Anda di halaman 1dari 26

TUGAS

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR

OLEH

NAMA : ENDANG

NIM : J1A119026

KELAS : REGULER A

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2020
1. Tulis dan jelaskan 10 penyakit menular, mekanisme penularan, secara langsung
atau tidak langsung ataupun keduanya !
2. Tulis dan jelaskan 10 penyakit menular kemudian disebutkan tingkat pencegahan
(primer/sekunder/tersier) !

Ja

1. Penyakit menular beserta cara penularannya :


a. ISPA
Bibit penyakit ISPA berupa jasad renik yang ditularkan melalui udara. Jasad
renik yang berada di udara akan masuk ke dalam tubuh manusia melalui
saluran pernafasan dan menimbulkan infeksi, penyakit ISPA dapat pula
berasal dari penderita yang kebetulan mengandung bibit penyakit. Umumnya
ditularkan melalui sekresi saluran pernafasan dapat berupa saliva dan sputum.
Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung ataupun tidak langsung
dari benda yang telah dicemari jasad renik.
b. Diare
Penularan diare dapat terjadi secara tidaak langsung. Diare bisa menular
melalui beberapa faktor yaitu :
 Makanan dan minuman
Makanan yang sudah terkontaminasi oleh udara dan kuman yang
berada pada suatu tempat atau sudah dihinggapi serangga dan tangan
yang kotor, akan menjadi penyebab penularan diare dari kuman yang
menempel pada makanan tersebut.
 Mainan
Bermain dengan mainan yang sudah terkontaminasi kuman penyebab
diare, terutama anak yang sering memasukan mainan ke dalam
mulutnya.
 Air
Penularan lainnya terjadi ketika menggunakan air yang sudah
tercemar oleh kuman penyebab diare, atau meminum air yang kurang
matang.
c. Tuberkulosis (TBC)
Penuran TBC terjadi melalui udar. Ketika penderita TBC aktif memercikan
lendiratau dahak saat batuk atau brsin, bakteri TB ikut keluar melalui lendir
tersebut dan terbawa ke udara. Bakteri TB yang berada di udara bisa bertahan
berjam-jam, terutama jika ruangan gelap dan lembab, sebelum akhirnya
terhirup oleh orang lain. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana
percikkan dahak berada dalam aktu yang lama.
d. Demam berdarah
Mekanisme penularan demam berdarah terjadi secara langsung melalui
gigitan nyamuk. Virus DBD ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk
betina yang terinfeksi, terutama Aedes aegypti. Spesies ini dalam genus aedes
juga bisa sebagai vektor. Namun, kontribusinya adalah sekunder dari aedes
aegypti. Virus yang menginfeksi nyamuk, lalu memginfeksi kelenjar ludah
dan jaringan tubuh sekitarnya. Kemudian menggigit tubuh manusia. Di dalam
tubuh manusia, virus dengue berkembang biak dan memerlukan waktu
inkubasi hingga 4-5 hari sebelum dapat menimbulkan penyakit dengue.
e. Difteri
Mekanisme penularan difteri dapat terjadi secara langsung ataupun tidak
langsung. Penularan difteri dapat terjadi melalui berbagai cara. Sebab, bakteri
penyebabny dapat tersebar dalam bentuk partikel di udara, benda pribadi, dan
peralatan rumah tangga yang terkontminasi.
 Partikel udara. Jika menghirup udara yang mengandung partikel dari
batuk atau bersin pengidap difteri, maka kamu dapat tertular penyakit
ini.
 Barang pribadi yang terkontaminasi. Berkontak dengan
bendabenda pribadi milik pengidap difteri dapat menyebabkan tertular
penyakit difteri. Misalnya, memegang tisu bekas pengidap difteri,
minum dari gelas yang sama dengan pengidap, atau kontak-kontak
lainnya dengan benda-benda pribadi milik pengidap yang bisa
menularkan bkteri.
 Luka yang terinfeksi. Bersentuhan dengan luka yang terinfeksi juga
dapat membuat kamu terpapar bakteri penyebab difteri.
f. Malaria
Penyakit Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
parasit plasmodium antara lain plasmodium malariae, plasmodium vivax,
plasmodium falciparum, plasmodium ovale yang hanya dapat dilihat dengan
mikroskop yang ditularkan oleh nyamuk malaria (anopheles).
Meknisme penularan malaria terjadi secara langsung melalui gigitan
nyamuk yang terinfeksi parasit plasmodium. Pada malam hari, nyamuk yang
terinfeksi parasit ini lebih banyak beredar dan menggigit. Jika seseorang
sudah terkena gigitan nyamuk, parasiy pun akan langsung masuk ke aliran
darah. Penularan malaria juga terjadi secara tidak langsung, dimana prasit ini
mampu menyebar melalui transfusi darah atau jarum suntik yang digunakan
bergantian.
g. Kurap (Tinea corporis)
Kurap tubuh adalah kondisi yang terjadi karena adanya infeksi jamur.
Mekanisme penularan kurap dapat terjadi secara langsung maupun tidak
langsung.
 Dari manusia ke manusia. Jamur penyebab kurap bisa menular
melalui kontak fisik antar manusia. Kontak langsung dengan orang
yang sebelumnya sudah terinfeksi jamur akan meningkatkan risiko
jamur berpindah dan pada akhirnya menyebabkan munculnya kurap
di kutil.
