Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tumor ginjal adalah pertumbuhan sel yang tidak normal dari sel

jaringan ginjal. Tumor lunak atau siste pada umumnya tidak ganas dan yang

padat ganas atau kanker. Kanker adalah pertumbuhan sel yang tidak normal

sangat cepat dan mendesak sel-sel disekitarnya. Tumor ginjal merupakan

tumor urogenitalia nomor tiga terbanyak setelah tumor prostat dan tumor

kandung kemih. Tumor ginjal dapat berasal dari tumor primer di ginjal atau

pun merupakan tumor sekunder yang berasal dari metastasis keganasan di

tempat lain. Sebagian besar tumor ginjal yang solid (padat) adalah kanker,

sedangkan kista (rongga berisi cairan) atau tumor biasanya jinak. Seperti

organ tubuh lainnya, ginjal kadang bisa mengalami kanker. Pada dewasa,

jenis kanker ginjal yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel ginjal

(adenokarsinoma renalis, hipernefroma) yang berasal dari sel-sel yang

melapisi tubulus renalis (Melisa, Monoarfa, & Tjandra, 2016)

Penyebab pasti tumor ginjal tidak diketahui, beberapa keterkaitan

telah dibangun antara kanker ginjal dengan merokok, hipertensi, dan

obesitas. Terpapar timah, kadmium dan fosfat juga meningkatkan risiko

perkembangan kanker (Black dan Hawks, 2014). Merokok dan kegemukan

adalah faktor risiko; iritasi kronik yang dikaitkan dengan batu ginjal juga
dapat menjadi penyebab. Beberapa kanker ginjal dikaitkan dengan faktor

genetik. Pasien ESRD juga dapat mengalami kanker ginjal (Made, Adnyani,

& Widiana, 2018)

Trias klasik gejala tumor ginjal yaitu hematuria, nyeri panggul atau

nyeri pinggang, dan massa abdomen teraba atau pada panggul/pinggang,

ditemukan hanya pada sekitar 10% orang yang menderita karsinoma sel

ginjal. Manifestasi sistemik mencakup demam tanpa infeksi, keletihan,

mual, penurunan berat badan, anemia atau polisitemia. Tumor dapat

menghasilkan hormon atau zat seperti hormon, termasuk hormon paratiroid,

prostaglandin, prolaktin, renin, gonadotropin dan glukokortikoid. Zat ini

menghasilkan sindrom paraneoplastik, dengan manifestasi tambahan seperti

hiperkalsemia, hipertensi, dan hiperglikemia. Perburukan karsinoma sel

ginjal berbeda-beda mulai dari periode lama penyakit stabil hingga sangat

agresif (LeMone, 2016)

Karsinoma sel ginjal merupakan 3% dari seluruh tumor ganas pada

orang dewasa yang ditemukan pada umur 40-70 tahun. Kejadian tumor pada

kedua sisi (bilateral) hanya terdapat pada 2% kasus saja. Angka kejadian

pada pria lebih banyak daripada wanita dengan perbandingan 2:1. Di

seluruh dunia, sekitar 270.000 kasus baru didiagnosis per tahun, dan sekitar

116.000 pasien meninggal per tahun. Data lain menunjukan bahwa di

seluruh dunia terdapat 209.000 kasus baru dan 102.000 meninggal per

tahunnya. Insiden RCC tertinggi terjadi di negara- negara Barat dan

terendah di negara Asia dan Afrika. Pada tahun 2015 di Amerika Serikat,
sekitar 62.000 telah di diagnosis RCC dan 14.000 telah meninggal karena

kasus ini (Melisa et al., 2016)

Insidensi di Hongkong, India, Korea dan Taiwan berkisar 3.24-6.0

per 100.000 penduduk. Di Jepang 5.2 per 100.000 penduduk, dengan angka

kematian 1.8 per 100.000 penduduk. Di Malaysia insidensi kanker ginjal

adalah 1.9 per 100.000 penduduk. Rasio pria dibanding wanita 2.75:1, usia

rerata penderita 57.1 tahun tetapi pada ras Cina reratanya lebih tua. Insidensi

di India lebih rendah dibandingkan orang India yang tinggal di Singapura,

hal ini dimungkinkan karena underdiagnosis, gaya hidup dan faktor

lingkungan. Kejadian kanker ginjal di Indonesia mencapai 2,4-3

kasus/100.000 penduduk yang meningkat dari perkiraan sebelumnya sekitar

1,4-1,8 kasus/100.000 penduduk (Mochtar CA, et al, 2016). Sedangkan di

ruangan Lantai 5 Bedah RSPAD Gatot Soebroto selama periode Juli-

Desember 2017 terdapat 12 kasus Tumor Ginjal (8 kasus pada laki-laki dan

4 kasus pada perempuan) dengan rata-rata umur lebih dari 50 tahun (56-88

tahun).

Faktor resiko terjadinya tumor ginjal adalah kebiasaan merokok,

hipertensi, dan obesitas. Oleh karena itu seseorang yang ingin menghindari

kanker ginjal harus berhenti atau tidak memulai merokok. Menghindari

paparan kimia seperti timah, fosfat, kadmium dan gaya hidup yang

meminimalisasi perkembangan obesitas dan hipertensi juga dapat mencegah

kanker ginjal. Penyebab banyaknya kanker ginjal tidak ditentukan, namun

bisa dilakukan pencegahan dan perawatan meliputi mencegah cedera dan


infeksi, mengontrol tekanan darah bagi pasien yang terdiagnosa kanker

ginjal. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pendekatan ilmiah dalam hal ini

pendekatan proses keperawatan yaitu asuhan keperawatan untuk mencegah

dan mengatasi masalah tersebut. (Nabi, Kessler, Bernard, Flaig, & Lam,

2018)

Untuk menanggapi terjadinya dampak yang tidak diinginkan tersebut

maka seorang perawat membutuhkan teori yang sesuai dalam menyusun

rencana untuk mengatasi masalah-masalah yang ditimbulkan akibat dari

dampak yang muncul. Sebagaimana keperawatan yang terus berkembang

sebagai suatu profesi, pengetahuan dibutuhkan untuk menjelaskan intervensi

tertentu dalam memperbaiki hasil klien. Teori keperawatan dan konsep yang

berhubungan terus berkembang. Virginia Henderson mendefenisikan

keperawatan sebagai “penolong individu, saat sakit atau sehat, dalam

melakukan kegiatan tersebut yang bertujuan untuk kesehatan, pemulihan,

atau kematian yang damai dan individu akan dapat melakukannya sendiri

jika mereka mempunyai kekuatan, keinginan, atau pengetahuan”. Proses

keperawatan mencoba melakukan hal tersebut dan tujuannya adalah

kebebasan. Henderson dalam teorinya mengkategorikan empat belas

kebutuhan dasar semua orang dan mengikutsertakan fenomena dari ruang

lingkup klien, yakni fisiologis, psikologis, sosiokultural, spiritual, dan

perkembangan. Bersama perawat dan klien bekerja sama untuk

mendapatkan semua kebutuhan dan mencapai tujuan (Lestari, Harun, &

Program, 2019)
Berdasarkan data dan latar belakang diatas penulis tertarik

mengambil studi kaus “asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan

batu ginjal”. Terlebih masih belum terungkapnya (idiopatik) penyebab pasti

dari tumor ginjal dan angka terjadinya tumor ginjal semakin banyak dari

tahun ke tahun.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu untuk Menganalisis Asuhan Keperawatan Pada Pasien

dengan Tumor Ginjal di RSI Sultan Agung Semarang.

