Anda di halaman 1dari 23

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR

NAMA : DINDA ANJELIKA NOVELADIA

KELAS : A 2018

NIM : J1A118080

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI
1. Tuliskan 10 penyakit menular disertai : mekanisme penularan, penyebab, cara masuk ke
tubuh manusia, proses (langsung/tidak langsung) atau keduanya

Jawabannya :

1. Malaria
a) Mekanisme penularan dengan cara :
Penderita dengan masuknya sprozoit plasmodium melalui gigitan
nyamuk betina anophelesyang spesiesnya dapat berbeda dari satu daerah
dengan daerah lainnya. Dapat juga terjadi dengan masuknya parasit bentuk
aseksual (tropozoit) melalui transfuse darahsuntikan atau melalui plasenta
(malaria congenital).
b) Penyebab
Karena malaria salah satu penyakit yang banyak terjadi di indonesia.
Penyakit yang menular ini pada dasarnya disebabakan oleh penyebaran
parasite plasmodium.
c) Cara masuk ke dalam tubuh manusia
Malaria disebabkan oleh parasit plasmodium. Parasit ini ditularkan ke
manusia melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang terinfeksi. Ada banyak
jenis plasmodium, tetapi hanya lima yang dapat menyebabkan infeksi di tubuh
manusia. Nyamuk ini biasanya menggigit manusia pada malam hari. Ketika
nyamuk yang terinfeksi menggigit manusia, parasit masuk ke tubuh melalui
aliran darah. Pada saat gigitan, parasit masuk ke aliran darah dan bergerak ke
organ hati. Infeksi awal akan terjadi dan berkembang di organ hati. Parasit
kemudian kembali masuk ke aliran darah dan menyerang sel darah merah.
Parasit menggunakan sel darah merah sebagai tempat berkembang biak.
Dengan interval reguler, sel darah merah yang sudah penuh parasit malaria
akan meletus. Ini menyebabkan ada lebih banyak lagi parasit yang berada di
dalam aliran darah. Sel darah merah yang sudah terinfeksi ini meletus setiap
dua hingga tiga hari. Pada saat hal itu terjadi, penderita malaria akan
mengalami gejala demam, menggigil, dan berkeringat.
d) Proses (langsung/tidak langsung)
Tidak menular secara langsung dari satu orang ke orang lainnya.
Tetapi harus tetap waspada pasalnya, hanya dengan satu gigitan nyamuk saja,
seseorang bisa langsung terinfeksi malaria.
2. Cacar air
a) Mekanisme penularan dengan cara
Melalui saluran pernapasan: seperti yang telah disinggung sebelumnya,
bahwa virus varisela-zoster menyebar melalui udara. Oleh karena itu,
penularan penyakit cacar air paling sering terjadi melalui saluran pernafasan,
yaitu melalui selaput lendir yang terdapat pada mulut dan hidung, berupa air
liur, bersin, dan batuk.
b) Penyebab
Penyebab cacar air atau varicella simplex adalah virus varisela zoster.
Virus ini dapat menular dengan mudah dan cepat. Penyakit ini disebarkan
secara aeorogen atau melalui udara. Penularan cacar air bisa terjadi melalui:
 Kontak langsung dengan penderita
 Terkena cairan tubuh penderita melalui bersin atau batuk
 Memegang barang yang sebelumnya kontak dengan penderita, seperti
seprai atau baju kotor
c) Cara masuk ke dalam tubuh
Masuk ke tubuh manusia, virus akan memperbanyak diri dan menyebar
ke jaringan setempat melalui aliran darah dan aliran getah bening. Virus
memperbanyak diri kembali sehingga virus menyebar ke seluruh tubuh
terutama bagian kulit dan selaput lendir. Masa inkubasi virus yaitu, mulai
masuknya virus ke dalam tubuh sehingga munculnya gejala awal penyakit
cacar biasanya 2 sampai 3 minggu, hal ini bisa ditandai dengan badan yang
terasa panas. Priode penularan biasanya 1-2 hari sebelum ruma pertama kali
timbul sampai 6-7 hari setelah timbulnya ruam.
d) Proses (langsung/tidak langsung)
Virus ini dapat menular melalui kontak secara langsung dengan
penderita atau lewat percikan virus melalui bersin atau batuk.
3. Campak
a) Mekanisme penularan dengan cara
Penularan terjadi melalui udara, kontak langsung dengan sekresi
hidung atau tenggorokan dan jarang terjadi oleh kontak dengan benda-benda
yang terkontaminasi dengan sekresi hidung dan tenggorokan. Penulara dpat
terjadi antara 1-2 hari sebelum timbulnya gejala klinis sampai 4 hari setelah
timbul ruam. Penularan virus campak sangat efektif sehingga dengan virus
yang sedikit sudah dapat menimbulkan infesksi pada seseorang. Masa inkubasi
antara 8-13 hari atau rata-rata 10 hari.
b) Penyebab
Campak disebabkan oleh virus jenis paramyxovirus yang menular
melalui saluran pernapasan.
c) Cara masuk ke dalam tubuh
Melalui secret hidung atau tenggorokan dari orang yang terinfeksi.
