Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

HUBUNGAN LEMBAGA PENDIDIKAN DENGAN


MASYARAKAT

Makalah ini Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Manejemen Penyelenggaraan Pendidikan pada Program Pasca Sarjana
(PPS) STKIP-PI Makassar

Dosen Pengampu:
Dr. Didin, M.Pd.

Disusun Oleh:
Kelompok 8

1. Andi Haidir Hidayat (C19331076)


2. Iskandar (C19331075)
3. Ince Hawa Khumaira (C19331065)

KELAS 19B
PROGRAM PASCA SARJANA (PPS)
STKIP - PI MAKASSAR
2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena masih memberikan kita


kesempatan sehingga kami bisa menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
“Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat” ini tepat pada waktunya.
Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Baginda Rasulullah
Muhammad SAW. Karena telah membawa kita dari alam kebodohan ke alam
yang penuh ilmu pengetahuan seperti saat ini.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
mata kulian Manejemen Penyelenggaraan Pendidikan pada Program Pasca
Sarjana (PPS) STKIP-PI Makassar. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan tentang “Hubungan Lembaga Pendidikan dengan
Masyarakat” bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Didin, M.Pd.


selaku dosen pengampu mata kulian Manejemen Penyelenggaraan Pendidikan
yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan
wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
ini.

Saya menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan
demi kesempurnaan makalah ini.

Selayar, 28 April 2020

Penulis,

ii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

KATA PENGANTAR ...................................................................................... ii

DAFTAR ISI .................................................................................................. iii

BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................. 1

A. Latar Belakang Masalah......................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .................................................................................. 2

C. Tujuan Pembahasan ................................................................................ 3

BAB II. PEMBAHASAN .................................................................................. 4

A. Konsep Dasar Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat ... 4

1. Definisi Lembaga Pendidikan ....................................................... 4

2. Definisi Hubungan Masyarakat ..................................................... 5

C. Tujuan Kerjasama Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat ............ 7

D. Manfaat Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat ........... 10

E. Indikator Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat .......... 13

F. Optimalisasi Peran Komite Sekolah Sebagai Penghubung Antara

Sekolah dengan Masyarakat ................................................................. 14

BAB III. PENUTUP ......................................................................................... 21

A. Kesimpulan ......................................................................................... 21

B. Saran .................................................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 23

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam rangka upaya mewujudkan visi misi serta tujuan sebuah


lembaga pendidikan, maka partisipasi masyarakat sangat diperlukan.
Keduanya harus menjadi partner atau mitra kerja yang baik dalam rangka
memajukan lembaga pendidikan. Dengan kata lain, “sekolah dan masyarakat
perlu menjalin hubungan mutualisme atau saling menguntungkan. Jika
hubungan mutualisme sekolah dengan masyarakat berjalan dengan baik,
maka rasa tanggung jawab dan partisipasi masyarakat untuk memajukan
sekolah juga akan baik dan tinggi” (Mulyasa, 2009).

Lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah dan masyarakat memiliki


hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan
secara efektif dan efisien. Sebaliknya, sekolah juga harus menunjang
tercapainya tujuan atau pemenuhan kebutuhan masyarakat, khususnya
kebutuhan akan pendidikan yang bermutu.

Sekolah bukanlah suatu kesatuan yang berdiri sendiri atau terpisah


dengan masyarakat, akan tetapi sekolah dan masyarakat merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Di satu sisi, sekolah membutuhkan
masukan dari masyarakat tentang sumber-sumber yang ada untuk
dimanfaatkan dalam proses pendidikan dan untuk menyusun program yang
relevan dengan kebutuhan masyarakat, sekolah sekaligus juga membutuhkan
dukungan dalam melaksanakan program tersebut.

Dunia pendidikan nasional saat ini banyak dihadapkan pada masalah


yang sangat serius, terutama dalam hal degradasi moral peserta didik yang
semakin hari semakin memprihatinkan. Di satu sisi, institusi pendidikan
dalam hal ini lembaga sekolah dituntut untuk mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam

1
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, agar menjadi wahana untuk
mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
tanggung jawab; seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Sisdiknas.
Tuntutan tersebut tentunya tidak akan terwujud bilamana hanya ditanggung
oleh lembaga sekolah, namun perlu adanya peran serta orang tua dan
masyarakat untuk bahumembahu mewujudkan generasi muda sebagaimana
yang diharapkan.

Selain itu, pentingnya hubungan lembaga pendidikan dengan


masyarakat dapat pula dikaitkan dengan banyaknya isu dan kritik dari
masyarakat tentang ketidak sesuaian produk sekolah dengan kebutuhan
pembangunan. Banyaknya lulusan sekolah merupakan produk yang tidak siap
pakai, makin banyaknya pengangguran dan banyaknya jumlah anak putus
sekolah (drop outs). Meskipun bukan masalah yang kompleks, namun untuk
mengurangi masalah itu dibutuhkan tanggung jawab sekolah dengan
meningkatkan keefektifan hubungan sekolah dan masyarakat.

