Anda di halaman 1dari 24

UJI KESESUAIAN TABUNG KOLIMATOR SINAR-X DENGAN JENIS

PESAWAT YANG BERBEDA

Susi Susanti

Jurusan Fisika
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Email: Susisusanti02@gmail.com

Telah dilakukan pengujian tentang collimator beam dengan berkas sinar-x pada pesawat
rontgsen, yaitu pesawat Raico, tipe R108F nomor seri R108F DHHS di Rumah Sakit Umum
Daerah Raden Mattaher Jambi, pengujian tabung kolimasi pesawat-X konvensional di
laboratorium radiologi jurusan DIII Radiologi Universitas Baiturrahmah, uji efisiensi shutter
kolimator dengan ada tidaknya kebocoran dari celah kolimator peralatan sinar x, pengujian
ini bertujuan untuk menentukan dan menganalisis ketepatan collimator dengan berkas sinar-
X, untuk melakukan dua metode uji yaitu kesesuaian alligment test tool dengan berkas sinar-
X dan kesesuaian area berkas sinar-x dengan menggunakan collimator test tool, serta
dilakukan dengan variasi jarak focus ke film (FFD), mengetahui iluminensi lampu kolimator
dan kesamaan berkas cahaya kolimasi pada pesawat tersebut,untuk mengetahui efisiensi
shutter kolimator dengan ada tidaknya kebocoran dari celah kolimator peralatan sinar x,
untuk mengoptimalkan dosis radiasi yang diterima oleh pasien yang menjalani pemeriksaan x
ray, parameter x-ray, untuk menilai tabung x-ray untuk half value layer (HVL), bidang x-Ray
dan kesesuaian medan cahaya menggunakan standar yang diketahui. Hasil analisis yang telah
dilakukan menunjukkan bahwa pesawat rontgen, merek pesawat Raico, tipe R108F nomor
seri R108F DHHS di Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi masih memenuhi batas nilai lolos
uji yaitu lebih kecil atau sama dengan nilai lolos uji yang telah ditetapkan Hasil yang
diperoleh dari penelitian untuk uji iluminensi lampu kolimator adalah 124,75 lux masih
berada dalam batas toleransi yaitu lebih dari 100 lux pada jarak 1 meter dan untuk hasil uji
kesamaan berkas cahaya kolimasi adalah berupa penyimpangan sebesar ΔX sebesar 1 cm dan
ΔY sebesar 1,3 cm dan deviasi sebesar 1,5 derajat. Nilai ini masih berada dalam rentang
toleransi pengukuran NCRP (National Council on Radiation Protection and Measurements)
yaitu ΔX dan ΔY ≤ 2% FFD dan deviasi ≤ 30. Hasil diperoleh adanya kebocoran shutter
kolimasi dengan ditandai adanya penghitaman pada film rontgen, pada 8 (delapan) peralatan
sinar-x, ada yang kebocorannya menyeluruh (sangat signifikan), dan ada yang kebocorannya
cukup besar, serta ada yang kebocorannya sedikit tabung, kolimator bidang cahaya dan Half
Value Layer (HVL) dipelajari, menggunakan Gammex 161B alat uji kolimator, Gammex
beam alignment alat uji model 162A, Gammex 115A HVL set dan dengan diavolt kV meter
Kolimasi uji lapangan cahaya menunjukkan bahwa, M2, M3, M4, M5, M7, M9, M10 dan
M11 semuanya tidak selaras dalam batas yang diizinkan ± 2 cm, sementara M1 dan M8
berada di atas batas . Hasil HVL berkisar antara 3,40 hingga 4,4mmAl. Juga, jumlah
ketidaksejajaran di kedua arah ortogonal berkisar 7,21 hingga 9,70% dari FID di ketiga pusat.
Kesimpulan HVL berada dalam batas standar pada 80 dan 100 kVp di semua pusat
penelitian. Namun, bidang x-ray dan bidang cahaya sangat tidak selaras. nilai yang diamati
dari tes HVL bervariasi antara 1,4mm dan 4,5mm dengan nilai yang direkomendasikan
2.5mmAl. 50% mesin berada dalam kisaran nilai yang disarankan sementara 50% berada di
atas nilai yang disarankan. Ini menyiratkan bahwa pemeriksaan pemeliharaan diperlukan
pada beberapa mesin yang dipelajari untuk meningkatkan kontras gambar dan melindungi
pasien dari paparan yang tidak diinginkan.

Kata kunci: mesin x-ray, penyelarasan sinar, collimation, batas toleransi, kontras gambar.

