Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha
Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas mata kuliah Psikososial dan Budaya dalam Keperawatan dengan
judul “Globalisasi dan Perspektif Transkultural”. Kami juga mengucapkan terima
kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

Kami mengakui bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan


dalam berbagai hal. Oleh karena itu, tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan
sangat sempurna. Begitu pula dengan makalah yang telah kami selesaikan. Tidak
semua hal dapat kami deskripsikan dengan sempurna dalam makalah ini. Kami
melakukannya semaksimal mungkin dengan kemampuan yang kami miliki.

Maka dari itu, kami bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca yang
budiman. Kami akan menerima semua kritik dan saran tersebut sebagai batu loncatan
yang dapat memperbaiki karya tulis kami di masa yang akan datang.

Dengan menyelesaikan makalah ini kami mengharapkan banyak manfaat yang


dapat dipetik dari penulisan makalah ini. Semoga dengan adanya makalah ini dapat
menambah wawasan pengetahuan.

Gorontalo, 28 Januari 2020

Kelompok I

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................i

DAFTAR ISI .........................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN .....................................................................1

A. Latar Belakang ...............................................................................1


B. Rumusan Masalah ..........................................................................2
C. Tujua Penulisan .............................................................................2
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................3

A. Pengertian Transkultural.................................................................3
B. Konsep Transkultural......................................................................3
C. Peran dan Fungsi Transkultural......................................................4
D. Keperawatan Transkultural dan Globalisasi dalam
Pelayanan Kesehatan......................................................................5
E. Kepercayaan Kuno dan Praktik Keperawatan................................6
BAB 3 PENUTUP..................................................................................12
A. Kesimpulan.....................................................................................12
B. Saran ..............................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................13

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring berkembangnya zaman di era globalisasi saat ini, terjadi peningkatan
jumlah penduduk baik populasi maupun variasinya. Keadaan ini memungkinkan
adanya multikultural atau variasi kultur pada setiap wilayah. Tuntunan kebutuhan
masyarakat akan pelayanan kesehatan yang berkualitas pun semakin tinggi. Hal ini
menuntut setiap tenaga kesehatan profesional termasuk perawat untuk mengetahui
dan bertindak setepat mungkin dengan prespektif global dan budaya yang berbeda
dari berbagai tempat didunia dengan memperthatikan namun tetap pada tujuan utama
yaitu memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas. Penangan pasien dengan
latar belakang budaya disebut dengan transkultural nursing.
Trankultural nursing adalah suatu daerah/wilayah keilmuan budaya pada
proses belajar dan praktek keperawatan yang fokusnya memandang perbedaandan
kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan
pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu digunakan untuk
memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau kebutuhan budaya kepada
manusia. Proses keperawatan transkultural diaplikasikan untuk mengurangi konflik
perbedaan budaya atau lintas budaya antara perawat sebagai profesional dan pasien.
Keanekaragaman bangsa Indonesia dilatarbelakangi oleh jumlah suku-suku
bangsa Indonesia yang sangat banyak, dimana setiap suku bangsa tersebut
mempunyai ciri atau karakter tersendiri, baik dalam aspek sosial maupun budaya.
Suatu semboyan yang sejak dulu dikenal dan melekat dengan jati diri bangsa
Indonesia adalah “Bhineka Tunggal Ika”. Semboyan itu terukir kokoh dalam
cengkraman Burung Garuda yang merupakan lambang Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Bhineka Tunggal Ika menunjukan bahwa bangsa Indonesia adalah negara
yang heterogen, yaitu bangsa yang mempunyai keanekaragaman, baik dalam aspek
suku bangsa, budaya, ras dan agama. Kebhinekaan dapat menjadi tantangan atau
ancaman, karena dengan adanya kebhinekaan tersebut mudah membuat orang menjadi
berbeda pendapatyang pada akhirnya dapat lepas kendali,memiliki rasa kedaerahan
atau kesukuan yang sewaktu-waktu bisa menjadi ledakan yang mengancam itegrasi
atau persatuan dan kesatuan bangsa.

