Anda di halaman 1dari 66

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas

limpahan rahmat dan nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

yang berjudul “Pola Asuh Orang Tua Dan Konsep Diri Remaja di Lapas Klas

I Makassar dan Lapas Klas IIB Maros”. Penyusunan skripsi ini tentunya

menuai banyak hambatan dan kesulitan sejak awal hingga akhir penyusunan

skripsi ini. Namun berkat bimbingan dari berbagai pihak akhirnya hambatan dan

kesulitan yang dihadapi peneliti dapat diatasi. Pada kesempatan perkenankanlah

saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya

kepada yang terhormat.

1. Dr. Ariyanti Saleh, S.Kp, M.Si selaku dekan Fakultas Keperawatan

sekaligus pembimbing 1 yang telah meluangkan waktu membimbing dan

senantiasa memberikan arahan dalam penyempurnaan proposal ini.

2. Waode Nur Isnah, S.Kep, Ns, M.Kes selaku pembimbing 2 yang

senantiasa memberikan masukan dan arahan-arahan dalam penyempurnaan

proposal ini.

3. Dr. Kadek Ayu Erika, S.Kep,M.Kes dan Hapsah, S.Kep,Ns,.M.Kep

selaku tim penguji yang memberikan banyak masukan dan arahan demi

penyempurnaan proposal ini.

4. Seluruh dosen/staf Fakultas Keperawatan Unhas yang telah banyak

membantu dalam bidang akademik selama proses perkuliahan.

i
5. Staf perpustakaan Faklutas Keperawatan Unhas, Andi Nur Awang, S.Hum

yang telah membantu dalam penyediaan referensi selama penyusunan

proposal.

6. Kedua orang tuaku tercinta Agus Kuncoro dan Partini yang senantiasa

mendukung, mendoakan dan memberi perhatian yang tiada hentinya.

7. Adikku tersayang Owen Indra Isdiantoro beserta keluarga besar Hardjo

Senen terima kasih atas dukungan, semangat, motivasi serta doanya.

8. Teman seperjuanganku Suryanti, Ferawati Datur Uru, Rahmiani Malik,

Filda Awliya Al Gazali terima kasih atas bantuannya dan selalu

memberikan semangat, motivasi, serta doanya.

9. Teman-teman angkatan 2013 “FIBRINOGEN” terima kasih atas

dukungan, motivasi dan doanya.

10. Teman-teman KKN Profesi Kesehatan Angkatan 53 Desa Lampoko,

Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru terima kasih atas motivasi dan

dukungannya.

11. Keluarga besar UKM Bulutangkis UNHAS, terkhusus sahabat-sahabat

saya di organisasi Erva Novitasari, Sri Putri Utami, Yuniliyanti terima

kasih atas dukungan, motivasi dan doanya.

12. Teman-teman angkatan DRIVE di UKMB Bulutangkis, terima kasih atas

supportnya

13. Teman-teman di Ikatan Keluarga Bidik Misi UNHAS, terima kasih sudah

membantu

ii
Hanya doa dan ucapan syukur yang dapat peneliti panjatkan semoga Allah

membalas kebaikan bapak, ibu, saudara dan teman-teman sekalian. Akhirnya

dengan segala kerendahan hati peneliti menyadari bahwa peneliti hanyalah

manusia biasa, karena sesungguhnya kebenaran sempurna hanya milik Allah

semata. Akhir kata mohon maaf atas segala salah dan khilaf.

Makassar, September 2018

Peneliti

iii
ABSTRAK

Pratnyatiya Della Anjasmaya. C12113011. POLA ASUH ORANG TUA DAN


KONSEP DIRI REMAJA DI LAPAS KLAS I MAKASSAR DAN LAPAS
KLAS IIA MAROS, dibimbing oleh Ariyanti Saleh dan Wa Ode Nur Isnah

Latar Belakang: Masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa.
Masa ini merupakan massa yang amat sulit bagi remaja dan orangtua. Fenomena
peningkatan kejahatan remaja di Indonesia terus bertambah setiap tahunnya.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab remaja melakukan tindak kriminal adalah
faktor individu, lingkungan, dan keluarga. Keluarga memberi pengaruh yang
besar terhadap pola pembentukan karakter anak.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola asuh orang tua
dan konsep diri remaja di Lapas Klas I Makassar dan Lapas Klas IIA Maros.

Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Instrumen yang


digunakan adalah kuesioner dengan skala likert dan guttman. Sampel pada
penelitian berjumlah 83 warga binaan lembaga pemasyarakatan dengan teknik
total sampling.

Hasil: Pada penelitian ini diperoleh bahwa sebagian besar dari orang tua remaja di
Lapas cenderung menerapkan pola asuh otoriter (55,4%), demokratis (43,4%) dan
mayoritas remaja memiliki konsep diri positif (97,6%).

Kesimpulan dan saran: Disimpulkan bahwa orangtua remaja cenderung


menerapkan pola asuh otoriter dan dan mayoritas remaja yang menjadi warga
binaan lembaga pemasyarakatan memiliki konsep diri yang positif. Penelitian ini
diharapkan bisa dilanjutkan dengan metode kualitatif untuk bisa memperdalam
lagi pengkajian tentang pola asuh orang tua dan konsep diri remaja di lembaga
pemasyarakatan.

Kata Kunci: Pola Asuh Orang Tua, Konsep Diri Remaja

Sumber Literatur: 40 Kepustakaan (2002-2018)

iv
ABSTRACT

Pratnyatiya Della Anjasmaya. C12113011. PARENTING PARENTS and


TEENAGE SELF CONCEPT in LAPAS CLASS I MAKASSAR and
LAPAS CLASS IIA MAROS, guided by Ariyanti Saleh and Wa Ode Nur Isnah

Background: Adolescence is a period between childhood and adulthood. This


period is a very difficult mass for teenagers and parents. The phenomenon of
increasing juvenile crime in Indonesia continues to increase every year. The
factors that cause teenagers to commit criminal acts are individual, environmental,
and family factors. The family has a big influence on the pattern of character
formation of children.

Objective: This study aims to describe the parenting style and self-concept of
adolescents in Lapas Class I Makassar and Lapas Class IIA Maros.

Method: This study uses descriptive research design. The instrument used was a
questionnaire with a Likert scale and Guttman. The sample in the study amounted
to 83 assisted prisoners by using total sampling technique.

Results: In this study it was found that most of the parents of adolescents in
prison tended to apply authoritarian parenting (55.4%), democratic (43.4%) and
the majority of adolescents had a positive self-concept (97.6%).

Conclusions and suggestions: It was concluded that parents of adolescents tend


to apply authoritarian parenting and the majority of adolescents who are assisted
by correctional institutions have a positive self-concept. This research is expected
to be continued with qualitative methods to be able to deepen the study of
parenting and self-concept of adolescents in prisons.

Keywords: Parenting Parents, Adolescent Self Concept

Source of Literature: 40 Libraries (2002-2018)

v
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................i

DAFTAR ISI.........................................................................................................iii

BAB I.......................................................................................................................1

PENDAHULUAN...................................................................................................1

A. Latar Belakang............................................................................................1

B. Rumusan Masalah.......................................................................................5

C. Tujuan Penelitian........................................................................................5

D. Manfaat Penelitian......................................................................................6

BAB II.....................................................................................................................7

TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................................7

A. Tinjauan Umum Tentang Pola Asuh Orang Tua....................................7

1. Pengertian Pola Asuh Orang Tua..........................................................7

2. Jenis Pola Asuh Orang Tua....................................................................7

B. Tinjauan Umum Tentang Konsep Diri Remaja.....................................11

1. Pengertian Remaja................................................................................11

2. Perkembangan Remaja.........................................................................11

3. Konsep Diri............................................................................................18

4. Komponen Konsep Diri........................................................................19

5. Faktor Penyebab Terganggunya Konsep Diri....................................21

6. Penyebab Remaja Masuk Lapas..........................................................22

BAB III..................................................................................................................25

KERANGKA KONSEP.......................................................................................25

vi
A. Kerangka Konseptual...............................................................................25

BAB IV..................................................................................................................26

METODOLOGI PENELITIAN.........................................................................26

A. Desain Penelitian.......................................................................................26

B. Tempat dan Waktu Penelitian.................................................................26

C. Populasi dan Sampel.................................................................................26

D. Alur Penelitian...........................................................................................28

E. Variabel Penelitian....................................................................................29

F. Instrumen Penelitian.................................................................................32

G. Pengolahan Data dan Analisi Data......................................................34

H. Uji Validitas dan Reliabilitas................................................................35

I. Etika Penelitian.........................................................................................36

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................39

Lampiran

vii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

UU no. 12 tahun 1995 menjelaskan bahwa Lembaga Pemasyarakatan

yang selanjutnya disebut LAPAS adalah tempat untuk melaksanakan

pembinaan Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan. Sebutan untuk

penghuni atau tahanan di lembaga pemasyarakatan sendiri adalah

narapidana. Narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang

kemerdekaan di LAPAS.

Masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Masa

ini merupakan masa-masa yang amat sulit bagi remaja dan orangtua.

Terdapat bukti bahwa bagi minoritas remaja, masa remaja dapat sangat

bermasalah. Meski demikian, penting untuk mengetahui bahwa anak–anak

yang mengalami masalah emosional dimana remaja biasanya memiliki

masalah emosional yang sudah terjadi sebelumnya [ CITATION Upt12 \l

1057 ].