2. Tujuan Khusus

1. Melakukan pengkajian keperawatan pada pasien dengan Tumor Ginjal di

RSI Sultan Agung Semarang.

2. Merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan Tumor Ginjal di

RSI Sultan Agung Semarang.

3. Menyusun perencanaan keperawatan pada pasien dengan Tumor Ginjal di

RSI Sultan Agung Semarang.

4. Melakukan implementasi keperawatan pada pasien dengan Tumor Ginjal

di RSI Sultan Agung Semarang.

5. Melakukan evaluasi keperawatan pada pasien dengan Tumor Ginjal di RSI

Sultan Agung Semarang


C. Manfaat Penulisan

1. Manfaat Pelayanan

a. Bagi institusi pelayanan kesehatan

Studi kasus ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi tenaga

kesehatan dalam pelayanan kesehatan dan meningkatkan mutu dan

kepuasan pasien .

b. Bagi perawat

Studi kasus ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan perawat

dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan Tumor

Ginjal.

c. Bagi pasien

Studi kasus ini diharapkan dapat menambah pengetahuan pasien dan

keluarga serta termotivasi untuk meningkatkan derajat kesehatan.

2. Manfaat Keilmuan

a. Bagi institusi pendidikan kesehatan

Studi kasus ini dapat dijadikan tambahan kepustakaan dalam

pengembangan ilmu kesehatan khususnya mengenai asuhan

keperawatan pasien dengan Tumor Ginjal.

b. Bagi penulis lain

Hasil studi kasus dapat menambah referensi bagi mahasiswa lain

dalam mengembangkan studi kasus lanjutan terkait asuhan

keperawatan Tumor Ginjal.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Penyakit

1. Ginjal

a. Pengertian

Ginjal adalah sepasang organ yang terletak pada dinding

posterior abdomen, terutama di daerah lumbal, di sebelah kanan

dan kiri tulang belakang, dibungkus oleh lapisan lemak yang tebal,

di belakang peritoneum, atau di luar rongga peritonium. Bentuknya

menyerupai kacang dengan sisi cekungnya menghadap ke medial.

Cekungan ini disebut hilus renalis, yang di dalamnya terdapat

apeks pelvis renalis dan struktur lain yang merawat ginjal, yaitu

pembuluh darah, sistem limfatik, serta sistem saraf. Ukuran ginjal

pada laki- laki memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan

dengan ginjal perempuan. Dan pada bagian atas terdapat kelenjar

suprarenalis atau kelenjar adrenal (Hu et al., 2016)

Ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebrata yang

berbentuk menyerupai kacang. Sebagai bagian dari sistem urine,

dimana ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari

darah dan membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin.

(Barata & Rini, 2017)


b. Fungsi Ginjal

Ginjal memerankan berbagai fungsi tubuh yang sangat

penting bagi kehidupan, yaitu menyaring (filtrasi) sisa hasil

metabolisme dan toksin dari darah, serta mempertahankan

homeostatis cairan dan elektrolit tubuh, yang kemudian dibuang

melalui urin. Fungsi tersebut diantaranya yaitu:

1) Pembentukan urin merupakan fungsi ginjal yang paling esensial

dalam mempertahankan homeostatis tubuh. Pada orang dewasa

sehat, biasanya lebih kurang 1200 ml darah, atau 25% cardiac

output, mengalir ke kedua ginjal.

2) Mengontrol sekresi hormon aldosteron dan ADH (Anti Diuretic

Hormone) yang berperan dalam pengaturan jumlah cairan atau

air dalam tubuh.

3) Mengatur metabolisme ion kalsium dan vitamin D.

Menghasilkan beberapa hormon, diantaranya adalah:

eritropoetin yang berperan dalam pembentukan sel darah

merah, renin yang berperan dalam mengatur tekanan darah, dan

hormon prostaglandin yang berguna dalam berbagai

mekanisme dalam tubuh.

4) Sebagai tempat untuk mengatur konsentrasi garam di dalam

tubuh, jika konsentrasi garam di dalam tubuh berlebih maka

akan mengakibatkan pengikatan air oleh garam, sehingga

dampaknya cairan akan menumpuk di intra vasikuler.


5) Sebagai tempat untuk mengatur keseimbangan asam-basa

dalam darah.

6) Ginjal mempertahankan pH plasma darah pada kisaran 7,4

melalui pertukaran ion hidronium dan hidroksil. Sehingga

berakibat urin yang dihasilkan dapat bersifat asam pada pH 5

atau alkalis pada pH 8 (Dutcher, 2019)

2. Tumor Ginjal

a. Pengertian

Cancer Kidney atau kanker ginjal tersusun dari kata cancer atau

kanker yang berarti istilah awam yang digunakan untuk menyatakan

pelbagai bentuk penyakit keganasan dan kidney atau ginjal yang

berarti sepasang organ retroperitoneal yang terletak pada dinding

abdomen posterior dalam region lumbalis, fungsi ginjal berhubungan

dengan homeostasis, dan organ ini memproduksi urine dan untuk

mengekskresikan limbah seperti ureum, mengendalikan

keseimbangan elektrolit dan nilai pH. Ginjal juga memproduksi

renin serta eritropoitin yang terlibat dalam metabolism vitamin D.

(Shingarev & Jaimes, 2017)

Sebuah tumor ginjal adalah pertumbuhan abnormal dalam

ginjal. Istilah “massa”, “lesi” dan “tumor” sering digunakan secara

bergantian. Tumor mungkin jinak (non-kanker) atau ganas (kanker).

Tumor ginjal yang solid bisa jinak, tetapi bisa menjadi kanker lebih

dari 80% seiring berjalannya waktu. (Gallardo et al., 2018)


Carcinoma adalah tumor malignan yang tumbuh di jaringan

eptel. Carcinoid syndrome adalah syndrome klinis yang timbul

setelah terjadi pertumbuhan dan penyebaran tumor karsinoid yang

mensekresikan 5-hidroksitripamin 5-HT (yang juga disebut

serotonin). Renal berhubungan dengan ginjal, Renal cortex adalah

bagian ginjal paling luar yang berwarna pucat dan berada dibawah

kapsula renis. (Barata & Rini, 2017)

b. Etiologi

Penyebab kanker ginjal sampai sekarang masih belum

diketahui namun ada beberapa faktor yang dapat menjadi faktor

pencetus, antara lain:

1) Rokok

Salah satu zat yang terkandung dalam rokok adalah

cadmium, dimana cadmium sendiri bersifat karsinogenik yang

apabila masuk dalam aliran darah akan berikatan dengan

natrium atau garam sehingga konsentrasi darah menjadi

meningkat yang berdampak pada peningkatan kerja ginjal

apabila itu terus terjadi dalam waktu yang lama maka akan

menyebabkan gagal ginjal kronik dan cadmium sendiri dapat

merangsang pertumbuhan sel kanker.

2) Von Hippel-lindau syndrome

Von hippel-lindau syndrome adalah kumpulan beberapa

gejala yang disebabkan oleh kerusakan atau disfungsi VHL


(gen pengekang kanker) dalam tubuh sehingga memicu

perubahan sifat sel normal menjadi sel kanker akibat proses

yang ada dari dalam tubuh orang tersebut.

