Anda di halaman 1dari 25

TUGAS

EPIDEMILOGI PENYAKIT MENULAR

OLEH :

NINGRUM INDAH PERTIWI

J1A119055

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
1. Tuliskan dan jelaskan sepuluh penyakit menular, mekanisme penularan, dan
bagaimana cara penularannya ?

1) TBC
Penyakit TBC atau tuberkolosis adalah penyakit infeksi saluran pernapasan
yang disebabkan oleh bakteri basil. Bakteri basil menginfeksi bakteri basic
yang sangat kuat. Akibatnya, akan membutuhkan waktu yang lama untuk
mengobati penyakit ini. Bakteri ini 90% menginfeksi paru-paru jika
dibandingkan dengan organ-organ lainnya pada tubuh manusia. Penyakit ini
biasanya ditandai dengan batuk terus menerus.

Mekanisme dan cara penularan


TBC adalah penyakit yang menyerang pada pernapasan maka penularannya
pun melalui pernapasan. Berdekatan dengan penderita TBC dapat
meumngkinkan kita tertular.selain itu, ketika penderita TBC batuk pun, bisa
jadi merupakan sarana penularan.selain itu juga, penggunaan barang pribadi
secara bergantian dengan penderita TBC aktif, seperti gelas, sendok dapat
menjadi jembatan penularan TBC.

2) HIV/AIDS
HIV atau Human Immunodefiency Virus, yaitu virus yang menyerang system
kekebalan tubuh. HIV bisa berakibat fatal jika tidak diobati dan bisa menular
dalam keadaan tertentu.

Mekanisme dan cara penularan


Pada dasarnya HIV dapat ditularkan melalui cairan tubuh, termasuk darah, air
mani, cairan vagina, dan air susu ibu yang terinveksi HIV.siapapun dari segala
usia, ras, maupun jenis kelamin bisa terinfeksi HIV, termasuk bayi yang lahir
dari ibu yang terinveksi HIV
a) Hubungan Seks
Penularan dengan melakukan hubungan seksual dapat terjadi dari pria
ke wanita atau sebaliknya, serta pada sesama jenis kelamin melalui
hubungan seksual yang beresiko.
b) Selama kehamilan, persalinan atau menyusui
Seorang ibu yang terinfeksi HIV dan mengandung atau menyusui
beresiko tinggi untuk menularkan HIV kepada bayinya
c) Transfuse darah
Dalam sebagian kasus, penularan HIV juga disebabkan oleh tranfusi
darah

3) Kusta / lepra
Kusta / lepra terjadi karena infeksi bakteri jenis mycrobacterium leprae.
Gangguan kesehatan ini menyerang bagian saraf ekstremitas, saluran
pernapasan atas, dan lapisan hidung.kondisi ini menyebabkan terjadinya
kerusakan pada saraf, munculnya luka di kulit, dan otot melemah

Mekanisme dan cara penularan


Ada dua cara yang paling mendekati, yaitu melalui lender dan hidung atau
melalui kulit. Sederhananya, penularan terjadi jika bakteri yang utuh keluar
dari tubuh pengidap melalui batuk atau bersin atau saat bersentuhan dan
masuk ke dalam tubuh orang yang sehat.

4) Cacar Air
Cacar air merupakan infeksi virus yang disebabkan oleh virus varicella zoster,
virus tersebut dapat menyebar dengan mudah dari orang yang menderita cacar
air, ke orang lain yang belum pernah menderita penyakit ini sebelumnya, atau
belum pernah menerima vaksin cacar.

Mekanisme dan cara penularan


a) Percikan cairan tubuh seperti air liur dari penderita cacar
b) Kontak langsung dengan penderita cacar air
c) Sentuhan terhadap benda yang baru saja digunakan oleh penderita
cacar air

apabila orang yang sedang menderita cacar air, mengalami bersin atau batuk,
air liur yang keluar dapat menularkan virus ini keorang lainyang berada di
dekatnya, Virus varicella Zoster juga dapat menyebabkan seseorang menderita
herpes zoster, atau yang biasa disebut cacar api
5) Tetanus
Tetanus adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani.
Bakteri ini memiliki spora untuk berkembang biak, dan mampu bertahan
dalam waktu yang lama diluar tubuh.

Mekanisme dan cara penularan


Bakteri tetanus bisa ditemukan disetiap tempat. Spora bakteri C, tetani ada di
mana saja di sekitar kita, yang paling banyak ada di tanah dan feses hewan
Bakteri bisa masuk ketubuh melalui luka terbuka atau terkena tusukan benda
tajam yang terkontaminasi, misalnya tertusuk paku.
Bakteri tetanus akan masuk kedalam tubuh, dan spora berkembang biak
menjadi bakteri baru dan mengumpul dalam luka. Kumpulan bakteri tersebut
akan menghasilkan racun yang menyerang saraf motoric anda dan langsung
menyebabkan gejala tetanus
Selain itu, cara umum lain penularan tetanus antara lain :
a) Luka yang terkontaminasi dengan air liur atau kotoran
b) Luka yang disebabkan oleh benda menusuk kulit seperti paku, serpihan
kaca, jarum
c) Luka bakar
d) Luka yang dipencet
e) Cedera dengan jaringan yang mati

6) Hepatitis
Hepatitis adalah penyakit peradangan hati yang dapat berkembang menjadi
fibrosis (jaringan parut) dan sirosis atau kanker hati. Cara penularan hepatitis
ke tubuh cukup bervariasi, tergantung jenisnya.

Mekanisme dan cara penularan


Secara umum ada 5 virus hepatitis utama, yang disebut sebagai tipe A, B, C,
D, E. Kelima jenis ini merupakan kekhawatiran terbesar karena beban
penyakit dan kematian yang disebabkannya dan potensi penyebaran wabah
dan epidemic
Secara khusu, tipe B dan C penyebab paling umum dari sirosis hati dan
kanker. Hepatitis A dan E biasanya disebabkan oleh konsumsi makanan atau
air yang terkontaminasi. Virus hepatitis A dan hepatitis E (HAV dan HEV)
keduanya ditularkan oleh enteric, yaitu pencernaan atau melalui rute fecal-
oral. Untuk terkena virus ini, bisa karena kamu menelan kotoran yang
terinfeksi.
Meskipun ada beberapa cara rute fecal-oral ini terbentuk, penularan lebih
sering melalui kebersihan yang buruk, termasuk sanitasi yang tidak memenuhi
persyaratan semestinya.
Hepatitis B, C, dan D biasanya terjadi sebagai akibat dari kontak parental
(suntikan) dengan cairan tubuh yang terinfeksi. Cara penularan yang umum
untuk virus ini termaksud penerimaan darah atau produk darah yang
terkontaminasi dan prosedur medis invasive menggunakan peralatan yang
terkontaminasi
Untuk penularan hepatitis B dari ibu ke bayi saat lahir, dari anggota keluarga
ke anak, dan juga melalui cairan tubuh dari orang yang terinfeksi. Ini termasuk
darah, keringat, air mata, air liur, air mani, cairan miss V, darah menstruasi,
dan ASI dari orang yang terinfeksi.

