Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH BIOLOGI

PEMBELAHAN SEL

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 3

 YUYUN SUKAWATI RUSMA [H031171005]


 ISHAR [H031171006]
 LULU SRI RAHAYU [H031171007]
 AIDUL [H031171008]

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena atas ridho-Nya lah
makalah yang berjudul Pembelahan Sel ini dapat terselesaikan. Shalawat dan
salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Serta para
pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini. Adapun tujuan dalam
penyusunan makalah ini agar dapat menjadi rujukan untuk mempelajari tentang
pembelahan sel, sekaligus sebagai pelengkap tugas kelompok biologi kami.
Di dalam makalah ini, kami membahas pembagian pembelahan sel, beserta
definisi, tujuan, proses, fungsi, dan hasilnya masing-masing dari setiap
pembelahan. Selain itu, kami menambah sedikit materi tentang gametogenesis
pada hewan dan tumbuhan.
Dalam penulisan makalah ini kami mencoba semaksimal mungkin dalam
penyusunannya. Namun tidak ada gading yang tak retak, begitupun dengan
makalah ini, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca guna memperbaiki makalah sederhana ini.
Semoga makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan, wawasan
mengenai materi pembelahan sel.

Tamalanrea, 8 September 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

SAMPUL ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 1
C. Tujuan  ........................................................................................... 1
D. Manfaat  ......................................................................................... 2
BAB II. PEMBAHASAN
A. Pembelahan Sel ............................................................................. 3
B. Gametogenesis pada Hewan dan Tumbuhan ................................ 12
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................. 16
B. Saran ............................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 17

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam masa pertumbuhan, tubuh kita bertambah besar dan tinggi. Begitu
juga dengan hewan dan tumbuhan. Mengapa dalam pertumbuhan tubuh mahluk
hidup dapat bertambah besar dan tinggi? Sel-sel penyusun mahluk hidup
mengalami pembelahan sehingga bertambah banyak. Pertambahan jumlah sel
inilah yang menyebabkan tubuh bertambah besar dan tinggi. Pembelahan sel juga
tidak hanya terjadi pada saat pertumbuhan. Ketika sel-sel dalam jaringan tubuh
kita rusak, misalnya ketika kulit terluka, sel-sel pada jaringan tersebut juga akan
melakukan pembelahan untuk memperbaiki jaringan yang rusak.
Sel yang membelah disebut sebagai sel induk dan turunanya disebut sel
anakan. Sel induk memiliki sejumlah kromosom yang berisi informasi genetik.
Pada pembelahan sel, sel induk memindahkan salinan informasi genetik yang
terdapat di dalam kromosom kepada sel anakan yang menjadi sel generasi
berikutnya. Dari pembelahan sel inilah kita memperoleh penurunan sifat-sifat dari
kedua orang tua kita. Begitu juga dengan hewan dan tumbuhan. Sifat-sifat yang
tampak merupakan penurunan dari sifat induknya.
Agar pembelahan sel dapat dipahami dalam kaitannya dengan pertumbuhan,
perkembangan, dan reproduksi hewan dan tanaman maka perlu dikaji
pengetahuan tentang proses pembelahan sel secara amitosis, mitosis, dan meiosis.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses pembelahan sel secara amitosis, mitosis, dan meiosis?
2. Apa perbedaan antara pembelahan mitosis dan meiosis?
3. Bagaimana proses gametogenesis pada hewan dan tumbuhan?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tahap- tahap  pembelahan sel secara amitosis, mitosis,
dan meiosis.
2. Untuk memahami proses pembelahan sel yang terjadi.

