Anda di halaman 1dari 21

TUGAS : EPIDEMOLOGI PENYAKIT MENULAR

DISUSUN OLEH

NAZMASAVIRA

J1A119051

REGULER A 019

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2019
A. 10 nama penyakit menular !
- Bagaimana mekanisme penularan penyakit tersebut ?
- Bagaimana proses penyakit tersebut,apakah secara langsung atau tidak
secara lansung ?
Jawab :
1. DIARE
Diare merupakan kondisi dimana feses menjadi lembek dan
pengeluarannya lebih sering dari biasanya.Pada umunya,diare disebabkan
karena makanan yang mauk ke dalam tubuh tidak bisa di cerna sehingga
bisa menyebabkan iritai pada usus,lambung dan saluran pencernaan lainya.
Proses penularan penyakit diare.dapat menular secara lansung dan
tidak langsung.Secara langsung yaitu dari orang satu ke orang lain
secara langung melalui fecal-oral dengan media penularan utama
adalah makanan dan minuman yang terkominasi agen penyebab
diare.sedangakan tidak langsung yaitu melalui air.Air yang tercemar
kuman,bila di gunakan orang untuk keperluan sehari-hari tanpa rebus
atau dimaka terlebih dahulu,maka kuman akan masuk ke tubuh orang
yang memakainya,sehingga orang tersebut dapat terkena diare.

2. MALARIA
Malaria adalah suatu penyakit menular yang diderita oleh penduduk di
daerah tropis dan subtropis.Penyakit malaria di sebabkan oleh bibit
penyakit yang hidup di dalam darah manusia.Bibit penyakit tersebut
termaksud binatang bersel satu,tergolong amuba yang disebut
plamodium.Kerja plamodium adalah merusak sel –sel darah merah.Dengan
perantara nyamuk anopheles,plasmodium masuk ke dalam darah manusia
dan berkembang biak dengan membela diri.
penularan penyakit malaria ini tidak secara lansung dan proses
penularannya yaitu dari orang yang sakit kepada orang yang
sehat,sebagian besar melalui gigitan nyamuk.Bibit penyakit malaria dalam
darah manusia dapat terhisap oleh nyamuk berkembang biak di dalam
tubuh nyamuk,dan di tularkan kembali kepada orang sehat yang digigit
nyamuk tersebut.

3. TIFUS
Tifus (tipes) atau demam tifoid adalah penyakit yang terjadi karena infeksi
bakteri salmonella tiphi yang menyebar melalui makanan dan minuman
yang telah terontaminasi.Tipus dapat menular degan cepat. Infeksi demam
tifoid terjadi karena seseorang mengonsumsi makanan dan minuman yang
telah terkominasi sejumlah kecil tinja yang mengandung bakteri.
Proses penularannya secara langsung.tifus dapat menular dengan
cepat.infeksi demam tifoid terjadi ketika seeorang mengomsi makanan
atau minuman yang telah terkomindasi sejumlah kecil tinja yang
mengandung bakteri.pada kau yang jarang terjadi,penularan juga bisa
terjadi akibat terkena urine yang terinfeksi bakteri.

4. CACAR AIR
Cacar air istilah medis di sebut varisela,umunya menyerang oleh anank-
anak berusiah di bawah 10 tahun.penyakit ini juga menyerang orang
dewasa an umumnya gejala yang muncul lebih berat dari pada anak-
anak.hampir semua orang dewasa yang pernah mengidap cacar air tidak
akan tertular lagi.
Proses penularannya yaitu menular dengan perpindah dari orang
melalui kontak langsung ( misalnya air liur dan ciuman) dan kontak
langsung yang berasal dari cairan luka yang menempel pada benda-
bendah.

5. CAMPAK
Campak adalah penyakit endemik yang dialami banyak orang.terutama
menyerang bayi dan anak-anak.penyakit campak ini merupakan penyakit
yang sangat menular yang disebutkan oleh virus rubella atau
morbili.Namun penyakit campak ini dapat di cegah dengan melalukan
vaksinnasi.
Proses penularannya yaitu
secara langsung
a. Dari penderita penyakit infeksi ke orang lain.
b. Dari ibu ke bayi
c. Hewan ke manusia
Secara tidak lansung
a. Benda yang terkontaminasi
b. Makanan dan minuman yang terkominasi
c. Gigitan serangga

6. RUBELLA
Rubella adalah npenyakit menular yang disebkan oleh virus. Dikenal juga
sebagai campak jerman,yang biasanya menyerang anak-anak dan
remaja.rubella sendiri merupakan penyakit yang berbeda dari
campak,tetapi memiliki kesamaan karena sama-sama menyebabkan ruam
kemerahan pada kulit.
Proses penularan Rubella disebabkan oleh infeksi virus yang
menular dari satu orang ke orang lain.seseorang bisa terserang rubella
ketika menghirup percikan air liur yang di keluarkan penderita saat batuk
dan bersin.kontak langsung dengan bendah yang terkontaminasi air liur
penderita juga memungkinkan seseorang mengalami rubella.