Saat ini hampir semua sekolah telah membentuk komite sekolah yang
pada prinsipnya merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah
menyelesaikan masalah-masalah dalam penyelenggaraan pendidikan, namun
belum berfungsi dan berperan sebagaimana yang diharapkan. Komite sekolah
sebagai suatu lembaga tidak berada di bawah naungan sekolah tetapi lembaga
mitra yang dapat membantu dan mengawasi perkembangan sekolah.
Hubungan harmonis antara kedua lembaga ini diharapkan dapat membantu
peran serta orang tua sehingga orang tua dapat berpartisipasi penuh dalam
rangka menjaga mutu sekolah. Partipasi orang tua dapat berupa penyediaan
fasilitas serta pemikiran untuk kemajuan sekolah. Oleh karena itu, hubungan
kerjasama antara lembaga pendidikan dengan masyarakat melalui peran
komite sekolah perlu untuk di optimalkan.

2
Tanggung jawab pendidikan tidak hanya menjadi beban dari sebuah
lembaga pendidikan, namun peran orang tua, masyarakat hingga pemerintah
sangat diperlukan. Masing-masing komponen yang terkait tersebut perlu
mengambil peran dan melibatkan diri dalam peningkatan mutu pendidikan.
Keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan tidak bisa dipisahkan, namun
harus saling bersinergi dalam mewujudkan generasi ideal. Dalam kerangka
inilah, kiranya perlu menjalin kerjasama atau hubungan yang saling
menguntungkan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat maupun
elemen-elemen terkait dengan dunia pendidikan dengan berbagai bentuk
usaha atau program-program strategis agar apa yang dirumuskan dalam visi,
misi serta tujuan pendidikan baik lokal maupun nasional dapat terwujud.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan gambaran yang telah dikemukakan di atas, maka


rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana konsep dasar hubungan lembaga pendidikan dengan
masyarakat?
2. Apakah tujuan kerjasama lembaga pendidikan dengan masyarakat?
3. Bagaimana strategi hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat?
4. Apa manfaat hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat?
5. Apakah Indikator hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat?
6. Bagaimana mengoptimalkan peran komite sekolah sebagai penghubung
antara sekolah dengan masyarakat?

C. Tujuan Pembahasan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk memenuhi tugas kuliah Manejemen Penyelenggaraan Pendidikan
pada PPS STKIP – PI Makassar.
2. Untuk memahami konsep hubungan lembaga pendidikan dengan
masyarakat.

3
BAB II
PEMBAHASAN

Dalam pembahasan makalah ini, penulis menfokuskan pembahasan


mengenai hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat. Lembaga
pendidikan yang dimaksud disini adalah institusi sekolah karena sekolah
merupakan bagian dari lembaga pendidikan yang paling dekat dengan masyarakat.
Selain itu, sekolah juga memiliki peran penting sebagai agen perubahan serta
tempat yang menjadi pilihan utama dalam memperoleh ilmu pengetahuan maupun
penanaman nilai-nilai budaya, adat istiadat, dan tradisi yang berkembang di
lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, diharapkan ada sinergitas diatara
keduanya agar terjalin kerjasama yang baik demi peningkatan mutu pendidikan.

A. Konsep Dasar Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat

1. Definisi Lembaga Pendidikan

Agar lebih memahami apa arti lembaga pendidikan, maka kita


dapat merujuk pada pendapat beberapa ahli berikut ini:

a. Menurut Prof. Dr. Umar Tirtarahardja dan Drs. La Sula


Pengertian lembaga pendidikan adalah tempat berlangsungnya
pendidikan, khususnya pada tiga lingkungan utama pendidikan yaitu
keluarga, sekolah, dan masyarakat.
b. Menurut Enung K. Rukiyati dan Fenti Himawati
Pengertian lembaga pendidikan adalah wadah atau tempat
berlangsungnya proses pendidikan yang bersamaan dengan proses
pembudayaan.
c. Menurut Drs. H. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati
Pengertian lembaga pendidikan adalah badan usaha yang bergerak dan
bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan terhadap peserta
didik.

4
d. Menurut Hasbullah
Pengertian lembaga pendidikan ialah tempat berlangsungnya proses
pendidikan yang meliputi pendidikan keluarga, sekolah, dan
masyarakat.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa lembaga pendidikan


adalah suatu lembaga yang dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu
transfer ilmu pengetahuan dan budaya kepada individu untuk mengubah
tingkah laku seseorang menjadi lebih dewasa dan memperoleh kehidupan
yang lebih baik di masa depan. Adapun lembaga pendidikan yang penulis
fokuskan dalam makalah ini adalah lembaga pendidikan sekolah.

2. Definisi Hubungan Masyarakat

Sebelum kita membahas mengenai masalah hubungan masyarakat,


maka terlebih dahulu kita harus memahami definisi masyarakat. Dalam
KBBI, masyarakat didefinisikan sebagai sejumlah manusia dalam arti
seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap
sama.

Selanjutnya, menurut Neny Yulianita, (2005: 21-22) dalam


bukunya Dasar-dasar Public Relations, humas merupakan terjemahan dari
istilah Public Relations, maka pengertian Public Relations secara harfiah
adalah gabungan dari dua kata yakni :
a. Public: Yang dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai
”Publik”, yaitu sekelompok orang yang mempunyai minat dan
perhatian yang sama terhadap suatu hal.
b. Relations : Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah ” Hubungan-
hubungan” yang dalam arti menyangkut banyak hubungan.
Maka pengertian Public Relations dapat diartikan sebagai suatu
hubungan-hubungan yang bersentuhan langsung dengan publik-publiknya,
baik itu publik internal maupun publik eksternal.