Salah satu bentuk penyimpangan pada remaja adalah kasus kriminal

yang dilakukan oleh remaja. Kasus kriminal yang sering dilakukan oleh

remaja adalah melanggar ketertiban, kejahatan asusila, penganiayaan,

pencurian, perampokan, dan penyalahgunaan narkoba. Kasus-kasus

tersebut membawa remaja berurusan dengan lembaga hukum dan beberapa

1
remaja yang divonis bersalah kemudian menjalani masa-masa berada di

rumah tahanan sebagai narapidana.

Fenomena peningkatan kejahatan remaja yang terjadi di Indonesia

terlihat dari data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Stastik [CITATION

pro14 \l 1057 ] selama tahun 2007 tercatat sekitar 3.100 orang pelaku

tindak pidana adalah remaja yang berusia 18 tahun. Jumlah tersebut

bertambah pada tahun 2008 dan 2009 masing–masing meningkat menjadi

sekitar 3.300 dan 4.200 remaja.

Data yang diambil dari Direktorat Jendral Permasyarakatan

[ CITATION Dit18 \l 1057 ] per Kan-Wil Sulawesi Selatan pada bulan Oktober

tahun 2018 menunjukkan bahwa saat ini terdapat 108 narapidana remaja.

Ini menunjukkan bahwa kejahatan yang dilakukan para remaja secara tidak

langsung sudah terjerumus ke dunia kriminalitas, sehingga kriminalitas di

Indonesia tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, tetapi banyak juga

dilakukan oleh para remaja.

Faktor- faktor yang menjadi penyebab remaja melakukan tindak

kriminal adalah faktor individu, lingkungan dan keluarga. Keluarga

memberi pengaruh yang besar terhadap pola pembentukan karakter

remaja. Berdasarkan hasil dari penelitian dtemukan bahwa salah satu

faktor penyebab timbulnya kenakalan remaja adalah tidak berfungsinya

orang tua sebagai figur teladan bagi anak. Penelitian yang

dilakukan[ CITATION Har13 \l 1057 ] menjelaskan faktor yang paling

berperan yang menyebabkan remaja menjadi nakal adalah faktor keluarga

2
yang kurang harmonis dan faktor lingkungan dimana remaja tersebut

tinggal.

Pengasuhan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap

munculnya kriminalitas remaja [ CITATION Fau15 \l 1057 ]. Dalam

penelitian[ CITATION Sun16 \l 1057 ] menemukan orang tua dengan pola

asuh permisif mengakibatkan tingkat kenakalan remaja termasuk dalam

kategori tinggi.

Anak atau remaja yang terlibat permasalahan dengan hukum kemudian

harus menjalani proses peradilan anak atau dalam istilah asing disebut

juvenili justice. Dalam sistem peradilan anak, anak atau remaja memiliki

hak untuk berhak mendapatkan bantuan hukum secara efektif. Adanya

perhatian terhadap kondisi penempatan bagi remaja menjadi hal yang perlu

diperhatikan karena faktanya tidak semua kota di Indonesia terdapat

LKPAI (Lembaga Khusus Pembinaan Anak) dan menerapkan sistem

penempatan yang sesuai dengan undang-undang yang telah ditentukan.

[ CITATION Pra16 \l 1057 ] menjelaskan menjelaskan pembinaan

terhadap narapidana remaja idealnya dibedakan dengan pembinaan

terhadap narapidana dewasa mengingat kondisi remaja yang masih labil.

Remaja tidak bisa dikatakan anak-anak tetapi belum bisa dikatakan

dewasa. Keberadaan remaja dilapas umum dengan orang dewasa tentunya

hal ini akan memperngaruhi kondisi psikologis remaja yang rentan

terpengaruh oleh lingkungan negatif yang terdapat di Lapas.

3
Remaja yang baru pertama kali ditetapkan sebagai narapidana

tentunya akan dituntut untuk mampu beradaptasi dan bersosialisasi dengan

peraturan Lapas yang sangat menekan. Di samping hukuman yang telah

ditetapkan, rutinitas kehidupan sosial bersama dengan narapidana lain

yang sering menimbulkan keributan, pemerasan, dan tindak kekerasan

dirasakan sebagai suatu penderitaan lain disamping hukuman itu

sendiri[ CITATION Uta16 \l 1057 ].

Remaja yang tinggal di Lapas dapat terjadi perubahan konsep diri.

Konsep diri adalah citra mental seseorang terhadap dirinya sendiri,

mencakup bagaimana mereka melihat kekuatan dan kelemahan pada

seluruh aspek kepribadiannya [CITATION Pot051 \l 1057 ] . Konsep diri pada

narapidana tebentuk melalui proses belajar dalam interaksinya dengan

lingkungan di Lapas. Kurang adanya kesempatan mengembangkan diri

dan menyesuaikan diri seperti individu pada umumnya mengakibatkan

narapidana merasa ditolak oleh lingkungannya sehingga narapidana

mempertahankan diri dengan cara yang menyimpang, mempertahankan

gambaran diri yang palsu, dan mengakibatkan narapidana

mengembangkan konsep diri secara negatif (Wulandari, 2012).

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri adalah

kecemasan narapidana disebabkan oleh kondisi dimasa yang akan datang

yang belum jelas dan belum pasti, sehingga menimbulkan kekhawatiran

dan kegelisan apakah masa sulit tersebut akan terlewati dengan aman atau

merupakan ancaman seperti yang dikhawatirkan.

4
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan (Armeliza, 2012)

tentang gambaran konsep diri remaja yang dilakukan terhadap 60 orang

responden di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Pekanbaru

menunjukkan bahwa konsep diri remaja yang berada di Lapas Kelas II B

Pekanbaru yang telah melewati 3 bulan masa tahanan, sebagian besar

memiliki konsep diri yang cendrung negatif, yaitu berjumlah 31 orang

(51,7%), sedangkan yang positif sebanyak 28 orang (48,3%).

Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti berasumsi bahwa pola

asuh orang tua yang salah dapat menjerumuskan anak ke dalam tindakan

kriminal yang menyebabkan anak harus mendekam di penjara. Sedangkan

remaja yang tinggal di Lapas akan mengakibatkan berubahnya konsep diri.

Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pola

asuh orang tua dan konsep diri remaja di Lembaga Pemasyarakatan

(Lapas) Klas I Makassar.

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah pola asuh orang tua dan konsep diri remaja di Lapas Klas I

Makassar dan Lapas Klas IIA Maros ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola asuh orang tua dan

konsep diri remaja di Lapas Klas I Makassar dan Lapas Klas IIA

Maros

2. Tujuan Khusus

5
a. Mengetahui bagaimana pola asuh orang tua remaja di Lapas Klas I

Makassar dan Lapas Klas IIA Maros.

b. Mengetahui bagaimana konsep diri remaja di Lapas Klas I

Makassar dan Lapas Klas IIA Maros.

c. Mengetahui bagaimana gambaran diri narapidana remaja di Lapas

Klas I Makassar dan Lapas Klas IIA Maros.

d. Mengetahui bagaimana gambaran ideal diri narapidana remaja di

Lapas Klas I Makassar dan Lapas Klas IIA Maros.

e. Mengetahui bagaimana harga diri narapidana remaja di Lapas Klas

I Makassar dan Lapas Klas IIA Maros.

f. Mengetahui bagaimana peran narapidana remaja di Lapas Klas I

Makassar dan Lapas Klas IIA Maros.

g. Mengetahui bagaimana identitas diri narapidana remaja di Lapas

Klas I Makassar dan Lapas Klas IIA Maros.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Ilmiah

Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan dan

peningkatan pengetahuan orang tua terkait pola asuh orang tua dan

konsep diri, dan sebagai bahan informasi mengenai pola asuh

orang tua dan konsep diri diharapkan memberikan manfaat bagi

masyarakat.

6
2. Manfaat Metodologis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan ilmiah

dan dimanfaatkan dalam pemberian asuhan keperawatan pada anak

remaja dengan fokus pada upaya promotif dan preventif terkait

dengan penerapan pola asuh yang tepat dan konsep diri serta

memberikan informasi bagi sarana pelayanan kesehatan dan

instansi yang terkait.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Pola Asuh Orang Tua

1. Pengertian Pola Asuh Orang Tua

Pola asuh orang tua merupakan pola interaksi antara anak dan orang tua

selama anak dalam pengasuhan. Di dalam kegiatan pengasuhan, hal ini tidak

hanya berarti bagaimana orang tua memperlakukan anak, tetapi juga cara

orang tua mendidik, membimbing, mendisiplinkan serta melindungi anak

untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma yang berlaku di

masyarakat pada umunya[ CITATION Sus151 \l 1057 ].

Sedangkan menurut khon (1986) dalam (Susanto, 2015) menyebutkan

bahwa pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-

anaknya. Sikap orang tua ini meliputi cara orang tua memberi aturan-aturan,

hadiah maupun hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritas dan juga cara

orang tua memberikan perhatian serta tanggapan kepada anaknya.

2. Jenis Pola Asuh Orang Tua

8
Menurut Stewart dan Koch (1983) dalam[ CITATION Age141 \l 1057 ] terdiri

dari tiga pola asuh orang tua yaitu :

a. Pola Asuh Otoriter (Authoritarian)

Pola asuh otoriter adalah pola asuh orang tua yang lebih

mengutamakan membentuk kepribadian anak dengan cara menetapkan

standar mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-

ancaman. Yang bercirikan : anak harus tunduk dan patuh pada

kehendak orang tua, pengontrolan orang tua terhadap perilaku anak

sangat ketat, anak hampir tidak pernah memberi pujian, orang tua yang

tidak mengenal kompromi dan dalam komunikasi biasanya bersifat

satu arah.

Pola asuh otoriter lebih banyak menerapkan pola asuhnya dengan

aspek-aspek sebagai berkut :

1) Orang tua mengekang anak untuk bergaul dan memilih-milih

orang yang menjadi teman anaknya.