3) Obesitas.

4) Dialysis >5th pada gagal ginjal kronik

Dialysis berperan dalam proses metastases sel kanker.

5) Analgesic phenacethin

Phenacetin yang masuk dalam pembuluh darah bersifat

kurang dapat dilarutkan sehingga meningkatkan kinerja ginjal,

terhambatnya proses filtrasi menyebabkan penurunan laju

filtrasi glomerus apabila hal ini terjadi dalam waktu yang lama

menimbulkan obstruksi atau kerusakan lumen tubular dalam

ginjal memicu pelepasan zat-zat vasoaktiv intrarenal tubular

dalam ginjal memicu pelepasan zat-zat vasoaktiv intrarenal

yang merangsang pertumbuhan sel endotel yang abnormal dan

bersifat merusak.

6) Hipertensi

Hipertensi meningkatan produksi renin oleh apparatus

jugstakglomerulus yang memicu respon angiotensinaldosteron

yang meningkatkan reabsorbsi natrium serta air dalam tubulus

renal yang mengakibatkan penurunan laju filtrasi glomerulus

apabila hal ini terjadi dalam waktu yang lama akan

mengakibatkan gagal ginjal sebelum akhirnya semakin parah


hingga terjadi perubahan sifat sel normal menjadi sel kanker.

7) Riwayat penyakit keturunan

Riwayat penyakit keturunan terkait DNA-RNA yakni gen

yang berfungsi membawa informasi genetic yang dimiliki ke

dua orang tua yang nantinya akan diwariskan pada anak atau

keturunannya.

c. Patogenesis dan patofisiologi

Sebagian besar tumor ginjal adalah idiapatik dan dapat

bersifat simtomatik maupun asimtomatik. Ada beberapa teori

terbentuknya batu, yaitu:

1) Teori inti matriks

Terbentuknya tumor ginjal memerlukan adanya

substansia organik sebagai inti. Substansia organik ini terutama

terdiri dari mukopolisakarid dan mukoprotein A yang akan

mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentuk

batu.

2) Teori supersaturasi

Terjadinya kejenuhan substansi pembentuk batu dalam

urin seperti; sistin, santin, asam urat, dan kalsium oksalat akan

mempermudah terbentuknya batu.

3) Teori presipitasi-kristalisasi

Perubahan pH akan mempengaruhi solubilitas substansi

dalam urin. Pada urin yang bersifak asam akan mengendap


sistin, santin, asam dan garam urat, sedangkan pada urin yang

bersifat alkali akan mengendap garam-garam fosfat.

4) Teori berkurangnya faktor penghambat

Berkurangnya faktor penghambat, yaitu: peptid fosfat,

pirofosfat, polifosfat, sitrat, magnesium, asam mukopolisakarid

akan mempermudah terbentuknya tumor ginjal (Gallardo et al.,

2018)

Faktor lain terutama faktor eksogen dan lingkungan yang

diduga ikut mempengaru kalkuligeneses, yaitu:

1) Infeksi

Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nekrosis

jaringan ginjal serta akan menjadi inti pembentukan batu ginjal.

Infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang memecah ureum dan

membentuk amonium akan mengubah pH urin menjadi alkali

dan akan mengendapkan garam-garam fosfat sehingga akan

mempercepat pembentukan batu yang telah ada.

2) Obstruksi dan statis urin

Adanya obstruksi serta statis urin akan lebih

mempermudah terjadinya infeksi.

3) Jenis kelamin

Data menunjukkan bahwa tumor ginjal atau urolitiasis

lebih banyak dijumpai pada pria dibandingkan wanita.


4) Ras

Tumor ginjal lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia,

sedangkan pada penduduk Amerika dan Eropa jarang

ditemukan.Tumor ginjal cenderung ditemukan di Negara

berkembang.

5) Keturunan

Ternyata anggota keluarga dengan tumor ginjal akan

lebih banyak mempunyai kecenderungan untuk menderita

tumor ginjal dibandingkan dengan keluarga tanpa batu ginjal.

6) Air minum

Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum akan

mengurangi kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan bila

kurang minum dapat menyebabkan kadar semua substansi

dalam urin akan meningkat serta akan mempermudah

pembentukan batu. Kejenuhan air yang diminum sesuai dengan

kadar mineralnya terutama kalsium yang diperkirakan dapat

mempengaruhi terbentuknya batu ginjal.

7) Pekerjaan

Pekerjaan-pekerjaan kasar yang banyak bergerak, seperti

buruh dan petani akan mempengaruhi kemungkinan-

kemungkinan tumor ginjal akan terbentuk bila dibandingkan

dengan pekerja yang lebih banyak duduk.

8) Makanan
Pada beberapa golongan masyarakat yang lebih banyak

makan protein hewani angka morbilitas tumor ginjal berkurang,

sedangkan pada golongan masyarakat dengan kondisi sosial

ekonomi yang rendah angka morbilitas tumor ginjal akan

cenderung meningkat atau sering terjadi.

9) Suhu

Pada tempat yang bersuhu panas, seperti di daerah tropis

atau di kamar mesin dapat menyebabkan banyak mengeluarkan

keringat, jadi akan mengurangi produksi urin serta

mempermudah pembentukan tumor ginjal (Wijaya & Putri,

2013).

d. Patofisiologi

Penyebab pasti terjadinya kanker ginjal hingga saat ini

idiopatik, namun ada beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya

kanker ginjal seperti rokok, faktor keturunan, obesitas, hipertensi,

von helper-lindau syndrome, dialysis >5th pada pasien gagal ginjal

kronik, analgesik penasetin.(Nabi et al., 2018)

Untuk rokok (kandungan cadmium dalam rokok) masuk ke

dalam tubuh melalui air liur hingga masuk ke dalam pembuluh darah

menyebabkan vasokontriksi arteriol aferen dimana cadmium sendiri

saling berikatan dengan protein yang mengakibatkan konsentrasi

dalam darah meningkat menyebabkan penurunan LFG (Laju filtrasi

glomerulus) apabila hal ini terjadi dalam waktu yang lama


menimbulkan obstruksi atau kerusakan lumen tubular dalam ginjal

memicu pelepasan zat-zat vasoaktiv intrarenal yang merangsang

pertumbuhan sel endotel yang abnormal dan bersifat merusak.

Jika faktor keturunan dan von helper-lindau syndrome terkait

masalah genetic yang menyebabkan tidak berfungsinya gen

pengekang tumor (VHL) sehingga menyebabkan peningkatan HIF

yang merangsang peningkatan angiogenesis dan menghasilkan

produksi vascular-endotel growth homon & platelet-derived growth

hormone Peningkatan jumlah platelet dan hormone eritropoetin

Meningkatkan pembentukan sel darah baru dalam tubuh

Mengakibatkan produksi sitokin bertambah Menghasilkan GM-CSF

(granulocyte monocyte-citokinin stimulating hormone) Merangsang

pertumbuhan sel endotel yang abnormal dan bersifat merusak.

Hipertensi disebabkan karena adanya peningkatan produksi

renin oleh apparatus jugstakglomerulus yang memicu respon

angiotensinaldosteron yang meningkatkan reabsorbsi natrium serta

air dalam tubulus renal tekanan pada saat jantung memompa

sehingga resistensi pembuluh darah arteri menyebabkan

vasokontriksi pembuluh darah arteri sehinga darah yang masuk ke

ginjal berkurang dan menyebabkan penurunan laju filtrasi

glomerulus apabila hal ini terjadi dalam waktu yang lama

menimbulkan obstruksi atau kerusakan lumen tubular dalam ginjal

memicu pelepasan zat-zat vasoaktiv intrarenal yang merangsang


pertumbuhan sel endotel yang abnormal dan bersifat merusak.

