-komponen masukan pembelajaran, proses pembelajaran dan
keluaran pembelajaran. Komponen masukan pembelajaran adalah
komponen yang diperlukan proses pembelajaran agar dapat berjalan
dengan maksimal yang meliputi kurikulum, guru, metode pembelajaran,
media pembelajaran, sarana/prasarana pembelajaran, lingkungan dan
peserta didik (Jurnal Special Edu, Dieni, dkk. 2006: 17). Sebagai ilmu,
pembelajaran IPA berdasarkan pernyataan dari Prawirohartono (1989: 93)
menjelaskan bahwa pembelajaran IPA memiliki karakteristik yang
membedakan dengan bidang ilmu lainnya yang memiliki ciri khusus
aebagai berikut:
1. IPA mempunyai nilai ilmiah artinya kebenaran dalam IPA dapat
dibuktikan lagi oleh semua orang dengan menggunakan metode ilmiah
dan prosedur seperti yang dilakukan terdahulu oleh penemunya.
Contoh: nilai ilmiah ”perubahan kimia” pada lilin yang dibakar.
Artinya benda yang mengalami perubahan kimia, mengakibatkan
benda hasil perubahan sudah tidak dapat dikembalikan ke sifat benda
sebelum mengalami perubahan atau tidak dapat dikembalikan ke sifat
semula.
2. IPA merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara
sistematis, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada
gejala-gejala alam. Perkembangan IPA selanjutnya tidak hanya
ditandai oleh adanya kumpulan fakta saja, tetapi juga ditandai oleh
munculnya “metode ilmiah” (scientific methods) yang terwujud
melalui suatu rangkaian ”kerja ilmiah” (working scientifically), nilai
dan “sikapi lmiah” (scientific attitudes) (Depdiknas, 2006).
3. IPA merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun
dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan
6

observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori,


eksperimentasi, observasi dan demikian seterusnya kait mengkait
antara cara yang satu dengan cara yang lain.
4. IPA merupakan suatu rangkaian konsep yang saling berkaitan dengan
bagan- bagan konsep yang telah berkembang sebagai suatu hasil
eksperimen dan observasi, yang bermanfaat untuk eksperimentasi dan
observasi lebih lanjut (Depdiknas, 2006).
5. IPA meliputi empat unsur, yaitu produk, proses, aplikasi dan sikap.
Produk dapat berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum. Proses
merupakan prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah;
metode ilmiah meliputi pengamatan, penyusunan hipotesis,
perancangan eksperimen, percobaan atau penyelidikan, pengujian
hipotesis melalui eksperimentasi; evaluasi, pengukuran, dan penarikan
kesimpulan. Aplikasi merupakan penerapan metode atau kerja ilmiah
dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari. Sikap merupakan rasa
ingin tahu tentang obyek, fenomena alam, makhluk hidup, serta
hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat
dipecahkan melalui prosedur yang benar (Prawirohartono, 1989: 93).
Para ahli pendidikan dan pembelajaran IPA menyatakan bahwa
pembelajaran IPA seyogianya melibatkan siswa dalam berbagai ranah,
yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Hal ini dikuatkan dalam
kurikulum IPA yang menganjurkan bahwa pembelajaran IPA di sekolah
melibatkan siswa dalam penyelidikan yang berorientasi inkuiri, dengan
interaksi antara siswa dengan guru dan siswa lainnya ((Modul hakikat IPA
& pembelajaran IPA: 22). Proses pembelajaran IPA di sekolah
menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk
mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam
sekitar secara ilmiah. Hal ini disebabkan karena IPA diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui
pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan (Jurnal Special
Edu, Dieni, dkk. 2006: 16).
7

Sulasminah (2013: 58) memaparkan bahwa pembelajaran IPA di


SDLB harus diberikan secara terpadu dalam arti alam di sekitar anak perlu
diperkenalkan sebagai suatu keutuhan lingkungan di mana mereka berada.
Dalam memberikan pengalaman belajar bagi peserta didik perlu
memperhatikan keingintahuan anak tentang lingkungannya, termasuk
perkembangan sain dan teknologinya. Sebagai proses ilmiah, kegiatan IPA
menyempurnakan pengetahuan tentang alam maupun menemukan
pengetahuan baru. Secara umum, IPA dipahami sebagai ilmu yang lahir
dan berkembang lewat langkah-langkah observasi, perumusan masalah,
penyusunan hipotesis, pengujian melalui eksperimen.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA merupakan
pembelajaran ilmu pengetahuan yang benar dan nyata atau masuk akal
(bersifat rasional) tentang seluruh fenomena alam dan masalahnya yang
kemudian memotivasi peserta didik untuk melakukan pengamatan empiris
sebagai wujud pemberian pengalaman yang secara langsung dialami
sendiri oleh peserta didik, melalui proses ilmiah di antaranya: hipotesis,
eksperimen, evaluasi dan kesimpulan serta peserta didik dibiasakan untuk
terbiasa berpikir ilmiah, yaitu sistematis, logis, kritis, kreatif, dan inovatif
dalam mengghadapi berbagai masalah.
C. Fungsi Pembelajaran IPA
Wahyana mengatakan bahwa pembelajaran IPA merupakan suatu
kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematik, dan dalam
penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam (Trianto,
2008: 61). Fungsi pembelajaran IPA yaitu untuk meningkatkan produksi
dan mengubah sikap juga pandangan manusia terhadap alam (Bernal,
2008). Ada beberapa fungsi dari pembelajaran IPA yang dipaparkan oleh
Depdiknas (2006: 2) sebagai berikut:
1. Memberi bekal pengetahuan dasar, baik untuk dapat melanjutkan ke
jenjang pendidikan lebih tinggi maupun untuk diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari.
8

2. Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dalam memperoleh,


mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep IPA.
3. Menanamkan sikap ilmiah dan melatih siswa dalam menggunakan
metode ilmiah untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
4. Menyadarkan siswa akan keteraturan alam dan segala keindahannya,
sehingga siswa terdorong untuk mencintai dan mengagungkan
Penciptanya.
5. Memupuk daya kreatif dan inovatif siswa.
6. Membantu siswa memahami gagasan atau informasi baru dalam
bidang IPTEK.
7. Memupuk serta mengembangkan minat siswa terhadap IPA.
Jadi, dapat dimaknai bahwa fungsi pembelajaran IPA yaitu untuk
meningkatkan kemampuan dasar anak terhadap pemahaman pembelajaran
IPA, mengembangkan keterampilan, menanamkan sikap ilmiah, memupuk
daya kreatif, imajinatif siswa, cakap terhadap informasi serta
mengembangkan minat anak terhadap pembelajaran IPA, baik disekolah
maupun luar sekolah.
D. Tujuan Pembelajaran IPA
Pembelajaran IPA sangat penting diajarkan pada peserta didik.
Pembelajaran IPA bertujuan untuk menanamkan rasa ingin tahu dan sikap
positif terhadap sains, teknologi dan masyarakat, mengembangkan
keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah
dan membuat keputusan, mengembangkan gejala alam, sehingga siswa
dapat berfikir kritis dan objektif (Muslichah, 2006:23). Menurut BNSP
(2006: 484) pembelajaran IPA bertujuan agar siswa memiliki kemampuan
sebagai berikut:
1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
berdasarkan keberadaban, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-
Nya.
2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahamankonsep-konsep IPA
yang bermanfaat dan dapat di tetrapkan dalam kehidupan sehari-hari.
9

3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran adanya


hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan,
teknologi dan masyarakat.
4. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,
memecahkan masalah dan membuat keputusan.
5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara,
menjaga dan melestarikan lingkungan alam.
6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala
keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
7. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai

dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP.

Tujuan lain, dari pembelajaran IPA yaitu untuk memahami alam


sekitar, memiliki keterampilan untuk mendapatkan ilmu berupa
keterampilan proses/metode ilmiah, memiliki sikap ilmiah di dalam
mengenal alam sekitar dan memecahkan masalah yang dihadapinya
(Sulistyorini, 2007: 15). Menurut Khaeruddin (2007: 182-183), IPA
bertujuan untuk membekali peserta didik memiliki kemampuan
mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,
mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang
adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan,
teknologi dan masyarakat, mengembangkan keterampilan proses untuk
menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.
Sedang ruang lingkup bahan kajian IPA meliputi aspek-aspek berikut :
1. Makhluk hidup dan proses kehidupan
2. Benda atau materi, sifat-sifat dan kegunaannya
3. Energi dan perubahannya
4. Bumi dan alam semesta.
10

Dalam jurnal Special Edu, Dieni, dkk. (2006: 16) menjelaskan


bahwa tujuan pembelajaran IPA antara sekolah umum dan SLB sama
begitu juga dengan ruang lingkup materi yang dipelajari. Perbedaannya
terletak pada sub materi SLB yang lebih sederhana dibandingkan sekolah
umum. Jadi, dapat dismpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPA yaitu
untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran IPA serta mengembangkan
dan memperluas substansi pembelajaran IPA.
E. Teori Belajar IPA
Secara umum, teori adalah sebuah system konsep abstrak yang
mengindikasikan adanya hubungan diantara konsep-konsep tersebut yang
membantu kita memahami sebuah fenomena. Secara khusus, teori adalah
seperangkat konsep/konstruk, definisi dan proposi yang berusaha
menjelaskan hubungan sistematis suatu fenomena, dengan cara memrinci
hubungan sebab akibat yang terjadi (Sardar, 1996: 43). Menurut Ratna
(2006) Dalam penggunaan secara umum, teori-teori berarti sejumlah
proposisi yang terintegrasi secara sintaktik (asrtinya kumpulan proposisi
ini mengikuti aturan-aturan tertentu yang dapat menghubungkan secara
logis proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan juga pada data
yang diamati), serta yang digunakan untuk memprediksi dan menjelaskan
peristiwa-peristiwa yang diamati.
Menurut Turner teori merupakan proses mental untuk membangun
ide sehingga ilmuwan dapat menjelaskan mengapa peristiwa itu terjadi.
Sedangkan Kornblum mengemukakan bahwa teori merupakan seperangkat
jalinan konsep untuk mencari sebab terjadinya gejala yang diamati. Dalam
bukunya, Erwan dan Dyah (2007) menjelaskan bahwa teori adalah
serangkaian konsep yang memiliki hubungan sistematis untuk
menjelaskan suatu fenomena sosial tertentu. Ada beberapa teori belajar
IPA yng perlu diketahui sebagai berikut:
11