Masa penularan berlangsung mulai dari hari pertama sebelum munculnya
gejala prodormal biasanya sekitar 4 hari sebelum timbulnya ruam, minimal
hari kedua setelah timbulnya ruam. Virus campak ditularkan orang ke orang,
manusia merupakan satu-satunya reservoir penyakit campak. Virus campak
berada disekret nasoparing dan di dalam darah minimal selama masa tunas dan
dalam waktu yang singkat setelah timbulnya ruam.
d) Proses (langsung/tidak langsung)
Campak termasuk penyakit sangat menular secara langsung. Bahkan
dikatakan bahwa 90% pasien yang belum mendapatkan vaksinasi campak
dapat tertular bila mereka berada dalam jarak dekat dengan orang yang
terinfeksi. Campak juga dapat menular secara langsung apabila seseorang
menghirup atau mengalami kontak langsung dengan cairan yang terinfeksi
virus, seperti droplet yang tersebar di udara saat penderita campak batuk atau
bersin.
4. DBD
a) Mekanisme penularan dengan cara
Banyak genangan air di sekeliling rumah yang menjadi habitat bagi
nyamuk penyebab demam berdarah, timbunan sampah di sekeliling rumah
yang jarang dibersihkan sehingga dapat menjadi tempat berkembang biaknya
nyamuk penular demam karena perubahan cuaca, kurang menjaga kebersihan
di sekeliling rumah akibat jarang dibersihkan dari debu maupun dibersihkan
dari kotoran yang lain, daya tahan tubuh anak yang sedang menurun akibat
kurang asupan vitamin dan mineral, anak kurang tidur atau istirahat sehingga
kecapekan akibat aktivitas sehari-hari hingga tertular dari temannya saat daya
tahan tubuh melemah, anak kurang minum air putih sehingga mengalami
dehidrasi dan mudah tertular penyakit demam berdarah saat digigit oleh ciri
nyamuk demam berdarah dengue, kurangnya asupan makanan yang bernutrisi
seperti kurang vitamin dan mineral sehingga anak kekurangan gizi dan mudah
terkena penyakit termasuk penyakit demam berdarah.
b) Penyebab
Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue yang
ditularkan kepada manusia melalui nyamuk aedes aegypti.
c) Cara masuk ke dalam tubuh manusia
Virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti betina ini
didapatkan dari seseorang yang sebelumnya telah terjangkiti dbd atau
seseorang yang tidak terkena dbd namun terdapat virus dengue di dalam
darahnya. Di dalam tubuh nyamuk, virus ini pun akan masuk dan berkembang
biak di dalam usus halusnya. Setelah melewati fase perkembangbiakkan di
usus halus nyamuk, virus dengue yang terdiri dari empat tipe yakni den-1,
den-2, den-3 dan den-4 ini kemudian akan berpindah tempat menuju ke
kelenjar saliva atau kelenjar ludah nyamuk dan siap ditularkan lagi ke manusia
lewat gigitannya. Proses pengigitan nyamuk betina biasanya berlangsung pada
siang dan sore hari. Ketika nyamuk betina menggigit manusia, kelenjar saliva
yang telah terinfeksi virus dengue tersebut kemudian akan masuk ke dalam
tubuh dan mulai menginfeksi. Di dalam tubuh manusia, virus dengue ini akan
mengalami masa inkubasi selama kurun waktu 4 hingga 7 hari. Untuk
kemudian menyerang sistem peredaran darah yang menyebabkan terjadinya
kebocoran pembuluh darah dan penurunan trombosit dalam jumlah besar
hingga menimbulkan beberapa gejala seperti dijelaskan sebelumnya.
d) Proses (langsung/tidak langsung)
Tidak dapat menular secara langsung namun melalui udara, cairan
tubuh, makanan, maupun minuman. Hal ini karena virus dengue tidak mampu
bertahan hidup jika berada di luar sel atau jaringan yang hidup. Virus dengue
hidup dan menular dengan bantuan nyamuk aedes aegypti, aedes albopictus,
atau aedes polynesiensis.
5. Kolera
a) Mekanisme penularan dengan cara
Melalui makanan yang terjangkit v. Cholrare lewat serangga, air
minum yang masih mentah, makanan minuman yang terjangkit limbah,
sanitasi yang kurang memadai, system penyediaan air bersih yang buruk,
sayuran dan buah-buahan yang belum di kupas, serta susu yang belum
dipasteurisasi.
b) Penyebab
Bakteri vibrio cholerae. Namun, yang membuat penyakit ini menjadi
berbahaya dan bisa mengancam nyawa adalah keberadaan racun yang disebut
ctx, atau toksin kolera.
c) Cara masuk ke tubuh
Melalui makanan dan minuman yang kita konsumsi yang belum tentu
bersih saat kita mengomsusinya.
d) Proses (langsung/tidak langsung)
Kontak secara langsung dapat terjadi apa bila penderita bersentuhan
lengsung dengan orang lain. Ssecara tidak langsung dapat melalui makanan
atau minuman yang kita konsumsi yang telah terkontaminasi.
6. Tuberculosis
a) Mekanisme penularan dengan cara
Melalui udara seperti dari doplet atau percikan dahak yang keluar pada
saat penderita TBC batuk, bersin, atau berbicara. Ketika penderita TBC aktif
memercikkan lendir atau dahak saat batuk atau bersin, bakteri TB akan ikut
keluar melalui lendir tersebut dan terbawa ke udara. Selanjutnya, bakteri TB
akan masuk ke tubuh orang lain melalui udara yang dihirupnya. Bakteri yang
terhirup oleh seseorang itu akan melalui saluran pernapasan menuju paru-paru
dan dapat menyebar kebagian tubuh lainnya.
b) Penyebab
TBC disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis.
c) Cara masuk ke tubuh
Saat batuk atau bersin, penderita TBC dapat menyebarkan kuman yang
terdapat dalam dahak ke udara. Dalam sekali batuk, penderita TBC dapat
mengeluarkan sekitar 3000 percikan dahak. Bakteri TB yang berada di udara
bisa bertahan berjam-jam, terutama jika ruangan gelap dan lembab, sebelum
akhirnya terhirup oleh orang lain. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan
di mana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.
