Anda di halaman 1dari 11

GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI IBU DALAM

PEMBERIAN SUSU FORMULA PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DI DESA KERTOSARI

Dosen pembimbing :
Riris Diana Rachmayanti M.kes
Nama kelompok 2 :
1. Khusnul khotimah (201701011)
2. Marlen viona leangwatu (201701013)
3. Ni’matul muyassaroh (201701023)
4. Sandra dia puspita (201701024)
5. Wa uci lauda (201701039)
6. Dwi anggreini (201701040)
7. Yuninda anggun safitri (201701043)
8. Ngatianingrum rindiantika sari (201701159)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO
2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Di jaman modern pada saat ini perkembangan didunia teknologi semakin maju
dan berkembang sangat pesat terutama pada teknologi dibidang industri makanan dunia.
Salah satu nutrisi yang cukup penting dan dibutuhkan adalah susu.Selama ini susu
formula balita digunakan untuk membantu melengkapi kebutuhan gizi yang diperlukan
oleh balita selama masa-masa pertumbuhan dan perkembangannya. Pemberian susu
formula pada bayi di tahun pertama biasanya dilakukan karena keadaan-keadaan yang
terjadi pada ibu, seperti puting rata, puting lecet, payudara bengkak, saluran susu
tersumbat, infeksi payudara, abses payudara, dan karena pekerja.

Pemberian susu formula pada bayi sangat berbahaya karena dapat mengantikan
kolostrum sebagai makanan bayi yang paling awal sehingga bayi mungkin saja terkena
diare, septisema dan meningitis, serta mungkin bayi akan menderita intoleransi terhadap
protein di dalam susu formula sehingga sering menimbul alergi terhadap bayi. Jenis
makanan prelakteal yang diberikan cukup beragam antar daerah tergantung kebiasaan di
daerah tersebut (Kemenkes RI, 2014). Prioritas yang utama tetaplah air susu (ASI)
sedangkan susu formula hanya berfungsi sebagai pengganti air susu ibu(MP-ASI) kalau
memang ASI ibu tidak mau keluar. Didalam susu formula terdapat bahan tambahan
nutrisi yang sebelumnyasudah terukur dan sudah disesuaikan dengan gizi yang
dibutuhkan balita. Oleh karena itu maka pemberian susu formula harus disesuaikan
dengan kebutuhan balita dan kandungannya yang telah dianjurkan(Pengestuti, 2006).

Menurut Kemenkes RI (2014), secara nasional cakupan pemberian ASI ekslusif


pada bayi 0-6 bulan berfluaktif dan belum mencapai target nasional 80%, yaitu tahun
2012 sebesar 46,2%, tahun 2013 sebesar 54,3% dan tahun 2014 sebesar 52,3%. Jenis
makanan prelakteal yang paling banyak diberikan kepada bayi baru lahir yaitu susu
formula sebesar 79,8%, madu 14,3%, dan air putih 13,2% yang meliputi susu non
formula, madu, air gula, air tajin, pisang halus, kopi, teh manis, air putih, nasi halus,
bubur halus. Berdasarkan data prasurvey pada bulan Maret 2017 Di BPS Zubaidah Syah,
S.ST Kota Bandar Lampung, terdapat 10 ibu dengan bayi usia 0-6 bulan, berdasarkan
data wawancara, terdapat 7 dari 10 ibu (70%) ibu dengan bayi usia 0-6 bulan tidak
memberikan ASI namun susu formula, setelah dilakukan pengkajian lebih lanjut, 2 dari 7
ibu (28,6%) mengatakan tidak mengetahui tentang pentingnya pemberian ASI, 3 dari 7
ibu (42,8%) mengatakan karena sibuk bekerja yang banyak menyita waktu, dan 2 dari 7
ibu (28,6%) mempunyai pendidikan terakhir Sekolah Dasar (SD).