1. Teori Behaviorisme
Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang
mempelajari tingkah laku [Link] Desmita (2009:44) teori
belajar behavioristik merupakan teori belajar memahami tingkah laku
manusia yang menggunakan pendekatan objektif, mekanistik, dan
materialistik, sehingga perubahan tingkah laku pada diri seseorang
dapat dilakukan melalui upaya pengkondisian. Dengan kata lain,
mempelajari tingkah laku seseorang seharusnya dilakukan melalui
pengujian dan pengamatan atas tingkah laku yang terlihat, bukan
dengan mengamati kegiatan bagian-bagian dalam tubuh. Teori ini
mengutamakan pengamatan, sebab pengamatan merupakan suatu hal
penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku
tersebut.
Teori behavioristik menekankan pada kajian ilmiah mengenai
berbagai respon perilaku yang dapat diamati dan penentu
lingkungannya. Dengan kata lain, perilaku memusatkan pada interaksi
dengan lingkungannya yang dapat dilihat dan diukur. Prinsip-prinsip
perilaku diterapkan secara luas untuk membantu orang-orang
mengubah perilakunya ke arah yang lebih baik (King, 2010:15).
Santrock (2008 : 266) menyatakan bahwa behaviorisme adalah
pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui
pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. Menurut
kaum behavioris, perilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan
bisa dilihat langsung: anak membuat poster, guru tersenyum pada
anak, murid menggangu murid lain, dan sebagainya. Dengan demikian,
diasumsikan bahwa semua manusia bisa belajar. Semua individu bisa
mengikuti proses pembelajaran. Seseorang dianggap telah belajar
sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut
teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus
dan output yang berupa respon.
12

Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran


merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya
perubahan tingkah laku tersebut. Faktor lain yang dianggap penting
oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila
penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan
semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative
reinforcement) maka respon juga semakin kuat. Pada pembelajaran
yang menerapkan teori behavioristik, terdapat beberapa ciri dan
kriteria, yang dapat dianggap sebagai karakteristiknya, yakni sebagai
berikut menurut Handra (2016 : 110-111) :
a. Belajar merupakan hasil stimulus lingkungan.
Perilaku sebahagian besar orang merupakan hasil dari
pengalaman yang dialami mereka dengan adanya stimulus-stimulus
dari lingkungan. Anak yang terlahir yang diumpamakan dengan
kertas kosong (tabularasa) lama kelamaan lingkungan tempat dia
dibesarkan secara perlahan akan membentuk perilaku anak
tersebut, atau menkondisikan (conditioning) seorang anak untuk
menjadi individu yang memiliki karakteristik dan cara berperilaku
yang unik. Contoh : seorang anak yang baru lahir, dibesarkan
dalam lingkungan keluarga dan masyarakat pesantren, tentu akan
menkondisikan dirinya untuk menjadi santri atau setidaknya
memiliki perilaku yang sopan, baik, dan islami. Implikasinya bagi
pendidikan adalah guru harus mampu mengembangkan lingkungan
kelas yang mendukung perilaku siswa yang diinginkan.
b. Belajar merupakan asosiasi peristiwa yang diamati (S-R). Dalam
hal ini belajar merupakan suatu hal yang bisa diamati, berarti yang
bisa dibuktikan secara ilmiah. Ada sesuatu yang bisa diamatinya
sebagai suatu stimulus, untuk kemudian disampaikannya tentang
apa yang diamatinya sebagai suatu respons. Implikasinya terhadap
pendidikan adalah guru harus bisa melihat stimulus yang dibuatnya
baik sengaja maupun tidak dan juga dari siswa yang dapat
13