 Manusia dengan hewan. Jamur penyebab penyakit ini pun bisa
menyebar saat manusia melakukan kontak fisik dengan hewan.
Beberapa jenis hewan yang berisiko menularkan jamur, seperti anjing,
kucing, dan sapi.
 Manusia dengan benda yang terkontaminasi. Jamur tinea corporis
juga bisa menempel di berbagai benda seperti pakaian, seprai, dan
handuk milik orang yang sudah terinfeksi. Kebiasaan menggunakan
atau bertukar barang dengan orang lain bisa meningkatkan risiko
penularan penyakit ini.
h. Konjungtivitis
Penyakit konjungtivitis bisa menular melalui kontak langsung dengan
pengidapnya atau kontak dengan benda yang disentuh oleh pengidap. Dengan
kata lain, ketika pengidapnya menyentuh mata yang mengalami peradangan
kemudian menyentuh suatu benda, maka benda tersebut telah terkontaminasi
virus penyebab konjuntivitis.
i. Pneumonia
Pneumonia dapat menyebar dalam sejumlah cara. Virus dan bakteri yang
biasa ditemukan di hidung atau tenggorokan anak dapat menginfeksi paru-
paru jika terhirup. Melansir dari who, penyakit ini bisa menyebar melalui
darah, terutama selama kelahiran atau tidak lama setelah melahirkan. Selain
itu, kuman dapat menyebar melalui batuk atau bersin hingga saat sesorang
berbicara. Ketika seseorang yang mengidap penyakit pneumonia batuk dan
bersin, mereka akan menyemburkan tetesan kecil cairan yang mengandung
kuman ke udara. Tetesan ini dapat terhirup oleh seseorang yang berada di
dekatnya.
j. Hepatitis B
Penularan hepatitis B dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung.
 Hubungan seksual. Sesorang dapat terkena hepatitis B jika
melakukan hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi hepatitis
B, tanpa menggunakan kondom. Virus Hepatitis B dapat menular jika
darah, air mani, cairn vagina atau air liur orang tersebut masuk ke
dalam tubuh.
 Kehamilan. Penularan hepatitis B dapat terjadi dari ibu ke anak. Ibu
hamil yang terinfeksi hepatitis B dapat menularkan virus tersebut
pada bayinya saat persalinan. Sang bayi pun akan beresiko terkena
infeksi hepatitis B kronis.
 Jarum suntik. Sesorang dapat terkena hepatitis B jika menggunakan
jarum suntik bekas orang yang terinfeksi hepatitis B. jarum suntik
tersebut telah terkontaminasi oleh darah orang yang terinfeksi.
 Kontak dalam rumah. Virus hepatitis B dapat menempel pada
barang-barang tertentu. Barang-barang dengan kandungan darah atau
cairan tubuh orang yang terinfeksi, berpotensi menularkan virus
hepstitis B. barang-barang tersebut antara lain sikat gigi, pisau cukur,
handuk, dan gunting kuku.
2. Tingkat pencegahan penyakit menular
a. ISPA
ISPA adalah penyakit saluran pernapasan atas atau bawah, biasanya
menular, yang dapat menimbulkan berbgai spektrum penyakit yang berkisar
dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan
mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya, faktor lingkungan, dan
faktor pejamu.
Tingkat pencegahan penyakit :
 Pencegahan primer
Intervensi yng ditujukan bagi pencegahan faktor risiko dianggap sebagai
strategi untuk mengurangi penyakit ISPA :
1. Penyuluhan
Dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini diharapkan
dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang
dapat meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA.
2. Imunisasi
Yang merupakan strategi spesifik untuk mengurangi angka kesakitan
(insiden) pneumonia. Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi
malnutrisi, difisiensi vitamin A. program KIA yang menangani
kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir rendah.
 Pencegahan sekunder
Upaya pencegahan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan sedini
mungkin. Upaya pengobatan dilakukan atas klasifikasi ISPA yaitu :
1. Untuk usia <2 bulan, pengobatannya meliputi : untuk pneumonia
berat ( rawat di rumah sakit, beri oksigen, terapi antibiotic dengan
memberikan benzzilpensilin dan gentamisin atau kanamisin).
2. Untuk kelompok umur 2 bulan sampai umur <5 tahun, pengobatannya
meliputi : rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi antibiotic
dengan memberikan kloramfenikol secara intramuscular setiap 6 jam.
 Pencegahan tersier
Pencegahan ini ditujukan kepada balita penderita ISPA agar tidak
bertambah parah dan mengakibatkan kematian. Jika anak semakin
memburuk setelah pemberian kloramfenikol selama 48 jam, periksa
adanya komplikasi dan ganti dengan kloksasilin ditambah gentamisin jika
diduga suatu pneumonia stafilokokus.
b. Diare
Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal
(lebih dalam 3 kali/hari), serta perubahan dalam isi (lebih dari 200g/hari) dan
konsistensi atau feses cair (Smeeltezer & Bare, 2002)
 Pencegahan primer
Pencegahan primer penyakit diare dapat ditujukkn pada faktor penyebab ,
lingkungan dan faktor penjamu. Untuk faktor penyebab dilakukan berbagai
upaya agar mikroorganisme penyebab diare dihilangkan. Peningkatan air
bersih dan sanitasi lingkungan, perbaikan lingkungan biologis dilakukan
untuk memodifikasi lingkungan. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh,
dari penjamu maka dapat dilakukan peningkatan status gii dan pemberian
imunitas.