1
3. Untuk mengetahui proses gametogenesis pada hewan dan tumbuhan.
D. Manfaat
1. Dapat mengetahui pembelahan sel prokariotik dan sel eukariotik.
2. Dapat mengetahui pembelahan sel secara amitosis, mitosis, dan meiosis.
3. Dapat mengetahui siklus sel.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pembelahan Sel
1. Amitosis
Pada pembelahan amitosis, inti terpecah menjadi dua bagian dan
biasanya tidak diikuti oleh pembagian sitosom. Amitosis jarang terjadi, dan
hanya ditentukan pada sel-sel khusus yang berspesialisasi atau sel yang
sedang berdegenerasi. Sel yang berspesialisasi itu contohnya pada sel yang
sedang mengalami proses subdivisio nuklear, menghasilkan anak inti pada
permukaan inti yang asli. Proses itu berlangsung pada proses pembagian inti
dan menghasilkan sel yang berinti banyak, sehingga proses itu jarang
tersangkut dengan reproduksi sel. Amitosis juga terjadi pada makhluk-
makhluk bersel satu seperti misalnya amoeba.
2. Mitosis
a. Tahap Interfase
Pada tahap interfase, sel dianggap istirahat dari proses pembelahan.
Meskipun demikian, sebenarnya tahap interfase merupakan tahap yang
aktif dan penting untuk mempersiapkan pembelahan. Persiapan berupa
replikasi DNA (melipatgandakan DNA dari satu salinan menjadi dua
salinan). Pada umumnya, sebagian besar waktu hidup sel berada pada
tahap ini. Selanjutnya interfase dibagi lagi ke dalam fase gap-1 (G1), fase
sintesis (S), dan fase gap-2 (G2).
Berikut fase-fasenya,
1) Fase Gap-1 (G1)
Pada fase G1 sel-sel belum mengadakan replikasi DNA,
sehingga DNA masih berjumlah 1 salinan (1c = 1 copy = salinan)
dan bersifat diploid (2n).

3
1) Fase Sintesis (S)
Pada fase S DNA dalam inti mengalami replikasi
(penggandaan jumlah salinan) sehingga pada fase sintesis
akhirnya menghasilkan 2 salinan DNA dan bersifat diploid
(2c,2n).
2) Fase Gap-2 (G2)
Pada fase G2 replikasi DNA telah selesai, dan sel bersiap-
siap mengadakan pembelahan.
b. Tahap Kariokinesis
Kariokinesis adalah tahap pembelahan inti sel. Tahap ini terdiri dari
fase atau tahap-tahap yang lebih rinci sebagai berikut :
1) Profase
Pada tahap profase, DNA mulai dikemas atau dipaket menjadi
kromosom. Kromosom merupakan struktur terpadat dari kemasan
DNA. DNA perlu dikemas ke dalam kromosom. Profase merupakan
tahap paling lama dalam mitosis.
Pada proses awal, kromosom mulai tampak lebih pendek serta
menebal. Pada sel hewan, sentriol membelah dan masing-masing
bergerak ke kutub yang berlawanan pada nukleus.
Selanjutnya terbentuk benang-benang spindel (benang
mikrotubul) yang terhubung dari kutub ke kutub. Pada sel tumbuhan,
tidak terdapat sentriol dan benang spindel terbentuk tanpa terikat
pada sentriol.
Pada profase akhir, masing-masing kromosom terlihat terdiri
dari dua kromatid yang terikat pada sentromer. Selanjutnya,
nukleolus hilang dan membran nukleus hancur. Pada tahap ini
kromosom terletak bebas di dalam sitoplasma.
2) Metafase
Metafase merupakan tahap yang singkat dalam mitosis. Pada
tahap-tahap ini, kromosom bergerak ke bidang akuator benang