7. TUBERKOLOSIS
Tuberkolosis (TB) yang juga dikenal dengan singkatan TBC merupakan
penyakit menular yang menyebabkan masalah kesehatan terbesar ke dua
settelah HIV dunia.penyakit ini disebabkan oleh basil dari bakteri
mycobacterium tuberculosis. Tuberkolosis sendiri dapat menyerang bagian
tubuh manapun,tetapi yang terering dan paling umum adalah infekin
tuberkolosis pada paru-paru
Proses penularan penyakit TBC tidak secara langsung yaitu
melalui udara ketika penderita aktif memercikan lendir atau dahak
saat batuk atau bersin,bakteri TB akan ikut keluar melalui lendir tersebut
dan terbawa ke udara.selamjutnya ,bakteri TB akan masuk ke tubuh orang
lain melalui udarah yang di hirup.

8. DIFTERI
Difteri merupakan salah satu penyakit menular berbahaya yang perlu
dihindari, difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium
diphtheriae pada tenggorokan dan sistem pernapasan atas.
Kuman difteri berdiam dan menyebabkan peradangan pada saluran
pernapasan, maka cara penularan difteri adalah lewat percikan (droplet) air
liur dan lendir pernapasan dari penderita difteri sebelumnya. Ketika
droplet pernapasan tersebut terhirup masuk ke dalam tubuh orang yang
tidak memiliki kekebalan, kemungkinan terjadinya infeksi sangat tinggi.
Difteri ini menyebar lewat percikan air liur. Jika bersin dan liurnya keluar,
bisa langsung menyebar ke orang lain. Adapun kalangan usia yang paling
sering tertular dan mengalami komplikasi adalah kelompok usia anak-
anak.
Penularan difteri terjadi akibat kontak langsung dengan cairan yang
keluar dari saluran pernapasan dan pengelupasan luka kulit serta bisa
menular melalui udara dan bisa juga ditularkan secara tidak langsung
melalui benda-benda yang terkontaminasi bakteri juga bisa menyebabkan
penularan penyakit.

9. TETANUS
Tetanus merupakan kondisi yang menyebabkan tubuh menjadi kaku dan
tengang akibat infeksi kuman. Sebagian besar orang umumnya pernah
mengalami luka pada kulit. Jika tidak dirawat dan diobati dengan benar,
luka tersebut memiliki risiko terkontaminasi dan mengalami infeksi. Salah
satu infeksi yang mungkin terjadi adalah tetanus. Bakteri Clostridium
tetani merupakan penyebab utama terjadinya infeksi tetanus. Hal yang
perlu digarisbawahi, infeksi tetatus merupakan infeksi yang tergolong
serius. Bakteri ini umumnya terdapat dalam debu, tanah, serta kotoran
hewan dan manusia.
Bateri tetanus sering kali masuk ke tubuh melalui luka terbuka
akibat cidera atau luka bakar. Jika berhasil memasuki tubuh, bakteri
tetanus berkembang biak dan melepas neurotoksin, yaitu racun yang
menyerang sistem saraf. Spora tetanus yang telah masuk kedalam tubuh
biasanya melalui luka tusuk. Setelah itu, infeksi akan tercemar dengan
tanah, debu jalanan atau tinja hewan dan manusia, spora juga dapat masuk
melalui luka bakar dan luka-luka lain. Pada bayi baru lahir, bakteri
penyebab tetanus dapat masuk ke tubuh melalui luka iris tali pusar yang
tidak dipotong dengan pisau steril. Penyakit tetanus pada bayi yang baru
lahir disebut tetanus neonatorum dan merupakan salah satu penyebab
kematian terbanyak pada bayi.
Tetanus ditularkan secara tidak langsung melalui luka, jarum
suntik dan juga Tetanus kadang kala juga terjadi pada seseorang yang usai
melakukan pembedahan.

10. EBOLA
Ebola adalah penyakit akibat infeksi virus mematikan, yang bisa
menyebabkan demam, diare, serta perdarahan di dalam tubuh
penderitanya. Hanya 10% penderita Ebola yang selamat dari infeksi virus
ini, tetapi penyakit ini jarang terjadi. Penyakit virus Ebola (EVD; dulu
dikenal sebagai demam berdarah Ebola) disebabkan oleh infeksi virus
Ebola yang tergolong dalam famili Filoviridae. Pada manusia, tingkat
kematian kasus EVD rata-rata 50% (bervariasi dari 25% hingga 90%
dalam kasus wabah sebelumnya).
Virus ebola bisa menular melalui Darah atau cairan tubuh
penderita dapat masuk ke dalam tubuh orang lain melalui luka pada kulit
atau lapisan dalam hidung, mulut, dan dubur. Penularan virus bisa terjadi
jika cairan tubuh dari orang yang sudah terinfeksi menyentuh langsung
bagian hidung, mata, mulut, ataupun luka terbuka pada seseorang. Setelah
menginfeksi, biasanya virus ebola membutuhkan waktu untuk
menunjukkan gejala.
Seseorang yang terinfeksi dapat menularkan virus Ebola melalui
kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh lainnya. Karena virus
Ebola dapat ditularkan melalui cairan tubuh maka hubungan seksual juga
terbukti dapat menularkan Ebola. Ebola bisa juga menular secara tidak
langsung melalui benda-benda yang terkontaminasi oleh pasien Ebola
seperti pakaian, handuk, dan sprei.
B. Menjelaskan 10 penyakit !
- Menyebutkan tingkatan pencegahan penyakit tersebut apakah tinkatan
pencegahannya menggunakan fae tersier,fase primer,dan fase sekunder
Jawab :