7) Sifilis
Sifilis adalah salah satu jenis penyakit infeksi menular seksual yang
disebabkan oleh bakteri. Infeksi ini dapat menimbulkan peradangan dan luka
pada daerah kelamin, rectum, dan mulut, tetapi tidak terasa nyeri.

Mekanisme dan cara penularan


a) Hubungan seksual
b) Dari ibu hamil ke janin
c) Jarum suntik
d) Adanya luka terbuka, namun kasusnya jarang

Bakteri akan dapat masuk ke dalam tubuh melalui selaput lender atau jika
terdapat luka.

8) Tipes
Tipes adalah penyakit yang dapat menyerang siapa saja, baik anak-anak
maupun orang dewasa. Tipes sering terjadi di lingkungan kumuh dengan
sanitasi air yang buruk. Tipes adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi
bakteri salmonella typhii.

Mekanisme dan cara penularan


a) Konsumsi air minum yang kotor, mentah, dan telah terkontaminasi
bakteri salmonella typhii
b) Menggunakan air yang terkontaminasi bakteri salmonella Typhi untuk
membilas atau mencuci bahan makanan dan peralatan masak serta
perlengkapan makan.
c) Konsumsi makanan mentah atau kurang matang, seperti daging steak
rarel medium rare, sushi dan sashimi, seafood setengah matang, telur
setengah matang, atau salad sayur yang tidak jelas cara mengolahnya.

Bakteri salmonella typhii akan masuk melalui mulut saat anda menyuap
makan atau meneggak air kotor, lalu masuk ke saluran pencernaan dan ikut
terserap ke dalam aliran darah.

Bakteri yang ada dalam darah kemudian dapat menuju hati, limpa, dan
sumsum tulang untuk berkembang biak disana dan kembali lagi
mmemasuki aliran darah. Koloni bakteri yang semakin berlipat ganda ini
kemudian akan masuk lagi ke dalam system pencernaan.

9) Tularemia
Tularemia adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri francisella
tularensis. Penyakit ini didapat setelah bersentuhan dengan binatang dan
unggas itu, oleh makanan daging yang tidak dimasak benar benar dari gigitan
kutu binatang atau serangga penghisap darah lain. Kelinci ialah binatang
sumber penyakit ini yang paling umum

Mekanisme dan cara penularan


Penyakit ini tidak menular antar manusia
a) Cara paling umum melalui gigitan serangga penghisap darah, misalnya
kutu(tick)
b) Kontak antara darah atau jaringan hewan yang terinfeksi dengan mata,
mulut, atau lecet dan luka pada kulit
c) Mengolah atau mengonsumsi daging kelinci yang tidak dimasak
hingga matang
d) Konsumsi air yang terkontaminasi
e) Menghirup aerosol yang terkontaminasi atau debu pertanian.

10) Ebola
Ebola adalah penyakit mematikan yang menular. Ebola merupakan suatu
penyakit yang terjadi karna adanya infeksi virus. Jika tidak ditangani segera,
penyakit ini bisa berakibat fatal, yaitu menyebabkan kematian tidak hanya
pada pengidapnya.

Mekanisme dan cara penularan


Penularan virus penyebab ebola terjadi melalui kontak langsung dengan darah
atau cairan tubuh yang bisa menjadi sarana penularan virus, yaitu urine, tinja,
air liur, ingus, serta air mani. Sedangkan yang dimaksud dengan kontak
langsung adalah saat cairan tubuh dari pengidap ebola menyentuh hidung,
mata, mulut, ataupun luka yang terbuka.
a) Kontak langsung antar manusia
b) Penularan dari hewan ke manusia
c) Makanan tertentu
d) Benda yang sudah terkontaminasi

2. Tuliskan dan jelaskan sepuluh penyakit menular, kemudian sebutkan tingkat-tingkat


pencegahannya (primer, sekunder, tersier) ?

1) Tingkat pencegahan TBC


a) Pencegahan Primer
a. Promosi kesehatan
penyuluhan dengan melibatkan pasien & masyarakat dalam
kampanye advokasi, penyuluhan rencana pengendalian infeksi,
Koleksi dahak Aman, penyuluhan Etika batuk dan batuk yang
higienis, penyuluhan pasien TB triase dilakukan untuk saluran
cepat atau pemisahan, penyuluhan mendiagnosis TB yang cepat
dan pengobatan, Meningkatkan ventilasi udara kamar,
Melindungi pekerja perawat kesehatan, Pengembangan
kapasitas dan Memonitor praktek pengendalian infeksi (WHO)
b. Proteksi spesifik
Vaksinasi BCG secara signifikan yang bisa mengurangi risiko
TB dan penggunaan alat pelindung diri di tempat kerja yang
berisiko terkena TB, Terapi pencegahan isoniazid (IPT) dan
Terapi antiretroviral (ART) untuk orang-orang dengan HIV
(WHO).

b) Pencegahan Sekunder
a. Deteksi dini
Skrining atau penemuan kasus baru yang benar-benar positif
TB dengan melakukan pemerikasaan dahak. melakukan
diagnosis TB paru dengan memeriksa semua suspek TB
diperiksa 3 spesimen dahak dalam 2 hari, diagnosis TB ekstra
paru dengan gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena,
misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB, nyeri dada pada TB
pleura (Pleuritis), pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada
limfadenitis TB. Diagnosis TB pada Orang Dengan HIV AIDS
(ODHA) 1.TB Paru BTA Positif, yaitu minimal satu hasil
pemeriksaan dahak positif. 2.TB Paru BTA negatif, yaitu hasil
pemeriksaan dahak negatif dan gambaran klinis & radiologis
mendukung Tb atau BTA negatif dengan hasil kultur TB
positif. 3.TB Ekstra Paru pada ODHA ditegakkan dengan
pemeriksaan klinis, 6 bakteriologis dan atau histopatologi yang
diambil dari jaringan tubuh yang terkena (KEMENKES
RI,2011)
b. Pengobatan tepat
Pada tahap ini, pencegahan sekunder dilakukan dengan
pengobatan tepat. Pengobatan untuk penyakit TB yaitu
mengonsumsi obat kombinasi pada orang dengan TB aktif,
dengan jadwal dosis pada anak-anak dan remaja dengan TB
aktif yang tepat, jadwal dosis pada orang dewasa dengan TB
aktif yang tepat, Lama pengobatan pada orang dewasa dengan
TB paru aktif yang benar, Lama pengobatan pada anak-anak
dan remaja dengan TB paru aktif dengan benar, Lama
pengobatan pada penderita TB paru aktif dengan benar.

c) Pencegahan Tersier
a. Pencegahan
ketidakmampuan Penggunaan kortikosteroid tambahan pada
pengobatan TB aktif, Penggunaan operasi tambahan pada orang
dengan TB aktif serta Pengobatan TB aktif pada orang dengan
penyakit penyerta atau kondisi co-ada
b. Rehabilitasi Pasien paru BTA positif dengan pengobatan ulang
kategori 2, bila masih positif TB maka hentikan pengobatan
dan rujuk ke layanan TB-MDR

