Anda di halaman 1dari 18

Tugas (MID)

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR

OLEH

Nama : Fariza Liana

Nim : J1A1 17 039

Kelas : Epidemiologi

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

U NIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2020
1) 10 Penyakit Menular beserta Mekanisme Penularannya :

1. Penyakit Cacar Air

Cacar air merupakan penyakit infeksi kulit yang umum terjadi


dan sangat mudah menular. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus
Varicella zoster.
Cacar air sering menyerang anak-anak berumur antara 5-8
tahun. Epidemi varicella biasanya terjadi setiap 2-5 tahun. Penularan
virus terjadi melalui udara bersama titik ludah (droplet infection) atau
melalui kontak langsung dan tidak langsung dengan lesi kulit
penderita. Penderita dengan gangguan sistem imun akan mengalami
cacar air yang lebih berat gejala klinisnya. Masa inkubasi cacar air
berlangsung 14-21 hari, di ikuti gejala awal berupa demam dan
malaise. Rash merupakan kelainan kulit yang pertama kali timbul
dibagian badan penderita akan menyebar ke bagian wajah, lalu
kebagian anggota gerak, kemudian ke mukosa mulut dan faring.
Vesikel akan berkembang menjadi papula dan krusta pada hari
keempat berbagai stadium lesi terjadi dalam waktu yang bersamaan.
Komplikasi varicella zoster dapat terjadi berupa ensefalitis atau
pneumonia.
Penularan cacar air melalui cara :
1. Droplet
Melalui cairan yang dikeluarkan dari mulut pada waktu bersin,
batuk, atau pada waktu berbicara yang mengandung kuman penyakit
yaitu varicella zoster yang masuk ke tubuh orang sehat.
2. Melalui kontak langsung, bersentuhan dengan penderita
Setelah masuk kedalam tubuh manusia, virus akan
memperbanyak diri dan menyebar ke jaringan setempat melalui aliran
darah dan aliran getah bening. Virus memperbanyak diri kembali
virus menyebar ke seluruh tubuh dan terutama mencapai kulit dan
selaput lendir. Periode menular 1-2 hari sebelum sampai 5-6 hari
setelah timbulnya ruam. Virus ini masuk melalui saluran sistem
pernafasan bagian atas. Pasca berada di saluran nafas bagian atas, virus
ini akan bergerak menuju ke saluran limfe dan berusaha
memperbanyak diri. Selama kurang lebih4-7 hari, virus akan
bergerilya dengan memasuki area-area tubuh lainnya, seperti jantung,
hati dan limpa. Seminggu berselang, virus ini mulai melebarkan
sayapnya untuk kemudian bergerilya dan menyebar ke seluruh tubuh
melalui aliran darah dan juga menuju ke kulit sehingga implikasinya
bisa menimbulkan begitu banyak benjolan-benjolan yang berisi cairan.
Setelah itu, virus ini akan juga kembali masuk ke saluran pernafasan.
Melalui pernafasan inilah yang akan menyebabkan virus varicella
zoster menyebar ke orang lain.
3. Melalui kontak tidak langsung
Penularan tidak langsung terjadi melalui pakaian, alat tidur dan
barang-barang yang sudah tercemar bahan infektif penderita.

2. Penyakit Tetanus
Tetanus adalah sebuah penyakit yang di sebabkan oleh bakteri
clostridium tetani. Umumnya ia terdapat pada debu, tanah, kotoran dan
besi tua yang sudah berkarat.
Tetanus bukanlah penyakit yang dapat menular antar manusia.
Penularan ini terjadi ketika bakteri clostridium tetani masuk ke dalam
tubuh melalui luka terbuka. Kemudian akan mengeluarkan racun yang
di sebut tetanospasmin kealiran darah yang menyebar ke seluuh tubuh
dan dapat merusak otak dan sistem saraf. Masa inkubasi
berkembangnya penyakit tetanus dalam tubuh dapat berlangsung
selama 7 sampai 10 hari.
Penularan tetanus dapat melalui dengan cara kontak tidak
langsung di mana penyakit tetanus dapat tertular melalui luka yang
tertusuk paku, gigitan serangga, kotoran atau air liur yang sudah
terkontaminasi.

