Anda di halaman 1dari 6

Ketebalan enamel dan dentin

Rata-rata ketebalan enamel dari insisal edge insisive adalah 2mm,


premolar 2,3-2,5 mm dari cusp, dan molar 2,5-3,0mm dari cusp. Ketebalan
enamel dari insisal atau cusp ke CEJ akan semakin meurun
(Garg & Garg)

Ketebalan dentin lebih tebal pada daerah oklusal/insisal dan menipis


pada daerah servikal gigi. Rata-rata ketebalan dentin sekitar 3-3,5 mm dari
koronal.

Mekanisme perlekatan GIC

Glass ionomer cements atau polyalkenoates merupakan dental material yang


perlekatan utama pada permukaan gigi melalui ikatan kimia. Grup karboksil
pada GIC jika berkontak dengan kalsium pada hidroksiapatit gigi akan
membentuk ikatan ion. Ketika GIC digunakan pada dentin, asam polialkenoic
kondisioner diaplikasikan sebelumnya untuk, membersihkan smear layer dan
sebagian hidroxiapatit akan terdemineralisasi. Prosedur ini akan membentuk
lapisan fibril kolagen dengan hidroksiapatit dan mempentuk jaringan pore-
interspersed. GIC kemudian akan berikatan dengan sebagian dentin yang
terdemineralisasi.

Enamel memiliki bahan anorganik lebih tinggi dari dentin sehingga perlekatan
GIC lebih kuat daripada dentin.
Penggunaan conditioner umumnya 10%-25% asam polyacrylic selama 10-15
detik dengan alasan:
1. Menghilangkan smear layer
2. Ada ikatan langsung antara gigi dengan GIC
3. Membantu pertukaran ion yang dapat meningkatkan kekuatan
perlekatan

Fase setting
3 tahap reaksi setting GIC:
1. Fase pelepasan ion
2. Fase hidrogel
3. Fase gel poligaram

Fase ion leaching


Ketika bubuk dan cairan dicampur, polyacid dan partikel glass akan merilis
Ca2+ dan Al3+. Ion ini akan berinteraksi dengan fluoride kemudian membentuk
CaF2- dan AlF3-. Kemudian karena keasaman yang terus meningkat, CaF 2 akan
bereaksi dengan akrilik copolymer untuk membentuk matriks yang stabil. Pada
fase ini GIC tampak mengkilap dan bisa menempel pada struktur gigi.

Fase hydrogel
Fase hidrogel terjadi 5 sampai 10 menit setelah pencampuran dilakukan.
Selama fase ini, ion-ionkalsium yang dilepas dari permukaan kaca akan
bereaksi dengan rantai poliasam polianionik yang bermuatan negatif untuk
membentuk ikatan silang ionik. Pada fase hidrogel ini mobilitas rantai polimer
berkurang sehingga menyebabkan terbentuknya gelasi awal matriks ionomer.
Selama fase hidrogel berlangsung,permukaan SIK harus dilindungi dari
lingkungan yang lembab dan kering karena ion kalsium yang bereaksi dengan
rantai poliasam polianionik mudah larutdalam air. Jika SIK tidak dilindungi,
maka ikatan silang ionik yang mudah laruttersebut akan melemahkan SIK
secara keseluruhan dan terjadi penurunan derajat translusensi sehingga turut
mempengaruhi estetika

Fase gel poligaram


fase gel poligaram ini menyebabkan SIK terlihat lebih menyerupai gigi,
disebabkan indeks refraksi gel silika yang mengelilingi filler kaca hampir sama
dengan matriks. Hal tersebut menyebabkan berkurangnya penyebaran cahaya
dan opaksitas. Jika SIK masih terlihat opak, maka hal tersebut
mengindikasikan bahwa gel poligaram tidak terbentuk disebabkan karena
adanya kontaminasi air. SIK yang telah mengeras secara sempurna terdiri
atas tiga komponen, yaitukaca pengisi, gel silika, dan matriks poliasam

Waktu setting
Waktu setting GIC 6-8 menit mulai dari saat pengadukan. Waktu setting GIC
tipe 1 lebih cepat dari GIC tipe 2.
GIC tipe 1 – 5-7 menit
GIC tipe 2 – 10 menit

Tipe GIC
Klasifikasi berdasarkan aplikasi:
Type I—Luting cements
Type II—Restorative cements
–  1—Restorative esthetic
–  2—Restorative reinforced
Type III—Liner or Base.