mempengaruhi perilaku siswa. Sebagai contoh : jika seorang siswa


sering menampilkan perilaku yang mengganggu di kelas, mungkin
saja stimulusnya berasal dari guru yang tidak memberikan
perhatian kepadanya, atau bahkan karena perilaku guru yang selalu
menegur setiap kesalahan yang dibuatnya, sehingga emosi anak
meningkat dan menjadikan dia berperilaku yang tidak pantas.
c. Belajar melibatkan perubahan tingkah laku.
Tingkah laku merupakan representasi dari pengalaman
yang dialami anak. Hasil dari apa yang diamati oleh anak, bisa
menjadi pengalaman baginya, dan membuat anak tersebut
berperilaku seperti apa yang diamatinya. Sebagai contoh: dengan
melihat atau mengamati bagaimana orang melakukan tarian,
seorang anak kecil akan sering melakukan kegiatan tarian tersebut
tanpa sadar di setiap gerakannya. Implikasinya bagi pendidikan
adalah guru harus bisa membuat belajar yang mengakibatkan anak
berubah performanya di kelas. Misalnya: masukkan setiap kegiatan
menyenangkan namun mendidik dalam jadwal harian sebagai cara
membantu siswa mengasosiasikan setiap materi pelajaran dengan
perasaan menyenangkan.
d. Belajar merupakan kegiatan stimulus dan respon yang terjadi
berdekatan atau kontinguitas kejadian.
Untuk menjadikan hubungan stimulus dan respon menjadi
berkembang, kejadian yang satu harus bersamaan dengan kejadian
yang lain. Adanya keberlanjutan atau kontinguitas dari satu
kegiatan kepada kegiatan yang lain dalam waktu yang berdekatan.
Implikasinya bagi pendidikan adalah guru yang menginginkan agar
siswa dapat menghubungkan dua kejadian (stimulus – respons,
atau stimulus dan respons), pastikan kejadian itu terjadi dalam
waktu yang berdekatan. Sebagai contoh: memberikan pelajaran
yang saling berhubungan antara materi yang satu ke topik yang lain
14

yang saling berkaitan tentu akan membangkitkan pengetahuan


siswa akan keterkaitan yang satu dengan yang lainnya.
e. Belajar digambarkan sebagai kesamaan terhadap banyak spesies.
Behavioristik terkenal dengan percobaannya terhadap
hewan-hewan; mereka berasumsi bahwa banyak spesies memiliki
proses pembelajaran yang sama. Dikarenakan hal itu para
beharioristik mempercayai bahwa apa yang terdapat kesamaan
proses belajar antara satu spesies dengan spesies lainnya, termasuk
manusia. Dari karakteristik yang ada, dapat kita memahami
bagaimana teori belajar behavioristik dan implikasinya terhadap
pembelajaran.
Dengan demikian, sudah bisa dikembangkan bagaimana proses
pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan atau ciri dari
suatu individu yang sedang belajar. Dalam hal ini, perlu kita telaah
tentang anak berkebutuhan khusus guna bisa dicari kombinasi yang
relevan untuk proses pembelajran bagi mereka. Handra (2016 : 114)
membelajarkan ABK, berdasarkan teori belajar behavioristik, adalah
memberikan stimulus yang sesuai dengan perkembangannya sehingga
terjadinya perkembangan potensi diri anak tersebut. Dari uraian di
atas, disimpulkan bahwa untuk proses pembelajaran ABK diperlukan
pula proses khusus yang tidak sama dengan pembelajaran orang
dewasa. Di Indonesia, telah ada usaha pembelajaran terhadap ABK
sejak lama.
Model pembelajaran yang dikembangkan disebut dengan
[Link] program karena memang berbeda dengan pendidikan
biasa untuk orang yang biasa. Untuk Anak yang berkebutuhan khusus
yang mencakup berbagai jenis kelainan, yaitu anak dengan gangguan
penglihatan, bahasa dan wicara, emosional, anak dengan
ketidakmampuan belajar, ketidakmampuan fisik, dan anak berbakat
membutuhkan program pendidikan yang sesuai dengan status mereka
sebagai anak yang berkebutuhan khusus.
15

Program pendidikan yang cocok dan sesuai dengan kebutuhan


mereka ialah program pendidikan individual yang biasa disingkat
“PPI” Program Pendidikan Individual (PPI) untuk anak yang
berkebutuhan khusus dikembangkan dengan melalui berbagai proses
atau tahap-tahap pengembangan dan pelaksanaan program
pengembangan pendidikan individual, yaitu mencakup tahap:
penjaringan dan identifikasi peserta didik yang berkelainan atau
memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa, melakukan rujukan
ke tim pendidikan khusus, melakukan pertemuan tim, menyusun
program pendidikan individual (PPI), melaksanakan program
pendidikan individual. Untuk pembelajaran IPA sendiri pada anak
berkebutuhan khusus jika dikaitkan dengan teori behavioristik, hal
tersebut melihat dari jenis ketunaan atau hambatan yang ada pada
siswa. Untuk anak berkebutuhan khusus teori behavioristik bisa
digunakan dengan teori penguatan positif dan negatif (reinforcement
negative and positive) menurut teori B.F. Skinners.
Penerapan teori behavioristik lebih menekankan pada aspek
terbentuknya prilaku sebgai hasil belajar. Nasution (2009), teori ini
dengan hubungan stimulus dan respon akan menekankan siswa yang
belajar sebagai individu yang pasih. Dengan munculnya prilaku yang
kuat pada siswa apabila diberikan penguatan dan akan menghilang
jika diberikan hukuman. (Novi Irwan, 2016: 71). Oleh karenanya,
dengan memberikan ransangan, siswa akan menentukan reaksi dan
menanggapi ransangan. Penerapan teori ini dalam kegiatan
pembelajaran tergantung pada beberapa komponen berikut: tujuan
pembelajaran, materi pembelajaran, kharakteristik siswa, media,
fasilitas pembelajaran, lingkungan, dan penguatan. (Novi Irwan, 2016:
71).
16