3. TBC
Tuberculosis adalah uatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh
bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini merupakan bakteri basil
yang sangat kuatsehingga memerlukan waktu lama untuk
mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru di
bandingkan bagian lain tubuh manusia.

Mekanisme penularan : Individu rentan yang menghirup basil


tuberculosis dan terinfeksi. Bakteri dipindahkan melalui jalan nafas ke
alveoli untuk memperbanyak diri, basil juga dipindahkan melalui
system limfe dan pembuluh darah ke area paru lain dan bagian tubuh
lainnya.
Sistem imun tubuh berespon dengan melakukan reaksi
inflamasi. Fagosit menelan banyak bakteri, limfosit specific
tuberculosis melisis basil dan jaringan normal, sehingga
mengakibatkan penumpukkan eksudat dalam alveoli dan menyebabkan
bronkopnemonia. Massa jaringan paru/granuloma (gumpalan basil
yang masih hidup dan yang sudah mati) dikelilingi makrofag
membentuk dinding protektif.
Granuloma diubah menjadi massa jaringan fibrosa, yang bagian
sentralnya disebut komplek Ghon. Bahan (bakteri dan makrofag)
menjadi nekrotik, membentuk massa seperti keju. Massa ini dapat
mengalami klasifikasi, membentuk skar kolagenosa. Bakteri menjadi
dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif.
Individu dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau
respon inadekuat sistem imun, maupun karena infeksi ulang dan
aktivasi bakteri dorman. Dalam kasus ini tuberkel ghon memecah,
melepaskan bahan seperti keju ke bronki. Bakteri kemudian menyebar
di udara, mengakibatkan penyebaran lebih lanjut. Paru yang terinfeksi
menjadi lebih membengkak mengakibatkan bronkopnemonia lebih
lanjut (Smeltzer, 2001)..
Penyebab penyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang
disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini
berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga
sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama kali
ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga
untuk mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama baksil Koch.
Bahkan, penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch
Pulmonum (KP). Bakteri Mikobakterium tuberkulosa.
Penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru) disebabkan oleh kuman
TBC (Mycobacterium tuberculosis) yang sebagian kuman TBC
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lain. Kuman
ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap
asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil
Tahan Asam (BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari
langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang
gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant,
tertidur lama selama beberapa tahun

Cara masuk ketubuh : langsung atau tidak langsung ataupun


keduanya terjadi dari penderita TBC, dapat disebarkan melalui udara,
batuk, flu dan pilek penderita TBC, bersin, dengan cipratan sedikit
ludah pun dari penderita TBC, Moms bisa terkena virus tersebut.
walaupun demikian tetapi TBC tidak menular secara langsung
tergantung dari kebersihan dari diri dan lingkungan kita.

4. Penyakit Batuk Rejan (Pertussis)


Batuk rejan merupakan penyakit menular yang di timbulkan
oleh bakteri bordetella pertussis yang menyerang saluran pernapasan.
Bakteri bordetella masuk ke dalam tubuh melalui cairan yang
di keluarkan oleh penderita yang kemudian di hirup oleh orang lain
yang kemudian berkembangbiak di dalam saluran pernapasan manusia,
kemudian mengeluarkan toksin yang merusak rambut-rambut halus
(cilia) di saluran pernapasan. Rusaknya silia menyebabkan saluran
pernapasan menyalami peradangan yang di tandai dengan batuk
kering. Masa inkubasi batuk rejan biasanya 7 sampai 10 hari.
Penularan batuk rejan dapat terjadi lewat kontak langsung
dengan partikel-partikel dalam percikan air, yang di keluarkan oleh
penderita saat ia batuk.