Orang-orang yang berisiko tinggi terkena penularan TBC adalah
mereka yang sering bertemu atau berdiam di tempat yang sama dengan
penderita TBC, seperti keluarga, teman sekantor, atau teman sekelas. Meski
demikian, pada dasarnya penularan TBC tidak semudah yang dibayangkan.
Tidak semua orang yang menghirup udara yang mengandung bakteri TB akan
langsung menderita TBC. Pada kebanyakan kasus, bakteri yang terhirup ini
akan berdiam di paru-paru tanpa menimbulkan penyakit atau menginfeksi
orang lain. Bakteri tetap ada di dalam tubuh sambil menunggu saat yang tepat
untuk menginfeksi, yaitu ketika daya tahan tubuh sedang lemah.
d) Proses (langsung/tidak langsung)
Penyakit TBC tidak secara langsung menular, melalui kontak fisik
(seperti berjabat tangan) atau menyentuh peralatan yang telah terkontaminasi
bakteri TB. Selain itu, berbagi makanan atau minuman dengan penderita
tuberkulosis juga tidak menyebabkan seseorang tertular penyakit ini.
7. Diare
a) Mekanisme penularan dengan cara
Umumnya agen penyakit yaitu media udara, air, pangan, serta serangga
ataupun manusia melalui kontak langsung. Lingkungan yang mempunyai
kompetensi dapat menimbulkan berbagai macam penyakit yaitu air, pangan,
serangga, udara dan manusia.
b) Penyebab
Diare umumnya terjadi ketika cairan dari makanan tidak dapat diserap
usus dengan baik. Atau ada terlalu banyak cairan yang disekresikan ke usus.
Normalnya, usus besar akan menyerap cairan dari makanan yang kita
konsumsi dan meninggalkan kotoran (feses) setengah padat. Jika cairan dari
makanan tersebut tidak diserap baik, maka hasilnya feses akan menjadi encer
atau bahkan cair. Kondisi ini dipengaruhi banyak faktor sehingga diare dapat
berlangsung singkat atau lama. Penyebab lainnya termasuk faktor psikologis
(merasa cemas), mengonsumsi minuman keras, alergi makanan, usus buntu,
atau efek samping obat-obatan.
c) Cara masuk ke tubuh
Melalui, makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh tinja penderita
diare, tangan yang terkontaminasi agen penyebab diare, dan air yang
terkontaminasi agen penyebab diare. Diare terutama di transmisikan melalui
kotoran manusia yang terinfeksi melalui rute transmisi faecal-oral.
d) Proses (langsung/tidak langsung)
Penularan secara langsung, dapat ditularkan dari orang satu ke orang
lain dengan media penularan utama adalah makanan da minuman yang
terkontaminasi penyebab diare.
Penularan secara tidak langsung, dapat ditularkan secara tidak
langsung melalui, air yang tercemar kuman, bila digunakan orang untuk
keperluan sehari-hari tanpa dierbus atau dimasak terlebih dahulu, maka kuman
akan masuk ke tubuh yang memakainnya, sehingga orang tersebut terkena
diare.
8. Aids
a) Mekanisme penularan dengan cara
Hiv dapat ditularkan melalui cairan tubuh yang termasuk darah, cairan vagina,
air mani, dan air susu ibu yang terinfeksi hiv. Beberapa metode penularan hiv
yang dapat terjadi adalah hubungan seks, penggnaan jarum suntk, selama
kehamilan, persalinan atau menyusui, dan transfusi darah. Siapapun dari
segala usia, ras, maupun jenis kelamin bisa terinfeksi hiv, termasuk bayi lahir
pun dan ibunya bisa terinfeksi hiv.
b) Penyebab
Aids disebabkan oleh infeksi virus hiv. Virus ini menyerang sistem
kekebalan tubuh yang seharusnya berfungsi untuk melawan infeksi. Virus hiv
merusak sel darah putih yang disebut sel cd4. Virus juga membuat salinan
tubuhnya di dalam sel tersebut. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh menurun
dan menyebabkan tubuh susah melawan infeksi. Jika penderita hiv tidak
mendapatkan pengobatan, maka hiv dapat menjadi aids dalam waktu 10
hingga 15 tahun.
c) Cara masuk ke tubuh
Hiv masuk ketubuh melalui, hubungan seks, penggunaan jarum suntik,
persalinan atau menyusui dan transfusi darah.
d) Proses (langsung/tidak langsung)
Virus hiv ditularkan melalui kontak secara langsung melalui darah
dan cairan tubuh penderita –seperti sperma, cairan vagina, dan asi. Pada
banyak kasus, penularan dapat melalui pemakaian jarum suntik seperti pada
pengguna narkoba suntik.