5
Dari definisi di atas, Kindred Leslie merangkum keduanya dalam
bukunya “School Public Relation” mengemukakan pengertian hubungan
sekolah dengan masyarakat sebagai berikut: “ hubungan sekolah dengan
masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dengan
masyarakat untuk berusaha menanamkan pengertian warga masyarakat
tentang kebutuhan dari karya pendidikan serta pendorong minat dan tanggung
jawab masyarakat dalam usaha memajukan sekolah”.

B. Tujuan Hubungan Kerjasama Lembaga Pendidikan dengan


Masyarakat.

Menurut Drs. B. Suryosubroto, tujuan kerjasama sekolah dengan


masyarakat adalah untuk:
1. Membantu dan mengisi kegiatan anak di sekolah, yang hanya berkisar
rata-rata tujuh jam sementara sisa waktunya dihabiskan di rumah dan di
masyarakat.
2. Memberikan sumbangan uang dan barang.
3. Mencegah perbuatan dan tingkah laku yang kurang baik.

Sedangkan menurut Sutjipto dan Bashon (1992:122) mengutarakan


bahwa tujuan utama yang ingin dicapai dengan mengembangkan kegiatan
humas di sekolah adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang tujuan dan sasaran yang
ingin direalisasikan sekolah.
2. Meningkatkan pemahaman sekolah tentang keadaan dan aspirasi
masyarakat terhadap sekolah.
3. Menggalang usaha orang tua dan guru dalam memenuhi kebutuhan anak
didik serta meningkatkan kualitas dan kuantitas bantuan orang tua murid
dalam kegiatan pendidikan di sekolah.
4. Mengembangkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peranan
pendidikan di sekolah dalam era pembangunan.
5. Membangun dan memelihara kepercayaan terhadap masyarakat.

6
Adapun tujuan dari hubungan sekolah dengan masyarakat menurut
Mulyasa, (2009) adalah sebagai berikut.

Berdasarkan dimensi kepentingan sekolah, hubungan mutualisme


sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk memelihara kelangsungan hidup
sekolah, meningkatkan mutu pendidikan sekolah, memperlancar kegiatan
pembelajaran, serta memperoleh bantuan dan dukungan dari masyarakat
dalam rangka pengembangan dan pelaksanaan program-program sekolah.

Sementara berdasarkan dimensi kebutuhan masyarakat, hubungan


sekolah dengan masyarakat adalah memajukan dan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, memperoleh kemajuan sekolah dalam rangka
memecahkan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat, menjamin
relevansi program sekolah dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat,
serta tempat memperoleh kembali anggota-anggota masyarakat yang terampil
makin meningkat kemampuannya dan ketaqwaannya.

C. Strategi Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat

Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan suatu proses


komunikasi untuk meningkatkan pengertian warga masyarakat tentang
kebutuhan dan praktik ekonomi serta mendorong minat dan kerjasama dalam
usaha memperbaiki sekolah, karena komunikasi itu merupakan lintasan dua
arah, yaitu dari arah sekolah ke masyarakat, dan sebaliknya.

Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk menjalin hubungan


antara sekolah dengan masyarakat, antara lain:
1. Laporan kepada orang tua murid , laporan ini dapat dilakukan setiap
triwulan, catur wulan, semester, atau tahunan. Laporan tersebut tidak
hanya berupa angka-angka, akan tetapi menyangkut informasi yang
bersifat diagnostik, artinya dalam laporan tersebut dicantumkan pula
kelebihan dan kelemahan peserta didik.

7
2. Buletin sekolah, buletin ini berisi kegiatan-kegiatan sekolah, artikel guru
dan murid, pengumuman-pengumuman sekolah, dan lain-lain.
3. Surat kabar, isinya menyangkut segala aspek yang menunjang
kesuksesan program pendidikan.
4. Pameran sekolah. merupakan metode untuk memberikan gambaran
tentang keadaan sekolah dengan berbagai aktivitasnya.
5. “Open House” , untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat
mengetahui sekolah serta mengobservasi kegiatan dan hasil kerja murid
dan guru sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan
6. Kunjungan ke sekolah (school visitation), teknik memberikan
kesempatan kepada orang tua murid untuk melihat kegiatan murid,
keadaan sekolah pada saat pelajaran berlangsung.
7. Kunjungan ke rumah murid (home visitation), dilakukan untuk melihat
latar belakang kehidupan murid, disamping mempererat hubungan antara
sekolah dengan orang tua murid.
8. Melalui penjelasan oleh staf sekolah, kepala sekolah hendaknya berusaha
agar semua personil sekolah turut aktif mengambil bagian dalam
mensukseskan hubungan sekolah dengan masyarakat. Para personil
sekolah dapat memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang
kebijakan-kebijakan, program-program organisasi sekolah.
9. Gambaran keadaan sekolah melalui murid, murid dapat juga didorong
untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang keadaan
sekolah. Jangan sampai murid menyebarluaskan isu-isu yang tidak baik
mengenai sekolah kepada masyarakat.
10. Melalui radio dan televisi, radio dan televisi memiliki daya kuat untuk
menyebarkan pengaruh melalui informasi yang disiarkannya. Radio dan
televisi cepat sekali membentuk “public opinion” yang sangat dibutuhkan
dalam program hubungan sekolah dengan masyarakat ini. Melalui radio
dan televisi, masyarakat akan lebih mengenal situasi dan perkembangan
sekolah. Melalui radio dan televisi sekolah dapat menyampaikan berita-
berita dan pengumuman-pengumuman yang berkaitan dengan