3
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Transkultural?
2. Apa konsep transkultural?
3. Apa peran dan fungsi transkultural?
4. Bagaimana keperawatan transkultural dan globalisasi dalam pelayanan
kesehatan?
5. Bagaimana kepercayaan kuno dan praktik keperawatan?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian Transkultural
2. Untuk mengetahui konsep transkultural
3. Untuk mengetahui peran dan fungsi transkultural
4. Untuk mengetahui keperawatan transkultural dan globalisasi dalam pelayanan
kesehatan
5. Untuk mengetahui kepercayaan kuno dan praktik keperawatan

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Transkultural
Bila ditinjau dari makna kata, transkultural berasal dari kata trans dan culture,
Trans berarti alur perpindahan, jalan lintas atau penghubung. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia; trans berarti melintang, melintas, menembus, melalui.
Culture berarti budaya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kultur berarti:
kebudayaan, cara pemeliharaan, pembudidayaan, kepercayaan nilai – nilai dan pola
perilaku yang umum berlaku bagi suatu kelompok dan diteruskan pada generasi
berikutnya, sedangkan cultural berarti Sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan.
Jadi, transkultural dapat diartikan sebagai pertemuan kedua nilai-nilai budaya yang
berbeda melalui proses interaksi sosial. Transkultural nursing merupakan suatu area
kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai-nilai budaya.
Menurut Leininger (1991).

B. Konsep Transkultural
Kazier Barabara ( 1983 ) dalam bukunya yang berjudul Fundamentals of
Nursing Concept and Procedures mengatakan bahwa konsep keperawatan adalah
tindakan perawatan yang merupakan konfigurasi dari ilmu kesehatan dan seni
merawat yang meliputi pengetahuan ilmu humanistic, philosopi perawatan, praktik
klinis keperawatan, komunikasi dan ilmu sosial. Konsep ini ingin memberikan
penegasan bahwa sifat seorang manusia yang menjadi target pelayanan dalam
perawatan adalah bersifat bio – psycho – social – spiritual . Oleh karenanya, tindakan
perawatan harus didasarkan pada tindakan yang komperhensif sekaligus holistik.
Budaya merupakan salah satu dari perwujudan atau bentuk interaksi yang
nyata sebagai manusia yang bersifat sosial. Budaya yang berupa norma, adat istiadat
menjadi acuan perilaku manusia dalam kehidupan dengan yang lain. Pola kehidupan
yang berlangsung lama dalam suatu tempat, selalu diulangi, membuat manusia terikat
dalam proses yang dijalaninya. Keberlangsungaan terus–menerus dan lama
merupakan proses internalisasi dari suatu nilai–nilai yang mempengaruhi
pembentukan karakter, pola pikir, pola interaksi perilaku yang kesemuanya itu akan
mempunyai pengaruh pada pendekatan intervensi keperawatan.

