Anda di halaman 1dari 8

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

HUKUM RAOULT

OLEH

NI PUTU ASTINI 1713031004

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

2019
PERCOBAAN XII
HUKUM RAOULT

I. TUJUAN
1. Memperlihatkan pengaruh komposisi terhadap titik didih campuran
2. Memperlihatkan pengaruh gaya antar molekul terhadap tekanan uap campuran.

II. DASAR TEORI


Larutan ideal adalah larutan yang gaya tarik menarik molekul-molekul komponennya
sama dengan gaya tarik menarik antara molekul dari masing-masing komponennya. Jadi,
bila larutan zat A dan B bersifat ideal, maka gaya tarik antara molekul A dan B, sama
dengan gaya tarik antara molekul A dan A atau antara B dan B. Dalam larutan ideal,
semua komponen (pelarut dan zat terlarut) mengikuti hukum Raoult pada seluruh selang
konsentrasi. Larutan benzena dan toluena adalah larutan ideal. Dalam semua larutan encer
yang tak mempunyai interaksi kimia di antara komponen-komponennya, hukum Raoult
berlaku bagi pelarut, baik ideal maupun tak ideal. Tetapi hukum Raoult tak berlaku pada
zat terlarut pada larutan tak ideal encer. Perbedaan ini bersumber pada kenyataan:
molekul-molekul pelarut yang luar biasa banyaknya. Hal ini menyebabkan lingkungan
molekul terlarut sangat berbeda dalam lingkungan pelarut murni. Zat terlarut dalam
larutan tak ideal encer mengikuti hukum Henry, bukan hukum Raoult.
Suatu larutan dikatakan ideal, jika larutan tersebut mengikuti hukum Raoult pada
seluruh kisaran komposisi dari sistem tersebut. Hukum Raoult secara umum didefinisikan
sebagai fugasitas dari tiap komponen dalam larutan yang sama dengan hasil kali
fugasitasnya dalam keadaan murni pada temperatur dan tekanan yang sama serta fraksi
molnya dalam larutan tersebut, yakni:
fi = xi fi*
Bila dua cairan bercampur maka ruang di atasnya berisi uap kedua cairan tersebut.
Tekanan uap jenuh masing-masing komponen (poi) di ruangan itu lebih kecil daripada
tekanan uap jenuh cairan murni (poi), karena permukaan larutan diisi oleh dua jenis zat
sehingga peluang tiap komponen untuk menguap berkurang. Peluang itu setara dengan
fraksi molnya masing-masing (xi).
Jika dua macam cairan dicampur dan tekanan uap parsialnya masing-masing diukur,
maka menurut hukum Raoult untuk tekanan uap parsial A berlaku :
PA = XA PoA
Sedangkan untuk tekanan uap parsial B berlaku :
PB = XB PoB
PoA = tekanan uap A ( yaitu cairan murni )
PoB = tekanan uap B
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑜𝑙 𝐴
XA = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑜𝑙 (𝐴+𝐵)
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑜𝑙 𝐵
XB = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑜𝑙 (𝐴+𝐵)
XA dan XB disebut fraksi mol.
Jumlah tekanan uap (P) menurut hukum Dalton adalah:
P = PA + PB

Campuran yang mengikuti hukum Raoult disebut larutan idel. Contoh lqrutan ideal
adalah benzena, toluena, propan-1-ol, atau propan-2-ol. Sejauh ini yang telah dibicarakan
adalah keadaan pada kondisi suhu tetap, tetapi dalam percobaan ini yang dijaga tetap
adalah tekanannya, yaitu pada tekanan satu atmosfer. Dalam percobaan ini yang diukur
adalah titik didihnya. Hubungan antara tekanan uap dan titik didih dapat dilihat pada
grafik di bawah ini:

Terlihat dari grafik di atas, bila bahwa komposisi campuran diubah, maka akan terjadi
kenaikan titik didih. Untuk larutan ideal hubungan antara tekanan uap dan komposisi serta
hubungan antara titik didih dan komposisi dapat dilihat pada grafik di bwah ini (yaitu
hukum Raoult untuk campuran ideal).