2) Orang tua memberikan kesempatan pada anaknya untuk

berdialog, mengeluh dan mengemukakan pendapat. Anak harus

menuruti kehendak orang tua tanpa peduli keinginan dan

kemampuan anak.

3) Orang tua menentukan aturan bagi anak dalam berinteraksi baik di

rumah maupun diluar rumah. Aturan tersebut harus ditaati oleh

anak walaupun tidak sesuai dengan keinginan anak.

9
4) Orang tua memberikan kesempatan pada anak untuk berinisiatif

dalam bertindak dan menyelesaikan masalah.

5) Orang tua melarang anaknya untuk berpartisipasi kegiatan

kelompok.

6) Orang tua menuntut anaknya untuk bertanggung jawab terhadap

tindakan yang dilakukannya tetapi tidak menjelaskan kepada anak

menagapa anak harus bertanggung jwab.

b. Pola Asuh Permisif (Permisisive)

Pola asuh permisif adalah pola asuh orang tua pada anak dalam

rangka membentuk kepribadian anak dengan cara memberikan

pengawasan yang sangat longgar dan memberikan kesempatan pada

anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup

darinya. Adapun kecenderungan orang tua tidak menegur dan

memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat

sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Sifat skap dimiliki

orang tua adalah hangat sehingga seringkali disukai oleh anak. Yang

bercirikan : orang tua bersikap acceptance tinggi namun kontrolnya

rendah, anak diizinkan membuat keputusan sendriri dan dapat berbuat

sekehendaknya sendiri, orang tua memberi kebebasan kepada anak

untuk menyatakan dorongan atau keinginannya, orang tua kurang

menerapkan hukuman pada anak, bahkan hampir tidak menggunakan

hukuman.

10
Pola asuh permisif menerapkan pola asuhannya dengan aspek-aspek

sebagai berikut :

1) Orang tua tidak peduli terhadap pertemanan atau persahabatan

anaknya.

2) Orang tua kurang memberikan perhatian terhadap kebutuhan

anaknya. Jarang sekali melakukan dialog terlebih untuk

mengeluh dan meminta pertimbangan.

3) Orang tua tidak peduli terhadap pergaulan anaknya dan tidak

pernah menentukan norma-norma yang diperhatikan dalam

bertindak.

4) Orang tua tidak peduli dengan masalah yang dihadapi oleh

anaknya.

5) Orang tua tidak peduli dengan kegiatan kelompok yang diikuti

anaknya.

6) Orang tua tidak peduli anaknya betanggung jawab atau tidak

atas tindakan yang dilakukannya.

c. Pola Asuh Demokratis (Authoritative)

Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan

kepentingan anak, tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka.

Orang tua dengan perilaku ini bersikap:

1) Selalu rasional mendasari tindakannya pada rasio atau

pemikiran.

2) Bertipe relistis terhadap kemampuan anak.

11
3) Tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan

anak.

4) Memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan

melakukan suatu tindakan dan berpendekatan hangat kepada

anak.

B. Tinjauan Umum Tentang Konsep Diri Remaja

1. Pengertian Remaja

Menurut Word Healt Organization (2016) remaja adalah mereka

yang berada pada tahap transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa,

batas usia remaja adalah 15 sampai 19 tahun. Remaja menurut Kamus

Besar Bahasa Indonesia, yaitu mereka yang mulai dewasa hingga mereka

yang cukup umur untuk nikah. Salah satu individu yang ada dalam

Lembaga Pemasyarakatan Anak di Indonesia adalah remaja. Masa remaja

adalah masa pencarian identitas diri yang dipengaruhi perubahan fisik,

psikis, seksual dan sosial-ekonomi dalam batasan usia tertentu[ CITATION

Has132 \l 1057 ].

2. Perkembangan Remaja

Model umum tentang remaja biasanya menyatakan bahwa remaja

adalah masa transisi dari masa anak ke masa dewasa dan dalam masa

transisi itu remaja menjajaki alternative dan mencoba berbagai pilihan

sebagai bagian dari perkembangan identitas[ CITATION San131 \l 1057 ].

12
Setiap tahap usia manusia pasti ada tugas-tugas perkembangan yang harus

dilalui. Bila seseorang gagal melalui tugas perkembangan pada usia yang

sebenarnya maka pada tahap perkembangan berikutnya akan terjadi

masalah pada diri seseorang tersebut. Untuk mengenal kepribadian remaja

perlu diketahui tugas-tugas perkembangan[ CITATION San131 \l 1057 ].

Tugas-tugas perkembangan tersebut antara lain :

a. Perkembangan fisik atau biologis

Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai

dengan menstruasi pertama pada masa remaja putri ataupun perubahan

suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan

yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba

memiliki kemampuan untuk bereproduksi.

Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa

sistem reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan

fisik seperti payudara mulai berkembang. Anak laki-laki mulai

memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik. Bentuk fisik

mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan

membawa mereka pada dunia remaja[ CITATION AlM06 \l 1057 ].

b. Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif remaja dalam pandangan jean piaget

(seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan

tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal. Pada periode ini,

idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sndiri dalam usaha

13
memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak.

Kemampuan berfikir para remaja berkembang sedemikian rupa

sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak

alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau

hasilnya. Kapasitas berfikir secara logis dan abstrak mereka

berkembang sehingga mereka mampu berfikir multi-

dimensi[ CITATION Jah15 \l 1057 ].

Pada remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi

mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya

dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu

mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk

ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana rencana

untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para

remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar

mereka[ CITATION San131 \l 1057 ].

Pada kenyataan, di negara-negara berkembang termasuk

indonesia masih sangat banyak remaja yang belum mampu

sepenuhnya mencapai tahap kognitif operasional formal ini. Sebagian

masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu

operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat

sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi.

Hal ini bisa saja diakibatkan oleh pola asuh orang tua yang cenderung

masih memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga anak-anak

14
memiliki keleluasaan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai

dengan usia dan mentalnya. Semestinya, seorang remaja sudah harus

mampu mencapai tahap pemikiran abstrak supaya saat mereka lulus

sekolah menengah, sudah terbiasa berfikir kritis dan mampu untuk

menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik [ CITATION San131 \l

1057 ].

c. Perkembangan Moral

Masa remaja adalah periode dimana sseorang mulai bertanya

mengenai bebagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya

sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Para remaja mulai

membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah

populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya : politi,

kemanusiaan, perang, keadaan sosial. Remaja tidak lagi menerima

hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut[ CITATION AlM06 \l

1057 ].

Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning)

pada remaja mulai berkembang karena mereka mulai melihat adanya

kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka yakini dengan

kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka lalu merasa perlu

mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir dengan kenyataan

yang baru. Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap

pemberontakan remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini

diterima. Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi

15
sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan

keluarnya[ CITATION Jah15 \l 1057 ].

Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai

yang ditanamkan oleh orang tua atau pendidik sejak masa kanak-kanak

akan sangat besar jika orang tua atau pendidik tidak mampu

memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan

disekitarnya tidak mendukung penerapan nilai-nilai tersebut[ CITATION

AlM06 \l 1057 ].

Peranan orang tua atau pendidik amatlah besar dalam

memberikan alternatif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh

putra-putri remajanya. Orang tua yang bijak akan memberikan lebih

dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih

jauh dan memilih yang terbaik. Orang tua yang tidak mampu

memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat

sang remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban

di luar lingkaran orang tua dan nilai yang dianutnya. Ini bisa menjadi

berbahaya jika lingkungan baru memberi jawaban yang tidak

diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh orang tua.

Konflik dengan orang tua mungkin akan mulai menajam[ CITATION

Jah15 \l 1057 ].

Upaya remaja untuk mencapai moralitas dewasa mengganti

konsep moral khusus dengan konsep moral umum, merumuskan

konsep yang baru dikembangkan ke dalam kode moral sebagai

16
pedoman tingkah laku dan mengendalikan tingkah laku sendiri,

merupakan upaya yang tidak mudah bagi mayoritas remaja. Tidak

sedikit dari mereka yang gagal beralih ketahap moralitas dewasa,

sehingga baru menyelesaikannya di awal masa dewasa. Selain itu ada

juga remaja yang tidak hanya gagal, bahkan berani membuat kode

moral tidak diterima oleh lingkungannya (Al-Migwar, 2006).

d. Perkembangan Psikologis

Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa

ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil

penelitian di Chicago oleh Reed Larson (1984) menemukan bahwa

remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah mood

sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang

sama[ CITATION Bak13 \l 1057 ].

Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini

seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau

kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah

berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala

atau masalah psikologis. Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja

para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri

mereka (selfawareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat

orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat

mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi

atau mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu membuat remaja

17
sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-

image). Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan

berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia

nyata. Pada saat itu remaja akan mulai sadar bahwa orang lain tenyata

memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi

atau pun dipikirkannya. Anggapan remaja bahwa mereka selalu

diperhatikan oleh orang lain kemudian menjadi tidak berdasar. Pada

saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan

untuk menyesuaikan impian dan angan-angan mereka dengan

kenyataan[ CITATION Gun081 \l 1057 ].

Dalam proses percobaan peran biasanya orang tua tidak

dilibatkan, kebanyakan karena remaja takut jika orang tua mereka

tidak menyetujui, tidak menyenangi, atau malah menjadi sangat

khawatir. Sebaliknya, orang tua menjadi kehilangan pegangan karena

mereka tiba-tiba tidak lagi memiliki kontrol terhadap anak remaja

mereka. Pada saat inilah, kehilangan komunikasi antara remaja dan

orang tuanya mulai terlihat. Orang tua dan remaja mulai

berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda sehingga salah paham

sangat mungkin terjadi antara orang tua dan anak[ CITATION AlM06 \l

1057 ].

e. Perkembangan Sosial

Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah

yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus

18
menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang

sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang

dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah.

Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja

harus membuat banyak penyesuaian baru. Yang terpenting dan tersulit

adalah penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok

sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, pengelompokan sosial yang

baru, nilai nilai baru dalam seleksi persahabatan serta nilai-nilai yang

baru dalam seleksi pemimpin[ CITATION San131 \l 1057 ].

3. Konsep Diri

Konsep diri adalah kesadaran atau pengertian tentang diri sendiri,

yang mencakup pandangan tentang dunia, kepuasan tentang kehidupan,

dapat menghargai atau menyakiti diri sendiri, mampu mengevaluasi

kemampuan sendiri, dan prsepsi mengenai diri sendiri. Konsep diri atau

selft concept, adalah cara bagaimana seseorang melihat dirinya

sendiri[ CITATION Saa031 \l 1057 ].

Menurut (Muhith, 2015) konsep diri dapat didefinisikan secara

umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap

dirinya. Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia

meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat

berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, tidak menarik, tidak disukai, dan

kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif

19
akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan

yang dihadapinya, ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun

lebih sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif akan mudah

menyerah sebelum berperang dan jika gagal akan ada dua pihak yang

disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendriri (secara negatif) atau

menyalahkan orang lain. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang

positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap

positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya.

Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih

menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk

melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu

menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan

demi keberhasilan di masa yang akan datang.

4. Komponen Konsep Diri

Konsep diri dikembangkan melalui proses yang sangat kompleks dan

melibatkan banyak variabel. Konsep diri memberikan rasa kontinuitas,

keutuhan, dan konsistensi pada seseorang yang merupakan representasi

fisik seorang individu, pusat inti dari “Aku” dimana semua persepsi dan

pengalaman terorganisasi[ CITATION Pot051 \l 1057 ].

Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian konsep diri

tersebut dikemukakan oleh Stuart and Sundee (1995) dalam[ CITATION

Muh151 \l 1057 ] yang terdiri dari :

a. Gambaran Diri/ Citra Tubuh

20
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara

sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan

tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan, dan potensi tubuh saat ini

dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan

pengalaman baru setiap individu.

b. Ideal Diri

Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus

berperilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan atau penilaian

personal tertentu. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita dan nilai-nilai

yang ingin dicapai.

c. Peran

Peran adalah seperangkat perilaku yang diharapkan secara sosial

yang berhubungan dengan fungsi individu pada berbagai kelompok

sosial. Tiap individu mempunyai berbagai fungsi dan peran yang

terintegrasi dalam pola fungsi individu.

d. Identitas

Identitas adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari

observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek.

Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan

memandang dirinya berbeda dengan orang lain. Kemandirian timbul

dari perasaan berharga (aspek diri sendiri), kemampuan, dan

penyesuaian diri. Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan

menerima dirinya.

21
e. Harga Diri

Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai

dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri.

Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang

rendah atau harga diri yang tinggi. Jika individu sering gagal, maka

cenderung harga diri rendah. Harga diri diperolah dari diri sendiri dan

orang lain. Aspek utama adalah dicintai dan menerima penghargaan

dari orang lain.

5. Faktor Penyebab Terganggunya Konsep Diri

Menurut [ CITATION Muh151 \l 1057 ] berbagai hal yang dapat menyebabkan

gangguan konsep diri antara lain :

a. Pola Asuh Orang Tua

Pola asuh orang tua turut menjadi faktor signifikan dalam

mempengaruhi konsep diri yang terbentuk. Sikap positif orang tua

yang terbaca oleh anak akan menumbuhkan konsep dan pemikiran

yang positif serta menghargai diri sendiri, sikap negatif orang tua akan

mengundang pertanyaan pada anak dan menimbulkan asumsi bahwa

dirinya tidak cukup berharga untuk dikasihi, untuk disayangi dan

dihargai, dan semua itu akibat kekurangan yang ada padanya sehingga

orang tua tidak sayang.

b. Kegagalan

Kegagalan yang terus-menerus dialami seringkali menimbulkan

pertanyaan kepada diri sendri dan berakhir dengan kesimpulan bahwa

22
semua penyebab terletak pada kelemahan diri. Kegagalan membuat

orang merasa dirinya tidak berguna.

c. Depresi

Orang yang sedang mengalami depresi akan mempunyai

pemikiran yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon

segala sesuatunya, termasuk menilai diri sendiri. Segala situasi atau

stimulus yang netral akan dipersepsi secara negatif.

d. Kritik Internal

Terkadang mengkritik diri sendiri memang dibutuhkan untuk

menyadarkan seseorang akan perbuatan yang telah dilakukan. Kritik

terhadap diri sendriri sering berfungsi menjadi regulator atau rambu-

rambu dalam bertindak dan berperilaku agar keberadaan kita diterima

oleh masyarakat dan dapat beradaptasi dengan baik.

e. Merubah Konsep Diri

Seringkali diri kita sendirilah yang menyebabkan persoalan

betambah rumit dengan berfikir yang tidak-tidak terhadap suatu

keadaan atau terhadap diri kita sendiri. Namun dengan sifatnya yang

dinamis, konsep diri dapat mengalami perubahan ke arah yang lebih

positif.

6. Penyebab Remaja Masuk Lapas

23
Tingginya angka kriminal di kalangan remaja dipengaruhi oleh

mudahnya akses dan penyalahgunaan alcohol, akses dan penyalahgunaan

senjata api, geng dan pasokan lokal obat-obatan terlarang, ketimpangan

pendapatan yang tinggi, kemiskinan, dan kualitas pemerintahan suatu

negara hukum dan sejauh mana mereka ditegakkan, serta kebijakan untuk

pendidikan dan perlindungan sosial di masyarakat [ CITATION WHO142 \l

1057 ]. Dikareanakan pengaruh tersebut, sehingga remaja sering

melakukan suatu tindakan kriminal yang menyebabkan mereka menjadi

warga binaan di Lapas (Lembaga pemasyarakatan).

Semakin banyaknya keterlibatan remaja dalam perilaku-perilaku

yang negatif ditunjukkan dengan tingginya jumlah remaja di penjara.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia penjara sebagai bangunan tempat

mengurung orang hukuman bersalah menurut pengadilan. Di indonesia

pada umumnya penjara dibagi menjadi 2 kategori yaitu Lembaga

Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan Negara (Rutan). Menurut

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Permasyarakatan Bab 1,

Pasal 1, Ayat 3, Lapas adalah tempat untuk melaksanakan pembinaan

narapidanan dan anak didik pemasyarakatan. Berbeda dengan Rutan yang

menurut Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 merupakan tempat

tersangka atau terdakwa yang ditahan selama proses penyidikan,

penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan[ CITATION Gun14 \l

1057 ].

24
Menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun Permasyarakatn Bab 1,

Pasal 1, Ayat 5 Warga binaan adalah Narapidana, Anak Didik

Permasyarakatan, dan Klien Permasyarakatan. Menurut Keputusan

Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor M.02-PK 04.10 Tahun

1990 tentang pola pembinaan Narapidana atau Warga binaan adalah

tersangka atau terdakwa yang ditempatkan di dalam Rutan untuk

kepentingan penyidikan penuntutan dan pemeriksaan[ CITATION Gun14 \l

1057 ].

Pada saat remaja terlibat dalam sebuah kasus kriminalitas, maka ia

akan mendapatkan tindakan atau perlakuan secara hukum. Meskipun ia

masih dalam usia anak-anak atau remaja. Seseorang yang dikatakan anak-

anak atau remaja secara hukum ketika usianya kurang dari 18 hingga 19

tahun pada saat melakukan tindakan kenakalan atau kriminal, sanksi yang

diterimanya juga harus sesuai dengan usia anak atau remaja tersebut, yaitu

setengah dari snksi yang diterima orang dewasa, maksimal 10 tahun

kurungan penjara[ CITATION Has062 \l 1057 ].

Menjalani kehidupan di Lapas merupakan bentuk

pertanggungjawaban yang harus dipenuhi oleh remaja yang melanggar

hukum. Tujuan dari pembinaan kepada remaja adalah agar mereka tidak

mengulangi apa yang telah mereka perbuat, menemukan kembali

kepercayaan diri, dan dapat diterima menjadi bagian dari anggota

masyarakat[ CITATION Han17 \l 1057 ].

25
BAB III

KERANGKA KONSEP

Kerangka Konseptual

Pada skema kerangka konsep dapat diketahui bahwa sampel pada

penelitian ini adalah remaja binaan di Lembaga Pemasyarakatan. Dimana

peneliti akan mengidentifikasi pola asuh orang tua dan konsep diri remaja

di Lapas Klas I Makassar.

Pola Asuh Orang tua

Keterangan : Variabel yang diteliti

26
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan

desain Survei Deskriptif. Menurut[ CITATION Nur162 \l 1057 ] Survey

Deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan (memaparkan) peristiwa-

peristiwa penting yang terjadi pada masa kini.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Lapas Klas I Makassar dan Lapas

Klas IIA Maros.