5
C. Peran dan Fungsi Transkultural
Budaya mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan individu. Oleh sebab
itu, penting bagi perawat mengenal latar belakang budaya orang yang dirawat
(Pasien). Misalnya kebiasaan hidup sehari–hari, seperti tidur, makan, kebersihan diri,
pekerjaan, pergaulan social, praktik kesehatan, pendidikan anak, ekspresi perasaan,
hubungan kekeluargaaan, peranan masing – masing orang menurut umur. Kultur juga
terbagi dalam sub – kultur. Subkultur adalah kelompok pada suatu kultur yang tidak
seluruhnya menganut pandangan keompok kultur yang lebih besar atau member
makna yang berbeda. Kebiasaan hidup juga saling berkaitan dengan kebiasaan
cultural. Nilai–nilai budaya Timur, menyebabkan sulitnya wanita yang hamil
mendapat pelayanan dari dokter pria. Dalam beberapa setting, lebih mudah menerima
pelayanan kesehatan pre-natal dari dokter wanita dan bidan. Hal ini menunjukkan
bahwa budaya Timur masih kental dengan hal–hal yang dianggap tabu.
Dalam tahun–tahun terakhir ini, makin ditekankan pentingknya pengaruh
kultur terhadap pelayanan perawatan. Perawatan Transkultural merupakan bidang
yang relative baru; ia berfokus pada studi perbandingan nilai–nilai dan praktik budaya
tentang kesehatan dan hubungannya dengan perawatannya. Leininger ( 1991 )
mengatakan bahwa transcultural nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang
berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai–nilai budaya ( nilai budaya yang
berbeda ras, yang mempengaruhi pada seseorang perawat saat melakukan asuhan
keperawatan kepada pasien. Perawatan transkultural adalah berkaitan dengan praktik
budaya yang ditujukan untuk pemujaan dan pengobatan rakyat (tradisional). Caring
practices adalah kegiatan perlindungan dan bantuan yang berkaitan dengan kesehatan.
Menurut Dr. Madelini Leininger, studi praktik pelayanan kesehatan
transkultural adalah berfungsi untuk meningkatkan pemahaman atas tingkah laku
manusia dalam kaitan dengan kesehatannya. Dengan mengidentifikasi praktik
kesehatan dalam berbagai budaya (kultur), baik di masa lampau maupun zaman
sekarang akan terkumpul persamaan – persamaan. Lininger berpendapat, kombinasi
pengetahuan tentang pola praktik transkultural dengan kemajuan teknologi dapat
menyebabkan makin sempurnanya pelayanan perawatan dan kesehatan orang banyak
dan berbagai kultur.

6
D. Keperawatan Transkultural dan Globalisasi dalam Pelayanan Kesehatan
Tujuan dari keperawatan transkultural adalah mengembangkan sains dan
pohon keilmuan yang humanis sehingga tercipta praktik keperawatan pada kultur
yang spesifik dan universal. Kultur yang spesifik adalah kultur yang dengan nilai-nilai
norma spesifik yang tidak dimiliki oleh kelompok lain, seperti bahasa. Sedangkan,
kultur yang universal adalah nilai atau norma yang diyakini dan dilakukan oleh
hamper semua kultur, seperti budaya olahraga dapar membuat badan sehat, bugar;
budaya minum teh dapat membuat tubuh sehat. Keperawatan transkultural juga
bertujuan untuk mengidentifikasi, menguji, mengerti, dan menggunakan pemahaman
perawatan transkultural untuk meningkatkan kebudayaan yang spesifik dalam
pemberian asuhan keperawatan. Asumsinya adalah berdasarkan teori caring, caring
adalah esensi dari, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan
keperawatan. Perilaku caring diberikan kepada manusia sejak lahir hingga meninggal
dunia. Human caring merupakan fenomena universal dimana ekspresi, struktur
polanya bervariasi diantara kultur satu tempat dengan tempat lainnya.

Globalisasi dalam pelayanan kesehatan sangatlah penting. Maksudnya adalah


pada zaman yang serba maju ini, menuntut keperawatan semakin maju pula mengikuti
perkembangan zaman. Orang-orang akan menuntut asuhan keperawatan yang
berkualitas. Dengan adanya zaman globalisasi ini, banyak orang yang melakukan
perpindahan penduduk antar negara (imigrasi) sehingga memungkinkan pergeseran
tuntutan asuhan keperawatan.
Konsep keperawatan didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan
nilai-nilai kultural yang melekat dalam masyarakat. Sangatlah penting memperhatikan
keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan keperawatan kepada
klien. Bila hal ini diabaikan oleh perawat, akan mengakibatkan terjadinya
culturalshock. Culturalshock dialami klien pada suatu kondisi dimana perawat tidak
mampu beradaptasi dengan perbedaan nilai budaya dan kepercayaan. Ini akan
mengakibatkan ketidaknyamanan, ketidakberdayaan pada klien, dan beberapa
mengalami disorientasi