Penyebab ibu memberikan susu formula yaitu berdasarkan prilaku dapat


dipengaruhi oleh factor pengetahuan, pendidikan, social ekonomi, pekerjaan, sikap,
kepercayaan dan lain-lain. Dampak pemberian formula pada bayi usia 0-6 bulan yaitu
diare, obesitas, caries gigi, hipertensi dan alergi. Dari berbagai pemantauan LSM, iklan
susu formula di berbagai media massa sangat berpotensi merusak pemahaman ibu tentang
perlunya ASI bagi bayi. Iklan tersebut akan mempengaruhi persepsi yang keliru tentang
susu formula dan ASI. Ibu-ibu hanya memahami dan menangkap informasi yang
sepenggal-penggal dari penyajian iklan yang singkat. Promosi susu formula ini bertujuan
membentuk persepsi bahwa bayi akan sehat dan cerdas apabila diberi susu formula. Pada
kenyataannya, kesan kepraktisan dan kemudahan di dalam penyiapan susu formula tidak
sederhana jika dibandingkan dengan menyusui bayi itu yang menyebabkan ibu menyusui
memberikan susu formula kepada anak yaitu dapat dilihat dari pengaruh pola pikir dari
ibu menyusui itu sendiri yang dilihat dari dengan mengikuti perkembangan zaman.

Dalam penelitian Marya Sofa (2009) menyimpulkan bahwa paritas seseorang


dapat mempengaruhi ibu dalam pemberian susu formula. Dukungan keluarga adalah
sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap anggotanya. Menurut Roesli (2001),
menyusui dipengaruhi oleh emosi ibu, banyak kasus mengapa ibu sering tidak berhasil
menyusui anaknya,setelah diamati ternyata keluarga tidak mendukung usaha ibu untuk
memberikan ASI. Ketidakpedulian suami akan ketenangan ibu dan bayi akan membuat
frustasi, akibatnya ibu merasa sedih, binggung, kesal, marah, kesedihan ibu akan
menghambat kerja hormon oksitosin sehingga proses menyusui terganggu. Untuk itu
diharapkan pengertian dan kerjasama yang baik dari suami yaitu dengan merasa
dukungan dan kenyamanan ibu dan anak.
Dukungan dari para profesional di bidang kesehatan sangat diperlukan bagi ibu,
terutama primipara. Pendidikan tentang pentingnya menyusui sudah harus diberikan sejak
masa prenatal, yang dilakukan oleh semua tenaga kesehatan baik bidan. Sebanyak 23
responden (100%), menyatakan bahwa tenaga kesehatan tidak mendukung dalam
pemberian susu formula. Tenaga kesehatan sudah menyarankan untuk memberikan ASI
dengan cara diperah.Pada hasil penelitian yang dilakukan peneliti, tenaga kesehatan
sudah menyarankan untuk ibu tetap memberikan ASI walaupun ibu bekerja, Maka dari
itu bagi ibu dan keluarga yang mempunyai bayi umur 0-6 bulan diharapkan dapat
memberikan ASI Eksklusif bagi balitanya tanpa menghiraukan adanya promosi susu
formula, pada ibu bekerja dapat memberikan dengan cara memerah ASI di tempat kerja
dan keluarga hendaknya lebih memberikan dukungan pada ibu untuk menyusui bayi
secara ekslusif.

A. RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah gambaran faktor –faktor yang melatarbelakangi ibu dalam pemberian
susu formula pada bayi usia 0-6 bulan?
B. TUJUAN PENELITIAN
a. Tujuan umum : menganalisis faktor-faktor yang melatarbelakangi ibu dalam
pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 bulan.
b. Tujuan khusus :
1. Mendeksripsikan faktor-faktor yang melatarbelakangi ibu dalam pemberian susu
formula pada bayi usia 0-6 bulan.
2. Menganalisa pengaruh pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 bulan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Susu Formula
a. Pengertian Susu Formula
Susu formula adalah susu yang dibuat dari susu sapi atau susu buatan yang diubah
komposisinya hingga dapat dipakai sebagai pengganti ASI. Alasan dipakainya susu
sapi sebagai bahan dasar mungkin oleh banyaknya susu yang dapat dihasilkan oleh
peternak. Susu formula memiliki peranan yang penting dalam makanan anak karena
seringkali bertindak sebagai satu-satunya sumber gizi bagi anak (Grup Sehat). Susu
formula merupakan Pengganti Air Susu Ibu (PASI). PASI/susu formula adalah
makanan yang diberikan pada bayi apabila ASI tidak tersedia, yang dapat memenuhi
kebutuhan gizi dan pertumbuhan serta perkembangan bayi sampai umur 4-6 bulan
(Depkes RI, 2014). Menurut WHO susu formula adalah susu yang sesuai dan bisa
diterima oleh sistem tubuh bayi, susu formula yang baik tidak menimbulkan
gangguan saluran cerna seperti diare, muntah atau kesulitan buang besar. Gangguan
lainnya seperti batuk, sesak dan gangguan kulit.
b. Jenis-jenis susu formula
a. Susu formula umum
Susu formula umum sendiri terbagi 4:
1. Complete Starting Formula/ formula awal (0-6 bulan) Starting Formula
biasanya diberikan sejak lahir sebelum usia 6 bulan.
2. Adapted Formula (0-6 bulan)
3. Follow Up Formula/susu lanjutan (6-12 bulan) Follow Up Formula
diberikan di atas usia 6 bulan.
4. Formula anak kecil/balita ( khasanah, 2011)
b. Susu formula khusus Susu
formula khusus merupakan formula khusus yang diberikan pada bayi yang
mengalami gangguan malabsorbsi, alergi, intoleransi ataupun penyakit
metabolik. Susu formula khusus ini sangat banyak dan bervariasi yang berisi
formula tertentu bagi keadaan yang tertentu pula. Diantaranya adalah susu
hidrolisa protein ektensif seperti Pepti junior, pregestimil, atau yang paling
ekstensif seperti Neocate. Golongan susu tersebut termasuk yang paling aman
karena komposisinya tanpa laktosa, mengandung banyak lemak MCT
(monochain trigliserida) dan protein susu yang lebih mudah dicerna. Susu
formula khusus ini digunakan untuk penderita alergi susu sapi, alergi susu
kedelai, malabsorpsi dan sebagainya.
c. Komposisi susu formula
Susu sapi (susu formula) dan ASI mengandung dua macam protein utama, yaitu
whey dan kasein (casein). Whey adalah protein halus, lembut, dan mudah dicerna.
Kasein adalah protein yang bentuknya kasar, bergumpal, dan sukar dicerna oleh usus
bayi. Protein susu yang utama adalah whey, sedangkan susu sapi yang utama adalah
casein, ASI mengandung alfa-laktalbumin, sedangkan susu sapi mengandung
lactoglobulin dan bovine serum albumin yang sering menyebabkan alergi. Susu sapi
tidak mengandung taurin, taurin adalah protein otak, susunan saraf juga penting
untuk pertumbuhan retina, mengandung kalsium, sedikit mengandung zat besi,
mengandung natrium, kalium, fosfor dan chlor dan susu formula tidak terdapat sel
darah putih, zat pembunuh bakteri anti bodi, mengandung enzim, hormon dan juga
tidak mengandung factor pertumbuhan (Referensi kesehatan, 2010).
d. Air susu ibu tetap direkomendasikan
Air susu ibu direkomendasikan karena :
1. Komposisi nutrisional dari air susu ibu ideal untuk bayi manusia
2. Sewaktu bayi bertumbuh dan kebutuhan nutrisinya berubah, air susu akan
menyesuaikan diri untuk memenuhi kebutuhan ini.
3. Air susu ibu mudah dicerna.
4. Menyusui meningkatkan keterikatan dan hubungan yang erat serta penuh
kasih saying antara ibu dan bayi.
5. Bayi yang mendapat ASI kemungkinan kecil terkena alergi yang parah dari
pada bayi yang mendapat susu formula.
6. ASI terbukti mempunyai efek perlindungan yang membantu mengurangi
risiko sindrom kematian mendadak (SIDS). ( simkin,2007)
e. Faktor faktor yang melatarbelakangi ibu dalam pemberian susu formula
Air Susu Ibu (ASI) tetap yang utama. Oleh karena itu ke MENKES tidak
menganjurkan pemberian susu formula, tetapi pada kasus-kasus tertentu misalnya
ada indikasi medis bagi ibu, maka susu formula boleh diberikan.
Beberapa Keadaan yang Menganjurkan Pemberian Susu Formula menurut Simkin
2007:
1. puting rata, puting lecet, payudara bengkak, saluran susu tersumbat, infeksi
payudara, abses payudara, dan karena pekerja.
2. Jika si ibu adalah penderita HIV positif
3. Jika si ibu menderita tuberculosis yang tidak dirawat
4. Jika bayi menderita galaktosemia, suatu kondisi langka yang membuat bayi tidak
mampu mencerna gula yang ada dalam susu.
5. Jika ibu tidak merasa nyaman, tidak suka atau tidak bahagia bila menyusui
F. Beberapa Kekhawatiran tentang Penggunaan Susu Formula
a. Susu formula tidak mempunyai kemampuan untuk meningkatkan perkembangan
system imunitas bayi.
b. Makin dini penggunaan susu formula, makin besar risiko untuk berkembangnya
alergi berat (asma dan eksem) dan infeksi pada bayi.
c. Susu formula kedelai dikaitkan dengan insidensi penyakit tiroid otoimmun yang
lebih tinggi dari pada air susu ibu atau susu formula dari susu sapi
d. Kadang-kadang susu formula ditarik dari pasaran karena kesalahan dalam proses
produksi. Susu semacam ini dapat membahayakan bayi dan menyebabkan orang
tua ketakutan (Simkin, 2007).
B. Tinjauan Umum tentang Gambaran Pemberian Susu Formula
a. Tinjauan Umum Tentang Pendapatan
Tingkat pendapatan adalah total jumlah pendapatan dari semua anggota keluarga,
termasuk semua jenis pemasukan yang diterima oleh keluarga dalam bentuk uang,
hasil menjual barang, dan lain-lain. (Rasifa, 2006). Masalah gizi karena kemiskinan
indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga dan ukuran yang di pakai adalah
kemiskinan. Anak balita gizi kurang datang dari keluarga yang tergolong penghasilan
rendah. Pendapatan yang kurang menyebabkan tidak sanggupnya menyediakan
makanan yang bergizi. Hal ini akan mempengaruhi pola pengeluaran dalam rumah
tangga terutama untuk konsumsi pangan anggota rumah tangga, yaitu bayi dan balita.
Pada golongan pendapatan tinggi terdapat kecenderungan peningkatan penggunaan
PASI dan memulai pemberian makanan pendamping yang lebih awal. Faktor
pendapatan keluarga sangat menentukan pola menyusui beralih dari asi ke susu
buatan.
b. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil tau dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu, penginderaan terjadi melalui panca indera
manusia yaitu: indera penglihatan, pendengaran, penciuman rasa dan raba
(Notoatmodjo, 2003).
c. Tinjauan Umum Tentang Pekerjaan
Semakin meningkatnya angkatan kerja wanita di berbagai sektor sehingga
semakin banyak ibu yang harus meninggalkan bayinya sebelum berusia 6 bulan,
setelah cuti bersalin. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi kelangsungan pemberian
ASI Eksklusif (Depkes, 2005).
Bekerja bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI Eksklusif bagi sang
buah hati. Selain diberikan secara langsung, yakni dengan menyusukan si kecil. ASI
juga dapat diberikan secara tidak langsung dengan cara memberikan ASI perah.
Namun, pada kenyataannya hal itu sulit dilakukan terutama bagi ibu yang bekerja di
luar rumah. Kondisi fisik dan mental yang lelah setelah bekerja sepanjang hari telah
menghambat kelancaran produksi ASI. Sejumlah ibu yang baru memiliki bayi
mengaku terpaksa memberikan susu formula lantaran harus kembali bekerja.
Produksi ASI pun menurun lantaran kelelahan setelah seharian bekerja (Rachmawati
dalam Riri, 2010).
C. Kerangka Pemikiran