9. Difteri
a) Mekanisme penularan
Difteri merupakan infeksi bakteri yang memiliki efek serius pada
selaput lendir hidung dan tenggorokan. Sel-sel yang mati inilah yang akan
membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping
itu, racun di hasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran dalam darah dan
merusak jantung, ginjal, serta system saraf.
b) Penyebab
Difteri adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri
corynebacterium diphteriae, yang menyerang selaput lendir pada hidung dan
tenggorokan, serta dapat memengaruhi kulit
c) Cara masuk ke tubuh
Racun yang dihasilkan dari infeksi difteri ini dapat menyebabkan selaput
jaringan mati menumpuk di tenggorokan dan amandel. Akibatnya,
pengidapnya akan mengalami kesulitan bernapas dan menelan. Kondisi ini
kemudian menyebabkan sistem jantung dan saraf juga ikut terganggu.
d) Proses (langsung/tidak langsung)
Penularan secara langsung melalui batuk, bersin dan berbicara.
Sedangkan penularan secara tidak langsung melalui benda-benda yang
terkontaminasinya.
10. Polio
a) Mekanisme penularan
Tertular PV jika terpapar oleh kotoran penderita polio, atau lewat
percikan ludahsaat penderita bersin atau batuk. Bisa tertular lewat makanan
dan minuman yang terkontaminasi kotoran atau percikan ludah yang
mengandung PV. Begitu virus masuk ke dalam mulut anda, mereka akan
berjalan ke tenggorokan, dan turun ke perut. Virus ditularkan oleh penderita,
satu minggu sebelum munculnya gejala sampai beberapa minggu setelah ada
gejala yang muncul, pasien polio tanpa gejala juga bisa menularkan PV.
b) Penyebab
Penyakit polio disebabkan oleh virus polio. Virus tersebut masuk
melalui rongga mulut atau hidung, kemudian menyebar di dalam tubuh
melalui aliran darah.
c) Cara masuk ke tubuh
PV masuk ketubuh melalui mulut kemudian menginfeksi saluran usus.
Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat,
menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis)
d) Proses (langsung/tidak langsung)
Penyebaran virus polio dapat terjadi melalui kontak secara langsung
dengan tinja penderita polio, atau melalui konsumsi makanan dan minuman
yang telah terkontaminasi virus polio. Virus ini juga dapat menyebar melalui
percikan air liur ketika penderita batuk atau bersin, namun lebih jarang terjadi.
2. Mencari 10 penyakit menular disertai : Tingkat pencegahan. Contoh : primer seperti apa
pencegahannya. Uraikan secara jelas

1. Malaria
a) Pencegahan primer
 Health promotion
1) Edukasi kepada setiap petugas yang akan bekerja di daerah endemis
2) Melakukan kegiatan system kewaspadaan dini, dengan memberikan
penyuluhan pada masyarakat tentang cara pencegahan malaria.
 Specific protection
1) Menggunakan pakaian lengkap, tidur menggunakan kelambu,
memakai obat nyamuk, menghindari untuk mengunjungi lokasi
yang rawan malaria, mengurangi aktivitas diluar rumah mulai senja
sampai sebuh saat nyamuk anopheles umumnya menggigit.
2) Kemoprofilaksis (mencegah terjadinya infeksi malaria terhadap
pendatang yang berkunjung ke daerah malaria dengan cara
memberikan obat).
3) Pengendalian secara mekanis, biologis, dan kimiawi terhadap
vector penyebab malaria.
b) Pencegahan sekunder
 Early diagnosis
1) Pencarian penderita malaria secara aktif melalui skrinning
2) Melakukan diagnosis dini melalui pemeriksaan gekala klinis,
pemeriksaan labotarorium, dan pemeriksaan penunjang
 Prompt treatmen
Pengobatan untuk mereka yang terinfeksi malaria secara tepat.
c) Pencegahan tersier
 Rehabilitation
Pemulihan kondisi penderita malaria, memberikan dukungan moril
kepada penderita dan keluarga di dalam pemulihan dari penyakit malaria.
Melaksanakan rujukan pada penderita yang memerlukan pelayanan yang
tingkat lanjut.
 Disability limitation
1) Pemberian obat malaria yang efektif sedini mungkin
2) Penanganan kegagalan organ seperti tindakan dterhadap gangguan
fungsi ginjal, pemasangan ventiliator pada gagal napas.
3) Tindakan suportif berupa pemberian cairan serta pemantauan tanda
vital untuk mencegah memburuknya fungsi organ vital.
2. Cacar air
a) Pencegaha primer
Mengajak masyarakat untuk melakukan tingkat pencegahan cacar air
dengan melakukan imunisasi. Para ahli menyatakan bahwa imunisasi cacar air
sangat aman dan juga ampuh dalam memberikan perlindungan utuh dari virus
penyebab cacar air.
b) Pencegahan sekunder
Cacar air yang terjadi pada penderita dengan sistem kekebalan tubuh yang
tidak memerlukan pengobatan khusus. Namun, untuk meringankan gejala
yang dialami penderita, beberapa upaya berikut ini dapat dilakukan di rumah,
yaitu :
1) Banyak minum dan mengonsumsi makanan yang lembut dan tidak asin
atau asam, terutama jika ruam cacar terdapat pada mulut.
2) Jangan menggaruk ruam atau luka cacar air, karena meningkatkan
resiko infeksi. Guna mencegahnya, potong kuku hingga pendek atau
kenakan sarung tangan, terutama saat malam hari.
3) Kenakan pakaian yang berbahan lembut dan ringan
4) Mandi dengan air hangat, 3-4 kali sehari, selama beberapa hari setelah
timbulnya ruam. Selain itu, keringkan dengan cara tepuk-tepuk dengan
handuk hingga kering.
5) Kompres ruam atau luka dengan air dingin untuk meringankan gejala
gatal.
