Anda di halaman 1dari 10

PENGAUDITAN I

PERISTIWA KEMUDIAN

OLEH :

NI PUTU IKA WAHYUDIANA PUTRI 1807531127 / 09

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA
2020

PEMBAHASAN

Peristiwa kemudian (Subsequent Event) adalah peristiwa sesudah tanggal neraca yang
diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) SA Seksi 560 (PSA No. 46) tentang
Peristiwa Kemudian serta Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 8 (Revisi 2003)
tentang Peristiwa Setelah Tanggal Neraca. Standar audit (SA) 560 – Peristiwa Kemudian,
mendefinisikan peristiwa kemudian sebagai “peristiwa yang terjadi di antara tanggal laporan
keuangan dan tanggal laporan auditor, dan fakta yang diketahui oleh auditor setelah tanggal
laporan auditor”

Dalam periode peristiwa kemudian (subsequent period) banyak kerangka laporan


keuangan secara khusus merujuk pada peristiwa tersebut. Sebagai contoh, Standar Akuntansi
Keuangan (SAK) 10, “Peristiwa Setelah Tanggal Neraca” berhubungan dengan perlakuan dalam
laporan keuangan atas peristiwa, baik yang menguntungkan maupun yang tidak menguntungkan,
yang terjadi antara tanggal laporan keuangan (sama dengan tanggal posisi keuangan dalam SAK)
dan tanggal yang pada saat itu laporan keuangan disetujui untuk diterbitkan.

ISA 560 alenia 4 memerinci tujuan auditor dalam mengaudit peristiwa kemudian, yakni untuk :

 Memperoleh bukti yang cukup dan tepat tentang apakah peristiwa yang terjadi antara
laporan keuangan dan tanggal laporan auditor yang mengharuskan penyesuaian atau
pengungkapan dalam laporan keuangan, secara tepat telah digambarkan dalam laporan
keuangan tersebut sesuai dengan keranga laporan keuangan yang berlaku; dan
 Merespon secara tepat fakta yang diketahui oleh auditor setelah tanggal laporan auditor,
yang mana jika diketahui oleh auditor pada tanggal tersebut, kemungkian menyebabkan
auditor mengubah (amed) laporan auditnya.

ISA 560 alinea 5 memberikan beberapa definisi sebagai berikut :

 Date of the financial statements (tanggal laporan keuangan)


Tanggal terakhir dalam periode yang dicakup oleh laporan keuangan.
 Date of approval of the financial statements (tanggal persetujuan atas laporan
keuangan)
Tanggal pada waktu seluruh laporan keuangan, termasuk catatan atas laporan keuangan,
selesai dibuat dan mereka yang bertanggung jawab atas laporan keuangan tersebut
memberikan persetujuannya.
 Date of the auditor's report (tanggal laporan auditor)
Tanggal yang dibubuhkan auditor pada laporannya atas laporan keuangan sesuai dengan
ISA 700.
 Date the financial statements are issued (tanggal diterbitkannya laporan keuangan)
Tanggal pada waktu laporan auditor dan laporan keuangan yang diaudit tersedia untuk
pihak ketiga.
 Subsequent events (peristiwa kemudian)
Peristiwa antara tanggal laporan keuangan dan tanggal laporan auditor dan fakta yang
diketahui auditor sesudah tanggal laporan auditor.

Gambar 1
Periode yang Tercakup dalam Review Terhadap Peristiwa Kemudian

Tanggal akhir neraca Tanggal klien menerbitkan


Audit report date
klien laporan keuangan

31-12-07 11-3-08 26-3-08


Periode dimana review terhadap Periode untuk
peristiwa kemudian dilakukan memproses laporan
keuangan

Auditor bertanggung jawab untuk mereview peristiwa selanjutnya yang terjadi antara
tanggal 31-12-07 dan 11-3-08 tetapi tidak untuk peristiwa setelah tanggal pelaporan
audit. Kebanyakan prosedur audit terhadap peristiwa dilakukan berdekatan dengan
tanggal pelaporan audit.