Klasifikasi berdasarkan penggunaan


Type I—For luting cements
SIK tipe luting semen sangat baik untuk sementasi permanen
mahkota, jembatan,veneer dan lainnya. Dapat digunakan
sebagai liner komposit. Secara kimiawi berikatan dengan dentin
enamel, logam mulia dan porselen. Memiliki translusensiyang
baik dan warna yang baik, dengan kekuatan tekan tinggi. SIK
yang diberikanpada dasar kavitas akan menghasilkan ion
fluorida serta berkurangnya sensitifitasgigi, perlindungan pulpa
dan isolasi. Hal ini mengurangi timbulnya kebocoranmikro
( micro-leakage) ketika digunakan sebagai semen inlay
komposit atau onlay

Type II—For restorations


Karena sifat perekatnya, kerapuhan dan estetika yang cukup
memuaskan, SIK juga digunakan untuk mengembalikan struktur
gigi yang hilang seperti abrasi servikal. Abrasi awalnya
diakibatkan dari iritasi kronis seperti kebiasaan menyikat gigi
yang terlalu keras

Type III—Liners and bases


Pada teknik sandwich, SIK dilibatkan sebagai pengganti
dentine, dan komposit sebagai pengganti enamel. Bahan-bahan
lining dipersiapkan dengan cepat untuk kemudian menjadi
reseptor bonding pada resin komposit (kelebihan air pada
matriks SIK dibersihkan agar dapat memberikan kekasaran
mikroskopis yang nantinya akan ditempatkan oleh resin sebagi
pengganti enamel

Type IV—Fissure sealants


Tipe IV SIK dapat digunakan juga sebagai fissure sealant.
encampuran bahan dengan konsistensi cair, memungkinkan
bahan mengalir ke lubang dan celah gigi posterior yang sempit

Type V—Orthodontic cements


Pada saat ini, braket ortodonti paling banyak menggunakan
bahan resin komposit. Namun SIK juga memiliki kelebihan
tertentu. SIK memiliki ikatan langsung ke jaringan gigi oleh
interaksi ion Polyacrylate dan kristal hidroksiapatit, dengan
demikian dapat menghindari etsa asam. Selain itu, SIK memiliki
efek antikariogenik karena kemampuannya melepas fluor. Bukti
dari tinjauan sistematis uji klinis menunjukkan tidak adanya
perbedaan dalam tingkat kegagalan braket Ortodonti antara resin
modifikasi SIK dan resin adhesif

Type VI—Core build up.

Beberapa dokter gigi menggunakan SIK sebagai inti (core), mengingat


kemudahanSIK dalam jelas penempatan, adhesi, fluor yang dihasilkan, dan
baik dalam koefisienekspansi termal. Logam yang mengandung SIK (misalnya
cermet, Ketac perak, EspeGMbH, Germanyn) atau campuran SIK dan
amalgam telah populer. Saat ini, banyak SIK konvensional yang radiopaque
lebih mudah untuk menangani daripada logamyang mengandung bahan-
bahan lain. Namun demikian, banyak yang menganggapSIK tidak cukup kuat
untuk menopang inti (core). Maka direkomendasikan bahwagigi harus memiliki
minimal dua dinding utuh jika menggunakan SIK

Rangsangan Elektris
Saliva dapat berperan sebagai konduktor elektris karena memiliki komponen
elektrolit.
Cth:
Arus galvanis: Apabila 2 atau lebih logam berbeda atau alloy berkontak dalam
larutan elektrolit dapat menyebabkan rasa linu pada gigi yang bersangkutan
karena adanya kontak elektrik
Daftar Pustaka
1. Garg N. Garg A. 2015. Texbook of operative dentistry, 3 th Edition
2. Harald O. Heymann, Edward J. Swift, Andre V. Ritter (2013) :
Sturdevant5’s Art and Science of Operative Dentistry, 6th Edition.
Mosby.
3. Hilton TJ, Ferrancane JL, Broome JC,.2013. Summitt’s Fundamental of
Operative Dentistry, 4th Edition