6) Beristrahat cukup dan hindari kontak dengan orang lain untuk
mencegah penyebaran cacar air.

Disamping upaya mandiri dirumah, dokter juga dapat memberikan


salep atau obat minum untuk mengurangi rasa gatal. Sedangkan untuk
meredakan demam dan nyeri, dokter dapat meresepkan paracetamol. Bila
terjadi infeksi bakteri sekunder, dokter dapat memberi antibiotik yang
sebetulnya tidak perlu diberikan bila mederita cacar air tnpa infeksi sekunder.

Sedangkan untuk penderita cacar yang berisko mengalami


kompilakasi, maka dokter dapat memberikan obat antivirus. Obat jenis ini
tidak menyembuhkan cacar air, tapi dapat menghambat aktivitas. Virus,
sehingga gejala yang muncul lebih ringan. Dengan demikian, sistem imunitas
tubuh dapat memulihkan tubuh lebih cepat.

c) Pencegahan tersier
Setelah sembuh dari cacar air, virus varicella zoster akan menetap
didalam sel saraf dan dapat aktif kembali beberapa tahun kemudia dalam
bentuk penyakit herpes zoster. Kemunculan cacar ar ini dialami oleh orang
dewasa yang sudah terkena cacar air. Terutama dengan orang sistem
kekebalan tubuh yang rendah. Maka perlu itu peningkatan gizi para penderita
cacar air yang telah sembuh agar dapat meminimalisirkan kecacatan dan
penyebaran.
3. Campak
a) Pencegahan primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mencegah
seseorang terkena penyakit campak, yaitu :
1) Memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya
pelaksanaan imunisasi campak untuk semua bayi
2) Imunisasi dengan virus campak hidup yang lemah, yang diberikan
pada semua anak berumur 9 bulan sangat dianjurkan Karena dapat
melindungi sampai jangka waktu 4-5 tahun.
b) Sekunder
Pencegahan tingkat kedua ditujukan untuk mendeteksi penyakit sedini
mungkin untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan demikian
pencegahan ini sekurang-kurangnya dapat menghambat atau memperlambat
progrefisitas penyakit, mencegah komplikasi, dan membatasi kemungkinan
kecacatan, yaitu :
1) Menentukan diagnosis campak dengan benar baik melalui pemeriksaan
fisik atau darah.
2) Mencegaha perluasan infeksi. Anak yang menderita campak jangan
masuk sekolah selama empat hari setelah timbulnya rash.
Menempatkan anak pada ruang yang khusus atau mepertahankan
isolasi di rumah sakit dengan melakukan pemisahan penderita pada
stadium kataral.
3) Pengobatan simtomatik diberikan untuk mengurangi keluhan penderita
yakni antipiretik untuk menurunka panas dan juga obat batuk.
Antibiotika hanya diberikan bila terjadi infeksi sekunder untuk
mencegah komplikasi.
c) Tersier
Pencegahan tingkat ketiga bertujuan untuk mencegah terjadinya
komplikasi dan kematian. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan pada
pencegaha tersier, yaitu :
1) Penanganan akibat lanjutan dari komplikasi campak
2) Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan
turun secara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan
menurunkan imunitas mereka.
4. DBD
a) Pencegahan primer
Upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit belum mulai
(pada periode pre-patogenesis) agar tidak terjadi proses penyakit yang
bertujuan untuk mengurangi insiden penyakit dengan cara mengendalikan
penyebab penyakit dan factor risikonya. Tingkat pencegahan primer ini adalah
upaya yang dilakukan adalah untuk memutus mata rantai infeksi. Sasaran dari
pencegahan primer adalah seluruh masyarakat yang masih sehat dan factor
resiko tinggi terkena DBD.
Tindakan yang bisa dilakukan meliputi :
Promosi kesehatan, dimulai dari promosi kesehatan dasar dari keluarga untuk
memberitaukan bagaimana caranya mencegah penyakit DBD ini. Promosi
kesehatan bisa silakukan dengan membuat suatu penyuluhan di rapat RT atau
arisan bulanan RT maupun RW mengenai bagaimana cara mecegah penyakit
DBD yaitu :
1) Lakukan program 3M (menguras, menutup, mengubur) tempat-tempat
penampungan air hujan dan lainnya.
2) Hindari ruang yang lembab dan perbaiki sirkulasi udara
3) Jangan biarkan baju kotor menumpuk atau digantung
4) Menanam tanaman anti nyamuk
5) Pastikan jendela dan pintu tidak memiliki lubang kecil sehingga
memberi jalan masuk bagi nyamuk. Pastikan ventilasi memiliki
penyaring untuk mencegah nyamuk masuk.
6) Gunakan obat nyamuk oles maupun bakar pada siang maupun malam
hari.
7) Jika perlu upayakan ada jarring anti nyamuk (kelambu di tempat tidur)
8) Pemberian abate pada tempat-tempat penampungan air bersih yang
sulit dibersihkan.
b) Tingkat pencegahan sekunder
Upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit sudah
berlangsung namun belum timbul tanda/gejala sakit (patogensis awal) agar
proses penyakit tidak berlanjut. Tujuannya adalah untuk menghentikan proses
penyakit lebuh lanjut dan mencegah komplikasi. Bentuknya berupa deteksi
dini dan pemberian pengobatan (yang tepat). Sasaran diagnosis dini dapat
dilakukan pada kelompok masyarakat yang mempunyai resiko tinggi
terjadinya DBD seperti pada daerah endemic DBD atau masyarakat pada
daerah yang tiba-tiba terjadi peningkatan kejadian DBD. Masyarakat didaerah
ini dapat secara rutin memeriksakan diri ke dokter untuk pencegahan.