Phenacetin yang masuk dalam pembuluh darah bersifat kurang

dapat dilarutkan sehingga meningkatkan kinerja ginjal, terhambatnya

proses filtrasi menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerus apabila

hal ini terjadi dalam waktu yang lama menimbulkan obstruksi atau

kerusakan lumen tubular dalam ginjal memicu pelepasan zat-zat

vasoaktiv intrarenal tubular dalam ginjal memicu pelepasan zat-zat

vasoaktiv intrarenal yang merangsang pertumbuhan sel endotel yang

abnormal dan bersifat merusak.(Made et al., 2018)

e. Manifestasi Klinis

Gejala klinis yang biasa dikeluhkan adalah nyeri pinggang,

jarang dilaporkan adanya nyeri perut, namun nyeri perut dapat

timbul bila terjadi infasi tumor yang menembus ginjal sedangkan

hematuria terjadi karena infasi tumor yang menembus system velveo

kalises. Demam dapat terjadi sebagai reaksi anafilaksis tubuh

terdapat protein tumor dan gejala lain yang bisa muncul adalah:

(Melisa et al., 2016)

a. Adanya massa dalam perut (tumor abdomen)

b. Hematuri akibat infiltrasi tumor ke dalam sistem kaliks

c. Hipertensi diduga karena penekanan tumor atau hematom pada

pembuluh- pembuluh darah yang mensuplai darah ke ginjal,

sehingga terjadi iskemi jaringan yang akan merangsang

pelepasan renin atau tumor sendiri mengeluarkan rennin


d. Anemia

e. Penurunan berat badan

f. Infeksi saluran kencing

g. Demam

h. Malaise

i. Anoreksia

j. Nyeri perut yang bersifat kolik, akibat adanya gumpalan darah

dalam saluran kencing.

Setelah melewati kapsul ginjal,tumon akan mengadakan

invasi ke organ di sekitarnya dan menyebar secara limfogen melalui

kelenjar limfe para aorta.penyebaran secara hematogen melalui vena

renalis ke vena kava,kemudian mengadakan metastasis keparu

(85%),hepar (10%),dan bahkan pada stadium lanjut menyebar ke

ginjal kontralateral (Greef & Eisen, 2016)

The National Wilms Tumor Study Group (NWTSG)

membagi 5 stadium tumor Wilms, yaitu : (Widiani, 2020)

a. Stadium I

Tumor terbatas di dalam jaringan ginjal tanpa menembus

kapsul. Tumor ini dapat di reseksi dengan lengkap.

b. Stadium II

Tumor menembus kapsul dan meluas masuk ke dalam

jaringan ginjal dan sekitar ginjal yaitu jaringan perirenal, hilus

renalis, vena renalis dan kelenjar limfe para-aortal. Tumor masih


dapat direseksi dengan lengkap.

c. Stadium III

Tumor menyebar ke rongga abdomen (perkontinuitatum),

misalnya ke hepar, peritoneum dan lain-lain.

d. Stadium IV

Tumor menyebar secara hematogen ke rongga abdomen,

paru-paru,otak dan tulang.

e. Stadium V

Tumor sudah mengenai kedua ginjal (lesi, bilateral). Pada

saat diagnosis.

Gambaran klinis
Yang paling sering dikeluhkan oleh pasien adalah hematuria

(80%),kadang-kadang disertai dengan nyeri pinggang,dan terasa

massa pada pinggang keadaan tersebut disebabkan oleh massa

tumor atau akibat obtruksi oleh tumor yang menimbulkan

hidronefrosis.Pada pemeriksaan PIV terdapat filling defect yang

nampak seolah-olah seperti batu radiolusen,tuberkuloma,atau

hemangioma pada pielum ginjal. Untuk itu bantuan ultrasonografi

atau Ctscan dapat membedakanya.Pemeriksaan sitologi urine

dengan mengambil contoh urine langsung ke dalam pielum melalui

kateter ureter.Melalui alat ureteronoskopi dapat dilihat langsung ke

dalama pielum.jika ada massa pada pielum diambil contoh jaringan

untuk pemeriksaan histopatologi


f. Pemeriksaan Diagnostik

1. Foto thoraks (Rontgen)

Merupakan pemeriksaan untuk mengevaluasi ada tidaknya

metastasis ke paru-paru. Arteriografi khusus hanya diindikasikan

untuk pasien dengan tumor Wilms bilateral atau termasuk

horseshoe kidney. (Barata & Rini, 2017)

2. Ultrasonografi

Merupakan pemeriksaan non invasif yang dapat

membedakan tumor solid dengan tumor yang mengandung cairan.

Dengan pemeriksaan USG, tumor Wilms nampak sebagai tumor

padat di daerah ginjal. USG juga dapat digunakan sebagai

pemandu pada biopsi. Pada potongan sagital USG bagian ginjal

yang terdapat tumor akan tampak mengalami pembesaran, lebih

predominan digambarkan sebagai massa hiperechoic dan

menampakkan area yang echotekstur heterogenus. (Barata & Rini,

2017)

3. CT-Scan

Memberi beberapa keuntungan dalam mengevaluasi tumor

Wilms. Ini meliputi konfirmasi mengenai asal tumor intrarenal

yang biasanya menyingkirkan neuroblastoma; deteksi massa

multipel; penentuan perluasan tumor, termasuk keterlibatan

pembuluh darah besar dan evaluasi dari ginjal yang lain. CT scan

memperlihatkan massa heterogenus di ginjal kiri danmetastasis


hepar multiple. CT scan dengan level yang lebih tinggi lagi

menunjukkan metastasishepar multipel dengan thrombus tumor di

dalam vena porta. (Greef & Eisen, 2016)

4. Laboratorium

Hasil pemeriksaan laboratorium yang penting

yangmenunjang untuk tumor Wilms adalah kadar lactic dehydro

genase (LDH) meninggi dan Vinyl mandelic acid (VMA) dalam

batas normal. Urinalisis juga dapat menunjukkan bukti hematuria,

LED meningkat, dan anemia dapat juga terjadi, terlebih pada

pasien dengan perdarahan subkapsuler. Pasien dengan metastasis di

hepar dapat menunjukkan abnormalitas pada analisa serum.

5. Biopsi

Di lakukan untuk mengambil contoh jaringan dan

pemeriksaan mikroskopik.Biopsi tumor ini untuk mengevaluasi sel

dan diagnosis.

g. Komplikasi

1) Tumor Bilateral

2) Ekstensi Intracaval dan atrium

3) Tumor lokal yang lanjut

4) Obstruksi usus halus

5) Tumor maligna sekunder (Lestari et al., 2019)


h. Penatalaksanaan Medis

Tujuan pengobatan tumor Wilms adalah mengusahakan

penyembuhan dengan komplikasi dan morbiditas serendah mungkin.

