Anda di halaman 1dari 9

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

SISTEM TERNER AIR-KLOROFORM-ASAM ASETAT

OLEH

NI PUTU ASTINI 1713031004

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

2019
PERCOBAAN VIII
SISTEM BINER AIR-KLOROFORM-ASAM ASETAT

I. TUJUAN
Menentukan garis dasi (tie line) pada diagram sistem terner air-kloroform-asam
asetat.
II. DASAR TEORI
Kata Kloroform yang kelarutannya sangat kecil dalam air, apabila ditambahkan
asam asetat maka kelarutannya akan bertambah besar. Hal ini disebabkan karena asam
asetat mudah larut dalam air dan asam asetat dapat larut dalam kloroform dalam berbagai
perbandingan.
Sistem tiga komponen mempunyai derajat kebebasan F = 3-P, karena tidak
mungkin membuat diagram dengan 4 variabel, maka sistem tersebut dibuat pada tekanan
dan suhu tetap, sehingga diagram hanya merupakan fungsi komposisi. Harga derajat
kebebasan maksimal adalah 2, karena harga P hanya mempunyai 2 pilihan 1 fasa yaitu
ketiga komponen bercampur homogen atau 2 fasa yang meliputi 2 pasang misibel
(Endang Widjajanti, 2008). Umumnya sistem 3 komponen merupakan sistem cair-cair-
cair. Jumlah fraksi mol ketiga komponen berharga 1. Dengan adanya berbagai bentuk
kesetimbangan antara komponen-komponen yang ada, digunakan diagram fasa segitiga
(Sari, 2001).
Diagram fasa merupakan cara mudah untuk menampilkan wujud zat sebagai fungsi
suhu dan tekanan. Sebagai contoh khas, diagram fasa air diberikan di gambar 2. Dalam
diagram fasa, diasumsikan bahwa zat tersebut diisolasi dengan baik dan tidak ada zat lain
yang masuk atau keluar sistem.
Pemahaman tentang diagram fasa akan terbantu dengan pemahaman hukum fasa
Gibbs, hubungan yang diturunkan oleh fisikawan-matematik Amerika Josiah Willard
Gibbs (1839-1903) di tahun 1876. Aturan ini menyatakan bahwa untuk kesetimbangan
apapun dalam sistem tertutup, jumlah variabel bebas disebut derajat kebebasan F yang
sama dengan jumlah komponen C ditambah 2 dikurangi jumlah fasa P, yakni,
F=C+2-P …....................................(1)
Jadi, dalam titik tertentu di diagram fasa, jumlah derajat kebebasan adalah 2 yakni
suhu dan tekanan; bila dua fasa dalam kesetimbangan sebagaimana ditunjukkan dengan
garis yang membatasi daerah dua fasa hanya ada satu derajat kebebasan yaitu suhu atau
tekanan. Pada titik tripel ketika terdapat tiga fasa tidak ada derajat kebebasan lagi. Dari
diagram fasa, dapat dikonfirmasikan apa yang telah diketahui dan lebih lanjut dapat
mempelajari apa yang belum diketahui. Misalnya, kemiringan yang negatif pada
perbatasan padatan-cairan memiliki implikasi penting sebagaimana dinyatakan di bagian
kanan diagram, yakni bila tekanan diberikan pada es, es akan meleleh dan membentuk
air. Berdasarkan prinsip Le Chatelier, bila sistem pada kesetimbangan diberi tekanan,
kesetimbangan akan bergeser ke arah yang akan mengurangi perubahan ini. Hal ini
berarti air memiliki volume yang lebih kecil, kerapatan lebih besar daripada es.
Sebaliknya, air pada tekanan 0,0060 atm berada sebagai cairan pada suhu rendah,
sementara pada suhu 0,0098°C, tiga wujud air akan ada bersama. Titik ini disebut titik
tripel air. Tidak ada titik lain di mana tiga wujud air ada bersama.
Selain itu, titik kritis (untuk air, 218 atm, 374°C), juga ditunjukkan dalam diagram
fasa. Bila cairan berubah menjadi fasa gas pada titik kritis, muncul keadaan antara
(intermediate state), yakni keadaan antara cair dan gas. Dalam diagram fasa keadaan di
atas titik kritis tidak didefinisikan.
Bentuk diagram fasa 3 komponen tersebut dilukiskan dalam segitiga sama sisi,
yang terjadi pada suhu dan tekanan yang tetap. Aturan Gibbs yang digunakan untuk
menentukan keadaan sistem adalah sebagai berikut.
V = C – P..............................................(2)
Dengan V adalah derajat kebebasan, C adalah jumlah komponen, dan P adalah
jumlah fasa dalam sistem. Untuk sistem terner ini, C bernilai 3 sehingga persamaan
Gibbs menjadi
V = 3 – P...............................................(3)
Dengan menggunakan persamaan tersebut, derajat kebebasan yang diperlukan
untuk menentukan kedudukan sistem dalam daerah satu fasa adalah sebanyak 2. Diagram
fasa segitiga dapat digambarkan sebagai berikut.
C
C