2. Teori kontruktivisme
Menurut pandangan ahli konstruktivisme siswa belajar dengan
cara mengkonstruksi pengetahuan atau pemahaman yang baru tentang
fenomena-fenomena dari pengalaman yang dimiliki sebelumnya.
Pendekatan konstruktivisme menekankan bahwa pengetahuan yang
dimiliki siswa merupakan hasil konstruksi siswa sendiri. Dengan
demikian pengetahuan bukanlah tentang hal-hal yang terlepas dari
pengamatan, tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksi dari
pengalamannya sendiri (Paulin Pannen. 2001).
Teori ini merupakan cabang baru dalam psikologi koognitif.
Para ahli yang memiliki pandangan yang beragam mengenai isu-isu
seputar pembelajaran. Konsep utama yang mendasari para ahli
mengenai kontruktiv adalah pandangan tentang belajar yang
merupakan produk dari individu yang belajar. Kata kontruktivisme
adalah “ to construct” dalam bahasa inggris yang bererti membentuk.
Julaeha & Asandhimitra, (2004) para ahli ini berpandangan bahwa
pengetahuan merupakan perolehan individu melalui keterlibatan aktif
dalam menempuh proses belajar. (Beni A. Pribadi, 2009: 136)
kemudian peristiwa belajar akan berjalan dengan efektif apabila siswa
berhubungan langsung dengan objek yang sedang dipelajari yang ada
dilingkungan sekitar. (Mccown, Driscoll, dkk ,2006: 112).
Lebih lanjut dinyatakan bahwa kunci dari teori konstruktivisme
adalah siswa belajar melalui informasi secara aktif untuk membangun
pengetahuan sendiri, membandingkan informasi yang baru dengan
pemahaman atau pengalaman yang telah dimiliki. Barba, (1995)
menambahkan bahwa pengetahuan ilmiah dibangun secara bertahap
dari waktu ke waktu oleh siswa dalam konteks sosial melalui
serangkaian interaksi, jika informasi baru berinteraksi dengan
informasi lama sedemikian sehingga hasilnya merupakan kesadaran
tentang apa yang sedang dipelajari. Konstruktivisme mengajarkan
tentang sifat dasar bagaimana siswa belajar. Menurut konstruktivisme
17

belajar adalah Constructing understanding atau knowledge dengan cara


mencocokkan fenomena, ide atau aktivitas yang baru dengan
pengetahuan yang telah dimiliki atau dipelajari. Kata kunci
konstruktivisme adalah to construct.
Dalam hal ini (Cruickshank, 2006) berpendapat ada beberapa
kharakteristik penerapan teori konstruktifisme dalam pembelajaran
(Beni A. Pribadi, 2009: 144) yaitu:
a. Adanya pembelajaran aktif (active learning).
b. Siswa terlibat langsung dalam situasi belajar yang bersifat otentik
dan situasional.
c. Aktivitas belajar yang menarik dan menantang.
d. Adanya kemampuan siswa dalam mengaitkan pengalaman dengan
informasi yang baru diterima.
e. Adanya kemampuan siswa dalam menggambarkan pengetahuan
yang sedang diperolehnya.
f. Guru berperan sebagai fasilitator yang dapat membantu siswa
dalam melakukan konstruksi pengetahuan, bukan sebagai penyaji
pengetahuan.
g. Guru harus dapat membantu siswa apabila diperlukan dalam proses
belajar.
Selanjutnya H. Dadang Supardan (2016: 8) menjabarkan teori
kontruktivisme dalam pembelajaran kedalam aspek bentuk dan jenis.
Dimana model tersebut adalah:
a. Model siklus belajar, terdiri atas tiga, yaitu:
1) Diskaveri dimana siswa diminta membuat pertanyaan terbuka
maupun hipotesis.
2) Pengenalan konsep dalam hal ini guru mempertanyakan
kembali mengenai konsep itu.
3) Aplikasi konsep adalah penerapan dari poin 1 dan 2.
18

b. Model ganon dan colley, terdiri atas enam tahapan, yaitu:


1) Situasi, gambaran tertentu.
2) Pengelompokkan.
3) Jembatan, memberikan permainan sederhana untuk pemecahan
masalah.
4) Pertanyaan.
5) Mendemonstrasikan, menyajikan hasil kerja.
6) Refleksi, merenungkan atau menindak lanjuti.
c. Model mc clintock, terdiri atas tujuh tahapan yaitu:
a. Observasi pengamatan atas kegiatan hendak dilakukan.
b. Interpretasi memberikan penjelasan.
c. Kontekstualisasi mulai menggambarkan secara kenyataan.
d. Belajar keahlian koognitif guru membantu siswa dalam tahapan
1 s/d 3.
e. Kolaborasi dimana adanya tuntutan kerjasama.
f. Interprestasi jamak memperoleh kebebasan dalam
penyampaian dari berbagai sudut pandang.
g. Manifestasi jamak siswa menafsikan dari berbagai pandangan
yang berbeda.
3. Teori Kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir
sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang
sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para
peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya
mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan
antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada.
Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. Teori
belajar kognitif berbeda dengan teori belajar behaveoristik. Teori
belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil
belajarnya. Para penganut aliran kognitif mengatakan bahwa belajar
tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Tidak
19

seperti model belajar behavioristik yang mempelajari proses belajar


hanya sebagai hubungan stimulus-respon, model belajar kognitif
merupakan suatu bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai
model perseptual. Model belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah
laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang
situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Belajar
merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu
dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak. (Suardi, Moh,
2015:138).
Pada umumnya prinsip teori belajar kognitif terdiri dari proses
lebih penting daripada hasil sebagai model perseptual, persepsi
menentukan tingkah laku seseorang serta pemahaman terhadap situasi
berhubungan dengan tujuan belajar, perubahan persepsi merupakan
proses pembelajaran yang kadang tidak namak dalam bentuk tingkah
laku, situasi belajar atau materi pelajaran yang dipisah-pisah menjadi
komponen-komponen kecil atau dipisah-pisah akan menghilangkan
makna, belajar adalah merupakan proses internal yang terdiri dari
perolehan informasi, ingatan, pengolahan informasi dan aspek
kejiwaan lainnya, belajar juga merupakan aktivitas berpikir yang
kompleks, dalam penerapannya dalam pembelajaran teori belajar ini
tampak pada tahap-tahap perkembangan (J. Piaget), Advance
Organizer (Ausubel), Pemahaman Konsep (Bruner), Hierarki Belajar
(Gagne), dan Webteaching (Norman), keterlibatan dan keaktifan
Peserta Didik sangat penting dalam pembelajaran, materi pelajaran dan
proses pembelajaran disusun dengan pola mulai dari yang sederhana
sampai ke yang kompleks, keberagaman individu peserta didik perlu
diperhatikan, karena sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
belajarnya. Dalam penerapan Teori Belajar Kognitif secara khususnya
akan ada model belajar Bruner, Ausubel, Gagne, dan model
perkembangan intelektual Piaget. Adapun secara umum penerapan
teori belajar kognitif dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
20

a. Belajar tidak harus berpusat pada guru tetapi peserta didik harus
lebih aktif. Oleh karenanya peserta didik harus dibimbing agar
aktif menemukan sesuatu yang dipelajarinya. Konsekwensinya
materi yang dipelajari harus menarik minat belajar peserta didik
dan menantangnya sehingga mereka asyik dan terlibat dalam
proses pembelajaran (Suardi, Moh, 2015).
b. Bahan pembelajaran dan metode pembelajaran harus menjadi
perhatian utama. Peserta didik akan sulit memahami bahan
pelajaran Jika frekuensi belajar hitung loncat-loncat. Bagi anak SD
pengoperasian suatu penjumlahan harus menggunakan benda-
benda terutama di kelas-kelas awal karena tahap perkembangan
berpikir mereka baru mencapai tahap operasi konkret (Suardi,
Moh, 2015).
c. Dalam proses pembelajaran guru harus memperhatikan tahapan
perkembangan kognitif peserta didik. Materi dirancang sesuai
dengan tahapan perkembangan kognitif itu dan harus merangsang
kemampuan berpikir mereka (Suardi, Moh, 2015).
d. Belajar harus berpusat pada peserta didik karena peserta didik
melihat sesuatu berdasarkan dirinya sendiri. Untuk terjadinya
proses belajar harus tidak ada proses paksaan agar sifat
egosentrisnya tidak terbunuh (Suardi, Moh, 2015).
4. Teori Gagne
Teori belajar Gagne merupakan suatu kegiatan kompleks
menghasilkan kapabilitas sebagai hasil belajar yang timbul disebabkan
stimulasi yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang
dilakukan oleh siswa melalui pengolahan informasi menjadi
kapabilitas baru yaitu keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.
Gagne (1977) berpendapat bahwa belajar merupakan seperangkat
proses yang bersifat internal bagi setiap pribadiyang merupakan hasil
transformasi rangsangan yang berasal dari peristiwa eksternal di
lingkungan pribadi yang bersangkutan (kondisi). Agar kondisi
21