Biasanya dianjurkan kombinasi pembedahan, radioterapi dan

kemoterapi. Dengan terapi kombinasi ini dapat diharapkan hasil

yang memuaskan. Jika secara klinis tumor masih berada dalam

stadium dini dan ginjal disebelah kontra lateral normal, dilakukan

nefrektomi radikal. (Made et al., 2018)

1) Pembedahan

Nefroktomi radikal di lakukan bila tumor belum melewati garis

tengah dan belum menginfiltrasi jaringan lain. Pengeluaran

kelenjar limfe retroperitoneall total tidak perlu dilakukan tetapi

biopsi kelenjar di daerah hilus dan paraaorta sebaiknya

dilakukan. Pada pembedahan perlu diperhatikan ginjal

kontralateral karena kemungkinan lesi bilateral cukup tinggi.

Apabila ditemukan penjalaran tumor ke vena kava, tumor

tersebut harus diangkat.

2) Radioterapi

Tumor Wilms di kenal sebagai tumor yang radiosensitif, tapi

radioterapi dapat mengganggu pertumbuhan anak dan

menimbulkan penyulit jantung, hati dan paru.Karena itu

radioterapi hanya diberikan pada penderita dengan tumor yang

termasuk golongan patologi prognosis buruk atau stadium III dan


IV. Jika ada sisa tumor pasca bedah juga di berikan radioterapi.

Radioterapi dapat juga di gunakan untuk metastase ke paru, otak,

hepar serta tulang.

3) Kemoterapi

Tumor Wilms termasuk tumor yang paling peka terhadap obat

kemoterapi. Prinsip dasar kemoterpai adalah suatu cara

penggunaan obat sitostatika yang berkhasiat sitotoksik tinggi

terhadap sel ganas dan mempunyai efek samping yang rendah

terhadap sel yang normal.Terapi sitostatika dapat diberikan pra

maupun pasca bedah didasarkan penelitian sekitar 16-32% dari

tumor yang mudah ruptur. Biasanya, jika diberikan prabedah

selama 4 – 8 minggu. Jadi, tujuan pemberian terapi adalah untuk

menurunkan resiko rupture intraoperatif dan mengecilkan massa

tumor sehingga lebih mudah di reseksi total.

Ada lima macam obat sitostatika yang terbukti efektif dalam

pengobatan tumor Wilms, yaitu : Aktinomisin D, Vinkristin,

Adriamisin, Cisplatin dan Siklofosfamid. Mekanisme kerja obat

tersebut adalah menghambat sintesa DNA sehingga

pembentukan protein tidak terjadi akibat tidak terbentuknya

sintesa RNA di sitoplasma kanker, sehingga pembelahan sel-sel

kanker tidak terjadi.


(a) Aktinomisin D

Golongan antibiotika yang berasal dari spesies Streptomyces,

diberikan lima hari berturut-turut dengan dosis 15

mg/KgBB/hari secara intravena. Dosis total tidak melebihi

500 mikrogram.Aktinomisin D bersama dengan vinkristin

selalu digunakan sebagai terapi prabedah.

(b) Vinkristin

Golongan alkaloid murni dari tanaman Vina rossa, biasanya

diberikan dalam satu dosis 1,5 mg/m2 setiap minggu secara

intravena (tidak lebih dari 2 mg/m2). Bila melebihi dosis

dapat menimbulkan neurotoksis, bersifat iritatif, hindarkan

agar tidak terjadi ekstravasasi pada waktu pemberian secara

intravena.Vinkristin dapat dikombinasi dengan obat lain

karena jarang menyebabkan depresi hematologi, sedangkan

bila digunakan sebagai obat tunggal dapat menyebab relaps.

(c) Adriamisin

Golongan antibiotika antrasiklin diisolasi dari streptomyces

pencetius, diberikan secara intravena dengan dosis 20

mg/m2/hari selama tiga hari berturut-turut. Dosis maksimal

250 mg/m2. obat ini tidak dapat melewati sawar otak, dapat

menimbulkan toksisitas pada miokard bila melebihi dosis.

Dapat dikombinasi dengan Aktinomisin D.


(d) Cisplatin

Dosis yang umum digunakan adalah 2-3 mg/KgBB/hari atau

20 mg/m2/hari selama lima hari berturut-turut.

(e) Siklofosfamid

Dari nitrogen mustard golongan alkilator. Dosis 250 – 1800

mg/m2/hari secara intravena dengan interval 3-4 mg. Dosis

peroral 100-300 mg/m2/hari.

B. Konsep Dasar Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan.

Disini, semua data dikumpulkan secara sistematis guna menentukan

status kesehatan klien saat ini, meliputi: (Hartanto & Supriana, 2014)

a. Identitas Klien

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan,

asuransi kesehatan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS,

nomor register, serta diagnosis medis.

b. Keluhan Utama

Pada pasien tumor ginjal biasanya akan mengalami nyeri

pinggang dan massa di daerah ginjal secara bersama-sama atau

terpisah. Biasanya hanya benjolan di perut, perut membuncit,

hermaturi karena  invasi tumor yang menembus sistem

pelveokalises. Demam dapat terjadi sebagai reaksi anafilaksis tubuh

terhadap protein tumor. Gejala lain yang bisa muncul adalah : 


1) Malaise (merasa tidak enak badan)

2) Anorexia

3) Anemia

4) Lethargi

5) Hemihypertorfi

6) Nafas pendek,dyspnea,batuk,nyeri dada (karena ada metastase)

7) Adanya keluhan berupa kencing berwarna merah, oedema

sekitar daerah mata atau seluruh tubuh (anasarka), anoreksia,

mual,muntah dan diare.

c. Riwayat Penyakit

Berikut beberapa pengkajian riwayat penyakit, yaitu:

1) Riwayat Penyakit Sekarang

a) Sering kali pada saat observasi ditemukan adanya hematuria

(baik secara mikroskopis maupun gross), oliguria

b) Adanya penurunan pengeluaran urin atau BAK sedikit

c) Kandung kemih penuh, rasa seperti terbakar

d) Dorongan berkemih, mual atau muntah

e) Nyeri pada abdomen

f) Nyeri pada punggung

g) Nyeri pada panggul

h) Kolik ginjal dan kolik uretral biasanya timbul secara

mendadak

i) Nyeri pada saat kencing


j) Lamanya nyeri

k) Demam

2) Riwayat Penyakit Yang Lalu

Pada riwayat penyakit yang lalu utamanya penyakit yang

meningkatkan resiko terbentuknya batu, yaitu:

a) Hiperkalsiemia

b) Asam urat

c) Riwayat adanya ISK kronis

d) Adanya obstruksi sebelumnya

e) Riwayat kolik ginjal atau bladder tanpa batu yang keluar

f) Riwayat trauma saluran kemih.

g) Riwayat Penyakit Keluarga

Yang merupakan penyakit keluarga yaitu:

a) Adanya riwayat ISK kronis

b) Penyakit atau kelainan ginjal lainnya.