5. Penyakit Trikomoniasis
Trikomoniasis adalah salah satu penyakit parasit yang di
tularkan melalui hubungan seksual. Penyebabnya adalah parasit kecil
yang bernama trichomonas vaginalis.
Parasit trichominas vaginalis dapat masuk ke tubuh melalui
hubungan seksual, dimana parasit biasanya menyebar dari penis ke
vagina, dari vagina ke penis atau dri vagina ke vagina tanpa
penggunaan kondom. Untuk masa inkubasi dari parasit ini tidak di
ketahui dengan pasti. Umumnya kira-kira terjadi dalam waktu 5-28
hari.
Penularan trikomoniasis melalui cara :
1. Melalui kontak langsung
Penyakit trikomoniasis dapat menular melalui hubungan
intim atau seks tanpa kondom.
2. Melalui kontak tidak langsung
Sedangkan kontak tidak langsung misalnya dari dudukan
toilet yang lembab atau basah yang terkontaminasi, menggunakan
air bak mandi bersamaan dengan penderita, berenang di air yang
terkontaminasi, menggunakan handuk atau baju yang basa atau
lembab milik penderita.

6. Penyakit Kusta
Kusta atau lepra terjadi karena infeksi bakteri jenis
mycrobacterium leprae yang menyerang bagian saraf akstremitas,
saluran pernapasan atas, dan lapisan hidung. Sehingga dapat
menyebabkan kerusakan pada saraf , munculnya luka di kulit dan
otot yang melemah.
Bakteri mycrobacterium leprae masuk ke dalam tubuh
melalui hidung dan kemudian organ pernapasan manusia. Selain
itu, bakteri akan berpindah ke jaringan saraf dan masuk ke sel-sel
saraf. Karena bakeri kusta suka di tempat yang bersuhu dingin
maka bakteri akan masuk ke sel saraf tepi dan sel saraf kulit.
Kemudian bakteri kusta akan berkembang biak. Gejala dan tanda
kusta baru akan muncul setelah 3-5 tahun.
Penularan kusta melalui caa :
1. Melalui droplet
Penyakit kusta dapat mnular misalnya melalui inhalasi atau
mnghirup udara .
2. Melalui kontak langsung
Bakteri kusta dapat di tularkan melalui kontak kulit yang
lama dan erat dengn penderita, juga dapat melalui kontak engan
binatang seperti armadilo.
3. Melalui kontak tidak langsung
Sedangkan kontak tidak langsung dapat melaui pakaian,
handuk serta alat mandi penderita yang sudah terkontaminasi.

7. Penyakit Herpes Genital


Herpes genital adalah penyakit infeksi menular seksual (IMS)
yang disebabkan virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) atau tipe 2
(HSV-2). Tipe 1 biasa ditemukan di daerah mulut (herpes oral) dan
tipe 2 disebut herpes genital.
Virus herpes genital dapat masuk ke tubuh melalui selaput
lendir yang merupakan lapisan tipis pada hidung, mulut, dan area
genital. Gejala yag pertama kali muncul berupa lepuhan. Gjala tersebut
akan muncul pertama kalinya dua hari setela terkena virus atau paling
lambat 30 hari sesudah virus herpes menginfeksi.
Herpes genital hanya dapat ditularkan melalui kontak langsung
yaitu kontak seksual antara orang yang sudah memiliki virus dalam
tubuhnya dengan orang yang belum terinfeksi. Kontak seksual dapat
berupa anal, vaginal maupun oral.

8. Penyakit Antraks
Antraks adalah penyakit yang di sebabkan oleh infeksi bakteri
bacillus antrthracis yang di tularkan dari hewan ke manusia(zoonosis).
Penyakit antraks di mulai dengan masuknya bakteri melalui
mikrilesi di kulit , melalui jalan makanan aau udaa yang hirup saat
bernapas. Ketika spora antraks masuk ke dalam tubuh dan kemudian
tersebar melalui peredaran darah, tubuh akan membentuk suatu
mekanisme pertahanan dai leukosit yang sifatnya hanya sementara.
Setelah spora dari pembuluh darah terakumulasi dalam sistem limfe,
maka infeksi akan mulai terjadi.
Penularan antraks melalui cara :
1. Melalui droplet
Antraks dapat menular melalui udara yang mengandung
spora antraks.
2. Melalui kontak langsung
Penularan melalui kontak langsung dapat melalui kontak
degan spora antraks atau pun produk-produk hewan yang
terjangkiti.
3. Melalui kontak tidak langsung
Sedangkan penularan kontak tidak langsug dapat berupa
gigitan vektor atau pembawa kuman antraks.