7
E. Kepercayaan Kuno dan Praktik Keperawatan
Sistem pengobatan tradisional merupakan sub unsur kebudayaan masyarakat
sederhana, pengetahuan tradisional. Dalam masyarakat tradisional, sistem pengobatan
tradisional ini adalah pranata sosial yang harus dipelajari dengan cara yang sama
seperti mempelajari pranata social umumnya dan bahwa praktek pengobatan asli
(tradisional) adalah rasional dilihat dari sudut kepercayaan yang berlaku mengenai
sebab akibat. Beberapa hal yang berhubungan dengan kesehatan (sehat – sakit)
menurut budaya-budaya yang ada di Indonesia diantaranya adalah:
1. Budaya Jawa
Menurut orang Jawa, “sehat “ adalah keadaan yang seimbang dunia fisik dan
batin. Bahkan, semua itu berakar pada batin. Jika “batin karep ragu nututi“,
artinya batin berkehendak, raga/badan akan mengikuti. Sehat dalam konteks raga
berarti “waras“. Apabila seseorang tetap mampu menjalankan peranan sosialnya
sehari-hari, misalnya bekerja di ladang, sawah, selalu gairah bekerja, gairah hidup,
kondisi inilah yang dikatakan sehat. Dan ukuran sehat untuk anak-anak adalah
apabila kemauannya untuk makan tetap banyak dan selalu bergairah main.
Untuk menentukan sebab-sebab suatu penyakit ada dua konsep, yaitu konsep
personalistik dan konsep naluralistik. Dalam konsep personalistik, penyakit
disebabkan oleh makhluk supernatural (makhluk gaib, dewa), makhluk yang
bukan manusia (hantu, roh leluhur, roh jahat) dan manusia (tukang sihir, tukang
tenung). Penyakit ini disebut “ora lumrah“ atau “ora sabaene“ (tidak wajar/tidak
biasa). Penyembuhannya adalah berdasarkan pengetahuan secara gaib atau
supernatural, misalnya melakukan upacara dan sesaji. Dilihat dari segi
personalistik jenis penyakit ini terdiri dari kesiku, kebendhu, kewalat, kebulisan,
keluban, keguna-guna, atau digawe wong, kampiran bangsa lelembut dan lain
sebagainya. Penyembuhan dapat melalui seorang dukun atau “wong tuo“. 
Pengertian dukun bagi masyarakat Jawa adalah yang pandai atau ahli dalam
mengobati penyakit melalui “Japa Mantera“, yakni doa yang diberikan oleh dukun
kepada pasien.
Adapun beberapa contoh pengobatan tradisional masyarakat jawa yang tidak
terlepas dari tumbuhan dan buah-buahan yang bersifat alami adalah:
a. Daun dadap sebagai penurun panas dengan cara ditempelkan di dahi.
Temulawak untuk mengobati sakit kuning dengan cara di parut, diperas dan