1. METODE PENELITIAN
Dengan tema “pengujian tabung kolimator pesawat sinar-x merk toshiba type
e2739 di laboratorium radiologi universitas baiturrahmah padang”
Penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif experimental dengan
langsung meneliti ke lapangan. Lokasi penelitian di Laboratorium Jurusan DIII
Radiologi Universitas Baiturrahmah dengan pengambilan data dilakukan pada Juni
2017. Alat dan bahan penunjang yang digunakan pada penelitian ini adalah; pesawat
sinar-X konvensional dengan spesifikasi tabung pesawat merk Toshiba model E7239
nomor seri 1K0071 sebagai objek uji, Lux meter untuk mengukur iluminensi berkas
cahaya kolimator, Collimator Alignment Test Tool untuk menentukan akurasi pada
kesamaan antara berkas sinar-X dengan berkas cahaya, Beam Alignment Test Tool
untuk mengevaluasi ketepatan berkas sinar-X dengan pusat berkas cahaya, film sinar-
X, kaset berukuran 24 cm × 30 cm, pita pengukur dan jangka sorong.
Uji Iluminensi Lampu Kolimator
dengan Menempatkan lux meter 100 cm dari fokus tabung sinar-X. dan detektor
paralel dengan aksis anoda dan katoda kemudian Menyalakan berkas cahaya pada
kolimator dengan luas kira-kira 25 cm × 25 cm. 5 dengan mengukur cahaya latar
dalam ruangan dan mengukur masing-masing titik pada empat luas bagian.

Uji Kesamaan Berkas Cahaya Kolimator


Pengujian kolimator pesawat digunakan seperangkat alat uji yaitu; (1)
Collimator Alignment Test Tool untuk menentukan akurasi pada kesamaan antara
berkas sinar-X dan berkas cahaya dan (2) Beam Alignment Test Tool untuk
mengevaluasi ketepatan berkas sinar-X dengan pusat berkas cahaya. Faktor eksposi
yang digunakan adalah 60 kV, 75 mAs, dengan menempatkan kaset di bawah
lapangan penyinaran. Berdasarkan hasil pengujian kolimator diperoleh penyimpangan
lapangan penyinaran.

2. Metode Penelitian
“uji kesesuaian collimator beam dengan berkas sinar-x pada pesawat raico di
instalasi radiologi raden mattaher jambi”
Dalam penelitian ini dilakukan pengujian kesesuain collimator beem dan
berkas sinar x pada pesawat Raico dengan mengunakan alligment test tool dan
collimator test tool yang mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 1250/MENKES/SK/XII/2009.Tentang Pedoman Kendali Mutu
(Quality Control) Peralatan Radiodiagnostik. dengan alat yang di pakai antara lain:
collimator test tool, alligment test tool, kaset (CR) ukuran 24 x 30 cm, film, waterpass
dan pesawat Raico, tipe/ model R108F nomor seri R108F DHHS. Dengan mengatur
jarak antara focus ke titik film (FFD) Beserta dengan Kv rendah yaitu 46,Kv, 6,3
mAs, menggunakan alat uji khusus (Collimator test tool dan alligment test tool)
kemudian mengetur permukaan alat uji dengan identifikasi sumbu X ( arah anoda-
katoda) sumbu Y (arah atas bawah) mengukur berkas titik tengah tabung
menggunakan waterpass Kemudian mengekpose dan cuci film. Dengan menukur
tingkat penyimpanan luas sinar-X setelah itu menghitung tingkat kemiringan titik
pusat, dengan mengulangi dengan variasi ketinggian

3. Metode Penelitian dengan tema “ uji efisiensi celah (shutter) kolimasi tabung
sinar-x di laboratorium jur tro poltekkes jakarta ii dan dua instalasi
radiologi lahan pkl di jakarta”
Penelitian ini dilakukan di laboratorium Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan
Radioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta II dan dua Instalasi Radiologi Lahan PKL
mahasiswa, yaitu Instalasi Radiologi RS X dan Instalasi Radiologi RS Y dengan
menggunakan teknik porposive dengan sampel uji efisiensi celah (shutter) kolimator
peralatan sinar-x di laboratorium Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi
Poltekkes Kemenkes Jakarta II dan serta dua instalasi radiologi RS lahan PKL
mahasiswa Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Poltekkes Kemenkes
Jakarta II, sebanyak 8 peralatan sinar-x.
Pengolahan data disajikan dengan deskriptif. Jika tidak terdapat gambaran
hitam pada film,makacelah (shutter) kolimator telah sesuai dengan aturan. Tetapi jika
terdapat Jenis penelitian yang digunakkan adalah metode kualitatif dengan
menggunakan metode deskriptif cross sectional, melakukan pengujian celah (shutter)
kolimator terhadap peralatan sinar-x yang terdapat di laboratorium dan dua instalasi
Radiologi lahan PKL mahasiswa Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi
PoltekkesKemenkesJakarta II.