9. Penyakit Difteri
Difteri adalah suatu penyakit infeksi akut yang terjadi secara
lokal pada lapisan mukosa atau kulit yang di sebabkan oleh bakteri
corynebacteriu dyphtheriae.
Dari percikan ludah saat batuk maupun bersin bakteri difteri
dapat masuk kedalam tubuh seseorang yang akan membentuk racun
yang melepaskan sel sehat pada tembakan. Selanjutnya sel ini akan
membentuk membran (lapisan tipis) berwarna abu-abu di tenggorokan.
Racun ini dapat menyebar ke darah yang dapat merusak ginjal,
jantung, serta sistem saraf.
Penularan difteri dapat melalui cara :
1. Kontak langsung
Penyakit difteri dapat di tularkan melalui kontak langsung
seperti mealui batuk, bersin serta berbicara.
2. Kontak tidak langung
Sedangkan kontak tidak langsungnya dapat melalui benda-
benda yang terkontaminasi.
3. Sentuhan langsung pada luka borok akibat difteri di kulit penderita.
Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal
di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak
terjaga.

10. Covid-19
Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis
coronavirus yang baru di temukan yang menyerang sistem pernapasan.
Virus corona masuk ke dalam tubuh melalui saluran
pernapasan, mulai dari hidung atau mulut menuju paru-paru. Untuk
menginfksi seseorang virus ini perlu mengikat enzim yang terdapat
pada sel-sel dalam saluran pernapasan. Ketika virus ini berhasil masuk
ke dalam tubuh dan aliran darah, SARS-CoV-2 di duga dapat
menyebar dan menyerang organ tubuh lain.

Penularan covid-19 melalui cara :


1. Melalui kontak langsung
Penularan covid-19 melalui kontak langsung yaitu melalui
percikan batuk, bersin, dan berbicara.
2. Melalui kontaktidak langsung
Sedangkan kontak tidak langsung yaitu apabila seseorang
menyentuh prmukaan atau benda apa pun yang sudah terkena atau
terkontaminasi percikan atau tetesan dari seseorang yang terpapar
covid-19.

2) 10 Penyakit Menular beserta Tingkatan Pencegahannya :

1. Penyakit Cacar Air


a. Fase primer
Pada fase ini langkah pencegahan yang cukup efektif dalam
menghindari terjadinya cacar air adalah dengan menjalani
vaksinasi cacar air. Vaksinasi ini di anjurkan untuk anak kecil dan
orang dewasa yang belum melakukan vaksinasi. Pada anak kecil
penyuntikan vaksin vericella atau cacar air pertama di lakukan
pada umur 12 hingga 15 bulan dan penyuktikan lanjutan di lakukan
ketika anak berusia 2 hingga 4 tahun. Sedangkan anak yang lebih
besar dan orang dewasa perlu mendapatkan 2 kali vaksinasi dengan
perbedaan waktu setidaknya 28 hari.
b. Fase sekunder
Pada fase ini masuk pada tahap pengobatan di mana pada
umumnya cacar air akan sembuh dengan sendirinya tanpa
penanganan khusus dalam waktu 2 minggu. Adapun penanganan
untuk cacar air adalah dengan antivirus (hanya efektif jika di
minum setelah bintil pertama muncul), bedak gatal, salep
acyclovir, antihistamin, serta penurun demam.

c. Fase tersier
Pada fese ini beberapa tindakan untuk proses penyembuhan
yaitu hindari menggaruk daerah yang gatal, hindai alas tidur yang
berbahan kasar, berikan kompres dingin dan mandi dengan air
dingin yang di tambah antiseptik misalnya kalium permanganas,
serta menjaga kebersihan kuku.