8
airnya diminum 2 kali sehari satu sendok makan, dapat ditambah sedikit gula
batu dan dapat juga digunakan sebagai penambah nafsu makan.
b. Akar ilalang untuk menyembuhkan penyakit hepatitis B.
c. Mahkota dewa untuk menurunkan tekanan darah tinggi, yakni dengan
dikeringkan terlebih dahulu lalu diseduh seperti teh dan diminum seperlunya.
d. Brotowali sebagai obat untuk menghilangkan rasa nyeri , peredam panas , dan
penambah nafsu makan.
e. Jagung muda (yang harus merupakan hasil curian = berhubungan dengan
kepercayaan) berguna untuk menyembuhkan penyakit cacar dengan cara
dioleskan dibagian yang terkena cacar.
f. Daun sirih untuk membersihkan vagina.
g. Lidah buaya untuk kesuburan rambut.
h. Cicak dan tokek untuk menghilangkan gatal – gatal.
i. Mandi air garam untuk menghilangkan sawan.
j. Daun simbung dan daun kaki kuda untuk menyembuhkan influenza.
k. Jahe untuk menurunkan demam/panas, biasanya dengan diseduh lalu diminum
ataupun dengan diparut dan detempelkan di ibu jari kaki.
l. Air kelapa hijau dengan madu lebah untuk menyembuhkan sakit kuning yaitu
dengan cara 1 kelapa cukup untuk satu hari, daging kelapa muda dapat
dimakan sekaligus, tidak boleh kelapa yang sudah tua.
2. Budaya Sunda
Konsep sehat sakit tidak hanya mencakup aspek fisik saja, tetapi juga bersifat
sosial budaya. Istilah lokal yang biasa dipakai oleh masyarakat Jawa Barat (orang
sunda) adalah muriang untuk demam, nyerisirah untuk sakit kepala, yohgoy untuk
batuk dan salesma untuk pilek/flu. Penyebab sakit umumnya karena lingkungan,
kecuali batuk juga karena kuman. Pencegahan sakit umumnya dengan
menghindari penyebabnya. Pengobatan sakit umumnya menggunakan obat yang
terdapat di warung obat yang ada di desa tersebut, sebagian kecil menggunakan
obat tradisional. Pengobatan sendiri sifatnya sementara, yaitu penanggulangan
pertama sebelum berobat ke puskesmas atau mantri.
a. Pengertian Sehat Sakit
Menurut orang sunda, orang sehat adalah mereka yang makan terasa enak
walaupun dengan lauk seadanya, dapat tidur nyenyak dan tidak ada yang
dikeluhkan, sedangkan sakit adalah apabila badan terasa sakit, panas atau

9
makan terasa pahit, kalau anak kecil sakit biasanya rewel, sering menangis,
dan serba salah/gelisah. Dalam bahasa sunda orang sehat disebut cageur,
sedangkan orang sakit disebut gering. Ada beberapa perbedaan antara sakit
ringan dan sakit berat. Orang disebut sakit ringan apabila masih dapat berjalan
kaki, masih dapat bekerja, masih dapat makan-minum dan dapat sembuh
dengan minum obat atau obat tradisional yang dibeli di warung. Orang disebut
sakit berat, apabila badan terasa lemas, tidak dapat melakukan kegiatan sehari-
hari, sulit tidur, berat badan menurun, harus berobat ke dokter/puskesmas,
apabila menjalani rawat inap memerlukan biaya mahal. Konsep sakit ringan
dan sakit berat bertitik tolak pada keadaan fisik penderita melakukan kegiatan
sehari-hari, dan sumber pengobatan yang digunakan.
3. Budaya Batak
Arti “sakit“ bagi orang Batak adalah keadaan dimana seseorang hanya
berbaring, dan penyembuhannya melalui cara-cara tradisional, atau ada juga yang
membawa orang yang sakit tersebut kepada dukun atau “orang pintar“. Dalam
kehidupan sehari-hari orang batak, segala sesuatunya termasuk mengenai
pengobatan jaman dahulu, untuk mengetahui bagaimana cara mendekatkan diri
pada sang pencipta agar manusia tetap sehat dan jauh dari mara bahaya. Bagi
orang batak, di samping penyakit alamiah, ada juga beberapa tipe spesifik
penyakit supernatural, yaitu:
a) Jika mata seseorang bengkak, orang tersebut diyakini telah melakukan
perbuatan yang tidak baik (mis: mengintip). Cara mengatasinya agar matanya
tersebut sembuh adalah dengan mengoleskan air sirih.
b) Nama tidak cocok dengan dirinya (keberatan nama) sehingga membuat orang
tersebut sakit. Cara mengobatinya dengan mengganti nama tersebut dengan
nama yang lain, yang lebih cocok dan didoakan serta diadakan jamuan adat
bersama keluarga.
c) Ada juga orang batak sakit karena tarhirim. Misalnya: seorang bapak
menjanjikan akan memberi mainan buat anaknya, tetapi janji tersebut tidak
ditepati. Karena janji tersebut tidak ditepati, si anak bisa menjadi sakit.
d) Jika ada orang batak menderita penyakit kusta, maka orang tersebut dianggap
telah menerima kutukan dari para leluhur dan diasingkan dalam pergaulan
masyarakat.