4. Metode Penelitian dengan tema “Penilaian penyelarasan balok, colimator dan


setengah nilai lapisan beberapa mesin x ray yang dipilih di Nigeria Negara
dataran tinggi “
Beam Alignment, Collimation, dan Congruence Menggunakan alat uji
kolimator Gammex 161B dan alat uji penyelarasan balok Gammex model 162A. Alat
tersebut ditempatkan pada kaset film yang dimuat yang kemudian ditempatkan di atas
meja radiografi dan balok alat uji pelurusan ditempatkan di tengah alat uji kolimator
dengan bola baja di kedua ujungnya selaras. Dengan kVp tetap dan mAs yang
bergantung pada kekuatan kimia pengembang pada fokus film jarak 100cm,
pemaparan dilakukan pada bidang cahaya terkolimasi dengan baik pada persegi
panjang yang ditandai alat uji kolimator. Ketika film radiografi dikembangkan,
collimation pada permukaan etsa ditandai terlihat di film radiografi dan posisi kedua
bola baja. Penjajaran balok, jika gambar kedua bola tumpang tindih balok adalah
0,5o, jika bola atas memotong lingkaran pertama, balok adalah 1,5o jauh dari tegak
lurus dan jika pada lingkaran kedua, misalignment adalah 3o. Half Value Layer
(HVL) Lapisan nilai setengah diukur menggunakan Gammex 115A HVL set untuk
setiap mesin x-ray pada bidang focus jarak (FFD) 100cm pada kVp tetap dan mA
yang tergantung pada kV yang sering digunakan. Diavolt kV meter ditempatkan pada
kisi yang diletakkan di atas meja radiografi. Sinar x-ray dipusatkan di meter dan
bidang cahaya dikolimasi dengan meter kV. Pengukuran awal dilakukan dan dicatat
tanpa filter aluminium attenuator yang menutupi bidang cahaya. Pembacaan
berurutan kemudian diambil dengan memvariasikan paduan aluminium attenuator
filter dari 1, 2, 3, 4 dan 5mm dengan menempelkan filter di muka kolimator. Dengan
kV meter di tempat nilai penurunan dosis radiasi diukur. HVL dari x-ray balok
ditentukan dengan merencanakan dosis filter saringan aluminium.

5. Metode Penelitian dengan tema “kontrol kualitas tabung sinar x konvensional


di tiga rumah sakit tersier di Nigeria tenggara”
Penelitian ini adalah survei cross-sectional yang dilakukan di tiga rumah sakit
tersier di Tenggara, Nigeria antara Mei dan Juni 2017. Persetujuan etis diperoleh dari
Komite Etik Rumah Sakit Pendidikan Universitas Nnamdi Azikiwe (NAUTH / CS /
66 / Vol.9 / 21 ).
Potensi tabung dan arus tabung adalah masing-masing maksimum 150 kVp dan 630
mA. Spesifikasi ini diperoleh dari badan tabung x-ray dan panel kontrol karena
manual yang tidak dapat diakses.
Half value layer (HVL) diukur menggunakan meteran detektor radiasi digital
multifungsi (Piraham 500) yang non-invasif, dikalibrasi pabrik, diproduksi di Swedia.
Meteran detektor multi-fungsi ini memiliki kemampuan untuk mengukur kVp yang
dipilih dengan HVL yang sesuai dan juga menampilkan hasil dengan bantuan
komputer yang terhubung dengannya pada saat bersamaan.
Prosedur ini dilakukan dengan menempatkan meteran detektor di sinar-x pada
FID 100 cm sepanjang sinar pusat. Perhatian diambil dalam menyelaraskan perangkat
detektor digital ke balok, dan kolimasi berkas cahaya dengan hati-hati ke area yang
ditandai dari detektor dilakukan untuk menghindari kesalahan sistematis. Potensi
tabung 80 dan 100 kVp dipilih dan paparan dibuat. HVL yang sesuai kemudian
direkam Tiga pengukuran berbeda dilakukan pada setiap KVp dan nilai rata-rata, dan
persentase penyimpangan dihitung. Disarankan bahwa HVL pada 80 dan 100 kVp
masing-masing tidak boleh kurang dari 2,3 dan 2,7 mmAl, [2, 10]. Bidang sinar-X
dan kesesuaian medan cahaya juga diukur dengan menempatkan kaset ukuran 18 x
24cm yang diisi dengan film pada FID 100 cm. Localizer cahaya berada pada posisi
ON dan menunjuk tegak lurus ke kaset. Penanda logam digunakan untuk
menggambarkan batas bidang cahaya . Paparan radiografi film diambil menggunakan
60 kVp, 200 mA dan 3mAs dan diproses. Misalignment dari penanda logam dengan
tepi bidang x-ray ditentukan dari radiograf yang dikembangkan. Badan pengawas
nasional dan internasional menetapkan bahwa misalignment pada satu arah ortogonal
tidak boleh melebihi 2,0% dari fokus ke jarak gambar .
Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2, besarnya penyimpangan (E) dalam
persentase dihitung sebagai berikut:
a
E di arah horisontal = (| ∨¿ ) x100% … (1)
AB
b
E di arah vertikal =(| ∨¿) x100% … (2)
AC
Jumlah e di kedua arah ortogonal = (1) + (2)

Dimana |AC| adalah besarnya AC, |AB| adalah besarnya AB, sedangkan ‘a’ adalah
ketidaksejajaran dalam arah horizontal, dan ‘b’ adalah ketidaksejajaran dalam arah
vertikal.