PERISTIWA KEMUDIAN SAMPAI TANGGAL LAPORAN AUDITOR


Dibawah ini disajikan beberapa contoh peristiwa kemudian yang terjadi diantara tanggal laporan
keuangan dan tanggal laporan auditor :
 Komitmen baru/tambahan dalam bidang keuangan seperti peminjaman, penjaminan,
restrukturisasi
 Penjualan dan akusisi aset yang direncanakan atau telah terjadi
 Peningkatan modal atau penerbitan instrumen uang
 Perjanjian untuk penggabungan atau pembubaran usaha
 Penyitaan aset oleh lembaga keuangan, penegak hukum, atau hancur karena bencana
 Litigasi, tuntutan hukum lainnya, dan berbagai contigencies
 Jurnal penyesuaian yang luar biasa yang sudah direncanakan atau akan dibuat
 Setiap peristiwa yang sudah atau sangat mungkin akan terjadi yang menimbulkan
keraguan mengenai asumsi kesinambungan usaha (unusual accounting adjustments) atau
keraguan terhadap penggunaan kebijakan lainnya.
 Setiap peristiwa yang relevan untuk mengukur estimasi atau penyisihan (provisions)
dalam laporan keuangan.
 Setiap peristiwa yang relevan dengan recoverability of assets.
PEMBERIAN DUA TANGGAL (Dual Dating)
Peristiwa kemudian yang diketahui sesudah tanggal laporan auditor seringkali
menyebabkan pekerjaan audit tambahan yang diperlukan karena peristiwa kemudian itu
berdampak pada saldo akun, estimasi akuntansi, penyisihan, dan berbagai pengungkapan dalam
laporan keuangan. Dalam situasi seperti itu, laporan auditor yang baru akan diterbitkan. Laporan
baru ini tidak diberi tanggal lebih awal dari tanggal persetujuan laporan keuangan.
Namun, untuk peristiwa kemudian tertentu, pekerjaan audit tambahan dapat dibatasi hanya
pada perubahan laporan keuangan seperti dijelaskan dalam catatan atas laporana keuangan
terkait. Dalam situasi ini (jika ketentuan perundang-undangan memperbolehkannya), tanggal
laporan auditor semula. Akan tetapi, suatu tanggal baru ditambahkan,sehingga ada dua tanggal
laporan auditor. Pemberian dua tanggal (dual dating) menginformasikan kepada pembaca bahwa
prosedur audit sesudah laporan tanggal laporan auditor semula terbatas pada perubahan yang
dibuat kemudian.
TIPE-TIPE PERISTIWA KEMUDIAN
Terdapat dua jenis peristiwa kemudian (subsequent event) yang memerlukan pertimbangan
manajemen dan evaluasi auditor yaitu :
1) Peristiwa yang Memiliki Dampak Langsung Terhadap Laporan Keuangan dan
Memerlukan Penyesuaian
Beberapa peristiwa yang muncul setelah tanggal neraca menyediakan informasi
tambahan terhadap manajemen yang membantu mereka menentukan penyajian yang
wajar dari saldo akun pada tanggal neraca. Informasi mengenai peristiwa tersebut
membantu auditor dalam memverifikasi saldo. Sebagai contoh, jika auditor mengalami
kesulitan dalam menentukan penilaian persedian yang benar karena keusangan, penjualan
material tersebut sebagai bahan bekas di periode berikutnya menunjukkan nilai
persediaan yang benar pada tanggal neraca.
Peristiwa periode kemudian, seperti berikut ini, memerlukan penyesuaian terhadap saldo
akun pada laporan keuangan tahun ini jika jumlahnya material :
 Pernyataan kebangkrutan oleh pelanggan dengan saldo piutang usaha yang beredar
karena kondisi keuangan pelanggan yang memburuk.
 Penyelesaian tuntutan hukum dengan jumlah yang berbeda dari jumlah yang dicatat
dalam pembukuan.
 Penyingkiran peralatan yang tidak digunakan dalam operasi dengan harga di bawah
nilai buku saat ini.
 Penjualan investasi dengan harga di bawah biaya yang tercatat.