10
Di samping itu, dalam budaya batak dikenal adanya “kitab pengobatan” yang
isinya diantaranya adalah, Mulajadi Namolon Tuhan Yang Maha Esa
bersabda:
“Segala sesuatu yang tumbuh di atas bumi dan di dalam air sudah ada gunanya
masing -masing di dalam kehidupan sehari-hari, sebab tidak semua manusia
yang dapat menyatukan darahku dengan darahnya, maka gunakan tumbuhan
ini untuk kehidupan mu“.
Beberapa contoh pengobatan tradisional lainnya yang dilakukan oleh orang
batak adalah:
a) Jika ada orang batak yang menderita penyakit gondok, maka cara
pengobatannya dengan menggunakan belau.
b) Apabila ada orang batak yang menderita penyakit panas (demam)
biasanya pengobatannya dengan cara menyelimutinya dengan
selimut/kain yang tebal.
4. Budaya Flores
Damianus Wera orang Flores satu ini punya karunia yang sangat langka. Dami
dikenal sebagai penyembuh alternative unik. Damianus wera bukan dokter, buta
huruf, tak makan sekolah, tapi buka praktik layaknya dokter professional. Dia
melakukan operasi hanya menggunakan pisau.
Menurut Dami ada tiga jenis penyakit yang dikeluhkan para pasien. Pertama, jenis
penyakit nonmedis atau santet/guna-guna. Biasanya tubuh korban dirusak dengan
paku, silet, lidi, kawat, beling, jarum, benang kusut. Kedua, penyakit medis seperti
jantung koroner, batu ginjal, tumor, kanker, dll. Dami mengangkat penyakit ini
dengan operasi dan juga sedot darah melalui selang. Ketiga, sakit psikologis
misalnya: banyak utang, stress, sulit hamil, dll. Dami mengingatkan kunci sehat
itu sebenarnya ada di pikiran yang sehat. Sebaliknya, pikiran yang ruwet, penuh
beban dan tekanan, justru memicu munculnya penyakit dalam tubuh manusia.
Dami mempunyai 7 metode untuk mengatasi penyakit:
1) Berdoa: dilakukan sebelum dan sesudah pengobatan, pasien berdoa menurut
agamanya.
2) Air putih: Pasien diminta membawa air putih dalam botol 1, 5 liter. Setelah
didoakan, pasien minum di rumah masing- masing. Kalau mau habis,
tambahkan dengan air yang baru.
3) Kapsul ajaib: Pasien diminta minum kapsul ajaib seperti obat biasa.

11
4) Pijat refleksi : Pasian menjerit kesakitan karena “diestrum“ listrik tegangan
tinggi.
5) Suntik: Jarum suntik diperoleh dengan cara muntah. Cairan atau obat
diperoleh lewat doa tertentu.
6) Telur ayam (kampung) dan gelas: Dipegang, diletakkan di atas kepala pasien.
Selain mendeteksi penyakit, telur ayam kampung itu juga untuk mengobati
penyakit dan untuk mengambil benda-benda santet seperti jarum, benang,
silet, beling, paku lewat telur ayam.
7) Operasi/bedah: Operasi atau bedah bisa untuk penyakit medis maupun non
medis.
a) Di samping itu, orang flores juga percaya adanya sejenis kain yang
berwarna hitam yang dipercaya dapat menyembuhkan orang yang sakit
panas/demam tinggi, yaitu dengan cara di selubungkan atau ditutupkan di
seluruh tubuhnya hingga tidak ada yang kelihatan lagi, dan biarkan orang
yang sakit panas tersebut hingga ia merasa nyaman dan pansanya
berkurang.
b) Bawang merah dipercaya untuk mengobati batuk, yakni dengan cara
dihancurkan (dikunyah) lalu dibungkus dengan sepotong kain, kemudian
ditempelkan di tenggorokan. Cara ini baik diterapkan pada waktu sebelum
tidur malam.
c) Daun sirih untuk mengobati orang yang mimisan, yaitu dengan digulung
kemudian disumbatkan ke lubang hidung yang keluar darah.
d) Daun papaya yang masih muda digunakan untuk menghentikan keluarnya
darah dari bagian tubuh yang luka, yaitu dengan dikunyah sampai halus
kemudian ditempelkan di bagian yang luka tersebut.
Pengaruh Kepercayaan, Agama dan Aliran Lain, Jenis Kelamin dan
Masalah Analisis
1) Kepercayaan, agama dan aliran lain
Kepercayaan dan agama adalah pondasi penting untuk kesehatan,
agama dan kepercayaan memberikan kontribusi penuh dalam tindakan
keperawatan. Misalnya perawatan pasien beragama berbeda harus
dibedakan dengan pasien lain yang mempunyai agama berbeda dalam
hal kepercayaan.