1. Hasil dan Pembahasan dengan tema “pengujian tabung kolimator pesawat


sinar-x merk toshiba type e2739 di laboratorium radiologi universitas
baiturrahmah padang”
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada pesawat sinar-X merk
Toshiba type E2739, didapatkan hasil pengujian iluminensi kolimator pada Tabel 1
dan hasil pengujian kesamaan berkas cahaya kolimasi pada Tabel 2.
Hasil pengukuran pada pengujian iluminensi lampu kolimator menunjukkan
bahwa pada setiap area nilainya berbeda meskipun dilakukan pada waktu yang
bersamaan. Nilai cahaya lampu tertinggi terdapat pada area 4 yaitu 266,00 lux dan
nilai terendah pada area 2 yaitu 247,00 lux. Nilai rata-rata dari keempat area adalah
sebesar 256,75 lux, sedangkan nilai cahaya latar 132,00 lux, sehingga didapatkan
hasil pengukuran adalah sebesar 124,75 lux. Berdasarkan hasil tersebut bahwa nilai
cahaya lampu bisa diterima karena nilainya lebih tinggi dari 100 lux. Berdasarkan
hasil uji lampu iluminensi, lampu kolimator mendekati nilai limit sehingga perlu
segera dilakukan perbiakan. Dengan demikian, hasil secara keseluruhan nilai cahaya
lampu dapat diterima karena melebihi 100 lux.
Hasil pengujian kesesuaian kolimasi menunjukkan bahwa ΔX + ΔY = 2,3 %
FFD. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kesesuaian kolimasi masih layak. Hal ini
berdasarkan KEPMENKES No.1250/MENKES/SK/XII/2009 tentang Pedoman
Kendali Mutu (Quality Assurance) Peralatan Radiodiagnostik yang menyatakan
bahwa sebuah kolimator dikatakan masih layak jika ΔX dan ΔY ≤ 2 % FFD
dan│ΔX│+│ΔY│≤ 3 % FFD, dengan ΔX adalah jumlah dari X1 + X2 dan ΔY
adalah jumlah dari Y1 + Y2. Hasil pengujian ketepatan berkas pesawat sinar-X merk
Toshiba type E2739 dengan pusat berkas cahaya menunjukkan bahwa terdapat
pergeseran pusat dari lapangan penyinaran yang terlihat pada beam alignment
tersebut. Dalan hal ini terjadi deviasi sebesar 1,5º dari posisi normalnya. Walaupun
demikian hasil pengukuran tersebut menunjukkan bahwa ketidaklurusan beam
alignment masih dalam batas toleransi uji yang diperbolehkan menurut standar NCRP
yaitu sebesar 3º. Diskusi dari pembahasan di atas bahwa jika berkas cahaya kolimasi
tidak sesuai dengan berkas radiasi yang dihasilkan maka akan berakibat pada objek
hasil radiograf yang kita inginkan tidak akan tervisualisai dengan maksimal atau
terpotongnya objek yang kita inginkan. Hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya
pengulangan foto pada pasien, jika pengulangan foto dilakukan maka akan
memberikan efek bertambahnya dosis radiasi yang akan diterima oleh pasien dan
akan bertambah juga dosis radiasi yang diterima oleh petugas atau operator pada
pesawat tersebut.

2. HASIL DAN PEMBAHASAN dengan tema “ uji kesesuaian collimator


beam dengan berkas sinar-x pada pesawat raico di instalasi radiologi
raden mattaher jambi”

Dari hasil pengujian yang dilakukan dilapangan hasil yang diperoleh dari
collimator beam dengan berkas sinar –x .

Gambar 3. Hasil FFD 80 cm


Gambar 4.Hasil FFD 90 cm

Gambar 5.Hasil FFD 100 cm


Gambar 6.Hasil FFD 110 cm
Adapun standar pengujian collimator beam dengan berkas sinar –X, dimana
pada pengujian apabila terjadi penyimpangan bidang cahaya collimator dengan
berkas sinar-X bagian horizontal (anoda-katoda) maupun vertikel (sumbu atas-
bawah) tidak boleh melebihi 2 % dari jarak fokus ke bidang film (FFD) dan total
deviasi penyimpangan horizontal ditambah vertikal tidak boleh melebihi 2 % dari
jarak fokus ke bidang film (FFD) dan Standar toleransi penyimpangan titik pusat
berkas adalah ≤ 3° dimana pada lingkaran kecil dengan jarak 0 – 0,5 cm pada
kemiringan 1,50 dan lingkaran besar dengan jarak 0,6 - 1 cm pada kemiringan 30
yang ditampilkan pada Tabel 1.
Setelah dilakukan pengujian pada pesawat raico hasil yang didapatkan untuk
penyimpangan bidang berkas collimator dengan berkas sinar –x pada Tabel 2 dan
Tabel 3 untuk FFD 80 cm didapatkan deviasi pada sumbu horizontal 0,5 cm, sumbu
vertikal 1 cm yang mana standar toleransi nya 1,6 cm dan untuk (x + y) dari
pengujian didapatkan 1,5 cm sedangkan untuk tolerasi penyimpangan adalah 1,6 cm
sehingga pada ketinggian FFD 80 cm tidak ada penyimpangan luas kolimator dengan
berkas sinar X, pada FFD 90 cm didapatkan deviasi pada sumbu horizontal 0 cm,
sumbu vertikal 1 cm yang mana standar toleransi nya 1,8 cm dan untuk (x + y) dari
pengujian didapatkan 1 cm sedangkan untuk tolerasi penyimpangan adalah 1,8 cm
sehingga pada ketinggian FFD 90 cm tidak ada penyimpangan luas kolimator dengan
berkas sinar x, pada FFD 100 cm didapatkan deviasi pada sumbu horizontal 1 cm,
sumbu vertikal 0 cm yang mana standar toleransinya 2 cm dan untuk (x + y) dari
pengujian didapatkan 1 cm sedangkan untuk tolerasi penyimpangan adalah 2 cm
sehingga pada ketinggian FFD 100 cm tidak ada penyimpangan luas kolimator
dengan berkas sinar X, pada FFD 110 cm didapatkan deviasi pada sumbu horizontal
0,5 cm, sumbu vertikal 0 cm yang mana standar toleransinya 2,2 cm dan untuk (x +
y) dari pengujian didapatkan 0,5 cm sedangkan untuk tolerasi penyimpangan adalah
2,2 cm sehingga pada ketinggian FFD 110 cm juga tidak ada penyimpangan luas
kolimator dengan berkas sinar X, karena hasilnya masih di bawah batas toleransi
penyimpangan yang ditetapkan, dari hasil pengamatan didapatkan bahwa semakin
tinggi FFD maka semakin kecil penyimpangannya karena faktor geometrik dari FFD
ke objek. Kemudian untuk penyimpangan titik pusat berkas sinar –X pada ketinggian
FFD 80 cm , 90 cm, 100 cm dan 110 cm juga tidak terjadi penyimpangan karena
dalam pengujian didapatkan 1,50 sedangkan batas toleransinya ≤ 30.