2. Waktu penelitian

Pelaksanaan penelitian ini dlaksanakan padan bulan oktober 2018

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi merupakan wilayah generaralisasi yang terdiri atas :

obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

27
kesimpulannya[ CITATION Sug162 \l 1057 ]. Populasi dalam penelitian ini

adalah remaja usia 15-19 tahun yang ada di Lapas Klas I Makassar dan

Lapas Klas IIA Maros.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki

oleh populasi [ CITATION Sug162 \l 1057 ]. Sampel dalam penelitian ini

adalah semua anak usia 15-19 tahun yang ada di Lapas Klas I

Makassar dan Lapas Klas IIA Maros. Teknik pengambilan sampel

dilakukan dengan teknik Total Sampling yaitu teknik penentuan

sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.

Adapun kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut :

1) Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian

dari suatu populasi target yang terjangkau dan akan diteliti.

Adapun kriteria inklusi meliputi :

a) Warga binaan di Lapas Klas I Makassar dan Lapas

Klas IIA Maros.

b) Berusia 15-19 tahun.

c) Bersedia menjadi responden

2) Kriteria Eksklusi

28
Kriteria eksklusi adalah menghilangkan/mengeluarkan subjek

yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena bebagai

sebab [ CITATION Nur162 \l 1057 ].

Adapun kriteria eksklusi meliputi :

a) Anak yang berstatus yatim piatu

D. Alur Penelitian

Mendapatkan surat rekomendasi dari Universitas sebagai bukti bahwa tindakan ini
murni penelitian.

Permohonan izin penelitian : Dekan Fakultas Keperawatan UNHAS, Ketua Prodi


Ilmu Keperawatan, Kepala UPT P2T BKMD Prov. Sulawesi Selatan, Kepala Kantor
Wilayah Sulawesi Selatan, Kepala Lembaga Permasyarakatan Klas I Makassar dan
Kepala Lembaga Permasyarakatan Klas IIA Maros

Memberi Informed Consert, termasuk menjelaskan tujuan penelitian

Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner

Analisis Data

Penyajian hasil penelitian, kesimpulan dan saran

29
E. Variabel Penelitian

1. Variabel Penelitian

a. Pola asuh orang tua

b. Konsep diri

2. Definisi Operasional

a. Pola asuh orang tua

Pola asuh orang tua adalah penerapan sikap tertentu dari

orang tua dalam membimbing dan membesarkan anaknya yang

terdiri dari tiga kriteria pola asuh yaitu : pola asuh otoriter,

demokratis, dan pola asuh permisif.

Kriteria objektif :

1) Dikatakan pola asuh otoriter : jika dimensi kontrol dalam pola

asuh tinggi dan dimensi kehangatan dalam pola asuh rendah

atau jika dalam kuesioner memperoleh nilai > 75% jawaban

dari 30 pertanyaan.

2) Dikatakan pola asuh demokratis : jika dimensi kontrol dalam

pola asuh seimbang dengan dimensi kehangatan dalam pola

30
asuh atau jika dalam kuesioner responden memperoleh nilai

50% - 75% jawaban dari 30 pertanyaan.

3) Dikatakan pola asuh permisif : jika dimensi kontrol dalam pola

asuh rendah dan dimensi kehangatan dalam pola asuh tinggi

atau jika dalam kuesioner responden memperoleh nila < 50%

jawaban dari 30 pertanyaan.

b. Konsep diri narapidana remaja

Konsep diri adalah cara anak melihat pribadinya tentang

persepsi menyangkut fisik, emosi, intelektual, sosial dan spiritual

yang mempunyai dampak pada diri tentang fisik emosional dan

sosial diri. Penelitian ini menggunakan skala nominal dengan

kuesioner dalam bentuk 25 pertanyaaan. Dikatakan konsep diri

positif apabila responden medapat skor 13-25, sedangkan

dikatakan konsep diri negatif apabila responden mendapat skor 0-

12.

1) Gambaran diri/ citra tubuh

Sikap tahanan remaja tentang keadaan fisiknya baik bentuk

tubuh, dan penampilan serta potensi yang dmiliki.

Menggunakan skla nominal dengan kuesioner dalam bentuk

5 pertanyaan.

Kriteria objektif untuk mengidentifikasi gambaran diri

narapidana remaja :

31
a) Dikatakan gembaran diri positif jika responden

mendapat skor 3-5

b) Dikatakan gambaran diri negatif jika responden

mendapat skor 0-2

2) Ideal diri

Persepsi tahanan remaja terhadap dirinya sendiri yang

berhubungan dengan cita-cita, nilai yang ingin dicapai,

harapan pribadi yang dilakukan dimasyarakat.

Menggunakan skala nominal dengan kuesioner dalam

bentuk 5 pertanyaan.

Kriteria objektif untuk ideal diri remaja :

a) Dikatakan ideal diri positif jika responden mendapat

skor 3-5

b) Dikatakan ideal diri negatif apabila responden

mendapat skor 0-2

3) Harga diri

Penilaian pribadi tahanan remaja terhadap hasil yang sesuai

apa yang diharapakan oleh diri sendiri dan orang lain.

Menggunakan skala nominal dengan kuesioner dalam

bentuk 5 pertanyaan.

Kriteria objektif harga diri sebagai berikut :

a) Dikatakan harga diri positif apabila responden

mendapat skor 3-5

32
b) Dikatakan harga diri negatif apabila responden

mendapat skor 0-2

4) Peran

Peran tahanan remaja tentang posisinya dan perannya

dikeluarga dan dimasyarakat. Penelitian ini menggunakan

skala nominal dengan kuesioner dalam bentuk 5

pertanyaan.

Kriteria objektif peran sebagai berikut :

a) Dikatakan peran positif apabila responden mendapat

skor 3-5

b) Dikatakan peran negatif apabila responden mendapat

skor 0-2

5) Identitas diri

Kesadaran tahanan remaja akan sifat dan keunikan diri

sendiri. Penelitian ini menggunakan skala nominal dengan

kuesioner dalam bentuk 5 pertanyaaan.

Kriteria objektif identitas diri sebagai berikut :

a) Dikatakan identitas diri positif apabila responden

mendapat skor 3-5

b) Dikatakan identitas diri negatis apabila responden

mendapat skor 0-2

F. Instrumen Penelitian

33
[CITATION Sug13 \l 1057 ] menyatakan bahwa instrumen penelitian

adalah alat yang digunakan untuk pengumpulan data yang mengukur

fenomena alam ataupun sosial yang diamatai. Instrumen penelitian yang

digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner (daftar pertanyaan).

Kuesioner adalah bentuk penjelasan variabel-variabel yang terlibat dan

sesuai dengan tujuam penelitian.

Lembar kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi

dua antara lain :

1. Kuesioner pola asuh orang tua

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner

yang dbuat oleh [ CITATION Sur151 \l 1057 ] hubunag pola asuh orang

tua dengan kepribadian remaja di SMP Mengkendek Kabupaten Tana

Toraja. untuk mengumpulkan data pola asuh orang tua dalam

penelitian ini adalah lembar kuesioner yang menggunakan skala likert

berjumlah 30 pertanyaan yaitu responden harus menjawab pertanyaan

yang paling sesuai dengan dirinya. Responden memilih jawaban untuk

setiap pertanyaan yang menunjukkan apa yang dia alami atau rasakan

dengan empat kategori jawaban, yaitu SL (Selalu), SR (Sering), JR

(Jarang), TP (Tidak Pernah) untuk kuesioner pola asuh orang tua.

Dengan penilaiaan 4 = Selalu, 3 = Sering, 2 =Jarang, 1 = Tidak

Pernah.

2. Kuesioner konsep diri narapidana remaja

34
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner

yang dibuat oleh [ CITATION Abd153 \l 1057 ] gambaran konsep diri

narapidana remaja di Lapas anak Tanjung Gusta Medan. Untuk

mengumpulkan data konsep diri dalam penelitian ini adalah lembar

kuesioner yang menggunakan skala guttman dimana pernyataan positif

dijawab “ya” bernilai 1 dan pernyataan positif dijawab “tidak” bernilai

0, sedangkan pernyataan negatif dijawab “ya” bernilai 0 dan

pernyataan negatif dijawab “tidk bernilai 1. Nilai terendah yang

mungkin dicapai adalah 0 dan nilai tertinggi adalah 25.

Untuk mengetahui kategori konsep diri digunakan rumus panjang kelas

(Sudjana, 2002) yaitu :

Rentang kelas
Panjang kelas (p) =
banyak kelas

Maka dapat dikategorikan tingkat konsep diri sebagai berikut :

Positif : skor 13-25

Negatif : skor 0-12

G. Pengolahan Data dan Analisi Data

1. Pengolahan Data

Menurut [ CITATION Nat121 \l 1057 ] ada empat proses pengolahan data

dengan tahapan sebagai berikut :

a. Editing

Dilakukan setelah semua data terkumpul, kemudian dilakukan

penyuntingan berupa pengecekan kelengkapan dan perbaikan isian

kuesioner.

35
b. Coding

Untuk memudahkan penginputan data maka perlu dilakukan

coding, dimana semua hasil yang diperoleh disederhanakan dengan

memberi simbol atau kode pada setiap kriteria atau jawaban pada saat

pengisian kuesioner.

c. Data Entry

Setelah dilakukan coding data dimasukkan kedalam master tabel

dan diinput kedalam program komputerisasi.

d. Pembersihan data atau cleaning

Setelah semua data selasai dimasukkan, selanjutnya dilakukan

pengecekan untuk kemungkinan adanya keslahan kode,

ketidaklengkapan, setelah itu dilakukan koreksi atau pembersihan data.

2. Analisa Data

Analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisa

univariat untuk mendapatkan deskripsi setiap variabel tergantung dari

jenis datanya. Variabel pola asuh orang tua dan konsep diri pada

penelitian ini dianalisis berdasarkan hasil jawaban kuesioner

menggunakan SPSS. Data yang terkumpul diolah dan dianalisa secra

deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan

persentase.