Kurva tekanan uap sebagai Kurva titik didih sebagai fungsi


fungsi komposisi komposisi
Kebanyakan campuran bukan larutan ideal, maka biasanya campuran tidak mengikuti
Hukum raoult. Ada dua macam penyimpangan yaitu penyimpangan positif dan
penyimpangan negatif. Penyimpangan hukum Raoult terjadi karena perbedaan interaksi
antara partikel sejenis dengan yang tak sejenis. Misalnya campuran A dan B, jika daya
tarik A-B lebih besar dari A-A atau B-B, maka kecenderungan bercampur lebih besar,
akibatnya jumlah tekanan uap kedua zat lebih kecil daripada larutan ideal disebut
penyimpangan negatif. Penyimpangan positif terjadi bila daya tarik A-B lebih kecil
daripada daya tarik A-A dan B-B, akibatnya tekanan uapnya menjadi lebih besar dari
larutan ideal. Sifat suatu larutan mendekati sifat pelarutnya jika jumlahnya lebih besar.
Akan tetapi larutan dua macam cairan dapat berkomposisi tanpa batas, karena saling
melarutkan. Kedua cairan dapat sebagai pelarut atau sebagai zat terlarut tergantung pada
komposisinya.
Larutan non ideal dapat menunjukkan penyimpangan positif (dengan tekanan uap
lebih tinggi daripada yang diprediksikan oleh hukum Raoult) atau penyimpangan negatif
(dengan tekanan uap lebih rendah). Pada tingkat molekul penyimpangan negatif muncul
bila zat terlarut menarik molekul pelarut dengan sangat kuat, sehingga mengurangi
kecenderungannya untuk lari ke fase uap. Penyimpangan positif muncul pada kasus
kebalikkannya yaitu bila molekul pelarut dan zat terlarut tidak saling tertarik satu sama
lain.
III. ALAT DAN BAHAN
Tabel 1. Daftar alat
No. Nama Alat Ukuran Jumlah
1. Alat refluks - 1 set
2. Statif dan klem - 1 set
3. Termometer 100 oC 1 buah
4. Pemanas gas atau listrik - 1 buah
5. Pecahan porselen - 3 buah
6. Pipet volumetri 10 mL 1 buah
7. Gelas kimia 100 mL 4 buah
9. Gelas ukur 5 mL 1 buah
10. Corong - 1 buah

Tabel 2. Daftar bahan


No. Nama Bahan Konsentrasi Jumlah
1. Aseton - 20 mL
2. Kloroform - 20 mL
IV. PROSEDUR PRAKTIKUM

Masukkan 10 mL kloroform ke labu refluks

Panaskan

Catat suhu ketika larutan mendidih

+ 2 mL aseton

Panaskan

Catat suhu ketika larutan mendidih

+ 2 mL aseton dan pemanasan diulangi


sampai jumlah yang ditambahkan 10 mL

Pindahkan campuran dan keringkan labu


refluks

Masukkan 10 mL aseton ke labu refluks

Panaskan
Catat suhu ketika larutan mendidih

+ 2 mL kloroform

Panaskan

Catat suhu ketika larutan mendidih

+ 2 mL kloroform dan pemanasan diulangi


sampai jumlah yang ditambahkan 10 mL

Setiap melakukan penambahan larutan, jauhkan labu dari sumber panas

V. HASIL PENGAMATAN
Tabel 3. Hasil pengamatan
Campuran
Titik Didih (oC)
Kloroform (mL) Aseton (mL)
10 0
10 2
10 4
10 6
10 8
10 10
0 10
2 10
4 10
6 10
8 10
10 10
VI. ANALISIS DATA
 Perhitungan campuran CHCl3 : (CH3)2CO = 10 : 2
V CHCl3 = 10 ml
V (CH3)2CO = 2 ml
ρ CHCl3 = 1,49 g cm-3
ρ (CH3)2CO = 0,79 g cm-3
BM CHCl3 = 119,4 g mol-1
BM (CH3)2CO = 58 g mol-1
Massa CHCl3 =ρxv
= 1,49 g cm-3 x 10 mL
= 14,9 gram
𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎
n CHCl3 = 𝑀𝑟
14,9 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 119,4 g mol−1

= 0,124 mol
Massa (CH3)2CO = ρ x v
= 0,79 g cm-3 x 2 mL
= 1,58 gram
𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎
n (CH3)2CO = 𝑀𝑟
1,58 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 58 g mol−1

= 0,027 mol
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑜𝑙 𝐶𝐻𝐶𝑙3
X CHCl3 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑜𝑙 (𝐶𝐻𝐶𝑙3+ (CH3)2CO)
0,124 𝑚𝑜𝑙
= 0,124 +0,027

= 0,82
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑜𝑙(CH3)2CO
X (CH3)2CO = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑚𝑜𝑙 (𝐶𝐻𝐶𝑙3+ (CH3)2CO)
0,027 𝑚𝑜𝑙
= 0,124 +0,027

= 0,178
Lakukan perhitungan yang sama untuk masing-masing variasi komposisi campuran.
Masukkan data yang diperoleh ke dalam tabel berikuut:
Tabel 4. Hasil analisis data
Perbandingan mol Fraksi mol
campuran CHCl3 Titik didih
(oC) CHCl3 (CH3)2CO CHCl3 (CH3)2CO
: (CH3)2CO
10:0
10:2
10:4
10:6
10:8
10:10
0:10
2:10
4:10
6:10
8:10
10:10

Berdasarkan tabel di atas dibuat grafik titik didih sebagai fungsi fraksi mol