Ketepatan titik pusat berkas sinar-X merupakan faktor yang penting untuk
menentukan Resolusi parsial dalam gambaran radiografi. Resolusi parsial adalah
kemampuan suatu alat dalam menampilkan gambaran dua obyek yang kecil yang
saling berdekatan. Penyimpangan ketepatan titik pusat berkas sinar-X dapat
mengakibatkan terjadinya magnifikasi dan distorsi pada gambaran radiografi
sehingga tidak dapat menegakkan diagnose, dan Parameter Uji Kolimasi Lapangan
ini dilakukan untuk mempengaruhi dosis radiasi pasien dan menentukan kelayakan
operasi sinar-X. Kelayakan sinar-X dapat diketahui dengan menguji lapangan
kolimasi untuk memastikan dalam batas yang diterima bahwa bidang berkas sinar-X
kongruen dengan bidang berkas collimator

3. HASIL DAN PEMBAHASAN “ uji efisiensi celah (shutter) kolimasi


tabung sinar-x di laboratorium jur tro poltekkes jakarta ii dan dua
instalasi radiologi lahan pkl di jakarta”
Hasil penelitian ini berupa data deskriptif yang di uji di tiga tempat. Jumlah
peralatan sinar x yang digunakan pada uji efisiensi shutter kolimator ini sebanyak
delapan unit, yang mana dua unit peralatan sinar-x dari laboratorium Jurusan TRO,
empat unit peralatan sinar-x dari instalasi RS X dan dua unit peralatan sinar-x dari
instalasi RS Y.
Pungujian Shurter di Laboratorium Jurusan TRO
Hasil pengujian celah shurter di Laboratorium jurusan TRO pada Peralatan
Sinar-x Merk RD (Gambar 2A) menunjukan shutter kolimator tidak berfungsi dengan
baik, terlihat dengan adanya kebocoran pada sisi transversal dengan ukuran 14 cm ,
sedangkan sisi longitudinalnya berfungsi dengan baik. Hasil Pengujian celah
(shutter) Kolimator Peralatan Sinar-x Merk SH (Gambar 2B) menunjukan shutter
kolimator tidak berfungsi dengan baik, terlihat dengan adanya kebocoran yang tidak
merata pada sisi longitudinal dengan ukuran 8cm, dan terjadi pergeseran ke arah
bucky tray sebesar 2,5 cm, sedangkan sisi transversalnya berfungsi dengan baik.

Gambar 2. Hasil Uji Shutter di Laboratorium TRO A) Peralatan Sinar-x merk RD B)


Merk SH

Pengujian Shutter di Rumah Sakit X


Hasil Pengujian Shutter Kolimator Peralatan Sinar-x Merk SM-m (Gambar
3A) menunjukkan shutter kolimator tidak berfungsi dengan baik, terlihat dengan
adanya kebocoran pada sisi transversal dengan ukuran 2,3cm, sedangkan sisi
longitudinal ada kebocoran tidak merata dengan ukuran 3,5cm.
Hasil Pengujian Shutter Kolimator Peralatan Sinar-x Merk SM-s ( Gambar 3B)
menunjukan shutter kolimator tidak berfungsi
Gambar 3. Hasil Uji Shutter di RS-X A) Peralatan Sinar-x Merk SM-m B) Merk
SM-s C) Merk SM-p D) Merk SM-g

Hasil Pengujian Shutter Kolimator Peralatan Sinar-x Merk SM-p ( Gambar


3C) menunjukan shutter kolimator tidak berfungsi dengan baik, terlihat dengan
adanya kebocoran tidak merata pada sisi transversal dengan ukuran 4,5cm dan sisi
longitudinal 10,5 cm.
Hasil Pengujian Shutter Kolimator Peralatan Sinar-x Merk SM-g (Gambar 3D)
menunjukkan shutter kolimator tidak berfungsi dengan baik, terlihat dengan adanya
kebocoran menyeluruh pada sisi transversal dan longitudinal.
Pengujian Shutter di Rumah Sakit Y
Hasil Pengujian Shutter Kolimator Peralatan Sinar-x Merk SH (Gambar 4A)
menunjukan shutter kolimator berfungsi dengan baik , terlihat dengan tidak adanya
kebocoran pada kedua sisi transversal dan longitudinal.
Gambar 4. Hasil Uji Shutter di RS-Y A) Peralatan Sinar-x Merk SH B) Merk SM