8
penyelenggaraan pendidikan, termasuk apabila ada permohonan
sumbangan dari pihak sekolah. Hal ini untuk menghindari kesalahan
penyampaian informasi yang sering dilakukan oleh anak-anak kepada
orang tuanya, bahkan anak minta iuran yang sebenarnya tidak ditarik
oleh sekolah.
11. Laporan tahunan, laporan tahunan disusun oleh kepala sekolah untuk
memberikan kepada Pengawas sekolah atau kepala Kantor Departemen
atau kepada atasannya. Kepala sekolah dapat menugaskan kepada stafnya
atau langsung dia sendiri memberi informasi ini kepada masyarakat. Isi
informasi tersebut berkenaan dengan isi laporan tahunan itu. Isi laporan
tahunan tersebut antara lain mencakup kegiatan yang lakukan sekolah
selama satu tahun.

Selanjutnya, Mulyasa (2009:122-123) menguraikan beberapa


strategi yang dapat digunakan untuk menjalin kerjasama antara sekolah
dengan masyarakat adalah sebagai berikut.
1. Melibatkan masyarakat dalam berbagai program dan kegiatan di
sekolah yang bersifat sosial kemasyarakatan seperti bakti sosial,
perpisahan, peringatan hari besar nasional maupun keagamaan, dan
pentas seni pelibatan masyarakat disesuaikan dengan hobi
kemampuan dan pekerjaan mereka dengan program dan kegiatan
yang akan dilakukan sekolah. Kegiatan ini dapat dikemas dalam
program muatan lokal dan pengembangan diri
2. Mengidentifikasi tokoh masyarakat, yaitu orang-orang yang mampu
mempengaruhi masyarakat pada umumnya. Tokoh-tokoh yang
pertama kali harus dihubungi, diajak kompromi, konsultasi, dan di
minta bantuan untuk menarik masyarakat berpartisipasi dalam
program dan kegiatan sekolah.
3. Melibatkan tokoh masyarakat tersebut dalam berbagai program dan
kegiatan sekolah yang sesuai dengan minatnya. Misalnya
olahragawan dapat dilibatkan dalam pembinaan olahraga di sekolah

9
dokter dapat dilibatkan dalam usaha kesehatan sekolah atau Palang
Merah Remaja, psikolog dapat dilibatkan dalam kegiatan bimbingan
dan penyuluhan.
4. Memilih waktu yang tepat untuk melibatkan masyarakat sesuai
dengan kondisi dan perkembangan masyarakat.

D. Manfaat Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat

Hubungan kerjasama sekolah dengan masyarakat akan tumbuh jika


masyarakat juga merasakan manfaat dari keikutsertaannya dalam program
sekolah. Manfaat dapat diartikan luas termasuk rasa diperhatikan dan rasa
puas karena dapat mengembangkan kemampuannya bagi kepentingan
sekolah.

Berikut beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari hubungan sekolah


dengan masyarakat adalah sebagai berikut.
1. Penentuan sumber dan kebutuhan belajar. Kualitas murid dalam arti
bahwa sekolah yang bersangkutan tidak akan kekurangan murid yang
meminatinya sehingga dapat memperoleh murid yang baik serta mampu
mempertahankannya untuk tetap mengikuti pendidikan di sekolah
tersebut.
2. Tersedianya tempat-tempat penelitian. Untuk mengimbangi teori yang
diperoleh di sekolah diperlukaan praktek lapangan. Untuk mendapatkan
praktek ini banyak dijumpai kesulitan-kesulitan bila ternyata sekolah
tersebut kurang mendapat tempat di hati masyarakatnya. Oleh sebab itu
hubungan yang baik dengan masyarakat sangat diperlukan.
3. Pemenuhan sarana dan prasarana. Banyak diantara sekolah-sekolah yang
terbentur pada masalah sarana dan prasarana dalam usaha melayani
pendidikan untuk masyarakatnya. Melalui hubungan baik dengan
masyarakat memungkinkan dapat membantu dalam pemecahan masalah
tersebut.

10
4. Pemenuhan sumber dana dan daya manusia yang terungkap dalam cipta,
rasa, karsa, dan karyanya.

Pendapat lain juga dikemukakan oleh Fuad Ihsan dalam bukunya


Dasar-Dasar Kependidikan menyebutkan bahwa manfaat hubungan timbal
balik antara sekolah dan masyarakat adalah sebagai berikut.
1. Bagi Masyarakat
a. Adanya bantuan tenaga terdidik pada bidangnya, ini ikut
memperlancar pembangunan di lingkungan masyarakat yang
bersangkuta.
b. Masyarakat akan dapat secara terbuka menyatakan realita di
masyarakat tersebut kepada para terdidik yang datang/ada di
lingkungan masyarakat tersebut.
c. Meningkatkan cara berfikir, bersikap dan bertindak yang lebih maju
terhadap program pemerintah di lingkungan masyarakat tersebut.
d. Masyarakat akan lebih mengenal fungsi sekolah untuk pembangunan
bagi mereka sehingga mereka ikut memiliki sekolah tersebut.
e. Masyarakat terdorong untuk makin maju dalam berbagai bidang
kehidupannya, berkat kerjasama antara masyarakat dan sekolah.
2. Bagi Sekolah
a. Sekolah mendapat masukan dalam penyempurnaan
pendidikan/pengajaran/PBM, akibat interaksi sekolah dengan
masyarakat.
b. Memberikan pengalaman langsung dan praktis bagi siswa dalam
berbagai hal.
c. Mendekati masalah secara interdisipliner.
d. Mengerti dan harus tanggap terhadap kebutuhan masyarakat dalam
masa pembangunan ini.
e. Terdorong untuk mengerti lebih banyak dalam berbagai segi
masyarakat.
f. Memanfaatkan nara sumber dari masyarakat.