2) Tingkat pencegahan HIV/AIDS


a) Primer
Pencegahan primer dilakukan sebelum seseorang terinfeksi HIV. Hal
ini diberikan pada seseorang yang sehat secara fisik dan mental.
Pencegahan ini tidak bersifat terapeutik, tidak menggunakan tindakan
yang terapeutik dan tidak menggunakan identifikasi gejala penyakit.
Pencegahan ini meliputi dua hal, yaitu: Peningkatan kesehatan,
misalnya: dengan pendidikan kesehatan reproduksi tentang HIV/AIDS,
standarisasi nutrisi, menghindari seks bebas screening, dan sebagainya.
Perlindungan khusus, misalnya: imunisasi, kebersihan pribadi, atau
pemakaian kondom.
b) Sekunder
Pencegahan sekunder berfokus pada Orang dengan HIV/AIDS
(ODHA) agar tidak mengalami komplikasi atau kondisi yang lebih
buruk. Pencegahan ini dilakukan melalui pembuatan diagnosa dan
pemberian intervensi yang tepat sehingga dapat mengurangi keparahan
kondisi dan memungkinkan ODHA tetap bertahan melawan
penyakitnya. Pencegahan sekunder terdiri dari teknik skrining dan
pengobatan penyakit pada tahap dini. Hal ini dilakukan dengan
menghindarkan atau menunda keparahan akibat yang ditimbulkan dari
perkembangan penyakit atau meminimalkan potensi tertularnya
penyakit lain.
c) Tersier
Pencegahan tersier dilakukan ketika seseorang teridentifikasi terinfeksi
HIV/AIDS dan mengalami ketidakmampuan permanen yang tidak
dapat disembuhkan. Pencegahan ini terdiri dari cara meminimalkan
akibat penyakit atau ketidakmampuan melalui intervensi yang
bertujuan mencegah komplikasi dan penurunan kesehatan. Kegiatan
pencegahan tersier ditujukan untuk melaksanakan rehabilitasi, dari
pada pembuatan diagnosa dan tindakan penyakit. Perawatan pada
tingkat ini ditujukan untuk membantu ODHA mencapai tingkat fungsi
setinggi mungkin, sesuai dengan keterbatasan yang ada akibat
HIV/AIDS. Tingkat perawatan ini bisa disebut juga perawatan
preventive, karena di dalamnya terdapat tindak pencegahan terhadap
kerusakan atau penurunan fungsi lebih jauh. Misalnya, dalam merawat
seseorang yang terkena HIV/AIDS, disamping memaksimalkan
aktivitas ODHA dalam aktivitas sehari-hari di masyarakat, juga
mencegah terjadinya penularan penyakit lain ke dalam penderita
HIV/AIDS. Mengingat seseorang yang terkena HIV/AIDS mengalami
penurunan imunitas dan sangat rentan tertular penyakit lain.
Selain hal-hal tersebut, pendekatan yang dapat digunakan dalam upaya
pencegahan penularan infeksi HIV/AIDS adalah penyuluhan untuk
mempertahankan perilaku tidak beresiko. Hal ini bisa dengan
menggunakan prinsip ABCDE yang telah dibakukan secara
internasional sebagai cara efektif mencegah infeksi HIV/AIDS lewat
hubungan seksual. ABCDE ini meliputi:
A = abstinensia, tidak melakukan hubungan seks terutama seks
berisiko tinggi dan seks pranikah.
B = be faithful, bersikap saling setia dalam hubungan perkawinan atau
hubungan tetap.
C = condom, cegah penularan HIV dengan memakai kondom secara
benar dan konsisten untuk para penjaja seksual.
D = drugs, hindari pemakaian narkoba suntik.
E = equipment , jangan memakai alat suntik bergantian.

Upaya penanggulangan penyakit HIV/AIDS dapat dilakukan dengan


menyediakan Rumah Sakit atau tempat perawatan khusus bagi pasien
penderita HIV/AIDS dan dijaga sedemikian rupa sehingga penularan
kepada yang sehat dapat dicegah serta melakukan pemantauan secara
terus menerus untuk melihat perkembangan masalah AIDS agar
masalah AIDS ini dapat ditangani dengan baik.

3) Tingkat pencegahan Kusta/Lepra


a) Primer
Pencegahan primer adalah pencegahan tingkat pertama, tujuannya
adalah untuk mengurangi insidensi penyakit dengan cara
mengendalikan penyebab-penyebab penyakit dan faktor-faktor
resikonya, pencegahan ini terdiri dari:
a. Promosi kesehatan
Yaitu dengan cara penyuluhan-penyuluhan tentang penularan,
pengobatan dan pencegahan penyakit kusta, serta pentingnya
makanan sehat dan bergizi untuk meningkatkan status gizi tiap
individu menjadi baik. Menurut Depkes RI (2005) diacu dalam
Hutabarat (2008) pencegahan primer dilakukan pada kelompok
orang sehat yang belum terkena penyakit kusta dan memiliki
risiko tertular karena berada di sekitar atau dekat dengan
penderita seperti keluarga penderita dan tetangga penderita,
yaitu dengan memberikan penyuluhan tentang kusta.
Penyuluhan yang diberikan petugas kesehatan tentang penyakit
kusta adalah proses peningkatan pengetahuan, kemauan dan
kemampuan masyarakat yang belum menderita sakit sehingga
dapat memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya
dari penyakit kusta. Sasaran penyuluhan penyakit kusta adalah
keluarga penderita, tetangga penderita dan masyarakat).
b. Pemberian imunisasi
Sampai saat ini belum ditemukan upaya pencegahan primer
penyakit kusta seperti pemberian imunisasi (Saisohar,1994).
Dari hasil penelitian di Malawi tahun 1996 didapatkan bahwa
pemberian vaksinasi BCG satu kali dapat memberikan
perlindungan terhadap kusta sebesar 50%, sedangkan
pemberian dua kali dapat memberikan perlindungan terhadap
kusta sebanyak 80%, namun demikian penemuan ini belum
menjadi kebijakan program di Indonesia karena penelitian
beberapa negara memberikan hasil berbeda pemberian
vaksinasi BCG tersebut (Depkes RI, 2005 dalam Hutabarat,
2008).

b) Sekunder
a. Pencegahan ini meliputi diagnosis dini dan pemberian
pengobatan (prompt treatment).
b. Diagnosis dini yaitu diagnosis dini pada kusta dapat dilakukan
dengan pemeriksaan kulit, dan pemeriksaan syaraf tepi dan
fungsinya.
c. Pengobatan yang diberikan pada penderita kusta adalah DDS
(diaminodifenilsulfon), klofazimin, rifampisin, prednisone,
sulfatferrosus dan vitamin A. Pengobatan lain adalah dengan
Multi drug treatment (MDT) yaitu gabungan pemberian obat
refampicin, ofloxacin dan minocyclin sesuai dengan dosis dan
tipe penyakit kusta. Pengobatan kusta ini dilakukan secara
teratur dan terus menerus selama 6-9 bulan.