H. Uji Validitas dan Reliabilitas

1. Uji Validitas

36
Uji validitas adalah uji yang dilakukan sebelum melakukan

penelitian untuk mengetahui ketepatan pengukuran suatu instrumen

yang digunakan mengukur apa yang seharusnya diukur [ CITATION

Nat121 \l 1057 ]. Kuesioner ini telah diuji coba pada tanggal 24

Februari 2015 kepada 199 siswa SMP Negeri 1 Mengkehendek

Kabupaten Tana Toraja untuk mengetahui validitas dan realiabitas

kuesioner sehingga dapat digunakan dalam penelitian.

Model pengujian menggunakan pendekatan correted item-total

correlation untuk menguji validitas internal setiap pertanyaan

kuesioner yang disusun. Untuk menentukan apakah item pertanyaan

dikatakan valid atau tidak dilakukan dengan membandingkan nilai r

tabel dengan r hitung. Nilai r tabel pada r product moment dengan

N=30 dengan taraf signifikan 5% adalah 0,361 yang artinya nilai r dari

masing-masing item pertanyaan harus lebih besar atau sama dengan

0,361 [ CITATION Sug13 \l 1057 ] . Jika terdapat item pertanyaan yang

memiliki nilai kurang dari 0,361, maka dinyatakan tidak valid dan

dikeluarkan dari kuesioner penelitian.

Dari hasil uji validitas untuk kuesioner pola asuh orang tua,

menunjukkan 30 pertanyaan valid dan dapat digunakan dengan nilai r

antara 0,361 sampai 0,953.

2. Uji Reliabilitas

Pengujian reliablitas instrumen dtentukan menggunakan nilai

cronbach’s alpha. Instrumen dikatakan reliabel jika nila cronbach’s

37
alpha > 0,60 hingga mendekati 1 [ CITATION Sug13 \l 1057 ]. Hasil uji

reliabilitas kuesioner pola asuh orang tua memiliki nilai cronbach’s

alpha 0,755, maka dapat dikatakan bahwa instrumen yang digunakan

reliabel.

I. Etika Penelitian

Penelitian yang berkaitan dengan manusia sebagai objek penelitian,

wajib mempertimbangkan etika penelitian agar tidak menimbulkan

masalah etik yang dapat merugikan responden maupun peneliti (Komisi

Nasional Etik Penelitian Kesehatan, 2011). Etika penelitian yang harus

dipenuhi oleh peneliti yaitu :

1. Respect for persons (menghormati harkat dan martabat

manusia)

Peneliti harus mampu mempertimbangkan hak-hak

subjek penelitian dalam memperoleh suatu informasi

berdasarkan tujuan peneliti. Selain itu, peneliti juga harus

memberikan kebebasan kepada subjek penelitian untuk

memberikan informasi atau tidak. Peneliti dalam menghormati

harkat dan martabat subjek penelitian harus mempersiapkan

formulir persetujuan subjek (informed concent).

Dalam informed concent dijelaskan mengenai manfaat

penelitian, kemungkinan risiko dan ketidaknyamanan yang

ditimbulkan, manfaat yang didapatkan, dan jaminan anonimitas

38
dan kerahasiaan identitas dan informasi yang diberikan oleh

responden.

2. Benefrence dan non maleficence (prinsip etik berbuat baik)

Penelitian yang dilakukan dengan mengupayakan

manfaat maksimal yang akan didapatkan masyarakat pada

umunya dan subjek penelitian pada khususnya. Peneliti akan

berusaha meminimalkan dampak yang merugikan dengan

mencegah hal-hal yang dapat membahayakan subjek penelitian.

3. Justice (Prinsip etik keadilan)

Prinsip keadilan memberikan jaminan kepada responden

bahwa semua subjek penelitian memperoleh perlakuan dan

keuntungan yang sama tanpa membedakan agama, suku, jender,

dan lain-lain.

39
BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Bab ini menjelaskan mengenai hasil dan pembahasan penelitian

tentang gambaran pola asuh orang tua dan konsep diri remaja di lembaga

pemasyarakatan. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 19 Oktober

sampai 1 November 2018. Pelaksanaan penelitian ini bertempat di Lapas

Klas I Makassar dan Lapas Klas IIA Maros. Data diperoleh dengan

menggunakan 2 jenis instrumen yaitu instrumen pola asuh orang tua dan

instrumen konsep diri. Populasi sebanyak 83 responden dengan teknik

pengambilan sampel yaitu total sampling.

Peneliti mengidentifikasi data untuk menentukan responden yang

akan terlibat kemudian memeberikan penjelasan kepada responden.

40
Peneliti meminta persetujuan untuk yang bersedia menjadi responden

penelitian. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara univariat.

Hasil pengolahan dan analisis data akan disajikan dalam bentuk tabel yang

meliputi distribusi frekuensi karakteristik responden. Hasil penelitian

sebagai berikut :

1. Analisa Univariat

a. Karakteristik Responden

Tabel 3

Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin,

Pendidikan Terakhir, Pekerjaan Orang Tua, Status Pernikahan Orang Tua,

Status Tempat Tinggal, Lama Pidana, Jenis Kejahatan Responden di Lapas

Klas I Makassar dan Lapas Klas IIA Maros.

Karakteristik Responden f %
Usia

15 4 4,8

16 14 16,9

17 38 45,8

18 27 32,5
Jenis Kelamin

41
Laki-laki 83 100,0
Pendidikan Terakhir

Tidak Lulus SD 7 8,4

SD 4 4,8

SMP 32 38,6

SMA 40 48,2

Pekerjaan Orang Tua


Petani 4 4,8

Nelayan 3 3,6

Wiraswasta 14 16,9

Swasta 62 74,7
Status Pernikahan Orang Tua

Menikah 58 69,9

Cerai 25 30,1
Status Tempat Tinggal

Bersama orang tua 58 69,9

Bersama ayah 5 6,0

Bersama ibu 11 13,3

Bersama nenek 9 10,8


Lama Pidana

< 1 tahun 6 7,2

1-2 tahun 46 55,4

3-4 tahun 5 6,0

Sementara proses/tahanan kota 26 1,3

42
Jenis Kejahatan

Pencurian 57 68,7

Narkotika 16 19,3

Pembunuhan 6 7,2

Senjata Tajam 4 4,8

Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa lebih banyak responden berusia

17 tahun sebanyak 38 orang (45,8), responden berusia 18 tahun berjumlah 27

orang (32,5%), berusia 16 tahun berjumlah 14 orang (16,9), berusia 15 tahun

sebanyak 4 orang (4,8%).

Sebagian besar responden berjenis laki-laki berjumlah 83 orang dengan

persentase (100,0%), kemudian rata-rata pendidikan terakhir SMA sebanyak 40

orang (48,2%), pendidikan terakhir SMP sebanyak 32 orang (38,6), pendidikan

terakhir SD sebanyak 4 orang (4,8%), sedangkan yang tidak lulus SD sebanyak

7 orang (8,4%). Untuk jenis pekerjaan orang tua responden, sebanyak 62 orang

bersetatus Swasta (74,7%), wiraswasta sebanyak 14 orang (16,9%), petani

sebanyak 4 orang (4,8%), nelayan sebayak 3 orang (3,6%). Sedangkan status

pernikahan orang tua responden yang Menikah sebanyak 58 orang (69,9%), dan

yang cerai sebanyak 25 orang (30,1%).

Untuk status tempat tinggal responden, yang tinggal bersama orang tua

sebanyak 58 orang (69,9%), tinggal bersama ayah sebanyak ibu sebanyak 11

orang (13,3), tinggal bersama nenek sebanyak 9 orang (10,8%), tinggal bersama

ayah sebanyak 5 orang (6,0%). Kemudian lama pidana responden yang dipidana

43
1-2 tahun sebanyak 46 orang (55,4%), sementara proses atau tahanan kota

sebanyak 26 orang (31,1%), kurang dari 1 tahun sebanyak 6 orang (7,2%), 3-4

tahun sebanyak 5 orang (6,0%). Sebagian besar jenis kejahatan responden adalah

pencurian sebanyak 57 orang (68,7%), narkotika sebanyak 16 orang (19,3),

pembunuhan sebanyak 6 orang (7,2%), senjata tajam sebanyak 4 orang (4,8%).

b. Pola Asuh Orang Tua

Tabel 3.1

Distribusi Pola Asuh Orang Tua Remaja di Lapas Klas I Makassar dan

Lapas Klas IIA Maros

Pola Asuh Orang Tua f %


Otoriter 46 55,4

Demokratis 36 43,4

Permisif 1 1,2

Berdasarkan tabel 3.1 menunjukkan bahwa pola asuh orang tua

responden otoriter sebanyak 46 orang (55,4%), demokratis sebanyak 36

orang (43,4%), permisif sebanyak 1 orang (1,2%).

c. Konsep Diri Remaja

Tabel 3.2

Distribusi Gambaran Diri Remaja di Lapas Klas I Makassar dan Lapas

Klas IIA Maros

Gambaran Diri f %
Positif 66 79,5

Negatif 17 20,5

44
Berdasarkan tabel 3.2 menunjukkan bahwa sebanyak 66 orang

(79,5%) memiliki gambaran diri yang positif dan sebanyak 17 orang

(20,5%) memiliki gambaran diri yang negatif.

Tabel 3.3

Distribusi Ideal Diri Remaja di Lapas Klas I Makassar dan Lapas Klas

IIA Maros

Ideal Diri f %
Positif 77 92,8

Negatif 6 7,2

Berdasarkan tabel 3.3 menunjukkan bahwa sebanyak 77 orang

(92,8%) memiliki ideal diri yang positif dan sebanyak 6 orang (7,2%)

memiliki ideal diri yang negatif.