Pendapatan
Pemberian Susu Faktor
ibu
Pengetahuan Formula
Peran
Keluarga
Pekerjaan
Peran tenaga
kesehatan
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskritif, rancangan penelitian tersebut
dipilih karena bertujuan untuk menjabarkan hasil pelaksanaan penelitian dalam
pemberian susu formula pada bayi usia 0-6 bulan didesa kertosari. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis.
B. Lokasi Dan Waktu Penelitian
a. Lokasi
Penelitian dilakukan di desa kertosari. Alasannya pemilihan lokasi tersebut karena
masih banyaknya ibu yang memberikan susu formula pada bayi usia 0-6 bulan.
b. Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan bulan september sampai november 2020
C. Populasi Sampel dan Responden
a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan di
desa kertosari.
b. Sampel
 Jumlah semple
a. Ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan
b. Kader
c. Dinas kesehatan
 Besar semple
Besarnya semple pada penelitian ini sebanyak 20 yang meliputi 18 ibu yang
memiliki bayi usia 0-6 bulan, 1 kader dan 1 dinas kesehatan.
Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Dipilih dengan kriteria
sebagai berikut :
1. Ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan yang diberika susu formula.
D. Variabel Dan Definisi Operasional
Definisi operasional variabel dijabarkan sebagai berikut :