Akan tetapi penyakit tumor ginjal atau urolitiasis bukan

merupakan penyakit yang menular atau ditularkan dari orang

lain atau genetik, sehingga tidak ada pengaruhnya terhadap

keluarga yang sebelumnya mengalami batu saluran kemih

d. Pemeriksaan Fisik

(Made et al., 2018) mengatakan secara umum pemeriksaan

fisik didapatkan pemeriksaan sebagai berikut ini:


a. Kesadaran

Terjadi malaise,kelemahan otot dan kehilangan tonus akibat

hiperklemia, adanya tekanan darah yang tinggi.Gangguan tidur

karena adanya sesak nafas dan pruritus(gatal) karena uremia. 

b. Tanda-tanda vital

Pemeriksaan tanda vital yang terkait dengan tekanan darah,

nadi, suhu, turgor kulit, dan frekuensi pernafasan

c. Body sistem

1. Sistem pernafasan

Pada pasien tumur ginjal biasanya ditemukan nafas pendek,

dyspnea, nyeri dada diakibatkan karena adanya metastase *

2. Sistem kardiovaskuler

Pada pasien tumor ginjal sering ditemukan adanya tekanan

darah tinggi karena perkembangan sel kanker

3.  Sistem persyarafan

Pada fase yang berat pasien tumor ginjal ditemukan adanya

neuropati perifer

4. Sistem perkemihan

Gangguan pada eliminasi urine karena gangguan fungsi

filtrasi dan reabsorsi, sehingga terjadi oliguria, proteinuria

dan hematuria

5. Sistem pencernaan

Dari pemeriksaan palpasi pada abdomen secara bimanual


(dalam) ditemukan massa (pembesaran ginjal), dan nyeri

tekan pada ginjal

6. Sistem integumen

Terjadi edeme pada lengan

7. Sistem muskuloskeletal

Pasien mengalami penurunan aktivitas

8. Sistem endokrin

Ditemukan adanya peningkatan kadar diethylstilbestrol yang

mempengaruhi timbulnya adenokarsinoma pada ginjal

9. Sistem reproduksi

Gangguan pada testis untuk pria mengalami pembesaran

pada skrotum  dan gangguan pada labia mayora pada

perempuan mengalami nyeri tekan

10. Sistem penginderaan

Pada sistem pengindraan tidak terjadi gangguan

11. Sistem imun

Stimulun sistem imun telah membuahkan hasil positif selama

tumor tidak terlalu besar

e. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan penunjang akan membantu menegakkan diagnosa

medis kanker ginjal antara lain: (Lestari et al., 2019)

1. Ultrason abdominan : terdapat masa pada perut(retrperitoneal)

sebelah atas.
2. CT scan : dapat memberikan gamabaran pembesaran ginjal dan

sekaligus menunjukan pembesaran kelenjar regional atau infiltrasi

tumor ke jaringan sekitarnya.

3. Foto toraks : karena tingginya insiden metastase tumor ke paru-

paru,maka setiap pasien dengan Tumor Wilms harus di lakukan

pemeriksaan foto toraks.

4. Pemeriksaan darah dan urine : untuk menilai fungsi ginjal dan hati

5. Biopsi : dilakukan untuk mengambil contoh jaringan dan

pemeriksaan mikroskopik. Biospi tumor ini intuk mengevaluasi sel

dan diagnosis.

6. MRI Perut

7. CBC,BUN,dan Kreatinin

8. PIV dan nefroktom

9. Urinalis : untuk mengetahui kandungan sedimentasi dan partikel

pada urine(darah,gula,protein dan bakteri)

10. Darah lengkap : pemeriksaan dasar untuk melakukan status

hemodinamik dalam darah

11. Angiography : menggunakan zat kontras akan menggambarkan

secara jelas imaging dari kanker sampai pada vaskuler di ginjal.

12. X-Ray Thoraks : pemeriksaan ini untuk mengetahui metastase

tumor ke paru-paru.klien dengan tumor ginjal sangat rentan untuk

ke paru karena sirkulasi yang bersifat sistemik.

13. Penatalaksanaan
Penanganan pada beberapa jenis tumor ginjal antara lain :

(Gallardo et al., 2018)

a. Hermatoma ginjal

Tumor kecil dan tanoa menimbulkan keluhan tidak perlu diobati,

hanya saja memerlukan evaluasi berkala yang teratur untuk

mengetahui perkembangan besarnya massa tumor. Jika tumor

menjadi semakin besar dan sangat  mengganggu perlu

dieprtimbangkan untuk tindakan nefrektomi.

b. Adenokarsinoma Ginjal

1. Nefrektomi : tumor yang masih dalam stadium dini dilakukan

nefrektomi radikal yaitu mengangkat ginjal beserta kapsula

gerota.

2. Hormonal : penggunaa terapi hormonal belum banyak

diketahui hasilnya.

3. Imuno terapi : harganya sangat mahal dan hasil terapi dengan

obat-obatan ini masih belum jelas.

4. Radial eksterna : radiasi eksterna tidak banyak memberi

manfaat pada adenokarsinoma ginjal karena tumor ini adalah

tumor yang radioresisten.

5. Sitotastika : demikian pula pemakaian sitotastika tidak banyak

memberikan manfaat pada tumor ginjal.


c. Nefroblastoma

1. Sitotastika : pemberian ini diberikan sebelum pembedahan dan

dilanjutkan beberapa seri setelah pembedahan dengan

memberikan hasil yang cukup memuaskan.

2. Radiasi eksterna : tumor wilms memeberikan respon yang

cukup baik terhadap radio terapi.

3. Nefrektomi radikal merupakan terpai terpilih apabila tumor

belum melewati garis tengah dan belum menginflitrasi jaringan

lain.

d. Tumor wilm dikenal sebagai tumor yang radiosensitif. Akan tetapi

radio terapi dapat mengganggu pertumbuhan anak dan

menimbulkan penyulit jantung, paru dan hati

e. Tumor pelvis renalis

Tumor ini kurang memberikan respon pada pemberian sitostatika

maupun radiasi ekaterna. Terapi yang paling baik untuk tumor ini

pada stadium awal. 

2. Diagnosis Keperawatan

Menurut Tim Pokja SDKI PPNI (2017) diagnosa keperawatan yang

muncul pada tumor ginjal antara lain :

Diagnosa I

1. Nyeri akut

Definisi :Pengalaman sensori dan emosional yang berkaitan dengan

kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau


lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari

3 bulan.

2. Penyebab:

a. Agen pencedera fisiologis (mis, inflamasi, iskemia, neoplasma.

b. Agen pencedera kimiawi (mis, terbakar, bahan kimia iritan).

c. Agen pencedera fisik (mis, abses, amputasi, terbakar, terpotong,

mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik

berlebihan).

3. Gejala dan Tanda mayor

Subjektif:

Mengeluh nyeri

Obyektif:

Tampak meringis, Bersikap protektif (mis, waspada, posisi menghindari

posisi nyeri),Gelisah, Frekuensi nadi meningkat, Sulit tidur

4. Gejala dan Tanda Minor

Subjektif : (tidak tersedia)

Objektif:  Tekanan darah meningkat, Pola napas berubah, Nafsu makan

berubah, Proses berpikir terganggu, Menarik diri, Berfokus pada diri

sendiri dan Diaforesis.

5. Kondisi Klinis Terkait

a. Kondisi Pembedahan

b. Cedera traumatis

c. Infeksi
d. Sindrom koroner akut

e. Glaukoma Tim Pokja SDKI PPNI (2017)

Diagnosa II

1. Defisit Nutrisi

Definisi : Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan

metabolisme.