1) Roseola Infatum
a. Pencegahan Primer : Sebisa mungkin hindari kontak langsung dengan
seseorang yang terinfeksi roseola.
b. Pencegahan Sekunder : Jika anak Anda terkena roseola, cegah untuk
bertemu dengan anak-anak lain untuk sementara waktu.
c. Pencegahan Tersier : Menjaga kebersihan, salah satunya adalah dengan
mencuci tangan secara teratur dapat mengurangi penyebaran virus.
a.

2) HIV/AIDS
a. Pencegahan Primer : Pencegahan primer merupakan pencegahan garda
terdepan dimana pencegahan ini bertujuan untuk mengurangi insiden
dari suatu penyakit. Pencegahan ini lebih mensasar pada pendekatan
perseorangan dan komunitas seperti promosi kesehatan dan upaya
proteksi spesifik (Porta 2008). Pencegahan ini hanya dapat efektif
apabila dilakukan dan dipatuhi dengan komitmen masyarakat dan
dukungan politik yang tinggi Dalam permasalahan HIV/AIDS,
pencegahan primer sangatlah diharapkan untuk menjadi upaya terbaik
dalam menekan peningkatan kejadian kasus HIV/AIDS. Biasanya
pencegahan primer lebih menitikberatkan pada peningkatan
pengetahuan, sikap dan perilaku seseorang dan komunitas terhadap
penyakit HIV/AIDS dan metode penularannya.
Promosi Kesehatan
a) Penyuluhan Kesehatan menjadi upaya yang sering dilaksanakan
dalam pencegahan HIV/AIDS. Upaya ini sebagai upaya
pencerdasan bagi sasaran komunitas untuk memperbaiki
pengetahuan dan persepsi tentang penyakit,Faktor risiko,metode
penularan dan pencegahan dari Penyakit HIV/AIDS (Chin &
Editor 2000). Kegiatan penyuluhan ini dilakukan pada kelompok
yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV yaitu anak-anak, remaja,
kelompok Penasun (pengguna Narkoba dan suntik), Kelompok
pekerja seks, berganti-ganti pasangan seks dan lain lain. Hampir
seluruh kelompok umur berisiko untuk penyakit ini. Akan tetapi
sekitar 40% kelompok yang berisiko adalah kelompok remaja usia
20-29 tahun (K et al. 2010).
b) Beberapa survei menyebutkan adanya pemahaman masyarakat
yang masih minim terkait penyakit HIV/AIDS, sehingga upaya
penyuluhan ini menjadi langkah awal dalam pengendalian penyakit
HIV/AIDS. Metode penyuluhan sangat bervariasi diantaranya
melalui ceramah dengan media poster dan leaflet, diskusi, Forum
Group Discussion dan membentuk KSPAN (Kelompok Siswa
Peduli HIV/AIDS) pada tiap sekolah yang dilatih dan dibina untuk
menjadi edukator untuk melakukan penyuluhan kepada teman-
teman sekolah (S et al. 2012).
c) Pada negara afrika tepatnya di morogoro, ada sebuah program
sosial yang bersinergi dengan puskesmas setempat untuk
memberikan penyuluhan terkait penyakit HIV/AIDS kepada
kelompok ibu-ibu khususnya ibu hamil pada program Integrated
maternal and newborn health care. Program ini diimplementasikan
oleh kementerian kesehatan dan keadilan sosial negara melalui
Jhpiego, dan seluruh 18 departemen kesehatan di 4 wilayah rural
dan peri-urban. Jadi program ini dilakukan pada daerah rural dan
periurban. Jadi program ini diintegrasikan dengan dilakukannya tes
HIV dan dilanjutkan pada upaya edukasi (An et al. 2015).
Proteksi Spesifik
Penularan virus HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual
dengan orang yang berisiko, penggunaan jarum suntik yang tidak steril
dan bebarengan, dan penularan dari ibu hamil ke janinnya. Adapun
upaya proteksi spesifik yang sudah direkomendasikan untuk
pengendalian penyakit HIV/AIDS sebagai berikut :
a) Menurut permenkes nomor 21 tahun 2013 telah dijelaskan
penanggulangan HIV/AIDS pada pasal 14 tentang pencegahan
HIV/AIDS melalui hubungan seksual dilakukan melalui:
- Tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang
berisiko.
- Setia dengan pasangan.
- Menggunakan kondom secara konsisten pada saat
berhubungan.
- Menghindari penyalahgunaan obat atau zat adiktif narkoba.
- Melakukan pencegahan lain seperti melakukan sirkumsisi.
Dalam melakukan hubungan seksual, proteksi penularan
HIV/AIDS dapat efektif dilakukan untuk mengurangi risiko