 Pencegahan sekunder
1. Tahap inkubasi
Pada tahap ini, pasien dapat diberi :
a) Diberi oralit
b) Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare untuk
menghindari efek buruk pada status gii.
c) Memberikan anak lebih banyak cairan dari pada biasanya untuk
mencegah dehidrasi.
2. Tahap penyakit dini
a) 3 jam pertama berikan oralit sesuai dengan ketentuan
b) Setelah 3-4 jam nilai kembali anak menggunakan bagan penilaian
anak kemudian pilih rencana A, B, atau C untuk melanjutkan
pengobatan.
a. Bila tidak ada rehidrasi, anak biasanya kencing dan lelah
kemudian mengantuk dan tidur
b. Bila tanda menunjukan dehidrasi ringan atau sedang tawarkan
makanan susu dan sari buah.
c. Bila tanda menunjukan dehidrasi berat, maka secepatnya
rehidrasi cairan dan amati anak dengan seksama.
d. Tahap akhir. Biasanya pasien diamati kurang lebih 6 jam setelah
pemberian oralit terus berikan antibiotic dan berikan cairn
intravena.
 Pencegahan tersier
Pencegahan tingkat ketiga adalah penderita diare jangan sampai mengalami
kecacatan dan kematian akibat dehidrasi. Jadi pada tahap ini penderita
diare diusahakan pengembalian fungsi fisik, psikologis semaksimal
mungkin. Pada tingkat ini juga dilakukan usaha rehabilitasi untuk
mencegah terjadinya akibat efek samping dari penyakit diare. Usaha yang
dapat dilakukan yaitu dengan terus mengonsumsi makanan bergii dan
menjaga keseimbangan cairan.
c. Tuberkulosis (TBC)
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh
kuman/bakteri yang menyebar dari orang ke orang melalui udara. TB
biasanya mempengaruhi paru-paru, tetapi juga dapat mempengaruhi bagian
lain dari tubuh, seperti otak, ginjal, atau tulang belakang. Seseorang yang
memiliki penyakit TB dapat mati jika mereka tidak mendapatkan perawatan
dengan baik (CDC, 2011).
Tingkat pencegahan penyakit TBC :
 Pencegahan primer
1. Promosi kesehatan
penyuluhan dengan melibatkan pasien & masyarakat dalam kampanye
advokasi, penyuluhan rencana pengendalian infeksi, Koleksi dahak
Aman, penyuluhan Etika batuk dan batuk yang higienis, penyuluhan
pasien TB triase dilakukan untuk saluran cepat atau pemisahan,
penyuluhan mendiagnosis TB yang cepat dan pengobatan,
Meningkatkan ventilasi udara kamar, Melindungi pekerja perawat
kesehatan, Pengembangan kapasitas dan Memonitor praktek
pengendalian infeksi (WHO)
2. Proteksi spesifik
Vaksinasi BCG secara signifikan yang bisa mengurangi risiko TB dan
penggunaan alat pelindung diri di tempat kerja yang berisiko terkena
TB, Terapi pencegahan isoniazid (IPT) dan Terapi antiretroviral
(ART) untuk orang-orang dengan HIV (WHO). .
 Pencegahan sekunder
1. Deteksi dini
Skrining atau penemuan kasus baru yang benar-benar positif TB
dengan melakukan pemerikasaan dahak. melakukan diagnosis TB
paru dengan memeriksa semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak
dalam 2 hari, diagnosis TB ekstra paru dengan gejala dan keluhan
tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk pada Meningitis
TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran kelenjar limfe
superfisialis pada limfadenitis TB. Diagnosis TB pada Orang Dengan
HIV AIDS (ODHA) 1.TB Paru BTA Positif, yaitu minimal satu hasil
pemeriksaan dahak positif. 2.TB Paru BTA negatif, yaitu hasil
pemeriksaan dahak negatif dan gambaran klinis & radiologis
mendukung Tb atau BTA negatif dengan hasil kultur TB positif. 3.TB
Ekstra Paru pada ODHA ditegakkan dengan pemeriksaan klinis,
bakteriologis dan atau histopatologi yang diambil dari jaringan tubuh
yang terkena (KEMENKES RI,2011)
2. Pengobatan tepat
Pada tahap ini, pencegahan sekunder dilakukan dengan pengobatan
tepat. Pengobatan untuk penyakit TB yaitu mengonsumsi obat
kombinasi pada orang dengan TB aktif, dengan jadwal dosis pada
anak-anak dan remaja dengan TB aktif yang tepat, jadwal dosis pada
orang dewasa dengan TB aktif yang tepat, Lama pengobatan pada
orang dewasa dengan TB paru aktif yang benar, Lama pengobatan
pada anak-anak dan remaja dengan TB paru aktif dengan benar, Lama
pengobatan pada penderita TB paru aktif dengan benar.
 Pencegahan tersier
 Pencegahan ketidakmampuan
Penggunaan kortikosteroid tambahan pada pengobatan TB aktif,
Penggunaan operasi tambahan pada orang dengan TB aktif serta
Pengobatan TB aktif pada orang dengan penyakit penyerta atau
kondisi co-ada.
 Rehabilitasi
Pasien paru BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2, bila
masih positif TB maka hentikan pengobatan dan rujuk ke layanan TB-
MDR.
d. Demam berdarah (DBD)
Demam berdarah adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus
dengue dari kelompok Arbovirus B, yaitu antropode-borne virus atau virus
yang disebarkan oleh antropoda dan termasuk genus vlavivirus dari famili
flaviridae.