4
spindel (bidang pembelahan). Kromosom terikat pada benang
spindel melalui sentromer.
Kromosom terletak di bidang ekuator dengan tujuan agar
pembagian jumlah informasi DNA yang akan diberikan kepada sel
anakan yang baru benar-benar rata dan sama jumlahnya.
3) Anafase
Anafase juga merupakan tahap yang singkat dalam mitosis.
Pada tahap ini masing-masing sentromer yang mengikat kromatid
membelah bersamaan. Kromatid bergerak menuju kutub
pembelahan. Kromatid dapat bergerak ke arah kutub pembelahan
karena terjadinya kontraksi benang spindel. Pada saat kontraksi,
benang spindel memendek kemudian menarik kromatid menjadi dua
bagian ke dua kutub yang berlawanan. Tahap anafase menghasilkan
salinan kromosom berpasangan (1c,2n).
4) Telofase
Pada tahap ini kromatid telah disebut kromosom. Membran inti
mulai terbentuk dan nukleolus kembali muncul. Kromosom
membentuk benang-benang kromatin. Selanjutnya, pada tahap
telofase akhir terjadi pembelahan  sitoplasma dengan proses yang
disebut sitokinesis.
c. Tahap Sitokinesis
Pada tahap sitokinesis terjadi pembelahan sitoplasma yang diikuti
dengan pembentukan sekat sel yang baru. Sekat memisahkan dua inti
tersebut menjadi dua sel anakan.
Pada sel hewan, tahap sitokinesis dimulai saat telofase berakhir.
Pada telofase akhir terjadi penguraian benang-benang spindel. Kemudian
segera terbentuk cincin mikrofilamen yang menyempit di daerah bekas
bidang ekuator. Kontraksi ke arah dalam ini menyebabkan celah yang
mendalam pada permukaan sel, diikuti dengan pembagian isi dua sel
secara terpisah.

5
Pada sel tumbuhan terdapat dinding sel yang keras. oleh karena itu,
cara sitokinesis sel tumbuhan berbeda dengan sel hewan. Sel tumbuhan
yang telah mengalami kariokinesis segera membentuk sekat sel di sekitar
bekas bidang pembelahan. Sekat ini mula-mula terbentuk dari vesikel
membran yang berasal dari badan golgi. Vesikel tersebut diarahkan
sepanjang benang spindel di bidang ekuator. Vesikel-vesikel tersebut
kemudian mengalami fusi (penyatuan) membentuk membran, dan diikuti
dengan terbentuknya dinding sel yang baru. Tujuan pembelahan amitosis
adalah untuk reproduksi (memperbanyak diri).
3. Meiosis
Tahap pembelahan meiosis terdiri dari tahap-tahap yang serupa dengan
pembelahan mitosis. Hanya saja pada meiosis terjadi dua kali pembelahan,
yaitu meiosis I dan meiosis II. Masing-masing meiosis terdiri dari tahap-tahap
yang sama. Tahap-tahap meiosis tersebut sebagai berikut :
a. Meiosis I
Tahap meiosis I terdiri dari interfase, profase I, metafase I, anafase
I, telofase I, dan sitokinesis I.
Pada interfase, sel berada pada tahap persiapan untuk mengadakan
pembelahan. Persiapannya adalah berupa penggandaan DNA dari satu
salinan menjadi dua salinan (sama seperti pada interfase mitosis). Tahap
akhir interfase adalah adanya dua salinan DNA yang telah siap dikemas
menjadi kromosom.
1)Profase I
Pada profase I, DNA dikemas ke dalam kromosom yang terdiri
atas 5 tahap sebagai berikut.
a) Leptoten
Kromatin berubah menjadi kromosom yang mengalami
kondensasi dan terlihat sebagai benang tunggal yang panjang.

b) Zigoten

6
Sentrosom membelah menjadi dua, kemudian bergerak
menuju kutub yang berlawanan.
c) Pakiten
Tiap kromosom melakukan penggandaan atau replikasi
menjadi dua kromatid dengan sentromer yang masih tetap
menyatu dan belum membelah membentuk tetrad.
d) Diploten
Kromosom homolog terlihat saling menjauhi sehingga
terjadi perlekatan berbentuk X pada suatu tempat tertentu di
kromosom yang disebut kiasma. Karena adanya peristiwa
tersebut sel gamet yang terbrntuk sama sekali tidak identik
dengan susunan kromosom sel induknya.
e) Diakinesis
Terbentuk benang-benang spindel dari pergerakan dua
sentriol (hasil pembelahan) ke arah kutub yang berlawanan.
Diakinesis diakhiri dengan menghilangnya nukleolus dan
membran nukleus serta tetrad mulai bergerak ke bidang ekuator.
2) Metafase I
metafase I tetrad kromosom berada pada bidang ekuator. Pada
bidang ekuator, benang-benang spindel (mikrotubul) melekatkan diri
pada tiap sentromer kromosom. Ujung benang spindel yang lainnya
membentang melekat di kedua kurub pembelahan yang berlawanan.
3) Anafase I
Pada anafase I tiap kromosom homolog (yang berisi dua
kromatid kembarannya) masing-masing mulai ditarik oleh benang
spindel nenuju ke kutub pembelahan yang berlawanan arah. Tujuan
anafase I adalah membagi isi kromosom diploid menjadi haploid.
4) Telofase I
Pada telofase I tiap kromosom homolog kini telah mencapai
kutub pembelahan.
5) Sitokinesis I