Ketika peristiwa kemudian digunakan untuk mengevaluasi jumlah yang


dimasukkan dalam laporan keuangan akhir tahun, auditor harus membedakan antara
kondisi yang terjadi pada tanggal neraca dan kondisi yang muncul setelah akhir dari
tahun. Informasi selanjutnya seharusnya tidak dimasukkan secara langsung ke dalam
laporan jika kondisi yang menyebabkan perubahan dalam penilaian terjadi setelah akhir
tahun. Sebagai contoh, asumsikan satu jenis persediaan klien tiba-tiba menjadi usang
karena perubahan teknologi setelah tanggal neraca. Penjualan persediaan dengan
kerugian di periode selanjutnya tidak relevan dalam penilaian persediaan untuk
keusangan dalam kasus ini.

PCAOB Standard 2 mengharuskan auditor perusahaan publik untuk mengajukan


pertanyaan mengenai dan mempertimbangkan setiap informasi mengenai peristiwa
kemudian yang secara material mempengaruhi efektivitas pengendalian internal terhadap
pelaporan keuangan pada akhir periode fiskal. Jika auditor menyimpulkan bahwa
peristiwa merefleksikan kelemahan yang material terjadi pada akhir tahun, mereka harus
memberikan pendapat tidak wajar atas pengendalian internal terhadap pelaporan
keuangan. Jika mereka tidak mampu atas menentukan dampak dari peristiwa kemudian
terhadap efektivitas pengendalian internal, mereka harus menolak memberikan pendapat
terhadap pengendalian internal.

Contoh peristiwa yang memiliki dampak langsung terhadap laporan keuangan dan
memerlukan penyesuaian adalah :

a. Kerugian akibat piutang tak tertagih yang disebabkan oleh adanya pelanggan
yang mengalami kesulitan keuangan dan menuju ke kebangkrutan setelah tanggal
neraca; atau
b. Penyelesaian tuntutan hukum yang jumlahnya berbeda dengan jumlah utang yang
sudah dicatat dalam laporan akhir tahun.

Peristiwa kemudian memengaruhi realisasi aktiva atau penyelesaian estimasi kewajiban


yang biasanya memerlukan penyesuaian terhadap laporan keuangan.

2) Peristiwa yang Tidak Memiliki Dampak Langsung Terhadap Laporan Keuangan


Tetapi Memerlukan Pengungkapan
Peristiwa kemudian jenis ini menyediakan bukti dari kondisi yang tidak ada pada
tanggal neraca dilaporkan tetapi sangat signifikan sehingga peristiwa ini memerlukan
pengungkapan walau tidak memerlukan penyesuaian akun. Pada umumnya, peristiwa
tersebut dapat diungkapkan secara memadai dengan menggunakan catatan kaki, akan
tetapi kadang-kadang, suatu peristiwa mungkin sedemikian signifikan sehingga
memerlukan pengungkapan dalam laporan keuangan tambahan yang memasukkan
dampak dari peristiwa seperti jika peristiwa tersebut muncul pada tanggal neraca.
Contohnya adalah merger yang sangat material.
Peristiwa atau transaksi yang muncul di periode selanjutnya yang mungkin memerlukan
pengungkapan pengungkapan dan bukan penyesuaian di laporan keuangan termasuk :
 Penurunan dalam nilai pasar sekuritas yang dipegang untuk investasi sementara atau
atau untuk dijual kembali.
 Penerbitan obligasi atau sekuritas.
 Penurunan dalam nilai pasar dari persediaan sebagai konsekuensi dari tindakan
pemerintah yang menghalangi penjualan lebih lanjut dari suatu produk.
 Kerugian persediaan yang yang tidak diasuransikan akibat dari kebakaran.
 Merger atau akuisisi.

Contoh peristiwa yang tidak memiliki dampak langsung terhadap laporan keuangan
tetapi memerlukan pengungkapan meliputi :

 Pembelian atau penghapusan bisnis oleh entitas


 Penjualan obligasi atau penerbitan saham baru oleh entitas
 Kerugian fasilitas atau aktiva tetap entitas akibat bencana seperti kebakaran atau
banjir
 Kerugian piutang yang diakibatkan oleh kondisi (seperti penyebab utama
kebangkrutan pelanggan) yang terjadi setelah tanggal neraca.