Tingkat pencegahan penyakit :
 Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah tahap awal dari ketiga tahap pencegahan suatu
penyakit. Pada tahap ini dilakukan penyuluhan dan proteksi spesifik
untuk mengendalikan penyakit yang bersangkutan. Indonesia adalah
Negara yang mempunyai program tersendiri untuk mengendalikan
penyakit Demam Berdarah Dengue. Program itu bernama Gerttak PSN
(Gerakan Seretak Pembasmian Sarang Nyamuk). Tidak hanya PSN,
pemerintah melalui Dinas Kesehatan juga mempunyai tim khusus dalam
bidang Surveilans DBD. Tim dengan lambing sepatu bolong ini akan
selalu siap untuk turun ke lapangan untuk memperoleh data yang
diinginkan. Selain penyuluhan dan surveilans, pemerintah juga
mempunyai satu program yang diberi nama fogging. Fogging atau
pengasapan ini dilakukan untuk memberantas nyamuk dewasa.
Penyemprotan ini dilakukan dengan manggunakan zat kimia berupa
pestisida. Untuk membasmi penularan virus dengue, penyemprotan
dilakukan 2 siklus dengan interval 1 minggu.
 Pencegahan sekunder
Penemuan, pertolongan, dan pelaporan penderita DBD dilaksanakan oleh
petugas kesehatan dan masyarakat dengan cara :
a. Bila dalam keluarga ada yang menunjukkan gejala penyakit DBD,
berikan pertolongan pertama dengan banyak minum, kompres dingin
dan berikan obat penurun panas yang tidak mengandung asam salisilat
serta segera bawa ke dokter atau unit pelayanan kesehatan.
b. Dokter atau unit kesehatan setelah melakukan pemeriksaan/diagnosa
dan pengobatan segaera melaporkan penemuan penderita atau
tersangka DBD tersebut kepada Puskesmas, kemudian pihak
Puskesmas yang menerima laporan segera melakukan penyelidikan
epidemiologi dan pengamatan penyakit dilokasi penderita dan rumah
disekitarnya untuk mencegah kemungkinan adanya penularan lebih
lanjut.
c. Kepala Puskesmas melaporkan hasil penyelidikan epidemiologi dan
kejadianluar biasa (KLB) kepada Camat, dan Dinas Kesehatan
Kota/Kabupaten, disertai dengan cara penanggulangan seperlunya
diagnosis laboratorium.
 Pencegahan tersier
Pencegahan ini dimaksudkan untuk mengurangi ketidakmampuan dan
mengadakan rehabilitasi. Upaya pencegahan ini dapat dilakukan dengan :
a. Transfusi Darah
Penderita yang menunjukkan gejala perdarahan seperti hematemesis
dan malena diindikasikan untuk mendapatkan transfusi darah
secepatnya.
b. Stratifikasi Daerah Rawan DBD
Menurut Kemenkes RI, adapun jenis kegiatan yang dilakukan
disesuaikan dengan stratifikasi daerah rawan seperti :
1. Endemis
Yaitu Kecamatan, Kelurahan, yang dalam 3 tahun terakhir selalu
ada kasus DBD. Kegiatan yang dilakukan adalah fogging Sebelum
Musim Penularan (SMP), Abatisasi selektif, dan penyuluhan
kesehatan kepada masyarakat.
2. Sporadis
Yaitu Kecamatan, Kelurahan, yang dalam 3 tahun terakhir ada
kasus DBD. Kegiatan yang dilakukan adalah Pemeriksaan Jentik
Berkala (PJB), PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan 3M,
penyuluhan tetap dilakukan.
3. Potensial
Yaitu Kecamatan, Kelurahan, yang dalam 3 tahun terakhir tidak
ada kasus DBD. Tetapi penduduknya padat, mempunyai
hubungan transportasi dengan wilayah lain dan persentase rumah
yang ditemukan jentik > 5%. Kegiatan yang dilakukan adalah
PJB, PSN, 3M dan penyuluhan.
4. Bebas
Yaitu Kecamatan, Kelurahan yang tidak pernah ada kasus DBD.
Ketinggian dari permukaan air laut > 1000 meter dan persentase
rumah yang ditemukan jentik ≤ 5%. Kegiatan yang dilakukan
adalah PJB, PSN, 3M dan penyuluhan.
e. Difteri
 Pencegahan primer
1. Melakukan kegiatan penyuluhan
Kegiatan penyuluhan sangatlah penting dimana kegiatan ini memberi
penyuluhan kepada masyarakat terutama kepada para orang tua
tentang bahaya dari difteria dan perlunya imunisasi aktif diberikan
kepada bayi dan anak-anak.
2. Melakukan imunisasi aktif secara luas (masal)
Imunisasi dilakukan pada aktu bayi dengan memberikan vaksin yang
mengandung diphtheria tosoid, tetanus tosoid, antigen “achellular
pertussis : (DtaP , yang digunakan di AS) atau vaksin yang
mengandung “whole cell pertusis” (DTP).
3. Mengatur jadwal imunisai
4. Melakukan upaya khusus
Upaya khusu ini perlu dilakukan mereka yang terpapar dengan
penderita seperti kepada para petugas kesehatan dengan cara
memberikan imunusasi dasar lengkap dan setiap 10 tahun sekali
diberikan dosis booster Td kepada mereka.