Menurut Depkes RI (2006) diacu dalam Hutabarat (2008)


pencegahan sekunder dilakukan dengan pengobatan pada penderita
kusta untuk memutuskan mata rantai penularan, menyembuhkan
penyakit penderita, mencegah terjadinya cacat atau mencegah
bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan.
Pemberian Multi drug therapy pada penderita kusta terutama pada
tipe Multibaciler karena tipe tersebut merupakan sumber kuman
menularkan kepada orang lain.

c) Tersier
Pencegahan tersier dimaksudkan untuk mengurangi kemajuan atau
komplikasi penyakit yang sudah terjadi, dan adalah merupakan sebuah
aspek terapatik dan kedokteran rehabilitasi yang paling penting.
Pencegahan tersier merupakan usaha pencegahan terakhir yang terdiri
dari:
a. Rehabilitasi Medik
Diperlukan pencegahan cacat sejak dini dengan disertai
pengelolaan yang baik dan benar. Untuk itulah diperlukan
pengetahuan rehabilitasi medik secara terpadu, mulai dari
pengobatan, psikoterapi, fisioterapi, perawatan luka, bedah
rekonstruksi dan bedah septik, pemberian alas kaki, protese
atau alat bantu lainnya, serta terapi okupasi. Penting pula
diperhatikan rehabilitasi selanjutnya, yaitu rehabilitasi sosial
(rehabilitasi nonmedis), agar mantan pasien kusta dapat siap
kembali ke masyarakat, kembali berkarya membangun negara,
dan tidak menjadi beban pemerintah. Kegiatan terpadu
pengelolaan pasien kusta dilakukan sejak diagnosis ditegakkan.
Rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial merupakan satu
kesatuan kegiatan yang dikenal sebagai rehabilitasi paripurna.
Menghadapi kecacatan pada pasien kusta, perlu dibuat program
rehabilitasi medik yang terencana dan terorganisasi. Dokter,
terapis dan pasien harus bekerjasama untuk mendapat hasil
yang maksimal. Pengetahuan medis dasar yang perlu dikuasai
adalah anatomi anggota gerak, prinsip dasar penyembuhan
luka, pemilihan dan saat yang tepat untuk pemakaian modalitas
terapi dan latihan. Diagnosis dan terapi secara dini, disusul
dengan perawatan yang cermat, akan mencegah pengembangan
terjadinya kecacatan. Perawatan terhadap reaksi kusta
mempunyai 4 tujuan, yaitu:
 Mencegah kerusakan saraf, sehingga terhindar pula dari
gangguan sensorik, paralisis,dan kontraktur.
 Hentikan kerusakan mata untuk mencegah kebutaan.
 Kontrol nyeri.
 Pengobatan untuk mematikan basil lepra dan mencegah
perburukan keadaan penyakit.

b. Rehabilitasi Nonmedik
Meskipun penyakit kusta tidak banyak menyebabkan kematian,
namun penyakit ini termasuk penyakit yang paling ditakuti
diseluruh dunia. Penyakit ini sering kali menyebabkan
permasalahan yang sangat kompleks bagi penderita kusta itu
sendiri, keluarga, dan masyarakat. Pada penyakit kusta ini
dikenal 2 jenis cacat yaitu cacat psikososial dan cacat fisik.
Seringkali penyakit kusta di identikkan dengan cacat fisik yang
menimbulkan rasa jijik atau ngeri serta rasa takut yang
berlebihan terhadap mereka yang melihatnya. Akibat hal-hal
tersebut di atas, meskipun penderita kusta telah diobati dan
dinyatakan sembuh secara medis, akan tetapi bila fisiknya
cacat, maka predikat kusta akan tetap melekat untuk seluruh
sisa hidup penderita, sehingga ia dan keluarganya akan dijauhi
oleh masyarakat di sekitarnya.
Bayangan cacat kusta menyebabkan penderita sering kali tidak
dapat menerima keputusan bahwa ia menderita kusta.
Akibatnya akan ada perubahan mendasar pada kepribadian dan
tingkah laku penderita. Ia akan selalu sedapat mungkin
menyembunyikan keadaannya sebagai seorang penderita kusta.
Hal ini tidak menunjang proses pengobatan dan kesembuhan,
sebaliknya akan memperbesar resiko timbulnya cacat bagi
penderita itu sendiri. Tentu saja semua tersangka kasus kusta
harus diperiksa secara cermat dan hati-hati sekali untuk
menghindari salah diagnosis, karena setiap kesalahan dalam
penegakkan diagnosis akan dapat menimbulkan beban psikis
dan dampak social yang tidak hanya dapat dialami oleh
penderita itu sendiri, tetapi juga terhadap keluargannya.
Masalah psikososial yang timbul pada penderita kusta lebih
menonjol dibandingkan dengan masalah medisnya sendiri. Hal
ini disebabkan oleh karena adanya stigma leprofobi yang
banyak dipengaruhi oleh berbagai paham keagamaan, serta
informasi yang keliru tentang penyakit kusta. Sikap dan
perilaku masyarakat yang negative terhadap penderita kusta
seringkali menyebabkan penderita kusta tidak mendapatkan
tempat di dalam keluarganya dan masyarakat lingkungannya.
Setelah diagnosis ditegakkan, maka upaya rehabilitasi harus
segera dimulai sedini mungkin, sebaiknya sebelum pengobatan
kusta itu dimulai dan dilakukan secara terus menerus secara
paripurna sampai ia dapat mencapai kemandirian dan hidup
bermasyarakat seperti sediakala. Dengan kata lain tujuan akhir
rehabilitasi adalah resosialisasi penderita itu sendiri.
Pengobatan penyakit kusta sangat penting untuk memutuskan
mata rantai penularan dan mencegah terjadinya cacat fisik. Bila
pengobatan tersebut tidak diimbangi oleh rehabilitasi mental,
maka akan sulit dicapai partisipasi aktif dari penderita agar
berobat teratur dan menyelesaikan secara tuntas program
pengobatan yang telah dianjurkan. Pengobatan penyakit kusta
tidak boleh diberikan bila seseorang belum dapat dipastikan
menderita penyakit kusta atau penyakitnya masih diragukan.
Komplikasi antara lain seperti penyakit kusta, harus ditangani
sedini mungkin dan secara adekuat untuk mencegah terjadinya
cacat kusta. Andaikata cacat kusta telah terjadi, maka upaya
rehabilitasi untuk mencegah berlanjutnya cacat harus segera
dilakukan. Bila tanda-tanda cacat kusta sudah sedemikian jelas,
tetapi hasil pemeriksaan klinis, bakteriologis, dan
histopatologis menyatakan bahwa penyakit kusta dalam
keadaan inaktif, maka pengobatan tidak diperlukan lagi dan
hanya dilakukan upaya-upaya rehabilitasi. Pada penderita harus
ditekankan bahwa obat-obat kusta tidak dapat menyembuhkan
cacat fisik yang telah ada, supaya ia tidak mencari pengobatan
di luar ketentuan yang telah digariskan oleh Departemen
Kesehatan. Pengobatan hanya diberikan pada penderita kusta
aktif, dengan atau tanpa cacat kusta.