Hasil Pengujian Shutter Kolimator Peralatan Sinar-x Merk SM (Gambar 4B)


menunjukan shutter kolimator tidak berfungsi dengan baik, terlihat dengan adanya
kebocoran sedikit pada sisi longitudinal dengan ukuran 0,8 cm. Dari penelitian ini
didapatkan hasil yang beragam, mulai dari shutter kolimator yang berfungsi baik
yaitu yang tidak mengalami kebocoran sama sekali, hingga yang kurang berfungsi
dengan baik yaitu yang mengalami kebocoran.Hasil yang menunjukan shutter
kolimator berfungsi dengan baik, ditandai dengan tidak adanya kebocoran atau
penyimpangan yang ditandai tidak terdapatnya gambaran hitam pada film yang telah
dieksposi dan juga telah dilakukan prosessing film sesuai dengan standar acuan
(golden standart) dari hasil pengujian celah (shutter) kolimator sesuai PERMENKES
RI nomor 1250/MENKES/SK/XII/2009.
4. hasil dengan tema “Penilaian penyelarasan balok, colimator dan setengah
nilai lapisan beberapa mesin x ray yang dipilih di Nigeria Negara
dataran tinggi “

Hasil tiga uji kontrol kualitas yang dilakukan pada 12 mesin x-ray dengan dua mesin
memiliki cahaya kolimator yang salah ditunjukkan pada tabel 1-3 dan gambar 1-2
Tabel 1: Hasil Uji Keselarasan Balok
Tabel 1 dan gambar 1 menunjukkan bahwa uji penyelarasan balok untuk M1,
M2, M3, M5 M9 semuanya berada dalam batas toleransi yang direkomendasikan 1,5o
(Rehani, 1995) sementara M4, M7, M8, M10, M11 berada di atas batas toleransi yang
dibutuhkan. Tabel 2 menunjukkan collimation dengan M2, M3, M4, M5, M7, M9,
M10 dan M11all tidak selaras dalam batas toleransi ± 2% (AAPM, 2002) sedangkan
M1 dan M8 berada di atas toleransi membatasi. Hasil Half Value Layer dari tabel 3
menunjukkan penurunan yang cukup besar dalam dosis yang diserap peningkatan
ketebalan filter untuk semua 12 mesin x-ray diagnostik yang dipelajari. Nilai-nilai
yang diamati bervariasi antara 1.4mm dan 4.5mm dengan nilai yang
direkomendasikan 1.5mmAl pada 70kVp dan 2.3mmAl di 80kVp [(APPM, 1988).
50% dari mesin x-ray M2, M4, M6, M7, M10 dan M12 berada di dalam kisaran
sementara 50% (M1, M3, M5, M9, M11 dan M12) berada di atas kisaran. Ini
mungkin disebabkan oleh pergeseran posisi bidang cahaya, cermin dan titik fokus
anoda. Tes tidak dilakukan untuk dua x-ray mesin karena keadaan mesin pada saat
penelitian. Dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya yang dilakukan pada
penilaian uji kontrol kualitas pada penyelarasan balok, penyaringan dan penyaringan
sinar-x oleh Ismail et al., 2015, Okeji et al., 2016, Sungita et al., 2006, Akagerger et
al., 2016 dan Al-kinani & Yassin., 2013, hasil dari beberapa rumah sakit yang diteliti
(Ismail et al dan Akagerger et al.,) memiliki tingkat kepatuhan yang baik dengan
standar yang direkomendasikan untuk sebagian besar xray mesin, sementara
penelitian lain (Okeji et al dan Al-kinani & Yassin et al) menunjukkan tingkat tinggi
mesin ketidakpatuhan terhadap standar yang direkomendasikan.5. 5. 5. Hasil dengan
tema “kontrol kualitas tabung sinar x konvensional di tiga rumah sakit tersier di
Nigeria tenggara”
Spesifikasi mesin x-ray di pusat ditunjukkan pada Tabel 1. Hasil yang
disajikan pada Tabel 2 menunjukkan bahwa HVL yang diukur (2,40 - 4,71) berada
dalam nilai yang disarankan (> 2,3 mmAl) pada 80 dan (> 2,3 mmAl) masing-masing
pada 100kVp. Hasil bidang x-ray dan kongruensi bidang cahaya disajikan pada Tabel
3. Jumlah ketidakselarasan di kedua arah ortogonal berkisar antara 7,21% hingga
9,70%. Gambar 1 memberikan pengaturan gambar untuk pengukuran HVL,
sedangkan Gambar 2a - d menunjukkan pengaturan untuk pengujian bidang x-ray dan
kesesuaian medan cahaya.
Gambar 1 : p0engaturan untuk pengukuran lapisan nilai tengah

Gambar 2 : pengaturan bergambar untuk pengukuran sinar x dan kongruensi


medan cahaya.