 Pencegahan sekunder
1. Laporan kepada petugas kesehatan setempat
Laporan ajib dilakukan mengenai penyakit menular ini.
2. Isolasi
Isolasi tetap dilakukan terhadap penderita difteria farineal, isolasi
untuk difteria kulit dilakukan terhadap kontak hingga dua kultur dari
sampel tenggorokan dan hidung (dan sampel dari lesi kulit pada
difteria kulit) hasilnya negatif tidak ditemukan baksil.
3. Disinfeksi serentak
Dilakukan terhadap semua barang yang dipakai oleh atau untuk
penderita dan terhadap barang yang tercemar dengan dischareg
penderita.
4. Karantina
Karantina dilakukan terhadap orang dewasa yang pekerjaannya
berhubungan dengan pengelolaan makanan (khusunya susu atau
terhaadap mereka yang dekat dengan anak-anak yang belum
diimunisasi.
5. Manajemen kontak
Semua kontak dengan penderita harus dilakukan kultur dari sample
hidung dan tenggorokan, diawasi selama tujuh hari.
6. Investigasi kontak dan sumber infeksi
Pencairan carrier dengan menggunakan kultur dari sample yang
diambil dari hidung dan tenggorokan tidak bermanfaat jika tindakan
yang diuraikan pada 9B5 diatas sudah dilakukan dengan benar.
7. Pengobatan spesifik
Jika diduga kuat bahwa sesorang menderita difteria didasarkan kepada
gejal klinis maka antioksin harus diberikan setelah sample untuk
pemeriksaan bakteriologis diambil tanpa harus menunggu hasil
pemeriksaan bakteriologis.
 Pencegahan tersier
1. Terapi profilaktik bagi carier
Terapi ini dilakukan dengan tujuan profilaktik dosis tunggal
penichellin G sebesar 600.000 unit untuk usia dibawah 6 tahun dan
1,2 juta unit untuk usia 6 tahun ke atas.
2. Mengurangi minum es.
3. Menjaga kebersihan badan, pakaian dan lingkungan.
4. Makanan yang kita konsumsi harus bersih. Jika kita harus membeli
makanan di luar pilihlah arung yang bersih. Jika telah terserang
difteri, penderita sebaiknya dirawat dengan baik untuk mempercepat
kesembuhan dan agar tdak menjadi sumber penularan bagi yang lain.
f. Malaria
 Pencegahan primer
1. Promosi kesehatan
Promosi Kesehatan adalah suatu alat untuk menyampaikan pesan
kesehatan kepada masyarakat, kelompok dan individu. Dengan
harapan adanya pesan tersebut masyarakat, kelompok dan individu
dapat memperoleh informasi tentang kesehatan yang lebih baik.
Dengan kata lain, adanya promosi kesehatan ini dapat merubah
perilaku atau gaya hidup masyarakat, kelompok, dan individu menjadi
lebih baik.
2. Proteksi spesifik
Seseorang seharusnya menghindari dari gigitan nyamuk dengan
menggunakan pakaian lengkap, tidur juga harus memakai kelambu,
memakai obat nyamuk (seperti autan) dan menghindari untuk
mengunjungi lokasi yang rawan terdapat penyakit malaria.
 Pencegahan sekunder
1. Deteksi dini
Deteksi Malaria sering melakukan tindakan yang tepat dari penderita
yang mengalami penyakit malaria tentang keluhan utama (demam,
menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah,
diare, dan nyeri obat atau pegal-pegal), riwayat berkunjung dan
bertempat tinggal di daerah endemis malaria sekitar 1-4 minggu yang
lalu, riwayat sakit malaria, riwayat minum obat malaria 1 bulan
terakhir, dan riwayat mendapatkan transfusi darah.
2. Pengobatan tepat
Pengobatan untuk mereka yang terinfeksi malaria adalah dengan
menggunakan chloroquine terhadap P. Falciparum, P. Vivax, P.
Malariae dan P. Ovale yang masih sensitif terhadap obat tersebut.
Untuk pengobatan darurat bagi orang dewasa yang terinfeksi malaria
dengan komplikasi berat atau untuk orang yang tidak memungkinkan
diberikan obat peroral dapat diberikan obat Quinine dihydrochloride.
Untuk infeksi malaria P.Falciparum yang didapat di daerah dimana
ditemukan strain yang resisten terhadap chloroquine, pengobatan
dilakukan dengan quinine. Untuk mencegah adanya infeksi ulang
karena digigit nyamuk yang mengandung malaria P.Vivax dan
P.Ovale berikan pengobata dengan primaquine.
 Pencegahan tersier
1. Pencegahan Ketidakmampuan
Berbeda dengan penyakit-penyakit yang lain, malaria tidak dapat
disembuhkan meskipun dapat diobati untuk menghilangkan gejala-
gejala penyakit. Malaria menjadi penyakit yang sangat berbahaya
karena parasit dapat tinggal dalam tubuh manusia seumur hidup.
2. Pemulihan kondisi malaria, memberikan dukungan secara langsung
kepada penderita dan keluarga di dalam pemulihan dari penyakit
malaria, dan melakukan rujukan pada penderita yang memerlukan
pelayanan rujukan ke rumah sakit.
g. Campak
Campak adalah penyakit infeksi yang sangat menular yang disebabkan
oleh virus, dengan gejala -gejala eksantem akut, demam, kadang kataral
selaput lendir dan saluran pernapasan, gejala -gejala mata, kemudian diikuti
erupsi makulo papula yang berwarna merah dan diakhiri dengan deskuamasi
dari kulit ( Setya Nigrum , 2013) .