No Variabel Definisi
1 Demografi Ciri – ciri yang dimiliki dan melekat
pada diri responden.
1.pengetahuan
2. pendapatan
3. pekerjaan
4. faktor ibu
2 Faktor pengetahuan Pengetahuan ibu tentang pemberian susu
formula pada bayi usia 0-6 bulan
3 Faktor pendapatan Pendapatan ibu terkait pemberian susu
formula pada bayi usia 0-6 bulan
4 Faktor pekerjaan Pekerjaan ibu dan keluarga terkait
pemberian susu formula pada bayi usia 0-
6 bulan.
5 Faktor ibu Faktor-faktor yang melatarbelakangi ibu
dalam pemberian susu formula pada bayi
usia 0-6 bulan
6 Peran keluarga Dukungan keluarga pada ibu terkait
pemberian susu formula pada bayi usia 0-
6 bulan
7 Peran tenaga kesehatan Peran tenaga kesehatan terkait pemberian
susu formula pada bayi usia 0-6 bulan

E. Teknik Pengumpulan Data Dan Instrumen Penelitian


Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan penjelasan teknik pengumpulan
data dan instrumen sebagai berikut :

No Tujuan khusus penelitian Teknik Instrumen Keterangan


pengumpulan data
Penelitian tahap I
1 Menganalisis faktor Wawancara Kuesioner Ibu yang
pengetahuan ibu terkait observasi Panduan memiliki bayi
pemberian susu formula pada observasi usia 0-6 bulan
bayi usia 0-6 bulan
2 Mengidentifikasi faktor Wawancara kuesioner Ibu yang
pendapatan ibu terkait mendalam memiliki bayi
pemberian susu formula pada usia 0-6 bulan
bayi 0-6 bulan
3 Mengidentifikasi faktor Wawancara Panduan Ibu dan keluarga
pekerjaan ibu dan keluarga mendalam wawancara
terkait pemberian susu
formula pada bayi 0-6 bulan
4 Menganalisis faktor ibu Wawancara Wawancara Ibu yang
terkait dengan peberian susu mendalam mendalam memiliki bayi
formula pada bayinya usia 0-6 bulan
5 Menganalisis peran keluarga wawancara Wawancara keluarga
terkait ibu yang memberikan mendalam
susu formula pada bayi usia
0-6 bulan
Penelitian tahap II
1 Menganalisis faktor wawancara kuesioner Kader
pengetahuan kader terkait
pemberian susu formula pada
bayi usia 0-6 bulan
2 Menganalisis peran tenaga Wawancara Wawancara Kader, dinas
kesehatan tentang pemberian mendalam kesehatan
susu formula pada bayi usia observasi Panduan
0-6 bulan observasi

F. Alur penelitian

Faktor ibu dalam pemberian


susu formula pada bayi usia
0-6 bulan

Sampling purposive

Penelitian tahap I :
Penelitian tahap II :
Faktor Ibu yang memberikan susu
tenaga kesehatan yang berada dilingkungan
formula kepada bayinya dengan
yang sama dengan ibu yang memilki bayi
kriteria :
usia 0-6 bulan dengan kriteria :
a. Ibu yang memberikan susu
a. Terlibat dan tahu jumlah ibu yang
formula pada bayi usia 0-6
memberikan susu formula pada bayi
bulan
usia 0-6 bulan.
b. Bersedia berpartisipasi dalam
b. Bersedia berpartisipasi dalam penelitian
penelitian dengan mengisi
dengan mengisi inform consent.
inform consent

Pengumpulan data primer

Analisa data

Menyusun laporan