11
g. Sekolah banyak menerima bantuan dari masyarakat antara lain
pemikiran, dana, sarana dan lain-lain.
h. Memanfaatkan masyarakat sebagai laboratorium yang sesuai dengan
keperluan siswa/mata pelajaran tertentu.

Sedangkan Made Pidarta (1986: 361) menyebutkan secara rinci


manfaat hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat adalah sebagai
berikut.

Bagi Lembaga Pendidikan Bagi Masyarakat


1. Memperbesar dorongan mawas 1. Tahu hal-hal persekolahan
diri. dan inovasinya.
2. Mempermudah memperbaiki 2. Kebutuhan-kebutuhan
pendidikan. masyarakat tentang
3. Memperbesar usaha meningkatkan pendidikan lebih mudah
profesi mengajar. diwujudkan.
4. Konsep mtentang guru/dosen 3. Menyalurkan kebutuhan
menjadi benar. berpartisipasi dalam
5. Mendapatkan koreksi dari pendidikan.
kelompok masyarakat. 4. Melakukan usul-usul
6. Mendapatkan dukungan moral dari terhadap lembaga
masyarakat. pendidikan.
7. Memudahkan meminta bantuan
dan material dari masyarakat.
8. Memudahkan pemakaian media
pendidikan di masyarakat.

12
E. Indikator Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat

Jika hubungan timbal balik sekolah dengan masyarakat sudah terjalin


dengan baik dan harmonis, maka akan memiliki indikator sebagai berikut
(Depdiknas 2006).
1. Sekolah senantiasa menjalin komunikasi yang harmonis dengan orang
tua siswa.
2. Sekolah berusaha melibatkan para orang tua siswa dalam pelaksanaan
program-program sekolah.
3. Prosedur-prosedur untuk melibatkan para orang tua siswa dalam kegiatan
kegiatan sekolah disampaikan secara jelas dan dilaksanakan secara
konsisten.
4. Orang tua siswa di sekolah ini mempunyai kesempatan kesempatan untuk
mengunjungi sekolah guna mengobservasi program pendidikan.
5. Pada pertemuan antara orang tua dengan sekolah, tingkat kehadiran
orang tua siswa tinggi.
6. Ada kerjasama yang baik antara guru dan orang tua siswa, sehubungan
dengan pemantauan pekerjaan rumah (PR).
7. Orang tua dan masyarakat dilibatkan dalam pembuatan keputusan-
keputusan di sekolah.
8. Para guru sering berkomunikasi dengan orang tua siswa tentang
kemajuan siswa dan menunjukkan bidang-bidang keunggulan dan
kelemahannya.
9. Sebagian besar orang tua siswa memahami dan ikut mempromosikan
program pembelajaran sekolah.
10. Masyarakat melalui komite sekolah aktif melaksanakan peran dan fungsi
sesuai aturan.

13
F. Optimalisasi Peran Komite Sekolah Sebagai Penghubung Antara
Sekolah dengan Masyarakat

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud)


Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah menjelaskan bahwa, “Komite
Sekolah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta
didik, komunitas sekolah serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan”.
Melalui lembaga tersebut peran masyarakat akan semakin sentral dalam
pendidikan. Hal tersebut menandakan bahwa keberhasilan dalam
penyelenggaraan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah
pusat, melainkan juga pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan pihak
sekolah, orang tua, dan masyarakat atau stakeholder pendidikan.

Proses pembentukan komite sekolah memang ada yang sudah sesuai


harapan. Bahkan ada yang sudah menerapkan budaya manajemen dengan
kreasi dan inovasi yang membanggakan, sehingga keberadaan Komite
Sekolah benar-benar dirasakan peran dan fungsinya dalam meningkatkan
mutu pendidikan.

Pelaksanaan peran dan fungsi Komite Sekolah ditentukan oleh proses


pembentukannya. Proses pembentukan Komite Sekolah harus menganut tiga
prinsip manajemen modern, yakni: 1) demokratis, 2) transparan dan 3)
akuntabel. Jika proses pembentukan Komite Sekolah sama sekali tidak
menganut ketiga prinsip tersebut, dapat dipastikan bahwa Komite Sekolah
tersebut tidak pernah dapat melaksanakan peran dan fungsinya secara
optimal, bahkan asal terbentuk saja dan ironisnya Komite Sekolah hanya
mengikuti apa yang diinginkan Kepala Sekolah saja (Asal Bapak Senang),
sehingga tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh masyarakat.