2. Penyebab

 Ketidakmampuan menelan makanan

 Ketidakmampuan mencerna makanan

 Ketidakmampuan mengabsorsi nutrien

 Peningkatan kebutuhan metabolisme

 Faktor ekonomi (mis, finansial tidak mencukup)

 Faktor psikologis(mis, stres, keengganan untuk makan)

3. Gejala dan Tanda mayor

Subjektif

(tidak tersedia)

Objektif

Berat badan menurun minimal 10% dibawah rentang ideal

Gejala dan Tanda minor

Subjektif

a. Cepat kenyang setelah makan

b. Kram/nyeri abdomen

c. Nafsu makan menurun


4. Gejala dan Tanda Minor

Objektif

a. Bising usu hiperaktif

b. Otot pengunyah lemah

c. Otot menelan lemah

d. Membran mukosa pucat

e. Sariawan

f. Serum albumin turun

g. Rambut rontok berlebihan

h. Diare

5. Kondisi Klinis terkait

a. Stroke

b. Parkinson

c. Mobius syndrome

d. Cerebral palsy

e. Cleft lip

f. Cleft palate

g. Amvotropic lateral sclerosisTim Pokja SDKI PPNI (2017)

Diagnosa III

1. Hipovolemia

Definisi : Penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau

intraselular.

2. Penyebab
a. Kehilangan cairan aktif

b. Kegagalan mekanisme regulasi

c. Peningkatan permeabilitas kapiler

d. Kekurangan intake cairan

e. Evaporasi

3. Gejala dan Tanda Mayor

Subjektif

(tidak tersedia)

Objektif

a. Frekuensi nadi meningkat

b. Nadi teraba lemah

c. Tekanan darah meningkat

d. Tekanan nadi menyempit

e. Turgor kulit menurun

f. Membran mukosa kering

g. Volume urin menurun

h. Hematokrit meningkat

i. Gejala dan Tanda Minor

Subjektif

a. Merasa lemah

b. Mengeluh haus

Objektif

a. Pengisian vena menurun


b. Status mental berubah

c. Suhu tubuh meningkat

d. Konsentrasi urin meningkat

e. Berat badan turun tiba-tiba

4. Kondisi Klinis terkait

a. Penyakit Addison

b. Trauma / pendarahan

c. Luka bakar

d. AIDS

e. Penyakit Crohn

f. Muntah

g. Diare

h. Kolitis ulseratif

i. HipoalbuminemiaTim Pokja SDKI PPNI (2017)

Diagnosa IV

1. Retensi urine

Definisi : Pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap.

2. Penyebab

a. Penekanan tekanan uretra

b. Kerusakan arkus refleks

c. Blok spingter

d. Disfungsi neurologis (mis, trauma, penyakit saraf)


e. Efek agen farmakologis (mis, atropine, belladonna, psikotropik,

antihistamin, opiate)

3. Gejala dan Tanda Mayor

Subjektif

Sensasi penuh pada kandung kemih

Objektif

a. Disuria/anuria

b. Distensi kandung kemih

4. Gejala dan Tanda Minor

Subjektif

a. Dribbling

Objektif

a. kontinensia berlebih

b. Residu urin 150 ml atau lebih

5. Kondisi Klinis terkait

a. Benigna prostat hyperplasia

b. Pembengkakan perineal

c. Cedera medula spinalis

d. Rektokel

e. Tumor di saluran kemih Tim Pokja SDKI PPNI (2017)


3. Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan pada klien dengan tumor ginjal adalah

sebagai berikut: (Shingarev & Jaimes, 2017)

a. Nyeri akut

1) Tujuan : memperlihatkan pengendalian nyeri, yang dibuktikan

oleh indicator sebagai berikut (sebutkan 1-5 : tidak pernah,

jarang, kadang-kadang, sering, atau selalu):

a) Mengenali awitan nyeri

b) Menggunakan tindakan pencegahan

c) Melaporkan nyeri yang dapat dikendalikan

2) Kriteria Hasil :

a. Mampu mengenali serangan nyeri.

b. Mampu mendeskripsikan penyebab nyeri.

c. Menggunakan teknik pencegahan nyeri, khususnya teknik

non farmakologis.

d. Melaporkan perubahan gejala nyeri secara periodic kepada

tenaga kesehatan.

e. Menunjukkan gejala terhadap nyeri (keluhan, menangis,

gerakan lokalisir,ekspresi wajah, gangguan istirahat tidur,

agitasi, iritabilitas meningkat, diaphoresis, penurunan

konsentrasi, kehilangan nafsu makan, dan nausea).

f. Tanda-tanda vital dalam rentang normal (respiratory rate,

apical heart rate, radial heart rate, tekanan darah).


g. Menunjukkan perubahan dampak dari nyeri (disruptive

effects), antara lain penurunan konsentrasi, penurunan

motivasi, gangguan tidur, kerusakan mobilitas fisik,

gangguan pemenuhan ADL, dan kerusakan eliminasi urine

dan alvi.

Nursing Interventions Classification (NIC) :

Aktifitas Keperawatan :

1. Kaji nyeri (lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas,

intensitas, dan faktor presipitasi dari nyeri).

2. Kaji pengetahuan klien tentang nyeri serta pengalaman sebelumnya.

3. Kaji dampak dari nyeri (gangguan tidur, penurunan nafsu makan,

gangguan aktifitas, penurunan konsentrasi).

4. Beri lingkungan yang nyaman kepada klien.

5. Ajari klien pola manajemen nyeri.

6. Ajari klien penggunaan teknik non farmakologis untuk mengurangi

nyeri.

7. Lakukan teknik PCA (Patient Controlled Analgesia) sesuai kebutuhan.

8. Anjurkan klien untuk istirahat yang cukup untuk mengurangi intensitas

nyeri.

9. Monitoring kepuasan pasien atas pelaksanaan manajemen nyeri.

Penyuluhan pasien/keluarga

1. Sertakan dalam instruksi pemulangan pasien obatt khusus yang harus

di minum, frequensi pemberian, kemungkinan efek samping,


kemungkinan interaksi obat, kewaspadaan khusus saat mengonsumsi

obat tersebut (misalnya pembatasan aktivitas fisik, pembatasan diet)

dan nama orang yang harus dihubungi bila mengalami nyeri

membandel.

2. Instruksikan pasien untuk menginformasikan kepada perawat jika

peredaan nyeri tidak dapat dicapai.

3. Informasikan kepada asien tentang prosedur yang dapat meningkatkan

nyeri dn tawarkan strategi koping yang disarankan.

4. Perbaiki kesalahan persepsi tentang analgesic narkotik atau opioid

(misalnya, risiko ketergantungan atau overdosis)

5. Managemen Nyeri (NIC) : berikan informasi tentang nyeri, seperti

penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung, dan antisipasi

ketidaknyamanan akibat prosedur.

6. Managemen Nyeri (NIC) : ajarkan penggunaan teknik

nonfarmakologis (misalnya, umpan-balik biologis, transcutaneous

electrical nerve stimulation (TENS), hypnosis, relaksasi, imajinasi

terbimbing, terapi musik, distraksi, terapi bermain, terapi aktivitas,

akupresur, kompres hangat atau dingin, dan masase) sebelum, setelah,

dan jika memungkinkan, selama aktivitas yang menimbulkan nyeri,

sebelum nyeri terjadi atau meningkat dan bersama penggunaan

tindakan peredaran nyeri yang lain.


Aktifitas kolaboratif

1. Gunakan tindakan pengendalian nyeri sebelum nyeri menjadi lebih

berat laporkan kepada dokter jika tindakan tidak berhasil atau jika

keluhan saat ini merupakan perubahan yang bermakna dari

pengalaman nyeri pasien di masa lalu. 