eksternal menjadi lebih bermakna maka sebaiknya di-organisasikan


dalam urutan peristiwa belajar dalam bentuk metode/perlakuan belajar.
Kegiatan ini disebut pembelajaran.(Miarso, 2009 : 245).
Gagne mendefinisikan istilah pembelajaran sebagai
serangkaian aktifitas yang sengaja diciptakan dengan maksud untuk
memudahkan terjadinya proses belajar. Proses belajar sebaiknya
diorganisasikan dalam urutan peristiwa belajar. Urutan peristiwa
belajar merupakan strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk
membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajarannya. Peristiwa
belajar menurut Gagne disebut sembilan peristiwa pembelajaran
(model nine instructional event Gagne), yaitu:
a. Menarik perhatian siswa.
b. Memberi informasi kepada siswa tentang tujuan pembelajaran
yang perlu dicapai.
c. Menstimulasi daya ingat tentang prasyarat untuk belajar.
Proses belajar tidak bersifat tunggal tetapi terdapat beberapa
jenis belajar yang masing – masing mempunyai ciri – cirinya sendiri
biarpun semuanya merupakan suatu proses belajar. Sekedar istilah ada
pakar yang menggunakan istilah ”bentuk belajar” ada yang
menggunakan istilah ”jenis belajar” Robert M. Gagne menyusun
sistematika bentuk atau jenis belajar yang diberi nama ”Lima jenis
belajar” Dasar pemikirannya dipusatkan pada hasil belajar yang
diperoleh, tetapi hasil itu dipandang sebagaima kemampuan internal
(Capability) yang menjadi milik pribadi seseorang dan memungkinkan
orang itu untuk melakukan sesuatu. Berikut 5 jenis belajar menurut
Gagne (dalam Ratna, 1989) sebagai berikut:
a. Informasi verbal (verbal information), yang dimaksud ialah
pengetahuan yang dimiliki seseorang dan dapat diungkapkan
dalam bentuk bahasa, lisan, dan tertulis. Pengetahuan itu diperoleh
dari sumber yang menggunakan bahasa juga, lisan atau tertulis.
22

b. Kemahiran intelektual (Intellectual skill) ialah kemampuan untuk


berhubungan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri dalam
bentuk suatu representasi, khususnya konsep dan berbagai
lambang/simbol (huruf, angka, kata, gambar). Misalnya, seorang
akan menempuh ujian mengemudi untuk memperoleh Surat Izin
Mengemudi A. Ujian itu, biasanya, terdiri atas dua bagian, yaitu
praktek dan teori.
c. Pengaturan kegiatan kongnitif (Cognitive strategi). Kemampuan ini
merupakan suatu kemahiran yang berbeda sifat dengan kemahiran
– kemahiran intelektual yang dibahas sebelumnya; maka diberi
nama tersendiri supaya tidak dicampur – adukan dengan konsep
dan kaidah.
d. Keterampilan motorik (motorik skill). Orang yang memiliki suatu
keterampilan motorik, mampu melakukan suatu rangkaian gerak –
gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan
koordinasi antara gerak – gerik berbagai anggota badan secara
terpadu.
e. Sikap (attitude). Orang yang bersikap tertentu, cenderung
menerima atau menolak suatu obyek berdasarkan penilaian
terhadap obyek itu, berguna/berharga baginya atau tidak. Bila
obyek dinilai ”baik untuk saya”, dia mempunyai sikap positif; bila
obyek dinilai ”jelek untuk saya”, dia mempunyai sikap negatif.
Misalnya, siswa yang memandang belajar di sekolah sebagai
sesuatu yang sangat bermanfaat baginya, memiliki sikap yang
positif terhadap belajar di sekolah; dan sebaliknya kalau ada siswa
memandang belajar di sekolah sebagai sesuatu yang tidak berguna.
Berdasarkan pendapat diatas, maka penerapan teori Gagne
(Ratna, 1989) dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Mengaktifkan Motivasi
Langkah pertama dalam pembelajaran adalah memotivasi para
siswa untuk belajar. Kerap kali ini dilakukan dengan
23