7
Pada sitokinesis I tiap kromosom homolog dipisahkan oleh
sekat sehingga sitokinesis menghasilkan dua sel, masing-masing
berisi kromosom dengan kromatid kembarannya.
b. Meiosis II
Tahap meiosis II terdiri dari profase II, metafase II, anafase II,
telofase II, dan sitokinesis II.
1) Profase II
Pada profase II kromatid kembaran masih melekat pada tiap
sentromer kromosom. Tahap ini kadang terjadi dalam waktu yang
singkat karena diikuti tahap berikutnya.
2)Metafase II
Pada metafase II tiap kromosom (yang berisi dua kromatid)
merentang pada bidang ekuator. Terbentuk benang-benang spindel,
satu ujung melekat pada sentromer, dan ujung lain membentang
menuju ke kutub pembelahan yang berlawanan arah.
3) Anafase II
Pada anafase II benang spindel mulai menarik kromatid
menuju ke kutub pembelahan yang berlawanan tersebut. Akibatnya,
kromosom memisahkan kedua kromatidnya dan bergerak menuju
kutub yang berbeda. Kromatid yang terpisah kini dinamakan
kromosom.
4) Telofase II
Pada telofase II, kromatid (atau kini disebut kromosom) telah
mencapai kutub pembelahan. Hasil total dari tahap ini adalah
terbentuk empat inti. Tiap inti mengandung setengah pasang
kromosom (haploid) dan satu salinan DNA (1n,1c).
5) Sitokinesis II
Pada sitokinesis II tiap inti mulai dipisahkan oleh sekat sel dan
akhirnya menghasilkan empat sel kembar haploid.

8
Dari uraian diatas, dapat dibedakan antara pembelahan mitosis dan meiosis
sebagai berikut:

No
Kriteria Perbedaan Mitosis Meiosis
.
Sel gonad/ sel
1. Lokasi pembelahan Sel-sel tubuh dan sel gonad
kelamin
2. Jumlah pembelahan Satu kali Dua kali
Fungsi/jumlah sel Satu sel induk
Satu sel induk
3. anak hasil menghasilkan 4
menghasilkan dua sel anak
pembelahan sel anak
Jumlah kromosom Diploid (2n)
4. Diploid (2n) diploid (2n)
anak haploid (n)
Terjadi pada
5. Pindah silang Tidak terjadi
profase I
Berbeda dengan
6. Komponen genetik Sama dengan induk
induk
Reduksi
Pertumbuhan dan kromosom yaitu
7. Tujuan
regenerasi pembentukan
gamet
Tabel 2.1 Perbedaan antara pembelahan mitosis dan meiosis

B. Gametogenesis pada Hewan dan Tumbuhan


1. Gametogenensis Pada Hewan
a. Spermatogenesis
Di dalam testis terdapat saluran-saluran kecil yang disebut tubulus
seminiferus. Pada dinding sebelah dalam saluran inilah, terjadi proses
spermatogenesis. Di bagian tersebut terdapat sel-sel induk sperma yang
bersifat diploid (2n) yang disebut spermatogonium.
Pembentukan sperma terjadi ketika spermatogonium mengalami
pembelahan mitosis menjadi spermatosit primer (sel sperma primer).
Selanjutnya, sel spermatosit primer mengalami meiosis I menjadi dua
spermatosit sekunder yang sama besar dan bersifat haploid. Setiap sel