Tabel 3.4

Distribusi Harga Diri Remaja di Lapas Klas I Makassar dan Lapas

Klas IIA Maros

Harga Diri f %
Positif 58 69,9

Negatif 25 30,1

Berdasarkan tabel 3.4 menunjukkan bahwa sebanyak 58 orang

(69,9%) memiliki harga diri yang positif dan sebanyak 25 orang (30,1%)

memiliki harga diri yang negatif

45
Tabel 3.5

Distribusi Peran Remaja di Lapas Klas I Makassar dan Lapas Klas IIA

Maros

Peran f %
Positif 79 95,2

Negatif 4 4,8

Berdasarkan tabel 3.5 menunjukkan bahwa sebanyak 79 orang

(95,2%) memiliki peran yang positif dan sebanyak 4 orang (4,8%)

memiliki peran yang negatif.

Tabel 3.6

Distribusi Identitas Diri Remaja di Lapas Klas I Makassar dan Lapas

Klas IIA Maros

Identitas Diri f %
Positif 83 100,0

Berdasarakan tabel 3.6 menunjukkan bahwa sebanyak 83 orang

(100,0%) memiliki identitas diri yang positif.

46
Tabel 3.7

Distribusi Konsep Diri Remaja di Lapas Klas I Makassar dan Lapas

Klas IIA Maros

Konsep Diri f %
Positif 81 97,6

Negatif 2 2,4

Berdasarkan tabel 3.7 menunjukkan bahwa sebanyak 81 orang

(97,6%) memiliki konsep diri yang positif dan sebanyak 2 orang (2,4%)

memiliki konsep diri yang negatif. Hal ini bemakna bahwa mayoritas

responden memiliki konsep diri yang baik.

B. Pembahasan

1. Karakteristik responden berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan

terakhir, pekerjaan orang tua, status pernikahan orang tua, status

tempat tinggal, lama pidana, jenis kejahatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata usia responden

adalah 17 tahun, usia paling belia 15 tahun, kemudian 16 tahun, dan

paling tua usia 18 tahun.

Usia dapat mempengaruhi perkembangan remaja, apabila

seseorang gagal melalui tugas perkembangan pada usia yang

sebenarnya maka pada tahap beikutnya akan terjadi masalah pada diri

seseorang tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian [ CITATION

Has132 \l 1057 ] tentang pembentukan identitas diri dan gambaran diri

47
pada remaja putri bertato di Samarinda yang umumnya masa remaja

adalah masa pencarian identitas diri yang dipengaruhi perubahan fisik,

psikis, seksual dan sosial-ekonomi dalam batasan usia tertentu.

Menurut WHO (2016) remaja adalah mereka yang berada pada

tahap transisi antara masa kanak-kanak dan deawasa. Di Indonesia

banyak ditemukan remaja yang mengalami masalah sosial yang

ditunjukkan dalam bentuk perbuatan kriminal. Berbagai bentuk

peristiwa tidak hanya terjadi secara musiman, melankan dapat terjadi

setiap saat di dalam maupun di luar sekolah. Hal ini sejalan dengan

penelitian [ CITATION Put161 \l 1057 ] bahwa kriminalitas pada remaja

meningkat 23.955 kasus atau 12,2% dari 196,931 kasus di tahun 2003

menjadi 220.886 kasus pada tahun 2004.sedangkan 19,1% pelakunya

adalah remaja laki-laki.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pendidikan

terakhir responden adalah SMA sebanyak 40 responden, SMP

sebanyak 32 responden, SD sebanyak 4 orang, dan yang tidak lulus SD

sebanyak 7 responden. Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pola

pikir dan perilaku seseorang.

Menurut Natoatmodjo (2003), tingkat pendidikan merupakan

indikator bahwa seseorang telah menenmpuh jenjang pendidikan

formal di bidang tertentu, namun bukan indikator bahwa seseorang

telah menguasai beberapa bidang ilmu.

48
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pekerjaan

orang tua responden adalah Swasta sebanyak 62 responden atau

(74,7%), wiraswasta sebanyak 14 responden atau (16,9%), petani

sebanyak 4 responden atau (4,8%), nelayan sebanyak 3 responden atau

(3,6%). Sedangkan untuk status pernikahan orang tua responden

sendiri mayoritas adalah menikah sebanyak 58 responden atau

(69,9%), cerai sebanyak 25 responden atau ( 30,1%). Dukungan

keluarga sangat erat kaitannya dengan bentuk perilaku menyimpang

remjaja[ CITATION Nga092 \l 1057 ] . Kemudian untuk status tempat

tinggal responden mayoritas responden tinggal bersama orang tua

sebanyak 58 responden atau (69,9%), yang tinggal bersama ayah ibu

sebanyak 11 responden atau (13,3%), tinggal bersama nenek sebanyak

9 responden atau (10,8%), dan yang tinggal bersama ayah sebanyak 5

responden atau (6,0%).

Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa lama pidana yang

divonis hakim untuk respoden mayoritas 1-2 tahun sebanyak 46

responden atau (55,4%), sementara proses hukuman berlangsung atau

menjadi tahanan kota sebanyak 26 responden (31,3%), untuk yang

kurang 1 tahun sebanyak 6 responden atau (7,2%), dan yang paling

lama 3-4 tahun sebanyak 5 responden atau (6,0%/). Kemudian untuk

jenis kejahatan responden mayoritas adalah kasus pencurian sebanyak

57 responden atau (68,7%), narkotika sebanyak 16 responden atau

(19,3%), untuk kasus pembunuhan sebanyak 6 responden atau (7,2%),

49
dan untuk kasus senajata tajam atau bahan peledak sebanyak 4

responden (4,8%).

2. Pola asuh orang tua remaja di Lapas Klas I M akassar dan Lapas Klas

IIA Maros

Pola asuh orang tua merupakan segala bentuk dan proses

interaksi yang terjadi antara orang tua dan anak yang merupakan pola

pengasuhan tertentu dalam keluarga yang akan memeberi pengaruh

terhadap perilaku anak (Irmawati,2002). Penerapan pola asuh yang

kurang tepat dapat menimbulkan permasalahan yang justru sebaliknya

tidak kita inginkan. Khususnya pada remaja seperti yang tahu bahwa

usia remaja merupakan usia yang beresiko tinggi mengalami

ganggguan mental [ CITATION Put06 \l 1057 ]. Dari hasil penelitian

menunjukkan bahwa mayoritas pola asuh orang tua responden adalah

otoriter sebanyak 46 responden atau (55,4%), untuk pola asuh

demokratis sebanyak 36 responden atau (43,3%), sedangkan untuk

pola asuh yang permisif sebanyak 1 responden atau (1,2%).

Hal ini sesuai dengan penelitian [ CITATION Dew16 \l 1057 ] yang

dilakukan di Dusun Kwarasan Gamping Sleman Yogyakarta

menyatakan bahwa sebagian besar orang tua menerapkan pola asuh

demokratis pada anak yaitu 21 responden atau (48,3%), 12 responden

(25,6) memiliki pola asuh otoriter dengan responden paling banyak

memiliki perilaku kekerasan pada anak usia sekolah yang tinggi yaitu

7 responden (14,6%).

50
3. Konsep Diri Remaja di Lapas Klas I Makassar dan Lapas Klas IIA

Maros.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 81 responden atau (97,6%)

konsep diri remaja di Lapas Klas I Makassar dan Lapas Klas IIA

Maros adalah positif. Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian

Iswardani (2006) terhadap 50 responden di Lapas anak Tangerang

bahwa 88% responden remaja yang berada di Lapas anak Tangerang

memiliki konsep diri negatif.

Wilujeng (2012) menyatakan bahwa konsep diri yang dimiliki

masing-masing anak yang berkonflik dengan hukum berbeda antara

satu dengan yg lainnya. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan

mayoritas narapidana melakukan tindakan kriminal mencuri. Beberapa

narapidana menyesali perbuatan yang telah mereka perbuat.

a. Gambaran Diri

Berdasarkan penelitian gambaran diri remaja di Lapas Klas I

Makassar dan Lapas Klas IIA Maros memiliki gambaran diri yang

positif sebanyak 66 responden atau (79,5%). Hal ini sesuai dengan

penelitian [ CITATION Abd153 \l 1057 ] terhadap 76 narapidana tentang

gambaran diri remaja dengan hasil 72 narapidana (94,7%) memiliki

gambaran diri yang positif. Menurut Candrasari (2003) dalam

penelitiannya bahwa gambaran diri dapat bersifat positif maupun

negatif. Gambaran diri yang positif terjadi apabila remaja dapat

menerima penampilan fsiknya sebagaimana adanya. Sebaliknya

51
gambaran diri yang negatif membuat remaja kurang menyukai

penampilan fisiknya, sehingga cenderung menarik diri dari

lingkungan, menghambat pergaulan dan menimbulkan perasaan

rendah diri atau merasa diri kurang berharga.

Tetapi ada juga yang meiliki gambaran diri negatif sebanyak 25

narapidana atau (30,1%). Remaja yang merasa memiliki kekurangan

dalam penampilan fisik atau kesehatannya dapat menurunkan rasa

percaya dirinya, menarik diri serta memunculkan pandangan-

pandangan negatif tentang penampilannya.

b. Ideal Diri

Berdasarkan penelitian ideal diri remaja di Lapas Klas I Makassar

dan Lapas Klas IIA Maros memiliki ideal diri yang positif sebanyak

77 responden atau (92,8%). Hal ini sependapat dengan penelitian

[ CITATION Abd153 \l 1057 ] terhadap 76 narapidana dengan hasil 72

responden atau (94,7%) memiliki ideal diri yang positif. Menurut

[ CITATION Pot051 \l 1057 ] menyatakan bahwa remaja yang memiliki

konsep diri positif berarti memiliki penerimaan diri yang positif.