2. Penyakit Tetanus
a. Fase primer
Pada fese ini pencegahan untuk tetanus yaitu vaksinasi.
Proses vaksinasi ini harus di berikan dalam lima tahap yaitu pada
usia 2, 4, 6, 18 bulan dan 4-6 tahun. Untuk anak-anak di atas 7
tahun di beri vaksin Td. Vaksinasi ini perlu di ulang tiap 10 tahun
untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap tetanus.
b. Fase sekunder
Pada fase ini jika pasien sudah di vaksinasi maka akan di
beri obat anti acun tetanus, tetapi jika pasien belum di vaksinasi
maka di berikan antibiotik, antitoksin dan obat relaksan otot.
c. Fase tersier
Pada fese ini proses penyembhan yang dapat d lakukan
yaitu isolasi penderita dari rangsangan luar serta memperhatikan
asupan cairan dan elektrik untuk memastikan tidak kekurangan
cairan.

3. TBC
a. Pencegahan tingkat pertama(primary prevention)

Melakukan imunisasi pemberian vaksin Bacillus Calmette-


Guerin (BCG) efektif untuk mencegah TBC sampai seseorang berusia 35
tahun. Efektivitas BCG bisa meningkat bila tidak ada pengidap TBC di
lingkungan tempat tinggal kamu. Vaksin ini pertama kali dikembangkan
pada tahun 1920-an dan paling banyak digunakan untuk memvaksin
hampir 80% bayi baru lahir di seluruh dunia.

b. Pencegahan tingkat kedua (Sekundery prevention)


Melakukan skrining pada masyarakat, agar para penderita TBC
bisa mendaptkan pengobatan secara dini dan tidak akan menyebabkan
penularan kepada orang lain. Pemberian obat Pengobatan tersebut
bernama Directly Observed Treatment, Short-course (DOTS) dengan
jangka pengobatan enam bulan untuk kategori satu penderita TBC
ringan. Untuk kategori tiga disebut TBC resisten yang sudah tidak bisa
disembuhkan dengan obat kategori sehingga harus selalu menggunakan
obat khusus beserta dengan suntikan secara terus menerus selama satu
tahun.

c. Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary prevention)


Setelah melakukan pengobatan yang cukup lama agar kita tidak
lagi tertular atau mendapatkan efek buruk dari pengobatan maka
makanlah makanan seimbang dan bergizi dengan harga terjangkau, tidak
merokok, tidak menggunakan obat terlarang dan minum-minuman
beralkohol, menerapkan perilaku hidup sehat dan bersih, olah raga secara
teratur, istirahat yang cukup. Serta selalu memakai masker agar tidak
tertular dan menulari orang lain.

4. Batuk Rejan/ Pertussis


a. Fase primer
Pada fase ini pencegahan yang dapat di lakukan yaitu
dengan pemberian vaksin pertusis. Biasanya vaksin ini di berikan
bersamaan dengan vaksin difteri dan tetanus, serta polio dan Hib.
b. Fase sekunder
Pada fase ini pengobatan yang di lakukan yaitu
memberikan antibiotik untuk melawan bakteri penyebab infeksi.
Obat tersebut untuk mengatasi peradangan pada saluran
pernapasan.
c. Fase tersier
Pada fase ini penyembuha batuk rejan dapat di lakukan
dengan istrahat yag cukup, minum banyak air putih, keluarkan
dahak yang mengganggu pernapasan dan mengurangi kegiatan
yang mengeluarkan banyak tenaga.
5. Trikomoniasis
a. Fase primer
Pada fase primer penyakit trikomoniasis dapat dicegah
dengan pemberian komunikasi, informasi dan edukasi atau melalui
edukasi kelompok, intervensi seksual, pemberian vaksin hepatitis
B, penggunaan mikrobisida vagina ataupun dengan menggunakan
komdom.
b. Fase sekunder
Pada fase ini pengobatan yang dapat di lakukan yaitu
pengobatan berdasarkan sindrom, penemuan kasus dan skrining
bagi IMS yang bersifat asimtomatik, intervensi target, pengobatan
presumtif serta pengobatan dengan pemberian obat metronidazole.
c. Fase tersier
Pada fese ini dapat di lakukan dengan adanya peraturan
tentang larangnan prostitusi, melakukan usaha rehabilitasi dengan
pelatihan keterampilan pada wanita maupun laki-laki.