c. Rehabilitasi Mental
Penyuluhan kesehatan berupa bimbingan mental, harus
diupayakan sedini mungkin pada setiap penderita, keluarganya,
dan masyarakat sekitarnya, untuk memberikan dorongan dan
semangat agar mereka dapat menerima kenyataan ini. Selain itu
juga agar penderita dapat segera mulai menjalani pengobatan
dengan teratur dan benar sampai dinyatakan sembuh secara
medis. Informasi yang perlu disampaikan antara lain sebagai
berikut:
 Hal-hal yang berkaitan dengan stigma dan leprofobi
 Masalah psikososial kusta
 Komplikasi, misalnya neuritis dan reaksi yang sering
sekali timbul selama proses pengobatan dan setelah
pengobatan selesai.

Proses terjadinya cacat kusta dan berlanjutnya cacat


tersebut.

 Peran serta masyarakat pada penanggulangan penyakit


kusta.
 Masalah rujukan dan rumah sakit rujukan.
 Dan lain-lain yang dianggap perlu, misalnya
rehabilitasi, berbagai upaya kesehatan terhadap penyakit
kusta.
d. Rehabilitasi Karya
Upaya rehabilitasi karya ini dilakukan agar penderita yang
sudah terlanjur cacat dapat kembali melakukan pekerjaan yang
sama, atau dapat melatih diri terhadap pekerjaan baru sesuai
dengan tingkat cacat, pendidikan dan pengalaman bekerja
sebelumnya. Disamping itu penempatan di tempat kerja yang
aman dan tepat akan mengurangi risiko berlanjutnya cacat pada
penderita kusta.

e. Rehabilitasi Sosial
Rehabilitasi sosial bertujuan memulihkan fungsi sosial ekonomi
penderita. Hal ini sangat sulit dicapai oleh penderita sendiri
tanpa partisipasi aktif dari masyarakat di sekitarnya.
Rehabilitasi sosial bukanlah bantuan sosial yang harus
diberikan secara terus menerus, melainkan upaya yang
bertujuan untuk menunjang kemandirian penderita. Upaya ini
dapat berupa:
 Memberikan bimbingan sosial.
 Memberikan peralatan kerja.
 Memberikan alat bantu cacat, misalnya kursi roda atau
tongkat jalan.
 Memberikan bantuan penempatan kerja yang lebih
sesuai dengan keadaan cacatnya.
 Membantu membeli/memakai hasil-hasil usaha mereka
 Membantu pemasaran hasil-hasil usaha mereka.
 Memberikan bantuan kebutuhan pokok, misalnya
pangan, sandang, papan, jaminan kesehatan, dan
sebagainya.
 Memberikan permodalan bagi usaha wiraswasta.
 Memberikan bantuan pemulangan ke daerah asal.
 Memberikan bimbingan mental/spiritual.
 Memberikan pelatihan keterampilan/magang kerja dan
sebagainya.

Menurut Depkes RI (2006) diacu dalam Hutabarat (2008)


pencegahan tersier penyakit kusta meliputi sebagai berikut:

 Pencegahan cacat kusta


Pencegahan tersier dilakukan untuk pencegahan
cacat kusta pada penderita. Upaya pencegahan cacat
terdiri atas:
• Upaya pencegahan cacat primer meliputi
penemuan dini penderita sebelum cacat, pengobatan
secara teratur dan penanganan reaksi untuk
mencegah terjadinya kerusakan fungsi saraf.
• Upaya pencegahan cacat sekunder meliputi
perawatan diri sendiri untuk mencegah luka dan
perawatan mata, tangan atau kaki yang sudah
mengalami gangguan fungsi saraf.
 Rehabilitasi kusta
Rehabilitasi merupakan proses pemulihan untuk
memperoleh fungsi penyesuaian diri secara
maksimal atas usaha untuk mempersiapkan
penderita cacat secara fisik, mental, sosial dan
kekaryaan untuk suatu kehidupan yang penuh sesuai
dengan kemampuan yang ada padanya. Tujuan
rehabilitasi adalah penyandang cacat secara umum
dapat dikondisikan sehingga memperoleh
kesetaraan, kesempatan dan integrasi sosial dalam
masyarakat yang akhirnya mempunyai kualitas
hidup yang lebih baik (Depkes RI, 2006)
Rehabilitasi terhadap penderita kusta meliputi:
• Latihan fisioterapi pada otot yang mengalami
kelumpuhan untuk mencegah terjadinya kontraktur
• Bedah rekonstruksi untuk koreksi otot yang
mengalami kelumpuhan agar tidak mendapat
tekanan yang berlebihan
• Bedah plastik untuk mengurangi perluasan infeksi
• Terapi okupsi (kegiatan hidup sehari-hari)
dilakukan bila gerakan normal terbatas pada tangan
• Konseling dilakukan untuk mengurangi depresi
pada penderita cacat
Upaya penanggulangan yaitu dapat dilakukan
dengan memutus persebaran penyakit kusta yaitu
meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang
penyakit kusta dan memberikan penyuluhan agar
mereka tidak mengucilkan penderita penyakit kusta
yang malah akan memperparah penyebaran, mereka
diberikan penyuluhan agar bisa mendeteksi
terjangkitnya penyakit ini agar dapat ditangani
sedini mungkin, meningkatkan kesadaran akan
kebersihan lingkungan, meningkatkan daya tahan
tubuh atau imunitas agar tidak mudah tertular
bakteri penyakit. Selain itu, pemerintah masih terus
mengupayakan agar jumlah masyarakat yang
tertular tidak bertambah dengan berbagai program
kesehatan.