Tingkat pencegahan penyakit campak :
 Pencegahan primer
a. Promosi kesehatan
Promosi kesehatan dapat dilakukan dengan memberikan edukasi
campak, pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan mengenai
Campak. Disamping kepada penderita Campak, edukasi juga
diberikan kepada anggota keluarganya, kelompok masyarakat
beresiko tinggi dan pihak -pihak perencana kebijakan kesehatan.
Berbagai materi yang perlu diberikan kepada pasien Campak adalah
definisi penyakit Campak, faktor-faktor yang berpengaruh pada
timbulnya Campak dan upaya-upaya menekan Campak, pengelolaan
Campak secara umum, pencega han dan pengenalan komplikasi
Campak.
b. Proteksi spesifik
Proteksi spesifik dapat dilakukan dengan pemberian vaksi. vaksin di
diberikan secara subkutan sebanyak 0,5 ml. vaksin campak tidak
boleh diberikan pada wanita hamil, anak dengan TBC yang tidak
diobati, penderita leukemia. Vaksin Campak dapat diberikan sebagai
vaksin monovalen atau polivalen yaitu vaksin measles-mumps-rubella
(MMR).vaksin monovalen diberikan pada bayi usia 9 bulan,
sedangkan vaksin polivalen diberikan pada anak usia 15 bulan.
Penting diperhatikan penyimpanan dan transportasi vaksin harus pada
temperature antara 2ºC - 8ºC atau ± 4ºC, vaksin tersebut harus
dihindarkan dari sinar matahari. Mudah rusak oleh zat pengawet atau
bahan kimia dan setelah dibuka hanya tahan 4 jam.
 Pencegahan sekunder
a. Deteksi dini
Deteksi dini dilaukan untuk menghindari terjadinya sakit, maka perlu
upaya sedini mungkin untukmengenal kondisi, maka dari itu harap
diketahui faktor- faktor yang menimbulkan gangguan dan gejala-
gejalanya sebagai bentuk deteksi diagnosis. Deteksi yang biasa
dilakukan ialah mengenali gejala-gejala abnormalitas
(ketidakwajaran) pada suatu penyakit. Pendekatan diagnosis ini
dilakukan untuk mencegahterjadinya kekalutan yang lebih parah yang
dapat merusak kepribadian. hal tersebut dapat membantu
individu dalam mengembangkan cara berfikir, cara berperasaan dan
cara berperilaku yang baik dan benar, sehingga eksistensi seseorang
bisa diterima dan diakui dalam lingkungan sosialnya sebagai sosok
insan yang sehat secara sempurna.
b. Pengobatan Tepat
Penderita Campak tanpa komplikasi dapat berobat jalan. tidak ada
obat yang secara langsung dapat bekerja pada virus Campak. Anak
memerlukan istirahat di tempat tidur, kompres dengan air hangat bila
demam tinggi. Anak harus diberi cukup cairan dan kalori, sedangkan
pasien perlu diperhatikan dengan memperbaiki kebutuhan cairan, diet
disesuaikan dengan kebutuhan penderita dan berikan vitamin A
100.000 IU per oral satu kali. Apabila terdapat malnutrisi
pemberian vitamin A ditambah dengan 1500 IU tiap hari. Dan bila
terdapat komplikasi, maka dilakukan pengobatan untuk mengatasi
komplikasi yang timbul.
 Pencegahan tersier
Pencegahan tersier bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi
dan kematian. Adapun tindakan -tindakan yang dilakukan pada
pencegahan tertier yaitu
a. Penanganan akibat lanjutan dari komplikasi campak.
b. Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan
turun secara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan menurunkan
imunitas mereka.
h. Japanese enchepalitis
Japanese Encephalitis (JE) adalah penyakit zoonosis yang diperantarai
oleh nyamuk yang disebabkan oleh virus yang disebut dengan arbovirus
(flavirus), yang melibatkan Sistem Saraf Pusat (NCDC,2006).
Tingkat pencegahan penyakit :
 Pencegahan primer
a. Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
Dengan adanya promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat
terutama masyarakat pedesanan sehingga mampu membantu
menyadarkan mereka agar segera melaporkan kejadian kesakitan
akibat penyakit Japanese Encephalitis dan dengan diadakannnya
promosi kesehatan dapat membantu meyakinkan masyarakat untuk
melindungi dirinya sendiri (NCDC,2006).
b. Menghentikan Siklus Transmisi
Pencegahan yang mungkin dilakukan untuk memutus rantai penularan
penyakit Japanese Encephalitis adalah dengan mengontrol vektornya.
Agar pengendalian vektor efektif sisa seprotan pestisida harus
disemprotkan semua kandang hewan dengan insektisida yang tepat
sebelum musim penularan (NCDC,2006). Penanggulangan vektor
juga bisa dengan cara memanipulasi sawah yakni dengan model
sawah basah dan sawah kering secara bergantian dan sebaiknya tidak
berternak babi di sekitar sawah. Penggunaan alat pelindung diri
seperti lotion anti nyamuk atau kelambu juga bisa dilakukan untuk
mencegah penularan (Nur Ika, 2013).
c. Imunisasi
Japanese Encephalitis merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi. Vaksin Japanese Encephalitis berisi virus yang telah
dimatikan. Vaksin ini memerlukan satu kali vaksinasi primer dan
memerlukan dua kali booster (Nur Ika, 2013).