Gambar 2b: pengaturan diagram untuk pengujian bidang sinar x dan


kesesuaian medan cahaya.
Gambar 2c: representasi diagram dari ketidakselarasan dari radiografi yang
dikembangkan

Gambar 2d: radiografi yang diproses menunjukkan bukti ketidakselarasan


bidang sinar x dan bidang cahaya

Pengukuran HVL digunakan untuk menilai kecukupan filtrasi dalam sinar x-


ray. Filtrasi yang tidak memadai akan menghasilkan peningkatan dosis pasien. Dalam
penelitian ini, HVL yang diukur lebih tinggi dari nilai yang direkomendasikan.
Padahal, nilai-nilai ini cukup tinggi untuk mengurangi dosis radiasi pada pasien;
peralatan akan terlalu ditekankan karena diperlukan faktor yang lebih tinggi untuk
mendapatkan kualitas gambar yang bermanfaat. Filtrasi yang berlebihan
menghasilkan tekanan ekstra pada tabung sinar-X, hilangnya kontras radiografi, dan
peningkatan waktu pemaparan. Peningkatan waktu pemaparan dapat menyebabkan
kekaburan gambar akibat gerakan pasien .

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini mirip dengan Akaagerger et al [11].
Mereka mengaitkan varians mereka dalam nilai-nilai HVL dengan paduan aluminium
yang digunakan. Paduan memiliki beberapa persentase pengotor yang mencerminkan
nilai HVL dan koefisien atenuasi. Selain itu, kerapatan filter aluminium yang
digunakan memiliki kecenderungan untuk mempengaruhi nilai-nilai karena
mempengaruhi redaman dari sinar-x. Selain itu, kualitas balok akan berubah seiring
usia tabung sinar-x karena hasil pengendapan bahan anoda di dalam jendela tabung
dan pengerasan permukaan anoda.

Dalam sebuah studi oleh Begun , mereka menemukan bahwa tidak ada
peralatan x-ray diagnostik yang dipelajari mencapai standar yang direkomendasikan.
Namun, di Tanzania, Plainoi et al mengungkapkan bahwa sekitar 92% dari peralatan
yang dipelajari berada dalam rekomendasi standar. Selanjutnya, di negara yang sama,
Nkuba dan Nyanda melaporkan bahwa 97,0% dari nilai-nilai HVL yang dilaporkan
berada dalam rekomendasi standar. Dalam penelitian itu, penulis menyatakan bahwa
beberapa pengukuran mencapai 5,86 mmAl pada 80kVp. Meskipun, dua laporan
terakhir dari Tanzania mengungkapkan bahwa sejumlah besar unit berada dalam
standar yang direkomendasikan, namun pengukuran berada di sisi yang tinggi.

Hasil X-ray field dan kongruensi field light yang disajikan dalam penelitian
ini menunjukkan ketidakselarasan kotor di semua pusat yang disurvei, dengan jumlah
ketidaksejajaran di kedua arah ortogonal mulai dari 7,21% hingga 9,70% dari FID.
Demikian pula, Farzeneh [15] melaporkan bahwa semua sembilan unit yang
dipelajari gagal uji coba bidang medan optik dan radiasi di Sistan dan Baluchistan,
Iran. Sebaliknya, Nkuba dan Nyanda [14] melaporkan bahwa dari enam puluh unit x-
ray di Tanzania, 97% pengukuran bidang cahaya dan x-ray berada dalam batas yang
disarankan. Juga, Kareem et al [16], melaporkan dari Malaysia dalam pengukuran
mereka menggunakan alat uji penyelarasan collimation (balok). Dalam studi mereka,
temuan mereka dari bidang radiasi dan uji kongruensi optik berada dalam batas
standar (0,4%).

Ketidaksejajaran ini terjadi pada kolimator sinar-X ketika cermin pemantul


atau bohlam atau keduanya, bergeser dari posisi normal. Itu juga dapat terjadi ketika
bilah kolimator timah sekunder bergeser dari posisi normalnya. Jika bidang x-ray dan
bidang cahaya tidak sejajar, gambar yang dihasilkan mungkin tidak terpusat, terlalu
kecil atau terlalu besar [2]. Efek dari bidang x-ray dan misalignment bidang cahaya
adalah bahwa hal itu akan menyebabkan peningkatan film limbah, pemborosan
sumber daya, waktu dan peningkatan dosis medis dan pekerjaan karena, radiografi
tambahan akan diperlukan untuk menghasilkan gambar berkualitas baik.

Studi ini bukannya tanpa batasan. Para penulis ingin mencatat bahwa
(kembali) kalibrasi tidak dapat dilakukan di salah satu fasilitas yang dipilih. Ini
karena tidak ada fisikawan medis yang dipekerjakan di rumah sakit ini. Akibatnya,
sulit untuk memiliki data dasar untuk perbandingan dengan temuan penelitian ini.