melalui (Men & Estimate 2015):
- Mempunyai satu pasangan seks yang berisiko rendah.
- Pasangan seks sesama ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).
- Dan tidak melakukan hubungan seks.
b) Adapun proteksi penularan HIV/AIDS yang tidak melalui
hubungan seksual diantaranya pembuatan program layanan alat
suntik steril dan tes darah sebelum melakukan transfuse darah.
b. Pencegahan Sekunder : Pencegahan sekunder merupakan pencegahan
lini kedua dari teori pencegahan penyakit. Pencegahan sekunder
bertujuan untuk mengurangi dan meminimalisir prevalensi penyakit
dengan durasi waktu yang cukup singkat. Pencegahan sekunder terdiri
dari deteksi dini dan pengobatan tepat (Porta 2008). Berikut salah satu
contoh upaya pencegahan sekunder sebagai berikut :
Deteksi Dini
Salah satu deteksi dini yang dapat diupayakan adalah
perlindungan buruh migran Indonesia khususnya BMI (Buruh Migran
Indonesia) melalui upaya deteksi dini di bandara dan pelabuhan.
Deteksi dini yang dilakukan berupa mencermati aktivitas oleh BMI
ketika proses pemberangkatan dan kedatangan di bandara dan
pelabuhan di Surabaya Jawa timur. Pengamatan dilakukan dengan
pemberian pertanyaan terkait permasalahan kesehatan dan cek
kesehatan berdasarkan risiko HIV/AIDS yang ada. Selanjutnya hasil
dari pengamatan tersebut di laporkan oleh petugas di Gedung
Pendataan Kepulangan Khusus Tenaga Kerja Indonesia (GPKTKI).
Harapannya hasil dari pengamatan tersebut bisa menjadi dasa ran
utama untuk intervensi dini dan pengaturan langkah selanjutnya untuk
pengobatan lebih dini (Kinasih et al. 2015). Contoh dalam upaya
deteksi dini HIV/AIDS adalah pada sasaran kelompok berisiko tinggi
yaitu kelompok pekerja seks. Upaya yang dilakukan hampir sama pada
penjelasan sebelumnya. Beda nya dalam pemantauan ini , pihak dari
puskesmas setempat yang berwewenang untuk melakukan
pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan mendata tempat-tempat
yang digunakan sebagai lokalisasi masyarakat (Kakaire et al. 2015).
Pengobatan Tepat
Pengobatan yang spesifik merupakan upaya tepat setelah
mendapatkan pelaporan dari deteksi dini. Walaupun HIV/AIDS sampai
saat ini belum ditemukan obat paten untuk menyembuhkan HIV/AIDS,
namun peranan obat ini dapat menjadi penghambat dan
memperpanjang perkembangan virus HIV di dalam tubuh. Sebelum
ditemukan pengobatan ARV (Anti Retrovirus) yang ada saat ini,
pengobatan yang ada hanya disasarkan pada penyakit opportunistik
yang diakibatkan oleh infeksi HIV. Berikut macam-macam pengobatan
yang digunakan :
- Penggunaan TMP-SMX oral untuk profilaktif
- Pentamidin aerosol untuk mencegah pneumonia P. Carinii.
- Tes tuberkulin pada penderita TBC aktif.
Pada tahun 1999, telah ditemukan satu-satunya obat yang dapat
mengurangi risiko penularan HIV/AIDS perinatal dengan penggunaan
AZT. Obat ini diberikan sesuai dengan panduan yang sesuai. Akhirnya
WHO merekomendasikan untuk penggunaan Anti retroviral bagi para
penderita HIV/AIDS. Keputusan untuk memulai dan merubah terapi
ARV harus dipantau dengan memonitor hasil pemeriksaan lab baik
plasma HIV RNA (Viral load) maupun jumlah sel CD4 + T (Rumah &
Sanglah 2011).
c. Pencegahan Tersier : Pencegahan tersier merupakan lini terakhir dari
tahap pencegahan penyakit. Pencegahan tersier bertujuan untuk
membatasi akibat dari penyakit yang dapat terjadi pada jangka waktu
yang relatif lama dan juga memperbaiki kualitas hidup seseorang
untuk bisa lebih membaik (Porta 2008). Dalam topik penyakit
HIV/AIDS hampir dipastikan orang yang terinfeksi HIV/AIDS akan
berujung pada kematian. Beberapa contoh yang bisa diterapkan adalah
penggunaan terapi ARV. Hingga sampai saat ini, hanya ARV yang
masih menjadi terapi efektif untuk menghambat perkembangan virus
HIV dalam menyerang CD4+T. Keterlambatan dalam penggunaan
terapi ARV akan meningkatkan mortalitas (Rumah & Sanglah 2011).