4) Tingkat Pencegahan cacar air


a) Pencegahan primer
Pencegahan yang meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan
kejadian atau penyakit atau gangguan sebelum hal itu terjadi.
Pencegahan primer terdiri atas health promotion (peningkatan
kesehatan dan general and specific protection (perlindungan khusus
dan umum) Health Promotion (Peningkatan kesehatan) Melakukan
penyuluhan atau penyebaran leaflet tentang herpes zoster
 Pengendalian Lingkungan
 General and specific protection ( P erlindungan khusus dan
umum )
 Higiene Perorangan
 Imunisasi
 Penanganan Dari faktor risiko
 Pengendalian Diri dari lingkungan

b) Pencegahan sekunder
Pencegahan ditunjukan pada individu dalam keadaan sakit dan yang
akan terancam menderita penyakit komplikasi.
Early diagnose and prompt treatment (Dignosis dini dan pengobatan)
 Diagnosis Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis laboratorium diperlukan penderita yang dicurigai
terkena varicella atau herpes zoster serta menentukan terapi
antivirus yang sesuai.
 Teknik PCR
Metode virologi dengan mendeteksi DNA virus atau
protein virus digunakan sebagai salah satu metode
diagnosis infeksi VZV.
 Teknik serologi (Serum Kovalens IgG dan IgM)
Reaktivasi VZV memacu IgM yang terkadang sulit
dibedakan dengan kehadiran IgM pada infeksi
primer. Salah satu kepentingan pemeriksaan
antibodi IgG adalah untuk mengetahui status imun
seseorang, dimana riwayat penyakit varicelanya
tidak jelas.
 Teknik lain
Menggunakan fluorescent-antibodi membrane
antigen uji, pemeriksaan ini dapat mendeteksi
antibodi yang terikat pada sel yang terinfeksi oleh
VZV. Tes ini sangat sensitif.
Pemriksaan serologik lain yang mendukung adalah
lateks aglutinasi, untuk mengetahui status imunitas
terhadap imunitas terhadap VZV.
 Pemberian obat analgesik (rasa sakit)
 Memberikan anti virus seperti obat asiklovir, valasiklovir, dan
famsiklovir.
Disability limitation (Pembatasan gangguan)
1. Pencegahan komplikasi
2. Terapi lanjutan
3. Tidak menyentuh dan menggaruk ruam.
4. Mencuci tangan.
5. Hidari kontak dengan ibu hamil yang belum terkena cacar
atau belum diberi vaksin, BBLR, dan orang immunocomprised.
6. Kompres basah, lotion kalamin, dan mandi dengan oatmeal
koloid untuk meringankan gatal.

c) Pencegahan Tersier
Upaya pemulihan atau rehabilitasi untuk mencegah bertambah
beratnya penyakit atau kecacatan lebih lanjut.
1. Istirahat yang cukup
2. Mengikuti anjuran minum obat sesuai anjuran dokter.
3. Nutrisi dityingkatkan.
4. memeberikan dukungan moral.
5. Menjauhi tekanan dan stress

5) Tingkat pencegahan Tetanus


a) Pencegahan primer
Melakukan Imunisasi aktif. Toksoid tetanus diberikan agar anak
membentuk kekebalan secara aktif. Sehingga vaksinasi dasar
diberikan bersama vaksinasi terhadap pertusis dan difteria, dimulai
pada umur 3 bulan. Vaksinasi ulangan (booster) diberikan 1 tahun
kemudian dan pada usia 5 tahun serta selanjutnya setiap 5 tahun
bersama toksoid difteria (tanpa vaksin pertusis) serta Pemberian
toksoid tetanus pada anak yang belum pernah mendapat imunisasi
aktif pada minggu-minggu berikutnya setelah pemberian ATS,
kemudian diulangi lagi dengan jarak waktu 1 bulan 2 kali berturut-
turut.
b) Pencegahan sekunder
Pencegahan primer yang dapat dilakukan yaitu pemberian anti
tetanus serum (ATS) dalam beberapa jam setelah luka akan
memberikan kekebalan pasif, sehingga mencegah terjadinya tetanus
akan memperpanjang masa inkubasi atau bila terjadi tetanus
gejalanya ringan.
c) Pencegahan tersier
Pencegahan tersier dapat dilakukan dengan cara merawat luka secara
adekuat agar luka tidak bertambah parah sehingga mengurangi
kecacatan serta selalu berhati-hati terhadap benda tajam, khususnya
anak-anak. Misalnya, ketika sedang berjalan, usahakan untuk
menggunakan sepatu agar tidak tertusuk paku atau jarum. Jika
tusukan menimbulkan luka, harus secepatnya dibersihkan dengan
sabun, air, dan mencari bantuan obat. Orang yang hidup diarea
perternakan kuda, cenderung menderita Tetanus. Akibat berada di
lingkungan yang banyak tanahnya
Diantaranya melalui pencegahan primer dengan melakukan promosi
dan imunisasi, pencegahan sekunder dengan penapisan (screening)
dan pencegahan tersier dengan mencegah keparahan dan rehabilitasi
penderita.

6) Tingkat pencegahan DBD


a) Tingkat Pencegahan Primer
Upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit belum mulai
(pada periode pre-patogenesis) agar tidak terjadi proses penyakit yang
bertujuan untuk mengurangi insiden penyakit dengan cara
mengendalikan penyebab penyakit dan faktor risikonya. Tingkat
pencegahan primer ini adalah upaya yang dilakukan adalah untuk
memutus mata rantai infeksi.
Sasaran dari pencegahan primer adalah seluruh masyarakat yang masih
sehat da nada faktor resiko tinggi terkena DBD Tindakan yang bisa
dilakukan meliputi:
Promosi kesehatan :Dimulai dari promosi kesehatan dasar dari kelurga
untuk memberitaukan bagaimana caranya mencegah penyakit DBD ini.
Promosi kesehatan bisa dilakukan dengan membuat suatu penyuluhan
di rapat RT atau arisan bulanan RT maupun RW mengenai bagaimana
cara mencegah penyakit DBD yaitu :
1. Lakukan program 3M (menguras, menutup dan mengubur) tempat-
tempat penampungan air hujan dan lainnya.
2. Hindari ruangan yang lembab dan perbaiki sirkulasi udara.
3. Jangan biarkan baju kotor menumpuk atau digantung.

4. Menanam tanaman anti nyamuk.


5. Pastikan jendela dan pintu tidak memiliki lubang kecil sehingga
memberi jalan masuk bagi nyamuk. Pastikan ventilasi memiliki
penyaring untuk mencegah nyamuk masuk
6. Gunakan obat nyamuk oles maupun bakar pada siang maupun
malam hari
7. Jika perlu upayakan ada jaring anti nyamuk (kelambu di tempat
tidur).
8. Pemberian abate pada tempat-tempat penampungan air bersih yang
sulit dibersihkan.
Periode Patogenesis

b) Tingkat Pencegahan Sekunder


Upaya pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit sudah
berlangsung namun belum timbul tanda/gejala sakit (patogenesis awal)
agar proses penyakit tidak berlanjut. Tujuannya adalah untuk
menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasi.
Bentuknya berupa deteksi dini dan pemberian pengobatan (yang tepat).
Sasaran diagnosis dini dapat dilakukan pada kelompok masyarakat
yang mempunyai resiko tinggi terjadinya DBD seperti pada daerah
endemic DBD atau masyarakat pada daerah yang tiba-tiba terjadi
peningkatan kejadian DBD. Masyarakat di daerahini dapat secara rutin
memeriksakan diri ke dokter untuk pencegahan
Tindakan yang bisa dilakukan meliputi:
a. Diagnosis dini dan pengobatan segera
b. Pemeriksaan pada seseorang yang mengalami gejala awal dari
DBD seperti demam yang tinggi dengan memeriksa kadar
trombosit pasien. Apabila kadar trombosit sudah mulai
meningkat dengan ditambah gejala dan lingkungan yang
mengarah pada penyakit DBD maka segera dilakukan
pengobatan segera
c. Pembatasan ketidakmampuan (disability) :
Pada awal fase penyakit setelah diagnosis awal terkena DBD
maka diberikan pengobatan yang cukup untuk mengentikan
proses penyakit dan mencegah komplikasi dan sekuel yang
lebih parah