Tindakan yang bisa dilakukan meliputi :
1) Diagnosis dini dan pengobatan segera
Pemeriksaan pada seseorang myangmengalami gejala awal dari DBD
seperti, demam yang tinggi dengan memeriksa kadar trombosit pasien.
Apabila kadar trombosit sudah mulai meningkat ditambah gejala dan
lingkungan yang mengarah pada penyakit DBD maka segera dilakukan
pengobatan segera.
2) Pembatasan ketidakmampuan (disability)
Pada awal fase penyakit setelah diagnosis awal terkena DBD maka
diberikan pengobatan yang cukup untuk menghentikan proses penyakit
dan mencegah komplikasi dan sekuel yang lebih parah.
c) Tingkat pencegahan tersier
Pencegahan yang dilakukan saat proses panyakit sudah lanjut (ahkir
periode pathogenesis) untuk mecegah gangguan fisik dan mengembalikan
penderita ke status sehat/awal. Tujuannya adalah menurunkan kelemahan dan
kecacatan, memerkecil penderitaan dan membantu penderita-penderita untuk
melakukan penyesuaian terhadap kondisi yang tidak dapat diobati lagi sasaran
pencegahan tersier adalah pasien yang telah terkena DBD dan sudah
mendapatkan pengobatan
Tindakan yang bisa dilakukan daam pecegahan tersier meliputi :
1) Limitasi disabilitas
Dapat dilakukan dengan memberiakan suplemen makanan atau
minuman yang bergizi agar pasien DBD pulih kembali tenaganya yang
dapat menjalankan aktivitasnya sehari-hari.
2) Rehabilitasi
Karena selama pengobatan pasien yang tinggal baring dan melakukan
sedikit pergerakan otot tubuh maka kemungkinana besar pasien akan
merasa keulitan untuk memulai melakukan aktivitas sehari-hari.
5. Kolera
a) Pencegahan primer
Pencegahan primer untuk kolera yang pertama menggunakan promosi
kesehatan ialah diadakannya penyuluhan tentang bahaya wabah kolera,
pemberian pengetahuan tentang pencegahan-pencegahan yang harus
dilakukan, makanan dan gizi yang baik, perumahan dan fasilitas yang baik
serta sehat. Pencegahan selanjutnya ialah pencegahan khusus (specific
protection), pencegahan disini berupa diadakannya imunisasi dan pemberian
vaksin TCD (tifus, kolera, disentri) vaksinasi kolera kini mungkin dengan
vaksin oral dukoral. Namun vaksin ini tidak memberikan 100% perlindungan
terhadap penyakit, pemberian asupan gizi yang benar juga sangat diperlukan.
b) Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder ini diberikan kepada mereka yang menderita atau
dianggap menderita. Pencegahan sekunder disini berupa diagnosis dini dan
pengobatan yang tepat. Penaganan penyakit ini ialah mengganti kehilangan
cairan, garam, dan mineral dari tubuh. Untuk penderita yang mengalami
dehidrasi berat, cairan diberikan melalui infus. Karena penderita biasanya
mengalami dehidrasi berat, selanjutnya adalah menggantikan jumlah cairan
yang hilang karena diare dan muntah setelah nafsu makan penderita kembali.
Pengobatan awal dengan tertasiklin atau antibiotic lainnya bisa membunuh
bakteri dan biasanya akan menghentikan diare dakam 48 jam. Bila berada
diaderah resisten vibrio cholera, dapat digunakan furozolidone.
c) Pencegahan tersier
Tujuan utama dari pencegahan ini adalah mencegah kematian, cacat,
serta usaha rehabilitasi. Pencegahan untuk kolera ini ialah dengan perawatan
pemderita kolera ini adalah memberikan pengganti cairan tubuh yang hilang
sebagai awal yaitu pengganti cairan tubuh denga infus atau drip. Cara ini
merupakan tindakan yang paling tepat bagi penderita yang banyak kehilangan
cairan baik melalui diare ataupun muntah.
6. Tuberculosis
a) Pencegahan primer
1) Promosi kesehatan
Penyuluhan dengan melibatkan pasien masyarakat dalam
kampanye advokasi, penyuluham rencana pengendalian infeksi,
koleksi dahak aman, penyuluhan etika batuk dan batuk yang higienis,
penyuluhan pasien TB triase dilakukan untuk saluran cepat atau
pemisahan, penyuluhan mendiagnosis TB yang cepat dan pengobatan,
meningkatkan ventilasi udara kamar, melindungi pekerja perawat
kesehatan, pengembangan kapasitas dan memonitor praktek
pengendalian infeksi (WHO).