3) TBC
a. Pencegahan Primer :
a) Promosi kesehatan
Penyuluhan dengan melibatkan pasien & masyarakat dalam
kampanye advokasi, penyuluhan rencana pengendalian infeksi,
Koleksi dahak Aman, penyuluhan Etika batuk dan batuk yang
higienis, penyuluhan pasien TB triase dilakukan untuk saluran
cepat atau pemisahan, penyuluhan mendiagnosis TB yang cepat
dan pengobatan, Meningkatkan ventilasi udara kamar, Melindungi
pekerja perawat kesehatan, Pengembangan kapasitas dan
Memonitor praktek pengendalian infeksi (WHO).
b) Proteksi spesifik
Vaksinasi BCG secara signifikan yang bisa mengurangi
risiko TB dan penggunaan alat pelindung diri di tempat kerja yang
berisiko terkena TB, Terapi pencegahan isoniazid (IPT) dan Terapi
antiretroviral (ART) untuk orang-orang dengan HIV (WHO).
b. Pencegahan Sekunder
a) Deteksi dini
Skrining atau penemuan kasus baru yang benar-benar positif
TB dengan melakukan pemerikasaan dahak. melakukan diagnosis
TB paru dengan memeriksa semua suspek TB diperiksa 3 spesimen
dahak dalam 2 hari, diagnosis TB ekstra paru dengan gejala dan
keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk pada
Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran
kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB. Diagnosis TB
pada Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) 1.TB Paru BTA Positif,
yaitu minimal satu hasil pemeriksaan dahak positif. 2.TB Paru
BTA negatif, yaitu hasil pemeriksaan dahak negatif dan gambaran
klinis & radiologis mendukung Tb atau BTA negatif dengan hasil
kultur TB positif. 3.TB Ekstra Paru pada ODHA ditegakkan
dengan pemeriksaan klinis, bakteriologis dan atau histopatologi
yang diambil dari jaringan tubuh yang terkena (KEMENKES RI,
2011).
b) Pengobatan tepat
Pada tahap ini, pencegahan sekunder dilakukan dengan
pengobatan tepat. Pengobatan untuk penyakit TB yaitu
mengonsumsi obat kombinasi pada orang dengan TB aktif, dengan
jadwal dosis pada anak-anak dan remaja dengan TB aktif yang
tepat, jadwal dosis pada orang dewasa dengan TB aktif yang tepat,
Lama pengobatan pada orang dewasa dengan TB paru aktif yang
benar, Lama pengobatan pada anak-anak dan remaja dengan TB
paru aktif dengan benar, Lama pengobatan pada penderita TB paru
aktif dengan benar.
c. Pencegahan Tersier
a) Pencegahan ketidakmampuan
Penggunaan kortikosteroid tambahan pada pengobatan TB
aktif, Penggunaan operasi tambahan pada orang dengan TB aktif
serta Pengobatan TB aktif pada orang dengan penyakit penyerta
atau kondisi co-ada.
b) Rehabilitasi
Pasien paru BTA positif dengan pengobatan ulang kategori 2,
bila masih positif TB maka hentikan pengobatan dan rujuk ke
layanan TB-MDR.

4) Leishmaniasis
b. Pencegahan Primer : Menggunakan pakaian tertutup seperti celana
panjang, baju lengan panjang (baju diselipkan ke dalam celana bila
perlu), dan kaus kaki tinggi.
c. Pencegahan Sekunder : Tidur di permukaan lantai yang lebih tinggi
dari sebuah bangunan, serangga akan lebih sulit untuk terbang lebih
tinggi.
d. Pencegahan Tersier : Hindari keluar rumah ketika senja dan fajar,
karena sandfly lebih aktif pada waktu tersebut. Gunakan kelambu yang
diselipkan di kasur dan bisa perlu disemprotkan insektisida.
Ukuran sandfly lebih kecil dari nyamuk sehingga membutuhkan
kelambu yang lebih rapat.

5) Malaria
a. Pencegahan Primer : Adalah upaya untuk mempertahankan orang yang
sehat tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit.
Kegiatannya sederhana dan dapat dilakukan oleh sebagian besar
masyarakat, seperti:
i. Menghindari atau mengurangi gigitan nyamuk malaria dengan cara
tidur menggunakan kelambu pada malam hari, tidak berada di luar
rumah, mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk
(repelen), memakai obat nyamuk bakar, memasang kawat kasa
pada jendela, dan menjauhkan kendang ternak dari rumah.
ii. Membersihkan tempat sarang nyamuk dengan cara membersihkan
semaksemak di sekitar rumah dan melipat kain-kain yang
bergantungan, dan mengalirkan atau menimbun genangan-
genangan air serta tempat-tempat yang dapat menjadi tempat
perindukan nyamuk Anopheles.
iii. Membunuh nyamuk dewasa dengan penyemprotan
insektisida.Membunuh jentik-jentik dengan menebarkan ikan
pemakan jentik.
iv. Membunuh jentik dengan menyemprot larvasida.
b. Pencegahan Sekunder : Adalah upaya untuk mencegah orang yang
telah sakit agar sembuh, menghambat progresifitas penyakit dan
menghindarkan komplikasi. Kegiatannya meliputi: pencarian penderita
secara aktif melalui skrining dan secara pasif dengan melakukan
pencatatan dan pelaporan kunjungan penderita malaria, diagnosa dini
dan pengobatan yang adekuat, dan memperbaiki status gizi guna
membantu proses penyembuhan.
c. Pencegahan Tersier : Adalah upaya untuk mengurangi
ketidakmampuan dan mengadakan rahabilitasi. Kegiatannya meliputi:
penanganan lanjut akibat komplikasi malaria, dan rehabilitasi
mental/psikologi.