2. Ketidakseimbangannutrisi : kurangdarikebutuhantubuh

3. Tujuan : pasien akan mempertahankan kebutuhan nutrisi yang adekuat

4. Kriteria hasil:

5. Membuat pilihan diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam situasi

individu

6. Menunjukkan peningkatan BB

Intervensi (NIC)

Aktivitas keperawatan

1. Teneukan motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan makan.

2. Pantau nilai laboratorium, khusunya transferin, albumin, dan elektrolit.

3. Menejemen nutrisi (NIC) :

 Ketahui makanan kesukaan pasien

 Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.

 Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan.

 Timbang pasien pada interval yang tepat.

Penyuluhan untuk pasien/keluarga

1. Ajrakan metode untuk perencanaan makan.


2. Ajarkan pesien atau keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak

mahal.

3. Menejeman nutri (NIC) : beriakn informasi yang tepat tentang

keseimbangan nutrisi dan bagaimana memenuhinya.

Aktivitas kolaboratif

1. Diskusikan dengan ahli gizi dalam menentukan kebutuhan protein

pasien yang menglami ketidakadekuatan asupan protein atau

kehilangan protein (misal, pasien anoreksia nervosa atau pasien

penyakit glomerular/dialisis peritoneal)

2. Diskusikan dengan dokter kebutuhan stimulasi nafsu makan, makanan

pelengkap, pemberian makanan melaui selang, atau nutrisi perenteral

total agar asupan kalori yang adekuat dapat dipertahankan.

3. Rujuk ke dokter untuk menentukan penyebab gangguan nutrisi.

4. Rujuk ke program gizi di komunitas yang tepat, jika pasie tidak dapat

membeli atau menyiapkan mkanan yang adekuat.

5. Manajemen nutrisi (NIC): tentukan dengan melakukan kolaborasi

bersama ahli gizi, jika diperlukan, jumlah kalori dan jenis zat gizi yang

dibutuhkan unntuk memenuhi kebutuhan nutrisi (khususnya untuk

pasien dengan kebutuhan energi tinggi, seperti pasien pasca bedah dan

luka bakar trauma demam, dan luka) 

3. Resiko ketidakkeseimbangan volume cairan

4. Tujuan : pasien tidak akan mengalami ketidak seimbangan elektrolit

yang dibuktikan oleh penyembuhan luka bakar, keseimbangan cairan,


fungsi gastrointestinal, hidrasi, dan keparahan mual serta muntah

dalam rentang yang diterima.

5. Kriteria Hasil :

A. Pasien akan menujukkan keseimbangan elektrolit & asam basa

yang di buktikan oleh indikator

B. Pasien akan menunjukkan keseimbangan elektrolit & asam basa

yang dibuktikan oleh indikator berikut seperti kogn

6. Nursing Interventions Classification (NIC)

A. Manajemen Diare : menangani dan mengurangi diare

B. Manajemen Cairan / Elektrolit : mengatur dan mencegah

komplikasi dari perubahan kadar cairan dan / elektrolit

C. Terapi Hemodialisis : menangani pengeluaran ekstrakorporeal

darah pasien melalui dialyzer

D. Manajemen Medikasi : memfasilitasi penggunaan obat resep dan

obat non resep secara aman dan efektif

E. Terapi Dialisis Peritonial : memberikan dan memantau larutan

dialisis ke dalam dan keluar rongga peritoneal

Aktifitas keperawatan

Pada umumnya, aktifitas keperawatan untuk diagnosis ini berfokus pada

mengidentifikasi faktor yang menempatkan pasien pada resiko

ketidakseimbangan elektrolit, memantau tanda dan gejala, dan menangani

ketidakseimbangan khusus( biasanya secara kolaboratif). Asuhan

keperawatan bergantung pada etiologi ketidakseimbangan elektrolit(luka


bakar, diare, dialisis)

4. Evaluasi

Adapun evaluasinya yaitu :

a. Dilaporkan penurunan nyeri atau hilang pada skala (0-4), ekspresi

wajah dan posisi tubuh klien tampak rileks.

b. Klien mempunyai pola berkemih yang normal, dimana masuk dan

pengeluarannya seimbang.

c. Klien melaporkan mual mulai berkurang dan tidak terjadi muntah

d. Tidak ada tanda dan gejala dari infeksi, seperti: demam, disuria,

urgensi, frekuensi, dan hematuria


C. Pathways
DAFTAR PUSTAKA

Barata, P. C., & Rini, B. I. (2017). Treatment of renal cell carcinoma: Current

status and future directions. CA: A Cancer Journal for Clinicians, 67(6),

507–524. https://doi.org/10.3322/caac.21411

Dutcher, J. P. (2019). Update on the biology and management of renal cell

carcinoma. Journal of Investigative Medicine, 67(1), 1–10.

https://doi.org/10.1136/jim-2018-000918

Gallardo, E., Méndez-Vidal, M. J., Pérez-Gracia, J. L., Sepúlveda-Sánchez, J. M.,

Campayo, M., Chirivella-González, I., … Suárez, C. (2018). SEOM clinical

guideline for treatment of kidney cancer (2017). Clinical and Translational

Oncology, 20(1), 47–56. https://doi.org/10.1007/s12094-017-1765-4

Greef, B., & Eisen, T. (2016). Medical treatment of renal cancer: New horizons.

British Journal of Cancer, 115(5), 505–516.

https://doi.org/10.1038/bjc.2016.230

Hartanto, S., & Supriana, N. (2014). Tatalaksana Tumor Wilms. Jurnal

Radioterapi & Onkologi Indonesia, 5(2), 61–69.

Hu, S. L., Chang, A., Perazella, M. A., Okusa, M. D., Jaimes, E. A., & Weiss, R.

H. (2016). The nephrologist’s tumor: Basic biology and management of renal

cell carcinoma. Journal of the American Society of Nephrology, 27(8), 2227–

2237. https://doi.org/10.1681/ASN.2015121335

LeMone, P. (2016). Keperawatan Medikal Bedah: Gangguan Eliminasi. Jakarta:

EGC.

Lestari, A. S., Harun, H., & Program, M. P. (2019). Pemeriksaan penunjang


dalam mendiagnosis tumor ginjal. Jurnal Medical Profession (MedPro),

1(2), 112–117.

Made, N., Adnyani, D., & Widiana, I. G. R. (2018). Diagnosis dan tatalaksana

pasien karsinoma sel renal. Jurnal Penyakit Dalam Udayana, 2(2), 23–27.

Melisa, J., Monoarfa, A., & Tjandra, F. (2016). Profil penderita karsinoma sel

ginjal ( renal cell carcinoma ). Jurnal E-Clinic (ECI), 4(2).

Nabi, S., Kessler, E. R., Bernard, B., Flaig, T. W., & Lam, E. T. (2018). Renal cell

carcinoma: a review of biology and pathophysiology. F1000Research, 7(0),

1–10. https://doi.org/10.12688/f1000research.13179.1

Ppni, dewan pengurus. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia

Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI.

Shingarev, R., & Jaimes, E. A. (2017). Renal cell carcinoma: New insights and

challenges for a clinician scientist. American Journal of Physiology - Renal

Physiology, 313(2), F145–F154. https://doi.org/10.1152/ajprenal.00480.2016

Widiani, H. (2020). Penyakit ginjal kronik stadium V akibat nefrolitiasis. Doaj,

11(1), 160–164. https://doi.org/10.15562/ism.v11i1.680