c) Tingkat Pencegahan Tersier


Pencegahan yang dilakukan saat proses penyakit sudah lanjut (akhir
periode patogenesis) untuk mencegah gangguan fisik dan
mengembalikan penderita ke status sehat/awal. Tujuannya adalah
menurunkan kelemahan dan kecacatan, memperkecil penderitaan dan
membantu penderita-penderita untuk melakukan penyesuaian terhadap
kondisi yang tidak dapat diobati lagi
Sasaran pencegahan tersier adalahpada pasien yang telah terkena DBD
dan sudah mendapatkan pengobatan
Tindakan yang bisa dilakukan dalam pencegahan tersier meliputi:
a. Limitasi disabilitas
Dapat dilakukan dengan memberikan suplemen makanan atau
makan-makan yang bergizi agar pasien DBD pulih kembali
tenaganya dan dapat menjalankan aktivitasnya sehari-hari
b. Rehabilitasi
Karena selama pengobatan pasien akan tirah baring dan tidak
melakukan sedikit pergerakan otot tubuh maka kemungkinan
besar pasien akan merasa kesulitan untuk memulai melakukan
aktivitas sehari-hari. Jadi dapat dilakukan rehabilitasi dengan
membantu pasien untuk bisa melakukan aktivitas sehari-hari
melalui pelatihan otot dan fungsi tubuh yang lain.

7) Tingkat pencegahan Malaria


a) Pencegahan Primer
Adalah upaya untuk mempertahankan orang yang sehat tetap sehat
atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Kegiatannya sederhana
dan dapat dilakukan oleh sebagian besar masyarakat, seperti:
a. Menghindari atau mengurangi gigitan nyamuk malaria dengan
cara tidur menggunakan kelambu pada malam hari, tidak
berada di luar rumah, mengolesi badan dengan obat anti gigitan
nyamuk (repelen), memakai obat nyamuk bakar, memasang
kawat kasa pada jendela, dan menjauhkan kendang ternak dari
rumah.
b. Membersihkan tempat sarang nyamuk dengan cara
membersihkan semaksemak di sekitar rumah dan melipat kain-
kain yang bergantungan, dan mengalirkan atau menimbun
genangan-genangan air serta tempat-tempat yang dapat menjadi
tempat perindukan nyamuk Anopheles.
c. Membunuh nyamuk dewasa dengan penyemprotan insektisida.
d. Membunuh jentik-jentik dengan menebarkan ikan pemakan
jentik.
e. Membunuh jentik dengan menyemprot larvasida.

Selain itu, pencegahan primer juga dilakukan terhadap parasit yaitu


dengan pengobatan profilaksis. Pengobatan profilaksis diberikan
dengan tujuan mencegah terjadinya infeksi atau timbulnya gejala.
Jenis obat yang digunakan menurut Departemen Kesehatan RI ada
dua jenis, yaitu Klorokuin dan Sulfadoksin atau Pirimetamin.
Klorokuin diberikan satu minggu sekali, dimulai satu minggu
sebelum masuk daerah malaria dan diteruskan sampai 4 minggu
setelah meninggalkan daerah tersebut. Dosis yang diberikan yaitu
1/4 tablet/hari untuk umur <1 tahun, 1/2 tablet/hari untuk umur 1-4
tahun, 1 tablet/hari untuk umur 5-9 tahun, 1 1/2 tablet/hari untuk
umur 10-14 tahun, dan 2 tablet/hari untuk umur >15 tahun. 1 tablet
klorokuin mengandung 150 mg basa. Klorokuin tidak boleh
diberikan dalam keadaan perut kosong.

Sulfadoksin atau Pirimetamin diberikan apabila memasuki daerah


resisten klorokuin. Obat ini diberikan satu minggu sekali. Dosis
yang diberikan yaitu 1/4 tablet/hari untuk umur 1-4 tahun, 1/2
tablet/hari untuk umur 5-9 tahun, 3/4 tablet/hari untuk umur 10-14
tahun, dan 1 tablet/hari untuk umur >15 tahun. 1 tablet
sulfadoksin/pirimetamin mengandung 500 mg/25 mg. Klorokuin
tetap diberikan untuk mencegah infeksi Plasmodium
vivax dan Plasmodium malariae.

b) Pencegahan Sekunder
Adalah upaya untuk mencegah orang yang telah sakit agar sembuh,
menghambat progresifitas penyakit dan menghindarkan komplikasi.
Kegiatannya meliputi: pencarian penderita secara aktif melalui
skrining dan secara pasif dengan melakukan pencatatan dan pelaporan
kunjungan penderita malaria, diagnosa dini dan pengobatan yang
adekuat, dan memperbaiki status gizi guna membantu proses
penyembuhan.
Seringkali diagnosis malaria diperkirakan dan hanya terdapat satu
specimen darah dalam laboratorium untuk pemeriksaan. Meskipun
demikian, satu sediaan atau satu spesimen tidak dapat dipercayai untuk
menyingkirkan diagnosis terutama apabila telah digunakan pengobatan
atau profilaksis parsial. Penggunaan obat malaria secara parsial dapat
menyebabkan berkurangnya jumlah parasit sehingga akibatnya pada
pulasan darah hanya dijumpai sedikit parasit, yang menggambarkan
parasetemia yang rendah padahal pasien sedang menderita penyakit
yang berat. Jumlah parasit yang sedikit pada sediaan darah hapus juga
terjadi pada fase awal atau kambuh.
Dianjurkan untuk membuat sediaan darah tipis dan tebal dan paling
sedikit diperiksa 200 sampai 300 lapangan pandang dengan minyak
emersi sebelum melaporkan suatu hasil yang negatif. Pemeriksaan satu
kali dengan hasil negatif tidak mengenyampingkan diagnosis malaria.
Pemeriksaan darah tepi 3 kali dan hasil negatif, maka diagnosis
malaria dikesampingkan. Untuk penderita tersangka malaria berat
perlu diperhatikan bila pemeriksaan sediaan darah pertama negatif,
perlu diperiksa ulang setiap 6 jam sampai 3 hari berturut-turut. Bila
hasil pemeriksaan darah tebal selama 3 hari berturut-turut tidak
ditemukan parasit, maka diagnosis malaria disingkirkan. Pemeriksaan
sediaan darah dilakukan dengan pulasan Giemsa. Diagnosis spesies
yang akurat sangat penting dalam menentukan obat atau kombinasi
obat yang akan digunakan.

c) Pencegahan Tersier
Adalah upaya untuk mengurangi ketidakmampuan dan mengadakan
rahabilitasi. Kegiatannya meliputi: penanganan lanjut akibat
komplikasi malaria, dan rehabilitasi mental/psikologi

8) Tingkat pencegahan Kolera


a) Primer :
 Penyediaan makanan dan air yang bebas dari kontaminasi
patogen.
 Meminum air yang sudah masak atau benar-benar bersih serta
menggunakan air tesebut untuk gosok gigi, mencuci buah dan
peralatan makan.
 Pasteurisasi susu untuk mengeliminasi patogen penyebab
penyakit.
 Imunisasi.
b) Sekunder
Melakukan diagnosis dini melalui rumah sakit atau instansi yang dapat
melakukan diagnosis penyakit kolera.
c) Tersier :
 Pemberian suplai makanan dan cairan untuk tubuh agar tidak
terjadi dehidrasi.
 Pemberian antibiotik secara rutin.