A B
Gambar 1. Penentuan Komposisi
Perhatikan gambar 1 untuk sistem tiga komponen air-kloroform-asam asetat.
Kedudukan sistem ditentukan sebagai berikut.
A adalah tempat kedudukan sistem 100% A ; 0% B ; 0% C
B adalah tempat kedudukan sistem 100% B ; 0% A ; 0% C
C adalah tempat kedudukan sistem 100% C ; 0% A ; 0% B
Garis miring AC dan sejajar dengannya secara berturut-turut dari kiri ke kanan
merupakan tempat kedudukan sistem 0% B ; 10% B ; 20% B ; dan seterusnya sampai
100% B pada titik B. Garis miring BC dan yang sejajar dengannya secara berturut-turut
dari kiri ke kanan merupakan tempat kedudukan sistem 0% A ; 10% A ; 20% A ; dan
seterusnya sampai 100% A pada titik A. Sementara itu, garis AB yang sejajar dengannya
secara berturut-turut dari kiri ke kanan merupakan tempat kedudukan sistem 0% C ; 10%
C ; 20% C ; dan seterusnya sampai 100% C pada titik C. Titik D adalah kedudukan
sistem komposisi 20% B ; 30% C ; dan 50% A.Bentuk diagram sistem kloroform-air-
asam asetat pada suhu dan tekanan tertentu adalah sebagai berikut:

CH3COOH

1 fase

CHCl3 2 fase
H 2O
Gambar 2. Diagram fasa air- kloroform- asam asetat

Kurva yang terdapat dalam segitiga merupakan kelarutan antara ketiga zat. Di
dalam kurva terdiri atas campuran sistem yang memiliki 2 fasa cair-cair, yaitu asam
asetat dengan kloroform yang larut dalam air dan asam asetat dengan air yang larut
dalam kloroform. Garis PQ merupakan garis penentu komposisi sistem yang letaknya
tidak sejajar dengan H2O-CHCl3 disebut garis dasi (tie line).
Misalnya suatu sistem dimulai dari komposisi K, berdasarkan aturan Lever sistem
ini memiliki jumlah air yang lebih banyak daripada kloroform. Sistem ini merupakan
sistem 2 fasa C jika dikocok akan terlihat keruh. Dengan menitrasi campuran oleh asam
asetat, maka komposisi akan berjalan sepanjang garis KK1 menuju titik 100% asam
asetat. Dengan pengocokan secara berhati-hati selama titrasi akan diperoleh tetesan
terakhir ketika kekeruhan tepat hilang, yaitu titik K1.

III. ALAT DAN BAHAN


Tabel 1. Daftar Alat
No. Nama Alat Ukuran Jumlah
1. Buret 50 mL 1 buah
2. Erlenmayer - 4 buah
3. Corong pisah - 1 buah
4. Gelas kimia 100 mL 3 buah
5. Pipet tetes - 3 buah
6. Neraca analitik - 1 buah
7. Statif dan klem - 1 set
8. Ring - 1 buah
9. Gelas ukur 10 mL 2 buah
10. Pipet volumetri 5 mL 1 buah
11. Piknometer - 1 buah

Tabel 2. Daftar Bahan


No. Nama Bahan Konsentrasi Jumlah
1. Aquades - 250 mL
2. Kloroform - 15 mL
3. Larutan NaOH 1M 100 mL
4. Asam asetat - 25 mL
5. Indikator fenolftalein - 5 mL
IV. PROSEDUR PRAKTIKUM

Isi buret dengan asam asetat

Sediakan labu erlenmeyer I, II, III, IV

Labu I Labu IV
Labu II Labu III

4 g aquades 3 g aquades 2 g aquades 1 g aquades


+ + + +
1 g kloroform 2 g kloroform 3 g kloroform 4 g kloroform

Titrasi dengan asam asetat, catat volume asam asetat

Isi corong pisah 2,5 g aquades + 2,5 g


kloroform + 1 g asam asetat

Kocok hingga tercampur, kemudian diamkan

Terbentuk dua lapisan (L1 dan L2)

Pisahkan L1 dan L2, masukkan ke erlenmeyer

Timbang kedua larutan (L1 dan L2)