6. Penyakit Kusta
a. Fase primer
Pada fase primer dapat di lakukan dengan penyuluhan
kesehatan serta pemberian imunisasi.
b. Fase sekunder
Pada fase sekunder dapat di lakukan dengan pemberiaan
multi drug therapy pada penderita kusta terutama pada tipe
multibaciler karena tipe ini merupakan sumber kuman menularkan
kapada orang lain serta meutus mata rantai penularan dari penderita
kusta.
c. Fase tersier
Pada fase tersier dapat di lakukan dengan pencegahan cacat
kusta seperti upaya pencegahan primer meliputi penemuan dini
penderita sebelum cacat, pengobatan secara teratur dan penanganan
reaksi untuk mencegah terjadinya kerusakan fungsi saraf,
kemudian upaya pencegahan cacat sekunder meliputi perawatan
dini sendiri untuk mencegah luka dan perawatan mata, tangan atau
kaki yang sudah mengalami gangguan fungsi saraf serta latihan
fisioterapi pada otot yang mengalami kelumpuhan untuk mencegah
terjadinya kontraktur, bedah rekontruksi untuk koreksi otot yang
mengalami kelumpuhan agar tidak mendapat tekanan yang
berlebihan, bedah plastik untuk mengurangi perluasan infeksi,
terapi okupsi (kegiatan sehari-hari) di lakukan bila gerakan normal
terbatas pada tangan dan konseling di lakukan untuk mengurangi
depresi pada penderita cacat.

7. Penyakit Herpes Genital


a. Fase primer
Pada fase primer dapatdi lakukan dengan melakukan
promosi kesehatan tentang penyakitherpes genitalis, menjaga
kebersihan alat kelamin untuk mengurangi perpindahan bahan-
bahan infeksius, menggunakan kondom ketika berhubungan seks,
menjaga kondisi tubuh tetap fit agar tidak terjadi recurrent
infection, cuci tangan dengan sabun sehabis mengentuh gelembung
herpes/guakan sarung tangan.
b. Fase sekunder
Pada fase sekunder dapat di lakukan dengan melakukan uji
skrining di sertai diagnosis dini, menjaga kebersihan daerah yang
terinfeksi dengan mencucinya dengan sabun dan air bersih lalu
keringkan, mengoleskan krim anti virus seperti idoksuridin untuk
mengurangi penyebaran ke kulit sekitarnya, serta melakukan
operasi cesar sebelum ketuban pecah pada ibu yang terinfeksi
herpes primer pada trimester akhir.
c. Fase tersier
Pada fase tersier dapat di lakukan dengan mengonsumsi
obat antiviral secara continue hingga sembuh (gejalanya sudah
berhenti).

8. Antraks
a. Fase primer
Pada fase primer dapat di lakukan dengan :
 Bagi daerah bebas anthrax, di dasarkan kepada pengawasan
ketat pemasukan hewan ternak ke daerah tersebut.
 Bagi daerah endemik anthrax di dasarkan pada pelaksaan
vaksinasi ternak secara rutin di ikuti monitoring.
 Bagi ternak tersangka sakit,di lakukan penyuntikan
antibiotik dan 2 minggu kemudian di susul dengan
vaksinasi anthrax.
 Sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman kepada
masyarakat tentang bahaya anthrax serta upaya
penanggulangannya dengan bekerja sama seluruh instansi
dan pihak terkait lainnya termaksud pemuka
masyarakat/agama, LSM, kader desa melalui berbagai cara
seperti pencetakan brosur, leaflet, spanduk, sosialisasi
melalui barbagi media serta pertemuan-pertemuan informal.
b. Fase sekunder
Pada fase sekunder dapat di lakukan dengan :
 Pelaksanaan pengamatan untuk meningkatkan kewaspadaan
dini terhadap kemungkinan munculnya kasus pada ternak
khususnya di daerah endemis yag setiap tahun ada
kecenderungan muncul, serta terus memantau secara
intensif daerah dan lokasi endemis yang ada.
 Pelaksaaan vaksinasi massal untuk mengoptimalkan
cakupan vaksinasi setiap tahun pada ternak sapi, kerbau,
kambing dan domba di lokasi-lokasi endemis anthrax.
 Penelitian untuk dapat menghasilkan vaksin yang lebih baik
yaitu mempunyai potensi atau tingkat kekebalan yang
cukup lama, aman terhadap semua jenis hewan dan murah.
 Memproduksi vaksin dalam jumlah cukup untuk kesiap-
siagaan apabila terjadi wabah minimal sebesar 600 juta
dosis dan untuk memberikan subsidi bagi daerah yang
masih kekurangan vaksin.
 Pelaksanaan pengawasan lalu lintas ternak yang keluar dan
masuk lokasi endemis bekerja sama dengan aparat
karantina hewan dan instansi terkait lain.
 Pelaksanaan pemeriksaan ternak sebelum maupun setelah
ternak di potong.
c. Fase tersier
Pada fase tersier dapat di lakukan dengan :
 Praktek-praktek sosial dalam masyarakat peternakan,
termaksud pertukaran ternak sapi.
 Sosialisai untuk meningkatkan pemahaman kepada
masyarakat tentang bahaya anthrax serta upaya
penanggulangannya dengan bekerja sama seluruh instansi.
 Vaksinasi anthrax di berikan kepada hewan yang tidak
sedang di obati dengan antibiotika, misalnya pada sapi
yang mendapat pengobatan antibiotika terhadap masititis
kerena pemberian vaksin menjadi tidak efektif. Di
anjurkan pula setidaknya 6 minggu sebelum di potong dan
di komunikasi, ternak agar lebih dulu di vaksinasi anti
anthrax.