Namun, masih banyak pula Komite Sekolah yang belum sepenuhnya


berperan sesuai harapan dan ketentuan yang ada. Komite Sekolah yang
dibentuk belum memiliki kerangka acuan yang dapat dijadikan rambu-rambu
dalam pelaksanaan kegiatan. Belum memiliki program kerja jangka panjang,

14
menengah, dan pendek yang disusun berdasarkan aspirasi orang tua dan
masyarakat, sebagai komponen utama stakeholder pendidikan.

Adapun secara khusus peran Komite Sekolah adalah sebagai berikut :


pemberi pertimbangan, pendukung, pengawas, dan mediator. Keempat fungsi
dan peran Komite Sekolah tersebut, bukan peran yang berdiri sendiri,
melainkan peran yang terkait antara peran satu dan lainnya.
1. Pemberi pertimbangan (Advisory agency)
Komite Sekolah memiliki peran sebagai badan yang memberikan
pertimbangan kepada sekolah atau yayasan dalam perencanaan dan
pelaksanaan kebijakan pendidikan di satuan pendidikan. Status Komite
Sekolah dengan institusi lain dalam lembaga pendidikan bukan dalam
posisi atasan-bawahan, atau subordinasi, karenanya tidak ada garis
komando, namun ini tidak berarti tidak dapat melakukan kordinasi bahkan
kerjasama. Dalam struktur organisasi sekolah garis yang menghubungkan
Komite Sekolah dengan Kepala Sekolah adalah garis konsultatif dan
koordinatif. Fungsi sebagai pemberi pertimbangan atau nasihat (Advisory
agency) menunjukkan respon dan keikutsertaan Komite Sekolah
memajukan dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan di
sekolah.
a. Mengenai program dan kegiatan yang disusun dalam rencana
pembangunan, RKM, serta RKT satuan pendidikan;
b. Pelaksanaan tugas guru, supaya tidak sewenang-wenang dalam
mengatasi siswa;
c. Meningkatkan disiplin guru, dan membantunya mencarikan solusi dari
masalah mereka;
d. Mengembangkan bakat dan minat siswa, sesuai dengan potensi yang
mereka miliki.

2. Pendukung (Supporting agency)


Komite Sekolah memiliki peran sebagai badan yang memberikan
dukungan baik yang terwujud dalam hal finansial, pemikiran, maupun

15
tenaga, ide, gagasan dalam penyelenggaraan pendidikan yang bermutu di
satuan pendidikan. Fungsi ini berkaitan dengan internal manajemen
sekolah, seperti:
a. Mendata guru yang membutuhan pendidikan dan pelatihan, atau
meningkatkan kualifikasi pendidikanya;
b. Mengadakan pelatihan mengenai mata pelajaran;
c. Mendata siswa dan prestasinya, guru dan karyawan;
d. Mendukung program pengayaan, remedial dan kegiatan lain yang
mampu meningkatkan potensi siswa;
e. Menyediakan reward atau hadiah bagi siswa yang telah berprestasi;
f. Meningkatkan kehidupan relegius di sekolah;
g. Pemanfaatan sarana prasarana untuk belajar;
h. Membuat media belajar sesuai dengan kebutuhan;
i. Membuat program percontohan sekolah;
j. Memaksimalkan anggaran operasional sekolah, dan mendorong
penggunaannya sesuai ketentuan yang berlaku.

3. Pengontrol (controlling agency)


Komite Sekolah memiliki peran sebagai badan yang melakukan
pengawasan sosial kepada sekolah dalam rangka transparansi dan
akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan. Pengawasan ini
tidak sebagai pengawasan institusional sebagaimana yang dilakukan oleh
badan pengawas seperti inspektorat, atau Badan Pemeriksa Keuangan,
tetapi lebih memiliki implikasi sosial dan lebih dilaksanakan secara
preventif, seperti ketika sekolah sedang menyusun RAPBM, atau ketika
menyusun laporan pertanggung jawaban kepada masyarakat.

Syaiful Sagala memerinci aktifitas apa saja yang mungkin


dilakukan Komite Sekolah dalam pelaksanaan peran sebagai pengontrol
yang meliputi:
a. Menanyakan proses belajar mengajar (pada guru atau murid) apakah
sudah sesuai dengan standar kompetensi yang diinginkan;

16
b. Menanyakan kondisi kesehatan, gizi dan bakat peserta didik;
c. Memantau pelaksanaan Rencana Kerja Tahunan maupun
d. Rencana Kerja Sekolah;
e. Turut serta dalam penyusunan RKM dan RKT;
f. Ikut memantau penggunaan anggaran yang bersumber dari
g. Bantuan Operasional Sekolah/sekolah;
h. Ikut serta dalam pembagian rapot;
i. Mengontrol kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan lainnya;
j. Mengontrol pelaksanaan PBM dengan menggunakan kartu data sesuai
dengan perlindungan anak, cara mengajar guru.

4. Penghubung (Mediator agency)


Komite Sekolah memiliki peran sebagai mediator yang
menjembatani hubungan antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat.
Pada lembaga pendidikan swasta keberadaan Komite Sekolah akan
menjadi tali pengikat persaudaraan antara sekolah dan orang tua atau
masyarakat. Fungsi komite Sekolah sebagai mediator ini oleh Syagala
dapat diwujudkan dalam kegiatan sebagai berikut :
a. Menghubungkan sekolah dengan instansi pemerintah;
b. Menghubungi orang tua siswa yang mampu untuk meminta
kesediaannya menjadi donator atau penyumbang dana yang diperlukan
untuk kegiatan memajukan pendidikan sekolah;
c. Mencari informasi yang terkait dengan pengembangan dan peningkatan
mutu pendidikan di sekolah;
d. Memberi laporan kepada masyarakat tentang penggunaan keuangan dan
pelaksanaan program di satuan pendidikan tersebut.