Tambahkan indikator pp

Titrasi kedua larutan dengan NaOH, catat volume NaOH

V. HASIL PENGAMATAN
Tabel 3. Volume asam asetat saat titrasi
No. Labu Massa Massa Volume asam
Erlenmeyer aquades (g) kloroform (g) asetat (mL)
1 I 4 1
2 II 3 2
3 III 2 3
4 IV 1 4

Tabel 4. Volume NaOH pada saat titrasi

No. Labu Massa Massa Massa Volume


Erlenmeyer erlenmeyer erlenmeyer + larutan (g) NaOH (mL)
(g) larutan (g)
1 L1
2 L2

VI. ANALISIS DATA


1. Menentukan massa asam asetat dalam labu I, II, III, dan IV
Massa asam asetat dapat dilihat pada tabel botolnya = .... g mL -1
𝑚
Massa dapat diketahui dengan persamaan ρ = , sehingga m = ρ x v
𝑣

Tabel 5. Massa asam asetat


Massa asam asetat (g)
Labu I Labu II Labu III Labu IV

2. Menentukan mol dan fraksi mol campuran air, kloroform, dan asam asetat
 Menghitung mol air, kloroform, dan asam asetat pada labu I, II, III, dan IV
massa air
mol air =
massa molar air
massa kloroform
mol kloroform =
massa molar kloroform
massa asam asetat
mol asam asetat =
massa molar asam asetat
dengan cara yang sama hitung mol air, kloroform, dan asam asetat pada labu
II, III, dan IV.
 Menghitung fraksi mol campuran air dan kloroform pada labu I, II, III, dan IV
𝑛 𝑎𝑖𝑟
Xair = 𝑛 𝑎𝑖𝑟+𝑛 𝑘𝑙𝑜𝑟𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚
𝑛 𝑘𝑙𝑜𝑟𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚
Xkloroform = 𝑛 𝑎𝑖𝑟+𝑛 𝑘𝑙𝑜𝑟𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚

Dengan cara yang sama hitung fraksi mol campuran air dan kloroform pada
labu II, III, dan IV.
 Menghitung fraksi mol campuran air, kloroform, dan asam asetat pada labu I,
II, III, dan IV
𝑛 𝑎𝑖𝑟
Xair = 𝑛 𝑎𝑖𝑟+𝑛 𝑘𝑙𝑜𝑟𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚+𝑛 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎𝑡
𝑛 𝑘𝑙𝑜𝑟𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚
Xkloroform = 𝑛 𝑎𝑖𝑟+𝑛 𝑘𝑙𝑜𝑟𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚+𝑛 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎𝑡
𝑛 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎𝑡
Xasam asetat = 𝑛 𝑎𝑖𝑟+𝑛 𝑘𝑙𝑜𝑟𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚+𝑛 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎𝑡

Dengan cara yang sama hitung fraksi mol campuran air, kloroform, dan asam
asetat pada labu II, III, dan IV.
Tabel 6. Fraksi mol campuran aquades dan kloroform
Fraksi mol Fraksi mol
Labu
akuades kloroform
I
II
III
IV

Tabel 7. Fraksi mol campuran aquades, kloroform, dan asam asetat


Fraksi mol Fraksi mol Fraksi mol asam
Labu
akuades kloroform asetat
I
II
III
IV

3. Menentukan Garis Dasi (tie line)


 Persen asam asetat pada L1
mol NaOH = VNaOH x MNaOH
= .... mol
mol NaOH = n asam asetat = .... mol
massa asam asetat = n asam asetat x Mr asam asetat
= ... g
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎𝑡
% massa asam asetat = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛
𝑥100%

= ... %
Dengan cara yang sama hitung persen asam asetat pada L2
 Persen aquades pada L1
massa aquades = massa campuran – massa asam asetat (L2)

= .... g
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠
% massa aquades = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑥100%

= ... %

 Persen kloroform pada L2


massa kloroform = massa campuran – massa asam asetat (L1)
= ... g
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑙𝑜𝑟𝑜𝑓𝑜𝑟𝑚
% massa kloroform = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛
𝑥100%

= ... %
Tabel 8. Data persen massa masing-masing zat pada L1 dan L2
Persen massa
Nama Lapisan
Aquades Asam asetat Kloroform
Lapisan 1 (Lapisan bawah)
Lapisan 2 (Lapisan atas)

Berdasarkan data pada tabel 6, 7, dan 8 maka dapat dibuat diagram fase sistem tiga
komponen air-kloroform-asam Asetat.

100 % asam
asetat

100 % 100 % air


kloroform