 Pencegahan sekunder
Deteksi dini dan pelolaan yang baik untuk penyakit Japanese Encephalitis
dapat ngurangi kasus kematian akibat Japanese Encephalitis. Salah satu
caranya adalah menguatkan manajemen diagnostik dan klinis dari kasus
Japanese Encephalitis di Puskesmas dan Rumah Sakit (NCDC,2006)
 Pencegahan tersier
Pencegahan tersier yang dapat dilakukan adalah memberikan dukungan
moral kepada orang-orang yang mengalami sembuh dengan kecacatan
serta tidak mengucilkan orang tersebut sehingga orang yang sembuh
dengan kecatatan mampu bersosialisasi di masyarakat sama seperti
sebelum mengalami sakit.
i. HIV dan AIDS
Menurut WHO,1981 AIDS atau Acquired Immuno Deficiency
Syndrome adalah kumpulan dari beberapa gejala penurunan kekebalan sistem
imunitas manusia yang disebabkan adanya infeksi dari virus HIV atau
Human Immunodeficiency Virus yang masuk kedalam tubuh manusia.
Tingkat pencegahan penyakit :
 Pencegahan primer
1. Promosi kesehatan
a. Penyuluhan Kesehatan menjadi upaya yang sering dilaksanakan
dalam pencegahan HIV/AIDS. Upaya ini sebagai upaya
pencerdasan bagi sasaran komunitas untuk memperbaiki
pengetahuan dan persepsi tentang penyakit,Faktor risiko,metode
penularan dan pencegahan dari Penyakit HIV/AIDS (Chin &
Editor 2000). Kegiatan penyuluhan ini dilakukan pada kelompok
yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV yaitu anak-anak, remaja,
kelompok Penasun ( pengguna Narkoba dan suntik ), Kelompok
pekerja seks, berganti-ganti pasangan seks dan lain lain. Hampir
seluruh kelompok umur berisiko untuk penyakit ini.
b. Beberapa survei menyebutkan adanya pemahaman masyarakat
yang masih minim terkait penyakit HIV/AIDS, sehingga upaya
penyuluhan ini menjadi langkah awal dalam pengendalian
penyakit HIV/AIDS. Metode penyuluhan sangat bervariasi
diantaranya melalui ceramah dengan media poster dan leaflet,
diskusi, Forum Group Discussion dan membentuk KSPAN
( Kelompok Siswa Peduli HIV/AIDS ) pada tiap sekolah yang
dilatih dan dibina untuk menjadi edukator untuk melakukan
penyuluhan kepada temanteman sekolah (S et al. 2012).
2. Proteksi spesifik
upaya proteksi spesifik yang sudah direkomendasikan untuk
pengendalian penyakit HIV/AIDS sebagai berikut :
a. Tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang
berisiko.
b. Setia dengan pasangan
c. Menggunakan kondom secara konsisten pada saat berhubungan
d. Menghindari penyalahgunaan obat atau zat adiktif narkoba
e. Melakukan pencegahan lain seperti melakukan sirkumsisi.
 Pencegahan sekunder
a. Deteksi dini
Contoh dalam upaya deteksi dini HIV/AIDS adalah pada sasaran
kelompok berisiko tinggi yaitu kelompok pekerja seks. Upaya yang
dilakukan hampir sama pada penjelasan sebelumnya. Beda nya dalam
pemantauan ini , pihak dari puskesmas setempat yang berwewenang
untuk melakukan pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan
mendata tempat-tempat yang digunakan sebagai lokalisasi masyarakat
(Kakaire et al. 2015).
b. Penobatan tepat
Pengobatan yang spesifik merupakan upaya tepat setela mendapatkan
pelaporan dari deteksi dini. Walaupun HIV/AIDS sampai saat ini
belum ditemukan obat paten untuk menyembuhkan HIV/AIDS,
namun peranan obat ini dapat menjadi penghambat dan
memperpanjang perkembangan virus HIV di dalam tubuh. Sebelum
ditemukan pengobatan ARV ( Anti Retrovirus ) yang ada saat ini,
pengobatan yang ada hanya disasarkan pada penyakit opportunistik
yang diakibatkan oleh infeksi HIV. macam-macam pengobatan yang
digunakan : Penggunaan TMP-SMX oral untuk profilaktif,
Pentamidin aerosol untuk mencegah pneumonia P. Carinii, Tes
tuberkulin pada penderita TBC aktif.

 Pencegahan tersier
Dalam topik penyakit HIV/AIDS hampir dipastikan orang yang terinfeksi
HIV/AIDS akan berujung pada kematian. Beberapa contoh yang bisa
diterapkan adalah penggunaan terapi ARV. Hingga sampai saat ini, hanya
ARV yang masih menjadi terapi efektif untuk menghambat
perkembangan virus HIV dalam menyerang CD4+T. Keterlambatan
dalam penggunaan terapi ARV akan meningkatkan mortalitas (Rumah &
Sanglah 2011).
j. Hepatitis B
Menurut WHO tahun 2016 menyebutkan bahwa Hepatitis B adalah
infeksi virus yang menyerang hati dan dapat menyebabkan baik penyakit akut
dan kronis. Virus ini ditularkan melalui kontak dengan darah atau cairan
tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi. hepatitis B sendiri merupakan
penyakit yang disebabkan oleh virus Hepatitis B (VHB), suatu anggota famili
hepadnavirus yang dapat mengakibatkan peradangan hati akut atau kronis
yang dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati.