Adapun fungsi komite sekolah sebenarnya merupakan penjabaran


dari peranan komite sekolah tersebut. Artinya satu peran komite sekolah
terkait dengan fungsi komite sekolah sebagai berikut:
a. Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada satuan
pendidikan mengenai: (1) kebijakan dan program pendidikan, (2)

17
RAPBS, (3) kriteria tenaga kependidikan, (4) kriteria fasilitas
pendidikan, dan (6) hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan.
b. Mendorong orang tua dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam
pendidikan.
c. Menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan
penyelenggaraan pendidikan.
d. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakaat terhadap
penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
e. Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap kebijakan, program,
penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan.
f. Melakukan kerjasama dengan masyarakat.
g. Dalam melaksanakan keempat fungsi dan perannya tersebut
h. Komite Sekolah harus berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan,
bukan sekedar menyalurkan kehendak pribadinya, dan pelaksanaannya
harus sesuai dengan etika dan aturan yang berlaku, dan tidak melebihi
batasan tugas dan kewenangannya.

Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 Pasal


56 ayat 188 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan
menjelaskan, bahwa komite sekolah memiliki peran dan fungsi sebagai
berikut: (1) komite sekolah/sekolah berfungsi dalam peningkatan mutu
pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan
dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada
tingkat satuan pendidikan; (2) komite sekolah/sekolah menjalankan fungsinya
secara mandiri dan profesional; (3) komite sekolah/sekolah memperhatikan
dan menindaklanjuti terhadap keluhan, saran, kritik, dan aspirasi masyarakat
terhadap satuan pendidikan; (4) komite sekolah/sekolah dibentuk untuk 1
(satu) satuan pendidikan atau gabungan satuan pendidikan formal pada
jenjang pendidikan dasar dan menengah; (5) satuan pendidikan yang memiliki
peserta didik kurang dari 200 (dua ratus) orang dapat membentuk komite
sekolah/sekolah gabungan dengan satuan pendidikan lain yang sejenis; (6)

18
komite sekolah/sekolah berkedudukan di satuan pendidikan; (7) pendanaan
komite sekolah/sekolah dapat bersumber dari: pemerintah, pemerintah daerah,
masyarakat, bantuan pihak asing yang tidak mengikat, dan/atau sumber lain
yang sah.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa tujuan dibentuknya komite


adalah untuk mewadahai partisipasi para stakeholder agar turut serta dalam
operasional manejemen sekolah sesuai peran dan fungsinya, berkenang
dengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program sekolah secara
proporsional, sehingga Komite Sekolah dapat menjadi jembatan penghubung
antara sekolah dan masyarakat agar dapat memberdayakan masyarakat dalam
mendukung peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

Pada hakikatnya Komite Sekolah ini dibentuk untuk membantu


menyukseskan kelancaran pelaksanaan program-program sekolah.
Dibentuknya Komite Sekolah terutama dalam kaitannya dengan masalah
relevansi pendidikan, agar apa yang dilaksanakan di sekolah sejalan dengan
perkembangan masyarakat.

Keberadaan lembaga Komite Sekolah yang telah mendapat legalitas


dari pemerintah cukup lama seharusnya mampu memenuhi harapan
masyarakat yang tinggi akan terwujudnya pendidikan yang bermutu dan
meningkatnya community based education. Pada sekolah-sekolah negeri,
Komite Sekolah boleh dikatakan lebih eksis karena penyelenggaraan
pendidikan dan pembiayaannya lebih banyak dari pemerintah, sehingga
independensi peran Komite Sekolah lebih terjaga.

Oleh karena itu, keberadaan komite harus benar-benar diberdayakan di


setiap sekolah. Jika organisasi komite sudah berjalan optimal sesuai fungsi
dan perannya, ia akan benar-benar memberikan manfaat yang besar terhadap
sekolah.

19
Dari beberapa uraian tesebut di atas, jelas terlihat bahwa pada hakekatnya
hubungan antara lembaga pendidikan dan masyarakat sangatlah bersifat korelatif,
saling mendukung satu sama lain. Lembaga maju karena adanya dukungan dari
masyarakat dan masyarakat bisa maju karena adanya pendidikan yang memadai.
Karena bagaimanapun juga setiap peserta didik pasti akan terjun ke masyarakat.

Oleh sebab itulah, peran aktif masyarakat dalam memajukan pendidikan


akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan masa depan. Dengan
demikian, tujuan nasional yaitu mencerdasakan kehidupan bangsa dan
memeratakan pendidikan dengan sistem Wajar (wajib belajar 9 Tahun) akan
berhasil dan menghasilkan out put yang bermutu dan siap terjun di masyarakat
dengan berbagai tantangan yang ada di dalamnya.

Akhirnya kita berharap, dengan adanya hubungan kerjasama yang baik


antara lembaga pendidikan dan masyarakat dapat melahirkan keluaran yang
bermutu sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pembangunan, baik
dalam konteks lokal, nasional maupun global.