6) Kolera
a. Pencegahan Primer : Menerapkan prinsip sanitasi lingkungan yang
baik, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces) pada
tempatnya yang memenuhi standar lingkungan. Contoh, jarak antara
sumber air (sumur) minimal 10m dari septic tank.
b. Pencegahan Sekunder : Menyiapkan makanan dengan bersih dan
memakannya sewaktu masih panas-panas kuku. Jika dibiarkan untuk
beberapa jam setelah dimasak dan diletakkan ditempat yang
bertemperatur ruangan, bakteri-bakteri dapat masuk kemakanan
tersebut dan menghindari memakan ikan dan kerang mentah atau
dimasak setengah matang.
c. Pencegahan Tersier : Meminum oralit atau dapat menyimpan sendiri
cairan sebagai berikut: Air mendidih + ½ sendok the garam + 8 sendok
the gula + Air asam (jeruk nipis).  Pemberian imunisasi dengan vaksin
yang mengandung esktral lipopo lisakarida dari vibrio atau suspense
pekat vibrio.
d.

7) Hepatitis B
a. Pencegahan Primordial : Pencegahan primordial adalah upaya untuk
memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai suat penyakit
dimana kondisi pada masyarakat yang memungkinkan penyakit tidak
mendapat dukungan dari kebiasaan, gaya hidup, maupun kondisi lain
yang merupakan faktor risiko untuk munculnya suatu penyakit.
Pencegahan primordial yang dapat dilakukan adalah : Konsumsi
makanan berserat seperti buah dan sayur serta konsumsi makanan
dengan gizi seimbang, bagi ibu agar memberikan ASI pada bayinya
karena ASI mengandung antibodi yang penting untuk melawan
penyakit, melakukan kegiatan fisik seperti olah raga dan cukup
istirahat.
b. Pencegahan Primer : Pencegahan primer merupakan tindakan yang
dilakukan saat seseorang belum terserang penyakit atau ketika
seseorang sudah terpapar suatu risiko penyakit. Pencegahan pada
tingkat primer dibagi menjadi dua yaitu melakui promosi kesehatan
dan juga proteksi spesifik. Dalam konteks penyakit hepatitis B proteksi
spesifik dilakukan melalui program imunisasi. Pencegahan primer
yang dilakukan antara lain :
a) Program Promosi Kesehatan
Memberikan edukasi dan pendidikan khususnya bagi
tenaga kesehatan dalam menggunakan dan pemakaian alat-alat
yang menggunakan produk darah agar dilakukan sterilisasi dan
isolasi. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat umum agar
lebih mengetahui tentang program imunisasi untuk mencegah
penularan hepatitis B. serta dilakukan penceghan secara
konservatif yaitu mencegah penularan secara parenteral dengan
cara menghindari pemakaian darah atau produk yang berkaitan
dengan darah yang tercemar VHB, pemakaian alat-alat kedokteran
yang harus steril, menghindari pemakaian peralatan pribadi
terutama peralatan yang digunakan bersama sama. (NSW Ministry
of Health, 2014).
b) Proteksi Spesifik
Dalam pencegahan di tingkat primer, Pemberian imunisasi
hepatitis B dapat dilakukan dengan berbagai cara. Menurut NSW
Misitry of Health menetapkan beberapa target sebagai sasaran
imunisasi sebagai tindak pencegahan terhadap penyakit hepatitis B
antara lain dengan mentargetkan pencapaian terhadap cakupan
vaksinasi anak anak ditetapkan sebesar 95% dari total populasi
anak anak di New South Wales, memastikan semua bayi yang lahir
dari ibu yan positif Hepatitis B mendapatkan HBig atau Hepatitis B
Immunoglobulin dalam 12 jam setelah kelahiran.
c. Pencegahan Sekunder : Pencegahan sekunder merupakan upaya yang
dilakukan terhadap orang yang sudah terpapar risiko ata bahkan
dilakukan terhadap orang sudah mengalami gejala gejala klinis
terhadap suatu penyakit. Maka dari itu pada tingkat pencegahan
sekunder yang dapat dilakukan adalah deteksi dini atau mengetahui