12
2) Jenis Kelamin
Wanita mempunyai peranan (yang dianggap penting) karena
perempuan lebih professional. Terbukti dari awal mula 95-98%
perawat adalah perempuan. Status sosial wanita dalam dunia medis
maupun masyarakat dicirikan sebagai seorang yang dapat merawat,
seperti seorang ibu yang merawat anak-anaknya.
3) Masalah Analisis
Sebuah masalah digambarkan dengan situasi dan keadaan tertentu.
Masalah selalu di luar rencana (tidak direncanakan) dan lebih sering
tidak diterima. Masalah bisa lebih kompleks ataupun malah lebih
sederhana, untuk itu seorang perawat harus mampu menyesuaikan diri
dengan mengubah pola pikir terhadap analisa tersebut.
F.

13
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Keperawatan transkultural adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan
yang difokuskan kepada individu dan kelompok untuk mempertahankan,
meningkatkan perilaku sehat sesuai dengan latar belakang budaya. Hal ini dipelajarai
mulai dari kehidupan biologis sebelumnya, kehidupan psikologis, kehidupan sosial
dan spiritualnya. 
Perencanaan dan pelaksanaan proses keperawatan transkultural tidak dapat
begitu saja dipaksakan kepada klien sebelum perawat memahami latar belakang
budaya klien sehingga tindakan yang dilakukan dapat sesuai dengan budaya klien.
Penyesuaian diri sangatlah diperlukan dalam aplikasi keperawatan transkultural. 

B. Saran
Walaupun dalam kenyataanya mungkin konsep keperawatan transkultural
efektif digunakan pada klien, namun pengkajian lebih lanjut juga sangat diperlukan
untuk mencapai hasil yang maksimal dalam proses penyembuhan.

14
DAFTAR PUSTAKA

Afifah, Efy. Ringkasan Materi Unit 2 Keragaman Budaya dan Perspektif


Transkultural dalam Keperawatan.

Asih, Yasmin (Penerjemah). 2005. Fundamental Keperawatan, Edisi 4, Buku 1.


Jakarta: Salemba Medika

Leininger, M. dan Mc Farland, M.R. 2002. TransculturalNursing: Concept, Theories,


ResearchandPractice. 3rd Edition. USA: Mc-Graw Hill Companies

Potter, P.A. dan Perry, A.G. 2009. Fundamental ofNursing: Concepts, Process, and
Practice. 7th Edition. St. Louis: Elsevier

Pristiana D, Ari. 2011. Teori Keperawatan Medelein Leininger.

http://keperawatangun.blogspot.com/2007/07/stroke-non-hemoragik.html (diakses
pada 22 Oktober 2011) Susilaningsih, Francisca Sri. Asuhan Keperawatan
dalam Pendampingan Klien diambang Kematian. 

http://subhankadir.files.wordpress.com/2008/01/perkembangan-lansia.pdf (diakses
tanggal 23 Oktober 2011) Kubler-Ross, E. (1969). On DeathandDying. London:
TavistockPublication

http://aripristiana.com/2011/02/madeline-leininger.html (diakses tanggal 22 Oktober


2011)

15