20
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada bagian sebelumnya, maka dapat dirumuskan


beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Lembaga pendidikan adalah suatu lembaga yang dibentuk untuk
mencapai tujuan tertentu, yaitu transfer ilmu pengetahuan dan budaya
kepada individu untuk mengubah tingkah laku seseorang menjadi lebih
dewasa dan memperoleh kehidupan yang lebih baik di masa depan;
2. Hubungan sekolah dengan masyarakat adalah suatu proses komunikasi
antara sekolah dengan masyarakat untuk berusaha menanamkan
pengertian warga masyarakat tentang kebutuhan dari karya pendidikan
serta pendorong minat dan tanggung jawab masyarakat dalam usaha
memajukan sekolah;
3. Hubungan kerjasama sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk saling
membantu, serta mengisi dan menggalang bantuan keuangan, bangunan,
barang, maupun sumbangsih pemikiran antara keduanya demi
peningkatan mutu pendidikan;
4. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk menjalin hubungan antara
lembaga pendidikan dengan masyarakat adalah dengan melibatkan peran
masyarakat dengan mengidentifikasi tokoh-tokoh masyarakat yang
dianggap mampu untuk membantu sekolah dalam berbagai kegiatan atau
program-program sekolah. Selain itu, sekolah harus membuka akses
informasi seluas-luasnya kepada masyarakat terkait program-program di
sekolah;
5. Hubungan kerjasama sekolah dengan masyarakat akan tumbuh jika
masyarakat juga merasakan manfaat dari keikutsertaannya dalam
program sekolah. Manfaat dapat diartikan luas termasuk rasa
diperhatikan dan rasa puas karena dapat mengembangkan

21
kemampuannya bagi kepentingan sekolah. Apabila terjalin hubungan
yang baik antara keduanya, maka apa yang diharapkan oleh sekolah
maupun masyarakat dapat terwujud yaitu lembaga pendidikan mampu
menciptakan output yang bermutu. Manfaat tersebut tidak hanya
berdampak positif bagi citra sekolah, namun masyarakat juga ikut
menikmatinya.
6. Indikator dari adanya hubungan timbal balik antara sekolah dengan
masyarakat dapat dilihat dari terjalinnya hubungan yang baik dan
harmonis antara keduanya serta tingkat partisipasi masyarakat terhadap
kegiatan atau program-program sekolah cukup tinggi.
7. Optimalisasi peran Komite Sekolah dalam upaya peningkatan mutu
pendidikan meliputi: sebagai pemberi pertimbangan (advicory agency)
dalam setiap keputusan dan kebijakan sekolah, pemberi dukungan
(supporting agency) terhadap program-program sekolah, pengawas
(controllyng agency) terhadap pelaksanaan program-program sekolah,
dan sebagai penghubung (mediator agency) antara sekolah dan
masyarakat maupun instansi lain.
8. Keberadaan komite harus benar-benar diberdayakan di setiap sekolah.
Jika organisasi komite sudah berjalan optimal sesuai fungsi dan
perannya, ia akan benar-benar memberikan manfaat yang besar terhadap
sekolah.

B. Saran

Demikianlah makalah ini kami buat, semoga dengan adanya makalah


ini dapat memberi manfaat kepada pembaca dalam memahami konsep
hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat. Jika pembahasan kami
belum lengkap, kami mohon kritikan dan saran yang membangun dari
pembaca untuk perbaikan tugas-tugas kami selanjutnya. Wassalam...

22
DAFTAR PUSTAKA

Dosen Pendidikan. (2019) Lembaga Pendidikan – Pengertian, Tujuan, Contoh,


Ciri, Konsep Dan Gambarnya. Diakses 29 April 2020 dari
https://www.dosenpendidikan.co.id/lembagapendidikan/#Pengertian_Lemba
ga_Pendidikan_Menurut_Para_Ahli.html.

Masyarakat Belajar. (2010) Manfaat Humas Pendidikan di Sekolah. Diakse 29


April 2020 dari
https://masyarakatbelajar.wordpress.com/2010/12/21/manfaat-humas
pendidikan-di-sekolah/.

Mulyasa, E. 2009. Implementasi Kurikulum Tigkat Satuan Pendidikan:


Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang


Pengelolaan Dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 75 Tahun 2016 tentang


Komite Sekolah. Staff UGM. Diakses 29 April 2020 dari
(http://luk.staff.ugm.ac.id/atur/bsnp/Permendikbud75
2016KomiteSekolah.pdf).

Sri Renani Panjastuti dkk, Komite Sekolah, Sejarah dan Prospeknya di Masa
Depan, Hikayat Publishing, Yogyakarta, 2008, hlm.81.

Suryobroto, B. 2012 , Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat, Jakarta: Rineka


Cipta.

Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan,


Alfabeta, Bandung, cet.III, 2011, hlm. 259.

23
Syawalir (2018). Komite Sekolah Dan Manfaatnya. Diakse 26 April 2020 dari
http://www.dawainews.com/?p=2186 Komite Sekolah Dan Manfaatnya
https://kbbi.web.id/masyarakat.

Wikipedia. (2018). Daftar Definisi Hubungan Masyarakat. Diakses 29 April 2020


dari http://www.definisi-pengertian.com/2015/07/pengertian-hubungan
masyarakat.html.

24