sedini mungkin suatu penyakit serta melakukan pengobatan tepat yang
sesuai dengan penyakit yang telah terdeteksi sehingga dapat mencegah
penyakit menjadi lebih parah serta mempersingkat kesakitan serta
mencegah terjadinya kecacatan akibat sakit.
d. Pencegahan Tersier : Sebagiian besar pencegahan pada penderita
hepatitis B akut akan membaik atau sembuh dengan sempurna tanpa
meninggalkan bekas atau kecacatan pada penderita hepatitis B. Tetapi
sebagian kecil akan menetap dan menjadi kronis, kemudian menjadi
buruk atau mengalami kegagalan faal hati. Biasanya penderita dengan
gejala seperti ini akan berakhir dengan meninggal dunia. Usaha yang
dilakukan untuk mengatasi hal tersebut maka perlu diadakan
pemeriksaan berkala. Sebelum dilaksanakan pembedahan, pada waktu
pembedahan, dan pasca pembedahan. Dalam pencegahan di tingkat
tersier dapat di bedakan menjadi dua yaitu :
a) Pembatasan Ketidakmampuan
Pembatasan ketidakmampuan atau kecacatan berusaha
untuk menghilangkan gangguan kemampuan berpikir dan bekerja
yang diakibatkan oleh penyakit hepatitis. Usaha ini merupakan
lanjutan dari usaha deteksi dini danpengobatan tepat agar penderita
mampu sembuh sempurna tanpa cacat. Bil sudah terjadi kecacatan
maka dicegah agar kecacatan tidak menimbulkan dampak yang
lebih parah terhadap kesehtan penderita sehingga fungisi tubuh
penderita HBV dapat dipertahankan semaksimal mungkin.
b) Rehabilitasi
Tahap rehabilitasi adalah usaha untuk mencegah terjadinya
efek samping dari fase penyembuhan penyakit dan pengembalian
fungsi fisik, sosial, dan psikologik.tindakan ini dilakukan pada
seseorang yang proses penakitnya telah berhenti. Tujuannya adalah
mengembalikan penerita pada keadaan semula saat sebelum sakit
atau lebih baik daripada saat sebelum sakit. Dalam proses
rehabilitasi meliputi rehabilitasi mental, rehabilitasi social
vokasional, dan rehabiliasi aesthetis (WHO.2014).
8) Demam Berdarah Dengue (DBD)
a. Pencegahan Primer : Upaya pencegahan yang dilakukan saat proses
penyakit belum mulai (pada periode pre-patogenesis) agar tidak terjadi
proses penyakit yang bertujuan untuk mengurangi insiden penyakit
dengan cara mengendalikan penyebab penyakit dan faktor risikonya.
Tingkat pencegahan primer ini adalah upaya yang dilakukan adalah
untuk memutus mata rantai infeksi. Sasaran dari pencegahan primer
adalah seluruh masyarakat yang masih sehat da nada faktor resiko
tinggi terkena DBD.
b. Pencegahan Sekunder : Upaya pencegahan yang dilakukan saat proses
penyakit sudah berlangsung namun belum timbul tanda/gejala sakit
(patogenesis awal)  agar proses penyakit tidak berlanjut. Tujuannya
adalah untuk menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah
komplikasi. Bentuknya berupa deteksi dini dan pemberian pengobatan
(yang tepat). Sasaran diagnosis dini dapat dilakukan pada kelompok
masyarakat yang mempunyai resiko tinggi terjadinya DBD seperti
pada daerah endemic DBD atau masyarakat pada daerah yang tiba-tiba
terjadi peningkatan kejadian DBD. Masyarakat di daerahini dapat
secara rutin memeriksakan diri ke dokter untuk pencegahan.
c. Pencegahan Tersier : Pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit
sudah lanjut (akhir periode patogenesis) untuk mencegah gangguan
fisik dan mengembalikan penderita ke status sehat/awal. Tujuannya
adalah menurunkan kelemahan dan kecacatan, memperkecil
penderitaan dan membantu penderita-penderita untuk melakukan
penyesuaian terhadap kondisi yang tidak dapat diobati lagi.
Sasaran pencegahan tersier adalah pada pasien yang telah terkena
DBD dan sudah mendapatkan pengobatan.