9) Tingkat pencegahan Polio


a) Pencegahan Primer
Pencegahan primer pada penyakit polio yaitu:
a. Melakukan cakupan imunisasi yang tinggi dan menyeluruh
b. Pekan Imunisasi Nasional yang telah dilakukan Depkes tahun
1995, 1996, dan 1997. Pemberian imunisasi polio yang sesuai
dengan rekomendasi WHO adalah diberikan sejak lahir
sebanyak 4 kali dengan interval 6-8 minggu. Kemudian diulang
usia 1½ tahun, 5 tahun, dan usia 15 tahun.
c. Survailance Acute Flaccid Paralysis atau penemuan penderita
yang dicurigai lumpuh layuh pada usia di bawah 15 tahun harus
diperiksa tinjanya untuk memastikan karena polio atau bukan.
d. Melakukan Mopping Up, artinya pemberian vaksinasi massal di
daerah yang ditemukan penderita polio terhadap anak di bawah
5 tahun tanpa melihat status imunisasi polio sebelumnya.
b) Pencgahan Sekunder
Pencegahan sekunder merupakan upaya pencegahan pada fase
penyakit asimtomatis, tepatnya pada tahap preklinis, terhadap
timbulnya gejala-gejala penyakit secara klinis melalui deteksi dini
(early detection). Jika deteksi tidak dilakukan dini dan terapi tidak
diberikan segera maka akan terjadi gejala klinis yang merugikan.
Deteksi dini penyakit sering disebut “skrining”. Skrining adalah
identifikasi yang menduga adanya penyakit atau kecacatan yang belum
diketahui dengan menerapkan suatu tes, pemeriksaan, atau prosedur
lainnya, yang dapat dilakukan dengan cepat. Tes skrining memilah
orang-orang yang tampaknya mengalami penyakit dari orang-orang
yang tampaknya tidak mengalami penyakit. Tes skrining tidak
dimaksudkan sebagai diagnostik. Orang-orang yang ditemukan positif
atau mencurigakan dirujuk ke dokter untuk penentuan diagnosis dan
pemberian pengobatan yang diperlukan (Last, 2001). Pencegahan
sekunder pada penyakit polio sampai sekarang belum ditemukan cara
atau metode yang paling tepat. Sedangkan penggunaan vaksin yang
ada hanya untuk mencegah dan mengurangi rasa sakit pada penderita.

c) Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah upaya pencegahan progresi penyakit ke arah
berbagai akibat penyakit yang lebih buruk, dengan tujuan
memperbaiki kualitas hidup pasien. Pencegahan tersier biasanya
dilakukan oleh para dokter dan sejumlah profesi kesehatan lainnya
(misalnya, fisioterapis). Pencegahan tersier pada penyakit polio
dilakukan dengan beristirahat dan menempatkan pasien ke tempat
tidur, memungkinkan anggota badan yang terkena harus benar-benar
nyaman. Jika organ pernapasan terkena, alat pernapasan terapi fisik
mungkin diperlukan. Jika kelumpuhan atau kelemahan berhubung
pernapasan diperlukan perawatan intensif.

10) Tingkat pencegahan Flu Burung


a) Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah pencegahan yang dilakukan pada orang-
orang yang berisiko terjangkitflu burung, dapat dilakukan dengan cara:
a. Melakukan promosi kesehatan (promkes) terhadap masyarakat
luas, terutama mereka yang berisiko terjangkit flu burung
seperti peternak unggas
b. Melakukan biosekuriti yaitu upaya untuk menghindari
terjadinya kontak antara hewan denganmikroorganisme yang
dalam hal ini adalah virus flu burung, seperti dengan
melakukandesinfeksi serta sterilisasi pada peralatan ternak yang
bertujuan untuk membunuhmikroorganisme pada peralatan
ternak sehingga tidak menjangkiti hewan
c. Melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak untuk
meningkatkan kekebalannya. Vaksinasidilakukan dengan
menggunakan HPAI (H5H2) inaktif dan vaksin rekombinan
cacar ayam ataufowlpox dengan memasukan gen virus avian
influenza H5 ke dalam virus cacar
d. Menjauhkan kandang ternak unggas dengan tempat tinggal
e. Menggunakan alat pelindung diri seperti masker, topi, baju
lengan panjang, celana panjang dansepatu boot saat memasuki
kawasan peternakan
f. Memasak dengan matang daging sebelum dikonsumsi. Hal ini
bertujuan untuk membunuh virusyang terdapat dalam daging
ayam, karena dari hasil penelitian virus flu burung mati pada
pemanasan 60°C selama 30 menit
g. Melakukan pemusnahan hewan secara massal pada peternakan
yang positif ditemukan virus flu burung pada ternak dalam
jumlah yang banyak
h. Melakukan karantina terhadap orang-orang yang dicurigai
maupun sedang positif terjangkit flu burung
i. Melakukan surveilans dan monitoring yang bertujuan untuk
mengumpulkan laporan mengenaimorbilitas dan mortalitas,
laporan penyidikan lapangan, isolasi dan identifikasi agen
infeksi olehlaboratorium, efektifitasvak sinasi dalam populasi,
serta data lain yang gayut untuk kajianepedemiologi

b) Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder adalah pencegahan yang dilakukan dengan
tujuan untuk mencegahdan menghambat timbulnya penyakit dengan
deteksi dini dan pengobatan tepat. Denganmelakukan deteksi dini
maka penanggulangan penyakit dapat diberikan lebih awal
sehinggamencegah komplikasi, menghambat perjalanannya, serta
membatasi ketidakmampuan yang dapatterjadi. Pencegahan ini dapat
dilakukan pada fase presimptomatis dan fase klinis. Pada flu burung
pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan screening yaitu
upaya untuk menemukan penyakit secara aktif pada orang yang belum
menunjukkan gejala klinis. Screening terhadap flu burung misalnya
dilakukan pada bandara dengan memasang alat detektor panas tubuh
sehinggaorang yang dicurigai terjangkit flu burung bias segera diobati
dan dikarantina sehingga tidakmenular pada orang lain

c) Pencegahan tersier
Pencegahan tersier adalah segala usaha yang dilakukan untuk
membatasiketidakmampuan. Pada flu burung upaya pencegahan tersier
yang dapat dilakukan adalah denganmelakukan pengobatan intensif
dan rehabilitasi.