Tingkat pencegahan penyakit :
 Pencegahan primer
a. Program Promosi Kesehatan
Memberikan edukasi dan pendidikan khususnya bagi tenaga
kesehatan dalam menggunakan dan pemakaian alat-alat yang
menggunakan produk darah agar dilakukan sterilisasi dan isolasi.
Memberikan penyuluhan kepada masyarakat umum agar lebih
mengetahui tentang program imunisasi untuk mencegah penularan
hepatitis B. serta dilakukan penceghan secara konservatif yaitu
mencegah penularan secara parenteral dengan cara menghindari
pemakaian darah atau produk yang berkaitan dengan darah yang
tercemar VHB, pemakaian alat-alat kedokteran yang harus steril,
menghindari pemakaian peralatan pribadi terutama peralatan yang
digunakan bersama sama. (NSW Ministry of Health.2014)
b. Proteksi Spesifik
Dalam pencegahan di tingkat primer, Pemberian imunisasi
hepatitis B dapat dilakukan dengan berbagai cara. Menurut NSW
Misitry of Health menetapkan beberapa target sebagai sasaran
imunisasi sebagai tindak pencegahan terhadap penyakit hepatitis B
antara lain dengan mentargetkan pencapaian terhadap cakupan
vaksinasi anak anak ditetapkan sebesar 95% dari total populasi anak
anak di New South Wales, memastikan semua bayi yang lahir dari ibu
yan positif Hepatitis B mendapatkan HBig atau Hepatitis B
Immunoglobulin dalam 12 jam setelah kelahiran.
Selain Pemberian vaksin hepatitis B pada bayi, pemberian vaksin
Hepatitis B juga dianjurkan kepada pasangan seksual yang kontak
langsung dengan penderita HBsAg positif, kelompok berisiko yang
berganti ganti pasangan, terutama yang telah terdiagnosa terinfeksi
Penyakit Menular Seksual (PMS), pasangan homoseksual, pasien
yang mendapatkan tindakan pengobatan dengan cuci darah, dan
Petugas kesehatan yang sehari-hari kontak dengan darah atau
jaringan tubuh penderita HBsAg positif, seperti perawat dan petugas
laboratorium.
 Pencegahan sekunder
pencegahan sekunder yang dapat dilakukan adalah deteksi dini atau
mengetahui sedini mungkin suatu penyakit serta melakukan pengobatan
tepat yang sesuai dengan penyakit yang telah terdeteksi sehingga dapat
mencegah penyakit menjadi lebih parah serta mempersingkat kesakitan
serta mencegah terjadinya kecacatan akibat sakit. Pada penyakit Hepatitis
B deteksi dan pengobatan tepat dilakukan sebagai berikut :
a. Pemeriksaan laboratorium
Menurut WHO (1994) untuk mendeteksi virus hepatitis digolongkan
dengan tiga (3) cara yaitu : Cara Radioimmunoassay (RIA), Enzim
Linked Imunonusorbent Assay (Elisa), imunofluorensi mempunyai
sensitifitas yang tinggi. Untuk meningkatkan spesifisitas digunakan
antibodi monoklonal dan untuk mendeteksi DNA dalam serum
digunakan probe DNA dengan teknik hibridasi. Deteksi dini terhadap
HBV dapat dilakukan melalui tes darah, tes darah dasar untuk HBV
terdiri dari tigas tes skrining. yang pertama adalah tes antigen
permukan HBV yang menentukan apakah seseorang terinfeksi HBV,
yang kedua adalah tes anti bodi inti HBV, yang menentukan apakah
seseorang yang pernah terinfeksi, dan yang ketiga tes antibody
permukan HBV yang menentukan apakah seseorang telah bebas dari
virus setelah terinfeksi,atau telah divaksinasi dan sekarang kebal
terhadap infeksi di masa mendatang (SAMHSA.2011). Menganjurkan
pada wanita hamil untuk memastikan wanita hamil melakukan
screening terhadap hepatitis B juga diperlukan sebagai langkah
deteksi dini terhadap HBV (NSW Ministry of Health.2014)
 Pencegahan tersier
a. Pembatasan Ketidakmampuan
Pembatasan ketidakmampuan atau kecacatan berusaha untuk
menghilangkan gangguan kemampuan berpikir dan bekerja yang
diakibatkan oleh penyakit hepatitis. Usaha ini merupakan lanjutan
dari usaha deteksi dini danpengobatan tepat agar penderita mampu
sembuh sempurna tanpa cacat. Bil sudah terjadi kecacatan maka
dicegah agar kecacatan tidak menimbulkan dampak yang lebih parah
terhadap kesehtan penderita sehingga fungisi tubuh penderita HBV
dapat dipertahankan semaksimal mungkin.
b. Rehabilitasi
Tahap rehabilitasi adalah usaha untuk mencegah terjadinya efek
samping dai fase penyembuhan penyakit dan pengembalian fungsi
fisik, sosial, dan psikologik.tindakan ini dilakukan pada seseorang
yang proses penakitnya telah berhenti. Tujuannya adalah
mengembalikan penerita pada keadaan semula saat sebelum sakit atau
lebih baik daripada saat sebelum sakit. Dalam proses rehabilitasi
meliputi rehabilitasi mental, rehabilitasi social vokasional, dan
rehabiliasi aesthetis (WHO.2014).