9
spermatosit sekunder mengalami meiosis II, sehingga terbentuk 4 sel
spermatid yang sama besar dan bersifat haploid.
Mula-mula, spermatid berbentuk bulat, lalu sitoplasmanya semakin
banyak berkurang dan tumbuh menjadi sel spermatozoa. Setiap
spermatozoa mempunyai ekor (flagela) untuk membantu pergerakan dan
mengandung akrosom yang dapat menghasilkan enzim proteinase dan
hiakironidase yang berperan untuk menembus lapisan pelindung sel telur.
Satu spermatosit primer menghasilkan dua spermatosit sekunder dan
akhirnya terbentuk 4 sel spermatozoa (jamak = spermatozoon) yang
masing-masing bersifat haploid dan fungsional (dapat hidup).
b. Oogenesis
Oogenesis terjadi di dalam ovarium, sel induk telur yang disebut
oogonium tumbuh besar sebagai oosit primer sebelum membelah secara
meiosis. Berbeda dengan meiosis I pada spermatogenesis yang
menghasilkan 2 spermatosit sekunder yang sama besar. Meiosis I pada
oosit primer menghasilkan 2 sel dengan komponen sitoplasmik yang
berbeda, yaitu 1 sel besar dan 1 sel kecil. Sel yang besar disebut oosit
sekunder, sedangkan sel yang kecil disebut badan polar atau kutub
primer.
Oosit sekunder dan badan kutub primer mengalami pembelahan
meiosis tahap II. Oosit sekunder menghasilkan dua sel yang berbeda.
Satu sel yang besar disebut ootid yang akan berkembang menjadi ovum.
Sedangkan sel yang kecil disebut badan kutub. Sementara itu, badan
kutub hasil meiosis I juga membelah menjadi dua badan kutub sekunder.
Jadi, hasil akhir oogenesis adalah satu ovum (sel telur) yang fungsional
dan tiga badan kutub yang mengalami degenerasi (mati).
2. Gametogenesis pada Tumbuhan Tingkat Tinggi
a. Mikrosporogenesis
Mikrosporogenesis berlangsung di dalam benang sari, yaitu pada
bagian kepala sari atau anthera. Kepala sari ini menghasilkan serbuk sari,
yang mengandung sel sperma. Pembentukan sel sperma dimulai dari

10
sebuah sel induk mikrospora diploid yang disebut mikros porosit di
dalam anthera. Mikrosporosit ini mengalami meiosis I menghasilkan
sepasang sel haploid. Selanjutnya, sel ini mengalami meiosis II dan
menghasilkan 4 mikrospora yang haploid. Keempat mikrospora ini
berkelompok menjadi satu sehingga disebut sebagai tetrad.
Setiap mikrospora mengalami pembelahan mitosis. Pembelahan ini
menghasilkan dua sel, yaitu sel generatif dan sel vegetatif. Sel vege tatif
ini mempunyai ukuran yang lebih besar daripada sel generatif. Struktur
bersel dua ini terbungkus dalam dinding sel yang tebal. Kedua sel dan
dinding sel ini bersama- sama membentuk sebuah butiran serbuk sari
yang belum dewasa.
Setelah terbentuk serbuk sari, inti generatif membelah secara
mitosis tanpa disertai sitokinesis, sehingga terbentuklah dua inti sel
sperma. Sementara itu, inti vegetatifnya tidak membelah. Pembentukan
sel sperma ini dapat terjadi sebelum serbuk sari keluar dari anthera atau
pada saat serbuk sari sampai di kepala putik (stigma). Pada saat inilah,
tangkai serbuk sari mulai tumbuh. Pada umumnya, pembelahan mitosis
sel generatif terjadi setelah buluh serbuk sari menembus stigma atau
mencapai kantung embrio di dalam bakal biji (ovulum).
b. Megasporogenesis
Proses megasporogenesis terjadi di dalam bagian betina bunga,
yaitu bakal biji (ovulum) yang dibungkus oleh bakal buah (ovarium)
pada pangkal putik. Di dalam bakal biji terdapat sporangium yang
mengandung megasporofit yang bersifat diploid. Selanjutnya,
megasporofit mengalami meiosis menghasilkan 4 megaspora haploid
yang letaknya berderet. Tiga buah megaspora mengalami degenerasi dan
mati, tinggal sebuah megaspora yang masih hidup.
Megaspora yang hidup ini mengalami pembelahan kromosom
secara mitosis 3 kali berturut-turut, tanpa diikuti pembelahan sitoplasma.
Hasilnya berupa sebuah sel besar yang disebut kandung lembaga muda
yang mengandung delapan inti haploid. Kandung lembaga ini dikelilingi