2) Proteksi spesifik
Vaksinasi BCG secara signifikan yang bisa mengurangi risiko
TB dan penggunaaan alat pelindung diri ditempat kerja yang berisiko
terkena TB, tetap pencegahan isoniazid (IPT) dan terapi antiretroviral
(ART) untuk orang-orang dengan HIV (WHO).
b) Pencegahan sekunder
1) Deteksi dini
Skrinning atau penemuan kasus yang benar-benar positif TB
dengan melakukan pemeriksaan dahak. Melakukan diagnosis TB paru
dengan memeriksa semua suspek TB diperiksa 2 spesimen dahak
dalam 2 hari. Diagnosis TB ekstra paru dengan gejala dan keluhan
tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk pada meningitis
TB, nyeri dada pada TB pleura (peluritis), pembesaran kelenjar limfe
superfisialis pada limfadenitis TB. Diagnosis TB pada orang dengan
HIV AIDS (ODHA) 1. TB paru BTA positif, yaitu kinimal satu
hasil pemeriksaan dahak positif. 2.TB paru BTA negative, yaitu hasil
pemeriksaan dahak negative dan gambarab klinis dan radiologis
mendukung tb dan BTA negatif dengan hasil kultur TB positif. 3.TB
ekstra paru pada ODHA ditegakkan dengan pemeriksaan klinis,
6.bakteriologis dan atau histopatologi yang diambil dari jaringan tubuh
yang terkena (KEMNEKS RI,2011).
2) Pengobatan tepat
Pada tahap ini, pencegahan sekunder dilakukan dengan
pengobatan tepat. Pengobatan untuk penyakit TB yaitu konsumsi obat
kombinasi pada orang dengan TB aktif, dengan jadwal dosis pada
anak-anak dan remaja dengan TB aktif yyang tepat, jadwal dosis pada
orang dewasa TB aktif yang tepat, lama pengobatan pada orang
dewasa dengan TB paru aktif yang benar, lama pengobatan pada anak-
anak dan remaja dengan TB paru aktig benar, lama pengobatan pada
penderita TB paru aktif dengan benar.
c) Pencegaha teriser
1) Ketikdamampuan
Penggunaan kortikosteroid tambahan pada pengobatan TB
aktif/ penggunaan operasi tambahan pada orang dengan TB aktif serta
pengobatan TB aktif pada orang dengan penyakit penyerta atau kondisi
co-ada.
2) Rehabilitasi
Pasien paru BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2,
bila masih posotof TB maka hentikan pengobatan dan rujuk ke layanan
TB MDR.
7. Diare
a) Pencegaha primer
Pencegahan primer penyakit diare dapat ditujukan pada factor
penyebab, lingkungan dan factor pejamu. Untuk factor penyebab dilakukan
berbagai upaya agar mikroorganisme penyebab diare dihalangkan.
Peningkatan air bersih dan sanitasi lingkungan, perbaikan lingkungan biologis
dilakukan untuk memodifikasi lingkungan. Untuk meingkatkan daya tahan
tubuh dari pejamu maka dapat dilakukan peningkatan status gizi dan
pemberian imunisasi.
b) Pencegahan sekunder
Pencegahan tingkat kedua ini ditujukkan kepada si anak yang telah
menderita diare atau yang terancam aka menderita yaitu dengan menentukan
diagnose dini dan pengobatan yang cepat dan tepat, serta untuk mencegah
terjadinya akibat samping dan komplikasi. Prinsip pengobatan diare adalah
mencegah dehidrasi dengan pemberian rolait (dehidrasi) dan mengatasi
penyebab diare. Diare dapat disebabkan oleh banyak factor seperti salah
makan, bakteri parasite, sampai radang. Pengobatan yang diberikan harus
disesuaikan dengan klinis pasien. Obat diare dibagi menjadi tiga, pertama
kemoterpeutika yang membertantas penyebab diare seperti bakteri atau
parasite, obstinpasia untuk menghilangkan gejala diare dan spasmolitik yang
membantu menghilangkan kejang perut yang tidak menyenangkan. Sebaiknya
jangan mengonsumsi golongan kemoterapeutika tanpa resep dokter. Dokter
akan menentukan obat yang disesuaikan dengan penyebab diarenya missal,
bakteri, parasite. Pemberian kemoterpeutika memiliki efek samping dan
sebaiknya diminum sesuai pentujuk dokter.
c) Pencegahan tersier
Pencegahan tingkat ketiga adalah penderita diare jangan sampai
mengalami kececatan dan kematian akibat dehidrasi. Jadi pada tahap ini
penderita diare diusahakan pengembalian fungsi fisik, psikologis semaksimal
mungkin. Pada tingkat ini dilakukan usaha rehabilitasi untuk mencegah
terjadinya akibat saming dari penyakit diare. Usahsa yang dapat dilakukan
yaitu dengan terus mengonsumso makanan bergizi.
8. AIDS
a) Pencegahan primer
Pencegahan primer dimana pencegahan yang dapat dilakukan dengan
memberikan edukasi yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan tentang HIV dan AIDS melalui penyuluhan, pelatihan pada
kelompok risiko tinggi maupun rendah. Salah satu contohnya dengan
memberikan edukasi. Salah satu teori untuk upaya pencegahan HIV/AIDS
yaitu teori atau metode ABCD yaitu pencegahan yang dilakukan untuk
mengurangi kasus HIV/AIDS dengan menghindari factor risiko dan
transmisinya. (peraturan panglima nomor kep/680/VIII/2012): abstinence
adalah tidak melakukan berhubungan sex dengan oang lain selain pasangan.
abstinence merupakan prinsip awal untuk mencegah tertular virus HIV/AIDS.