PROSEDUR AUDIT ATAS PERISTIWA DAN FAKTA SESUDAH TANGGAL NERACA

1) Peristiwa yang Terjadi antara Tanggal Laporan Keuangan


"Auditor harus melaksanakan prosedur audit yang dirancang untuk memperoleh bukti
audit yang cukup dan tepat, bahwa seluruh peristiwa yang terjadi antara tanggal laporan
keuangan dan tanggal laporan auditor yang mengharuskan penyesuaian atau
pengungkapan dalam laporan keuangan, telah diidentifikasi. Namun, auditor tidak
diharapkan untuk melakukan prosedur audit tambahan atas hal-hal yang mana prosedur
audit yang sebelumnya diterapkan telah menyediakan kesimpulan yang memadai".
Auditor harus mempertimbangkan penilaian risiko auditor dalam menetapkan sifat dan
luas prosedur audit, yang harus mencakup hal-hal sebagai berkut :
a. Memperoleh suatu pemahaman tentang prosedur yang telah ditetapkan oleh
manajemen untuk memastikan bahwa peristiwa kemudian teridentifikasi.
b. Meminta keterangan dari manajemen dan, jika relevan, pihak yang
bertanggungiawab atas tata kelola, tentang peristiwa kemudian yang telah terjadi
yang mungkin memergaruhi laporan keuangan.
c. Membaca risalah rapat, jika ada, tentang pemilik, manajemen, dan pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola entitas, yang rapat tersebut diadakan setelah
tanggal laporan keuangan dan meminta keterangan tentang hal-hal yang dibahas
dalam rapat tersebut yang risalah hasil rapatnya belum tersedia.
d. Membaca laporan keuangan interim terakhir entitas, jika ada.
2) Fakta yang Diketahui oleh Auditor setelah Tanggal Laporan Auditor namun
Sebelum Tanggal laporan Keuangan Diterbitkan
Auditor tidak memilki kewajiban untuk melakukan prosedur audit atas laporan keuangan
setelah tanggal laporan auditor. Namun, jika setelah tanggal laporan auditor tetapi
sebelum tanggal laporan keuangan diterbitkan, suatu fakta ditemukan oleh auditor yang
mungkin menyebabkan auditor mengubah laporan auditnya jika fakta tersebut telah
diketahui auditor pada tanggal laporan auditor, maka auditor harus :
a. Membahas hal tersebut dengan manajemen dan, jika relevan, dengan pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola;
b. Menentukan apakah laporan keuangan tersebut memerlukan suatu perubahan dan
jika demikian;
c. Meminta keterangan bagaimana manajemen akan memperlakukan hal tersebut
dalam laporan keuangan.

Paragraf 11 SA 560 menyatakan bahwa jika manajemen mengubah laporan keuangan,


maka auditor harus :

a. Melaksanakan prosedur audit yang diperlukan dalam kondisi atas perubahan


tersebut
b. Kecuali jika kondisi yang tertera dalam paragraf 12 terjadi :
 Memperluas prosedur audit yang disebutkan dalam paragraf 6 dan 7
sampai pada tanggal auditor baru; dan
 Menyediakan suatu laporan auditor baru atas laporan keuangan yang
sudah diubah. Laporan auditor yang baru tidak dapat diberi tanggal lebih
awal daripada tanggal persetujuan atas laporan keuangan.