9. Penyakit Difteri
a. Fase primer
Upaya yang dapat di lakukan yaitu :
 Pemberian makanan bergizi
 Penyediaan sanitasi lingkungan yang baik
 Kebersihan perorangan
 Pemeriksaan kesehatan secara berkala
 Melakukan kegiatan penyuluhan
 Melakukan imunisasi aktif secara luas (massal)
 Melakukan upaya khusus dengan cara memberikan
imunisasi dasar lengkap dan setiap sepuluh tahun sekali di
berikan booster.
b. Fase sekunder
Upaya yang dapat di lakukan yaitu :
 Diagnosis dini
 Pengobatan umum yaitu pasien di isolasi selama 2-3
minggu
 Pengobatan khusus yaitu dengan memberikan antitoksin
(anti diptheriar serum/ADS), antibiotik, serta
kortikosteroid.
 Disinfektan serentak
 Manajemen kontak
 Investigasi kontak dan sumber infeksi
c. Fase tersier
Pada fase ini dapat di lakukan rehap kedokteran,
pendidikan dan pelatihan, sosial dan kejiwaan serta terapi
profilaktik bagi carrier.

10. Sistisrkosis
a. Fase primer
Upaya yang dapat di lakukan yaitu :
 Promosi kesehatan masyarakat misalnya dapat di lakukan
pemberian pendidikan mengenai kesehatan. Meningkatkan
pendidikan komunitas dalam kesehatan (kebersihan,
mempersiapkan makanan dan sebagainya).
 Pencegahan khusus, yaitu pencegahan keterpaparan dan
pemberian komprehensif. Pada babi dapat di lakukan
pemberian oxfendazole oral. Bila perlu vaksinasi dengan
TSOL18 setelah di lakukan eliminasi parasit dengan
kemoterapi.
 Memasak daging sampai di atas 50 derajat C selama 30
menit untuk membunuh kista cacing.
 Pemakaian jamban keluarga, tidak membuang tinja di
sembarang tempat.
 Pada daerah endemik sebaiknya tidak memakan buah dan
sayur yang tidak di masak.
 Hanya meminum air yang telah di masak dalam botol air.

b. Fase sekunder
Upaya yang dapat di lakukan yaitu :
 Mengobati penderita untuk mengurangi sumber infeksi dan
mencegah terjadinya autoinfeksi dengan larva cacing.
 Peameliharaan sapi atau babi pada tempat yang tidak
tercemar atau sapi di kandangkan sehingga tidak dapat
berkeliaran.
c. Fase tersier
Usaha untuk penanggulangan agar tidak menular. Orang
yang terinfeksi harus di lingdungi sehingga mereka tidak dapat
berkontribusi pada siklus penularan.