9) Rubella
a. Pencegahan Primer : Segera cuci tangan bumil dengan sabun setelah
melakukan perkerjaan apa pun. Jangan menyentuh wajah, terutama
hidung dan mulut, dengan tangan yang belum dicuci.
b. Pencegahan Sekunder : Pemberian vaksin rubella memang tidak
disarankan untuk dilakukan saat hamil. Oleh karena itu, pemberian
vaksin perlu dilakukan sebelum hamil, yaitu saat merencanakan
kehamilan.
Pencegahan Tersier : Bila memungkinkan, minta orang yang tinggal
serumah dengan Bumil untuk menerima vaksin MMR. Cara ini
dilakukan untuk mencegah mereka terinfeksi virus rubella dan
menulark

10) TBC Campak


a. Pencegahan Primordial : Pencegahan primordial dilakukan dalam
mencegah munculnya faktor predisposisi/resiko terhadap penyakit
Campak. Sasaran dari pencegahan primordial adalah anak-anak yang
masih sehat dan belum memiliki resiko yang tinggi agar tidak memiliki
faktor resiko yang tinggi untuk penyakit Campak. Edukasi kepada
orang tua anak sangat penting peranannya dalam upaya pencegahan
primordial. Tindakan yang perlu dilakukan seperti penyuluhan
mengenai pendidikan kesehatan, konselling nutrisi dan penataan rumah
yang baik.
b. Pencegahan Primer : Sasaran dari pencegahan primer adalah orang
-orang yang termasuk kelompok beresiko, yakni anak yang belum
terkena Campak, tetapi berpotensi untuk terkena penyakit Campak.
Pada pencegahan primer ini harus mengenal faktor -faktor yang
berpengaruh terhadap terjadinya Campak dan upaya untuk
mengeliminasi faktor-faktor tersebut. Pencegahan primer dapat
dilaukan dengan cara sebagai berikut.
a) Promosi kesehatan
Promosi kesehatan dapat dilakukan dengan memberikan
edukasi campak, pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan
mengenai Campak. Disamping kepada penderita Campak, edukasi
juga diberikan kepada anggota keluarganya, kelompok masyarakat
beresiko tinggi dan pihak-pihak perencana kebijakan kesehatan.
Berbagai materi yang perlu diberikan kepada pasien Campak
adalah definisi penyakit Campak, faktor-faktor yang berpengaruh
pada timbulnya Campak dan upaya-upaya menekan Campak,
pengelolaan Campak secara umum, pencega han dan pengenalan
komplikasi Campak.
b) Proteksi spesifik
Proteksi spesifik dapat dilakukan dengan pemberian vaksi.
vaksin di diberikan secara subkutan sebanyak 0,5 ml. vaksin
campak tidak boleh diberikan pada wanita hamil, anak dengan
TBC yang tidak diobati, penderita leukemia. Vaksin Campak dapat
diberikan sebagai vaksin monovalen atau polivalen yaitu vaksin
measles-mumps-rubella (MMR). vaksin monovalen diberikan pada
bayi usia 9 bulan, sedangkan vaksin polivalen diberikan pada anak
usia 15 bulan. Penting diperhatikan penyimpanan dan transportasi
vaksin harus pada temperature antara 2ºC - 8ºC atau ± 4ºC, vaksin
tersebut harus dihindarkan dari sinar matahari. Mudah rusak oleh
zat pengawet atau bahan kimia dan setelah dibuka hanya tahan 4
jam.
c. Pencegahan Sekunder : Pencegahan sekunder adalah upaya untuk
mencegah atau menghambat timbulnya komplikasi dengan tindakan-
tindakan seperti tes penyaringan yang ditujukan untuk pendeteksian
dini Campak serta penanganan segera dan efektif. Tujuan utama
kegiatan-kegiatan pencegahan sekunder adalah untuk mengidentifikasi
orang-orang tanpa gejala yang telah sakit atau penderita yang beresiko
tinggi untuk mengembangkan atau memperparah penyakit.
Pencegahan sekunder yang dapat dilakukan dengan :
a) Deteksi dini
Deteksi dini dilaukan untuk menghindari terjadinya sakit,
maka perlu upaya sedini mungkin untukmengenal kondisi, maka
dari itu harap diketahui faktor-faktor yang menimbulkan gangguan
dan gejala-gejalanya sebagai bentuk deteksi diagnosis. Deteksi
yang biasa dilakukan ialah mengenali gejala-gejala abnormalitas
(ketidakwajaran) pada suatu penyakit. Pendekatan diagnosis ini
dilakukan untuk mencegahterjadinya kekalutan yang lebih parah
yang dapat merusak kepribadian. hal tersebut dapat membantu
individu dalam mengembangkan cara berfikir, cara berperasaan,
dan cara berperilaku yang baik dan benar, sehingga eksistensi
seseorang bisa diterima dan diakui dalam lingkungan sosialnya
sebagai sosok insan yang sehat secara sempurna.
b) Pengobatan Tepat
Penderita Campak tanpa komplikasi dapat berobat jalan. tidak ada
obat yang secara langsung dapat bekerja pada virus Campak. Anak
memerlukan istirahat di tempat tidur, kompres dengan air hangat
bila demam tinggi. Anak harus diberi cukup cairan dan kalori,
sedangkan pasien perlu diperhatikan dengan memperbaiki
kebutuhan cairan, diet disesuaikan dengan kebutuhan penderita dan
berikan vitamin A 100.000 IU per oral satu kali. Apabila terdapat
malnutrisi pemberian vitamin A ditambah dengan 1500 IU tiap
hari. Dan bila terdapat komplikasi, maka dilakukan pengobatan
untuk mengatasi komplikasi yang timbul.