Dengan menerapkan abstinence berhubungan selain pasangan akan
melindungi kita dari penyebaran HIV/AIDS. Befaithful setia melakukan
hubungan seks hanya dengan satu pasangan saja. Contohnya gunakan kondom
saat hubungan seks. Hal ini biasanya dianjurkan untuk melakukan perilaku
seks berisiko tinggi selain dengan pasangan yang berguna untuk mencegah
tertularnya virus HIV/AIDS. Don’t inject drug tindak menyuntik narkoba
secara bergantian dengan alat suntik yang sama. Education [emberian
informasi yang benar tentang HIV/AIDS sehungga terjadi permasalahan yang
benar tentang HIV/AIDS sehingga dengan pengetahuan dimiliki diharapkan
bisa mau melakukan tindakan pencegahan terhadap penularan HIV.
b) Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dan pencegahan tersier, pencegahan selunder
ditujukan kepada para penderita dan mengurangi akibat yang lebih serius dari
kasus yang terjadi. Pencegahan sekunder dapat dilakukan melalui diagnosis
dini dan pemberian pengobatan. Pada HIV/AIDS dapat dilakukan dengan
melakukan tes darah.
c) Pencegahan tersier
Pencegahan tersier dilakukan untuk mengurangi komplikasi penyakit
yang sudah terjadi. Upaya yang dilakukan dalam pencegahan ini dapat
dilakukan dengan upaya rehabilitasi atau penggunaan obat ARV untuk
menjaga kondisi penderita agar tidak menjadi semkain memburuk.
9. Difteri
a) Pencegahan primer
1) Melakukan kegiatan penyuluhan. Kegiatan penyuluhan sangatlah
penting dimaa kegiatan ini memberi penyuluhan kepada masyarakat
terutama kepada pada oaring tua tentang bahaya dari difteri dan
perlunya imunisasi aktif diberikan kepada bayi dan anak-anak.
2) Melakukan imunisasi aktif secara luas (massal)
3) Tindakan imunisasi aktif merupakan pemberantasan yang efektif yang
dilakukan dengan diphtheria foxoid (DT)
4) Melakukan upaya khusus, upaya khusus ini perlu dilakukan terhadap
mereka yang terpajan dengan penderita speperti para petugas kesehatan
dengan cara memberikan imunisasi dasar lengkap dan setiap jumlah
sepuluh tahun sekali diberikan dosis booster tadi kepada mereka.
b) Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder yang dapat dilakukan meliputi :
1) Laporan kepada petugas kesehatan setempat
2) Isolasi
3) Desinfektan serentak
4) Karantina
5) Manajemen kontak
6) Investigasi kontak dan sumber infeksi
7) Pengobatan
a. Pengobatan umum
Pasien diisolasi sampai masa akut terlampaui dan biakan
hapusan tenggorokan negative 2 kali berturut-turut. Pada
umumnya pasien tetap diisolasi selama 2-3 minggu. Khusus
pada dufteri laring dijaga agar nafas tetap bebas serta dijaga
kelembapan udara dengan menggunakan hunsanitaizer.
b. Pengobatan khusus
 Antitoksin : anti diphteriar serum (ADS)
Harus diberikan segera setelah dibuat diagnosis difteria
 Antibotik
Diberikan bukan sebagai pengganti antioksin,
melainkan untuk membunuh bakteri dan menghentikan
produksi toksin. Pengobatan untuk difteria digunakan
eritomisin, penisilin, Kristal aqueous pensilin G, atau
penisislin prokain.
 Kortikosteroid
Dianjurkan pemberian kortikosteroid pada kasus difteria
yang disertai gejala.
c) Pencegaha tersier
1) Mengurangi minum es
2) Mejaga kebersihan badan, pakaina, dan lingkungan.
3) Makanan yang kita konsumsi harus bersih, jika kita harus membeli
makanan di luar. Pilihlah warung yang bersih, jika telah sering difteri,
penderita sebaiknya dirawat dngan baik untuk mempercepat
kesembuhan dan agar tidak menjadi sumber penularan bagi yang lain.
4) Terapi profilatik bagi carrier.
10. Polio
a) Pencegahan primer
Vaksinasi berperan pada tingkat pencegahan primer secara langsung.
Dengan meingkatkan kekebalan tubuh seseorang yang tidak terinfeksi. Selain
itu, menyusui bayi selama enam bulan pertama (ASI eksklusif) dapat
meindungi bayi dari kuman yang dapat mencemari botol susu, susu hewan,
dan susu formula yang disipkan dengan air tidak aman. Pemberian ASI
dipromosikan tidak hanya untuk pemenuhan gizi. Tetap juga mengandung
antinody ibu dan bayi pun memiliki kekebalan tubuh yang baik.
b) Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk mendeteksi penyakit infeksi
pada tahap ini sedini mungkin dan mengurangi risiko terinfeksi menyebar
lebih lanjut dalam suatu populasi. Beberapa contoh bagaimana pencegahan
sekunder dapat dipraktikkan. Antara lain : mastarkat diberikan edukasi tentang
praktik penanganan makanan yang higienes untuk mencegah merebaknya
keracunan makanan. Melatih masyarakat untuk mengeringkan wadah
perkembangbiakan nyamuk di dekat rumat di daerah endemis malaria dan
mendistribusikan kekambu untuk menutupi tempat tidur di malam hari.
c) Pencegahan tersier
Perawatan medis dapat meningkatkan kualitas hidup bagi seseorang
namun dampak pada penyebaran penyakit menular terbatas. Sebagai contoh,
terapi fisik yang mendukung rehabilitasu anak-anak dengan polio paralitik
berada ditingkat pencegahan tersier, yaitu mereka dapat mengurangi dampak
kelumpuhan pada kualitas hidup anak, tetapi mereka tidak memiliki dampak
apapun pada penyebaran virus polio di populasi tertentu.