Paragraf 12 SA 560 menyatakan bahwa bilamana peraturan perundang-undangan atau


kerangka pelaporan keuangan tidak melarang manajemen untuk membatasi perubahan
atas laporan keuangan yang disebabkan oleh pengaruh peristiwa kemudian atau peristiwa
yang menyebabkan perubahan dan pihak yang beranggungiawab untuk menyetujui
laporan keuangan tidak dilarang untuk membatasi persetujuan terhadap perubahan yang
bersangkutan, maka auditor dizinkan untuk membatasi prosedur audit atas peristiwa
kemudian yang disyaratkan pada paragraf 11(b)(i) berkaitan dengan perubahan tersebut.
Dalam kasus seperti ini, auditor harus :

a. Mengubah laporan auditor dengan memasukkan tanggal tambahan yang dibatasi


sampai dengan perubahan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa prosedur auditor
untuk peristiwa kemudian hanya dibatasi pada perubahan atas laporan keuangan
yang digambarkan dalam catatan atas laporan keuangan yang relevan; atau
b. Menyajikan suatu laporan auditor baru atau laporan auditor yang diubah yang
meliputi suatu pernyataan dalam suatu paragraf penekanan suatu hal atau paragraf
hal lain yang menyampaikan bahwa prosedur audit atas peristiwa kemudian hanya
terbatas untuk perubahan pada laporan keuangan seperti yang dijelaskan dalam
catatan atas laporan keuangan yang relevan.
3) Fakta yang Diketahui oleh Auditor setelah Laporan Keuangan Diterbitkan
Setelah laporan keuangan diterbitkan, auditor tidak memiliki kewajiban untuk melakukan
prosedur audit atas laporan keuangan tersebut. Namun, jika, setelah laporan keuangan
diterbitkan, suatu fakta diketahui oleh auditor pada tanggal laporan auditor, mungkin
dapat menyebabkan auditor mengubah laporan auditnya, maka auditor harus :
a. Membahas hal tersebut dengan manajemen dan, jika relevan, dengan pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola,
b. Menentukan apakah laporan keuangan memerlukan perubahan dan, jika demikian,
c. Meminta keterangan bagaimana manajemen bermaksud untuk menyelesaikan hal
tersebut dalam laporan keuangan.

Jika manajemen mengubah laporan keuangan, maka auditor harus :

a. Melaksanakan prosedur audit yang cipertukan dalam kondisi atas perubahan


tersebut.
b. Menelaah tahap-tahap yang dilakukan oleh manajemen untuk memastikan bahwa
setiap pihak yang mererima laporan keuangan yang diterbitkan sebelumnya
bersamaan dengan laporan auditor, diberi informasi tentang situasi tersebut.
c. Kecuali jika kondisi dalam paragraf 12 berlaku :
 Memperuas prosedur audit yang disebutkan dalam paragraf 6 dan 7
sampai pada tanggai laporan auditor baru, dan tanggal laporan auditor
baru tidak lebin awal daripada tanggal persetujuan atas perubahan laporan
keuangan;
 Menyerankan laporan auditor baru atas laporan keuangan yang diubah.
d. Ketika kondisi dalam paragraf 12 terjadi, ubah laporan auditor, atau serahkan
laporan auditor baru seperti yang disyaratkan oleh paragraf 12.

Auditor harus memasukkan dalam laporan auditor baru atau yang diubah, suatu
paragraf penekanan atas suatu hal atau paragraf hal-hal lain, dengan berpedoman pada
suatu catatan atas laporan keuangan yang lebin intensif membahas alasan perubahan atas
laporan kerangan yang diterbitkan sebelumnya dan laporan yang diserahkan sebelumnya
oleh auditor.

Jika manajemen tidak mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk


memastikan bahwa setiap pihak yang menerima laporan keuangan yang diterbitkan
sebelumnya sudah diberitahu tentang situasi tersebut dan juga tidak mengubah laporan
keuangan dalam kondisi yang auditor yakin bahwa laporan keuangan tersebut perlu
diubah, auditor harus memberitahu manajemen dan, jika relevan, pihak yang
bertanggungjawab atas tata kelola, bahwa auditor akan berusaha untuk mencegah
pengguna meletakkan kepercayaan masa depan terhadap laporan auditor tersebut. Jika,
meskipun dengan pemberitahuan tersebut, manajemen atau pihak yang bertanggungiawab
atas tata kelola tidak mengambil langkah-langkah yang diperlukan tersebut, auditor harus
mengambil tindakan yang tepat untuk mencegah pengguna meletakkan kepercayaan
terhadap laporan