11
kulit (integumen). Di ujungnya terdapat sebuah lubang (mikropil) sebagai
tempat masuknya saluran serbuk sari ke dalam kandung lembaga.
Selanjutnya, tiga dari delapan inti tadi menempatkan diri di dekat
mikropil. Dua di antara tiga inti yang merupakan sel sinergid mengalami
degenerasi. Sementara itu, inti yang ketiga berkembang menjadi sel telur.
Tiga buah inti lainnya bergerak ke arah kutub kalaza, tetapi kemudian
mengalami degenerasi pula. Ketiga inti ini dinamakan inti antipoda.
Sisanya, dua inti yang disebut inti kutub, bersatu di tengah kandung
lembaga dan terjadilah sebuah inti diploid (2n). Inti ini disebut inti
kandung lembaga sekunder. Ini berarti kandung lembaga telah masak,
yang disebut megametofit dan siap untuk dibuahi.

12
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah membuat makalah ini dapat kami simpulkan bahwa ada tiga macam
pembelahan sel, yaitu pembelahan amitosis (spontan), mitosis, dan meiosis.
1. Pembelahan amitosis : pembelahan spontan dari satu sel menjadi dua.
Contohnya pada bakteri yang merupakan organisme prokariot dan bersel
tunggal.
2. Pembelahan mitosis (pada organisme eukariotik) : satu sel diploid
membelah menjadi dua sel anakan yang masing-masing diploid.
Pembelahan mitosis menghasilkan perbanyakan sel somatik (sel tubuh).
Pembelahan mitosis terjadi secara bertahap yaitu profase, metafase,
anafase, dan telofase.
3. Pembelahan meiosis (pada organisme eukariotik) : satu sel diploid
membelah menjadi empat sel anakan yang masing-masing haploid.
Pembelahan meiosis bertujuan untuk menghasilkan sel gamet (sel
kelamin) dan terjadi melalui dua tahap, yaitu meiosis I dan II. Masing-
masing meiosis melalui tahap-tahap yang serupa dengan pembelahan
mitosis yaitu profase, metaphase, anafase, dan telofase.
Selain itu, gametogenesis pada hewan terbagi atas dua, yaitu
Spermatogenesis dan Oogenesis. Sedangkan pada tumbuhan tingkat tinggi terbagi
atas dua juga, yaitu Mikrosporogenesis dan Megasporogenesis.

B. Saran
Dalam penulisan makalah sebaiknya mengikuti aturan penulisan yang telah
disepakati atau ditetapkan. Serta menggunakan referensi dari sumber yang valid
dan terbaru. Selain itu, bacalah dengan teliti makalah sebelum diprint dan
dikumpul karena ditakutkan terdapat salah pengetikan yang bisa berakibat fatal
jika tidak dimaklumi oleh dosen-dosen tertentu.

13
DAFTAR PUSTAKA

Kimball, John W. 1987. Biologi Jilid 1 Edisi Kelima – Pembelahan Sel.


Jakarta: Penerbit Erlangga.

Campbell, Neil A., Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell. 2004. Biologi
Jilid 3 Edisi Kelima – Sel. Jakarta: Penerbit Erlangga.

https://id.wikipedia.org/wiki/Pembelahan_sel

http://pusatinformasi212.blogspot.co.id/2017/03/pembelahan-mitosis-dan-
meiosis-disertai-gambar.html

http://hewandanternak.blogspot.co.id/2014/04/pembelahan-sel-secara-
amitosis-mitosis-dan-meiosis.html

http://novarin88.blogspot.co.id/2016/03/gametogenesis-pada-hewan-dan-
tumbuhan.html

14
15