1. KESIMPULAN dengan tema ““pengujian tabung kolimator pesawat


sinar-x merk toshiba type e2739 di laboratorium radiologi universitas
baiturrahmah padang”
Berdasarkan hasil pengujian tabung kolimator pesawat sinar-X merk Toshiba
type E2739, dapat disimpulkan bahwa hasil uji iluminensi lampu kolimator adalah
124,75 lux, uji kesesuaian cahaya kolimasi dengan berkas sinar-X adalah ΔX + ΔY =
2,3 % FFD dan uji beam alignment adalah 1,5º. Semua nilai tersebut masih dalam
batas toleransi yang diperbolehkan. Kolimator pesawat sinar-X merk Toshiba type
E2739 di laboratorium jurusan DIII Radiologi Universitas Baiturrahmah pada tahun
2017 dinyatakan lolos uji dan masih layak untuk digunakan. Sebaiknya pengujian
terhadap pesawat sinar-X merk Toshiba type E2739 di laboratorium jurusan DIII
Radiologi Universitas Baiturrahmah dapat secara rutin dilakukan sesuai dengan
periode waktu uji. Disamping itu, apabila terjadi kerusakan akibat gempa bumi maka
segera dilakukan perbaikan dan dilakukan uji kesesuaian terhadap pesawat tersebut,
agar kinerja dari pesawat tetap terjaga dan selalu bisa dimanfaatkan untuk praktikum
mahasiswa dengan baik.

2. Kesimpulan dengan tema “ uji kesesuaian collimator beam dengan berkas


sinar-x pada pesawat raico di instalasi radiologi raden mattaher jambi”
Dari hasil pengujian yang dilakukan pada collimator beam dengan berkas
sinar –X diperoleh pada FFD 80 cm dengan deviasi pada sumbu horizontal 0,5 cm,
sumbu vertikal 1 cm, total deviasi 1,6 cm dan titik pusat sinar –X 1,50 masih dibawah
batas toleransi sedangkan FFD 90 cm, pada FFD 100 cm dan FFD 110 cm juga sama
dengan FFD 80 cm penyimpangannya masih di bawah batas toleransi sehingga
pesawat Raico dinyatakan lulus uji untuk digunakan pemeriksaan, selain itu setelah
pesawat Raico yang telah lulus uji pada pengujian collimator beam dengan sinar -X
juga dapat meminimalisir terjadinya magnifikasi dan distorsi pada gambaran
radiografi sehingga dapat menegakkan diagnose pada pasien.

3. Simpulan dengan tema “ uji efisiensi celah (shutter) kolimasi tabung sinar-x di
laboratorium jur tro poltekkes jakarta ii dan dua instalasi radiologi lahan pkl di
jakarta”
Hasil penelitian ini menunjukan dari 8 peralatan sinar x, terdapat satu
peralatan sinar-x yang sesuai dengan acuan standar (golden standart),yang sesuai
dengan standar yang ditetapkan oleh Permenkes No. 1250/Menkes/SK/XII/2009 yaitu
peralatan sinar-x merk SH di RS Y

4.Kesimpulan dengan tema “Penilaian penyelarasan balok, colimator dan


setengah nilai lapisan beberapa mesin x ray yang dipilih di Nigeria Negara
dataran tinggi “

Tujuan dari penelitian untuk menilai balok tegak lurus, collimation dan
setengah nilai dari mesin x-ray telah tercapai. Misalignment mesin x-ray di atas batas
toleransi harus diperiksa karena mempengaruhi dosis dan kualitas gambar pasien.
Beberapa mesin x-ray mungkin perlu penyesuaian manual agar sinar-x menjadi tegak
lurus terhadap reseptor gambar dan uji kontrol kualitas reguler untuk
diimplementasikan.

5. Kesimpulan dengan tema “kontrol kualitas tabung sinar x konvensional di


tiga rumah sakit tersier di Nigeria tenggara”

Kami telah mengukur HVL, bidang sinar-X dan kongruensi medan cahaya
dalam tabung sinar-x konvensional dan kolimator di tiga rumah sakit tersier yang
dipilih di Tenggara, Nigeria. Rincian tentang cara mengevaluasi persentase bidang x-
ray dan misalignment bidang cahaya ditunjukkan. Hasil yang diperoleh menunjukkan
bahwa bidang sinar-x dan medan cahaya sangat tidak selaras, dan HVL berada dalam
nilai yang direkomendasikan di semua pusat yang diteliti. Sementara penelitian ini
menyajikan temuan awal yang menyimpang dari indeks yang diakui secara
internasional, studi lebih lanjut dimaksudkan dalam waktu dekat ketika tindakan
korektif yang diperlukan mungkin telah dimulai.
Daftar Pustaka

Gando Sari, dkk. Dampak Parameter akuisisi pada dosis dan kualitas gambar tulang
panggul dengan studi phantom radiografi. Universitas Salford: Inggris Raya

Ayu Wita Sari, dkk. 2017. Uji Kesesusaian Collimator Beam dengan Berkas Sinar-X
pada Pesawat Raico di instalasi Radiolodi raden Mattaher jambi. Pusat Sains
dan Tegnologi: Yogyakarta.

Dila Nelvo Dasril. 2019.pengujian Tabung Kolimator pesawat Sinar-X merek


toshiba. Universitas Baiturrahmah: Padang

Nnamdi F dkk. 2017. Penilaian penyelarasan balok, colimator dan setengah nilai
lapisan beberapa mesin x ray yang dipilih di Nigeria Negara dataran
tinggi.universitybteaching Hospital: Nigeria

M.I.Ike Ogbonna dkk. 2017. kontrol kualitas tabung sinar x konvensional di tiga
rumah sakit tersier di Nigeria tenggara universitybteaching Hospital: Nigeria