Remaja menganggap dirinya berharga dan cenderung menerima diri

sendiri sebagaimana adanya.

c. Harga Diri

Berdasarkan penelitian harga diri narapidana remaja di Lapas

Klas I Makassar dan Lapas Klas IIA Maros memiliki harga diri yang

positif sebanyak 58 responden atau (69,9%), dan untuk harga diri

52
negatif sebanyak 25 responden atau (30,1%). Hal ini tidak sesuai

dengan penelitian yang dilakukan oleh Armeliza (2012) terhadap 60

narapidana tentang gambaran konsep diri remaja didapatkan hasil

bahwa mayoritas narapidana memiliki harga diri negatif yaitu

sebanyak 33 responden atau (55%).

Menurut [ CITATION Pot051 \l 1057 ] remaja yang pernah

melakukan kesalahan, kekalahan, dan kegagalan tetapi tetap merasa

dirinya sebagai seseorang yang berharga merupakan perilaku yang

positif. Namun jika harga diri remaja menjadi rendah biasanya

disebabkan karena kehilangan kasih sayang atau cinta kasih dari orang

lain, kehilangan kepercayaan dari orang lain.

d. Peran

Dari hasil penelitian peran remaja di Lapas Klas I Makassar dan

Lapas Klas IIA Maros memiliki kepuasan peran yang positif sebanyak

79 responden atau (95,2%) sedangkan yang negatif sebanyak 4

responden atau (4,8%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah

dilakukan Siregar (2008) terhadap 31 narapidana tentang peran dari

narapidana remaja dengan hasil penelitian menunjukkan mayoritas

narapidana memiliki peran yang positif sebanyak 25 narapidana atau

(80,6%).

Hal ini dkarenakan narapidana sudah bisa menyesuaikan diri

dengan lingkungan Lapas, dan pembinaan yang dilakukan Lapas

memiliki banyak kegiatan seperti: sekolah, penyuluhan narkoba,

53
olahraga, kegiatan keagamaan. Semua kegiatan yang diadakan di

Lapas diharuskan untuk di ikuti narapidana.

e. Identitas Diri

Dari hasil penelitian identitas diri remaja di Lapas Klas I

Makassar dan Lapas Klas IIA Maros termasuk memiliki kejelasan

identitas diri sebanyak 83 responden atau (100,0%). Hal ini tidak

sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan Armeliza (2012)

terhadap 60 narapidana tentang identitas diri remaja dengan hasil

penelitian menunjukkan mayoritas narapidana memiliki identitas diri

yang negatif yaitu sebanyak 31 narapidana atau (51,7%).

Hal ini dikarenakan narapidana remaja mulai menyadari akan

kesalahan yang mereka perbuat dan mencoba memperbaiki diri lebih

baik lagi. Maka dapat disimpulkan pembinaan di Lapas sangat

menentukan identitas diri narapidana. Identitas diri adalah kesadaran

akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian, yang

merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sebagai suatu

kesatuan yang utuh [ CITATION Pot051 \l 1057 ] . Apabila narapidana

memperoleh peran yang baik di dalam Lapas maka identitas dirinya

juga akan baik.

54
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran pola asuh orang tua dan

konsep diri remaja di Lapas Klas I Makassar dan Lapas Klas IIA Maros

adalah sebagai berikut :

1. Mayoritas responden memiliki pola asuh orang tua yang otoriter

2. Mayoritas responden memiliki konsep diri yang positif

3. Komponen-komponen konsep diri yang memiliki persentasi paling

tinggi adalah identias diri.

4. Narapidana remaja mayoritas terjadi pada laki-laki, tindakan kriminal

mayoritas terjadi pada responden berusia 17 tahun yang berpendidikan

terakhir adalah SMA.

B. Saran

1. Walaupun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden

mayoritas memiliki pola asuh orag tua yang otoriter dan mempunyai

konsep diri yang posistif, namun masih ada beberapa responden yang

memiliki konsep diri yang negatif. Dengan demikian, dapat disarankan

kepada pihak Lapas atau pihak lain untuk mengadakan beberapa

edukasi tentang pengembangan kegiatan-kegiatan lainnya.

2. Bagi peneliti selanjutnya, diharpakan dengan adanya penelitian ini

dapat menjadi data awal untuk pengembangan riset selanjutnya dalam

55
melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang

mempengaruhi berubahnya konsep diri

56
DAFTAR PUSTAKA

Agency, A. T. (2014). Mengembangkan Pola Asuh Demokratis . Jakarta: PT. Elex


Media Komputindo.

Al-Migwar, M. (2006). Psikologi Remaja. Jakarta: Pustaka Setia.

Bakri, Z. (2013). Gambaran Pola Asuh Orang Tua Tentang Kejadian Kriminal
Pada Remaja Di Lapas Klas I Makassar. Jurnal Psikologi.

BPS. (2014, oktober 26). profil kriminalitas. Dipetik September 30, 2018, dari
www.bps.go.id: www.bps.go.id/hasil_publikasi/flip
2011/4401003/files/searcht ext.xml

Dewi, A. K. (2016). Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Perilaku Kekerasan
Pada Anak Usia Sekolah di Dusun Kawarasan Gamping Sleman
Yogyakarta.

Ditjenpas. (2018, Oktober 1). Sistem Database Pemasyarakatan. Dipetik Oktober


1, 2018, dari Ditjenpas.go.id:
smslap.ditjenpas.go.id/public/grl/current/monthly

Fauzia & Diana. (2015). Pengasuhan Remaja Pelaku Kriminalitas (Studi


Fenomenologi Pada Orang Tua Dengan Remaja Pelaku Kriminalitas di
Lapas X Sleman. Jurnal Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Fitri. (2009, Mei). Dipetik Agustus 2018, dari Dunia Psikologi:


http:/duniapsikologo.com

Gunadi, I. (2014). Cepat dan Mudah Memahami Hukum Pidana. Jakarta: Prenada
Media Group.

Gunarsa, S. D. (2008). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja . Jakarta: PT


BPK Gunung Mulia .

Hadi, A. (2015). Gambaran Konsep Diri Narapidana Remaja di Lapas Anak


Tanjung Gusta Medan. Jurnal Keperawatan.

Handoko, D. (2017). Asas-asas Hukum Pidana. Pekanbaru: Hawa dan Ahwa.

57
Harsanti & Verasari. (2013). Kenakalan Pada Remaja Yang Mengalami
Perceraian Orang tua. Jurnal Psikologi Universitas Gunadarma.

Hasanah, H. (2013). Pembentukan Identitas Diri dan Gambaran Diri Pada Remaja
Putri Bertato di Samarinda. Ejurnal Psikologi .

Hastuti, S. (2006). Mengenal Masyarakat, Menumbuhkan Kepedulian .


Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Jahya, Y. (2015). Psikologi Perkembangan . Jakarta: Prenada Media Group .

Muhith, A. (2015). Pendidikan Keperawatan Jiwa . Yogyakarta: CV. Andi Offset.

Natoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Ngale. (2009). Family Structure And Juvenile Delinquency : Correctional Centre


Betamba, Centre Province Of Cameroon. Interner Jurnal Of Crimilogy.

Nursalam. (2016). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan : Pedoman Skripsi,


Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salembang Medika.

Potter & Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses &
Praktek. Edisi 4. Jakarta: EGC.

Pratiwi, A. (2016). Pembinaan Narapidana Remaja di LAPAS Kelas IIA Kota


Metro. Skripsi Fakultas Hukum Universitas Lampung.

Putra, R. d. (2006). Hubungan Antara Persepsi Terhadap Pola Asuh Otoriter


Orang Tua Dengan Kecenderungan Pemalu. Jurnal Insan.

Putra, R. S. (2016). Kriminalitas Di Kalangan Remaja (Studi Terhadap Remaja


Pelaku Pencabulan di Lapas Anak Kelas IIB Pekanbaru. JOM FISIP Vol.3
No.1.

Saad, H. M. (2003). Perkelahian Pelajar . Yogyakarta: Galang Press.

Santrock, J. W. (2013). Perkembangan Remaja Edisi 6. Jakarta: Erlangga.

Sugiyono. (2016). Statistika Untuk Penelitian . Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sunaryanti. (2016). Relationship The Parenting Pattern And Juvenile Delinquency


At State Senior Secondary School 8 Surakarta. Indonesian Jurnal On
Medical Science, 38-47.

58
Suryani. (2015). Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Kepribadian Remaja Di
SMP Negeri Mengkendek Kabupaten Tana Toraja . Skripsi Universitas
Hasanuddin.

Susanto, A. (2015). Bimbingan Dan Konseling di Taman Kanak-kanak . Jakarta:


Prenada Media Group.

Upton, P. (2012). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Gelora Aksara Pratama.

Utami & Asih. (2016). Konsep Diri dan Rasa Bersalah Pada Anak Didik Lembaga
Permasyarakatan Anak Kelas IIA Kutoharjo. Jurnal Psikologi Universitas
Semarang, 84-91.

Utami, A. R. (2014). Gambaran Self Estem Narapidana Remaja Berdasarkan


Klasifikasi Kenakalan Remaja di Lapas Anak Bandung dan Lapas Wanita
Bandung. Jurnal Psikologi.

WHO. (2014, Desember). Dipetik Agustus 4, 2018, dari


http:/www.who.int/mediacenter/news/release/2014/violence-prevention/en

59