membangkitkan perhatian mereka dalam isi pelajaran, dan


mengemukakan kegunaannya.
b. Memberitahu Pelajar Tentang Tujuan-Tujuan Belajar
Kejadian instruksi kedua ini sangat erat kaitannya dengan kejadian
instruksi pertama. Sebagian dari mengaktifkan motivasi para siswa
ialah dengan memberitahu mereka tentang mengapa mereka
belajar, apa yang mereka pelajari, dan apa yang akan mereka
pelajari. Memberi tahu tujuan belajar juga menolong memusatkan
perhatian para siswa terhadap aspek-aspek yang relevan tentang
pelajaran.
c. Mengarahkan Perhatian
Gagne mengemukakan dua bentuk perhatian, diantaranya,
perhatikan yang pertama berfungsi untuk membuat siswa atau
pelajar siap menerima stimulus atau rangsangan belajar dan bentuk
kedua dari perhatian disebut persepsi selektif.
d. Merangsang Ingatan
Menurut Gagne bagian yang paling kritis dalam proses belajar
adalah pemberian kode pada informasi yang berasal dari memori
jangka pendek yang disimpan dalam memori jangka panjang. Guru
dapat berusaha untuk menolong siswa-siswa dalam mengingat atau
mengeluarkan pengetahuan yang disimpan dalam memori jangka
panjang itu.
e. Menyediakan Bimbingan Belajar
Untuk memperlancar masuknya infomasi ke memori jangka
panjang, diperlukan bimbingan langsung dalam pemberian kode
pada informasi. Untuk mempelajari informasi verbal, bimbingan
itu dapat diberikan dengan cara mengkaitkan informasi baru itu
dengan pengalaman siswa.
f. Meningkatkan Retensi
Retensi atau bertahannya materi yang dipelajari dapat diusahakan
baik oleh guru atau pun oleh siswa. Usaha yang dapat diusahakan
24

agar materi yang diajarkan dapat bertahan lama adalah dengan cara
mengulang pelajaran yang sama berulang kali dan dengan memberi
berbagai contoh atau ilustrasi yang sederhana dan dapat dicerna
oleh siswa, seperti menggunakan tabel-tabel grafik, dan gambar.
g. Membantu Transfer Belajar
Tujuan transfer belajar ialah menerapkan apa yang telah dipelajari
pada situasi yang baru. Untuk dapat melaksanakan ini para siswa
tentu diharapkan telah menguasai fakta-fakta, konsep-konsep, dan
keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan.
h. Memperlihatkan atau Perbuatan dan Memberikan Umpan Balik
Hasil belajar perlu diperlihatkan melalui suatu cara, agar guru dan
siswa itu sendiri mengetahui apakah tujuan belajar telah tercapai
(Ratna, 1989).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa teori belajar memiliki peran dan
fungsi tersendiri dalam menilai hasil belajar siswa, cara penerapan
disesuaikan dengan tujuan dan layanan pendidikan yang hendak diberikan
pada anak.
F. RPP Pembelajaran
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang
menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk
mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan
dijabarkan dalam silabus (Kunandar, 2011: 263). Tujuan rencana
pelaksanaan pembelajaran adalah untuk mempermudah, memperlancar
dan meningkatkan hasil proses belajar-mengajar; dengan menyusun
rencana pembelajaran secara profesional, sistematis dan berdaya guna,
maka guru akan mampu melihat, mengamati, menganalisis, dan
memprediksi program pembelajaran sebagai kerangka kerja yang logis dan
terencana (Kunandar, 2011: 264). Berikut contoh RPP pembelajaran IPA
sebagai berikut:
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar
dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan
kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada
siswa. IPA merupakan cabang pengetahuan yang berawal dari fenomena
alam. IPA didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan tentang objek
dan fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan
ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan
menggunakan metode ilmiah.
IPA bertujuan untuk membekali peserta didik memiliki
kemampuan mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-
konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari, mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran
tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA,
lingkungan, teknologi dan masyarakat, mengembangkan keterampilan
proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan
membuat keputusan.
B. Saran
Penulis merasa pada penulisan makalah ini banyak kekurangan,
karena kurangnya referensi dan ilmu pengetahuan saat proses pembuatan
makalah ini. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun pada pembaca, agar penulis dapat membuat makalah yang
lebih baik lagi.

45
DAFTAR RUJUKAN

Asyari, Muslichah. (2006). Penerapan Sains Teknologi Masyarakat dalam


Pembelajaran Sains di SD. Depdiknas Dirjen Dikti Direktorat Ketenagaan.

Budi, P. (2006). Penilaian Keterampilan Proses dan Sikap Imilah Dalam


Pembelajaran Sains Sekolah Dasar. Jakarta: Dadiknas.

Desmita. (2009). Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

Depdiknas. (2006). Permendiknas No 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi.


Jakarta: Depdiknas.

Dahar, Ratna. (2006). Teori-Teori Belajar & Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.

Novi I. N. (2016). Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Proses


Pembelajaran. Nusantara Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial. Vol.1 ISSN
2541-657X.

Pannen, Paulina, dkk. (2001). Kontruktivisme dalam Pembelajaran. Jakarta:


Depdiknas.

Prawirohartono, dkk. (1989). Belajar IPA. Bandung: Alfabeta.

Syah, M. (2003). Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo.

Sudjana, N. (2010). Dasar-Dasar Proses Belajar. Bandung: Sinar Baru.

Sumanto. (2008). Penilaian Kinerja Perilaku Berkesenian Siswa Sekolah Dasar.


Malang : KSDP FIP UM.

Sulistyorini, S. (2007). Pembelajaran IPA Sekolah Dasar. Semarang:


TiaraWacana

Trianto. (2008). Mendesain Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and


Learning) di Kelas. Surabaya: Cerdas Pustaka.

46

Anda mungkin juga menyukai